Akhlaq Islam

Jangan Menyakiti Jika Tidak Ingin Disakiti

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

أحب للناس ما تحب لنفسك

Dari Yasid bin Azid Perlakukanlah manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik ( Hadist sahih Riwayat Tirmidzi )

Penjelasan :

1. Setiap manusia akan mencintai orang yang melakukan kebaikan kepadanya, ini adalah isyarat agar kita juga melakukan hal yang sama kepada sesama.

2. Jika tidak suka di zhalimi, maka jangan menzhalimi seorangpun, jika hatimu tersakiti dengan kata–kata yang kasar, maka ucapkanlah kata-kata yang baik dan lembut kepada manusia karena ucapan itu bisa menembus apa yang tidak bisa di tembus oleh jarum.

3. Tidak ada yang tertukar dari sebuah kebaikan, semuanya akan kembali kepada pelakunya, karenanya ketika seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain sebenarnya ia sedang berbuat baik kepada dirinya sendiri, Allah berfirman

“إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا “

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri (QS Al Isra 7)

Prof Dr Wahbah Zuhaili berkata tentang makna ayat di atas “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” karena manfaat dari perbuatan baik kalian kembali kepada kalian sendiri (bukan kepada orang lain), bahkan saat kalian masih berada di dunia, seperti yang telah kalian saksikan, berupa kemenangan kalian terhadap musuh-musuh kalian “dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,” kepada diri kalian sendirilah bahaya itu berbalik arah, sebagaimana yang telah Allah perlihatkan kepada kalian berupa penguasaan musuh atas kalian.

4. Di riwayatkan dari Thabrani Dari Yazid bin Asid : Rasulullah saw berkata kepadaku “Apakah engkau ingin masuk surga ? Iya ya Rasulullullah,
Beliau berkata “Perlakukan manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Ikhlas itu Berat, Namun Harus Tetap Diusahakan

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

وقَد صَامَ بَعضُ السَّلفِ أربَعِين سَنةً لَا يَعلَمُ بِه أحدٌ، كَانَ يَخرُج مِن بَيتِهِ إلَى سُوقِهِ ومَعَهُ رَغِيفَان، فَيَتَصدَّقُ بِهِمَا ويَصُومُ؛ فَيَظُنُّ أهلُهُ أنَّهُ أكلَهُمَا، ويَظُنُّ أهلُ سُوقِهِ أنَّه أكلَ فِي بَيتِه

“Sebagian Salaf ada yang berpuasa selama 40 tahun dalam keadaan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, dia keluar dari rumahnya menuju pasarnya dengan membawa dua potong roti, namun roti tersebut dia sedekahkan dan dia berpuasa. Maka keluarganya menyangka bahwa dia telah makan roti, sedangkan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah makan di rumahnya.”

📚 Lathaiful Ma’arif, hlm. 252

Penjelasan:

1. Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.

2. Menampakkan kebaikan tidak selalu bermakna pamer karena semua perbuatan tergantung niatnya, maka tidak boleh lisan ini mudah menuduh bahwa seseorang telah melakukan riya dalam amalnya.

3. Kita harus baik sangka kepada niat seseorang dan buruk sangka kepada niat sendiri, agar kita selalu berusaha melakukan tajdidun niyyah (memperbaiki niat)

4. Jika aku bisa menyembunyikan shalatku dari malaikat maka pasti aku akan melalukannya karena takut akan riya, demikian khawatirnya para salafus shalih akan salahnya niat mereka.

5. Di antara salafus shalih ada yang mengatakan kepada temannya “betapa parahnya flu yang aku derita”
padahal saat itu ia sedang menangis karena takut kepada Allah, tetapi ia berusaha menyembunyikan tangisannya.

6. Ada perbuatan yang tidak termasuk riya di antaranya adalah:

A. Semangat beribadah jika bersama ahli ibadah padahal ia tidak melakukannya saat sendirian.

Ibnu Qudamah mengatakan:
“Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”

B. Menyembunyikan dosa.

Di antara nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya adalah nikmat assatru (di tutupinya keburukan diri kita) seorang muslim hendaknya tidak membeberkan dosa yang ia lakukan dan orang lain tidak tahu karena itu adalah kesempatan dari Allah agar ia memperbaiki dirinya.

C. Memakai pakaian yang bagus.

Memakai pakaian yang bagus bukanlah sebagai bentuk pamer selama masih dalam batas kewajaran, ia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah, karena Allah suka jika Ia memberikan nikmat kepada hambaNya lalu ia perlihatkan.

Dan karena Allah itu indah dan menyukai keindahan.

D. Melakukan Ibadah yang bersifat Syiar seperti: shalat berjamaah, haji atau umrah dan berkurban.

Karena ibadah ibadah yang saya sebutkan di atas tidak mungkin di lakukan dalam kamar sendirian walau demikian kita tetap selalu menjaga keikhlasan dalam melakukannya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci istinja cebok najis

Sholat Diatas Kasur Yang Pernah Kena Ompol

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz apa yang harus dilakukan bila saat sakit solatnya di atas tempat tidur yang kasurnya pernah kena ompol, tapi tidak bisa dicuci karena kasurnya spring bed yang besar ?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu syarat sahnya shalat adalah SUCI, suci orangnya dr hadats, najis, junub, dan suci tempatnya dari najis.

Najis yg dimaksud adalah najis yg zhahir, yg nampak, baik pada pakaian, sajadah, lantai/tanah tempat shalat. Sedangkan najis yg tidak nampak dan tersembunyi, seperti yang ada di perut kita, lambung, atau usus, maka ini tidak termasuk. Begitu pula najis yg ada di bawah tanah, atau di bawah lantai, dan sudah tertutup lapisan tanah yg suci atau tertutup lapisan tanah, tegel, keramik lantai.. Maka ini tdk menghalangi shalat di atasnya. Shalatnya tetap sah, boleh, namun sebagian ulama mengatakan makruh walau sah.

Dalam madzhab Imam Malik, berkata Al Mawaaq, dalam Taj Al Iklil:

 من المدونة قال مالك: لا بأس أن يصلي المريض على فراش نجس إذا بسط عليه ثوبا طاهرا كثيفا، قال بعضهم: بل ذلك جائز للصحيح لأن بينه وبين النجاسة حائلا طاهرا كالحصير إذا كان بموضعه. انتهى

Dari kitab Al Mudawanah: Imam Malik berkata tidak apa-apa orang yang sakit shalat di atas lantai yang najis, jika di atasnya sudah ditutup dengan kain yang suci. Bahkan menurut yang lainnya, hal itu boleh lagi benar, sebab antara dia dan najis ada penghalang yang suci, seperti dia meletakkan keset dari jerami di atasnya. (Taaj Al Iklil, 2/273)

Sementara Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:

 قال أصحابنا: يكره أن يصلي في مزبلة وغيرها من النجاسات فوق حائل طاهر لأنه في معنى المقبرة. انتهى

Sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan, bahwa makruh shalat di tempat sampah atau lainnya yang mengandung najis, walau sudah ditutup dengan penghalang yg suci, sebab itu sama seperti kuburan.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 3/158)

Imam Al Mardawi (Hambali) mengatakan dalam Al Inshaf:

قوله: وإن طين الأرض النجسة، أو بسط عليها شيئاً طاهرا، صحت صلاته عليها مع الكراهة. وهذا المذهب، وهو ظاهر كلام الإمام أحمد

Jika tanah ada najisnya, atau digelar di atasnya sesuatu yang suci, maka shalatnya tetap SAH tapi MAKRUH. Inilah pendapat resmi madzhab (Hambali), dan sesuai zahir ucapan Imam Ahmad bin Hambal. (Al Inshaf, 3/283)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Tips Agar Anak Sholeh dan Sholehah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya ibu 2 anak. Umur anak saya paling besar 2,5 tahun. Saya ingin sekali anak-anak saya menjadi sholihah khususnya menjadi hafidzah. Setiap hari sudah saya contohkan mengaji, saya ajarkan doa sehari-hari. Saya ajak dia ikut shalat. Semata-mata agar mereka terbiasa melihat lalu ikut andil didalamnya. Tapi ustadz/ustdzah apakah bisa terciptanya anak yang sholihah khusunya menjadi hafidzah sedangkan orang tuanya masih tinggalkan shalat, tidak mengaji (hanya istri yang mengaji)?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mendidik anak sholeh dan sholehah adalah tugas bersama ayah dan bunda. Tidak bisa beban mendidik anak sholeh dan sholehah hanya diberikan kepada Ibu saja. Dalam kehidupan modern ini, tantangan untuk mendidik anak semakin besar. Betapa tidak, tayangan media elektronik, internet, media cetak banyak yang mengajarkan budaya yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sungguh suatu hal yang tidak kita inginkan bukan, jika anak-anak kita menjadi orang yang durhaka pada kita, bahkan menjadi orang yang mengingkari sunnah serta menentang syariat dari Nya. Naudzabillah min dzalik

Allah SWT akan memberikan keutamaan mendidik anak berupa pahala amal jariyah bagi orang tua yang dapat mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Tentunya hal tersebut menjadi dorongan motivasi tersendiri dalam mendidik anak. Semangat saja tidak cukup, perlu bekal yang cukup dalam mendidik anak sholeh dan sholehah. Diantara point-point dalam mendidik anak sholeh dan sholehah adalah pembinaan keimanan, pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan akhlaq, pembentukan jiwa, pembentuka intelektual serta pembinaan interaksi sosial.

1. Membina keimanan anak.

Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, pembinaan keimanan dilakukan dalam dua cara yaitu, mengajarkan keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat perbuatan kita dan menanamkan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan keyakinan bahwa Allah SWT melihat perbuatan setiap hamba, diharapkan anak akan selalu berbuat sesuai dengan perintah Nya. Tentunya orang tua harus dapat membangun pemikiran yang argumentatif sesuai dengan taraf berikir anak mengenai keberadaan Sang Pencipta terlebih dahulu. Dengan adanya rasa takut terhadap Allah SWT diharapkan anak akan senantiasa menjauhi perbuatan dosa dimanapun dia berada, dalam keramaian maupun sendirian.

2. Membiasakan beribadah pada anak.

Patutlah kita mendengar perkataan Dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, “Agar akidah anak tertanam kuat dalam jiwanya, ia harus disirami dengan air ibadah dengan segala ragam dan bentuknya. Dengan begitu akidahnya akan tumbuh kokoh dan tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemput dirinya, melainkan Allah akan memberi dia pahala setara dengan 99 pahala shiddiq (orang-orang yang benar dan jujur).”

Mengajarkan anak ibadah dilakukan dengan mengajak anak melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan kemudian ibadah-ibadah sunnah. Seperti sholat wajib 5 waktu, puasa ramadhan, sholat sunnah dhuha, puasa senin kamis dan sebagainya. Orang tua harus pandai memberikan keteladanan dalam mengajarkan ibadah kepada anak-anak.

3. Pendidikan akhlak dan adab.

Akhlak adalah perangai yang dibentuk. Anak-anak mencontoh akhlaq dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tua. Dalam mendidik akhlaq anak sholeh dan sholehah peranan teladan orang tua sangat besar. Orang tua harus mampu menjadi contoh pertama dalam mengajarkan akhlaq terpuji seperti jujur, bersabar, rendah hati dan sebagainya. Orang tua juga harus bisa mendeskripsikan akhlaq-akhlaq tercela kepada anak, sehingga anak dapat menghindarinya. Orang tua terkadang harus tegas ketika anak melakukan akhlaq tercela, terutama jika hal tersebut terjadi berulang kali. Rasulullah SAW pernah memberi sanksi kepada anak yang mengkhianati amanah dengan menjewer telinga anak tersebut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar: Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni dari Abdullah bin Bisir ash-Shahabi ra. Yang berkata: “Ibuku pernah menyuruh aku menemui Rasulullah saw. dengan membawa setandan anggur. Namun, aku memakan sebagian anggur itu sebelum menyampaikan-nya kepada Rasulullah saw. Tatkala aku sampai di hadapan Rasulullah saw., beliau menjewer telingaku sambil berkata, ‘Wahai yang mengkhianati janji.’”

4. Pembentukan jiwa.

Pembentukan jiwa anak-anak dapat dilakukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, seperti belaian, bermain dan bercanda bersama, menyatakan rasa sayang secara lisan, memberi hadiah dan sebagainya. Contoh pembentukan jiwa dalam mendidik anak sholeh dan sholehah pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulullah saw. memegang dengan kedua tangannya kedua telapak cucunya, Hasan dan Husain. Kedua telapak kaki mereka di atas telapak kaki Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Naiklah.’ Lalu keduanya naik hingga kedua kaki mereka berada di atas dada Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Bukalah mulutmu.’ Kemudian beliau menciumnya dan berkata, ‘Ya Allah saya mencintainya dan sungguh saya mencintainya.’”

5. Pembentukan intelektual anak.

Allah SWT meninggikan derajat ahli ilmu dibandingkan dengan ahli ibadah. Orang tua bisa memberikan motiavasi menuntut ilmu, baik itu ilmu agama maupun sains dan teknologi. Untuk ilmu agama status mempelajarinya adalah fardhu ain, sedangkan untuk sains dan teknologi statusnya adalah fardhu kifayah. Ketika mendidik anak sholeh dan sholehah, orang tua harus dapat membimbing anak-anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang tepat, mendorong anak mempelajari bahasa Arab dan bahasa asing lain yang diperlukan, mengarahkan anak sesuai minat ilmiahnya.

Kita mungkin pernah mendengar kisah Imam Syafii yang dapat menghafal Al Quran di usia belia (7 tahun). Hal tersebut tidak lepas dari peran Ibu Imam Syafii kecil dalam mengajarkan Islam kepada beliau, memilihkan guru yang tepat dan memotivasinya. Hingga akhirnya dalam usia belasan tahun Imam Syafii sudah dapat memberikan fatwa dan pengajaran.

6. Mengajarkan interaksi dengan masyarakat.

Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, mengajarkan berinteraksi dengan masyarakat akan menimbulkan kepedulian dan tanggung jawab anak terhadap persoalan umat. Anak dapat diajak untuk melihat kehidupan petani dan diajak untuk peduli dengan mereka. Anak juga bisa sembari diajarkan hukum-hukum Islam tentang pergaulan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Diajarkan tentang pertemanan yang baik. Pahamkan juga kepada anak mengenai peran mereka dalam membantu masyarakat sehingga anak-anak kita tidak menjadi generasi yang apatis.

Itulah 6 cara mendidik anak sholeh dan sholehah dengan tepat dalam menghadapi dunia modern saat ini. Mendidik anak memang tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Maka perlu komunikasi yang baik antara ayah dan agar tanggung jawab membimbing anak-anak tidak hanya dipikul oleh bunda saja. Mari duduk bersama dan bicarakan perihal proyek besar ini.

Ayah dan bunda yang sholeh bisa menjadi sebab anak menjadi sholeh. Oleh karena itu suri tauladan dari kedua orang tua adalah keharusan. Namun hidayah tetap milik Allah, sebagaimana anak dan istri nabi Luth yang kafir di bawah asuhan seorang nabi. Dan Asiah yang beriman di bawah naungan Firaun. Maka selain upaya diatas yang kita lakukan, doa kepada Allah selalu kita dawamkan.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Menikmati Beras Zakat Fitrah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumnya seorang nenek yang menerima zakat fitrah dari tetangga di dekat rumahnya..
Nenek ini memiliki rumah peninggalan suami yang ditempati bersama anak2nya.
Kebutuhan nenek ini dipenuhi oleh anak2nya secara sederhana karena penghasilan anak2nya hanya sekedar cukup.

Dan bagaimana bila anak2nya juga menikmati/makan dari beras fitrah yang diterima nenek..
Jazakumullah..🙏🏻
Pertanyaan member

A-28

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiyawan S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Zakat fitrah termasuk ke dalam salah satu rukun Islam. Zakat dibayarkan pada bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh seorang muslim yang telah mampu melakukannya. Zakat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang disebut dengan mustahik.

Umat Islam diperkenankan untuk membayar zakat fitrah langsung kepada mustahik yang bersangkutan.

Namun, tak selamanya mustahik dapat dijumpai sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan. Karena itulah, muslim di Indonesia terbiasa membayarkan zakat fitrah melalui perantara badan amil zakat yang tersedia baik di tingkat daerah ataupun nasional.

Yang perlu dicatat, keberadaan badan amil zakat tak menghalangi orang-orang yang ingin menyampaikan zakat fitrah secara langsung pada mustahik. Keduanya sama-sama dapat membersihkan jiwa dan hati umat Islam.

Adapun beras dari memberi zakat yang diberikan kepada mustahik boleh dinikmati oleh keluarganya, selama mendapatkan Ridho dari mustahik tersebut. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Antara Dakwah dan Alwala’ Wal Baro’

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Saat berdakwah, selain menjelaskan kebenaran dan keunggulan aqidah Islam, Rasulullah ﷺ pun tak lupa sampaikan kesesatan para menyembah berhala atau apa saja yg disembah selain Allah. Al-Qur’an pun banyak jelaskan kebatilan tersebut. Inilah jalan dakwah para nabi dan para pewarisnya.

Inilah konsekwensi dari aqidah tauhid. ada yang harus diyakini dan ada yang harus ditolak dan diingkari. Itulah kandungan Laa ilaaha illallahu. Bahkan jika diperhatikan, kalimat tauhid justeru diawali oleh penolakan, Laa ilaaha… tidak ada tuhan selain Allah yabg boleh diyakini, diimani dan ditaati.

Dalam Islam memang dikenal konsep al wala wal baro; Kita bukan hanya dituntut punya loyalitas terhadap keyakinan yang kita pegang, tapi harus diiringi pula dengan pengingkaran terhadap keyakinan yang berbeda. Jadi, menerima kebenaran islam, tapi masih menganggap agama selainnya juga benar, itu tidak diterima dalam Islam.

Konsekwensinya adalah kebatilan dan penyimpangan ajaran selain Islam harus disampaikan, khususnya masalah aqidah. Agar jelas bagi kita bersikap dan ambil posisi.

Ayat yang paling tegas berbicara ttg al wala wal baro adalah surat Al-Baqarah: 256

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

“Thagut” adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Inilah keyakinan Islam yang harus dipahami umat Islam sebelum umat agama lain. Sayangnya sekarang ini, jangan umat agama lain, umat Islam sendiri ada yang belum paham soal ini. Alil-alih berusaha dan berperan berikan penguatan aqidah dan keimanan di tengah umat, justeru malah mengaburkan dan melemahkannya.

Bagaimana sikap kita dengan keyakinan agama lain? Ayat di atas surat Al-Baqarah diawali oleh pesan Allah…

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama…”

Tugas kita hanya memperjelas dan memperkokoh keimanan. Soal penganut agama lain, kita tidak pernah memaksakan mereka untuk ikut. Merekapun harus paham sikap dan keyakinan kita terhadap ajaran mereka.

Bahkan jika mereka menjelaskan keyakinan mereka kepada umat mereka dengan menyebutkan ‘kebatilan’ agama Islam versi mereka atau memberikan label-label kesesatan seperti ‘domba-domba tersesat’, kita selama ini tidak pernah ambil pusing, selama itu mereka sampaikan dalam majlis majlis ilmu mereka. Bahkan itu konsekwensi logis kalau mereka meyakini kebenaran agama mereka. Dan bagi muslim, dikatakan sesat atau bahkan kafir oleh mereka dan menurut agama mereka, justru kita anggap sebagai kebenaran agama ini. Justeru yabg bermasalah adalah kalau kita dianggap sama imannya oleh mereka.

Dalam aspek sosial pun Islam tetap mengajarkan berbuat baik, tidak menzalimi, tidak berkhianat, saling tolong menolong dan perkara-perkara sosial lainnya. Selama tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, serta tidak ada yang terlarang dalam syariat, kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada mereka…..

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Dikejar Rizki

Allah Menjamin Rizqi Penuntut Ilmu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ada seseorang ingin melanjutkan studinya, namun ia khawatir tentang rizqinya, maka apa yang harus ia perbuat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Faisal Kunhi

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Yang harus ia lakukan adalah ia bertawakkal kepada Allah; Imam Zarnuji berkata, “Seorang penuntut Ilmu sebaiknya tidak begitu perlu mementingkan urusan rizqi dan jangan sampai hatinya disibukkan dengan urusan ini.”

Abu Ja’far menceritakan bahwa Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah bin Hasan Azzubaidi, salah seorang sahabat Nabi, berkata,

“ من تفقه فى دين الله كفاه الله تعالى همه ورزقة من حيث لا يحتسب “

“Siapa yang mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupi keinginannya dan menganugerahkan kepadanya rezeki kepadanya dengan cara yang tak terduga.” (Diriwayatkan oleh ar-Rafi’i dari Abu Yusuf dan dari Abu Hanifah dari Anas dan diriwayatkan pula oleh al-Khatib dan Ibnu an-Najar dari Abu Yusuf dari Abu Hanifah dari Abdullah bin Juz’i az- Zubaidi).

Imam Zarnuji berkata dalam kitabnya “Ta’lim wa Muta’allim”, “Sesungguhnya orang yang hatinya sudah tersibukkan dengan urusan rizqi seperti pangan dan sandang, maka jarang sekali yang akan fokus dan konsentrasi mengejar kemuliaan budi pekerti dan cita-cita yang tinggi.“

Kalau saat ini orang berkata biasanya kalau orang sudah banyak uang, maka ia akan malas belajar dan melanjutkan studinya.

Maka bagi saudaraku yang ingin melanjutkan studi, luruskanlah niat belajar untuk beribadah kepada Allah bukan untuk gelar dan lain-lain, kemudian yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan untuk memberikan biaya belajarmu dari jalan yang tidak pernah engkau duga.
Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Memakan Sembelihan Tanpa Dibacakan Basmalah

Menyembelih Banyak Hewan dengan Satu Basmalah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana kalau memotong ayam banyak tapi baca bismillahnya cuma satu kali menurut islam?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Prinsip dasar pemotongan hewan yang halal menurut syariat Islam adalah: Penyembelihnya harus seorang muslim, alat yang digunakan tajam, menyembelih pada bagian leher di saluran makanan dan pernafasan dan membaca basmalah.

Terkait bacaan basmalah, jumhur ulama menyatakan bahwa perkara tersebut termasuk syarat sahnya penyembelihan apabila seseorang ingat dan mampu. Berdasarkan firman Allah taala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan…” (QS. Al-An’am: 121)

Jika ayam tersebut disembelih secara manual, maka setiap kali menyembelih pemotongnya harus membaca basmalah, tidak cukup sekali basmalah untuk sekian banyak ayam.

Adapun jika penyembelihannya menggunakan mesin khusus penyembelihan yang dapat menyembelih sekian ratus ayam sekaligus maka menurut beberapa fatwa kontemporer dari beberapa lembaga fatwa, hal tersebut dibenarkan dengan beberapa catatan;

– Mesin tersebut dioperasikan oleh seorang muslim dan membaca basmalah saat mengoperasikannya, walau sekali saja.

– Sejumlah ayam yang hendak dipotong sudah dalam keadaan siap disembelih. Jika dipersiapkan lagi kelompok ayam yang baru untuk disembelih, maka ulang lagi bacaan basmalahnya.

– Alat penyembelihan harus berupa benda tajam yang menyembelih bagian leher serta memutus saluran pernafasan dan makanan ayam tersebut.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kaidah Kemudahan Sesuai Syariat

Wanita Berobat Ke Terapis/Dokter Laki-Laki dan Sebaliknya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Apa hukumnya seorang perempuan/ ibu yang berobat terapi totok punggung pada terapis laki laki dengan pegang punggungnya tetapi dengan sarung tangan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Berobat adalah upaya masyru’ dan di dorong oleh syariat yang mulia. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan penyakit dan obatnya, dan Dia jadikan setiap penyakit pasti ada obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram.” [1]

Berobat, sebisa mungkin dengan obat yang halal dan suci, serta dilakukan dengan cara yang benar, dan dilakukan oleh orang yang tepat, agar selamat secara medis dan syariat.

Jika pasiennya laki-laki sebagusnya dokternya laki-laki, dan jika pasiennya wanita sebagusnya dokternya wanita. Kebutuhan ini menunjukkan kemestian membuka peluang bagi kaum wanita muslimah untuk menuntut ilmu kedokteran sebagaimana kaum laki-laki.

🥈Jika Keadaan Tidak Ideal

Dalam keadaan masyarakat yang normal dan wajar, saya rasa tidak sulit mencari dokter laki-laki dan wanita dengan spesialisasinya masing-masing. Sehingga kita relatif tidak sulit berobat dengan mekanisme yang dibenarkan syariat. Tapi, keadaan seperti itu tidak selalau sama di masing-masing daerah. Ada daerah minus dokter kandungan muslimah, bidan muslimah, atau semisalnya, yang ada adalah dokter laki-laki. Padahal pasien itu bisa laki-laki bisa juga perempuan, dan kesehatan serta kehidupan mereka mesti sama-sama dijaga.

Dalam keadaan seperti itu tidak mengapa seorang wanita berobat ke dokter laki-laki (atau sebaliknya jika memang dokter laki-laki yang minim), selama adab-adabnya terjaga. Di sisi lain, dalam dunia pengobatan, di dalamnya sangat memungkinkan terjadi persentuhan langsung antara dokter dan pasiennya, karena itulah cara untuk mendeteksi dan mendiagnosa penyakit.

Pembolehan ini mengingat beberapa fakta sejarah dan kaidah berikut:

1. Dalam kitab Shahih Al Bukhari terdapat sebuah bab:  Bab Mudawatin Nisa’ Al Jarha fil Ghazwi (Pengobatan Wanita untuk yang terluka dalam peperangan), juga bab: Bab Raddin Nisa’ Al Jarha wal Qatla Ilal Madinah(Wanita Memulangkan Pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)

2. Beberapa kaidah fiqih:

 الْمَشَقَّةُ تَجْلُبُ التَّيْسِيرَ

Kesulitan membawa pada kemudahan.[2]

Atau seperti yang dikatakan Imam Tajuddin As Subki:

المشقة نجلب التيسير وإن شئت قلت : إذا ضاق الأمر اتسع

Kesulitan membawa pada kemudahan, dan jika anda mau, anda bisa katakan: jika keadaan sempit maka membawa kelapangan.[3]

Kaidah ini berdasarkan firman Allah ﷻ :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ayat lainnya:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.  An Nisa’: 28)

Ada pun dalam hadits:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ   bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan persulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. [4]

Dari Aisyah  Radhiallahu ‘Anha:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه

 “Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa, jika ternyata mengandung dosa maka dia adalah orang yang paling jauh darinya.” [5]

Maka, keadaan jika sulit, sempit, payah, termasuk dalam berobat mencari yang  “seharusnya” maka tidak mengapa, dan membuatnya lapang untuk berobat dengan dokter yang ada, walau dia lawan jenis. Sebab, jika tidak demikian maka itu membuatnya jatuh dalam dharar (kerusakan yang lebih besar), dan itu justru terlarang.

Sebagaimana kaidah lain:

الضَّرَرُ يُزَالُ

Adh Dhararu Yuzaal – kerusakan mesti dihilangkan.[6]

Dalil kaidah ini  adalah:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah (2): 195)

Dan hadits Nabi ﷺ :

لا ضرر ولا ضرار

Jangan membuat kerusakan dan jangan menjadi rusak. [7]

Hanya saja ada beberapa adab yang mesti dijaga:

1. Hendaknya memakai pakaian yang sesuai syariat.

2. Jika hendak membuka bagian tubuh yang sakit, dan itu ternyata aurat, maka bukalah sesuai kebutuhan pemeriksaan, sesuai kaidah:

الضرورة تقدر بقدرها

Kondisi darurat ditakar sesuai kadar kebutuhannya. [8]

3. Jika mungkin, dokternya menggunakan sarung tangan.

4. Hendaknya ditemani oleh orang lain, baik mahram, atau ajnabi yang terpercaya.

Demikian. Wallahu A’lam wa Ilahil Musytaka

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

[1] HR. Abu Daud No. 3876, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20173. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: shahih. (Tuhfatul Muhtaj, 2/9). Imam Al Haitsami mengatakan: perawinya terpercaya. (Majma’uz Zawaid, 5/86)

[2] Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 75. 1400H-1980M. Darul Kutub Al ‘ilmiyah

[3]  Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/61. Cet. 1, 1411H-1991M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[4] HR. Al Bukhari No. 69, Muslim No. 1732

[5] HR. Al Bukhari 3560, 6126, 6786, Muslim No. 2327

[6] Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Al Kitabul Awwal, Kaidah keempat, Hal. 83. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kedua,  1/51. Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kelima, Hal. 85. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Min Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 190

[7] HR. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 268, 1033, 3777, 5193, juga dalam Al Kabir No. 1387, 11576, 11806, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 11166, 11167, 11657, 11658, 20230, 20231. Malik dalam Al Muwaththa’ biriwayah Yahya Al Laitsi No. 1429, Ibnu Majah No. 2340, 2341, Ad Daruquthni No. 83, 288, Ahmad No. 2867, Asy Syafi’i dalam Musnadnya No. 1096, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah No. 1300, dll

Imam Al Hakim mengatakan: “Shahih, sesuai syarat Imam Muslim.” (Al Mustadrak No. 2354) dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya.

[8] Syaikh Shalih bin Muhammad bin Hasan Al Asmary, Majmu’ah Al Qawaid Al Bahiyyah, Hal. 60. Cet.1, 1420H-2000M. Darush Shami’iy


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jujur

Jangan Bicara Jika Bukan Ahlinya

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Islam adalah agama yang sangat menghargai kepakaran, karenanya seseorang tidak dibenarkan berbicara kecuali ia memilki ilmu tentangnya, Allah berfirman,

“وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra: 36).

Syaikh Wahbah Zuhaili berkata tentang makna ayat di atas, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, dan janganlah kamu ikut campur dalam hal yang tidak ada hubungannya denganmu. Sesungguhnya pada hari kiamat kamu bertanggungjawab di sisi Allah atas penglihatan, pendengaran dan hati yang kamu gunakan baik dalam kebaikan atau keburukan. Dan anggota-anggota tubuh ini adalah amanat yang dititipkan di sisimu.”

Lihatlah bagaimana takutnya Abu Bakar ketika ia berkata yang bukan bidangnya, padahal dia adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasululullah, seraya berkata,

“أي سماء تظلني؟ وأي أرض تقلني؟ إذا قلت في كلام الله ما لا أعلم” “

“Langit mana tempat saya bernaung, dan bumi mana tempat saya berpijak, jika saya berkata tentang kitab Allah yang tidak saya ketahui,“ itulah komentar Abu Bakar ketika ia ditanya tentang makna “Abba” dalam surah ‘Abasa ayat 31.

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab seorang sahabat besar dan senior, tidak malu bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tafsir surah An Nasr; Umar bertanya kepadanya karena Ibnu Abbas pernah didoakan oleh Nabi saw,

“ اللهم فقهه فى الدين وعلمه التأويل “

“Ya Allah jadikanlah Ibnu Abbas orang yang dalam ilmu agamanya dan ajarkan ia ilmu tafsir.”

Riwayat-riwayat di atas juga memberikan pesan buat kita bahwa ulama itu memilki kepakarannya masing-masing, sebagaimana Umar bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tafsir karena ia tidak memiliki pengetahuannya tentangnya.

Jadi bukan sebuah aib jika seorang ulama tidak menguasai semua bidang, sebagaimana Imam Malik ketika di tanya 40 permasalahan agama, maka 36 pertanyaan ia jawab dengan “tidak tahu“.

Kepakaran itu diibaratkan seperti silet; silet bisa mencukur rambut tetapi ia tidak bisa digunakan untuk menebang pohon. Golok bisa dipakai untuk menebang pohon, tetapi ia tidak bisa digunakan untuk merapihkan rambut kita.

Maka ada ulama yang pakar di bidang fiqh tetapi ia tidak menguasai tafsir, atau ada yang pakar dalam ilmu hadist tetapi ia tidak menguasai ushul fiqh, maka itu adalah hal yang biasa.

Agar kita tidak salah dalam memahami sebuah Ilmu, maka Islam mengajarkan kita untuk bertanya kepada pakarnya. Allah SWT. berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berpengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS An Nahl: 43).

Hati-hatilah berkomentar tentang agama, apalagi jika kita tidak memilki latar belakang keilmuan dan hanya bermodalkan membaca satu atau dua buku, dan kita tidak memiliki guru untuk meluruskan pemahaman kita; ingatlah nasihat para ulama,

“ من ليس له شيخ فشيخه شيطان “

“Siapa yang tidak memiki guru, maka gurunya adalah setan.“

Berhati-hatilah berkata tentang makna ayat dalam Al Qur’an, karena kita tidak bisa sempurna memahami sebuah ayat dalam Al Qur’an tanpa mengetahui sebab turunya dan tanpa mengaitkannya dengan al hadist, karena sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an itu sifatnya global, kemudian hadist yang menjelaskannya secara rinci.

Dalam hadits disebutkan,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Masruq berkata,

اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله

“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.

Berkata tentang sesuatu yang bukan menjadi bidang kita itu seperti seseorang yang menggunakan pisau bedah untuk mengobati seseorang; memegang pisaunya sama tetapi jika yang menggunakannya bukanlah seseorang yang mempelajari ilmu kedokteran, akhirnya bukan kesembuhan yang didapat tetapi kecelakaan dan bertambahnya penyakit.

Memang Al Qur’an dan hadistnya sama, tetapi jika seseorang tidak memilki kemampuan berbahasa Arab, tidak kenal ilmu Al Qur’an, ilmu hadist, ushul fiqh dan kaidah fiqh, serta ilmu-ilmu Islam lainnya, akhirnya ia memahami ayat apa adanya tanpa mengaitkan dengan hal-hal yang kontekstual.

Hari ini kita menyaksikan di Indonesia begitu mudahnya seseorang berbicara tentang agama, berceramah ke sana dan ke sini memberikan fatwa kepada umat, padahal ia hanya seorang public figure yang baru saja bertaubat.

Ulama berkata, “تعلم ثم تكلم , “Belajarlah kemudian bicaralah.”

Ada sebuah nasihat dari Imam Syafi’i’ untuk para pemimpin karena mereka adalah orang yang sering berbicara di depan rakyatnya; jika mereka sering salah bicara, maka rakyat yang akan di rugikan, beliau berkata,

تفقه قبل أن ترأس , فإذا ترأس فلا سبيل إلى التفقه

“Belajarlah sebelum engkau menjadi pemimpin, sebab ketika engkau telah memimpin, tiada masa lagi untuk belajar.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678