surat yasin

Membaca Al-Qur’an bagi yang Junub

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Para ulama sepakat bahwa orang yang dalam keadaan junub tidak boleh membaca al-Qur’an. Dalam hal ini, Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: “Menurut madzhab kami, haram hukumnya membaca al-Qur’an bagi yang haidh dan junub, baik sedikit maupun banyak, bahkan walaupun hanya sebagian ayat. Pendapat inilah yang dipegang oleh kebanyakan ulama. ”Namun, di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, ia mengemukakan bahwa meski demikian, boleh seseorang yang junub untuk membayangkan ayat-ayat al-Qur’an di dalam hatinya tanpa melafazhkannya.

Di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, dapat juga kita temukan penjelasan Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) yang mengatakan bahwa memang haram hukumnya membaca al-Qur’an yang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya. Namun, tidak haram jika tanpa adanya tujuan membacanya seperti dalam rangka membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan atau dengan tujuan berdoa. Demikian juga yang dikemukakan oleh ‘Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H) di dalam Fath al-Aziz bi Syarh al-Wajiz: asy-Syarh al-Kabir, yaitu jika membacanya bukan dengan bermaksud membaca al-Qur’an, maka hukumnya tetap boleh, seperti mengucapkan basmalah dalam rangka mengharap keberkahan atau ketika memulai sesuatu, membaca hamdalah ketika selesai mengerjakan suatu pekerjaan, atau misalnya mengucapkan kalimat dzikir ketika menaiki kendaraan sebagaimana yang disunnahkan Nabi saw., yaitu membaca ‘subhanal-ladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin’.

Di antara dalil yang menunjukkan keharaman membaca al-Qur’an bagi yang junub adalah sebagaimana riwayat dari “Ali ibn Abi Thalib ra. yang penulis sampaikan ketika menjelaskan hukum membaca al-Qur’an bagi yang berhadats [lihat disini https://goo.gl/pyn7DM]. Ada juga riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalam Sunannya dari Ibn ‘Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qur’an.”

Riwayat lainnya, disampaikan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, dari Abu al-Gharif al-Hamdani yang mengatakan: “Ali ibn Abi Thalib berwudhu, ia berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali, mencuci wajah tiga kali, mencuci kedua tangan hingga hasta sebanyak tiga kali, kemudian membasuh kepala, lalu mencuci kedua kakinya. Beliau kemudian mengatakan: ‘Seperti inilah wudhu yang aku lihat dari Rasulullah saw.’ Lalu ia membaca sesuatu dari al-Qur’an, kemudian mengatakan: ‘Ini bagi siapa yang tidak junub, adapun yang junub, maka janganlah ia membacanya, tidak pula satu ayat’.”

Ad-Daruquthni (w. 385 H) di dalam Sunannya juga menyampaikan riwayat dari (Abdullah ibn Rawahah yang mengatakan: “Rasulullah saw. melarang salah seorang di antara kami untuk membaca al-Qur’an sedangkan ia dalam keadaan junub.”[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Makanlah yang Halal

Bolehkah Keluarga Mustahik Menikmati Zakat Fitrah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumnya seorang nenek yang menerima zakat fitrah dari tetangga di dekat rumahnya.. Nenek ini memiliki rumah peninggalan suami yang ditempati bersama anak2nya.
Kebutuhan nenek ini dipenuhi oleh anak2nya secara sederhana karena penghasilan anak2nya hanya sekedar cukup. Dan bagaimana bila anak2nya juga menikmati/makan dari beras fitrah yang diterima nenek.. Jazakumullah..🙏🏻 (Pertanyaan member A-28)

Jawaban

Oleh: Slamet Setiawan, S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Zakat fitrah termasuk ke dalam salah satu rukun Islam. Zakat dibayarkan pada bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh seorang muslim yang telah mampu melakukannya. Zakat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang disebut dengan mustahik.

Umat Islam diperkenankan untuk membayar zakat fitrah langsung kepada mustahik yang bersangkutan.

Namun, tak selamanya mustahik dapat dijumpai sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan. Karena itulah, muslim di Indonesia terbiasa membayarkan zakat fitrah melalui perantara badan amil zakat yang tersedia baik di tingkat daerah ataupun nasional.

Yang perlu dicatat, keberadaan badan amil zakat tak menghalangi orang-orang yang ingin menyampaikan zakat fitrah secara langsung pada mustahik. Keduanya sama-sama dapat membersihkan jiwa dan hati umat Islam.

Adapun beras dari memberi zakat yang diberikan kepada mustahik boleh dinikmati oleh keluarganya, selama mendapatkan Ridho dari mustahik tersebut. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Keutamaan Amalan di Bulan Dzulqo’dah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… saya mau bertanya, Apa keutamaan amalan dibulan Dzulqo’dah.dan bagaimana menjaga spirit diluar Ramadhan agar tetap bisa seperti Ramadhan? A_04

Jawaban

Oleh: Slamet Setiawan, S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dzulqadah adalah bulan ke sebelas dalam Tahun Hijriyah dan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah: 36)

Dzulqadah berasal dari bahasa Arab  ذُو القَعْدَة (dzul-qa’dah). Dalam kamus al-Ma’ānī kata dzū artinya pemilik, namun jika digandengkan dengan kata lain akan mempunyai makna tersendiri, misalnya dzū mālin (orang kaya), dzū ‘usrah (orang susah).

Kata “qa’dah” adalah derivasi dari kata “qa’ada”, salah satu artinya tempat yang diduduki. Sehingga Dzulqadah secara etimologi orang yang memiliki tempat duduk, dalam pengertian orang itu tidak bepergian kemana-mana ia banyak duduk (di kursi). Dari kata “qa’ada” ini bisa berkembang beberapa bentuk dan pemaknaan, antara lain taqā’ud artinya pensiun, konotasinya orang yang sudah purna tugas akan berkurang pekerjaannya sehingga dia akan banyak duduk (di kursi).
Dalam Lisānul ‘Arab disebutkan, bahwa bulan ke-11 ini dinamai Dzulqadah, karena pada bulan itu orang Arab tidak bepergian, tidak mencari pakan ternak, dan tidak melakukan peperangan. Hal itu dilakukan guna menghormati dan mengagunggkan bulan itu. Sehingga seluruh jazirah Arab pada bulan tersebut dipenuhi ketenangan. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak bepergiaan itu karena untuk persiapan ibadah haji.

Keistimewaan :

1. Menurut Mazhab Syafii, barang siapa berbuat kebaikan di bulan-bulan suci, maka pahalanya dilipatgandakan, dan barang siapa berbuat kejelekan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya dilipatgandaakan pula. Di samping itu,  pembayaran diyat yang diberikan kepada keluarga terbunuh di bulan-bulan suci harus diperberat.

2. Al-Thabari, sewaktu menafsirkan al-Taubah: 36, dia berpendapat bahwa kata ganti  fī hinna  di ayat itu  kembali ke bulan-bulan suci, dan dia menyebutkan dalil-dalil untuk memperkuat pendapatnya ini. Jika dikatakan bahwa pendapat ini berarti membolehkan untuk berbuat zalim di selain empat bulan suci itu, sudah barang tentu pendapat itu tidak benar, karena perbuatan zalim itu diharamkan kepada kita di setiap waktu dan di setiap tempat. Hanya saja Allah SWT sangat menekankan keempat bulan tersebut karena kemuliaan bulan itu sendiri, sehingga ada penekanan secara khusus kepada orang yang bebuat dosa pada bulan-bulan itu, sebagaimana ada penekanan secara khusus  kepada orang-orang yang memuliakannya.

Sebagai padanannya firman Allah SWT:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS al-Baqarah: 238).

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT memerintah kita untuk memelihara (melaksanakan) seluruh shalat-shalat fardlu dan tidak berubah menjadi boleh meninggalkan shalat-shalat itu dikarenakan ada perintah untuk memelihara shalat wustha. Karena perintah memelihara shalat wustha di sana untuk penekanan agar diperhatikan jangan sampai ditinggalkannya. Demikian halnya larangan berbuat zhalim pada keempat bulan suci dalam QS at-Taubah: 36

3. Bulan Dzulqadah termasuk bulan-bulan haji, sebagaimana firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS Al-Baqarah: 197)

Menurut Ibn Umar RA yang dimaksud bulan-bulan haji itu adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menurut Ibnu Abbas RA diantara sunnah Rasulullah SAW adalah melaksanakan ihram haji hanya pada bulan-bulan haji tersebut.

4. Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umrah empat kali, tiga kali diantaranya dilaksanakan pada bulan Dzulqadah dan sekali bersama ibadah haji di bulan Dzulhijjah.

قَالَ أَنَسٌ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: “اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ” متفق عليه 

Anas RA berkata: “Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali, semuanya dilaksanakan padan bulan Dzulqadah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersama ibadah Haji, yaitu umrah dari al-Hudaibiyah di bulan Dzulqadah, umrah tahun berikutnya di bulan Dzulqadah, umrah dari Ji’ranah sambil membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzulqadah, dan umrah sekalian melaksanakan ibadah haji (di bulan Dzulhijjah).” (HR al-Bukhari/ 1654 dan Muslim/ 1253).

5. Keistimewaan lainnya dari bulan Dzulqadah,  Allah SWT berjanji untuk berbicara kepada Nabi Musa as selama tiga puluh malam di bulan Dzulqadah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS Al-A’raf: 142).

Mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah di bulan Dzulqadah, sedangkan yang sepuluh malam adalah di bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir II/244)

Menjaga Spirit Ramadhan

Setelah melewati bulan suci Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal yang penuh dengan sukacita kemenangan di hari yang fitri. Walau sudah tidak berada dalam bulan Ramadhan, sebagai umat Muslim wajib untuk tetap istiqamah dan bersemangat untuk beribadah kepada Allah Swt agar terus memperoleh keberkahan dan pahala yang berlimpah.

Berikut beberapa tips mudah untuk menjaga semangat beribadah setelah Ramadhan:

1. Istiqamah melakukan hal baik

Dari ’Aisyah, Nabi SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.” HR. Muslim no. 782

Melakukan ibadah apapun merupakan sesuatu hal baik yang tentunya disukai oleh Allah SWT. Perbuatan baik tidak perlu dengan bentuk yang besar, mulai dari hal kecil seperti memberikan bantuan sedikit rezeki kepada orang yang tidak mampu dan lain lain.

2. Membiasakan berpuasa sunah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dilaksanakan pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan. Seperti puasa ayyamul bid, puasa senin/kamis, puasa arafah, puasa asyura, puasa sya’ban atau puasa daud.

Nabi SAW menyebutkan keutamaan puasa sunnah sebagai berikut: “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR. Tirmidzi).

3. Membaca Al-Quran setiap hari

Rutinitas membaca Al-Quran di bulan Ramadhan bisa menjadi cara tetap bersemangat untuk selalu beribadah kepada Allah. Meskipun intensitas membaca Al-Quran akan berbeda setelah Ramadhan, numan dengan selalu konsisten membaca satu halaman perhari akan lebih mudah. Selain itu, membaca Al-Quran setiap hari akan mendatangkan kebaikan.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

4. Bersilaturahim

Bersilahturahim merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Saat seorang muslim akan panjanglah umurnya dan lapang rejekinya. Selain itu, silaturahmi  ini juga memiliki nilai amalan pahala yang besar. Seperti dalam hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim,” (HR. Bukhari – Muslim).

Kegiatan bersilaturahim tentu mudah untuk dilakukan agar tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah lainnya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wafat Sebelum Baligh

Bayi Meninggal Apa Kena Hisab?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bayi usia 1 tahun meninggal di hisab juga apa engga?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anak kecil yang belum baligh dan dia wafat, maka dia masih berada dalam fitrahnya, yaitu wafat dalam Islam, dan tanpa hisab dan langsung ke surga. Sebab, beban syariat belum ditanggung olehnya. Tidak mungkin anak-anak yang belum tahu apa-apa itu dihisab.

Allah Ta’ala beriman:

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Rabbmu tidaklah menzalimi siapa pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat anak kecil yang wafat dalam keadaan belumm baligh, dia langsung masuk surga.

اتفق أهل العلم على أن مصير أطفال المسلمين – إذا ماتوا بعد نفخ الروح وقبل البلوغ – هو الجنة ، كرامةً من الله تعالى لهم ولآبائهم ، ورحمةً منه سبحانه الذي وسعت رحمته كل شيء

Para ulama sepakat bahwa anak kecil kaum muslimin yang setelah kehidupannya sejak ditiupkan ruh dan wafat sebelum baligh, Maka dia di surga. Itu merupakan kemuliaan dari Allah atas keislaman ayah-ayah mereka. Itu adalah Rahmat dariNya yang begitu luas atas segala hal. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 117432)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mukmin yang Paling Baik dan Cerdas

Menjadi Keluarga Cerdas Melalui Virus Corona

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

Pandemi covid19 ini luar biasa menyerang manusia, apalagi di hari-hari terakhir ini. Begitu cepatnya menyebar sehingga kita menyaksikan begitu banyak yang hàrus dirawat di rumah sakit atau harus isolasi mandiri . Alhamdulillah banyak yang sembuh dan kembali sehat, tetapi tidak sedikit juga yang wafat dan bernilai syahid. Semoga yang pernah sakit diampuni dosa-dosanya dan diberi pahala oleh Allah atas keikhlasan, kesabaran dan ikhtiarnya. Sedangkan yang wafat semoga diampuni semua dosanya, dilipatgandakan pahalanya, digolongkan menjadi para syuhada dan ahli surga.

Keluarga yang cerdas itu selalu bersiap siap untuk hari akhirat, sehingga mereka terus menjaga pola hidup yang sehat dan menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan pandai mengambil peringatan dari pandemi ini bahwa ketetapan ajal setiap hamba di sisi Allah pasti terjadi , tidak bisa ditolak atau berlari darinya sekalipun bersembunyi di balik tembok yang tinggi dan kokoh ( Surat Annisa ; 78 ).

Karena itu, jika keluarga cerdas sering mengingat kematian maka akan terus bersiap-siap menambah bekal untuk hari setelah kematiannya dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh. Sebab jika malakul maut menjemput maka tiada waktu sedikitpun untuk bertaubat dan beramal. Sedangkan bekal yang kita bawa setelah kematian untuk kehidupan selanjutnya di dalam kubur, di hari qiamat dan hari hisab serta hari akhirat hanya amal shaleh yang kita siapkan selama hidup.

Pantaslah Umar bin Abdul Aziz setiap malam mengundang para ulama untuk saling memberikan taushiyah tentang kematian, kemudian setelah itu mereka menangis karena merasa masih sedikit amalnya . Tangis mereka seperti suasana menangis di depan jenazah

Tidak heran jika Umar bin Abdul Aziz benar-benar bertanggung jawab dan berhasil menegakkan keadilan dan kesejahteraan kpd rakyatnya. Beliau menjadi khalifah yang zuhud terhadap dunia, jauh dari kemewahan dan sangat cinta terhadap hari akhirat karena dia yakin hari akhirat jauh lebih baik dan kekal selama-lamanya , sedangkan dunia ini hina dan fana. Allah berfirman :

” Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” ( Al-A’la :

Belajarlah dari para salafus shalih, mereka banyak merenung tentang kematian yang membuat mrreka bisa menjadikan hidup ini lebih bermakna untuk akhiratnya. Misalnya :

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : ” Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu menjadi lembut ” .

Abu Hazim berkata : ” Perhatikanlah setiap amal yang membuat kamu benci kematian, maka tinggalkanlah niscaya kamu tidak akan mendapatkan bahaya saat kematianmu tiba”.

Hasan Al-Bashri berkata : ” Barang siapa yang sudah mengenal kematian, maka musibah dunia menjadi ringan baginya”.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Saksikanlah! Dia termasuk mukmin!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا رأيتم الرجل يتعاهد المسجد فاشهدوا له بالإيمان فإن الله تعالى يقول ( إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ) الآية

Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang biasa ke masjid maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman.

Allah ‘azza wajalla berfirman : Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menegakkan shalat dan menunaikan zakat.

(HR. At Tirmidzi No. 2617, Ibnu Majah No. 802, Ahmad No. 11725)

Hadits ini dihasankan oleh: Imam At Tirmidzi, Imam An Nawawi, Syaikh Muhammad Ibrahim, Syaikh Ibnu Jibrin, dan lainnya.

– Tapi SHAHIH, menurut Imam Al Hakim (Al Mustadrak No. 3280), juga Imam Adz Dzahabi Talkhishnya.

– Imam Ibnu Hibban, Imam Ibnu Khuzaimah juga memasukkanya dalam kitab Shahih mereka. (Ibnu Hibban No. 1721, Ibnu Khuzaimah No. 1502).

– Dishahihkan oleh Imam Al Munawi. (At Taysir, 1/198),

– juga Imam As Sakhawi (Maqashid Al Hasanah Hal. 87),

– Imam Al ‘Ajluni (Kasyful Khafa, 1/90), dan Syaikh Ahmad Mushthafa Al A’zhami dalam Tahqiq Ibni Khuzaimah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 54303)

– Tapi Syaikh Al Albani mendhaifkannya, tapi menurutnya secara makna tetap shahih. (Tahqiq Riyadhishshalihin, 1067)

Wa Shallallahu ‘Alaihi wa aalihi wa Shahbihi wa Salam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan Membuka Aib Orang Lain

Menanyakan Keperawanan Calon Saat Ta’aruf

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah menanyakan keperawanan calon saat ta’aruf adalah sesuatu yang dianjurkan atau mubah atau tidak sepatutnya ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tata nilai disebuah masyarakat, jika itu baik dan sesuai dengan Islam, maka Islam akan menjaganya walau pada asalnya itu bukan berawal dari Islam.

Dalam pergaulan orang timur, mengaku pernah berzina itu aib besar, dan seharusnya itu ditutup. Islam pun menghargai itu, dan kita pun dilarang bertanya sesuatu yang jika dijawab malah justru menyulitkan kita.

Menanyakan “masih perawan atau tidak” itu sama saja menanyakan “pernah zina atau tidak”. Ini sangat menyakitkan buat wanita muslimah, apalagi bagi mereka yang sudah hijrah dan tidak mau mengenang masa lalu jika memang dulunya kelam. Walau ketidakperawanan bisa saja disebabkan faktor lain, tapi umumnya logika yang umum dipahami manusia adalah itu terjadi karena zina.

Allah Ta’ala telah tutup aib masa lalunya itu, maka janganlah dia membukanya, dan janganlah orang lain memancing-mancing untuk membukanya, kecuali ada alasan yang benar-benar syar’i.

Islam mengarahkan agar seseorang tidak menceritakan perbuatan aibnya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ 

Seluruh umatku mendapatkan maaf kecuali Al Mujahirun, yang termasuk “mujahir” adalah seseorang yang pada malam harinya melakukan perbuatan (buruk), pagi harinya Allah tutupi perbuatan itu, tapi dia malah berkata: “Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu”. Padahal saat dia bermalam Allah telah menutup keburukannya tapi justru dia membukanya di pagi harinya. (HR. Bukhari No. 6069)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Usia Penghuni Surga

Usia Para Penghuni Surga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah benar jika di dunia bayi meninggal tapi pas di akhirat udah dewasa?mohon penjelasannya ustadz?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, di surga usia penghuninya kisaran 30-33 tahun

يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً

Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan jurdan (tidak berbulu), murdan (tidak berjenggot), bercelak, di usia 30 atau 33 tahun. (HR. Ahmad 7920, At Tirmidzi 2545. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan: isnadnya Shahih)

Baik yang di dunia wafat dalam keadaan tua, muda, remaja, anak kecil, bayi, .. semua dalam usia kisaran 30 atau 33.

Mereka saling mengenal kerabatnya, keluarganya, ayah kepada anak dan sebaliknya, suami kepada istri dan sebaliknya .., semua dengan mudah. Allah Ta’ala yang memudahkan.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidak Akan Masuk Surga Orang yang Suka Mengadu Domba

Terkutuknya Orang Yang Suka Mengadu Domba Dan Memecah Belah

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ (رواه احمد)

Dari Abdurrahman bin Ghanam ra, dan sampai kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda “Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba-hamba yang apabila mereka dilihat, maka orang-orang (yang melihatnya) akan (berdzikir) mengingat Allah Swt. Dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba yang suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, orang yang aniaya, yang suka mencari-cari keburukan orang yang tidak bersalah.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits ;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambali dalam Musnadnya, dalam Hadits Abdirrahman bin Ghanam Al-Asy’ary, hadits no 17312.

®️ Hikmah Hadits;

1. Hamba-hamba Allah Swt terbaik adalah mereka-mereka yang apabila kita bertemu dan melihat wajah mereka, maka akan menjadikan kita berdzikir ingat kepada Allah Swt, lantaran pancaran keimanan dan keikhlasan yang membuncah dari dalam hati dan diri mereka. Maka tidak jarang, nasehatnya akan membuat hati menjadi lunak, membuat mata menjadi basah, dan membuat jiwa menjadi semakin semangat untuk beramal shaleh. Bahkan membayangkan wajah mereka saja akan menambah semangat untuk beramal shaleh.

Imam Hasan Al-Bashri, dahulu digambarkan demikian. Apabila ada seseorang yang memiliki banyak masalah dan menginginkan nasehat dari Imam Hasan Al-Bashri, maka baru bertemu dan menatap wajah beliau saja sudah meneduhkan hati, dan membuat lisan menjadi termotivasi berdzikir menyebut nama Allah Swt, sehingga seolah segala problematika yang akan disampaikan kepada beliau telah berguguran dari hati. Masya Allah…

2. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia ternyata adalah manusia yang memilik perangai buruk, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, yaitu ;

a) ( المشاؤون بالنميمة المفرقون بين الأحبة )

“Orang yang suka mengadu domba, yang suka memecah belah diantara orang-orang yang saling mengasihi.”

b) ( الباغون البرآء العنت )

“Orang yang aniaya, suka mencari-cari keburukan orang lain yang tidak bersalah.”

3. Bahwa orang yang melakukan praktik mengadu domba (namimah) seperti ini, maka kelak ia akan mendapatkan dosa besar, diantaranya adalah sebagai berikut ;

a). Akan dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam golongan seburuk-buruknya manusia (syirarun nas) sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

b). Tidak akan pernah masuk surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw;

عَنْ حُذَيْفَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ (رواه مسلم)

Dari Hudzaifah ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim, no 151)

c). Mendapatkan azab di dalam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ…(رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing…” (HR. Muslim, no 439)

d) Allah Swt akan menghempaskannya ke dalam api neraka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عن أبي ذر الغفاري : مَنْ أَشَاعَ عَلَى مُسْلِمٍ كَلِمَةً يُشِيْنُهُ بِهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، شَانَهُ اللهُ بِهَا فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البيهقي)

Dari Abi Dzar ra “Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Maka terhadap orang yang seperti ini, Allah Swt memerintahkan kita agar hati-hati, agar jauhi dan jangan sekali-kali mengikutinya. Allah Swt berfirman ;

(وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافࣲ مَّهِینٍ, هَمَّازࣲ مَّشَّاۤءِۭ بِنَمِیمࣲ, مَّنَّاعࣲ لِّلۡخَیۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِیم)

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, Suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, Yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa.” (QS. Al-Qalam 10 – 12)

5. Mudah-mudahan Allah Swt hindarkan kita semua dari keburukan dan kebusukan orang-orang seperti ini, yang selalu berjalan di tengah-tengah manusia, diantara anak bangsa dan negara untuk memecah belah, mengadu domba, membuat kekacauan, menebar fitnah, demi ambisinya semata.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Niat Wakaf Untuk Orang Yang Sudah Wafat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya ingin tanya tentang waqaf berupa dana untuk pembangunan masjid.

Saya ikut proyek waqaf pembangunan masjid di pedalaman seluruh Indonesia dengan nilai 2 M utk 1 masjid melalui komunitas ALMAZ 313 pimpinan GUZ Reza Syarif.

Pertanyaan saya….
Jika saya ikut waqaf ini senilai ¼ dari total dana yang direncanakan lalu saya niatkan waqaf ini utk keluarga besar orang tua saya ( Bani Slamet isa) apakah pahala jariyah nya bisa sampai ke semua anggota Bani Slamet isa ( orang tua, anak, cucu, mantu) ?
Karena dalam hadist ada yang mengatakan barang siapa membangun masjid di dunia maka Allah SWT akan membangunkan istana di surga. Nah apakah istana ini bisa dihuni oleh seluruh anggota Bani Slamet isa?
Karena kebetulan saya anak terakhir dari 6 bersaudara yang belum bisa berbakti kepada orang tua serta kakak2 selama ini, dan sekarang bapak ibu telah tiada.

Mohon penjelasannya Ustdz.

Jazakumullah Khairan Katsir.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Waqaf itu bagian dari sedekah, boleh diniatkan untuk orang yang sudah wafat. Pahalanya Insya Allah tetap mengalir bagi mereka. Kebolehan ini berdasarkan Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

(QS. Ath-Thur, Ayat 21)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

“Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya ibuku wafat secara mendadak, aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: “Na’am (ya), sedekahlah untuknya.”

(HR. Bukhari No. 2609, 1322, Muslim No. 1004)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata saat menjelaskan An Najm: 39:

فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

“Adapun doa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma’) akan sampai kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash syariat.”

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث جَوَاز الصَّدَقَة عَنْ الْمَيِّت وَاسْتِحْبَابهَا ، وَأَنَّ ثَوَابهَا يَصِلهُ وَيَنْفَعهُ ، وَيَنْفَع الْمُتَصَدِّق أَيْضًا ، وَهَذَا كُلّه أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan, semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.” (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 6/20. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Demikian. Wallahu a’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678