Godaan Kelalaian dari Jihad

Seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin yang berjihad membebaskan Konstantinopel melesatkan dirinya ke barisan lawan hingga berhasil menerobosnya.

Pada saat itu terdapat Abu Ayyub al-Anshari (ra). Manusia banyak berkata, “laki-laki itu telah melemparkan dirinya dalam kebinasaan” seraya menukil “janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan” dari Surah al-Baqarah ayat 195.

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Abu Ayyub al-Anshari (ra) menjawab, “kami lebih tahu tentang ayat tersebut karena diturunkan atas kami.. ..Menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan itu adalah berdiam-diri bersama keluarga dan (menikmati) harta serta meninggalkan jihad”.

Menikmati Tafsir Ibn Katsir, Surah al-Baqarah: 195

*Red .
🔸Lawan banyak ? Posisi kuat ? Waktu & resources terbatas ? jangan menghalangi kita untuk mengoptimalkan proses dengan kreatifitas
🔹 Jangan pernah berhenti untuk memaksimalkan partisipasi dalam segala lini
🔸Siapkan diri dengan segala skenario yg mengantisipasi semua kemungkin yg akan terjadi

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Keikhlasan Prajurit di Garis Depan

Parit pertahanan pasukan Turki Utsmani di Palestina pada Perang Dunia Pertama, ketika Palestina masih menjadi bagian dari kekhilafahan, 1915.

Hormat saya kepada *para prajurit yang tak dikenal, mereka yang berjuang dalam kesenyapan.* Tidak ada yang mengetahui secara persis identitas mereka serta kadar kebaikannya, kecuali para penduduk langit. Mereka tidak pulang untuk dielukan, tetapi kembali Kepada Rabbnya dengan hati yang tenteram.

“Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila Rabbiki radhiyatam mardhiyah, fadkhuli fi ‘ibadi, wadkhuli jannati,”

“Wahai jiwa-jiwa yang berhati tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan keridhaanNya, maka kembalilah hamba-hambaKu (kepadaKu) dan kembalilah ke dalam surgaKu.”

Depok, 11 Februari 2016

Red.
Pastikan setiap diri kita, mempunyai kontribusi terhadap tegaknya Islam di bumi ini. Sekecil apapun itu, harus kita tunaikan dengan optimal dan dengan menyertakan keikhlasan, insyaa Allah akan menjadi persembahan terbaik di setiap moment kehidupan kita, sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah dan RosulNya.

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Jangan Biarkan Kotamu Terkepung

Kisah Pilu Sarajevo, Terkepung Sepanjang Tahun 1992-1995

Kemarin, 5 April 1992, dua puluh empat tahun yang lalu.. Kota Sarajevo, Bosnia Herzegovina, mulai dikepung oleh Tentara Republik Srpska, dan baru berakhir setelah 1425 hari. Sebuah kepungan yang 3 kali lebih panjang daripada pengepungan Jerman atas kota Stalingrad atau setahun lebih lama daripada kepungan atas kota Leningrad pada Perang Dunia Kedua.

Lesson #1: jangan pernah mengecilkan kemampuan lawan, apalagi seperti Serbia yang telah memendam kebencian yang kesumat sejak peristiwa Sırp Sındığı 1364.

Kekuatan militer Serbia yang berada di dalam wilayah Bosnia Herzegovina mengerahkan 13 ribu personil dengan berbagai senjata untuk menguasai perbukitan di sekeliling ibukota itu. Pasukan Armija Republike Bosna i Hercegovine (ARBiH) sebenarnya memiliki 70 ribu personil di dalam kota Sarajevo yang terkepung; namun kepemimpinan yang lemah, serta pelatihan dan persenjataan yang sangat minim sejak memisahkan diri dari Yugoslavia menyebabkan mereka tak mampu mematahkan kepungan Serbia.

Lesson #2: jumlah yang banyak menjadi kurang bermanfaat tanpa kepemimpinan yang kuat, pelatihan yang terbatas, serta kelengkapan teknologi yang minim.

Penduduk kota Sarajevo mengalami korban sebanyak hampir 14 ribu jiwa, diantaranya terdapat 6 ribu lebih dari personil militer. Sedangkan, pasukan Srpska mengalami sedikit di atas 2 ribu korban.

Lesson #3: jangan pernah menyerah dalam kondisi tergenting sekalipun.

Kemarin, lewati jam dua satu, Depok
5 April 2016

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Apakah Tidak Ada Orang Lain?

Sidang Pemakzulan, Parlamen Kedua, İstanbul
5 Oktober 1908

Setelah keluar fatwa Syehul İslam pesanan dari parlemen untuk menuduh sultan mendalangi kerusuhan, maka sidang memutuskan untuk menurunkan Abdul Hamid II sebagai khalifah.

Baik başbakan (perdana menteri) Tevfik Paşa, ketua parlemen Said Paşa, maupun panglima Hareket Ordusu (balatentara CUP) Mahmud Şevket Paşa tidak ada yang berani menyampaikan keputusan sidang langsung kepada sultan. _Dengan segenap kekuasaan yang ada pada mereka ternyata jabatan kekhilafahan yang sudah dibuat tak berdaya masih menyimpan aura kehormatan._

Mereka mengutus Emanuel Karasu, Aram, Esad Toptani, Arif Hikmet (mantan ajudan sultan dari angkatan laut),  dan seorang juru tulis wakil parlemen dari Salonika untuk menghadap sultan. Ketika sampai di istana Çırağan, sultan menyambut mereka dengan ucapan:

“Apakah parlemen tidak dapat mengirimkan orang yang lebih baik daripada seorang Yahudi, Armenia, Albania, dan seorang yang tidak tahu cara berterima-kasih untuk menyampaikan eksekusi pemakzulan atas sultan Turki Utsmani dan khalifah Kaum Muslimin?”

Semua terdiam!

Sekarang ini, untuk memilih seorang gubernur di negeri Muslim saja kita sulit sekali bersepakat dan masih banyak muslim yang berharap kebaikan hakiki datang dari luar ummah.

Depok, pagi masih mendung setelah 108 tahun (5 Oktober 2016)

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Menyerah Itu Perkara Mudah Karena Menang Itu Butuh Keteguhan Mental!

Pengepungan & Jatuhnya Belgrade – 16 Juli s/d 17 Agustus 1717

Pengepungan kota ini adalah bagian dari Perang Austria-Turki Utsmani 1714-18 tidak lama setelah kemenangan Austria di Petrovaradin (untuk Petrovaradin sudah saya tulis sebelumnya). Kota ini jatuh ke tangan Austria setelah bentengnya berhasil diserbu oleh Pangeran Eugene dari Savoy.

Latar Belakang

Setelah keberhasilan kampanye militer tahun 1716 tinggal satu lagi sasaran utama yang diinginkan oleh Eugene dari Savoy yaitu penaklukan benteng Belgrade. Kota ini berada pada pertemuan sungai Sava dan Danube. Lebih tepatnya kota ini berada pada sisi Sungai Sava sehingga terbuka arah serangan dari arah selatan. Secara strategik kota ini kuat dari sisi tenggara dan barat-laut sehingga menguntungkan bagi Khilafah Turki Utsmani maupun Kerajaan Austria.

Pada tahun 1688 kota Belgrade pernah direbut oleh Austria setelah dikepung juga, namun 2 tahun setelah itu berhasil dikuasai kembali oleh Turki Utsmani. Pada pengepungan pertama itu Eugene terluka cukup parah dan ia merencanakan perlunya armada sungai Danube untuk penaklukan kali ini. Tugas utama armada sungai tersebut adalah untuk memberikan dukungan bagi angkatan daratnya. Ia berhasil mendapatkan dukungan dari kaisar untuk mendanai armada sungai ini sekaligus merekrut awaknya dengan segera dari Netherlands.

Sebagai sekutu Austria, Russia hanya dapat membantu dengan menyiagakan pasukannya di sepanjang perbatasan guna mengikat sejumlah kesatuan Turki Utsmani untuk tidak memberikan bantuan ke Belgrade nantinya. Sedangkan Polandia sedang sibuk bertahan atas serangan dari Charles XII Swedia dalam Great Northern War. Holy Roman Empire juga hanya membantu sedikit dana. Hanya Bavaria yang ikut bertempur dengan sedikit pasukan.

Persiapan

Pada tanggal 3 Mei 1717, Eugene bertolak dari Wina menuju Futtak dan tanpa menunggu seluruh pasukannya berkumpul ia bergegas menuju Belgrade bersama 70.000 pasukan. Bavaria menambahkan 6.000 pasukannya dan dengan kekuatan Austria di Wilayah Banat seluruhnya mencapai total 100.000 personil. Eugene juga mengomandoi armada Danube yang terdiri dari 50 kapal berbagai ukuran serta 10 kapal yang dilengkapi artileri ringan. Ia ingin segera mengepung kota Belgrade sebelum Turki Utsmani sempat menambah kekuatannya.

Masalah terbesar yang dihadapi Eugene adalah benteng Belgrade tidak dapat diserang dari arah selatan dan pengepungan baru bisa dilakukan setelah menyeberangi kedua sungai Danube dan Sava. Eugene malah memilih jalur langsung dengan menyeberangi Sava ke arah sisi pertahanan benteng Belgrade yang paling kuat. Mendapat masukan dari para jenderalnya, ia kembali menyeberangi Danube sehingga mengagetkan pihak Turki Utsmani yang tidak menyangka lawannya akan menyeberangi sungai pada titik tersebut. Balatentara Austria berhasil menyeberang pada tanggal 15-16 Juni nyaris tanpa gangguan apapun.

Eugene menggelar artilerinya berbarengan dengan dimulainya penggalian parit pengepungan oleh pasukan imperial baik yang menghadap ke benteng lawan maupun pada garis belakangnya sendiri.

Pasukan Khilafah Turki Utsmani yang bertahan di dalam Belgrade berjumlah 30.000 personil. Ia juga menerima informasi intelijen bahwa İstanbul sudah mengirim bala bantuan menuju Belgrade. Memang benar, bala bantuan itu tiba di lokasi pada hari Rabu 19 Sya’ban 1129 Hijriah (28 Juli 1717). Anehnya, pasukan ini tidak menyerang musuhnya namun justru menggali parit pengepungan mereka sendiri. Kini, pasukan Eugene terjepit antara benteng kota dan pasukan bantuan. Faktor lain yang mengkhawatirkan Eugene adalah kerusakan pada tenda-tenda logistiknya akibat serangan artileri lawan serta merebaknya penyakit malaria.

Pertempuran Penentuan

Situasi menjadi serba sulit karena taktik Turki Utsmani adalah membiarkan pasukan pengepungan kehabisan perbekalannya sendiri. Kondisi ini menyulitkan Eugene karena serangannya ke benteng Belgrade tidak menunjukkan kemajuan berarti.

Tiba-tiba pada hari Rabu 7 Ramadhan 1129 Hijriyah (14 Agustus 1717) terjadi guncangan yang hebat di atas tanah sekitar Belgrade. Ternyata salah satu tembakan artileri Eugene tepat mengenai ruangan mesiu di dalam benteng kota yang menyebabkan meledaknya seluruh persediaan mesiu Turki Utsmani serta memakan korban 3.000 pasukannya.

Sungguh aneh jika ruang mesiu yang vital begitu rapuh pertahanannya serta tidak ditempatkan pada lokasi yang terlindungi. Apakah prosedur pengamanan benteng sudah mulai diabaikan pada periode ini atau adakah sabotase?

Dua hari kemudian, Eugene memerintahkan serangan terhadap posisi pasukan bantuan Turki Utsmani pada hari Jum’at 9 Ramadhan pas tengah malam dengan pasukan infanteri pada lini tengah dan kavaleri pada kedua sayapnya. Seluruh pasukan dikerahkan kecuali mereka yang bertanggung-jawab untuk mempertahankan garis belakang dan tenda Austria.

Serangan malam ini mengejutkan bagi Turki Utsmani dan setelah beberapa jam bentrok senjata jarak dekat terus berlangsunh sampai matahari terbit. Kejutan ini tidak terduga karena logikanya yang diserbu adalah benteng yamg baru saja porak-poranda akibat ledakan. Serbuan itu menjadi berbahaya karena berhasil memukul mundur pasukan bantuan Turki Utsmani tersebut sampai melewati parit pengepungannya. Setelah 10 jam pertempuran, mulai tanda-tanda kekalahan pada pihak Turki Utsmani yang mundur secara tidak teratur. Mundurnya pasukan bantuan ini menyebabkan turunnya moril juang garnizun Turki Utsmani di dalam Belgrade. Penyerahan benteng disepakati oleh kedua belah pihak dengan gantinya jaminan keselamatan bagi 10.000 sisa pasukan yang berbaris keluar dari Belgrade.

Kesudahan

Setelah Belgrade lepas dari kendali Turki Utsmani maka dicapailah Perjanjian Passarowitz (juga sudah saya tuliskan sebelumnya) yang menguntungkan Austria. Sepertinya Turki Utsmani telah sampai pada batas maksimum kendalinya walau pada 22 Juli 1739 pasukan Austria yang dipimpin Field Marshal George Oliver Wallis dikalahkan oleh Turki Utsmani pada Pertempuran Grocka dekat Belgrade. Kekalahan tersebut ditimpakan oleh oleh pasukan yang dipimpin oleh İvaz Mehmet Pasha, sehingga lahirlah Perjanjian Belgrade pada bulan September 1739 dimana seluruh wilayah yang lepas pada Perjanjian Passarowitz dikembalikan ke Turki Utsmani kecuali wilayah Banat.

Agung Waspodo, masih harus membaca lebih banyak lagi guna memahami mengapa begitu mudah menyerah ketika harapan dan semangat juang masih sangat tinggi, setelah 298 tahun berlalu, lewat 4 hari.

Depok, 21 Agustus 2015.

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Memimpin Ummat, Cakupannya Luas & Jauh -Memimpin Ummat, Kadang Tak Searah Kepentingan Lokal

Armada Laut Turko Utsmani Berlayar Menuju Diu – 19 Agustus 1538

Permulaan Pengepungan kota Diu Milik Portugis di India 1538

Gubernur yg mewakili khalifah Turki Utsmani di Mesir sejak tahun 1525 yg bernama Hadım Suleiman Pasha telah mengantongi izin dari sultan İstanbul untuk memerangi Portugis yang merajalela di Samudera Hindia. Sultan Suleiman I Kanuni memberikan restu untuk membela nasib kaum Muslimin di wilayah laut yang jauh itu.

Armada yang dibangun oleh gubernur Mesir berkekuatan 80 kapal yang tulang-punggung kekuatannya terdiri atas 17 galley dan 2 galleon. Disamping itu, penggalian kanal antara Sungai Nil dan kota pelabuhan Suez mulai dibangun pada tahun 1531-32.

Keterlambatan

Persiapan utk proyek pembangunan armada laut Turki Utsmani di Mesir ini mengalamj banyak hambatan karena adanya operasi militer lain yang juga menyerap sumber daya seperti Pengepungan Coron di Laut Mediterranenan serta konflik perbatasan di timur menghadapi entitas syi’ah Safawi antara tahun 1533 hingga 1535. Sementara armada ini belum bisa melaut, maka Portugis terus bebas menguatkan cengramannya di region tersebut.

Portugis mengeksekusi Sultan Bahadur Shah pada bulan Februari 1537 ketika pemimpin Gujarat tersebut sedang mengunjungi kapal perang Portugis dalam sebuah misi diplomatik.

Posisi Yaman

Yaman sudah hampir semuanya dikuasai, tinggal kota pelabuhan Aden yang harus didapatkan okej Hadım Suleiman Pasha pada 1538 karena letaknya yang strategis untuk menjadi titik aju di region tersebut. Dari Aden ini pula kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani menyerang pos-pos Portugis yang tersebar dari pesisir timur Benua Afrika, pesisir barat dan timur Anak Benua India, hingga jauh ke Malaka.

Namun, Sultan Aden masih takut kepada Portugis untuk mendukung “kekuatan baru” Turki Utsmani di region ini. Sikapnya yang memusuhi Turki Utsmani dan menutup pelabuhannya memaksa terjadinya konflik yang mengakibatkan terbunuhnya Sheikh Amir bin Dawaud dan kota Aden tunduk tanpa perlawanan.

Ekspedisi ke Diu

Armada laut Turki Utsmani segera mempersiapkan serangan selanjutnya yaitu menuju kota Diu yang dikuasai oleh Portugis. Armada yang diberangkatkan berjumlah 72 kapal yang berlayar pada hari Senin 24 Rabi’ul Awwal 945 Hijriah (19 Agustus 1538) dan tiba di Diu pada hari Rabu 4 Rabi’uts Tsani 945 Hijriah (4 September 1538). Armada tersebut adalah yanh terbesar yang pernah digelar oleh Khilafah Turki Utsmani di Samudera Hindia. Mereka mengepung Diu dengan kekuatan 130 kanon dan mulai menghujani kota.

Bagaimana selanjutnya? In-syaa-Allah saya akan tuliskan pada edisi yang akan datang

Agung Waspodo, mencatat betapa jauh dan luasnya urusan yang menjadi perhatian Sultan di İstanbul, ketika para emir dan sultan lokal hanya mampu melihat kepentingannya sendiri.. masih kurang lebih sama dengan sekarang, bahkan sekarang lahirlah analisis para “jagoan-baru” seolah itu semua tidak ada bedanya dengan imperialisme berbaju agama.. amir dan sultan kecil masih terus larut dalam kebingungan walau sudah berlalu 477 tahun kemudian..

Depok, 21 Agustus 2015, masuk waktu dhuha.

Oleh: Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Tidak Mudah Menyatukan Ummat, Kepentingan Bersama Tidak Selalu Menjadi Prioritas

Penaklukan kota Tunis – 16 Agustus 1534

Penaklukan kota ini terjadi pada hari Ahad 6 Safar 941 Hijriah (16 Agustus 1534) ketika kota Tunis diserbu dan dikuasai oleh Khairuddin Barbarossa dari Muley Hasan, penguasa dari Emirat Hafsiyah yang berpihak kepada Kerajaan Habsburg di Spanyol. Tunis kini merupakan ibukota negara Tunisia.

Latar Belakang

Pada tahun 1533, Sultan Suleiman I Kanuni memerintahkan admiralnya, Khairuddin Barbarossa, untuk membangun armada laut dalam jumlah yang besar untuk masa itu. Khairuddin berlayar dari pangkalannya di Aljazair ke İstanbul untuk mengawasi pembangunam armada tersebut. Sepanjang musim dingin 1533-34 berhasil dibangun 70 galley dengan awak sebanyak 1.200 budak.

Operasi Kilat

Dengan mengandalkan armada baru ini, Khairuddin melakukan manuver agresif di sepanjang pantau Italia sebelum menyerbu Tunis. Kota pelabuhan Tunis waktu itu menutup diri dari kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani serta memihak pada Kerajaan Habsburg yg berada di Spanyol.

Khairuddin Barbarossa kemudian menjadikan Tunis sebagai salah satu pangkalannya untuk operasi militer di Laut Mediterranean bagian tengah; termasuk untuk memantau aktivitas pasukan salib yang juga memiliki pangkalan di Pulau Malta.

Kelanjutan

Atas permohonan Muley Hasan dari Emirat Hafsiyah kepada Raja Charles V maka pada tahun 1535 menyerbu dan merebut kembali kota Tunis.

Agung Waspodo, demikian untuk diketahui bahwa untuk kepentingan yang lebih strategis maka berposisi merangkul entitas lokal mungkin akan berdampak positif dalam jangka panjang. Setelah 481 tahun kemudian, lebih 5 hari.. Agustus memang padat dan saya keteteran..

Depok, 21 Agustus 2015

By: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII ‘Boabdil’ atas pamannya Muhammad XIII ‘el-Zagal’ pada Periode Akhir Emirat Granada – Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII ‘Boabdil’ atas pamannya Muhammad XIII ‘el-Zagal’ pada Periode Akhir Emirat Granada – Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

📚 TARIKH DAN SIROH

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

*Pengepungan dan Jatuhnya Málaga*
7 Mei – 18 Agustus 1487*

Pengepungan ini adalah bagian dari babak akhir Reconquista dimana kedua kerajaan Katholik Castile-Aragon berhasil merebut kota Málaga dari kaum Muslimin Granada. Pengepungan itu berlangsung sepanjang 4 bulan dan juga tercatat dalam sejarah militer dunia dimana ambulans atau angkutan khusus korban pertempuran dipergunakan secara sistematis. Pengepungan atas Málaga juga menunjukkan jati diri sesungguhnya antara Abdallah Muhammad XII yang memihak Ferdinand-Isabella serta pamannya yg ia khianati Muhammad XIII el-Zagal.

*Latar Belakang*

Málaga adalah tujuan utama pada kampanye militer tahun 1487 dimana dua kerajaan Katholik menyerang kota milik Emirat Granada. Emirat ini telah banyak kehilangan wilayahnya selama pergerakan reconquista, khususnya invasi 1486-89.

Raja Ferdinand II dari Aragon meninggalkan kota Córdoba dengan membawa 20.000 pasukan berkuda, 50.000 pekerja, dan 8.000 petugas pendukung. Balatentara ini kemudian bergabung dengan kesatuan artileri pimpinan Francisco Ramírez de Madrid yang juga telah bergerak dari Écija. Setelah bersatu mereka memutuskan untuk menyerang Vélez-Málaga terlebih dahulu sebelum ke arah barat menuju Málaga-nya. Mata-mata jaringan keluarga Nasriyah memantau serta melaporkan gerak lanju pasukan Nasrani sehingga para penduduk sudah sempat diungsikan ke pegunungan dan benteng Bentomiz sebelum serangan dimulai.

*Dampak Lepasnya Vélez-Mâlaga*

Pasukan gabungan ini mencapai Vélez-Málaga pada hari Selasa 22 Rabi’uts-Tsani 892 Hijriah (17 April 1487) setelah lambannya gerak maju melalui medan liar. Beberapa hari kemudian, mesin gempur yang ringan tiba di tempat sedangkan yang lebih berat lagi tidak dapat dibawa melintasi jalan yang rusak. Sultan Granada yg bernama Muhammad XIII (el-Zagal), berusaha untuk membantu kota yang terkepung itu namun ia terpaksa mundur dengan hadirnya kekuatan yang jauh lebih besar pimpinan Marquis dari Cadiz. Ketika ia kembali ke Granada barulah beliau menyadari telah dikudeta oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII (Boabdil) yang memihak kaum Nasrani pada waktu itu.

Melihat kenyataan bahwa tidak ada bantuan yang akan datang, Vélez-Málaga menyerah pada hari Jum’at 3 Jumadal Awwal 892 Hijriyah (27 April 1487) dengan persyaratan mereka aman keluar dari benteng serta berhak membawa harta-benda dan mempertahankan agamanya.

Sultan Muhammad XIII el-Zagal yang terkunci di luar tidak dapat kembali ke Granada karena kota tersebut kini dikuasai oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII Boabdil. Boabdil memilih untuk memihak kepada Ferdinand II supaya emirat Granada yg kesulitan ekonominya tidak diserang lagi. Pasukan yang masih setia kepada el-Zagal terpaksa mundur ke kota Almeira di sebelag timur propinsi Granada. Mereka ini adalah harapan terakhir penduduk Granada yang masih bersemangat untuk membendung invasi Ferdinand II dan isterinya Isabella I secara militer.

*Kota Málaga*

Kota yg dieja Mālaqa dalam Bahasa Arab ini merupakan kota kedua terbesar di propinsi setelah Granada atau Gharnata. Málaga adalah kota pelabuhan yang besar dengan akses ke Laut Mediterranean. Kota ini dihiasi banyak bagunam dengan arsitektur yang unik, taman yang indah, dan air mancur yang menyejukkan. Kota ini juga dikelilingi dengan benteng kota yang kokoh dengan puri-benteng (citadel) Alcazaba yg menjadi titik pertahanan yang handal terhubung secara tertutup dengan benteng (fortress) Gibralfaro. Di pinggiran pantainya banyak ditanami kebun zaitun, jeruk, markisa, dan anggur.

Kota ini juga dilengkapi dengan artileri yg banyak dengan stok amunisi yanh juga tidak sedikit. Selain pasukan garnizun yang menjadi standar propinsi Granada, terdapat juga pasukan sukarelawan dari desa-desa sekitar berikut korps Gomeres yaitu pasukan bayaran dari Afrika yang terlatih seni perang dengan tingkat disiplin di atas rata-rata. Komandan pertahanan kota Málaga dipercayakan kepada mantan pahlawan kota Ronda yaitu Hamid el-Zegrí.

*Pengepungan*

Ketika masih di Vélez, Raja Ferdinand II telah mencoba menegosiasikan penyerahan dengan butir kesepakatan yang lunak, namun Hamid el-Zegrí menolaknya. Ferdinand II meninggalkan Vélez dan menyusuri pesisir ke Bezmillana kurang 19 km dari Málaga yang jalurnya diawasi oleh pasukan Muslimin. Terjadi bentrok di tempat itu sampai menjelang malam dimana akhirnya pasukan Granada kalah dan mundur kembali ke benteng Gibralfaro. Dari posisi inilah dimulai pembangunan pertahanan lapangan untuk mengepung kota Málaga, baik yang berupa parit pertahanan atau pos penjagaan berdinding kayu atau tumpukan dinding dari batu pada bagian-bagian dimana tanahnya terlalu keras untuk digali. Kapal perang disiagakan di depan pelabuhan untuk memotong seluruh jalur logistik ke dalam kota.

Serbuan pasukan Nasrani pertama kali diarahkan pada garis pertahanan darat. Ketika pasukan Granada tidak cukup kuat untuk menahan serangan dari pasukan yg berjumlah lebih besar, mereka terpaksa mundur ke garis pertahanan kota. Raja Ferdinand II memerintahkan ekspedisi pengumpulan batu bundar ke Algeciras (lihat tulisan saya sebelumnya tentang Algeciras 1342-44) yg dahulu pernah dipakai dalam pengepungan sebelumnya untuk dipakai lagi di Málaga. Hadirnya Isabella ke medan perang menemani suaminya bersa banyak tokoh lainnya berdampak pada naiknya semangat juang pasukan di lapangan.

*Abdallah Muhammad XII Boabdil Menyerang Muhammad XIII El-Zagal*

Pasukan kaum Muslimin kembali menyerang balik dengan tembakan katapult maupun kanon dari posisi pertahanan mereka yang baru; beberapa kali juga sempat melancarkan serangan keluar (sally) mendadak ke arah garis kepungan lawan. Dalam satu kejadian bahkan El-Zagal sempat mengerahkan pasukan berkudanya dari kota Guadix untuk menerobos memberi bantuan ke kota Málaga, namun terhenti oleh kekuatan yang lebih besar yg dikirim Boabdil sang pengkhianat Granda. Serangan ini merupakan perang antar muslim pada saat yang paling buruk yaitu ketika Granada sebagai propinsi terakhir kaum Muslimin di bumi al-Andalus.

Boabdil yang pernah tertawan sebelumnya ketika Ferdinand II pertama kali memulai invasi militer 1486-89 dari Cordoba ke Loja kini harus membayar upeti yang mahal untuk genggaman emirat Granada-nya yang semakin mengecil wilayahnya. Untuk sementara itu upeti menjadi pencegah serangan Ferdinand II kembali ke Granada.

Kota Málaga semakin kehabisan stok pangan mereka karena tidak ada lagi bantuan yang diperoleh dari Granada maupun dari al-Maghrib di seberang lautan. Satu-satunya harapan adalah bantuan dari Turki Utsmani yang jumlahnya tidak cukup banyak serta waktunya tidak selalu tepat. Pada saat sulit seperti ini, justru Ferdinand II yang mendapatkan bantuan dari Kaisar Jerman berupa 2 kapal transport yang membawa perbekalan tempur yang sangat dibutuhkan untuk mengencangkan kepungan.

Ferdinand II berencana untuk membuat kota Málaga kelaparan dan menyerah, namun ia semakin tidak sabar dengan segala bentuk keterlambatan dalam pembangunan menara-kepung. Menara ini dibuat berfungsi-ganda karena dilengkapi roda yang nantinya dapat digerakkan ke dekat dinding untuk menyerbu pertahanan kota. Ferdinand juga tidak sabar atas pelannya penggalian terowongan bawah tanah yg bertujuan untuk merobohkan dinding kota Málaga dari bawah.

Bahkan tingginya semangat bertahan dan berjuang pensuduk kota Málaga pada periode ini sangat kontras dengan lesunya pasukan di Granada. Pada beberapa kesempatan, pasukan sukarelawan berhasil menyerbu mendadak dan membakar menara-kepung kaum Nasrani. Sukarekalawan ini bahkan menggali terowongan di bawah terowongan lawan untuk merobohkannya. Disamping itu, penduduk kota Málaga bahkan sempat mekaut untuk menyerang kapal-kapal lawan yang memblokade pelabuhan.

*Setelah Tiga Bulan Kepungan*

Setelah tiga bulan tanpa bantuan, akhirnya dengan susah-payah dan korban yang banyak, pasukan Ferdinand II berhasil merebut menara pertahanan kota terluar. Menara ini menjadi titik kuat untuk menyerang ke dalam kota. Pada saat genting itu penduduk dan pasukan pertahanan Málaga sudah sedemikian lemah dari habisnya cadangan pangan sehingga banyak dari mereka yang terpaksa memakan kucing, anjing, dedaunan, kulit hewan, serta tumbuhan apapun yang masih tersedia di dalam kota.

Melihat kondisi penduduk yang sedemikian sulit, akhirnya Hamid el-Zegri meminta izin kepada walikota Málaga untuk keluar dari kota. Hal ini ditujukan agar penduduk Málaga dapat bernegosiasi dengan baik untuk penyerahan kota dan mengakhiri penderitaan itu. Setelah disetujui oleh walikota dan dilepas oleh penduduk yang terharu, Hamid el-Zegri menyelinap keluar dari Málaga bersama sisa pasukannya menuju benteng Gibralfaro untuk bertahan mengulur waktu sampai ada bantuan yang mungkin datang keoada mereka.

*Kapitulasi*

Setelah negosiasi yang tak kunjung diaepakati Ferdinand II akhirnya mereka menyerah tanpa syarat. Kota Málaga secara resmi menyerah pada hari Senin 23 Sya’ban 892 Hijriah (13 Agustus 1487). Puri-benteng Alcazaba bertahan sampai 28 Sya’ban ketika Ali Dordux menyerah dengan syarat ke-25 keluarga bangsawan boleh menetap sebagai Mudéjar. Ferdinand-Isabella masuk ke kota Málaga dengan sebuah prosesi kerajaan pada sore harinya. Hamid el-Zegri dan pasukan Gomeres-nya menyerah juga pada 29 Sya’ban. Beberapa hari sebelum masuknya bulan suci Ramadhan 892 Hijriah.

*Kesudahan*

Lepasnya kota Málaga merupakan pukulan telak bagi Emirat Granada dari keluarga Nasriyah yang kehilangan pelabuhan utama bagi keutuhan wilayahnya. Sesuatu yang tidak perlu terjadi jika perpecahan diantara mereka dapat diredam pada momen kritis ini. Ferdinand II menerapkan hukuman yang berat akibat lamanya kota itu bertahan. Semua pendudukan dibunuh atau dijual sebagai budak kecuali keluarga Ali Dordux.

Hamid el-Zegri tidak mendapatkan janji keamanan sesuai dengan syarat penyerahannya; ia dieksekusi bersama sebagian besar pasukan Gomores-nya sekitar 10-15 ribu personil. Properti mereka dirampas dan keluarga mereka dijual sebagai budak. Sebagian lagi dibawa ke al-Maghrib untuk ditukar dengan pasukan Nasrani yg tertawan di sana. Sebagian kecil dari keluarga bangsawan dijual sebagai dana tambahan.

Ferdinand-Isabella menugaskan García Fernández Manrique dan Juan de la Fuente untuk menata ulang wilayah yang baru direbut; dengan bantuan Ali Dordux. Sebagian besar tanah diberikan kepada para komandan tempur. Repopulasi atas propinsi Granada yang ditaklukan sejak invasi militer 1485 dilakukan segera dengan memindahkan  5-6 ribu penduduk dari Extremadura, León, Castile, Galicia, dan wilayah timur lainnya.

Agung Waspodo, tertegun dengan pengkhianatan pada masa genting seperti ini, memori tentang kejayaan al-Andalus sirna begitu saja dengan perpecahan, hanya itu saja.

Depok, 21 Agustus 2015.. menjelang subuh.

Selman Reis Tidak Pernah Lelah (Delapan Pelajaran dari Seorang Kapten Laut)

📚 TARIKH DAN SIROH

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Kapten (Reis) Selman adalah seorang pelaut Turki Utsmani yang terkenal ulung. Beliau berasal dari Pulau Lesbos di perairan Aegean. Beliau memulai karir perjuangannya sebagai pelaut bayaran pada angkatan laut Mamluk sebelum menjadi seorang admiral pada angkatan laut Turki Utsmani.

*Lesson #1 semua ‘amal shalih dimulai dari skala kecil yang ditekuni penuh passion sebelum meningkat dampaknya dengan izin Allah SWT.*

Beliau mendaftarkan dirinya pada angkatan laut Mamluk ketika kesultanan tersebut berperang melawan Kerajaan Portugis. Beliau memimpin sekitar 1.500 pelaut asal pesisir Suriah dalam kesatuannya. Ada yang menganggap kesatuan ini mulanya dibenci oleh Sultan Selim I dari Turki Utsmani.

*Lesson #2 biasakanlah menjadi relawan, beramal dengan hati yang bersih.*

Tugas pertama beliau adalah memimpin 19 kapal perang Mamluk dengan tujuan menyergap kapal Portugis yang lalu-lalang di Samudera Hindia sepanjang tahun 1515. Armada beliau meninggalkan pelabuhan Suwayz (Suez) di ujung utara Laut Merah pada 30 September 1515. Armada ini diperkuat 3000 pasukan yang di dalamnya terdapat 1300 marinir Turki. Operasi ini gagal merebut Aden (Yaman) pada 17 September 1516, namun berhasil membangun benteng di Kamaran.

*Lesson #3 belajarlah dari kegagalan sebagaimana belajar dari kesuksesan.*

Beliau kembali ke pangkalan laut Mamluk di kota Jeddah. Secara kebetulan juga berhasil melindungi pangkalan tersebut ketika diserang armada Portugis pada tahun 1517. Tahun naas dimana Mamluk akhirnya takluk kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Kini bangsa Turki menjadi penerus perjuangan di front Laut Merah. Sungguh disayangkan, Selman Reis justru ditawan dan dijebloskan ke dalam penjara di İstanbul. Tuduhan yang ditimpakan kepada beliau adalah disloyalitas. Beliau mendekam di dalam penjara hingga tahun 1520.

*Lesson #4 tidak semua ‘amal shalih mendapatkan pejuang manusia, karena memang mukmin hanya fokus pada keridhaan Rabbnya.*

Beliau dicari untuk memperkuat jajaran kelautan Turki Utsmani di Mesir ketika İbrahim Parğali Paşa menjabat sebagai gubernur Mesir tahun 1524. Beliau ditugaskan untuk melakukan survei regional Samudera Hindia pada masa Sultan Süleyman Kanuni. Beliau menyusun laporan yang merekomendasikan pendudukan Ethiopia, Yaman, hingga ke pesisir Swahili.

*Lesson #5 seseorang dikenal karena reputasinya, camkan!*

Beliau juga menyusun pola operasi laut guna mengusir Portugis dari benteng mereka di selat Hormuz, Goa, dan Malakka. Pada tahun 1525, Portugis benar-benar menyerbu pelayaran Laut Merah sesuai prediksi beliau. Pada tahun itulah, beliau diangkat sebagai admiral guna mengatasi ancaman serius ini. Beliau memimpin armada sejumlah 18 kapal berkekuatan total 299 meriam. Uniknya, kapal-kapal ini aslinya sudah dicoret dari daftar inventaris Mamluk padahal masih teronggok di pelabuhan Jeddah. Armada yang beliau pimpin juga mengangkut detasemen darat Hayreddin ar-Rumi berkekuatan 4000 pasukan.

*Lesson #6 kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas.*

Armada ini meninggalkan Suwayz tahun 1526 dengan pemberhentian pertama memperbaiki pertahanan dermaga Jeddah. Lain kali kalau ke Jeddah jangan terlalu fokus pada Masjid “Terapung” ya! Setelah itu armada merapat di Mocha, pesisir barat Yaman, dan memadamkan pemberontakan syi’ah yang dipimpin oleh Mustafa Beg. Setelah itu memaksa amir kota Aden untuk tunduk pada kekuasaan Turki Utsmani sebelum memperkuat pertahanan benteng di Kamuran. Operasi militer pertama beliau untuk pertama kalinya menghentikan kesewenangan kapal Portugis mulai tahun 1527.

*Lesson #7 selalu waspada dengan pengkhianatan syi’ah*

Perselisihan akibat perbedaan pandangan tentang bagaimana mengelola Yaman dan ekspedisi di Samudera Hindia antara Selman Reis dan Hayreddin ar-Rumi pada akhirnya melemahkan keberadaan khilafah Turki Utsmani di region ini. Padahal sekitar 1528, pelaut bayaran Asal Turki sudah semakin sering ditemukan di perairan Sumatera.

*Lesson #8 perpecahan hanya akan melemahkan.*

Gambar ilustrasi menggambarkan manuver laut Selman Reis di Jeddah menghadapi serangan armada Portugis, 1517.

Agung Waspodo, menjelang istirahat malam
Rabu, 11 Januari 2017

Masih (Butuh) Berdoa kepadaNya.. (Walau) Khilafah sedang Dihempaskan

📚 TARIKH DAN SIROH

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Suasana apel persiapan perang di Ankara, 2 Agustus 1922, untuk menghadapi musuh di empat front: Armenia di timur, Perancis di selatan, Italia di barat-daya, dan Yunani di barat. Turki Utsmani tengah dicabik-cabik. Semua pihak, termasuk Mustafa Kemal, berdoa untuk sebuah pertolongan dari Allah Ta’ala. 

Pada tahun yang sama, empat bulan kemudian, institusi kesultanan Turki Utsmani justru dihapuskan oleh Mustafa Kemal. Ketika keajaiban nampak, ketika musuh justru bertumbangan secepat itu doa berhenti dilantunkan. Ia menggunakan mandat dari Grand National Assembly of Turkey (Türkiye Büyük Millet Meclisi) untuk melaksanakan kejahatan tersebut pada tanggal 1 November 1922. 

Sebuah hari yg naas bagi kesatuan Ummat Islam sedunia. Namun, Mustafa Kemal belum berani merobe-robek institusi terakhir, yaitu kekhilafahan. Khalifah Abdul Majid II masih dihormati, ditaati, dan dielukan oleh sebagian besar masyarakat umum. 

Dua tahun kemudian, datanglah insiden surat dukungan dari dua warga India. Surat ini dianggap Mustafa Kemal sebagai ancaman atas Republik Turki yang ia proklamirkan. Tanpa menunggu waktu, ia hapuskan institusi kekhilafahan pada tanggal 3 Maret 1924.

Padahal sebelumnya, petugas masih diminta oleh Mustafa Kemal untuk melantunkan doa.. Ironis dan tragis secara bersamaan!

Sore yang sendu, Depok di penghujung Dzhul-Qa’dah
26 Agustus 2016