Kombinasi Kepemimpinan, Kelasykaran, dan Ketabahan yang Langka!

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
Jatuhnya Kota Esztergom – 10 Agustus 1543
Pengepungan kota Esztergom dimulai pada tanggal 25 Juli dan baru jatuh setelah 2 pekan pada hari Jumat 9 Jumadil-Awwal 950 Hijriah (10 August 1543). Kota yang sekarang berada di Hungaria ini dahulu dikepung oleh balatentara Khilafah Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Suleiman I Kanuni.
📌Latar Belakang
Pengepungan ini adalah bagian dari konflik militer antara Kerajaan Habsburg dan Khilafah Turki Utsmani tidak lama setelah wafatnya pemimpin Hungaria yg bernama John Zápolya pada 20 Juli 1540. John Zápolya tunduk kepada sultan dan kematiannya mendorong para bangsawan Hungaria lainnya untuk mencari pengganti; oleh karena itu sultan berangkat untuk memastikan bahwa penggantinya adalah sosok yg dapat diajak bekerja-sama.
Era ini dalam sejarah Hungaria dikenal sebagai Perang Benteng (“Age of Castle Wars”) yang ditandai dengan Suleiman I Kanuni menguasai kota Buda dan Pest pada tahun 1541. Kedua kota tersebut memberikan keunggulan bagi Suleiman utk menguasai wilayah Hungaria bagian tengah yg dibentuk menjadi provinsi (Beylerbeylik) Buda secara resmi.
Sebagai bagian dari kesepakatan aliansi maka Perancis memperbantukan pasukannya ke bawah balatentara Turki Utsmani pada kampanye militer ke Hungaria tersebut. Pada pengepungan Esztergom ini Perancis mengirimkan kesatuan meriamnya kepada Sultan Suleiman I selama periode 1543-44. Sebagai gantinya, Suleiman I mengirimkan armadanya di bawah admiral Khairuddin Barbarosa untuk membantu Perancis mengepung kota Nice [*pernah saya muat artikelnya beberapa hari yg lalu].
📌Pengepungan
Pengepungan kota Esztergom ini merupakan kelanjutan dari strategi Suleiman I untuk memanfaatkan kelemahan Habsburg akibat gagalnya upaya Raja Ferdinand I dari Austria merebut kembali Buda pada tahun 1542. Setelah pengepungan ini berhasil, maka kota penting yang juga jatuh ke tangan Suleiman I Kanuni adalah kota “pengangkatam raja Hungaria” yaitu Székesfehérvár pada bulan September 1543. Kota-kota lain yg jatuh adalah Siklós dan Szeged yang harus diamankan oleh sultan guna melindungi Buda.
Hanya saja, Sultan Suleiman I Kanuni tidak meneruskan kampanye militernya hingga ke Wina kali ini karena ia belum mendapatkan berita tentang kemajuan agresi Perancis di Eropa bagian barat dan Laut Mediterranenan.
📌Masalah di Belahan Timur
Setelah keberhasilan kampanye militer Turki Utsmani tersebut, Charles V melalui penengahnya, Francis I, meminta perdamaian pada tahun 1545. Sultan Suleiman I nampak bersemangat untuk menyudao ketegangan di perbatasannya dengan Austria. Salah satu penyebabnya adalah bahwa ia juga harus menghadap agresi dari wilayahnya di Asia. Di perbatasan timur ini ia harus menghadapi serangan dari Kerajaan Safawi (Safavid) yg syi’ah.
Dua tahun kemudian kedua raja Habsburg, Ferdinand dan Charles V megakui kekuasaan Turki Utsmani terhadap Hungaria pada Perundingan Adrianopel tahun 157. Raja Fersinand juga menyetujui pembayaran upeti tahunan sebesar 30.000 florin emas untuk perlindungan atas sedikit wilayahnya di bagian utara dan barat Hungaria. Hungaria terus menjadi bagian dari khilafah hingga tahun 1686.
Agung Waspodo, mencatat sebuah kekaguman akan kepemimpinan Sultan Suleiman I al-Qanuni beserta generasi Turki Utsmani pada era tersebut; khususnya kesiapan mereka untuk beroperasi lama di suatu daerah menjelang musim gugur dan bahkan di dua-front. Sungguh sebuah kombinasi kualitas kepemimpinan, kesetiaan sumpah keprajuritan, serta keteguhan dukungan rakyat yg langka di dunia Islam saat ini.
Depok, 10 Agustus 2015, sdh hampir waktu zuhur.. kisah menggugah diri dari 472 tahun yg silam..
🐝🌿🌸💖🍀🌻🌷🌿🐝
Bonus :
Bagi yang berkenan dan ada keluangan waktu dimohon bersedia menyimak kajian tentang kisah kehidupan Abu Ayyub al-Anshari (ra), salah satu sahabat Nabi SAW yang berangkat sebagai angkatan pertama yg mencoba mewujudkan pembebasan Konstantinopel.
https://youtu.be/3ALuwP3Ug1A
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Semangat Juang Yang Tinggi Dipimpin Secara Baik Maka Jumlah, Jarak, dan Besarnya Jumlah Lawan Menjadi Tidak Berpengaruh..

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
Pertempuran Akhazic – 9 Agustus 1828
Pertempuran ini terjadi di luar Benteng Akhaltsikhe pada hari Sabtu 28 Muharam 1244 (9 Agustus 1828) sebagai bagian dari  Perang Russia-Turki Utsmani 1828-29 di front Caucasus. 
Pertempuran ini mempertemukan 9.000 pasukan Russia dipimpin okeh Field-Marshal Paskevich dan 30.000 pasukan Khilafah Turki Utsmani dipimpin oleh Kios-Mahomet-Pasha. 
Pertempuran ini memukul mundur pasukan Turki Utsmani ke dalam benteng dimana tinggal 5.000 personil yg terus bertahan sampai Russia berhasil mengalahkannya.
📌Latar Belakang
Sekitar 64 kilometer ke sebelah barat Benteng Akhaltsikhe Kios Pasha memposisikan 10.000 pasukan Turki Utsmani utk mengawasi Lembah Borjomi yg membentang timur laut sampai Georgia. Posisi pada Benteng Atskhur yg strategis ini membuat pasukan Russia untuk menghindari jalur frontal melewati kota Ardahan, sehingga Paskevich memimpin 8.000 anak buahnya menembus jalur belukar yg baru selama 3 hari. Pasukan Russia ini tiba secara tak terduga pada hari Ahad 22 Muharam 1244 Hijriah (3 Agustus 1828).
⚔Disposisi Kekuatan & Pertempuran
Melihat kejutan itu dan posisinya yg mengancam Benteng Akhaltsikhe, maka Kios Pasha menggerakan 30.000 pasukan cadangannya ke dekat benteng. Kini posisi Paskevich yg terjepit antara dua kekuatan Khilafah Turki Utsmani tanpa ada jalur mundur yang jelas. Tidak hendak menunggu keadaan menjadi lebih buruk, Paskevich mengerahkan pasukannya yg masih letih namun bermoral tempur tinggi untuk mendahului menyerang posisi Turki Utsmani pada hari Sabtu 28 Muharam 1244 Hijriah (9 Agustus 1828).
🔅Kembali terlihat bahwa jumlah pasukan yang sedikit namun tampil dengan semangat juang yang tinggi merupakan modal kekuatan yang amat besar, apalagi jika mereka membuat manuver yang tidak diduga serta melakukannya dengan kecepatam yang tinggi. Kesemua faktor tersebut merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan untung memberikan pendadakan terhadap posisi lawan.
Pertempuran berlangsung 1 hari penuh dan korban di pihak Turki Utsmani berjumlah besar disamping banyak juga yang mundur tanpa perintah. Sekitar 5.000 pasukan Turki Utsmani, yang masih kuat bertahan bersama Kios Pasha yg sudah terluka, bergegas masuk ke dalam benteng. Sisa pasukan lainnya mundur secara tak beraturan menuju kota Ardahan. Pihak Russia memperoleh banyak harta rampasan pada hari itu dengan korban sekitar 531 personil dan tewasnya seorang jenderal.
⚔Pengepungan Benteng Akhaltsikhe
Kota Akhaltsikhe memiliki 3 baris pertahannan: kota dengan jalan-jalan yg sempit dan berliku, benteng kota (fortress), serta benteng bagian dalam (citadel). Kota itu sendiri merupakan bentuk pertahanan tersendiri dengan jalan-jalam yg sempit, tepi jurang, serta pojok-pojok benteng (bastion) yg memungkinkan pasukan yg berjumlah sedikit mempertahankan dirinya.
Pertempuran dimulai sekitar jam 16.00 sore dengan perlawanan yg sengit hingga menjelang senja. Pada malam hari sudah banyak dari bagian kota yg terbakar dan di masjid utama kota yg juga terbakar jatuh 400 orang korban. 
Setelah 7 hari baku hantam antara kedua pihak, pada hari  Sabtu 5 Safar 1244 Hijriah (16 Agustus) seluruh bagian kota sudah dikuasai Russia yg kini mulai menggerakan kekuatan artilerinya untuk menghujani benteng kota. Keesokan harinya, Ahad 6 Safar (17 Agustus) Kios pasa mengajukan penyerahan dengan syarat ia dan 4.000 sisa pasukan diperbolehkan mundur dengan persenjataannya tanpa gangguan. Pihak Russia menerima syarat ini dengan korban sekitar 600 personil dan Turki Utsmani kehilangan 1.000 pasukan dalam fase ini.
📌Kesudahan
Keesokan harinya pada 18 Agustus pasukan Russia berhasil juga merebut Benteng Atskhur tanpa banyak perlawanan karena pos terdepan Turki Utsmani tersebut sudah terputus jalur logistiknya. Berikutnya pada 22 Agustus giliran kota Ardahan yg jatuh ke tangan balatentara Russia. Melihat tidak ada lagi yg dapat diserang sebelum masuk musim dingin, bakatentara Russia kembali ke pangkalan mereja.
The Russians lost about 600 men and the Turks 6000. The next day they took the Atskhur castle which controlled the Borjomi Gorge leading from Akhaltsikhe northeast to Georgia. On 22 August the occupied Ardahan, the road junction connecting Akhaltsikhe-Akhalkalaki to the Kars-Erzerum road. Seeing no further opportunities the Russians retired to winter quarters.
Agung Waspodo, kembali mencatat bagaimana jumlah sedikit tetapi moral juang yang tinggi mampu mengalahkan jumlah yg besar namun dengan moral juang yg rendah, setelah berlalu 187 tahun lebih satu hari.
Depok, 10 Agustus 2015, maaf telat satu hari..
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Memerintah Tanpa Kecakapan, Taat Tanpa Kesadaran Bumbu yang Pas untuk Sebuah Kegagalan

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
Pertempuran “The Nek” – 7 Agustus 1915
Pertempuran yg dikenal dalam sejarah bangsa Turki sebagai Kılıçbayır Muharebesi adalah sebuah pertempuran kecil pada Perang Dunia Pertana yg menjadi bagian dari Kampanye Militer Sekutu di Semenanjung Gallipoli. “The Nek” merupakan sebaris dataran tinggi di area palagan ANZAC yg menjadi bagian dari Sekutu yg berperang melawan Khilafah Turki Utsmani.
Nama tersebut berasal dari bahasa Afrikaan yg berarti “celah jelan di pegunungan” yg menggambarkan bahwa di tempat itu memang ada celah sempit diantara bebukitannya yg mudah dipertahankan karena menjadi “penyumbat” jalur gerak pasukan manapun. Selama serangan pada bulan Mei sebelumnya area tersebut telah terbukti menjadi kesulitan tersendiri bagi tentara Turki Utsmani.
Dataran tinggi “The Nek” ini menghubungkan antara area perbukitan “Russel’s Top” dan bukit kecil lainnya yg disebut “Baby 700” yg pada keduanya terbaris pertahanan kuat balatentara Turki Utsmani.
Pada hari Sabtu 25 Ramadhan 1333 Hijriah (7 Agustus 1915), dua resimen dari Brigade Berkuda Ringan ke-3 Australia melancarkan serbuan lemah dengan bayonet terhunus ke arah Baby-700. Serbuan itu menelan korban hampir 40% dengan hasil capaian yg hampir tidak ada dan juga tidak menimbulkan kerugian yg berarti pada pihak lawan. Serbuan ini kemudian menjadi ejekan atas lemahnya kepemimpinan Jend. Godley.
📌Persiapan
Penyerbuan ke “The Nek” telah direncanakan bersamaan waktunya dengan serangan pasukan Selandia Baru dari Chunuk Baır dengan target berhasil menguasainya pada malam hari. Secara serentak pula direncanakan nantinya untuk terus maju menyerang “Baby 700” hingga ke “Battleship Hill” di bukit berikutnya. Namun, rencana tersebur tidak tereksekusi dengan baik.
Brigade Berkuda Ringan Ke-3 yg dipimpin oleh Kol. F.G. Hughes terdiri dari resimen berkuda ke-8, ke-9, dan ke-10. Sebagaimana resimen berkuda ringan Australia lainnya dan resimen senapan berkuda Selandia Baru juga, mereka semua dikirim ke front Gallipoli pada bulan Mei sebagau bala bantuan infanteri dengan meninggalkan kuda-kudanya di Mesir.
📌Pertempuran🏇🏿
Serangan itu terjadwal dimulai persis pada jam 04.30 pagi pada hari Sabtu 25 Ramadhan (7 Agustus) dengan diawali oleh tembakan artileri laut. Serangan dilakukan dalam bentangan 80 meter dengan 4 gelombang masing-masing berkekuatan 150 personil; dua gelombang untuk setiap resimen. Jarak antara mereka dengan parit terdepan Turki Utsmani hanyalah sekitar 27 meter. Bendera berwarna pun sudah disiapkan untuk dikibarkan pada parit-parit yg nantinya dikuasai untuk memberi sinyal kemenangan di area tersebut.
Pada pagi hari itu baru terlihat bahwa persyaratannya tidak semua terpenuhi. Rencana yg dirancang omeh Kol. Andrew Skeen itu mensyaratkan adanya serangan serentak dari belakang bukit “Baby 700” sehingga menimbulkan efek palu-godam (a hammer and anvil effect) yg “menjepit” (pincer) barisan parit pertahanan Turki Utsmani. Namun, karena serangan dari kesatuan Selandia Baru tertahan dan baru dapat mencapai Chunuk Baır pada esok pagi harinya, maka alasan untuk menyerbu “The Nek” menguap. Syarat yg diajukan Skeen lainnya adalah adanya serngan dari area “Steele’s Post” oleh Batalion Ke-6 Brigade Ke-2 dari Divisi Ke-1 Australia Ke-2 ke arah “German Officers’ Trench” yg ternyata juga gagal. Justru posisi regu senapan-mesin Turki Utsmani di sana menghujani peluru di area depan “Quinn’s Post” dan “The Nek” itu sendiri.
📌Keputusan Godley yang Kontroversial
Regu senapan-mesin Turki Utsmani tadi sama sekali tidak menderita kerugian akibat tidak sinkronnya serangan tersebut. Kini tiba saat turunnya perintah kontroversial itu dimana May. Jend. Sir Alexander Godley dari Divisi ANZAC memutuskan bahwa serbuan itu tetap harus dilaksanakan
Satu lagi masalah timbul, yaitu ketepatan sinkronisasi waktu yang buruk sehingga hujan tembakan artileri yg sudah berhenti pada jam 04.23 tidak langsung diikuti dengan gelombang serbuan yg digerakkan baru pada jam 04.30. Setelah tembakan artileri selesai tidak ada yg tahu apakah masih akan ada ronde tembakan berikutnya; ternyata antara perwira infanteri dan perwira artileri tidak sempat mencocokkan waktu mereka. Keterlambatan ini memberikan kesempatan berharga bagi pasukan Turki Utsmani untuk segera kembali ke posisi bertahan mereka setelah berlindung dari hujan artileri.
📌Gelombang demi Gelombang
Pada gelombang pertama Let. Kol. White memimpin pasukannya melompati karung pasir pertahanan namun justru mendapat siraman peluru dari jarak dekat selama 30 detik. Hampir semuanya tewas kecuali sedikit yg masih sempat mengibarkan bendera sinyal sebelum dihabisi oleh pasukan Turki Utsmani.
Gelobang kedua maju 2 menit kemudian tanpa mengindahkan apa yg sdh terjadi sebelumnya. Mereka pun mendapatkan nasib yg sama bahkan belum sempat mencapai setengah jarak ke parit pertahanan Turki Utsmani. Disinilah tragedi “The Nek” itu menjadi legendaris karena perintah utk gelombang kedua tidak mempertimbangkan apa yg terjadi pada gelombanh pertama sama sekali.
Rencana serangan ke “Quinn’s Post” ke area parit Turki Utsmani yg terkenal dengan julukan “The Chessboard” dibatalkan setelah melihat banyaknya korban yg kemudian gugur. Pada kasus ini perwira resimen tidak ikut dalam serbuan sehingga memiliki kesempatan untuk membatalkannya.
Gelombang Ketiga dimulai dengan protes oleh Kol. Noel Brazier yg mengatakan bahwa ini semua adalah pembunuhan. Namun Brazier tidak berhasil menemui Kol. Hughes serta tidak berhasil mengubah keputusan brigade yg diterima oleh Kol. John Antill yg mendapatkan perintah serbu. Alasan penolakan adalah bahwa sudah terlihat bendera sinyal yg berarti parit sdh dikuasai; walaupun kemudian hari diketahui dari catatan pihak lawan bahwa pengibar bendera itu terbunuh tidak lama setelah ia mengibarkannya. Kol. Antill tidal merasa perlu utk mengecek ulang berita itu sebelum mengeluarkan perintah kepada gelombang ketiga untuk tetap menyerbu “The Nek” sesuai rencana.
✅Kesudahan
Ketika tim penguburan Persemakmuran Inggris tiba di Semenanjunv Gallipoli pada tahun 1919 setelah perang usai, tulang belulang prajurit Sekutu masih berserakan di sekitar area tersebur. Taman Pekuburan  The Nek kini mendominasi area kecil yang pernah menjadi saksi bisu pertempuran ini. Dari ke-316 pasukan Australia yg gugur hanya 5 yang dapat diidentifikasi. Salah seorang prajurit yg bernama Harold Rush dari Resimen Ke-10 Berkuda Ringan (10th Light Horse Regiment) yang terbunuh pada gelombang ketiga dimakamkan pada Pekuburan Walker’s Ridge. Pada batu nisannya tertulis epitap “Selamat Jalan Cobber, Tuhan Menyertaimu.”
Agung Waspodo, mencatat baik-baik bagaimana koordinasi hingga ke penyamaan waktu adalah esensial bagi suksesnya eksekusi suatu rencana. Disamping itu, setiap pemimpin tidak boleh tunduk buta terhadap perintah yg diturunkan kepadanya.. masih sangat relevan setelah 100 tahun lebih 2.38 jam kemudian.
Depok, 8 Agustus 2015, hampir waktu subuh
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kesetian Tanpa Batas, Kepemimpinan Teladan di Garis Terdepan pada 24-28 Ramadhan 1333

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌿 
Pertempuran di Lone Pine: 6-10 Agustus 1915
Pertempuran ini dikenal oleh bangsa Turki dengan sebutan Kanlı Sırt yg mempertemukan pasukan Australia dan Khilafah Turki Utsmani pada Perang Dunia Pertama. Pertempuran ini merupakan bagian dari Kampanye Militer di Semenanjung Gallipoli sebagai upaya Sekutu untuk mengalihkan perhatian Turki Utsmani menjauh dari wilayah rencana serangan utama di Sarı Baır, Chunuk Baır, dan Bukit-971 yg kemudian dikenal sebagai Serangan Bulan Agustus.
📌Latar Belakang
Pusat komando Australia pada mulanya hanya mengerahkan kekuatan setingkat brigade dan itu berhasil merebut parit pertahanan Turki Utsmani yg dijaga kesatuan setingkat batalion oada beberapa jam pertama serangan. Namun pertempuran berlangsung selama tiga hari dan Turki Utsmani mengerahkan bantuan dan menyerang balik bebetapa kali sebagai upaya merebut kembali wilayah yg hilang. Kerasnya serangan balik ini memaksa pihak Australia menambah dua batalion baru.
Akhirnya, pada hari Senin 27 Ramadhan 1333 Hijriah (9 Agustus 1915) serangan balasan dihentikan oleh pusat komando Turki Utsmani dan setelah tanggal 28 Ramadhan (10 Agustus) semua serangan sudah berhenti. Pasukan Australia tetap menguasai lokasi tersebut, namun demikian Serangan Bulan Agustus secara umum telah gagal dari tujuannya. Keadaan sama kuat juga terjadi di sekitar wilayah Lone Pine dan garis statik bertahan hingga bulan Desember 1915 dimana pasukan Sekutu akhirnya dievakuasi keluar dari semenanjung semuanya.
📌Pasukan Yang Terlibat
Pasukan Australia dari Brigade Infanteri Ke-1 telah dipilih untuk melakukan penyerangan dengan kekuatan 3.000 orang di bawah pimpinan Kol. Nevill Smyth. Bersama brigade ke-2 dan ke-3 mereka adalah bagian dari Divisi Infanteri Ke-1 yg dimiliki Australia. Komandan divisnya yg bernama Brig. Jend. Harold Walker adalah perwira Inggris yg baru saja menggantikan sementara May. Jend. William Bridges yg tertembak sniper Turki Utsmani pada bulan Mei sebelumnya.
Sebenarnya Walker tidak terlalu menyukai rencana penyerbuan ke Lone Pine, apalagi hanya sebatas serangan pengalihan saja. Namun, Jend. Sir Ian Hamilton, panglima tentara Inggris, memaksa serangan tersebut untuk dijalankan dengan persiapan yg matang. Walker berusaha sebaik mungkin dalam persiapan agar pasukannya memiliki peluang terbaik dalam melaksanakan tugasnya di medan tempur yg ia nilai kurang menguntungkan.
Kekuatan Turki Utsmani yg berhadapan di wilayah Lone Pine ini terdiri dari 2 batalion dari Resimrn ke-47 di bawah pimpinan Tevik Bey. Kedua batalion ini hanya berkekuatan total 1.000 personil dengan 500 diantaranya ditempatkan sepanjang parit pertahanan terdepan dan sisanya di garis belakang. Lebih ke belakang lagi terdapat pasukan cadangan divisional pada posisi timur-laut di dataran tinggi yang dijuluki “Mortar Ridge.” Mereka ini adalah Resimen Ke-57 yang ditempatkan di sana setelah sebelumnya ditarik dari garis depan di sebelah utara Lone Pine. Posisi lamanya kini ditempati oleh sebuah batalion Arab dari Resimen Ke-72. Posisi sebelah utara Lone Pine dijaga oleh Resimen Ke-125 di Jonhston’s Jolly dan sebelah selatan di Pine Ridge dikawal oleh Resimen Ke-48.
⚔Pertempuran
Pada pukul 17.00, Brigade Infanteri Australia Ke-1 memulai gelombang serbuan pertama dengan 1.800 personil bergerak serentak. Dari sebelah utara mereka, Brigade Infanteri Ke-2 memuntahkan tembakan penekanan ke arah Johnston’s Jolly ketika pada saat yg hampir bersamaan Brigade Infanteru Ke-3 dan Brigade Berkuda Ringan Ke-2 bertahan di garis yg berseberangan dengan Sniper’s Ridge. Separuh pasukan yg menyerbu melewati terowongan yg sudah dipersiapakan sebelumnya sedangkan separuhnya lagi terpaksa melintasi area terbuka diantara kedua garis pertahanan. Area terbuka sepanjang 100 meter ini dijuluki “Daisy Patch” dan mereka yang melintasinya terkena deraan tembakan akurat dari artileri Turki Utsmani garis belakang serta tembakan terarah dari parit pertahanan terdepan.
Dari jendela intai markas komando, komandan senior Turki Utsmani yg dijabat okeh Esad Pasha yg melihat langsung jalannya pertempuran mulai mengkoordinasikan persiapan penangkalan. Perintah penambahan pasukan serts tambahan dukungan artileri mulai ia turunkan. Korban dari pihak penyerang pada gelombang pertama ini cukup ringan karena pasukan Turki Utsmani yang bertahan di garis terdepan masih berada pada posisi dalam perlindubgan. Mereka masih belum sempat muncul kembali ke lorong tembakan di parit pertahanan setelah sebelumnya dihujani tembakan oleh artileri Sekutu.
📌Parit Pertahanan yang Tidak Terpantau
Ketika gelombang serangan pasukan Australi mendekati parit pertahana terdepan Turki Utsmani mereka menemukannya dalam keadaan tertutupi oleh gelondongan batang pohon tanpa celah masuk yg mudah. Fitur pertahanan ini tidak terdeteksi dari pengintaian udara sebelumnya sehingga tidak masuk ke dalam butir perencanaan. Setelah pasukan Turki Utsmani berhasil melewati fase guncangan hujan artileri, mereka bergegas mengawaki posisi bertahan dan menembaki pasukan Australia dari lubang-lubang pengintaian yg sudah disiapkan sebelumnya. Tembakan jarak dekat itu (point blank range) memakan banyak korban dari pihak Australia. Ketika gelombang serbuan kedua dan ketiga sampai, sebagian dari mereka balas menembak, melempari dengan granat, serta menusukkan bayonetnya dari bagian atas. Sebagian lagi menemukan jalan untuk masuk ke dalamnya melalui celah-celah batang atau bukaan paksa dengan mengangkat gelodongan yg tebal-tebal itu.
Sekelompok lainnya masuk melalui garis parit komunikasi yg lebih terbuka namun agak ke belakang. Sekitar 70 pasukan Turki Utsmani di area ini tertangkap ketika mereka hendak melarikan diri tapi justru tercegat pasukan Australia yg lebih dahulu menutup celah belakang. Sebagian kecil pasukan Australia berhasil menerobos masuk ke area cerukan yg dikenal dengan istikah “The Cup” namun di sana mereka terhenti oleh pasukan Turki Utsmani yg sdh siap bertahan di markas depan resimen. Setelah kontak senjata itu hampir seluruh pasukan Australia terbunuh sedangkan sedikit saja yang tertawan.
⚔Pertempuran Jarak Dekat
Di sepanjang lorong parit pertahanan Turki Utsmani yg gelap lagi sempit itu tak ayal membuat pihak penyerang mrngalami kebingungan tersendiri. Karena mereka khawatir akan terjadinya baku tembak antar teman, pasukan Australia mengalami keraguan untuk menembak maupun maju, sehingga pertempuran yang terjadi berikutnya adalah baku hantam jarak dekat (melee) dimana prajurit saling serang menggunakan bayonet dan granat.
Gelombang pertama Australia yg masuk ke dalam lorong tersebut dengan mudah dihabisi oleh pasukan yang bertahan. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah penyerang maka keunggulan posisi beralih kepada pihak penyerang. Dalam waktu 30 menit pasukan Australia berhasil menguasai area tersebut dan mengusir sisa-sisa pasukan Turki Utsmani dari posisinya. Mereka mulai membangun titik-titik pertahanan baru pada garis belakang ke arah utara maupun selatan serta menghubungkan 7 hingga 8 pos komunikasi yg tadinya terisolir menjadi satu barisan yg terhubungkan lewar galian baru.
📌Serangan Balasan Turki Utsmani
Tidak lama setelah masuk malam, sekitar jam 19.00, serangan balasan Turki Utsmani dilancarkan oleh Batalion Ke-1 dari Resimen Ke-57 pimpinan Mayor Zeki Bey. Mereka ini diperintahkan untuk membantu beberapa batalion dari Resimen ke-47. Bala bantuan ini meyerang dengan granat dan pertempuran jarak dekat pecah lagi di lekuk-lekuk parit yang berliku itu. Begitu dekatnya jarak pertempuran sehingga kadang granat itu bisa berganti-ganti lemparan sebelum akhirnya meledak.
Pasukan Australia terus bertahan di parit lama itu sambil maju sedikit demi sedikit ke arah garis pertahanan yg baru. Mereka selalu berusaha memblokir jalur komunikasi Turki Utsmani jika memungkinkan. Bahkan jasad pasukan yg gugur mereka jadikan tumpukan untuk menghalau serangan berikutnya. Sedangkan jenazah lainnya diungsikan ke belakang dan yang terluka ditarik mundur ke pusat medikal. Namun perlu diketahui bahwa jumlah jenazah yg begitu banyak, sempitnya area tempur, tingginya ancaman serbuan balik, serta tingkat keletihan yang amat sangat menyebabkan sebagian jenazah terpaksa dibiarkan begitu saja.
🖇Bala Bantuan Turki Utsmani
Sepanjang malam tanggal 24-25 Ramadhan 1333 Hijriah (6-7 Agustus 1915), berdatanganlah bantuan untuk pihak Turki Utsmani dari Resimen Ke-13 dari Divisi Ke-5 pimpinan Ali Reza Bey. Mereka ini telah melakukan long-march dari Kojadere, sebuah wilayah yg dikenal Sekutu sebagai Scrubby Knoll. Divisi Ke-9 pimpinan Kolonel Jerman Hans Kannengieser juga memperoleh perintah dari Esad Pasha untuk bergerak menuju wilayah Lone Pine dari posisi awalnya antara Helles dan ANZAC.
Walaupun Divis Ke-9 nantinya dialihkan, setelah jam 20.00, Resimen Ke-15 dari Divisi Ke-5 pimoinan İbrahim Sukru diperintahkan untuk bertempur setelah bergerak dari posisi awalnya dari selatan di wilayah Kurt Dere dekat Chunuk Baır.
Hingga tiga hari kemudian, pasukan Turki Utsmani terus melancarkan serangan tanpa henti namun belum juga membuahkan hasil dalam perebutan kembali wilayah yg hilang. Seluruhnya tercatat telah diberangkatkan 3 resimen. Pihak Australia juga mendatangkan bantuan mereka untuk mempertahankan apa yg sudah mereka susah-payah kuasai. Sepanjang tanggal 25 Ramadhan (7 Agustus) terjadi pertempuran granat sehingga pihak Australia meningkatkan produksi granat di pabrik lapangan mereka di Teluk ANZAC. Mereka mengolah kaleng bekas jatah makanan prajurit menjadi granat dalam jumlah hampir seribu untuk dikirim ke garis depan.
Pertempuran pada 25-26 Ramadhan (7-8 Agustus) terus berkecamuk dimana serangan balik Resimen Ke-47 semakin menguat bahkan komandan resimen Turki Utsmani, Tevfik Bey, pun ikut terluka. Secara umum serangan balik Turki Utsmani mengalami kebuntuan walau beberaoa area berhasil direbut kembali di sebelah utara dan area sekitar The Cup juga terdorong mundur.
⌛Kesudahan
Sampai dengan saat itu, batalion ke-1 dan ke-2 yg telah bertahan habis-habisan dari serangan balik Turki Utsmani pada sektor selatan mengalami korban yg cukup banyak sehingga posisi mereka digantikan oleh Batalion Ke-7 pada sore harinya. Sedangkan posisi di sebelah utara tidak diubah dan tetap dipertahankan oleh batalion ke-3, ke-4, dan ke-12 hingga ke sektor tengah.
Setelah serangan bertubi-tubi kembali dilancarakan oleh Turki Utsmani dengan pertempuran jarak dekatnya yang mematikan. Pada sore hari tanggal 9 Agustus serangan dihentikan oleh para komandan Turki Utsmani dan kedua belah pihak memperbaiki posisi bertahannya masing-masing dan Pertemouran Lone Pine berakhir sudah.
Agung Waspodo, menghormati para pasukan yang telah setia dalam tugasnya serta para komandan yang memimpin dengan teladan di garis depan. Semoga para syuhada Turki Utsmani di Lone Pine ini semuanya mendapatkan ampunan dari Rabbnya.
Depok, 7 Agustus 2015, lewat tengah malam, 100 tahun kemudian lewat 1 hari.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Inkompetensi Pada Eselon Tinggi, Berujung pada Lepasnya Satu Propinsi

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran Samos – 6 Agustus 1824

Pertempuran ini ditulis dalam bahasa Yunani sebagai Ναυμαχία της Σάμου, yang merupakan pertempuran laut yg terjadi pada hari Kamis 9 Dzhul Hijjah 1239 Hijriah. Pertempuran lepas pantai Pulau Samos ini merupakan bagian dari periode Perang Kemerdekaan Yunani dari status provinsi menjadi negeri yg berdaulat.

Latar Belakang

Pada tahun 1821, seorang pemimpin lokal bernama Lykourgos Logothetis berhasil memimpin pemberontakan bersama penduduk pulau Samos melawan Khilafah Turki Utsmani. Namun, mengingat pulau ini sangat dekat dengan daratan Anatolia maka penduduk pun bersiap untuk menghadapi serangan dari armada laut Turki Utsmani.

Jarak menentukan logistik, tetapi kebijakan menentukan alokasinya. Setiap pemberontakan harus ditelaah sumber penyebabnya karena tidak selalu memadamkannya dengan disiram dgn air.

Pada musim panas tahun 1824, setelah balatentara Turki Utsmani berhasil melumatkan pemberontakan serupa di Psara, armada laut pun berkumpul dekat pesisir Anatolia dengan tujuan menduduki kembali pulau tersebut dan meredakan pemberontakan. Mengkhawatirkan kejadian di Psara berulang kembali, admiral angkatan laut Yunani yg dijabat oleh Georgios Sachtouris mengeluarkan instruksi untuk memperkuat pertahanan pulau tersebut.

Pertempuran Laut

Setelah tembak menembak sporadis dilakuan sehari sebelumnya, pertempuran mulai memanas pada tanggal 17 Agustus. Kapal api (fireship) milik armada Yunani, termasuk yg paling terkenal bernama Constantine Kanaris, diluncurkan dan berhasil meledakkan 3 kapal perang Turki Utsmani.

Serangan kapal api yg merupakan taktik perang laut di masa itu dengan mengirimkan kapal bermuatan bahan peledak dan bahan bakar guna membongkar formasi tempur lawan. Terbakarnya ketiga kapal perang itu ternyata menciutkan nyali Panglima (Kapudan Pasha) Mehmed Husrev yg menginstruksikan seluruh kapal perang ditarik mundur. Apakah ini sebuah perintah yg tergesa-gesa kita tidak akan pernah tahu.

Setiap era memiliki inovasinya, setiap inovasi ada “biayanya,” jadi jika sebuah peradaban enggan melakukan inovasi maka peradaban itu akan terpaksa “membayar” ketertinggalannya sebesar biaya awal inovasi plus kemanfaatannya sekarang dikalikan dengan eksponensial nilai investasinya..

Dampak Kemenangan

Kemenangan bagi angkatan laut Yunani ditambah dengan kemenangan di Gerontas tidak lama setelah ini, kedua kejadian itu memastikan keamanan penduduk pada pulau ini. Hanya saja perlu dicatat bahwa pulau ini tidak masuk ke dalam wilayah Yunani yg merdeka. Ia tetap menjadi puluan dengan status khusus dibawah kendali Turki Utsmani hingga pergantian penguasa setelah Perang Balkan pertama.

Tidak semua keunggulan bisa diwujudkan hanya dengan kekuatan militer, namun kekuatan militer serta penguasaan wilayah akan sangat membantu proses diplomasi yang menguntungkan.

Agung Waspodo, masih terkagetkan atas tidak kompetennya seorang setingkat kapudan pasha yg mengeluarkan perintah mundur hanya dengan hilangnya beberapa kapal, 191 tahun kemudian.. masih kurang beberapa menit lagi.

Depok, 4 Agustus 2015.. menjelang tengah malam.
Laporan hari bersejarah dimuat C3i: 5 Agustus 2015, sesuai tanggalnya..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Ketika Shaum (Puasa) Menjadi Sebab Diturunkannya Kemenangan di Sarı Baır

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran di Sarı Baır – Penghujung Bulan Puasa
Jum’at 24 Ramadhan – 10 Syawal 1333 Hijriah
6-21 Agustus 1915

Pertempuran ini disebut Sarı Bayır Harekâtı dalam sejarah Turki atau juga dikenal sebagai Penyerangan Agustus (Ağustos Taarruzları) adalah serangan terakhir yg diupayakan oleh Inggris pada bulan Agustus 1915 untuk merebut kendali atas Semenanjung Gallipoli dari Khilafah Turki Utsmani pada Perang Dunia Pertama.

Sekilas

Kampanye militer Sekutu yg dipimpin Inggris di Gallipoli memiliki 2 front, yaitu ANZAC dan Helles, yg berlangsung selama 3 bulan sejak invasi dilancarkan pada tanggal 25 April 1915. Di front ANZAC terjadi kondisi sama kuat (stalemate) yg berkepanjangan, sedangkan di palagan Helles serangan Sekutu meminta korban yg sangat besar dengan capaian yg relatif kecil.

Pada bulan Agustus, pusat komando Inggris mengusulkan operasi baru untuk menyemangati kampanye ini dengan sasaran menguasai bukitan Sarı Baır. Perbukitan ini mendominasi bagian tengah semenanjung di atas area pantai pendaratan ANZAC. Operasi serangan dimulai pada tanggal 6 Agustus dengan sebuah pendaratan di area baru sekitar 8 km ke utara area ANZAC di Teluk Suvla. Serangan ini diserentakkan dengan serangan korps angkatan darat Australia dan Selandia Baru ke daerah terjal sepanjang pebukitan Sarı Baır dengan misi menguasai dataran tinggi serta menghubungkannya dengan zona pendaratan Suvla. Sedangkan di area Suvla, Inggris maupun Perancis berada pada postur bertahan.

Koreksi atas Peristilahan

Agar lebih akurat secara geografis, pertempuran ini seharusnya dinamakan Pertempuran Kocaçimentepe (Bukit Besar Berumput) secara lebih tepat karena itulah istilah yg dipergunakan oleh pihak Turki untuk menyebut bukit tertinggi di area tersebut. Puncak bukit ini dinamakan Bukiy-971 oleh pihak Sekutu. Namun mereka secara kurang tepat menamakannya Sarı Baır (Jurang Kuning) secara keseluruhan atas area dataran tinggi yg berujung pada jurang di atas area teluk ANZAC yg lebih populer disebut “The Sphinx.”

Latar Belakang

Pihak Turki Utsmani sudah menduga akan ada serangan baru di Semenanjung Gallipoli dalam waktu dekat. Namun masih ada keraguan tentang itu sampai Churchill sendiri, dengan ceroboh mengatakan di sebuah pidatonya di kota Dundee, menegaskan akan meneruskan kampanye militer tersebur dengan segaka resikonya.

Atas bocoran intelijen ini kemudian angkatan darat Turki Utsmani menyusun ulang Army Kelima yang mengalami penambahan hingga menjadi 16 divisi; 10 divisi di front utama tadi, 3 divisi ditempatkan di sisi Asia, dan 3 divisi lagi digabungkan dalam Korps XVI yang berjaga di Teluk Saros sebelah utara kota Bulair pada ujung semenanjung.

Bulair adalah desa sederhana yg kami lalui ketika mencari Çimpe Kalesi bersama komunitas Napak Tilas Fatih 2015. Menyapa Banu Muhammad, Fiatri Widuri ‘Ade’,  Fithra Faisal Hastiadi, Rida Rahmawati, Ahmad Husaini, dan Tia Rahmiati. Mudah-mudahan artikel pendek ini menambah rasa pada kunjungan kita itu.

Balik ke Sarı Baır, pihak Turki Utsmani telah juga mengantisipasi bahwa serangan berikutnya pasti bertujuan untuk melepaskan diri dari area ANZAC; yang belum dapat dipastikan adalah ke arah utara menuju Suvla atau ke selatan menuju Gaba Tepe. Pendaratan baru juga diperkirakan ada namun tidak diduga akam mendarat di Suvla sehingga pertahanannya hanya diserahkan pada 4 batalion saja. Para komandan lapangan Turki Utsmani banyak yang tidak memperkirakan akan ada serangan ke arah pebukitan Sarı Baır mengingat curamnya  pendakian di sekitarnya. Hanya Mustafa Kamal, komandan Divisi ke-19 di ANZAC, yang kebetulan memperkirakan hal itu namun ia belum berhasil meyakinkan teorinya kepada para atasan. Ia berteori bahwa lawan pasti akan mengambil rute yang paling kecil diduga oleh pihak Turki Utsmani, namun malangnya area ini hanya mendapatkan satu resimen tambahan saja.

Saatnya ANZAC Melakukan Terobosan

Serbuan dari ANZAC mengarah pada dua puncak dari pebukitan Sarı Baır, yaitu Chunuk Baır dan Bukit 971. Di bawah pimpinan umum Mayor Jend. Alexander Godley, elemen penyerbuan terdiri dari divisi Australia dan Selandia Baru, Divisi Ke-13 Inggris, dan 2 brigade tambahan.

Rencana umum penyerbuan terdiri dari dua kolom dari garis pertahanan ANZAC yg bergerak pada malam hari tgl 6 Agustus. Kolom sebelah kanan adalah brigade infanteri Selandia Baru di bawah pimpinan Brig. Jend. Francis Johnston yg menunu Chunuk Baır dan Bukit-Q, sedangkan kolom sebelah kiri adalah Brigade Ke-4 Australia di bawah pimpinan Brig. Jend. John Monash bersama Brigade Ke-29 India pimpinan Cox. Kedua sasaran diperkirakan berhasil dikuasai sebelum fajar menyingsing.

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa kaum muslimin itu lebih dekat lagi kepada Rabbnya pada malam-malam Ramadhan? Penyerangan yang dilancarkan pada malam Jum’at 24 Ramadhan 1333 Hijriah merupakan isyarat keteguhan yang diturunkanNya kepada barisan pasukan muslimin yang sudah siap dsn terjaga di bulan penuh keberkahan. Sungguh mulia bagi pasukan muslim manapun yg mendapat kesempatan mempertahankan tanah airnya pada malam bulan terbaik.

Untuk mengalihkan perhatian pasukan Turki Utsmani atas serbuan ini, pada jam 17.30 sebuah serangan dilakukan oleh salah satu beigade dari Divisi Ke-1 Australia atas area yg dikenal sebagai Lone Pine. Serangan ini berhasil merebut parit pertahanan Turki Utsmani di tempat itu, namun tidak sukses sebagai sebuah pengalihan karena kini pusat komando Turki Utsmani mengirim tambahan kekuatan ke utara.

Serangan pengalihan lainnya juga dilakukan di area Helles namun menimbulkan kerugian yg semestinya tidak perlu di area Krithia Vineyard. Serangan inipun tidak membuat pusat komando Turki Utsmani mengurangi pengiriman tambahan pasukan ke arah utara; khususnya area Sarı Baır.

Kolom sebelah kanan memiliki jalur yg lebih bersahabat karena sudah sering terlihat sebelumnya ketika pasukan itu bertahan di perimeter ANZAC yg lama. Namun, elemen pasukan Selandia Baru gagal merebut puncak Chunuk Baır hingga lewat pagi hari tanggal 7 Agustus. Mereka baru berhasil keesokan harinya.

Serangan Balasan Turki Utsmani

Pada pagi hari keesokannya turun juga perintah untuk memperlebar garis perimeter dari posisi sebelumnya. Diantara perintah tersebut yang paling dibenci pasukan adalah tugas yang turun bagi Brigade Berkuda Ringan Ke-3 Australia. Mereka diperintahkan untuk menguasai The Nek yang kemungkinan berhasilnya sangat rendah karena sangat bergantung pada keberhasilan elemen pasukan Selandia Baru menguasai Chunuk Baır sesuai jadwal.

Kolom kiri menempuh jalur yang membuat mereka terjebak dalam bekas kebun anggur sehingga mereka nyaris kehilangan arah serta muncul kepanikan yg membuat mereka tidak pernah sampai ke Bukit-971 sama sekali. Pada pagi hari 8 Agustus, kekuatan pasukan Cox telah berhasil menyusun ulang kekuatannya untuk menguasai Bukit-971 dan Bukit-Q. Namun, brigade Monash salah memastikan posisi Bukit-971 di lapangan. Bahkan, menjelang sore, elemen pasukan Monash merasa berjalan memutar dan kembali ke titik semula. Tiga batalion yg akhirnya sampai ke sasaran mengalami jatuh korban sebanyak 765 orang, bahkan Batalion Ke-15 turun kekuatannya hingga ke tingkat 30% saja.

Sudah pada tempatnya jika seorang komandan militer menguasai peta serta mencari jejak sehingga kesalahannya memetakan jalur tidak menjadi petaka bagi bawahannya.

Penutup

Dari seluruh kekuatan yg ditugaskan merebut Bukit-Q, hanya satu batalion yaitu Gurkha Ke-6 di bawah pimpinan Mayor Cecil Allanson yang mendekat hingga ke jarak kurang dari 61 meter pada sekitar jam 18.00 pada tanggal 8 Agustus sebelum mereka harus mencari perlindungan dari hujan artileri yg dikirim Turki Utsmani. Setelah dibalas tembakan oleh artileri dari kapal Sekutu, batalion ini menyerbu puncam Bukit-Q pada pagi hari sekitar jam 05.00 tanggal 9 Agustus.

Ketika batalion lain terus menerus dihujani artileri Turki Utsmani sehingga terkunci (pinned) pada posisinya, maka hanya batalion Gurkha yang maju menyerbu. Akhirnya puncak Bukit-Q berhasil direbut dari tangan pasukan Turki Utsmani namun malang bagi mereka kini mereka pun dihujani oleh artileri teman sendiri dari laut maupun dari area ANZAC. Dalam kondisi terjepit dan tiadanya bala bantuan maka sisa batalion Gurkha ini terpaksa meninggalkan posisi yg baru saja dikuasainya.

Pada hari Sabtu 27 Ramadhan 1333 Hijriah pasukan Sekutu hanya berhasil menguasai seujung kaki bukit Chunuk Baır dari pebukitan Sarı Baır. Keesokan harinya Kolonel Mustafa Kamal memimpin serbuan balasan yg menguasai kembali seluruh area pebukitan Sarı Baır dari tangan Sekutu.

Agung Waspodo, tertegun malu membaca dan menuliskan semua ini, sambil mengirimkan bacaan Surah al-Fatihah keoada seluruh pasukan yg menemui Rabbnya dalam kondisi keteguhan terbaik, di dalam bulan terbaik, dan dengan posisi medan gugur terbaik. Sedangkan sebagian kami hanya mempermasalahkan ta’jil setiap Ramadhan (penulis harus menyeka layar HPnya dari air-mata yg turun deras 100 tahun kemudian..)

Depok, 6 Agustus 2015.. menjelang waktu dhuha..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Ketika Dunia Bahari Sudah Dikuasai Turki Utsmani

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran di Pulau Ponza – 5 Agustus 1552

Pertempuran laut ini terjadi di lepas pantai Pulau Ponza, tidak jauh dari daratan Semenanjung Italia. Pertempuran ini mempertemukan armada Perancis dan Khilafah Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Turgut Reis (Dragut) menghadapi armada Genoa di bawah pimpinan Andrea Doria. Pada akhir pertempuran, pihak Genoa kalah dengan 7 galley mereka tertawan Turki Utsmani. Kemenangan ini memudahkan armada Turki Utsmani berikutnya untuk menyerbu pantai Sisilia, Sardinia, dan Italia selama tiga tahun.

Kekuatan Yang Berhadapan

Armada yg digelar Turki Utsmani terdiri dari sekitar 100 galley khusus untuk mempenetrasi laut Mediterranean bagian barat. Pengerahan ini diputuskan dengan mempertimbangkan bahwa Raja Henry II berperang melawan Raja Charles V pada Perang Italia 1551-59.

Mencari “kesempatan dalam kesempitan” dalam dunia percaturan politik regional maupun global itu sdh ada sejak dahulu kala, maksimalkan!

Armada Turki Utsmani ini mendapatkan bantuan sejumlah 3 galley Perancis di bawah dutabesarnya untuk İstanbul yg bernama Gabriel de Luetz d’Aramon yg juga menyertai serbuan-serbuan berikutnya sepanjang pesisir Calabria di bagian selatan Italia hingga ke keberhasilan menguasai kota Reggio.

Armada Genoa terdiri dari 40 galley di bawah pimpinan Andrea Doria. Dua puluh diantaranya merupaka milik pribadi Doria, enam milik Antonio Doria, serta 2 lagi milik Keluarga Grimaldi dari Monako.

Pertempuran

Pertempuran laut antara kedua armada ini terjadi pada hari Jum’at 14 Sya’ban 959 Hijria berlangsung antara pulau Ponza dan Terracina di dekat pesisir Italia. Armada Turki Utsmani sedemikian gesitnya sehingga tidak hanya mengalahkan lawan namun mereka juga berhasil menawan 7 galley yg berisi perbekalan pasukan Genoa.

Seperti apa sekolah laut atau akademi maritim khilafah pada waktu itu adalah sebuah penelusuran yg menarik!

Setelah pertempuran ini selesai, gabungan armada Turki Utsmani dan Perancis itu menyerbu hingga ke Pulau Majorca pada 13 Agustus 1552; tidak jauh dari Bumi Andalusia yg sudah terhapus dari pentas sejarah. Pihak Turki Ustamni terus menekankan betapa perlunya Perancis ikut serta dalam penyerbuan ke arah barat serta menjelaskan ancaman laten dari Persia.

Tidak semua mitra aliansi itu dapat dipercaya; semua kepentingan politik itu sementara dan hanya tujuan yg utama yg abadi.

Setelah pertempuran ini, armada Turki Utsmani melewatkan musim dingin tahun itu dengan merapat ke dermaga di Pulau Chios. Di pelabuhan inilah armada Perancis turut merapat dan bergabung. Armada gabungan ini selalu disiagakan untuk mengantisipasi hal-hal yg tidak diinginkan. Doria sekali lagi mencoba untuk menghentikan laju serbuan Turgut di Pertempuran Djerba, namun kembali ia mengalami kegagalan pada tahun 1560. Turgut terus aktif menyerbu pesisir negeri-negeri kaum nasrani hingga 5 tahun sebelum ia wafat.

Agung Waspodo, berusaha mengangkat tema hari bersejarah bagi pahlawan tidak dikenal maupun yang masyhur, 463 tahun kemudian, kurang satu hari.

Depok, 4 Agustus 2015.. mulai mendekati tengah malam dan berjuang menangkis serangan kantuk.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kemuliaan dan Harga Diri Ummat yang Dulu Pernah Ada, Sekarang Sudah Hilang!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan Kota Pelabuhan Nice, 6-22 Agustus 1543

Pengepungan ini adalah bagian dari Italian War tahun 1542–46 dimana Raja Francis I dan Sultan Suleiman I Kanuni bekerja sama dalam suatu aliansi Perancis-Turki Utsmani melawan Emperor Charles V dari Holy Roman Empire bersama Raja Henry VIII dari Inggris. Pada waktu itu, kota pelabuhan Nice sedang berada di bawah kendali Charles III pangeran Savoy yg juga sekutu dari Charles V. Peristiwa ini juga merupakan bagian dari kampanye militer Khairuddin Barbarossa di Laut Mediterranean periode 1543-44.

Latar Belakang

Di Laut Mediterranean, telah terjadi kolaborasi angkatan laut antara Perancis dan Khilafah Turki Utsmani berhadaoan dengan kekuatan Spanyol. Kolaborasi ini merupakan permintaan dari Francis I yg disampaikan melalui utusam khusus Antoine Escalin des Aimars. Angkatan laut Perancis dipimpin oleh François de Bourbon sedangkan angkatan laut Turki Utsmani dipimpin oleh Khairuddin Barbarossa. Mereka berdua pertama kali bertemu di Marseilles pada bulan Agustus 1543.

Walaupun Duchy Savoy yg menguasai kota Nice pernah menjadi wilayah protektorat Perancis selama seabad, Francis I tetap menyerangnya – konon – dengan alasan bahwa Charles III menikahi Beatrixe dari Portugal sehingga otomatis menjadi sekutu Dinasti Habsburg.

Admiral François de Bourbon pernah mencoba menyerbu Nice secara mendadak tetapi gagal akibat perlawanan dan pertahanan sengit dari admiral Andrea Doria.

Kedatangan Armada Laut Turki Utsmani

Berdasarkan kesepakatan antara Francis I dan Suleiman I, armada berkekuatan 110 galley di bawah Khairuddin Barbarossa telah berangkat meninggalkan Laut Marmara oada pertengahan bulan Mei 1543. Dalam perjalanan menuju Nice, armada itu telah menyerbu pesisir Sisilia dan Italia selatan sampai bulan Juni. Bahkan armada ini buabg sauh tidak jauh dari kota Roma di daerah hilir Sungai Tiber pada hari Kamis Rabi’ul Awwal 950 Hijriah (28 Juni). Duta besar Perancis yg bernama Polin sampai perlu menulis surat kepada Paus memberikan jaminan bahwa Roma tidak akan diserang.

Demikian harga diri serta kedigdayaan ummat Islam pada waktu itu sedemikian tinggi sehingga kaum lain segan kepadanya.

Khairuddin Barbarossa tiba dengan armadanya, didampingi dubes Polin, di Île Saint-Honorat pada hari Kamis 2 Rabi’uts Tsani 950 Hijriah (5 July). Pihak Perancis benar-benar tidak siap dengan keseriusan armada Khilafah Turki Utsmani ini, sehingga Polin diutus menemui Francis I untuk membicarakan tentang logistik di Marolles (?) serta dukungan lainnya. Sementara itu Khairuddin Barbarossa bergeran menuju pelabuhan kota Toulon lima hari setelah itu dan armada tersebut diterima dengan hormat di Marseilles pada 21 Juli. Di pelabuhan kota Marseilles inilah kedua angkatan laut bergabung secara resmi. Armada gabungan inj bergerak keluar dari Marseilles pada hari Ahad tanggal 4 Jumadil Awwal 950 Hijriah (5 Agustus).

Pengepungan

Armada Turki Utsmani pertama kali mendarat di Villefranche, sekitar 6 mm sebelah timur Nice, dan demi strategi perang kota tersebut direbut dan dihancurkan pertahanannya. Setelah itu armada Perancis dan Turki Utsmani melakukan serangan gabungan ke kota Nice pada keesokan harinya, Senin tanggal 5 Junadil Awwal 950 Hijriah (6 Agustus 1543), dengan dibantu oleh 50 galley Perancis.

Aliansi ini mendapatkan perlawanan yg sengit dari kota Nice yg juga melahirkan legenda Catherine Ségurane. Konflik ini bereskalasi menjadi perang besar pada tanggal 15 Agustus, namun kota tersebut baru menyerah pada 22 Agustus. Dalam kesempatan ini pihak Perancis menghalangi perusakan kota dari tangan balatentara Turki Utsmani. Lebih dari itu, aliansi ini pun tidak mampu merebut benteng kota yg dikenal sebagai Château de Cimiez. Konon kabarnya, kegagalan ini disebabkan oleh keterbatasan mesium yg dapat diperbantukan Perancis kepada Turki Utsmani.

Perang Lainnya

Pertempuran lain yg berlangsung tidak jauh dari benteng kota terjadi pada tanggal 8 September, namun pasukan aliansi tersebut mundur setelah memoeroleh infirmasi intelijen tentang datangnya balatentara Habsburg untuk membantu perlindungan kota tersebur. Kekuatan yang sedang disiapkan untuk bergerak ke arah Nice dikonsolidasikan oleh Duke Charles III dari Savoy di kota Piedmont.

Pada malam terakhir sebelum mundur, Barbarossa menyempatkan diri untuk meratakan kota tersebut, merebut persediaannya, membakar bangunan strategis, serta memperoleh sekitar 5 ribu tawanan. Pasukan bala-bantuan yg dikirim via laut menggunakan armada Andrea Doria baru merapat ke Villefranche sebelum berbaris menuju benteng pertahanan di Nice.

Selama kampanye militer ini, Khairuddin Barbarossa sering mengajukan keberatannya kepada kapal perang Perancis atas ketidaksiapan kapal perang dan persediaannya. Bahkan tercatat ia mengatakan “apakah pelau-pelautmu justru memenuhi stok kapal dengan anggur dan bukan bubuk mesiu?” Barbarossa terlihat enggan menyerang Andrea Doria bahkan ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan menggantikan 4 galley yg terkena badai. Sebagian sejarawan ada yg mengatakan bahwa antara Barbarossa dan Doria telah terjadi kesepakatan tidak tertulis.

Armada Turki Utsmani Berlindung dari Musim Dingin di Toulon

Setelah pengepungan itu diangkat tanpa hasil yg bermakna, Francis I menawarkan Barbarossa untuk berdiam di Toulon selama musim dingin. Hal ini juga dengan pertimbangan bahwa kedua sekutu itu akan memiliki banyak kesempatan untuk menyerbu berbagai eikayah Holy Roman Empire yg terisolir. Sasaran lain tentunya pesisir selatan Spanyol dan Italia dengan meningkatnya efektivitas komunikasi antar keduanya. Selain itu, Khairuddin Barbarossa juga mendapatkan janji bantuan dalam upayanya merebut kembali Tunis dari tangan Spanyol.

Selama musim dingin, armada Turki Utsmani dengan 120 galley dan 39 ribu pasukan mendapatkan rumah-pangkalan sementara di Toulon. Dari Toulon, Khairuddin Barbarossa menugaskan Salih Reis untuk memanfaatkan situasi ini guna menyerang secara sistemik target-target di pantai Barcelona di Spanyol, Sanremo, Borghetto, Santo Spirito, Cerialein di Italia, and mematahkan serangan-serangan Italia dan Spanyol via laut.

Barbarossa kemudian menggerakan seluruh armadanya ke Genoa untuk menegosiasikan pelepasan Turgut Reis dari penjaranya. Perancis menyediakan sekitar 19 juta kg roti untuk menunjang balatentara Khilafah Turki Utsmani selama di Toulon, sekaligus persediaan untuk melanjutkan kampanye militer pada musim panas berikutnya, hingga logistik yg memungkinkan mereka kembali ke İstanbul.

Sepertinya keterlibatan Francis I pada aliansi bersama Turki Utsmani ini hanya setengah-hati karena banyaknya negeri Eropa berpenduduk kaum nasrani yg menolak serta merendahkan aliansi tersebut. Mereka tidak dapat menerima adanya aliansi yg mengadu sesama kekuatan nasrani. Hubungan antar keduanya selalu dalam suasana tegang lagi curiga.

Kesudahan

Perjanjian antara Perancis dan Habsburg akhirnya ditanda-tangani antara pemimpin Perancis dan Habsburg di kota Crépy pada hari Kamis 1 Rajab 951 (18 September 1554). Perjanjian damai jugs berhasil disepakati antara Turki Utsmani dan Kerajaan Habsburg pada 10 November 1545 dimana emperor Charles V menyetujui wilayah-wilayah yg sudah ditaklukkan Khilafah Turki Utsmani. Perdamaian semu ini terus berlangsunh hingga terjalinnya perjanjian perdamaian resmi setelah Francis I wafat pada 1547.

Agung Waspodo, melihat vitalitas yg begitu tinggi pada pemimpin ummat pada periode tersebut, 472 tahun setelah itu.. minus 1 hari.

Depok, 5 Agustus 2015, menyicil artikel untuk besok.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

JEBAKAN DI ATAS JEBAKAN

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan dan Penyerbuan Szigetvár
6 Agustus s/d 8 September 1566

Pengepungan ini dieja sebagai [ˈsiɡɛtvaːr] dalam bahasa Hungaria dalam istilah Szigetvár ostroma, dalam istilah Kroasia sebagai: Bitka kod Sigeta atau Sigetska bitka, dan dalam istilah Turki sebagai: Zigetvar Kuşatması.

Pengepungan terhadao kota Szigetvár menjadi sebuah keharusan karena ia adalah titik itu berada pada jalur keberangkatannya menuju pengepungan kota Wina (Vienna) pada tahun 1566. Pertempuran yg terjadi bersamaan dengan pengepungannya mempertemukan antara kekuatan Kerajaan Habsburg Austria yang dipimpin oleh Ban-Kroasia yg bernama Nikola Šubić Zrinski (dalam bahasa Hungari: Zrínyi Miklós) melawan Khilafah Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Suleiman I Kanuni  (the Magnificent).

Latar Belakang

Setelah kekalahan di Mohács tahun 1526, yg mengakibatkan hilangnya kedaulatan Kerajaan Hungaria, Ferdinand I diangkat menjadi raja oleh para bangsawan Hungaria dan Kroasia. Setelah itu terjadilah serangkaian konflik yang menimpa Kerajaan Habsburg beserta sekutunya melawan Turki Utsmani. Pada Perang Pendek (Little War) kedua pihak kehabisan energi akibat besarnya korban yg jatuh. Kampante militer Turki Utsmani mereda hingga dimulainya penyerangan terhadap Szigetvár ini.

Pada bulan Januari 1566, tanoa disadarinya, Sultan Suleiman I berangkat perang untuk yang terakhir kalinya. Pengepungan Szigetvár yg berlangsung dari 5 Agustus hingga 8 September 1566 walau berakhir pada kemenangan Turki Utsmani namun kedua pihak kembali mengalami jatuhnya korban yg besar. Kedua pemimpinnya juga wafat dalam kejadian ini, Zrinski gugur pada serbuan terakhirnya sedangkan Suleiman wafat di tendanya karena sakit.

Lebih dari 20 ribu pasukan Turki Utsmani yang gugur dalam beberapa kali serbuan sedangkan hampir seluruh pasukan pertahanan Zrinski yg berjumlah 2.300 orang itu gugur semua. Sebagian besar barisan pertahanan terkahir yang gugur pada hari terakhir mencapai jumlah 600 orang. Pengepungan dan pertempuran itu kembali menghentikan langkah Suleiman menuju Vienna tahun itu. Setelah beliau wafat, Vienna aman dari ancaman hingga ke pengepungan berikutnya tahun 1683.

Pentingnya Arti Pertempuran Ini

Pertempuran ini penting artinya sampai-sampai seorang pemuka agama Perancis, Cardinal Richelieu, sempat menjelaskan bahwa “pertempuran ini telah menyelamatkan peradaban [barat].” Pertempuran ini masih populer dalam kesejarahan bangsa Kroasia dan Hungaria.

Pergerakan Pasukan

Pada bulan Januari 1566, Suleiman I Kanuni telah memerintah Khilafah Turki Utsmani selama 46 tahun dan usianya telah mencapai 76 tahun. Ia menderita penyakit asam urat (gout) sehingga keberangkatannya ke medan perang yg ketigabelas ini harus ditandu. Pada tanggal 1 Mei 1566, beliau berangkat dari İstanbul mengepalai balatentara Turki Utsmani terbesar yg pernah dipimpinnya.

Sedangkan lawannya, Ban Nikola Šubić Zrinski adalah pemiliki tanah paling luas di seluruh Kerajaan Kroasia, seorang komandan tempur yg berpengalaman, dan menjadi kepala para bangsawan (Ban) seKroasia selama periode 1542-1556. Pada awal karir hidupnya ia pernah merasakan pertempuran Vienna dan status kemiliterannya cemerlang.

Pasukan Turki Utsmani mencapai kota Belgrade pada 27 Juni setelah long-march selama 49 hari. Di sini Suleiman I bertemu dengan John II Sigismund Zápolya yg pernah ia janjikan utk menjadi pemimpin seluruh wilayah Hungaria. Sesampainya di Belgrade, Suleiman I mengetahui bahwa Zrinski sudah berhasil merebut pemukiman Turki di Siklós. Atas perkembangan ini beliau memutuskan untuk menunda rencana penyerangannya atas Eger/Erlau dan mengalihkan perhatiannya pada benteng Szigetvár guna melenyapkan ancaman ini sebelum meneruskan rencana besarnya.

Pertempuran

Elemen intai terdepan dari balatentara Turki Utsmani sampai di pinggir kota Szigetvár pada tgl 2 Agustus dan, diluar dugaan, pasukan Hungaria menyerang lebih awal dan sempat mengakibatkan kerugian yg tidak sedikit. Namun keadaan kacau ini segera diredakan sebelum akhirnya sultan tiba dengan pasukan utamanya pada hari Senin 19 Muharam 974 Hijriah. Tenda kebesarannya dibangun di atas bukit Similehov dimana ia dapat melihat keseluruhan pandan medan tempur. Dihambat mobilitas oleh penyakitnya, maka sultan menerima laporan harian di tendanya langsung dari Menteri Utamanya yg dijabat oleh Sokollu Mehmed Pasha. Sokollu merupakan panglima di lapangan.

Pengepungan itu dimulai keesokan harinya ketika sultan mengeluarkan perintah utk menyerbu parit pertahanan; gelombang pertama ini dihentikan setelah sultan mempelajari pola bertahan lawannya. Walaupun pertahanan di Szigetvár sebenarnya kurang personil dan kalah jumlah berkali lipat, namun mereka sampai akhir pertempuran tidak pernah dikirimi bantuan apapun dari Vienna.

Setelah beberapa bulan dikepung dengan penuh nestapa, sedikit personil pertahanan yg tersisa terpaksa mundur ke dalam pertahanan kota tua untuk mempersiapkan garis mundur terakhir jika bala bantuan tidak kunjung datang. Sebenarnya sultan telah memberikan peluang kepada Zrinski untuk menyerah dengan tawaran sebagai penguasa Kroasia dibawah Turki Utsmani namun sang Ben tidak pernah menjawab dan berniat untuk terus bertahan.

Benteng terkahir inipun sudah menunjukkan tanda-tanda kejatuhan namun para pemimpin kesatuan Turki Utsmani di lapangan tetap menunjukkan keraguan. Pada hari Jum’at 21 Safar 974 Hijriah (6 September 1566) sultan Suleiman I Kanuni – cucu Sultan Mehmed II Fatih – ini wafat di dalam tendanya. Kewafatannya dirahasiakan sedemikian rupa oleh lingkar satunya dan dengan segera kurir diperintahkan untuk mengantarkan surat tsrsegel kepada calon penerusnya, Selim II, untuk bersiap-siap. Sang kurir pun tidak mengetahui isi berita yg ia bawa menuju kediaman sang penerus yg berada jauh di sebelah timur Anatolia. Perjalanan jauh ini hanya ditempuh dalam 8 hari saja.

Pertempuran Terakhir & Jebakan

Babak terakhir terjadi keesokan harinya dimana benteng tersebut sudah tinggal puing-puing yg berserakan serta api yg menyala, dengan drum mesium menebarkan bau yg menyengat di sana-sini. Pada pagi hari dikeluarkanlah perintah serbuan terakhir dimana pasukan terdepan dibekali dengan “Api Yunani” setelah titik-titik pertahanan terakhir dihujani mortir terlebih dahulu. Dampaknya adalah, bangunan terakhir itu rubuh dan menimpa kamar-kamar imperial dan bekas barak.

Zrinski tetap bertaham dan tidak membiarkan pasukan Turki Utsmani utk menerobos ke bagian dalam istana. Kini lautan pasukan Turki Utsmani itu merangsek memenuhi jembatan kecil yang menghubungkan dengan istana bagian dalam. Tiba-tiba gerbangnya terbuka dan meriam kaliber besar Hungaria yg sudah disiapkan pun menyalak dan memuntahkan ratusan patahan besi yg menyambar nyawa sekitar 600 pasukan lawan terdepan tanpa ampun.

Setelah itu Zrinski memimpin serbuan balasan dari arah dalam istana menuju barisan pasukan Turki Utsmani yg masih terkesima dengan kejutan tadi. Keenam-ratus pasukan yg dipimpin oleh Zrinski itu mendapati pasukan lawannya tidak bergeming dan bentrokan jarak dekatpun tak terelakkan. Zrinski terkena tembakan musket dua kali tepat di dada dan panah tepat di kepala sebelum roboh. Sisa-sisa pasukannya mundur kembali ke istana bagian dalam.

Akhirnya pasukan Turki Utsmani berhasil merebut istana bagian dalam itu dan seluruh personilnya dieksekusi kecuali segelintir yg dibiarkan hidup oleh kesatuan Janisari atas kesalutan terhadap mereka. Tercatat hanya 7 orang pasukan Hungaria yg lolos atau dibiarkan lolos. Jasad Zriski dilepaskan dari kepalanya, jasadnya dikebumikan dengan penghormatan militer penuh, sedangkan kepalanya dibawa sebagai bukti kemenangan di hadapan pasukan.

Jebakan Lagi

Sebelum istana bagian dalam itu berhasil direbut oleh pasukan Turki Utsmani dan bahkan sebelum serbuan terakhir yg dipimpin oleh Zrinski, ia telah memerintahkan agar tumpukan mesiu di basement istana tersebut sdh dinyalakan dengan sumbu yg lambat. Benar saja, setelah semua personil pertahanan ditaklukkan maka pasukan Turki Utsmani berhamburan ke dalam istana dalam tersebut tanpa menyadari adanya jebakan lagi.

Ledakan tiba-tiba itu merenggut lebih banyak lagi pasukan terbaik Turki Utsmani!

Nyawa sang menteri utama nyaris terancam jika ia tidak diberi peringatan oleh pelayan Zrinski tentang jebakan itu ketika ia dan pengawalnya sedang memeriksa kamar pribadi Zrinski. Pelayan yg sama itu mengatakan bahwa harta pribadi Zrinski tekah tergadaikan semua untuk memperbaiki benteng tersebut. Mendengar dan mempercayai berita jebakan tersebur membuat Sokollu beserta pasukan pengawal berkudanya bergegas meninggalkan istana dalam bersama pasukan lainnya.. waktu yg demikian pendek menyebabkan tidak cukup waktu untuk mengevakuasi selurunya. Ledakan tersebut membawa serta hampir 3.000 pasukan terdepan Turki Utsmani wafat secara mengenaskan.

Akhir Pengepungan

Korban di pihak Turki Utsmani sangat besar sejumlah 7.000 Janisari, 28.000 pasukan infanteri lainnya, 3 orang berpangkat pasha, dengan total keseluruhan sekitar 20-35 ribu pasukan.

Setelah pertempuran itu Sokollu memalasukan cap kesultanan utk mengirimkan berita kememangan tersebut agar wafatnya Suleiman tidak diketahui dahulu. Surat tersebut juga menjelaskan kepada para komandan lapangan mengapa ekspedisi ke Vienna dibatalkan. Kondisi kesehatan sultan juga dijadikan alasan ia tidam dapat menemui pasukan yg menang itu secara langsung. Jenazah sultan dibawa balik ke İstanbul dan para pemimpin lingkar-1 bersandiwara seolah-olah terus berkomunikasi dengannya. Kerahasiaan tersebut dijaga selama 3 pekan lamanya dan dokter istana pun terpaksa diamankan untuk tetap menjaga kerahasiaan tersebut.

Letihnya perjalanan yang panjang dan taqdir juga yang mewafatkan sultan sehingga misi ke Vienna terpaksa dibatalkan. Sokollu harus kembali ke İstanbul utk menerima perintah berikutnya dari Sultan Selim II. Kalaupun sultan masih hidup, serbuan ke Vienna pun harus ditunda karena masa akhir penyerbuan ke Szigetvár sangat dekat dengan awal musim dingin. Pertahanan yg “bandel” di Szigetvár ternyata menjadi “penyelamat” basib kota Wina.

Agung Waspodo, kali ini tidak perlu menyimpulkan apa2 karena seluruhnya merupakan kesimpulan bagi mereka yg bersedia berpikir setelah 449 tahun kemudian, kurang satu hari..

Depok, 6 Agustus 2015, pas masuk waktu maghrib.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Jangan Pernah Lagi Mengatakan Mereka Hanya Berpangku Tangan!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Dimulainya Pengepungan Kota al-Jazīrah al-Khadra (Algeciras) – 3 Agustus 1342 – 26 Maret 1344

Pengepungan kota Algeciras adalah salah satu rangkaian peristiwa yg dikenal sebagai Reconquista atau usaha sistemik perebutan wilayah al-Andalus oleh berbagai kerajaan nasrani di Semenanjung Iberia. Pada pengepungan ini kekuatan Kerajaan Castile dibawah Alfonso XI mendapat bantuan dari Kerajaan Aragon dan Republik Genoa. Sasaran pengepungan adalah kota kaum muslimin al-Andalus yg diberi nama Al-Jazīra Al-Khadra atau disebut Algeciras oleh kaum nasrani. Ketika itu, kota tersebut merupakan kota pelabuhan utama milik Kesultanan Mariniyah (Maroko) di wilayah bagian Eropa.
Pengepungan itu berlangsung selama 21 bulan dimana sekitar 30.000 penghuni kota, termasuk penduduk sipil beserta pasukan pertahanan dari Suku Berber asal Afrika, menderita hidupnya akibat blokade darat dan laut yg menghambat masuknya bahan pangan. Emirat Granada pernah mengirim pasukan bantuan, namun mereka dikalahkan oleh koalisi kaum nasrani di Pertempuran Río Palmones. Setelah kekalahan itu, pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 H (26 Maret 1344) kota Algeciras ini menyerah untuk kemudian diserap mejadi bagian dari Kerajaan Castile. Pertempuran ini kemungkinan besar adalah konflik militer pertama yg menggunakan bubuk mesiu dan meriam di Eropa.

al-Jazīrah al-Khadra pada awalnya adalah bagian dari Emirat Granada yang pada tahun 1329 diambil alih penjagaannya oleh Kesultanan Mariniyah (Maroko) yg menjadikannya ibukota untuk wilayahnya di Eropa. Dari kota ini, gabungan kekuatan Emirat Granada dan Kesultanan Mariniyah melancarkan serangan dan menguasai Jabal Tariq (Gibraltar) pada tahun 1333 sehingga timbul kesan seolah-olah pergerakan Reconquista telah terhenti.

Kemudian pada tahun 1338, Abdul Malik anak dari sultan Mariniyah yg diberi amanah memerintah kota al-Jazīrah al-Khadra dan Hisn ar-Rundah (Ronda) melancarkan serbuan-serbuan ke wilayah selatan Kerajaan Castile. Pada salah satu serbuan, ia gugur dan jenzahnya dibawa ke al-Jazīrah al-Khadra utk dikebumikan. Ayahnya, Abu al-Hasan ‘Ali ibn ‘Utsman, ketika mendengar berita itu bergegas menyeberangi selat pada tahun 1340, mengalahkan armada Castile serta mendarat di kota. Di pusara anaknya ia berjanji untuk mengalahkan raja Castile dengan mengepung kota Tarifa terlebih dahulu.

Mendapatkan begitu besar energi penyerangan yg dibawa dari Maroko, Raja Alfonso XI dari Castile yg merasa akan kehilangan kota Tarifa dari kendalinya segera meminta bantuan dari Raka Afonso IV dari Portugal. Kedua pasukan besar ini bertempur di Pantai Los Lances dekat Tarifa dalam sebuah pertempuran yg dikenal sebagai Rip Salado pada hari Senin, 8 Jumadil Awal 741 Hijriah (30 Oktober 1340). Kemenangan ini meyakinkan Alfonso XI utk segera menundukkan kota al-Jazīrah al-Khadra yg menjadi pintu masuk bagi pasukan kaum muslimin Maroko tersebut.

Pada hari Sabtu, 1 Rabi’ul Awwal 743 Hijriah (3 Agustus 1342), dan tenda-tenda sudah didirikan, Raja Castile menginstruksikan kesatuan zeni kerajaan untuk mempelajari wilayah setempat guna merumuskan posisi terbaik dalam menggelar kepungan. Tantangan utama mereka adalah menghalangi pasukan dari dalam kota untuk keluar serta menghambat pasukan dari luar untuk masuk ke dalam kota, khususnya yg berasal dari jalur Tarifa maupun Jabal Tariq. Direncanakan sedemikian rupa agar kota ini menyerah karena kelaparan bukan dengan serbuan militer yg diduga akan merenggut banyak korban.

Pasukan yg mengepung ternyata mebghadapi masalah yg lebih banyak dari perkiraan mereka. Pertama, pada awal bulan Oktober mereka terkena badai yg besar sehingga tenda-tenda mereka di bagian barat laut terendam banjir sehingga area tenda maupun garis kepung tersebut mendadak berubah menjadi rawa. Pasukan pertahanan kota mengambil peluang ini guna melancarkan serangan dadakan pada malam hari sehingga mengakibatkan kerugian yang banyak. Kedua, akibat dari badai dan banjir tersebut maka pasukan kaum nasrani terpaksa memindahkan markas besar berasama sebagian besar pasukannya ke muara Sungai Palmones sambil menghabiskan bulan Oktober 1342 di sana. Melihat perpindahan itu, pasukan dari dalam kota mengumpulkan sisa kekuatan mereka di Villa Vieja untuk mengirimkan serangan besar. Dalam serangan tersebut, para pemuka kaum muslimin berhasil menerobos hingga ke area tenda dan mengakibatkan banyak korban para pembesar kaum nasrani, antara lain Gutier Díaz de Sandoval, Lope Fernández de Villagrand, utusan vasal Joan Núñez, dan Ruy Sánchez de Rojas yg juga merupakan utusan dari ordo militer fanatik nasrani Master of Santiago.

Lambat laun, kondisi kedua belah pihak semakin memburuk. Bahan pangan juga sempat menjadi langka di pihak kaum nasrani setelah kebanjiran itu dan bahkan banyaknya pasukan yg terlibat dalam pengepungan berikut buruknya kebersihan area garis belakang menimbulkan banyak penyakit menular.

Pada bulan Mei 1343, pasukan yg dikirim oleh Emirat Granada melintasi Sungai Guadiaro dan bergerak menuju kota. Raja Alfonso XI mengirim detasemen pengintainya untuk menilai situasi dan tingkat ancaman. Dari hasil pengintaian tersebut, ia mengirimkan surat kepada Emir Granada bahwa ia bersedia melepas kepungan jika dibayar sejumlah upeti (tribute). Setelah menerima surat tersebut, Emir Granada hanya menawarkan gencatan senjata yg rupanya tidak cukup bagi pihak Castile yg memerlukan dana segar guna membayar pasukannya.

Andai saja upeti ini dibayar mungkin kejadian berikutnya bisa berubah, namun para pemimpin kaum muslimin pada era itu menganggap pembayaran upeti sebagai bentuk perendahan dan penghinaan yg tidak dapat diterima.

Pada bulan Januari 1344, Raja Alfonso XI memutuskan untuk membangun kembali rantai laut (chain sea-boom) guna menghambat bantuan yg datang dari Jabal Tariq menggunakan kapal-kapal kecil. Penghalang laut ini dibuat dari tambang kapal yg ditopang oleh drum yg diikat bersama membentuk pelampung pengikat. Posisi pelampung tersebut diperkuat dengan bekas tiang kapal yg dihujamkan ke dasar laut. Pembangunan rantai laut dan struktur penunjangnya membutuhkan waktu 2 bulan dimana selundupan bantuan tetap lolos lewat jalur laut hingga akhirnya terputus total pada awal bulan Maret. Kini dapat dipastikan bahwa tinggal menunggu waktu untuk kota tersebut menyerah dengan syarat yang lebih menguntungkan bagi pihak pengepung.

Pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 Hijriah kota Algeciras menyerah dimana penduduknya bebas keluar kota dalam perlindungan, gencatan senjata selama 10 tahun, dan Emirat Granada membayar upeti 12 ribu doubloon setiap tahun. Raja Alfonso XI menerima ini walau para penasihat militernya mengajukan diteruskannya pengepungan hingga jatuhnya kota.

Jatuhnya kota Algeciras menandai masuknya masa penghujung Reconquista dan kini tinggal Jabal Tariq yg menjadi incaran kaum nasrani.

Agung Waspodo, melihat episode akhir kegigihan kaum muslimin al-Andalus yg tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Depok, 2 Agustus 2015, malam menjelang tanggal bersejarah itu 671 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com