Keutamaan Salat Shubuh

Hadits Mengusap Dahi dan Wajah Setelah Shalat

Pertanyaan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustd mo tanya materi di atas adalah mengusap wajah setelah doa, apakah materi ini juga berlaku untuk setelah sholat fardu? Mohon pencerahannya (Ismail-I44)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Dalam hal ini ada dua hadits.

1. Hadits pertama, dari Anas bin Malik, katanya:

كان إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم و الحزن

“Adalah Rasulullah jika telah selesai shalat, maka dia usapkan dahinya dengan tangan kanannya, kemudian berkata: “Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.” ( HR. Ibnu Sunni ,‘Amalul Yaum wal lailah, No. 110,  dan Ibnu Sam’un,Al Amali, 2/176q).

Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan:maudhu’ (palsu).

Imam Ibnu Rajab Al Hambali berkata dalam Fathul Bari-nya:

وله طرق عن أنس ،كلها واهية

“Hadits ini memiliki banyak jalan dari Anas bin  Malik, semuanya lemah.”(Imam Ibnu Rajab Al Hambali, Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sanad hadits ini adalah dari Salam Al Madaini, dari Zaid Al ‘Ami dari Mu’awiyah, dari Qurrah, dari Anas … (lalu disebutkan hadts di atas)

Cacatnya hadits ini lantaran Salam Al Madaini dan Zaid Al ‘Ami. Salam Al Madaini adalah orang yang dtuduh sebagai pendusta, sedangkan Zaid Al ‘Ami adalah perawi dhaif. Oleh karena itu, Syaikh Al Albani mengatakan, sanad hadits ini palsu. Hanya saja, hadits ini juga diriwayatkan dalam sanad lainnya yang juga dhaif. Secara global, hadits ini dhaif jiddan. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Ad Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1058.  Darul Ma’arif)

Sementara, Imam Al Haitsami mengutip dari Al Bazzar, bahwa Salam Al Madaini adalah layyinul hadits (haditsnya lemah). (Imam Al Haitsami, Majma’ az Zawaid, 10/47. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Al Haitsami juga mengatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif (lemah).(Ibid,1/230) Imam Al Baihaqi juga menyatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif. (Al ‘Allamah Ibnu At Turkumani, Al Jauhar, 3/46. Darul Fikr) begitu pula kata Imam Al ‘Iraqi. (Takhrijul Ihya’, 6/290)

Al ‘Allamah As Sakhawi mengatakan, lebih dari satu orang menilai bahwa Zaid Al ‘Ami adalah tsiqah (bisa dipercaya), namun jumhur (mayoritas) menilainya dhaif. (As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 4/486) yang menilainya tsiqah adalah Imam Ahmad.(Ibid, 2/400) Imam Ahmad juga mengatakan: shalih (baik). (Ibnu Al Mubarrad, Bahr Ad dam, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Sementara Imam An Nasa’i mengatakan Zaid Al ‘Ami sebagai laisa bil qawwi(bukan orang kuat hafalannya). (Al Hafizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 7/185. Lihat Abul Fadhl As Sayyid Al Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, 14/132) begitu pula kata Imam Abu Zur’ah. (Al Hafiz Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, 3/561. Dar Ihya At Turats)

2.  Hadits kedua, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu katanya:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بكفه اليمنى ، ثم أمرها على وجهه حتى يأتي بها على لحيته ويقول : « بسم الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الغم والحزن والهم ، اللهم بحمدك انصرفت وبذنبي اعترفت ، أعوذ بك من شر ما اقترفت ، وأعوذ بك من جهد بلاء الدنيا ومن عذاب الآخرة »

“Adalah Rasulullah Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam jika telah selesai shalatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan, kemudian ilanjutkan ke wajah sampai jenggotnya. Lalu bersabda: “Dengan nama Allah yang Tidak ada Ilah selain Dia, yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan Yang Tampak, Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan, kesedihan, dan keresahan. Ya Allah dengan memujiMu aku beranjak dan dengan dosaku aku mengakuinya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku akui, dan aku berlidung kepadaMu dari beratnya cobaan kehidupan dunia dan siksaan akhirat.”  (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, No. 40446. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)

Hadits ini dhaif (lemah). Karena di dalam sanadnya terdapat Daud Al Mihbarpengarang kitab Al ‘Aql.

Imam Al Bukhari berkata tentang dia: munkarul hadits. Imam Ahmad mengatakan: Dia tidak diketahui apa itu hadits.  (Imam Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, No. 837. Mawqi’ Ya’sub. Lihat juga kitab Imam Bukhari lainnya, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 45. Darul Ma’rifah. Lihat juga Al Hafizh Al ‘Uqaili, Dhu’afa, 2/35. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Al Hafizh Az Zarkili mengatakan mayoritas ulama menilainya dhaif. (Khairuddin Az Zarkili,  Al A’lam, 2/334. Darul ‘Ilmi wal Malayin)

Ali Maldini mengatakan Daud ini: haditsnya telah hilang. Abu Zur’ah dan lainnya mengatakan: dhaif (lemah). Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). Abu Hatim mengatakan: haditsnya hilang dan tidak bisa dipercaya. Ad Daruquthni mengatakan bahwa Daud Al Mihbar dalam kitab Al ‘Aql  telah memalsukan riwayat Maisarah bin Abdi Rabbih, lalu dia mencuri sanadnya dari Maisarah, dan membuat susunan sanad bukan dengan sanadnya Maisarah. Dia juga pernah mencuri sanad dari  Abdul Aziz bin Abi Raja’, dan Sulaiman bin ‘Isa Al Sajazi. (Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 2/20. No. 2646. Darul Ma’rifah) Abu Hatim juga mengatakan:munkarul hadits. (Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 3/424, No. 1931)

Bahkan, Syaikh Al Albani dengan tegas mengatakan sanad hadits ini adalahmaudhu’ (palsu) lantaran perilaku Daud yang suka memalsukan sanad ini. Beliau mengatakan Daud adalah orang yang dituduh sebagai pendusta. Sedangkan untuk Al Abbas bin Razin As Sulami, Syaikh Al Albani mengatakan: aku tidak mengenalnya.(Syaikh Al AlBani, As Silsilah Adh Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1059.  Darul Ma’arif)


Catatan:

Walaupun hadits-hadits ini sangat lemah dan tidak boleh dijadikan dalil, namun telah terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang mengusap wajah jika sekadar untuk membersihkan bekas-bekas sujud, seperti pasir, debu, tanah, dan lainnya. Di antara mereka ada yang membolehkan, ada juga yang memakruhkan.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan:

فأما مسح الوجه من أثر السجود بعد الصلاة ، فمفهوم ما روي عن ابن مسعودٍ وابن عباسٍ يدل على أنه غير مكروهٍ
وروى الميموني ، عن أحمد ، أنه كان اذا فرغ من صلاته مسح جبينه

“Adapun mengusap wajah dari bekas sujud setelah shalat selesai, maka bisa difahami dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, yang menunjukkan bahwa hal itu tidak makruh. Al Maimuni meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa dia mengusap dahinya jika selesai shalat.”   (Imam Ibnu Rajab Al Hambali,Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sebagian ulama lain memakruhkannya, bahkan mengusap wajah merupakan penyebab hilangnya doa pengampunan dari malaikat. Berikut penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Rahimahullah:

وكرهه طائفة ؛ لما فيه من إزالة أثر العبادة ، كما كرهوا التنشيف من الوضوء والسواك للصائم
وقال عبيد بن عميرٍ : لا تزال الملائكة تصلي على إلانسان ما دام أثر السجود في وجهه
خَّرجه البيهقي بإسنادٍ صحيحٍ
وحكى القاضي أبو يعلي روايةً عن أحمد ، أنه كان في وجهه شيء من أثر السجود فمسحه رجل ، فغضب ، وقال : قطعت استغفار الملائكة عني . وذكر إسنادها عنه ، وفيه رجل غير مسمىً
وبوب النسائي ((باب : ترك مسح الجبهة بعد التسليم )) ، ثم خرج حديث أبي سعيد الخدري الذي خَّرجه البخاري هاهنا ، وفي آخره : قال ابو سعيدٍ : مطرنا ليلة أحدى وعشرين ، فوكف المسجد في مصلى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فنظرت إليه وقد انصرف من صلاة الصبح ، ووجهه مبتل طيناً وماءً

“Sekelompok ulama memakruhkannya, dengan alasan hal itu merupakan penghilangan atas bekas-bekas ibadah, sebagaimana mereka memakruhkan mengelap air wudhu (dibadan) dan bersiwak bagi yang berpuasa. Berkata ‘Ubaid bin ‘Amir: “Malaikat senantiasa bershalawat atas manusia selama bekas sujudnya masih ada di wajahnya.” (Riwayat Al Baihaqi dengan sanad shahih)

Al Qadhi Abu Ya’la menceritakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, bahwa  ada bekas sujud di wajahnya lalu ada seorang laki-laki yang mengusapnya, maka beliau pun marah, dan berkata: “Kau telah memutuskan istighfar-nya malaikat dariku.” Abu Ya’la menyebutkan sanadnya darinya, dan didalamnya terdapat seseorang yang tanpa nama.

Imam An Nasa’i membuat bab: Meninggalkan Mengusap Wajah Setelah Salam. Beliau mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Said Al Khudri, yang telah dikeluarkan pula oleh Imam Bukhari di sini, di bagian akhirnya berbunyi: Berkata Abu Said: “Kami kehujanan pada malam ke 21 (bulan Ramadhan), lalu air di masjid mengalir ke tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kami memandang kepadanya, beliau telah selesai dari shalat subuh, dan wajahnya terlihat sisa tanah dan air.” (Ibid)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doakan Selalu Orang Tua Kita

Mengusap Wajah Setelah Berdoa?

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Masalah ini telah diperlisihkan para imam kaum muslimin, bahkan sejak masa sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum. Sebagian membolehkan bahkan menyunnahkan karena ada riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan dari sebagian sahabat seperti Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, dan Al Hasan, yang melakukan hal itu. Sebagian lain melarang itu, bahkan menyebutnya bid’ah dan kebodohan, karena tidak memiliki dasar yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masalah perbedaan ini tidak boleh dijadikan sebab berpecahnya umat Islam, karena memang telah terjadi perselisihan ini sejak masa-masa terdahulu.

Kali ini yang kami lakukan adalah hanya memaparkan saja fatwa-fatwa para imam tersebut, tidak pada posisi menguatkan atau melemahkan salah satunya. Sebagian di antara imam ini ada yang menyunahkan dan membolehkan, ada pula yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan mengusap wajah setelah doa. Jika Anda melakukannya, maka para salaf ada yang melakukannya. Jika Anda meninggalkannya maka para salaf juga ada yang meninggalkannya.

Kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah pihak yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan. Lalu bagian kedua adalah pihak yang membolehkan bahkan menyunnahkan.

Para ulama yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan

1. Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu

Tertulis dalam kitab Mukhtashar Kitab Al Witr:

وسئل عبد الله رضي الله عنه عن الرجل يبسط يديه فيدعو ثم يمسح بهما وجهه فقال كره ذلك سفيان

Abdullah -yakni Abdullah bin Al Mubarak- ditanya tentang seorang laki-laki menengadahkan kedua tangannya dia berdoa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Beliau menjawab: “Sufyan memakruhkan hal itu.” (Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 162)

2. Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu

Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi menceritakan:

وسئل مالك رحمه الله تعالى عن الرجل يمسح بكفيه وجهه عند الدعاء فأنكر ذلك وقال: ما علمت

Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika berdoa, lalu dia mengingkarinya, dan berkata: “Aku tidak tahu.” (Mukhtashar Kitab Al Witri, Hal. 152)

3. Imam Abdullah bin Al Mubarak Radhiallahu ‘Anhu

Imam Al Baihaqi meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra:

عَلِىُّ الْبَاشَانِىُّ قَالَ : سَأَلَتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الَّذِى إِذَا دَعَا مَسَحَ وَجْهَهُ ، قَالَ : لَمْ أَجِدْ لَهُ ثَبَتًا. قَالَ عَلِىٌّ : وَلَمْ أَرَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ. قَالَ : وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِى الْوِتْرِ ، وَكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ

Ali Al Basyani berkata: Aku bertanya kepada Abdullah –yakni Abdullah bin Al Mubarak- tentang orang yang jika berdoa mengusap wajahnya, Beliau berkata: “Aku belum temukan riwayat yang kuat.” Ali berkata: “Aku tidak pernah melihatnya melakukannya.” Aku melihat Abdullah melakukan qunut setelah ruku dalam witir, dan dia mengangkat kedua tangannya. (As Sunan Al Kubra No. 2970)

Imam Ibnul Mulaqin mengutip dari Imam Al Baihaqi sebagai berikut:

ثمَّ رَوَى بِإِسْنَادِهِ عَن ابْن الْمُبَارك أَنه سُئِلَ عَن مسح الْوَجْه إِذا دَعَا الْإِنْسَان قَالَ : لم أجد لَهُ شَاهدا . هَذَا آخر كَلَام الْبَيْهَقِيّ

Kemudian Beliau (Al Baihaqi) meriwayatkan dengan isnadnya, dari Ibnul Mubarak bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah jika manusia berdoa, Beliau menjawab: “Saya belum temukan syahid-(hal yang menguatkan)nya.” Inilah akhir ucapan Al Baihaqi (Imam Ibnul Mulqin, Al Badrul Munir, 3/640)

4. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu

Imam Ibnul Mulaqin Rahimahullah menuliskan:

وَقَالَ أَحْمد : لَا يعرف هَذَا أَنه كَانَ يمسح وَجهه بعد الدُّعَاء إِلَّا عَن الْحسن

Berkata Imam Ahmad: “Tidak diketahui hal ini, tentang mengusap wajah setelah doa, kecuali dari Al Hasan.” (Ibid, 3/639)

5. Imam Al Baihaqi Rahimahullah

Beliau berkata:

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت وإن كان يروي عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه و سلم حديث فيه ضعف وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت ولا قياس فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق

Ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai doa, maka tak ada satu pun yang saya hafal dari kalangan salaf yang melakukan pada doa qunut, kalau pun ada adalah riwayat dari mereka pada doa di luar shalat. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hadits dhaif tentang masalah ini. Sebagian mereka menggunakan hadits ini untuk berdoa di luar shalat, ada pun dalam shalat itu adalah perbuatan yang tidak dikuatkan oleh riwayat yang shahih, tidak pula atsar yang kuat, dan tidak pula qiyas. Maka, yang lebih utama adalah tidak melakukannya, dan hendaknya mencukupkan dengan apa yang dilakukan para salaf –Radhiallahu ‘Anhum- berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah dalam shalat. Wa billaahit taufiq. (As Sunan Al Kubra No. 2968)

6. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam Rahimahullah

Imam Al Munawi Rahimahullah menyebutkan dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, kata Beliau:

لا يمسح وجهه إلا جاهل

Tidak ada yang mengusap wajah melainkan orang bodoh. (Faidhul Qadir, 1/473. Lihat juga Mughni Muhtaj, 2/360)

7. Imam An Nawawi Rahimahullah

Imam An Nawawi menyatakan yang benar adalah berdoa mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, berikut ini ucapannya:

والحاصل لاصحابنا ثلاثة أوجه (الصحيح) يستحب رفع يديه دون مسح الوجه (والثاني) لا يستحبان (والثالث) يستحبان وأما غير الوجه من الصدر وغيره فاتفق أصحابنا علي أنه لا يستحب بل قال ابن الصباغ وغيره هو مكروه والله أعلم

Kesimpulannya, para sahabat kami (Syafi’iyah) ada tiga pendapat; (yang shahih) disunnahkan mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, (kedua) tidak disunnahkan keduanya, (ketiga) disunnahkan keduanya. Ada pun selain wajah, seperti dada dan selainnya, para sahabat kami sepakat bahwa hal itu tidak dianjurkan, bahkan Ibnu Ash Shabagh mengatakan hal itu makruh. Wallahu A’lam (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/501)

8. Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau berkata:

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ، وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ، أَوْ حَدِيثَانِ، لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Ada pun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangan ketika berdoa, hal itu telah diterangkan dalam banyak hadits shahih, sedangkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, maka tidak ada yang menunjukkan hal itu kecuali satu hadits atau dua hadits yang keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Wallahu A’lam (Al Fatawa Al Kubra, 2/219, Majmu’ Al Fatawa, 22/519, Iqamatud Dalil ‘Ala Ibthalit Tahlil, 2/408)

9. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah

Berikut fatwa ini Beliau:

السؤال: ذكرتم حكم رفع اليدين في الدعاء، فما القول في مسح الوجه بهما؟ الجواب: لم يثبت، وقد ورد فيه أحاديث ضعيفة، والسنة أن ترفع الأيدي ثم تنزل بدون مسح

Pertanyaan:

Anda telah menyebutkan hukum tentang mengangkat kedua tangan ketika doa, lalu apa pendapat Anda tentang mengusap wajah dengan keduanya?

Jawaban:

Tidak shahih, hadits-hadits yang ada tentang hal itu adalah lemah, dan sunnahnya adalah Anda mengangkat kedua tangan kemudian menurunkannya dengan tanpa mengusap wajah. (Syarh Sunan Abi Daud, 15/145)

Pada halaman lain juga tertulis demikian:

السؤال: هل ننكر على من يمسح وجهه بعد الدعاء؟ الجواب: لم ترد في هذا سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيبين لمن يعمل ذلك أنه ما ثبت في هذا شيء، إنما الثابت هو رفع اليدين، وأما مسح الوجه باليدين بعد الدعاء فقد وردت فيه أحاديث ضعيفة

Pertanyaan:

Apakah kita mesti mengingkari orang yang mengusap wajahnya setelah berdoa?

Jawaban:

Tidak ada sunah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah ini, maka hendaknya dijelaskan kepada orang yang melakukannya bahwa hal itu tidak ada satu pun yang kuat haditsnya. Yang kuat adalah mengangkat kedua tangan, ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa telah ada hadits-hadits lemah yang membicarakannya. (Ibid, 15/474)

10. Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah

Beliau berkata:

وأما مسح الوجه عقب الدعاء فلم يثبت فيه حديث صحيح ، بل إن بعض أهل العلم نصوا على بدعيته انظر معجم البدع (ص 227)

فلا تفعل أنت البدعة ولا تُشارك فيها ولكن انصح وأمر بالسنّة وذكّر النّاس وأخبرهم بالحكم الشّرعي

Ada pun mengusap wajah setelah berdoa, tidak ada hadits kuat lagi shahih tentang hal itu, bahkan sebagian ulama ada yang menyebutkan bid’ahnya hal itu. Lihat Mu’jam Al Bida’ (Hal. 227).

Maka, jangan Anda lakukan bid’ah, dan jangan berpartisipasi di dalamnya, tetapi hendaknya menasihatkan dan memerintahkan dengan sunah, serta mengingatkan manusia dan mengabarkan mereka terhadap hukum-hukum syar’i. (Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Hal. 5538)

11. Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah

Beliau berkata:

وأما مسح الوجه بعد الدعاء فمسألة خلافية بين العلماء، منهم من استحبه ومنهم من منعه، والأمر واسع في ذلك وإن كنا نرجح من باب الورع عدم المسح، لأن الحديث الوارد في المسح لا يخلو من كلام، ولعدم اشتهار ذلك عند السلف. والله أعلم

Ada pun mengusap wajah setelah doa, maka ini adalah persoalan yang diperselisihkan para ulama. Di antara mereka ada yang menyunahkannya dan ada pula yang melarangnya. Dan, masalah ini adalah masalah yang lapang. Sedangkan kami menguatkan diri sisi kehati-kehatian untuk tidak mengusap, karena hadits-hadits yang ada dalam masalah ini tidak kosong dari perbincangan para ulama, serta tidak ada yang masyhur dari kalangan salaf yang melakukan hal ini. Wallahu A’lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 36932)

12. Fatwa Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi Rahimahullah

Berikut ini fatwanya:

سئل الشيخ : ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الانتهاء من الدعاء وهل ورد فيه حديث عن النبى صلى الله عليه وسلم ؟

فقال الشيخ – رحمه الله – : ليس مسح الوجه بعد الدعاء من السنة بل هو بدعة لان مسح الوجه باليدين عقب دعاء يعتبر نسك وعبادة وهو لم يثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم فعله فيكون بدعة فى الدين والحديث الذى ورد فى هذا ضعيف ولم يصح

Syaikh ditanya: Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, apakah ada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ini?

Syaikh Rahimahullah menjawab:

Mengusap wajah setelah berdoa bukan termasuk sunah, bahkan itu adalah bid’ah, karena mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa telah dianggap sebagai ibadah. Hal itu tidak ada yang shahih dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka itu adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan hadits yang membicarakan ini adalah lemah dan tidak shahih. (Fatawa Asy Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Hal. 315)

13. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Wail At Tuwaijiri

Beliau berkata:

مسح الوجه بعد الدعاء ورد فيه أحاديث، ورجال الجرح والتعديل طعنوا فيها، فهي لا ترتقي إلى درجة العمل بها، ويبقى الأمر على ما هو الأصل فيه وهو عدم المسح؛ لأن الأحاديث الواردة في المسح ليست بصحيحة، ولا ترتقي إلى درجة الاحتجاج بها. انظر مثلاً ما رواه أبو داود (1485)، وابن ماجة (1181) من حديث ابن عباس -رضي الله عنهما- بإسناد ضعيف

Telah datang sejumlah hadits tentang mengusap wajah setelah doa, dan para ulama Al Jarh wat Ta’dil telah mengkritiknya, sehingga hadits tersebut tidak terangkat mencapai derajat yang layak diamalkan, jadi masalah ini dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu tidak mengusap wajah, karena hadits-hadits tentang mengusap wajah tidak ada yang shahih, dan tidak terangkat sampai derajat yang bisa dijadikan hujjah. Lihat misalnya riwayat Abu Daud (1485), Ibnu Majah (1181) dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dengan isnad yang dhaif. (Fatawa Istisyaraat Al Islam Al Yaum, 14/224)

Para Ulama Yang Membolehkan dan Menyunahkan

1. Sahabat nabi, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubeir Radhiallahu ‘Anhuma

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad:

عن أبى نعيم وهو وهب قال : رأيت بن عمر وبن الزبير يدعوان يديران بالراحتين على الوجه

Dari Abu Nu’aim –dia adalah Wahb, berkata: “Aku melihat Ibnu Umar dan Ibnu Az Zubeir mereka mengusap wajah dengan telapak tangannya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 609. Dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Amali Al Adzkar. Lihat Al Fatawa Al Haditsiyah, Hal. 55. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Dhaif Adabil Mufrad No. 609)

2. Imam Al Hasan bin Abil Hasan Radhiallahu ‘Anhu

Disebutkan dalam Mukhtashar Kitab Al Witr:

وعن المعتمر رأيت أبا كعب صاحب الحرير يدعو رافعا يديه فإذا فرغ من دعائه يمسح بهما وجهه فقلت له من رأيت يفعل هذا فقال الحسن

Dari Al Mu’tamar: aku melihat Abu Ka’ab pengarang Al Harir berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, lalu ketika dia selesai berdoa, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu aku bertanya kepadanya: “Siapa orang yang kau lihat melakukan ini?” Beliau menjawab: “Al Hasan.” (Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi, Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 152)

Imam As Suyuthi mengatakan: “isnadnya hasan.” (Lihat Fadhul Wi’a, No. 59)

3. Imam Ishaq bin Rahawaih Radhiallahu ‘Anhu

Beliau termasuk yang menganggap baik menggunakan hadits-hadits tentang mengusap wajah setelah doa sebagai dalilnya. Berikut ini keterangannya:

قال محمد بن نصر ورأيت إسحاق يستحسن العمل بهذه الأحاديث

Berkata Muhammad bin Nashr: Aku melihat Ishaq menganggap baik beramal dengan hadits-hadits ini. (Ibid)

4. Imam Al Khathabi Rahimahullah

Beliau mengomentari perkataan yang menyebut “bodoh” orang yang mengusap wajah setelah berdoa, katanya:

وَقَوْل بَعْضِ الْفُقَهَاءِ فِي فَتَاوِيهِ : وَلاَ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ عَقِبَ الدُّعَاءِ إِلاَّ جَاهِلٌ ، مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى هَذِهِ الأْحَادِيثِ

Pendapat sebagian fuqaha dalam fatwa mereka adalah tidaklah mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berdoa melainkan orang bodoh, bisa jadi bahwa dia belum menelaah masalah ini dalam banyak hadits. (Al Futuhat Ar Rabbaniyah ‘Alal Adzkar, 7/258)

5. Imam Az Zarkasyi Rahimahullah

Beliau juga mengomentari perkataan Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam dengan komentar yang mirip dengan Imam Al Khathabi. Katanya:

وأما قول العز في فتاويه الموصلية: مسح الوجه باليد بدعة في الدعاء لا يفعله إلا جاهل, فمحمول على أنه لم يطلع على هذه الأحاديث وهي وإن كانت أسانيدها لينة لكنها تقوى باجتماع طرقها

Ada pun perkataan Al ‘Izz dalam fatwanya: mengusap wajah dengan tangan adalah bid’ah dalam doa, dan tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh, maka dimungkinkan bahwa dia belum mengkaji hadits-hadits yang berkenaan masalah ini, walaupun sanad-sanadnya lemah tetapi menjadi kuat dengan mengumpulkan banyak jalurnya. (Al Juz’u fi mashil wajhi, Hal. 26)

6. Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah

Beliau berkata:

وعن عمر رضي الله عنه قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه” أخرجه الترمذي وله شواهد منها حديث ابن عباس عند أبي داود وغيره ومجموعها يقضي بأنه حديث حسن وفيه دليل على مشروعية مسح الوجه باليدين بعد الفراغ من الدعاء

Dari Umar Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, dia tidak akan mengembalikannya sampai mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.” Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan memiliki beberapa syawahid (saksi penguat), di antaranya adalah hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya. Kumpulan semuanya mencukupi hadits ini dihukumi hasan. Pada hadits ini terdapat dalil disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah selesai shalat. (Subulus Salam, 4/219, Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

7. Lajnah Ulama penyusun kitab Al Fatawa Al Hindiyah

Mereka mengatakan:

قِيل مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ لَيْسَ بِشَيْءٍ ، وَكَثِيرٌ مِنْ مَشَايِخِنَا اعْتَبَرُوا مَسْحَ الْوَجْهِ هُوَ الصَّحِيحَ وَبِهِ وَرَدَ الْخَبَرُ

Dikatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bukan apa-apa. Banyak guru-guru kami yang menyebutkan bahwa mengusap kedua tangan adalah benar adanya, dan telah ada riwayat tentang itu. (Al Fatawa Al Hindiyah, 5/318)

8. Syaikh Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullah

Beliau berkata dalam kitabnya Tuhfah Al Ahwadzi:

أي لم يضعهما ( حتى يمسح بهما وجهه ) قال بن الملك وذلك على سبيل التفاؤل فكأن كفيه قد ملئتا من البركات السماوية والأنوار الإلهية

Yaitu Beliau tidak meletakkan kedua tangannya (sampai Beliau mengusap wajahnya dengan keduanya) berkata Ibnul Malak hal itu menunjukkan rasa optimis yang kuat seakan kedua telapak tangannya telah dipenuhi oleh keberkahan dari langit dan cahaya ketuhanan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/232. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

9. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah:

Fatwa pertama:

والسؤال هو : ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الدعاء وخاصة بعد دعاء القنوت وبعد النوافل ؟ حفظكم الله وأثابكم ، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

ج : وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

بعده : حكمه أنه مستحب ؛ لما ذكره الحافظ في البلوغ في باب الذكر والدعاء ، وهو آخر باب في البلوغ أنه ورد في ذلك عدة أحاديث مجموعها يقضي بأنه حديث حسن ، وفق الله الجميع والسلام عليكم.

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa, khususnya setelah doa qunut dan setelah nawafil (shalat sunah)? Semoga Allah menjaga dan memberikan ganjaran buat Anda. Wassalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Hukumnya adalah sunah, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam Bulughul Maram pada Bab Adz Dzikr wad Du’a, yaitu pada bab terakhir kitab Bulughul Maram, bahwasanya terdapat beberapa hadits tentang itu yang jika dikumpulkan semuanya mencapai derajat hasan. Semoga Allah memberi taufiq. Wassalamu ‘Alaikum.

(Lihat Majmuu’ Fatawaa Ibni Baaz, 26/148)

Fatwa kedua: (Jawaban Syaikh Ibnu Baaz agak berbeda dengan fatwa pertama)

وأما مسح الوجه فلم يحفظ في الأحاديث الصحيحة، ولكن جاء في أحاديثها ضعف فذهب بعض أهل العلم بأنه لا مانع من ذلك؛ لأنها يشد بعضها بعضا ، ويقوي بعضها بعضا إذا مسحه، فلا بأس، لكن الأفضل والأولى الترك؛ لأن الأحاديث الصحيحة ليس فيها مسح بعد الدعاء

Ada pun mengusap wajah, tidak ada yang terekam dalam hadits-hadits shahih, tetapi adanya dalam hadits-hadits dhaif. Pendapat sebagian ulama adalah bahwa hal itu tidak terlarang, karena hadits tersebut satu sama lain saling menguatkan, jadi jika dia mengusapnya tidak apa-apa, tetapi lebih utama dan pertama adalah meninggalkannya, karena hadits-hadits shahih tidak menyebutkan mengusap wajah setelah doa. (Lihat Majmuu’ Fatawaa Ibni Baaz, 30/43-44)

Sebelumnya beliau menyatakan sunah, namun yang ini menyatakan tidak apa-apa, tetapi lebih baik ditinggalkan.

10. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

Fatwa pertama:

هل يسن مسح الوجه باليدين بعد الدعاء أم أن هذا بدعة؟

فأجاب رحمه الله تعالى: اختلف أهل العلم في هذا فمنهم من قال إنه ينبغي إذا فرغ من الدعاء وهو رافعٌ يديه أن يمسح بهما وجهه واستدلوا بحديث ضعيف لكن قال ابن حجر رحمه الله له طرقٌ يقوي بعضها بعضاً ومجموعها يقضي بأنه حديثٌ حسن ومن العلماء من قال إنه لا يمسح وجهه بيديه والأحاديث في هذا ضعيفة فيكون مسحه بيديه بدعة وإلى هذا ذهب شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وأرى أنه لا ينكر على من مسح ولا يؤمر بمسح من لم يمسح

Apakah disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa ataukah itu perbuatan bid’ah?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang menganjurkan jika selesai doa dan dia dalam keadaan mengangkat kedua tangannya, hendaknya mengusap wajahnya dengan keduanya. Mereka berdalil dengan hadits dhaif tetapi Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut memiliki beberapa jalan yang saling menguatkan satu sama lain, dan kumpulan semuanya telah mencukupi hadits itu menjadi hasan.

Di antara ulama ada yang mengatakan tidak usah mengusap wajah dengan kedua tangan, dan hadits-hadits dalam masalah ini dhaif, maka mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bid’ah. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Saya berpendapat hendaknya jangan diingkari orang yang mengusap wajahnya, dan tidak pula diperintahkan untuk mengusap wajah bagi orang yang tidak mengusapnya. (Selesai fatwa pertama).

Fatwa kedua:

ما حكم مسح اليدين على الوجه بعد الدعاء؟

فأجاب رحمه الله تعالى: الصحيح أنه لا يسن مسح الوجه بهما لأن الأحاديث الواردة في ذلك ضعيفة جدا لا تقوم بها حجة ولا يلتئم بعضها ببعض فالصواب أن مسح الوجه باليدين بعد الدعاء ليس بسنة ولكن الإنسان لا يفعله ولا ينكر على من فعله لأن بعض العلماء استحبه

Apakah hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Yang benar adalah tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan, karena hadits-hadits yang berkenaan hal itu sangat lemah (dhaif jiddan). Tidak bisa berhujjah dengannya dan tidak dapat dikumpulkan satu sama lainnya. Jadi, yang benar adalah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa adalah bukan sunah. Tetapi manusia tidak melakukannya, dan jangan diingkari orang yang melakukannya, karena sebagian ulama ada yang menyunahkannya. (selesai fatwa kedua)

(Lihat keduanya dalam Fatawaa Nuur ‘Alad Darb Lil Utsaimin, Kitab Fatawa Mutafariqaat, Bab Ad Du’a, Hal. 50)

Fatwa ketiga:

السؤال

ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الدعاء؟

الجواب

يرى بعض أهل العلم أنه من السنة، ويرى شيخ الإسلام أنه من البدعة، وهذا بناءً على صحة الحديث الوارد في هذا، والحديث الوارد في هذا قال شيخ الإسلام : إنه موضوع.

يعني: مكذوب على الرسول صلى الله عليه وسلم.

والذي أرى في المسألة: أن من مسح لا ينكر عليه، ومن لم يمسح لا ينكر عليه، وهو أقرب إلى السنة ممن مسح.

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban:

Sebagian ulama berpendapat hal itu sunah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat itu adalah bid’ah. Perbedaan ini terjadi karena terkait keshahihan hadits yang ada tentang masalah ini. Hadits yang ada menurut Syaikhul Islam adalah palsu (maudhu’), yakni dusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saya berpendapat dalam masalah ini bahwa mengusap wajah jangan diingkari, dan orang yang tidak mengusap wajah juga jangan diingkari, inilah sikap yang lebih dekat dengan sunah terhadap orang yang mengusap wajahnya. (Selesai fatwa ketiga)

(Lihat Liqaa’ Al Baab Al Maftuuh, 197/27)

11. Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Rahimahullah

Beliau berkata ketika ditanya hukum mengusap wajah setelah berdoa:

أما مسألة مسح الوجه فقد ورد فيها أحاديث لا تخلو من مقال، وإن كان مجموعها حسناً، فقد حسنها الحافظ ابن حجر ، بمجموعها لا بأفرادها، يقول الحافظ رحمه الله: إنها تبلغ درجة الحسن كما نبه على ذلك في آخر بلوغ المرام، لكن ورد العمل بها عن الصحابة وعن الأئمة وعن التابعين وعلماء الأمة، فورد أنهم كانوا يرفعون أيديهم ثم يمسحون بها وجوههم، فأصبح العمل بها من الصحابة دليل على أنهم تأكدوا من مشروعية ذلك

Adapun pertanyaan tentang mengusap wajah, telah terdapat beberapa hadits tentang hal itu namun tidak sepi dari pembicaraan ulama, yang jika semuanya dikumpulkan hadits tersebut menjadi hasan. Al Hafizh Ibnu Hajar telah menghasankannya, dengan terkumpulnya hadits itu bukan secara satu-satu. Berkata Al Hafizh Rahimahullah: “Sesungguhnya hadits tersebut telah sampai derajat hasan,” sebagaimana yang Beliau kabarkan pada akhir kitab Bulughul Maram. Namun, telah sampai kabar bahwa hal itu dilakukan oleh para sahabat, para imam, para tabi’in, dan ulama umat. Telah warid (datang) berita bahwa mereka mengangkat kedua tangan lalu mengusap wajah mereka dengan kedua tangan mereka. Maka, para sahabat telah melakukan perbuatan ini, dan itu menjadi dalil bahwa mereka menguatkan disyariatkannya perbuatan ini. (Syarh ‘Umdatul Ahkam, 21/37)

Demikian. Semoga bermanfaat.

Wa Shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Ahlus Sunnah, Antara Salafi dan NU

Pertanyaan

Assalamualaikum.  mau tanya tentang ahlus sunnah (salafy wahabi) dengan aswaja (NU-asy’ariah) kedua kelompok ini mengaku ahlus sunnah wal jamaah.  tapi akidah mereka berdua berbeda khususnya masalah asma wa sifat,  tawasul, tabbaruk, dimanakah Allah. manakah dari keduanya yang lebih mendekati kebenaran.  karena saya sedang membaca idrusramli.com banyak info Baru yang saya pelajari.(#i 19)

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa perbedaan keduanya dalam memahami dan menyikapi asma wa sifat sebenarnya tidak terlalu jauh. Sebagaimana dikatakan Asy Syatibi, Ibn Taimiyah, dan Al Banna Rahimahimullah.

Bagi kedua pihak, selalu ada orang yang mutasyaddid/keras, nah keduanya masih bisa berjalan bersama pada tokoh tokoh yang moderat.

Ada pun mencari mana yang mendekati kebenaran?
Tentunya pada sudut pandang masing-masing, mereka semua merasa paling benar.

Masing-masing punya hujjah yang menurut pemahamannya adalah paling unggul.

Ketika saya mengatakan pemahaman Salaf lebih dekat kebenaran dan selamat, dan ini yang dipilih oleh Syaikh Al Banna, tidak berarti saya mengatakan maka asy’ariyah adalah salah.

Ketika saya katakan Asy’ariyah yang benar, maka tidak berarti Salaf yang salah. Apalagi kedua kelompok sebenarnya sama2 mengklaim kelompoknya sbgai pemahaman salaf secara prinsip.

Imam Syafi’i mengatakan, pendapatku benar tp bisa jadi salah. Pendapat mereka salah, tp bisa jd benar.

Berkata Imam an Nawawi Rahimahullah:

وَمِمَّا يَتَعَلَّق بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَل فِيهِ ، وَلَا لَهُمْ إِنْكَاره ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ . ثُمَّ الْعُلَمَاء إِنَّمَا يُنْكِرُونَ مَا أُجْمِعَ عَلَيْهِ أَمَّا الْمُخْتَلَف فِيهِ فَلَا إِنْكَار فِيهِ لِأَنَّ عَلَى أَحَد الْمَذْهَبَيْنِ كُلّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ . وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَار عِنْد كَثِيرِينَ مِنْ الْمُحَقِّقِينَ أَوْ أَكْثَرهمْ . وَعَلَى الْمَذْهَب الْآخَر الْمُصِيب وَاحِد وَالْمُخْطِئ غَيْر مُتَعَيَّن لَنَا ، وَالْإِثْم مَرْفُوع عَنْهُ

“Dan Adapun yang terkait masalah ijtihad, tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya, mereka tidak boleh mengingkarinya, tetapi itu tugas ulama. Kemudian, para ulama hanya mengingkari dalam perkara yang disepati para imam. Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak boleh ada pengingkaran di sana.

Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar. Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti (muhaqqiq). Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti, dan dia telah terangkat dosanya.” (Syarah an Nawawi ‘ala Muslim, Juz 1, hal. 131, pembahasan hadits no. 70, ‘Man Ra’a minkum munkaran …..)

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Azan Saat Menguburkan Mayit

Pertanyaan

Assalamualaikum…tadi pagi saya ikut menguburkan jenazah..pada saat hendak dikubur ada salah satu orang azan.apakah ada tuntutan y atau tidak ? (Ageng-I44)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Tidak ada ayat atau hadits tentang itu, tetapi ada madzhab yang memperluas masalah adzan. Berikut keterangan dalam Al Mausu’ah:

” Kelompok yang memperluas masalah ini adalah kalangan Syafi’iyah, mereka mengatakan disunahkan adzan ke telinga bayi yang baru lahir, ke telinga org yg sedih karena bs menghilangkannya, musafir yg tetinggal,  waktu kebakaran, ketika pasukan terdesak, diganggu syetan, musafir nyasar, dalam keadaan takut, marah, utk org dan ternak yg buruk perangainya, dan ketika menurunkan mayit ke kubur diqiyaskan sbgmn ktka lahir ke dunial.”

Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/373

Tapi, Malikiyah membid’ahkan, kecuali Malikiyah yg setuju kpd Syafi’iyah.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 2)

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Materi sebelunnya bisa dilihat di tautan berikut:

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

Ini juga nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Imam Ibnu Rajab Rahimahullah dalam Fathul Bari, menuliskan:

وحكاه ابن شاهين عَن عامة أهل السنة ، قَالَ : وهم السواد الأعظم

“Ibnu Syahin menghikayatkan tentang semua Ahlus Sunnah, dia berkata: mereka adalah Sawadul A’zham.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 5/200)

Nama ini ditegaskan langsung dalam beberapa hadits. Dari  Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة  أبدا   وقال :   يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد    الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tidaklah Allah kumpulkan umat ini dalam kesesatan selamanya.”

Dan beliau juga bersabda: “Tangan Allah atas jamaah, maka ikutilah As Sawadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 391)

Hadits lain, dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اختلفت اليهود على احدى وسبعين فرقة سبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة واختلف النصارى على اثنتين وسبعين فرقة إحدى وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة وتختلف هذه الامة على ثلاثة وسبعين فرقة اثنتان وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة فقلنا انعتهم لنا قال السواد الاعظم

“Yahudi berselisih menjadi 71 kelompok, 70 ke neraka dan satu ke surga. Nasrani juga berselisih menjadi 72 kelompok, 71 ke neraka dan satu ke surga. Dan Umat ini juga berselisih mejadi 73 kelompok, 72 ke neraka dan satu ke surga.”
Kami berkata: “Sifatkanlah mereka untuk kami?” Beliau bersabda: “As Sawadul A’zham”. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabi No. 8051. Imam Al Haitsami mengatakan: rijal (perawi) hadits ini tsiqat (kredibel), Majma’ Az Zawaid, 6/234)

4. As Salafiyah (Yang Terdahulu)

Ini adalah istilah paling tenar setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sendiri.

Istilah ini diinspirasikan dari hadits Aisyah Radhiallahu ‘Anha berikut, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

وَنِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Aku adalah sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu.” (HR. Muslim No. 2450. Ibnu Majah No. 1621,  Ahmad No.  26413)

Dalam Al Quran pun ada istilah ‘salaf’ namun tidak ada kaitan sama sekali dengan ‘komunitas’ dan pemikiran aqidah yang sedang kita bahas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An Nisa (4): 22)

Dalam ayat lain:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan Berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “. (QS. Al Anfal (8): 38)

Namun makna ‘salaf’ yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah sebagaimana yang tertera dalam kitab I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, dalam bab Ittiba’us Salaf (mengikuti salaf):

من أصول مذهب أهل الحديث اتباع أقوال الصحابة والتابعين لهم بإحسان من أئمة الدين في أصول العقيدة خاصة وفي الدين عامة

“Di antara dasar-dasar madzhab ahli hadits adalah mengikuti perkataan para sahabat dan tabi’in (pengikut) mereka dengan baik dari para imam-imam agama, dalam perkara aqidah secara khusus, dan perkara agama secara umum.” (Syaikh Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais, I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, Hal. 134)

Jadi, salafiyah adalah mengikuti salafush shalih (pendahulu yang baik), yakni Rasulullah, para sahabat,  tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2652, Muslim No. 2533)

Tidak mengapa seseorang mengaku mengikuti jejak salafus shalih, namun yang penting adalah kesesuaian antara pengakuan dan perbuatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Tidak aib bagi siapa saja menampakkan madzhab salaf dan menyandarkan diri dengannya, dan berbangga dengannya, bahkan wajib menerimanya (madzhab salaf) menurut kesepakatan ulama. Sebab madzhab salaf tidaklah ia melainkan kebenaran semata.” (Majmu’ Fatawa, 1/321)

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah juga berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).” (Al Imam Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Menghidupkan Manhaj Salaf Bukan Komunitasnya

Tidak dibenarkan mengaku-aku mengikuti salaf tapi tidak dibarengi dengan perilaku sebagaimana salafus shalih, dan membuat ‘gaya’ dan ‘komunitas’ sendiri yang tidak sesuai salaf itu sendiri, karena salafiyah adalah manhaj, bukan komunitas.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى ( السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin menjadikan mazdhab mereka adalah madzhab salaf, bukan terikat dengan kelompok tertentu yang dinamakan Salafiyyin.

Wajib bagi umat Islam menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salafus shalih, bukan berkelompok kepada siapa-siapa yang dinamakan Salafiyyun. Maka, di sana ada jalan salaf, dan ada juga hizb (kelompok) yang dinamakan Salafiyun, dan yang dituntut adalah mengikuti salaf.”
(Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsamin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 263. Al Mausu’ah Asy Syamilah)

Sedangkan Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah berkata:

“Ada  orang yang mengklaim bahwa dirinya  di atas madzhab salaf, tetapi mereka menyelisihinya, mereka melampaui batas (ghuluw) dan menambah-nambahkan, dan keluar dari metode As Salaf.

Di antara mereka juga ada yang mengaku bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menggampangkan dan meremehkan, hanya cukup menyandarkan diri (intisab).

Orang yang di atas manhaj salaf itu adalah lurus dan pertengahan antara melampaui batas (ifrath) dan meremehkan (tafrith), demikianlah thariqah salaf, tidak melampaui batas atau meremehkan.

Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: “ …dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ….”
Maka, jika engkau hendak mengikuti jejak salaf, maka engkau harus mengenal jalan (thariqah) mereka, tidak mungkin mengikuti mereka kecuali jika engkau telah mengenal jalan mereka, dan itqan dengan manhaj mereka lantaran engkau berjalan di atasnya.

Adapun bersama orang bodoh, engkau tidak mungkin berjalan di atas thariqah mereka (salaf), dan engkau tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya, atau menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak pernah mereka katakan atau yakini.

Engkau berkata: ‘Ini madzhab salaf,’ sebagaimana yang dihasilkan oleh sebagian orang bodoh saat ini, orang-orang yang menamakan diri mereka dengan salafiyyin, kemudian mereka menyelisihi kaum salaf, mereka amat keras, mudah mengkafirkan, memfasiq-kan, dan membid’ahkan.

Kaum salaf, mereka tidaklah membid’ahkan, mengkafirkan, dan memfasiq-kan kecuali dengan dalil dan bukti, bukan dengan hawa nafsu dan kebodohan.

Sesungguhnya engkau menggariskan sebuah ketetapan: “Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan sesat,” Tidak  yaa akhi, ini bukanlah manhaj salaf.

Manhaj salaf adalah ilmu dan amal, ilmu adalah yang pertama, kemudian beramal di atas petunjuk.

Jika engkau ingin menjadi salafi sejati (salafiyan haqqan), maka wajib bagimu mengkaji madzhab salaf secara itqan (benar, profesional), mengenal dengan bashirah (mata hati), kemudian mengamalkannya dengan tanpa melampau batas dan tanpa meremehkan.

Inilah manhaj salaf yang benar, adapun mengklaim dan sekedar menyandarkan dengan tanpa kebenaran, maka itu merusak dan tidak bermanfaat.”

Demikian perkataan Syaikh Shalih Fauzan. (Syaikh Mut’ab bin Suryan Al ‘Ashimi, Kasyful Haqaiq Al Khafiyah ‘Inda Muda’i As Salafiyyah, Hal. 15-16. Dar Ath Tharafain)

Anjuran Mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah

Dari Irbadh bin Sariyah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Barang siapa di antara kalian hidup setelah aku, maka akan melihat banyak perselisihan, maka hendaknya kalian berada di atas sunahku, dan sunah khulafa’ur rasyidin yang yang mendapat petunjuk, maka berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan geraham kalian.”
(HR. Abu Daud No. 4607,  At Tirmidzi  No. 2676, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 42,   Ahmad No. 17142, 17144,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20215, Al Hakim, Al Mustadrak No. 329,  katanya: hadits ini shahih tak ada cacat. Syaikh Al Albani mengatakan: sanadny shahih. As Silsilah Ash Shahihah No. 2735)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

“Hendaknya kalian bersama jamaah, dan hati-hatilah terhadap perpecahan.” (HR. At Tirmidzi No.2165, Katanya: hasan shahih gharib. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra, 5/389. Syaikh Al Albani menshahihkan, lihat Irwa’ul Ghalil, 6/215)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فمن أراد منكم بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد

“Barang siapa di antara kalian menghendaki tamannya surga, maka berpeganglah pada jama’ah, sebab syaitan itu bersama orang yang sendirian, ada pun bersama dua orang, dia menjauh.” (HR. At Tirmidzi No. 2165, katanya: hasan shahih gharib. Ahmad No. 177, Ibnu Hibban No. 4576. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 387,  katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 430)

Para  salaf juga banyak memberikan nasihat agar kita mengikuti jalan para pendahulu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Berkata Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

عليكم بالسبيل والسنة فإنه ليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في إخلاف

“Hendaknya kalian bersama jalan kebenaran dan As Sunnah, sesungguhnya tidak akan disentuh neraka, orang yang di atas kebenaran dan As Sunnah dalam rangka mengingat Allah lalu menetes air matanya karena takut kepada Allah Ta’ala.

Sederhana mengikuti kebenaran dan As Sunnah adalah lebih baik, dibanding bersungguh-sungguh dalam perselisihan.”

Dari Abul ‘Aliyah, dia berkata:

عليكم بالأمر الأول الذي كانوا عليه قبل أن يفترقوا قال عاصم فحدثت به الحسن فقال قد نصحك والله وصدقك

“Hendaknya kalian mengikuti urusan orang-orang awal, yang dahulu ketika  mereka belum terpecah belah.” ‘Ashim berkata: “Aku menceritakan ini kepada Al Hasan, maka dia berkata: ‘Dia telah menasihatimu dan membenarkanmu.’ “

Dari Al Auza’i, dia berkata:

اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فانه يسعك ما وسعهم

“Sabarkanlah dirimu di atas As Sunnah, berhentilah ketika mereka berhenti, dan katakanlah apa yang mereka katakan, tahanlah apa-apa yang mereka tahan, dan tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih, karena itu akan membuat jalanmu lapang seperti lapangnya jalan mereka.”

Dari Yusuf bin Asbath, dia berkata:

قال سفيان يا يوسف إذا بلغك عن رجل بالمشرق أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام وإذا بلغك عن آخر بالمغرب أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام فقد قل أهل السنة والجماعة

“Berkata Sufyan: Wahai Yusuf, jika sampai kepadamu seseorang dari Timur bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya. Jika datang kepadamu dari Barat bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya, sungguh, Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sedikit.”

Dari Ayyub, dia berkata:

إني لأخبر بموت الرجل من أهل السنة فكأني أفقد بعض أعضائ

“Sesungguhnya jika dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan telah copot anggota badanku.”

Dan masih banyak lagi nasihat yang serupa. (Lihat semua ucapan salaf ini dalam Talbisu Iblis, hal. 10-11, karya Imam Abul Faraj bin Al Jauzi )

Sementara Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah menegaskan tentang fikrah dakwahnya:

دعوة سلفية : لأنهم يدعون إلى العودة بالإسلام إلى معينه الصافي من كتاب الله وسنة رسوله. وطريقة سنية : لأنهم يحملون أنفسهم علي العمل بالسنة المطهرة في كل شيء ، وبخاصة في العقائد والعبادات ما وجدوا إلى ذلك سبيلا

“Da’wah Salafiyah: karena mereka menyeru kembali kepada Islam dengan maknanya yang murni dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Thariqah  sunniyah: karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah, sejauh yang mereka mampu.” (Al Imam  Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 183. Al Maktabah At Taufiqiyah)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Ustadz Menjawab : Apakah Dosa Kita Berakibat Buruk untuk Orang Lain?

Pertanyaan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ana mau tanya. Apakah dosa2 yg dikerjakan seorang ayah bisa mengakibatkan anaknya/istrinya/saudaranya merasakan akibat dosa2 tsb..? Begitu jg sebaliknya..???
(Hidayat – I26]

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Langsung aja ya …

Dosa2 yang dilakukan seseorg pada dasarnya ditanggung dirinya sendiri, sbgmn ayat:

Wa allaysa lil insaan illa maa sa’aa …, tidaklah manusia mendapatkan balasan kecuali yg dia kerjakan sendiri

Ayat lainnya:

Kullu nafsim bimaa kasabat rahiinah .., tiap jiwa bertanggungjawab atas perbuatannya masing2.

Nah, ini pada dasarnya …., TAPI, bisa saja seseorg mendapatkan dosa krn perbuatan org lain dengan beberapa sebab:

1. Dia memberikan contoh keburukan, atau mengajarkan keburukan, lalu orang lain mengikuti. Maka, walau dia sdh tdk melakukan, namun dialah yg mengawalinya atau inisiator keburukannya. Maka, dia jg berdosa bahkan mwnanggung dosa semua yg mengikutinya setelahnya, KECUALI dia bertobat dr keburukannya.

Dalilnya hadits SHAHIH MUSLIM, ..

من سن فى الاسلام سنة سيئة فله وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير ان ينقص اوزارهم شيء

“Brg siapa yg dlm Islam berbuat kebiasaan jelek, mk dia berdosa, dan dia jg dpt dosa2 org yg mengikutinya setelahnya tanpa mngurangi dosa2 mrk sedikit pun.”

Jadi, kalo anggota keluarga bikin contoh buruk lalu diikuti anggota keluarga lainnya, maka yang memberikan contoh mendapatkan dosa semua yang mengikutinya.

2. Diam terhadap dosa org lain, pdhal mampu merubah, maka dia ikut berdosa (bahkan azab), karena:

– laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan …, jgn saling menolong dlm dosa dan kejahatan.

Mendiamkan kesalahan pdhal mampu merubahnya, dan keadaan memungkinkan utk itu, tp dia diam saja maka sama sj dia menyetujui prbuatan tsb.

– wat taquu fitnah laa tushiubanna zhalamuu minkum khaashah …, takutlah kamu thdp malapetaka yg tdk hanya menimpa org2 zalim saja.

Ayat ini menunjukkan bala yg akan diberikan merata, baik yg zalim atau tidak zalim, gara2 mrka diam saja thdp kezaliman

– Abu Ali Ad Daqaq mengatakan: as sukuut ‘anil haq syaithan akhras …, diam saja tdk mengatakan yg benar adalah syetan gagu

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Agungkan Allah Ketika Ruku dan Sujud

Sujud Sahwi; Apa dan Bagaimana?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Definisi (Tarif)

Secara bahasa (etimologi), sahwi diambil dari kata sahaa  yashuu – sahwan  suhuwwan artinya lupa, lalai. Sahaa fil amri artinya lupa terhadap sesuatu.

Secara istilah (terminologi), sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dikerjakan karena lupa terhadap suatu hal penting dalam shalat.

Kaifiyat (cara)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

كيفيته: سجود السهو سجدتان يسجدهما المصلي قبل التسليم أو بعده

Caranya: sujud sahwi sebanyak dua kali sujud dilakukan oleh orang yang shalat sebelum salam atau sesudahnya. (Fiqhus Sunnah, 1/225)

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pada sujud sahwi terdapat tasyahud dan salam atau tidak. Atau tanpa tasyahud tapi dengan salam? Atau dibedakan antara sebelum salam dan sesudahnya? Atau bagaimanakah ..?

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah meringkas perbedaan tersebut sebagai berikut:

واختلفوا في التشهد في سجدتي السهو والسلام منهما فقالت طائفة لا تشهد فيهما ولا تسليم وروي ذلك عن أنس بن مالك والحسن البصري ورواية عن عطاء وهو قول الأوزاعي،والشافعي لأن السجود كله عندهما قبل السلام فلا وجه لإعادة التشهد عندهما وقد روي عن عطاء إن شاء تشهد وسلم وإن شاء لم يفعل.
وقال آخرون يتشهد فيهما لا يسلم قاله يزيد بن قسيط ورواية عن الحكم وحماد والنخعي وقتادة والحكم وبه قال مالك وأكثر أصحابه والليث بن سعد والثوري وأبو حنيفة وأصحابه. وقال أحمد بن حنبل إن سجد قبل السلام لم يتشهد وإن سجد بعد السلام تشهد وبهذا قال جماعة من أصحاب مالك وروي أيضا عن مالك.
وقال ابن سيرين يسلم منهما ولا يتشهد فيهما

Mereka berbeda pendapat tentang bertasyahud dan salam pada dua sujud sahwi. Sekelompok ulama mengatakan tidak ada tasyahud dan tidak ada salam, pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan riwayat dari Atha, dan ini merupakan pendapat Al Auzai dan Asy Syafii, karena menurut mereka berdua semua sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak ada alasannya mengulangi tasyahud bagi dua sujud itu. Diriwayatkan dari Atha: jika mau silahkan tasyahud dan salam, jika tidak maka jangan lakukan.

Ulama lain berpendapat, tasyahud dilakukan pada dua sujud itu namun tidak salam, ini pendapat Zaid bin Qasith, dan merupakan riwayat dari Al Hakam, Hammad, An Nakhai, Qatadah, dan ini pendapat Malik dan kebanyakan para sahabatnya,  Al Laits bin Saad, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Berkata Ahmad bin Hambal, jika sujudnya sebelum salam maka tidak ada tasyahud, jika sujudnya sesudah salam maka bertasyahud. Dengan ini pula pendapat segolongan ulama dari sahabat Malik, dan diriwayatkjan dari Malik pula. Ibnu Sirin mengatakan: salam pada kedua sujud itu tapi tanpa tasyahud.  (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 10/207-208)

Apa yang dibaca ketika sujud sahwi?

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ

Subhana man laa yashuu wa laa yanaam – Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk  madzhab Hanafi dan syafii seperti:

Madzhab Hanafi
Imam Ahmad bin Muhamamd bin Ismail Ath Thahawi, Miraqi Al Falah, Hal. 298

Madzhab Syafii
Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 1/315
Imam Sulaiman bin Muhammad Al Bujirumi, Hasyiyah Al Bujirumi Alal Minhaj, 3/106.
Imam Zakariya Al Anshari,  Asna Al Mathalib, 3/156.
Imam Ar Rafii, Syarh Al Kabir, 4/180.
Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 7/136.
Imam Sulaiman bin Umar Al Jumal, Hasyiyah Al Jumal, 4/236.
Imam Syihabudin Al Qalyubi dan Imam Ahmad Amirah, Hasyiyah  Qalyubi wa Amirah, 3/97
Imam Ibnu Ruslan, Syarh Kitab Ghayah Al Bayan, 1/ 209
Imam Zainuddin Al Malibari, Fathul Muin, 1/97
Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 3/93
Imam Syihabuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5/233

Namun bacaan ini tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:

لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو

Tidak benar mengkaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Mu’jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:

قَوْلُهُ سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قُلْت لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا

Ucapannya (Ar Rafi’i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan faraaj:

والصواب: أن يقول في سجود السهو مثل ما يقول في سجود الصلاة

Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid, Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وبعض الفقهاء يستحب أن يقول في سجود السهو ( سبحان من لا يسهو ولا ينام ) ، ولكن لا دليل عليه ، فالمشروع هو الاقتصار على ما يذكر في سجود الصلاة، ولا يعتاد ذكرا غيره

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Su’al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

قول في سجود السهو كما يقول في سجود الصلاة لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى (سبح اسم ربك الأعلى) قال (اجعلوها في سجودكم) فهو يقول كما يقول في سجود الصلاة وكذلك في الجلسة بين السجدتين يقول فيها كما يقول في الجلسة بين السجدتين في صلب الصلاة ولا ينبغي أن يقول سبحان من لا ينسى سبحان من لا يسهو أو ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala: (sabbihisma rabbikal ala) jadikanlah ia pada   sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tuakhidzna innaa siina aw akhthanaa, karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul Utsaimin, Fatawa Nur Alad Darb,  Bab Shalat No. 1531)

Sebab Apakah sujud sahwi terjadi?

Sebab-sebab terjadinya sujud sahwi adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berkata Imam Daud Azh Zhahiri:

لا يسجد أحد للسهو إلا في المواضع التي سجد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم

Tidak seorang pun sujud sahwi kecuali pada tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sujud padanya. (At Tamhid, 10/207)

Sujud Sahwi terjadi dalam beberapa keadaan berikut:

1. Memberi salam padahal shalat belum sempurna.

Dalilnya adalah: Dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّه غَضْبَانُ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَوَضَعَ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَخَرَجَتْ السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالُوا قَصُرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ يُقَالُ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالُوا نَعَمْ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وكبر. فربما سألوه: ثم سلم؟ فيقول: نبئت أن عمران بن حصين قال: ثم سلم.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat bersama kami pada suatu shalat siang.” Demikianlah Abu Hurairah menamakannya tetapi saya telah lupa. Dan Abu Hurairah berkata: Lalu Beliau shalat bersama kami dua rakaat lalu salam. Kemudian Beliau bangun menuju sebuah kayu yang terbentang di masjid dan bersandar padanya seakan dia sedang marah. Lalu Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan merekatkan jari-jarinya, dan meletakan pipi kanannya pada punggung telapak tangan kirinya. Manusia bergegas keluar melalui pintu masjid dan mengatakan: Shalat diqashar! Pada mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Keduanya segan untuk menanyakan hal itu. Pada mereka ada seseorang bertangan panjang yang dinamakan   Dzulyadain, dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kau lupa atau kau mengqashar shalat? Beliau menjawab: Aku tidak lupa dan tidak juga qashar. Maka nabi bertanya: Apakah benar apa yang dikatakan Dzulyadain? Mereka menjawab Benar. Maka beliau maju dan shalat melanjutkan yang tertinggal, lalu dia takbir dan sujud sebagaimana sujudnya atau lebih panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud sebagaimana sujudnya  atau lebih panjang, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi dan bertakbir. Barangkali mereka bertanya: Kemudian salam? Dikabarkan kepadaku bahwa Imran bin Hushain berkata: Kemudian salam.  (HR. Bukhari   No. 482 dan Muslim No. 573)

Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam Bab As Sahwi fis Shalah was Sujud Lahu (Bab Lupa Dalam Shalat dan Sujud Karenanya)

Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sujud sahwi setelah salam, Beliau melakukannya tanpa tasyahud, tetapi ditutup dengan salam lagi sebagaimana ditegaskan oleh Imran bin Hushain. Inilah petunjuk yang sangat jelas tentang cara sujud sahwi.

2. Kelebihan jumlah rakaat shalat.

Ini juga menyebabkan seseorang wajib menjalankan sujud sahwi. Dalilnya adalah:

Dari Abdullah bin Masud Radhiallahu Anhu, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat zhuhur lima rakaat. Lalu ada orang yang berkata kepadanya: Apakah memang rakaat shalat ditambah? Beliau bersabda: Memang kenapa? orang itu menjawab: Engkau shalat lima rakaat. Maka Nabi pun sujud dua kali setelah salam. (HR. Bukhari No. 1168 dan Muslim No. 572)

Riwayat ini, menunjukkan sujud sahwi Beliau lakukan setelah salam. Sujud sahwi setelah salam dilakukan karena kesalahan tersebut diketahui dan diingat setelah usai shalat (setelah salam).

3. Lupa melakukan tasyahhud awal atau meninggalkan sunah-sunah dalam shalat.

Dalilnya adalah, dari Ibnu Buhainah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَسَبَّحُوا فَمَضَى فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, beliau bangun pada rakaat kedua, maka jamaah mengucapkan ‘subhanallah’  maka beliau tetap melanjutkannya, lalu ketika selesai shalat, Belia sujud dua kali lalu salam.” (HR. An Nasa’i No. 1177, 1178,  Ibnu Majah No. 1206, 1207. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasai No. 1177, 1178, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1206, 1207)

Menurut hadits ini jika sudah terlanjur tegak berdiri, maka imam tidak usah duduk lagi, dia lanjutkan saja tetapi setelah selesai shalat dia sujud dua kali (sahwi) lalu salam. Tetapi, jika berdirinya belum sempurna tegaknya, maka boleh baginya untuk duduk lagi untuk tasyahhud awal, dan akhirnya tanpa melakukan sujud sahwi.

Hal ini ditegaskan dalam riwayat dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

“Jika salah seorang kalian berdiri ketika rakaat kedua tetapi belum sempurna, maka hendaknya duduk, jika sudah sempurna maka janganlah duduk. Lalu sujudlah dua kali sebagai sahwi.” (HR. Abu Daud No. 949, 950, Ibnu Majah No. 1208. Hadits ini shahih. Lihat Al Misykah Al Mashabih No. 1020, As Silsilah Ash Shahihah No. 341)

Riwayat ini menunjukkan bahwa sujud sahwi juga bisa dilakukan sebelum salam, yakni ketika kesalahan tersebut diketahui dan diingat masih di dalam shalat.

Hadits-hadits ini  juga menunjukkan bahwa meninggalkan sunah-sunah shalat mengharuskan pelakunya untuk sujud sahwi.

Bagaimana meninggalkan qunut shubuh?

Bagi yang meyakini qunut shubuh adalah sunah, tentu mereka meyakini jika meninggalkannya  atau salah dalam menempatkannya, maka hendaknya sujud sahwi. Inilah keyakinan  masyhur  ulama madzhab Asy Syafi’i.

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

ولذلك لو أطال القيام ينوى به القنوت كان عليه سجود السهو لان القنوت عمل معدود من عمل الصلاة فإذا عمله في غير موضعه أوجب عليه السهو

“Oleh karena itu, jika seseorang memperlama berdiri, dengan itu dia meniatkan sebagai qunut, maka wajib baginya sujud sahwi, sebab qunut adalah amalan tertentu di antara amalan  shalat lainnya, jika dia melakukannya bukan pada tempatnya, maka wajib baginya sahwi.” (Imam Asy Syafi’i, Al Umm, 1/136, Darul Fikr)

Maka, bagi yang berkeyakinan sebagaimana madzhab Asy Syafi’i bahwa qunut itu adalah sunah, sedangkan meninggalkan sunah adalah termasuk sebab terjadinya sujud sahwi, maka sangat wajar dia melakukan sujud sahwi itu. Tetapi, bagi seseorang yang tidak meyakini adanya qunut shubuh, bahkan membid’ahkannya, karena dia mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah dan lainnya, maka tidak mungkin dia sujud sahwi karena meninggalkannya, sebab menurutnya qunut shubuh adalah bid’ah dan keliru, tidak mungkin sujud sahwi gara-gara meninggalkan bid’ah dan kekeliruan. Maka, hal yang menjadi aneh jika ada orang yang tidak meyakini adanya qunut, tetapi dia sujud sahwi gara-gara meninggalkan sesuatu yang dianggapnya bid’ah itu. Begitu pula jika dia menjadi makmum bagi imam yang berqunut,  ketika imam sujud sahwi karena meninggalkan qunut, maka makmum seperti itu tidak perlu ikut sahwi, sebab dia tidak meyakini syariat qunut. Imam meyakini sunah, maka wajar dia sahwi jika meninggalkannya, sedangkan makmum meyakininya bid’ah, maka menjadi tidak wajar jika dia sahwi karena meninggalkannya.
Tetapi, kami menganjurkan, apalagi di daerah yang rawan dan sensitif, hendaknya makmum bersikap bijak untuk mengikuti dan mengaminkan imam yang qunut. Bukan karena membenarkannya, tetapi untuk menjaga kesatuan hati dan rapatnya shaf kaum muslimin.    Inilah sikap yang diambil oleh Imam Ahmad bin Hambal, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama di Lajnah Daimah, dan lainnya. (Lihat Tulisan saya: Sikap Bijak Para Imam Ahlus Sunnah Menghadapi Persoalan Qunut)
Wallahu A’lam

4. Ragu-Ragu Dalam Shalat.  Hal ini juga membuat wajib seseorang untuk sujud sahwi.

Dalilnya:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الْوَاحِدَةِ وَالثِّنْتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهُمَا وَاحِدَةً وَإِذَا شَكَّ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالثَّلَاثِ فَلْيَجْعَلْهُمَا ثِنْتَيْنِ وَيَسْجُدْ فِي ذَلِكَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Jika  di antara kalian ragu, apakah rakaat pertama dan kedua, maka jadikanlah itu sebagai rakaat pertama saja. Jika kalian ragu pada rakaat kedua dan ketiga, maka jadikanlah itu sebagai rakaat kedua. Oleh karena itu, sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. At Tirmidzi No. 396, Ibnu Majah No. 1204. Hadits ini shahih. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 396. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1204)

Dari hadits ini –dan hadits lain yang serupa- Jumhur ulama mengatakan bila seseorang ragu-ragu terhadap jumlah rakaat shalat, maka hendaknya dia meyakinikan rakaat yang lebih sedikit, kemudian dia melakukan sahwi.

Tetapi ada juga ulama yang mengatakan bahwa ragu-ragu dalam shalat,  seseorang yang tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya,  bukan diselesaikan dengan sahwi, tetapi harus diulang shalatnya. Hal ini diinformasikan oleh Imam At Tirmidzi berikut ini:

و قال بعض أهل العلم إذا شك في صلاته فلم يدر كم صلى فليعد

“Berkata sebagian ulama: jika seseorang ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya.” (Sunan At Tirmidzi No. 396)

Dan, pendapat jumhur ulama yang menyatakan sujud sahwi adalah pendapat yang lebih kuat dan telah diterangkan dalam berbagai hadits shahih.

Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbil ‘alamin …..

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Benarkan Imam Malik, Hanafi, Syafii, Hambali Murid Imam Ja’far?

Pertanyaan

Apakah benar bahwa imam malik, hanafi, syafi’i dan imam hambali itu muridnya imam ja’far? Krn selama selama ini saya belum menemukan bukti kebenarannya.. syukron *pertanyaan dari Nenden A79.

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man dan Ust Hafidz

Benar, imam Jakfar Asshadiq adalah salah satu guru imam Malik, beliau meriwayatkan dlm kitab Muawatta nya 9 Hadits dari imam Jakfar, 5 di antaranya hadits Musnad Muttashil yg bersumber dari sahabat Jaber Atthawil dlm bab Hajji & 4 hadits lainnya Munqathi.

Siapakah Imam Jakfar?

-Abu Bakr mempunyai putra :Abdurrahman&Muhammad
Abdurrahman punya putri :Asma
Muhammad punya putra:Al Qasim.
Qasim&Asma menikah , berputri:Umm Farwa
—”
Ali punya Putra :Husain
Husain berputra Ali Zainal Abidin.
Ali ZA berputra Muhammad Al Baqir.
——
Muhammad Al Baqir (cucu Ali) menikah dg Umm Farwa (cucu Abu Bakr), lahirlah Jakfar Asshadiq.

Imam Abu Hanifah juga berguru langsung kepada beliau, ungkapan masyhur Imam Abu Hanifah yg di nukil Adzzhabi sebagi bukti ke faqihan Imam Jakfar, imam Abu Hanifah berkata:

ما رأيت أحد أفقه من جعفر بن محمد

Aku tidak menhetahui orang yang lebih faqih dari Jakfar bin Muhammad.

Adapun Imam Syafii & Imam Ahmad  tidak  secara langsung berguru , sebab Imam Jakfar wafat (148 H) sebelum Imam Syafii lahir (150)&Imam Ahmad bin Hambal  lahir (164 H).

Bukan hanya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, tapi juga Syu’bah, Dua Sufyan, Yahya Al Qaththan, Al Hasan bin Shalih Al Hayy, Abdullah bin Maimun .. ini yang saya ingat.

Hanya saja, rafidhah menyerobot Beliau menjadi imamnya .. padahal Beliau termasak yang marah kepada kaum Rafidhah seperti yang dikatakan Imam Adz Dzahabi dalam As Siyar.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Ustadz Menjawab: Mendamaikan Salaf dan Khalaf, Mungkinkah?”

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Pertanyaan

Afwan ust, mau menanyakan masalah wahabi menurut versi ust Farid Nu’man bagaimana menyikapi.. terkait masalah aqidah yang dianggap tajsim dengan menterjemahkan ayat Arrahman ‘ala ‘arsyisytawa secara harfiyah/Allah bersemayam di atas ‘Arsy shg seolah-olah Allah butuh tempat.. Karena menurut versi ‘asy’ariyyah yang mayoritas bahwa kita harus menyerahkan hakikat ma’na sepenuhnya kepada Allah (tanpa translate) atau meta’wil untuk menghindari tajsim..

apakah benar memang asy’ariyyah mayoritas karena Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al Asqolany juga berpaham asy’ariyyah dalam asma wa shifat…? (Dian-I10)

Jawaban

Masalah penyikapan terhadap sifat-sifat Allah ﷻ, telah menjadi polemik keras sesama umat Islam. Telah memakan waktu belasan Abad lamanya, bahkan sampai saling mengkafirkan terjadi di antara mereka.

Mereka yang mengaku mengikuti salaf meyakini bahwa Allah ﷻ mesti disifati sebagaimana zahirnya ayat dan hadits. Tanpa ta’wil, ta’thil, takyif, tahrif, dan tasybih. Menurut mereka, kita mesti mensifati Allah ﷻ sebagaimana Allah dan RasulNya sifati untuk diriNya. Ketika Allah ﷻ menyebut dirinya punya Wajah dan Tangan, beristiwa di atas ‘arsy, maka hendaknya itsbat (menetapkan) apa adanya sebagaimana adanya, begitulah Allah ﷻ, tanpa kita menyerupai dengan makhlukNya. Bahkan yang mengingkari pemahaman bahwa Allah ﷻ di atas ‘asry, di atas langit, maka dia telah kafir.

Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar, beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”( Lihat Al ‘Uluw, Imam Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995.)

Dan, masih banyak perkataan seperti ini dari para ulama Islam.

Sementara itu, kelompok kedua, yaitu pihak yang menyadarkan pada pemahaman Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, dan mereka pun juga meyakininya sebagai pemahaman salaf, bahwa mereka memahami Allah ﷻ itu wujud, tanpa tempat dan arah (atas, bawah, kanan , kiri). Maha Suci Allah dari itu semua. Allah ﷻ tidak membutuhkan tempat dan arah, sebab tempat dan arah adalah makhluk. Allah ﷻ tidak membutuhkan makhluk, karena Dia qiyamuhu binafsihi, dan makhluklah yang membutuhkanNya. Jika Allah ﷻ di atas langit dan ‘arsy. Maka di manakah Allah ﷻ ketika langit  dan ‘arsy belum ada? Bagi pihak ini, sifat-sifat Allah ﷻ mesti di ta’wil atau tafwidh, itulah pemahaman Salaf yang sebenarnya. Seperti istiwa di atas arsy, mesti dipahami istawla (berkuasa) bukan sedang duduk di atas ‘arsy, Allah di langit maknanya Allah itu Maha Tinggi, bukan bermakna zhahirnya.  Dan seterusnya. Bahkan mereka juga mengkafirkan pihak yang mengatakan Allah ﷻ.

Imam Ibn Nujaim Al Hanafi  Berkata:

ويكفر باثبات المكان لله تعالى, فإن قال: الله في السماء, فإن قصد حكاية ما جاء في ظاهر الأخبار لا يكفر, وإن أراد المكان كفر

Artinya: “Dan kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah Ta’ala, kalau ia berkata “Allah di langit” jika maksud ucapan tersebut adalah hanya menceritakan zhahirnya khabar maka ia tidak kufur, tetapi jika maksudnya adalah tempat bagi Allah maka ia kafir” (Al Bahr Ar Raa’iq,   5 / 129)

Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul Al Minhâj Al Qawîm ‘Alâ Al Muqaddimah Al Hadhramiyyah menuliskan sebagai berikut:

واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك

“Ketahuilah bahwa Al Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari Al Imâm asy-Syafi’i, Al Imâm Malik, Al Imâm Ahmad dan Al Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian” (Al Minhâj Al Qawîm,  Hal. 224)

Dalam kitab Syarh Al Fiqh Al Akbar yang telah disebutkan di atas, Imam Ali Al Qari menuliskan sebagai berikut:

فمن أظلم ممن كذب على الله أو ادعى ادعاءً معينًا مشتملاً على إثبات المكان والهيئة والجهة من مقابلة وثبوت مسافة وأمثال تلك الحالة، فيصير كافرًا لا محالة

“Maka barangsiapa yang berbuat zhalim dengan melakukan kedustaan kepada Allah dan mengaku dengan pengakuan-pengakuan yang berisikan penetapan tempat bagi-Nya, atau menetapkan bentuk, atau menetapkan arah; seperti arah depan atau lainnnya, atau menetapkan jarak, atau semisal ini semua, maka orang tersebut secara pasti telah menjadi kafir” (Syarh Al Fiqh Al Akbar,  hal. 215)

Dan semisal ini masih banyak juga.

Jalan Kompromis

Di antara dua pendapat ini, sebenarnya masih ada jalan untuk dikompromikan. Sebab pada dasarnya dua pemahaman ini bertemu dalam beberapa titik pokok. Di antaranya:

1. Keduanya sama-sama menghendaki kesucian dan keagungan bagi sifat-sifat Allah ﷻ

2. Keduanya sama-sama tidak ingin menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk sedikit pun

3. Tapi, keduanya berbeda dalam caranya saja. Kelompok pertama mensucikan sifat-sifatNya dengan memangkas semua bentuk ta’wil, memahami apa adanya sebagaimana zahirnya. Kelompok kedua memberikan ta’wil dalam rangka mensucikannya dari ta’wil-ta’wil menyimpang, sebagai koridor, agar orang jahil dan awam memmiliki panduan apalagi setelah Islam menyebar ke negeri-negeri tak berbahasa Arab.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

“Tidak dibenarkan mengkafirkan orang yang keliru dalam masalah ini kecuali terpenuhinya syarat-syarat kekufuran. Ini hanya ada pada khilafiyah yang kontradiktif dan hakiki.”

Lalu kata Beliau: “ada pun perbedaan-perbedaan lain seperti dalam ragam atau dalam masalah lafal serta ungkapan, merupakan khilaf ringan. Hal ini banyak terjadi dalam masalah-masalah khabariyah (keyakinan). “ (Majmu’ Fatawa, 6/58)

Imam Asy Syathibi Rahimahullah mengatakan:

“Salah satu masalah yang diperselisihkan adalah masalah sifat. Apabila kita teliti maksud kedua kelompok, kita dapatkan bahwa keduanya berkeyakinan melindungi kesucian, menafikan kekurangan dan meninggikan derajatNya. Perbedaan mereka hanyalah ada cara yang ditempuh, dan ini sama sekali tidak mengurangi niat suci mereka sama sekali. Alhasil, kadar perbedaan ini layaknya seperti perbedaan furu’ saja. (Al I’tisham, 2/187)

Syaikh Hasan Al Banna  Rahimahullah mengatakan:

أولا : اتفق الفريقان على تنزيه الله تبارك وتعالى عن المشابهة لخلقه
ثانيا : كل منهما يقطع بأن المراد بألفاظ هذه النصوص في حق الله تبارك وتعالى غير ظواهرها التي وضعت لها هذه الألفاظ في حق المخلوقات ، وذلك مترتب على اتفاقهما على نفي التشبيه .

ثالثا : كل من الفريقين يعلم أن الألفاظ توضع للتعبير عما يجول في النفوس ، أو يقع تحت الحواس مما يتعلق بأصحاب اللغة وواضعيها ، وأن اللغات مهما اتسعت لا تحيط بما ليس لأهلها بحقائقه علم ، وحقائق ما يتعلق بذات الله تبارك وتعالى من هذا القبيل ، فاللغة أقصر من أن تواتينا بالألفاظ التي تدل على هذه الحقائق ، فالتحكم في تحديد المعاني بهذه الألفاظ تغرير .
وإذا تقرر هذا فقد اتفق السلف والخلف على أصل التأويل ، وانحصر الخلاف بينهما في أن الخلف زادوا تحديد المعنى المراد حيثما ألجأتهم ضرورة التنزيه إلى ذلك حفظا لعقائد العوام من شبهة التشبيه ، وهو خلاف لا يستحق ضجة ولا إعناتا

Pertama. Kedua kelompok sepakat dalam mensucikan Allah ﷻ dari bentuk penyerupaan dengan makhlukNya.

Kedua. Semua kelompok sepakat untuk memutuskan bahwa maksud lafal dalam nash-nash seperti ini sepenuhnya dalam konteks yang sesuai dengan zat Allah ﷻ, bukan sebagaimana dipahami untuk makhlukNya. Dengan demikian keduanya sepakat menghindari tasybih (penyerupaan Allah ﷻ dengan makhluk).

Ketiga. Semua pihak sepakat bahwa lafal-lafal ini disebutkan untuk mendekatkan pemahaman dalam benak, atau diletakkan dalam kerangka indrawi pengguna bahasa itu. Dan sebuah bahasa betapa pun tingginya, tidak mampu mengungkapkan sesuatu yang memang tidak dimengerti oleh penggunanya. Esensi yang berhubungan dengan zat Alah ﷻ dipahami dalam konteks tersebut. Bahasa memang memiliki kelemahan untuk mengungkapkan hakikat ini.

Jika sudah ditetapkan yang demikian ini, maka antara salaf dan khalaf sepakat  secara prinsip atas dasar-dasar ta’wil. Perbedaan mereka adalah bahwa khalaf menambahkan pembatasan makna yang dikandung dengan tetap menjaga kesucian Allah ﷻ dengan tujuan agar orang awam tidak terjerumus dalam pemahaman tasybih. Perbedaan seperti ini tidak seharusnya menghasilkan kegoncangan. (Majmu’ah Ar Rasail, Al Aqaid,  Hal. 330)

Lalu Beliau melanjutkan:

وخلاصة هذا البحث أن السلف والخلف قد اتفقا على أن المراد غير الظاهر المتعارف بين الخلق ، وهو تأويل في الجملة ، واتفقا كذلك على أن كل تأويل يصطدم بالأصول الشرعية غير جائز ، فانحصر الخلاف في تأويل الألفاظ بما يجوز في الشرع ، وهو هين كما ترى ، وأمر لجأ إليه بعض السلف أنفسهم ، وأهم ما يجب أن تتوجه إليه همم المسلمين الآن توحيد الصفوف

Kesimpulannya, ulama khalaf dan salaf sepakat bahwa kandungan maksud itu bukan  pada lahiriyahnya lafal yang telah dikenal oleh makhluk, tapi ia adalah ta’wil yang masih global. Mereka juga sepakat bahwa semua ta’wil yang  bertentangan dengan syariat adalah terlarang. Perbedaan hanyalah terjadi pada perbedaan lafal yang masih dibenarkan oleh syara’, dan itu masalah ringan sebagaimana engkau lihat, dan ini juga hal yang para salaf sering  menggunakannya.  Yang terpenting untuk dilakukan  bagi kaum muslimin sekarang adalah penyatuan barisan, menghimpun kata sedapat yang kita mampu lakukan. (Ibid, Hal. 331)

Demikianlah jalan kompromis para ulama yang begitu jeli melihat titik persamaan, yang dengannya pertumpahan darah dan fitnatut takfir bisa dihindari.

Maka, semuanya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asfarayini berikut ini.

[الفائدة الرابعة التعريف بأهل السنة]
(الرَّابِعَةُ) : أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ: الْأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ، وَالْمَاتُرِيدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا

Faidah yg keempat: Definisi Ahlus Sunnah.
Keempat: Ahlus Sunnah ada tiga kelompok.

1. Al Atsariyah, imam mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah
2. Al Asy’ariyah,  imam mereka adalah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy Rahimahullah
3. Al Maturidiyah, imam mereka adalah Imam Abu Manshur Al Maturidiy Rahimahullah
Adapun firqoh sesat sangat banyak… (Lawami’ Al Anwar Al Bahiyah wa Sawathi’ Al Asrar Al Atsariyah, Imam Syamsuddin As Safariyniy Al Hambaliy)

Jadi, kalau ada yang mengatakan Al Asy’ariyah bukan Ahlus Sunnah adalah berlebihan. Kadang pengikut Asy’riyah juga menyerang golongan Al Atsariyah, yang dua abad belakangan disebut dengan Wahabiyah, dengan sebutan mujassimah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ. وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ
مجموع الفتاوى : 16/4

Adapun melaknat para ulama asy’ariyah, maka melaknat mereka mesti dita’zir (dihukum), dan laknat itu kembali kepada pelakunya. Barangsiapa yg melaknat org yg tdk berhak dilaknat maka laknat itu kembali kepada si pelaknat. Para ulama adalah pembela cabang-cabang agama, dan golongan asy’ariyah adalah pembela-pembela dasar-dasar agama. (Majmu’ Al Fatawa, 4/16)

Para imam seperti Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani,  Ibnu Hajar Al Haitami, An Nawawi, Ibnu Furak, Ibnul Jauzi, Al Ghazali, Al Bulqini, Al Baqilani, Al Juwaini, Abu Syamah, Ibnu An Nahwi, As Suyuthi, Ali Al Qari, Zakariya Al Anshari, Al Qalyubi, Al Qasthalani, … dll -Rahimahumullah- semua ini Asy’ariyah. Diperkirakan Asy’ariyah adalah mayoritas umat Islam hari ini, juga dianut oleh mayoritas kampus-kampus Islam ternama. Walau untuk ini belum ada sensus atau data yang bisa menjadi komparasinya.

Mereka semua  Ahlus Sunnah dan dalam satu rumah bersama Imam Ahmad,  Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Muhammad bin Abdil Wahhab..  hanya saja mungkin yang satu ada di ruang tamu, yg lain ruang makan, tapi masih satu rumah yang sama, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sikap menuduh yg lain bukan ahlus sunnah adalah sikap yg paling sensitif terjadinya perpecahan umat Islam. Hendaknya setiap muslim berhati-hati dalam masalah ini. Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Asal Muasal Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ ah

Sebenarnya, tidak ada riwayat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Istilah ini baru ada dan diperkenalkan oleh seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas  Radhiallahu ‘Anhuma.

Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

النظر إلى الرجل من أهل السنة يدعو إلى السنة وينهى عن البدعة ، عبادة

“Melihat seseorang dari Ahlus Sunnah merupakan ajakan menuju sunnah, dan mencegah bid’ah merupakan ibadah.” (Imam Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/29.

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal. 159. Imam Abul Faraj Al Jauzi, Talbis Iblis, Hal.10.
Semua menyebutkan atsar ini tanpa sanad)

Ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 106:

 يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram…” (QS. Ali Imran (3): 106)

Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

 تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة

“Putih berseri wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam muram wajah ahli bid’ah.” ( Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil Quran, 4/167. Tafsir Ibnu Abi Hatim, 3/124. Imam Al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, 2/87. Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 2/10. Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masir, 1/393. Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 2/407)

Namun dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu menyebut nama “Ahlus Sunnah”, dan ini merupakan riwayat yang lebih valid dibanding sebelumnya

 حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Berkata kepada kami Ja’far  Muhammad bin Shabbah, berkata kepada kami Ismail bin Zakariya, dari ‘Ashim, dari  Ibin Sirin, katanya: Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad.

Ketika terjadi fitnah mereka mengatakan: “Sebutlah nama periwayat kalian kepada kami, maka jika dilihat  dari Ahli Sunnah  maka diambil hadits mereka, dan jika dilihat dari  Ahli Bid’ah maka jangan ambil hadits darinya.” (Shahih Muslim, Bab Bayan Annal Isnaad minad Diin)

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ : الطَّرِيقَةُ الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَحْابُهُ قَبْلَ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَالْمَقَالَاتِ
وَالْجَمَاعَةُ فِي الْأَصْلِ : الْقَوْمُ الْمُجْتَمِعُونَ ، وَالْمُرَادُ بِهِمْ هُنَا سَلَفُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، الَّذِينَ اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ الصَّرِيحِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Maksud dari As Sunnah adalah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya ada di atasnya, sebelum nampaknya bid’ah dan perkataan-perkataan menyimpang.

Sedangkan Al Jama’ah pada asalnya, bermakna: Kaum yang berkumpul, tetapi yang dimaksud di sini adalah pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Hal. 26)

Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu tentang makna Al Jama’ah:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الَحَقّ ، وَإِن كُنْتَ وَحْدَكَ

“Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran, walau pun kau seorang diri.” (Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal.25)

Sementara dalam kitab lain, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu pula:

إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك

“Sesungguhnya Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah, walau kau seorang diri.” (Imam Al Lalika’i,  Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/63)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menjelaskan makna Al Jama’ah:

ما أنا عليه وأصحابي

“Apa-apa yang Aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi No. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2641)

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, memberikan kesimpulan tentang makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagai berikut:

فَأهلُ السُّنَّةِ والجماعة :
هم المتمسكون بسُنٌة النَّبِيِّ- صلى اللّه عليه وعلى آله وسلم- وأَصحابه ومَن تبعهم وسلكَ سبيلهم في الاعتقاد والقول والعمل ، والذين استقاموا على الاتباع وجانبوا الابتداع ، وهم باقون ظاهرون منصورون إِلى يوم القيامة فاتَباعُهم هُدى ، وخِلافهم ضَلال

“Maka, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah (jalan) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam perkara aqidah, ucapan, dan perbuatan, dan orang-orang yang istiqamah dalam ittiba’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan bid’ah, merekalah orang-orang yang menang dan mendapat pertolongan pada hari kiamat.

Maka mengikuti mereka adalah petunjuk, dan berselisih dengan mereka adalah sesat.” (Al Wajiz …, Hal. 25)

Jadi, ada dua kata kunci dalam memahami istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah:

1. Apa yang mereka jalankan?
Yakni thariqah (metode/jalan) yang pernah dilakoni oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahabat, dan tabi’in.

2. Siapa sajakah mereka?
Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bersama  kebenaran yang mereka bawa.

Sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, manusia yang mengikuti jalan yang pernah ditempuh mereka, maka itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dia seorang diri.

Nama Lain Dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki beberapa nama lain, yakni:

1. Al Firqah An Najiyah ( Golongan yang Selamat)

Di berbagai kitab, para Ulama mengistilahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan nama Al Firqah An Najiyah.

Pengistilahan ini terinspirasi dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perpecahan umat (hadits iftiraq), yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang yang selamat dan masuk surga.

Sementara Imam Muhammad bin Abdil Wahhab menyebutnya dengan istilah Al Millah An Najiyyah. (Ushulul Iman, Hal. 173)

Dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di surga, yang 70 di neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, satu di surga, 71 di neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu di surga, 72 di neraka.”

Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”

Beliau menjawab: Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah No. 3992. Ath Thabarani, Al Kabir No. 129, juga Musnad Asy Syamiyin No. 988.   Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3992)

Hadits perpecahan umat, juga diriwayatkan dari beberapa sahabat selain ‘Auf bin Malik di atas, di antaranya:

Jalur Abu Hurairah, tetapi hanya menyebut jumlah perpecahan, tanpa menyebut “Satu Yang di Surga” dan tanpa menyebut Al Jama’ah. (HR. Abu Daud No. 4596.  Ibnu Hibban No. 1834 (Mawarid Azh Zham’an). Abu Ya’la No. 5910.
Imam Al Hakim mengatakan shahih sesuai syarat Imam Muslim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/426/405)

Jalur Anas bin Malik, tetapi hanya menyebut perpecahan Bani Israel (71 kelompok, semua neraka kecuali satu), dan perpecahan Umat Islam saja (72 kelompok, semua neraka kecuali satu, yakni Al Jama’ah), tanpa menyebut perpecahan Nasrani. (HR. Ibnu Majah No. 3993. Al Baihaqi, Dalail An Nubuwwah, 7/42/2545.

Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2042).

Secara zhahir, hadits ini bertentangan dengan  hadits dari ‘Auf bin Malik di atas, yang menyebut umat Islam terpecah menjadi 73.

Ini hanya sebagian saja dari hadits tentang iftiraqul ummah (perpecahan umat), yang menjadi dasar bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Al Firqah An Najiyah.

Catatan:
Sebagaian ulama ada yang meragukan validitas (keshahihan) hadits-hadits di atas. Seperti Imam Abu Muhammad bin Hazm, Imam Ibnul Wazir Al Yamani, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafizhahullah. Ada beberapa alasan yang mereka utarakan, di antaranya:

1. Hadits ini sangat penting, bahkan Imam Al Hakim menyebutnya dengan: Ushulul Kabir (dasar-dasar yang agung).

Namun, Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Betul bahwa hadits shahih juga banyak tersebar di kitab-kitab selain Bukhari-Muslim, tetapi mereka tidaklah meninggalkan dalam kitabnya masalah-masalah sepenting ini.

2. Perpecahan umat Islam ada 73, kenapa umat terbaik perpecahaannya koq lebih banyak?

3. Kalimat yang menyebutkan pengecualian yang selamat, yakni kata-kata: “Kecuali satu yang surga,” atau kata “Al Jama’ah” berpotensi disalahgunakan oleh sebagian orang untuk membenarkan kelompoknya, dan menyalahkan kelompok yang lain.

Bahkan Imam Ibnul Wazir, dalam Kitab Al ‘Awashim, mendhaifkan hadits-hadits ini secara keseluruhan, termasuk tambahannya, “Kecuali satu yang surga,” atau kata, “Al Jama’ah.”  Beliau berkata:

وإياك والاغترار بـ “كلها هالكة إلا واحدة” فإنها زيادة فاسدة، غير صحيحة القاعدة، ولا يؤمن أن تكون من دسيس الملاحدة. قال: وعن ابن حزم: إنها موضوعة، عير موقوفة ولا مرفوعة

“Hati-hatilah anda, jangan tertipu dengan kata – semua binasa kecuali satu – karena itu adalah tambahan yang rusak, tidak shahih, dan direkayasa oleh orang mulhid (atheis).  Berkata Ibnu Hazm: hadits ini palsu, tidak mauquf di sahabat), dan tidak pula marfu’ (sampai Rasulullah).” (Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ash Shahwah Al Islamiyah Baina Al Ikhtilaf Al Masyru’ wat Tafarruq Al Madzmum, Hal. 27)

4. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama: Muhammad bin Amr bin Al Qamah bin Al Waqqash Al Laitsi. Para ulama berkata tentang dia:

صدوق، له أوهام

“Orang jujur, tapi banyak keraguan.” (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, 1/763. Imam Badruddin Al ‘Aini, Maghani Al Akhyar, 6/63/527)

Tetapi Imam Adz Dzahabi memberikan penilaian positif tentang dia:

وكان حسن الحديث، كثير العلم، مشهوراً

“Dia hasan (bagus) haditsnya, banyak ilmu, dan terkenal.” (Imam Ad Dzahabi, Al ‘Ibar fi Khabar min Ghabar, Hal. 38)

Juga Imam An Nasa’i dan lainnya, berkata tentang dia: “Laisa bihi ba’san” (Dia tidak apa-apa) (Imam Adz Dzahabi, Man Lahu Ar Riwayah fi Kutub As Sittah, 2/207)

Namun demikian yang menshahihkan hadits ini, dari kalangan pakar dan imam hadits lebih banyak dibanding yang mendhaifkan. Seperti Imam Al Hakim, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sedangkan Imam Ibnu Hazm, telah masyhur dikalangan ulama bahwa dia adalah orang yang sangat ketat dalam menjarh (menilai cacat) perawi hadits, sampai-sampai ulama sekaliber Imam At Tirmidzi di katakannya: majhul (tidak dikenal)!! Wallahu A’lam

2. Ath Thaifah Al Manshurah (Kelompok yang mendapat pertolongan)

Ini juga sebutan lain untuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang tersebar di berbagai kitab para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Al Ghafir (40): 51)

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173)

“Dan Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan, dan Sesungguhnya tentara Kami Itulah yang pasti menang.” (QS. Ash Shaffat (37): 171-173)

Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Ada sekelompok umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.” (HR. Muslim No. 1920)

Sementara dari jalur Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, teksnya: … senantiasa berperang di atas kebenaran … (HR. Muslim No. 1923,  Ahmad No. 14762)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678