logo manis4

Menghapus Kesalahan Dengan Berbuat Baik

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dari Abi Dzar ra, Rasulullah saw bersabda,

“ إذا عملت سيئة فأتبعها حسنة تمحمها ” “

“Jika engkau melakukan keburukan maka ikutilah dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk yang pernah dilakukan.“ (Hadist shahih riwayat Ahmad)

Penjelasan:

1. Allah berfirman,

“إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ “

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa).” (QS. Hud: 114)

Sesungguhnya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk di masa lalu, sebagaimana hadist yang disampaikan oleh Abu Bakar:

“Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim berdosa lalu dia berwudhu kemudian dia shalat 2 raka’at dan memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah akan mengampuni dosanya.'”

2. Al Ghazali berkata, “Lebih utama mengikuti keburukan dengan kebaikan yang berlawanan seperti: mendengarkan hal-hal yang melalaikan diganti dengan mendengarkan Al Qur’an dan duduk di majlis zikir, duduk di masjid dalam keadaan junub diganti dengan i’tikaf dan membaca Al Qur’an, meminum khamr diganti dengan makan makanan yang halal.”

3. Para ulama sepakat bahwa perbuatan baik dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar seperti durhaka terhadap orang tua, membunuh, riba, miras dan lain sebagainya, tidak ada jalan lain untuk menghapusnya kecuali dengan taubat.

Allah berfirman :

وَاِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. At Taubah: 82).

Ini jika dosa tidak berhubungan dengan hak manusia. Namun jika berhubungan dengan hak orang lain seperti mencuri, maka ia harus mengembalikannya terlebih dahulu dan minta maaf kemudian ia bertaubat.

4. Jika syarat taubat yang berkaitan dengan manusia tidak terpenuhi, maka urusannya akan berlanjut di akhirat. Orang-orang yang pernah dizhalimi akan menuntut dan mengambil pahala darinya sebagai ganti dari kezhaliman yang ia lakukan di dunia.

Rasulullah saw bersabda, “JIka seorang mukmin selamat dari neraka, ia ditahan di sebuah jembatan antara surga dan neraka, lalu ia diminta pertanggungjawaban oleh orang yang dizhalimi di dunia; jika telah usai maka barulah diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id al al Khudri).

5. Di antara kebaikan Allah, jika seorang mukmin tidak memilki dosa kecil, maka amal kebaikan yang ia lakukan berdampak terhadap dosa-dosa besarnya, yaitu dosa besar yang ia lakukan akan diringankan Allah swt. Jika tidak memiliki dosa besar ataupun dosa kecil, maka pahala dari kebaikan yang dilakukan akan dilipat gandakan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

3 + 1 Nasehat Penting Dari Rasulullah Saw

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Hadits Pertama

 

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ، قَالَ مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ… (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al Anmari ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lainnya pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Beliau bersabda, “(1) Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah, (2) tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim. lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya, dan (3) tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya…” (HR. Tirmidzi)

©️ Takhrij Hadits;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhud an Rasulillah Saw, Bab Ma Ja’a Matsalalud Dunya Mitsla Arba’atin Nafar, hadits no 2247.

®️ Hikmah Hadits;

1. Ada 3 + 1 nasehat penting dari Rasulullah Saw untuk kita sebagai umatnya yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan karena demikian pentingnya 3 + 1 nasehat tersebut, hingga Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lagi pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Ini artinya Nabi Saw benar-benar menekankan nasehat ini agar diamalkan oleh kita sebagai umatnya.

2. Ketiga nasehat penting tersebut, adalah sebagai berikut;

(1). Banyak berbagi.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah”

(مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ)

Artinya kekhawatiran bahwa sedekah akan mengurangi harta tidaklah benar. Karena dengan sedekah justru akan semakin menambah dan memberkahkan harta. Dengan banyak bersedekah juga insya Allah akan semakin menjadikan kehidupan seseorang semakin lebih terasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

(2). Mudah memaafkan.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim, lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya”

(وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا)

Karena memaafkan adalah kemuliaan, dan sifat memaafkan tidak akan dimiliki kecuali oleh orang-orang mulia yang berhati besar. Memaafkan juga merupakan sifat para Nabi dan Rasul, serta juga sifat para orang-orang shaleh terdahulu. Maka jika ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt dan di mata manusia, maka hendaklah ia banyak memaafkan kesalahan orang lain.

(3) Banyak berusaha dan tidak meminta-minta.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah Swt akan membukakan pintu kemiskinan untuknya”

(وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا)

Karena sifat suka meminta adalah sifat tercela yang dapat “mematikan” semangat pelakunya untuk bekerja dan berusaha. Sehingga akan menjadikannya malas dan tdk mau berusaha. Akibatnya selamanya ia akan terjebak dalam kebiasaannya dan menjadi miskin karenanya. Na’udzubillahi min dzalik.

3. Ketiga pelajaran berharga dari Nabi Saw ini, jika dicermati secara mendalam akan kita dapati bermuara pada urgensi memiliki sikap dan mentalitas yang positif dan baik, yaitu (1) banyak memberi, (2) suka memaafkan, (3) banyak berusaha dan tidak meminta-minta. Karena sikap mental yang baik merupakan modal dasar dalam menggapai kemuliaan dan kesuksesan.

Maka hendaknya kita berusaha mengamalkan dan menjaganya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi kunci sukses bagi kita semua.

Hadits Kedua

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ….وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari ra berkata, bahwasanya beliau mendengar Nabi Saw bersabda,” ….dan aku akan mengajarkan suatu nasehat pada kalian, hendaklah kaian menjaganya. “Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan; (1) Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah Swt dengan harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia bertakwa kepada Allah dan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah Swt memiliki hak atas hartanya. Dan ini adalah tingkatan yang paling baik. (2) Kedua, seorang hamba yang diberikan Allah Swt ilmu tapi tidak diberi harta. Niatnya tulus dan ia berkata, ‘Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan. Maka ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama. (3) Ketiga, seseorang yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya. Ia tidak takut kepada Rabbnya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya. Ini adalah tingkatan terburuk. (4) Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan meneglola hartanya, dan niatnya benar. Dosa keduanya sama.” (HR. Tirmidzi)

®️ Hikmah Hadits;

1. Hadits ini masih merupakan lanjutan dari hadits panjang pada rehad sebelumnya, dan masih merupakan satu rangkaian tidak terpisahkan dengan hadits sebelumnya. Dalam hadits sebelumnya Nabi Saw menyebutkan 3 Nasehat Penting, sementara dalam hadits lanjutan ini Nabi Saw mengajarkan satu pelajaran (nasehat) penting lainnya, yang Nabi Saw berpesan agar kita dapat menjaganya.

2. Nasehat penting Nabi Saw tersebut adalah bahwa berkaitan dengan adanya 4 golongan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, yaitu sebagai berikut ;

(1). Golongan orang yang diberi harta dan diberi ilmu.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt. Ilmunya mengantarkannya pada jalan kebaikan. Sedangkan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim, berbuat kebaikan untuk orang lain dan mengetahui ada hak-hak Allah Swt yang harus ia tunaikan dari hartanya tersebut, yaitu zakat, infak dan shadaqah.

(2). Golongan orang yang diberi ilmu namun tidak diberi harta.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt, namun ia tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang lain terkait dengan harta, lantaran ia tidak memiliki harta sebagaimana golongan pertama. Namun ketulusan dan keikhlasan hatinya mengantarkannya pada niatan yg baik yaitu jika ia memiliki harta maka ia akan melakukan sebagaimana yang dilakukan golongan pertama.

(3). Golongan orang yang diberi harta namun tidak diberi ilmu.

Karena tidak memiliki ilmu maka ia jauh dari Allah Swt, bergelimang dengan dosa dan maksiat serta ia gunakan hartanya dalam rangka perbuatan dosa tersebut. Ia tidak menyambung silaturrahim, tidak berbagi kepada fakir miskin serta tidak mengetahui hak-hak Allah Swt. Bahkan hartanya digunakan untuk memusuhi agama Allah Swt.

(4). Golongan yang tidak diberi harta dan tidak juga diberi ilmu.

Ia jauh dari Allah, bergelimang maksiat dan dosa, bahkan ia berangan-angan jika memiliki harta maka ia akan melakukan dan berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh golongan ketiga.

3. Dari keempat golongan tersebut, golongan yang paling baik adalah golongan pertama, yaitu golongan yang diberi harta dan ilmu, yang dengan keduanya ia dapat mencapai derajat takwa dan berbuat kebaikan kepada orang lain. Mengiringi golongan pertama adalah golongan kedua, yang punya ilmu namun tidak punya harta. Ia bercita-cita ingin seperti golongan pertama. Maka pahala golongan kedua sama dengan golongan pertama. Sedangkan golongan paling buruk adalah golongan ketiga, yaitu orang yang tidak punya ilmu namun punya harta banyak. Akibatnya ia jauh dan ingkar kepada Allah Swt, serta ia gunakan hartanya dalam rangka maksiat dan menjauhkan org lain dari Allah Swt. Lalu mengiringi golongan ini adalah golongan orang yang tidak berilmu dan tidak diberi harta benda. Namun obsesinya adalah ingin menjadi seperti golongan ketiga. Ia jauh dari Allah Swt dan berangan akan menjadi seperti golongan ketiga jika punya harta. Maka dosa golongan ketiga dan keempat adalah sama.

4. Tersirat dari hadits di atas adalah anjuran untuk menjadi orang yang berilmu dan berharta. Agar memiliki ketaatan yang paripurna kepada Allah Swt dan memiliki kebaikan sempurna kepada sesama manusia. Semoga kita semua diberikan Allah Swt anugerah sebagaimana golongan pertama, sehingga bisa mengggapai kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Sibukkan Diri Dengan Ketaatan

📚 KHUTBAH JUM’AT

📝 Pemateri: Ustadz Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H (IKADI DIY)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَار، وَمُكَوِّرِ النَّهَارِ عَلَى اللَّيْل. جَاعِلِ اللَّيْلِ سَكَناً، وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا، ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْم.
أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَات، وَخَيْرَاتِهِ الْمُتَعَاقِبَات.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، رَبُّ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَات، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدَهُ وَرَسُوْلُه، خَتَمَ اللهُ بِهِ النُّبُوَّاتِ وَالرِّسَالَات، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْكَرَامَات، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ عَلَى تَعَاقُبِ الْأَيَّامِ وَالسَّاعَات.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: «يَآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Betapa berharga waktu bagi seorang muslim. Ia merupakan anugerah Allah Swt. yang semestinya dimanfaatkan untuk beramal dengan sebaik-baiknya. Inilah yang dapat kita pahami dari firman Allah Swt.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2)

Hari demi hari bagi seorang muslim adalah waktu yang diberikan Allah Swt. untuk menunaikan amal terbaik (ahsanu ‘amala). Tidak mengherankan sekira para ulama dan para bijak bestari menasihatkan untuk senantiasa mengisi anugerah waktu itu dengan ketaatan pada Allah Swt. dan bukan merusaknya dengan kelalaian. Inilah yang pernah disampaikan oleh seorang ulama tabi’in Al-Hasan Al-Bashri:

اِبْنَ آدَم، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ، ذَهَبَ بَعْضُك

“Wahai manusia, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jikalau
satu hari berlalu, sebagian dari dirimu juga telah berlalu.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-’Awliya’)

Tidak ada yang lebih berharga, lebih mulia, lebih agung, atau lebih berharga dibandingkan usia. Tanda kesuksesan paling besar adalah, ketika kita dapat menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, baik untuk kehidupan dunia maupun untuk mengangkat derajat kita di akhirat. Sebaliknya, salah satu tanda kegagalan adalah, ketika kita menggunakan waktu yang telah Allah Swt. anugerahkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi untuk kemaksiatan dan kerusakan.

Orang yang paling bijaksana adalah orang yang menggunakan hidupnya untuk perkara paling penting, dan kemudian baru yang penting. Tugas itu banyak, dan hidup ini singkat. Orang yang paling bahagia adalah orang yang selalu menyibukkan diri dengan kebenaran dan menjalankan kewajiban yang seharusnya dilakukan, tidak menggunakan waktunya untuk kesia-siaan. Sebab, jika kita tidak menyibukkan waktu dengan kebenaran, maka kita akan sibuk oleh kebatilan. Jikalau kita tidak menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, maka kita akan sibuk dengan sesuatu yang menimbulkan mudharat.

Pada masa sekarang ini, pintu hobi dan hawa nafsu terbuka lebar; berbagai channel olahraga disediakan bagi para pecinta olahraga; channel film dan serial disediakan bagi para pecinta seni dalam berbagai bentuk dan bahasa; Arab, Inggris, Turki, dan Spanyol. Kemudian ditambah lagi dengan berbagai game; playstation untuk segala usia, bagaikan laut tanpa tepi. Bahkan, saluran pornografi pun dengan mudah dapat diakses oleh berbagai kalangan. Begitulah tayangan-tayangan merusak telah mengepung dan menyibukkan sebagian kita sehingga membuat jiwa semakin lemah, khususnya bagi yang kurang dalam pemahaman agama, rapuh orientasi hidupnya, minim wibawa dirinya, dan ringkih akhlaknya.

Jika di antara kita tidak terjebak untuk menyibukkan diri menyaksikan tayangan-tayangan tersebut, masih ada media sosial yang sering kali tanpa sadar menyita hampir sebagian besar waktu kita. Berapa banyak di antara kita suntuk berjam-jam dalam obrolan WhatsApp, facebook, dan sebagainya? Akhirnya, waktu pun habis, usia terampas, dan zaman berlalu sia-sia di tangan pemiliknya.

Terkait dengan kecenderungan untuk lalai dengan waktu, jauh-jauh hari Rasulullah Saw. telah mengingatkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Sungguh, pangkal semua kesia-siaan adalah waktu luang; tidak ada kegiatan sama sekali, membiarkan diri tanpa ada kerja yang digarap. Jiwa yang kosong, yang bermalas-malasan untuk melakukan kebaikan, cenderung akan menyibukkan pelakunya dengan kebatilan. Dan itu pasti. Ia akan selalu mendatangi satu pintu keburukan, kemudian masuk ke pintu keburukan lainnya, sampai habis umurnya dan tidak tersisa waktunya.

Ibn al-Qayyim dalam kitab al-Jawab al-Kafi menasihatkan, “Waktu luang (al-faragh) akan melahirkan kerusakan, lalu maksiat akan beruntun menghampiri seorang hamba dalam rangkaian yang menghancurkan; yang akan melemahkan iman di hati dan menjauhkannya dari Allah Swt. Siapa yang hampa dari amalan bermanfaat lagi produktif, maka ia pasti akan sibuk dengan sesuatu yang memudharatkannya dan tidak memberinya manfaat sama sekali.

Imam al-Syafii (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Jikalau Anda tidak menyibukkan diri dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkan Anda dengan kebatilan.”

Hal serupa disampaikan al-Munawi dalam kitab Fayd al-Qadir. “Ketahuilah, kekosongan (al-faragh atau waktu luang) akan melahirkan keinginan (syahwat). Siapa yang menghabiskan harinya tanpa hak yang ia penuhi, atau tanpa kewajiban yang ia tunaikan, atau tanpa kemuliaan yang ia raih, atau tanpa pujian yang ia dapatkan, atau tanpa kebaikan yang ia tegakkan, atau tanpa pengetahuan yang dipelajari, maka ia telah mendurhakai harinya. Waktu luang akan menggulungnya. Penyebab musibah itu adalah al-faragh (waktu luang).” (Fayd al-Qadir: 6/375)

Itulah sebabnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ الدُّنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku membenci seseorang yang tidak melakukan apapun; tidak ada kerja duniawi yang dikerjakannya, dan tidak ada juga amalan ukhrawi yang disemainya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.,

Nasihat Imam Syafii dan para ulama lainnya, “Jika kalian tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, maka kalian akan disibukkan oleh kebatilan”, patut kita jadikan pegangan. Jika kita tidak menyibukkan hari-hari kita dengan ketaatan, maka waktu kita akan terisi oleh kemaksiatan. Jika usia kita tidak dipenuhi dengan hal-hal bermanfaat, maka ia akan disesaki dengan perkara-perkara yang mendatangkan madharat.

Ibn al-Qayyim rahimahullah menegaskan, “Ia adalah jiwa. Jika kalian tidak menyibukkannya dengan kebenaran, ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan. Dan ia adalah hati. Jikalau rasa cinta kepada Allah Swt. tidak menghuninya, maka ia akan dihuni oleh rasa cinta kepada makhluk. Dan itu pasti. Ia adalah lisan. Jika kalian tidak menyibukkannya dengan berzikir, maka ia akan menyibukkanmu dengan senda gurau. Dan itu tidak baik untuk kalian. Itu pasti.” (Kitab al-Wabil al-Shayyib: 1/ 111).

Begitulah tabiat diri kita. Jika hati tidak dipenuhi rasa tunduk kepada Allah Swt., ia akan digiring untuk tunduk kepada selain Allah. Jika lisan tidak diarahkan untuk berkata yang baik, ia akan disibukkan untuk berkata yang buruk. Jika kaki tidak disibukkan untuk melangkah ke masjid dan tempat-tempat kebaikan, ia akan mudah digerakkan menuju tempat-tempat kemaksiatan. Jika mata tidak digunakan untuk membaca Quran, ia akan mudah tergelincir untuk menyaksikan hal-hal yang melalaikan. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu, mari sibukkan diri kita dalam ketaatan. Usahakan tidak ada waktu yang terlewatkan kecuali ia dipenuhi dengan kebaikan.

Mari kita renungkan sebuah atsar yang dinisbatkan kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْأَيْدِيْ لِتَعْمَلَ فَإِذَا لَمْ تَجِدْ فِي الطَّاعَةِ عَمَلًا اِلْتَمَسَتْ فِي الْمَعْصِيَةِ أَعْمَالًا.. فَأَشْغِلْهَا بِالطَّاعَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغِلَكَ فِي الْمَعْصِيَة

“Allah Swt. menciptakan tangan agar Anda beramal. Jikalau ia tidak mendapati amalan dalam ketaatan, maka ia akan mendapati amalan-amalan dalam kemaksiatan. Maka, sibukkanlah ia dengan ketaatan sebagaimana ia menyibukkanmu dengan kemaksiatan.”

Sibukkan diri kita dengan ketaatan. Sungguh, usia terus beranjak dan kematian seakan terus memburu kita, tak ada waktu bagi kita untuk berleha-leha. Semoga Allah Swt. memandu dan membimbing kita untuk selalu menyibukkan diri dalam ketaatan kepada-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.
ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: «إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً»
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ، وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلاَزِلَ، وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَا خآصَّة، وَسَائِرِ بِلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَة، وَالْمُعَافَاةِ الدَّائِمَة، فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنَا وَمَالِناَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kita Hanya Terlihat Baik

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌺

ربما كنت مسيئا فأراك الإحسان منك صحبتك من هو أسوأ منك حالا منك

Bisa jadi engkau berbuat buruk, namun persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk menjadikanmu tampak baik
(Ibnu Athaillah)

Ketika kita melakukan kebaikan, lalu ada yang memuji kita, janganlah kita bangga diri dulu, karena bisa jadi kita terlihat baik dan shalih bukan karena kita benar-benar baik, tetapi hanya karena kita berteman dengan orang-orang yang kualitas kebaikannya dibawah kita.

Sucikanlah dirimu tetapi jangan merasa suci.

Rasakan kebenaran tetapi jangan merasa benar.

Rasakan kebaikan tetapi jangan merasa baik.

AA Gym berkata bahwa kita ini mulia bukan karena mulia, tetapi karena Allah masih menutupi aib kita, andai Allah buka tabir diri kita, maka pastilah tidak ada yang mau mendekat dan mendengarkan perkataan kita.

Andai aib dan keburukan kita tidak ketahuan itu bukan karena pandai menutupinya, itu semua karena Allah menutupi noktah-noktah hitam yang ada pada diri kita.

Ketika sudah menjadi ahli tahajjud, maka jangan kita merasa paling shalih, karena andai tahajjud kita dibandingkan dengan tahajjudnya nabi saw, maka pasti tidak ada apa–apanya.

Kita merasa sudah banyak baca Al Quran ketika mengikuti program odoz (one day one juz), karena kita yang kita bandingkan adalah mereka yang ikut program odol (one day one lembar).

Ujian orang yang berbuat baik adalah ujub dan ujian orang yang berdosa adalah putus asa.

Ulama berkata:

“ إعجاب الرجل بنفسه عنوان ضعف عقله “

“takjub kepada diri
sendiri adalah tanda lemahnya akal“

Jadi baik dan buruk itu tergantung pembandingnya, bahkan kebaikan yang dilakukan oleh orang yang biasa, bisa menjadi sebuah keburukan bagi orang yang sangat dekat kepada Allah, seperti bermuka masamnya nabi saw ketika ada orang buta yang bertanya kepadanya, lalu Allah menegurnya dalam surah Abasa.

Janganlah kita membayangkan masamnya muka nabi saw seperti masamnya muka kita, bisa jadi itu masih terhitung tersenyum untuk orang–orang umum, namun karena nabi itu adalah uswah hasanah maka senyumannya pun haris tampil sempurna.

Ulama berkata:

“ حسنة الأبرار سيئة المقربين “

Kebaikan orang – orang yang baik adalah kejahatan orang yang dekat kepada Allah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Ada Orang Zhalim, Ada juga Pahlawan

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pada Perang Uhud, setelah musibah turunnya pasukan pemanah, beberapa orang dari Kaum Musyrikin Quraisy berhasil menerobos sampai cukup dekat dengan posisi Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam serta melukai baginda:

1. Utbah bin Abi Waqqash – melempar batu hingga baginda jatuh ke samping, serta melukai gigi dan wajah, juga merobek bibir baginda,

 فدثّ بالحجارة حتى وقع لشقّه، فأصيبت رباعيته وشجّ بوجهه، وكلمت شفته 📚

2. Abdullah bin Syihab – melukai pelipis baginda,

 شجّه في جبهته 📚

3. Ibnu Qami’ah – melukai pipi atas, memukulkan tamengnya hingga kedua mata rantai (yg menempel pada tameng) menancap di pipi baginda,

جرح وجنته، فدخلت حلقتان من حلق المغفر في وجنته 📚

4. Abu Amir al-Fasiq – menggali beberapa lubang jebakan di sektor kiri (barisan Quraisy) sehingga baginda terjeblos ke dalam salah satunya.

Para sahabat yang terlibat melindungi Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam:

1. Ali bin Abi Thalib dan Thalhah bin Ubaydillah Radhiyallahu’anhuma, membantu baginda keluar dari lubang jebakan Abu Amir; Thalhah bin Ubaydillah Radhiyallahu’anhu sampai pincang salah satu kakinya seumur hidup karena tindakan ini,

Ibnu Hisyam menulis tentang pujian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam atas Thalhah bin Ubaydillah Radhiyallahu’anhu:

من أحب أن ينظر إلى شهيد يمشي على وجه الارض فلينظر إلى طلحة بن عبيد الله 📚

“Barangsiapa yang suka untuk melihat seorang syahid (namun) masih berjalan di muka bumi, hendaklah melihat (mengambil pelajaran) dari Thalhah bin Ubaydillah (Radhiyallahu’anhu)”

2. Malik bin Sinan, mengelap darah baginda yang bercucuran di mukanya yang mulia hingga menyedot sebagian darah baginda (kemudian meludahkannya) untuk membersihkannya,

Rasulullah juga memuji Malik bin Sinan:

من مسّ دمي دمه لم تصبه النار 📚

“Barangsiapa tercampur darahku dengan darahnya, dia tidak akan tersentuh Neraka”

3. Abu Ubaydah ibnil-Jarrah, tanggal kedua giginya karena menggigit-lepas kedua mata rantai yang menancap di pipi baginda.

Referensi tunggal:
📚 Ar-Rawdhul Unuf, as-Suhayli, III, pp. 275-277

Agung Waspodo, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pun berdarah-darah dalam pertempuran, bagaimana mungkin kau dapat ampunanNya tanpa satu tetes darah pun!

7 Dzul-Qa’dah 1440 Hijriyah

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dialog Ayah Anak

JANGAN MEREMEHKAN HAL-HAL POSITIF ANAK REMAJA

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Banyak hal-hal positif yang ada pada anak remaja dan menjadi kelebihannya. Apabila orang tua bisa mengembangkannya, maka ia akan menjadi pribadi yang istimewa. Allah maha Kuasa dalam menciptakan segala sesuatu selalu ada keisimewaannya. Sehingga orang tua jangan menganggap anak remaja sebagai anak yang selalu bermasalah dan jangan menganggapnya sebagai beban bagi orang tua.

Sesungguhnya anak remaja tetap bisa dipersiapkan untuk menjadi generasi cemerlang saat orang tua mau berusaha dan berkorban untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk masa depannya yang gemilang. .

Adapun hal-hal positif yang ada pada anak remaja adalah :

1. Rasa ingin tahu yang tinggi , jika dikembangkan akan menghasilkan temuan-temuan baru dan karya yang berguna.

2. Keinginan mengembangkan potensi, jika difasilitasi maka ia bisa lebih awal memiliki keahlian menuju kemandiriannya.

3. Daya ingat yang cukup kuat, jika diberikan motivasi & diarahkan bisa menjadi penghafal Alquran.

4. Pembelajar cepat sehingga perlu diperkenalkan tentang arti kehidupan dan memperbanyak pengetahuan dan keahlian.

5. Memiliki kepedulian yang baik maka perlu dilatih untuk aktif pada berbagai kegiatan sosial.

6. Mencari identitas diri, ini menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menyempurnakan kepribadiannya.

7. Bersikap berani dan mulai percaya diri. Hal ini sangat berguna untuk kehidupan bersosialnya dan menjadi modal untuk meningkatkan berbagai potensinya.

8. Senang bergaul, sangat besar pengaruh orang tua untuk memperkenalkannya dengan orang-orang besar dan hebat agar bisa mengambil pengalaman kesuksesan dari mereka.

9. Senang berpendapat, sehingga orang tua bisa menambahkan wawasan yang lebih luas untuk menambah kemampuan berargumentasi.

Wallahu a’lam bish showab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

PELUKAN

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Pelukan itu menenangkan. Memberikan energi bagi jiwa yang kalut. Memotivasi diri di saat semangat mulai surut. Khusus bagi anak-anak terlebih anak lelaki, pelukan bisa menjadi sumber kekuatan yang akan menghantarkannya menjadi pemenang dalam pertarungan zaman.

Bagi anak wanita, pelukan ayah bisa menjadi pagar yang membuatnya tak mudah digoda sembarang lelaki yang hendak merayunya.

Jika anak tak dapat pelukan, maka jiwanya berontak dan bertindak liar. Laparnya ia akan pelukan diwujudkan dalam perilaku yang menyebalkan, melanggar aturan, bahkan kriminal.

Mumpung anak masih kecil, banyak banyak memeluknya. Sebab kalau udah besar ia enggan. Bukan karena tak butuh, tapi sungkan. Apalagi kalau di keramaian.

Lagipula kalau sudah besar, kebanyakan dipeluk juga gak baik. Sebab, saat dewasa pelukan ibarat gula. Kalau kebanyakan bisa akibatkan stroke jiwa. Anak bukannya jadi aktivis malah jadi teletubbies. Setiap ada tugas atau pekerjaan bukannya teriak, “Kerja! Kerja! Kerja!” eh malah ucap, “Berpelukaaaan!”. Iya kalau ada yang mau dipeluk. Kalau kagak ada, ya terpaksa meluk tiang. Untung gak kesetrum.

Dan bukan hanya anak sendiri yang butuh pelukan. Anak mertua pun butuh 😁

Sudah peluk mereka hari ini?

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Mari Menakar Diri

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Sudahkah kita mulai menakar diri, seberapa bekal yang sudah kita bawa untuk perjumpaan nanti? Bersegera kita menyadari bahwa hidup ini tak akan abadi.

Mungkin saja esok kita tiada atau lusa sudah tak bernyawa. Namun diri masih saja terlena oleh kesia-siaan belaka.

Banyak canda dan tawa untuk mengisi hari-hari kita. Banyak bertopang dagu dan membawa angan yang tak menentu. Terkadang merenda mimpi tanpa berusaha merealisasi. Semua kosong selayaknya rumah tak berpenghuni.

Ada dua kehidupan yang akan kita lewati. Dunia fana dan akhirat nan abadi. Dua kehidupan yang tiada berpadanan. Namun semuanya butuh bekalan agar tak dirundung kesulitan.

Perjalanan di dunia tak lain ketika manusia menjalani kehidupan saat nyawa masih di kandung badan. Namun manusia juga harus bersiap menuju kehidupan yakni berangkat dari dunia menuju hidup yang tak berkesudahan.

Seperti itulah tabiat kehidupan manusia.
Dalam tafsir Ar Razi, 5/68 disebutkan lima perbandingan antara bekal di dunia dan bekal dari dunia.

1. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang belum tentu terjadi. Tetapi perbekalan kita untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang pasti terjadi.

2. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, setidaknya akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang sifatnya sementara. Tetapi perbekalan untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang tiada habisnya.

3. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita akan mengalami rasa sakit, keletihan dan kepayahan. Sementara perbekalan untuk perjalanan dari dunia akan membuat kita terlepas dari marabahaya apapun dan terlindung dari kebinasaan yang sia-sia.

4. Perbekalan dalam perjalanan di dunia memiliki karakter bahwa kita akan melepaskan dan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan. Sementara perbekalan dalam perjalanan dari dunia, memiliki karakter kita akan lebih banyak menerima lebih dekat dengan tujuan.

5. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu. Sementara perbekalan dari dunia akan semakin membawa kita pada kesucian dan kemuliaan.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan ceritakan mimpi

Ketika Mimpi Buruk Menyertai Di Malam Hari

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبَي قَتَادَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الرُّؤْيَا مِنْ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ فَقَالَ إِنْ كُنْتُ لَأَرَى الرُّؤْيَا أَثْقَلَ عَلَيَّ مِنْ جَبَلٍ فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَمَا أُبَالِيهَا (رواه مسلم)

Dari Abu Qatadah ra berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Mimpi yang baik adalah datang dari Allah Swt, dan mimpi yang buruk adalah datang dari syaitan. Maka apabila kamu bermimpi buruk, meludahlah ke kiri tiga kali, kemudian berlindunglah kepada Allah dari bahaya kejahatannya, niscaya (mimpi tsb) tidak akan membahayakan.” Abu Qatadah berkata; ‘Jika Aku bermimpi buruk seperti lebih berat dari memikul gunung, maka aku tidak peduli dengannya setelah aku mendengar Hadits ini.’ (HR. Muslim, hadits no 4196)

Hikmah Hadits ;

1. Bahwa dalam tidur terkadang kita bermimpi ada sesuatu yang buruk terjadi menimpa diri ataupun menimpa orang-orang yang kita sayangi; bisa berupa musibah, bencana, malapetaka, atau hal lainnya yang sangat tidak kita senangi. Maka bila hal tersebut terjadi, ada beberapa anjuran Nabi Saw yang perlu kita lakukan, yaitu ;

#1. Berta’awudz atau meminta perlindungan kepada Allah Swt dari godaan dan gangguan syaitan. Karena sebagaimana hadits di atas, bahwa mimpi buruk itu berasal dari syaitan. Ta’awudz dilakukan minimal dengan membaca ‘A’udzubillahi minas syaitanirrajiim’. Lebih baik lagi jika membaca surat yang disebut ‘almu’awwidzatain’, yaitu surat Al-Falaq dan An-Nas.

#2. Dianjurkan juga untuk bangun (duduk) lalu menoleh ke kiri, kemudian meludah ke sebelah kiri tersebut 3X. Meludah tidak harus dilakukan dengan membuang ludah secara hakiki, namun cukup dengan isyarat seperti membuang ludah tanpa harus mengeluarkan air ludahnya. Karena umumnya mimpi buruk selalu datang dari sebelah kiri, dimana dari sisi kiri lah syaitan kerap datang menggoda dan mengganggu kita. Dan dengan ta’awudz yang diiringi isyarat meludah ke sebelah kiri 3X insya Allah akan mengusir dan menghilangkan gangguan syaitan.

#3. Tidak perlu takut, khawatir atau cemas terhadap “apapun” yang kita dapatkan dalam mimpi. Seperti mimpi mengalami musibah, kecelakaan, kehilangan anggota keluarga, dsb. Karena sesungguhnya sedikitpun mimpi buruk dari syaitan tidak akan pernah bisa memberikan kemudharatan apapun kepada kita. Karena segala sesuatu terjadi adalah karena kehendak Allah Swt dan bukan karena mimpi.

#4. Tidak menceritakan mimpi buruk yang kita alami kepada siapapun. Karena dalam riwayat lainnnya disebutkan bahwa Nabi Saw melarang kita untuk menceritakan mimpi buruk yang kita alami. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda

“…Dan jangan menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Dan jika dia bermimpi baik maka bergembiralah dan jangan menceritakannya kecuali kepada orang yang dikasihi.” (HR. Muslim, hadits no 4197)

2. Bahwa tidur adalah ibadah, jika diniatkan untuk ibadah. Maka jika hendak tidur ada anjuran untuk membaca doa sebelum tidur, menghadap (miring) ke sebelah kanan dan memasrahkan diri hanya kepada Allah Swt. Dengan melakukan hal tersebut maka setiap detik yang dilalui dalam tidurnya, insya Allah akan bernilai ibadah oleh Allah Swt.

Wallahu Alam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lukisan Kehidupan

Lukisan Kehidupan

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan. Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya. Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.

Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan. Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri. Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan. Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, kini masalahnya bukan lagi apakah kita seorang maestro pelukis terkenal macam Picasso dan Afandi atau bukan, tetapi adalah bahwa -suka atau tidak suka- hasil ‘lukisan’ kita pada akhirnya akan dilihat dan dinilai orang. Kesadaran tersebut jelas akan mendorong naluri kita untuk berkata bahwa ‘lukisan kehidupan’ saya harus terlihat indah dipandang. Dan, selama kesempatan ‘melukis’ itu masih diberikan, kita masih diberi kebebasan berekspresi untuk memperindah lukisan kehidupan kita; meluruskan guratan-guratan yang kurang harmonis, memperjelas sapuan warna yang buram, mengarahkan segmen gambar yang tak terarah, dst.

Hingga akhirnya, ketika mata ini terpejam dan nafas terakhir telah dihembuskan, itulah saatnya lukisan kita telah usai, lalu dibingkai, dan kemudian siap dipajang di ‘ruang depan rumah kita’. Ketika itu pula kita tinggal menunggu bagaimana komentar orang-orang yang melihat lukisan kita yang secara refleks –tanpa basa basi dan formalitas- akan terlontar dari mulut-mulut mereka. Bagaimana reaksi dan apresiasi yang akan mereka berikan, tentu sangat tergantung dengan kualitas lukisan yang terpampang. Di situlah salah satu parameter kehidupan kita sedang ditentukan.

Suatu saat para shahabat melihat jenazah yang sedang digotong, lalu mereka memuji kebaikannya, maka Rasulullah saw bersabda, ‘pasti.’ Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, lalu mereka menyebut-nyebut keburukannya, Beliau bersabda, ‘Pasti.’ Umar bin Khattab bertanya, ‘Apanya yang pasti wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Yang kalian sebutkan kebaikannya, pasti masuk surga, sedangkan yang kalian sebutkan keburukannya pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.” (Muttafaq alaih)

Seorang penyair berkata,

إنما المرأ حديث من بعده فكن حديثا حسنا لمن وعى

Innamal mar’u hadiitsu man ba’dahu Fa kun hadiitsan hasanan liman wa’aa

“Seseorang akan menjadi pembicaraan orang-orang sesudahnya, Maka jadilah bahan pembicaraan yang baik bagi orang yang mendengarnya.”

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678