Ali Imran 119

Ketika Fitnah Bertaburan Dalam Kehidupan

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

ุนู† ุญูุฐูŽูŠู’ููŽุฉ ุจู’ู† ุงู„ู’ูŠูŽู…ูŽุงู†ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู‘ู ู…ูŽุฎูŽุงููŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฏู’ุฑููƒูŽู†ููŠุŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽุง ูƒูู†ู‘ูŽุง ูููŠ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุดูŽุฑู‘ู ููŽุฌูŽุงุกูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ุดูŽุฑุŸู‘ูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู‘ู ู…ูู†ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑุŸู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุŒ ูˆูŽูููŠู‡ู ุฏูŽุฎูŽู†ูŒ ู‚ูู„ู’ุชู ูˆูŽู…ูŽุง ุฏูŽุฎูŽู†ูู‡ู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ู‘ููˆู†ูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุณูู†ู‘ูŽุชููŠุŒ ูˆูŽูŠูŽู‡ู’ุฏููˆู†ูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู‡ูŽุฏู’ูŠููŠุŒ ุชูŽุนู’ุฑููู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูู†ู’ูƒูุฑุŒู ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุฏูุนูŽุงุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ุŒูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฌูŽุงุจูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุฐูŽูููˆู‡ู ูููŠู‡ูŽุงุŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตููู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽู†ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ู…ูู†ู’ ุฌูู„ู’ุฏูŽุชูู†ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ููˆู†ูŽ ุจูุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุชูู†ูŽุงุŒ ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽู‰ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽู†ููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽู„ู’ุฒูŽู…ู ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุฅูู…ูŽุงู…ูŽู‡ูู…ุŒู’ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูู…ูŽุงู…ูŒ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุนู’ุชูŽุฒูู„ู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ููุฑูŽู‚ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุนูŽุถู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุตู’ู„ู ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุฏู’ุฑููƒูŽูƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Dari Hudzaifah bin Yaman ra berkata, “Biasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah ๏ทบ tentang kebajikan. Namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan tersebut akan menimpaku. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan keburukan, karena itu Allah Ta’ala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Apakah mungkin sesudah kebaikan ini akan munul lagi keburukan?” beliau menjawab: “Ya.” Lalu aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada lagi kebaikan?” beliau menjawab, “Ya, akan tetapi ada cacatnya! Aku bertanya, “Apa cacatnya?” Beliau bersabda, “Akan muncul suatu kaum yang mengamalkan sunnah selain dari sunnahku, dan memimpin rakyat tanpa hidayah petunjukku, kamu mengetahui mereka tapi kamu mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada keburukan lagi?” Jawab beliau: “Ya. Yaitu orang-orang yang menyeru menuju neraka Jahannam, barangsiapa memenuhi seruannya maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka itu.” Maka aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Tunjukanlah kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab: “Kulit mereka seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana arahan anda seandainya aku menemui hal yang demikian?” Jawab beliau, “Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.” Aku bertanya lagi, “Jika tidak ada jama’ah dan imam?” beliau menjawab: “Tinggalkan semua golongan meskipun kamu menggigit akar kayu sampai ajal menjemputmu, dan kamu masih tetap pada keteguhanmu.” (HR. Muslim, hadits no. 3434)

ยฎ๏ธ Hikmah Hadits ;

1. Keutamaan Khudzaifah ra; dimana beliau bertanya kepada Nabi ๏ทบ, tentang keburukan lantaran khawatir keburukan tersebut akan menimpa mereka. Juga dimaksudkan agar ketika diketahui keburukan-keburukan tersebut, umat bisa mengantisipasinya dengan baik dan tidak terjerumus padanya.

2. Bahwa kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang bertentangan yang tiada pernah kan bertemu selama-lamanya. Namun keduanya akan selalu datang silih berganti, seiring berjalannya waktu dan zaman. Dan kita semua diperintahkan untuk senantiasa konsisten pada kebaikan, kendatipun fitnah dan kegelapan telah merajalela menguasai kehidupan.

3. Bahwa akan muncul kelak, para penyeru (baca ; tokoh) yang mengajak dan menjerumuskan manusia pada kenistaan dan menyesatkan mereka dari jalan Allah Swt. Mereka berpenampilan dan bertutur kata sama seperti kaum muslimin pada umumnya. Namun pada hakekatnya mereka menggiring manusia ke dalam neraka Jahanam. Maka siapa yang mengikuti mereka maka kelak akan turut dilemparkan ke dalam Jahanam.

4. Pentingnya bersama-sama dengan jamaah kaum muslimin, karena dengan bersama akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah Swt. Serta urgensi istiqa

mah di jalan Allah Swt, kendatipun harus bertahan dengan menggigit akar kayu sekalipun.

Wallahu a’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Salat di Awal Waktu

Membaca Isti’adzah di dalam Shalat

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Mengenai hukum membaca istiโ€™adzah di dalam shalat memang terjadi perbedaan pandangan para ulama di dalamnya. Ada yang mengatakan wajib, yaitu dalam hal ini pendapat Ibn Hazm azh-Zhahiri (w. 456 H), sebagaimana dapat dibaca di dalam aI-Muhalla bi al-Atsar. Dalilnya adalah firman Allah swt.: โ€œApabila kamu membaca al-Qurโ€™an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.โ€ (QS. An-Nahl [16]: 98).

Namun menurut madzhab Syafi’i, membaca isti’adzah di dalam shalat adalah sunnah secara mutlak. Di antara dalilnya adalah riwayat dari Abu Hurairah ra. tentang Nabi saw. yang pernah meluruskan shalat seseorang yang banyak melakukan kesalahan di dalam shalatnya. Beliau mengajarinya: โ€œJika kamu melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an…โ€ (HR. at-Tirmidzi) Jika saja membaca istiโ€™adzah ini adalah wajib, maka tentu Rasulullah saw. memerintahkan untuk membacanya, sementara pada kenyataannya beliau menyuruh bertakbir kemudian langsung membaca al-Qurโ€™an. Ini menunjukkan bahwa hukum istiโ€™adzah itu hanya sampai pada tingkatan sunnah, dan tidak rusak shalat seseorang jika meninggalkannya, juga tidak perlu melakukan sujud sahwi jika seseorang lupa membacanya. Demikian sebagaimana dapat kita baca di dalam al-Umm. Wallahu a’lam.

โฉ Lafazh lsti’adzah yang Dianjurkan

Bacaan istiโ€™adzah yang lebih dipilih oleh Imam asy-Syafiโ€™i (w. 204 H) sebagaimana disampaikannya di dalam al-Umm adalah aโ€™udzu billahi minasy-syaithanir-mjim. Lafazh istiโ€™adzah inilah yang paling masyhur. Dalilnya tiada lain sebagaimana redaksi asli dari firman-Nya: โ€œApabila kamu membaca al-Qurโ€™an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.โ€ (QS. An-Nahl [16]: 98).

Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam asy-Syafi’i yang merupakan penjelasan dari kitab Mukhtashar al-Muzanni mengemukakan bahwa selain lafazh istiโ€™adzah aโ€™udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, bisa juga istiโ€™adzah dengan lafazh aโ€™udzu billahis-samiโ€™il-โ€˜alimi minasy-syaithanir-rajim atau dengan lafazh aโ€™udzu billahil-โ€˜aliyyi minasy-syaithanilghawiyy. Namun, menurutnya, yang lebih utama adalah dengan lafazh yang pertama dibandingkan dengan yang kedua dan ketiga, karena ia diambil dari al-Qurโ€™an. Istiโ€™adzah dengan lafazh yang kedua lebih utama dari istiโ€™adzah yang ketiga karena adanya riwayat dari Abu Saโ€™id al-Khudri ra. mengenainya, yaitu dalam hal ini salah satunya sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalan Sunannya di mana Abu Sa’id bercerita: โ€œAdalah Rasulullah saw. jika beliau melakukan shalat malam, maka beliau bertakbir, kemudian mengucapkan โ€˜Subhanaka allahumma wa bi hamdika, wa tabarakasmuka, wa tahta jadduka, wa la ilaha ghairuka’, lantas mengucapkan Allahu akbaru kabiraโ€™, kemudian mengucapkan ‘audzu billahis-samiโ€™ilโ€˜alimi minasy-syaithanir-rajim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa nafatsihi’.

Istiโ€™adzah dengan lafazh aโ€™udzu billahis-samiโ€™il-โ€˜alimi minasy-syaithanir-mjim ini sebagaimana dapat kita baca penjelasan Sulaiman al-Bujairami (w. 1221 H) di dalam Tuhfah al-Habib โ€˜ala Syarh al-Khathib atau yang dikenal juga dengan Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khathib, sebenarnya adalah dengan menggabungkan redaksi dalam dua ayat al-Qurโ€™an, masing-masing dari QS. An-Nahl [16]: 98 dan QS. Fushshilat [41]: 36. Wallahu a’lam.

โฉ Menjahrkan Bacaan lsti’adzah

Sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, bacaan istiโ€™adzah ini tidak dibaca jahr di dalam shalat sirriyah. Namun di dalam shalat jahriyah, terdapat beberapa pendapat di dalam madzhab Syafi’i sendiri. Ada yang mengatakan bahwa ia sunnah dibaca jahr sama seperti ketika mengucapkan basmalah dan amin, ada juga pendapat bahwa dalam hal ini terdapat dua pilihan, boleh jahr dan boleh sirr. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ia tidak dibaca jahr, bahkan dikatakan bahwa yang sunnah adalah membacanya dengan sirr.

Pendapat yang mengatakan bahwa yang sunnah sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi di dalam al-Majmuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab adalah jahr melihat bahwa bacaan lsti’adzah itu mengikuti bacaan al-Qurโ€™an, sehingga ketika ia dibaca jahr, maka istiโ€™adzahnya pun dibaca jahr. Di antara yang mengatakan bahwa ia dibaca jahr adalah Abu Hurairah. Sementara pendapat yang mengatakan bahwa boleh memilih salah satu antara jahr dan sirr adalah karena kedua-duanya sama-sama bagus. Di antara yang mengatakan demikian adalah Ibn Laila. Imam asy-Syafn’i (w. 204 H) di dalam al-Umm juga membolehkan keduanya.

Adapun pendapat bahwa yang sunnah adalah membacanya dengan sirr yaitu pendapat yang paling kuat di antara dalilnya adalah firman-Nya: โ€œDan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.โ€ (QS. Al-A’raf [7]: 205) Istiโ€™adzah sebenarnya termasuk dzikir, semenatara asalnya dzikir sendiri adalah dibaca dengan sirr.

โฉ Penempatan Bacaan Isti’adzah Dalam Shalat

Walaupun memang sudah sangat dimaklumi bahwa bacaan istiโ€™adzah ini adalah sebelum membaca al-Fatihah, namun penting untuk disinggung di sini bahwa ada sebagian ulama di luar madzhab Syafi’i yang mengatakan bahwa bacaan istiโ€™adzah ini justru setelah membaca ayat-ayat al-Qurโ€™an, di antaranya adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Muhammad as-Sarkhasi (w. 483 H) di dalam al-Mabsuth di mana ada sebagian pengikut madzhab Zhahiri yang mengatakan demikian.

Namun, mayoritas menyatakan bahwa istiโ€™adzah ini dibaca sebelum al-Fatihah. Imam asy-Syafiโ€™i (w. 240 H) di dalam al-Umm mengatakan bahwa pendapat inilah yang dipegangnya. Di antara dalilnya adalah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri ra. sebagaimana yang penulis sampaikan pada pembahasan tentang lafazh istiโ€™adzah sebelumnya. Ad-Daruquthni (w. 385 H) di dalam Sunannya juga menyampaikan sebuah riwayat bahwa al-Aswad ibn Yazid pernah melihat ‘Umar ibn al-Khaththab ra. melaksanakan shalat. Di dalamnya ia mengucapkan โ€œSubhanaka allahumma wa bi hamdika, wa tabarakasmuka, wa ta’ala jadduka, wa la ilaha ghairukaโ€™, kemudian ia membaca taโ€™awwudz.

Adapun terkait apakah istiโ€™adzah ini dibaca pada setiap raka’at ataukah tidak, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafiโ€™iyyah sendiri. Sebagaimana dikemukakan Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin wa Umdah al-Muftin, ada pendapat yang mengatakan bahwa sunnahnya membaca istiโ€™adzah adalah di dalam tiap rakaโ€™at, terutama sekali adalah pada raka’at pertama. Hal inilah yang disampaikan oleh Imam asy-Syafiโ€™i (w. 204 H). Pendapat ini juga dipilih oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib, Imam al-Haramain, ar-Ruyani, dan lainnya. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa istiโ€™adzah ini hanya dibaca pada raka’at pertama saja. Adapun jika seseorang tidak membacanya pada raka’at pertama sebab lupa maupun karena disengaja, maka ia bisa membacanya pada rakaโ€™at kedua. Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

SUDAHKAH TERTAWA HARI INI?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

(seri Rumah Tangga Surga bag. 5)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Berapa kali Anda dan keluarga tertawa dalam sehari?

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh salah seorang professor ahli pengasuhan ke kami saat saya ikut workshopnya di Singapore.

Menurut beliau, tanda rumah tangga bahagia adalah adanya tawa minimal 100 kali setiap hari di dalam rumah.

Entah bagaimana menghitungnya, yang jelas kepuasan dalam rumah tangga diukur dengan hadirnya tawa sebagai ekspresi bahagia di dalam keluarga.

Dan ternyata hal ini juga merupakan cerminan kebahagiaan penduduk surga. Penduduk surga senantiasa gembira dan tertawa.

Allah katakan : Masuklah kamu ke dalam surga. Kamu dan istrimu akan digembirakan (QS. 43:70)

Dan wujud kegembiraan itu ditampilkan dengan wajah berseri-seri dan suara tawa penghuni surga (Lihat QS. 80 : 38-39)

Rumah tangga surga selayaknya mengambil pelajaran dari aktivitas penghuni surga ini yakni berupaya menghadirkan tawa setiap hari.

Jika tangisan, ratapan dan ekspresi tegang yang senantiasa terjadi dalam keluarga, ini justru suasana neraka.

Masing-masing merasa tertekan, jenuh dan bosan. Merasa rumah bukan tempat yang nyaman.

Akhirnya mereka lebih betah di luar seraya cari hiburan demi bisa tertawa tuk puaskan kebutuhan fitrahnya.

Sebab bagi sebagian orang, tertawa itu udah kayak NKRI. Harga mati. Kalau gak dapat di rumah, mereka cari sendiri di luar.

Maka, selayaknya kita bangun rumah tangga dengan konsep hadirkan tawa gembira saat bersama.

Tentu tawa juga ada kadarnya. Sebab segala sesuatu yang berlebihan akan mematikan jiwa.

Minimal jika tak ada tawa, ekspresi bahagia ditampilkan oleh anggota keluarga melalui senyum berseri penuh ekspresi.

Itulah mengapa anak-anak yang tak bahagia di dalam rumah nampak dari ekspresi dan gerak tubuhnya yang serba minimalis.

Mau menggerakkan badan, minimalis. Senyum pun minimalis. Sampai milih rumah pun minimalis #eh

Rasa takut dan tidak ekspresif terjadi karena hubungan emosional yang serba kaku. Keakraban hilang tersebab kebanyakan aturan.

Alhasil, tertawa menjadi langka. Dan ini petaka. Hilanglah suasana surga.

Untuk menghadirkan tawa dan muka berseri diantara keluarga bisa dimulai dengan sering melakukan aktivitas santai secara bersama.

Kalau perlu lakukan kontak fisik melalui permainan yg bernama โ€˜gelitikanโ€™. Iya, saling menggelitik sesama anggota bisa menambah keakraban.

Asal jangan berlebihan, bisa-bisa malah pingsan. Intinya bermainlah secara serius saat bersama keluarga.

Kenapa disebut serius? Sebab, tanda keseriusan saat bermain bersama yakni tak ada media yang jadi pihak ketiga.

Suasana keakraban akan hilang jika ortu bermain Whatsapp-an. Atau terkesima di depan layar kaca dengan akting Aldebaran. Anak merasa diabaikan.

Begitu juga saat bersenda gurau, seriuslah. Keluarkan mimik muka yang menghadirkan tawa.

Hal ini sering dilakukan oleh nabi kita yang mulia terhadap anggota keluarganya.

Terkadang beliau ajak istrinya lomba lari bersama. Kadang beliau juga menjulurkan lidah dengan ekspresi lucu ke cucunya.

Ini bukti, bahwa saat bersenda gurau dan bermain, Rasulullah pun total dalam melakukannya.

Hal inilah yang menghadirkan rasa puas dan bahagia di dalam keluarga.

Selain itu, buatlah hidup dinamis. Tidak monoton dan statis.

Pola yang tak berubah sepanjang tahun menghasilkan rasa bosan hingga ke ubun-ubun.

Anak selalu ditanamkan pola : โ€˜bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigiโ€™. Dari dulu ini sudah jadi tradisi.

Bayangkan jika sampai remaja hal ini terus terjadi. Hidup mereka kurang bergairah dan tak berarti.

Padahal, boleh saja mereka berimprovisasi: โ€˜bangun tidur ku terus lari sambil nenteng TVโ€™ ๐Ÿ˜† Ups… Ini anak atau pencuri?

Maksudnya, hiduplah dinamis. Buat kejutan-kejutan yang membuat rasa penasaran anggota keluarga seraya bertanya : nanti malam ada kejutan apa lagi ya?

Ucapan cinta lewat kalimat : I LOVE YOU, di awal-awal nikah memang terasa begitu indah. Tapi jika tak ada improvisasi, lama-lama pasangan pun jengah.

Sekali-kali sampaikanlah kalimat cinta dengan susunan uang seratus ribuan atau logam mulia di atas ranjang. Istri mana yang tidak berseri-seri wajahnya tanda riang? ๐Ÿ˜†

Atau saat ia cemberut dan manyun cobalah ajak ia belanja dengan tawaran paket dana yang tak ada limitnya. Oh, sungguh bahagia.

Intinya, buatlah hidup sedinamis mungkin. Sebab kesenangan di surga pun dinamis. Tidak monoton. Berpindah dari kesenangan yang satu ke kesenangan yang lain.

Hadirkan ekspresi bahagia semampu kita tanpa harus keluar banyak biaya.

Sebab jika keluar banyak biaya, anak istri mungkin bahagia. Tapi setelahnya para ayah yang nangis merana. Tabungan tak ada sisa ๐Ÿ˜ญ

Untuk irit biaya, ekspresi bahagia bisa dengan berbagi tawa melalui cerita humor dan jenaka.

Atau bermain tebak-tebakan juga bisa jadi cara ampuh yang menghidupkan suasana tanpa menguras kantong kita.

Jika kita belum mampu lakukannya, karena tak terbiasa, cukup hadirkan senyum tulus di segala suasana. Mereka sudah merasa bahagia.

Dari sekarang cobalah tingkatkan jiwa humoris kita agar suasana rumah penuh dengan tawa.

Mungkin awalnya susah, tapi jangan menyerah untuk mencoba. Dan rumah pun menjelma menjadi surga.

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sebarkan! Raih Pahala

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Kader Dakwah Tak Kan Pernah Merasa Lelah

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Hari terus berlalu, waktu pun terus melaju sementara diri masih saja duduk terpaku.
Ada rasa kemalasan yang tak menentu, membuat diri enggan segera bergerak menuju seruan Rabb Sang Maha Penentu.

Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada para kader dakwah.
Ada semangat yang mengendur untuk menunjukkan kiprah.
Terjeda oleh masalah pribadi yang semakin membuat resah.
Hingga terbengkelai segala amanah.

Bila sampai keadaan yang demikian.
Maka segera mengingat akan kematian.
Agar hati seolah diingatkan
Hingga menyadari segala kesalahan.

Jiwa pejuang harus senantiasa dimunculkan di hati sanubari pejuang dakwah. Semangat menggelora harus ada dalam diri pengusung amanah.

Tak kenal futur
Tak kenal mengendur
Apalagi mundur teratur

Jiwa-jiwa senantiasa terisi ruh Rabbani
Langkahnya tak bisa berhenti
Gegap gempita mengusung amanah Ilahi
Baginya surga Allah telah menanti

Ustadz Al Bahy Al Khouly berkata, “Seorang da’i harus dapat merasakan bahwa dakwahnya senantiasa hidup di dalam syarafnya, menyala dalam hatinya, bergejolak di dalam hatinya, sehingga mendorongnya dari sikap istirahat dan kesenangan kepada sikap pergerakan dan perbuatan, serta menyibukkan diri dengannya dari pada dirinya sendiri, anaknya dan hartanya. Ini adalah da’i yang jujur, yang imannya merasakan bahwa dakwahnya berkobar di dalam pandangannya, gerakannya, isyaratnya dan dalam karakteristik yang bercampur dengan air wajahnya. Dia selalu ingat dengan dakwahnya baik ketika tidur maupun terjaga, ketika makan dan diantara keluarganya, ketika diam, dalam bepergian dan dalam perkumpulan-perkumpulannya. Secara keseluruhan, dakwahnya adalah masalah utama yang hadir dalam setiap waktu dalam hidupnya. Ia adalah ruh kehidupannya, intinya, substansinya dan urusan hidupnya baik sampingan maupun ujung kehidupannya.”

Ketegaran, ketangguhan, ketaatan bahkan keshalihan kita dengan para pendahulu sangat jauh rentangnya.
Mereka layak mendapat surga atas perjuangannya.
Sedangkan kita?
Masih jauh untuk bisa menandingi amal mereka.
Usaha yang optimal untuk menjaga semangat yang membara terus ada, hingga layak kita bersanding dengan ara syuhada.
Menapaktilasi perjuangan para pendahulu kita harus sering dilakukan sebagai bahan evaluasi supaya meraih cita-cita yakni hidup mulia.

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Saat Badai Datang

Tegar Meski Aral Menghampar

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Jangan menjadi lemah dan mudah berkeluh kesah lantaran jalan dakwah inilah yang akan menjadi jembatan kita untuk menuju surga.

Sejenak kita renungi kisah salafusshaleh, seperti apa Umar bin Khattab yang selalu rela berkorban dari yang dimilikinya untuk jalan dakwah ini. Selayaknya Abu Bakar yang setia mendampingi perjuangan dakwah Rasulullah hingga akhir hayat beliau.

Seperti apa dermawannya Usman kala harus menginfaqkan hartanya untuk mendukung perjuangan dinullah.
Seperti apa ikhlasnya Ali bin Abi Thalib kala harus menggantikan Rasulullah di kamarnya kala beliau hendak berhijrah.

Apakah kita sehebat mus’ab bin umair yang rela meninggalkan harta dunianya lantaran hanya Allah yang kan ditujunya. Kita ternyata bukan siapa-siapa dan belum apa-apa dibanding dengan mereka.

Yang terkadang ketika lelah berkeluh kesah. Ketika sedih merintih-rintih. Ketika sakit menjerit-jerit. Ketika berduka serasa paling merana. Kala diuji seolah diri paling hina di muka bumi ini.

Kita renungi nasihat Imam Hasan Al Banna, bahwa ketegaran di jalan dakwah ini harus dibangun di atas pengetahuan dan pemahaman yang jelas. Ditegaskan bahwa pentingnya kemauan yang keras yang tak tersentuh kelemahan, kesetiaan yang kuat yang tidak dinodai kepura-puraan atau pengkhianatan, pengorbanan yang besar yang tidak dihalangi oleh ketamakan atau kebakhilan; serta pengetahuan, keyakinan, dan penghormatan pada prinsip yang akan menghindarkan dari kesalahan, penyimpangan, tawar menawar atau tergiur oleh orang lain.”

Menjadi tegar di jalan dakwah ini memang tak cukup memiliki daya tahan yang cukup tapi butuh ilmu untuk menjadi penguat ketahanan diri. Maka prinsip belajar sepanjang hayat yang dituntunkan oleh Rasulullah bisa kita teladani, lantaran manusia yang memiliki sifat dasar lupa harus senantiasa diingatkan kembali, disentuh hatinya, disapa relung jiwanya dengan bahasa-bahasa langit yang membuatnya terhenyak dan akhirnya kembali menapaki jalan kebenaran ini. Wallahu musta’an…dan hanya pada Allah lah kami bersandar segala urusan.

Berharap selalu Allah mengijinkan kita untuk mencintai dakwah ini dan kita senantiasa diperkenankan untuk berada di dalamnya serta menjadi pengusung tegaknya peradaban mulia. Aamiin Yaa Mujibassailin

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Membaca al-Qur’an di dalam Shalat Bukan dengan Bahasa Arab

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Mengenai bacaan al-Qur’an di dalam shalat dengan bahasa selain Arab ini, Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ memberikan penjelasan bahwa tidak boleh membaca al-Qurโ€™an dengan bahasa selain bahasa Arab, baik seseorang memang mampu berbahasa Arab maupun tidak, baik bacaan tersebut di dalam shalat maupun di luar shalat. Sehingga jika seseorang yang sedang shalat kemudian menerjemahkan bacaan al-Qur’annya, maka shalatnya menjadi tidak sah. Inilah pandangan yang dipegang dalam madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga menjadi pegangan mayoritas ulama, di antaranya Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud.

Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) di dalam at-Tahbir fi ‘Ilm at-Tafsir mengatakan: โ€œMembaca al-Qurโ€™an dengan selain bahasa Arab adalah haram secara mutlak, baik yang membaca itu mampu membacanya dengan bahasa Arab maupun tidak.โ€

Sebelumnya, pada pembahasan tentang seseorang yang tidak mampu membaca al-Fatihah, penulis menyampaikan sebuah riwayat di dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. pernah mengoreksi shalat seseorang yang tidak memenuhi persyaratan sahnya shalat. Di antara yang Rasulullah sampaikan kepadanya adalah agar ia membaca al-Qur’an di dalam shalatnya, adapun jika ia tidak mampu, maka ia hendaknya membaca hamdalah, membaca takbir, tahlil, kemudian baru ia boleh rukuโ€™. Dari riwayat ini saja jelas sekali bahwa tidak ada pilihan untuk mengganti bacaan al-Qurโ€™an tersebut dengan makna yang dimengertinya, termasuk di antaranya menerjemahkannya.

Sebagaimana diketahui bahwa al-Qurโ€™an adalah lafazh yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Allah swt. berfirman: โ€œSesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab…โ€ (QS. Yusuf [12]: 2), โ€œ(Ditururzkan) dengan bahasa Arab yang jelas.โ€ (QS. Asy-Syuโ€™araโ€™ [26]: 195), dan juga firman-Nya: ‘Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arabโ€ฆโ€ (QS. Az-Zukhruf [43]: 3), maka, terjemahan al-Qur’an di luar bahasa Arab tidak dapat disebut sebagai al-Qur’an. Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Saat Hatimu Lelah

Berdamai dengan Rasa Luka

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Ketika bahagia ternyata sudah diperjuangkan, namun belum juga didapatkan, maka disaat kondisi seperti ini yang kamu butuhkan adalah berdamai dengan kesedihan. Terima saja sedih dan luka itu. Karena semakin dilawan semakin melukai. Setidaknya memberi ruang baginya eksis. Ruang berdamai dengan sedih dan luka.

Memang kadang kesedihan butuh ruang. Ruang pengakuan. Ruang penyaluran. Ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus ruang untuk melokalisir masalahnya agar korban tidak bertambah lagi.

Biarkan kesedihan diam sejenak di ruang itu. Tetapi jangan diberi keleluasaan untuk mendominasi hati dan kehidupanmu. Jangan beri kesempatan. Kitalah yang mengelolanya. Bukan menghamba padanya.

Kelola hati kita pada jalan meraih kebahagiaan. Fokus kita memberi peluang lebih besar pada rasa bahagia dari pada rasa sedih dan luka. Dorong terus agar kebahagiaan mendominasi ruang di hati dan jiwa kita. Setidaknya dengan cara ini energi positif mulai mengalir deras ke ruang bahagia.

Beban rasa sedih dan luka itu semestinya bisa diluruhkan dengan keikhlasan. Pelan tapi pasti. Akhirnya lega itu hadir bersama bahagia. Selalulah yakin bahwa pintu bahagia itu banyak jalannya. Adakalanya bahagia itu bukan apa yang kamu dapatkan, tapi melepaskan bersama pengorbanan.

Bahkan setelah berkorban kamu pun tetap belum bahagia, itu artinya untuk apa diperjuangkan. Ini sungguh semakin meyakinkan kita, sudahlah jangan terlalu percaya berharap pada manusia. Allahlah sejatinya tempat berharap yang tidak akan pernah mengecewakanmu.

Bersyukur dan bersabarlah yang hanya akan membuatmu bisa berdamai dengan sedih dan terluka. Bahkan mengubahnya menjadi bahagia. Jangan biarkan perlahan hatimu mati.
“Diantara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan SEDIH atas ketaatan yang kau lewatkan, dan tidak adanya perasaan MENYESAL atas kesalahan yang kau lakukan” (Ibnu Athaillah).

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Relakan dan Sabar

TABUNGAN CINTA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Emang benar bahwa sabar itu gak ada batasnya. Yang ada batasnya itu Sumbar, Jabar, Kalbar atau Wabar (Wakanda bagian barat). Tapi kekuatan kita sebagai manusia untuk sabar tentu lah terbatas.

Maka emosi yang kita tahan seharian bisa jebol juga. Dimulai dari pergi kondangan sama suami eh ternyata saltum alias salah kostum. Corak baju mirip dengan taplak meja prasmanan di hajatan. Alhasil sebelum nyicipin makanan minta buru-buru pulang. Malu.

Di tengah jalan ban motor bocor setelah dikejar-kejar anjing dan nabrak tiang listrik. Mata berkunang-kunang pas ngelihat spanduk Kepak Sayap Kebhinnekaan. Plus ilfil saat papasan sama pelakor yang pernah godain suami. Udah gitu pas update status di Facebook gak ada yang komen. Ya Allah…. untung sempat denger pengamen jalanan bersenandung, “Dinda jangan marah-marah..takut nanti lekas tua”. Marah pun surut sesaat. Takut tua. Kebayang kalau Skincare berubah jadi Freshcare buat kerokan.

Begitu sampai di rumah, anak berulah. Rumah berantakan. Kertas bertebaran dimana-mana. Lipstik kesayangan dari Wardah dijadiin crayon buat coret-coret di tembok. Emosi pecah. Spontan membentak anak. Langsung menjewer bahkan mencubitnya.

Anehnya anak malah minta maaf. Menyesal udah bikin ibu marah. Mereka mendadak bijak meski tak bayar pajak. Memaklumi ibu yg marah apalagi di tanggal tua. Dimana emosi ibu berbanding terbalik dengan saldo tabungan. Saldo menurun, emosi memuncak.

Ajaib. Setelah dimarahi anak masih ingin mendekat. Apa sebabnya? Ternyata karena saldo cinta yg kita miliki sudah terlalu banyak dalam rekening jiwa anak. Maka saat kita marah terjadi auto debet pengurangan saldo. Tapi gak sampai defisit. Anak masih sayang dan kagum dengan ortunya.

Hal ini persis dengan yang dialami Usamah bin Zaid. Dimana Rasul pernah murka luar biasa akibat kesalahannya membunuh seseorang di medan jihad. Amarah Rasul ini tak membuat Usamah kesel balik. Kenapa? Salah satunya ketika ia teringat pernah dipeluk Rasul saat kecil seraya didoakan “Ya Allah sayangilah ia. Sesungguhnya aku sangat sayang dengannya”.

Inilah tabungan cinta. Membuat anak tetap kagum meski kita memarahinya. Sayangnya tabungan cinta ini masih konven. Gak syariah. Setelah menabung hasilnya membuat hati anak berbunga. Cobalah!

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sebarkan! Raih Pahala

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dakwah bil Hikmah

Berdakwah Bil Hikmah

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dakwah itu butuh orang-orang berakhlakul karimah agar mampu menuai berkah.
Dakwah itu butuh manusia-manusia kuat agar geloranya mendahsyat.
Dakwah itu butuh orang-orang yang tulus agar jalan dakwah ini senantiasa lurus.
Dan dalam berdakwah butuh sifat yang jujur agar pelakunya meraih mujur.

Amanah dakwah bukanlah jabatan.
Tidak pula diperjualbelikan.
Amanah dakwah itu disematkan kepada orang yang tepat.
Karena pemberian dari Yang Maha Pemberi selamat.

Bila dakwah sudah ditanggungkan di pundak kita.
Jaga semangat agar tak mudah putus asa.
Jaga lisan agar tak salah berkata.
Jaga hati agar jauh dari durjana.
Dan jaga sikap agar tidak berbuat cela.

Dakwah itu keteladanan.
Bukan hanya pandai berorasi tanpa perbaikan.
Perubahan diri senantiasa dilakukan.
Menempa diri menjadi manusia pilihan.

Berdakwahlah jangan seperti yang biasa orang yahudi lakukan.

Dalam Q.S. Al-baqarah; 44.โ€œMengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?โ€

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kaum Yahudi menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri.

Mereka menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Itu artinya, terdapat kebathilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Itulah yang menjadi pembedaumat Islam dan kaum Yahudi.

Berhati-hati menjadi tabiat agar mendapat jalan selamat.
Jangan seperti lilin yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya.

โ€ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.โ€ (Q.S. An-Nahl: 125)

Innallaha maโ€™ana

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa Orang Tua Atas Anaknya

Kenapa Doa Tidak Dikabulkan?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Sebagian manusia menganggap ini adalah kenyataan yang nampaknya tidak mengenakkan di tengah janjiNya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-hamaNya. Tetapi hal ini memang ada, kenapa bisa terjadi? Apa yang harus dievaluasi?

Ada banyak sebab doa kita ditolak, diantaranya:

๐Ÿ“Œ Makan dan Minum dari yang Haram

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:

โ€œRasulullah ๏ทบ menyebutkan, seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, berambut kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit: โ€œYa Rabb .. Ya Rabb .., tetapi dia suka makan yang haram, minum yang haram, pakaiannya juga haram, dan dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana doanya bisa dikabulkan?โ€ (HR. Muslim No. 1015)

๐Ÿ“Œ Tergesa-gesa dalam Berdoa

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah ๏ทบ bersabda, โ€œDoa salah seorang di antara kalian pasti akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia mengatakan: Saya sudah berdoa akan tetapi belum dikabulkan.โ€ (HR. Bukhari No. 6340)

Bukan hanya itu, dia juga tidak menjaga adab-adab doa yang lainnya.

๐Ÿ“Œ Meninggalkan Kewajiban

Dari Huzaifah Radhiallahu Anhu dari Nabi ๏ทบ beliau bersabda, โ€œDemi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus betul-betul memerintahkan kepada yang maโ€™ruf dan melarang dari yang mungkar, kalau tidak maka betul-betul dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan kepada kalian semua siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Dia tidak mengabulkannya.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 2169, kata At Tirmidzi: hasan)

Hadits ini menyebutkan bahwa meninggalkan salah satu kewajiban agama yakni kewajiban untuk amar maโ€™ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), merupakan salah satu penyebab ditolaknya doa.

๐Ÿ“Œ Menjalankan Larangan dan Maksiat

Inilah keanehan manusia. Ketika mereka membutuhkan sesuatu atau dalam keadaan sulit, mereka mencari-cari Tuhannya, mereka memohon dan menangis, serta mengakui semua kesalahan dan kelemahannya. Tetapi ketika kesulitan hilang, mereka melupakanNya dan kembali maksiat kepadaNya. Bagaimana yang seperti ini dikabulkan doanya?

Ada jawaban sangat bagus dari Imam Ibrahim bin Adham Rahimahullah atas pertanyaan ini. Ketika beliau ditanya kenapa doa tidak dikabulkan dia menjawab:

1. Seseorang yang meyakini adanya Allah ๏ทป tetapi ia tidak menunaikan hak-hakNya.
2. Seseorang yang telah membaca ( mengerti ) kitab Allah ๏ทป tetapi tidak mengamalkannya.
3. Seseorang yang mengetahui bahwa syetan adalah musuhnya yang nyata, tetapi ia justru mengikuti langkah-langkahnya.
4. Seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah ๏ทบ tetapi meninggalkan atsar dan sunnahnya.
5. Seseorang yang mencita-citakan masuk surga namun meninggalkan amalan – amalan masuk surga.
6. Seseorang mengatakan takut adzab neraka, tetapi ia tidak berhenti melakukan dosa dan maksiat.
7. Seseorang yang yakin tentang kepastian datangnya ajal, tetapi ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Seseorang yang sibuk dengan aib dan cacat orang lain, tetapi ia melupakan cacat dan aibnya sendiri.
9. Seseorang yang makan rizki Allah, tetapi tidak mensyukurinya.
10.Seseorang yang mengubur orang mati, tetapi ia tidak mengambil pelajaranya dari padanya.

๐Ÿ“Œ Allah ๏ทป Sedang menguji hambaNya

Sebenarnya Allah ๏ทป punya banyak cara untuk menguji keimanan hambaNya, di antaranya dengan tidak dikabulkannya doa, khususnya di dunia. Apakah dengan itu dia semakin beriman atau justru lari dariNya.

Hamba yang mukmin dan shabirin (sabar) akan meyakini bahwa Allah ๏ทป punya rencana lain untuknya, dan itu pasti lebih baik. Sebab Dia lebih tahu dibanding hambaNya sendiri tentang apa yang terbaik bagi hambaNya. Hamba minta A, Allah ๏ทป memberinya B, dan B itu ternyata lebih baik baginya. Atau, Allah ๏ทป menundanya sebagai ujian kesabaran dan sekaligus memang itulah momen yang pas baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€ (QS. Al Baqarah (2): 216)

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678