Lupa Mandi Junub

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya seorang suami, sebelum tidur kita berhubungan suami istri, paginya ketika sholat shubuh saya lupa mandi junub hingga masuk kerja. bagaimana sholat shubuh saya ?? harus di qodho atau bagaimana??? mohon penjelasannya. jzk #i09

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:

Keadaan suci, baik dari najis dan hadats, merupakan syarat keabsahannya shalat sebagaimana keterangan semua madzhab. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut:

Allah ﷻ berfirman:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kalian junub maka bersucilah. (QS. Al Maidah: 6)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

لا تقبل صلاة بغير طهور

Shalat tidaklah diterima dengan tanpa bersuci. (HR. At Tirmidzi No. 1. Imam At Tirmidzi berkata: hadits ini adalah yang paling shahih dan hasan dalam bab ini. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Fathul Bari, 3/278)

Dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُورُ

Kunci pembuka shalat adalah bersuci. (HR. At Tirmidzi No. 3, Abu Daud No. 61. Imam Al Munawi mengatakan: isnadnya Shahih. Lihat At Taysir bisyarhil Jaami’ Ash Shaghiir, 2/730)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

وسمى النبي صلى الله عليه و سلم الطهور مفتاحا مجاز لأن الحدث مانع من الصلاة

Nabi ﷺ menamakan bersuci adalah “kunci” merupakan majaz, karena hadats merupakan penghalang dari shalat. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/33)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ويجب على المصلي أن يأتي بها بحيث لو ترك شيئا منها تكون صلاته باطلة

Wajib bagi orang yang shalat untuk mendatangkan syarat sahnya shalat, yang jika dia tinggalkan satu bagian saja, maka shalatnya batal. (Fiqhus Sunnah, 1/123) Dan, salah satu syarat sahnya shalat itu Beliau sebutkan adalah suci dari hadats besar dan kecil.

*Bagaimana jika terlanjur shalat tanpa  tapi masih junub?*

Jika melakukannya karena lupa, maka dia tidak berdosa, tapi wajib mengulanginya, yaitu dia lakukan saat dia mengingatnya. Sebab, shalat yang telah dia lakukan tidak sah, dan mandi yang dia lakukan juga mandi biasa, sebab dia tidak meniatkan sebagai mandi junub.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah menjelaskan:

تمييز العبادات بعضها عن بعض ، كتمييز صلاة الظهر من صلاة العصر مثلاً  وتمييز صيام رمضان من صيام غيره ، أو تمييز العبادات من العادات ، كتمييز الغُسل من الجنابة من غسل التبرد والتنظف ، ونحو ذلك، وهذه النيَّةُ هي التي تُوجد كثيراً في كلام الفقهاء في كتبهم .

(Niat) itu   membedakan sebagian ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan shalat Dzuhur dengan shalat Ashar, membedakan puasa Ramadhan dengan puasa lainnya. Atau membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan, misalnya *membedakan antara mandi junub dengan mandi untuk menyejukkan badan atau membersihkannya,* dan lain sebagainya. Niat seperti inilah yang banyak sekali dijumpai di perkataan para fuqaha’.  *(Jaami’ Al ‘Uluum wal Hikam, hal. 11)*

Jika dia belum mandi junub, maka mandilah dengan niat mandi junub, lalu shalatlah. Demikian.

Wallahu a’lam.

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Perempuan Keluar Malam untuk Pengajian

Assalamu’alaikum,Afwan ustz mau bertanya
Apa hukum jika seorang perempuan pergi keluar rumah pada malam hari tuk pengajian/mendengar ceramah yang pergi bersama teman-teman perempuan dan tanpa mahram?

Bagaimana pandangan Islam jika yang mengantar pulang akhwat adalah ikhwan namun mereka pakai motor sendiri2/dan lebih beberapa orang?
Terimakasih

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillah wal Hamdulillah ..

Bepergiannya wanita bersama wanita lain yang bisa dipercaya, adalah boleh menurut sebagian para salaf dan fuqaha, selama AMAN.

Sebagian ulama membolehkan seorang wanita bepergian ditemani oleh wanita lain yang tsiqah. IMAM ABU ISHAQ ASY SYAIRAZI dalam kitab Al Muhadzdzab, membenarkan pendapat BOLEHNYA seorang wanita bepergian (haji) sendiri TANPA MAHRAM jika keadaan telah aman.

Sebagian ulama madzhab Syafi’i membolehkannya pada SEMUA JENIS BEPERGIAN, bukan cuma haji. (Fathul Bari, 4/446. Al Halabi)

Ini juga pendapat pilihan IMAM IBNU TAIMIYAH, sebagaimana yang dijelaskan oleh IMAM IBNU MUFLIH dalam kitab Al Furu’, dia berkata: “Setiap wanita yang aman dalam perjalanan, bisa (boleh) menunaikan haji tanpa mahram. Ini juga berlaku untuk perjalanan yang ditujukan untuk kebaikan.” Al Karabisi menukil bahwa IMAM SYAFI’I membolehkan pula dalam haji tathawwu’ (sunah). Sebagian sahabatnya berkata bahwa hal ini dibolehkan dilakukan dalam haji tathawwu’ dan SEMUA JENIS PERJALANAN TIDAK WAJIB seperti ziarah dan berdagang. (Al Furu’, 2/236-237)

Al Atsram mengutip pendapat IMAM AHMAD BIN HAMBAL:

“Adanya mahram tidaklah menjadi syarat dalam haji wajib bagi wanita.Dia beralasan dengan mengatakan bahwa wanita itu keluar dengan banyak wanita dan dengan manusia yang dia sendiri merasa aman di tengah-tengah mereka.”

IMAM MUHAMMAD BIN SIRIN mengatakan: “Bahkan dengan seorang muslim pun tidak apa-apa.”

IMAM AL AUZA’I mengatakan: “Bisa dilakukan dengan kaum yang adil dan terpercaya.”

IMAM MALIK mengatakan: “Boleh dilakukan dengan sekelompok wanita.”

IMAM ASY SYAFI’I mengatakan: “Bisa dilakukan dengan seorang wanita merdeka yang terpercaya.” Sebagian sahabatnya berkata, hal itu dibolehkan dilakukan sendirian selama dia merasa aman.” (Al Furu’, 3/235-236)

Ini juga pendapat IMAM IBNUL ARABI dalam kitab ‘Aridhah Al Ahwadzi bi Syarh Shahih At Tirmidzi.

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam kutipan Al Karabisi disebutkan bahwa perjalanan sendirian bisa dilakukan sepanjang jalan yang akan ditempuhnya dalam kondisi aman.” Jika perjalanan ini diterapkan dalam perjalanan haji dan umrah maka sudah sewajarnya ji ka hal itu pun diterapkan pada SEMUA JENIS PERJALANAN sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama.” (Fathul Bari, 4/445)

Sebab, maksud ditemaninya wanita itu oleh mahram atau suaminya adalah dalam rangka menjaganya. Dan ini semua sudah terealisir dengan amannya jalan atau adanya orang-orang terpercaya yang menemaninya baik dari kalangan wanita atau laki-laki, dan dalil-dalil sudah menunjukkan hal itu.

Tapi, kalau kondisi tidak aman, atau tidak ada jaminan untuk aman, maka sebaiknya tidak dilakukan walau untuk mendatangi ta’lim. Dalam rangka mencegah keburukan ditengah manfaat yang mungkin ada.

Wallahu A’lam

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

WAHABI

Assalamualaykum wr wb. Ustadz/ah…
Apakah yang dimaksud dengan kaum wahabi? Apakah mereka sesuai dengan qur’an dan sunnah?
Syukran mba.  A02

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Gerakan Wahabiyah, adalah sebuah gerakan tajdid (pembaharuan), di jazirah Arab, khususnya Najd. Dimotori oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah.
Tema utamanya adalah pemurnian tauhid dari noda kesyirikan dan pemurnian ibadah dari noda kebid’ahan.

Da’wah beliau, tidak bernama. Ada pun penamaan wahabi, ada beragam versi; ada yang menyebut dari penjajah Inggris, ada pula yang menyebut penamaan itu berawal dari kakak kandungnya sendiri, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang tidak menyukai da’wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Syaikh Sulaiman menyusun kitab membantah da’wah adiknya, dengan judul Fashlul Khithab fi Raddi ‘ala Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Konon, sbagian ulama mengatakan bahwa sang kakak sudah meralat hal itu dan justru membela da’wah adiknya.

Garis perjuangan dan pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sejalan dengan Imam Ibnu Taimiyah, dan juga Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan dianggap pelanjut estafeta mereka.

Gerakan da’wah Beliau … selanjutnya terlalu banyak kabut sejarah yang menyertainya. Fitnah yang dialaminya dari musuh-musuhnya, juga pembelaan kepadanya dari para pengikutnya. Keduanya pada porsi yang sangat banyak saling bantah dan menihilkan.

Kadang citra buruk itu diperagakan oleh pengikutnya sendiri, pada Syaikh tidaklah demikian. Kadang citra itu adalah fitnahan semata. Sejauh yg saya ketahui, pandangan2 Beliau jika dilihat dari karyanya sendiri, bukan dr kutipan2 org lain yg sgt mungkin terjadi bias, maka Beliau memang seorg pejuang tauhid, namun tetap moderat. Para ulama -yg bukan Wahabiyah-  telah memberikan penilaian positif kepadanya seperti Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Syaikh Muhammad bin Alawiy Al Malikiy, dan lainnya. Tentunya yang mengkritiknya juga ada bahkan menyebut gerakan Wahabiyah adalah khawarij.

Pandangan Beliau terhadap tawassul dgn org soleh misalnya, beliau menganggapnya perselisihan fiqih, dan mayoritas ulama melarangnya. Dan menurutnya, hendaknya toleran.

Sementara kita dapati kesan di luar, bahwa Beliau nampak begitu keras dan buas terhadap pelaku tawassul. Sehingga gambaran itu membuat marah pihak yang pro tawassul.

Dan sebagainya.

Di Indonesia, gerakan ini sdh ada sejak masa Tuanku Imam Bonjol, lalu dilanjutkan oleh Muhammadiyyah, Persis, dan Al Irsyad. Sebagaimana umumnya terjadi pada sebuah pemikiran, maka para pengikutnya selalu ada yang bersikap ekstrim dan fanatik.

Ekstrim dan Fanatik ini bisa terjadi pd gerakan apa pun. Maka, titik titik itulah yang paling sering terjadi gesekan baik tokoh atau awwamnya.

Bagi yang moderat, msh mungkin mereka bekerja sama dan saling lapang dada dalam perbedaan.

Wallahu a’lam.

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

NABI AYYUB

Assalamu’alaikum ustadz/ah… mau nanya yang materi Istri Nabi Ayyub
Di situ disebutkan bahwa Nabi Ayyub bersumpah akan me mukul Istrinya Kalau beliau  sembuh
 Kenapa ya alasannya?
Kalau yang pernah saya baca karena beliau pernah mendengar Istrinya menjual jalinan rambutnya terapi Nabi Ayyub salah paham dan keburu bersumpah akan me mukul Istrinya
 Benarkah spt itu?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Jawaban dari pertanyaan:
1. Memang banyak riwayat yg menyebutkan bahwa penyebab dipukulnya istri nabi Ayub karena ia memotong rambutnya untuk dijual. Namun dalam riwayat2 di buku tafsir tdk disebutkan riwayat tersebut.
2. Alasan nabi Ayyub memukul istrinya karena saat sakit seluruh harta milik nabi Ayyub habis. Termasuk sanak keluarga dan anak2nya yg tidak lagi mau berinteraksi dng nabi Ayyub. Hanya istrinya yg masih bersedia mendampingi nabi Ayyub. Karena saking ingin sembuh dan tidak ada yg tersisa selain istrinya, nabi Ayyub bernadzar jika ia sembuh maka ia akan memukul istrinya tersebut 100 kali.
Ada hikmah dlm peristiwa ini yaitu perlunya berhati2 dlm bernadzar jangan sampai kita bernadzar dengan sesuatu yg terlalu berat. Kedua, dalam kondisi tertekan orang biasanya putus asa dan merasa tidak mungkin mendapat pertolongan. Sehingga ia berani bernadzar dengan sesuatu yg sangat berat. Padahal Allah Maha Kuasa untuk menjadikan apapun. Dan seorang muslim harus selalu yakin bahwa pertolongan Allah itu dekat. Jadi kedepankan selalu husnudhon kepada Allah.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadzah Eko Yulianto Siraj

Tidak Bisa Sholat Jum’atan Karena Pekerjaan

Assalamuallaikum wr wb..Bagaimana hukumnya ustadz seandainya ada perkara tidak pergi jumatan dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal sedangkan mencari rejeki kan juga kewajiban! Ana itu punya Saudara yang jadi security di sebuah perusahaan,ketika shift pagi dan kebetulan hari jum’at dia tidak  bisa jum’atan  karena  dia kebagian jaga..bagaimana hukumnya ustadz? 
                          
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah, wa ba’d:
Jazakillah  khairan kepada ukhty penanya … semoga Allah Ta’ala selalu menaungi antum, keluarga, dan kaum muslimin yang istiqamah dengan hidayah dan rahmatNya.
Pada dasarnya melaksanakan shalat jum’at adalah kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” 
(QS. Al Jumu’ah : 9)
أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال لقوم يتخلفون عن الجمعة لقد هممت أن آمر رجلاً يصلي بالناس ثم أحرق على رجال يتخلفون عن الجمعة بيوتهم. رواه أحمد ومسلم عن ابن مسعود رضي اللّه عنه
وعن أبي هريرة وابن عمر: (أنهما ما سمعا النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم يقول على أعواد منبره لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن اللّه على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين). رواه مسلم وأحمد والنسائي من حديث ابن عمر وابن عباس. 
وعن أبي الجعد الضمري وله صحبة: (أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم قال من ترك ثلاث جمع تهاوناً طبع اللّه على قلبه). رواه الخمسة. ولأحمد وابن ماجه من حديث جابر نحوه أخرجه أيضاً النسائي وابن خزيمة والحاكم بلفظ (من ترك الجمعة ثلاثاً من غير ضرورة طبع على قلبه) قال الدارقطني أنه أصح من حديث أبي الجعد.
Syarat wajib shalat jumah: 
lelaki baligh yang mukim/menetap
Yang tidak wajib:
1. lelaki atau siapapun yang musafir
2. Perempuan
3. anak-anak
4. Budak
5. orang gila
6. Orang sakit.
Ancaman Allah bagi yang meninggalkannya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu A’laihi wa Salam bersabda tentang orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at dengan mengatakan,
”Sebenarnya aku berniat memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat bersama masyarakat dan aku pergi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at itu.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Ibnu Umar bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu A’alibi wa Salam bersabda diatas mimbar bersabda,
”Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatan meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)
Al-Ja’d radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallllah  A’laihi wa Sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)
Ibnu Majah, no. 1126 juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallah  A’laihi wa Sallam bersabda,
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ   (وحسنه الشيخ الألباني في ” صحيح ابن ماجه)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)
Al-Munawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (Faidhul Qadir, 6/133)
Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan membatasi tiga kali dengan berturut-turut. Dalam musnad Thayalisi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu  A’laihi wa Sallam bersabda,
من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya.”
Dalam hadits yang lain,
من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه   (وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)
“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)
Tertunda karena udzur syar’i.
Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, katanya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: 
“Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: 
“Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 51, 717, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2188, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Aahad wal Matsaani No. 939, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 826. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48), Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 717), dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani juga menshahihkan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813) )
Dalam riwayat tersebut dijelaskan tentang shalat Al ‘Ashrain adalah:
«صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا»
Shalat sebelum terbit matahari (Shalat Subuh) dan Shalat sebelum tenggelam matahari (shalat Ashar). (Ibid)
Dalam hadits ini nabi mengajarkan kepada sahabatnya untuk menjaga shalat lima waktu, tetapi sahabat itu mengeluh kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang kesulitannya menjaga shalat lima waktu itu, lalu nabi memerintahkan dia untuk menjaga shalat subuh dan ashar. Apa maksudnya? Apakah berarti dia boleh meninggalkan shalat lainnya karena kesibukannya, dan dia cukup shalat subuh dan ashar saja? Bukan itu! Sangat mustahil nabi memerintahkan sahabat itu hanya shalat subuh dan ashar tapi meninggalkan shalat wajib lainnya. Tetapi makna hadits ini mesti diartikan bahwa dia sangat sibuk dan kesulitan untuk menjaga shalat berjamaah, maka dia dianjurkan oleh nabi untuk menjaga shalat berjamaah subuh dan ashar, bukan menjaga shalat subuh dan ashar semata-mata.
Inilah Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, dia telah menjelaskan hadits ini dengan begitu bagus sebagai berikut:
وَفِي الْمَتْن إِشْكَال لِأَنَّهُ يُوهم جَوَاز الِاقْتِصَار على الْعَصْريْنِ وَيُمكن أَن يحمل على الْجَمَاعَة لَا على تَركهَا أصلا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Pada redaksi hadits ini nampak ada hal yang membingungkan, karena seakan nabi membolehkan cukup dengan shalat al ashrain (subuh dan ashar), kemungkinan maksud hadits ini adalah tentang meninggalkan shalat berjamaah, bukan meninggalkan shalatnya itu sama sekali. Wallahu A’lam. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menambahkan:
Rukhshah (keringanan) ini terjadi hanyalah karena kesibukan yang dimiliki orang itu sebagaimana keterangan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813)
Demikianlah, kesibukan apa pun yang mendatangkan kesulitan untuk shalat pada awal waktu,  atau tidak sholat jum’at berjamaah. Inilah di antara udzur syar’i itu. Tetapi, ini hanya berlaku bagi kesibukan pada aktifitas yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, bukan kesibukan karena kesia-siaan apalagi sibuk karena perkara haram dan maksiat.
Jadi, dari keterangan diatas, Khusus buat kasus saudara penanya, tentang kesulitan sholat jumat, bila memungkinkan bisa ditugaskan kepada pegawai wanita ketika jam-shalat jum’at  untuk menjaga . karena wanita tidak wajib shalat jumat. Atau jika ada yang non muslim, mungkin bisa didelegasikan dulu kepada mereka. .
Jika tidak didapatkan pengganti maka dibolehkan baginya untuk tidak melaksanakan shalat jum’at dan menggantinya dengan shalat zhuhur berdasarkan keumuman firman Allah swt :
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At Thaghabun : 16)
Wallahu a’lam.
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Ta’aruf

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
Apa konsep ta’aruf yang benar ?
Saya dan beliau sepakat untuk saling membebaskan satu sama lain , sama2 perbaiki diri , sibuk dengan kegiatan masing2 . Namun , kami sama2 mempunyai tujuan menjalankan salah satu sunahrasul > “menikah”
Kami berkomunikasipun jarang , hanya sekedar menanyakan kabar
Apa ini bisa disebut dengan taaruf ?
Jazakallah ustadz 🙂

Jawaban
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ta’aruf adalah terminologi untuk mengenali calon pasangan untuk memutuskan pernikahan dalam waktu segera setelah mendapatkan jawaban yang dibutuhkan.

Seorang murid saya menikah di usia 17 tahun dengan suami 19 tahun, dan _walhamdulillah_ tidak lama Allah menakdirkan keduanya kuliah di Al-Azhar, dan sekarang telah berbahagia bersama anak-anaknya dan aktivitasnya sebagai seorang mu’allim/ah

Yakinlah bahwa jika seorang manusia telah selesai dengan sebuah persoalan yang menggelayutinya, maka ia akan bersegera masuk kepada fase berikutnya dalam melahirkan karya yang lebih besar, dan menikah adalah karya besar di antara karya-karya besar berikutnya.

Menikahlah agar jiwa menjadi tenang, derajat keshalihan menjadi sempurna, kekuatan semangat hijrah semakin kokoh, bersama ilmu yang menemani dan keyakinan janji Allah terhadap hamba-Nya yang senantiasa memelihara dirinya berawal dari menjaga hatinya.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha

Kaligrafi

Assalamu’alaikum, Ustad mau tanya apa hukumnya memajang khaligrafi Alquran didalam rumah.  #A22

Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang menuliskan ayat Al Quran di dinding, atau lainnya. Perbedaan ini karena memang tidak ada nash khusus yang membahasnya. Hukumnya berangkat dari perspektif masing-masing pihak. Ada yang menganggap hal itu justru dapat merendahkan Al Quran, pakaian, atau terbawa ke tempat yang tidak pantas, dan sebagainya.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:
مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروز من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الإمام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله

Madzhab kami memakruhkan mengukir dinding dan pakaian dengan ayat-ayat Al Quran dan Asma Allah Ta’ala.

Atha mengatakan tidak apa-apa menulis Al Quran di kiblat Masjid.

Imam Malik mengatakan tidak apa-apa menulis beberapa huruf Al Quran pada bambu, kayu, atau kulit.

Menurut sebagian sahabat kami (Syafi’iyah), jika ditulis Al Quran dan lainnya pada manik-manik, tidak haram tapi lebih utama ditinggalkan. Karena bisa terbawa ke tempat hadats.

Jika ditulis juga, sebaiknya mengikuti nasihat Imam Malik Rahimahullah, dan dengan ini pula fatwa Abu Amr bin Shalih Rahimahullah.
(Selesai dari Imam An Nawawi dalam _At Tibyan_)

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Shalat Jamaah di Rumah

Assalamu’alaikum Ustadz yang saya hormati,
Ada kondisi sebagai berikut:
– ada kegiatan berbuka bersama di sebuah rumah dengan keluarga besar (lebih dari 50 orang) pada bulan Ramadhan,
– tamu (keluarga besar) sebagian besar berasal dari kota yang sama, sisanya dari kota yang lain,
– ada masjid dekat dari rumah tersebut (berjarak 150 m), adzan terdengar melalui pengeras suara,
– penghuni rumah (tuan rumah) tersebut terbiasa shalat wajib di masjid terdekat,
– untuk kegiatan berbuka bersama, di rumah tersebut disediakan juga tempat untuk shalat maghrib/isya berjamaah

Yang ingin saya tanyakan agar tidak salah langkah:

Bagaimana hukum yang tepat bagi penghuni rumah tersebut agar tetap mendapat ridho Allah dan tidak menimbulkan rasa tersinggung di hati keluarga besar serta tetap termasuk orang yang memuliakan tamu, apakah shalat maghrib/isya berjamaah di masjid, atau di rumah? 
Demikian, mohon penjelasan Ustadz. 
Terima kasih,

Jawab:
————–
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Para ulama berbeda pendapat dalam hukum shalat berjamaah di tempat selain masjid dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama: Boleh dilakukan di tempat selain masjid.

Ini pendapat Malik, Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad, ia juga madzhab Hanifiyyah.

Ibnul Qasim berkata, “Aku bertanya kepada Malik tentang orang yang shalat fardhu dengan istrinya di rumahnya?” ia menjawab, “Tidak apa-apa hal itu”[1]

Imam Syafi’i –rahimahullah– berkata, “Setiap jamaah yang padanya shalat seseorang di rumahnya atau di masjid, kecil atau besar, sedikit atau banyak, maka ia sah. Dan masjid yang terbesar serta banyak jamaahnya lebih aku sukai.”[2]

Al-Rafi’i dari kalangan Syafi’iyyah berkata, “Berjamaah di rumah lebih baik dari pada sendirian di masjid.”

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni[3] berkata, “Dan boleh melakukannya (shalat berjamaah) di rumah atau di padang pasir”

Dalil-dalilnya

Mereka berdalil dengan hadis-hadis berikut:

1. Hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu secara marfu, “Dan aku diberi lima perkara … “ lalu disebutkan, “Dan dijadikan bagiku bumi/tanah sebagai masjid dan tempat yang suci. Siapapun yang dari umatku yang mendapati waktu shalat maka shalatlah.”[4]

2. Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. Terkadang saat waktu shalat datang beliau sedang berada di rumah kami. Kemudian beliau memerintahkan untuk hamparan di bawahnya, lalu beliau menyapunya dan memercikan air, dan Rasulullah shalat bersama kami menjadi imam sementara kami berdiri di belakang beliau.”[5]

3. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shalat di rumahnya dalam keadaan sakit. Beliau shalat dengan duduk sementara sekelompok orang shalat dengan berdiri di belakangnya, lalu beliau memberi isyarat agar mereka duduk.”[6]

Mereka juga berdalil dengan hadis-hadis lain, yang tidak cukup untuk disebutkan dalam kesempatan ini.

Pendapat kedua: Tidak boleh dilakukan oleh seorang laki-laki kecuali di masjid.

Pendapat ini merupakan riwayat lain dari Imam Ahmad dan Ibnul Qayyim merajihkan pendapat ini, ia berkata dalam “Kitab Shalat”, “Siapapun yang memperhatikan sunnah dengan baik, akan jelas baginya bahwa mengerjakannya di masjid hukumnya fardhu ain. Kecuali jika ada halangan yang membolehkannya untuk meninggalkan shalat jumat dan shalat berjamaah. Maka tidak datang ke masjid tanpa uzur, sama dengan meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur. Dengan demikian saling bersepakatlah hadis-hadis dan ayat-ayat.”[7]

Beliau juga berkata, “Dan yang kami yakin adalah tidak boleh bagi seorang pun meninggalkan jamaah di masjid kecuali karena uzur, wallahu a’lam bish shawab.”[8]

Sebagian mereka membatalkan shalat orang yang berjamaah di rumahnya. Abul Barakat (dari kalangan madzhab hambali) berkata, “Jika ia menyelisihi kemudian shalat berjamah di rumahnya, maka tidak sah, kecuali ada uzur, sesuai dengan pendapat yang dipilih bahwa meninggalkan jamaah berarti melakukan larangan.”[9]

Dalam Syarh Fathul Qadir, “Dan al-Hulwani ditanya tentang orang yang mengumpulkan anggota keluarganya kadang-kadang, apakah mendapatkan pahala berjamaah?” ia menjawab, “Tidak, ia menjadi bid’ah dan dibenci tanpa uzur.”

Dalil-dalilnya

Ulama yang berpendapat dengan pendapat ini berdalil dengan hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya berjamaah dan bahwa ia hukumnya fardhu ain. Kemudian ulama madzhab Syafi’i berselisih pendapat dalam masalah mendirikan shalat berjamaah di selain masjid, apakah menggugurkan fardhu kifayahnya atau tidak? Mereka berbeda pendapat ke dalam dua pendapat: Pertama, tidak cukup mendirikannya di selain masjid untuk menegakkan perbuatan yang fardhu. Kedua, cukup jika tempatnya ramai, seperti shalat berjamah di pasar misalnya.

Ibnu Daqiq al-Ied –rahimahullah– berkata, “Yang pertama menurutku adalah yang lebih shahih. Karena asal pensyariatannya adalah shalat berjamaah di masjid. Ia adalah pensifatan yang muktabar yang tidak bisa dihilangkan.”

Pendapat ketiga: dibedakan antara yang mendengar azan, maka ia tidak sah kecuali di masjid. Dan orang yang tidak mendengar azan, maka tidak sah shalatnya kecuali dengan berjamaah.

Ini pendapat Ibnu Hazm Adz-Dzahiri. Ia berkata dalam “Al-Muhalla”, “Dan tidak sah salah fardhu seseorang ketika mendengar azan untuk mengerjakannya kecuali di masjid bersama imam. Jika ia sengaja meninggalkan tanpa uzur, maka shalatnya batal. Jika ia tidak mendengar azan, maka wajib baginya shalat berjamaah dengan satu orang atau lebih. Jika ia tidak mengerjakannya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ia tidak menemukan seorang pun untuk shalat bersamanya, maka ia sah, kecuali bagi yang memiliki uzur, maka juga sah jika ia meninggalkan jamaah.”[10]

Ibnu Taimiyyah berkata dalam “Al-Fatawa Al-Mishriyyah”, “Apakah orang yang shalat berjamaah di rumahnya, gugur darinya kewajiban datang ke masjid? Dalam masalah ini terdapat perselisihan, dan hendaknya tidak meniggalkan jamaah di masjid kecuali ada uzur.”[11]

Penutup

Dalam kasus yang anda hadapi, tidak mengapa melskukan shalat berjamaah bersama keluarga besar dirumah. Hal ini merujuk kepada pendapat pertama di atas. Selain itu, perlu juga menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, dimana tidak semua dari mereka memiliki pemahaman yang sama dengan anda. Dan insya Allah dengan hubungan yang baik tersebut akan memudahkan jalan anda berdakwah di lingkungan keluarga kemudian hari. Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

[1] Al-Mudawwanah al-Kubra (1/86)

[2] Al-Umm (1/136)

[3] (3/8)

[4] Al-Lu`lu wal Marjan fiimat tafaqa ‘alaihi As-Syaikhan (1/104)

[5] As-Sunan al-Kubra vol, 3, hal. 66

[6] Shahih Al-Bukhari (1/169), Bab 51 kitab al-adzan.

[7] Kitab as-Shalah, Ibnul Qayyim, hal. 461 dan yang setelahnya.

[8] Idem

[9] Al-Insaf, al-Wardawi (2/123, 214)

[10] Al-Muhalla (4/265)

[11] Mukhatashar al-Fatawa al-Mishriyyah, Ibnu Taimiyyah, hal. 52

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Mandi Lagi kah?

Assalamualaikum ustadz/ah.. mau bertanya mengenai orang yg setelah mandi junub karena berhubungan lalu beberapa waktu/jam kemudian keluar lagi sisa maninya.
Apakah wajib mandi kembali atau tidak? Mohon penjelasanya terima kasih sebelumnya Wass.
I-11

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah.
Perlu diperjelas dulu .., jika mani yang dimaksud adalah mani yang di kemaluan istri, lalu keluar lagi beberapa saat kemudian, maka itu tidak usah diulang lagi mandinya, sebab itu sisa saja, tidak membuat keadaan junub. Cukup cebok aja, lalu wudhu jika mau shalat.

Kalau maksudnya adalah suami yang keluar mani lagi, maka mesti mandi lagi, sebab itu membuat keadaan junub lagi.

Wallahu a’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Bangunan di Atas Kuburan

Assalamualaikum Ustadz/ah…
Aku mau nanya soal Kuburan yg *_sudah Lama Banget_* yg ada disamping Rumah kami…
Haruskah kita pindahkan ke Pemakaman Massal kuburan tsb ?
atau Bolehkah kita kasih Keramik diatasnya untuk perluasan rumah ?

Tolong Jawab pertanyaan saya ini ya ust…Syukron I20

Jawab
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه

“Rasulullah ﷺ melarang mengecat kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya.”
 (HR. Muslim No. 970)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي. وذهب الجمهور إلى أن النهي في البناء والتجصيص للتنزيه.

Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk _tanzih_ (sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan). *( _Subulus Salam_, 2/111)*

  Imam Al Munawi _Rahimahullah_ mengatakan:

(وأن يبني عليه) قبة أو غيرها فيكره كل من الثلاثة تنزيها

_Nabi melarang (Membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih)._

Lalu beliau juga berkata:

قال ابن القيم : والمساجد المبنية على القبور يجب هدمها حتى تسوى الأرض إذ هي أولى بالهدم من مسجد الضرار الذي هدمه النبي صلى الله عليه وسلم وكذا القباب والأبنية التي على القبور وهي أولى بالهدم من بناء الغاصب اه.
وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

_Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ﷺ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dst. Ulama Syafi’iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafi’iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan._  *( _Faidhul Qadir,_ 6/402)*

Namun, Imam Asy Syafi’i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. *( _Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab,_ 5/286-287)*

Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.

Wallahu A’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan