sabar dan ikhlas

TERSINGGUNG

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Tersinggung acap menghampiri diri kita, beragam penyebab dan latar belakangnya, beragam pula ekspresi dan pelampiasannya.

Namun, ada yang nyaris tidak berbeda, tersinggung dapat membuat suasana hati menjadi keruh, bahkan kadang terluka.

Di sisi lain, tersinggung adalah merupakan kekhasan kita sebagai manusia yang Allah berikan perasaan lembut dan.

Maka, jangan merasa bangga kalau ada orang yang mengaku dirinya tidak pernah tersinggung. Justeru tersinggung merupakan penegasan dari eksistensi kepribadian seseorang. Apalagi ketika radius pergaulannya semakin luas, variatif dan beragam.

Jadi, yang dibutuhkan adalah bukan mematikan sifat ketersinggungan itu, akan tetapi bagaimana kita meminimalisir atau memperkecil tingkat ketersinggungan dalam diri kita, apalagi kalau urusannya hanya bersifat pribadi belaka.
Sebab, kalau hal itu kita biarkan tumbuh membesar dan liar dalam diri kita, akan banyak pintu-pintu kebaikan yang akan terhalang.

Bahkan, justeru dalam kondisi tertentu, ketersinggungan dapat dikelola dengan sikap positif untuk meraih hal-hal yang positif, di antaranya:

๐Ÿ’Ž Tersinggung dapat menjadi kesempatanย  melatih diri untuk berlapang dada.

Ketika ada hujatan, kritik, kata-kata yang memojokkan โ€“terlepas itu benar atau tidak-, di sinilah sebenarnya kita diuji untuk mempraktekkan sikap lapang dada ini.Bukankah Rasulullah saw pernah memberikan jaminan surga kepada seseorang yang ketika menjelang tidur, dia melepaskan segala sangkutan dalam hatinya kepada semua orang.

๐Ÿ’Ž Tersinggung, jika diarahkan dengan benar, akan melatih seseorang menjadi public relation bagi dirinya sendiri terhadap sikap yang dia ambil.

Munculnya sindiran dan prasangka seringkali merupakan buah dari ketidaktahuan terhadap latar belakang sebuah masalah. Nah, berlatihlah agar anda mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas, urut, tidak apologi dan emosi sambil tetap mengakui kekurangan kalau memang ada. Setelah itu, rapihkan kembali kondisi hati.

๐Ÿ’Ž Tersinggung akan membuat seseorang dapat membedakan karakter setiap orang yang pastinya berbeda-beda.

Sehingga berikutnya setiap orang disikapi sesuai karakternya masing-masing, tanpa kesan dibuat-buat atau pura-pura. Karena tidak mungkin setiap orang dengan berbagai karakternya disikapi dengan sikap yang sama.๐Ÿ’Ž Terakhir, tersinggung akan menyadarkan kita untuk tidak mudah melakukan tindakan dan perkataan yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

Sebab kita telah merasakan sendiri, bagaimana ‘enaknya’ tersinggung itu.ย  Berlatihlah untuk peka membaca perasaan orang lain, jangan menunggu ‘disemprot’ untuk menyadari bahwa ada ucapan dan tindakan kita yang dapat menyinggung perasaan seseorang.Kesimpulannya:
Kelolalah ketersinggungan dengan baik,ย  jangan mudah tersinggung dan jangan suka menyinggung.

“Ya Rabb Kami,
beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;

Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Wallahu aโ€™lam bishowab.

Semoga memberikan inspirasi.

๐ŸŒฟ๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐ŸŒด


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Lima Langkah Membangun Karakter Anak(part 1 of 2)

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. Ayahย  (Irwan) Rinaldi

Orang tua membaca laporan perilaku Anto dari gurunya. Orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini adalah laporan ke tiga dari perilakunya yang sering memberi komentar negatif kepada temannya.

โ€œAnto kamu sebaiknya tidak mengatakan hal yang negatif kepada temanmu,โ€ si orang tua mengingatkannya.

โ€œKamu perlu belajar untuk menghormati temanmu,โ€ lanjut ibunya.

โ€œAku sudah mencoba bu,โ€ Anto menjawab dengan sedih. โ€œSaya tidak tahu bagaimana cara menghormati teman.โ€

Banyak orang tua yang menyatakan kecemasannya: terlalu banyak anak yang tidak memahami ciri-ciri karakter anak tangguh.

Hasilnya, banyak anak yang gagal memiliki karakter yang menjadi dasar kesuksesan kehidupannya di masa yang akan datang.

Banyak psikolog mengatakan bahwa cara terbaik bagi anak untuk belajar karakter anak tangguh adalah dengan melihat orang lain melakukannya dengan baik.
Coba perhatikan beberapa kejadian yang dapat dilihat anak-anak di TV โ€“
saat pertandingan bola, ada beberapa pemain bola yang menunjukkan sikap yang kurang baik misalnya meludahi wasit, atau saat acara-acara yang banyak sekali sikap membully โ€“ mentertawakan orang lain.

Kemudian, berita di koran yang menceritakan tentang guru yang memberikan contekan jawaban saat UN kepada anak didiknya. Jadi pertanyaannya,
โ€œkepada siapa anak-anak dapat belajar tentang karakter anak tangguh dan memiliki karakter tersebut?โ€
Jawabannya memang membingungkan.

Ketiadaan atau berkurangnya orang dewasa yang menjadi model akhlak baik memang bukan satu-satunya alasan tentang perkembangan karakter anak di Indonesia.

Dr. Thomas Lickona, pengarang buku Character Matter, menunjukkan adanya peningkatan perilaku remaja bermasalah di masyarakat yang menunjukkan menurunnya moral remaja: kekerasan dan vandalisme (sifat suka merusak), mencuri, curang, tidak menghargai orang lain atau tokoh otoriter, kekejaman sesama remaja, sikap fanatik, penggunaan bahasa buruk, ketertarikan terhadap seks yang lebih cepat dan juga bersikap kasar, meningkatnya egoisme dan menurunnya tanggung jawab sebagai warga negara, dan perilaku merusak diri sendiri.

Ini adalah alasan lain mengapa kebanyakan anak tidak memiliki akhlak yang baik.

๐Ÿ‘ช Mercu Suar Harapan Terakhir

Fakta bahwa mungkin sekali sekolah adalah satu-satunya harapan atau harapan terakhir bagi anak.
Dimana lagi kira-kira mereka mendapatkan kesempatan untuk memahami nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab atau peduli atau menghormati orang lain atau kerjasama?

Dimana kira-kira mereka mendapat kesempatan untuk melihat seseorang yang menjadi teladan karakter yang pas?

Dimana lagi kecuali dari seorang orang tua yang peduli dan memiliki komitmen yang dapat memberikan kesempatan untuk belajar tentang ciri-ciri anak yang tangguh?

Lalu, bagaimana caranya kita dapat membantu anak untuk mengembangkan karakter tangguh?

Jawabannya: ciri karakter tidak tumbuh secara alami tapi DAPAT DIPELAJARI ; karena itu kita dapat MELATIHnya.

Artinya bahwa pendidik memiliki kekuatan yang luar biasa untuk dapat melatihnya. Tapi membangun karakter anak membutuhkan beberapa langkah.

๐Ÿ‘ช Langkah Pertama untuk Melatih Ciri Karakter pada Anak

Karakter apa saja yang akan anda ajarakan โ€“ ketekunan, keyakinan diri, empati, tanggung jawab, menghormati orang lain, peduli, atau karakter lain โ€“ paling tidak ada lima langkah minimum yang harus dilakukan.
Langkah-langkah ini dapat diintegrasikan pada pelajaran, tapi setiap langkah perlu dilakukan dengan tepat karena dapat membantu anak untuk dapat mengembangkan karakter tangguh.

Lima langkahnya adalah:

๐Ÿ‘ช Langkah 1. Menonjolkan Ciri Satu Karakter.

Langkah awal untuk mengajarkan satu ciri karakter baru kepada anak adalah cukup dengan menonjolkan karakter tersebut.

Ada 4 cara sederhana untuk menonjolkan ciri satu karakter:

๐Ÿ’Ž Poster Karakter

Minta anak untuk membuat poster ciri karakter.

Tempelkan poster di mana saja paling tidak selama satu bulan:

โ€œTanggung jawab artinya saya harus melakukan apa sajaย  dengan baik serta benar untuk aku dan orang lain dan aku dapat diandalkan.โ€

Minta anak untuk membuat poster tentang ciri satu karakter yang sedang berlaku pada bulan tersebut.

๐Ÿ’Ž Asembli Karakter

Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau anak. Orang tua atau anak dapat melakukan lakon pendek tapi dapat memberikan inspirasi tentang ciri karakter yang sedang dipelajari.

๐Ÿ’Ž Screen savers

Setiap hari setiap staf atau orang tua atau anak menulis di screen saver di komputer atau dapat juga membuat banner yang bertuliskan pentingnya memiliki karakter tertentu.

Setiap kali staf, orang tua, atau anak membuka komputer maka yang mereka lihat pertama kali di layar adalah kata-kata yang menunjukkan pentingnya memiliki karekter tersebut atau sejauh mata memandang sekitar sekolah melihat tulisan tersebut.

“Bulan ini adalah bulan ketekunan. Ingatlah untuk selalu mengerjakan yang terbaik dan jangan menyerah.โ€

๐Ÿ’Ž Pengumuman untuk Anak dan Ortu

Orang tua-orang tua banyak juga melakukan pembicaraan di pagi hari dengan menggambarkan beberapa cara yang dapat dilakukan anak untuk menunjukkan karakter tertentu. Demikian juga orang tua dapat berkirim surat kepada ortu tentang karakter yang sedang di latih pada bulan tersebut.

๐Ÿ‘ช Langkah 2. Menjelaskan Nilai dan Arti Karakter.

Langkah kedua dalam melatih ciri karakter adalah menjelaskan kepada anak apa arti ciri karakter tersebut dan mengapa penting untuk mempelajarinya.

Jelaskan ciri-ciri dalam konteks tahap perkembangannya; jangan pernah berasumsi bahwa anak sudah tahu. Kebanyakan anak tidak tahu.

Cara untuk mendefinisikan karakter dapat melakukan beberapa cara di bawah ini:

๐Ÿ’Ž Literatur Karakter

Pilihlah buku yang di dalamnya dibahas tentang karakter yang sedang diperkenalkan, saat anak membacakannya, tanyanya: โ€œbagaimana tokoh dalam buku ini menunjukkan ciri-ciri dari karakter ketekunan? Bagaimana perasaan orang lain saat tokoh menjalankan ciri karakter ketekunan?

๐Ÿ’Ž Artikel Baru

Mintalah anak untuk mengumpulkan tulisan atau artikel terbaru tentang orang-orang di Indonesia yang melakukan satu karakter tertentu. Orang tua dapat memulai belajar dengan mengulang sedikit tentang kejadian nyata dimana satu karakter dipraktekkan untuk menunjukkan kepada anak pentingnya karakter tersebut dimiliki.

๐Ÿ’Ž Memberi nama ciri-ciri karakter

Setiap kali orang tua melihat atau mendengar anak menunjukkan ciri-ciri karakter yang sedang ditargetkan, ambil waktu untuk menunjukkan secara spesifik apa yang telah dilakukan anak yang menunjukkan ciri target karakter.

โ€œAzzam, yang baru kamu lakukan iniย  adalah sikap menghormati karena kamu telah dengan sabar menunggu saya selesai berbicara dengan temanmu sebelum kamu berbicara dengan saya.โ€

๐Ÿ’Ž Berbagi perasaan anda.

Anak perlu mendengar mengapa anda berpikir bahwa karakter itu penting. Jika anda mentargetkan menghormati orang lain, anda dapat mengatakan kepada anak bagaimana pentingnya seseorang harus merubah dirinya karenaย  membicarakan hal negatif tentang diri sendiri atau orang lain.

๐Ÿ’Ž Anak sebagai reporter

Minta anak untuk mencari demonstrasi dari target karakter yang dilakukan oleh temannya di sekolah.

Tugas anak adalah melaporkan kepada kelas siapa yang sudah mulai menunjukkan perilaku yang menggambarkan target karakter, dan dampaknya pada perilaku anak kepada orang lain.

(Bersambung – Langkah 3 s/d 5, insya Allah)

Wallahu aโ€™lam bishowab.
Semoga memberikan inspirasi.

๐ŸŒฟ๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐ŸŒด


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allahย ๏ทปย Ciptakan?

๐Ÿ“ Pemateri: Farid Nu’man Hasan

Para ulama berbeda pendapat tetang hal ini:

Pertama. Mereka yang mengatakan Qalam adalah makhluk pertama yang Allah ๏ทป ciptakan sebelum seluruh makhluk lainnya. Inilah pendapat Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnul Jauzi, dan selainnya. Imam Ibnu Jarir mengatakan setelah itu Allah ๏ทป menciptakan awan tipis. (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 1/9)

Dalilnya adalah dari โ€˜Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฅู† ุฃูˆู„ ู…ุง ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู‚ู„ู…

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. (HR. At Tirmidzi No. 3319, katanya:hasan shahih. Abu Daud No. 4700, Ahmad No. 22705. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 22705)

Kedua. Mereka yang mengatakan โ€˜Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ๏ทป ciptakan sebelum yang lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti yang dinukilkan Al Hafizh Abul โ€˜Ala Al Hamdani dan lainnya. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibid)

Dalilnya adalah dari Abdullah bin โ€˜Amr bin Al โ€˜Ash Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงุฏููŠุฑูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ูŽุงุฆูู‚ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ู„ูู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุจูุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ุฃูŽู„ู’ููŽ ุณูŽู†ูŽุฉูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูˆูŽุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู

Allahย ๏ทปย menuliskan takdir-takdir bagi makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi sejauh 50.000 tahun. Beliau bersabda: โ€˜Arsy-Nya di atas air. (HR. Muslim No. 2653)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

ูˆู‚ุฏ ุฏู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู† ุฐู„ูƒ ุจุนุฏ ุฎู„ู‚ ุงู„ุนุฑุด ูุซุจุช ุชู‚ุฏูŠู… ุงู„ุนุฑุด ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ู„ู… ุงู„ุฐูŠ ูƒุชุจ ุจู‡ ุงู„ู…ู‚ุงุฏูŠุฑ ูƒู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ. ูˆูŠุญู…ู„ ุญุฏูŠุซ ุงู„ู‚ู„ู… ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุฃูˆู„ ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ุงุช ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุนุงู„ู…

Hadits ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah penciptaan โ€˜Arsy, maka telah shahih bahwa โ€˜Arys lebih dahulu dari pada Qalam, yang dengannya dituliskan takdir-takdir sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Ada pun hadits tentang Qalam, mereka menafsirkan bahwa Qalam adalah makhluk pertama di jagat raya (bukan makhluk yang pertama kali ย diciptakan, pen). (Al Bidayah wan Nihayah, ibid)

Imam Ibnu Jarir menolak pendapat ini dengan beberapa riwayat yang dia jadikan hujjah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู† ” ุจู„ ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„ ุงู„ู…ุงุก ู‚ุจู„ ุงู„ุนุฑุด ” ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุณุฏูŠ ุนู† ุฃุจูŠ ู…ุงู„ูƒ ูˆุนู† ุฃุจูŠ ุตุงู„ุญ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ูˆุนู† ู…ุฑุฉ ุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ูˆุนู† ู†ุงุณ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู‚ุงู„ูˆุง ” ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูƒุงู† ุนุฑุดู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุก (1)ุŒ ูˆู„ู… ูŠุฎู„ู‚ ุดูŠุฆุง ุบูŠุฑ ู…ุง ุฎู„ู‚ ู‚ุจู„ ุงู„ู…ุงุก ” ูˆุญูƒู‰ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ุนู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงุณุญุงู‚ ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ ” ุฃูˆู„ ู…ุง ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„ ุงู„ู†ูˆุฑ ูˆุงู„ุธู„ู…ุฉ ุซู… ู…ูŠุฒ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ูุฌุนู„ ุงู„ุธู„ู…ุฉ ู„ูŠู„ุง ุฃุณูˆุฏ ู…ุธู„ู…ุงุŒ ูˆุฌุนู„ ุงู„ู†ูˆุฑ ู†ู‡ุงุฑุง ู…ุถูŠุฆุง ู…ุจุตุฑุง ” ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ูˆู‚ุฏ ู‚ูŠู„: ” ุฅู† ุงู„ุฐูŠ ุฎู„ู‚ ุฑุจู†ุง ุจุนุฏ ุงู„ู‚ู„ู… ุงู„ูƒุฑุณูŠ. ุซู… ุฎู„ู‚ ุจุนุฏ ุงู„ูƒุฑุณูŠ ุงู„ุนุฑุดุŒ ุซู… ุฎู„ู‚ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ุงู„ู‡ูˆุงุก ูˆุงู„ุธู„ู…ุฉ. ุซู… ุฎู„ู‚ ุงู„ู…ุงุก ููˆุถุน ุนุฑุดู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุก ” ูˆุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู…

ย Ibnu Jarir dan lainnya mengatakan: โ€œBahkan Allah telah menciptakan air sebelum โ€˜Arsy.โ€ As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Masโ€™ud, dari manusia para sahabat Nabiย ๏ทบ,ย mereka mengatakan: โ€œSesungghnya โ€˜ArsyNya ada di atas air, dan Dia belum menciptakan apa pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air.โ€ Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: โ€œYang pertama kali Allahย ๏ทปย ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, lalu ย Allah memisahkan keduanya sehingga dijadikanNya kegelapan itu di malam hari dan dijadikannya cahaya itu siang hari yang terang benderang. Berkata Ibnu Jarir: telah dikatakan: โ€œSesungguhnya yang diciptakan Rabb kami setelah Qalam adalah Kursiy, lalu setelah Kursiy adalah โ€˜Arsy, lalu setelah itu udara dan kegelapan, lalu diciptakan air maka diletakan โ€˜ArsyNya di atas air.โ€ Wallahu Aโ€™lam (Al Bidayah, 1/10) Tapi, riwayat-riwayat ini tidak dijelaskan keshahihannya oleh Imam Ibnu Jarir.

Ketiga.ย Pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allahย ๏ทปย ciptakan adalah โ€œNur Muhammad.โ€ Pendapat ini dianut oleh golongan sufi.

Dalilnya, dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu bahwa Nabiย ๏ทบย bersabda:

ุฃูˆู„ ู…ุง ุฎู„ู‚ุช ู†ูˆุฑ ู†ุจูŠูƒ ูŠุง ุฌุงุจุฑ

โ€œPertama kali yang diciptakan adalah Nur Nabimu wahai Jabir!โ€ (HR. Abdurazzaq, lihat Al โ€˜Ajluni dalam Kasyful Khafa, 1/302)

Bahkan golongan ini meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan sebelum Lauh Mahfuzh, Qalam, surga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. (Ibid)

Namun pendapat ini ditentang secara keras, dan dituding sebagai pendapat yang ย menyimpang, karena dasarnya adalah riwayat yang palsu. Berikut ini keterangannya:

ูˆู‡ุฐุง ุญุฏูŠุซ ู…ูˆุถูˆุน ู…ูƒุฐูˆุจ ู„ุง ู‚ูŠู…ุฉ ู„ู‡ุŒ ูู†ุญู† ู†ุณู…ุน ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูˆู‚ุช ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ูŠุง ุฃูˆู„ ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡! ูˆูŠุง ู†ูˆุฑ ุนุฑุด ุงู„ู„ู‡! ูู…ุง ู‡ูˆ ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ูˆุจูŠู† ู‚ูˆู„ ุงู„ู†ุตุงุฑู‰: ุนูŠุณู‰ ุงุจู† ุงู„ู„ู‡ุŸ ู‡ุฐุง ุถู„ุงู„ ูˆุฐุงูƒ ุถู„ุงู„

Hadits ini palsu dan dusta, tidak ada nilainya. Kami mendengar orang-orang sekarang ย mengatakan: Wahai makhluk Allah yang pertama! Wahai cahaya โ€˜Arsynya Allah! Maka, apa bedanya perkataan ini dengan perkataan orang Nasrani: โ€œIsa adalah anak Allah?โ€ Ini sesat yang itu juga sesat. (Syaikh Hasan Abul Asybal Az Zuhri Al Mishri, Syarh Shahih Muslim, 13/97)

Sementara Syaikh Al Albani menyebut ini sebagaiย min abthalil baathilย (di antara kebatilan yang paling batil). (Mausuโ€™ah Al Albani fil โ€˜Aqidah, 3/816)

Manakah yang lebih shahih? Al Hafizh Abul โ€˜Ala Al Hamdaniย  Rahimahullah ย mengatakan ย pendapat yang paling shahih adalah yang mengatakan โ€˜Arsy sebagai makhluk pertama yang Allahย ๏ทปย ciptakan. (Al โ€˜Ajluni, Kasyful Khafa, 1/302). Dan, inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

FIQHUD DA’WAH (Bag. 2)

๐Ÿ“ Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Keutamaan-Keutamaan Daโ€™wah

Berbahagialah Para Daโ€™i limpahan fadhilah menanti Anda …

1. Melanjutkan tugas dan perjuangan para Nabi dan Rasul โ€˜alaihimissalam

Ini kemuliaan yang luar biasa. Para daโ€™i menjadi pelanjut estafeta perjuangan para Nabi dan Rasul. Mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari kesyirikan menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dari kemunafikan dan kekufuranย  menuju iman.

Allah ๏ทป berfirman:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุนูŽุซู’ู†ูŽุง ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู„ู‹ุง ุฃูŽู†ู ุงูุนู’ุจูุฏููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชูŽ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. AN Nahl: 36)

Setiap umat ada Rasul yang diutusNya, dan para rasul itu sejak Adam โ€˜Alaihissalam sampai Nabi Muhammad ๏ทบ adalah bersaudara, dan agama mereka sama. Sedangkan pasca wafat Rasulullah ๏ทบ tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelahnya. Maka, para daโ€™i melanjutkan perjuangan mereka, sejak masa sahabat, tabiโ€™in, tabiโ€™ut tabiโ€™in, dan seterusnya.

Allah ๏ทป berfirman:

ู‚ูู„ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุณูŽุจููŠู„ููŠ ุฃูŽุฏู’ุนููˆ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุตููŠุฑูŽุฉู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุจูŽุนูŽู†ููŠ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Dari Abu Hurairah
Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู ุฅูุฎู’ูˆูŽุฉูŒ ู„ูุนูŽู„ู‘ูŽุงุชูุŒ ุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ุดูŽุชู‘ูŽู‰ ูˆูŽุฏููŠู†ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุญูุฏูŒ

Para nabi itu bersaudara ayah mereka satu sedangkan ibu-ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu (yaitu agama tauhid, Islam). (HR. Al Bukhari No. 3443, Muslim No. 2365)

2. Allah ๏ทป dan seluruh makhluk bershalawat kepada para penyeru kebaikan

Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu โ€˜Anhu berkata, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑูŽุถููŠู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽู…ู’ู„ูŽุฉูŽ ูููŠ ุฌูุญู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุงู„ุญููˆุชูŽ ู„ูŽูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุนูŽู„ู‘ูู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ

Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan di lautan, mereka bershalawat kepada orang yang mengajarkan manusia pada kebaikan. (HR. At Tirmidzi No. 2685, katanya: hasan shahih. Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 7912)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud โ€œshalawatโ€ dalam hadits ini adalah doa dan istighfar. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jamiโ€™ Bayan, 1/174)

Jadi, semua makhluk mendoakan dan memintakan ampunan buat para penyeru dan pengajar kebaikan.
Sedangkan, kata Imam Al Munawi Rahimahullah, makna โ€œshalawatโ€ dari Allah ๏ทป adalah rahmat (kasih sayang). (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/432)

3. Jika manusia dapat hidayah karena perantara seorang daโ€™i maka itu lebih mahal dari Unta Merah

Dari Sahl bin Saโ€™ad As Saโ€™idi Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ berkata kepada Ali Radhiallahu โ€˜Anhu:

ููŽูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุฃูŽู†ู’ ูŠูู‡ู’ุฏูŽู‰ ุจููƒูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŒ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุญูู…ู’ุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุนูŽู…ู

Demi Allah, Seseorang mendapatkan hidayah karena kamu, maka itu lebih baik bagimu dibandingkan Unta Merah. (HR. Al Bukhari No. 2942, Muslim No. 2406)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan bahwa bagi orang-orang Arab saat itu tidak ada warna Unta yang lebih baik dibandingkan merah. (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 24/116)

Syaikh Mushthafa Al Bugha dalam Taโ€™liqnya terhadap Shahih Al Bukhari mengatakan bahwa Humrun Naโ€™am yaitu Unta Merah, pada masa Arab dahulu dia adalah harta yang paling disukai dan dikagumi.

Sementara Abu Bakar Al Anbari mengatakan digunakannya Unta Merah di sini, karena posisinya yang mulia dan tinggi. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 5/166)

4. Mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikuti kebaikan yang diajarkannya

Dari Abu Masโ€™ud Al Anshari Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู

Barang siapa yang menunjukkan jalan kebaikan maka dia mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. (HR. Muslim No. 1893)

Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

ููŠู‡ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุฏู„ุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุชู†ุจูŠู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุงู„ู…ุณุงุนุฏุฉ ู„ูุงุนู„ู‡ ูˆููŠู‡ ูุถูŠู„ุฉ ุชุนู„ูŠู… ุงู„ุนู„ู… ูˆูˆุธุงุฆู ุงู„ุนุจุงุฏุงุช

Dalam hadits ini terdapat keutamaan memberikan petunjuk pada kebaikan dan memberikan peringatan atas hal itu, serta membantu orang yang melakukannya. Juga keutamaan mengajarkan ilmu dan agenda-agenda peribadatan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/39)

Bahkan akan menjadi pahala yang tidak putus-putus jika ajakan kebaikannya dilakukan oleh banyak orang dari masa ke masa.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌููˆุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุกูŒย  ….

โ€œBarangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya….โ€ย ย  (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasaโ€™i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

5. Sarana Menuju Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Allah ๏ทป berfirman:

ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽุชู’ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุชูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุชูŽู†ู’ู‡ูŽูˆู’ู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang maโ€™ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali โ€˜Imran: 110)

Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma mengatakan: โ€œMereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.โ€ (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz DZahabi)

Namun, walau ayat ini secara khusus membicarakan kedudukan kaum muhajirin, namunย  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉูŽ ุนุงู…ุฉูŒ ูููŠ ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ูŽุฉูุŒ ูƒูู„ู‘ู ู‚ูŽุฑู’ู† ุจูุญูŽุณู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูุฑููˆู†ูู‡ูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุจูุนุซูŽ ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ูˆู†ู‡ู…ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’

Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 2/94)

Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka, yaitu menjalankan amar maโ€™ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah ๏ทป. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah,ย  bahwa Umar Radhiallahu โ€˜Anhu berkhutbah ketika haji:

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฑู‘ูŽู‡ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ููŽู„ู’ูŠุคุฏู‘ ุดูŽุฑู’ุท ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠู‡ูŽุง

Barang siapa yang ingin menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102)

6. Sarana Untuk Menghindar Dari Azab Allah ๏ทป

Allah ๏ทป berfirman:

ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ููุชู’ู†ูŽุฉู‹ ู„ูŽุง ุชูุตููŠุจูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุฎูŽุงุตู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ุงุจู

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ๏ทป akan memberikan siksaan yang merata, bukan hanya menimpa orang-orang zalim saja. Orang-orang baik juga akan merasakannya. Ini terjadi ketika mereka meninggalkan daโ€™wah dan amar maโ€™ruf nahi munkar, karena sikap diamnya mereka membuat kezaliman merajalela. Akhirnya, layaklah jika orang-orang shalih pun kena dampak keburukannya.

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

ูŠุญุฐุฑ ุชุนุงู„ู‰ ุนุจุงุฏู‡ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† {ูุชู†ุฉ} ุฃูŠ: ุงุฎุชุจุงุฑุง ูˆู…ุญู†ุฉุŒ ูŠุนู… ุจู‡ุง ุงู„ู…ุณูŠุก ูˆุบูŠุฑู‡ุŒ ู„ุง ูŠุฎุต ุจู‡ุง ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ ูˆู„ุง ู…ู† ุจุงุดุฑ ุงู„ุฐู†ุจุŒ ุจู„ ูŠุนู…ู‡ู…ุงุŒ ุญูŠุซ ู„ู… ุชุฏูุน ูˆุชุฑูุน

โ€œAllah ๏ทป memperingatkan hamba-hambaNya orang beriman dengan adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang ditimpakan secara umum baik orang jahat dan selainnya, tidak dikhususkan bagi pelaku maksiat dan orang berdosa saja, tapi ditimpakan merata, ketika mereka tidak mencegah dan menghilangkannya (kemungkaran).โ€ (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 4/37)

Wallahu Aโ€™lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Tema Sentral Surah Al Fatihah

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Ahmad Sahal, Lc

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู (1) ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ (2) ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู (3) ู…ูŽุงู„ููƒู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู (4) ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ู (5) ุงู‡ู’ุฏูู†ูŽุง ุงู„ุตู‘ูุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ูŽ (6) ุตูุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุนูŽู…ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุถููˆุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ู‘ููŠู†ูŽ (7)

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:

ุชูŽุญู’ู‚ููŠู’ู‚ู ุงู„ุนูุจููˆุฏููŠู‘ูŽุฉู ู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู

Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.

Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.

ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)

Sub Tema

Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:

1- ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุจููˆุฏู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู

2- ุทูŽุฑููŠู’ู‚ู ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠู’ุญูŽุฉู

3- ุจูŽูŠูŽุงู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุงู„ููƒููŠู’ู†ูŽ ูููŠ ุทูŽุฑููŠู’ู‚ู ุงู„ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠู’ุญูŽุฉู ูˆูŽ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุญูŽุฑููููŠู†ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู

1. Pengenalan terhadap Allah taโ€™ala al-maโ€™bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya

2. Jalan ibadah yang benar

3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya.

Sub Tema 1: Pengenalan terhadap Allah Al-Maโ€™bud Al-Haq

Untuk merealisasikan penghambaan yang benar kepada Allah subhanahu wataโ€™ala, maka yang pertama diperlukan adalah mengenal Allah, satu-satunya Dzat yang berhak diberikan segala bentuk ibadah. Ayat 1 sampai ayat 4 mengajak kita untuk mengenal-Nya.

Ayat 1

Aku atau kami memulai segala sesuatu yang baik dengan nama Allah taโ€™ala, satu-satunya yang berhak diibadahi, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sayid Quthb berkata:

ูˆุงู„ุจุฏุก ุจุงุณู… ุงู„ู„ู‡ ู‡ูˆ ุงู„ุฃุฏุจ ุงู„ุฐูŠ ุฃูˆุญู‰ ุงู„ู„ู‡ ู„ู†ุจูŠู‡- ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŠ ุฃูˆู„ ู…ุง ู†ุฒู„ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุจุงุชูุงู‚ุŒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ยซุงู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ุจูุงุณู’ู…ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ … ยป .. ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุชูู‚ ู…ุน ู‚ุงุนุฏุฉ ุงู„ุชุตูˆุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู…ู† ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ยซู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑู ูˆูŽุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุจุงุทูู†ูยป .. ูู‡ูˆ- ุณุจุญุงู†ู‡- ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุญู‚ ุงู„ุฐูŠ ูŠุณุชู…ุฏ ู…ู†ู‡ ูƒู„ู‘ู ู…ูˆุฌูˆุฏ ูˆุฌูˆุฏูŽู‡ุŒ ูˆูŠุจุฏุฃ ู…ู†ู‡ ูƒู„ ู…ุจุฏูˆุก ุจุฏุฃู‡. ูุจุงุณู…ู‡ ุฅุฐู† ูŠูƒูˆู† ูƒู„ ุงุจุชุฏุงุก. ูˆุจุงุณู…ู‡ ุฅุฐู† ุชูƒูˆู† ูƒู„ ุญุฑูƒุฉ ูˆูƒู„ ุงุชุฌุงู‡

Memulai dengan nama Allah adalah adab yang diwahyukan Allah kepada NabiNya โ€“ shallallahu โ€˜alaihi wasallam โ€“ di awal turunnya Al-Quran yang disepakati oleh para ulama yakni firman Allah: โ€œBacalah dengan nama Rabb-mu โ€ฆโ€ Dan ia sesuai dengan kaidah pemahaman keislaman yang agung bahwa sesungguhnya Allah โ€œDialah yang Awal, yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin..โ€ Dialah subhanahu wa taโ€™ala yang wujud dengan keberadaan yang haq dimana semua yang wujud bersumber dariNya. DariNya pula semua yang dimulai berawal, sehingga dengan namaNyalah hendaknya semua permulaan itu dilakukan, dan dengan namaNya pula hendaknya setiap gerakan dan orientasi (yang baik) diwujudkan. (Fi Zhilal Al-Quran, 1/21).

Ayat 2

Al-hamdu (segala puji) merupakan pembuka ungkapan syukur kepada Allah, oleh karenanya pantas ia dijadikan pembuka tilawah kitabNya. Al-hamdu juga penutup ungkapan syukur, sehingga ia juga menjadi penutup ucapan para penduduk surga:

ูˆูŽุขุฎูุฑู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุงู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ยดaalamin” (Yunus: 10)

Saat Allah menegaskan bahwa segala puji hanya milikNya, Ia menjelaskan alasannya yakni karena Dia adalah Rabb alam semesta, artinya bahwa hanya Allah saja yang memiliki, menciptakan, mengatur, memberi niโ€™mat kepada mereka dan yang sempurna kekayaanNya sedangkan seluruh alam semesta amat terrgantung kepadaNya.

Ayat 3

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setelah Allah memperkenalkan diriNya bahwa ia adalah Rabbul โ€˜alamin, Ia memperkenalkan juga bahwa Ia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim untuk menjelaskan bahwa kekuasaanNya atas seluruh alam semesta, penciptaan, pengaturan dan pemberian rizkiNya didasari semata oleh kasih sayangNya kepada mereka, bukan karena Dia menghendaki manfaat dari mereka untuk diriNya. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan.

Oleh karenanya Dia berfirman di ayat yang lain:

ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู ู…ูŽุง ุฃูุฑููŠุฏู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฑูุฒู’ู‚ู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุทู’ุนูู…ููˆู†ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฒู‘ูŽุงู‚ู ุฐููˆ ุงู„ู’ู‚ููˆู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุชููŠู†ู

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat: 56-58).

Selain itu, Al-Qurthubi berkata:

ูˆูŽุตูŽููŽ ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุฏูŽ” ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ”ุŒ ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู “ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู”ุŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงุชู‘ูุตูŽุงููู‡ู ุจู€ู” ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ” ุชูŽุฑู’ู‡ููŠุจูŒ ู‚ูŽุฑูŽู†ูŽู‡ู ุจูู€” ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู”ุŒ ู„ูู…ูŽุง ุชูŽุถูŽู…ู‘ูŽู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุฑู’ุบููŠุจูุŒ ู„ููŠูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽ ูููŠ ุตูููŽุงุชูู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽู‡ู’ุจูŽุฉู ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุบู’ุจูŽุฉู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽูŠูŽูƒููˆู†ู ุฃูŽุนู’ูˆูŽู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุทูŽุงุนูŽุชูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ู’ู†ูŽุนูŽุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ:” ู†ูŽุจู‘ูุฆู’ ุนูุจุงุฏููŠ ุฃูŽู†ู‘ููŠ ุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุบูŽูููˆุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุฐุงุจููŠ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฐุงุจู ุงู„ู’ุฃูŽู„ููŠู…ู”

Allah menerangkan tentang diriNya setelah โ€œRabbul โ€˜alaminโ€ bahwa sesungguhnya Dia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim, karena pada sifatNya sebagai Rabbul alamin terdapat tarhib (penanaman rasa gentar), maka Dia menyandingkan dengan sifat Rahman & Rahim yang mengandung targhib (penumbuhan rasa harap), agar bergabung dalam sifat-sifatNya rasa gentar hamba terhadapNya dan rasa harap kepadaNya sekaligus, sehingga akan lebih membantu ketaatan kepadaNya dan lebih mencegah dari bermaksiat kepadaNya, seperti firmanNya:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50). (Tafsir Al-Qurthubi, 1/139).

Ayat 4

Pemilik (Raja) hari pembalasan

Jika sifat Rabbul โ€˜Alamin secara lahiriah menunjukkan permulaan penciptaan makhluk dan proses pemeliharaan mereka, maka sifat โ€œPemilik (Raja) hari pembalasanโ€ menunjukkan akhir seluruh makhluk dan pengadilan dan pembalasan atas amal perbuatan mereka. Disamping itu ia menunjukkan kekuasaan dan kepemilikanNya yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, bahwa Dia adalah satu-satunya Penguasa dan Pemilik di awal dan akhir, di alam dunia dan akhirat, tak ada sekutu bagiNya.

Ayat ini juga untuk menegaskan bahwa kasih sayangNya kepada hambaNya jangan sampai membuat lupa mereka tentang mentalitas masuliyyah (bertanggung jawab) atas segala pilihan keyakinan & perbuatan mereka di dunia. Juga untuk mengingatkan mereka bahwa jika perbuatan mereka tidak dibalas dengan semestinya di dunia karena kezaliman atau ketidakadilan manusia yang berkuasa, masih ada keadilan hakiki di akhirat kelak yang tak ada satupun yang luput darinya.

… ูˆูŽุญูŽุดูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽู…ู’ ู†ูุบูŽุงุฏูุฑู’ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง (47) ูˆูŽุนูุฑูุถููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุตูŽูู‘ู‹ุง ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูุฆู’ุชูู…ููˆู†ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู ุจูŽู„ู’ ุฒูŽุนูŽู…ู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู„ู‘ูŽู†ู’ ู†ูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆู’ุนูุฏู‹ุง (48) ูˆูŽูˆูุถูุนูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ููŽุชูŽุฑูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุฌู’ุฑูู…ููŠู†ูŽ ู…ูุดู’ููู‚ููŠู†ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูููŠู‡ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ูŠูŽุงูˆูŽูŠู’ู„ูŽุชูŽู†ูŽุง ู…ูŽุงู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ู„ูŽุง ูŠูุบูŽุงุฏูุฑู ุตูŽุบููŠุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู‹ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุญู’ุตูŽุงู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุฌูŽุฏููˆุง ู…ูŽุง ุนูŽู…ูู„ููˆุง ุญูŽุงุถูุฑู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุธู’ู„ูู…ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง (49)

dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al-Kahfi: 47-49).

Sub Tema 2: Jalan ibadah yang benar

Barangsiapa yang mengenal Allah dengan sifat-sifat seperti dijelaskan oleh ayat 1 sampai ayat 4, maka akal sehat dan kejernihan hatinya pasti akan mengantarkannya kepada satu kesimpulan yang pasti bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi (tauhid & ikhlas). Namun untuk memastikan bahwa kita beribadah dengan benar kita memerlukan petunjuk dari Allah tentang jalan ibadah itu sendiri berupa tata cara dan contoh yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya telah mendapat petunjuk itu.
Bersambung โ€ฆ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Fiqih Dakwah (Bag. 1)

๐Ÿ“ Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Definisi

โœ”Secara bahasa Ad Daโ€™wah – ุงู„ุฏุนูˆุฉ adalah:

โ—€ย ย ย  ุงู„ู†ุฏุงุก :
seruan, panggilan
โ—€ุงู„ุฏุนุงุก :
permohonan, permintaan
โ—€ย ย ย  ุงู„ุทู„ุจ :
tuntutan.
(Lengkapnya Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 20/319-321)

โœ” Secara istilah adalah:

ุฏุนูˆุฉ ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆ ุงู„ู…ูˆุนุธุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ุญุชู‰ ูŠูƒูุฑูˆุง ุจุงู„ุทุงุบูˆุช ูˆ ูŠุคู…ู†ูˆุง ุจุงู„ู„ู‡ ูˆ ูŠุฎุฑุฌูˆุง ู…ู† ุฌุงู‡ู„ูŠุฉ ุงู„ู‰ ู†ูˆุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู…

“Seruan manusia menuju (agama) Allah dengan cara hikmah dan memberikan pelajaran yang baik sampai manusia ingkar terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, dan keluar dari jahiliyah menuju cahaya Islam”

Hukumnya

Para ulama sepakat bahwa daโ€™wah adalah fardhu (wajib), hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut:

ย ูˆูŽู„ู’ุชูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽูŠูŽู†ู’ู‡ูŽูˆู’ู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู’ ุถูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูŽุจููŠู„ูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏููŠู†ูŽ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125)

Tetapi, para ulama berbeda tentang kewajibannya itu fardhu โ€˜ain atau kifayah? Imam Ibnu Katsir berpendapat daโ€™wah adalah fardhu โ€˜ain, ketika Beliau menjelaskan surat Ali โ€˜Imran 104: wal takun minkum ummah โ€ฆ :

โœ โ€œMaksud ayat ini adalah bahwa hendaknya ada segolongan umat ini yang menjalankan tugas ini, walau pun kewajibannya adalah berlaku bagi tiap pribadi pada umat ini sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits Shahih Muslim dari Abu Hurairah,1) ย bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

โ€œBarang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.โ€

(Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 2/91. Dar Ath Thayibah)

Jadi, kata min -ู…ู† ย ย pada kata ู…ู†ูƒู… (minkum โ€“ di antara kalian) bukan berfungsi ุชุจุนูŠุถูŠุฉ ย ย ย – tabโ€™idhiyah (menyatakan sebagian), tetapi menyatakan ุชุฃูƒูŠุฏูŠุฉ ย ย ย – taโ€™kidiyah (penegasan). Sehingga artinya bukan bermakna โ€œhendaknya ada sebagian kalian ..โ€, tetapi bermakna โ€œhendaknya kalian ..!โ€ Pendapat ini juga diikuti oleh Al โ€˜Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Sementara, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah menyatakan bahwa daโ€™wah adalah fardhu kifayah, berikut ini perkataannya:

โœ โ€œPara ulama menjelaskan bahwa daโ€™wah adalah fardhu kifayah, yaitu pada sebuah daerah mesti ada aktifitas daโ€™wahnya para daโ€™i, walau pun aktifitas daโ€™wah dibutuhkan ย di setiap daerah dan wilayah namun dia adalah fardu kifayah yang jika sudah ada yang menjalankannya maka gugurlah kwajiban bagi yang lainnya, bagi yang lain itu menjadi sunah muakadah dan merupakan amal shalih yang agung.
Jika penduduk di sebuah wilayah belum ada yang menjalankan aktifitas daโ€™wah, maka semuanya berdosa, maka menjadi wajib bagi semuanya, dan seluruhnya wajib menjalankannya sesuai kekuatannya.โ€

(Syaikh Abdul โ€˜Aziz bin Abdullah bin Baaz, Ad Daโ€™wah Ilallah wa Akhlaqud Duโ€™aah, Hal. 15. ย Ri-asah Idarah Al Buhuts Al โ€˜Ilmiyah wal Iftaโ€™, 2002M-1423H. KSA)

Bagi yang ingin memperluas masalah hukum da’wah silahkan lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al Maidah ayat 105.

(Bersambung …. Insya Allah)

Notes:

1) Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Katsir. Dalam Shahih Muslim (No. 49) diriwayatkan dari Abu Saโ€™id Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu. Oleh karena itu Syaikh Ahmad Syakir menganggap ini merupakan wahm (keraguan) dari Imam Ibnu Katsir.

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa โ€˜Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa baโ€™d:

Shalatnya kaum laki-laki -yang sedang tidak ada โ€˜udzur syarโ€™i- di masjid sangat dianjurkan oleh syariat ini. Berdasarkan beberapa dalil-dalil berikut:

โ–ถ Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู‡ูŽู…ูŽู…ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุขู…ูุฑูŽ ุจูุญูŽุทูŽุจูุŒ ููŽูŠูุญู’ุทูŽุจูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุขู…ูุฑูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูุŒ ููŽูŠูุคูŽุฐู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุขู…ูุฑูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ููŽูŠูŽุคูู…ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูุฎูŽุงู„ูููŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูุฌูŽุงู„ูุŒ ููŽุฃูุญูŽุฑู‘ูู‚ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุจููŠููˆุชูŽู‡ูู…ู’

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, aku berkeinginan kuat memerintakan manusia untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu memerintahkan mereka untuk menyerukan adzan shalat, lalu memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia. Lalu aku datangi kaum laki-laki yang tidak ikut berjamaah lalu saya bakar rumah-rumah mereka. (HR. Al Bukhari No. 644)

โ–ถ Dari Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฅูู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ู‘ูŽู…ูŽู†ูŽุง ุณูู†ูŽู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุณูู†ูŽู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุคูŽุฐู‘ูŽู†ู ูููŠู‡ู

Sesungguhnya Rasulullah ๏ทบ telah mengajari kami sunah-sunah petunjuk, dan di antara sunah petunjuk itu adalah shalat di masjid yang sudah diserukan adzan di dalamnya. (HR. Muslim No. 654)

โ–ถ Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, dari Rasulullah ๏ทบ, katanya:

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูุฏูŽุงุกูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽุง ุตูŽู„ูŽุงุฉูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูุฐู’ุฑู

Barang siapa yang mendengarkan adzan lalu dia tidak mendatangi masjid (untuk berjamaah), maka tidak ada shalat baginya, kecuali bagi yang โ€˜udzur. (HR. Ibnu Majah No. 793, Dishahihkan olehย  Imam Al Hakim, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Adz Dzahabi,ย  Imam Abdul Haq, Syaikh Al Albani, dan sebagainya)

Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma menjelaskan yang dimaksud dengan โ€˜udzur adalah rasa takut atau sakit. (Lihat Sunan Abi Daud No. 551, Sunan Ad Daruquthni No. 1557, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 896, Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 486, dll)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits senada yang mendorong kita, khususnya kaum laki-laki, untuk shalat wajib secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu berbagai riwayat ini dipahami beragam oleh para imam kaum muslimin sejak masa salaf dan khalaf, bahwa berjamaahย  bersama kaum muslimin itu:

1 Berjamaah di masjid merupakan syarat sahnya shalat, alias tidak sah jika tidak berjamaah. Ini pendapat Imam Daud Azh Zhahiri dan yang mengikutinya. (Fathul Bari, 2/126), ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Majmuโ€™ Al Fatawa, 11/615), juga Imam Ibnu โ€˜Aqil Al Hambali. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/166)

2 Fardhu โ€˜ain, ini pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 1914, 1916), juga pendapat Athaโ€™, Al Auzaโ€™i,ย  Imam Ahmad, dan jamaah ahli hadits kalangan Syafiโ€™iyah seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. (Fathul Bari, Ibid). Juga pendapat yang dipilih oleh para ulama kerjaan Arab Saudi di Al Lajnah Ad Daimah.

3 Fardhu kifayah, ini pendapat Imam Asy Syafiโ€™i dan mayoritas Syafiโ€™iyah generasi terdahulu, dan kebanyakan Malikiyah dan Hanafiyah. (Ibid)

4 Sunnah Muakadah,ย  ini pendapat yang lebihย  resmi dari Hanafiyah, mayoritas Malikiyah, dan sebagian Syafiโ€™iyah. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165)

Jadi, kalau diperhatikan semua perbedaan ini, mayoritas ulama baik salaf dan khalaf menyatakan wajib berjamaah di masjid bersama kaum muslimin. (Majmuโ€™ Al Fatawa, 11/615) Maka, sebagai upaya keluar dari khilafiyah ini adalah sebaiknya tetap menjaga untuk berjamaah di masjid. Sehingga diperspektif pendapat mana pun posisi kita sebagai laki-laki tetap aman.

Makmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

Sebenarnya yang seperti ini tidak perlu terjadi seandainya orang tersebut mau menghormati tata krama shalat berjamaah, yaitu di masjid. Lain halnya jika jamaah membludak sehingga shaf pun melebar dan meluas sampai jalan-jalan dan rumah-rumah sekitar masjid, ini tidak masalah sebab masih adanya ketersambungan shaf, seperti yang kita lihat di sebagian masjidย  perumahan ketika shalat โ€˜Id misalnya.
Dari Maโ€™mar, dari Hisyam bin โ€˜Urwah, katanya:

ุฌูุฆู’ุชู ุฃูŽู†ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽุจููŠ ู…ูุฑู‘ูŽุฉูŽุŒ ููŽูˆูŽุฌูŽุฏู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ู‚ูŽุฏู ุงู…ู’ุชูŽู„ูŽุฃูŽุŒ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุจูุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูููŠ ุฏูŽุงุฑู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุทูŽุฑููŠู‚ูŒ

Aku dan Abu Murrah datang ke masjid, dan kami dapatkan masjid sudah penuh maka kami pun shalat (bersama imam di masjid) di rumah yang berada di samping masjid yang di antara keduanya dipisahkan oleh jalan. (Lihat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, No. 4885)

Namun, kasus yang terjadi adalah makmum seorang diri di rumahnya, alias berbeda gedung dengan masjid,ย  dan dia berimam kepada imam di masjid yang terpisah darinya, bahkan sudah terhalang dinding, jalan, bahkan mungkin parit/selokan. Sehingga dia tidak melihat gerakan imam, hanya mengandalkan suara imam saja. Ini bagaimana? Ada beberapa pendapat:

โœ”Pertama. Ini tidak sah. Inilah pendapat Umar bin Al Khathab, Hanafiyah, Syafiโ€™iyah, dan Hambaliyah. Ada beberapa alasan:

๏”ท Syarat sahnya makmum adalah dia mesti mengetahui gerak-gerik imam dan mendengar suaranya. Ini dikatakan Asy Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi dalam Ash Shalatu โ€˜Ala Madzahibil Arbaโ€™ah. Maka tidak sah pula berimam dengan imam yang ada di radio dan TV.

๏”ถ Terpisahnya makmum tersebut dengan imam, oleh adanya jalan, atau sungai, sehingga terputusnya shaf merupakan sebab tidak sahnya shalat baginya. (Kasyaaf Al Qinaaโ€™, 1/493), yang serupa dengan ini adalah seorang yang berjamaah di sebuah perahu sementara imamnya di perahu lainnya secara tidak berbarengan, maka ini juga tidak sah, sebab air adalah jalanan, bukan shaf yang besambung, kecuali jika darurat perang. (Ibid)

๏”ท Sebagian imam ada yang menyatakan batal shalat sendiri di belakang shaf, padahal dia masih di dalam masjid dan masih bisa masuk ke shaf, apalagi berjamaah dengan memisahkanย  diri di rumahnya yang jelas jauh dari jamaah. Imam Ahmad, Ishaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, Wakiโ€™, Hasan bin Shalih, Ibrahim An Nakhaโ€™i, Ibnul Mundzir, mereka mengatakan: โ€œBarang siapa yang shalat seorang diriย  satu rakaat sempurna di belakang shaf, maka batal shalatnya.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/244)

Mereka beralasan dengan hadits Wabishah bin Maโ€™bad:

ุณุฆู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุฑุฌู„ ุตู„ู‰ ุฎู„ู ุงู„ุตู ูˆุญุฏู‡ุŸ ูู‚ุงู„ (ูŠุนูŠุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ)

Rasulullah ๏ทบ ditanya tentang shalat seseorang sendirian di belakang shaf? Beliau menjawab: โ€œUlangi shalatnya.โ€ (HR. At Tirmdzi No. 230, katanya: hasan. Abu Daud No. 682, Ibnu Majah No. 1004, Ahmad No. 18002, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 18002. Juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

Untuk pembahasan shalat sendiri di belakang shaf ada kajian tersendiri, dan bukan di sini pembahasan detailnya. Insya Allah.

โœ” Pendapat kedua. Shalat maโ€™mum tetap sah tapi bersyarat. Ini pendapat Malikiyah yaitu dengan syarat maโ€™mum masih bisa melihat dan mendengarย  imam, ada pun larangan terputusnya shaf bagi Malikiyah berlaku untuk shalat Jumat, bukan shalat lainnya.ย  Sedangkan Imam Syafiโ€™i mensyaratkan jarak terpisahnya gedung tidak boleh lebih dari 300 dziraโ€™ (hasta), jika kurang dari itu maka tidak sah.

Diriwayatkan oleh Shalih bin Ibrahim:

ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุฃูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽุณูŽ ุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ูููŠ ุฏูŽุงุฑู ุญูู…ูŽูŠู’ุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจูุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ู…ูŽู„ููƒู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุทูŽุฑููŠู‚ูŒ

Bahwasanya dia melihat Anas bin Malik shalat Jumat di rumah Humaid bin Abdirrahman, yang menjadi imam adalah Al Walid bin Abdil Malik, dan di antara keduanya terpisahkan oleh jalan.ย  (Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4887)

Walau ini diperselisihkan, tetaplah shalat tersebut jika dalam keadaan tidak normal, jika dalam keadaan normal maka di masjid bersama imam dan kaum muslimin sepakat oleh semuanya untuk diikuti. Di sisi lain, hikmah berjamaah dan kebersamaan baru bisa kita rasakan dengan berjamaah di masjid, bukan memisahkan diri di rumah.

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pemilik Kurban Boleh Memakan Daging Kurbannya Sendiri

Bolehkah Makan Daging Qurban Lebih Dari 3 Hari?

๐Ÿ“ Pemateri: Dra. Indra Asih

Kesimpulan yang salah muncul ketika kita membaca hadits yang merupakan potongan hadits:

ู…ูŽู†ู’ ุถูŽุญู‘ูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ููŽู„ุงูŽ ูŠูุตู’ุจูุญูŽู†ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุซูŽุงู„ูุซูŽุฉู ูˆูŽููู‰ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽู‰ู’ุกูŒ

Siapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga. (HR. Bukhari).

Bagaimana cara yang benar bagi kita untuk memahami hadits ini?

Dan faktor kesalahan sebagian besar kita dalam hal ini bukan karena tidak berdalil dengan hadits shahih, melainkan karena kekurangan dalil alias hanya membaca satu dua dalil, itupun hanya sepotong-sepotong.

Kalau kita selami hadits di atas, kita dengan mudah akan menemukan jawabannya.

Larangan itu sifatnya sementara saja, dan kemudian larangan itu pun dihapus.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama atas dihapuskannya larangan ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar di dalam kitab Al-Istidzkar.

Memang benar bahwa di jalur riwayat dan versi yang lain, disebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahuanhu tidak mau memakan daging hewan udhiyah, bila sudah disimpan selama tiga hari.

ุนูŽู†ู’ ุณูŽุงู„ูู…ู ุนูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽย  ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูย  ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฃู’ูƒูู„ูŽ ู„ูุญููˆู’ู…ูŽ ุงู„ุฃูŽุถูŽุงุญููŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซู . ู‚ุงู„ ุณุงู„ู… : ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ู’ุจู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ู ู„ูุญููˆู’ู…ูŽ ุงู„ุฃูŽุถูŽุงุญููŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซู

Dari Salim dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW melarang kamu memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari. Salim berkata bahwa Ibnu Umar tidak memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari mengutip penjelasan Asy-Syafiโ€™i, beliau menyebutkan bahwa kemungkinan Ibnu Umar belum menerima hadits yang menasakh(menghapus) larangan itu.

Terusan dari hadits di atas adalah :

ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุจูู„ู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽูู’ุนูŽู„ู ูƒูŽู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุนูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุถูู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ูƒูู„ููˆุง ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูู…ููˆุง ูˆูŽุงุฏู‘ูŽุฎูุฑููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฌูŽู‡ู’ุฏูŒ ููŽุฃูŽุฑูŽุฏู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุชูุนููŠู†ููˆุง ูููŠู‡ูŽุง ยป

Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan,
โ€Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?โ€
Maka beliau menjawab, โ€(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah.
Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.โ€
(HR. Bukhari)

Jadi jelaslah bahwa kenapa Nabi SAW pada tahun sebelumnya melarang umat Islam menyimpan daging hewan udhiyah lebih dari tiga hari. Karena saat itu terjadi paceklik dan kelaparan dimana-mana. Beliau ingin para shahabat berbagi daging itu dengan orang-orang, maka beliau melarang mereka menyimpan daging agar daging-daging itu segera didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Tetapi tahun berikutnya, ketika mereka menyimpan daging lebih dari tiga hari, Rasulullah SAW membolehkan. Karena tidak ada paceklik yang mengharuskan mereka berbagi daging.

Hadits di atas juga dikuatkan dengan hadits lainnya, sebagai berikut :

ูƒูู†ู’ุชู ู†ูŽู‡ูŽูŠู’ุชููƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ู„ูุญููˆู…ู ุงู„ุฃูŽุถูŽุงุญูู‰ ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซู ู„ููŠูŽุชู‘ูŽุณูุนูŽ ุฐููˆ ุงู„ุทู‘ูŽูˆู’ู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุทูŽูˆู’ู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽูƒูู„ููˆุง ู…ูŽุง ุจูŽุฏูŽุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูู…ููˆุง ูˆูŽุงุฏู‘ูŽุฎูุฑููˆุง

โ€œDulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan.
Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.โ€
(HR. Tirmizi)

Jadi daging hewan qurban, hukumnya boleh dimakan kapan saja, selagi masih sehat untuk dimakan.

Apalagi sekarang di masa modern ini, sebagian umat Islam sudah ada yang mengkalengkan daging qurban ini, sehingga bisa bertahan cukup lama.

Karena sudah dikalengkan, mudah sekali untuk mendistribusikannya kemanapun, dengan tujuan untuk membantu saudara kita yang kelaparan, entah karena perang atau bencana alam.

Walau pun afdhalnya tetap lebih diutamakan untuk orang-orang yang lebih dekat, namun bukan berarti tidak boleh dikirim ke tempat yang jauh tapi lebih membutuhkan.

Jadi boleh saja memakan daging qurban, walau pun sudah tiga tahun yang lalu disembelihnya, yang penting belum melewati batas kadaluarsa.

Wallahu a’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Bagi Khatib Jumat

๐Ÿ“ Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

ุนูŽู†ู’ ุญูุตูŽูŠู’ู†ู ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽุงุฑูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุฑูุคูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฃูŽู‰ ุจูุดู’ุฑูŽ ุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุฑู’ูˆูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุจูŽุฑู ุฑูŽุงููุนู‹ุง ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุจู‘ูŽุญูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‡ูŽุงุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽุฒููŠุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุจูุฅูุตู’ุจูŽุนูู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณูŽุจู‘ูุญูŽุฉู

โ€œDari Hushain dari โ€˜Umarah bin Ruโ€™aibah (beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam , pent) ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Lalu ia (โ€˜Umarah) berkata: โ€œSemoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (saat berdoa dalam khutybahnya) tidak lebihย  dari mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.โ€ (HR. Muslim No 874)

Komentar ulama:

โœ” Kata Imam An Nawawi:

– Sunahnya ktka khutbah adalah tidak angkat kedua tangan, ini adalah pendapat Malik, Syafi’iyah, dll

– Al Qadhi ‘Iyadh mnceritakan dr sbagian salaf dan sebagian Malikiyah boleh mengangkat kdua tangan. alasannya Nabi pernah khutbah Jumat mngangkat kedua tangan juga saat itu beliau doa minta hujan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,ย  6/162)

โœ”Imam Ali Al Qari mwngatakan maksud raafi’an yadaih artinya mengangkat kedua tangan ketika ceramah/’indat takallam. (Mirqah Al Mafatih, 3/1049)

โœ” Sementara Ath Thayyibiyย  mengatakan maksud hadits di atas bukan berdoa ktka khutbah tapi angkat kedua tgn ketika khutbah utk menarik perhatian pendengar spy dengar. (‘Aunul Ma’bud, 3/319)

โœ”Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri mngatakan: makruh mengangkat kedua tangan dlm doa khutbah jumat atau utk mnarik prhatian pndengar. Yg boleh adlh dgn jari telunjuk, baik doa maupun menarik perhatian. (Mir’ah Al Mafatih, 4/511)

Notes:

-Haditsnya sama tp beda pahamnya: ada yg memakruhkan berdoa ktk khutbah dgn mngangkat kedua tgn , ada membolehkan, bhkan ada yg bilang bukan lagi mmbicarakan doa, tp mngangkat tgn ktka ceramah. So, mslh ini luas n mesti luwes.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

๐Ÿ“ Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marjaโ€™ย  (referensi) pokok bersama Al Quran.

Dari Al Qurโ€™an:

Ayat 1:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ูˆูŽุฃููˆู„ููŠ ุงู„ุฃู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนู’ุชูู…ู’ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฑูุฏู‘ููˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ุง

โ€œHai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnyaโ€ (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari โ€˜Atha, bahwa ayat โ€˜Taatlah kepada Allah dan Rasulโ€™ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Athiโ€™uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

Ayat kedua:

ููŽู„ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุญูŽูƒู‘ูู…ููˆูƒูŽ ูููŠู…ูŽุง ุดูŽุฌูŽุฑูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌูุฏููˆุง ูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุญูŽุฑูŽุฌู‹ุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุถูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

ูŠูู‚ู’ุณูู…ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุจูู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู…ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูู‚ูŽุฏู‘ูŽุณูŽุฉู: ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุญูŽูƒู… ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑูุŒ ููŽู…ูŽุง ุญูŽูƒูŽู…ูŽ ุจูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ูุงู†ู’ู‚ููŠูŽุงุฏู ู„ูŽู‡ู ุจูŽุงุทูู†ู‹ุง ูˆูŽุธูŽุงู‡ูุฑู‹ุงุ› ูˆูŽู„ูู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ: {ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌูุฏููˆุง ูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุญูŽุฑูŽุฌู‹ุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุถูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง} ุฃูŽูŠู’: ุฅูุฐูŽุง ุญูŽูƒู‘ูŽู…ููˆูƒูŽ ูŠูุทููŠุนููˆู†ูŽูƒูŽ ูููŠ ุจูŽูˆูŽุงุทูู†ูู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌูุฏููˆู†ูŽ ูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุญูŽุฑูŽุฌู‹ุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุญูŽูƒูŽู…ู’ุชูŽ ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽู†ู’ู‚ูŽุงุฏููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู ููŽูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ููˆู†ูŽ ู„ูุฐูŽู„ููƒูŽ ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง ูƒูู„ู‘ููŠู‘ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูู…ูŽุงู†ูุนูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูุฏูŽุงููุนูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูู†ูŽุงุฒูุนูŽุฉูุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู: “ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ู ุชูŽุจูŽุนู‹ุง ู„ูู…ูŽุง ุฌูุฆู’ุชู ุจูู‡ู”

Allah ๏ทป bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ๏ทบ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baikย  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (โ€œkemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnyaโ€) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: โ€œDemi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.โ€ (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 2/349)

Ayat ketiga:

ู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุทูŽุงุนูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ

โ€œBarangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…โ€ (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

ูŠุฎุจุฑ ุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุฃู†ู‡ ู…ู† ุฃุทุงุนู‡ ูู‚ุฏ ุฃุทุงุน ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู…ู† ุนุตุงู‡ ูู‚ุฏ ุนุตู‰ ุงู„ู„ู‡ุŒูˆู…ุง ุฐุงูƒ ุฅู„ุง ู„ุฃู†ู‡ ู…ุง ูŠู†ุทู‚ ุนู† ุงู„ู‡ูˆู‰ุŒ ุฅู† ู‡ูˆ ุฅู„ุง ูˆุญูŠ ูŠูˆุญู‰

Allah Taโ€™ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678