Makan, Minum, Rokok… Pembatal Wudhu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya mau nanya apakah makan,minum,dan merokok itu tidak/dapat membatalkan wudhu..mohon penjelasanya..trima kasih..

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Apakah makan bisa membatalkan wudhu? Ada beberapa rincian tentang hukum ini,

Pertama, makan daging onta
Ada hadis yang menegaskan bahwa orang yang makan daging onta, disyariatkan untuk berwudhu.

Diantaranya hadis dari  Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah  saya harus berwudhu karena makan daging kambing?”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن شئت فتوضأ، وإن شئت فلا تتوضأ

“Kalau kamu mau boleh wudhu, boleh juga tidak wudhu”.

Kemudian dia bertanya lagi,

“Apakah saya harus berwudhu karena makan daging onta?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, berwudhulah karena makan daging onta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak.

An-Nawawi menyebutkan,

فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Ulama berbeda pendapat tentang status makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah empat khulafa’ Rasyidin. Sementara ulama yang berpendapat makan daging onta membatalkan wudhu, diantaranya Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii.  (Syarh Shahih Muslim, 4/48).

An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah sahabat yang berpendapat bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu.

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Jabir bin Samurah di atas.

Kedua, makan makanan yang dimasak

Ada beberapa hadis yang memberikan kesimpulan hukum berbeda terkait makan makanan yang dimasak. Apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Kita akan simak hadisnya masing-masing.

Pertama, hadis yang mewajibkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

Hadis dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

Keterangan:

Yang dimaksud makanan tersentuh api adalah makanan yang dimasak, dengan cara apapun. (Mur’atul Mafatih, 2/22).

Kemudian hadis dari Ibrahim bin Abdillah bin Qaridz, bahwa beliau pernah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang sedang berwudhu. Kemudian Abu Hurairah bertanya, ‘Tahu kenapa saya berwudhu? Karena saya baru saja maka keju. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815, yang lainnya).

Selanjutnya, kita sebutkan hadis yang kedua, yang tidak menganjurkann wudhu setelah makan.

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu. (HR. Abu Daud 191 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian hadis dari Amr bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong daging kambing dengan pisau untuk dimakan. Kemudian datang waktu shalat. Lalu beliau letakkan pisau itu, kemudian shalat tanpa berwudhu. (HR. Bukhari 208 & Muslim 820)

Kemudian keterangan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak. (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat dalam memahami dua hadis di atas. Sebagian mengkompromikan kedua hadis itu. Dan mereka berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan untuk berwudhu karena makan makanan yang dimasak dipahami sebagai perintah anjuran. Sehingga makan makanan yang dimasak tidak membatalkan wudhu, namun dianjurkan untuk wudhu. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/59).

Ada juga yang memahami bahwa hadis Jabir menjadi nasikh (menghapus hukum) hadis yang memerintahkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

At-Turmudzi dalam Sunannya setelah menyebutkan hadis Jabir, beliau mengatakan,

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم مثل سفيان الثورى وابن المبارك والشافعى وأحمد وإسحاق رأوا ترك الوضوء مما مست النار. وهذا آخر الأمرين من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. وكأن هذا الحديث ناسخ للحديث الأول حديث الوضوء مما مست النار

Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelahnya. Seperti Sufyan at-Tsauri, Ibnul Mubarok, as-Syafii, Ahmad, Ishaq. Mereka berpendapat tidak perlu wudhu karena makan makanan yang dimasak. Itulah hukum terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah ini adalah hadis yang menghapus hukum untuk hadis pertama, yaitu hadis perintah wudhu karena makan makanan yang dimasak. (Jami’ at-Turmudzi, 1/140).

insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Ketiga, selain jenis makanan di atas.

Selain onta dan makanan yang dimasak, seperti buah-buahan, atau makanan yang dimakan tanpa dimasak, tidak ada kewajiban berwudhu. Karena hukum asal bukan pembatal wudhu, kecuali ada dalil bahwa itu membatalkan wudhu.

Sedangkan merokok, para ulama memfatwakan bahwa rokok bukan termasuk pembatal wudhu. Sebagaimana makan dan minum tidak membatalkan wudhu. Demikian keterangan Imam Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa dan Risalah beliau jilid kesepuluh. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamimiyah, dalam fatwa no. 31004 dinyatakan:

فالتدخين لا ينقض الوضوء ولا يعلم في ذلك خلاف

“Merokok, tidak membatalkan wudhu. Tidak diketahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Namun ada satu hal yang lebih penting untuk kita perhatikan.

Semua orang sepakat bahwa rokok meninggalkan aroma tidak sedap di mulut. Tidak hanya orang lain, bahkan para perokok sendiri mengakui demikian. Anda bisa buktikan dengan banyaknya wanita yang mengeluh karena dia memiliki suami perokok. Setidaknya, keberadaan rokok di keluarga itu telah mengurangi romantisme suami istri.

Dari sisi medis juga, semua sepakat bahwa merokok memiliki banyak efek negatif bagi kesehatan daripada manfaatnya. Maka kami sangat menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (HR. Malik no. 1234, Ibnu Majah no. 2331). Demikian.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Memuliakan, Mencintai, dan Menghormati Ulama

Assalamualaikum, sebelumnya saya minta maaf saya gatau apa apa, saya mohon bimbingan nyaa, saya hanya bertanya apa yg saya tidak tau, agar saya bisa belajar dan dapat pengetahuan, saya ingin bertanya, apakah di alquran kita di wajibkan mencintai para ulama? Mohon maaf , saya cuma ingin bertanya. Supaya saya dapat pengetahuan baru.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah .. Bismillah wal Hamdulillah ..

Ya, anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (org2 berilmu), sangat banyak, baik Al Quran dan As Sunnah.
Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula ..

Misalnya:

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sbg tempat bertanya

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (Qs. An Nahl: 43)

Berkata Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب

.Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon)

 Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

 Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)

Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kpd Allah

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir: 28)

Allah Ta’ala mengangkat derajat org beriman dan berilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa sj:

Bukan Umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.”

(HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,”   yakni:

1.       Tidak menghormati orang besar/orang tua.

2.       Tidak sayang dengan yang kecil

3.       Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!):

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang m

elepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya .. (Hr. Al Bukhari No. 6021)

Para ulama, amilin (org yg beramal shalih), shalihin, zahidin (org yg zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat  musuh-musuh mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Membangun Masjid dgn Meminta Sumbangan di Jalan

Assalamualaikum Wr.Wb Ibu ustadzah, saya mau tanya bagaimana hukumnya dalam Islam jika ada sekelompok orang meminta-minta di tengah jalan untuk pembangunan mesjid. Sangat mengganggu sekali karena setel lagu Qasidahan dan orangnya berbicara sangat keras menggunakan mick… trus di jalanan pasang 5 drum dan tambang besar dan kursi…. mohon jawabannya terima kasih.

Jawaban:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Tentang pembangunan masjid. Niat mereka sesungguhnya baik mengajak setiap yang lewat untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid. Akan tetapi niat baik saja tidak cukup, terbukti banyak yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan itu mempermalukan Islam. Mengganggu karena  suara keras, macet dan masih banyak lagi komentar. Lantas bagaimana dalam Islam hukumnya?
Hukum asal memotivasi orang untuk menyumbang mesjid boleh. Akan tetapi kalau pelaksanaannya mengganggu ketertiban umum. Jalan jadi macet atau berpotensi terjadi kecelakaan atau menimbulkan kemudharatan ini tidak boleh.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Kisah Sarah Istri Ayahanda Para Nabi

 قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” (QS Hud : 72)

Sarah adalah seorang perempuan berparas sangat cantik. Ia menikah dengan anak pamannya yaitu Ibrahim AS. Namun Allah memberinya cobaan dengan tak kunjung hadirnya si buah hati. Dan ia bersabar. Hingga datanglah suatu masa dimana sangat sulit sekali untuk mendapatkan makanan. Tidak ada yang memiliki makanan kecuali Namruz raja yang dzalim. Dan orang-orang berbondong-bondong pergi kepada Namruz untuk mendapatkan makanan dengan syarat mereka harus menyembah Namruz.

Dalam situasi seperti itu, nabi Ibrahim AS membawa istri dan hartanya yang tersisa untuk menyelamatkan aqidah menuju Mesir. Dan di Mesir…penguasa kejam Fir’aun mendengar kabar bahwa seorang perempuan cantik sedang berjalan menuju Mesir bersama Ibrahim dari negeri Syam. Ia menginginkan perempuan itu untuknya. Akan tetapi Allah melindungi perempuan itu dari kebejatan akhlak Fir’aun. Ketika Fir’aun hendak menyentuhnya, tiba-tiba tangannya lumpuh. Sambil menggigil ketakutan, Fir’aun berkata: “berdo’alah kepada Tuhanmu dan aku tidak akan menyakitimu selamanya.” Maka Sarah berdo’a kepada Allah dan sembuhlah tangan Fir’aun. Kemudian Fir’aun memberinya hadiah yaitu Hajar serta hadiah-hadiah lain yang sangat banyak. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Sarah melakukan shalat dan berdo’a kepada Allah : Ya Allah…sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku beriman kepadaMu dan kepada rasulMu, maka jagalah kehormatanku kecuali hanya untuk suamiku dan janganlah Engkau jadikan orang kafir menodaiku.”
Sebuah cerita menyebutkan bahwa Allah membuka pandangan yang menghalangi antara Ibrahim dan Sarah. Ibrahim bisa terus memperhatikan Sarah sejak ia diambil dari sisinya hingga ia kembali ke sisinya. Dan Ibrahim melihat bagaimana Allah menjaga Sarah dari kejahatan Fir’aun. Yang menjadikan hatinya tenang.

Pulanglah Ibrahim dan Sarah ke Palestina melewati nabi Luth AS dan kaum Sadum di Amuroh (Yordania).

Lama waktu berselang namun Sarah tak juga memiliki anak. Ia pun menghadiahkan Hajar kepada suaminya untuk dinikahi agar segera mendapatkan keturunan yang didamba.

Suatu sore…datanglah malaikat dalam bentuk pemuda yang sangat tampan. Mereka adalah Jibril, Mikail dan Isrofil alaihimus salam. Saat mereka datang, nabi Ibrahim berada di pintu rumahnya. Sifat dermawannya menyegerakan ia untuk menyembelih kambing, memasaknya dan menghidangkannya demi memuliakan para tamu. Namun para malaikat menolaknya karena mereka tidak makan. Nabi Ibrahim merasa takut kepada mereka.

  وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (٦٩) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ

69.Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, “Selamat.” Dia (Ibrahim) menjawab, “Selamat (atas kamu),” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
70. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, “Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.” (QS Luth : 69-70)

Para malaikat berkata kepada nabi Ibrahim: “Janganlah engkau takut, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu kepadamu. Kami diutus untuk menghancurkan kaum nabi Luth.” Sarah yang berdiri disamping Ibrahim terlihat sangat cemas. Ia mengkhawatirkan Luth yang masih memiliki hubungan saudara dengan Ibrahim. Kemudian Ibrahim berkata: “Akan tetapi Luth berada ditengah mereka. Bagaimana mungkin kalian menghancurkan suatu kaum yang disana ada seorang nabi?” Malaikat menjawab: “Tak perlu khawatir akan Luth, sesungguhnya Allah menyelamatkannya bersama orang-orang yang beriman kepadanya. Allah tidak menimpakan keburukan kepadanya kecuali pada istrinya. Ia termasuk orang-orang yang binasa.” Allah SWT berfirman :

 وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ (٣١) قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

31. Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sungguh, Kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zalim.”
32. Ibrahim berkata, “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Mereka (para malaikat) berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS Al-Ankabut:31-32)

Kemudian para malaikat berpamitan..namun sebelum mereka berpaling, mereka menyampaikan kabar gembira mengenai akan hadirnya Ishak ditengah keluarga mereka. Dan Ishak akan memiliki anak yang bernama Ya’qub.

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ 7الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73)

” Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran)Ishak dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya’qub. Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahli bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”(QS Hud:71-73)

Saat itu usia Sarah sudah 70 tahun.

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)

Kemudian istrinya datang memekik (tercengang), lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka menjawab, “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Adz Dzariyat:29-30)

Sarah hidup hingga usia 127 tahun. Saat wafat ia dimakamkan di kota Al-Kholil di sebidang tanah milik nabi Ibrahim AS. Semoga Allah limpahkan keberkahan kepada ibunda Sarah.

Hikmah kehidupan :

1. Paras cantik yang Allah berikan kepada kaum perempuan adalah amanah dan juga ujian. Maka hendaknya amanah itu dijaga dan dipelihara agar hanya suami saja yang berhak untuk menyentuh dan menikmatinya. Karena ia yang membuka jalan halal melalui pernikahan.
2. Menjaga kehormatan diri dalam kondisi sulit sekalipun, merupakan kewajiban seorang istri.
3. Hijrah adalah sunnah para nabi. Pergi meninggalkan satu tempat menuju tempat lain untuk menyelamatkan aqidah. Saat ditempat asal ia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan.
4. Cobaan itu akan kita temui dimanapun kita berada.
5. Sebaik-baik perlindungan adalah perlindungan Allah. Maka mintalah perlindungan hanya kepadaNya. Ia akan memberikan perlindungan bahkan dengan cara diluar dugaan dan kemampuan kita. Disinilah letak kemurnian aqidah.
6. Do’a adalah senjata terbaik seorang mukmin. Berdo’alah dalam situasi dan kondisi apapun. Karena Allah sangat menyukai seorang hamba yang berkeluh kesah hanya kepadaNya.
7. Kejahatan yang dilakukan seseorang tidak selamanya harus dihadapi dengan sikap keras. Dalam kondisi tertentu, do’a lebih ampuh dari pada perlawanan.
8. Do’a yang kita lantunkan, perlu disampaikan secara definitif. Apa saja yang kita minta dan kita butuhkan.
9. Memuliakan tamu adalah akhlak para nabi. Dan menjamu mereka merupakan akhlak mulia.
10. Kedermawanan seseorang terlihat dan terasah saat ia menjamu tamunya.
11. Kita perlu memperhatikan penampilan ketika bertamu ke rumah orang lain. Upayakan agar penampilan menarik dan segar sehingga membawa aura segar kepada tuan rumah.
12. Kesabaran dan pengorbanan yang panjang akan berbuah anugerah yang indah. Jika semua masalah diserahkan kepada Allah. Disertai ikhtiar yang maksimal.
13. Tidak ada hal mustahil bagi Allah. Jika Ia berkehendak, apapun akan dapat terjadi. Bahkan kehamilan seorang perempuan di usia tua (70 tahun)
14. Berita gembira harus disyukuri. Minimalnya dengan menampakkan wajah ceria saat menerima berita itu.
15. Usia panjang adalah anugrah dari Allah. Maka bersyukurlah atas usia yang Allah berikan. Dan semoga kita mampu mengisi waktu dalam usia kita dengan hal-hal bermanfaat yang mendatangkan ridho dan pahala Allah.

اَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya :
Ya Allah! Panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wallohu a’lam bish showwab

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

Setiap Kita Pasti Bisa Sukses

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar semuanya? Semoga Allah selalu mencurahkan Rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih dalam iman islam.

Bayangkan, rasakan, dan dengarkan, seakan dirimu punya banyak tombol di pikiranmu. Ada tombol “malas”, ada tombol “ah, nanti dulu”, ada tombol “cuek”, tapi ada pula tombol “kerja keras”, tombol “move on”, juga tombol “semangat”.

Keyakinan Menentukan Masa Depan
Salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan adalah keyakinan bahwa kita bisa sukses.

Yakinlah kamu bisa
Yakin dan percaya bahwa kita bisa tidak hanya berlaku dalam hal pelajaran. Semua cita-cita dan impianmu harus diiringi keyakinan bahwa suatu saat nanti kami bisa mencapainya.

Bangun Percaya Dirimu
Kita memang punya kekurangan, tapi jangan terpaku dengan kekurangan kita. Yakinlah bahwa kita punya keunikan dan kelebihan yang bisa dikembangkan.

Buktikan Kamu Bisa
Jangan takut jika orang lain menganggap impianmu tidak bisa tercapai. Buktikan bahwa kamu bisa mencapainya, mulailah usaha dari sekarang dan dengan sungguh-sungguh.

Tuliskan Impianmu
Tuliskan supaya bisa mengingat impian itu, hal itu akan membuat kita terus bersemangat.

Sukses Butuh Proses
Semua keberhasilan butuh proses, melalui berbagai jalan, yang terkadang tidak mudah. Segeralah bertindak!

Selain hal-hal diatas, beberapa hal berikut ini juga sangat penting untuk mencapai kesuksesan :
● Jangan menyerah
● Gunakan waktumu dengan bijaksana
● Kerja keras, tawakal, terus berdoa
● Hindari mengeluh, malas, dan menunda
● Ubah kebiasaan buruk, ganti dengan kebiasaan positif.

Referensi :
Zainudin, Akbar. _Man Jadda wajadda for teen_.2014.Jakarta: Zikrul Hakim

Oleh: Ustadzah Heni & Tim

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-3

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut:

http://www.manis.id/2017/01/tauhidullah-mengesakan-allah-bag-2.html?m=1

3. Ketiga: Tauhid Asma dan Sifat

Tauhid ini merupakan keyakinan yang kokoh terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah   tanpa melakukan ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil terhadap nama-nama Allah. Berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف : 180] Hanya milik Allah asmaa-ul husna,  (nama-nama yang terbaik) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al Aa’roof: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا [الإسراء : 110]

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Al Isra: 110)

Maksudnya Allah memiliki nama-nama yang agung dan indah agar manusia memohon dan memelas dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Jangan berlebihan dalam memperlakukan Nama-nama Allah seperti orang yang beranggapan Allah serupa dengan Makhluk-Nya karena dari nama dan sifatnya ada kesamaan dengan Allah.

Nama-nama itu tidak boleh pula dita’wil atau diterjemahkan maksud-maksudnya di luar pengertian bahasa Arab, tidak boleh dithatil atau ditiadakan, juga dipertanyakan bentuknya (takyif) atau diserupakan dengan makhluk ciptaan-Nya (tamtsil). Allah berfirman,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Allah diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Allah menolak jika ada sesuatu yang dianggap menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

Sikap para sahabat Nabi, tabi’in dan ulama Ahlus Sunnah dalam hal asma’ dan sifat Allah adalah mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan).

Sikap terhadap Nama-nama Allah ini termasuk pengertian beriman kepada Allah.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui keterangan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, “Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk Diri-Nya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits”.

Sejarah mencatat Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil.

Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

Maknanya setiap sifat Allah sudah dimengerti secara bahasa, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk.

Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, Af’al (perbuatan), Sifat-sifat, yang  tidak ada satu pun yang menyamaiNya, “walam yakunlahu kufuwan ahad” (tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya).

Setiap anggapan yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts harus ditolak, sebab Allah Subhannahu wa Ta’ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.

Sesungguhnya dalam segala hal Allah memiliki kesempurnaan yang paripurna, tanpa batas. Dan mustahil baginya mengalami huduts (baru), karena mustahil bagiNya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts (baru) mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

Kita beriman dengan dalil Al Qur-an,

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-hadiid: 3)

Maka madzhab ulama salaf dalam meyakini Asma dan Sifat Allah adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya.

Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh Allah dan RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

(Bersambung)

Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Kehati-hatian dalam Makanan

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh ustadz/ah….kalau dapat kiriman makanan dari non-Muslim yang bukan snack kemasan (tapi dimasak dirumah), dan kita tahu mereka dirumah masak babi untuk konsumsi mereka sendiri, gak boleh dong? Walaupun daging yang dibeli halal.

Jawaban :
—————-

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita sudah tahu kondisinya demikian, untuk kehati-hatian sebaiknya tidak dikonsumsi. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa halal dan haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada syubhat.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (Shahih Bukhari nomor 50).

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Jangan Remehkan Urusan Sebab Kehidupan Bisa Berubah !

Shalat sunah dua rakaat sebelum subuh senilai dunia dan isinya

Memindahkan duri dari jalan adalah cabang dari iman

Lidah yang lentur bisa menjerumuskan pemiliknya ke neraka

Memberi minum seekor anjing kehausan dapat melindungi pelakunya dari api neraka

Jadi, kebaikan apa pun lakukan saja .., keburukan sekecil apa pun jauhilah …

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

Jangan remerhkan kebaikan sedikit pun walau menoleh ke  saudaramu dengan wajah ceria. (HR. Muslim No. 2626)

Ahli hikmah mengatakan:

الطيور تأكل النمل، وعندما تموت فإن النمل يأكلها .. الظروف قد تتغير .. فلا تقلل من شأن أحد.

Burung memakan semut, namun di saat burung mati semutlah yang memakannya …, keadaan itu bisa berubah … maka jangan kecilkan satu pun urusan

Wallahu A’lam

By: Farid Nu’man Hasan

Tidak Mudah Menyatukan Ummat, Kepentingan Bersama Tidak Selalu Menjadi Prioritas

Penaklukan kota Tunis – 16 Agustus 1534

Penaklukan kota ini terjadi pada hari Ahad 6 Safar 941 Hijriah (16 Agustus 1534) ketika kota Tunis diserbu dan dikuasai oleh Khairuddin Barbarossa dari Muley Hasan, penguasa dari Emirat Hafsiyah yang berpihak kepada Kerajaan Habsburg di Spanyol. Tunis kini merupakan ibukota negara Tunisia.

Latar Belakang

Pada tahun 1533, Sultan Suleiman I Kanuni memerintahkan admiralnya, Khairuddin Barbarossa, untuk membangun armada laut dalam jumlah yang besar untuk masa itu. Khairuddin berlayar dari pangkalannya di Aljazair ke İstanbul untuk mengawasi pembangunam armada tersebut. Sepanjang musim dingin 1533-34 berhasil dibangun 70 galley dengan awak sebanyak 1.200 budak.

Operasi Kilat

Dengan mengandalkan armada baru ini, Khairuddin melakukan manuver agresif di sepanjang pantau Italia sebelum menyerbu Tunis. Kota pelabuhan Tunis waktu itu menutup diri dari kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani serta memihak pada Kerajaan Habsburg yg berada di Spanyol.

Khairuddin Barbarossa kemudian menjadikan Tunis sebagai salah satu pangkalannya untuk operasi militer di Laut Mediterranean bagian tengah; termasuk untuk memantau aktivitas pasukan salib yang juga memiliki pangkalan di Pulau Malta.

Kelanjutan

Atas permohonan Muley Hasan dari Emirat Hafsiyah kepada Raja Charles V maka pada tahun 1535 menyerbu dan merebut kembali kota Tunis.

Agung Waspodo, demikian untuk diketahui bahwa untuk kepentingan yang lebih strategis maka berposisi merangkul entitas lokal mungkin akan berdampak positif dalam jangka panjang. Setelah 481 tahun kemudian, lebih 5 hari.. Agustus memang padat dan saya keteteran..

Depok, 21 Agustus 2015

By: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Adab di Kamar Mandi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Minta dalil yang menerangkan kalau di kamar mandi tidak boleh nyanyi atau berlama-lama dan wudhu tanpa pakaian.

Jawaban :

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalil yang menjelaskan tidak boleh berlama lama di kamar mandi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ
“Sesungguhnya tempat buang hajat ini telah didiami (oleh syetan)..” (HR Ahmad: 4/373, Ibnu Majah: 296, Ibnu Hibban: 1406)

Maka jika salah seorang dari kalian hendak memasuki kamar mandi (WC), ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَ اْلخَبَائِثِ

Allahumma innii a’uudzu bika minal-khubusyi wal-khabaaisyi.

“Yaa Allah… Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan Syaithon laki-laki dan Syaithon perempuan.” (HR. Bukhori 142, Muslim 375). [1]

Diantara tanda suksesnya iblis menggoda yaitu.mereka yang berlama lama.di kamar mandi seperti main hp, bernyanyi. Meroko atau hanya bermain main air.

Wudhu tanpa pakaian
Sepanjang syarat dan rukunnya di penuhi wudhu nya sah.akan tetapi kita bicara  sebaiknya tidak hanya dari sudut fiqh saja tapi juga perhatikan dari sisi adab. Menghadap orang saja kita malu bahkan kita akan memakai pakaian terbaik kita saat kita dipanggil orang penting atau tokoh. Nah apalagi ini.kita akan mengahadap Allah raja di raja penguasa Alam semesta dan harusnya kita lebih malu lagi karena Allah sudah memberi rezqi terbaik buat kita kenapa sebelum berwudhu kita tidak berpakaian baik dulu atau paling tidak ada tabir penutup aurat. Rasulullah bersabda

فَالله أَحقّ أَنْ يستحيا مِنْهُ

“Allah lebih layak seseorang itu mallu kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Wallahu a’lam.


Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana