Penaklukan Militer dan Penaklukan Hati

๐Ÿ“† Kamis, 9 Syawal 1437H / 14 Juli 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Penaklukan Militer dan Penaklukan Hati

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Pertempuran ‘Ayn at-Tamr (Mata Air Kebun Kurma)
Akhir Musim Semi 633

Pertempuran ini terjadi di front Irak pada era Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththab (ra) antara pasukan Muslimin melawan Sassania Persia bersama pasukan pendukung dari suku Arab Nasrani. ‘Ayn at-Tamr terletak sebelah barat kota Anbar yang dahulu merupakan pos-pantau terdepan bagi Sassania untuk memantau pergerakan suku-suku Arab di perbatasan.

Lesson #1 pantaulah lawan, jangan malah terpantau lawan; dalam bahasa sekarang jangan semua info pribadimu diumbar di medsos.

Pasukan muslimin yang dipimpin oleh panglima Khฤlid ibn al-Walฤซd (ra) mengalahkan dengan telak pasukan Sassania beserta pasukan pendukungnya dari kalangan suku Arab Nasrani yg sebelumnya melanggar perjanjian netralitas. Menurut sumber sejarawan non-muslim, Khฤlid ibn al-Walฤซd (ra) dikabarkan meringkus sendiri komandan lawan yg bernama Aqqa ibn Qays ibn Basyir dari kalangan suku Arab Nasrani.

Lesson #2 hukumlah pengkhianat jika tidak ingin marak pengkhianatan selanjutnya

Setelah pertempuran usai, banyak petinggi Sassania yang mengira bahwa pasukan Khฤlid ibn al-Walฤซd (ra) akan balik ke pedalaman padang pasir sebagaimana tradisi perang al-Karr wal-Farr mereka. Namun mereka salah duga, karena Khฤlid ibn al-Walฤซd (ra) terus menyerang posisi pasukan Sassania yg terdesak mundur, hingga ke pertempuran di Daumat al-Jandal.

Lesson #3 lakukan apa yang tidak diprediksi lawan agar selalu tak terkira; dalam bahasa sekarang tidak harus punya rutinitas yang terbaca orang

Ketika pasukan kaum muslimin membebaskan kota ‘Ayn at-Tamr, mereka menjumpai ada 1 orang pemuka agama Nasrani di gerejanya dan 1 orang pandai besi. Kedua orang ini terkesan dengan perilaku pemimpin dan pasukan muslimin sehingga keduanya masuk Islam.

Lesson #4 akhlaqmu adalah cerminan aqidahmu

Sang rahib itu bernama Nusayr yg kelak memiliki anak yg bernama Mลซsa, anak ini akan menjadi panglima sekaligus Gubernur Ifriqiyya yg bernama Mลซsa ibn Nusayr. Ialah yg mengutus komandan Tariq ibn Ziyad dalam penaklukan Visigothic Iberia menjadi Andaluisa.

Sang pandai besi itu bernama Sirin yg kelak memiliki anak yg bernama Muhammad, anak ini kemudian menjadi ‘ulama ahli hadits dan sirah-nabawiyah yg dengan karya yg terkenal “Ta’bir ar-Ru’ya” bernama (Abu Bakr) Muhammad ibn Sirin atau Ibnu Sirin saja. Beliau lahir di Basra 2 tahun sebelum akhir era Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan (ra) dan belajar kepada sahabat Rasul SAW yg bernama Anas ibn Malik (ra).

Lesson #5 jangan tinggalkan generasi penerus kecuali sudah dipersiapkan untuk dekat kepada Allah SWT dan siap konsisten berkorban di jalanNya

Agung Waspodo, mencatat bahwa penaklukan militer tidak bisa berhasil kecuali diikuti dengan penaklukan jiwa melakui akhlaq yg karimah. Penaklukan Khฤlid (ra) terhadap ‘Ayn at-Tamr ini menjadi penting karena juga membawa dua orang masuk ke dalam Islam dan melahirkan generasi penerus yg membawa harum Ummat ini.

Depok, 8 Agustus 2015, maaf telat posting hampir setahun

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Tidak Tahu Diuntung – Membiarkan Sebuah Nikmat Terlepas

๐Ÿ“† Kamis, 26 Sya’ban 1437H / 02 Juni 2016

๐Ÿ“š *SIROH DAN TARIKH*

๐Ÿ“ Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP*

๐Ÿ“ *Tidak Tahu Diuntung – Membiarkan Sebuah Nikmat Terlepas*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

_Military History_

Decatur’s Bold and Daring Act – The Philadelphia in Tripoli 1804, Mark Lardas, Osprey Publishing, Oxford, 2011.

Empat bulan sebelumnya, kapal perang Amerika Serikat tercanggih di zamannya, USA Philadelphia, berhasil dijebak dan direbut oleh Emir Tarabulus (sekarang Tripoli, Libya). Kapal perang ini ditambatkan di teluk Tripoli untuk menjalani perbaikan serta persiapan untuk dipakai kembali memerangi armada A.S. di perairan Afrika Utara.

*Lesson #1: sebuah keberhasilan harus ditindaklanjuti dengan peluang keberhasilan berikutnya, tidak ada kata istirahat kecuali sudah meninggal dunia.*

Sebuah kondisi yang tidak bisa diterima oleh komandan skuadron Mediterranean dibawah pimpinan Komodor Edwin Preble. Sebuah secanggih ini di tangan pelaut handal beserta awak yang berdedikasi akan mengobrak-abrik lawan.

*Lesson #2: melajulah dan jangan membiarkan lawan bermimpi punya harapan mengejar.*

Untuk mencegah mimpi buruk ini maka disusunlah rencana serbuan oleh tim kecil dibawah Letnan Stephen Decatur bersama awak dan pelaut pilihan. Misi tim komando ini adalah merebut kembali USS Philadelphia atau, jika tidak dimungkinkan, membakarnya hingga tenggelam.

*Lesson #3: kerja besar kadang hanya membutuhkan tim kecil yang bernyali besar serta tak putus berdoa.*

Misi ini nyaris gagal karena berbagai hal, namun pada akhirnya kapal tersebut terpaksa dibakar agar tidak jatuh ke tangan pelaut-pelaut Tripoli. Keberhasilan ini bahkan mendapatkan pujian dari Admiral Horatio Nelson dari Inggris dalam untaian kata “the most bold and daring act of the Age.”

*Lesson #4: pujian lawan itu tidak terlalu penting, asal mereka menyegani itu sudah cukup.*

Seperti apa persisnya jalan operasi militer senyap ini hanya bisa dinikmati dengan membaca tuntas buku setipis 80 halaman ini.

Dalam perjalanan menuju Kebon Jeruk guna menyampaikan sejarah Nabi SAW. Melintasi stasiun Pasar Minggu Baru, 28 Mei 2016

Masuk perpus koleksi pribadi, 27 Mei 2016.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Shalahuddin Dalam Jarak Dekat

๐Ÿ“† Kamis, 26 Sya’ban 1437H / 02 Juni 2016

๐Ÿ“š *SIROH DAN TARIKH*

๐Ÿ“ Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP*

๐Ÿ“ *Shalahuddin Dalam Jarak Dekat*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

_Five Lessons for Myself_

Dua buku yang sama. Sebelah kiri berjudul _”The Life of Saladin (1137-1193 AD)”_ sudah dalam bahasa Inggris dan di sebelah kanan masih dalam bahasa aslinya _”Kitab Sirah Shalahuddin al-Ayyubi an-Nawadir as-Sulthaniyyah wal-Mahasin al-Yusufiyyah”_ keduanya tulisan al-Qadhi Baha’uddin ibn-Syaddad. Nama asli penuslinya adalah Yusuf Ibn Rafi’ ibn Tamim al-Asadi atau Abul Mahasin.

*Lesson #1: do great things or write them*

Beliau adalah seorang ahli hadits, seorang hakim untuk kota Halab (Aleppo), bermahzab Syafi’i, danlahir di kota Mawsil (Mosul), Irak. Beliau pernah menjabat sebagai asisten professor di Madrasah Nizamiyah di Baghdad sebelum pulang dan menjadi professor di madrasah Kamaliyah di Mosul.

*Lesson #2: get out of town and see the world*

Setelah menunaikan hajji pada tahun 1188 ia kembali melintasi Damaskus dan diminta untuk bertemu Shalahuddin yang sedang mengepung Kawkab. Di tengah pertempuran itu Shalahuddin menawarkan ia puncak jabatan pada madrasah Manazilul-‘Izz di Kairo; beliau menolaknya dengan halus.

*Lesson #3: know when to say no*

Ketika di lain waktu ia menemui Shalahuddin yang tengah mengepung benteng Kaum Salibis di Hisn al-Aqrad, beliau menghadiahkan tulisannya tentang keutamaan jihad fi sabilillah. Dari pertemuan ini keduanya menjadi semakin dekat hingga akhirnya Shalahuddin berhasil meyakinkan Baha’uddin untuk bersedia diangkat sebagai Qadhi al-Askar atau hakim militer serta menduduki jabatan sebagai hakim utk kota al-Quds.

*Lesson #4: know when to say yes*

Beliau mendampingi Shalahuddin hingga akhir hayat sultan. Dalam banyak momen, beliau berada sangat dekat dengan sultan baik sebagai pencatat sejarah maupun sebagai penulis penasihatnya. Keduanya sama-sama bernama Yusuf.

*Lesson #5: get a good name for your children*

Buku yang sangat direkomendasikan utk rekan-rekan yang meminati sejarah Yusuf Ibn Najmuddin atau lebih populer dikenal sebagai Sultan Shalahuddin.

Sore yang sejenak tertahan air hujan,
Depok, 20 Mei 2016

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Menjadi Tawanan adalah Masalah Kecil, Ditinggal Allah Ta’ala adalah Petaka Besar

๐Ÿ“† Kamis, 19 Sya’ban 1437H / 26 Mei 2016

๐Ÿ“š *SIROH DAN TARIKH*

๐Ÿ“ Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP*

๐Ÿ“ *Menjadi Tawanan adalah Masalah Kecil, Ditinggal Allah Ta’ala adalah Petaka Besar*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Abu ad-Darda’ (ra) adalah seorang ‘ulama dari generasi sahabat Rasul SAW yang pernah ikut dalam Fathu Qibrus pada era Khalifah ‘Utsman (ra). Setelah pulau Cyprus itu dibebaskan Kaum Muslimin ia terlihat menangis justru pada saat sebagian besar tersenyum penuh syukur. Ketika ditanyakan kepadanya apa sebab, beliau menjawab:

ูˆูŠุญูƒ ุฅู† ู‡ุฐู‡ ูƒุงู†ุช ุฃู…ุฉ ู‚ุงู‡ุฑุฉ ู„ู‡ู… ู…ู„ูƒุŒ ูู„ู…ุง ุถูŠุนูˆุง ุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุณูŠุฑู‡ู… ุฅู„ู‰ ู…ุง ุชุฑุงุŒ ุณู„ุท ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุตุจูŠ. ูˆ ุฅุฐุง ุณู„ุท ุนู„ู‰ ู‚ูˆู… ุงู„ุตุจูŠ ูู„ูŠุณ ุงู„ู„ู‡ ููŠู‡ู… ุญุงุฌุฉ.

“Bagaimana kau ini, sungguh mereka (Kaum Byzantium) dulu adalah bangsa yang perkasa penakluk banyak kerajaan, ketika mereka mengabaikan perintah Allah maka mereka dibiarkan (kalah) seperti yang engkau lihat, Allah kuasakan atas mereka (menjadi) tawanan. Ketika Allah sudah menguasakan atas suatu bangsa (menjadi) tawanan, maka Allah pun berlepas dari urusan mereka.” (al-Bidayah wa n-Nihayah, vol. 7, halaman 149)

Foto: pasukan Turki Utsmani yang tertawan oleh Serbia di Ostrovo, Perang Balkan, 1912, AND.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia

๐Ÿ“† Kamis, 19 Sya’ban 1437H / 26 Mei 2016

๐Ÿ“š *SIROH DAN TARIKH*

๐Ÿ“ Pemateri: *Ust. DR. Wido Supraha*

๐Ÿ“ *Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia*
Bag-4

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

*Perubahan yang dibawa Ulama Nusantara dari Haramain*

Sejak kepulangan para pengkaji Islam dari Timur Tengah memang sedikit banyak membawa warna tersendiri bagi kajian keislaman di Indonesia. Ini tidak saja baru berlaku sekarang, tetapi jauh sejak interaksi Timur Tengah dan Indonesia berlangsung erat. Sejak abad ke-16 sampai ke-19, pemikiran dan paham keagamaan yang dibawa oleh alumni Timur Tengah dapat dikatakan menjadi mainstream pemikiran Islam di Indonesia. Kiprah yang diperankan mereka malah sebetulnya tidak hanya mewarnai kajian keilmuan Islam, tetapi juga mewarnai dunia pergerakan, organisasi, atau institusi kaum Muslim, bahkan dunia perpolitikan.[18]

Adanya proses transfer ilmu dan pengetahuan antara ulama-ulama Haramain kepada ulama-ulama Nusantara yang mengkhususkan dirinya datang ke Haramain untuk menuntut ilmu, secara sistemik telah membentuk jaringan dan ikatan yang kuat dan terpola khususnya dalam pengembangan daโ€™wah di seantero dunia. Banyak terobosan yang telah dibuat para ulama tersebut bersama jaringannya.

Satu contoh fragmen sejarah dalam jaringan ulama NU (Nahdhatul โ€˜Ulama) dapat kita ketahui dari penuturan al-Habib Luthfi bin Yahya, menjelang berdirinya NU. Beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram dan kemudian menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlu as-Sunnah Wa al-Jamaโ€™ah. Akhirnya  di-istikharoh-i oleh para ulama-ulama Haromain, mengutus Kiai Hasyim Asyโ€™ari untuk pulang ke Indonesia, agar menemui dua orang di Indonesia, kalau dua orang ini menyetujui, dapat diteruskan, kalau tidak disetujui, jangan diteruskan. Dua orang tersebut yang pertama al-Habib Hasyim bin Umar Bin Toha Bin Yahya Pekalongan, yang satunya lagi Mbah Kyai Kholil Bangkalan.

Oleh sebab itu, menurut al-Habib Luthfi bin Yahya, tidak heran jika Muktamar NU yang ke 5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M, untuk menghormati  al-Habib Hasyim yang wafat pada waktu itu, sebagai suatu penghormatan yang luar biasa, dan tidak heran kalau Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thoriqoh. Al-Habib Luthfi bin Yahya mendapatkan informasi ini dari seorang yang saleh, Kyai Irfan. Suatu ketika beliau sedang duduk-duduk dengan Kyai Irfan, Kyai Abdul Fatah dan Kyai Abdul Hadi. Kyai Irfan bertanya pada saya, โ€œKamu ini siapanya Habib Hasyim?โ€. Yang menjawab pertanyaan itu Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi, โ€œIni cucunya Habib Hasyim Yaiโ€œ. Akhirnya al-Habib Luthfi bin Yahya diberi wasiat. Kata beliau, โ€œMumpung saya masih hidup tolong catat sejarah ini. Mbah Kyai Hasyim Asyโ€™ari datang ketempatnya Mbah Kyai Yasin. Kyai Sanusi ikut serta pada waktu  itu, diiringi Kyai Asnawi Kudus, diantar datang ke Pekalongan, bersama Kyai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asyโ€™ari duduk,  Habib Hasyim langsung berkata, โ€œKyai Hasyim Asyโ€™ari, silahkan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah  Ahlus Sunnah Wal Jamaโ€™ah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulisโ€œ. Demikianlah wasiat Habib Hasyim, yang kemudian membuat Kyai Hasyim Asyโ€™ari merasa lega dan puas, dan langsung menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Kemudian Mbah Kyai Kholil menasihati Kyai Hasyim Asyari, โ€œLaksanakan apa niatmu, saya ridlo seperti ridlonya Habib Hasyim tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.โ€ Kyai Hasyim Asyโ€™ari berkata, โ€œIni bagaimana Kyai, kok tidak mau ditulis semua.โ€ Terus Mbah Kyai Kholil menjawab kalau mau tulis silahkan tapi sedikit saja. Demikianlah tawadhu-nya Mbah Kyai Ahmad Kholil Bangkalan.[19]

Transmisi keilmuan Timur Tengah ke Indonesia, pada periode kontemporer, mengalir setidaknya lewat tiga โ€œjalurโ€. Pertama, kepulangan mahasiswa Indonesia dari sana yang kemudian sedikit banyak menularkan ilmu-ilmu yang diperolehnya, baik melalui aktivitas mengajar di suatu lembaga ataupun melalui aktivitas menulis buku atau artikel media. Kedua, masuknya buku-buku karya pemikir Timur Tengah yang dibawa oleh mahasiswa dan alumni ataupun tenaga kerja yang meski tidak tersebar luas tetapi kemudian banyak diterjemahkan dan banyak beredar di Tanah Air. Buku-buku Timur Tengah terhitung paling marak diterjemahkan. Seiring dengan ini, beberapa kajian mengenai pemikiran tokoh-tokoh Timur Tengah kontemporer juga mulai sering dilakukan. Ketiga, kedatangan para dai dan guru Timur Tengah, baik atas undangan orang Indonesia, inisiatif sendiri, ataupun yang disebar oleh beberapa lembaga Timur Tengah. Yang disebut terakhir ini boleh jadi adalah yang lebih umum. Al-Azhar misalnya, aktif mengirimkan banyak lulusannya ke negara-negara Muslim. Pada tahun 1989 saja tercatat 29 orang Azhari Mesir yang bekerja di seluruh Indonesia.

Munculnya semangat pembaharuan Islam di dunia sedikit banyak juga membawa pengaruh secara langsung ke Nusantara Indonesia. Sebagai contoh gerakan pemurnian yang dipelopori oleh rangkaian guru-murid, Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), dan Muhammad Rasyid Ridha (1856-1935 M), telah melahirkan pengikut dan pemikir di masing-masing negara seperti Abdul Hamid di Turki, Sir Sayyid Ahmad Khan (1871-1848) dan Sir Sayyid Ali (1849-1928) di India/Pakistan, Dr. Ansari, Maulana Muhammad Ali, Syaukat Ali, dan Dr. Muhammad Iqbal. Di Malaysia/Singapura terdapat pengikut seperti Sayyid Muhammad bin Aqil, Syaikh Muhammad al-Kalali, Syaikh Thaher Jalaluddin, Sayyid Syaikh al-Hady, dan Zaโ€™ba.[20] Menurut Prof. Dr. H. Abubakar Aceh[21], terdapat hubungan antara K.H. Ahmad Dahlan dengan Sayyid Muhammad bin Agil di Singapura, yaitu salah seorang sahabat Muhammad Rasyid Ridha. Sayyid Muhammad bin Agil telah menerbitkan majalah al-Iman dalam bahasa Melayu dan majalah al-Islam dalam bahasa Arab, yang membuka pintu aliran ini masuk ke Jawa yang mengakibatkan secara langsung maupun tidak langsung berdirinya Jamiat Khaer (1905) dan Muhammadiyah (1912).

Terbentuknya *Perkumpulan Jamiat Khair* (dibentuk secara diam-diam pada tahun 1901 di Pekojan, Jakarta) yang berlatar belakang isolasi Pemerintah Hindia Belanda terhadap โ€œKampung Arabโ€ merupakan satu derivasi semangat kebangkitan Islam di Indonesia. Didirikan oleh Sayyid Ali bin Ahmad bin Syahab (Ketua), Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Syahab (Wakil Ketua), Sayyid Muhammad al-Fachir bin Abdurrahman al-Masyhur (Sekretaris), Sayyid Idrus bin Ahmad bin Syahab (Bendahara), dan Said bin Ahmad Basandied (Anggota), dengan pergerakan di bidang sosial dan pendidikan, dan bersifat terbuka untuk setiap Muslim tanpa diskriminasi asal-usul, meski mayoritas anggotanya keturuan Arab. Orang Indonesia yang pernah menjadi perkumpulan Jamiat Khair di antaranya Raden Umar Said Tjokroaminoto, Raden Jayanegara (Hoofd Jaksa Betawi, anggota nomor 352), R.M., Wiriadimaja (Asisten Wedana Rangkasbitung, anggota nomor 661), Raden Hasan Djajadiningrat (anggota nomor 723), dan K.H. Ahmad Dahlan (anggota nomor 770). Aktivitasnya kemudian berkembang dengan majlis taklim, Balai Pertemuan Perpustakaan dengan hubungan internasional, percetakan (maktabah), harian Utusan Hindia (dipimpin Umar Said Tjokroaminoto), sekolah muslim modern pertama (kurikulum internasional dan hampir 50% diisi dari keluarga tidak mampu tanpa dipungut biaya pendidikan), dan memiliki hubungan dengan organisasi di dalam negeri seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan Jong Islamieten Bond (Persatuan Pemuda Islam).[22]

Menurut Kamajaya, penggerak kebangkitan Islam di Jawa yang pertama-tama adalah perkumpulan Jamiat Khair. Dari perkumpulan inilah tokoh-tokoh baru Islam bermunculan dan mendirikan berbagai perkumpulan, misalnya Perserikatan Muhammadiyah, al-Irsyad, dan lain-lain.[23]

*Muhammadiyah* sendiri didirikan pada tanggal 18 November 1912. Awalnya K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Sekolah Muhammadiyah, kemudian pada tahun 1914 didirikan bagian Kewanitaan yang dinamakan โ€œSopo Tresnoโ€, dan kemudian dinamakan โ€œAisyiahโ€. KH. Ahmad Dahlan merupakan sosok ulama yang telah mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya dan beberapa orang kyai dalam bidang Bahasa Arab, Ilmu Hadits, Tauhid, dan Tafsir. Dia pernah belajar dan bermukim di Mekah selama 5 tahun, dan banyak membaca tulisan-tulisan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, dan kembali ke Indonesia dengan membawa banyak buku-buku tebal, sekaligus mengganti namanya dari Muhammad Darwis. Ketika untuk kedua kali, K.H. Ahmad Dahlan beribadah haji ke Mekah tahun 1902 dan menetap selama 2 tahun, di saat itulah ia berkenalan dengan ulama yang dikaguminya, Rasyid Ridha.[24]

*Jamiyah al-Islam wa al-Irsyad al-Arabiyah* didirikan oleh Syaikh Ahmad Surkati pada tahun 1914, yang resminya berdiri dengan besluit nomor 47 tertanggal 11 Agustus 1915 di Petojo Jaga Monyet nomor 19 Jakarta dengan pengurus awal adalah Salim bin Awad Balweel (Ketua), Muhammad bin Abud Ubaid (Sekretaris), Said bin Salim Masyabi (Bendahara), dan Shaleh bin Ubaid Abdat (Penasihat). Syaikh Ahmad Surkati tidak duduk dalam kepengurusan tetapi sebagai pimpinan dari Madrasah al-Irsyad al-Islamiyah. Awalnya, Syaikh Ahmad Surkati (seorang Arab kelahiran Sudan 1292 H) hijrah ke Saudi Arabia karena situasi politik di Sudan yang dikuasai Inggris. Mula-mula menetap dan belajar di Madinah selama 4 tahun, kemudian pindah ke Mekah hingga memperoleh ijazah Syahadah Alimiyah pada 1326 H, selama 11 tahun, dengan berguru pada Syaikh al-Falih, al-Faqih Syaikh Ahmad bin Haji Ali Majdub, Syaikh Gurraโ€™ al-Allamah Syaikh Muhammad al-Maghribi, al-Imam as-Sayyid Ahmad al-Barzanji al-Madani, al-Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Khayyat, Syaikh Syueb bin al-Maghribi. Ketika Jamiat Kheir membutuhkan tenaga guru, maka setelah berkoordinasi dengan Syarif Mekah, ditunjuklah Syaikh Ahmad Surkati, yang tiba di Indonesia pada tahun 1911 M, dan atas sarannya didatangkan pula oleh Jamiat Khair 4 orang guru lain untuk melengkapi kebutuhan tenaga guru. Sampai pada tahun 1914, Syaikh Ahmad Surkati berbeda pandangan dengan pengurus Jamiโ€™at Khair yang memuncak pada 6 September 1914 dengan berhentinya dari keanggotaan.[25]

*Nahdhatul โ€˜Ulama* didirikan antara lain oleh K.H. Muhammad Hasyim Asyโ€™ari, K.H. R. Asnawi, K.H. Mansyur, K.H. R. Asnawi, Hasan Gipo, dan K.H. Maโ€™shum. K.H. Muhammad Kholil (1235-1343 H), sosok ulama kelahiran Madura yang pernah belajar di Makkah al-Mukarramah, sekalipun bukan pendiri langsung NU, namun merupakan inspirator bagi semua kyai para pendiri NU yang berguru kepadanya. Adapun K.H. Muhammad Hasyim Asyโ€™ari (1871-1947 M), ulama kelahiran Jombang, dan pengasuh Pesantren Tebu Ireng, yang merupakan tokoh pendiri utama di NU ini, juga pernah mengenyam pendidikan di Makkah al-Mukarramah, khususnya berguru kepada Syaikh Mahfuzh at-Termisi bin Kyai Abdullah (Ahli Hadits dari Pesantren Termas Pacitan dan mengajar di Makkah), dan Syaikh Ahmad Khatib Minangkabu (Pengajar di Masjid al-Haram). Terakhir K.H. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971 M), termasuk murid K.H. Hasyim Asyโ€™ari yang juga pernah mengenyam pendidikan di Makkah al-Mukarramah, dan bergurun antara lain kepada Kyaih Mahfuzh at-Termisi, Kyai Muhtaram Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Kyai Bakir Yogyakarta, Kyai Asyโ€™ari Bawean, Syaikh Said al-Yamani, dan Syaikh Iman Bajened.[26]

*Karakteristik Ulama Haramain*

            Dari beberapa penelusuran di atas, terlihat bagaimana ulama-ulama yang telah mengkhususkan dirinya berada di Haramain tersebut khususnya untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu yang dimilikinya, memiliki semangat yang tinggi untuk melanjutkan warisan para Nabi kepada seluruh kaum Muslim tanpa mengenal batasan teritori. Kecintaan mereka terhadap ilmu, perjuangan mereka untuk mendapatkan ilmu, dan penjagaan mereka atas ilmu patut diteladani umat Islam dewasa ini. Atas ilmu jualah mereka mampu menjadi tokoh besar sepanjang zaman yang meninggalkan bekas-bekas (atsar) yang baik bagi generasi berikutnya.

*Daftar Pustaka*

Abaza, Mona, Islamic Education, Perception and Exchanges Indonesian Students in Cairo, Paris: Cahier dโ€™Archipel 23, 1994.

Aceh, Abubakar, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Semarang-Solo: Ramadhani, cetakan ke-3, 1982.

As, Muhammad Syamsu, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, cetakan ke-2, Jakarta: Lentera, 1999.

De Clercq, F.S.A, Bijdragen tot de Kennis der Residentie Ternate, Leiden: E.J. Brill, 1890.

Dunn, Rose E., Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, cetakan ke-1, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.

Eisenberger, Johan, Indie and de Bedevaart naar Mekka (Disertasi di Rijksuniversiteit Leiden), Leiden: Boekhandel M. Dubbeldeman, 1928.

Gibb, H.A.R., Ibn Battuta: Travels in Asia dan Africa, 1325-1354, London: Routledge & Kegan Paul Ltd., 1957.

Kamajaya, Delapan Alim Ulama Pahlawan Nasional, Buku Kedua, Yogya: U.P. Indonesia, 1981.

Masโ€™ud, Abdurrahman, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, cetakan ke-1, Jakarta: Penada Media, 2006.

Ratib, Majelis, Jejak Ulama Betawi Meneguhkan Peran, [Online]. http://majelisratibmuhyinnufuussyamsisyumus.blogspot.com/2009/07/jejak-ulama-betawi-meneguhkan-peran.html 13 Mei 2010

Putuhena, M. Shaleh, Historiografi Haji Indonesia, Yogyakarta: LKiS, cetakan ke-1, 2007.

Ropi, Ismatu dan Kusmana (Ed.) Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, tanpa tahun.

Suryanegara, Ahmad Mansur, Api Sejarah Jilid 1, Bandung: Salamadani, cetakan ke-2, 2009.

Vlekke, Bernard H. M., Nusantara a History of the East Indian Archipelago, Cambridge: Harvard University Press, 1943.

Yahya, Luthfi, Ulama-ulama di Haromain, Embrio NU di Indonesia, [Online]. http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=144%3Aulama-ulama-indonesia-di-haromain-embrio-nu-di-indonesia&catid=34%3Aberita&Itemid=18&lang=id 13 Mei 2010.

[1] Abdurrahman Masโ€™ud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, Jakarta: Penada Media, 2006

[2] F.S.A De Clercq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie Ternate, Leiden: E.J. Brill, 1890,        hlm. 161.

Dalam naskah aslinya tertulis, โ€œDe Spanjaarden verlaten Ternate, waarna de Hollanders op last der Edelheden de vesting Gamlamo hebben geslechtโ€. Naskah asli dapat diunduh di alamat: http://www.sil.si.edu/DigitalCollections/Anthropology/Ternate/index-ternate.htm.

[3] Bernard H. M. Vlekke, Nusantara a History of the East Indian Archipelago, Cambridge: Harvard University Press, 1943, hlm. 170.

[4] Ibid.

[5] Johan Eisenberger, Indie and de Bedevaart naar Mekka (Disertasi di Rijksuniversiteit Leiden), Leiden: Boekhandel M. Dubbeldeman, 1928, hlm. 14-15.

[6] Abdurrahman Masโ€™ud, Dari Haramain ke Nusantara, Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, Jakarta: Penada Media, 2006, hlm. 109.

[7] Abdurrahman Masโ€™ud, Dari Haramain ke Nusantara, Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, Jakarta: Penada Media, 2006, hlm. 161.

[8] Komaruddin Hidayat, โ€œPengantarโ€ dalam Ismatu Ropi, Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. x.

[9] Ismatu Ropi, Kusmana, โ€œAlumni Timur Tengah dan Disseminasi Otoritas Keislaman di Indonesiaโ€, dalam Ismatu Ropi, Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 5.

[10] Abaza, Mona, Islamic Education, Perception and Exchanges Indonesian Students in Cairo, Paris: Cahier dโ€™Archipel 23, 1994, hlm. 38-9.

[11] Ismatu Ropi dan Kusmana, โ€œAlumni Timur Tengah dan Disseminasi Otoritas Keislaman di Indonesiaโ€, dalam Ismatu Ropi dan Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 10.

[12] Ismatu Ropi, Kusmana, โ€œAlumni Timur Tengah dan Disseminasi Otoritas Keislaman di Indonesiaโ€, dalam Ismatu Ropi, Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 7.

[13] Maksum Muchtar, โ€œKajian Islam Haramain: Pengalaman di Makkahโ€, dalam dalam Ismatu Ropi, Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 21.

[14] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah Jilid 1, Bandung: Salamadani, 2009, hlm. 99.

[15] Rose E. Dunn, Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995, hlm. x. (Terjemahan: The Adventures of Ibn Battuta, a Muslim Traveler of the 14th Century, California: University of California Press, 1986.)

[16] H.A.R. Gibb, Ibn Battuta: Travels in Asia dan Africa, 1325-1354, London: Routledge & Kegan Paul Ltd., (Fourth Impression), 1957, hlm. 274-275.

[17] Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, hlm. xx.

[18] Ismatu Ropi dan Kusmana, โ€œAlumni Timur Tengah dan Disseminasi Otoritas Keislaman di Indonesiaโ€, dalam Ismatu Ropi dan Kusmana (Ed.), Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 10.

[19] www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=144%3Aulama-ulama-indonesia-di-haromain-embrio-nu-di-indonesia&catid=34%3Aberita&Itemid=18&lang=id

[20] Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, hlm. 281.

[21] Abubakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Semarang-Solo: Ramadhani, 1982.

[22] Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, hlm. 284.

[23] Kamajaya, Delapan Alim Ulama Pahlawan Nasional, Buku Kedua, Yogya: U.P. Indonesia, 1981.

[24] Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera, 1999, hlm. 286.

[25] Ibid, hlm. 288.

[26] Ibid, hlm. 291.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Adakah Arti dari Sebuah Nama?

๐Ÿ“† Kamis, 28 Rajab 1437H / 5 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Adakah Artฤฑ dari Sebuah Nama ?

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Mari kita simak kisah sebuah kapal perang..

Kapal tempur penjelajah (battlecruiser) dengan nama Yavuz Sultan Selim milik angkatan laut Turki Utsmani ini diambil diambil dari nama Sultan Selim I. Kapal ini diperoleh pada tahun 1914 dari Jerman pada awal Perang Dunia Pertama. Kapal ini aslinya bernama SMS Goeben yang sempat diburu oleh angkatan laut Inggris sepanjang perjalanannya sebelum berhasil lolos ke Selat Dardanelles memasuki wilayah perairan Turki Utsmani. Dengan hibah ini masuklah Turki Utsmani ke dalam pusaran Perang Dunia Pertama.

๐Ÿ”† Lesson #1: tidak semua hadiah mendatangkan manfaat, pandai-pandailah memilah!

Nama yang diambil untuk kapal ini tidak tangung-tanggung, yaitu nama seorang sultan dua era setelah Muhammad II Fatih. Pada era Sultan Selim I tersebut seluruh wilayah bekas Kesultanan Mamluk jatuh ke tangannya. Pada masa 1516-1517 daerah Syam, Lubnan, Filistin, Mesir, hingga Hijaz termasuk kedua Haramayn (Makkah dan Madinah) menjadi bagian dari kekhilafahan Turki Utsmani.

๐Ÿ”† Lesson #2: setiap masa memiliki penaklukannya, apa penaklukan kita?

Ada sejarawan yang berpendapat bahwa pada masa Sultan Selim I ini Turki Utsmani mendapatkan keabsahan memanggul sebutan khilafah setelah perlindungan serta pelayanan atas kedua Tanah Suci (khadimul Haramayn) diberikan oleh Khalifah al-Mutawakkil III penerus Khilafah Abbasiyah.

๐Ÿ”† Lesson #3: menjadi pemimpin itu adalah menjadi pelindung serta pelayan bagi penduduknya, bukan malah penindasnya!

Pada awal masa Perang Dunia Pertama memang Mesir sudah berada dibawah kendali Inggris. Namun wilayah pertempuran lainnya di Timur Dekat (Near East) tidak berbeda jauh dengan tapal batas pada masa Sultan Selim I dengan pengecualian tambahan wilayah Irak. Pada akhir Perang Dunia Pertama, hampir seluruh wilayah tersebut terlepas dari kendali ฤฐstanbul; menandai awal dari sebuah masa kelam keterpurukan Ummat di seluruh penjuru dunia.

๐Ÿ”† Lesson #4: selalu mengutamakan kesatuan dan kesejahteraan ummat sebelum segala sesuatunya!

Apalah Artฤฑ Sebuah Nama? Untuk yang memahami sejarah, mungkin segala-galanya!

Lewat waktu syuruq, Depok 14 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Tiga Kali Khutbah dlam Dua Hari, Di Tempat Tempat Berbahaya

๐Ÿ“† Kamis, 28 Rajab 1437H / 5 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat-tempat Berbahaya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sultan Mehmed II Ingin Selalu Berada Ditengah Balatentaranya

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Ada tiga kejadian besar dua-tiga hari kemarin, 9-10 April. Namun utk mengaksesnya kita perlu menengok bilangan tahun 1453. Memang sudah berselang 563 tahun yang lalu, namun apa yang dilakukan oleh Sultan Mehmed II masih menggelora dalam catatan pecinta sejarah. Sultan generasi ketujuh khilafah Turki Utsmani ini menggelar tiga khutbah dalam dua hari di tiga tempat berbahaya.

โ›ตPertama, sultan belia yang baru ditinggal wafat ayahnya 2 tahun silam harus mengumpulkan segenap kekuatan diri untuk membakar semangat para pelautnya di dermaga Diplokionion. Sebuah pelabuhan yang tidak begitu jauh dari koloni Galata; masih dalam jangkauan para assassin Genoa yang tersohor ฤฑtu.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II melepas mereka berlayar dengan 100 kapal perang menuju muara Haliรง (“teluk” dalam bahasa Arab –  khalij).  Sebuah akses laut strategis yang memisahkan antara kota Constantinople dan koloni Galata. Para pejuang laut Turki Utsmani itu dipimpin oleh nakhoda BaltaoฤŸlu dengan sasaran memutus rantai laut yang membentang menghalangi jalur masuk menuju Haliรง, populer dikenal sebagai “Tanduk Emas” atau “Golden Horn.” Jika Rantai itu berhasil diputus maka kota Konstantinopel diperkirakan akan lebih mudah jatuh.

๐Ÿ”†Lesson #1: strategi yang biasa-biasa saja jika dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa akan manjur paling tidak dalam dua hal; menguras energi lawan dan menutupi strategi andalan sebenarnya.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Kedua, kemudian sultan yang gemar berkuda perang sejak kecil ini bergerak cepat di atas tunggangannya menaiki bukit di sebelah barat Selat Bosphorus. Ia menyempatkan untuk menyemangati unit zeni yang sedang berjuang memindahkan kanon melalui pinggir lereng-lereng yg curam. Sebuah wilayah pebukitan lagi berhutan lebat yang belum sepenuhnya steril dari para pemburu Byzantium yang disegani ketepatan panah jarak jauhnya.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II menitipkan belasan kanon Urbanus ukuran sedang kepada panglima Zaganos PaลŸa. Kepadanya dipundakkan sasaran merebut benteng Byzantium di Therapia untuk menggenapkan “cekikan” atas kota Konstantinopel. Jatuhnya benteng ini bakal menutup semua akses lawan ke arah utara.

๐Ÿ”†Lesson #2: lewati rute dan prosedur yang tidak biasa, maka hasilnya bisa luar biasa; ketidak-terdugaan adalah ancaman yang dibenci lawan.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Ketiga, setelah itu sultan penghapal al-Qur’an sejak usia 12 tahun ini mengendarai kudanya sepanjang malam dan menyeberangi Haliรง dekat titik hulunya. Beliau harus kembali ke tenda kesultanan di Bukit Maltepe sebelum waktu subuh. Sultan Mehmed II ingin subuh berjamaah dengan kesatuan bengkel dan perbaikan Turki Utsmani. Tempat di garis belakang, namun zonanya berhadapan langsung dengan gerbang Santo Romanus yang dipadati oleh sniper bayaran Byzantium.

Di tempat ini ia merasa akrab karena ia dapat menyaksikan langsung perbaikan atas kanon-kanon Urbanus terbesarnya. Sultan Mehmed II amat menyukai teknologi terapan dan untuk itu ia langsung turun tangan. Khutbahnya kini lebih berupa tindakan daripada kata-kata. Beberapa kanon dirombak ulang untuk mendapatkan kaliber yang lebih kecil namun diharapkan meningkat frekuensi tembaknya. Hal ini sejalan dengan catatan beliau untuk mengatasi sigapnya zeni konstruksi Byzantium dalam memperbaiki benteng kota. sudah diperbaiki dan diposisikan ulang.

๐Ÿ”†Lesson #3: beradaptasilah dalam kesunyian, maka ia dapat melonjakkan daya saing dalam keramaian.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Menjelang waktu dhuha,
Jakarta, 11 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat Tempat Berbahaya

๐Ÿ“† Kamis, 28 Rajab 1437H / 5 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat-tempat Berbahaya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sultan Mehmed II Ingin Selalu Berada Ditengah Balatentaranya

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Ada tiga kejadian besar dua-tiga hari kemarin, 9-10 April. Namun utk mengaksesnya kita perlu menengok bilangan tahun 1453. Memang sudah berselang 563 tahun yang lalu, namun apa yang dilakukan oleh Sultan Mehmed II masih menggelora dalam catatan pecinta sejarah. Sultan generasi ketujuh khilafah Turki Utsmani ini menggelar tiga khutbah dalam dua hari di tiga tempat berbahaya.

โ›ตPertama, sultan belia yang baru ditinggal wafat ayahnya 2 tahun silam harus mengumpulkan segenap kekuatan diri untuk membakar semangat para pelautnya di dermaga Diplokionion. Sebuah pelabuhan yang tidak begitu jauh dari koloni Galata; masih dalam jangkauan para assassin Genoa yang tersohor ฤฑtu.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II melepas mereka berlayar dengan 100 kapal perang menuju muara Haliรง (“teluk” dalam bahasa Arab –  khalij).  Sebuah akses laut strategis yang memisahkan antara kota Constantinople dan koloni Galata. Para pejuang laut Turki Utsmani itu dipimpin oleh nakhoda BaltaoฤŸlu dengan sasaran memutus rantai laut yang membentang menghalangi jalur masuk menuju Haliรง, populer dikenal sebagai “Tanduk Emas” atau “Golden Horn.” Jika Rantai itu berhasil diputus maka kota Konstantinopel diperkirakan akan lebih mudah jatuh.

๐Ÿ”†Lesson #1: strategi yang biasa-biasa saja jika dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa akan manjur paling tidak dalam dua hal; menguras energi lawan dan menutupi strategi andalan sebenarnya.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Kedua, kemudian sultan yang gemar berkuda perang sejak kecil ini bergerak cepat di atas tunggangannya menaiki bukit di sebelah barat Selat Bosphorus. Ia menyempatkan untuk menyemangati unit zeni yang sedang berjuang memindahkan kanon melalui pinggir lereng-lereng yg curam. Sebuah wilayah pebukitan lagi berhutan lebat yang belum sepenuhnya steril dari para pemburu Byzantium yang disegani ketepatan panah jarak jauhnya.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II menitipkan belasan kanon Urbanus ukuran sedang kepada panglima Zaganos PaลŸa. Kepadanya dipundakkan sasaran merebut benteng Byzantium di Therapia untuk menggenapkan “cekikan” atas kota Konstantinopel. Jatuhnya benteng ini bakal menutup semua akses lawan ke arah utara.

๐Ÿ”†Lesson #2: lewati rute dan prosedur yang tidak biasa, maka hasilnya bisa luar biasa; ketidak-terdugaan adalah ancaman yang dibenci lawan.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Ketiga, setelah itu sultan penghapal al-Qur’an sejak usia 12 tahun ini mengendarai kudanya sepanjang malam dan menyeberangi Haliรง dekat titik hulunya. Beliau harus kembali ke tenda kesultanan di Bukit Maltepe sebelum waktu subuh. Sultan Mehmed II ingin subuh berjamaah dengan kesatuan bengkel dan perbaikan Turki Utsmani. Tempat di garis belakang, namun zonanya berhadapan langsung dengan gerbang Santo Romanus yang dipadati oleh sniper bayaran Byzantium.

Di tempat ini ia merasa akrab karena ia dapat menyaksikan langsung perbaikan atas kanon-kanon Urbanus terbesarnya. Sultan Mehmed II amat menyukai teknologi terapan dan untuk itu ia langsung turun tangan. Khutbahnya kini lebih berupa tindakan daripada kata-kata. Beberapa kanon dirombak ulang untuk mendapatkan kaliber yang lebih kecil namun diharapkan meningkat frekuensi tembaknya. Hal ini sejalan dengan catatan beliau untuk mengatasi sigapnya zeni konstruksi Byzantium dalam memperbaiki benteng kota. sudah diperbaiki dan diposisikan ulang.

๐Ÿ”†Lesson #3: beradaptasilah dalam kesunyian, maka ia dapat melonjakkan daya saing dalam keramaian.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Menjelang waktu dhuha,
Jakarta, 11 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Jalan Panjang Menuju Latuftahanna Tersampaikannya Cita, Terlewatkannya Usia

๐Ÿ“† Kamis, 21 Rajab 1437H / 28 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Jalan Panjang Menuju Latuftahanna
Tersampaikannya Cita, Terlewatkannya Usia

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Pengepungan terhadap kota Bursa (atau dikenal juga dengan nama Prusa, Prousa, Brusa, atau Broussa) terjadi sepanjang rentang enam hingga sembilan tahun. Kota tersebut jatuh ke tangan Turki Utsmani  6 April, 690 tahun yang silam.

๐Ÿ”† Lesson #1: cita-cita tidak selalu harus diukur dalam rentang waktu karena kebanyakan manusia tergesa-gesa dalam pencapaiannya,

Sebelum itu, Turki Utsmani tidak memiliki pengalaman merebut kota lawan yang berbenteng. Minimalnya pengetahuan, nol-nya pengalaman, serta kurang memadainya alat gempur pertahanan kota menjadi sebagian penyebab lamanya waktu operasi yang dibutuhkan.

๐Ÿ”† Lesson #2: risiko boleh diperhitungkan, namun pengalaman hanya didapat dari tindakan nyata dimana penbelajaran pada jangka panjang meminimalisir risk.

Menurut MaksudoฤŸlu (1999) kota Bursa berhasil ditaklukkan pada tahun 1326 tidak lama setelah Osman I Gazi wafat dari sakitnya. Osman sang pendiri Turki Utsmani tidak sempat melihat bangsanya memiliki kota sebagai pusat kebudayaan. Menurut sebagian sejarawan lainnya, Osman sempat mendengar berita menggembirakan itu sebelum ia wafat. Sesuai wasiatnya, jasad Osman I Gazi dikebumikan di kota tersebut oleh anaknya, Orhan ฤฐ Gazi.

๐Ÿ”† Lesson #3: menjadi pionir menuntut keikhlasan untuk kemungkinan tidak menyaksikan momen keberhasilan, bahkan siap-siap untuk dilupakan,

Kota Bursa menjadi ibukota serta pusat kebudayaan Turki Utsmani mulai pada masa Orhan I Gazi. Status yang prestisius ฤฑni berlangsung selama 40 tahun sebelum pindah ke Edirne di Eropa. Kota Bursa menjadi spesial bagi kebudayaan Turki khususnya sebagai Pusat pemerintahan, pendidikan, militer, dan arsitektur.

Orhan mendorong perkembangan kota dan menggalakkan pembangunan masjid, madrasah, penginapan umum (sarayฤฑ), serta berbagai fasilitas umum lainnya. Orhan I Gazi wafat dan dikebumikan di sebelah makam (tรผrbe) ayahnya.

๐Ÿ”† Lesson #4: kebudayaan tidak dapat dimulai kecuali dengan menetap dan mulai membangun kebutuhan manusia,

Seorang penjelajah muslim yang terkenal bernama Ibnu Batutah sempat mengunjungi Bursa pada tahun 1331. Ia terkesan dengan kota yang dinilainya sangat layak huni. Penjelajah terkenal itu mencatat  adanya bazzar dan jalan-jalan yang lebar pada masa itu, dilengkapi taman dan kolam yang asri.

๐Ÿ”† Lesson #5: bertempur cerdas, menyerap ilmu di tapal batas, bermukim luas, dan beribadah tak kenal puas.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Sore menjelang Maghrib,
Depok, 7 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mengatasi Ancaman Sesuai Kadarnya – Menyiapkan Penangkal Sesuai Efeknya

๐Ÿ“† Kamis, 21 Rajab 1437H / 28 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Mengatasi Ancaman Sesuai Kadarnya – Menyiapkan Penangkal Sesuai Efeknya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Pada tanggal 6 April 1453, yaitu 563 tahun yang lalu, Sultan Mehmed II menginspeksi kembali barisan pasukannya. Beliau menempatkan balatentara Rumelia di bagian terdepan, disusul oleh kesatuan elit istana di bagian tengah, serta barisan belakang ditempati oleh kontingen Anatolia. Setiap bagian disusun ulang dengan menempatkan unit terbaik di barisan terdepan sesuai dengan tingkat spiritual serta kadar loyalitasnya terhadap misi Latuftahanna; yaitu nubuwwat Nabi SAW akan terbebaskannya Konstantinopel oleh pasukan Kaum Muslimin yang terbaik.

๐Ÿ”† Lesson #1: untuk mendapatkan yang terbaik harus mengusahakan yang terbaik sebagaimana “menambatkan untamu sebelum engkau bertawakkal,” karena Allah SWT melihat proses dan usaha orang-orang yang beriman kepadaNya,

Secara serentak serangan umum pada bagian barat dinding pertahanan ibukota Byzantium itu dilancarkan pada tiga titik:

๐Ÿ’ฃ1. Area Myriandrion di utara mendapatkan perhatian khusus dengan menempatkan 2 seksi kanon besar Urbanus, area ini dipertahankan oleh kontingen militer bayaran dari Genoa dibawah pimpinan Giustiniani Longo yang membawahi perlindungan Istana Blachernae,

๐Ÿ’ฃ2. Area Santo Romanus di tengah mendapatkan perhatian paling besar dengan 4 seksi kanon terbesar Urbanus dibawah pengawasan langsung Sultan Mehmed II yang berhadapan dengan Kaisar Konstantin sendiri beserta satuan pengawal bayaran Varangian yang legendaris,

๐Ÿ’ฃ3. Area Studion di bagian selatan mendapatkan perhatian yang sama dengan utara dengan penempatan 2 seksi kanon besar Urbanus, area ini terhubung langsung dengan pelabuhan Langa dimana terdapat Pangeran Orhan yang “ditawan” sebagai sandera diplomatik.

๐Ÿ”† Lesson #2: mengukur kelebihan dan kekurangan lawan harus diiringi dengan perbandingan seksama kedua faktor tersebut atas diri sendiri; Sultan Mehmed II secara sistematis mencatat sendiri perkembangan pada ketiga area ini sebagai bahan pertimbangan taktik di pekan berikutnya.

Antara tanggal 6 dan 7 April, hari ini hingga esok, kanon Urbanus melancarkan tembakan perdana yang relatif sukses di atas ekspektasi, khususnya di area Myriandrion. Untuk pertama kalinya sebagian dinding kota di sekitar Gerbang Charisius (gambar atas) mengalami kerusakan hingga jebol ke bagian dalam. Hanya saja, pasukan Turki Utsmani belum berhasil secara sigap memanfaatkan keberhasilan ini. Kesigapan regu zeni Byzantium dalam mereparasi serta memperbaiki titik-titik runtuh tersebut cukup mencengangkan bagi Sultan Mehmed II dan ia memberikan catatan khusus tentang ini.

๐Ÿ”† Lesson #3: selalu mengukur kesigapan lawan dan menghargainya dengan memperbaiki kualitas diri, Sultan Mehmed II memberikan instruksi rahasia kepada barisan pendobrak setelah persitiwa ini, apa itu? Kita tunggu pada tulisan berikutnya..

Bagian Kedua, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Sesudah waktu Maghrib, sebelum waktu Isya,
Jakarta, 6 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…