Secercah Harapan di Penghujung Kegelapan Tidak Semua Kisah Reconquista itu Sendu

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan dan Penaklukan Algeciras – 28 Juli 1369

Pengepungan ini adalah upaya pada masa Emir Muhammad V dari Granada untuk merebut kota Al-Hadra Al-Yazirat dari tangan Kerajaan Castile. Kota ini dikenal oleh pasukan nasrani Reconquista sebagai Algeciras.

Pengepungan ini hanya berlangsung selama 3 hari dimana Emir Muhammad V memperoleh kemenangan dalam merebut kembali Algecira yg dulu merupakan kota kaum muslimin. Kota penting ini dikuasai oleh Raja Alfonso XI dari Castile sejak direbutnya dari pihak Maroko setelah dikepung selama dua tahun lamanya, 1342-1344.

Betapa pentingnya selat Jabal Tariq ini bagi kedua belah pihak yg sedang memperebutkan Semenanjung Iberia. Selat ini menjadi semakin penting mengingat kaum muslimin mendapatkan bantuan dari entitas kekuatan yg berasal dari al-Maghrib di Afrika Utara.

Kota ini merupakan yg pertama kali dibangun oleh Tariq ibn Ziyad, sang penakluk Visigothic Hispania/Iberia, di semenanjung ini. Sepanjang abad ke-13 hingga ke-14 kota ini dikendalikan oleh pemimpin Granada maupun Maroko (al-Maghrib). Pengepungan serta penaklukan kota Algeciras oleh Alfonso XI menjadikan Kerajaan castile pemegang kendali atas Selat Jabal Tariq (Gibraltar).

Pada hari Sabtu 22 Dzul Hijjah 770 Hijriah (28 Juli 1369) Emir Muhammad V datang mrmbawa pasukan dalam jumlah yg banyak mengepung Algeciras dengan membangun banyak menara-kepung serta menutup rapat semua celah masuk ke kota. Algeciras pada waktu itu terdiri dari dua bagian kota yg dipisahkan oleh Sungai Río de la Miel. Setiap bagian kota memiliki dinding pertahanan kota serta menara pertahanannya sendiri. Efek dari pengepungan periode sebelumnya adalah banyak bagian dari pertahanan yg masih hancur atau sangat rapuh. Kedatangan pasukan Granada ini cukup mendadak sehingga kaum nasrani terburu-buru dalam memperbaikinya.

Berkali-kali pendadakan memenangkan pertempuan, tidak boleh bosan untuk dicatat.

Upaya perbaikan yg dipercepat ini memang tidak sekuat dibandingkan banguan aslinya ketika dibangun oleh Tariq. Oleh karena itu, misalnya, gerbang utama (Puerta del Fonsario) yg pernah paling parah menderita kerusakan ketika dikepung Alfonso XI kini dibangun dengan adukan pengeras kelas rendah. Jeleknya kualitas pertahanan serta sedikitnya pasukan penjaga di Algeciras membuat serangan kaum muslimin dari arah utara menyebabkan kerusakan yg hebat.

Kemampuan seorang pemimpin militer adalah mengetahui persis kekuatan pasukannya, lalu mengarahkan kekuatan tersebut untuk menghantam titik terlemah dari lawan dengan segenap daya serta dalam waktu yg sekejut-kejutnya.

Serangan kaum muslimin tersebut dirahkan secara khusus pada al-Binya (Villa Nueva), yaitu kota bagian selatan. Pasukan yg digelar oleh Muhammad V membangun banyak alat penghancur pertahanan kota, telah juga menyiapkan tangga serbu berukuran tinggi, serta memiliki keberanian yg terlatih untuk menyerbu kota. Kota bagian selatan ini jatuh pada tanggal 30 Juli dan seluruh prajurit dan penduduk yg mengangkat senjata menjadi korban. Efek hukuman tegas serta kekalahan telak ini mendorong pasukan yg berada di kota bagian utara untuk buru-buru menyerahkan senjatanya. Dari sekian banyak mesin perang yg disiapkan oleh Emir Muhammad V hanya sebagian saja yg dipakai; lainnya lebih berfungsi sebagai alat penggentar.

Perang tidak selalu simetris, efek psikologis tidak boleh diabaikan ketika tujuan hendak dicapai dalam waktu yg terbatas; maka metode penggentaran dapat dipakai sebagai upaya membuat palagan menjadi asimetrik.

Pada tanggal 31 Juli, Emir Muhammad V dan pasukannya parade masuk ke Villa Vieja pusat kota serta memberikan kebebasan bagi pasukan dan penduduknya utk keluar dari kota dengan membawa harta benda mereka. Katedral Algeciras yg dahulunya merupakan masjid kini dikembalikan fungsinya sebagai tempat sujud kepada Allah Ta’ala. Sang emir kemudian menempati benteng kuno Algeciras yg bernama Cerro de Matagorda. Dampak kemenangan ini pada moral penduduk Granada sungguh besar, ini terlihat dengan banyaknya penulisan sejarah atas peristiwa tersebut di pusat-pusat studi di Granada.

Kemenangan mendorong banyak pencatatan, sedangkan kekalahan mendorong sedikit saja. Pola seperti itu tidak selalu bijak, tapi itulah kenyataannya.

Setelah kota Algeciras diperbaiki dan garnizun pasukan ditempatkan, selama 10 tahun kota tersebut dikendalikan Granada secara strategik namun tidak pernah sampai ke titik kejayaan sebelumnya. Ketika Emirat Granada turun pamor militer dan kekuatan ekonominya, maka seiring itu pula peran Algeciras sebagai pangkal jembatan ke Afrika Utara perlahan berkurang hingga terhapus dari catatan sejarah.

Kemenangan sesaat tanpa perencanaan yg berkelanjutan dapat menggerus keunggulan strategik menjadi sebatas kemenangan taktis.

Di teluk Algeciras sebenarnya terdapat dua kota pelabuhan, yg satunya lagi adalah Jabal Tariq (Gibraltar). Secara alami, Gibraltar lebih mudah dibentengi daripada Algeciras yg membutuhkan pasukan penjaga utk pertahaannya seoanjang hampir 5 km. Sehingga tidak ada pilihan lagi setelah 10 tahun bahwa Algeciras harus ditinggalkan. Pada tahun 1379, kota berikut perbentengannya diluluhlantakkan agar tidak pernah lagi dapat dibangun maupun diduduki oleh Kerajaan Castile.

Agung Waspodo, mengagumi semangat juang dan ketidak-putusasaan Emir Muhammad V dari Granada di tengah kemunduran peradaban Andalusia yg sepertinya tidak terelakkan..

Depok, 28 Juli 2015, menjelang sore 646 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ingin Mengerjakan Sesuatu Dengan Usaha Terbaik? Mutlak Seorang Pemimpin Harus Turun Memberi Teladan!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan Kota Buda Tahun 1541

Pengepungan kota Buda pada tahun 1541 ini berakhir dengan dikuasainya kota tersebut oleh sultan Turki Utsmani yg sedang dipegang oleh Suleiman Kanuni, atau lebih populer di Barat dengan istilah Suleiman the Magnificent. Pertempuran ini adalah bagian dari perang antara Khilafah Turki Utsmani dan Hungaria. Periodenya termasuk ke dalam Perang Kecil di Hungaria (the Little War in Hungary).

Pada mulanya, terdapat pasukan multi nasional di bawah pimpinan Wilhelm von Roggendorf yg ditugaskan utk menginvasi wilayah Hungaria. Mereka datang untuk memaksakan kehendak atas John Zápolya yg memimpin Hungaria sebagai wilayah-ketundukan (vassal) Turki Utsmani.

Ketika ia wafat pada tahun 1540, raja yg baru yaitu John II Sigismund Zápolya, anaknya sendiri, masih sangat belia sehingga kekuasaan diperankan oleh ibunya yg bernama Isabella Jagiellon dan menteri senior George Martinuzzi. Sementara itu sultan Suleiman I Kanuni dapat menerima suksesi tersebut dengan syarat Hungaria tetap membayar upeti ketundukkannya setiap tahun.

Tetapi, kondisi ini tidak dapat diterima oleh kerajaan Habsburg sehingga Raja Ferdinand mengirimkan 50.000 pasukannya di bawah kepemimpinan Wilhelm von Roggendorf. Pasukan yg besar ini mengepung kota Buda pada musim panas tahun 1541. Karena kurangnya persiapan dan pengelolaan dari pihak koalisi tersebut mengakibatkan beberapa serbuan gagal dan jatuh korban yg tidak sedikit sebelum kota jatuh ke tangan mereka.

Sultan Suleiman Kanuni memimpin langsung balatentara pembebasan yang terdori dari 6.362 pasukan khusus Janisari. Pada tanggal 21 Agustus balatentara ini sampai ke Buda dan segera mengepung kota tsb. Untuk memutus kepungan maka Roggendorf memutuskan utk menyerbu lebih dahulu sehingga terjadilah pertempuran di luar kota melawan pasukan Turki Utsmani. Dalam pertempuran tsb pasukan Habsburg mengalami kekalahan telak dengan korban sekitar 7.000 baik yg gugur di medan perang maupun yg tenggelam ketika menyeberang Sungai Danube. Roggendorf sendiri terluka dan gugur 2 hari kemudian.

Setelah itu kota Buda takluk kepada pasukan Turki Utsmani dan sebuah pukulan terhadap prestise Raja Ferdinand dari Austria. Kekalahan pertempuran serta dikuasainya kota Buda menyebabkan dikuasainya Hungaria bagian tengah oleh Turki Utsmani sekitar 150 tahun lamanya. Sebagian sejarawan menyandingkannya dengan kekealahan Hungaria di Pertempuran Mohaçs 1526.

Mendengar kekalahan kakaknya di Buda, Raja Charles yg baru tiba di Genoa langsung menyiapkan ekspedisi pembalasan namun ke arah kota Tripoli di pesisir Afrika Utara; ekspedisi militer inipun mengalami kegagalan. Raja Ferdinand mencoba sekali lagi merebut kota Buda, namun kembali ia dikalahkan oleh Turki Utsmani di Pertempuran Pest 1542.

Agung Waspodo, mengagumi betapa gigihnya para sultan Turki Utsmani akan tujuan penguasaan seluruh Balkan.

Depok, 31 Juli 2015, menjelang tengah hari.. 654 tahun kemudian, lebih cepat satu hari.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Istri Para Nabi (نساء الأنبياء) – (1)

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Hawwa (Istri Nabi Adam a.s.)

Hawwa, wanita pertama di dunia, ibu seluruh manusia, selalu hamil kembar, teladan para ibu dalam keibuan, dan partner suaminya dalam pembangunan Ka’bah yang mulia. Wafat setahun setelah kematian suaminya, dan dimakamkan bersama suaminya. Lokasi kuburannya kemungkinan berada di Jeddah

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ۬ وَٲحِدَةٍ۬ وَخَلَقَ مِنۡہَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡہُمَا رِجَالاً۬ كَثِيرً۬ا وَنِسَآءً۬‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبً۬ا (١)
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan [peliharalah] hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. An-Nisa/4:1)

Hawwa, wanita pertama yang menerima rayuan syaithan dalam bentuk hiasan dan menularkannya kepada suaminya, dan ini adalah makna pengkhianatan dalam sabda Nabi Saw,

لولا حواء لم تخن أنثى زوجها
“Kalaulah tidak karena Hawwa’, seorang istri tidak akan mengkhianati suaminya. (Muttafaqun ‘alaih)

Hawwa adalah wanita yang pertama kali mengetahui apa arti kematian dan menangis karena kematian, yakni ketika suaminya, Adam a.s. menginformasikan bahwa Habil telah mati. Kesedihan yang berlangsung lama hingga 5 tahun kemudian lahirlah Syaits (pemberian Allah) menggantikan Habil

Istri Nabi Nuh a.s.

Contoh buruk bagi wanita kafir yang lebih memilih mengikuti kelompok kuffar yang melecehkan tauhid dan menyakiti Nabi Nuh a.s. Wafat tenggelam bersama orang-orang kafir dalam sebuah peristiwa banjir besar.

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلاً۬ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ۬ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ۬‌ۖ ڪَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَـٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡہُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔ۬ا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٲخِلِينَ (١٠)

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat [1] kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari [siksa] Allah; dan dikatakan [kepada keduanya]; “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk [neraka]”.” (Q.S. at-Tahrim/66:10)

Ibu dari Haam, Yafits, dan Kan’am, seluruhnya tenggelam.

Istri Nabi Luth a.s.

Bernama Walihah, contoh buruk bagi wanita kafir yang menjadi mata-mata dakwah suaminya, menyebarluaskan rahasia suaminya dan memusuhi agamanya. Memiliki akhlak bejat, watak rusak dan fitrah yang menyimpang. Wafat binasa bersama kaumnya.

إِلَّا عَجُوزً۬ا فِى ٱلۡغَـٰبِرِينَ (١٧١)
“kecuali seorang perempuan tua [isterinya], yang termasuk dalam golongan yang tinggal.” (Q.S. Asy-Syu’ara/26:171)

Istri Nabi Ismail a.s.

Teladan terbaik kedermawanan setiap wanita beriman, yang taat kepada suaminya, qana’ah, banyak memuji Allah dan pandai bersyukur. Kebaikannya ini mendoorng Nabi Ibrahim a.s. mendoakan keberkahan baginya, sehingga Allah memberkahi keturunannya dan melahirkan 12 orang anak (Nabit, Qaidar, Arbal, Mansya, Masma’, Masyi, Duma, Adar, Thaima, Yathura, Nabsya, dan Qaidama. Wanita itu bernama Ri’lah binti Mudhahd bin Amr al-Jurhumiyah, seorang wanita yang hadir menggantikan istri pertama Isma’il a.s., Shada binti Sa’ad yang juga berasal dari Kabilah Jurhum. Wafat di dekat Baitullah.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Penghujung Masa Sang Fatih – Cita yang Belum Tersampaikan

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Kehadiran Balatentara Turki Utsmani di Otranto
28 Juli 1480

Penyerangan terhadap kota Otranto, di ujung selatan “sepatu” semenanjung Italia adalah sebuah serangan dan pendudukan terhadap daratan Italia yg diberhentikan karena wafatnya Sultan Mehmed II Fatih. Pada musim panas tahun 1480, sebuah kekuatan sejumlah 20.000 pasukan Turki Utsmani dibawah komando Gedik Ahmed Paşa mendarat di selatan Italia. Fase pertama misi ini adalah menaklukan kota Otranto.

Seorang pemimpin pejuang yg tidak pernah letih untuk mempersembahkan karya terbaik dalam rentang hidupnya yang pendek namun sarat prestasi langit maupun kejayaan bumi.

Kemudian, pada hari Jum’at tanggal 20 Jumadil Awwal 885 Hijriah (28 Juli 1480) armada Turki Utsmani sebanyak 128 kapal termasuk 28 galley di dalamnya mendarat dekat kota Otranto, wilayah Neapolitan. Sebagian besar pasukan adalah mereka yg ditarik mundur dari pengepungan Pulau Rhodes. Melihat kedatangan ini, pasukan garnizun serta penduduk kota mundur ke dalam benteng kota.

Pendadakan selalu menjadi ciri khas al-Fatih muda ini. Hampir saja lawan2nya dibuat kewalahan mengantisipasi langkahnya, apalagi mengikuti denyut energinya.

Pada tanggal 11 Agustus, setelah dikepung selama 15 hari, Gedik memerintahkan untuk menyerbu paksa pertahanan benteng tersebut. Ketika dinding pertahanannya sudah jebol, pasukan Turkomi Utsmani membanjiri benteng ke seluruh penjuru kota. Perlawanan di dalam kota tidak kalah sengit hingga ke katedral serta benteng dalam. Ketika pasukan berhasil mendobarak pertahanan dadakan di katedral mereka menjumpai Uskup Agung (archbishop) Stefano Agricolo, sudah siap tempur dengan baju zirah dan salib di tangannya. Bersamanya terdapat pasukan dan Count Francesco Largo – komandan garnizunnya – beserta Uskup Stefano Pendinelli.

Pasukan yg dipersiapan Fatih tidak hanya piawai mengolah medan terbuka serta seni mengepung kota, tetapi mereka juga dituntut untuk menguasai perang kota dalam medan urban lagi berjarak tempur dekat. Ketika pedang diganti belati dan kuda menjadi tidak menungguli posisi-posisi bertahan dalam ruang tempur yg sempit.

Menurut klaim gereja Otranto, jumlah total korban mencapai 12 ribu dan 5 ribu dijadikan budak. Angka fantastis ini sekarang mendapatkan kritik tajam dari para sejarawan dan peneliti modern. Metode pencatatan sejarah kaum nasrani juga mendapat tekanan dan kritik tajam oleh sejarawan setelah masa itu berlalu. Pihak Turki Utsmani menentang keabsahan klaim jumlah korban yg begitu tinggi karena di luar kebiasaan serta aturan ketat atas penanganan tawanan dalam ketentaraam Turki Utsmani. Tulang-belulang yg selama ini menjadi basis klaim juga menunjukkan bahwa mereka bukan penduduk sipil melainkan pasukan militer.

Perang media melalui pembentukan opini terus berlangsung bahkan setelah lama waktu berlalu dan asap mesiu kelaskaran telah lama terhembus angin perdamaian. Sejarawan menjadi kombatan di medan penulisan dan pelurusan sejarah.

Namun, peneliti sejarah Italia merumuskan bahwa pasukan Turki Utsmani kala itu tidak jarang melancarkan aksi teror untuk menggelindingkan suasana panik di kalangan penduduk Italia selatan. Namun, kongres terbaru di Italia justru mempertanyakan apakah ada korban samasekali karena kebiasaan Turki Utsmani adalah menawan lawan utk mendapatkan tebusan atau keuntungan finansial dengan menjualnya ke pasar perbudakan yg masih umum ditemukan saat itu.

Agung Waspodo, mencatat pe-er untuk membaca era Fatih secara lebih komprehensif khususnya periode menjelang akhir.

Depok, 28 Juli 2015, sudah masuk malam 535 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Menjelang Dibubarkannya Kesultanan & Kekhilafahan

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Konstitusi Kedua “terpaksa” diterima Turki Utsmani
23 Juli 1908

Era Konstitusi Kedua atau juga dikenal sebagai Second Constitutional Era (dalam bahasa Turki Utsmani: ايکنجى مشروطيت دورى; Turki: İkinci Meşrûtiyyet Devri) “terpaksa” diterima dalam struktur kepemerintahan Khilafah Turki Utsmani.

Hal ini terjadi tidak lama setelah revolusi Turki Muda (Young Turks) tahun 1908 yg mendesak Sultan Abdul hamid II untuk mengembalikan sistem monarki-konstitusional dengan menghidupkan kembali parlemen, perwakilan daerah, serta konstitusi 1876. Perlu diketahui bahwa parlemen dan konstitusi dari Era Konstitusional Pertama pernah dibekukan oleh Abdul Hamid II pada tahun 1878 setelah 2 tahun berjalan. Setelah pengembalian konstitusi kedua itu banyak anggota Turki Muda yang bergabung dengan partai dan kelompok politik untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki.

Beberapa kali terjadi pemilu selama periode ini yg mendorong populer dan naiknya partai Komite Persatuan dan Kemajuan (Committee of Union and Progress – CUP) yg mendominasi politik. Partai terbesar kedua yg berseteru dengan CUP selama hampir 2 tahun adalah Partai Kebebasan dan Keselarasan (Freedom and Accord Party – FAP) yg dikenal berpaham liberal dan memperhatikan nasib buruh (sering juga disebut Liberal Union atau Liberal Entente) yg didirikan pada tahun 1911. Periode ini banyak diwarnai oleh usaha golongan tua untuk menegakkan kembali sistem absolutisme.

Setelah Perang Dunia Pertama, yg berujung pada pendudukan kota İstanbul pada 13 November 1918 oleh pihak Sekutu, keluarlah keputusan parlemen untuk bekerja sama dengan kaum Revolusionis Turki yg berkedudukan di kota Ankara dengan menandatangani Protokol Amasya serta menyepakati Pakta Nasional (Misak-ı Millî – National Pact) pada tahun 1920.

Keputusan dan tindakan tersebut membuat berang Sekutu yang kemudian mengambil tindakan memaksa sultan untuk menghapus parlemen. Sidang parlemen terakhir yg diselenggarakan pada tanggal 18 Maret 1920 mengeluarkan nota protes kepada Sekutu. Jubah hitam digantungkan pada banyak kursi parlemen sebagai tanda banyaknya anggota yg absen.

Agung Waspodo, masih berduka setelah 107 tahun kemudian

Depok, 23 Juli 2015

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Usia 40 Tahun

Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

Usia 40 tahun adalah usia penting bagi manusia. 40 tahun dalam hitungan Hijriyah sama dengan sekitar 38 tahun 9.5 bulan dalam hitungan Masehi.

Begitu pentingnya sehingga Allah Swt memasukkan perkara ini di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Maka demikian juga dalam kehidupan Nabi Saw. Mendekati usia 40 tahun, beliau mulai cenderung melakukan ‘uzlah. Beliau melakukan ikhtila’ di Gua Hira’, di sebelah Barat Laut Makkah.

Terkadang beliau menyendiri hingga 10 malam, bahkan terkadang sampai sebulan. Beliau hanya pulang untuk mengambil bekal baru dari rumahnya. Demikianlah hingga Nabi mendapatkan wahyu pertama.[1]

Nabi Saw suka membawa roti dari gandum dan air sebagai bekal makanan beliau di Gua Hira, Jabal Nur, yang jaraknya sekitar 2 mil dari Makkah.

Gua itu tidaklah terlalu besar, panjangnya 4 hasta, lebarnya 3/4 hingga 1 hasta. Terkadang ada dari keluarga beliau yang menemaninya. Sesungguhnya, hasil pemikiran beliau yang mendalam telah memberikan ruang pemisah yang cukup lebar antara dirinya dan kehidupan masyarakatnya.

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa siapapun yang sedang dipersiapkan untuk menerima urusan yang besar, maka ruhnya harus dibuat kosong dari segala urusan dunia, dan dari segala kekotoran pemikiran.

Terlebih jika urusan besar itu adalah untuk merubah wajah alam semesta dan sejarah yang menyertainya.[2]

Allah Swt berfirman,
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf/46:15)

Do’a tersebut senada dengan do’a yang dilafazhkan oleh Nabi Sulaiman a.s. saat mengetahui para semut yang berlarian menuju rumah masing-masing agar tidak terinjak rombongan Nabi Sulaiman a.s.

Sebagaimana firman Allah Swt,
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
(Q.S. An-Naml/27:19)

Jika kita perhatikan, kegiatan uzlah ini dilakukan Nabi pada saat-saat puncak kesuksesannya sebagai pengusaha, dan ketinggian derajatnya di hadapan manusia.

Ibnul Jauzi menggambarkan bagaimana Nabi begitu sibuk berdagang pada masa sebelum kenabian.[3].

Maka dengan ‘uzlah, boleh jadi, ada begitu banyak penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali bersama kesendirian manusia hanya kepada Sang Khalik.

Ini memberikan pelajaran bahwa muhasabatunnafs, introspeksi diri, adalah bagian dari kesempurnaan perjalanan spiritual seseorang.

Jika kita kaitkan dengan aspek kehidupan Nabi Saw pasca 40 tahun, terdapat hikmah yang luar biasa, bahwa karya-karya besar untuk Allah Swt membutuhkan pendidikan di dalam hati, khususnya berawal dari menghidupkan cinta kepada-Nya (mahabbatullah), karena tiada jihad dan tadhiyyah tanpa sumber mata air yang terus mengaliri motivasinya.

Maka diantara sarana mahabbatullah ada tafakkur terhadap seluruh tanda-tanda kebesaran Allah, dan limpahan nikmatNya yang begitu besar.

‘Uzlah atau ikhtila’ ini juga dinamakan dengan tahannuts (dari tahannuf) yang berarti pembersihan diri (tabarrur).

Menurut Ibn Ishaq, ‘Ubaid menjelaskan bahwa Nabi Saw menyendiri selama sebulan setiap tahunnya, dan seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyah.[4]

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

Tingkat kematangan psikologi berada pada puncaknya di usia ini. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa terdapat banyak hal dalam penghayatan agama ini yang tidak dapat dirasakan kenikmatannya, yang tidak menjadi mudah pelaksanaannya kecuali karena faktor umur dalam hal ini setelah 40 tahun.

Maka jika di umur 40 tahun seseorang masih belum bisa mengendalikan syahwatnya, maka dikhawatirkan akhir hidupnya adalah akhir dengan syahwat sebagai pemenangnya.

Disinilah kemudian ‘uzlah menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan sebagai satu di antara agenda kehidupan manusia pasca usia 40 tahun.

Agama ini tidak menjadikan uzlah yang terus menerus sebagai sebuah kebaikan, karena dalam kesempatan yang sama agama ini juga mendorong manusia untuk khulthah (tetap bergaul dan berinteraksi).

Tersampaikannya Hak Allah menjadi prioritas dan target kehidupan manusia. ‘Uzlah menjadi salah satu jalan keluar dalam pemenuhan hak Allah.

Memahami cara beragama secara utuh akan menghindarkan kita dalam
berlebih-lebihan dalam sebuah perkara, agar keinginan untuk menjaga agama melahirkan penjagaan agama itu sendiri.

Rasulullah Saw. bersabda,
“Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah.

Ia menakuti-nakuti mereka, dan merekapun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah”
(HR. Al Hakim 4/446)

Nabi Saw., juga bersabda, “Seseorang bertanya kepada Nabi: ‘siapakan manusia yang paling utama wahai Rasulullah?’

Nabi menjawab: ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi: ‘lalu siapa?’.

Nabi menjawab: ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat’”

(Muttafaqun ‘alaih: HR. Al Bukhari 7087, Muslim 143)

Namun agama ini juga memerintahkan umatnya untuk bergerak membawa perubahan (agent of change) kepada masyarakat umum.

Nabi Saw. bersabda,
“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”

(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 388)

Dan serangkaian dalil lainnya yang mendukungnya. Maka memadukan keduanya adalah bagian dari menghidupkan agama ini. Dakwah membutuhkan motivasi dan ilmu. ‘Uzlah adalah bagian dari mengisi kembali kapasitas motivasi, sementara hadir pada majelis ilmu menjadi bagian dari mengisi kembali kapasitas kefahaman agama.

Dalam bab ini, di masa Nabi Saw belum mendapatkan warisan ilmu kecuali nanti setelah beliau dibangkitkan sebagai Nabi Saw, maka ilmu turun terus menerus kepada beliau untuk disampaikan kepada umatnya.

Dr. Musthafa as-Siba’i menjelaskan bahwa khalwat yang benar akan mengajaknya untuk bermuhasabah terhadap dirinya jika jiwanya teledor dalam kebaikan, pandangannya menyimpang, melenceng dari jalan hikmah, keliru dalam sistem, atau terlena bersama manusia di dalam berbantah-bantahan dan perdebatan, sehingga ia lupa mengingat Allah, lupa mengingat Akhirat, lupa Surga dan Neraka-Nya, lupa mengingat kematian, lupa akan dahsyat dan sengsaranya kematian.

Maka khalwat dalam pengertian tahajjud dan qiyamullail menjadi kewajiban bagi Nabi Saw, sementara sunnah bagi selainnya. Ia menjadi kebutuhan para pengemban dakwah kepada Allah, syariat dan surga-Nya, karena di dalamnya terdapat suatu kenikmatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang Allah beri kemuliaan dengan kenikmatan tersebut.[6]

Allah Swt berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Q.S. Al-Muzzammil: 1-6)

Maraji’:

1] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1977

2] Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsum fi As-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wassalam, Riyadh: Darussalam, 1414H

3] Ibnul Jauzi, Al-Wafa bi Ahwali al-Musthofa, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004

4] Ibn Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah

5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zaad al-Ma’ad, Dar at-Taqwa lil Nasyr wa at-Tauzi’, 199

6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, Cet. I, 1998

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Para Mujahidah Pemburu Surga

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Asma’ binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar ash-Shiddiq

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Aisyah dari jalur ayah. Menikah dengan salah seorang penghuni Surga, Zubair bin Awwam.

Ibu dari Abdullah bin Zubair, satu dari empat orang besar pemberi fatwa (Al-Ibadalah al-Arbaah).

Ayah, ibu, suami, anak dan saudarinya, seluruhnya sahabat Nabi  yang setia.

Wafat pada umur 100 tahun dalam kondisi fisik gigi dan akal dan jasad yang masih kuat.

Penyair dan periwayat 56 hadits Nabi (26 hadits di Shahih Bukhari).

Ikut perang Yarmuk bersama suaminya.

Memiliki motivasi kuat saat hijrah, motivator bagi anaknya dalam peperangan, dan memiliki kecerdasan hati yang sangat tinggi.

Asma’ binti Umais bin Maad bin Haris bin Tayim bin Haris al-Khats’ami

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Maimunah dari jalu ibu.

Bersuamikan Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a. (masing-masing menikahinya setelah wafatnya suami sebelumnya).
Wafat tahun 40 H.

Periwayat 60 hadits Nabi. Ikut hijrah ke Habsyah bersama suaminya, Ja’far.

Berani mengkritik Umar ibn Khattab r.a. untuk menjaga ilmu (HR. Bukhari No. 3905 dan HR. Muslim No. 4558).

Ummu Salamah (Asma bin Yazid bin Sukun bin Rafi’

Wanita Anshar. Wafat tahun 30 H.

Pengkhutbah, juru bicara, mujahidah pemberani nan tangguh yang membunuh 9 tentara Romawi di persembunyiannya saat perang Yarmuk, dan periwayat 80 hadits Nabi.

Ummu Imarah (Nasibah binti Ka’ab bin Umar bin Aul al-Khazrajiah)

Wanita pertama berbaiat kepada Nabi. Derajatnya sangat tinggi di antara manusia.

Bersuamikan Zaed bin Asyim dengan anak Habib dan Abdullah. Saat suaminya wafat, ia menikah dengan Ghaziah bin Umar al-Mazni. Wafat tahun 13H.

Mujahidah tangguh yang mengikuti beberapa peperangan bersama Nabi dengan tugas membantu mujahidin, memotivasi, hingga turut berperang laksana perwira.

Saat perang Uhud, ia terjun bersama suami dan anaknya hingga mengalami luka di 12 tempat.

Ia termasuk pelindung Nabi saat hendak dibunuh Ibn al-Qum’ah dengan pukulan tangannya yang kemudian dibalas dengan goresan di punggungnya.

Selain terlibat di hari Hudaibiyah, perang Khunain, ia juga turut berperang di masa Khalifah Abu Bakar r.a.

Bahkan saat ikut bersama Khalid bin Walid r.a. memerangi Musailamah al-Kadzdzab, tangannya dipotong oleh Musailamah dan tubuhnya terluka di 10 tempat, bahkan anaknya, Habib bin Zaed juga dibunuh Musailamah.

Ummu Sulaim (Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin Haram)

Wanita Anshar Al-Khazrajiah, Assabiquna al-Awwalun. Saudari Ummu Haram binti Mulkhan, ibu dari Anas bin Malik r.a., asisten Rasulullah selama 10 tahun.

Di antara suaminya adalah Ibadah bin Shamat, Malik bin Nadhr, dan Abu Thalhah.

Seorang ibu yang sangat tangguh, lebih khusus lagi sangat terkenal dengan caranya saat memberitahukan wafatnya anaknya dari Abu Thalhah kepada suaminya.

Mujahidah tangguh khususnya saat perang Uhud, selain sebagai tenaga medis, dan penyedia minuman, ia selalu membawa pisau besar untuk bersiap-siap turut berperang.

Saat hamil, ia pun tetap ikut perang Khunain dengan kebiasaan yang sama.

Ummu Haram (ar-Rumaysha binti Mulhan bin Khalid bin Zaid al-Anshary al-Najariyah)

Istri Ubadah bin Shamit r.a., bibi dari Anas bin Malik r.a. Wafat tahun 27H.

Periwayat 5 hadits Nabi. Mujahidah tanggung dalam banyak peperangan.

Didoakan Nabi termasuk bagian pasukan yang menyeberangi lautan, dan nantinya ternyata ia ikut saat ekspansi terhadap pulau Cyprus.

Ia wafat karena terjatuh dari kudanya yang menyebabkan lehernya terjerat tali kudanya. Kuburannya di pulau Cyprus terkenal dengan Kuburan Wanita Shaleh.

Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ad

Saudari Utsman bin Affan dari pihak Ibu, termasuk wanita pertama dari kabilah Hadnah Hudaibiyah yang Hijrah ke Madinah.
Wanita Quraisy yang berani keluar dari rumah ayahnya untuk Islam.

Bersuamikan Zaid bin Kharisah, dan kemudian setelah wafat, ia menikah dengan Zubair bin Awwam r.a. dikaruniai anak bernama Zainab, dan kemudian menikah dengan Abdurrahman bin ‘Auf r.a. dikaruniai anak bernama Ibrahim dan Hamid, dan setelah meninggalnya Abdurrahman bin Auf r.a., ia menikah dengan Amr bin Ash r.a. Wafat tahun 33 H.

Periwayat 10 hadits Nabi dan ahli penulisan.

Ummu Hani (Fakhitah bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib)

Keturunan Bani Hasyim, masuk Islam di masa penaklukkan Makkah. Wafat tahun 40 H.

Periwayat 46 Hadits Nabi. Ibu yang mulia dari banyak anak-anaknya.

Ummu Jamil (Ummu Hakim binti Haris)

Keturunan Bani Makhzum dari Quraisy, keponakan Khalid bin Said r.a., menikah dengan Ikrimah bin Abu Jahal r.a., Khalid bin Said r.a., dan Umar bin Khaththab r.a., masing-masing karena suaminya syahid.

Mujahidah tangguh yang berhasil membunuh 7 tentara Roma pada peperangan yang membunuh Khalid bin Said r.a. menggunakan tongkat kemah acara pernikahannya dengan Khalid.

Pernikahannya dengan Khalid r.a. sangat mulia. Tatkala Khalid meminangnya setelah masa iddahnya selesai, dan ketika hendak menyelenggarakan walimah, terjadi serangan ‘Marju as-Syuffar’ dari tentara Roma.

Khalid yang sudah merasakan ia akan syahid di peperangan ini berniat menunda pernikahannya tersebut, namun justru mengetahui hal tersebut mendorong Ummu Jamil untuk mempercepat pernikahan dengannya.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Asal Muasal Tradisi Bahari Bangsa Turki Rintisan Latuftahanna & Penaklukan Konstantinopel

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Lepas Pantai Chios (Sakız dlm bahasa Turki)
23 Juli 1319

Pertempuran laut ini dipertaruhkan di lepas pantai pesisir timur Laut Aegean dekat Pulau Chios (Sakız) antara kapal perang nasrani Latin (yg pada umumnya diawaki pasukan Hospitaller) melawan kapal perang dari Beylik Turki dari suku Aydın.

Sedikit latar belakang, ketika kekuasaan Imperium Byzantium runtuh di bagian barat Anatolia (Asia Kecil) berikut penguasaannya atas Laut Aegean pada akhir abad ke-13 – bertepatan dengan dibubarkannya angkatan laut Byzantium juga pada tahun 1284 – maka itu menimbulkan kekosongan kekuasaan. Kondisi vakum itu segera direbut oleh berbagai Beylik Turki serta pasukan perbatasan Ghazi Turki.

Memanfaatkan peluang tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menyisir kesempatan namun juga membutuhkan kesiapan utk menyusun kompetensi yg akan menopang laju terbukanya peluang tsb. Bangsa Turki adalah bangsa daratan, namun ketika peluang bahari itu terbuka mereka tidak segan untuk menceburkan diri ke laut. Mereka sdh mendahului dengan teladan bahwa meninggalkan zona nyaman adalah sebuah kemestian utk menjadi pengayom dunia.

Berbagai perluasan Beylik Turki di daerah ini juga memanfaatkan para pelaut berkebangsaan Yunani yg “kehilangan pekerjaan” sehingga untuk pertama kalinya bangsa Turki mengenal ilmu kebaharian. Mereka mulai belajar menguasai berbagai teknik perang bahari dan mengasahnya dengan menyerbu banyak kepulauan yg diduduki bangsa Latin. Naiknya pamor pelaut Turki juga disebabkan adanya persaingan antara dua kekuatan laut Latin, yaitu antara Venisia dan Genoa.

Satu lagi teladan yg diberikan oleh pelaut Turki masa itu adalah mereka tidak segan belajar dari bangsa manapun. Lawan tidak sekedar dihadapi atau dikalahkan, namun diayom serta dipelajari aspek-aspek keunggulannya agar menjadi kompetensi diri utk melepas dari ketergantungan.

Pada tahun 1304 suku Turki Menteshe, yg kemudian disusul oleh suku Turki Aydın, menguasai kota Ephesus dan sepertinya kepulauan di sebelah timur Laut Aegean akan segera jatuh ke tangan pelaut-pelaut Turki. Untuk menahan gelombang mematikan tersebut, pada tahun yg sama Genoa menduduki Pulau Chios (Sakız) dimana Benedetto I Zaccaria mendirikan sebuah prinsipal kecil. Empat tahun kemudian, 1308, ordo militer fanatik Knights of Saint John (Hospitallers) menduduki Pulau Rhodes. Keduanya akan menanggung hantaman paling keras dari serbuan laut bangsa Turki sampai tahun 1329.

Aspek keteladanan lainnya adalah para pelaut Turki yg masih terbilang “bau kencur” itu tidak pernah rendah diri. Bahkan mereka cukup percaya pada kemampuannya yg masih terbatas utk menghadapi bangsa-bangsa yg sudah lebih dulu mahir atas tradisi perang lautan. Kekalahan tidak juga menyurutkan laju layar mereka, karena sdh sangat dipahami bahwa tidak ada kejayaan tanpa pengorbanan.

Pada bulan Juli 1319, armada Aydın, dibawah pimpinan langsung emirnya yg bernama Mehmed Beg berlayar dari kota pelabuhan Ephesus. Ia membawa 18 galley dan 18 kapal ukuran yg lainnya. Armada kecil ini dicegat oleh armada Hospitaller yg terdiri dari 24 kapal dengan 80 pasukan bersenjata lengkap (knight) di dalamnya. Pasukan itu dipimoin oleh Albert dari Scwharzburg. Armada kaum nasrani Latin ini mendapatkan tambahan skuadron Martino Zaccaria dari Chios yg terdiri atas 1 galley dan 6 kapal lainnya.

Hampir selalu, pada masa-masa ini, pemimpin itu tidak hanya yg paling cakap pemikirannya, namun juga yg paling gagah berani perawakannya. Mehmed Beg memimpin langsung pasukan di kapal terdepan, karena dia bukan pemimpin meja di tenda belakanh.

Pertempuran laut itu berakhir dengan kemenangan pada pihak kaum nasrani Latin; hanya 6 kapal Turki yg berhasil lolos dari sergapan dan penenggelaman. Kemenangan ini ditindaklanjuti oleh armada Latin dengan merebut Pulau Leros yang penduduk Yunaninya sempat memberontak atas nama emperor Byzantium. Kemenangan ini pula disusul oleh kemenangan lain yg menggagalkan rencana armada Turki lainnya utk menginvasi Pulau Rhodes.

Kekalahan tidak menyurutkan, kemenangan tidak membusungkan; itu yg dipelajari dalam-dalam oleh keenam kapal yg berhasil meloloskan diri. Kelak mereka menjadi sumber pembelajaran yg berharga bagi para pelaut muda yg menanti gilirannya berada pada kapal terdepan.

Namun, diatas segala itu, kemenangan di lepas pantai Chios itu tidak juga dapat membendung meningkatnya kekuasan Beylik Aydın. Keluarga Zaccaria akhirnya juga harus melepaskan pangkalan Zmyrna di daratan kepada anak Mehmed Beg yg bernama Umur Beg. Dibawah kepemimpinan baru Umur Beg, angkatan laut Aydın menguasai Laut Aegean selama 2 dekade setelah itu hingga datangnya Crusade Smyrna (1343-1351) yg melumpuhkan Beylik Aydın secara final.

Hilangnya Aydın adalah pertanda naiknya Osmanlı. Tidak terlalu lama lagi proyek Latuftahanna akan disempurnakan persiapan baharinya.

Agung Waspodo, dalam rangka menelusuri jejak bahari menjelang naiknya Beylik Osmanlı yg akan menjadi cikal bakal Khilafah Turki Utsmani 696 tahun kemudian.

Depok, 23 Juli 2015

Sumber rederensi:

Sources: İnalcık, Halil (1993). “The Rise of the Turcoman Maritime Principalities in Anatolia, Byzantium, and the Crusades”. The Middle East & the Balkans Under the Ottoman Empire: Essays on Economy & Society. Indiana University Turkish Studies Department.

Luttrell, Anthony (1975). “The Hospitallers at Rhodes, 1306–1421”. In Hazard, Harry W. A History of the Crusades, Volume III: The fourteenth and fifteenth centuries. University of Wisconsin Press.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Kemenangan Tidak Selalu Membuahkan Kemajuan Tanpa Tindak Lanjut yang Nyata!

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Anzen – 22 Juli 838

Pertempuran Anzen, atau juga disebut Pertempuran Dazimon, terjadi pada hari Senin 26 Sya’ban 223 Hijriah atau 22 July 838 di daerah Anzen/Dazimon antara pasukan Byzantium dan kekuatan Khilafah ‘Abbasiyah.

Pada waktu itu Khilafah ‘Abbasiyah sedang melancarkan sebuah ekspedisi besar dengan 2 kelompok balatentara terpisah sebagai jawaban atas keberhasilan kampanye militer Emperor Theophilos setahun sebelumnya. Tujuan utama ekspedisi ini adalah utk menghancurkan Amorion, salah satu kota besar Byzantium di Asia Kecil. Di palagan Anzen, pasukan Theophilos berjumlah lebih besar dibandingkan dengan pasukan muslimin dibawah pangeran ketundukan (vassal) Iran yg bernama Afshin.

Strategi bumi hangus tentu berbeda dengan strategi penaklukan teritorial. Sangat disayangkan jika pada periode ino upaya terstruktur lagi menyeluruh tidak dilakukan utk menyebarkan Islam ke daerah Asia Kecil (Asia Minor, atau sering disebut sebagai Anatolia di masa Turki Utsmani nantinya).

Pasukan Byzantium yg jumlahnya lebih banyak itu pada awalnya memperoleh keberhasilan dalam kontak senjata ini, tetapi ketika Emperor Theophilos memutuskan utk ikut menyerang secara langsung; maka ketiadaan sosoknya di tengah-tengah para prajurit yg tidak biasanya ini menimbulkan kepanikan. Sebuah kepanikan yg tidak ia pertimbangkan sebelumnya ini semakin menjadi-jadi hingga berkembang isu bahwa emperor telah terbunuh. Isu ini ditambah dengan serangan balik pasukan panah-berkuda Afshin yg gigih menyebabkan pasukan utama Byzantium patah arang hingga akhirnya mundur dari lapangan tempur.

🔅Pemimpin memang patut memberi teladan, namun dalam taktik militer keteladanan ini harus diletakkan dalam bingkai strategi dengan pola komunikasi yg aman lagi efektif. Dalam kasus ini, alih-alih merebut kemenangan, ternyata kesemangatan pemimpin maju ke barisan terdepan malah membuat kekacauan pada keseluruhan barisan.

Kekacauan ini, menyebabkan kontingen yg dipimpin langsung oleh Emperor Theophilos dan pasukan pengawalnya menjadi terkepung sementara di sebuah bukit sebelum berhasil meloloskan diri. Kekalahan ini menyebabkan hancurnya kota Amorion beberapa pekan kemudian, sebuah momen kemunduran dan hantaman berat bagi prestise Byzantium dalam perseteruan beberapa abad dari Perang Arab-Byzantium.

Kekalahan yg seandainya ditindak-lanjuti dengan pendudukan wilayah maka akan memberikan hasil yg optimal utk perencanaan tahun berikutnya. Yang masih menimbulkan tanda tanya adalah, apa yg menjadi alasan bagi Khilafah ‘Abbasiyah tidak menguasai wilayah yg sdh rapuh dan runtuh pertahanannya itu? Perlu banyak membaca lagi sejarah era ini.

Kekalahan ini dinilai sangat tragis utk Byzantium pada waktu itu, namun peristiwa di Anzen dan hancurnya kota Amorion secara militer, anehnya tidak berdampak jangka panjang bagi imperium. Hal ini disebabkan karena Khilafah ‘Abbasiyah tidak meneruskan keberhasilan militer ini menjadi sebuah keuntungan yg lebih besar. Hal yg justru mencuat di sisi Byzantium adalah meningkatnya sentimen negatif terhadap ikonoklasme (iconoclasm) yg hampir selalu membutuhkan keberhasilan militer utk menjaga keabsahannya.

Stabilitas dalam negeri selalu menjadi faktor penentu berapa kuat dan lama sebuah ekspedisi militer ke wilayah luar. Ia bisa menjadi faktor pemicu namun bisa juga menjadi faktor penghambat; lawan pun harus cerdas memperhatikan momentum ini.

Tidak lama setelah wafatnya Emperor Theophilos pada tahun 842, empat tahun setelah pertempuran ini, gerakan memuja simbol-simbol relijius bergambar (icons) kembali marak sebagai penanda keberhasilan Nasrani Orthodox di seluruh penjuru kerajaan. Pertempuran Anzen dapat juga dilihat sebagai contoh betapa sulitnya militer Byzantium menghadapi ancaman pasukan panah-berkuda. Hal ini merupakan faktor militer yg besar pada abad ke-6 dan ke-7 yg kemudian berkembang menjadi kekuatan inti tradisi serta doktrin militer Byzantium.

Kekalahan tidak selalu berdampak negatif, dalam aspek militer maka kecerdasan sebuah peradaban juga dapat diukur dari seberapa cepat penyesuaian yg dilakukannya utk mengimbangi keunggulan lawan. Kemenangan tidak berdampak jauh ke depan jika tidak diimbangi oleh kesigapan utk selalu memiliki strategi dan taktik yg terus berkembang diluar pantauan lawan.

Suatu hal yg juga mencengangkan adalah pertempuran ini menjadi momen dimana Byzantium menghadapi taktik bangsa nomaden Turki dengan gaya perang Asia Tengahnya. Keturunan mereka nanti adalah bangsa Turki Saljuq yg akan menjadi antagonis bagi Byzantium dari abad ke-11 hingga seterusnya.

Agung Waspodo, masih terpana dengan mendalamnya sejarah Khilafah ‘Abbasiyah setelah 1177 tahun kemudian.

Depok, 22 Juli 2015, pagi selepas waktu subuh..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tiga Perkara

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ وَ ثَلاَثُ مُنْجِيَاتٍ وَ ثَلاَثُ كَفَّارَاتٍ وَ ثَلاَثُ دَرَجَاتٍ ;

Ada Tiga Perkara
Membinasakan,
Menyelamatkan,
Menghapuskan Dosa dan Meningkatkan Derajat

فَأَمَّا الْمُهْلِكاَتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

1. Adapun yang membinasakan;
Bakhil yang dituruti,
Hawa nafsu yang diikuti dan
Bangga terhadap diri sendiri.

وَ أَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَ الرِّضَا وَ الْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَ الْغِنَى وَ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَ الْعَلاَنِيَةِ ;

2. Adapun yang menyelamatkan adalah:
Adil saat marah maupun ridha,
Hemat  saat miskin maupun kaya, dan
Takut kepada Allah saat sendiri maupun ramai.

وَ أَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَ نَقْلُ اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ ;

3. Adapun yang menghapus dosa adalah:
Menunggu waktu shalat (berikutnya) setelah shalat (sebelumnya),
Menyempurnakan wudhu saat cuaca sangat dingin dan
Melangkahkan kaki untuk menghadiri (shalat) jamaah.

وَ أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءُ السَّلاَمِ وَ الصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ (رواه الطبراني وحسنه الألباني في جامع الصغير

4. Adapun yang meninggikan derajat adalah:
Memberi makan,
Menebarkan salam dan
Shalat malam saat orang lain tertidur.”

(HR. Thabrani, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Jami Ash-Shagir)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…