MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH – Lanjutan (8)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 22 Rabiul Awwal 1439 / 11 Desember 2017

📕 AQIDAH

📝 Usdzh. Prima Eyza

📖 MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH
– Lanjutan (8) –
==========☆☆☆==========
🌹🍃🌹🍃🌹🍃🌹🍃🌹

Assalaamu’ alaikum wrwb

Apa kabar, adik-adik para pemuda Islam kebanggaan umat ?
Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat yang membara dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..

Pembahasan kita pekan lalu sudah selesai membicarakan Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah pada makna yang ketujuh yakni لَا مَحْبُوْبَ إِلَّا الله   (Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah). Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang kedelapan.

Makna yang kedelapan dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:

لَا مَرْهُوْبَ إِلَّا الله

(Tidak ada Yang Ditakuti kecuali Allah)

✨ Tidak ada Yang Ditakuti kecuali Allah

Menurut syariat, hanya Allah SWT saja yang berhak ditakuti. Orang-orang yang beriman hanya takut kepada Allah SWT dan mereka tidak takut kepada selain Allah SWT; takut terhadap kemarahan-Nya, takut terhadap siksa-Nya, dan takut terhadap hal-hal yang akan membawa kepada murka dan azab-Nya.
Rasa takut ini bukan membuat diri kita lari, melainkan rasa takut yang akan membuat kita selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Hanya Allah SWT saja yang layak ditakuti dengan mendekatkan diri kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

_”Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepadaKu, niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu; dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk).”_
(QS. Al Baqarah [2]:40)

Demikian pula Allah SWT berfirman,

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

_”Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janji) nya, padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allahlah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”_
(QS. at Taubah [9]:13)

Juga firman-Nya,

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

_”(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah­-risalah Allah, mereka takut kepadaNya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.”_
(QS. Al Ahzab [33]:39)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُون

_”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”_
(QS. Al Mu`minuun [40]:60)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksudkan disini adalah mereka yang memberikan sesuatu dengan rasa takut dan malu bila amalannya tidak diterima Allah SWT.

Hal seperti ini termasuk ke dalam Bab *”Bersikap Hati-hati dan Merasa Takut kepada Allah.”*
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَل، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} ، هُوَ الَّذِي يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: “لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ”.

Telah diceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah diceritakan kepada kami Malik ibnu Magul, telah diceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sa’id ibnu Wahb, dari Aisyah ra yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, _”Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan “orang-orang yang mengerjakan perbuatan mereka, sedangkan hati mereka takut? Apakah itu adalah orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr dalam keadaan takut kepada Allah?”_  Rasulullah saw menjawab: _”Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq. Tetapi dia adalah orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, sedangkan ia takut kepada Allah SWT”._

☝🏻 Orang-orang Beriman Takut kepada Allah SWT Hingga Menangis

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

_”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”_
(QS. Al Israa` [17] : 109)

Demikian pula Rasulullah saw bersabda :

لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَعَالَى حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ…”.

_“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu kembali ke tempatnya”._
(HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Juga sabda Rasulullah saw,

لَيْسَ شِيْئٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ قَطْرَيْنِ وَأَثَرَيْنِ : قَطْرَةُ دُمُوعٍ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهْتَرَقُ فِي سَبِيْلِ اللهِ. فَأَمَّا اْلأَثَرَيْنِ فَأَثَرٌ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيْضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللهِ.

_“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes dan dua bekas. Dua tetesan itu adalah air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Sedangkan dua bekas itu adalah bekas-bekas fii sabilillah dan bekas-bekas melakukan suatu kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.”_
(HR Tirmidzi)

Seorang ulama tabi’in, Hasan al Bashri pernah ditanya, _“Wahai Abu Sa’id, apa yang harus kami lakukan? Kami berteman dengan orang-orang yang selalu menakut-nakuti kami (tentang Allah. -penj) sampai-sampai hati kami terbang melayang.”_
Maka Hasan al Basri menjawab, _“Demi Allah, sesungguhnya jika kamu bergaul dengan orang-orang yang selalu menakut-nakuti kamu sampai akhirnya kamu benar-benar merasakan keamanan (di akhirat. -penj) ; adalah lebih baik daripada berteman dengan orang-orang yang selalu membuatmu merasa aman sampai akhirnya justru menyeretmu ke dalam keadaan yang menakutkan.”_
(dalam “Aina Nahnu min Ha’ulaa’i”, hal.16)

Demikianlah, semoga kita menjadi orang-orang beriman yang amat besar rasa takutnya kepada Allah SWT sebab tidak ada yang layak ditakuti kecuali Allah Ta’ala.

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung.

🌹🍃🌹🍃🌹🍃🌹🍃🌹

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH – Lanjutan (7) –

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 29 Rabbiul Awwal 1439 / 18 Desember 2017

📕 AKHLAQ

📝 Ustdz. Prima Eyza

📖 MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH
– Lanjutan (7) –

📿💕📿💕📿💕📿💕📿

Assalaamu’ alaikum wrwb

Apa kabar, adik-adik para pemuda Islam kebanggan umat ?
Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat yang membara dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..

Pembahasan kita pekan lalu sudah selesai membicarakan Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah pada makna yang keenam yakni لَا آمِرَ َإِلَّا الله (Tidak ada Pembuat Yang Memerintah kecuali Allah). Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang ketujuh.

Makna yang ketujuh dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:

لَا مَحْبُوْبَ إِلَّا الله

(Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah)

▪ Tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah

Aqidah Laa Ilaaha illallaah (Tiada Tuhan/Ilah selain Allah) yang diucapkan harus dilandaskankan pada kecintaan kepada Allah SWT. Kenapa? Karena salah satu makna dari kata “ilah” itu adalah “al mahbub” (Yang dicintai).
Maka ketika kita mengucapkan “Laa Ilaaha illallaah” berati kita mengikrarkan dan bersumpah bahwa tidak ada Yang Dicintai kecuali Allah SWT.
Kenapa harus dilandaskan kepada kecintaan? Sebab manusia tidak akan manut/taat jika tidak setia (loyal). Dan mereka tidak akan setia jika tidak cinta. Begitu pula kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita tidak akan taat kepada-Nya, jika kita tidak setia (loyal), dan kita tidak akan setia kepada-Nya jika kita tidak cinta kepada Allah SWT.
Jadi tuntutannya adalah: diawali dengan cinta kepada Allah SWT.
Cinta seperti apa yang dituntut untuk kita berikan kepada Allah SWT ?

▪  Cinta yang Dituntut  (مُقْتَضَيَاتُ الْحُبِّ)

Cinta yang dituntut untuk kita serahkan kepada Allah SWT adalah:
1. Cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ).
2. Mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT dan RasulNya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ).
3. Membenci apa-apa yang dibenci oleh Allah SWT dan RasulNya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ).

(1) Cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ)

Allah SWT dan RasulNya haruslah lebih dicintai dari pada yang lain.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. At Taubah (9) ayat 24,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

_”Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”_

→ Kita boleh mencintai anak, suami/istri, kerabat, harta, dan yang lainnya, tapi yang paling dicintai haruslah Allah SWT.

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 165,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

_”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”_

→ kecintaan seorang mukmin kepada Allah SWT haruslah teramat sangat cintanya, bukan cinta yang sama dengan cinta kepada selainNya.

Maka, cinta yang sempurna kepada Allah SWT harus memenuhi prinsip berikut:
1.Tidak boleh SAMA CINTAnya kepada selain Allah SWT dengan kepada Allah SWT (يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ)
2.Tidak boleh LEBIH CINTA kepada selain Allah SWT (أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ)
3.Harus AMAT SANGAT CINTAnya kepada Allah SWT (أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ)

Kenapa cinta tertinggi dan sempurna harus kita serahkan kepada Allah SWT?
1.Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan.
Jika tidak sempurna kecintaan kita kepada Allah SWT, maka kita tidak akan siap berkorban demi membuktikan keimanan dan menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
2.Sebab menuruti tuntutan anak, istri, dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan kecintaan/ketaatan kepada Allah SWT.
Maka hendaklah sempurna kecintaan kita kepada Allah SWT, agar kecintaan kita kepada selain-Nya berada dibawah kecintaan kita kepada-Nya.

(2) Mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasulnya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)

Yakni harus ada penyesuaian dalam masalah kecintaan. Haruslah kita mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT (juga RasulNya). Karena belum tentu yang kita cintai, juga dicintai Allah SWT dan RasulNya. Jadi, kitalah yang harus menyesuaikan diri terhadap apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT dan RasulNya.
Firman Allah Ta’ala,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

_”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”_
(QS. Al Baqarah [2] : 216)

Kalangan Ulama berkata:

مَحَبَّةُ مَحْبُوْبِ الْمَحْبُوْبِ مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ الْمَحْبُوْبِ

_“Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintanya kepada kekasih.”_

Dan Kekasih kita yang paling hakiki adalah Allah SWT.

(3) Membenci apa-apa yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasulnya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)

Contohnya, Allah SWT dan RasulNya membenci perbuatan keji (الْفَحْشَاءِ), kemungkaran (الْمُنْكَرِ) dan permusuhan الْبَغْيِ) ) , maka kita pun harus membencinya.
Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

_”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”_
(QS. An Nahl [16] : 90)

Sungguh akan membuat tersinggung, apabila yang kita cintai membenci sesuatu tapi kita malah menyukainya. Begitu pula kepada Allah SWT. Ketika kita mengaku mencintai Allah SWT, maka janganlah kita menyukai apa-apa yang dibenci-Nya, serta sebaliknya, janganlah membenci apa-apa yang dicintai-Nya.

▪ Mencintai Allah SWT Butuh Pembuktian

Diantara bukti kecintaan kita kepada Allah SWT yang disebutkan di dalam Al Qur`an yakni :

-Mengikuti Rasul saw (إِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ)

Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran (3) ayat 31,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

_”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”_

-Berjihad/berjuang di jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)

Allah berfirman dalam QS. Al Hujurat (49) ayat 15,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

_”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”_

→ bukti iman yang kokoh adalah berjihad/berjuang menegakkan/membela agama Allah SWT.
→ Jika benar beriman kepada Allah SWT, maka harus berani menanggung resiko untuk menunaikan semua ketatatan kepada Allah Ta’ala.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang berbicara tentang pembuktian kecintaan kepada Allah SWT ini.

Berkata para Ulama:

مَحَبَّةُ الْمَحْبُوْبِ لاَ تُنَالُ إِلا بِاحْتَمَالِ الْمَكْرُوْهَةِ

_”Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecuali dengan menanggung segala resiko.”_

Demikianlah jika kita benar mencintai Allah SWT. Maka tentu kita akan siap menanggung segala resiko/konsekuensi dari keimanan tersebut, yakni menyempurnakan ketaatan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Nabi saw bersabda tentang orang yang mencintai Allah SWT, ia akan merasakan manisnya iman:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

_”Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, dan ia tidak suka kembali kepada kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.”_
(Shahih Muslim No.60)

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan Nabi saw dalam hadits diatas. Aamiiin…

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung.

📿💕📿💕📿💕📿💕📿

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Makna Laa Ilaha Ilallah (2)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 10 Safar 1439H/ 30 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Usdz. Prima Eyza

📖 Makna Laa ilaahaillah (2)
==========☆☆☆==========
🥛🍪🥛🍪🥛🍪🥛🍪🥛
Assalaamu’alaikum wrwb

Apa kabar, adik-adik shalih-shalihat…?? Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman, dalam lindungan dan naungan keberkahan dari Allah SWT…. Aamiiin….

Pembahasan kita tentang Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah di kesempatan sebelumnya telah selesai membicarakan makna yang kedua yakni لَا رَازِقَ إِلَّا الله  (Tidak ada Pemberi rizqi kecuali Allah).
Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang ketiga.

Makna yang ketiga dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:

لَا مَالِكَ إِلَّا الله

(Tidak ada Pemilik kecuali Allah)

Makna kalimat Laa Ilaaha illallaah berikutnya adalah _”Tiada Pemilik selain Allah”._
Allah SWT lah yang menciptakan dan memelihara alam semesta raya ini, maka Allah SWT adalah satu-satunya Pemilik alam semesta ini seluruhnya.
Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al Baqarah (2) : 284,

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

_”Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”_

→ milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Juga firmanNya dalam QS. Al Fatihah (1) : 4,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

_”Yang memiliki Hari Pembalasan.”_

→ Allah lah Pemilik hari pembalasan (hari kiamat).

Karena semua alam ini adalah milik Allah –baik langit dan bumi; serta dunia dan akhirat– maka tentu terserah kepada kehendak Allah Ta’ala untuk memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.
Keyakinan terhadap prinsip ini tentu akan memahamkan kepada kita bahwa apa yang kita miliki, hakikatnya adalah milik Allah SWT semuanya. Allah SWT lah yang memberikan/menitipkannya kepada kita. Harta, tahta, ilmu, keahlian, keluarga, keturunan, dan semua hal yang ada pada diri kita.

Karena semua hal tersebut hakikatnya adalah milik Allah SWT, maka mesti dipergunakan sesuai dengan ketentuan Pemiliknya.
Harta; harus dipergunakan sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala, baik ajaran yang terdapat dalam Al Qur`an terkait harta, maupun dalam sunnah Nabi-Nya.
Demikian pula pemanfaatan atas tahta (jabatan), ilmu, keahlian, keluarga, keturunan, dan semua yang ada pada diri kita; harus sesuai dengan apa yang Allah SWT ajarkan dan gariskan.
Ingatlah bahwa kita lahir ke dunia ini dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kecuali apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala.
Semua yang kita miliki adalah pemberian Allah SWT seluruhnya.
Dan mati pun kita tidak membawa sesuatu apapun, kecuali hanya amal-amal kita yang akan dipertangungjawabkan kepada Allah SWT di hari perhitungan kelak di akhirat.

Inilah kesadaran dan keyakinan seorang mukmin. Allah SWT lah Pemilik segala sesuatu.
Maka ketika Allah SWT meminta milikNya, tentu kita harus ridho. Itulah salah satu ciri yang dilekatkan Allah SWT kepada orang-orang beriman, bahwa ketika mendapat musibah, ia mengucapkan إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ,  sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah (2) : 156,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

_”(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (segala sesuatu milik Allah dan kepada-Nya lah segala sesuatu kembali).”_

Demikian pula diantara do`a penutup majlis yang cukup panjang yang diajarkan kepada kita, dalam rangkaian do`a tersebut terdapat do`a berikut:

وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَمَبْلَغَ عِلْمِنَا

_”Janganlah jadikan dunia ambisi kami yang terbesar dan puncak ilmu kami.”_

Dalam suatu riwayat, Abu Bakar ra pernah berdoa:

 اَللهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِيْنَا وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا

_“Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami, jangan jadikan di hati kami.”_

Demikianlah.
Jika kita menyadari bahwa Allah SWT lah Pemilik yang haq atas segala sesuatu, maka kita :
• tidak akan sombong ketika diberi oleh Allah SWT.
• tidak akan putus asa jika kehilangan sesuatu.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
               
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

_”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”_
(QS. Al Hadiid [57] : 22-23)

▪ Kelembutan dan Kesopanan Allah SWT

Meskipun segala sesuatu adalah milik Allah SWT, akan tetapi ketika Allah SWT memerintahkan kepada hambaNya untuk mengeluarkan miliknya tersebut (berinfaq) di jalan Allah, Allah Ta’ala menggunakan ungkapan yang sangat halus, lembut, dan sopan.
Seakan-akan apa yang diinfaqkan itu adalah milik hambaNya, sedangkan Allah SWT seakan-akan hanya meminjam saja.
Perhatikan ayat berikut :

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

_”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”_
(QS. Al Hadiid [57] : 11)

Dan ungkapan “memberi pinjaman yang baik” (berinfaq) ini diulang-ulang oleh Allah SWT di beberapa tempat dalam Al Qur`an.

Atau juga bentuk kelembutan dan kesopanan Allah SWT yang lain dalam hal infaq ini adalah memberikan balasan yang berlipat ganda hingga 700 kali lipat bahkan lebih.
Allah Ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

_”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”_
(QS. Al Baqarah [2] : 261)

Demikianlah, Allah SWT Maha Memiliki. Dia-lah Pemilik tunggal dari alam raya ini beserta segala isinya. Tiada Pemilik selain Dia. Maka Dia berkuasa dan Maha Berkehendak untuk berbuat apapun atas segala yang dimiliki-Nya.

Wallaahu a’lam..
Bersambung.

🥛🍪🥛🍪🥛🍪🥛🍪🥛

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Makna LAA ILAAHA ILALLAH

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 16 Safar 1439 / 06 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Ustdz. Prima Eyza

📖 Makna LAA ILAAHA ILALLAH
==========☆☆☆==========
👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻

Assalaamu’alaikum wrwb

Apa kabar adik-adik pemuda Islam?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat yang membara dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..

Pembahasan kita pekan lalu sudah selesai membicarakan tema Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah. Makna yang ketiga dari kalimat Laa Ilaaha illallaah yakni لَا مَالِكَ إِلَّا الله  (Tidak ada Pemilik kecuali Allah). Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang keempat.

Makna yang keempat dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:
لَا وَلِيّ َإِلَّا الله
 (Tidak ada Pelindung/Penolong/Pemimpin kecuali Allah)

▪ Tidak ada Pelindung/Penolong/Pemimpin kecuali Allah

Wali berarti pelindung atau penolong atau pemimpin.
Allah SWT adalah satu-satunya Pelindung, Penolong, dan Pemimpin. Allah lah Dzat Yang Melindungi dengan sesempurna-sempurna perlindungan dan menolong dengan sesempurna-sempurna pertolongan, memimpin dengan sesempurna-sempurna Pimpinan.
Ingatlah riwayat ketika Rasul saw ditodong pedang hendak dibunuh oleh orang kafir. Diriwayatkan pada suatu hari ketika beliau saw sedang istirahat dibawah pohon, datanglah seorang kafir bernama Da’sur. Ia datang dengan sebilah pedang dan mengancam Nabi Muhammad saw, Da’sur berkata, “Ya Muhammad, saat ini pedang ada di lehermu. Sekarang siapakah yang akan menolongmu?”
Nabi Muhammad saw dengan tenang menjawab, “ALLAH!”
Maka seketika itu Da’sur bergetar tubuhnya dan jatuhlah pedang di tangannya, lalu Nabi Muhammad saw mengambil pedang tersebut dan bertanya kepada Da’sur, “Hai Da’sur, sekarang siapakah yang akan menolongmu?”
Dengan gemetar dan rasa takut yang sangat hebat Da’sur menjawab, “Tiada yang dapat menolong saya hari ini ya Muhammad, kecuali jika engkau mengasihani dan memaafkan saya.”
Lalu nabi Muhammad saw menyerahkan kembali pedang itu kepada Da’sur sambil berkata, “Sudah saya maafkan engkau, hai Da’sur… Sekarang pulanglah engkau dan ini pedangmu kembali.”
Seketika itu Da’sur pun memeluk Islam di hadapan Rasullullah saw.
(Riwayat shahih)

Perlindungan dan pertolongan dari makhluk tidak akan terjadi jika Allah SWT tidak berketetapan atas hal itu.
Diriwayatkan Rasulullah saw bersabda,

عنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas ra, beliau berkata, “Suatu saat saya berada di belakang Nabi saw, maka beliau saw bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).”

Makna “Penjagaan hamba bagi Allah” adalah menjaga hak-hak Allah dengan menunaikannya, menjaga batasan-batasan syariatNya dengan tidak melanggarnya, dan menjaga perintah dan laranganNya dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.
Maka dengan demikian, Allah akan menolong hambaNya, menjaga hambaNya dalam kebaikan (manfaat) dan menjaga hambaNya terhindar dari kemudharatan.

Kemudian, masalah perwalian (pelindung; penolong; pemimpin) ini juga menjadi pembeda antara mukmin dan kafir. Sebab Allah SWT adalah wali bagi orang-orang beriman. Sedangkan wali bagi orang-orang kafir adalah thaghut (setan).
Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 257,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah adalah Wali (Pelindung) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, walinya (pelindung-pelindungnya) ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Karena thaghut atau setan itu sebenarnya bukanlah penolong atau pelindung atau pemimpin, maka pada hakikatnya orang-orang kafir itu sebenarnya tidak memiliki wali (pelindung; penolong).
Sebagaimana Allah SWT wahyukan dalam Al Qur`an,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.”
(QS. Muhammad [47] : 11)

Yang diizinkan Allah SWT sebagai wali selain DiriNya, hanyalah Rasul saw, dan orang-orang yang beriman (yang memenuhi 3 syarat):
1. yang mendirikan shalat,
2. menunaikan zakat, dan
3. tunduk kepada Allah SWT.
Sebagaimana dengan jelas disebutkan dalam QS. Al Maa`idah (5) ayat 55,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

▪ Bagaimana Jika Menjadikan Orang Kafir sebagai Wali (Pelindung; Penolong; Pemimpin) ???

Al Qur`an surah Al Maa`idah (5) ayat 51 secara tegas telah melarang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

→ Barangsiapa yang mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani, serta termasuk non muslim seluruhmya) menjadi  pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
→ Tindakan ini digolongkan tindakan zhalim yang tidak akan mendatangkan hidayah Allah SWT.

Demikian pula firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran (3) ayat 118,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Demikianlah, satu-satunya Yang haq dijadikan wali (pelindung; penolong; pemimpin) hanyalah Allah SWT. Tidak ada wali selain Dia.

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung…

👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH (2)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 19 Muharram 1439 / 09 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Ustadzah Prima Eyza

📖 MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH (2)
==========☆☆☆==========
☝🏻💘☝🏻💘☝🏻💘☝🏻💘☝🏻

Assalaamu’alaikum wr.wb

Apa kabar, adik-adik shalih-shalihat…?? Mudah-mudahan senatiasa dalam kebaikan iman serta lindungan dan naungan keberkahan dari Allah SWT…. Aamiiin….

Pembahasan kita pekan lalu sudah masuk kepada tema Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah. Makna yang pertama dari kalimat Laa Ilaaha illallaah sebagaimana yang sudah kita bicarakan bersama adalah لَا خَالِقَ إِلَّا الله  (Tidak ada Pencipta kecuali Allah). Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang kedua.

Makna yang kedua dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:

لَا رَازِقَ إِلَّا الله

🚫 Tidak Ada Pemberi Rizqi Kecuali Allah SWT

Allah Ta’ala bukan hanya mencipta saja, namun Allah SWT pun memelihara alam semesta raya ini dengan memberikan dan menjaminkan rizqi kepada semua ciptaan (makhluk)Nya.
Allah SWT berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

_”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”_
(QS. Huud [11] : 6)

Keyakinan pada kuasa Allah SWT memberi rizqi bagi semua makhluk-Nya akan menghasilkan kesadaran bahwa sedikit atau banyaknya rizqi yang kita peroleh dan nikmati, semuanya adalah dari Allah Ta’ala.
Dalam doa pagi dan petang kita diajarkan :

اللّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ فَأَتِمَّ عَلَيَّ نِعْمَتَكَ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

_“Ya Allah, kenikmatan yang aku atau salah seorang dari makhluk-Mu, berpagi hari dengannya, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu rasa syukur.”_
(Hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)

📚 Bukan Karena Ilmu
Ingatlah bahwa semua rizqi yang kita terima, bukanlah karena ilmu yang kita punyai, melainkan Allah-lah yang telah menentukan dan menetapkan ukuran-ukuran rizqi tersebut bagi kita.
Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

_“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.”_
(QS. Saba’ [34] : 24)

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

_“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizqi kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”_
(QS. Al Isra` [17] : 30)

Dalam Al Qur`an, Allah SWT mengabadikan keingkaran Qarun karena takabur dan kufur akan rizqi yang diterimanya,

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

_”Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”._
(QS. Al Qashash [28] : 78)

Juga perkataan Qarun yang dimuat dalam ayat yang lain,

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ  

_”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.”
(QS. Az Zumar [39] : 49)

→ Ini adalah contoh orang-orang yang tertipu. Tidak memahami hakikat harta; siapakah Yang memberikannya.

Hal ini ekstrim berbeda dengan sikap Nabi Sulaiman as dalam memaknai rizqi yang diterimanya:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

_”Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”_
(QS. An Naml [27] : 40)

Allah SWT berfirman dalam QS. Fathir [35]:15,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

_”Hai manusia, kamulah yang berkehendak (faqir) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”_

→ kitalah yang sangat memerlukan (_fuqara`_) kepada Allah Ta’ala.

🍕 Jangan Takut Kelaparan
Di masa jahiliyah dulu, ada orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena takut miskin dan kelaparan. Maka Allah SWT melarang perbuatan ini dengan tegas.
Allah SWT berfirman,

… وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ  …

+”… Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, …”_
(QS. Al An’am [6] : 151)

Juga firman-Nya,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

_”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
(QS. Al Israa` [17] : 31)_

✌🏻 Berbagai Cara Mendapatkan Rizqi
Semua makhluk memiliki cara dan jalannya sendiri-sendiri untuk mendapatkan rizqinya. Cara dan jalan memperoleh rizqi tersebut telah ditetapkan dan diilhamkan oleh Allah Ta’ala bagi mereka masing-masing. Ada hewan yang hidup di udara (misalnya burung), yang justru rizqinya (makanannya) adanya di dalam air. Sebaliknya, ada hewan air, yang rizqinya (makanannya) malah ada di udara. Ada pula hewan yang buta, tetapi tidak pernah kelaparan dan selalu mendapatkan makanannya.
Bagaimana dengan manusia?
Rizqi manusia ada di mana-mana dan berbagai jenis.
Allah SWT berfirman dalam Qur`an surah Al Baqarah (2) ayat 29,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

_”Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”_

Namun kenapa masih ada manusia yang mengalami kelaparan/kemiskinan dan bahkan sampai mati kelaparan?

✈ Masalah Distribusi
Allah Ta’ala sudah menetapkan bahwa manusia itu ada yang kaya (rizqinya berlebih) dan ada yang faqir (rizqinya kurang sekali) atau miskin. Semuanya itu adalah ujian bagi manusia, yakni: bersyukur untuk si kaya (tidak sombong dan kikir) dan bersabar untuk si faqir (tidak membenci si kaya).

Di sinilah Islam mensyari’atkan zakat, infaq, dan shodaqoh.
Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

_”Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan (infaqkan). Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”_
(QS. Al Baqarah [2] : 215)

_*Sehingga dalam harta si kaya, ada hak untuk si miskin.*_
Disinilah keindahan dan keluhuran ajaran Islam, di saat semua orang diajarkan untuk tetap berada dalam nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan, apapun taqdir yang telah digariskan Allah SWT bagi keadaan kehidupan mereka: si kaya mulia dengan zakat, infaq, dan shodaqohnya, sebaliknya si miskin pun mulia sebab kesabarannya dan ia tidak sampai meminta-minta/mengemis karena kemiskinannya, melainkan ia mendapatkan bagian distribusi harta yang haq dalam syari’at yakni mendapat pembagian dari zakat, infaq, maupun shodaqoh.

Jadi jika ada sekelompok manusia di berbagai penjuru ada yang sampai mati kelaparan atau pun menderita dalam kemiskinan yang sangat papah, maka ini sama sekali bukan karena Allah SWT tidak memberi rizqi kepada mereka, melainkan disebabkan aturan syariat zakat, infaq, dan shodaqoh yang pada prinsipnya mendistribusikan rizqi pada si fakir; ini tidak dijalankan dan ditunaikan. Atau dijalankan, namun tidak merata dan tidak adil dalam pendistribusiannya.

🤴🏻 Penguasa dalam Islam Bertanggungjawab terhadap Masalah Ini.
Penguasa dalam Islam bertanggungjawab untuk menerapkan dan memastikan pendistribusian yang merata atas zakat, infaq, dan shodaqoh kaum muslimin. Zakat, infaq, dan shodaqoh tersebut harus sampai kepada setiap orang yang berhak menerimanya sesuai dengan aturan syari’at.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur`an,

الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

_”Apa saja harta rampasan (fa`i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”_
(QS. Al Hasyr [59] : 7)

→ Ayat ini terkait prinsip distribusi (pemerataan) agar kemakmuran tercapai.

Demikianlah kita meyakini bahwa tidak ada Pemberi rizqi selain Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshowab…
Bersambung…

☝🏻💘☝🏻💘☝🏻💘☝🏻💘☝🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Makna Laa ilaha ilallah

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 09 Muharram 1439 / 02 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Prima Eyza

📖 MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH (مَعَانِي لَا إِلٰهَ إِلَّا الله)
==========☆☆☆=========
☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻

Assalaamu’alaikum wr.wb.

🤗 Apa kabar, adik-adik ?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..
Hari ini mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita dalam bidang studi Aqidah, masuk kepada tema baru yakni *Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah*

tuntutan buat kita dalam keimanan ini untuk memahami kandungan makna-makna dalam kalimat _Laa Ilaaha illallaah_. Sebab kalimat tesebutlah yang menjadi dasar aqidah Islam. Jangan sampai kita hanya melafazhkan kalimat _Laa Ilaaha illallaah_ di lisan, bahkan berulang-ulang dan terus berulang-ulang di sepanjang hidup kita, namun kita tidak sampai kepada pemahaman tentang makna-makna yang dikandung oleh kalimat tersebut. Sebab kandungan makna-makna di dalam kalimat tersebutlah yang akan menguatkan dan menyempurnakan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.

Kata _”ilah”_ dalam bahasa Arab memiliki arti yang banyak sekali, sehingga makna/arti dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله  (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) juga banyak.
Penting sekali bagi kita untuk lebih detail memahami makna-makna kalimat  لَا إِلٰهَ إِلَّا الله  (_Laa Ilaaha ilaLLAAH_) agar kita dapat berkomitmen dengan makna-makna itu dan menjadikan diri kita mukmin yang bertauhid murni (meng-Esa-kan Allah SWT dengan sempurna), tauhid yang tidak terkotori oleh syirik dan segala hal yang merusak kemurniannya.

Makna yang pertama dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (_Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah_) adalah:

لَا خَالِقَ إِلَّا الله

(_Tidak ada Pencipta kecuali Allah_)

☝🏻 Tidak ada Pencipta kecuali Allah

Ketika kita meyakini bahwa tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Allah SWT, maka kita pun wajib meyakini bahwa Tidak ada Pencipta kecuali Allah.
Allah SWT adalah satu-satunya Pencipta (Khaliq) . Sebab satu-satunya Dzat yang bersifat Wujud (Ada) dan Qidam (Terdahulu) adalah Allah SWT. Maka segala sesuatu selain Allah SWT adalah ciptaan Allah SWT (makhluq) seluruhnya. Segala yang wujud (ada) selain dari Allah SWT maka ia berasal dari penciptaan Allah SWT.

Allah SWT Menciptakan yang :
– Telah tiada
– Sekarang ada
– Akan ada

Allah SWT  tidak pernah berhenti dalam mencipta. Kekuasaan-Nya dalam mencipta tidak terbatas dan meliputi segala sesuatu.
Banyak sekali terhampar dalam Al Qur`an ayat-ayat yang menegaskan tentang Allah SWT sebagai Sang Pencipta, diantaranya:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“_(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu._”
(QS. Al An’aam [6] : 102)

Maka, Allah lah Yang Menciptakan alam raya ini seluruhnya; bumi, langit beserta segala isinya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. As Sajdah [32] ayat 4,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

“_Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?_”

Allah Ta’ala pun memuji Ulul Albab (orang-orang yang berakal) yang selalu bertafakkur (berfikir/merenung) tentang kuasa Allah SWT pada penciptaan langit dan bumi,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“_Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka._”
(QS. Ali Imran [3] : 190-191)

Hasil dari keyakinan bahwa tidak ada Pencipta selain Allah SWT adalah munculnya kesadaran bahwa kita ini –*manusia*– adalah makhluk (ciptaan) Allah. Manusia –*dan seluruh makhluk di alam raya ini*– bukanlah ada dengan sendirinya.
Sehingga terkait diri kita sebagai manusia, apapun kondisi kita; jabatan kita, ilmu kita. intelektualitas kita, ketampanan/kecantikan kita, harta kekayaan kita, dan segala yang melekat pada diri kita, semua itu adalah ciptaan Allah SWT seluruhnya; berasal dari Allah Ta’ala semuanya. Kita–*manusia*– ini hanyalah makhluk, yang mana makhluk tentu memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada Khaliq (Pencipta) yakni Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana dalam Al Qur`an disebutkan,

اللَّهُ الصَّمَدُ

“_Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu._”
(QS. Al Ikhlash [112] : 2)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:
“_Ikrimah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam kebutuhan dan sarana mereka.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah Tuhan Yang Mahasempurna dalam perilaku-Nya, Mahamulia yang Mahasempurna dalam kemuliaan-Nya, Mahabesar yang Mahasempurna dalam kebesaran-Nya, Maha Penyantun yang Mahasempurna dalam sifat penyantun-Nya, Maha Mengetahui yang Mahasempurna dalam pengetahuan-Nya, dan Mahabijaksana yang Mahasempurna dalam kebijaksanaan-Nya. Dialah Allah Yang Mahasempurna dalam kemuliaan dan akhlak-Nya. Dan hanya Dialah Allah SWT yang berhak memiliki sifat ini yang tidak layak bagi selain-Nya. Tiada yang dapat menyamai-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Esa lagi Mahamenang._”

Demikian pula *Syaikh Sayyid Quthb* dalam tafsirnya Fii Zhilaalil-Qur`an menjelaskan:
“_Makna ash-shamad menurut bahasa berarti tuan yang dituju yang suatu perkara tidak akan terlaksana kecuali dengan izinnya. Allah SWT adalah Tuan (Majikan) dan tidak ada tuan (majikan) yang sebenarnya selain Dia. Allah adalah Maha Esa dalam uluhiyah-Nya (keTuhanan-Nya) dan segala sesuatu adalah hamba bagi-Nya. Hanya Dia-lah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk. Hanya Dia satu-satunya yang dapat mengabulkan kebutuhan orang yang berkebutuhan. Dia-lah Yang Memutuskan segala sesuatu dengan izin-Nya, dan tidak ada seorangpun yang dapat memutuskan bersama Dia._”

Demikianlah, Tiada Pencipta selain Allah. Dia-lah Sang Pencipta segala seuatu.

Wallaahu alam bishshowab.
Bersambung…

☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (5)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 27 Dzulhijjah 1438 H/ 18 September 2017

📕 AQIDAH

📝 Prima Eyza

📖 BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (5)

~~~~
🍃🌈🍃🌈🍃🌈

Bagaimana kabarnya, adik-adik para pemuda Islam harapan umat…?
Alhamdulillaah kita bisa bertemu kembali dalam suasana keimanan yang mudah-mudahan semakin menguat. Semoga cahaya hidayah, limpahan rahmat dan karunia dari Allah SWT senantiasa mengalir bagi diri-diri kita hingga akhir hayat. Aamiin…
Yuuk! kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang Bukti-Bukti Keberadaan Allah SWT yang pada pembahasan lalu kita telah mengkaji bukti keberadaan Allah SWT yang keempat yaitu bukti wahyu (الدَّلِيْلُ النَّقْلِيُّ) dan sekarang kita lanjutkan pembahasan pada bukti yang kelima, yaitu *Bukti Sejarah (الدَّلِيْلُ التَّارِيْخِيُّ)*

👩‍🔬 *Sejarah Manusia*

Dalil historis (sejarah) tentang kebeadaan Allah SWT yang dimaksud adalah pembuktian tentang keberadaan Tuhan dengan berpegang pada sejarah perjalanan hidup manusia dari dahulu hingga sampai saat ini yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan keagamaan dan kebertuhanan.
Hubungan manusia dengan Tuhan dapat dilihat dari kehidupan keberagamaan yang paling sederhana hingga kehidupan keberagamaan yang paling kompleks sekalipun, walaupun dalam perjalanannya banyak terjadi penyimpangan dalam prinsip ketuhanan, namun kenyataan ini membuktikan bahwa peran Tuhan dalam kehidupan manusia sangatlah dominan.
Dan Islam jelas menegaskan bahwa satu-satunya Tuhan yang haq dan yang berhak disembah hanyalah Allah SWT.
Demikian pula dengan fakta bahwa manusia di sepanjang sejarah selalu memiliki tempat ibadah.
Bahkan melalui QS. Ali ‘Imran ayat 96-97, Allah Ta’ala menerangkan bahwa sesungguhnya rumah ibadah tertua di dunia ini adalah Ka’bah di kota Makkah :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

🕋 Ka’bah ini adalah rumah ibadah yang diberkahi oleh Allah SWT dan menjadi petunjuk bagi manusia di seluruh alam. Begitu tuanya umur Ka’bah ini, sampai tak seorang pun tahu sudah berapa lama Ka’bah berada di muka bumi. Ka’bah telah ada jauh sebelum Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as diperintahkan Allah SWT untuk membangunnya kembali dan meninggikan pondasinya.

🚶🏻Berjalanlah di Muka Bumi

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al Qur`an yang memerintahkan kita untuk melakukan perjalanan di muka bumi. Bahkan salah satu sifat orang yang telah ber-mubayya’ah (berjanji setia beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya) adalah as-saa`ihuun, yang di antara maknanya adalah orang-orang yang melakukan perjalanan di muka bumi.
Allah Ta’ala Berfirman,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat (as-saa`ihuun), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.”
(QS. At Taubah [9] : 112)

Diantara tujuan maknawi dari perintah Allah SWT untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini adalah unuk melihat bagaimana akibat kedustaan dan pengingkaran yang dilakukan manusia kepada Allah SWT dan bagaimana kesudahan akhir kehidupan mereka.
Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu’.
(QS. Al An’aam [6] : 11)
   
Fakta sejarah kehancuran umat-umat terdahulu dengan kehancuran yang membuat mereka tidak mampu bangkit kembali menunjukkan adanya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Firman Allah SWT dalam QS. Al An’aam [6] ayat 6,

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.”

Demikian pula firman Allah SWT dalam QS. Muhammad [47] ayat 13,

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ

“Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.”

Dan juga firman Allah SWT dalam QS. Al Haaqqah [69] ayat 4-8,

كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ
فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Kaum Tsamud dan `Aad telah mendustakan hari kiamat.
Adapun kaum Tsamud maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa,
Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang,
yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk).
Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.”

✨ Maka jelaslah bagi kita bahwa kenyataan sejarah tentang kebertuhanan manusia, rumah ibadah (Ka’bah) untuk menyembah Allah SWT yang telah ada sejak dahulu, serta kehancuran umat-umat yang mengingkari Allah SWT, secara nyata membuktikan bahwa Allah SWT itu ada. Mutlak ada, tanpa keraguan sedikitpun.

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung…

~~~~
🍃🌈🍃🌈🍃🌈

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (4)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 20 Dzulhijjah 1438H/ 11 September 2017

📕 AQIDAH

📝 Ustadzah Prima Eyza

📖
الْأَ دِ لَّةُ عَلَى وُجُوْدِ اللهِ

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (4)
~~~~~~~~~~~~~~
💦🐞💦🐞💦🐞💦🐞💦

Assalaamu’alaikum wrwb.

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, bagaimana kabarnya hari ini…? Semoga senantiasa dalam rahmat, keberkahan, dan limpahan kenikmatan dari Allah SWT, terutama nikmat yang terbesar berupa keimanan yang membara di dalam dada. Aamiiiin…

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang Bukti-Bukti Keberadaan Allah SWT yang pada pembahasan lalu kita telah mengkaji bukti keberadaan Allah SWT yang ketiga yaitu bukti akal (الدَّلِيْلُ الْعَقْلِيُّ).

 Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan pada bukti yang keempat, yaitu bukti wahyu (الدَّلِيْلُ النَّقْلِيُّ).

٤. الدَّلِيْلُ النَّقْلِيُّ
(Bukti Wahyu)

Dalil naqli adalah dalil-dalil (bukti-bukti) syar’iy yang tertuang dalam nash-nash Al Qur`an dan juga as Sunnah.
Yakni bahwa banyak sekali nash-nash terutama di dalam Al Qur`an yang berbicara tentang kuasa penciptaan Allah SWT atas segala sesuatu; alam semesta raya beserta semua isinya, yang hal ini tentu secara langsung membuktikan bahwa Allah Ta’ala itu ada. Mutlak ada, tanpa keraguan sedikitpun.

▪ Memandang Alam Semesta dengan Kacamata Al Qur`an

Allah SWT banyak berfirman tentang fakta-fakta ilmiah mengenai penciptaan alam semesta di dalam Al Qur`an, diantaranya :

● Mengenai teori Big bang (ledakan dahsyat).
Allah Ta’ala telah mewahyukan dalam QS. Al Anbiyaa` (21) ayat 30,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Kata رَتْقًا (“terpadu” atau “suatu yang padu”) bermakna : sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu dalam massa yang berat.
Maksudnya, ini dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk entitas (satu kesatuan yang wujud).
Kata فَفَتَقْنَاهُمَا (“kemudian Kami pisahkan antara keduanya”) bermakna : memecah obyek yang dalam keadaan “ratq” (satu padu) tadi.
Maka teori big bang yang dirilis oleh sains pun, ini sudah lebih dahulu dikabarkan Allah SWT dalam Al Qur`an.

● Mengenai penciptaan langit dalam Al Qur`an.
Di sebagian ayat dalam Al Qur`an, “langit” disebut dalam bentuk jamak : “samawaat”.
Ini adalah keajaiban tersendiri, karena betul terbukti pada faktanya bahwa langit itu memang berlapis-lapis.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur`an,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
(QS. Al Mulk [67] : 3-4)

● Fakta-fakta penciptaan bintang dan planet-planet dalam Al Qur`an.
Al-Qur`an menggunakan kata “najm” (bintang) dan “kandil” (pelita) yang keduanya mempunyai dua fungsi utama seperti yang tersirat dalam beberapa ayat, bahwa mereka menjadi sumber cahaya dan dimanfaatkan untuk navigasi.
Bagaimana mungkin bahwa bintang-bintang bisa menunjukkan arah (navigasi)?
Hal ini tentu hanya memungkinkan jika bintang-bintang tersebut tersusun dalam suatu tatanan di tempat tinggal mereka yang tetap.
Jikalah suatu bintang terlihat di suatu tempat pada suatu malam, namun terlihat di tempat lain pada malam yang lain, maka dengan ini tentu mustahil bisa mendapatkan petunjuk arah.
Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur`an,

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.
Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.”
(QS. Al Waaqi’ah [56] : 75-76)

● Tentang relativitas waktu dalam Al Qur`an.
Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang terbukti pada era sains modern abad belakangan ini. Akan tetapi, hingga Einstein mengetengahkan teori relativitas pada awal abad 20, tak seorang pun mengira bahwa waktu bisa relatif dan bergantung pada kecepatan dan massa.
Namun, ada pengecualian! Al Qur`an telah jauh berabad-abad sebelumnya mengeluarkan informasi tentang kenyataan relativitas waktu.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur`an,

 وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”                
(QS. Al Hajj [22] : 47)

Juga firman-Nya,

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As Sajdah [32] : 5)

Dan begitu pula firman-Nya,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”
(QS. Al Ma’arij [70] : 4)

● Tentang hujan dalam Al Qur`an.
Hujan sesungguhnya merupakan salah satu dari unsur-unsur terpenting bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Hujan adalah prasyarat bagi kesinambungan aktivitas di suatu kawasan. Karena pada faktanya, hujan membawa zat-zat yang penting bagi kehidupan, termasuk bagi manusia.
Al Qur`an berbicara tentang proporsi/kadar hujan :

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”
(QS. Az Zukruf [43] : 11)

Menurut beberapa penelitian, angka curah hujan yang jatuh ke bumi selalu sama. Dan diperkirakan, dalam satu detik, 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan curah air hujan yang jatuh ke bumi dalam 1 detik. Ini berarti bahwa air beredar terus-menerus dalam suatu daur/siklus yang seimbang menurut suatu “ukuran/qadar” yang telah ditetapkan-Nya.
Al Qur`an juga telah berbicara tentang pembentukan hujan :

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
(QS. Ar Ruum [30] : 48)

→ bahwa hujan terbentuk melalui tiga tahapan : angin menggerakkan awan, awan menjadi bergumpal-gumpal, lalu turunlah hujan.

Al Qur`an juga telah menyebutkan bahwa hujan menghidupkan negeri yang sudah mati :

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”
(QS. Al Furqan [25] : 48-49)

● Mengenai keunikan sidik jari dalam Al Qur`an.
Allah Ta’ala telah berfirman,

بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
(QS. Al Qiyaamah [75] : 4)

Sidik jari terbentuk pada ujung jari dengan pola nyata pada kulit yang bersifat sangat unik bagi si empunya. Setiap orang yang hidup di bumi mempunyai setelan sidik jari yang berlainan. Tidak ada yang sama. Semua orang yang hidup sepanjang sejarah juga mempunyai sidik jari yang berbeda-beda. Sidik jari ini tak akan berubah selama hayat seseorang kecuali jika ia mengalami kecelakaan besar yang merusak kulit telapak tangan dan jari-jarinya.
Pada 1880, seorang ilmuwan Inggris yang bernama Henry Faulds menyatakan dalam suatu artikel yang diterbitkan di Nature bahwa sidik jari orang-orang tidak berubah sepanjang hayat mereka, dan bahwa terdakwa-terdakwa tindak kejahatan bisa diyakinkan dengan sidik jari yang mereka tinggalkan di permukaan benda seperti kaca, lantai, dan sejenisnya. Pada tahun 1884, untuk pertama kalinya seorang pelaku pembunuhan ditentukan dengan identifikasi sidik jari. Sejak itu, identifikasi sidik jari telah menjadi metode yang penting untuk menentukan identitas seseorang.  
Maha besar kuasa Allah SWT atas penciptaan sidik jari.

Masih sangat banyak ayat-ayat lain dalam Al Qur`an yang menjabarkan tentang kuasa Allah SWT atas penciptaan berbagai ciptaan-Nya.
Maka, dengan segala kuasa Allah SWT atas penciptaan seluruh ciptaan-Nya tersebut , menjadi sangat jelaslah bagi kita bahwa Allah SWT itu ada. Mutlak ada. Tanpa keraguan sedikitpun.

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung…

💦🐞💦🐞💦🐞💦🐞💦

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (3)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 06 Dzulhijjah 1438H/ 28 Agustus 2017

📕 AQIDAH

📝 Ustadzah Prima Eyza

📖
الْأَ دِ لَّةُ عَلَى وُجُوْدِ اللهِ

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Apa kabar adik-adik ?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, serta dalam semangat dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..
Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang Bukti-Bukti Keberadaan Allah SWT yang pada pembahasan lalu kita telah mengkaji bukti keberadaan Allah SWT yang kedua yaitu bukti inderawi (الدَّلِيْلُ الْحِسِيُّ).
Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan pada bukti yang ketiga, yaitu bukti akal (الدَّلِيْلُ الْعَقْلِيُّ).

٣. الدَّلِيْلُ الْعَقْلِيُّ

(Bukti Akal)

▪ Penggunaan Akal

Islam mengajari kita tentang identitas Pencipta yang keberadaan-Nya kita temukan dan buktikan pula melalui akal kita. Melalui ajaran Islam yang diungkapkan kepada kita, kita memahami bahwa Dia-lah Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang Menciptakan langit dan bumi yang sebelumnya berawal dari kehampaan. Meskipun kebanyakan manusia tidak menyadari dan tidak mengetahui hal itu.
Kebanyakan manusia itu, apabila mereka memandang lukisan pajangan saja misalnya, maka mereka menjadi takjub kepada pelukisnya. Lalu, mereka memuji-muji senimannya panjang-lebar perihal keindahan karya seninya. Padahal pada kenyataannya, mereka bahkan menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan keindahan hal itu di sekeliling mereka. Namun masih banyak saja manusia yang tidak mengakui keberadaan Allah SWT dan tidak beriman kepada-Nya, yang merupakan Satu-Satunya Pencipta dan Pemilik keindahan-keindahan alam semesta raya ini.

▪ Pikirkan…

Sejenak, lihatlah di sekeliling kita dari tempat duduk kita. Maka kita akan dapati bahwa segala sesuatu di ruang ini adalah “buatan”; dindingnya buatan, pelapisnya juga buatan, begitu pula dengan atapnya, kursi tempat kita duduk , gelas di atas meja dan pernak-pernik lain yang tak terhitung jumlahnya. Semuanya adalah buatan; dibuat, dan ada pembuatnya. Tidak ada satu pun yang berada di ruang di sekitar kita ini yang mereka tercipta dengan sendirinya; tercipta dengan kehendak mereka sendiri. Bahkan sebuah tikar sederhana pun pastilah dibuat oleh seseorang; tikar tersebut tentulah tidak muncul dengan spontan, tiba-tiba langsung ada atau secara kebetulan. Pun seseorang yang hendak membaca buku misalnya, pastilah ia mengetahui bahwa buku tersebut ditulis oleh pengarangnya karena alasan tertentu. Pastilah tak pernah terpikir olehnya bahwa buku itu muncul dengan sendirinya secara kebetulan.
Maka apatah lagi bumi, langit; seluruh alam semesta yang kompleks ini. Tentulah ia tidak ada dengan sendirinya; tidak terjadi secara kebetulan. Pastilah ada Yang Menciptakan seluruh alam semesta ini. Ialah Allah Azza wa Jalla, Sang Khaliq. Satu-Satunya Pencipta alam raya; bumi, langit, beserta segala isinya.

▪ Kehidupan di Setiap Milimeter

Begitu pula jika kita merenung panjang tentang hal yang paling dekat yakni diri kita sendiri. Tubuh manusia ini menyediakan begitu banyak bukti tentang keberadaan Allah Ta’ala yang mungkin tidak terdapat dalam berjilid-jilid ensiklopedi. Bahkan hanya dengan berpikir beberapa menit saja mengenai itu semua, itu sudah cukup memadai bagi kita untuk memahami dan meyakini tentang keberadaan Allah SWT dan mengimani-Nya dengan keyakinan yang sempurna.
Seluruh tatanan yang ada dalam tubuh manusia ini dilindungi, diatur dan dipelihara oleh Allah SWT. Dan tubuh manusia bukanlah satu-satunya bahan pemikiran. Sebab kehidupan itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, baik itu yang bisa diamati oleh manusia maupun yang tidak bisa dideteksi oleh manusia. Dunia beserta segala isinya ini mengandung begitu banyak makhluk, dari organisme uniseluler hingga tanaman, dari serangga hingga binatang laut, dan dari burung yang terbang di udara, binatang melata, hingga manusia. Juga gunung, laut, lembah, sungai, langit, bintang, bulan, dan yang lainnya.
Atau cobalah jika kita menjumput segenggam tanah saja misalnya, pandangilah dan renungkanlah, di segenggam tanah ini pun kita bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang berlainan. Atau misalnya kita memperhatikan kulit kita sendiri, di sini pun terdapat banyak makhluk hidup yang namanya tidak kita kenal. Atau merenungkan isi perut semua makhluk hidup yang di sana terdapat jutaan bakteri atau organisme uniseluler yang membantu pencernaan.
Allaahu Akbar….Allah Maha Besar dengan segala penciptaan dan kuasa-Nya.

▪ Berjalan dengan kesadaran

Semua bukti-bukti diatas mengarahkan kita kepada suatu kesimpulan bahwa alam semesta ini semuanya berjalan dengan “kesadaran” (consciousness) tertentu. Semuanya berjalan dengan pengaturan tertentu.
Lantas, apa yang menjadi sumber kesadaran dan pengaturan tersebut?
Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Sebab tidak ada satu pun makhluk yang sanggup menjaga seluruh keserasian tatanan ini. Maka keberadaan dan keagungan Allah-lah sumbernya, yang keberadaan Allah SWT ini terungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta.
Maka sebenarnya, tidak ada satu manusia pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan atas bukti-bukti keberadaan Allah ini di dalam hati sanubarinya.
Sekalipun demikian, sebagian mereka masih mengingkarinya.
Sebagaimana fiman Allah Taala,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ   …

“Dan mereka mengingkari karena zhalim dan angkuh, kendati hati mereka meyakininya. …”
(QS. An Naml [27] : 14)

Demikianlah, sesungguhnya akal manusia akan membuktikan bahwa Allah Ta’ala itu ada, pasti ada, benar ada, dan nyata ada; dengan pembuktian yang sebenarnya tak terbantahkan.

Wallaahu a’lam bishshowab…
Bersambung…

🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT (2)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 28 Dzulqaidah 1438H/ 21 Agustus 2017

📕 AQIDAH

📝 Ustadzah Prima Eyza

📖
الْأَ دِ لَّةُ عَلَى وُجُوْدِ اللهِ

BUKTI-BUKTI KEBERADAAN ALLAH SWT

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

❄💦❄💦❄💦❄💦❄

Assalaamu’alaikum wrwb

Apa kabar, adik-adik pemuda Islam?  Mudah-mudahan senantiasa dalam limpahan rahmat Allah SWT dan dalam semangat membara serta hujaman kebanggaan di dalam dada terhadap Islam… Aamiin..
Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang Bukti-Bukti Keberadaan Allah SWT yang pada pembahasan lalu kita telah mengkaji bukti keberadaan Allah SWT yang pertama yakni bukti fitrah (الدَّلِيْلُ الْفِطْرِيُّ). Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan pada bukti yang kedua, yaitu bukti inderawi (الدَّلِيْلُ الْحِسِيُّ).

٢. الدَّلِيْلُ الْحِسِيُّ

(Bukti Inderawi)

Bukti-bukti/dalil-dalil inderawi tentang keberadaan Allah SWT adalah bukti-bukti/dalil-dalil yang dapat dinikmati, dilihat, dirasai atau disentuhi oleh indera.
Khususnya hal ini berupa kejadian luar biasa, seperti mu’jizat, karamah, dan ma’unah.

Diantaranya yang Allah firmankan dalam QS. Al Qamar (54) ayat 1,

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”

🌛🌜 *terbelahnya bulan*

Kejadian ini tidak diakui oleh orang-orang Makkah yang memusuhi Rasulullah saw. Mereka malah menuduh bahwa Rasulullah saw telah menyihir mereka sehingga peristiwa itu seolah-olah hanya khayalan/imaginasi mereka saja.
Sayangnya, penolakan mereka itu justru ditentang oleh para musafir yang mengadakan perjalan dari negeri jauh yang menuju ke Makkah. Para musafir itu justru bercerita bahwa di dalam perjalannya, mereka telah melihat bulan di langit terbelah.
Bahkan catatan sejarah selanjutnya mengatakan bahwa terbelahnya bulan itu terlihat juga di India dan negeri-negeri lainnya. Sebab dalam catatan sejarah berbagai negara tersebut, kisaran waktu kejadian terbelahnya bulan memang sesuai dengan peristiwa mujizat Rasulullah saw itu.

Demikianlah kejadian luar biasa yang menampakkan secara nyata ke-Maha Kuasa-an Allah SWT yang sekaligus menjadi bukti tentang keberadaan-Nya.
Namun secara umum, segala sesuatu di alam raya ini yang bisa kita indera adalah bukti dari keberadaan Allah SWT. Sebab alam semesta raya ini adalah ciptaan Allah seluruhnya; bumi, langit, beserta segala isinya

▪ Para Malaikat yang Ikut Perang Badar

Kejadian luar biasa lainnya yang diturunkan Allah Ta’ala bagi Nabi Muhammad saw adalah diturunkannya para malaikat untuk membantu dan menguatkan pasukan muslimin pada Perang Badar.
Allah SWT menciptakan makhluk yang bernama malaikat dengan tugas khusus. Akan tetapi, mereka adalah makhluk ghaib yang tidak dapat dilihat oleh indera penglihatan manusia, kecuali jika malaikat menjelma dalam rupa manusia atas izin Allah SWT.
Namun dalam Perang Badar, Allah memperlihatkan para malaikat di tengah-tengah pertempuran. Allah Taala berfirman,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
(QS Al Anfaal [8] : 9)

Hal ini juga dikuatkan oleh riwayat dari seorang sahabat Nabi saw, Abbas ra menuturkan, Pada hari berkecamuknya Perang Badar, aku mendengar malaikat yang menggunakan sorban berwarna putih berseru, “Majulah, Haizum!”.” Kemudian lelaki musyrik di depannya mati dalam keadaan terlentang, hangus oleh cambuk malaikat.
(Ibnu al Atsir menerangkan dalam kitab An Nihayah bahwa Haizum adalah nama kuda Malaikat Jibril)

▪ Dua Kali Lipat

Pada Perang Badar pula, Allah Ta’ala menampakkan golongan yang tengah berperang di pihak-Nya berjumlah dua kali lipat di mata para musuh mereka:

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
(QS. Ali ‘Imran [3] : 13)

Pengungkapan bahwa satu orang digambarkan sedang terlihat sebagai “dua orang” dengan mata kepala mereka sendiri sangatlah jelas, dan mengesankan bahwa para pengingkar Allah mungkin telah mengalami perbedaan penginderaan dengan melihat satu orang yang beriman berjumlah dua. Wallaahu a’lam…

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan inderawi telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah SWT dengan pengetahuan yang tidak mampu kita pahami sebagai makhluk yang sarat dengan serba keterbatasan.

▪ Keajaiban Indera Manusia

Hidup kita keseluruhannya merupakan hasil persepsi (penginderaan) kita. Akan tetapi bagaimanakah seluk beluk yang sedemikian luar biasa rumit, saling terkait dan rinci dari kehidupan dapat tetap berlangsung dengan cara yang sedemikian nyata dan tanpa terputus di dalam sebuah dunia yang di dalamnya materi. Apakah semua itu hanya ada sebagai sebuah persepsi (hasil penginderaan)?
Milik siapakah seluruh informasi-informasi ini, dan siapakah Pencipta dari semua peristiwa dan Penguasa segala sesuatu?
Siapa pun yang dengan tulus memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini akan pasti melihat kebenaran. Yakni bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia beserta seluruh kemampuan inderawi (persepsi) mereka, dengan kata lain takdir mereka, dan Allah SWT adalah Penguasa kehidupan mereka di setiap waktu. Dialah Allah Yang Maha Mengetahui segala apa yang terjadi setiap saat.

▪ Api Menjadi Dingin

Nabi Ibrahim as merasakan api dengan rasa dingin.  Allah Yang Mahakuasa mengeluarkan perintah,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim!”
(QS. Al Anbiyaa’ [21] : 69),

Dan dengan kehendak-Nya Nabi Ibrahim as. tidak merasakan sedikit pun sifat panas dan membakar dari api.
Demikianlah, Nabi Ibrahim as merasakan api, yang dirasakan panas dan membakar oleh setiap orang, sebagai sesuatu yang sejuk.
Ini luar biasa. Dan ini hanya mampu dilakukan oleh Dzat dengan kekuatan dan kedigdayaan yang Maha Kuasa tanpa batas. Ialah Allah ‘Azza Jalla.

Demikianlah kejadian-kejadian luar biasa tersebut telah menjadi bukti nyata tentang keberadaan Allah SWT. Masihkah layak manusia meragukan-Nya…???
Na’udzubillaah….
Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang beriman yang meyakini keberadaan Allah SWT tanpa sedikitpun keraguan yang melintas di hati… Aamiiin…

Wallahu a’lam bishshawab…
Bersambung…

❄💦❄💦❄💦❄💦❄

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c