Berjihadlah

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-2

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Bagian -1 dapat dibaca dari tautan berikut

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-1

Prestasi Sebagai Admiral Turki Utsmani

Selman Reis mendapatkan kesempatan bebas atas permohonan İbrahim Pasha di Mesir pada tahun 1524 yang sangat menghargai pengalamannya. Ia melaporkan situasi di Samudera Hindia dan mengajukan proposal untuk menguasai Ethiopia, Yaman, pantai Swahili, serta mengusir Portugis dari Hormuz, Goa, dan Malaka. Pada tahun 1525 armada Portugis menyerbu pelabuhan di sepanjang pesisir Laut Merah dan berlayar hingga mendekati pangkalan angkatan laut Turki Utsmani di Suez, Mesir.

Pada tahun 1525 Selman Reis dipercayai sebagai admiral untuk memimpin 18 kapal perang Turki Utsmani berkekuatan 299 meriam; sebagian besar kapal ini diambil dari bekas armada Mamluk yang teronggok di Jeddah dan diperbaiki di Suez. Selman Reis berangkat bersama Hayreddin ar-Rumi yang membawa 4.000 pasukan infanteri dengan misi menaklukkan pedalaman Yaman. Armada ini meninggalkan Suez pada tahun 1526 dan setelah merapat di Jeddah baru sampai ke pelabuhan Mocha pada bulan Januari 1527. Keduanya memimpin balatentara Turki Utsmani bergerak ke pedalaman Yaman dan meredam pemberontakan serta mengeksekusi Mustafa Beg sang pemimpin. Balatentara ini tidak cukup kuat untuk merebut kota pelabuhan Aden; namun amirnya mengakui ketundukannya kepada gubernur Turki Utsmani di Mesir.

Catatan penting di sini adalah, hampir tidak pernah wilayah Yaman memberikan ketenteraman bagi administrasi Turki Utsmani di region Samudera Hindia ini. Pemberontakan serta insiden sering mewarnai pergolakan di Yaman pedalaman dan waktu terjadinya pun sering bertepatan dengan momen besar lainnya. Sumber daya yang dibutuhkan untuk memadamkan permasalahan di Yaman seringkali diambil dari alokasi untuk kemajuan wilayah perbatasan lainnya yang terpaksa mengalah.

Armada ini membangun pangkalan angkatan laut di Kamaran, dekat benteng yang pernah dibangunnya pada masa kedinasan di angkatan laut Mamluk. Keberadaan pangkalan ini memberikan kekuatan bagi Turki Utsmani untuk mengawal wilayah akses masuk ke Laut Merah. Untuk pertama kalinya tercatat dalam sejarah bahwa pada rahun 1527 armada Portugis tidak dapat masuk menyerbu ke Laut Merah.

Kesudahan

Setelah keberhasilan terbatas Selman Reis dan Hayreddin ar-Rumi di wilayah Yaman ini mulailah berdatangan permintaan perlindungan dari kesultanan di hampir seluruh pelosok Samudera Hindia atas agresi Portugis yang selama ini tidak terbendung. Bahkan pada tahun 1527 itu datang juga permohonan aliansi dari Wazir Hormuz dan Zamorin Calicut.

Pada tahun 1528 tercatat bahwa banyak pelaut dan pasukan berkebangsaan Turki yang bekerja untuk mengawaki pelayaran berbagai kesultanan di Samudera Hindia; bahkan sampai ke ujung Sumatera. Namun masa-masa gemilang hampir selalu berakhir dengan perpecahan sebagaimana kerjasama yang apik antara Selman dan Hyreddin pun kandas akibat persaingan antar keduanya. Dengan musibah ini maka posisi terjepit yang dialami Portugis berangsur melonggar; bahkan bantuan dari Portugal kembali mengalir untuk menguatkan posisi Estado da Índia.

Pada ujung masanya, Selman Reis terus aktif membantu perlawanan berbagai kesultanan Muslim untuk menghadapi serangan gabungan antara Portugis dan kerajaan-kerajaan Hindu yang menjadi sekutu barunya. Selman Reis juga berhasil menguatkan posisi Diu dengan menempatkan Hoca Sefer sebagai penerusnya.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa kekalahan kaum Muslimin selalu karena kelemahan diantara pemimpinnya, pelajaran yang terus berulang walau telah berlalu 499 tahun.

Depok, Rabu 23 September 2015, menjelang maghrib.. 6 hari telat dari tanggal bersejarahnya, masih berjuang mengejar catatan-catatan sejarah militer yang begitu banyak tercecer dari kemampuan kelola saya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ciri Penghuni Surga

Tanyakan, Pahami, Maafkan, dan Doakan

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Sekitar bulan Oktober 630 M pasukan yg berangkat dari Madinah sudah tiba dan menetap beberapa waktu di Tabuk.

Rasūl SAW menerima kedatangan Abu Khaytsamah RA yg menyusul meninggalkan kedua isterinya, kebun yang siap dipanen, bejana-bejana yang dipenuhi air dingin, tenda-tenda yangsejuk, serta makanan yang cukup.

Pertanyaan Rasūl SAW kepadanya adalah “awlā laka yā Abā Khaytsamah?” / “Mengapa engkau tidak berangkat lebih awal, wahai Abā Khaytsamah?”

Abu Khaytsamah (ra) menjelaskan semua duduk perkaranya dengan menahan rasa malu dan khawatir. Namun, apa yg beliau temukan dari reaksi Rasūl SAW sungguh mencengangkan, dicatat dalam Sīrah Nabawiyyah Ibn Hisyām hal.402 vol.4 bahwa “faqāla lahu Rasūlullāh SAW khairan wa da’ā lahu bi khairin” / Rasūl SAW berkata kepadanya dgn baik dan mendoakannya dengan kebaikan..

Betapa terkadang terlalu mudah utk menghukum dan terlalu sulit utk memaafkan dan mendoakan.

Izin rekan-rekan untuk mengangkat ulang tulisan pendek ini.. karena ternyata baru saya disadarkan Allah Ta’ala bahwa Abu Khaytsamah (ra) yang diterima alasannya oleh Nabi (saw) ketika beliau telat menyusul rombongan kaum Muslimin yg berangkat ke Tabuk itu adalah..

Abu Khaytsamah (ra) yang juga dipercayai Rasul (saw) menjadi penunjuk jalan bagi kaum Muslimin dari Utum Syaikhayn menuju Uhud. Berkat kepengetahuannya atas medan sebelah utara Madinah itulah kemudian pasukan lawan menjadi kehilangan momentum.

Abu Khaytsamah (ra) membawa pasukan kaum Muslimin bermanuver di Wadi al-Qanat sehingga hilang dari pantauan Khalid ibn al-Walid (sebelum masuk Islam). Manuver ini menjadi salah satu sebab yang memungkinkan tenda komando Rasul (saw) di Uhud tidak pernah diketahui lawan.

Manuver ini juga yang membuat posisi kaum Muslimin yang tinggal 700an personil – setelah desersinya kaum munafiqin pimpinan Abdullah ibn Ubay – tetap memiliki posisi strategik di kaki Jabal Uhud menghadapi 3000 kaum musyrikin Makkah.

Bahan tambahan diambil dari kitab “Wafa’ul Wafa’ bi Akhbari Darul Mustafa” karya sejarawan as-Sumhudi.

Agung Waspodo,
Jakarta, 30 Nov 2015 (Tulisan awal
Depok, 18 Mei 2015)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-1

Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Sekelumit Kisah Kapten Selman

Serbuan Mamluk ke kota Aden – 17 September 1516

Selman Reis (kapten Selman) lahir di Pulau Lesbos, Laut Aegean, dan meniti karir hingga menjadi seorang admiral pada angkatan laut Turki Utsmani. Pada awalnya ia pernah aktif dalam kedinasan angkatan laut Mamluk yang berkuasa di Mesir dan mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan kepentingan Portugis di Laut Merah, Laut Arab, Teluk Parsi, hinhga ke Samudera Hindia. Setelah Kesultanan Mamluk digantikan oleh Turki Utsmani maka Selman Reis pun kembali aktif dalam kedinasan angkatan laut negerinya dan kembali memimpin melawan Portugis pada awal abad ke-16.

Hidup memang tak diketahui lika-likunya; namun tekad bulat untuk melakukan yang terbaik tidak akan mudah dihentikan oleh permasalahan yang menghadang.

Pelaut Bayaran bagi Mamluk

Selman Reis masuk dalam dinas kelautan Mamluk dan memimpin 2.000 personil non-Mesir di region Samudera Hindia. Masa kedinasannya di angkatan laut Mamluk diduga tidak mendapat restu dari angkatan laut Kesultanan Turki Utsmani. Ia bahkan mendapatkan hukuman sebagai tahanan ketika Mesir dikuasai oleh Turki Utsmani pada masa Sultan Selim I Yavuz.

Selman Reis mendapatkan tugas untuk mengacaukan blokade laut yang diterapkan oleh Portugis atas akses laut Mamluk di Mesir. Blokade ini berhasil menghentikan suplai rempah-rempah dari Asia dan membuat penghasilan melalui jalur perdagangan yang melintasi Mesir menjadi terganggu. Selman Reis dibekali 19 kapal perang untuk beroperasi di Samudra Hindia pada tahun 1515.

Selman Reis bertolak dari pangkalan laut Suez, Mesir, bersama armadanya pada hari Ahad 21 Sya’ban 921 Hijriah (30 September 1515) dengan kekuatan 3.000 personil diantaranya 1.300 dari bangsa Turki. Armada ini membawa suplai yang cukup untuk membangun sebuah benteng di Kamaran tetapi gagal untuk menguasai pelabuhan Aden dan wilayah Yaman pada hari Rabu 20 Sya’ban 922 Hijriah (17 September 1516).

Pada tahun 1517 ia memimpin pertahanan atas pelabuhan Jeddah yang diserang oleh armada Portugis tidak lama sebelum Kesultanan Mamluk dikalahkan oleh Turki Utsmani. Selman Reis sempat mendekam dalam tahanan di İstanbul atas dugaan desersi; ia baru bebas pada tahun 1520.

Memang pernah kedua tanah suci Haramain berada dalam jarak jangkauan Portugis dan Jeddah menjadi pelabuhan yang sepi karena para pelaut kaum Muslimin enggan melintasi Laut Merah yang tidak aman pada waktu itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa Turki Utsmani lebih memiliki gagasan tentang kedaulatan wilayah yang lebih luas daripada Mamluk sebelumnya. Gagasan ini didukung secara politik serta diberikan sumber daya yang cukup untuk merealisasikannya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Ulama yang Tidak Segan Meluruskan Sang Pemimpin, ‘Ulama yang juga Panglima’

Oleh: Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Pengepungan Syracuse – Musim Gugur 827 s/d Musim Panas/Gugur 828

Pengepungan kota Syracuse pada tahun 827-828 adalah upaya pertama Daulah Aghlabiyah atas kota tersebut di Pulau Sisilia ketika ia masih merupakan provinsi Kekaisaran Byzantium. Balatentara Aghlabiyah telah mendarat beberapa bulan sebelumnya dalam rangka membantu panglima Euphemius yang terusir.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan lokal dan menguasai benteng di Mazara (bisa melihat artikel saya sebelumnya), mereka menuju Syracuse yang merupakan ibukota pulau ini pada masa Byzantium.

Pengepungan ini berlangsung selama musim dingin antara tahum 827-828 hingga awal musim panas berikutnya. Pasukan Aghlabiyah yang mengepung menderita kerugian akibat menipisnya logistik serta menjalarnya penyakit menular; bahkan merenggut nyawa pemimpin ekspedisi tersebut yang bernama Asad ibn al-Furat.

Asad ibn al-Furat

Asad ibn al-Furat (أسد بن الفرات; 759-828) adalah seorang ahli fiqih dan tauhid yang lahir di Ifriqiyah. Keluarganya berimigrasi dari daerah Harran, Irak. Ia berkesempatan belajar dari Malik ibn Anas sang pendiri madzhab Maliki di Madinah dan belajar dari Abu Hanifah sang pendiri madzhab Hanafi di Kufah.

Setelah beliau kembali ke Ifriqiyah ia diangkat menjadi hakim di al-Qayrawan. Ia pernah konflik dengan Amir Ziyadatullah I (817-838) yang memimpin dalam kehidupan yang berlimpah. Banyak yang mengira bawha Asad ibn al-Furat mendapatkan tugas memimpin ekspedisi militer ke Sisilia ini guna menghilangkan kritik pedasnya.

Muhammad ibn Abi-l Jawari

Pimpinan ekspedisi beralih ke Mihammad ibn Abi-l Jawari setelah wafatnya Asad. Melihat posisi pasukan tidak menguntungkan setelah dihantam wabah penyakit, maka al-Jawari mengangkat kepungan atas Syracuse dan mundur ke bagian selatan pulau. Dari posisi baru itu balatentara Aghlabiyah bertahan dan melancarkan penguasaan atas pulan secara bertahap; Syracuse baru jatuh ke tangan al-Jawari setelah kembali dikepung lama antara tahun 877-878 ditandai dengan jatuhnya kota Taormia pada tahun 902.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa ulama dulu berani tegas kepada umara untuk hal prinsipil, disamping itu para ulama juga adalah komandan militer yang mumpuni; tidak ada dikotomi antara ulama dan profesi-profesi lain. Telah berlalu 1.187 tahun sejak itu.

Depok, 5 September 2015.. lewat waktu isya’


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Setiap Negeri Memiliki Pengkhianatnya, Setiap Negeri Memiliki Para Boneka Asingnya!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Kandahar – 19 Mei s/d 1 September 1880

Pertempuran ini adalah yanh terakhir pada era Perang Anglo-Afghan Kedua. Pertempuram di bagian selatan Afghanistan ini mempertemukan antara kekuatan Inggris dibawah Jend. Roberts dan kekuatan Afghan dibawah Ayub Khan yang berakhir dengan kemenangan telak Inggris yang menelan 3.000 korban.

Latar Belakang

Pada bulan Mei tahun 1879, setelah wafatnya Amir Sher Ali Khan maka Sir Louis Cavagnari memulai sebuah negosiasi yang berujung pada penandatanganan Perjanjiam Gandamak dengan penerusnya yaitu Mohammad Yaqub Khan. Perjanjian ini memaksa pihak Afghan mengakui kekuasaan residen-gubernur militer Inggris di Kabul. Cavagnari sendiri yang nantinya menduduki posisi tersebut pada bulan Juli. Namun, pada tanggal 3 September terjadinya gerakan angkat senjata di Kabul yang berbuntut pada tewasnya Cavagnari beserta anggota misi asal Eropa lainnya.

Setelah Yaqub Khan digulingkan dari kekuasaan seeta diasingkan karena diduga berada di balik pembantaian di Kabul. Dua orang kandidat penggantinya adalah adiknya Ayub Khan yang menjabat gubernur di Herat atau seouounya Abdur Rahman Khan. Namun, pada bulan Mei 1880 pergantian pemerintahan di Inggris ke arah kebijakan liberal memanggil pulang Viceroy untuk India yaitu Lord Lytton serta menggantikannya dengan Lord Ripon. Viceroy yang baru ini ditugaskan untuk menarik seluruh pasukan Inggris keluar dari Afghanistan. Namun rencana penarikan pasukan ini terhambat oleh gangguan anti-Inggris yang dibakar oleh Ayub Khan bersama 10.000 pengikutnya keluar dari Herat. Untuk mengatasi ini, dibentuklah sebuah kekuatan gabungan Inggris dan India berjumlah 1.500 personil bersama wamil (wajib militer) lokal.

Pasukan Inggris dibawah Brig. Jend. George Burrows berhadapan dengan Ayub Khan dan pengikutnya di Maiwand pada hari Selasa 19 Sya’ban 1297 Hijriah (27 Juli 1880). Namun, banyak dari pasukan India pada kesatuan Inggris yang baru direkrut ternyata tidak dilatih secara memadai sehingga kocar-kacir di bawah tekanan. Wamil lokal bahkan sudah berpindah sisi karena enggan memerangi bangsanya sendiri. Walau Resimen Ke-66 sudah berdiri tegap dan menimbulkan korban sebanyak 2.500 personil lawan, namun Jend. Burrows tetap kalah dari lawan yang bersemangat.

Permulaan

Setelah kekalahan di Maiwand, sisa pasukan Burrows yang babak-belur itu memulai perjalanan mundur ke kota Kandahar. Serangan fsri milisi lokal, dicampur rasa letih dan haus yang berkepanjangan membuat disiplin pasukan merosot jauh. Jika bukan karena keberanian Kapten Slade dalam menjaga keutuhan barisan belakang maka lebih sedikit lagi pasukan yang berhasil menyelamatkan diri ke Kandahar. Dari 1.500 pasukan yang ikut ke Maiwand, hanya 960 personil yang menjadi korban pada pertempuran maupun ketika mundur; hanya 161 personil yang cidera sampai kembali kr Kandahar.

Pengepungan Kandahar

Sisa-sisa pasukan dari berbagai lokasi sampai ke Kandahar sehingga mencapai total  4.360 personil di kota tersebut; penduduk lokal Afghan yang berjumlah 12.000 itu diusir keluar. Setelah pengosongan tersebut seluruh pasukan Inggris menempati posisi bertahan di dalam dinding perlindungan kota sembari menyusun titik pertahanan yang terbaik. Perbaikan itu meliputi sistem komunikasi antar pos di sepanjang dinding pertahanan, menutupi celah-celah dinding, menciptakan lubang-lubang tembak, serta meletakkan kawat berduri di luar benteng. Selama prosea perbaikan tersebut mereka diganggu oleh milisi dari penduduk lokal Afghan.

Pada hari Ahad 1 Ramadhan 1297 Hijriah (8 Agustus 1880), Ayub Khan yang baru daja menang di Maiwand mulai menembaki benteng kota dari arah Bukit Picquet di sebelah barat lauy Kandahar. Beberapa hari kemudian, artileri Afghan mulai menyalak dari dua desa Deh Khoja dan Deh Khati yang berada pada lokasi timur dan selatan Kandahar. Inggris mengirimkan pasukan dibawah Brig. Jend. Brooke untuk menetralisir kedua desa itu pada tanggal 16 namun tidak berhasil, bahkan dalam proses mundur Brooke dan Kapten Cruickshank gugur sehingga menambah jumlah korban menjadi 100 lebih.

Pasukan Bantuan

Pada pagi, hari Selasa 24 Ramadhan 1297 Hijriah  (31 Agustus 1880) pasukan bantuan berhasil mencapai Kandahar. Namun pada etape terakhir perjalanannya, Jend. Roberts jatuh sakit karena demam sehingga ditandu menggunakan dhooly. Ketika hampir sampai Kandahar, ia memaksakan diri menunggangi kudanya demi meningkatkan moral juang pasukan yang bertahan di kota.

Posisi Ayub Khan

Di belakang jurang yang memisahkan antara Kandahar dan Arghandab terdapat kampung Mazra dimana Ayub Khan mendirikan tenda bersama pasukannya; daerah ini dikenal sebagai Bukiy Pir Paimal. Dalam posisi ini pihak Afghan memiliki keunggulan lain dimana Bukit Kharoti di belakangnya memberikan laoang tembak yang nyaris sempurna ditambah adanya ceruk irigasi yang juga membantu pertahanan sekaligus penyamaran.

Sayangnya, posisi mereka ini sudah diintai pada sore harinya oleh kesatuan Jend. Gough dan Kol. Chapman dan diberikan perhatian khusus. Namun ketika kesatuan ini hendak meninggalkan area mereka mendapatkan serangan dari berbagai arah. Begitu kuatnya tekanan dari serangan pasukan Afghan regular dan milisi tersebut sehingga kesatuan infanteri Sikh terpaksa melepas brigade ke-1 dan ke-3 untuk memberikan perlawanan.

Rencana Penggelaran Tempur

Berbekal informasi penting itu, Jend. Roberts memutuskan untuk menyerang keesokan harinya, pagi 1 September 1880. Serangan yang didahului dengan tembakan artileri ini mengarah pada sasaran tenda Afghan di kampung Mazra. Celah-celah gununh di Murcha dan Babawali telah diawasi oleh elemen kavaleri Jend. Primrose yang didukung oleh kesatuan infanteri dan artileri.

Pertempuran Berlangsung Cepat

Setelah pukul 0900 dimulailah serangan artileri pada Crlah Babawali yanv dibalas oleh 3 seksi meriam lapangan Afghan. Sebelum Roberts dapat maju secara frontal, perkampungan di Gundi Mulla Sahibdad di kanan dan Gundigan di kiri harus diamankan terlebih dahulu. Jend. MacPherson menyerbu ke arah Gundi Mulla Sahibdad sedangkan Jend. Baker ke arah Gundigan dengan formasi Highlanders Ke-72 dan Sikh Ke-2 di barisan terdepan. Pertempuran yang dihadapi keduanya berat dimama kekuatan Afghan bertahan habis-habisan dan baru bisa didesak mundur dengan serangan dari berbagai penjuru. Pasukan Inggris dihujani tembakan artileri dari Bukit Pir Paimal dan serangan balasan dari kesatuan elit Ghazi sebelum berhasil menguasai kampung Mazra.

Kedua brigade tersebut kini dapat meneruskan gerak lajunya walau menghadapi perlawanan sengit dari para penembak jitu Afghan pada posisi bukit Pir Paimal. Pertempuran jarak dekat tidak dapat dihindari dan pasukan Afghan mundur setelah diserbu pasukan Inggris dengan bayonet terpasang. Kesatuan dibawah Kolonel Money berhasil menduduki bukit Kharoti dan dari puncaknya ia dapat mengamati bahwa Ayub Khan mulai berkemas meninggalkan tendanya di Mazra; serangan pasukan MacPherson dan Baker ternyata dirasakan terlalu berat. Pasukan Inggris akhirnya menduduki kampung Mazra sekitar pukul 1300; sedikit lamban karena mereka mengisi ulang peluru terlebih dahulu.

Kini balatentara Ayub Khan mundur secara tak beraturan. Walau rencana semula dimana kavaleri Jend. Gough ditugaskan untuk memotong jalur mundur pasukan lawan ternyata gagal, namun secara keseluruhan kemenangan suda diraih Inggris.

Kesudahan

Pertempuran Kandahar ini menutup Perang Anglo-Afghan Kedua dimana Ayub Khan terkalahkan secara telak. Ia kehilangan seluruh elemen artileri, tenda dan logistik, amunisi dalam jumlah yanh banyak, serta 1.000 personil yang terbunuh. Ayub Khan sendiri kini menjadi buron bersama beberapa pengawalnya, sefangkan Abdur Rahman menggantikan posisinya sebagai boneka bagi Inggris. Tidak lama setelah itu, balatentara Inggris menarik diri keluar Afghanistan. Konon ia wafat di India pada tahun 1914 setelah sebelumnya gagal menggulingkan Abdur Rahman karena kurangnya dana serta dukungan dari mantan prajuritnya. Perang ketiga meletus kembali pada tahun 1919.

Jend. Roberts meninggalkan Kandahar pada tanggal 9 September menuju Quetta dengan sebagian pasukannya serta meletakkan jabatannya di Sibi pada 15 Oktober. Ia berlayar kembali ke Inggris pada tanggal 30 Oktober dari Bombay. Perjalanannya yanv legendaris diabadikan pada sebuah patung di Kelvingrove Park di kota Glasgow. Tertulis di sana motto “virtute et valore” atau “dedikasi dan keberanian.”

Agung Waspodo, mencatat setelah 135 tahun berlalu bahwa setiap negeri pasti ada pengkhianatnya, paling tidak pasti selalu bisa didapatkan orang atau kelompok yang siap menjadi boneka negeri lain..

Depok, 11 September 2015, masuk waktu Isya’.. waduh sudah lewat 10 Hari (dari tgl aslinya sumbernya)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) bag-2

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Bag-1 :

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pertempuran

Dalam rangka menghancurkan kohesivitas serta menjatuhkan semangat juang lawannya, Shalahuddin mengerahkan kesatuan musik beranggotakan pemukul gong dan cymbal, peniup terompet, serta para peneriak semboyan perang serta pekik Takbir.

Serangan berulang-ulang Ayyubi memiliki prosedur yang baku: suku Badui ‘Arab dan Nubia melesatkan hujan panah dan lembing ke arah barisan lawan, mereka kemudian bergeser dalam interval untuk memberikan celah bagi pasukan panah berkuda maju sebagai serangan gelombang kedua, hingga pasukan ini kemudian bermanuver ke samping dan semuanya diulang kembali. Jika memungkinkan, maka pasukan crossbow Richard membalasa tembakan walaupun sebenarnya tugas utama mereka adalah menjaga keutuhan formasi barisan menghadapi provokasi lawan.

Ketika serbuan ini tidak membuahkan hasil maka serangan besar diarahkan kr bagian belakang kolom Pasukan Salib yang menjadi tanggung-jawab kesatuan fanatik Katholik dari ordo Hospitaller. Sayap kanan kavaleri pasukan Shalahuddin menyerang dengan dukungan infanterinya dari samping dan belakang; pasukan infanteri Hospitaller bahkan harus berjalan mundur guna menghadapi serbuan dari dua arah tersebut. Sultan Shalahuddin sendiri ikut turun dalam serbuan didampingi kedua asistennya lengkap dengan membawa kuda cadangan; beliau turun guna menyemangati pasukannya. Syaifuddin, adik sultan, juga turun tangan untuk menyemangati pasukannya; keduanya mengambil resiko besar untuk turun langsung berhadapan dengan tembakan crossbow lawan yang bertenaga.

Hospitaller Melepas Formasi

Seluruh usaha yang dilakukan Shalahuddin sepertinya tidak juga mampu membuyarkan formasi tempur lawan maupun menghentikan lajunya menuju Arsuf. Richard bertekad untuk terus menjaga kerapatan barisannya dan berharap lawan akan kehabisan tenaga dalam serangan bertubi-tubi itu. Richard juga menyiagakan pasukan kavaleri beratnya dalam barisan cadangan untuk balas menyerang pada momen yang terbaik. Lamanya ujian ketahanan itu sudah hampir tak terbendung lagi ketika mulai banyak kesatria (knight) berkuda yang kehilangan tunggangannya akibat serangan bertubi-tubi Shalahuddin; mereka ini terpaksa bergabung dengan barisan infanteri.

Ketika elemen terdepan Pasukan Salib sudah mencapai Arsuf sekitar tengah hari, sementara itu pasukan crossbow dari kesatuan Hospitaller sedang mengisi ulang anak panahnya sambil berjalan mundur. Kecapaian yang memuncak itu akhirnya membuka celah yang langsung menjadi sasaran serbuan pasukan Shalahuddin. Pada saat itu, Garnier de Nablus, Master Hosputaller, berkali-kali memohon izin untuk melancarkan serangan balasan. Ia berkali-kali ditolak dan diingatkan untuk menyerang secara serentak nanti pada aba-aba terompet yang ditiup keras enam kali.

Richard sadar bahwa untuk menjamin efektivitas serangan kavaleri beratnya maka harus menunggu sampai seluruh balatentara Shalahuddin sudah dikeluarkan ke medan laga, sudah dalam jarak dekat, dan kavaleri berpanah sudah melesatkan tembakannya. Tiga syarat yang membutuhkan nyali besar untuk tahan mendapatkannya.

Ketika pasukan berkuda Shalahuddin memperlihatkan tanda-tanda kelelahan, maka Baldwin de Carron dan master Hospitaller sudah tidak tahan lagi dan serta-merta menerobos barisan infanterinya sendiri untuk melancarkan serbuan sambil memekik “Santo George!” Melihat ini seluruh barisan berkuda Hospitaller menyusulnya, juga pasukan kavaleri Perancis yang berada satu lini di belakang Hospitaller maju menerjang tak ingin ketinggalan.

Serangan Balik Pasukan Salib

Tindakan emosional Hospitaller ini dapat mengancam rencana Richard secara keseluruhan. Semarah-marahnya Richard ia menyadari bahwa serangan balik harus didukung penuh walau waktunya tidak sesuai perencanaan. Oleh karena itu ia mengeluarkan aba-aba serangan umum. Tanpa serangan umum ini maka sudah jelas bahwa kavaleri Hospitaller dan Perancis tadi akan lumat ditelan kekuatan Shalahuddin yanh jauh lebih besar. Bahauddin mencatat perubahan postur Pasukan Salib dari pasif menuju aktif ini menimbulkan kegagapan dalam barisan kaum Muslimin seolah melihat rencana mereka dibalas rencana yang tidak terduga.

Pasukan sayap kanan Shalahuddin yang sudah terlibat kontak sejata jara dekat tidak mungkin lagi menghindari serangan umum ini; sebagian mereka bahkan turun dari tunggangannya agar dapat melesatkan panah secara lebih efektif. Tindakan ini tentu saja menimbulkan korban besar pada pasukan Shalahuddin yang seharusnya bertempur dalam jarak tembak yang cukup. Bahauddin mencatat bahwa kekalahan itu cukup telak karena ia menyaksikan langsung dari lini tengah bagaimana sayap kanan mundur dengan cepat diikuti sayap kiri.

Richard menahan laju kejaran setelah sekitar 1.6 km dilewati kavalerinya karena ia sangat paham bahwa ini semua busa jadi hanyalah tipuan belaka. Pasukan Salib kembali menyusun formasi bersandarkan pada bekas sayap kanan yang masih segar karena belum terlibay kontak senjata. Melihat sebagian besar kavaleri lawan berhenti mengejar maka kavaleri Shalahuddin balas menghantam sedikit pasukan berkuda yang terbawa emosi memacu kudanya menjauh dari barisan umum. Diantara mereka yang menjadi korban adalah James d’Avesnes komandan dari kavaleri Perancis. Diantara komandan Shalahuddin yang sigap menyusun barisannya adalah Taqiuddin, sepupu sultan. Ia memimpin 700 pasukan dari kesatuan kawal suktan untuk menyerang balas lini sayap kiri Pasukan Salib. Serbuan balasan kaum Muslimin ini kesuksesannya tidak menyeluruh karena Richard segera kembali dengan sayao kanannya dan pasukan Shalahuddin terpaksa mundur.

Kesudahan

Sejarawan dari kalangan Kristen mengatakan bahwa Shalhuddin kehilangan 32 amir dan 7.000 personil walau angka ini tidak boleh ditelan begitu saja. Dari pasukan Richard yang terbunuh tidak lebih dari 700 personil termasuk diantaranya James d’Avesnes.

Arsuf adalah sebuah kemenangan penting bagi Pasukan Salib, namun balatentara Ayyubi tidaklah hancur walau sudah kehilangan cukup banyak di sana. Namin ada perasaan malu bagi kalangan Muslimin menderita kekalahan tersebut; ada kebanggaan di kalangan Pasukan Salib. Analisis sejarawan militer menilai bahwa jika saja Richard menahan serangannya beberapa saat lagi maka kemenangan yanh lebih besar mungkin dicapai. Shalahuddin berhasil menyusun ulang pasukannya dan memberikan serangan balasan namun ia berhati-hati untuk tidak terjebak pada serangan frontal yang emosional. Secara reputasi Shalahuddin sedikit tercoreng pada kekalahan di Arsuf, sedangkan nama Richard menjadi terkenal apalagi setelah ia bethasil merebut, mempertahankan, serta menjadikan Jaffa basis kekuatannya.

Shalahuddin terpaksa meninggalkan dan menghancurkan sebagian besar benteng di wilayah selatan Palestina seperti di Ascalon, Gaza, Blanche-Garde, Lydda, dan Ramleh karena ia sadar tidak mungkin mempertahankannya semua. Menghancurkannya merupakan pilihan terbaik daripada dibiarkan jatuh ke tangan lawan yang akan memperkuatnya sebagai basis perlawanan di kemudian hari. Ketika benteng di Darum berhasil direbut oleh pasukan kawal Richard saja, hal ini cukup menggambarkan betapa semangat juang pasukan Shalahuddin sedang jatuh. Hilangnya kota-kota penting di selatan Palestina benar-benar mengancam keberadaan al-Quds (Jerusalem) daei kekuasaan Shalahuddin.

Walaupun Perang Salib Ketiga pada akhirnya gagal merebut kembali Jerusalem namun tercapai gencatan senjata antara Richard dan Shalahuddin yang dikenal sebagai Perjanjian Jaffa. Perjanjian ini mengamankan jalur ziarah bagi kaum Nasrani ke tempat-tempat suci di Jerusalem. Perjanjian itu juga menegaskan pengakuan Shalahuddin atas wilayah kendali Pasukan Salib di selatan Palestina.

Richard kembali ke Eropa untuk mengurus masalah internal kerajaannya yang sedang berperang melawan Raja Philip dari Perancis. Pulangnya Richard ke Eropa merupakan awal kemerosotan wilayahnya di Palestina dan awal dari kemerosotan Pasukan Salib secara keseluruhan.

Agung Waspodo, mencatat bagaimana kedisiplinan dan kestabilan emosi adalah kunci kemenangan menghadapi berbagai konflik. Shalahuddin sudah memberikan contoh yang kendali diri yang terbaik dalam mengelola kemenangan maupun kekalahan sekitar 824 tahun yang lalu.

Depok, 15 September 2015.. lewat tengah hari dan telat 8 hari dari tanggal bersejarahnya, sangat berat untuk menuliskan semua peperangan kaum Muslimin persis pada hari kejadiannya…


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Kuasai Medan, Waspadai Makar Kawan ! (Pertemuan ‘Ayn Jalut – September 1260)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Ain Jalut (dalam Bahasa Arab:عين جالوت) yang artinya “Mata Air Jalut/Goliath” mempertemukan antara pasukan Muslim dari bangsa Mamluk melawan bangsa Mongol di sebelah tenggara Galilee. Lokasinya berada di lembah Jezreel tidak jauh dari desa Zir’in. Pertempuran ini menandai titik terjauh invasi Mongol ke arah barat-daya sekaligus untuk pertama kalinya mereka terhenti secara permanen.

Pada umumnya kekalahan ini ditimpakan kepada wafatnya Khagan Möngke Khan yang tiba-tiba. Sebuah kejadian yang memaksa Hulagu Khan sebagai pemimpin Ilkhanate Mongol untuk menarik sebagian besar pasukan intinya kembali ke Mongolia. Keadaan ini mengakibatkan Kitbuga berangkat perang dengan pasukan seadanya dalam jumlah yang sedikit untuk standar Mongol saat itu.

Kejadian Sebelumnya

Ketika Möngke Khan menjadi pemimpin bangsa Mongol pada tahun 1251 ia meneruskan cita-cita kakeknya (Genghis Khan) untuk menguasai dunia. Untuk menaklukkan wilayah barat ia mempercayakan kepada saudaranya yang bernama Hulagu Khan. Dibutuhkan 5 tahun untuk mengumpulkan kekuatan itu sehingga Hulagu baru bergerak pada tahun 1256 dari basis kekuasaannya di Persia. Ia mendapat mandat untuk memperlakukan secara wajar atas lawan yang menyerah dan menghancurkan mereka yang melawan. Ketika ia sampai ke kota Baghdad, balatentaranya sudah meliputi bangsa Armenia asal Cilicia dan bahkan pasukan Frank dari Kerajaan Antioch yang tunduk kepadanya.

Sekte Hashsasin di Persia jatuh ke tangan Hulagu, ibukota dan kekuatan Daulah ‘Abbasiyah yang berumur 500 tahun juga dihancurkannya, dan sisa Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus juga menyerah. Rencana besar Hulagu adalah untuk terus maju menembus Kerajaan Latin di Jerusalem hingga ke perbatasan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Utusan Mongol ke Mesir

Pada tahun 1260, utusan Hulagu menyampaikan pesannya kepada Sultan Qutuz di Kairo untuk segera menyerah dengan surat yang berbunyi:

“Dari raja diraja dari timur dan barat, Khan yang Agung, kepada Qutuz dari Mamluk yang luput dari tebasan pedang kami.

Engkau harusnya belajar dari apa yang dialami negeri-negeri lain dan sepantasnya tunduk kepada kami. Engkau tentu telah mendengar bagaimana kami menaklukan wilayah yang sangat luas untuk membersihkannya dari kotoran dunia yang mencemari. Kami telah membantai banyak negeri dan engkau tidak mungkin meloloskan diri dari kebengisan pasukan kami. Hendak lari kemana dan menggunakan jalan mana dari menghindari kami?

Kuda perang kami sigap, panah kami tajam, pedang kami seperti halilintar, hati kami seteguh gunung, dan pasukan kami sebanyak pasir di pesisir. Benteng manapun tidak akan mengungkung maupun menghentikan pasukan kami. Kami tidak tersentuh dengan tangisan maupun ratapan. Hanya mereka yang memohon perlindungan kami yang akan selamat.

Segerakan balasanmu sebelum api perang menyala. Melawan lah maka engkau akan merasakan kemalangan yang besar. Kami akan meremukkan masjid-masjidmu serta menunjukkan kelemahan tuhanmu lalu kami akan menghabisi anak-anak serta orangtuamu. Sekarang ini hanya engkau musuh yang harus kami datangi.”

Sultan Qutuz membalasnya dengan membunuh utusan Hulagu itu lalu melepaskan kepalanya untuk dipasang di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang benteng kota Kairo.

Pergantian Kekuasaan Mongol

Hulagu terpaksa pulang ke Mongolia bersama sebagian besar pasukan utamanya karena ia merupakan calon penerus potensial dalam suksesi kepemimpinan. Ia hanya menyisakan 1-2 tumen (kesatuan balatentara Mongol) sekitar 10-20 ribu personil atau sekitar satu divisi tentara modern. Ia meletakkan kepemimpinan sementara pada jenderal kepercayaannya yang bernama Naiman Kitbuqa Noyan; Kitbuqa beragama Kristen Nestorian.

*Sultan Qutuz Bergerak

Mendapatkan berita kepulangan Hulagu, Sultan Qutuz dari Mamluk segera memobilisir balatentaranya di Kairo dan segera bergerak masuk wilayah Palestina. Pasa akhir bulan Agustus, Kitbuqa membawa pasukannya menuju wilayah selatan melintasi sebelah timur Danau Tiberias menuju Galilee selatan dari basisnya di kota Baalbek.

Sultan Qutuz bersekutu dengan pemimpin Mamluk lainnya yang bernama Baibars yang juga bermusuhan dengan Mongol karena telah merebut kota Damaskus dan sebagian besar region Syam dari tangannya.

*Turbulensi Aliansi Mongol-Frank

Kekuatan Mongol telah mencoba menundukkan wilayah kerajaan Latin di Syam dan bahkan memberikan sinyal positif untuk sebuah aliansi. Namun, ide aliansi ini ditentang keras oleh Paus Alexander IV. Kerajaan-kerajaan kecil bekas wilayah Pasukan Salib di beberapa kota pesisir Syam mendapatkan tawaran untuk bergabung baik dari pihak Mongol maupun Mamluk.

Walaupun bangsa Mamluk merupakan seteru lama bangsa Frank, namun para pemimpin Pasukan Salib menyadari bahwa Mongol adalah ancama yang lebih besar. Untuk melihat perkembangan maka sebagian besar dari mereka memilih untuk tetap netral. Bahkan balatentara Mamluk tidak mengalami pencegatan ketika mendekati wilayah Franks; bahkan di kota Acre mereka dapat membeli logistik dan beristirahat. Ketika datang kabar bahwa Mongol telah menyeberangi sungai Jordan, maka Sultan Qutuz bergegas menuju arah tenggara guna mencegatnya.

Pertempuran

Pasukan Mongol bergerak lebih dahulu dalam pertempuran ini dengan mengerahkan elemen pasukan dari Kerajaan Georgia dan Armenia-Cilicia. Pasukan Mamluk memiliki keunggulan karena lebih memahami medan dan bersegera menduduki daerah yang lebih tinggi. Sultan Kitbuqa berharap dapat memancing serangan lawannya dengan menjadikan kesatuan dibawah Baibars yang jumlahnya lebih sedikit sebagai umpan.

*Pancingan Baibars

Kedua balatentara bertempur dalam waktu yang lama dimana Baibars menerapkan serangan hit-and-run guna memancing serbuan Mongol namun tetap menjaga keutuhan pasukannya. Ada yang menduga bahwa Baibars-lah yang merencanakan perangkap ini karena ia lebih lama mengenal daerah ini. Dalam serangan berat Mongol berikutnya, Baibars mendramakan sebuah kemunduran yang akhirnya berhasil memancing balatentara Kitbuqa ke area berhutan dimana sudah ditunggu oleh sebagian besar balatentara Mamluk.

Kitbuqa yang sudah mulai letih menghadapi taktik serbu-dan-lari Mamluk melakukan sebuah kesalahan fatal dengan memerintahkan pengejaran besar-besaran hingga ke perbukitan. Di area itulah pasukan Mongol terkaget dengan siraman anak panah dari pasukan Mamluk yang sudah lama bersembunyi. Bahkan pasukan kavaleri Mamluk juga bermunculan sehingga Kitbuqa dan pasukannya terkepung hampir dari semua arah.

Pasukan Mongol bertempur dengan gigih lagi agresif untuk menembus kepungan jebakan Mamluk. Sultan Qutuz mengintai dari kejauhan dengan kesatuan kawalnya dan memperhatikan bahwa sayap kiri pasukannya mulai terkalahkan oleh daya juang Mongol yang ingin melepaskan diri. Pada saat itulah, Qutuz dikabarkan melepas helmet-nya dan maju menyerbu sambil meneriakkan “Wa Islama!” (Wahai [para pejuang] Islam) bersama pasukan kawalnya. Tindakan beresiko ini memompa kembali daya juang pasukan Mamluk dan mereka bergerak ke sayap kiri yang mulai rapuh.

Pasukan Mongol terdesak hingga mundur ke sekitar desa Bisan yang dikejar oleh pasukan Mamluk yang dipimpin langsung oleh Sultan Qutuz. Sisa kekuatan Mongol tersebut masih sempat melancarkan serangan balasan yang kembali dipatahkan oleh Mamluk karena mereka lebih menguasai medan serta unggul secara psikologis. Setelah pertempuran berakhir, kesatuan kavaleri berat Mamluk telah melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya; yaitu mengalahkan Mongol dalam pertempuran jarak dekat. Kitbuqa dan hampir seluruh pasukan Mongol musnah dalam pertempuran di Ain Jalut dan pengejaran selanjutnya.

Pertempuran ini juga sering dirujuk dalam sejarah sebagai pertempuran pertama digunakannya kanon tembak portabel yang dikenal sebagai “midfa” dalam istilah bahasa Arab. Alat tembak ini dipergunakan oleh Mamluk untuk menakuti pasukan berkuda Mongol serta membubarkan formasi tempurnya. Komposisi kimia bahan peledaknya menjadi ilmu penting yang dijabarkan dalam buku manual perang yang populer di Dunia Islam pada abad ke-14.

Kesudahan

Dalam perjalanan pulang menuju Kairo setelah kemenangan beaar di Ain Jalut, Sultan Qutuz dikudeta oleh beberapa amir Mamluk yang diduga kuat mendapat dukungan dari Baibars. Ia donobatkan menjadi sultan pengganti dan melalui perjuangannya kemudian berhasil menguasai wilayah terakhir Pasukan Salib di Syam pada tahun 1291.

Perebutan dan konflik internal bangsa Mongol juga menghalangi Hulagu Khan untuk mengonsolidasi kekuatannya guna membalas kekalahan di Ain Jalut. Berke Khan dari Golden Horde memeluk Islam dan menyaksikan langsung bagaimana sepupunya dari Ilkhanate menghancurkan Kekhilafahan ‘Abbasiyah walau saat itu hanya sebagai simbol kepemimpinan tertinggi sipirtual Islam.

*Surat Berke kepada (mendiang) Möngke

Sejarwan Muslim yang bernama Rasyiduddin Hamdani bahkan mencatat surat protes Berke kepada Möngke yang belum sepengetahuannya telah wafat di China sebagai berikut:

“Ia (Hulagu) telah menghamcur-leburkan seluruh kota kaum Muslimin hingga membunuh khalifah. Dengan izin Allah Ta’ala aku akan menuntut pertanggung-jawabannya atas sedemikian banyak darah orang tak berdosa yanv ia tumpahkan.”

Pihak Mamluk, yang mendapatkan informasi melalui jaringan agen rahasianya bahwa Möngke telah memeluk Islam ser5a tidak suka dengan sepupunya, berusaha untuk memupuk hubungan baik dengannya dan Khanate-nya.

Setelah suksesi di tubuh kepemimpina Mongol tuntas dengan Kublai menjadi Khan Agung maka Hulagu kembali ke wilayahnya pada tahun 1262 untuk mengumpulkan kekuatan guna menyerang Mamluk guna membalaskan kekalahan di Ain Jalut. Namun, Berke telah memulai kampanye militernya ke di perbatasan utara Ilkhaniyah dan manuver ini menarik perhatian Hulagu dari urusan Mamluk. Hulagu mengalami kekalahan telak ketika menginvasi wilayah Kaukasus pada thaun 1263. Ini adalah pertempuran antar suku Mongol pertama dalam sejarah yang berujung pada pecahnya kesatuan Kekaisaran Mongol hingga masa akhirnya.

Hulagu masih sempat mengirimkan balatentara kecil sejumlah 2 Tumen untuk menyerang Mamluk setelah itu dan inipun terkalahkan. Hulagu wafat pada tahun 1265 dan ia digantikan oleh anaknya Abaqa.

Agung Waspodo, mencatat bahwa penguasaan atas medan tempur adalah mutlak dan kesiagaan atas unsur-unsur makar internal harus selalu diwaspadai. Suatu hal yang telah tercatat dalam sejarah 755 tahun sebelumnya..

Pasar Minggu, 14 September 2015.. dalam commuter line, tetapi edisi bahasa Indonesia telat naik tayang sekitar 11 hari, maaf saya benar-benar lagi keteteran..

(Redaksi : sekali lagi, disamping kita belajar tarikh, kita juga dapat pelajaran berharga dari Ust Agung Waspodo tentang keberkahan waktu dan umur. Di tengah suasana Commuter Line yg jarang sepi dari penumpang, beliau masih bisa menpersembahkan tulisan yg bermanfaat, mengingatkan kita akan keberkahan waktu dan umur yg Allah karuniakan kepada para ulama semisal Imam Nawawi, dg umurnya yg relatif pendek, beliau banyak menghasilkan karya besar yg bermanfaat sepanjang masa. Fastabiqul khairoot !)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Arsuf – 7 September 1191

Pertempuran ini terjadi pada masa Perang Salib Ketiga dimana Raja Richard I dari Inggris (bergelar “Berhati Singa” atau The Lionheart) mengalahkan Sultan Shalahuddin (Yusuf ibn Ayyub) di luar kota Arsuf di Palestina. Pada perang itu pasukan Salib telah merebut kota Acre melalui pengepungan yang berkepanjangan. Sasaran mereka berikutnya adalah menguasai kota Jaffa guna menopang pencapaian sasaran utamanya yaitu merebut kota al-Quds (Jerusalem).

Setelah tidak tergiur oleh serbuan-serbuan pancingan yang dilancarkan Shalahuddin, maka pada hari Sabtu 11 Sya’ban 587 Hijriah (7 September 1191) pertempuran besar mulai berkobar. Balatentara Richard berhasil mempertahankan kedisiplinan untuk tidak terpancing maju menyerang keluar dari jarak formasi kohesif. Hanya kesatuan Hospitallers yang tidak tahan dan melancarkan serangan keluar sehjngga Richard terpaksa mengerahkan seluruh pasukannya. Richard kemudian menyusun ulang barisan pasukannya setelah keberhasilan serbuan pertama dan menyerang lagi lalu menang. Pertempuran ini menyebabkan beberapa kota di pesisir selatan Palestina, termasuk kota Jaffa, kembali ke tangan Pasukan Salib. Sejauh itu sepertinya target merebut Jerusalem sepertinya dimungkinkan.

Permulaan di Selatan Acre

Setelah berhasil menguasai Acre pada tahun 1191, Richard sadar bahwa ia juga harus merebut Jaffa sebelum bergerak menuju Jerusalem. Ia mulai bergerak menuju Jaffa menyisiri jalur pesisir dari Acre  pada bulan Agustus 1191. Shalahuddin pun menyadari tujuan manuver ini sehingga ia pun mengarahkan pasukannya guna mencegat Richard. Raja Inggris yang konon tidak bisa berbahasa Inggris ini telah menyusun formasi dan manuver militer secara detail.

Setelah jatuhnya Acre, angkatan laut Shalahuddin yang berasal dari Mesir telah jatuh ke tangan lawan sehingga Richard dapat bebas bergerak menyusuri pesisir ke arah selatan tanpa harus khawatir akan serangan dari sayap kanannya (dari laut).

*Richard Belajar dari Pertempuran Hattin

Richard sangat sadar akan permasalahan yang menyebabkan kekalahan telak Pasukan Salib di Pertempuran Hattin sehingga ia menyiapkan persediaan air yang cukup serta rutin memantau tingkat keletihan pasukannya dari sengatan terik matahari. Walaupun ia harus mengejar waktu untuk sampai ke titik transit sebelum sampai ke Jaffa namun Richard tidak memacu barisan pasukannya. Ia hanya menggerakkan pasukannya pada pagi hari sebelum matahari menyengat dan berhenti pada titik-titik mata air untuk beristirahat. Angkatan lautnya berlayar secara paralel sebagai pangkalan logistik sekaligus ambulans bagi mereka yang cidera.

Richard juga menyadari taktik lawannya berupa serangan pancingan serbu-mundur sehingga ia mewajibkan formasi ketat dengan 12 resimen berkuda masing-masing berkekuatan 100 knight sebagai inti kekuatan. Pasukan infanteri berbaris dalam formasi sejajar di sebelah pasukan berkuda pada sisi daratan sebagai perlindungan bagi pasukan berkuda atas serangan panah. Barisan terluar dari infanteri ditempati oleh pasukan crossbow sebagai penggentar kesatuan berkuda ringan Shalahuddin. Pasukan infanteri secara bergantian pindah ke sisi dalam (ke dekat pantai) untuk beristirahat untuk menjaga mereka selalu dalam kondisi segar.

Walaupun seluruh Pasukan Salib tersiksa perasaan akibat tidak diperbolehkannya meladeni serangan-serangan pancingan Shalahuddin, namun kharisma Richard mampu meredam emosi serta menegakkan disiplin mereka; bahkan untuk ini ditulis oleh Bahauddin, seorang sejarawan sekretaris pribadi Shalahuddin yang juga saksi peristiwa tersebut:

“Pasukan Muslimin menyerang sisi luar untuk memancing emosi mereka agar keluar dari formasi rapat barisan, namun mereka (pasukan Richard) sangat terkendali dan tetap dalam formasi barisan sambil bergerak maju seiring dengan berlayarnya kapal sepanjang pesisir, hal ini mereka lakukan dengan rapi hingga tercapai setiap tahapan perjalanan diselingi peristirahatan.”

Bahauddin juga memaparkan adanya perbedaan kekuatan antara crossbow Passukan Salib dan kaum Muslimin. Ia melihat bagaimana prajurit Salib tetap berjalan dalam formasi walaupun pada baju besinya tertancap 1 sampai 10 panah. Sedangkan, prajurit kaum Muslimin banyak yang langsung terbunuh manakala tertembak crossbow lawan dan kuda tersungkur sekali tembak.

Strategi Shalahuddin

Derap laju Pasukan Salib ditentukan oleh kecepatan infanteri dan rombongan logistik, sedangkan pasukan Ayyubi sebagian besar bertunggang kuda sehingga mobilitasnya lebih tinggi. Tindakan membakar dan memanen lebih awal bahan pangan di jalur lawan oleh pihak Shalahuddin ternyata tidak  efektif menghambat laju karena logistik Pasukan Salib sebagian besar diangkut via laut.

Pada hari Ahad 3 Sya’ban 587 Hijriah (25 Agustus 1191) elemen terbelakang  Pasukan Salib sempat tertinggal sehingga diserbu lawannya. Kalau saja kesigapan iring-iringan Pasukan Salib tidak sempat menghubungkan barisan maka mereka sudah bisa diperkirakan binasa. Dari tanggal 28-29 Agustus pasukan Richard mengalami jeda serangan karena mereka harus mengitari bukit Caramel sehingga tidak ada ruang manuver kavaleri yang cukup. Shalahuddin membawa pasukannya mengitari dari sisi dalam dan kedua balatentara bertemu lagi di sekitar kota Caesaria; separuh jalan antara Acre dan Jaffa. Shalahuddin tiba di luar Caesarea lebih dahulu pada tanggal 30 Agustus karena Pasukan Salib menempuh jarak jarak yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih lamban. Antara tanggal 30 Agustus hingga 7 september Shalahuddin selalu berada pada jarak dekat dan siap menyergap jika kesempatan terbuka.

*Penyesuaian Strategi

Pada awal bulan September, Shalahuddin menyadari bahwa mengerahkan sebagian kecil saja dari pasukannya tidak akan mampu menghentikan laju pasukan Richard. Ia harus mengerahkan keseluruhan pasukannya dalam suatu serangan umum. Perubahan taktik ini mendapatkan peluangnya karena tidak lama lagi lawan akan melintasi salah satu dari sedikit area di Palestina yang berhutan agak lebat; yaitu Hutan Arsuf. Daerah berpohon lebat ini membentang sejajar pesisir sekitar 19 km panjangnya dan merupakan medan yang cocok untuk menyamarkan penyebaran pasukan Shalahuddin dalam rencana penyerbuan.

*Dalam Penyamaran Hutan Arsuf

Pasukan Salib telah melintasi separuh hutan tanpa gangguan yang berarti dan mereka beristirahat pada hari Jum’at 15 Sya’ban 587 Hijriah (6 September 1191) dimana tendanya terlindungi oleh sedikit rawa pada muara Sungai Nahrul Falaik (Rochetaillée). Lebih ke selatan lagi terbentang jarak sekitar 9.7 km yang harus ditempuh Pasukan Salib sebelum sampai ke reruntuhan Arsuf. Pada bentangan ini terdapat padang rumput selebar 1.5-3.0 km antara pinggiran hutan dan pantai; di sinilah rencana Shalahuddin akan melancarkan serangannya.

Shalahuddin tetap melancarkan serbuan pancingan sepanjang kolom barisan Pasukan Salib namun kali ini memusatkan serbuan terkuat pada bagian belakang. Rencananya adalah memberikan dorongan bagi elemen terdepan untuk menjauh hingga memecah kekuatan mereka sendiri. Jika celah nanti terbentuk maka Shalahuddin akan menumpahkan elemen cadangannya guna menuntaskan jebakan serta melumatkan lawannya.

(bersambung…insyaa Allah Kamis pekan depan)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

LEZATNYA BACA (sejarah dari) BUKU ASLINYA…

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Catatan kecil mengapa terjemahan itu tidak selalu dapat menjelaskan dengan jelas dan terperinci.

***

Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan penterjemah kitab sejarah klasik dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Kedua, saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang masih menyempatkan membaca buku klasik sejarah Islam yang ditulis oleh para ulama dan sejarawan Muslim.

Namun, perlu diketahui bahwa hanya mengandalkan terjemahan saja kadang bisa membuat bingung jika tidak dirujuk ke kitab berbahasa aslinya.

Hikmah dari studi kasus pertanyaan pemirsa kajian sejarah tentang penaklukan kota Damaskus pada zaman khalufah ‘Umar ibn al-Khaththab (ra):

Dalam buku terjemahan “Futuhul Buldan” karya al-Balazurī halaman 154 dituliskan

“.. Abu Darda’ Uwaimir bin Amir al-Khazraji turun di Masalahah Bairazah..”

Sempat terjadi kesalahpahaman dengan menjadikan Masalahah Bairazah sebagai nama salah satu gerbang pertahanan kota Damaskus.

Dalam buku aslinya, bagian ini tertulis

“.. wa ju’ila Abū ad-Dardā’ ‘Uwaymir ibn ‘Āmir al-Khazrajī ‘alā musallahatin bi-Barzata..”

Kata kerja ju’ila artinya Abu ad-Darda yang memerintahkan kepada Uwaymir (menjadi komandan) atas (maslahah [LA] musallahah [HW]: pusat pertahanan) garnizun di Barzah.

Bukan Abu ad-Darda yg menjabat langsung, bukan Abu ad-Darda itu nama kepanjangannya Uwaymir, dan bukanlah Masalahah Bairazah (seperti yg tercetak) itu nama sebuah gerbang kota Damaskus.

Imam al-Balazuri menggunakan kata kerja na-za-la (makna harafiah-nya turun) utk menggambar kan debarkasi (turunnya pasukan dari tunggangannya) untuk melaksakan kepungan.

Di dalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibn Manzur, vol. 4, hal. 2061 dijelaskan tentang makna kata al-Maslahatu sebagai “Qawmun ‘uddatin bi-mawdhi’i rashadin qad wukkilū bihi bi-izā’i tsaghrin” yang artinya “suatu kaum (kesatuan) yang dipersiapkan di sebuah tempat sebagai pengintai (atas objek pengintaian) yang telah ditetapkan bagi mereka di hadapan perbatasan (front tempur).”

Oleh karena itu, makna kata “maslahah” atau “musallahah” memang sangat spesifik terminologi militer; jelas bukan menunjukkan sebuah gerbang.

Yang tidak ditanyakan dalam kasus di atas, namun sekalian saja saya coba jelaskan adalah terjemahan pada paragraf yg sama yaitu

“.. Yazid bin Abu Sufyan turun di pintu kecil menuju pintu yang dikenal dengan Kaisan..”

Pada buku dalam bahasa aslinya tertulis

“.. wa nazala Yazīd ibn Abī Sufyān ‘alā al-Bāb-i ash-shaghīri ilā al-Bāb-i lladzī ya’rifu bi-Kaysān..”

Yang lebih tepat dimaknai bahwa Yazid ibn Abi Sufyan mengepung (kota Damaskus) dari gerbang Kecil hingga gerbang Kaysan.

Kedua gerbang ini berada pada bagian selatan kota.

Dalam kitab Al-Bidāyath wan-Nihayah karya Imam Ibn Katsir (bundel) vol. 7-8 hal. 20 dijelaskan bahwa gerbang Kaysan (pada awalnya) termasuk tanggung jawab Khalid ibn al-Walid selain gerbang Timur (sebelum diserah-terimakan kepada Yazid).

CATATAN TAMBAHAN:

Musallahah dalam terminologi militer Islam pada masa klasik diturunkan dari kata kerja (fi’il) sa-la-ha yang juga berarti “mempersenjatai.”

Dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan sebagai “sa-la-ha, as-Silāhu: ismun jāmi’un li-Ālati l-harbi (semua peralatan perang) atau memperkuat dengan persenjataan (“to arm”) dlm kamus Hans Wehr.

REFERENSI:

1. Futuhul Buldan, cetakan Maktabah al-Muarif, Beirut.

2. Al-Bidayah wan-Nihayah, cetakan Darul Kutub wal Ilmiyah, Beirut.

3. Lisanul ‘Arab li-Ibn Manzur [LA] , Darul Mu’arif, Beirut.

Buku Terjemahan yg dibahas:
Futuhul Buldan, Pustaka al-Kautsar, Jakarta: 2015.

RadhiyalLahu ‘anhum ‘ajma’in.. walLaahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Alhamdulillah

Depok, Rabu 28 Oktober 2015.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

KHALID BIN WALID (ra) – Penaklukan Damaskus. (Bag-2 Tamat)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Tetap Adil Walau Sudah Diperangi;
Tetap Sabar Walau Sudah Dikhianati.

Untuk mendapatkan tulisan bagian 1, silahkan klik:
http://www.iman-islam.com/2015/10/khalid-bin-walid-ra-penaklukan-damaskus.html

BALA BANTUAN BYZANTIUM

Kaisar Heraclius yanh berkedudukan di Antioch ketika kepungan ini dimulai telah mengirimkan pasukan bantuan pada 9 September 634 sejumlah 12.000 personil.

Kolom militer ini terpantau oleh pasukan yang ditempatkan Khalid (ra) di jalur ke Emesa. Khalid (ra) langsung mengirimkan Rafay ibn ‘Umayr (ra) beserta 5.000 pasukannya dan terjadilah kontak senjata di Celah Uqab (Eagle Oass) sekitar 32 km sebelah utara Damaskus.

Pasukan Rafay (ra) ini kewalahan menghadapi Byzantium namun tetap bertahan karena tidak diizinkan mundur.

Khalid (ra) sendiri yang datang bersama tambahan 4.000 pasukan dan membalikkan keadaan.

Kemenangan kaum Muslimin di tempat itu dikenal sebagai Pertempuran Celah Uqab.

Seandainya pada waktu itu pihak garnizun Byzantium menyerang keluar dari Damaskus besar kemungkinan mengalahkan pasukan yang tertinggal.

Menyadari kegentingan ini maka Khalid (ra) bergegas kembali membawa pasukannya ke Damaskus sebelum Thomas menyadari kesempatannya.

SERANGAN PERTAMA BYZANTIUM

Setelah menyadari bahwa tidak ada bantuan yang datang kepada mereka, Thomas memutuskan untuk menyerang pada awal pekan ketiga September 634.

Ia mengumpulkan personil dari berbagai sektor pertahanan kota dan memulai serangan dari Gerbang Thomas yang dipimpinnya sendiri.

Ia berhadapan dengan pasukan Syurahbil dengan melesatkan anak panah untuk melindungi gerak maju infanterinya. Dalam bentrok senjata itu Thomas terkena panah pada mata kanannya tapi pasukan Byzantium tak kunjung berhasil mendesak mundur pasukan yang dipimpin Syurahbil (ra).

SERANGAN KEDUA BYZANTIUM

Kali ini Thomas melancarkan serangannya dari empat gerbang sekaligus dengan serangan utama tetap pada Gerbang Thomas untuk memaksimalkan efek kelelahan sebelumnya.

Serangan dari gerbang Jabiyah, Kecil, dan Timur ditujukan untuk mengikat perhatian sektor lain agar tidak memberikan bantuan kepada Syurahbil yang akan dikenai beban serangan paling berat.

Serbuan pada Gerbang Timur juga ditingkatkan agar Khalid (ra) juga tidak dapat membantu sektornya Syurahbil (ra). Disamping itu, serangan pada beberapa gerbang juga bernilai taktis karena Thomas sudah menyiapkan pasukan terobosan untuk memanfaatkan keberhasilan di sektor manapun nantinya.

Secara khusus Thomas menginstruksikan agar Khalid (ra) harus ditawan hidup-hidup.

Bentrok senjata di Gerbang Jabiyah berlangsung alot hingga Abu ‘Ubaydah (ra) maju ke depan dan semangat juang pasukannya meningkat kembali sehingga pasukan Byzantium terpukuk balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Kecil hampir saja mengalahkan Yazid (ra) yang jumlah pasukannya lebih sedikit, namun keadaan berbalik setelah Dhirar (ra) datang membantu dengan 2.000 pasukan berkudanya yang menyerang lini sayap pasukan Byzantium hingga terpukul balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Timur menjadi sangat menguntungkan Byzantium dengan jumlah pasukan yang lebih besar.

Rafay (ra) sudah hampir memerintahkan mundur jika saja Khalid (ra) telat datang bersama 400 kavaleri veteran front Irak yang membalikkan keseimbangan dan memukul mundur pasukan Byzantium kembali ke dalam kota.

Bentrok senjata yang paling berat terjadi kembali di Gerbang Thomas, namun Thomas sendiri tidak melihat adanya tanda-tanda kelelahan dari sektor ini walau sudah mengalami serangan besar sebanyak dua kalj. Ia akhirnya menarik mundur pasukan Byzantium kembali ke kota dibawah deraan panah yang deras. Ini adalah serangan terakhirnya untuk mencoba menembus kepungan.

SERANGAN KHALID

Pada hari Ahad 19 Rajab 13 Hijriah (18 September 634) seorang pendeta nasrani dari kalangan Monophysite yang bernama Jonah membocorkan lemahnya penjagaan nanti malam karena adanya festival religi.

Ia menyarankan untuk menyerang pada malam hari, informasi berharga ini ia berikan dengan meminta jaminan keselamatan bagi ia dan calon pengantinnya.

Khalid (ra) melakukan pengecekan ulang atas informasi ini karena mengkhawatirkan adanya jebakan.

Setelah informasi tersebut dapat dipastikan, Khalid (ra) merencanakan untuk menyerang dari sektornya sendiri karena tidak cukup waktu untuk koordinasi ke sektor lainnya serta kekhawatiran bocornya rencana serangan itu.

Sebagai pemanjat dinding pertama; Khalid (ra), Qa’qa’a ibn Amr, dan Manzur ibn ‘Adi secara sigap sampai ke atas dan segera membentangkan tali panjat untuk membawa 100 pasukan pilihan yang akan membuka gerbang dari dalam.

Khalid (ra) memimpin langsung pertempuran jarak dekat untuk merebut kendali gerbang dan tidak lama kemudian dapat dibuka dan mengalirlah pasukan utamanya ke dalam kota Damaskus.

Pertempuran sengit malam hari berkecamuk di dalam kota di sektor Gerbang Timur.

Thomas menyadari bahwa serangan ini tidak serentak dari semua gerbang sehingga ia segera mengirim utusan ke luar Gerbang Thomas untuk cepat-cepat merundingkan penyerahan kota kepada Abu ‘Ubaydah (ra) serta kesiapan mereka membayar jizyah.

Thomas mengtahui bahwa aturan Islam dalam peperangan bahwa kota yang diserbu tidak memiliki hak runding dan perlindugan yang berbeda dengan kota menyerah yang terlindungi hak-haknya.

Taktik diplomasi ini adalah upaya terakhir Thomas untuk menyelamatkan kotanya.

Ia mengathui dari dinas intelijen Byzantium bahwa Abu ‘Ubaydah (ra) merupakan sosok yang lebih mudah diajak berunding.

TAKLUKNYA DAMASKUS

Khalid (ra) merasa bahwa kota berhasil dia taklukan sedangkan Abu ‘Ubaydah (ra) merasa bahwa kota sudah lebih dahulu menyerah.

Setelah syura digelar dengan menerima berbagai masukan maka akhirnya pendapat Abu ‘Ubaydah (ra) didahulukan oleh Khalid (ra) sebagai panglima tertinggi di lapangan.

Salah satu pertimbangan beliau adalah agar kota-kota Byzantium di propinsi Syam lainnya akan meniru pola penyerahan daripada bertahan berlamaan.

Khalid (ra) menerima perjanjian itu termasuk memberikan jaminan keamana pada pasukan dan penduduknya untuk mundur ke wilayah yang masih dikuasai Byzantium dengan aman selama 3 hari.

Disamping itu, kaum Muslimin juga terikat pada perjanjian untuk tidak menangkap penduduk yang tetap ingin tinggal di kota, tidak menjarah apapun di dalam kota, serta tidak menghancurkan satupun gereja di dalam kota.

Sungguh sulit ditemukan klausul perdamaian tandingannya di masa manapun.

AGUNG WASPODO, tetap dan terus terkesima dengan sosok pahlawan Khalid (ra) beserta para komandan dan pasukannya setelah 1.381 tahun kemudian, lewat 1 hari..

***

Depok, 22 Agustus 2015.. mengetik dalam kondisi terbaring sakit yang tidak seberapa dibandingkan pengorbanan para generasi pendahulu..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678