Pegang Teguh Tali Allah

SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUS SUNNAH MENGHADAPI PERSOALAN QUNUT SHUBUH (Bag-1)

Pemateri: Ust. FARID NU’MAN HASAN SS.

Persoalan membaca doa qunut pada shalat shubuh ketika i’tidal kedua, merupakan perselisihan fiqih sejak zaman para  sahabat Nabi.

Ini termasuk perselisihan yang paling banyak menyita waktu, tenaga, fikiran, bahkan sampai memecahkan barisan kaum muslimin.

Sebenarnya, bagaimanakah sebenarnya masalah ini?

Benarkah para Imam Ahlus Sunnah satu sama lain saling mengingkari secara keras, sebagaimana perilaku para penuntut ilmu dan orang awam yang kita lihat hari ini dari kedua belah pihak?

Kali ini, saya tidak akan membahas qunut pada posisi, “Mana yang lebih benar, qunut atau tidak qunut?” yang justru kontra produktif dengan tema yang sedang saya bahas.

Walau dalam keseharian saya lebih sering berqunut subuh karena begitulah kebiasaan di daerah saya tinggal sejak kecil sampai sekarang.

Mereka yang berqunut dan juga yang tidak berqunut adalah saudara seiman yang harus dijaga perasaannya dan dipelihara hubungannya.

Tidak saling mengingkari, lantaran keduanya berpijak pada pendapat para Imam Ahlus Sunnah, yang masing-masing  memiliki sejumlah dalil dan alasan yang dipandang kuat oleh mereka.

Sedangkan para imam kita telah menegaskan kaidah,

“Al Ijtihad Laa Yanqudhu bil Ijtihad (Suatu Ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh Ijtihad lainnya), ” dan

“Laa inkara fi masaail ijtihadiyah (tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihadiyah).”

Qunut Shubuh Benar-Benar Perselisihan Eksis Sejak Dahulu

Kita lihat peta perbedaan ini, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama sebagai berikut:

Berkata Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya sebagai berikut:

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْقُنُوتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يُقْنَتُ فِي الْفَجْرِ إِلَّا عِنْدَ نَازِلَةٍ تَنْزِلُ بِالْمُسْلِمِينَ فَإِذَا نَزَلَتْ نَازِلَةٌ فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ لِجُيُوشِ الْمُسْلِمِينَ

“Para Ahli ilmu berbeda pendapat tentang qunut pada shalat fajar (shubuh),

Sebagian  Ahli ilmu dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan lainnya berpendapat bahwa qunut ada pada shalat shubuh, dan ini adalah pendapat Malik dan Asy Syafi’i.

Sedangkan, Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali saat nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin. Jika turun musibah, maka bagi imam  berdoa untuk para tentara kaum muslimin.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

Berkata Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah :

اختلفوا في القنوت، فذهب مالك إلى أن القنوت في صلاة الصبح مستحب، وذهب الشافعي إلى أنه سنة وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا يجوز القنوت في صلاة الصبح، وأن القنوت إنما موضعه الوتر وقال قوم: بيقنت في كل صلاة، وقال قوم: لا قنوت إلا في رمضان، وقال قوم: بل في النصف الاخير منه وقال قوم: بل في النصف الاول منه

“Mereka berselisih tentang qunut,
Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh adalah sunah, dan Asy Syafi’i juga mengatakan sunah, dan

Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat shubuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir.

Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat.
Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan.
Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.”

(Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz. 1, Hal. 107-108. Darul Fikr)

Juga diterangkan di dalam kitab Al Mausu’ah sebagai berikut:

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ . قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَنُدِبَ قُنُوتٌ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ دُونَ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ قَبْل الرُّكُوعِ ، عَقِبَ الْقِرَاءَةِ بِلاَ تَكْبِيرٍ قَبْلَهُ  .
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَال ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، يَعْنِي بَعْدَ مَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَلَمْ يُقَيِّدُوهُ بِالنَّازِلَةِ .
وَقَال الْحَنَفِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ قُنُوتَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ إِلاَّ فِي النَّوَازِل  وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ   ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : – أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ   وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَشْرُوعِيَّةَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ مَنْسُوخَةٌ فِي غَيْرِ النَّازِلَةِ

“Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) dan Asy Syafi’iyah (pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat bahwa doa qunut pada shalat shubuh adalah disyariatkan. Berkata Malikiyah: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan)  pada shalat shubuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir dulu.

Kalangan Asy Syafi’iyah mengatakan: qunut disunahkan ketika i’tidal kedua shalat shubuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) mengatakan: Tidak ada qunut dalam shalat shubuh kecuali qunut nazilah.

Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, tsumma tarakahu ( kemudian beliau meninggalkan doa tersebut).” (HR. Muslim dan An Nasa’i).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat shubuh, kecuali karena mendoakan atas  sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban).

Artinya, syariat berdoa qunut pada shalat shubuh telah mansukh (dihapus),  selain qunut nazilah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/321-322. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

Sedikit saya tambahkan, bahwa hadits Ibnu Mas’ud  yang dijadikan hujjah oleh golongan Hanafiyah dan Hanabilah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, lalu beliau meninggalkan doa tersebut.

Merupakan hadits shahih, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al Masajid wa Mawadhi’ Ash Shalah Bab Istihbab Al Qunut fi Jami’ish Shalah Idza Nazalat bil Muslimina Nazilah, No. 677.

Ada pun hadits Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat shubuh, kecuali karena mendoakan atas  sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.

Disebutkan oleh Imam Az Zaila’i, bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan penulis At Tanqih mengatakan, hadits ini shahih. (Al Hazifh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, 3/180. Mawqi’ Al Islam)

Sedangkan dalil  pihak yang menyunnahkan qunut shubuh, yang digunakan oleh kalangan Asy Syafi’iyah dan Malikiyah adalah  riwayat dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan qunut shubuh sampai faraqad dunia (meninggalkan dunia/wafat).

(HR. Ahmad No. 12196. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 2/201. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 4964. Ath Thabarani, Tahdzibul Atsar, No. 2682, 2747, katanya: shahih. Ad Daruquthni No. 1711.
Al Haitsami mengatakan: rijal hadits ini mautsuq (bisa dipercaya). Majma’ Az Zawaid, 2/139)

Sementara Al Hafizh Az Zaila’i menyebutkan riwayat dari Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya, lafaznya dari Rabi’ bin Anas:

Ada seorang laki-laki datang kepada Anas bin Malik dan  bertanya:

“Apakah Rasulullah berqunut selama satu bulan saja untuk mendoakan qabilah?”

Anas pun memberikan peringatan padanya, dan berkata: “Rasulullah senantiasa berqunut shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.”

Ishaq berkata: hadits yang berbunyi: tsumma tarakahu  (kemudian beliau meninggalkannya) maknanya adalah beliau meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah dalam qunutnya.” (Nashbur Rayyah, 3/183)

Jadi, bukan meninggalkan qunutnya, tetapi meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah yang beliau doakan dalam qunut nazilah.

Imam Asy Syaukani, menyebutkan dari Al Hazimi tentang siapa saja yang berpendapat bahwa qunut shubuh adalah masyru’ (disyariatkan), yakni: kebanyakan manusia dari kalangan sahabat, tabi’in, orang-orang setelah mereka dari  kalangan ulama besar, sejumlah sahabat dari khalifah yang empat, hingga sembilan puluh orang sahabat nabi, Abu Raja’ Al ‘Atharidi,  Suwaid bin Ghaflah, Abu Utsman Al Hindi, Abu Rafi’ Ash Shaigh, dua belas tabi’in, juga para imam fuqaha seperti Abu Ishaq Al Fazari, Abu Bakar bin Muhammad, Al Hakam bin ‘Utaibah, Hammad, Malik, penduduk Hijaz, dan Al Auza’i.

Dan, kebanyakan penduduk Syam, Asy Syafi’i dan sahabatnya, dari Ats Tsauri ada dua riwayat, lalu dia (Al Hazimi) mengatakan: kemudian banyak manusia lainnya.

Al ‘Iraqi menambahkan sejumlah nama seperti Abdurraman bin Mahdi, Sa’id bin Abdul ‘Aziz At Tanukhi, Ibnu Abi Laila, Al Hasan bin Shalih, Daud, Muhammad bin Jarir, juga sejumlah ahli hadits seperti Abu Hatim Ar Razi, Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Abdullah Al Hakim, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, Al Khathabi, dan Abu Mas’ud Ad Dimasyqi. (Nailul Authar, 2/345-346).

Itulah nama-nama yang meyetujui qunut shubuh pada rakaat kedua.

Nah, demikian peta perselisihan mereka, dan juga sebagian kecil dalil-dalil  kedua kelompok.

⚠ Pastinya, sekuat apapun seorang pengkaji meneliti masalah ini, dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini, bahwa memang KHILAFIYAH ini benar-benar wujud (ada). ⚠

Maka, yang lebih esensi dan krusial pada saat ini adalah:
“ Bagaimana mengelola perbedaan ini menjadi kekayaan yang  bermanfaat, bukan warisan pemikiran yang justru membahayakan ”

Selanjutnya, kita akan lihat bagaimana sikap para Imam Ahlus Sunnah menyikapi perselisihan qunut shubuh ini.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

URGENSI KELUARGA SAKINAH, KELUARGA  ISLAMI (Bag-2)

📝 Pemateri: Ustadzah Aan Rohana Lc. M Ag.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia dapat menyelamatkan  manusia dari krisisis moral melalui pembentukan keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Karena itu keluarga muslim harus kembali kepada ajaran Islam, sebab  Islam telah memberikan perhatian yang besar dalam membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah yang selalu diberkahi Allah SWT.

Hal tersebut telah terbukti dalam sejarah bahwa Rasulullah dan para sahabat mampu menciptakan rumah sebagai surga dalam suka dan duka serta mereka sukses melahirkan generasi terbaik dalam sejarah kehidupan manusia.

Berkeluarga harus diawali dengan akad pernikahan yang sah sebagai ikatan bersatunya suami istri.

Akad nikah yang sah harus berdasarkan alquran dan hadits Rasulullah. Sebab pernikahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W.

من رزقه الله امراة صالحة فقد اعانه علي شطر دينه فليتق الله  في الشطر الباقي

Artinya: ” Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah berupa wanita shalihah, maka Allah telah menolongnya setengah dari agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lain”. ( HR. Thabroni dan Hakim).

Dengan pernikahan yang sah sesuai Quran dan hadis maka bertambahlah kasih sayang antara suami istri.

Masing-masing akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. 30 : 21 yang sudah ditulis diatas .

ومن اياته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة ان في ذالك لأيات لقوم يتفكرون

Artinya: ” Dan dari tanda2 kebesaran-Nya adalah  Dia telah menciptakan untuk kalian pasangan dari jiwa kalian sendiri agar kalian merasa tenang dan senang kepadanya dan Dia telah menjadikan  rasa  cinta dan kasih sayang diantara kalian. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu terdapat tanda2 kebesaran Allah  bagi orang2 yang berfikir” ( QS. 30 : 21)

Maka pernikahan yang sah ini menjadi fondasi terbentuknya keluarga yang sakinah.

Jika suami istri bisa menyatukan visi dan misi serta persepsi dan kiprah mereka dalam berkeluarga maka akan terbentuk rumah tangga yang kokoh yang berpijak pada kasih sayang untuk bersama-sama berjuang mencapai visi dan misi keluarganya menjadikan seluruh anggota keluarga sebagai permata hati dan imam bagi orang-orang  yang bertakwa.

Sebagaimana doa kita semua yang sering kita panjatkan kepada Allah

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما
Artinya:
Wahai Rob kami anugrahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai permata hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)Suksesnya membentuk keluarga yang sakinah sekaligus  keluarga yang Islami menjadi fondasi terhadap terbentuknya masyarakat madani.

Pada saat yang sama keluarga seperti itu merupakakan bagian penting yang harus ada dalam membangun bangsa dan negara sebagai baldatun thayyibatun wa robbun ghafuur.

Karena itu mari kita perbaiki diri kita masing-masing untuk menjadi muslim yang berkepribadian Islami dan bersama pasangan kita masing-masing bekerjasama membentuk keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Serta tidak lupa menyiapkan keluarga untuk bisa berkontribusi pada perbaikan  masyarakat, bangsa dan negara yang beragama dan bermartabat.

📚 Ada beberapa unsur yang asasi dalam pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami diantaranya yaitu :

🍀1⃣. dibangun atas dasar takwa dan ingin beribadah kepada Allah semata.

🍀2⃣. adanya internalisasi nilai2 Islam dalam keluarga.

🍀3⃣. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

🍀4⃣. Situasi rumah yang kondusif dalam menerapkan nilai2 Islam.

🍀5⃣. Terbentengi dari pengaruh lingkungan yang buruk,

🍀6⃣. Dll. Insya Allah akan dijelaskan pada materi sesi berikutnya.😊😊😊

Wallahu a’lam bishshawaab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

URGENSI KELUARGA SAKINAH, KELUARGA  ISLAMI (Bag-1)

📝 Pemateri: Ustadzah Aan Rohana Lc. M Ag.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Pada abad ini berbagai krisis telah terjadi pada masyarakat seperti krisis moral ; terjadinya pergaulan bebas, kecanduan narkoba, tawuran.

Selain itu terjadi krisis ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran, krisis pendidikan dengan banyak nya jumlah anak2 yang putus sekolah, tawuran dan lain-lain.

Salah satu solusi untuk menghadapi krisis tersebut adalah kembali pada institusi keluarga.

Tetapi saat ini sudah terjadi juga krisis yang dialami institusi keluarga.

Banyak institusi keluarga yang sudah runtuh karena mengabaikan tatanan Islam dalam berkeluarga, hilangnya keteladanan dari orang tua, adanya perselingkuhan, juga kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang menimbulkan banyak kasus perceraian.

🔑💡Muara dari krisis itu semua adalah krisis identitas muslim. 🔑

Keluarga tidak luput dari krisis identitas ini.
Masih ada keluarga kaum muslimin yang belum terwarnai oleh keindahan dan rahmat Islam , tidak diwarnai oleh suasana saling tolong menolong dalam kebaikan dan  takwa.

Tidak ada  upaya untuk mewujudkan suasana yang kondusif untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam keluarga.

Keluarga muslim seperti ini tidak akan bisa menjadi tempat melahirkan generasi harapan agama, bangsa dan negara.

Suatu saat anak-anak akan menjadi bencana bagi keluarga, masyarakat, dan ummat manusia.

Oleh karena itulah orang yang tidak suka kepada Islam berusaha untuk menghancurkan tatanan Islami dalam keluarga muslim.

Sebab keluarga muslim yang kokoh identitasnya akan mampu melahirkan generasi-generasi  baru sebagai pelopor, pemimpin dan pahlawan.

📚 Ada 5 cara untuk meruntuhkan institusi keluarga muslim yaitu:

🌺1⃣. Menghancurkan sistem pernikahan .

🌺2⃣. Mendorong para muslimah untuk berhias (tabarruj) dan tidak berpakaian secara Islami.

🌺3⃣. Mendorong muslimah melakukan pergaulan yang tidak sesuai syariat.

🌺4⃣. Menghancukan hak qawwamah (kepemimpinan) suami dan mendorong muslimah melakukan perlawanan terhadap sistem keluarga.

🌺5⃣. Mengganti peraturan perundang-undangan kepada yang tidak berpihak terhadap kepentingan perempuan, anak dan keluarga.

🍂🔹🍂🔹🔹🍂🔹🍂

Insya Allah bersambung ke bag-2 😊😊😊

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-2 tamat)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

MENGKHATAMKAN AL-QURAN DALAM SEPEKAN

Imam Nawawi berkata:

وَأَمَّا الَّذِيْنَ خَتَمُوا فِي الأُسْبُوعِ مَرَّةً فَكَثِيْرُونَ نُقِلَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَزَيْدٍ بْنِ ثَابِتٍ وَأُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَعَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ التَّابِعِينَ كَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدٍ وَعَلْقَمَةَ وَإِبْرَاهِيْمَ رَحِمَهُمُ اللهُ …

Orang-orang yang mengkhatamkan sekali dalam sepekan jumlah mereka banyak. Diriwayatkan (amal ini) dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhum. Dan diriwayatkan dari jamaah tabi’in seperti Abdurrahman bin Yazid, ‘Alqamah, dan Ibrahim rahimahumullah. (At-Tibyan, halaman 61).

Siapa yang ingin mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan dapat menggunakan cara فَمِي بِشَوْقٍ   “Famii bisyauq” yang artinya “mulutku selalu rindu (Al-Quran)”.

Famii Bisyauq ini setiap hurufnya mengisyaratkan nama surat pertama yang dibaca setiap harinya selama sepekan.

Huruf faa untuk surat Al-Fatihah, huruf miim untuk Al-Maidah, huruf yaa untuk Yunus, huruf baa untuk Bani Israil (Al-Isra), huruf syiin untuk Asy-Syu’ara, huruf wawu untuk wash-shaaffaati-shaffaa (surat Ash-Shaffat), dan huruf Qaaf untuk surat Qaf.

Jadual hariannya menjadi seperti ini:

Hari ke-1: surat Al-Fatihah – surat An-Nisa (Al-Fatihah + 3 surat)

Hari ke-2: surat Al-Maidah – surat At-Taubah (5 surat)

Hari ke-3: surat Yunus – surat An-Nahl (7 surat)

Hari ke-4: surat Al-Isra – surat Al-Furqan (9 surat)

Hari ke-5: surat Asy-Syu’ara – surat Yasin (11 surat)

Hari ke-6: surat Ash-Shaffat – surat Al-Hujurat (13 surat)

Hari ke-7: surat Qaf – surat An-Nas (yang disebut dengan hizb al-mufashal)

Dasar mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan ini adalah arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang telah saya sebutkan.

Sedangkan jadual harian di atas diambil dari hadits yang didha’ifkan oleh Syaikh Al-Albani yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud dalam Sunan keduanya, juga Imam Ahmad dalam Musnadnya.

Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa menemui utusan kabilah atau kaum setiap malam ba’da Isya dan berbicara dengan mereka sambil berdiri. Hingga pada suatu malam beliau terlambat hadir. Aus bin Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, salah satu utusan dari Tsaqif bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَبْطَأْتَ عَلَيْنَا اللَّيْلَةَ قَالَ: «إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَخْرُجَ حَتَّى أُتِمَّهُ» ، قَالَ أَوْسٌ: فَسَأَلْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا: ثَلَاثٌ وَخَمْسٌ وَسَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ

Ya Rasulullah, sungguh engkau telah terlambat menemui kami malam ini. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya telah luput hizib (wirid) Al-Quran ku, maka aku tidak suka keluar (menemui kalian) sebelum menyempurnakannya.

” Aus berkata: Maka aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bagaimana kalian membagi hizb (wirid) Al-Quran?” Mereka menjawab: tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb al-mufashal.

Maksudnya:
Mereka mengkhatamkannya dalam sepekan dengan 3 surat di hari pertama, 5 surat di hari kedua dan seterusnya. Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan 3 surat hari pertama adalah Al-Baqarah, Ali Imran & An-Nisa, sedangkan Al-Fatihah tidak disebutkan karena sudah dipastikan ia dibaca di awal.

KESIMPULAN

Al-Quran akan memberikan pembelaan dalam bentuk syafaat kepada para sahabatnya, dan orang yang akrab dengan Al-Quran lebih pantas untuk dinamakan sahabat.

Hal paling mendasar untuk akrab dengan Al-Quran adalah dengan membacanya secara benar dan kontinyu, kemudian mengupayakan juga untuk memiliki bentuk keakraban yang lain yaitu menghafalnya.

Agar dapat membaca dengan benar, setiap muslim dan muslimah wajib mempraktekkan ilmu tajwid saat membaca Al-Quran seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Jazri, salah seorang ulama pakar qiraah.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah memiliki wirid harian membaca Al-Quran dengan target mengkhatamkannya tanpa menganggu kewajiban-kewajiban asasi terutama yang terkait dengan hak-hak orang lain.

Harus ada upaya untuk membaca Al-Quran minimal satu juz setiap hari agar ia dapat mengkhatamkannya dalam sebulan.

Banyak diantara para sahabat dan salaf shalih mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan seperti yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Barang siapa ingin meneladani mereka, dapat mengkhatamkannya dengan menggunakan “famii bisyauq”.

Hendaknya tidak mengkhatamkan Al-Quran secara rutin kurang dari tiga hari seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullah, tetapi boleh melakukannya di saat-saat utama seperti bulan Ramadhan, atau di tempat-tempat utama seperti Masjid Haram atau Nabawi, atau untuk keperluan tertentu seperti muraja’ah hafalan bagi penghafal Al-Quran.

Dan hendaknya ia menyediakan waktu khusus untuk membaca sambil memahami makna bacaannya dengan bantuan kitab-kitab tafsir para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-1)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

الأُنْسُ بِالْقُرْآنِ بِقِرَاءَتِهِ

MENGAKRABI AL-QURAN DENGAN MEMBACANYA

Beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pembelaan Al-Quran kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya, diantaranya:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)

Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya. (HR. Muslim).

اِقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا (رواه مسلم)

Bacalah Az-Zahrawain: Al-Baqarah & surat Ali Imran, karena keduanya akan datang di hari kiamat seperti dua awan yang menaungi, atau seperti  dua kawanan burung yang terbang membentangkan sayapnya, untuk membela para sahabat kedua surat itu. (HR. Muslim).

Pemilihan kata ash-hab (para sahabat) mengisyaratkan bahwa keakraban dengan Al-Quran adalah sebuah keharusan bagi yang ingin mendapat pembelaan dari Al-Quran.

FAKTOR UTAMA KEAKRABAN YANG MESTI DIUPAYAKAN OLEH SETIAP MUSLIM ADALAH DENGAN MEMBACANYA SETIAP HARI

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا أُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَ عَلَيَّ يَوْمٌ وَلاَ لَيْلَةٌ إِلاَّ أَنْظُرُ فِي كِتَابِ اللهِ – يَعْنِي الْقِرَاءَةَ فِي الْمُصْحَفِ

Aku tidak suka datang siang atau malam kecuali (jika) aku melihat kitab Allah – maksudnya membaca mushaf Al-Quran.  (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 128).

Imam Nawawi rahimahullah dalam bukunya At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Quran halaman 24 menyatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَذْهَبَ الصَّحِيْحَ الْمُخْتَارَ الَّذِي عَلَيْهِ مَنْ يُعْتَمَدُ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنَ أَفْضَلُ مِنَ التَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَذْكَارِ وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ

Dan ketahuilah bahwa madzhab yang shahih dan dipilih oleh para ulama yang menjadi rujukan (ummat) adalah bahwa membaca Al-Quran itu lebih baik dari tasbih, tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, dan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat jelas, wallahu a’lam.

MEMBACA AL-QURAN SESUAI HUKUM-HUKUM TAJWID

Imam Al-Jazri dalam matan Al-Jazriyah rahimahullah berkata:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لاَزِمُ *** مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمُ
لِأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ *** وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

Dan menggunakan tajwid adalah keharusan yang lazim, barang siapa yang tidak mentajwidkan Al-Quran maka ia berdosa. Karena dengan tajwidlah Allah menurunkannya, begitu pula (dengan tajwid) ia sampai kepada kita.

MEMBACA AL-QURAN DENGAN FREKUENSI KHATAM AL-QURAN YANG KONTINYU DAN MEMADAI

Yaitu dengan pengerahan batas kemampuan masing-masing selama tidak melalaikan kewajiban, agar melahirkan bentuk keakraban yang lain: HAFALAN.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma:

وَاقْرَأِ القُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ (رواه البخاري)

Dan bacalah (khatamkan) Al-Quran dalam setiap bulan. (HR. Bukhari).
Ketika Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash menyatakan kesanggupan lebih dari itu Rasulullah bersabda:

وَاقْرَأْ فِي كُلِّ سَبْعِ لَيَالٍ مَرَّةً

Dan bacalah dalam setiap tujuh malam sekali (khatam).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

اَلصَّحِيْحُ عِنْدَهُمْ فِي حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ انْتَهَى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى سَبْعٍ، كَمَا أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً بِقِرَاءَتِهِ فِي شَهْرٍ، فَجَعَلَ الْحَدَّ مَا بَيْنَ الشَّهْرِ إِلَى الأُسْبُوْعِ. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً أَنْ يَقْرَأَهُ فِي أَرْبَعِيْنَ، وَهَذَا فِي طَرَفِ السَّعَةِ يُنَاظِرُ التَّثْلِيْثَ فِي طَرَفِ الاِجْتِهَادِ

Yang shahih menurut mereka (para ulama) tentang hadits Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di tujuh (malam) sebagaimana beliau telah memerintahkan di awal untuk membacanya dalam sebulan, jadi beliau membuat batas antara sebulan hingga sepekan.  Dan telah diriwayatkan bahwa beliau menyuruhnya pertama kali untuk membacanya dalam empat puluh hari, dan ini dalam sisi keluasan (relatif santai) sebanding dengan 3 hari khatam dalam situasi pengerahan kesungguhan. (Majmu’ Al-Fatawa, 13/407).

Dalam kisah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari maka ia tidak akan paham:

لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ (رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم قال الترمذي حديث حسن صحيح)

Tidak akan paham siapa yang membaca Al-Quran dalam waktu kurang dari tiga hari. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya. Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih).

Namun hadits ini tidak menafikan pahala atau balasan bacaan Al-Quran bagi orang yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari, yang dinafikan adalah pemahaman.

Oleh karena itu, Ibnu Rajab Al-Hambali memahami hadits ini sebagai larangan melakukannya sebagai kebiasaan, dan berpendapat boleh melakukannya untuk mendapatkan pahala yang besar di waktu-waktu dan tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti bulan Ramadhan atau di kota Makkah.

وَإِنَّمَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي أَقَّلَّ مِنْ ثَلاَثٍ عَلَى الْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ، فَأَمَّا فِي الأَوْقَاتِ الْمُفَضَّلَةِ كَشَهْرِ رَمَضَانَ خُصُوْصًا اللَّيَالِي الَّتِي يُطْلَبُ فِيْهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، أَوْ فِي الأَمَاكِنِ الْمُفَضَّلَةِ كَمَكَّةَ لِمَنْ دَخَلَهَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِهَا فَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ فِيْهَا مِنْ تِلاَوَةِ القُرْآنِ اِغْتِنَامًا لِلزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَئِمَّةِ، وَعَلَيْهِ يَدُلُّ عَمَلُ غَيْرِهِمْ

Terdapat larangan membaca seluruh Al-Quran kurang dari tiga hari hanya bagi yang melakukannya terus menerus.

Sedangkan pada waktu-waktu utama seperti bulan Ramadhan khususnya malam-malam yang dicari darinya lailatul qadar, atau di tempat-tempat utama seperti Mekkah bagi yang memasukinya dan bukan penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Quran mengoptimalkan waktu dan tempat tersebut.

Dan ia adalah pendapat Ahmad, Ishaq dan imam-imam selain mereka berdua. Dan yang dilakukan oleh selain mereka juga menunjukkan hal ini. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm 171).

Pendapat yang sama juga tersirat dari pesan Syaikh Hasan Al-Banna rahimahullah kepada para aktifis da’wah yang tidak menganjurkan khatam kurang dari 3 hari sebagai wirid yang rutin:

أَنْ يَكُونَ لَكَ وِرْدٌ يَوْمِيٌّ مِنْ كِتَابِ اللهِ لاَ يَقِلُّ عَنْ جُزْءٍ، وَاجْتَهِدْ أَلاَّ تَخْتِمَ فِي أَكْثَرَ مِنْ شَهْرٍ، وَلاَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

Hendaklah ada wirid harian untukmu dari Kitab Allah tidak kurang dari satu juz, dan bersungguh-sungguhlah agar jangan sampai khatam lebih dari sebulan, dan jangan kurang dari tiga hari. (Risalah Ta’alim, kewajiban pertama dari 38 wajibat al-akh al-amil).

Anjuran Imam Nawawi kepada pembaca Al-Quran setelah menyebutkan riwayat salaf shalih tentang beragam jumlah khatam Al-Quran mereka:

وَالْمُخْتَارَ أَنَّهُ يَسْتَكْثِرُ مِنْهُ مَا يُمْكِنُهُ الدَّوَامُ عَلَيْهِ وَلاَ يَعْتَادُ إِلاَّ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ الدَّوَامُ عَلَيْهِ فِي حَالِ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ. هَذَا إِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ وَظَائِفُ عَامَّةٌ أَوْ خَاصَّةٌ يَتَعَطَّلُ بِإِكْثَارِ الْقُرْآنِ عَنْهَا فَإِنْ كَانَتْ لَهُ وَظِيْفَةٌ عَامَّةٌ كَوِلاَيَةٍ وَتَعْلِيْمٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَلْيُوَظِّفْ لِنَفْسِهِ قِرَاءَةً يُمْكِنُهُ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مَعَ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ إِخْلاَلٍ بِشَيْءِ مِنْ كَمَالِ تِلْكَ الوَظِيْفَةِ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَنِ السَّلَفِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Yang terbaik adalah hendaknya ia memperbanyak membaca Al-Quran (dengan frekuensi khatam) yang mungkin ia jaga kontinyuitasnya.

Dan jangan membiasakan kecuali yang ia duga kuat dapat melakukannya dengan kontinyu di saat bersemangat atau tidak bersemangat. Ini jika ia tidak memiliki wazhifah (pekerjaan atau tugas) umum atau khusus yang akan terganggu jika ia memperbanyak membaca Al-Quran.

Jika memiliki pekerjaan untuk kepentingan umum seperti pemimpin wilayah atau mengajar atau lainnya maka hendaklah ia menetapkan bacaan Al-Quran yang mungkin ia pelihara saat bersemangat atau tidak bersemangat tanpa mengganggu kesempurnaan pelaksanaan tugasnya.

Beginilah pemahaman terhadap riwayat dari salaf shalih (tentang frekuensi khatam Al-Quran mereka). (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 8/43).

Imam Nawawi rahimahullah menekankan betul aspek dawam (kontinyu) karena ia lebih disukai oleh Allah dalam setiap amal:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اكْلَفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ، وَإِنْ قَلَّ»، وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ (رواه أبو داود في سننه وصحّحه الألباني)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Lakukanlah amal yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang lebih kontinyu meskipun sedikit.” (Aisyah melanjutkan): Dan jika Rasulullah melakukan suatu amal, ia akan menetapkannya (untuk seterusnya). (HR. Abu Dawud dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Insya Allah bersambung ke bagian ke-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pendaftaran MANIS Periode 2

PENDAFTARAN Grup WhatsApp Majelis Iman Islam
بسم اللّه الرحمن الرحيم 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
AlhamduliLLah, salam dan shalawat semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallaLLahu ‘alayhi wa sallam beserta seluruh keluarga dan shahabatnya. 
AlhamduliLLah, karena nikmat dan rahmat ALLah, kami kembali membuka pendaftaran Grup WhatsApp MANIS (Majelis Iman Islam) periode 2.
Sekilas tentang Grup WhatsApp MANIS (Majelis Iman Islam)
MAjelis imaN dan ISlam atau MANIS adalah salah satu media pembelajaran  agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp. 
Grup ini diasuh dan dibimbing oleh beberpa Ustadz & Ustadzah: 
✿Ust. Ahmad Sahal, Lc
✿Ust. Farid Nu’man, SS
✿Ust. Abdullah Haidir, Lc
✿Ust. Syahroni Mardani, Lc
✿Ustz. Eko Yuliarti Siroj, S.Ag
✿Ustz. Dra. Indra Asih
✿Ust. Agung Waspodo, SE, MPP
✿Ust. Dr Wido Supraha
✿Ust. Noorahmat, M.Sc
✿Ust. Samin Barkah, Lc
✿Ust. DH Al Yusni
✿Ust. Rikza Maulan, Lc, MA
✿Ustz. Wirianingsih, M.Si
✿Ustz. Dra. Hj. Aan Rohanah, Lc., M.Ag
✿Dan Asatidzah lainnya
Materi yang akan disampaikan di grup ini Insya Allah sbb :
❂ SIRAH DAN TARIKH
❂ AL QURAN DAN TAFSIR
❂ FIQIH DAN HADITS
❂ TAZKIYATUN NAFS 
❂ DA’WAH DAN HARAKAH
❂ MOTIVASI ISLAMI 
❂ TSAQAFAH ISLAMIYAH
❂ KELUARGA
❂ TARBIYATUL AULAD
❂ FIQIH MUAMALAT KONTEMPORER
❂ MUHASABAH
❂ Dan Materi Tematik lainnya
Dengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami. 
✴ Pendaftaran*
1. Via Web: Klik Disini
2. Via pesan WhatsApp:
Ketik : Nama – L/P – Asal – No.WA
Contoh: Ahmad – L – Jkt – 0812123456
Kirim ke:
0882-6803-9030 (Ikhwan)
0812-7516-0013 / 0838-9943-7415 (akhwat)
*Lakukan pendaftaran melalui 1 metode saja (via web atau WA), dan TIDAK MELAYANI pendaftaran via SMS/Telp.
Semoga dengan bergabungnya kita di Grup Majelis Iman Islam ini dapat menambah ilmu dan semangat dalam beribadah dan berdakwah kepada ALLah Jalla wa ‘Ala. 
Dan semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ALLAH kehendaki kebaikan dengan memahamkan kita kepada agama-Nya. Aamiin.
BaarakaLLahu fiikum.
Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Karena Berkeluarga Adalah Fitrah

📝 Pemateri: Ustz. EKO YULIARTI SIROJ

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💝Ada Khadijah yang merindu. Merindukan sesuatu yang hilang dan mengharapkannya kembali.
Ada Muhammad yang gemilang. Pemilik sifat mulia, cerdik dan jujur, yang diminta Khadijah untuk membawa barang dagangan miliknya ke Syam ditemani seorang pembantu bernama Maisarah dan pulang membawa keuntungan yang berlimpah.

Khadijah sepeti menemukan barang yang hilang dan sangat ia harapkan itu. Sudah banyak pemuka kaum yang melamar Khadijah untuk menikahinya. Namun Khadijah tidak mau.

Tiba-tiba…ketika kafilah dagang Muhammad kembali dari negeri Syam dengan capaian yang fenomenal, ia teringan rekannya Nafisah binti Muniyah. Dia meminta rekannya ini untuk menemui Muhammad dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah.

Ternyata beliau menerima tawaran itu, lalu beliau meneui paman-pamannya untuk memohon restu. Kemudian paman-paman beliau menemui paman-paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semua dianggap beres, maka perkawinan siap dilaksanakan.

Dua bulan sepulang dari Syam, Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar menjadi saksi pernikahan agung itu. Dengan mas kawin dua puluh ekor unta muda, Muhammad menikahi Khadijah seorang perempuan terpandang, cantik, pandai, dan juga kaya.

Demikian Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan pernikahan Muhammad dengan Khadijah dalam kitab siroh yang terkenal Ar-Rohiqul Makhtum.

💝Rasa itu tersimpan cukup lama dihati seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Rasa yang muncul pertama kali saat Ali melihat Fathimah membersihkan luka sang ayah dengan penuh kasih sepulang sang ayah dari medan perang.

Remuk redam hati Ali saat ia tahu satu demi satu pemuka sahabat mengajukan lamaran kepada Rasulullah untuk menikahi putrinya.
Namun hati Ali kembali berbunga saat jawaban yang diberikan Rasulullah selalu saja “Dia (Fathimah) masih kecil.”

Bunga-bunga di hati Ali tak kunjung bertambah karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengajukan lamaran kepada Rasul mulia.

Hingga suatu hari Abu Bakar RA mendatanginya dan menanyakan mengapa ia tidak mengajukan lamaran kepada Fathimah putri Rasulullah SAW. Antara bahagia karena Abu Bakar begitu kuat mendorongnya untuk menikah dan tidak percaya diri karena tidak memiliki apa-apa, Ali mengambil sebuah keputusan berani. Ya…ia akan menemui Rasulullah SAW.

Ummu Salamah yang saat Ali mendatangi Rasulullah sedang berada di rumahnya menceritakan dengan agak detil bagaimana pertemuan Ali dan Rasulullah berlangsung.

Rona merah muka Ali karena malu, bicara gugup sambil tertunduk, wajah Rasulullah yang berbinar bahagia menerima pinangan Ali, dikisahkan Ummu Salamah dengan begitu lengkap.

Bahkan kondisi ekonomi Ali yang dipaparkan dengan jujur dan didiskusikan bersama Rasulullah menambah indahnya perjalanan Ali memulai berkeluarga. Seekor unta, sebilah pedang dan seperangkat baju besi, hanya itu yang dimiliki Ali. Dan Rasulullah memilih baju besi sebagai mahar Ali untuk menikahi Fathimah.

🍂 Berkeluarga memang fitrah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Fitrah yang salah satu maknanya dijelaskan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya sebagai khilqoh; anugerah pemberian Allah SWT.

Dan setiap orang memiliki anugerah itu. Anugerah kecenderungan untuk memiliki pasangan dan berketurunan.

Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah SWT  dengan fitrah ini. Karenanya Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar kehidupan yang dijalani sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan dan tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum : 30]

💡Ibnu Abdul Bar seperti yang dikutip Al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah ini harus dijaga agar ia salamah dan istiqomah (selamat dan tetap lurus/konsisten). Yang membuat ia selamat dan lurus adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yaitu dienul Islam.

🍂Adakah fitrah yang yang tidak selamat & berbelok?
Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berikut menjadi jawabannya.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُننَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari)

Para ulama menyebutkan bahwa secara khusus yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits ini adalah setiap bayi yang dilahirkan memiliki pengetahuan tentang Robb-nya. Maka saat manusia tumbuh menjadi dewasa, pengetahuan tentang Robb ini sangat ditentukan oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Dan lingkungan terdekat dari seseorang adalah ORANG TUA nya.

Diantara fitrah (dalam pemahaman yang lebih umum) yang dimiliki manusia adalah keinginan dan kebutuhan untuk menikah dan berkeluarga. Bahkan para nabi dan rasul sebagai makhluk Allah yang normal, mereka menikah dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah kebutuhan, maka Allah memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya.

Lihatlah kisah diatas, bagaimana kecenderungan untuk menikah itu bermula dari Khadijah dan ia membuka jalan sedikit demi sedikit untuk mengupayakannya.

Tidak ada aib disana karena ia merencanakan dan menjalani perencanaan dengan sangat rapi tanpa melanggar aturan. Bahkan urusan usia sang calon istri yang jauh diatas calon suami tidak menjadi penghalang untuk berkeluarga.

🔑 Karena menikah adalah fitrah, maka jalan ke arahnya harus sesuai dengan aturan Allah.

Pun demikian dengan jalan yang ditempuh Ali bin Abi Thalib. Karena menikah itu fitrah, ia beranikan diri menghadap Rasulullah untuk meminang putrinya dengan kondisi Ali yang serba minim.

Tapi lihatlah bagaimana respon Rasulullah SAW? Beliau begitu bahagia, menerima lamaran Ali dengan wajah cerah ceria. Karena walau kondisi ekonominya minim, tapi Ali memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lain. Rasulullah bahagia…karena MENIKAH ITU FITRAH.🔍

🍂Dalam urusan MAHAR, Islam juga memberi kemudahan.

Ada Rasulullah Muhammad yang menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh ekor unta muda. Nilai yang sangat besar bahkan untuk situasi saat ini. Karena unta muda (unta merah) adalah unta yang harganya paling mahal.

Ada Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fathimah binti Rasulullah dengan mahar seperangkat baju besi senilai 40 dirham menurut sebagian riwayat.

Keduanya berjalan lancar dan mengantarkan mereka kepada pembentukan keluarga harmonis yang penuh berkah hingga anak cucu, kaum kerabat bahkan para sahabatnya.

Tidak ada yang memberatkan dalam mahar, karena menikah dan berkeluarga adalah fitrah.
Fitrah berkeluarga antara laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujurat Ayat 13)

Sepanjang sejarah manusia, Allah SWT seolah menegaskan bahwa sesuai dengan fitrah pernikahan dan pembentukan keluarga dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Ada Adam dan Hawa, ada Ibrahim dan Hajar, ada Yusuf dan Zulaikha, ada Muhammad dan Khadijah.

Dan Allah SWT memberikan contoh bagi umat manusia bagaimana akhir cerita suatu kaum yang keluar dari fitrah yang Allah anugerahkan. Kaum nabi Luth adalah sebuah contoh, bagaimana perilaku menyimpang yang mereka lakukan justru mengundang adzab yang sangat besar dari Allah SWT. (silakan pelajari surat Huud ayat 77-82).

Hari ini, kita menghadapi sebuah gelombang besar. 🔹Gelombang yang mengajak manusia untuk meninggalkan fitrahnya. 🔹Gelombang yang menuntut agar penyimpangan fitrah yang dilakukan segelintir orang bukan diobati tetapi dipermaklumkan atas nama hak asasi manusia. 🔹Gelombang yang akan meruntuhkan tatanan berkeluarga dan bermasyarakat itu dipaksakan untuk diterima oleh semua kalangan di semua Negara karena mereka menitipkan suaranya kepada komisi perempuan PBB.

Mereka kaum lesbi, gay, biseksual dan transjender (LGBT) menuntut agar perilaku menyimpang mereka diakui tidak hanya oleh masyarakat akan tetapi diakui oleh Negara.

Pernahkah kita membayangkan sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang laki-laki dewasa atau dua orang perempuan dewasa dan seorang atau dua orang anak (adopsi) hidup ditengah masyarakat kita?

Keluarga yang tanpa perlu berfikir panjang bisa memutuskan ikatannya dan membentuk keluarga baru? Keluarga yang tak memiliki orientasi dan tujuan yang jelas untuk apa mereka bersama-sama?  Apakah dari keluarga model ini akan hadir sakinah, mawaddah dan rahmah?

Tentu saja 🔊..TIDAK..🔊 karena berkeluarga memiliki ruh dimensi waktu yang sangat panjang. Bukan hanya saat mereka ada bahkan saat mereka telah tiada keluarga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya seperti keluarga Ibrahim AS dan keluarga Muhammad SAW yang hingga kini kita sebut keduanya dalam shalawat kita.

Maka berhati-hatilah terhadap gerakan yang dilakukan kelompok ini yang upayanya merambah kehidupan kita terutama dilakukan dengan menggunakan media.

Film yang ditonton anak-anak kita tanpa menyebutkan identitas yang jelas seperti sponge bob atau teletubbies.

Artis atau comedian laki-laki yang penampilannya gemulai seperti perempuan.
Olah raga berat yang dilakukan oleh kaum perempuan seperti gulat, tinju, angkat besi, dll.

Jika tidak dihentikan, maka gelombang itu akan merasuk ke dalam masyarakat kita.

Naudzu billah tsumma naudzu billah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua yang Sholih?

📝 Pemateri: Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?

Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad).

Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab pendidikan anak kepada kedua orang tua.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.

Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).

🔑 Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua.

Sedangkan para pendidik yang mendidik anak di sekolah-sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.

Pendidikan yang diberikan orang tua merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim).

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

🔑 Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. 😊😊

Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

🔅“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”🔅

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.

Allah ta’ala berfirman,

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).

Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).

Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman.

Betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini.

Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga.

Mengapa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa penting menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,

يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك

“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,

إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي

“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”

🍂Semoga Allah mudahkan kita untuk mampu menjadi pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita.🍂

Aamiin Ya Mujiibassaailiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Husnuzhan

Biduk Kebersamaan

📝Pemateri: M. Shafwan Husein Ellomboki

🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Ar-Rafi’i)

🙇🏻Biduk kebersamaan kita terua berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut.  Adakah di antara yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti. Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti ini. Di jalan ini, “rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga.”

🌼Saudaraku,🌾
Dalam perjalanan panjang seperti ini, kita memerlukan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, nafas panjang, dan mudah memaafkan. Seperti Rasulullah SAW yang tak merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekitarnya dalam menjalani misi kenabian.

🌼Saudaraku, 🌾
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An-Nakha’i, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “Itu orang buta dan pincang…itu orang buta dan pincang.”Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita  mendapat pahala, lalu kenapa?

Fudhail bin Iyadh, tokoh utama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi tabi’in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “Kenapa engkau menangis? “Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tau ternyata uangku dicuri. “Fudhail mengatakan, “Apakah engkau menangis hanya karena dinar?” Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, “Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

🌼Saudaraku,🌾
Mereka yang dirahmati Allah itu, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa, atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka tetap tidak terusik. Betapa indahnya.

🌼Saudaraku,🌾
Jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat mnghadapi sesuatu yang yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak arah.

Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa-jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih.

🌼Saudaraku,🌾
💡🔑 Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah (penglihatan) yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salah satunya adalah karena wawasan ilmunya yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya 😡 disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit lapang dada.

💡Itulah yang dikatakan Ar-Raf’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan banyak memperoleh kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Wahyul Qalam, 1/50)

🌼Saudaraku dalam perjalanan,🌾
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apa pun di jalan ini. Ada yg maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apa pun di jalan ini.

🌼Saudaraku,🌾
Tak ada artinya aral apa pun di jalan ini. Karena, kita sedang berjuang menuju Allah.
ﺍﻟﻠﻪ أعلم
🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

✒📄Disadur dari buku Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga. Muhammad Nursani. Tarbawi Press.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Makanlah yang Halal

Mengenal Jual Beli Urbun, Dan Hukum Praktek Jual Beli Urbun

📝 Pemateri: Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ (رواه أحمد والنسائي وأبو داود, وهو لمالك في الموطأ

(Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata bahwa Nabi SAW melarang jual beli Urban.’ (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud dan Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’)

🍂Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh :
🔹Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Al-Urban, hadits no 3039.
🔹Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Bai’ al-Urban, hadits no 2183.
🔹Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Dalam Musnad Abdullah bin Amru bin Ash, Hadits no 6436.

🍂 Makna Urbun

Secara bahasa, urbun atau urban dalam bahasa Arab berarti meminjamkan dan memajukan. Dalam hal ini, terdapat beberapa bacaan yaitu ; urbun, arabun dan urban.Kata urban atau urbun ini pada dasarnya adalah bahasa non Arab yang sudah mengalami Arabisasi dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Arab.

Adapun yang dimaksud dengan jual beli urbun adalah seseorang membeli sebuah barang lalu ia membayar satu dirham atau sebagian kecil dari harga barang kepada penjual, dengan syarat jika jual beli dilanjutkan maka satu dirham yang telah dibayarkan akan terhitung sebagai bagian dari harga. Namun apabila tidak jadi, maka satu dirham yang telah dibayar akan menjadi pemberian (hibah) bagi penjual.

🔹Imam Syaukani mengemukakan,

أن يشتري الرجل العبد، أو يتكارى الدابة، ثم يقول : أعطيك دينارا على أني إن تركت السلعة أو الكراء فما أعطيتك لك

bahwa Urban adalah seperti seseorang ingin membeli sesuatu, atau ingin menyewa kendaraan, kemudian ia berkata kepada penjual, ‘aku beri kamu satu dinar (untuk tanda jadi atau uang muka barang yang akan dibeli atau disewa), jika aku meninggalkan barang tersebut (tidak jadi membeli), maka apa yang telah aku berikan kepadamu, menjadi milikmu.’

Dalam gambaran lain :

المراد أنه إذا لم يختر السلعة أو اكترى الدابة كان الدينار أو نحوه للمالك بغير شيء، وإن اختارهما أعطاء بقية القيمة أو الكراء

Yang dimaksud adalah, apabila tidak jadi membeli barang atau tidak jadi menyewa kendaraan, maka uang dinar atau uang lainnya akan menjadi milik si penjual tanpa (konpensasi) apapaun. Adapun apabila ia jadi membeli barang atau jadi menyewa kendaraan, maka ia akan membayar sisa harga barang tersebut.

🍁Jual beli urbun memiliki karakteristik sebagai berikut :

🔹Jual beli terhadap suatu objek barang tertentu dimana pembeli melakukan pembayaran uang muka sebagai tanda jadi kepada penjual, dengan harga tertentu.

🔹Objek barang barang tersebut masih dalam genggaman penjual.

🔹Jika pembeli jadi dan ingin meneruskan transaksi jual beli, maka pembeli akan membayarkannya secara tunai. Uang muka tanda jadi pembayaran, akan masuk ke dalam harga yang akan dibayarkan. Namun jika pembeli tidak jadi meneruskan transaksi, maka uang muka yang telah dibayarkan akan menjadi milik si penjual, tanpa ada konpensasi apapun.

🔹Umumnya jangka waktu penentuan jadi tidaknya transaksi relatif tidak jelas.

🔹Pembeli memiliki hak khiyar (meneruskan atau membatalkan transaksi), namun penjual tidak memiliki hak khiyar. Sehingga di satu sisi, urbun menguntungkan pembeli dan kecenderungannya merugikan penjual.

🍂 Hukum Jual Beli Urbun

Para ulama memberikan pendapat, terkait dengan hukum jual beli urbun, yaitu sebagai berikut

🍁Ulama madzhab Hambali berpendapat : jual beli urbun hukumnya boleh, namun  harus ditentukan batas waktu khiyar (pilihan apakah jual beli jadi atau tidak jadi) bagi pembeli. Karena jika tidak ditentukan, maka tidak ada kepastian sampai kapan penjual harus menunggu.

🍁Sedangkan Ulama Madzhab Hanafi berpendapat bahwa bahwa jual beli urbun hukumnya fasid (rusak), namun akad transaksi jual belinya tidak batal.

🍁Jumhur ulama berpendapat, bahwa jual beli urbun adalah jual beli yang dilarang dan tidak sah, berdasarkan larangan Nabi SAW atas jual beli ini, dan juga karena urbun mengandung unsur gharar, spekulasi, dan temasuk memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

Termasuk yang mengemukakan pendapat seperti ini adalah Imam Syaukani dalam Nailul Authar nya.

Ulama mengemukakan bahwa diantara illat (sebab) dilarangnya jual beli urbun adalah sebagai berikut:

🔹Adanya unsur gharar, yaitu umumnya terjadi pada dua hal yaitu,

KETIDAKJELASAN, apakah pembeli jadi membeli barangnya atau tidak
Ketidakjelasan, dalam jangka waktu kepastian, jadi atau tidaknya pembeli akan membeli atau membatalkannya.

Adanya unsur maisir (SPEKUKASI), yaitu oleh karena adanya unsur gharar atau ketidakjelasan dari pembeli, maka dengan sendirinya muncul maisir (spekulasi) sehingga ia tidak menjualnya kepada orang lain. Padahal calon pembeli belum tentu membeli.

Mengambil harta orang lain tanpa imbalan (batil), yaitu dalam hal ketika pembeli tidak jadi membeli, maka uang muka yang memang sejak awal dimaksudkan sebagai alat bayar, akan berpindah kepemlikannya menjadi milik si penjual tanpa ada konpensasi apapun buat si pembeli.

🍂Kebutuhan adanya jual beli urbun

Oleh karena transaksi uang muka sudah menjadi tradisi dan sebagai unsur komitmen dalam hubungan bisnis serta menjadi hajat (kebutuhan mendesak) dalam setiap transaksi yang terjadi, khususnya di masa-masa sekarang ini,  maka ulama kontemporer memberikan padangan sebagai berikut :

💡Prof Dr Wahbah Zuhayli dalam Al-Fiqh Al-ismali wa Adillatuhu (Jilid 3/ hal 120), bahwa jual beli sistem urbun adalah sah dan halal dilakukan berdasarkan urf (tradisi yang berkembang). Karena hadits-hadits yang diriwayatkan dalam kasus jual beli ini, tidak ada satupun yang shahih.

🍁 Kesimpulan

Bahwa larangan praktik jual beli urbun, terdapat dalam nash hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Malik dalam Muwatho’nya.

Namun menurut para ulama, hadits yang melarang jual beli urbun merupakan hadits dha’if yaitu munqathi’, dimana terdapat perawi yang terputus atau tidak disebutkan. Dan hadits dha’if tidak bisa dijadikan sandaran satu amalan.

Kendatipun perawi terputus tesebut disebutkan dalam riwayat lainnya, namun ternyata perawi tesebut didhaifkan oleh para ulama hadits :

🔹Ada yang mengatakan bahwa perawi yang tidak sebutkan adalah Ibnu Luhay’ah, sedangkan ia adalah dhaif.

🔹Ada yang mengatakan bahwa perawi yang tidak disebutkan adalah Abdullah bin Amir Al-Aslami, sementara ia merupakan perawi yang tidak dapat dijadikan hujjah.

🔹Ada yang menyebutkan pula bahwa dalam sanadnya terdapat  Al-Haitsam bin Al-Yaman, dan beliau didha’ifkan oleh ulama hadits.

Adanya kebutuhan mendesak (hajjah) untuk melakukan transaksi dengan uang muka (urbun) dan sudah menjadi urf (kebiasaan), khususnya di zaman sekarang ini sebagai tanda atau bentuk komitmen dalam melakukan perjanjian bisnis, yang apabila tidak dilakukan sangat memungkin menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang bertransaksi dan tentunya akan menyulitkan kebanyakan orang.

Bahwa Illat larangan dalam suatu hukum muamalah, apabila ia bisa dihilangkan maka akan menjadikannya mubah (boleh) untuk dilakukan.

Oleh karenanya apabila illat yang terdapat dalam jual beli urbun dihilangkan, maka jual beli urbun bisa diperbolehkan.

Artinya, bahwa jual beli urbun diperbolehkan namun dengan syarat-syarat tertentu, yaitu :

🔹Objek barang harus jelas dan merupakan barang yang dapat ditransaksikan menurut syariah.

🔹Jangka waktu yang diberikan untuk menentukan sikap, jadi atau tidak jadinya membeli suatu barang harus diberikan batasan secara jelas, agar terhindar dari gharar.
Misalnya jangka watu 1 hari, 2 hari, atau 3 hari, yang disepakati oleh kedua belah pihak yang berakad.

🔹Uang muka sebagai tanda jadi atau tanda komitmen harus berdasarkan kesepakatan, yang jumlahnya merupakan perkiraan kerugian riil penjual, apabila nantinya pembeli tidak jadi membeli.
uang muka yang akan menjadi milik penjual, ketika pembeli tidak jadi membeli barangnya merupakan uang ganti rugi (ta’widh), atas kerugian riil penjual.

🔹Dan ketika apabila dihitung masih ada sisanya, maka sisanya harus dikembalikan kepada calon pembeli.

Wallahu A’lam bis Shawab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678