Makan, Minum, Rokok..Pembatal Wudhu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya mau nanya apakah makan,minum,dan merokok itu tidak/dapat membatalkan wudhu..mohon penjelasanya..trima kasih..

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Apakah makan bisa membatalkan wudhu? Ada beberapa rincian tentang hukum ini,

Pertama, makan daging onta
Ada hadis yang menegaskan bahwa orang yang makan daging onta, disyariatkan untuk berwudhu.

Diantaranya hadis dari  Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah  saya harus berwudhu karena makan daging kambing?”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن شئت فتوضأ، وإن شئت فلا تتوضأ

“Kalau kamu mau boleh wudhu, boleh juga tidak wudhu”.

Kemudian dia bertanya lagi,

“Apakah saya harus berwudhu karena makan daging onta?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, berwudhulah karena makan daging onta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak.

An-Nawawi menyebutkan,

فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Ulama berbeda pendapat tentang status makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah empat khulafa’ Rasyidin. Sementara ulama yang berpendapat makan daging onta membatalkan wudhu, diantaranya Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii.  (Syarh Shahih Muslim, 4/48).

An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah sahabat yang berpendapat bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu.

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Jabir bin Samurah di atas.

Kedua, makan makanan yang dimasak

Ada beberapa hadis yang memberikan kesimpulan hukum berbeda terkait makan makanan yang dimasak. Apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Kita akan simak hadisnya masing-masing.

Pertama, hadis yang mewajibkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

Hadis dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

Keterangan:

Yang dimaksud makanan tersentuh api adalah makanan yang dimasak, dengan cara apapun. (Mur’atul Mafatih, 2/22).

Kemudian hadis dari Ibrahim bin Abdillah bin Qaridz, bahwa beliau pernah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang sedang berwudhu. Kemudian Abu Hurairah bertanya, ‘Tahu kenapa saya berwudhu? Karena saya baru saja maka keju. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815, yang lainnya).

Selanjutnya, kita sebutkan hadis yang kedua, yang tidak menganjurkann wudhu setelah makan.

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu. (HR. Abu Daud 191 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian hadis dari Amr bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong daging kambing dengan pisau untuk dimakan. Kemudian datang waktu shalat. Lalu beliau letakkan pisau itu, kemudian shalat tanpa berwudhu. (HR. Bukhari 208 & Muslim 820)

Kemudian keterangan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak. (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat dalam memahami dua hadis di atas. Sebagian mengkompromikan kedua hadis itu. Dan mereka berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan untuk berwudhu karena makan makanan yang dimasak dipahami sebagai perintah anjuran. Sehingga makan makanan yang dimasak tidak membatalkan wudhu, namun dianjurkan untuk wudhu. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/59).

Ada juga yang memahami bahwa hadis Jabir menjadi nasikh (menghapus hukum) hadis yang memerintahkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

At-Turmudzi dalam Sunannya setelah menyebutkan hadis Jabir, beliau mengatakan,

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم مثل سفيان الثورى وابن المبارك والشافعى وأحمد وإسحاق رأوا ترك الوضوء مما مست النار. وهذا آخر الأمرين من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. وكأن هذا الحديث ناسخ للحديث الأول حديث الوضوء مما مست النار

Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelahnya. Seperti Sufyan at-Tsauri, Ibnul Mubarok, as-Syafii, Ahmad, Ishaq. Mereka berpendapat tidak perlu wudhu karena makan makanan yang dimasak. Itulah hukum terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah ini adalah hadis yang menghapus hukum untuk hadis pertama, yaitu hadis perintah wudhu karena makan makanan yang dimasak. (Jami’ at-Turmudzi, 1/140).

insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Ketiga, selain jenis makanan di atas.

Selain onta dan makanan yang dimasak, seperti buah-buahan, atau makanan yang dimakan tanpa dimasak, tidak ada kewajiban berwudhu. Karena hukum asal bukan pembatal wudhu, kecuali ada dalil bahwa itu membatalkan wudhu.

Sedangkan merokok, para ulama memfatwakan bahwa rokok bukan termasuk pembatal wudhu. Sebagaimana makan dan minum tidak membatalkan wudhu. Demikian keterangan Imam Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa dan Risalah beliau jilid kesepuluh. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamimiyah, dalam fatwa no. 31004 dinyatakan:

فالتدخين لا ينقض الوضوء ولا يعلم في ذلك خلاف

“Merokok, tidak membatalkan wudhu. Tidak diketahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Namun ada satu hal yang lebih penting untuk kita perhatikan.

Semua orang sepakat bahwa rokok meninggalkan aroma tidak sedap di mulut. Tidak hanya orang lain, bahkan para perokok sendiri mengakui demikian. Anda bisa buktikan dengan banyaknya wanita yang mengeluh karena dia memiliki suami perokok. Setidaknya, keberadaan rokok di keluarga itu telah mengurangi romantisme suami istri.

Dari sisi medis juga, semua sepakat bahwa merokok memiliki banyak efek negatif bagi kesehatan daripada manfaatnya. Maka kami sangat menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (HR. Malik no. 1234, Ibnu Majah no. 2331). Demikian.

Wallahu a’lam.

Batasan Aurat Bagi Muslimah

Assalamualaikum ustadz/ah..Mau tanya, sebelumnya ada materi tentang wajibnya akhwat untuk menutup kaki?# A42

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Kalau kita bicara aurat wanita , apa sih batasannya?
Sebelum membahas mengenai kaki bagian bawah, perlu dipahami apa batasan aurat bagi wanita. Allah ta’ala berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh 
mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”)

Selain dalil-dalil mengenai batasan aurat secara umum, terdapat juga beberapa dalil yang jelas menunjukkan bahwa al qadam atau bagian bawah kaki wajib ditutup. Diantaranya yaitu hadits Ummu Salamah radhiallahu’anha,

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم لما قال في جرِّ الذيلِ ما قال قالت قلتُ يا رسولَ اللهِ فكيف بنا فقال جُرِّيهِ شبرًا ، فقالت (أم سلمة) إذًا تنكشفُ القدمانِ ، قال فجُرِّيهِ ذراعًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku berkata kepada beliau, ‘wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?’. Nabi menjawab: ‘julurkanlah sejengkal‘. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu julurkanlah sehasta‘. (HR. Ahmad 6/295, Abu Ya’la dalam As Sanad 1/325, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/828)

Syaikh Al Albani menyatakan: “hadits ini dalil bahwa kedua qadam wanita adalah aurat. Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan: ‘julurkanlah sejengkal‘, Ummu Salamah berkata: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?‘, menunjukkan kesan bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh dibuka. Dan hal itu disetujui oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Oleh karena itu beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta. Dan dalam Al Qur’an Al Karim juga ada isyarat terhadap makna ini, yaitu dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)”

Kesimpulannya: kaki adalah aurat yang harus ditutup berdasarkan dalil dalil diatas. 

Wallahu a’lam.

Suami Tidak Sholat

Assalamu’alaikum..Mohon pencerahannya tadz..
Bagaiaman jika suami tidak melaksanakan shalat.sang istri sudah sering mengingatkan tetapi tetep ia tidak mau.lalu apakah istri boleh menolak untuk berjima.karena saya pernah baca bahwa muslim yg tidak shalat di katagorikan sebagai  non muslim.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Saya pernah buat artikel “Hukum Meninggalkan Shalat”, intinya ada beberapa pembahasan ulama:

1. Jika tidak shalat karena MENGINGKARI kewajibannya, maka sepakat semua ulama org itu murtad.

2. Jika tidak shalat karena malas atau sengaja tapi TIDAK MENGINGKARI kewajibannya, maka ada 3 pendapat ulama:

a. Dia kafir, ini pendapat Imam Ahmad bin Hambal, diberi waktu tibat selama 3 hari, jika tidak tobat maka hukuman mati

b. Dia masih muslim, tapi dosa besar, fasiq, ini pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik. Diberikan waktu tobat 3 hr, jika tdk tobat, mk  hukumannya tetap mati krn meninggalkan perintah agama adalah kejahatan besar.

c. Dia masih muslim, dosa besar, fasiq, hukumannya adalah dikucilkan dari msyrkt Muslim.

Jk seorg suami tdk shalat, maka lihat dulu kriteria di atas.

Wallahu a’lam.

Muntah Saat Puasa

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Jika seseorang Sedang sakit asam lambung, dan ketika bersendawa kadang keluar muntahan dan secara reflek tertelan.
Bagaimana hukumnya?

Terimakasih ☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

itu tdk sengaja .. baik muntahnya dan tertelannya, tidak apa-apa.

Sebagaimana ayat: ​Laa tuakhidzna inna siina aw akhtha’na​ .. – Jangan salahkan kami jika kami lupa atau kesalahan yg tidak sengaja.

Wallahu a’lam.

Jari Telunjuk Bergerak-Gerak Ketika Taayahud

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan ustadz apa hukumnya mengetakan jari saat attahiyat karena ada yg mengatakan itu adalah bid’ad.
mohon penjelasannya tadz.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
( Ada pertanyaan yang serupa yang pernah dibahas)
Assalamu ‘Alaikum, Wr Wb. Saya sering melihat orang-orang tasyahhudnya berbeda di sisi mengacungkan jari kedepan :
-Ada yang dikibaskan
-Ada yang biasa
-Ada yang menunggu sampai bacaan tertentu..
Saya sering juga melihat orang-orang takbir berbeda
-Ada yang dengan slowmotion/gerak lambat (Enggak bohong !!!!)
-Ada yangg dengan dikekirikan/kanan
-Ada yangg biasa…Yang mana yang benar ?
Tolong pencerahannya
Jazakumullah

Jawab:
Wa ‘alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Apa yang Anda lihat, bahwa ada yang mengkibaskan (menggerak-gerakkan), atau yang biasa saja, atau ada yang menggerakkan pada bacaan tertentu, adalah khilafiyah yang memang benar-benar ada. Maka Anda tidak usah heran, sebab itu terjadi lantaran perbedaan mereka dalam menafsirkan hadits-hadits nabi tentang hal ini.

Dari Wail Bin Hujr Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

Bahwa rasulullah meletakkan tangannya yang kiri di atas pahanya dan lututnya yang kiri, dan meletakkan siku kanan di atas paha kanannya, kemudian dia menggenggam jari jemarinya dan membentuk lingkaran. Lalu dia mengangkat jarinya (telunjuk) dan aku melihat dia menggerak-gerakkannya, sambil membaca doa.”[1]

Syaikh Al Albany mengomentari hadits ini:

 أولا : مكان المرفق على الفخذ. ثانيا : قبض إصبعيه والتحليق بالوسطى والإبهام .ثالثا : رفع السبابة وتحريكها    .رابعا : الاستمرار بالتحريك إلى آخر الدعاء

Pertama. Tempat siku adalah di paha. Kedua. Menggenggam jari jemari dan membentuk lingkaran antara jari tengah dan jempol. Ketiga. Mengangkat jari telunjuk. Keempat. Terus-menerus menggerakkannya sampai akhir do’a.[2]

Sangat berbeda dengan Syaikh Al Albany, Imam Al Baihaqi mengomentari demikian:

 يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الاشارة بها. لا تكرير تحريكها، ليكون موافقا لرواية ابن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بإصبعه إذا دعا لا يحركها. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

“Mungkin yang dimaksud dengan menggerakkan itu adalah memberikan isyarat menunjuk, bukan menggerak-gerakkan secara berulang-ulang, agar hadits ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Zubeir, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan jarinya jika dia berdoa tanpa menggerak-gerakkannya.” Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih. [3]

Lalu Imam An Nawawi Rahimahullahmengatakan:

واما الحديث المروى عن ابن عمر عن النبي صلي الله عليه وسلم ” تحريك الاصبع في الصلاة مذعرة للشيطان ” فليس بصحيح قال البيهقى تفرد به الواقدي وهو ضعيف

“Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Menggerakan jari dalam shalat adalah hal yang ditakuti syetan,’ tidaklah shahih. Berkata Al Baihaqi: Al Waqidi meriwayatkannya sendiri, dan dia dha’if.” [4]

Namun Syaikh Al Albany menyanggah pendapat ini karena hadits dari Ibnu Zubeir yang katanya shahih menurut Imam al Baihaqi, ternyata ghairu shahih (tidak shahih) menurut hasil penelitiannya.[5]

Beliau juga memperkuat dengan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لهي أشد على الشيطان من الحديد

“Gerakan telunjuk itu benar-benar lebih ditakuti syetan dibanding besi.” [6]

Beliau mengatakan bahwa para sahabat nabi melakukan itu, yakni menggerakan jari sebagai isyarat ketika doa, karena mereka menyontoh terhadap sesama sahabat lainnya. Sebagaiana yang dikatakan Ibnu Abi Syaibah secara hasan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukannya pula pada semua duduk tasyahudnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh  An Nasa’i dan Al Baihaqi dengan sanad shahih. [7]

Sementara Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah berkata:

وقد سئل ابن عباس عن الرجل يدعو يشير بإصبعه؟ فقال: هو الاخلاص. وقال أنس بن مالك: ذلك التضرع، وقال مجاهد: مقمعة للشيطان. ورأى الشافعية أن يشير بالاصبع مرة واحدة عند قوله (إلا الله) من الشهادة، وعند الحنفية يرفع سبابته عند النفي ويضعها عند الاثبات، وعند المالكية، يحركها يمينا وشمالا إلى أن يفرغ من الصلاة، ومذهب الحنابلة يشير بإصبعه كلما ذكر اسم الجلالة، إشارة إلى التوحيد، لا يحركها.

“Ibnu Abbas ditanya tentang seorang yang memberikan isyarat dengan telunjuknya. Beliau menjawab: ‘Itu menunjukkan ikhlas.’ Anas bin Malik berkata: ‘Itu menunjukkan ketundukan.’ Mujahid berkata: ‘Untuk memadamkan syetan.’ Sedangkan golongan syafi’iyah memberikan isyarat dengan jari hanya sekali yakni pada ucapan Illallah (kecuali Allah) dari kalimat syahadat. Sedangkan menurut golongan Hanafiyah, mengangkat jari telunjuk ketika ucapan pengingkaran (laa ilaha/tiada Tuhan) lalu meletakkan lagi ketika ucapan penetapan(Illallah/ kecuali Allah). Sedangka menurut Malikiyah menggerak-gerakan ke kanan dan ke kiri hingga shalat selesai. Sedankan madzhab Hanabilah (hambali) memberikan isyarat dengan jari telunjuk ketika disebut lafzul jalalah (nama Allah) sebagai symbol tauhid, tanpa menggerak-gerakkannya.” [8]

📌 Tata Cara Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram

Tidak dibenarkan slowmotion (terlalu lama) atau terlalu cepat, dan di main-mainkan ke kanan ke kiri.  Hendaknya  kita melakukan secara wajar mengikuti sunah nabi. Di angkat sejajar bahu atau hampir sejajar bahu, bersamaan dengan takbir atau sebelum membaca takbirtul  ihram.

Berkata Syaikh Muhammad NashiruddinAl Albany Rahimahullah:

( البخاري وأبو داود وابن خزيمة ) و ( كان يرفع يديه تارة مع التكبير وتارة بعد التكبير وتارة قبله )
( أبو داود وابن خزيمة ) كان يرفعهما ممدودة الأصابع [ لا يفرج بينها ولا يضمها ] )

 ( البخاري وأبو داود ) و ( كان يجعلهما حذو منكبيه وربما كان يرفعهما حتى يحاذي بهما [ فروع ] أذنيه )

“Rasulullah mengankat kedua tangannya, kadang bersamaan dengan takbir, kadangkala setelah takbir, dan kadang kalasebelum takbir. “ (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka (tidak merenggangkan dan tidak menggenggamnya) (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat tangannya hingga sampai sejajar kedua bahunya, dan terkadang sampai kedua telinganya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) [9]

Berkata Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah:

والمختار الذي عليه الجماهير، أنه يرفع يديه حذو منكبيه، بحيث تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذكيه، وراحتاه منكبيه.
قال النووي: وبهذا جمع الشافعي بين روايات الاحاديث فاستحسن الناس ذلك منه.
ويستحب أن يمد أصابعه وقت الرفع.
فعن أبي هريرة قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه مدا. رواه الخمسة إلا ابن ماجة.
وقت الرفع: ينبغي أن يكون رفع اليدين مقارنا لتكبيرة الاحرام أو متقدما عليها.
فعن نافع: أن ابن عمر رضي الله عنهما كان إذا دخل في الصلاة كبر ورفع يديه، ورفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم.
رواه البخاري والنسائي وأبو داود.
وعنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يرفع يديه حين يكبر حتى يكونا حذو منكبيه أو قريبا من ذلك.
الحديث رواه أحمد وغيره.
وأما تقدم رفع اليدين على كبيرة الاحرام فقد جاء عن ابن عمر قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا بحذو
منكبيه ثم يكبر، رواه البخاري ومسلم.
وقد جاء في حديث مالك بن الحويرث بلفظ: (كبر ثم رفع يديه) رواه مسلم.
وهذا يقيه تقدم التكبيرة على رفع اليدين، ولكن الحافظ قال: لم أر من قال بتقديم التكبيرة على الرفع.

Riwayat yang dipilih oleh jumhur(mayoritas) adalah mengangkat tangan itu harus sejajar dengan kedua bahu sampai ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari dengan ujung bawahnya serta kedua telapak tangan dengan kedua bahunya.

An Nawawi mengatakan: “Dengan cara ini Asy Syafi’i telah menghimpun beberapa riwayat hadits hingga ia mendapat pengakuan dari kalangan ulama.” Dan, disunnahkan merenggangkan jari jemari pada saat mengangkat tangan. Dari Abu HurairahRadhiallahu ‘Anhu:

“Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamhendak melakukan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa’i, dan At Tirmidzi kecuali Ibnu Majah)

Saat mengangkat kedua tangan. Hendaknya mengangkat kedua tangan itubersamaan waktunya dengan mengucapkan takbiratul ihram atau mendahulukannya sebelummembaca takbiratul ihram. Nafi’ berkata:

“Jika Ibnu Umar hendak memulai shalat, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya. Hal ini dinyatakannya berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari An Nasa’i dan Abu Daud)

Dari Nafi’ juga: “Bahwa RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbir hingga sejajar dengan kedua bahu atau hamper sejajar dengannya.” (HR. Ahmad dan lainnya)
               
Adapun mendahulukan mengangkat kedua tangan sebelum takbiratul ihram, maka telah ada riwayat dari Ibnu Umar dia berkata: “Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri hendak mengerjakan shalat maka beliau mengangkat kedua belah tangannya sehingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau membaca takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan telah diterima hadits dari Malik binAl Huwairits dengan lafaz: “Ia membaca takbir, lalu mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini membolehkan mendahulukan takbir daripada mengangkat tangan. Akan tetapi, Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Saya tidak pernah melihat adanya orang yang mengatakan bahwa didahulukannya takbir daripada mengangkat kedua tangan.”[10] Demikian.

Wallahu A’lam

🍃🍃🍃🍃🍃
                      
[1] HR. An Nasa’i, Kitab Al Iftitah Bab Maudhi’Al Yamin minasy Syimali fish Shalah, Juz. 3, Hal. 433 No hadits. 879. Ahmad, Juz.38, Hal. 331, No hadits. 18115.
[2] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany, Tamam Al Minnah, Juz. 1, Hal. 221.
[3] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 170. Lihat juga Imam An Nawawi,Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454.
[4] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454-455. Darul Fikr.
[5] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tamamul Minnah, Juz. 1, Hal. 217.
[6] HR. Ahmad, Juz. 12, Hal. 265, No hadits. 5728, Lihat pula Tamamul Minnah, Juz. 1 Hal. 220. Dan Shifah ash Shalah an Nabi, Hal. 159.
[7] Ibid
[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 171.  Lihat juga Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 455.
[9] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shifah Ash Shalah An Nabi, Hal.  86. Maktabah Al Ma’arif  Linasyr wat Tauzi’.
[10] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 142-143. 

Wallahu a’lam.

Arisan Kurban

Assalamualaikum  ustadz mau tanya ni
Gimana hukimnya arisan kurban
Apa kurbannya itu sah buat yg dapat nomer undinya ( si penenang arisan jurban) bukannya uang yg di buat kurban itu sama saja masih berhutang karna selesai kurban si pemenang tadi masih punya tanggungan
makasih☺☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam arisan hakikatnya yang mendapat undian lebih dulu berhutang kepada anggota arisan tersebut. Dalam hal arisan kurban, sebagian ulama menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim, ketia beliau ditanya mengapa berhutang untuk membeli unta kurban? Beliau menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman”:
لكم فيها خير

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (QS. Al Hajj: 36)

Ulama lainnya yang membolehkan adalah Imam Ahmad.

Sedangkan yang menganjurkan untuk melunasi hutang daripada berkurban adalah Ibnu Utsamin yang tercantum dalam Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826.

“Jika seseorang punya huttang maka selayaknya mendahuukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (syarhul mumti’, 7/455)

Kesimpulan:
Jika arisan kurban adalah jalan yang ringan untuk kita berkurban dan kita yakin dapat menyelesaikan ewajiban membayar arsan tersebut, maka ikhtiar tersebut adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi jika kita khawatir tidak mampu melunasi tanggungan hutang akibat arisan, maka lebih baik dihindari.

Wallahu a’lam.

Arisan Kurban

Assalamualaikum  ustadz mau tanya ni
Gimana hukimnya arisan kurban
Apa kurbannya itu sah buat yg dapat nomer undinya ( si penenang arisan jurban) bukannya uang yg di buat kurban itu sama saja masih berhutang karna selesai kurban si pemenang tadi masih punya tanggungan
makasih☺☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam arisan hakikatnya yang mendapat undian lebih dulu berhutang kepada anggota arisan tersebut. Dalam hal arisan kurban, sebagian ulama menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim, ketia beliau ditanya mengapa berhutang untuk membeli unta kurban? Beliau menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman”:
لكم فيها خير

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (QS. Al Hajj: 36)

Ulama lainnya yang membolehkan adalah Imam Ahmad.

Sedangkan yang menganjurkan untuk melunasi hutang daripada berkurban adalah Ibnu Utsamin yang tercantum dalam Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826.

“Jika seseorang punya huttang maka selayaknya mendahuukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (syarhul mumti’, 7/455)

Kesimpulan:
Jika arisan kurban adalah jalan yang ringan untuk kita berkurban dan kita yakin dapat menyelesaikan ewajiban membayar arisan tersebut, maka ikhtiar tersebut adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi jika kita khawatir tidak mampu melunasi tanggungan hutang akibat arisan, maka lebih baik dihindari.

Wallahu a’lam.

Antara Tanggung jawab sbg Istri dgn Pekerjaan

Assalamu’alaikum Ustadzah.. Tanya dong.. apa yang harus aku lakukan menurut Islam. Selamatkan kebutuhan keluarga atau selamatkan nyawa pasien yang membutuhkan pertolongan?
Aku bener pusing.. fisik, gak mampu. Pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ibu, istri dan atasan luar biasa banyak. Sementara hemofilia sering kali jadi pilihan sulit manakala harus menolong pasien yang sedang bertaruh nyawa.. 😔
Sementara aku ngerasa ‘kerja sendiri’ di hemofilia untuk bantu Dr Novie.
Ini pertanyaan buat di MANIS yaa.  🙏🏾
# A 14

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

MasyaAllah… kondisi yang berat.
Maaf  di pertanyaan ada kata-kata tanggung jawab sebagai istri, berarti bekerjanya sifatnya membantu dan sudah ada izin dari suami. Sehingga butuh komunikasi yang baik supaya suami bisa back up atau paling tidak suami memahami tuntutan atau konsekwensi pekerjaan sebagai seorang dokter.

Untuk pekerjaan ia akan jadi berat kalau kita menjalaninya dan menganggapnya sebagai beban. Sehingga untuk bisa terasa ringan mindset berfikir kita yang harus kita rubah, kita yakini:

1. Ini sarana untuk bisa menggapai surga.

2. Ladang amal sholeh yang tidak semua orang bisa dapat karena harus ahli.

3. Bisa membantu,meringankan penderitaan pasien bahkan bisa menolong pasien yang sedang bertaruh nyawa, ini luar biasa butuh pendampingan.

4. Ladang pahala yg luar biasa.

5. Menjalaninya harus dengan ikhlas. Dan menikmati.

Jangan dibenturkan semua tuntutan dan tanggung jawab sebagai istri, ibu dan pekerjaan tapi dimanage, di arrange libatkan orang-orang terdekat untuk terlibat . Misal yang bantu pekerjaan rumah. Antar jemput anak. Dll.

Bismillah….
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak menghendaki kesulitan untuk kalian.” 
(QS. Al-Baqarah: 185)

Wallahu a’lam.

Isbal

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Mohon disharekan hadist terkait dg celana laki laki .. panjang nya apa diatas mata kaki…
Mohon maaf meneruskan pertanyaan saudara
A39

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Seiring dengan arus kebangkitan Islam, maka kesadaran untuk berislam secara kaffah menjadi hal yang niscaya, baik oleh muslim dan muslimah. Semangat mengamalkan sunah nabi adalah bagian dari cakupan kekaffahan pemahaman Islam seseorang. Termasuk keinginan sebagian pemuda dakwah memendekkan pakaian di atas mata kaki bahkan setengah betis. Tentu tidak lupa juga memanjangkan jenggot, memendekkan kumis, serta menutup aurat secara sempurna bagi para muslimahnya.

Fenomena ini harus disambut gembira dan diberikan dukungan, sebagai pengimbang atas betapa kuatnya dukungan terhadap kejahiliyahan akhlak pada zaman ini. Selain memang itu sebagai syi’ar Islam. Namun, di tengah arus kebangkitan Islam, bukan bebarti tanpa masalah internal. Sering kita melihat sesama aktifis Islam saling serang hanya karena perselisihan pemahaman fiqih semata, termasuk isbal (pelakunya disebut musbil) ini. Biasanya sikap keras dilancarkan oleh pihak yang memahami bahwa isbal itu haram walaupun tanpa rasa sombong. Sementara pihak yang diserang pun tentunya memberikan pembelaan dengan berbagai hujjah yang mereka miliki. Akhirnya, bukan masalah ini saja dan ini bukan yang terakhir, para aktifis Islam berputar-putar pada masalah yang memang sejak lama para ulama berselisih, mereka hanyalah melakukan siaran ulang saja. Sementara, banyak amal-amal pokok dan produktif menjadi tertinggal.
            
Seharusnya tidak boleh ada sikap keras dalam masalah isbal ini, dan seharusnya mereka tahu adanya perselisihan yang masyhur sejak dahulu. Namun bagi yang ingin menghindar isbal, semoga Allah memberikan pahala atasnya sebagai upaya menghidupkan sunah.

 Selengkapnya… 

Relokasi = Hijrah?

Assalamu’alaikum, ustadz ustadzah….izin bertanya, bisakah relokasi yg dilakukan pemerintah dikatakan sebagai bentuk hijrah? Karena memindahkan ke lingkungan yg “lebih baik” daripada sebelumnya. Jazakumullah khoir.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

🔓 ​Hijrah adalah kajian tata kelola hati setiap individu​

📌 Pemerintah adalah kumpulan manusia, dan agama ini fokus pada keputusan setiap indvidunya

📌 Relokasi adalah wujud pilihan program pemerintah, namun motivasi yang berada di balik setiap individu pemerintah maka ialah yang akan memastikan apakah dilakukan karena hijrah atau bukan..

Wallahu a’lam.