Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

ASAS PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

Pemateri: Ustadzah. Aan Rohana

Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala sisi kehidupan manusia, sehingga tidak ada yang dibiarkan tanpa ada syariatnya.

Allah berfirman:

ما فرطنا فالكتاب من شيء

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang kami tinggalkan di dalam al-quran”. ( QS. 6 : 38).

Karena itu, Al-quran telah memberikan arahan yang jelas tentang kehidupan berkeluarga yang merupakan salah satu tahapan terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga bisa dibentuk menjadi keluarga yang sakinah penuh berkah dan selalu diridhai Allah SWT, yaitu keluarga yg Islami yang bisa menyiapkan generasi yang shalih , generasi pemimpin bagi orang2 yang  bertakwa sehingga bisa menjadi permata hati bagi siapa saja serta semua anggota keluarga bahagia di dunia dan di akhirat . Inilah yang menjadi cita2 bagi semua orang tua.

Allah berfirman:

والذين يقولون ربنا هب لنا من ازواجنا وذرباتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما

Artinya: ” Dan orang2 yang berkata: ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati ( kami ) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” ( QS. 25 : 74 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman :

ربنا وادخلهم جنات عدن التى وعدتهم ومن صلح من ابا ئهم وازواجهم وذريا تهم إنك انت العزيز الحكيم. وقهم السيئات ومن تق السيئات يومئذ فقد رحمته وذالك هو الفوز العظيم

Artinya : ” Ya Tuhan kami dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Aden yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yang shaleh diantara bapak2 mereka dan istri2 mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari kejahatan2, barang siapa yang Engkau jaga dari kejahatan pada saat itu , maka sungguh Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya, dan demikian itulah kemenangan yang agung “. ( QS. 40 :  8 – 9 ).

Begitupun Rasulullah telah memberikan arahan untuk kebahagian keluarga itu tergantung kepada pasangan yang shaleh, rumah yang nyaman dan kendaraan yang baik.

Beliau bersabda:

من سعادة ابن ادم ثلاثة ومن شقاوة ابن ادم ثلاثة . من سعادة ابن ادم :  المراة الصالحة والمسكن الصالح والمركب الصالح . ومن شقاوة ابن ادم  المراة السوء والمسكن السوء والمركب السوء . رواه احمد

Artinya : ” Faktor yang membahagiakan anak Adam itu ada tiga perkara dan faktor yang mencelakakan juga ada tiga perkara. Diantara faktor yang membahagiakannya adalah wanita ( istri ) shalihah , tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan faktor yang mencelakakan anak Adam adalah wanita ( istri ) yang jahat, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk “. ( HR. Ahmad ).

Pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami sangat penting untuk menuju pada terbentuknya masyarakat yang berperadaban dan bermartabat. Maka keluarga sakinah harus bisa menegakkan nilai2 Islami pada seluruh anggota keluarga, sehingga mereka menyatu untuk beribadah karena Allah dalam perasaan damai penuh cinta dan sayang untuk bersama2 meraih berkah dan ridha Allah SWT. Inilah suasana rumah bagaikan suasana surga yang sering disebut batii jannatii.

Adapun asas pembentukan keluarga sakinah ; keluarga Islami sebagai berikut:

1. Didirikan diatas landasan takwa.

Takwalah yang bisa membuat suami istri  melaksanakan berbagai kewajiban dengan lapang tanpa beban. Sekalipun dalam berkeluarga tidak selalu senang , tapi dengan takwa dalam duka pun bisa tetap ikhlas berkeluarga karena Allah.

Untuk mewujudkan dan mempertahankan keluarga yang sakinah  diperlukan  pengorbanan dan perjuangan. Tapi suami istri tidak akan lelah untuk berkorban dalam keluarga selama itu dilakukan karena takwanya kepada Allah. Allah berfirman:

ياايها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا واتقوا الله الذي تساءلون به والارحام ان الله كان عليكم رقيبا

Artinya: ”  Wahai manusia bertakwalah kepada TuhanMu yang telah menciptakan kamu ( Adam) dari satu jiwa dan Allah menciptakan pasangannya  ( Hawa) dari dirinya, dan dari keduanya Allah mengembangbialkan laki2 dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ” ( QS. 4 : 1 )

2. Ditegakkan diatas landasan ibadah kepada Allah.

Keluarga harus didirikan atas dasar karena beribadah kepada Allah . Karena itu sejak memilih pasangan hendaknya karena agamanya bukan semata karena kecantikan, atau kegagahan, kekayaan, maupun jabatannya. Sehingga rumah tangga yang dibangun penuh dengan suasana ibadah, sebab manusia diciptakan hanya untuk beribadah.

Allah berfirman:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Artinya : ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. ( QS. 51 : 56 ) .

Jika semua kewajiban dilakukan dengan tujuan ingin beribadah kepada Allah. Maka apapun yang dilakukan untuk keluarga semata2 hanya ingin menjadi ibadah yang berpahala di sisi Allah. Maka jika ada permasalahan dalam keluarga akan mudah diselesaikan dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.

3. Internalisasi nilai2 Islam secara kaffah (menyeluruh).

Keluarga harus dibiasakan untuk disiplin  dalam melaksanakan nilai2 Islam secara kaffah sehigga mereka memiliki komitmen dengan nilai2 Islam. Diharapkan dengan komitmen tersebut keluarga menjadi benteng yang kuat dari perilaku tidak bermoral.

Allah berfirman:

يا ايها الذين امنوا ادخلوا في السلم كافة

Artinya : ” Wahai manusia masuklah kamu ke dalam ajaran Islam secara kaffah” (QS. 2 : 208 ).

4. Keteladanan

Untuk menciptakan keluarga yang Islami diperlukan keteladanan yang nyata dari kedua orang tua. . Sekalipun pembiasaan, pendampingan serta pengarahan yang baik dari kedua orang tua juga penting, tapi sebelum itu semua diperlukan lebih dulu keteladan yang nyata dari kedua orang tua yang  selalu bergerak di hadapan anak2.

Allah berfirman:

ياايها الذين امنوا لم تقولون مالا تفعلون. كبر مقتا عند الله ان تقولو مالا تفعلون

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. Amat besar dosa bagi orang yang mengatakan tetapi tidak melakukan “. ( QS. 61 : 2 -3 ).

Allah berfirman dalam ayat lain:

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي

Artinya: ” Wahai Tuhanku jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat dan demikian juga keturunanku” ( QS. 14 : 40 ).

5. Melaksanakan kewajiban

Setiap suami istri harus bisa melaksanakan kewajiban masing2 sesuai dengan tuntunan Islam sehingga suasana dalam keluarga harmonis , tidak banyak tuntutan, protes dan pertikaian.

Jika hal tersebut bisa dilakukan dengan baik oleh suami istri , maka insya Allah hal itu bisa membuat mereka mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن واسالوا الله من فضله ان الله بكل شيئ عليما

Artinya: ” Dan janganlah kamu iri hati  terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi orang laki2 ada bagian dari  apa yang mereka usahakan, dan wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah dari sebagian karunia Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui terhadap segala sesuatu”. ( QS. 4 :32)

Maka tidak akan ada keguncangan keluarga ,  tidak akan ada pertengkaran diantara  suami istri , dan tidak ada keributan diantara mereka untuk  saling menuntut haknya selama mereka dapat  memenuhi kewajiban  masing2.

6. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Tidak ada suami dan istri  yang memiliki segalanya sehingga mereka memerlukan kerja sama satu sama lain. Tidak ada suami istri yang sempurna sehingga mereka harus saling melengkapi. Sungguh berat perjuangan suami istri  untuk menciptakan generasi yang shaleh dan shalihah dan menjadi generasi imamul muttaqin tanpa ada saling membantu.

Maka untuk mensukseskan visi misi keluarga sakinah harus siap untuk saling tolong menolong antara suami dan istri dalam kebaikan dan takwa.

Allah berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى

Artinya : ” Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa” ( QS. 5 : 2 ).

7. Jujur

Jujur harus menjadi asas atau fondasi dalam membentuk keluarga sakinah sejak proses memilih pasangan, penyelenggaraan akad nikah, keberlangsungungan rumah tangga hingga ajal menjemput.

Suami istri harus jujur terhadap dirinya sendiri dan harus jujur terhadap orang lain. Mereka harus jujur terhadap hatinya, jujur terhadap lisannya, jujur terhadap yang hak dan jujur terhadap yang bathil. Sehingga jujur akan menjadi cahaya dalam segala urusan.

Selain itu jujur dalam berumah tangga akan mendangkan keberkahan dan kemudahan dalam melahirkan berbagai kebaikan ,

Rasulullah bersabda:

ان الصدق يهدى الى البر  والبر يهدى الى الجنة وان الكذب يهدي الى الفجور والفًجور يهدي الى النار  . رواه البخارى و مسلم

Artinya : ” Sesungguhnya jujur itu menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan pada surga, dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan pada neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim. )

Maka jangan ada dusta antara suami istri, karena dusta akan menjadi sumber berbagai keburukan dalam berumah tangga.

 8. Sabar

Berkeluarga itu terkadang diuji oleh masalah kejiwaan, masalah perasaan, masalah harta, masalah pendidikan anak, perbedaan karakter, perbedaan budaya dll. Karena itu untuk mempertahankan keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga harus selalu bersabar. Sabar memang berat tapi sabar itu menjadi syarat dalam mendatangkan keberuntungan dan kesuksesan .

Allah berfirman :

يا ايها الذين امنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله  لعلكم تفاحون

Artinya: ” Hai orang2 yang beriman bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaran, dan bersiap siagalah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. ( QS. 3 : 200 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

 يا ايها الذين امنوا استعينوا باالصبر والصلاة ان الله مع الصابرين

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mintalah tolong pada sabar dan shalat, sesungguhnya Allah selalu bersama orang2 yang sabar” ( QS. 2 : 153 ).

Demikianlah 8 asas pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami yang menjadi dambaan bagi setiap keluarga muslim.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam merealisasikan 8 asas tersebut kepada kepada kita semua, aamiin


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

DEBT COLLECTOR DALAM PANDANGAN SYARIAH

Pemateri: Ust. RIKZA MAULAN, Lc., M.Ag.

Hadits:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى – رواه البخاري

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan memberikan rahmat terhadap seseorang yang bermurah hati ketika menjual, bermurah hati ketika membeli dan bermurah hati ketika menagih hutang”. (HR. Bukhari)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa bermurah hati atau berkasih sayang merupakan sifat yang dianjurkan untuk dilakukan antara sesama kaum muslimin.

Rasulullah SAW bahkan memberikan perumpamaan sifat murah hati dan kasih sayang antara sesama muslim adalah ibarat satu tubuh, yang apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh yang lainnya juga turut merasakannya :

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى – رواه مسلم

Dari Nu’man bin Basyir ra, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta, kasih sayang dan kelemahlembutan diantara mereka adalah seumpama satu tubuh.
Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya, seperti ketika tidak bisa tidur atau ketika demam.” (Muslim)

2. Bahwa sikap bermurah hati dan berkasih sayang bukan hanya dianjurkan dalam kehidupan sosial, namun juga ketika melakukan transaksi muamalah.

Demikianlah yang dapat “dipetik” dari hadits di atas.

Bahwa Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya terhadap seseorang yang bermurah hati ketika menjual, bermurah hati ketika membeli, bermurah hati ketika menagih hutang, yaitu menagih hutang dengan cara yang baik.

Artinya adalah bahwa “bermurah hati” dalam bermuamalah memiliki pahala yang mulia di sisi Allah SWT, dengan mendapatkan rahmat dari-Nya.

Orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, memiliki keistimewaan tersendiri sebagaimana yang Allah SWT firmankan :

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿١٠٧﴾ تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ ﴿١٠٨﴾

Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 107 – 108)

3. Hutang merupakan sesuatu yang “boleh” atau mubah untuk dilakukan apabila memang terdesak oleh satu keperluan atan kebutuhan tertentu.

Dan bagi orang yang dihutangipun akan mendapatkan benefit atau pahala yang mulia, khususnya pada saat ia memberikan pinjaman atau hutang terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلَّا كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً (رواه ابن ماجه)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “TIdaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim lainnya sebanyak dua kali, melainkan Allah SWT akan menghitungnya sebagai shadaqah (sebesar yang dipinjamkan) satu kali.” (HR. Ibnu Majah)

4. Terdapat adab dan etika terkait dengan masalah hutang piutang, khususnya ketika menagih terhadap orang yang berhutang. Diantara adab-adabnya adalah sebagai berikut :

a. Membuat perjanjian pembayaran hutang secara tertulis, khususnya ketika “akad” hutang dilakukan.

Misalnya apabila berhutang selama satu bulan, maka ditentukan saja hari, tanggal dan bulan waktu pengembaliannya yang tertuang dalam dalam kontrak akad. Dengan adanya perjanjian yang tertulis dan ditentukan waktu pembayarannya secara jelas, akan menghindarkan diri dari kesalahpahaman, khususnya ketika kelak akan menagih hutang.

Hal ini mengamalkan firman Allah SWT terkait dengan masalah hutang piutang, dalam QS. Al-Baqarah: 282 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ …

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. (QS. Al-Baqarah : 282)

b. Mengingatkan secara baik waktu jatuh tempo hutangnya, khususnya ketika telah tiba waktunya. Dalam mengingatkan waktu jatuh tempo ini hendaknya didasari dengan prinsip “saling mengingatkan” dalam kebaikan dan kebenaran, dan juga rasa khawatir apabila yang berhutang lupa dan kemudian menjadi satu kedzaliman dikarenakan adanya “penundaan” pembayaran hutang.

Perlu diingat bahwa menunda-nunda pembayaran hutang adalah perbuatan dzalim dan berdosa. Semakin lama ia menunda, maka semakin besar pula dosanya. Oleh karenanya, perlu untuk mengingatkannya agar orang yang berhutang tidak terjatuh ke dalam kedzaliman yang berlarut-larut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menunda pembayaran hutang (bagi orang yang mampu) adalah suatu kezaliman.

Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (dihiwalahkan) kepada orang yang mampu/ kaya, maka terimalah hawalah itu. (Muttafaqun Alaih)

c. Menagih dengan cara yang baik, yaitu ketika mendatangi orang yang berhutang tersebut maka hendaknya berbicara dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan adab dan etika Islam (baca ; akhlaqul karimah) seperti datang dengan senyuman, mengucapkan salam, meminta pembayaran dengan sopan dan baik, tidak arogan serta tidak menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran orang yang berhutang maupun keluarga dan tetangganya.

Hal ini sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits di atas,

“… bermurah hati ketika menagih hutang.”

d. Boleh meminta jaminan terhadap orang yang berhutang.

Apabila diperlukan, sesungguhnya orang yang memberi hutang boleh saja meminta “jaminan” terhadap orang yang berhutang, berupa harta atau sesuatu yang dapat dijadikan sebagai jaminan.

Allah SWT berfirman:

وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ …

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)… (QS. Al-Baqarah : 283)

e. Memberi nasehat berkenaan dengan hutang, seperti berkenaan dengan keharusan membayar hutang yang bahkan seorang syahid pun yang semua dosanya diampuni oleh Allah SWT, ternyata khusus “hutangnya” tidak dapat diampuni oleh Allah SWT.

Kenyataan ini sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ (رواه مسلم(

Dari Abdullan bin Amr bin Asr ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali hutang.” (HR. Muslim)

f. Memberikan penangguhan waktu, apabila orang yang berhutang sedang mengalami kesulitan.

Yaitu misalnya dengan mereschedulkan kembali pembayaran hutangnya, pada hari, tanggal, bulan dan tahun yang jelas dan disepakati bersama.

Karena orang yang bermurah hati memberikan penangguhan pembayaran hutang terhadap orang yang sedang kesulitan, akan mendapatkan pahala yang mulia di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ – رواه الترمذي

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menangguhkan hutang orang yang sedang kesulitan, atau membebaskannya dari hutangnya, maka Allah akan memayunginya nanti pada hari kiamat di bahwa naungan ‘Arsy-Nya, di saat tidak ada naungan melainkan hanya naungan-Nya.” (HR. Turmudzi)

g. Mencairkan jaminan atas seizin orang yang berhutang, yaitu apabila orang yang berhutang memberikan jaminan dan telah jatuh tempo namun tidak mampu untuk melunasi hutangnya, maka boleh saja jaminannya tersebut “dicairkan” atas seizinnya.

Namun yang perlu dicatat adalah bahwa apabila jaminan tersebut dicairkan untuk melunasi hutangnya, dan ternyata masih terdapat sisanya, maka sisanya tersebut harus dikembalikan kepada orang yang berhutang tersebut.

Apabila selisihnya diambil oleh si pemberi hutang, maka justru pada saat tersebut, si pemberi hutanglah yang menjadi pelaku kedzaliman.

5. Bahwa terdapat satu fakta yang unik, yaitu Rasulullah SAW tidak mau menshalatkan jenazah seorang sahabat yang memiliki hutang.

Dalam riwayat disebutkan, “Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW mayat seorang laki-laki untuk dishalatkan…. Rasulullah bertanya, “Apakah dia mempunyai hutang?”

Para sahabat menjawab, “Tidak”. Lalu Rasulullah menshalatkannya.

Kemudian di datangkan jenazah yang lainnya, dan beliau bertanya, “Apakah ia punya hutang?” Sahabat menjawab, “Ya, Rasulullah pun menyuruh para sahabatnya untuk menyalatkannya (namun beliau sendiri tidak).

Abu Qatadah berkata, “Saya menjamin hutangnya wahai Rasulullah”. Maka (barulah) Rasulullah SAW menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari)‏

6. Orang yang memberi kan hutang, boleh saja mewakilkan orang lain untuk menagih hutangnya, misalnya melalui jasa debt collector.

Ketentuan bolehnya mewakilkan kepada pihak atau orang lain untuk menagihkan hutangnya adalah berdasarkan akad wakalah, dimana pihak yang memberikan hutang bertindak sebagai muwakil (yang memberikan kuasa) kepada pihak debt collector (wakil) untuk menagihkan hutangnya pada orang yang berhutang.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَرَدْتُ الْخُرُوْجَ إِلَى خَيْبَرَ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِذَا أَتَيْتَ وَكِيلِيْ بِخَيْبَرَ فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسَقًا رواه أبو داود‏

“Dari Jabir ra berkata, “Aku keluar pergi ke Khaibar, lalu aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, ‘Bila engkau datang pada wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya 15 wasaq.” (HR. Abu Daud)

Namun yang perlu dicatat dan digaris bawahi adalah bahwa orang atau pihak yang menjadi wakil dalam menagih hutang, haruslah memenuhi segala ketentuan dan etika sebagaimana di jelaskan sebelumnya, seperti:
– akad hutang piutang harus tertulis,
– tidak mengandung unsur bunga (riba),
– mengingatkan secara baik-baik apabila telah tiba masa jatuh temponya,
– menagih dengan cara yang baik dan sopan (berakhlaqul karimah),
– memberikan nasehat berkenaan dengan hutang piutang sesuai tuntunan syariah,
– memberikan penangguhan apabila orang yang berhutang benar-benar dalam kesulitan, dsb (silakan baca kembali poin 4 dalam tulisan ini).

Apabila debt collector bisa memenuhi semua syarat dan etika di atas, maka insya Allah akan menjadi debt collector syariah.

Sebaliknya apabila meninggalkan syarat di atas (misalnya hutang piutangnya terkait dengan bunga atau riba), atau mengabaikan faktor etika dan akhlak maka dengan sendirinya sudah tidak menjadi debt collector syariah.

Jadi apa anda berminat untuk membuat perusahaan yang menawarkan jasa “debt collector secara syariah?”

Peluang masih terbuka lebar.

Wallahu A’lam bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aqiqah

Hukum Aqiqah Setelah Hari ketujuh dan Ketika Dewasa

Pertanyaan

Asw..  afwan mau nanya seputar aqiqah..
jika aqiqah dlaksanakan lebih dri 21 hari stelah hari kelahiran. apa hukumnya ustadz ? apakah msih terdapat syariat sunnah aqiqah d sna ? sykrn ustadz
(MIRZA ASAL GRUP I09)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal), tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu.” (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, menjelaskan demikian:

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ‘Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21.’ Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21.” (‘Aunul Ma’bud, 8/28. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.

Berikut keterangannya:

“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: “Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: ‘Ada pun ‘Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21.’ Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Sa’ad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Sa’ad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara ‘Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafi’i, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, ‘Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Tapi, perkataan Imam Ibnul Qayyim bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan di hari ketujuh bertentangan dengan riwayat dari Imam Ibnu Hazm  bahwa Imam Hasan Al Bashri membolehkan aqiqah ketika dewasa.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

“Penyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: “disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21.” (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma’ (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

“Pengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma’ aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma’ ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan.” (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

 عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa.

Shahihkah hadits ini?  Sanad hadits ini dhaif menurut para ulama.

Lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Ma’in mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang).Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah).Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.  Abu Zur’ah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Ma’rifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhu’afa, 2/310. Darul Kutub Al ‘ilmiyah)

Imam An Nasa’i mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasa’i, Adh Dhu’afa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zaila’i, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini,  ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.

Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan.  Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu,  katanya

: أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 994: Berkata kepada kami Ahmad, berkata kepada kami Al Haitsam (bin Jamil), berkata kepada kami Abdullah (bin Mutsanna), dari Tsumamah, dari  Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diutus sebagai nabi

Ketiga, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla, 7/528, Darul Fikr:  Kami meriwayatkan dari Ibnu Aiman, berkata kepada kami Ibrahim bin Ishaq As Siraaj, berkata kepada kami ‘Amru bin Muhammad An Naaqid, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkata kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna bin Anas, berkata kepada kami Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَقَّ، عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah datang kepadanya masa kenabian.

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang semua riwayat penguat ini:

قلت : و هذا إسناد حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في “ صحيحه ” غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)  Sehingga, walau sanad hadits riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif –karena di dalamnya ada  Abdullah bin  Muharrar yang telah disepakati kedhaifannya-  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI, karena beberapa riwayat di atas yang menguatkannya. (Ibid)

Ulama yang membolehkan aqiqah ketika sudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه  “

Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H.Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, inilah pendapat yang lebih pas, Insya Allah. Hanya saja di negeri kita umumnya, memang  tidak lazim aqiqah ketika sudah dewasa. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullahu liy wa lakum

Wallahu A’lam  wa Lillahil ‘Izzah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

LEZATNYA BACA (sejarah dari) BUKU ASLINYA…

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Catatan kecil mengapa terjemahan itu tidak selalu dapat menjelaskan dengan jelas dan terperinci.

***

Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan penterjemah kitab sejarah klasik dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Kedua, saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang masih menyempatkan membaca buku klasik sejarah Islam yang ditulis oleh para ulama dan sejarawan Muslim.

Namun, perlu diketahui bahwa hanya mengandalkan terjemahan saja kadang bisa membuat bingung jika tidak dirujuk ke kitab berbahasa aslinya.

Hikmah dari studi kasus pertanyaan pemirsa kajian sejarah tentang penaklukan kota Damaskus pada zaman khalufah ‘Umar ibn al-Khaththab (ra):

Dalam buku terjemahan “Futuhul Buldan” karya al-Balazurī halaman 154 dituliskan

“.. Abu Darda’ Uwaimir bin Amir al-Khazraji turun di Masalahah Bairazah..”

Sempat terjadi kesalahpahaman dengan menjadikan Masalahah Bairazah sebagai nama salah satu gerbang pertahanan kota Damaskus.

Dalam buku aslinya, bagian ini tertulis

“.. wa ju’ila Abū ad-Dardā’ ‘Uwaymir ibn ‘Āmir al-Khazrajī ‘alā musallahatin bi-Barzata..”

Kata kerja ju’ila artinya Abu ad-Darda yang memerintahkan kepada Uwaymir (menjadi komandan) atas (maslahah [LA] musallahah [HW]: pusat pertahanan) garnizun di Barzah.

Bukan Abu ad-Darda yg menjabat langsung, bukan Abu ad-Darda itu nama kepanjangannya Uwaymir, dan bukanlah Masalahah Bairazah (seperti yg tercetak) itu nama sebuah gerbang kota Damaskus.

Imam al-Balazuri menggunakan kata kerja na-za-la (makna harafiah-nya turun) utk menggambar kan debarkasi (turunnya pasukan dari tunggangannya) untuk melaksakan kepungan.

Di dalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibn Manzur, vol. 4, hal. 2061 dijelaskan tentang makna kata al-Maslahatu sebagai “Qawmun ‘uddatin bi-mawdhi’i rashadin qad wukkilū bihi bi-izā’i tsaghrin” yang artinya “suatu kaum (kesatuan) yang dipersiapkan di sebuah tempat sebagai pengintai (atas objek pengintaian) yang telah ditetapkan bagi mereka di hadapan perbatasan (front tempur).”

Oleh karena itu, makna kata “maslahah” atau “musallahah” memang sangat spesifik terminologi militer; jelas bukan menunjukkan sebuah gerbang.

Yang tidak ditanyakan dalam kasus di atas, namun sekalian saja saya coba jelaskan adalah terjemahan pada paragraf yg sama yaitu

“.. Yazid bin Abu Sufyan turun di pintu kecil menuju pintu yang dikenal dengan Kaisan..”

Pada buku dalam bahasa aslinya tertulis

“.. wa nazala Yazīd ibn Abī Sufyān ‘alā al-Bāb-i ash-shaghīri ilā al-Bāb-i lladzī ya’rifu bi-Kaysān..”

Yang lebih tepat dimaknai bahwa Yazid ibn Abi Sufyan mengepung (kota Damaskus) dari gerbang Kecil hingga gerbang Kaysan.

Kedua gerbang ini berada pada bagian selatan kota.

Dalam kitab Al-Bidāyath wan-Nihayah karya Imam Ibn Katsir (bundel) vol. 7-8 hal. 20 dijelaskan bahwa gerbang Kaysan (pada awalnya) termasuk tanggung jawab Khalid ibn al-Walid selain gerbang Timur (sebelum diserah-terimakan kepada Yazid).

CATATAN TAMBAHAN:

Musallahah dalam terminologi militer Islam pada masa klasik diturunkan dari kata kerja (fi’il) sa-la-ha yang juga berarti “mempersenjatai.”

Dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan sebagai “sa-la-ha, as-Silāhu: ismun jāmi’un li-Ālati l-harbi (semua peralatan perang) atau memperkuat dengan persenjataan (“to arm”) dlm kamus Hans Wehr.

REFERENSI:

1. Futuhul Buldan, cetakan Maktabah al-Muarif, Beirut.

2. Al-Bidayah wan-Nihayah, cetakan Darul Kutub wal Ilmiyah, Beirut.

3. Lisanul ‘Arab li-Ibn Manzur [LA] , Darul Mu’arif, Beirut.

Buku Terjemahan yg dibahas:
Futuhul Buldan, Pustaka al-Kautsar, Jakarta: 2015.

RadhiyalLahu ‘anhum ‘ajma’in.. walLaahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Alhamdulillah

Depok, Rabu 28 Oktober 2015.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

KHALID BIN WALID (ra) – Penaklukan Damaskus. (Bag-2 Tamat)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Tetap Adil Walau Sudah Diperangi;
Tetap Sabar Walau Sudah Dikhianati.

Untuk mendapatkan tulisan bagian 1, silahkan klik:
http://www.iman-islam.com/2015/10/khalid-bin-walid-ra-penaklukan-damaskus.html

BALA BANTUAN BYZANTIUM

Kaisar Heraclius yanh berkedudukan di Antioch ketika kepungan ini dimulai telah mengirimkan pasukan bantuan pada 9 September 634 sejumlah 12.000 personil.

Kolom militer ini terpantau oleh pasukan yang ditempatkan Khalid (ra) di jalur ke Emesa. Khalid (ra) langsung mengirimkan Rafay ibn ‘Umayr (ra) beserta 5.000 pasukannya dan terjadilah kontak senjata di Celah Uqab (Eagle Oass) sekitar 32 km sebelah utara Damaskus.

Pasukan Rafay (ra) ini kewalahan menghadapi Byzantium namun tetap bertahan karena tidak diizinkan mundur.

Khalid (ra) sendiri yang datang bersama tambahan 4.000 pasukan dan membalikkan keadaan.

Kemenangan kaum Muslimin di tempat itu dikenal sebagai Pertempuran Celah Uqab.

Seandainya pada waktu itu pihak garnizun Byzantium menyerang keluar dari Damaskus besar kemungkinan mengalahkan pasukan yang tertinggal.

Menyadari kegentingan ini maka Khalid (ra) bergegas kembali membawa pasukannya ke Damaskus sebelum Thomas menyadari kesempatannya.

SERANGAN PERTAMA BYZANTIUM

Setelah menyadari bahwa tidak ada bantuan yang datang kepada mereka, Thomas memutuskan untuk menyerang pada awal pekan ketiga September 634.

Ia mengumpulkan personil dari berbagai sektor pertahanan kota dan memulai serangan dari Gerbang Thomas yang dipimpinnya sendiri.

Ia berhadapan dengan pasukan Syurahbil dengan melesatkan anak panah untuk melindungi gerak maju infanterinya. Dalam bentrok senjata itu Thomas terkena panah pada mata kanannya tapi pasukan Byzantium tak kunjung berhasil mendesak mundur pasukan yang dipimpin Syurahbil (ra).

SERANGAN KEDUA BYZANTIUM

Kali ini Thomas melancarkan serangannya dari empat gerbang sekaligus dengan serangan utama tetap pada Gerbang Thomas untuk memaksimalkan efek kelelahan sebelumnya.

Serangan dari gerbang Jabiyah, Kecil, dan Timur ditujukan untuk mengikat perhatian sektor lain agar tidak memberikan bantuan kepada Syurahbil yang akan dikenai beban serangan paling berat.

Serbuan pada Gerbang Timur juga ditingkatkan agar Khalid (ra) juga tidak dapat membantu sektornya Syurahbil (ra). Disamping itu, serangan pada beberapa gerbang juga bernilai taktis karena Thomas sudah menyiapkan pasukan terobosan untuk memanfaatkan keberhasilan di sektor manapun nantinya.

Secara khusus Thomas menginstruksikan agar Khalid (ra) harus ditawan hidup-hidup.

Bentrok senjata di Gerbang Jabiyah berlangsung alot hingga Abu ‘Ubaydah (ra) maju ke depan dan semangat juang pasukannya meningkat kembali sehingga pasukan Byzantium terpukuk balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Kecil hampir saja mengalahkan Yazid (ra) yang jumlah pasukannya lebih sedikit, namun keadaan berbalik setelah Dhirar (ra) datang membantu dengan 2.000 pasukan berkudanya yang menyerang lini sayap pasukan Byzantium hingga terpukul balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Timur menjadi sangat menguntungkan Byzantium dengan jumlah pasukan yang lebih besar.

Rafay (ra) sudah hampir memerintahkan mundur jika saja Khalid (ra) telat datang bersama 400 kavaleri veteran front Irak yang membalikkan keseimbangan dan memukul mundur pasukan Byzantium kembali ke dalam kota.

Bentrok senjata yang paling berat terjadi kembali di Gerbang Thomas, namun Thomas sendiri tidak melihat adanya tanda-tanda kelelahan dari sektor ini walau sudah mengalami serangan besar sebanyak dua kalj. Ia akhirnya menarik mundur pasukan Byzantium kembali ke kota dibawah deraan panah yang deras. Ini adalah serangan terakhirnya untuk mencoba menembus kepungan.

SERANGAN KHALID

Pada hari Ahad 19 Rajab 13 Hijriah (18 September 634) seorang pendeta nasrani dari kalangan Monophysite yang bernama Jonah membocorkan lemahnya penjagaan nanti malam karena adanya festival religi.

Ia menyarankan untuk menyerang pada malam hari, informasi berharga ini ia berikan dengan meminta jaminan keselamatan bagi ia dan calon pengantinnya.

Khalid (ra) melakukan pengecekan ulang atas informasi ini karena mengkhawatirkan adanya jebakan.

Setelah informasi tersebut dapat dipastikan, Khalid (ra) merencanakan untuk menyerang dari sektornya sendiri karena tidak cukup waktu untuk koordinasi ke sektor lainnya serta kekhawatiran bocornya rencana serangan itu.

Sebagai pemanjat dinding pertama; Khalid (ra), Qa’qa’a ibn Amr, dan Manzur ibn ‘Adi secara sigap sampai ke atas dan segera membentangkan tali panjat untuk membawa 100 pasukan pilihan yang akan membuka gerbang dari dalam.

Khalid (ra) memimpin langsung pertempuran jarak dekat untuk merebut kendali gerbang dan tidak lama kemudian dapat dibuka dan mengalirlah pasukan utamanya ke dalam kota Damaskus.

Pertempuran sengit malam hari berkecamuk di dalam kota di sektor Gerbang Timur.

Thomas menyadari bahwa serangan ini tidak serentak dari semua gerbang sehingga ia segera mengirim utusan ke luar Gerbang Thomas untuk cepat-cepat merundingkan penyerahan kota kepada Abu ‘Ubaydah (ra) serta kesiapan mereka membayar jizyah.

Thomas mengtahui bahwa aturan Islam dalam peperangan bahwa kota yang diserbu tidak memiliki hak runding dan perlindugan yang berbeda dengan kota menyerah yang terlindungi hak-haknya.

Taktik diplomasi ini adalah upaya terakhir Thomas untuk menyelamatkan kotanya.

Ia mengathui dari dinas intelijen Byzantium bahwa Abu ‘Ubaydah (ra) merupakan sosok yang lebih mudah diajak berunding.

TAKLUKNYA DAMASKUS

Khalid (ra) merasa bahwa kota berhasil dia taklukan sedangkan Abu ‘Ubaydah (ra) merasa bahwa kota sudah lebih dahulu menyerah.

Setelah syura digelar dengan menerima berbagai masukan maka akhirnya pendapat Abu ‘Ubaydah (ra) didahulukan oleh Khalid (ra) sebagai panglima tertinggi di lapangan.

Salah satu pertimbangan beliau adalah agar kota-kota Byzantium di propinsi Syam lainnya akan meniru pola penyerahan daripada bertahan berlamaan.

Khalid (ra) menerima perjanjian itu termasuk memberikan jaminan keamana pada pasukan dan penduduknya untuk mundur ke wilayah yang masih dikuasai Byzantium dengan aman selama 3 hari.

Disamping itu, kaum Muslimin juga terikat pada perjanjian untuk tidak menangkap penduduk yang tetap ingin tinggal di kota, tidak menjarah apapun di dalam kota, serta tidak menghancurkan satupun gereja di dalam kota.

Sungguh sulit ditemukan klausul perdamaian tandingannya di masa manapun.

AGUNG WASPODO, tetap dan terus terkesima dengan sosok pahlawan Khalid (ra) beserta para komandan dan pasukannya setelah 1.381 tahun kemudian, lewat 1 hari..

***

Depok, 22 Agustus 2015.. mengetik dalam kondisi terbaring sakit yang tidak seberapa dibandingkan pengorbanan para generasi pendahulu..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

SABAR, AKHLAK KAUM BERIMAN

Pemateri: Dr. Wido Supraha

Sabar merupakan pancaran (dhiyaa-un, lihat Shahih Muslim No. 223) keshalihan kaum beriman, keunikan yang tidak ditemukan kecuali  pada kaum beriman saja. Oleh karenanya, sabar bukanlah karakter yang bisa hadir secara instan, akan tetapi buah dari ikatan iman yang tinggi dan latihan ibadah yang terus menerus. Maka kualitas kesabaran  pun akan terus meningkat seiring semakin istiqomah-nya frekuensi interaksi manusia kepada Sang Pencipta.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, bahwa sabar hukumnya wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Ulama, begitupun akal sehat manusia, dalam kitabnya ash-Shabrul Jamiil fii Dhau-il Kitaab was Sunnah. Dalam pendapat yang senada, Syaikh Yusuf al-Qaradhawy menghubungkan sabar dengan nilai spiritual tertinggi dalam Islam, sehingga dengannya Al-Qur’an begitu memuji kedudukan dan status orang-orang yang sabar, bahkan menegaskan kaitannya sabar sebagai prasyarat kebaikan dunia dan akhirat, dalam kitabny ash-Shabru fil Qur’an.

Ketika Allah Swt memerintahkan kaum beriman untuk bersabar dan meneguhkan kesabarannya (Q.S. 3:200), maka sesungguhnya Allah Swt mewajibkan kaum beriman untuk sabar dalam keta’atan hanya kepadaNya, sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan yang tampak indah di dunia, sabar dalam wujud ridha atas qadha dan qadar-Nya, bahkan lebih jauh dari itu, kualitas sabar dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang atas musuh-musuh mereka. Jangan sampai musuh-musuh mereka justeru lebih sabar daripada kaum beriman. Sabar yang seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada keberuntungan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa keberuntungan di dunia dan di akhirat akan diperoleh oleh mereka.

Kaum beriman belum layak mendapatkan kabar gembira dari Allah Swt. manakala begitu mudahnya mereka berputus asa dari kasih sayang Allah, padahal Allah baru sedikit saja memberikan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan hasil usahanya atas diri mereka (Q.S. 2:155). Padahal Allah Swt. tidak suka dengan kaum yang cepat berputus asa, bahkan menyiapkan siksaan sebagai balasannya. Maka manakah yang akan dipilih oleh kaum beriman, apakah pahala Allah yang tidak memiliki batas (Q.S. 39:10) ataukah siksaNya. Sampai disini, kaum beriman diajarkan untuk terus optimis dalam hidupnya, terus berfikir positif untuk masa depan kaumnya.

Mintalah pertolongan Allah agar dimudahkan berkarakter sabar, dan iringi do’a tersebut dengan shalat (Q.S. 2:153), niscaya Allah akan bersama mereka senantiasa dalam suka dan dukanya. Kemampuan kaum beriman untuk sabar dalam seluruh dimensi kehidupan mereka dan seluruh pengalaman kehidupan mereka akan disaksikan oleh Allah Swt. dengan jelas sebagai bukti keberhasilan Allah menguji mereka siapa yang benar-benar berjihad dalam hidupnya dan sabar (Q.S. 47:31).

Keseriusan kaum beriman untuk memperhatikan kualitas sabar dalam diri mereka harus menjadi keniscayaan, karena Allah Swt pun tidak mengulang-ulang satu perkara dalam Al-Qur’an lebih sering kecuali ketika menyebut masalah sabar. Lebih dari 90 tempat dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran suci tersebut. Oleh karenanya bekal kesabaran adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan yang sebentar ini.

Para Nabi dengan tingkat keshalihan jauh di atas kaum beriman adalah sosok-sosok yang paling berat tatkala mendapatkan cobaan begitupun tatkala sakaratul maut mereka. Begitupun di kalangan kaum beriman, semakin kuat keimanan seseorang, ujian untuk mereka jauh lebih berat. Seakan Allah ingin memastikan apakah layak setiap manusia menempati posisi terbaik di sisiNya  dengan cara menguji keimanannya.

Ketika sakit Nabi Saw. merasakan panas tinggi dua kali lipat keumuman di masanya (lihat kesaksian Ibn Mas’ud dalam Shahih Bukhari dan Muslim (No. 2571). Ketika menjelang sakaratul maut pun, Anas dan Fathimah menyaksikan bagaimana Nabi Saw. beberapa kali tidak sadarkan diri merasakan begitu beratnya sakit yang dirasa (Fathul Bari VIII/149). Namun begitu, seorang Nabi hanya memikirkan satu hal dalam setiap penderitaan yang dialaminya, yakni bagaimana kualitas sabar kaum beriman di kemudian hari? Bahkan kebanyakan para Nabi memberikan teladan mereka menghadapi kebodohan dengan maaf dan toleransi, bahkan tatkala darah membasahi wajah mereka akibat perlakuan kaumnya, mereka bermunajat kepada Allah, “Allaahummaghfir li qaumii, fa innahum laa ya’lamuun). Lihat Shahih Muslim No. 1792.

Menurut Nabi Saw., sejak masa dahulu, kaum beriman senantiasa sabar dalam mempertahankan kehormatan iman mereka meski nyawa mereka harus menjadi balasannya (Shahih Muslim No. 3005). Tidak hanya Nabi Isa a.s. yang diberikan keutamaan oleh Allah Swt. untuk dapat berbicara ketika bayi, akan tetapi seorang bayi dari kalangan Bani Israil pernah tercatat dalam sejarah mampu berbicara kepada ibunya, ketika ibunya ragu apakah harus menjaga kehormatan imannya dengan cara menerima hukuman raja berupa masuk ke dalam kubangan api, ataukah melepaskan keimanannya. Bayi itu berkata, “Yaa ummahushbirii fa innaki ‘alal haqqi”. Ia termasuk satu dari tiga bayi yang ditetapkan Allah dapat berbicara semasa buaian.

Allah begitu memuliakan praktik sabar kaum beriman, khususnya sabar pada kesempatan pertama kali mereka harus menentukan antara sabar atau putus asa.  Ash-shabru ‘inda shadmatil uula (lihat Shahih Muslim No. 926). Sabar seperti inilah yang akan membawa kaum beriman sebagai kaum terpuji, sabar yang hadir pada waktu yang tepat, sebagai wujud keikhlasan. Maka meninggalkan kesabaran berarti meninggalkan ketaqwaan.

Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kenikmatan? Apakah ia langsung syukur? Bagaimana respon kaum beriman ketika mendapatkan kesusahan? Apakah ia langsung sabar?

Sebuah musibah tidak serta merta menyebabkan kaum beriman mendapatkan pahala, karena musibah bukanlah aktivitas manusia. Akan tetapi respon awal kaum beriman terhadap musibahlah, bersama kebaikan niat, keteguhan, kesabaran, dan keridhaannya, yang akan mengundang respon balik dari Allah Swt. Nabi Saw. menginginkan cara pandang penderitaan menjadi nikmat dan ujian menjadi anugerah untuk kandungan pahala dan kesudahan yang luar biasa. Lihat Shahih Muslim No. 2999.

Tatkala kaum beriman mendapatkan musibah, menangis, duka cita, adalah wujud kasih sayang yang diciptakan Allah Swt untuk setiap hamba-Nya yang lembut, dan tidak menafikan kesabaran seseorang. Kata Nabi Saw. terkait air mata yang mengalir di pipinya melihat cucunya, Ali bin Abu Al-‘Ash, dari putri tertuanya, Zainab, sekaligus anak gadis Khadijah,  sedang sakit keras dan berada dalam sakaratul maut, “Hadzihi rahmatun ja’alahallaahu ta’aala fii quluubi ‘ibaadihi”, “fii quluubi man syaa-a min ‘ibaadihi, wa innamaa yarhamullaahu min ‘ibaadihirruhamaa-a.” Namun, menangis sembari meratap, menjadi terlarang bagi kaum beriman, seakan mereka tidak ridha dengan ketetapan Allah Swt.

Surga menjadi janji Allah Swt. kepada kaum beriman yang mampu sabar tatkala yang dicintainya lepas dari sisinya, apakah kekasihnya selama di dunia, penglihatan matanya, sampai kesabarannya dalam menderita penyakit menular di suatu negeri (hingga harus dikarantina), hingga kalaupun ia mati, Allah menganugerakan syahid baginya, karena senantiasa sabar mengharapkan ridha Allah Swt. (Lihat Fathul Bari VI/513).

Terkadang manusia menganggap bahwa penyakit yang ditimpakan kepada mereka adalah wujud bahwa Allah Swt. tidak sayang kepada mereka, padahal bagi kaum beriman justeru sebaliknya, penyakit justeru nikmat dari Allah Swt., karena dengan penyakit yang diturunkan Allah Swt. mereka mendapatkan kesempatan untuk dihapuskan segala kesalahan mereka (lihat Shahih Muslim No. 2573), bahkan dosa-dosa mereka akan digugurkan Allah Swt. laksana gugurnya dedaunan pohon (lihat Shahih Muslim No. 2571). Maka kita saksikan bagaimana Nabi Ayub a.s. dalam do’anya ia tidak meminta kesembuhan atas penyakit yang begitu berat ia derita, justeru ia menguatkan kasih sayang Allah Swt. dalam do’anya. (Q.S. 38:41-44).

Justeru bagi kaum beriman mereka akan merasa gundah gulana manakala tidak pernah ditimpakan cobaan di dunia, karena mereka mengetahui bahwa ciri seseorang itu dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt. adalah dengan ditimpakannya cobaan atas mereka. Allah akan menyegerakan hukuman di dunia bagi hamba yang dikehendakinya kebaikan dan akan menahan kepada mereka yang akan memikul hukumanNya di akhirat. Dengan ujian tersebut kaum beriman akan semakin tinggi derajat, akan semakin terangkat posisinya, dan terhapus segala dosanya. Taqwa dan sabar pula yang telah membawa Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Yusuf a.s. mendapatkan balasan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan sebagian ulama mengakui bahwa kualitas kesabaran Nabi Yusuf a.s. lebih tinggi dari Nabi Ya’qub a.s. dan Nabi Ayub a.s. karena kesabaran Nabi Yusuf a.s. bersifat ikhtiari (ada pilihan tatkala bersama  isteri al-Aziz pada waktu dan tempat yang sangat mendukung untuknya bermaksiat kepada Allah Swt.), sementara yang lainnya bersifat idhthirari (tiada jalan lain kecuali menerimanya).

Kaum beriman pun dilarang mengharapkan kematian tatkala merasa tidak mampu menghadapi ujian kehidupan dan da’wah. Kalaupun terpaksa yang diizinkan adalah berdo’a mengharapkan keputusan terbaik dari Allah Swt. dengan bermunajat “Allaahumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii.” (Lihat Shahih Muslim No. 2680). Khabbab bin al-Aratt pun tidak berani meminta kematian karena teringat larangan Nabi Saw. ini, meskipun pada saat itu ia disiksa dengan besi panas hingga tujuh kali. Nabi Saw. pun menceritakan bagaimana siksaan atas kaum beriman di masa sebelumnya jauh lebih berat lagi, dimana ada yang digergaji kepalanya menjadi dua bagian, ada yang yang disisir di bagian bawah kulit dan tulangnya dengan sisir besi, namun itu tidak menggoyahkan sabar-nya kaum beriman, karena kelak akan ada masa dimana kaum beriman tidak akan pernah khawatir berjalan dari Shan’a di Damaskus  menuju Hadramaut, dalam arti kemenangan dakwah kaum beriman.

Harapan untuk tetap hidup adalah baik bagi kaum beriman karena dengannya ia tetap dalam melanjutkan amal-amal shalihnya, dan hal ini bukan berarti kaum beriman benci bertemu Allah Swt. dengan kematiannya. Justeru dengan kehidupan, kaum beriman belajar untuk terus optimis menata kehidupan dunia  bersama seruan-seruan suci mereka mengajak lebih banyak pengikut ke dalam golongan kaum beriman dengan sabar sebagai karakter dasar.

Dengan sabar, kaum beriman pun semakin cerdas dalam menata amarahnya agar tidak tercampuri godaan syiathan. Nabi Saw. berpesan kepada orang yang berada dalam kemarahan untuk mengucapkan A’udzubillaahi minasysyaithaanirrajiim (Lihat Shahih Muslim No. 2610 yang merujuk Q.S. 7:200). Mereka yang berhasil menata amarahnya sehingga bernilai kebaikan, kelak akan dipanggil Allah Swt. di hadapan sekalian makhluk, sembari dipersilahkan memilih bidadari Surga sekehendak hatinya. Subhanallah. ‘Janganlah marah’ menjadi satu nasihat penting Rasulullah dalam beberapa kesempatan beliau,

Dengan demikian pada akhirnya kaum beriman tersadarkan bahwa ternyata semua bentuk ujian dan cobaan di dunia ini pada akhirnya bertujuan mensucikan kaum beriman sehingga menghadap Allah Yang Maha Tinggi kelak tanpa membawa dosa (Lihat H.R. at-Tirmidzi No. 2399) dan bertemu dengan Rasulullah di al-Haudh (Lihat Shahih Muslim No. 1845).

Allaahumma munzilal kitaabi, wa mujriyassahaabi, wa hazimal ahzaabi, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim.

(wido@supraha.com)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

JADDID IMANAKA…! PERBARUI IMANMU..!

Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR, Lc
Iman adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba. Dialah kunci utama kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka, merawat keimanan yang telah Allah tancapkan di dada kita, mestinya merupakan bagian terpenting dalam agenda kehidupan.
Jika seseorang merasa penting untuk merawat sesuatu yang dia anggap berharga dalam hidupnya, maka terhadap keimanan mestinya lebih dari itu. Karena, baik atau tidaknya kualitas iman kita, berbanding lurus dengan baik atau tidaknya kualitas hidup kita.
Apalagi jika kita memahami, bahwa iman bukanlah sesuatu yang bersifat statis, mati dan tidak berubah-ubah. Tapi iman adalah sesuatu yang sangat dinamis, berubah-ubah, naik turun, dapat bersih bak pualam atau gelap seperti bayang di tengah malam. Itu semua sangat terkait dengan seberapa besar perhatian kita terhadap keimanan yang kita miliki.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
( إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا الله أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ  (رواه الحاكم
“Sesungguhnya keimanan akan lapuk dalam diri kalian, sebagaimana lapuknya baju. Mohonlah kepada Allah agar Dia selalu memperbaharui keimanan dalam hati kalian.” (HR. Hakim)
Berdasarkan hadits Rasulullah  shallallahu alaihi wa sallam ini, maka hal yang sangat urgent (penting) kita lakukan adalah selalu merenovasi atau memperbarui keimanan (tajdidul iman) agar tampak fresh, segar, dan memberikan energy positif dalam menapaki kehidupan.
1. Hal pertama yang dapat kita lakukan sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  di atas adalah banyak berdoa dengan khusyu dan sungguh-sungguh, memohon kepada Allah Ta’ala agar selalu meneguhkan keimanan kita. Karenanya, di antara doa yang banyak dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ  (رواه الترمذي
“Wahai yang membolak balikkan hati, tetapkan hatiku dalam agamamu.” (HR. Tirmizi)
2. Selanjutnya hendaknya kita rajin menyiram hati yang menjadi wadah keimanan dengan siraman zikir, termasuk di dalamnya tilawatil quran. Sebab dia merupakan penenang  hati dan pelipur lara yang paling ampuh. Jika hati telah tenang, maka keimanan akan nyaman dan sehat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat (zikir) kepada Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
3. Hal lain lagi yang penting dilakukan untuk memperbarui keimanan adalah menghadiri majelis ilmu. Dengan menghadiri majelis ilmu, banyak yang dapat kita raih untuk memperbarui keimanan kita.
Di antaranya kita akan selalu mendapatkan nasehat. Walaupun kadang dengan tema yang sama, seperti nasehat tentang shalat, namun nasehat yang terus menerus kita terima pada akhirnya akan mampu memperbarui keimanan kita.
Lalu dengan ilmu yang kita dapatkan, maka kita akan dapat menangkal setiap syubhat atau fitnah yang dapat melemahkan keimanan. Betapa banyak orang yang keimanannya lemah karena syubhat-syubhat atau teori-teori sesat yang dia terima karena tidak memiliki ilmu yang cukup.
Begitupun dengan hadir di majelis ilmu, kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita seiman yang sama-sama ingin memperbaiki keimanannya. Kebersamaan ini memberikan pengaruh yang tidak sedikit untuk memperbarui keimanan.
Karena itu dikatakan,
الْمُؤْمِنُ ضَعِيفٌ بِنَفْسِهِ قَوِيٌّ بِغَيْرِهِ
“Seorang mukmin lemah jika hanya bersama dirinya, tapi akan kuat jika bersama selainnya.”
Karena pentingnya majelis, maka Rasulullah  sangat menganjurkan kita untuk aktif di dalamnya dengan berbagai penyemangat yang beliau sampaikan. Makanya, hal ini menjadi bagian dari ‘tradisi’ para shahabat untuk berkumpul satu sama lain demi menyegarkan keimanannya. Terkenal ungkapan di tengah para shahabat,
إِجْلِسُوا بِنَا نَزْدَدُ إِيْمَاناً
“Mari kita duduk bersama untuk menambah keimanan.”
4. Perkara lain yang dapat memperbarui keimanan adalah merawat ibadah, baik yang fardhu dan sunah dan pada saat yang bersamaan menjauhi perbuatan munkar dan maksiat. Sebab ibadah pada hakikatnya bukan hanya menjanjikan pahala dari Allah Ta’ala. Tapi dia dapat berfungsi menjadi semacam energi kehidupan yang membuatnya akan selalu segar dan fit. Meninggalkan atau mengabaikan ibadah, sama artinya kita mengabaikan keimanan yang telah Allah berikan. Ibarat  tanaman yang tidak pernah disiram.
Sebaliknya dengan maksiat, dia bukan hanya mendapatkan ancaman dosa, akan tetapi berdampak buruk bagi kesehatan jiwa. Dirinya akan semakin malas dan berat dalam menyambut seruan Allah dan akhirnya membuat hidupnya tak tentu arah. Akibat yang paling berbahaya adalah keimanannya yang akan terancam.
Semoga kita selalu mendapat taufiq dari Allah Ta’ala untuk selalu menyadari betapa pentingnya bagi kita merawat keimanan kita, setiap hari, setiap saat, setiap desah nafas kita…
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَ زَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا وَ كَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَ الْفُسُوقَ وَ الْعِصْيَانَ وَ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ 
“Ya Allah, berilah kami kecintaan terhadap iman dan hiasilah hati kami dengannya. Jadikanlah kami benci dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
Wallahu ta’ala a’lam.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Adab Khilafiyah

Pemateri: Ustadz. FARID NU’MAN HASAN SS.

PENGANTAR

Saat ini kita hidup pada zaman penuh fitnah, di antaranya fitnah iftiraqul ummah (perpecahan umat).
Di antara banyak penyebab perpecahan itu adalah perselisihan mereka dalam hal pemahahaman keagamaan.

Hanya yang mendapat rahmat dari Allah Ta’ala semata, yang tidak menjadikan khilafiyah furu’iyah (perbedaan cabang) sebagai ajang perpecahan di antara mereka.

Namun, yang seperti itu tidak banyak. Kebanyakan umat ini, termasuk didukung oleh sebagian ahli ilmu yang tergelincir dalam bersikap, mereka larut dalam keributan perselisihan fiqih yang berkepanjangan.

Mereka tanpa sadar ‘dipermainkan’ oleh emosi dan hawa nafsu.

Untuk itulah materi ini kami susun. Mudah-mudahan kita bisa meneladani para Imam kaum muslimin, mengetahui kedewasaan mereka, dan sikap bijak dan arif mereka dalam menyikapi perselisihan di antara mereka.

Perlu ditegaskan, yang dimaksud khilafiyah di sini adalah perselisihan FIQIH yang termasuk kategori  ikhtilaf tanawwu’  (perbedaan variatif), BUKAN PERSELISIHAN AQIDAH yang termasuk ikhtilaf tadhadh  (perselisihan kontradiktif).

Untuk perkara aqidah, hanya satu yang kita yakini sebagai ahlul haq dan  firqah annajiyah (kelompok yang selamat) yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tidak yang lainnya.

Ada beberapa adab dalam menyikapi KHILAFIYAH.

1. Kita meski ikhlas dalam mengutarakan pendapat. Yang kita cari adalah ridho Allah Subhanahu Wa Taala semata. Sehingga tidak merasa kecil hati jika ada perbedaan.

2. Memahami bahwa perbedaan itu suatu keniscayaan. Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Perbedaan sudah terjadi sejak zaman nabi terdahulu, zaman nabi Muhammad SAW dan zaman sahabat.

3. Ridhonya manusia adalah suatu hal yang mustahil untuk dicapai.

4. Husnuzhon terhadap sesama muslim.

5. Jangan keluar bahasa kasar, mencela saudara muslim kita.

6. Jangan fanatik berlebihan terhadap pendapat kita.

7. Membangun kesadaran bahwa musuh kita bukan muslim yang berrbeda pendapat dalam fikih.

Bagi kita orang awam, boleh mengikuti fatwa ulama yang paling kita yakini kebenarannya.

Namun, jika para ulama saja saling menghornati perbedaan pendapat diantara mereka, maka sangat tidak pantas jika sesama orang awam saling mencaci saudara muslim kita yang lain.

Wallahu A’lam.

Watch “Ust Farid Numan – Adab Khilafiyah” on YouTube – 

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

SURAT AL-FALAQ (Bag-1)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

BUNYI SURAT

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang Menguasai subuh,

2. Dari kejahatan makhluk-Nya,

3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Surat Al-Falaq menurut pendapat yang lebih kuat adalah MAKIYAH yakni diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah berdasarkan riwayat Kuraib dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
(At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir bin ‘Asyur, 30/624).

KEUTAMAAN

Disebutkan dalam beberapa hadits keutamaan surat Al-Falaq  bersama dengan surat An-Nas dan Al-Ikhlash, diantaranya:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُنْزِلَ، أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ: الْمُعَوِّذَتَيْنِ»

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat, tidak ada yang semisal dengannya: al-mu’awwidzatain. (HR. Muslim).

وَعَنْهُ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ

Dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan aku membaca al-mu’awwidzat SETIAP SELESAI SHALAT.

(HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, dishahihkan oleh Al-Albani).

Al-Mu’awwidzatain adalah sebutan untuk surat Al-Falaq dan An-Nas, artinya dua surat perlindungan. Jika disebut mu’awwidzat, maka surat Al-Ikhlash masuk ke dalamnya.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَسِيْرُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَيْنَ الْجُحْفَةِ وَالأَبْوَاءِ، إِذْ غَشِيَتْنَا رِيْحٌ وَظُلْمَةٌ شَدِيْدَةٌ، فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَعَوَّذُ بِـ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} وَ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} وَيَقُوْلُ: يَا عُقْبَةُ، تَعَوَّذْ بِهِمَا، فَمَا تَعَوَّذَ مُتَعَوِّذٌ بِمِثْلِهِمَا. قَالَ: وَسَمِعْتُهُ يَؤُمُّنَا بِهِمَا فِي الصَّلاَةِ

Dari Uqbah bin ‘Amir berkata:
Tatkala aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam antara Al-Juhfah dan Al-Abwa, kami dikelilingi oleh ANGIN dan CUACA GELAP yang dahsyat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dengan Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbinnas, dan beliau bersabda:

Wahai ‘Uqbah, berlindunglah dengan keduanya, tidak ada yang semisal keduanya yang dapat digunakan seseorang untuk memohon perlindungan.

Uqbah berkata:
Dan aku mendengarkan beliau mengimami kami dengan kedua surat itu di dalam shalat.
(HR. Abu Dawud dalam Sunannya, Syaikh Al-Albani & Syaikh Syuaib Al-Arnauth menilainya shahih).

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا، فَقَرَأَ فِيْهِمَا ﴿ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴾ و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴾ و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴾، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ، وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika MENUJU PEMBARINGAN nya setiap malam,

– beliau menghimpun kedua telapak tangannya,

– kemudian meniupkan kepadanya lalu membaca Qul huwaLlahu ahad, Qul a’udzu birabbil falaq, dan Qul a’udzu birabbinnas,

– kemudian beliau mengusap dengan kedua telapak tangannya seluruh bagian tubuh yang sanggup dijangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, serta bagian depan tubuhnya.

– Beliau melakukan hal itu tiga kali. (HR. Al-Bukhari).

Beliau juga berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِـ(الْمُعَوِّذَاتِ) وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika merasakan SAKIT, beliau membaca al-mu’awwidzat untuk dirinya dan meniup, ketika sakitnya bertambah berat akulah yang membacakannya dan aku usapkan tangannya (ke tubuh beliau) mengharap keberkahan tangan beliau. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

TEMA SENTRAL

Tema utama surat Al-Falaq ini adalah:

التَّحَصُّنُ وَالاِعْتِصَامُ بِاللهِ مِنَ الأَضْرَارِ الْجسَدِيَّةِ وَالدٌّنْيَوِيَّةِ

Berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dari bahaya fisik duniawi.

Surat ini mengajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan semua makhluk ciptaan Allah secara umum, kemudian dikhususkan setelah itu permohonan perlindungan dari tiga hal:
– dari kejahatan malam,
– dari tukang sihir, dan
– kedengkian orang yang dengki.

Dan semuanya merupakan kejahatan yang bisa membahayakan fisik manusia atau membahayakan keselamatannya di dunia.

“Tujuan dari surat ini adalah mengajaran kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kalimat/bacaan untuk BERLINDUNG kepada Allah

– dari kejahatan makhluk yang berusaha dihindari kejahatannya,
– dari waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan, dan
– berlindung dari situasi dimana kejahatan bersembunyi di baliknya agar pelakunya bisa lepas dari konsekuensinya, maka Allah mengajarkan Nabi-Nya surat perlindungan ini agar beliau berlindung dengannya.

Riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dengan surat ini dan surat An-Nas, bahwa beliau memerintahkan para sahabat untuk berlindung dengannya adalah riwayat yang shahih.

Jadi berlindung dengan keduanya merupakan salah satu kebiasaan kaum muslimin.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/625).

AYAT 1
BERLINDUNG KEPADA RABBUL FALAQ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“KATAKANLAH !” dalam surat ini adalah perintah Allah untuk mengatakan dan melafalkan doa perlindungan.

Ini mengandung pengertian bahwa kata-kata yang terdapat di dalamnya harus kita jaga, karena di dalam kata-kata tersebut pasti ada keutamaan yang menjadi alasan ia dipilih dan diucapkan sebagai doa.

Al-Falaq adalah subuh, sebagaimana riwayat dari Jabir, Ibnu ‘Abbas dan Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhum. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/535).

Kita diperintahkan berlindung kepada Rabb Al-Falaq, yaitu Allah subhanahu wata’ala Maha Pencipta, Penguasa dan Pengatur yang menyingsingkan atau memunculkan fajar subuh dari kegelapan malam.

Fajar subuh adalah lambang berakhirnya kegelapan, simbol optimisme akan datangnya cahaya solusi dari problematika yang gelap.

Semua bentuk kezaliman dan kejahatan beserta pelakunya pasti akan berakhir seperti berakhirnya kegelapan malam dengan datangnya fajar subuh:

إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (QS. Hud: 81).

HADIRKAN KHUSYU’ HATIMU DAN YAKINLAH  bahwa Dia yang mampu menyingkirkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar cahaya subuh pasti sanggup untuk melindungi siapapun yang berlindung kepadaNya dari kegelapan kejahatan yang ia khawatirkan menimpa dirinya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

USTADZ MENJAWAB: Siapakah Syiah?

Pertanyaan:

Kumpulan pertanyaan dari beberapa Group WhatsApp Majelis Iman Islam (Manis) terkait artikel “Siapakah Syi’ah?”, sbb.:
– Ttg Syiah nanti ada materi lanjutannya tidak mba? Karena yang saya tahu, syiah itu amat kurang ajar karena berani menghujat ummul mukminin istri nabi Muhammad SAW dan para sahabat nabi, padahal itu amat sangat dilaknat, “siapa yang telah menyakiti hati nabi Muhammad SAW berarti dia sudah keluar dari Islam”
– Apakah referensi2 yg tercantum di atas berasal dari ulama /pakar Sunni? Atau ada yg mewakili paham Syiah pula? Saya pribadi sangat penasaran utk bisa memahami konflik dalam tubuh umat seperti ini. Saya berpikir, bahwa jika sy berkesempatan utk tabayyun, belajar langsung dr mereka yg dianggap salah, maka sy bisa paham sebenar-benarnya, tanpa mesti terjebak pada potensi fitnah. Jadi, mungkin admin tau di mana sy bisa belajar pada majelis Syiah itu sendiri? mengingat selama ini sy sudah lebih banyak menyerap dari pihak Sunni yg memusuhinya. Allahua’lam bi shawab.
– Mengapa pd masa kekhalifahan Ali & Muawiyyah, Syiah smpai terbagi menjadi 2 golongan, yakni Syiah Ali & Syiah Muawiyyah, padahal dr kedua gol. tsb sama-sama beraqidah dan berfaham Al-Qur’an & As-Sunnah shngga disebut sbg Aswaja..? Apa yang menyebabkan keduanya mempunyai msg2 pndukung/ pmbela PADAHAL keduanya (Ali & Muawiyyah) sama2 salimul aqidah?
– Apakah dari banyaknya teori baru yg mreka (ulama & kaum syiah -red) miliki dalam Aqidah (spt kemakshuman para imam; Bada’; Raj’ah; & taqiyah/ zindiq -lihat pasal 9 pd pnjelasan materi trkait diatas) hal tsb yg MNYEBABKAN/ MNJADIKAN PERGESERAN/ PERKEMBANGAN IDEOLOGI “syiah” dr yg SMULA hny sbg ALIRAN POLITIK mnjdi sbuah ALIRAN AQIDAH & FIQH BARU (lihat pd awalan / pmbuka dr pasal kedua pd materi trkait diatas -red)….?????
– Apa yang harus kita lakukan untuk tidak terjebak ke dalam ajaran syiah? Ciri-ciri syiah itu bagaimana?
– Seharusnya ada tabel perbandingan bagaimana Sunni dan syiah. Disitu akan kelihatan perbedaan yg mendasar, bahwa syiah bukan Islam.
– Apakah semua syiah itu sesat? Sy sering dpt BC yg mencantumkan scra khusus istilah Rafidhoh, apakah golongan itu sj yg disebut sesat, atau bgmna?
– Apakah ada golongan syiah yg pemahamannya mendekati sunni?
– Bagaimana mengidentifikasi / membedakan golongan pd no.1&2 itu? Jika memang ada syiah yg pemahamannya msh selamat.
– Di beberapa negara sudah menyatakan melarang spt malaysia, . Untuk di Indonesia apakah kita sudah merumuskan bersama(seluruh ormas Islam) ? Mhn penjelasannya ust?
– Apakah syiah saat ini boleh dibilang sesat…?  Krn jelas sdh tdk bersumber dari qur’an dan sunnah. Dimana letak kesesatannya syiah? Mohon penjelasan lbh mendalam. krn banyak sekali hal2  mengerikan dari sepak terjang syiah disyiria. Yaman, dll. Semoga tdk terjadi di Indonesia.
– Bagaimana cara untuk membentengi diri. Keluarga dan Masyarakat dari pengaruh syiah+isme2 yg lainnya? Terima kasih atas pencerahannya. Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan.
– Bagaimana sikap kita sebagai muslim menghadapi para pengikut syiah, apakah aktif menolak, dan menentang?
– Syiah sesat kenapa masi dperbolehkan naik haji si?
– ‘Afwan, bukannya pendiri sikte syiah abdullah bin saba’, yaitu org yahudi Yg pura2 masuk islam, jdi dengan ini sikte syiah sudah sesat dari dulu??

Jawaban:

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Artikel berjudul ‘Siapakah Syi’ah’ ditulis dengan asumsi awal bahwa seluruh peserta grup telah bersepakat akan kesesatan ajaran syi’ah. Persoalannya kemudian adalah bagaimana kontribusi kita untuk dapat mengobati mereka yang terjangkiti wabah virus syi’ah. Pengobatan tidak bisa dilakukan sebelum kita mengetahui sumber persoalannya, dan sumber persoalan itu ada pada metodologi dan struktur keilmuan syi’ah. Jangankan syi’ah, aliran sesat seperti ‘lia eden’, yang dipimpin oleh seorang wanita yang kurang waras pun diikuti oleh bukan sembarang orang, minimal diketahui diikuti juga oleh sekaliber profesor. Maka bagaimana metodologi umat Islam dalam menuntut ilmu adalah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting, karena persoalan kehidupan tidak hanya satu, sementara metodologi yang benar akan memudahkannya untuk melakukan filterisasi terhadap seluruh arus informasi sebelum menjadikannya ilmu dan membentuk struktur berpikir di dalam jiwanya. Mengobati dengan mengetahui persoalan utamanya akan jauh lebih efektif, terlebih ketika cara kita dalam mengobati sesuatu terus menerus saling disempurnakan dalam kebersamaan kita, diperkaya dengan pengalaman dari seluruh sahabat-sahabat Group Manis yang akan meningkatkan kualitas kebersamaan kita dalam mempertahankan kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tulisan terkait Syi’ah memang tidak akan cukup dengan satu tulisan pembuka tersebut dan hal yang lebih penting berikutnya adalah bagaimana kita pun dapat menjawab syubhat-syubhat yang dipropagandakan syi’ah secara ilmiah. Insya Allah, tulisan berikutnya dengan tema yang lebih mendalam akan dituliskan.

Referensi dalam tulisan tersebut seluruhnya diambil dari para pembela ahlus sunnah yang telah mengkaji perbandingan antara Sunni – syi’ah dalam waktu yang lama. Nama-nama yang dikutip dikenal sebagai ulama yang juga terlibat dan berkontribusi aktif membela Aqidah Ahlus Sunnah dari ragam penyimpangan manusia. Sebagai contoh Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi. Buku yang ditulisnya betul-betul merupakan hasil diskusi dan surat-menyurat dengan seorang yang juga Guru Besar dari negeri syi’ah iran, bahkan mengajar di 8 universitas di negeri tersebut, Prof. Dr. Muhammad al-Qazwini. Dengan semangat taqiyah-nya, al-Qazwini mengunjungi Syaikh al-Ghamidi pada bulan Ramadhan 1423H untuk tujuan awal dialog dan taqrib antara Sunni dan syi’ah. Ketika Syaikh al-Ghamidi menyetujuinya, sejak saat itulah hingga dua tahun kemudian, surat-menyurat di antara mereka terus berlangsung secara intens, dan syaikh al-Ghamidi berhasil mempertahankan pendapatnya secara ilmiah dan penuh hikmah terhadap seluruh hujjah yang disampaikan oleh orang syi’ah tersebut. Berikutnya Syaikh asy-Syatsri, beliau sebagai pengajar tetap di Masjid Quba, Saudi Arabia, telah melahirkan karya untuk menjawab seluruh syubhat yang dipropagandakan syi’ah, tidak dengan dalil-dalil Ahlus Sunnah, namun seluruhnya menggunakan referensi kitab-kitab mu’tabar syi’ah, sehingga umat mengetahui begitu rapuhnya struktur ilmu mereka, bahkan pertentangan demi pertentangan hadir dalam sejarah mereka, sehingga tidak mengherankan jika syi’ah terpecah dalam kelompok-kelompok sekte dalam jumlah yang cukup banyak. Imam Syahrastani dalam kitabnya yang membahas aliran-aliran dalam Islam, bahkan membagi syi’ah kepada lebih dari 30 golongan[1]. Perbedaan yang membesar berawal dari ketidaksepakatan akan siapa yang tepat sebagai pengganti Husain.[2] Aqidah syi’ah yang mengagungkan taqiyah akan membuat sulit bagi mereka yang berkeinginan ‘tabayun’, karena bagi umat Islam yang awam, dan tidak memiliki pondasi aqidah dan bahasa yang kuat, dikhawatirkan akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan syi’ah, sementara para ulama otoritatif pun telah pernah mencoba model pendekatan seperti ini dengan seluruh kapasitas yang mereka miliki, dan kemudian berakhir dengan kekecewaan demi kekecewaan.

Definisi syi’ah dalam masa awal generasi sahabat adalah definisi dalam hal bahasa, sementara syi’ah dalam definisi kekinian dan yang menjadi materi tulisan ini adalah definisi dalam hal teologi baru/bid’ah. Ali r.a. dan Mu’awiyah r.a. adalah termasuk di antara dua sahabat terbaik Rasulullah Saw., dan termasuk dua sahabat yang dipastikan masuk ke Surga-Nya Allah Swt. Terpecahnya ijtihad di antara mereka adalah realitas kehidupan dimana masing-masing memiliki cara pandang tersendiri terhadap apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam kepemimpinan, dan ini tidak masuk dalam bab Aqidah yang Lurus. Pembahasan akan perselisihan di antara keduanya, termasuk perselisihan di antara Ali r.a. dan Aisyah r.a. dapat dibahas dalam tema Sirah, agar tidak tercampur fokus kita pada pembahasan syi’ah dalam terminologi teologi baru. Awal ‘terbitnya’ teologi syi’ah adalah sejak mulai aktifnya Abdullah ibn Saba’. (Lihat penjelasan tentang sosok ini pada paragraf terakhir tulisan ini).

Seorang muslim sudah seharusnya berkonsentrasi memperkuat struktur keilmuan yang ada pada dirinya, membangunnya dengan metodologi studi yang benar dan terbukti telah melahirkan para sarjana Islam yang menghadirkan kegemilangan peradaban dan warisan yang teramat kaya. Dengan cara inilah, ia akan terhindar dari ketertarikan menganut syi’ah, dan aliran sesat lainnya seperti lemkari, ahmadiyah, ingkarus sunnah, liberalisme, pluralisme, sekularisme, komunisme, dan lainnya. Dari banyak kasus yang didapati, mereka yang tertarik masuk ke dalam aliran-alirat sesat sempalan adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang pondasi agama yang kokoh, sehingga ada banyak cara untuk menarik orang-orang seperti ini seperti melalui ‘pembangkitan emosi jiwa’, tawaran kenikmatan dunia, dan hal-hal lainnya. Adapun ciri-ciri kesesatan syiah itu sendiri akan dibahas dalam tulisan-tulisan berikutnya tentang tema ini, termasuk hal-hal detail seperti tabel perbandingan Sunni-syiah.

Ketika kita mentadabburi Al-Qur’an, akan kita dapatkan bahwa ketika menggunakan terma kebenaran (al-haqq), Allah Swt menggunakan terminologi ‘tunggal’, namun ketika menggunakan terma kesesatan (adh-dhalal), Allah Swt menggunakan terminologi ‘plural’. Famadza ba’da al-haqqi illa adh-dhalaali. Hal ini untuk menggambarkan bahwa realitas kebenaran hanya satu, sementara jalan-jalan yang dapat menarik manusia ke jalan kesesatan sangatlah banyak, maka Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita untuk tetap fokus kepada ‘shirathal mustaqim’, bahkan memvisualisasikannya di atas pasir kepada para sahabat, untuk menegaskan hal tersebut.

Kesesatan adalah terminologi bagi jalan yang tidak berada dalam shirathal mustaqim, dan jalan kebenaran itu hanya dapat diperoleh ketika para penuntut ilmu taat kepada perintah Nabi-nya untuk berpandukan hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan keduanya telah diakui oleh para sarjana baik di Timur maupun di Barat tentang bagaimana keduanya telah terjaga hingga hari ini dengan metodologi ilmiah yang dapat diterima oleh semua pihak. Sementara syi’ah memiliki persoalan besar dalam hal ini, sehingga wajar ajaran agama terkesan berubah-ubah. Sebagai contoh utama, syi’ah meyakini bahwa sumber keilmuan mereka tersimpan di sisi para imam mereka, dan para imam mewarisi kitab-kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka, seperti Kitab: Shahifah al-Jami’ah, Ali, al-‘Abithath, Diwan asy-Syi’ah, dan al-Jafr. Seluruh kitab tersebut diklaim berisi segala yang diperlukan manusia di dunia.[3] Sejarah pun mencatat bahwa gerakan pemalsuan hadits dengan motif kultus para tokoh telah terjadi di Kufah, Irak, saat negeri itu menjadi basis Syi’ah. Pemalsuan besar-besaran yang terjadi saat itu telah merusak reputasi negeri Irak, hingga Irak menjadi populer disebut dengan Dar adh-Darb (Negeri Pencetakan Hadits) [4], sebuah istilah bermakna negatif. Namun begitu, tingkat kesesatan atas sesuatu sudah pasti berbeda-beda dalam derajatnya, mulai dari yang lebih dekat kepada Sunni, hingga yang paling jauh kesesatannya sehingga terjatuh ke dalam kekufuran. Hal yang membedakannya ada pada sejauh mana penyimpangannya dari jalan kebenaran yang telah diwariskan oleh Nabi kita yang mulia, Saw. Lebih detail akan penyimpangan syiah dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya, karena sedemikian tingginya gunung kesesatan mereka yang tidak mungkin dapat ditulis dalam satu dua bait kalimat. Menuntut ilmu memang bertujuan untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi, bukan taklid.

Banyak negara di luar sana telah jauh-jauh hari memiliki peraturan untuk membentengi aqidah rakyat negerinya. KH. Hasan Basri, Ketua MUI Pusat di tahun 1997 menyebutkan bahwa pada bulan April 1993 Ulama Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah diundang oleh Brunai dalam satu Seminar Aqidah. Hadir pada saat itu Rais Aam NU, KH. Ilyas Ruhiat, dan Ketua Umum Muhammadiyah dari Yogya, KH. Azhar Basyir. Seminar itu melahirkan deklarasi bersama, bahwa keempat negara dimaksud adalah Negeri Sunni bukan syi’i. Bahkan Brunei Darussalam disebutkan sebagai negara kecil yang bahkan memfilter syi’ah sejak dari urusan keimigrasiannya, karena syi’ah lebih berbahaya dari sekedar ekstasi dan narkotika, karena meracuni Aqidah, sementara ekstasi dan narkotika hanya meracuni fisik. MUI telah jauh-jauh hari memutuskan kesesatan aqidah syi’ah, bahkan KH. Hasan Basri mengatakan kepada para duta-duta besar yang mendatanginya untuk bertanya mengapa MUI tidak menyetujui syi’ah, “Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan ummat kami.”[5]

Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., menegaskan bahwa meskipun ia pernah tinggal 18 tahun di negeri-negeri yang mayoritasnya penganut syi’ah, berinteraksi dengan para ulama syi’ah, namun beliau tidak pernah tertarik menjadi penganut syi’ah. Maka menguatkan pemahaman kita akan hakikat Sunni akan menjaga kita dari penyimpangan. KH. Irfan Zidny mengutip Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (450-505 H),
“Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran, sebelum lebih dahulu mengetahui tentang hakikat aliran tersebut, maka hal tersebut adalah tidak mungkin (muhal), bahkan hal yang demikian itu termasuk sikap yang ngawur dan sesat.”[6]

Jika kaum muslimin telah mengetahui hakikat dan jati diri syi’ah, maka tentunya diharapkan sekali agar seluruh penuntut ilmu bahu-membahu bersama-sama melakukan gerakan ‘pengobatan nasional’, penyadaran kepada mereka yang telah terjangkiti virus ini, dengan penuh hikmah, pelajaran yang baik, dan perdebatan yang juga lebih baik. Di satu sisi, kaum muslimin juga diharapkan untuk terus mendorong para pemangku kebijakan strategis untuk terus mempersempit ruang gerak syi’ah di Indonesia, negeri tercinta. Potensi kerusakan yang akan dihasilkan ajaran syi’ah telah terbukti di beberapa negara arab dan afrika, hal ini tidak terlepas dari dogma yang mereka yakini bahwa siapapun yang tidak berkiblat kepada syi’ah imam dua belas, maka dia kafir, di dunia dan akhirat. Syi’ah sangat bermudah-mudah dalam melakukan pengkarifan, karena memang Syi’ah adalah gerakan takfiri.[7] Maka itulah posisi Ahlus Sunnah di dalam jiwa mereka, sehingga tidak mengherankan jika mereka tidak memiliki belas kasih sama sekali dalam seluruh pertarungannya terhadap Ahlus Sunnah.[8] Ahlus Sunnah bukanlah Islam menurut Khomeini, dan dilarang menikahi wanita-wanita Ahlus Sunnah, dalam risalahnya At-Ta’adul wa at-Tarjih, hlm. 82.[9]

Bagi kaum muslimin yang pernah berhaji dan menemukan penganut syiah di sana, maka ketahuilah bahwa tidak semudah itu melarang syi’ah masuk ke Haramain (dua kota suci). Hal ini karena tidak semua warga Iran sebenarnya mengerti tentang ajaran syi’ah kecuali hanya warisan budaya turun temurun. Cara-cara yang digunakan pemerintah Saudi termasuk cara-cara yang bisa disebut lebih toleran, di antaranya berdalil kepada sikap Nabi Saw yang juga tidak pernah mengusir kaum munafik dari Haramain, padahal Nabi Saw tahu persis siapa-siapa yang munafik dari kalangan umatnya. Pemahaman bahwa sekte syi’ah bukanlah sekte seumur jagung, perlu mendapatkan penanganan yang teramat khusus, terlebih ketika perpecahan di tubuh mereka sangat banyak, bahkan ada yang dianggap lebih dekat kepada Ahlus Sunnah, seperti sekte Zaidiyah. Rakyat Iran misalkan, tidak semuanya menganut syi’ah, di KTP mereka tertulis Islam, bukan syi’ah, dan revolusi mereka juga disebut revolusi islam, bukan revolusi syi’ah, maka tentu membutuhkan keahlian khusus untuk dapat memastikan bahwa betul-betul seseorang itu bukan sedang bertaqiyyah. Menjadi lebih rumit jika yang masuk adalah dari negeri selain Iran. Mudah-mudahan dengan masuknya orang-orang bodoh dari penganut syi’ah yang tidak mengetahui persis ajaran syi’ah, dapat mengambil hikmah dan faidah yang banyak dari Ahlus Sunnah dalam seluruh aspek Islam yang dihidupkannya, mulai dari aqidah, ibadah dan tentunya akhlak, dan tersadarkannya mereka dari ragam bentuk ibadah yang bersifat berlebih-lebihan (ghuluw). Adapun bagi mereka yang sangat kuat pondasi kesyiahannya, mungkin dapat diingatkan untuk tidak perlu datang ke Haramain, karena mereka tentu memiliki kota suci tersendiri. Da’wah adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan hari ini, dikarenakan Sunni dan syi’ah adalah dua teologi yang berbeda ‘meja’, dan memiliki perbedaan prinsipil yang mustahil disatukan.[10] Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis sampai menulis 28 renungan kepada para penganut syi’ah, dan menjabarkannya dari hati ke hati, mencoba semaksimal mungkin menggunakan ragam bahasa yang ditujukan untuk penyadaran mereka.[11]

Terakhir, Abdullah bin Saba’ — seorang Yahudi yang baru masuk islam di masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan,namun tidak mencerminkan kepribadian Islam sama sekali [12] — memang dengan tegas disebutkan dalam banyak kitab syi’ah dan juga kitab Ahlus Sunnah sebagai tokoh utama yang mempopulerkan tentang keimaman Ali r.a., dan pelopor dalam pencacian terhadap mertua dan menantu Rasulullah Saw.: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman r.a., bahkan yang pertama memunculkan pendapat tentang reinkarnasi, menuhankan Ali, dan kesesatan lainnya. Maka semenjak itulah kesesatan mulai ditaburkan, dan mereka yang terjerembab ke dalam keyakinan ini telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata. Saya teringat kepada Sayyid Husain al-Musawi (sebagaimana kesaksian seorang pakar aliran syi’ah, Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi), seorang ulama besar syi’ah di Najaf, kawasan syi’ah terbesar di dunia, yang akhirnya bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah, beliau menjelaskan bahwa ajaran di internal mereka menyatakan bahwa sosok Abdullah bin Saba’ adalah rekayasa Ahlus Sunnah untuk menyerang syi’ah dan keyakinannya. Namun faktanya, ternyata informasi itu sangat banyak ditemukan di dalam kitab-kitab induk mereka. Inilah salah satu alasan al-Musawi kemudian bertemu dengan cahaya kebenaran Ahlus Sunnah sebelum kemudian beliau terbunuh.[13]

Wallaahul musta’an,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,

Maraji’
====
1. Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastani, Al Milal wa al-Nihal.
2. Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI Pondok Pesantren Sidogiri, Mungkinkah Sunni-syi’ah dalam Ukhuwah?, Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab, Sidogiri: Pustaka Sidogiri, 2008, Cetakan II, hlm. 53.
3. Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, As’ilah qadat syabab asy-syi’ah ila al-Haq
4. Amin Muchtar, Hitam di Balik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah, Depok: Al-Qalam, 2014, hlm. 80.
5. Sambutan Ketua MUI Pusat dalam Seminar Nasional Sehari tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, 21 September 1997
6. Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., dalam makalahnya berjudul ‘Bunga Rampai Ajaran Syi’ah’
7. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Henri Shalahuddin, Teologi dan Ajaran shi’ah Menurut Referensi Induknya, Jakarta: GIP, 2014, hlm. 270.
8. Imad Ali Abdussami, Khiyanat asy-syi’ah wa Atsaruha fi hazaim al-Ummah al-Islamiyyah, Iskandariyah: Dar al-Iman, Tanpa Tahun.
9. Muhammad Malullah, Mauqif al-Khumaini min Ahlis Sunnah
10. Prof. Dr. Mohammad Baharun, Guru Besar Sosiologi Agama, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamah sampai Mut’ah, Malang: Pustaka Bayan, 2008, hlm. 6.
11. ‘Utsman bin Muhammad al-Khumais, Minal Qalbi ila al-Qalbi, al-Minhaj, 2009
12. Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, hlm. 139-161.
13. Sayyid Hussain al-Musawi, Tsalatsatun Rukhshah Syar’iyyah li an-Nisa, Dar ZHil asy-Syarif, Tanpa Tahun.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678