Amal dan Ajal

CERDAS DENGAN MENGINGAT MATI (bag-2)

Pemateri: Ustzh. DRA. INDRA ASIH

Maka itulah ketika Rasulullah Saw ditanya, siapakah orang yang sebenarnya paling cerdas, beliau menjawab,

الكيس من دان نفسه, وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع هواها وتمني على الله الأماني (رواه الترمذي)

★ Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati.

★ Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan.

Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah,
‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’

Beliau menjawab,
“Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”.

Lalu bertanya lagi,
‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’.

Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

✽”Orang yang paling banyak mengingat mati
dan
✽Paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati.
✽Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

(HR. Ibnu Majah)

Kenapa orang yang selalu mengingat mati dan mempersiapkannya dengan baik disebut Rasulullah sebagai orang yang cerdas?

Karena orang yang selalu mengingat mati adalah orang yang berpikir rasional dan berpikir jauh ke depan.

Dia menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sesaat, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di akhirat dan kehidupan yang kekal itu terjadi setelah kematian.

Diapun beramal sesuai dengan keyakinannya bahwa dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat tempat menuai.

Hingga dia akan menanami kehidupan dunianya dengan kebaikan dan menghindari kemaksiatan didasari dengan keimanan kepada Allah SWT.

Dan keyakinan akan balasan Allah dengan pahala surga.

KESIMPULAN:

Orang yang cerdas menurut Rasulullah itu diantaranya sebagai berikut:

1. Menundukkan hawa nafsu.

Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya adalah orang yang cerdas.

Ia memahami bahwa nafsu jika dipenuhi begitu saja tanpa di kendalikan, maka akan mempunyai akibat negatif yang fatal.

Dalam hal ini, kecerdasan itu tidak diukur dengan tingkat pendidikan maupun intelektualitas semata.

2. Banyak mengingat mati.

Orang yang memikirkan kematian dengan segala kaitannya, kemudian berusaha mempersiapkan diri untuk menjemput kematian itu, maka itulah termasuk orang yang cerdas (Akayyis), bukan sebaliknya.

3. Beramal untuk Akhirat.

Hanya orang-orang yang cerdas (berakal) sajalah yang akan memikirkan kehidupan akhirat dan akan beramal untuk kebahagiaan di akhirat kelak,  dengan tidak melupakan kebahagiaan dunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Sebagaimana firman Allah SWT.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

✽Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
✽Janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan
✽Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
✽Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi) ini.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS.Al-Qashash: 77)

Akhirnya, marilah kita renungkan bagaimana kita memaknai tugas kita sebagai hamba Allah dalam kehidupan ini dan apa yang sudah kita siapkan sebagai bekal setelah kematian.

❁Sudah siapkah jika malaikat maut datang menjemput?

❁Sudahkah kita beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya?

❁Sudah ringankah kita untuk menolong sesama?

❁Sudah optimalkah kita berbakti kepada orang tua?

❁Sudahkah kita menunaikan amanah, berkata jujur, bersikap adil, dan mengamalkan ilmu yang kita miliki?

❁Sudahkah kita menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan, meninggalkan kecurangan,  menzhalimi orang lain dan berlaku curang demi meraih tujuan hidup kita?

Marilah kita memohon kepada Allah SWT. agar kita selalu diingatkan kepada kematian dan kehidupan akhirat.

Sehingga kita semakin bersemangat dalam beramal sholih.

Dan Allah menjadikan kita termasuk orang yang cerdas sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw.

Aamiin yaa Robbal a’lamiin.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Ustadz Menjawab: Mengulang Shalat Di Rumah Untuk Tarbiyatul A’iliyah

Pertanyaan:

Salam. Ustadz Farid yg dirahmati Allah. Saya mau bertanya, apakah diperbolehkan bagi seorang suami setelah melaksanakan shalat fardhu di masjid kemudian ia melaksanakan pula shalat fardhu di rumah secara dawam bersama anak dan istrinya? hal ini dilakukan dalam upaya tarbiyatul a’iliyah guna mendawamkan sholat tepat waktu dan berjamaah bagi anak dan istrinya. Terima kasih

JAWABAN:

✏ Oleh: Farid Nu’man Hasan

Syariat Islam membolehkan bagi seseorang yang sudah selesai melaksanakan shalat wajib, kemudian dia menemani orang lain untuk shalat wajib(karena orang tersebut tidak ada teman), sedangkan bagi dia shalatnya itu dihitung sebagai shalat sunah. Inilah yang bisa dilakukan oleh saudara penanya.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ

                Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Mu’adz bin Jabal pernah shalat Isya terlambat bersama RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  kemudian dia kembali menuju kaumnya dan ikut shalat bersama kaumnya. [1]

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang sudah selesai shalat wajib, lalu dia ikut menemani shalat wajib orang lain, dan baginya dinilai sunah sedangkan orang lain itu adalah wajib. Inilah pandangan yang dikuatkan oleh para Imam seperti Imam Ibnul Mundzir dari Atha’, Al Auza’i, Imam Ahmad, Abu Tsaur, dan Sulaiman bin Harb serta Imam An Nawawi, semoga Allah meridhai mereka semua.

Jadi, silahkan menemani shalat-nya isteri agar istri bisa mendapatkan pahala berjamaah bersama Anda, walau anda sudah melaksanakan shalat wajib di mesjid. Bagi Anda itu dinilai sunah dan bagi isteri adalah wajib.

✿Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan Menemani Orang Yang Shalat Sendiri, walau Kita Sudah shalat Berjamaah

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ

جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

Dari Abu Sa’id dia berkata, datang seseorang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah selesai shalat, Beliau besabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menemaninya?” maka berdirilah seseorang dan shalat bersamanya. [2]

❂ Ada tiga pelajaran dari hadits ini:

1. Sunah menemani berjamaah orang yang sedang shalat sendiri, walau kita sudah shalat berjamaah.

2. Bolehnya membentuk jamaah baru dalam mesjid yang sama, walau sebelumnya sudah dilakukan shalat berjamaah. Inilah pendapat sebagian sahabat tabi’in, Ahmad, Ishaq, At Tirmidzi, dan lain-lain. Dan dipilih oleh Syaikh Hasan Ayyub.

3. Membuktikan bahwa shalat sendiri tetap sah, dan shalat berjamaah adalah sunah mu’akadah, sebagaimana pendapat jumhur.

Imam At Tirmidzi berkata:

وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا لَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صَلَّى فِيهِ جَمَاعَةٌ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ و قَالَ آخَرُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُصَلُّونَ فُرَادَى وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ يَخْتَارُونَ الصَّلَاةَ فُرَادَى وَسُلَيْمَانُ النَّاجِيُّ بَصْرِيٌّ وَيُقَالُ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَأَبُو الْمُتَوَكِّلِ اسْمُهُ عَلِيُّ بْنُ دَاوُدَ

                “Dan yang demikian itu pendapat lebih dari satu orang Ahli Ilmu golongan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in.Mereka berkata: “Tidak apa-apa shalatnya sekelompok manusia secara berjamaah di sebuah mesjid yang di dalamnya sebelumnya sudah di adakan shalat jamaah.”Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq.

Golongan Ahli Ilmu lainnya berpendapat hendaknya dilakukan shalatnya sendiri-sendiri saja, jika sebelumnya sudah di adakan shalat berjamaah, dengan kata lain tidak ada shalat berjamaah ‘kloter’ kedua, inilah pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Malik, Syafi’I, mereka memilih shalat sendiri, Sulaiman An Naji Bashri dia juga disebut  Sulaiman bin Al Aswad dan Abul Mutawakkil nama aslinya adalah Ali bin Daud.” [3]

Berkata Imam Asy Syaukani:

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الدُّخُولِ مَعَ مَنْ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ مُنْفَرِدًا ، وَإِنْ كَانَ الدَّاخِلُ مَعَهُ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَة
قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ : وَقَدْ اتَّفَقَ الْكُلُّ عَلَى أَنَّ مَنْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي مُنْفَرِدًا لَمْ يَلْحَقْ الْجَمَاعَةَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَةٍ وَقَدْ اسْتَدَلَّ التِّرْمِذِيُّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya masuk berjamaah bersama orang yang shalat sendiri, walau orang yang masuk itu sudah shalat jamaah sebelumnya. Berkata Ibnur Rif’ah: “ Para ulama sepakat bahwa apabila seseorang melihat orang lain sedang melakukan shalat sendirian karena terlambat ikut jamaah, ia dianjurkan ikut berjamaah bersama orang tersebut, walau dia sudah shalat jamaah. “  At Tirmidzi juga berdalil dengan hadits ini bahwa bolehnya sekelompok orang shalat berjamaah di mesjid yang di dalamnya sudah di adakan shalat berjamaah sebelumnya.” [4]

Wallahu A’lam

[1] HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Al Qiraah Fil ‘Isya, Juz. 2, hal. 490, No hadits. 711.

[2] HR. Sunan At Tirmidzi, Juz.1, Hal. 373, No. 204. Imam At Tirmidzi berkata: hadits ini hasan

[3] Ibid

[4] Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz. 5, Hal. 82.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

CERDAS DENGAN MENGINGAT MATI (bag-1)

Pemateri: Ustadzah. DRA. INDRA ASIH

Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan dunia yang fana ini benar-benar sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam sebuah haditsnya.

عن المستورد بن شداد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: والله ما الدنيا في الأخرة إلامثلَ ما يجعل أحد كم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع. (رواه مسلم)

Dari Al-Mustaurid bin syadad RA. Berkata, bahwa Rasulullah Saw. besabda:

“Demi Allah! Tidaklah perbandingan dunia dengan akhirat itu melainkan seperti salah seorang di antara kalian yang memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah seberapa banyak air yang ikut pada jari itu.
(HR. muslim)

Subhanallah, sungguh tidak dapat kita bayangkan singkatnya kehidupan dunia ini yang hanya berupa TETESAN AIR yang sangat sedikit di satu jari bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang sangat lama dan luas laksana LAUTAN.

Allah SWT. berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.”
(Al-Anbiya`: 35)

Betapa pun berkuasanya manusia di muka bumi ini dan seberapa banyaknya harta kekayaan yang ia miliki, pasti dan pasti kematian itu akan selalu menjemputnya kapan saja.

Ya..
Kematian itu tidak pernah mengenal usia, baik itu tua maupun muda.

Maka janganlah sekali-kali kita yang masih muda, yang masih mempunyai tubuh segar bugar, berwajah rupawan dan kesehatan yang terjamin, mengira akan jauh dari kematian.

Karena Allah SWT. telah mengingatkan kita, bahwa kematian itu akan menjemput kita kapan saja dan tak seorang pun mampu untuk menghalanginya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Dan setiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang batas waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
(QS. Al-A’raf: 34)

Ajal setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin didalam rahim ibunya, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya.

Apabila saat ajal seseorang tiba, maka
→ia tiba tepat waktu,
→tidak mungkin ditunda atau disegerakan sedetik pun dan
→ia mencapai di belahan bumi mana pun seseorang berada, tanpa dia ketahui.

Siapapun dia orang besar atau kecil, kaya atau miskin, tua atau muda, sehat maupun sakit.

Subhanallah…

Sesuai firman Allah,

وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34).

Selanjutnya, ketika kita mampu untuk banyak MENGINGAT MATI, maka kita akan mudah untuk menunaikan hal-hal berikut:

⇨ Bersegera untuk bertaubat
⇨ Hati merasa cukup
⇨ Giat/semangat dalam beribadah.

Kita perlu terus menguatkan ketakinan kita bahwa sejatinya yang paling dekat dengan kita, BUKAN orang tua, kerabat, suami, istri atau anak, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN.

Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati

“كل نفس ذائقة الموت”

(Surah Ali-Imran:185)

Rasulullah Saw pun pernah bersabda:

“Cukuplah kematian itu sebagai nasehat.”

(HR. Thabrani dan Baihaqi).
Artinya bahwa mati atau kematian sebenarnya sudahlah cukup menjadi nasehat:

✺ Agar manusia selalu ingat dan beribadah kepada SWT.

✺ Agar manusia menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan.

✺ Agar penguasa tidak lagi melakukan korupsi yang membuat rakyat menjadi sengsara

✺ Agar hakim tidak lagi menerima suap yang membuat kasus hukum menjadi buram.

Sungguh, jika seluruh manusia menjadikan MATI sebagai NASEHAT, maka dunia ini akan tentram, damai, dan sejahtera.

Bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Manuver Akhir Sebagai Panglima – Babak Keteladanan Khalid (ra) Berikutnya Ternyata Lebih Sulit Untuk Diteladani!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO SE., MPP.

Manuver Akhir Sebagai Panglima – Babak Keteladanan Khalid (ra) Berikutnya Ternyata Lebih Sulit Untuk Diteladani!

★ Pertempuran Maraj al-Debaj – September 634

Pertempuran ini terjadi ketika pasukan kaum Muslimin mengejar pasukan Byzantium yg telah melampaui 3 hari batas waktu perdamaian dari sejak dibebaskannya Damaskus pada bulan Rajab 13 Hijriah (September 634).

❂ LATAR BELAKANG

Kota Damaskus yang berhasil dibebaskan pada era Khalifah Abu Bakr (ra) setelah dikepung selama 1 bulan sejak 21 Agustus hingga 19 September 634.

Kota ini adalah titik pertahanan kuat Byzantium pertama yang dibebaskan oleh kaum Muslimin di Syam. Komandan garnizun sekaligus gubernur kota yang bernama Thomas yang juga menantu Kaisar Heraclius dengan culas memanfaatkan hukum perang dalam Islam.

Thomas lekas mengatur negosiasi penyerahan kota di salah satu gerbang kepada Abu Ubaydah ibn al-Jarrah (ra) untuk mendapatkan jaminan keamanan ketika di gerbang lain kota sudah berhasil ditaklukan secara militer oleh Khalid ibn al-Walid (ra) yang memiliki konsekuensi hilangnya jaminan keamanan itu.

Setelah kejadian itu Khalid (ra) menerima masukan dari majelis syura untuk tetap menghormati perjanjian penyerahan untuk memudahkan penaklukan kota-kota lain di Syam.

Perjanjian perdamaian itu sangat diincar oleh garnizun Byzantium di kota Damascus untuk dapat meloloskan dirinya dari penangkapan.

❂ MENGEJAR SEBUAH KELICIKAN

Seorang muslim dari bangsa Yunani yang bernama Jonah mengusulkan kepada Khalid (ra) untuk mengejar pasukan Byzantium setelah 3 hari perdamaian berlalu.

Jonah menawarkan jasanya sebagai penunjuk jalan pintas agar dapat menyusul pasukan Byzantium yang meloloskan diri.

Jonah ini juga yang membocorkan titik lemah dari dinding pertahanan kepada Khalid (ra) pada bagian gerbang sebelah timur.

Jonah juga yang mengusulkan agar pasukan berkuda Khalid (ra) mengenakan pakaian Arab lokal untuk mengelabui patroli Byzantium yang mungkin mereka temui di perjalanan.

❂ PERTEMPURAN

Rute yang ditunjukkan oleh Jonah bagi pasukan kavaleri kawal depan (mobile guard) tidak tercatat dalam sejarah, hanya saja al-Waqidi menyatakan bahwa setelah 3 hari mereka baru dapat menegejarnya tidak jauh dari kota Antioch.

Sejarawan al-Waqidi menyebutkan tempatnya di sebuah tanah tinggi yang datar di sebelah barisan perbukitan Jabal Anshariyah; Syria sebelah utara yang tidak jauh dari pesisir.

Langit baru saja menimpakan hujan yang lebat sehingga pasukan Byzantium tersebar di padang datar itu demi mencari perlindungan dari tumpahan air. Perbekalan mereka pun terserak di beberapa tempat.

Posisi mereka ini ditemukan oleh para pengintai yang disebar Khalid (ra) yang mulai menyusun rencana alur penyerangan.

Khalid (ra) merancang serangan dari 4 arah dalam gelombang 1.000 pasukan berkuda.

🔹Resimen penyerbu pertama datang dari selatan dari arah jalan ke Damascus yang dipimpin oleh Zirrar ibn Azwar (ra)

✶Setengah jam kemudian dari arah timur datanglah serbuan yang dipimpin oleh Rafi’ ibn Umayr (ra).

✶Setengah jam kemudian datang lagi resimen penyerbu dari utara dipimpin oleh Abdurrahman ibn Abi Bakr (ra) yang tidak lain adalah anak dari khalifah sendiri yang menyerang garis belakang lawan.

✶Setengah jam kemudian tiba pula resimen utama dipimpin Khalid (ra) menyerang dari arah yang paling sulit yaitu timur.

Setelah itu pasukan Byzantium benar-benar terkepung; bahkan dalam kepanikan tersebut Khalid (ra) berhasil membunuh Thomas dan komandan pengawalnya Harbis dalam duel satu lawan dua.

Gugurnya panglima Byzantium ini menyebabkan jatuhnya moral juang pasukan. Namun, karena jumlah pasukan kaum Muslimin terlalu sedikit untuk benar-benar mengepungnya maka beberapa ribu lawan berhasil lolos menuju kota Antioch.

Diantara yang tewas di Maraj al-Debaj adalah calon tunangan Jonah yang bunuh diri mengetahui bahwa pasukan ini sudah terkepung dan Jonah sendiri berseberangan.

Khalid membawa jandanya Thomas untuk diberikan sebagai calon pengantin wanita bagi Jonah. Ia menolak tawaran Khalid (ra) dan terus membantu kaum Muslimin hingga syahid di pertempuran Yarmuk (silakan lihat artikel saya sebelumnya tentang persitiwa di Yarmuk) beberapa tahun kemudian.

❂ KESUDAHAN

Al-Waqidi menulis bahwa dalam perjalanan balik menuju Damascus, utusan Kaisar Heraklius tiba kepada Khalid (ra) untuk meminta kembali putrinya (janda Thomas), dengan surat yang berbunyi:

“Saya mendapat kabar tentang apa yang engkau timpakan atas pasukanku.
Engkau telah menewaskan menantuku dan menawan anakku.
Engkau telah berhasil kembali menuju wilayah aman.
Sekarang aku meminta kembali anakku.
Engkau kembalikan anakku dengan tebusan atau sebagai hadiah karena aku mengetahui kedermawananmu.”

Khalid (ra) mengatakan kepada utusan kaisar Byzantium itu: “Bawalah pulang dia (anak kaisar) sebagai hadiah, saya tidak membutuhkan uang tebusan.”

Utusan kaisar membawa pulang anaknya ke Antioch sedangkan pasukan Khalid (ra) pulang dengan harta rampasan yang banyak.

Mereka tiba kembali ke Damascus setelah 10 hari operasi militer. Mereka tiba pada hari Sabtu 3 Sya’ban 13 Hijriah (1 Oktober 634).

Sesampainya Khalid (ra) ke Damascus ia memperoleh kabar wafatnya khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) langsung dari Abu ‘Ubaydah (ra) yang sudah mendapatkan perintah tertulis untuk menggantikannya dari khalifah yang baru, ‘Umar ibn al-Khaththab (ra).

AGUNG WASPODO, kembali menyaksikan manuver-manuver cerdas Khalid (ra) pada pertempuran taktis ini di penghujung  karirnya sebagai panglima perang.

Setelah ia memberikan keteladanan atas bagaimana kepiawaian seorang panglima, tidak lama lagi ia akan memberikan teladan bagaimana keikhlasan komandan yang dicopot dari jabatannya.

Banyak yang berhasil meneladani kepiawaian Khalid (ra) dalam medan tempur, namun sangat sedikit yang mampu meneladani keikhlasannya dalam pergantian kepemimpinan setelah 1.381 tahun berlalu.

Depok, 6 September 2015, hampir masuk waktu siang.

❆❆❆


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

URGENSI SIRAH NABAWIYAH

Pemateri: Ust. DR. WIDO SUPRAHA 

Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup Nabi Muhammad Saw, manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi [1], namun bukanlah buku sejarah an sich.

Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya [2].

Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia.

Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw. [3]

※Sirah Nabawiyah memberikan KEMUDAHAN bagi manusia untuk:

⇛Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek

⇛Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber

⇛Mudah memahami Al-Qur’an

⇛Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar.

⇛Memiliki rujukan pola dakwah terbaik [4]

Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya. [5]

※Sirah Nabawiyah memiliki banyak KEISTIMEWAAN [6]:

⇛Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.[7]

⇛Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman [8]

⇛Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul.

⇛Mencakup semua aspek kehidupan manusia.

⇛Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya.

★ Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk peningkatan pemahaman agama.

✾ Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!

♗ MARAJI’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-2)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

2. Hukum Membeli Lahan Yang Terdapat Sumber Air

Membeli lahan, atau tanah yang di dalamnya terdapat sumber air, adalah boleh.

Dan pemiliknya boleh memanfaatkan air tersebut untuk keperluannya dan anggota keluarganya.

Hal ini sebagaimana terdapat riwayat tentang kisahnya Abu Thalhah yang memiliki tanah di dekat Masjid Nabawi yang memiliki sumber mata air, di mana Nabi SAW sering minum dari mata air tersebut :

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ فَلَمَّا نَزَلَتْ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ شِئْتَ فَقَالَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا وَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ قَالَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ (رواه البخاري(

Dari Anas bin Malik ra berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah SAW sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut.

Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya):

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata;

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu”.

Maka Rasulullah SAW bersabda:
“Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan.

Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”.

Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. (HR. Bukhari)

Namun larangan dalam hadits di atas lebih dimaksudkan pada memonopoli sumber air, untuk kemudian mengenakan “tarif” bagi orang-orang yang akan mengambil air di sumber air tersebut.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh orang Yahudi, yang memiliki sumur di masa Usman bin Affan.

Pada saat paceklik dan manusia tidak memiliki air, Yahudi tersebut tidak mengizinkan orang-orang mengambil air dari sumur tersebut, kecuali apabila mereka membayarnya.

Kemudian Usman bin Affan membelinya dan menyedekahkannya kepada seluruh kaum muslimin.

3. Larangan menjual kelebihan air apakah khusus air minum atau air untuk kebutuhan lainnya?

Imam Qurtubi berpendapat bahwa larangan tersebut secara dzahirnya dikhususkan bagi air yang dijadikan sumber air minum.

Karena air minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, yang manusia tidak dapat hidup tanpanya.

Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah air secara umum, tidak hanya khusus untuk air mium, yang berada di tempat sumber air dan menjadi kebutuhan manusia.

Pendapat kedua ini dikuatkan dengan hadits lainnya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَأُ (رواه البخاري(

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman. (HR. Bukhari)

Bahkan dalam hadits lainnya disebutkan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلأُ (رواه البخاري(

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.”  (HR. Bukhari)

Jadi secara dzhahirnya hadits ini menggambarkan bahwa larangan menjual air termasuk untuk memenuhi kebutuhan ternak dan bahkan pengairan tumbuhan.

Larangan menjual kelebihan air ini dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW lainnya, diantaranya :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ، رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضْلُ مَاءٍ بِالطَّرِيقِ فَمَنَعَهُ مِنْ ابْنِ السَّبِيلِ وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلْعَتَهُ بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ أَعْطَيْتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةَ (إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا(

Dari Abu Hurairah ra, bahwa  Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari qiyamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih, yaitu:

✻Seorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu dia tidak memberikannya kepada musafir,
✻Seorang yang membai’at imam dan dia tidak membai’atnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi, kalau dia diberikan dunia dia ridho kepadanya dan bila tidak dia marah, dan
✻Seorang yang menjual dagangannya setelah ‘Ashar lalu dia bersumpah; demi Allah Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia sungguh aku telah memberikan (shadaqah) ini dan itu lalu sumpahnya itu dibenarkan oleh seseorang”.

Kemudian Beliau membaca ayat ini: artinya (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) (HR. Bukhari

4. Menjual air yang sudah di kemas, atau sudah diangkut?

Adapun air yang sudah ada “usaha” dari pemiliknya, seperti air yang sudah dikemas dalam botol, atau sudah diisikan ke dalam galon, atau diangkut dengan menggunakan gerobak lalu diantar ke rumah-rumah, maka hukumnya adalah boleh untuk diperjualbelikan.

Karena sudah ada “usaha” dari pemiliknya dalam memprosesnya dan atau mengantarkannya ke rumah-rumah penduduk.

Adapaun jika ia menjual air untuk kemudian orang-orang mengambil sendiri di dalam sumur, di sungai atau di danau, maka hukumnya tidak boleh.

Menjual air inipun ada syaratnya terkait dengan sumber mata airnya.

Yaitu di sumber mata air tersebut, pemiliknya tidak boleh melarang orang-orang mengambil dari sumber tersebut apabila akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

..

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-1)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

Dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda :

 عَنْ إيَاسِ بْنِ عَبْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، ﴿ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ﴾ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلاَّ ابْنَ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Iyas bin Abdin ra,

“Bahwa Nabi SAW melarang jual beli kelebihan air”

(HR. Khamsah, kecuali Ibnu Majah. Dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Turmudzi.)

Hadits di atas diriwayatkan oleh Khamsah, kecuali Ibnu Majah, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Nasa’i.

Namun bersamaan dengan riwayat tersebut, Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa (syahid) dengan sanad berbeda, yaitu dari Jabir bin Abdillah, bukan dari jalur Iyas bin Abdin Al-Muzani.

Hadits Lainnya

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُهُ .(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ) حَدِيثُ إيَاسٍ قَالَ الْقُشَيْرِيِّ هُوَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَحَدِيثُ جَابِرٍ هُوَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَلَفْظُهُ لَفْظُ حَدِيثِ إيَاسٍ وَكَذَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ

Dan dari Jabir ra, dari Nabi SAW (sebagaimana hadits sebelumnya). HR. Ahmad dan Ibnu Majah.

Adapun tentang hadits Iyas, Imam Qusyairi mengatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.

Sedangkan hadits Jabir ra merupakan hadtis shahih Muslim, sementara
lafadznya adalah lafadz hadits Iyas. Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Nasa’i.

❋TAKHRIJ HADITS

Dari Jalur Iyas bin Abdin :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 14897.

Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 3017.

Diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah, Bab Ma Jaa’a fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 1192

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Fadhlil Maa’, hadits no 4583 dan 4584.

Dari Jalur Jabir bin Abdillah ra : Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim Bai’ Fadhli Maa’ Alladzi Yakunu bil Falati, hadits no 2925.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, namun bukan dari Iyas bin Abdin, melainkan dari Jabir ra, dalam Kitab Al-Ahkam, Bab An-Nahyi an Bai’ Maa’, hadits no 2468.

Demikian juga Imam Ahmad meriwayatkan hadtis ini dari jalur Jabir bukan Iyas, dalam Musnadnya, hadits no 14117.

❋SYARAH HADITS

1. Hukum Jual Beli Air

Imam Syaukani mengemukakan,
bahwa hadits di atas menggambarkan tentang “HARAM-nya” menjual kelebihan air, yaitu kelebihan air dari kebutuhan si pemiliknya.

Kelebihan air yang tidak boleh diperjual belikan itu mencakup air yang berada di wilayah (tanah) umum, maupun di tanah yang dimiliki atau dikuasai baik oleh perorangan maupun kolektif.

⇛PENJELASAN :

Ulama sepakat, tentang haramnya hukum memperjual belikan air yang terdapat dalam sumbernya, seperti yang berada di sungai, telaga, danau bahkan yang terdapat di dalam sumur.

Kendatipun berada di bawah penguasaan pemiliknya.

Disebut sebagai kelebihan air, maksudnya adalah bahwa pemiliknya lebih berhak terhadap air yang terdapat dalam sumber air tersebut, namun ketika ia telah memenuhi kebutuhannya dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya, maka ia tidak boleh menjualnya kepada mereka.

Air tersebut boleh dimanfaatkan oleh orang banyak tanpa kompensasi seperti dalam jual beli (iwadh).

Dan jika pemiliknya menjual air tersebut kepada orang yang mengambilnya, maka hukumnya haram dan pelakunya berdosa.

Insya Allah bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hijrah Itu Menguras Rasa

MEMAKNAI HIJRAH DENGAN BER-HIJRAH

📝 Pemateri: Ustadzah DRA. INDRA ASIH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Sabda Nabi SAW:

🔎“Ilmu yang pertama kali diangkat adalah kekhusu’an” 🔍

(diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad Hasan)

Perjalanan alam semesta dan dunia, berputar terus, berpindah dari satu proses ke proses yang lain.

Berpindah dari satu era ke era yang lain, dengan perbedaan manusia yang menghuninya dan kecenderungan mereka yang tentu saja juga mengalami perubahan sejalan dengan perbedaan kekhasan mereka dari masa ke masa.

Kita adalah penghuni dunia sekarang.
🔹Dunia yang serba  cepat, praktis dan efisien.
🔹Dunia yang menjanjikan dan menyajikan berbagai arena dan fasilitas yang sungguh-sungguh sangat mengasyikkan dan canggih.
🔹Dunia yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi yang begitu menawan dan semuanya menantang kita untuk mencoba dan menikmatinya.

Teknologi komunikasi dan transportasi yang memungkinkan kita menggenggam dunia ini hanya dalam hitungan detik, dalam arti  hanya dalam hitungan detik saja, kita sudah bisa ada dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu negeri ke negeri lain.

Mencermati hadits di awal tulisan ini, apa yang Nabi saw sabdakan terbukti benar adanya sekarang.

Sedikit demi sedikit tanpa kita menyadarinya seluruh diri kita, seluruh indera kita sudah begitu terbiasa dan menikmati bahkan kecanduan  hiruk-pikuk dan gemerlap suasana dunia modern ini.

Luluh lantak bangunan kekhusu’an pada diri kita.

Habis kandas persediaan energi pembangkit khusu’an kita.

Ketika sholat, kita ibarat “mayat” atau “robot” yang sedang melakukan aktifitas tanpa makna. Kosong.

Kemudian, kita terburu-buru menyelesaikannya dan akhirnya, bersegera kembali pada  berbagai judul dan kesibukan kita.

Di masa seperti ini, sungguh memaknai HIJRAH dengan kembali merebut KEKHUSU’AN kita dalam memaknai hidup dan tugas kehidupan kita yang hakiki yang diembankan oleh Allah swt pada kita, merupakan suatu hal yang sangat penting tapi sulit.

Memaknai HIJRAH berupa 🔹keluar dari alur gemerlap dan kesibukan yang melalaikan dan
🔹kembali masuk pada nuansa keheningan dan kekhusu’an,
untuk menapaki sisa-sisa waktu yang masih Allah karuniakan pada kita.

Hingga hidup kita kembali pada suasana semata-mata hanya untuk mengagungkan dan meninggikan Allah swt.

Tentu saja keheningan dan kekhusu’an secara hakiki.

Bukan keheningan dan kekhusu’an yang membuat kita hanya memojokkan diri kita di tempat-tempat sholat kita.

Tapi hening dan khusu’ di tengah keramaian dan kesibukan kita untuk beramal dan berbuat sebanyak-banyaknya untuk memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

🔑 Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa kita coba untuk proses hijrah kita tersebut.

🍃1⃣. MEMILIH

Di dalam al Qur’an surat Al Kahfi ayat 29, Allah SWT menuntun kita dan menyerahkan pilihan itu pada kita dengan konsekuensinya.

“Dan katakanlah:
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.
Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Mari kita berusaha untuk menentukan pilihan terbaik, pilihan yang paling disukai oleh Allah.

Apakah yang dimaksud dengan pilihan terbaik?

Contoh:
Jika ada seseorang melakukan kesalahan pada kita. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil.

🔹Pilihan pertama: tidak marah. Ini baik.

🔹Pilihan kedua: memaafkan. Ini lebih baik.

🔹Pilihan ketiga: membalas kesalahan seseorang dengan kebaikan. Inilah pilihan terbaik.

🍃2⃣. MENERIMA

Yaitu melapangkan hati kita untuk ikhlas menerima pilihan terbaik yang sudah kita putuskan.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al An’am : 125)

🍃3⃣. MEMUTUSKAN

Yaitu berarti kita memilih dan melapangkan hati kita bukan hanya pada satu atau dua hal saja, tapi berusaha menerapkannya pada keseluruhan aspek dalam hidup kita.

Di dalam QS. Al An’am ayat 162, Allah swt berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

🍃4⃣. MENEGUHKAN.

Yaitu memohon agar Allah mengokohkan keputusan jalan hidup kita sesuai dengan firman Allah swt.:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Anfal : 63)

🍃5⃣. MENIKMATI

Caranya dengan menjadikan diri kita terus konsisten dengan 4 hal yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Jika kita berhasil, maka kita bisa meraih kembali sumber kenikmatan dan kebahagian hidup kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:

“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30)

Siapkah Kita Berhijrah?
Siapkah Kita Untuk Berbahagia?

Mari sama-sama kita raih janji Allah swt:

“….dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

SIAPA TEMANMU, ITULAH KAMU

📝 Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Teman mu adalah yang jujur padamu, bukan yang selalu membenarkan apa saja tindakanmu.

🌾Teman sejati, bukan teman yang tidak pernah berpisah, tapi teman yang apabila bertemu karena Allah, dan jika berpisah, berpisah karena Allah..

🌾Di antara bukti kesetiaanmu terhadap teman mu, jika namanya kau hadirkan dalam doamu tanpa dia ketahui, agar harapan-harapannya terpenuhi.

🌾Mengetahui dan memahami tabiat teman, adalah setengah dari modal pertemanan yang baik…

🌾Pada teman yang lebih muda, katakan:
‘Aku tlah mendahuluinya dalam dosa’.

🌾Pada yang lebih tua katakan, ‘Dia telah mendahuluiku dalam taat & kebaikan.’

🌾🔑 Cari teman yang dapat menerimamu “apa adanya”, bukan yang selalu mencari padamu “ada apanya”🔑

🌾Teman yang baik, bukan hanya sekedar tahu dimana rumahmu, tapi dia tahu dimana hatimu?

🌾Teman yang baik, bukan orang yang dimuliakan temannya, tapi orang yang temannya merasa dimuliakan olehnya…

🌾Kekayaan dan kedudukan dapat menundukkan teman, tapi hanya perbuatan baik yang dapat menundukkan hatinya..

🌾Mengalah dalam ber teman belum tentu kalah. Bisa jadi hal itu menjadi sebab dia dapat “mengalahkannya”…

🌾Adakalanya dalam berteman kita harus mengalah sepanjang tidak menjatuhkan harga diri dan menggadai prinsip..

🌾Husnuzzan dalam berteman itu penting…
Tapi berhati-hati juga perlu….

🌾Saat pertemanan belum begitu intens, hindari memberikan kesimpulan akhir baik atau buruknya teman mu…

🌾Saat engkau merasa tidak ada beban untuk mencurahkn perasaanmu pada teman mu, dialah teman dekatmu…

🌾Saat kau gembira dengan kegembiraan temanmu dan sedih dengan kesedihan temanmu, kau telah menjadi teman sejatinya…

🌾Tundalah marahmu pada temanmu beberapa saat. Boleh jadi kau temukan hakekat yang tidak kau ketahui sebelumnya, atau marahmu sudah reda..

🌾Jika sekian kali teman mu marah kepadamu namun dia tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dia layak menjadi teman baikmu

🌾Berhati-hati lah dalam memilih teman. Tapi harus lebih hati-hati lagi jika ingin menggantinya….

🌾Mendamaikan dua teman yang bertikai lebih baik dibanding memihak salah satunya…

🌾Jangan bantu teman mu yg bermusuhan dengan temannya. Bisa jd mereka akan berdamai sedangkan engkau masih bermusuhan..

🌾Jangan terlalu sering bertemu teman, jangan pula terlalu jarang….

🌾Tegurlah teman mu kala sepi dan pujilah dia kala ramai….

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman dgn dirimu sendiri…

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman…

🌾🔑 Keinginan menjadi teman yang baik, harus melebihi keinginan mendapatkan teman yg baik…

🌾Kekayaan dapat mendatangkan banyak teman, tapi jika musibah menimpa, akan menjadi ujian bagi merka.

🌾Jika matamu mendapatkan kekurangan pada teman mu, jangan serta merta lisanmu mengungkapkannya…

🌾Kelau teman mu lebih pintar, belajarlah darinya. Kalau lebih bodoh, ajarilah, Kalau sepadan, berdiskusilah…

🌾Teman mu adalah cerminmu. Kalau dia baik, maka sesuaikan dirimu seperti dia, kalau buruk, maka perbaikilah cerminnya.

🌾Kalau ada teman mu membicarakan keburukan temanmu yg lain, hati-hati, keburukanmu bisa jadi akan dia bicarakan kepada temanmu yg lain…

🌾Teman baik teman mu, layak menjadi temanmu, tapi musuh temanmu, tidak harus menjadi musuhmu.

🌾Cepat atau lambat, kita kan berpisah dengan teman-teman kita. Hanya iman dan takwa kepada Allah yang dapat memastikan pertemuan di surga-Nya..

Aamiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUS SUNNAH MENGHADAPI PERSOALAN QUNUT SHUBUH (Bag-2)

📝 Pemateri: Ust. FARID NU’MAN HASAN SS.🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Selanjutnya, kita lihat bagaimana sikap para Imam Ahlus Sunnah menyikapi perselisihan qunut shubuh ini.

🍃1⃣ Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu

Beliau adalah salah satu dari imam empat madzhab terkenal di dunia Islam, khususnya Ahlus Sunnah, yang memiliki jutaan pengikut di berbagai belahan dunia Islam.

Beliau termasuk yang menyatakan kesunahan membaca doa qunut ketika shalat shubuh.

Beliau sendiri memiliki sikap yang amat bijak ketika datang ke jamaah yang tidak berqunut shubuh.

Diceritakan dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَال الْحَنَفِيَّةُ : فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الإِْمَامِ ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

“Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu meninggalkan qunut dalam shubuh ketika Beliau shalat bersama jamaah  kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, di pinggiran kota Baghdad.

Berkata Hanafiyah: “Itu merupakan adab bersama imam.” Berkata Asy Syafi’iyyah (pengikut Asy Syafi’i): “Bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

🍃2⃣ Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu

Pada sebagian riwayat, disebutkan bhwa Imam Ahmad bin Hambal termasuk yang membid’ahkan qunut dalam shubuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap.

Hal ini dikatakan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

  فقد كان الإمام أحمدُ رحمه الله يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض

“Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (shubuh) adalah bid’ah.
Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)

 🍃3⃣Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu

Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip Imam At Tirmidzi sebagai berikut:

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Berkata Sufyan Ats Tsauri: “Jika berqunut pada shalat shubuh, maka itu  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

🍃4⃣Imam Ibnu Hazm Rahimahullah

Beliau berpendapat, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy Syaukani:

وقال الثوري وابن حزم : كل من الفعل والترك حسن

“Berkata Ats Tsauri dan Ibnu Hazm:  “Siapa saja yang yang melakukannya dan meninggalkannya, adalah baik.” (Nailul Authar, 2/346)

🍃5⃣Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau memiliki pandangan yang jernih dalam hal qunut shubuh ini. Walau beliau sendiri lebih mendukung pendapat yang tidak berqunut.

Berikut ini ucapannya:

وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ إنَّمَا النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ فِي اسْتِحْبَابِهِ أَوْ كَرَاهِيَتِهِ وَسُجُودِ السَّهْوِ لِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ وَإِلَّا فَعَامَّتُهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ مَنْ تَرَكَ الْقُنُوتَ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ وَكَذَلِكَ مَنْ فَعَلَهُ

“Demikian juga qunut subuh, sesungguhnya perselisihan di antara mereka hanyalah pada istihbab-nya (disukai) atau makruhnya (dibenci).

Begitu pula perselisihan seputar sujud sahwi karena  meninggalkannya atau melakukannya, jika pun  tidak qunut, maka kebanyakan mereka sepakat atas sahnya shalat yang meninggalkan qunut, karena itu bukanlah wajib.

Demikian juga orang yang melakukannya (qunut, maka tetap sah shalatnya –pen).”   (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 5/185. Mauqi’ Al Islam)

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama sepakat berqunut atau tidak, shalat subuh adalah shahih.

Perbedaan terjadi pada mana yang lebih utama. Katanya:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ إذَا فَعَلَ كُلًّا مِنْ الْأَمْرَيْنِ كَانَتْ عِبَادَتُهُ صَحِيحَةً، وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ: لَكِنْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْأَفْضَلِ.
وَفِيمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ، وَمَسْأَلَةُ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَالْوِتْرِ، مِنْ جَهْرٍ بِالْبَسْمَلَةِ، وَصِفَةِ الِاسْتِعَاذَةِ وَنَحْوِهَا، مِنْ هَذَا الْبَابِ.
فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ مَنْ جَهَرَ بِالْبَسْمَلَةِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ خَافَتْ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَعَلَى أَنَّ مَنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ لَمْ يَقْنُتْ فِيهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْوِتْرِ

Ulama sepakat bahwa melakukan salah satu di antara dua hal maka ibadahnya tetap shahih (sah), dan tidak berdosa atasnya, tetapi mereka berbeda pendapat tentang mana yang utama.

Pada apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, masalah qunut pada subuh dan witir, mengeraskan basmalah, bentuk isti’adzah, dan hal semisalnya yang termasuk pembahasan ini.

Mereka sepakat bahwa orang yang mengeraskan basmalah adalah sah shalatnya, dan yang menyembunyikan juga sah shalatnya, yang berqunut subuh sah shalatnya, begitu juga yang berqunut pada witir. (Al Fatawa Al Kubra, 2/116, Cet. 1,  1987M-1408H. Darul Kutub Al ’Ilmiyah)

🍃6⃣Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah

Beliau termasuk yang melemahkan pendapat qunut shubuh sebagaimana beliau uraikan dalam Zaadul Ma’ad, dan baginya adalah hal mustahil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merutinkannya pada shalat shubuh.

Tetapi, tak satu pun kalimat darinya yang menyebut bahwa qunut shubuh adalah bid’ah, walau dia mengutip beberapa riwayat sahabat yang membid’ahkannya.

Bahkan Beliau sendiri mengakui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kadang melakukan qunut dalam shalat shubuh.

Berikut ini ucapannya:

كَانَ تَطْوِيلَ الْقِرَاءَةِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يُخَفّفُهَا أَحْيَانًا وَتَخْفِيفَ الْقِرَاءَةِ فِي الْمَغْرِبِ وَكَانَ يُطِيلُهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِيهَا أَحْيَانًا وَالْإِسْرَارَ فِي الظّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْقِرَاءَةِ ِكَانَ يُسْمِعُ الصّحَابَةَ الْآيَةَ فِيهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْجَهْرِ بِالْبَسْمَلَةِ وَكَانَ يَجْهَرُ بِهَا أَحْيَانًا

“Dahulu Nabi memanjangkan bacaan pada shalat shubuh dan kadang meringankannya, meringankan  bacaan dalam shalat maghrib dan kadang memanjangkannya, beliau meninggalkan qunut dalam shubuh dan kadang dia berqunut, beliau  tidak mengeraskan bacaan dalam shalat  ashar dan kadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat, beliau tidak mengeraskan bacaan basmalah dan kadaang Beliau mengkeraskannya.

Beliau juga berkata:

وقنت في الفجر بعد الركوع شهراً، ثم ترك القنوت ولم يكن مِن هديه القنوتُ فيها دائماً، ومِنْ المحال أن رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان في كل غداة بعد اعتداله من الركوع يقول: “اللَّهُمَ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ…” الخ ويرفعُ بذلك صوته، ويؤمِّن عليه أصحابُه دائماً إلى أن فارق الدنيا

“(Beliau) Qunut dalam shubuh setelah ruku selama satu bulan, kemudian meninggalkan qunut. Dan, bukanlah petunjuk beliau melanggengkan qunut pada shalat shubuh, dan termasuk hal mustahil bahwa Rasusulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap paginya setelah i’tidal dari ruku mengucapkan: “Allahumahdini fiman hadait wa tawallani fiman tawallait … dst” dengan meninggikan suaranya, dan selalu diaminkan oleh para sahabatnya sampai meninggalkan dunia. (Ibid, 1/271)

Lalu Ibnul Qayyim mengutip pertanyaan Sa’ad bin Thariq Al Asyja’i kepada ayahnya, di mana ayahnya pernah shalat dibelakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, Apakah mereka pernah qunut shubuh?
Ayahnya menjawab: Anakku, itu adalah muhdats (perkara yang diada-adakan). (HR. Ahmad, At tirmidzi, dan lainnya, At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih)

Beliau juga mengutip    dari Said bin Jubair, dia berkata: aku bersaksi bahwa aku mendengar,  dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Qunut yang ada pada shalat subuh adalah bid’ah.” (HR. Ad Daruquthni No. 1723)

Tetapi riwayat ini dhaif (lemah). (Nashbur Rayyah, 3/183). Imam Al Baihaqi mengatakan: tidak shahih. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/345. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah) Karena di dalam sanadnya ada periwayat bernama Abdullah bin Muyassarah dia adalah seorang yang  dhaiful hadits (hadits darinya dhaif).  (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib,  6/ 44. Lihat juga Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 16/197)

Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah.
Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits.

Katanya:

فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعدُ بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنُتون حيثُ قنت رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم، ويتركُونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه،ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة، ومع هذا فلا يُنكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعِلَه مخالفاً للسنة، كما لا يُنكِرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تارِكه مخالفاً للسنة، بل من قنت، فقد أحسن، ومن تركه فقد أحسن

“Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini.

Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya.

Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya  telah  berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” (Ibid, 1/274-275)

Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

🍃7⃣Para Ulama Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia

Mereka  saat itu diketuai oleh Syaikh Al ‘Allamah  Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Sebenarnya secara resmi Lajnah Daimah membid’ahkan prilaku merutinkan qunut pada shubuh, sebagaimana fatwa No. 2222. Namun, pada fatwa lainnya – yang ditanda tangani oleh Syaikh Ibnu Baz, Syaikh  Abdullah bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Ghudyan, dan Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi-   mereka pun memberikan pandangan bijak, sebagai berikut:

وبالجملة فتخصيص صلاة الصبح بالقنوت من المسائل الخلافية الاجتهادية، فمن صلى وراء إمام يقنت في الصبح خاصة قبلالركوع أو بعده فعليه أن يتابعه، وإن كان الراجح الاقتصار في القنوت بالفرائض على النوازل فقط

“Maka, secara global mengkhususkan doa qunut pada shalat shubuh merupakan masalah khilafiyah ijtihadiyah.

Barang siapa yang shalat di belakang imam yang berqunut shubuh, baik sebelum atau sesudah ruku, maka hendaknya dia mengikutinya.

Walau pun pendapat yang paling kuat adalah membatasi qunut hanya ada pada nazilah saja.”  (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’,  No. 902)

🍃8⃣Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah

Beliau ditanya:

عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟

Kami memiliki imam yang berqunut pada shalat subuh yang melakukannya secara terus menerus, apakah kami mesti mengikutinya? Dan apakah kami mesti mengaminkan doanya?

Beliau menjawab:

من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى

Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat subuh, maka hendaklnya dia mengikuti imam berqunut pada shalat subuh, dan mengaminkan doanya dengan baik.

Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah. (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Majmu’ Fafatwa, 14/177)

🍃9⃣Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al Jibrin Rahimahullah

Beliau berpendapat jika qunut dilakukan tanpa sebab  maka itu makruh, namun dia tetap menasihati agar jika ada yang melakukan karena mengikuti pendapat madzhab Syafi’i maka itu jangan iingkari.

Katanya:

وبكل حال فمن قنت تبعاً للشافعية فلا يُنكر عليه ، ولكن الصحيح أنه لا يشرع . ولم يثبت عنه صلى الله عليه وسلم ، الاستمرار عليه . فالأظهر أنه مكروه بلاسبب والله علم

Bagaimana pun juga, bagi siapa saja yang berqunut karena mengikuti syafi’iyah maka jangan diingkari, tetapi yang benar adalah itu tidak disyariatkan.

Tidak ada yang pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau merutinkannya.

Maka, yang nampak adalah hal itu makruh dilakukan tanpa sebab. Wallahu A’lam. (Fatawa Islamiyah, 1/454. Dikumpulkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)

Demikian.
Pemaparan ini bukanlah dalam rangka mengaburkan permasalahan, tetapi dalam rangka – sebagaimana kata Imam Ahmad- MENYATUKAN KALIMAT, MELEKATKAN HATI dan MENGHAPUSKAN KEBENCIAN sesama kaum muslimin.

Sebab, para imam yang berselisih pendapat pun memiliki sikap yang tidak melampaui batas-batas akhlak dan adab Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam fiqih.

Sudah selayaknya kita mengambil banyak pelajaran dari para A’immatil A’lam (imam-imam dunia) ini.

Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbail ‘alamin.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678