Pake Make Up Waterboom, bole gak?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Mau tanya nih ustadz/ah, masalah make up, kalo pakai produk produk yg waterboom resistant untuk eyeliner dan mascara, tidak boleh apa boleh ya?  Kan menghalangi air wudhu masuk yaa ke wajah.. Secara kalo bepergian pasti jg nglewatin waktu sholat dan sering batal wudhu. Kalo ga pakai yg water resistant kan mbleber, mending ga pake yaa?  Tapi kan pengen make up an. Begitu juga​ dgn bedak.. Tolong pencerahan nya ya ustadzah

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Untuk make up, sebenarnya muslimah sudah ada aturannya berdasarkan firman Allah

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

Berdasarkan ayat tersebut diatas ditegaskan bahwa boleh berhias terutama untuk suami.tapi harus beda dari wanita jahiliah dan tentunya bahan dasar yg digunakan halal dan ramah dengan kulit. Kalau waterboom resistant tidak  boleh alasannya  karena menghalangi air wudhu .jadi silahkan saja pakai eyeliner tp pilih yang tidak water proof. Ya memang resikonya kita harus sedikit repot. Kalau tidak mau repot ya tdk usah pakai make up.

Wallahu a’lam.

Ilmu yang Bermanfaat

Assalamualaikum wrwb Ustadzah…Apakah amalan seorang guru ngaji masih mengalir pd sang guru itu (karena ilmu yg dia ajarkan masih di amalkan sama murid2 nya sampai saat ini)tetapi sekarang sang guru itu sudah tdk serajin dulu dlm beribadah.
🅰2⃣1⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
In shaa Allah pahala akan terus mengalir pada beliau selama msh ada yg terus mengamalkan ajarannya…bahkan walau beliau sudah wafat… sesuai hadits berikut:

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia.

Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku tentang ilmu yang bermanfaat.

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim)

Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:

Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.

Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Wallahu a’lam.

Aqiqah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Izin bertanya ust,Bisa tolong di jelaskan kembali tentang aqiqah ust?
dari referensi yang saya tahu, waktu pemotongan hewan aqiqah itu di hari ke 7, atau 14 atau 21.
Yang jadi pertanyaan saya, bagaimana kalau aqiqah tidak dilaksanakan pada hari ke 7, 14 atau 21 ?
Karena alasan tidak memiliki biaya untuk hitungan hari itu. Apakah aqiqah tetap bisa dilaksanakan saat sudah memiliki biaya serta hukumnya bagaimana?
(Iman-I51)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal), tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu.” (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, menjelaskan demikian:

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ‘Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21.’ Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21.” (‘Aunul Ma’bud, 8/28. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.

Berikut keterangannya:

“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: “Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: ‘Ada pun ‘Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21.’ Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Sa’ad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Sa’ad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara ‘Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafi’i, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, ‘Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Tapi, perkataan Imam Ibnul Qayyim bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan di hari ketujuh bertentangan dengan riwayat dari Imam Ibnu Hazm  bahwa Imam Hasan Al Bashri membolehkan aqiqah ketika dewasa.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

“Penyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: “disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21.” (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma’ (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

“Pengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma’ aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma’ ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan.” (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

​Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?​

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة   
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa.

Shahihkah hadits ini?  Sanad hadits ini dhaif menurut para ulama.

Lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Ma’in mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang).Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah).Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.  Abu Zur’ah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

 Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Ma’rifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhu’afa, 2/310. Darul Kutub Al ‘ilmiyah)

Imam An Nasa’i mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasa’i, Adh Dhu’afa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zaila’i, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

 Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini,  ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.
Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan.  Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu,  katanya

: أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 994: Berkata kepada kami Ahmad, berkata kepada kami Al Haitsam (bin Jamil), berkata kepada kami Abdullah (bin Mutsanna), dari Tsumamah, dari  Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diutus sebagai nabi

Ketiga, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla, 7/528, Darul Fikr:  Kami meriwayatkan dari Ibnu Aiman, berkata kepada kami Ibrahim bin Ishaq As Siraaj, berkata kepada kami ‘Amru bin Muhammad An Naaqid, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkata kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna bin Anas, berkata kepada kami Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَقَّ، عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah datang kepadanya masa kenabian.

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang semua riwayat penguat ini:

قلت : و هذا إسناد حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في “ صحيحه ” غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم               

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)  Sehingga, walau sanad hadits riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif –karena di dalamnya ada  Abdullah bin  Muharrar yang telah disepakati kedhaifannya-  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI, karena beberapa riwayat di atas yang menguatkannya. (Ibid)

Ulama yang membolehkan aqiqah ketika sudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه  “

Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H.Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا               

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, inilah pendapat yang lebih pas, Insya Allah. Hanya saja di negeri kita umumnya, memang  tidak lazim aqiqah ketika sudah dewasa. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullahu liy wa lakum

Wallahu a’lam.

I’TIKAF di Aula Masjid

Assalamu’alaikum ustadz/ah….Mau nanya kalau i’tikaf di aula masjid yg sering disewa untuk acara pernikahan apakah boleh? Karena dimasjid saya ada 3 lantai. Lantai dasar untuk aula. Tapi kalau sholat I’dh sering dipakai untuk sholat. Mohon pencerahannya. Terima kasih

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Itu istilahnya AR RAHBAH, yaitu bagian bangunan yg msh tersambung secara fisiknya dan tegelnya dgn masjid, Imam Ibnu Hajar mengatakan pendapat paling kuat  itu adalah bagian dari masjid. Shingga berlaku hukum2 masjid, termasuk i’tikaf juga sah. Bahkan Imam Syafi’i mengatakan i’tikaf di menara dan di atap masjid juga sah.

Wallahu a’lam.

Ta’ziyah Tetangga Non-muslim

Assalamu’alaikum wr wb Ustadz/ah..
Bagaimana hukum ikut mengantarkan jenazah tetangga yg non muslim? Dg catatan, kita hanya warga biasa & bukan pengurus RT….
🅰2⃣1⃣
Jazakillaah khoiron.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Cukup takziah saja tanpa perlu mengantarkan jenazah non muslim tersebut hingga prosesi pemakaman.

Wallahu a’lam.

Ingin Kaya maka Menikahlah,??

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Isinya, klo kita ingin kaya maka menikahlah, dan apabila masih miskin, menikah lg, apalagi masih miskin lg maka menikah lg, sampai engkau kaya. Apakah hadits tsb shohih? Jazakillah khoir

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Secara umum nikah memang mendatangkan rezeki, sebab suami dan istri, dan anak adalah rezki ..

Ada pun kisah yang terkenal bahwa nabi menganjurkan nikah sampai 4 kali agar sahabat itu kaya .., saya blm dapatkan dalam kitab2 hadits yg primer ..

Yg ada adalah dalam surat An Nuur: 32

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

32. Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Tentang ayat ini, Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

رَغَّبَهُمُ اللَّهُ فِي التَّزْوِيجِ، وَأَمَرَ بِهِ الْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، وَوَعَدَهُمْ عَلَيْهِ الْغِنَى

Allah mendorong mereka untuk menikah, memerintahkan bagi orh merdeka dan budak, dan Allah janjikan kepada mereka kekayaan

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

الْتَمِسُوا الْغِنَى فِي النِّكَاحِ

Carilah kekayaan pada pernikahan

Wallahu a’lam.

Hibah

Oleh: Noorahmat, M.Sc

Assalamuaalaikum….Mohon jawaban yg syar’i., Apakah Hukum nya Hibah di ambil kembali oleh keluarga Penghibah…..

Contoh nya ada anak angkat menggubah tanah. Waktu itu mau dibayarkan ibu angkat ngga mau, Jwb nya masa sm anak bayar sic…., Tapi skg orang tua sdh tdk ada hibah itu mau di minta kembali.

Jawaban
—————-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Apapun alasan dan histori dibalik sebuah hibah. Maka hibah tetaplah sebuah hibah.

Dalil terkait keharaman menarik kembali hibah yang telah diberikan adalah sebagai berikut.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, ia berkata,

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatnya kembali’,”
(Shahih riwayat Bukhari-Muslim).

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, yakni ‘Abdullah bin ‘Amr r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda,

“Perumpamaan orang yang meminta kembali apa yang telah ia berikan apabila seperti anjing yang muntah kemudian memakannya kembali. Apabila seorang pemberi meminta kembali pemberiannya, maka hendaklah diperiksa dan diteliti apa yang ia minta kembali itu lalu diberikan kepadanya,”
(HR Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad hasan).

Semoga kita semua terhindar dari sifat buruk yang digambarkan dalam hadits-hadits tersebut diatas.

Wallahu a’lam.

Wanita Sholat ke Masjid

Oleh: Ida Faridah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….seorang istri / ibu yg sdh tidak ada tanggungan menyiapkan keperluan2 di pagi hari, suaminya solat subuh berjamaah di masjid, pertanyaannya apakah  sebaiknya ikut suami solat ke masjid apakah solat subuh di rmh saja sekalipun solat sendirian tidak berjamaah, mohon dijelaskan mana yg terbaik ?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Seorang perempuan lebih d utamakan sholat dirumah daripada di masjid walaupun sholatnya seorang diri karna bagi seorang perempuan hukum sholat berjama’ah sunnah

Menurut pendapat para ulama
1. Madzahb Maliki berpendapat seorang wanita lebih utama sholat d rumah daripada sholat dimasjid. Namun demikian mereka disunnahkan untuk berjama’ah disana asal imamnya tetap lelaki

2. Madzhab hambali berpendapat bagi wanita sholat berjama’ah itu sunnah d laksanakan oleh kaum wanita itu sendiri tidak bersama jama’ah laki laki, baik yang jadi imam itu laki-laki maupun perempuan, sedangkan berjama’ah dengan laki-laki hukumnya makruh bagi wanita cantik dan boleh saja bagi wanita yang tidak cantik

3. Madzhab syafe’i berpendapat bagi wanita, berjama’ah dirumah lebih utama dari pada di masjid, sedangkan sholat jama’ah itu sendiri bagi mereka hukumnya sunnah muakad

4. Madzhad Hanafi berpendapat sholat berjama’ah itu tidak di syari’atkan atas kaum wanita. Bahkan jama’ah wanita yang di imami oleh seorang wanita hukumnya makruh tahrim. Sekalipun sah sholat mereka dan keimamannya.

Namun, jika seorang perempuan itu ingin kemasjid suami jangan melarangnya berdasarkan hadist nabi

Rasulullah saw bersabda
“janganlah kamu halangi hamba hamba wanita dari masjid-masjid allah, dan hendaklah mereka pergi (kesana) tanpa minyak wangi “
(HR. Abu Hurairah) 

Menurut Asy-Syaukani, hadist diatas “diartikan tidak memakai minyak wangi. Sedang artinya yang asli adalah wanita yang bau badanya tak sedap lagi. Dan demikian pula menurut Ibnu Abdil Barr dan yang lain, dengan demikian kaum wanita diperintahkan pergi kemasjid dan dilarang memakai minyak wangi.

Kemudian tambahnya pula :” Seperti halnya minyak wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang lain yang searti dengannya, yakni larangan-larangan agama yang bisa membangkitkan syahwat, seperti pakaian mewah, perhiasan yang menyolok dan rias yang menggiurkan

Wallahu a’lam.

Hati-hati Menuduh dan Meng-iya-kan Tuduhan Zina

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Orang yg menuduh bahwa seseorang itu berzina, WAJIB menghadirkan EMPAT ORANG SAKSI (jumhur ulama sepakat bahwa saksi adalah laki-laki dan tidak dapat diterima kesaksian kaum wanita).

Allah swt berfirman :

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ

“Dan para perempuan yang melakukan perbuatan keji (zina) diantara perempuan-perempuan kamu, hendaklah terhadap mereka ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya) (QS. An Nisa, 4:15)

Jika tidak terbukti, maka si penuduh dan yg meng-iya-kan (menyetujui tuduhan) terkena had hukuman QAZAF, yakni DICAMBUK 80 KALI dan tidak diterima persaksiannya selama-lamanya.

Allah swt berfirman :

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak bisa mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur, 24:4)

Penuduh dapat terbebas dari hukuman Qazaf, jika:

1. Penuduh dapat menghadirkan EMPAT ORANG SAKSI selain saksi yg menerangkan tertuduh melakukan perbuatan zina.

2. Mendapatkan maaf dari orang yg dituduhkan berzina.

Artinya, apabila ada kabar tentang perzinahan seseorang, default program kita seharusnya adalah TIDAK PERCAYA sampai ada EMPAT ORANG SAKSI yg mengiyakannya. Zina ini hukumannya berat, penghilangan 2 nyawa karena dirajam (apabila pelaku zina sudah menikah) atau 100 kali cambukan dan diasingkan selama satu tahun (apabila pelaku zina belum menikah). Maka hukuman bagi penuduh dan penyetuju tuduhan yg tidak terbukti pun berat. Di dunia dan juga akhirat.

***
Silakan menuduh orang berzina. Silakan juga meng-iya-kan tuduhan tersebut. Silakan semakin menyebarkan tuduhan tersebut. Siapkan diri untuk dicambuk 80 kali dengan cambukan yg harus terasa sakit seluruh anggota badan.

Mungkin akan ada yg berkata, kita kan bukan negara agama. Penuduh zina bisa terbebas dari hukuman. Apalagi hanya menyetujui dan mengiyakan. Karena tidak diatur dalam KUHP  kita.

Sampaikan kepadanya, silakan terbebas dari hukuman dunia. Namun hukuman di akhirat sebagai pengganti hukuman di dunia yg tidak terlaksana itu, kata Allah dan Rasul-Nya adalah sangat pedih rasanya.

Berani?

* Sampaikan dan bagikan hal ini. Agar saudara Muslim kita yg sibuk menuduh orang lain berzina dan atau hanya mengiyakannya bertaubat dari perbuatannya. Allahumma qad ballaghtu. Allahumma fasyhad.

Ibu Menikah Lagi, Masih Yatimkah?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Apakah seorang anak msh disebut yatim, kl ibunya menikah lg?

Bpk kandungnya sdh meninggal sejak 6 thn lalu dan skg ibunya menikah lg. Skrg usia anaknya 11 thn.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Secara bahasa, yatim
artinya alfardu (sendirian) dan segala sesuatu yang di  tinggal oleh sesuatu yang serupa dengannya.
(As-Shihah fi Al-Lughah, kata: يتم)

Secara istilah,para ulama mendefinisikan yatim sebagai berikut:

الْيَتِيمَ بِأَنَّهُ مَنْ مَاتَ أَبُوهُ وَهُوَ دُونُ الْبُلُوغِ. لِحَدِيثِ: ” لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ”

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya, ketika dia belum baligh. Berdasarkan hadis: “Tidak ada status yatim setelah mimpi basah.
(diriwayatkan oleh At-Thabrani, dalam Mu’jam Al-Kabir, dari sahabat Handzalah bin Hudzaim).

Jadi penentuannya bukan usia tapi sudah baligh atau belum.

Jika memiliki ayah tiri

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ الرَّاوِيُ وَهُوَ مَالِكُ بْنُأَنَسٍ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. (HR Muslim)

“Makna (لَهُ أوْ لِغَيْرِهِ ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini,ialah ibu sang yatim,atau saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya,bisa juga ayah tiri.

Wallahu a’lam.