Surat Pendek Penangkal Sihir

Agar Terhindar Dari Penyakit Was-was

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa yang harus saya lakukan jika najis sudah terlanjur menyebar ke seluruh rumah bahkan sampai ke meja dan barang2 elektronik, saya sungguh tidak tenang dan merasa tidak nyaman, najis ini berasal dari kencing kucing dimana dulu saya tidak tahu cara mensucikan najis dan saya hanya membersihkannya tanpa mensucikan, dan saya langsung mengpel lantai dan melap meja yang membuat saya was was karena najis nya pasti menyebar, apa yang harus saya lakukan ustadz? saya benar2 merasa terbebani karena saya juga sudah kelas 12 dimana saya harus fokus untuk masuk perguruan tinggi, tapi karena adanya was was ini saya jadi susah fokus untuk belajar karena yang ada dipikiran saya semuanya najis, tolong bantuannya ustadz saya ingin sembuh, bahkan kadang saya berpikir sholat saya tidak sah.


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan agar terhindar dari penyakit was was.

Pertama. Secara keilmuan, harus menyadari bahwa apa yang kita pikirkan itu mesti jelas bukan ilusi. Masalah apakah kita kena najis, apakah najis itu masih ada atau tidak, maka harus beranjak dari keyakinan bahwa hukum asal benda atau tubuh kita adakah suci. Selama tidak ada, tdk nyata, dan tdk jelas, adanya hal najis yang mengenainya maka itu masih suci. Kaidah ini mesti benar-benar dipahami. Jangan menyulitkan diri sendiri dengan memvonis najis terhadap apa-apa yang tidak pasti hanya krn dimainkan oleh asumsi.

Pendekatan kedua, karena was was itu hakikatnya dari syetan. (An Naas: 5-6). Maka mintalah kepada Allah Ta’ala berlindung darinya.

Misalnya dengan membaca:

ِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْثِهِ وَنَفْخِهِ

“Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada pagi hari dan sore. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk dari gangguannya (kegilaan yang bisa menimpa anak Adam), hembusannya dan kesombongannya.”

Atau doa lainnya:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

A’uudzu bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaitaani wa haammatin wa min kuli ‘ainin laammah” (“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala makhluk berbisa dan begitupun dari setiap mata jahat yang mendatangkan petaka”).
Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Membaca aI-Fatihah di dalam Shalat Jenazah

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pembahasan ini juga perlu untuk disampaikan mengingat ada perbedaan di kalangan ulama tentang kedudukan bacaan al-Fatihah ini di dalam shalat jenazah. Ada yang menyebutnya sebagai rukun, ada juga yang bahkan menyebutkan bahwa al-Fatihah justru tidak dibaca di dalamnya. Menurut madzhab Hanafi, tidak ada bacaan al-Fatihah di dalam shalat jenazah ini, karena ia pada hakikatnya ia bukan shalat, tetapi mendoakan dan memohonkan ampun bagi mayit. Bacaan al-Fatihah diperbolehkan jika niatnya adalah doa. Salah satu penjelasannya misalnya dapat kita lihat di dalam Tuhfah al-Fuqaha’ yang ditulis oleh Alauddin as-Samarqandi (w. 540 H).

Adapun di dalam madzhab Syafi’i, al-Fatihah merupakan salah satu rukun yang harus terpenuhi di dalam shalat jenazah. Sehingga jika al-Fatihah tidak dibaca di dalamnya, maka tidak sah shalatnya. Di antara dalilnya tiada lain adalah sabda Rasulullah saw. sebagaimana penulis sampaikan sebelumnya bahwa tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. Apapun shalatnya, termasuk shalat jenazah, maka al-Fatihah harus dibaca di dalamnya.

Ada juga riwayat sebagaimana disampaikan oleh Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) di dalam Musnadnya dari Jabir ibn ‘Abdillah ra. yang pernah bercerita bahwa Nabi saw. menshalatkan mayit dengan empat kali takbir dan membaca al-Fatihah setelah takbir pertama. Riwayat ini juga beliau sampaikan di dalam al-‘Umm ketika membahas tentang shalat jenazah. Namun, memang sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, hadits ini memiliki sanad yang lemah karena di dalam periwayatannya terdapat Ibrahim ibn Muhammad yang dinilai lemah oleh para ahli hadits.

Namun demikian, tentu masih banyak riwayat-riwayat lain yang shahih. Di dalam Shahih al-Bukhari, kita akan menemukan riwayat dari Thalhah ibn “Abdillah ibn “Auf yang pernah shalat jenazah di belakang Ibn ‘Abbas di mana ia membaca al-Fatihah di dalamnya. Selesai shalat, Ibn ‘Abbas mengatakan: “Supaya mereka tahu bahwa hal itu adalah sunnah.” Sebagaimana dikatakan pentahqiqnya, Mushthafa al-Bugha, yang dimaksud sunnah oleh Ibn ‘Abbas di sini dalam arti bacaan al-Fatihah memang benar-benar disyari’atkan. Di dalam Sunan Ibn Majah, beliau sendiri pernah mengatakan bahwa Rasulullah saw. membaca Surah al-Fatihah ketika menshalatkan jenazah. Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Jika Asi Terminum Suami

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, Mohon bantu saya, tentang keharaman/kebolehan ASI terminum suami?A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Djunaedi, SE

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari Ibni Abbas ra berkata, “Penyusuan itu tidak berlaku kecuali dalam usia dua tahun” (HR. Ad-Daruquthuny).

Rasulullah SAW bersabda, “Penyusuan itu tidak berlaku kecuali apa yang bisa menguatkan tulang menumbuhkan daging.” (HR. Abu Daud).

Dari Ummi Salamah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Penyusuan itu tidak menyebabkan kemahraman kecuali bila menjadi makanan dan sebelum masa penyapihan.” (HR. At-Tirmizi).

Hadits terakhir menjelaskan bahwa bila telah lewat masa penyapihan seorang bayi lalu dia menyusu lagi, maka bila dia menyusu lagi tidak berdampak pada kemahramannya. Namun dalam hal ini para fuqoha berbeda pendapat:

1. Al-Malikiyah berpendapat bahwa hal itu tidak menyebabkan kemahraman dengan bayi yang menyusu pada wanita yang sama. Karena kedudukan air susu itu baginya seperti minum air biasa.

Dengan demikian maka bila seorang suami menyusu pada istrinya, jelas tidak mengakibatkannya menjadi saudara sesusuan, karena seorang suami bukanlah bayi dan telah tidak menyusu sejak lama. Suami itu sudah melewati usia dua tahunnya, sehingga ketika dia menyusu kepada seorang wanita lain termasuk istrinya, tidak berpengaruh apa-apa.

2. Namun sebagian ulama mengatakan bila seorang bayi sudah berhenti menyusu, lalu suatu hari dia menyusu lagi kepada seseorang, maka hal itu masih bisa menyebabkan kemahramannya kepada saudara sesusuannya. Di antara mereka adalah Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyyah. Termasuk pandangan ibunda mukimin Aisyah ra.

Pendapat mereka itu didasarkan pada keumuman hadits Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya penyusuan itu karena lapar”.(HR. bukhari, Muslim dan Ahmad).

Dan dalam kondisi yang sangat mendesak, menyusunya seseorang laki-laki kepada seorang wanita bisa dijadikan jalan keluar untuk membuatnya menjadi mahram. Hal itulah yang barangkali dijadikan dasar oleh Aisyah ra. tentang pengaruh menyusunya orang dewasa kepada seorang wanita.

Rasulullah SAW memerintahkan Sahlah binti Suhail untuk menyusui Salim maka dikerjakannya, sehingga dia berposisi menjadi anaknya. (HR Ahmad, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah).

Namun menurut Ibnul Qayyim, hal seperti ini hanya bisa dibolehkan dalam kondisi darurat di mana seseorang terbentuk masalah kemahraman dengan seorang wanita. Jadi hal ini bersifat rukhshah (keringanan). Hal senada dipegang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah.

Wallahu Alam Bish-shawab.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Meneladani Rasulullah saw Pada Tempatnya

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ayat yang sangat popular di hari-hari belakangan ini adalah ayat 21 surat Al Ahzab.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – سورة الأحزاب: 21

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ayat ini dari sebab turunnya memiliki latar belakang perang. Sebagaiman nama suratnya; Al-Ahzab yang di dalamnya banyak bercerita tentang salah satu perang yang fenomenal, yaitu perang Ahzab. Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini adalah perang yang sangat berat. Kaum kafir berkolaborasi dan bersekutu menghimpun kekuatan untuk menghabisi kekuatan kaum muslimin di Madinah, karenanya dikatakan ‘ahzab’ (sekutu). Maka untuk menghadapinya Rasulullah dan para sahabatnya membuat parit besar di perbatasan kota Madinah. Karenanya perang ini juga dinamakan perang Khandaq (parit).

Jadilah Rasulullah saw berhari-hari bahu membahu dengan para sahabat lainnya menggali parit dalam suasana yang sangat berat. Sementara itu, orang-orang munafik terlihat enggan ikut bersama kaum muslimin, maka dengan alasan di tempat tersebut tidak ada tempat berteduh dan rumah mereka tidak ada yang menjaga, mereka ‘melipir’ tidak mau ikut menggali parit bersama kaum muslimin (QS. Al-Ahzab: 13). Dalam kontek inilah Allah turunkan ayat tersebut.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan bagi kaum munafik yang enggan ikut berlelah-lelah menggali parit dan berjihad menghadapi pasukan sekutu. Semestinya mereka meneladani Rasulullah saw yang walaupun kemuliaannya, tetap mau membersamai para sahabat untuk menggali parit dan menanggung beban jihadi di jalan Allah.

Jalaludin As-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahalli dalam tafsirnya Al-Jalalain menafsirkan ayat ini dengan singkat;

اقْتِدَاءً بِهِ فِي الْقِتَالِ وَالثَّبَاتِ فِي مَوَاطِنِهِ

“Meneladaninya dalam perang dan keteguhan pada tempatnya masing-masing.”

Walaupun pemahaman Al-Quran diambil dari keumuman ayat bukan kekhususan sebab, sebagaimana kaidah populer dalam ilmu tafsir, namun latar belakang ini penting kita pahami, bahwa meneladani Rasulullah saw itu bukan hanya pada hal-hal yang sifatnya lembut, santun, kasih sayang dan dalam suasana tenang nyaman tanpa permusuhan. Tapi disana juga ada keteladangan dalam hal ketegasan, marah, perang, letih dan berat menanggung beban dan tidak lemah hadapi permusuhan.

Abu Bakar Ash-Shidiq terkenal dengan kesantunan dan kelembutannya. Saat menjadi khalifah, ada sebagian rakyatnya yang membangkang, menola zakat. Tanpa ragu beliau putuskan untuk memerangi mereka. Saat Umar bin Khatab tampak ragu soal itu, dengan tegas beliau nyatakan, ‘Aku akan perangi orang yang ingin pisahkan shalat dengan zakat. Apakah engkau berani di masa jahiliah, justeru jadi penakut di masa Islam?”

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

MENGHINDARI KERIBUTAN DAN KEKACAUAN DALAM KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Keributan dan kekacauan dalam keluarga sering terjadi karena :

1. Masing-masing suami istri tidak pernah membicarakan bersama-sama tentang tujuan apa yang ingin dicapai atau diwujudkan dalam berkeluarga. Atau pernah dibicarakan oleh meteka tetapi tidak mencapai kesepakatan. Sehingga setelah menikah dan menjalani kehidupan berkeluarga tidak memiliki kejelasan apa yang ingin diwujudkan oleh mereka.
Karena itu, mereka tidak bisa bersinergi dalam menjalani kehidupan berkeluarga, sehingga mereka berijtihad dan berkreasi sendiri-sendiri , tanpa arah yang jelas yang akan dituju. Maka mereka akan mendapatkan banyak perbedaan yang tidak bisa diterima dan tidak didukung oleh pasangannya sehingga terjadilah keributan dan kekacauan.

2. Suami istri telah membicarakan bersama dan telah bersepakat tentang tujuan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi sama-sama tidak memiliki komitmen untuk mewujudkannya.

3. Suami istri tidak memiliki frekwensi yang sama dalam komitmen mewujudkan tujuan berkeluarga. Sehingga hanya salah satunya saja dari suami istri yang benar-benar serius melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan tujuan berkeluarga tersebut, karena itu ia merasakan terlalu berat berjuang sendirian.

4. Suami istri tidak bersinergi dan tidak bekerja sama dalam mewujudkan tujuan berkeluarga.

Di saat suami atau istri sangat lelah fisiknya dan rapuh jiwanya serta tantangan semakin berat maka terjadilah perselisihan, pertengkaran hingga terjadilah kekacauan dalam keluarga mereka.

Maka suami istri untuk terus bisa harmonis, hendaknya sejak awal sudah menyepakati tentang tujuan berkeluarga dan sama-sama berkomitmen dalam melakukan berbagai ikhtiar serta selalu bersinergi dan bekerja sama dalam memperjuangkan tercapainya tujuan tersebut, sehingga selalu seiring dan bersama dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Menikah dengan Orang Musyrik

Nikah Beda Agama

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, mohon penjelasannya tentang pernikahan beda agama, serta konsekuensi hukumnya akibat pernikahan beda agama?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadzah Herlini Amran, MA.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pernikahan beda agama terjadi antara :

Seorang muslimah dengan laki-laki non muslim.

Semua ulama sepakat keharamannya dan tidak dibenarkan didalam Islam dalam kondisi apapun. Termasuk laki-laki non muslim yang berasal dari ahli kitab. Allah swt berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 221 :

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا

“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.”

QS Al Mumtahanah ayat 10 :

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى ٱلْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.”

Seorang muslim menikah dengan wanita musyrik dan wanita ahli kitab.

Wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki muslim ada wanita musyrik, sebagaimana firman Allah dalam surat al Baqarah ayat 221 :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Ayat di atas menjelaskan perbedaan keyakinan yang mendasar antara orang yang beriman dengan orang yang musyrik. Bagaimana bisa menyatukan rumah tangga yang berbeda keyakinan, orang musyrik mempersekutukan Allah (sedangkan didalam Islam mempersekutukan Allah adalah dosa yang sangat besar, bahkan dakwah Islam adlah memberantas kemusyrikan), mereka mengingkari kenabian dan tidak mempercayai akhirat.

Adapan dengan wanita ahli kitab, terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Ulama. Allah berfirman dalam QS. Al Maidah ayat 5 :

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.”

Sebagian ulama membolehkan menikahi wanita ahli kitab dari kalangan yahudi ataupun nasrani dengan dalil diatas, sementara sebagian yang lainnya melarang dengan dalil bahwa wanita ahli kitab itu termasuk dalam wanita musyrik. Mereka berdalil dengan sebuah riwayat yang shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum menikah dengan wanita-wanita Nashrani dan Yahudi. Maka beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi orang-orang yang beriman menikah dengan wanita-wanita musyrik. Dan, saya tidak mengetahui ada kemusyrikan yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengatakan Rabb-nya adalah Nabi Isa. Padahal beliau adalah salah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Dalam hal ini MUI mengeluarkan Fatwanya No 4/MunasVII/MUI/8/2005 tentang Perkawinan Beda Agama Dalam Fatwa tersebut Memutuskan dan Menetapkan bahwa :

1- Perkawinan beda Agama adalah haram dan tidak sah.

2- Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab, menurut qaul mu’tamad adalah haram dan tidak sah.

Tentu saja konsekuensi dari pernikahan beda agama ini sangat besar dampaknya di dunia maupun di akhirat. Disamping hukum pernikahannya tidak sah secara syariat, secara hukum negarapun tidak diakui. Sebab semua agama di Indonesia melarang perkawinan beda agama. Status anak dan pola asuhnya pun tidak jelas, bagaimana membentuk anak yang sholih dan sholihat jika ibunya sendiri berbeda agama dengan ayahnya, pada hal Islam sangat menganjurkan pembentukan keturunan yang sholih dengan memilihikan pasangan yang sholih.

Rasulullah SAW menyebut ada 4 syarat ketika memilih perempuan untuk dinikahi. Beliau menegaskan dalam sabdanya: “Perempuan dinikahi lantaran empat hal ; yakni hartanya, garis keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka dapatkanlah wanita yang memiliki agama. Rugi engkau (bila tidak melaksanakan apa yang aku perintahkan) (HR. al-Bukhari).
Wallahu A’lam.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Harapan Itu Selalu Ada

Harapan Masih Ada

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Esok adalah rahasia.
Berharap mata masih terbuka untuk melihat dunia.
Jangan pernah ada asa yang terjeda.
Lantaran keraguan menjelma di jiwa.

Esok adalah Misteri.
Tak pernah tahu apa yang terjadi.
Tugas manusia hanya menjalani.
Namun jangan lupa melibatkan segala urusan pada Ilahi.

Esok adalah harapan.
Semoga dimudahkan berdua dengan apa yang dicita-citakan.
Ada jalan terang yang jadi penuntun jalan.
Ingatlah hanya Allah akhir dari segala tujuan.

Tetap lantunkan doa.
Jangan pernah berputus asa.
Allah pemilik segala yang ada di alam semesta.
Yang akan menurunkan segala nikmat untuk manusia yang berkenan menghamba.

“Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Istajib du’ana

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Berdzikir Dalam Keadaan Hadats

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, klu lagi haid bolehkah membca Doa Robbitoh, Syukron Ustadz.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Berdzikir kepada Allah ﷻ baik dengan bertasbih, tahmid, takbir, tahlil, atau lainnya, dalam keadaan hadats kecil atau besar adalah boleh. Ini perkara yang tidak diperselisihkan para ulama.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَذْكُرُ الله عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Dahulu Nabi ﷺ berdzikir kepada Allah ﷻ di setiap keadaan. (HR. Bukhari secara mu’allaq)

Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya saat suci, tapi semua keadaan. Sehingga para ulama menegaskan bahwa suci bukan syarat sahnya berdzikir dan berdoa.

Hadits lain, Aisyah Radhiallahu ‘ Anha bercerita saat dia haid, dan haji ke Mekkah, Rasulullah ﷺ bersabda:

افْعَلِي كَمَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Lakukanlah semua manasik haji seperti yang dilakukan para jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah Baitullah sampai kamu suci.”

(HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Hadits ini menunjukkan kebolehan wanita haid melaksanakan semua manasik haji (sa’i, wuquf, mabit, jumrah) kecuali thawaf. Padahal saat sa’i, wuquf, dianjurkan banyak berdzikir sebagaimana jamaah haji lainnya. Maka, ini menunjukkan kebolehan yang begitu jelas bagi orang berhadats untuk dzikir dan berdoa.

Imam an Nawawi Rahimahullah mengatakan:

أجمع المسلمون على جواز التسبيح والتهليل والتكبير والتحميد والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم وغير ذلك من الأذكار وما سوى القرآن للجنب والحائض ودلائله مع الإجماع في الأحاديث الصحيحة مشهورة

Kaum muslimin telah ijma’ (aklamasi) bolehnya bertasbih, tahlil, tahmid, takbir, bershalawat kepada nabi, dan dzikir-dzikir lainnya -selain membaca Al Quran- bagi orang yang junub dan haid. Selain ijma’, hal ini juga ditunjukkan oleh dalil hadits shahih yang begitu banyak dan masyhur.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab)

Hanya saja, jika seseorang bersuci lebih dulu tentu itu lebih baik, lebih disukai, dan lebih utama.

Berdasarkan hadits berikut:

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ
أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلَّا أَنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ

Dari Al Muhajir bin Qunfudz bahwa ia pernah mengucapkan salam atas Nabi ﷺ dan saat itu, beliau sedang berwudhu. Namun, beliau tidak membalas salamnya hingga beliau selesai wudhu, baru kemudian beliau membalasnya dan bersabda:

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk membalas salammu, kecuali karena saya tidak suka berdzikir kepada Allah selain dalam keadaan suci.”

(HR. Ahmad no. 18259)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menyegerakan Pengurusan Jenazah

Memandikan Jenazah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya tentang memandikan jenazah.

1. Bagaimana jika kita memandikan jenazah, menemukan kondisi badan si mayit posisinya tidak lurus. Misalnya kakinya tertekuk, atau dalam kondisi meringkuk. Apakah kita harus meluruskan badan si mayit, atau membiarkannya dalam kondisi seperti itu?
2. Benarkah Ali ra memandikan sendiri Fatimah istrinya ketika wafat?
3. Kami pernah memandikan jenazah seorang ibu yang habis operasi Cesar, luka bekas jahitan operasi itu dalam kondisi ditutup perban. Kami dan pihak keluarga si mayit khawatir jahitannya masih basah, maka kami tidak membuka perban tersebut. Salahkan yang kami lakukan?

Jazakumullaah khoir
Wassalamu ‘alaikum wr wb

A/19


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1. Ya, luruskan posisi mayit tersebut, lemaskan dengan gerakan yang lembut beberapa kali sampai lurus atau posisi tubuh menjadi normal telentang.

2. Ya, menurut Imam Ibnul Atsir dalam _Usudul Ghabah_ bahwa yang memandikan Fathimah Radhiyallahu ‘Anha saat wafat adalah Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Asma’ Radhiallahu ‘Anha. Menurut Imam Ibnul Atsir ini yg shahih.

Ada pun kisah yang menyebut bahwa Fathimah sudah memandikan dirinya sendiri sebelum wafatnya, dan Ali hanya menguburkan tanpa memandikannya, menurut Imam adz Dzahabi dalam _Siyar A’lam an Nubala_ sanadnya munkar.

3. Jika dibuka akan mencederai dan menyakitinya, maka jangan dibuka. Sebab, manusia itu tetap terhormat baik hidup dan matinya. Dan Memandikannya tetap sah. Tapi, perban kecil atau plester yang masih bisa dibuka tanpa merusak sama sekali tubuhnya, ini hendaknya dibuka.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

_“Mematahkan tulang seorang mayat, sama halnya dengan mematahkannya ketika dia masih hidup.”_ *(HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24783, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Para perawinya terpercaya dan merupakan perawi hadits shahih, kecuali Abdurrahman bin Ubay, yang merupakan perawi kitab-kitab sunan, dan dia shaduq (jujur).” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24783)*

Maka menyakitinya ketika sudah wafat adalah sama dengan menyakitinya ketika masih hidup, yaitu sama dalam dosanya. *(Imam Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 9/18)* karena mayit juga merasakan sakit. *(Ibid)*

Menyakiti seorang mukmin ketika matinya, sama dengan menyakitinya ketika dia masih hidup. *(Lihat Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 12115)*

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Zina Walau Sama-Sama Ridha dan Suka: Tetap Haram Ferguso!

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tulisan lama, semoga masih relevan (menyorot PERMENDIKBUD NO. 30/2021)

📌 Keharaman zina, kontak seksual di luar pernikahan, telah final. Jelas dan pasti, orang awam pun juga paham. Maka, sudah seharusnya orang yang mengaku berpendidikan lebih paham lagi.

📌 Bahkan orang yg berzina pun paham apa yang mereka lakukan itu sebenarnya haram. Tapi, karena hawa nafsu, gelap mata, tidak takut dosa, dan rayuan syetan, akhirnya dilakukan juga.

📌 Semua kesepakatan yang berlawanan dengan syariat adalah terlarang, termasuk kesepakatan untuk mengubah yang haram menjadi halal seperti keharaman zina menjadi BOLEH, dengan alasan keduanya sama-sama ridha.

Hal ini mirip yang diprediksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang manusia yang bermain-main dengan istilah untuk menghalalkan yang haram:

يسمُّونَها بغيرِ اسمِها فيستحلُّونَها

Mereka menamakan bukan dengan nama sebenarnya lalu mereka menghalalkannya

(Takhrij Misykah Al Mashabih, 5/85. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan)

📌 Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا

Kaum muslimin terikat oleh perjanjian yang mereka buat, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

(HR. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra no. 11430)

📌 Maka, segala bentuk perzinaan dan pintu-pintunya, walau dibungkus dengan istilah keren, ilmiah, tapi esensinya adalah legalisasi zina, free sex, atas nama HAM, adalah perilaku busuk dan menjijikkan.

📌 Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah nampak di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan siksa Allah ﷻ atas diri mereka.

(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5416. Al Hakim, Al Mustadrak No. 2261, kata Al Hakim: shahih)

📌 Maka, tegas bagi seorang muslim menolak pembenaran perzinaan walau atas dasar suka sama suka.

Bukankah Aku telah sampaikan? Allahumasyhad!

Wallahul Musta’an
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678