Zakat

Zakat Rumah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya sesuatu terkait zakat. Baru2 ini kami menjual rumah Krn mau pindah keluar kota. apakah dari hasil penjualan rumah tsb ada zakat yg harus kami tunaikan ustd?
Klo ada berapa % besarannya?

Ini rumah baru selesai dibangun, rencana mau kita tempati. Tp karena mutasi tempat kerja, maka kami jual.
Bisa disamakan dg rumah tinggal ustd.
(Nb.selama ini kami masih kontrak rumah)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika itu rumah yg biasa kita tempati, maka tdk ada zakat saat menjualnya. Beda halnya jika kita profesinya jual beli rumah, maka kena zakat perniagaan.

Rumah yang rencana ditempatkan, atau sdh ditempatkan.. Intinya itu rumah bukan rumah produktif yg menghasilkan harta seperti disewakan atau jual beli rumah

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah mengatakan tentang batasan barang dagangan:

ولو اشترى شيئًا للقنية كسيارة ليركبها، ناويًا أنه إن وجد ربحًا باعها، لم يعد ذلك مال تجارة بخلاف ما لو كان يشتري سيارات ليتاجر فيها ويربح منها، فإذا ركب سيارة منها واستعملها لنفسه حتى يجد الربح المطلوب فيها فيبيعها، فإن استعماله لها لا يخرجها عن التجارة، إذ العبرة في النية بما هو الأصل، فما كان الأصل فيه الاقتناء والاستعمال الشخصي: لم يجعله للتجارة مجرد رغبته في البيع إذا وجد ربحًا، وما كان الأصل فيه الاتجار والبيع: لم يخرجه عن التجارة طروء استعماله. أما إذا نوى تحويل عرض تجاري معين إلى استعماله الشخصي، فتكفي هذه النية عند جمهور الفقهاء لإخراجه من مال التجارة، وإدخاله في المقتنيات الشخصية غير النامية

Seandainya seseorang membeli sesuatu untuk dipakai sendiri seperti mobil yang akan dikendarainya, dengan niat apabila mendatangkan keuntungan nanti dia akan menjualnya, maka itu juga bukan termasuk barang tijarah (artinya tidak wajib zakat ). Hal ini berbeda dengan jika seseorang membeli beberapa buah mobil memang untuk dijual dan mengambil keuntungan darinya, lalu jika dia mengendarai dan menggunakan mobil itu untuk dirinya, dia menemukan adanya keuntungan dan menjualnya, maka apa yang dilakukannya yaitu memakai kendaraan itu tidaklah mengeluarkan status barang itu sebagai barang perniagaan. Jadi, yang jadi prinsip adalah niatnya. Jika membeli barang untuk dipakai sendiri, dia tidak meniatkan untuk menjual dan mencari keuntungan, maka hal itu tidak merubahnya menjadi barang tijarah walau pun akhirnya dia menjualnya dan mendapat keuntungan. Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat merubah barang dagangan menjadi barang yang dia pakai sendiri, maka niat itu sudah cukup menurut pendapat mayoritas fuqaha (ahli fiqih) untuk mengeluarkan statusnya sebagai barang dagangan, dan masuk ke dalam kategori milik pribadi yang tidak berkembang. (Fiqhuz Zakah, 1/290)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sutrah

Shalat Batal Karena Cewek Lewat Di Hadapan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… afwan mau bertanya tentang satu hadits yang redaksinya mengatakan bahwa sholat kita bisa batal jika ada wanita melewati sutroh sholat kita.
nah wanita itu apakah anak-anak yang belum baligh juga termasuk yang bisa membatalkan ya Ustadz?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ قُلْتُ يَا أَبَا ذَرٍّ مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنْ الْكَلْبِ الْأَحْمَرِ مِنْ الْكَلْبِ الْأَصْفَرِ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ

“Apabila salah seorang dari kalian hendak shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya yang berbentuk seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, apabila di hadapannya tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Dzarr, apa perbedaan anjing hitam dari anjing merah dan kuning? Dia menjawab, ‘Aku pernah pula menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, ‘Anjing hitam itu setan’.”
(HR. Muslim No. 510)

Hadits di atas menyebut “terputus shalatnya”, apakah itu berarti batal shalatnya?

Tidak. Menurut mayoritas ulama maknanya adalah hilangnya kesempurnaan khusyu, karena hati menjadi sibuk.

Hal ini diterangkan oleh Imam An Nawawi Rahimahullah berikut ini:

وَقَالَ مَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ وَجُمْهُور الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف: لَا تَبْطُل الصَّلَاة بِمُرُورِ شَيْء مِنْ هَؤُلَاءِ وَلَا مِنْ غَيْرهمْ، وَتَأَوَّلَ هَؤُلَاءِ هَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِالْقَطْعِ نَقْص الصَّلَاة لِشُغْلِ الْقَلْب بِهَذِهِ الْأَشْيَاء، وَلَيْسَ الْمُرَاد إِبْطَالهَا

Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhum, dan mayoritas ulama salaf dan khalaf, mengatakan bahwa shalat TIDAKLAH BATAL dengan lewatnya semua itu dan yang lainnya. Mereka mengartikan makna terputus shalat adalah berkurang nya shalat karena sibuknya hati gara-gara hal-hal tersebut, bukan bermakna batal shalatnya.
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/227)

Dalil yang memperkuat bahwa itu bukan bermakna batal adalah sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَأَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاس بِمِنًى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku hampir baligh dan Rasulullah ﷺ shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.” (HR. Muslim No. 504)

Ada pun untuk perempuan, hal itu dibantah langsung oleh Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Beliau pernah tiduran di depan Rasulullah ﷺ dan aaat itu Rasulullah ﷺ sedang shalat.

Berikut ini dalilnya:

عَنْ عَائِشَةَ
ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ

Dari ‘Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, “Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi ﷺ shalat sedangkan aku berbaring di atas ranjang antara beliau dan arah kiblatnya. Sampai ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi ﷺ terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau.”
(HR. Bukhari no. 514)

Imam al Bukhari, mencantumkan hadits ini dalam bab: MAN QAALA LAA YAQTHA’USH SHALAH SYAI’UN (Orang yang berpendapat tidaklah shalat terputus oleh suatu apa pun).

Maka, kesimpulan lewatnya wanita, keledai, anjing, atau lainnya di hadapan orang shalat bukanlah penyebab batalnya shalat. Itulah pendapat mayoritas ulama.

Ada pun Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

يقطعها الْكَلْب الْأَسْوَد، وَفِي قَلْبِي مِنْ الْحِمَار وَالْمَرْأَة شَيْء

Untung anjing hitam bisa membatalkan shalat, tapi untuk keledai dan wanita, di hatiku ada ganjalan.
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/227)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sabar

Ridho Terhadap Ujian

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya pernah dengar kalau tidak khilaf bahwa setiap hamba Allah yang mendapat ujian dari Allah baik ybs ridho atau tidak ridho akan mendapat kemulian di sisi Allah, tentunya tergantung ybs kalau dia ridho tentunya kemuliaannya akan lebih tinggi tingkatannya begitu sebaliknya.
Yang ingin saya tanyakan apakah ini benar ustadz trims wassalam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Tidak seperti itu, haditsnya seperti ini:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah Ta’ala cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka (tidak ridha) maka baginya kemurkaan Allah.

(HR. At Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Imam at Tirmidzi berkata: hasan)

Maka, jika seseorang mendapat ujian lalu dia tidak ridha baik diekspresikan secara kasar seperti mengutuk keadaan, memaki takdir, atau dengan cara pasif seperti kebencian, maka orang-orang seperti ini mendapatkan murkanya Allah Ta’ala. Kemuliaan hanya bagi mereka yang tulus dan ikhlas terhadap takdirNya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Gelorakan Spirit Santri; Mempelajari Ilmu Agama

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tanggal 22 Oktober ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Santri nasional. Ini tentu saja memberikan makna bahwa peran para ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipungkiri dan seharusnya kita kenang..

Karena memang sejarah mencatat dengan jelas bagaimana para ulama dan santrinya, bukan hanya berjasa pada bangsa ini dalam menyebarkan ilmu, khusunya ilmu agama di tengah masyarakat, tapi mereka pun ikut angkat senjata bersama berbagai elemen masyarakat lainnya dalam perjuangan melawan penjajah.

Karenanya hari Santri ditetapkan berdasarkan tanggal dikeluarkannya resolusi jihad oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, rahimahullah, yaitu pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Penjajah sudah sekian lama meninggalkan negeri kita. Perjuangan bersenjata mengusir penjajah sudah tidak berlaku lagi. Namun kiprah dan spirit santri tidak boleh hilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Spirit utama dalam kehidupan santri adalah spirit dalam mempelajari ilmu agama. Maka sejatinya, hari santri yang diperingati ini bukan hanya berlaku untuk kalangan santri saja, tapi untuk mengingatkan kaum muslimin agar memiliki mental santri, yaitu orang yang selalu termotivasi dan semangat untuk selalu mempelajari dan memahami agamanya.

Sebab, masalah mempelajari agama, jangankan dalam kondisi normal, dalam kondisi perang sekalipun, Al-Quran mengingatkan kita untuk tidak meninggalkannya.

Allah Taala berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Hal ini tak lain karena nilai-nilai agama sangat dibutuhakn oleh seorang muslim, bukan hanya terkait dengan praktek ibadah sehari-hari, tapi lebih dari itu sangat dibutuhkan untuk menjadi pedoman dan pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik ruang lingkup individu, keluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Nah, menghadirkan nilai-nilai agama dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama itu sendiri.

Karena itu kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala.

Kita sangat bersyukur jika kita dapati pada masa sekarang ini kemudahan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Di masjid-masjid, sekolah dan kampus, perkantoran dan tempat lainnya, banyak diselenggarakan kajian-kajian keislaman. Sehingga kita tidak kesulitan untuk mendapatkan kebaikan di dalamnya. Hal inipun dapat kita tambah dengan kesempatan mendalami ilmu agama lewat membaca buku-buku keislaman, atau tayangan kajian di televisi dan di dunia maya.

Tinggal yang kita butuhkan adalah kesadaran dan kemauan untuk melakukannya. Kesadaran bahwa mempelajari agama pada hakekatnya bukan hanya kewajiban ulama, ustaz atau kalangan santri saja, tapi kewajiban sekaligus kebutuhan setiap muslim, siapapun dia, apapun kedudukannya. Semakin dini kesadaran ini dimiliki, semakin mendorong kemauan untuk mempelajari agama. Semakin dini seseorang belajar agama, semakin banyak kebaikan yang akan didapatkan insyaAllah.

Mempelajari agama semakin tampak kita butuhkan, ketika kita sadari bahwa tantangan yang ada sekarang ini semakin kompleks. Tidak cukup kita hanya mengandalkan kepandaian semata atau kekuatan materi dan fisik semata. Sangat dibutuhkan kekuatan mental yang berbasis pada kekuatan iman dan pemahaman agama yang baik.

Maka dari sini akan kita dapatkan bahwa mempelajari ilmu agama berdampak erat pada kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, semangat jihad yang sudah diwariskan dari para ulama dan santri di masa-masa perjuangan bangsa ini, dapat kita warisi dan tetap kita lanjutkan, di antaranya dengan bersemangat membekali diri kita dengan pemahaman yang terhadap ajaran Islam melauli majelis-majelis ilmu yang dapat kita hadiri.

Hal ini sesuai dengan semangat yang digelorakan oleh Rasulullah saw, bahwa siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka pada hakekatnya dia sedang keluar di jalan Allah.

مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ، كان في سَبيلِ اللَّهِ حَتَّى يرجِعَ

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali. (HR. Tirmizi)

Karena itu, di hari santri ini, selain kita diingatkan untuk mengenang jasa para ulama dan para santri yang telah berjasa memperjuangkan negeri ini merebut kemerdekaan dari penjajah, hendaknya di sisi lain menjadi pengingat dan motivasi kuat bagi kita sesama anak bangsa yang beragama Islam untuk jangan malas dan terus bersemangat menangkap spirit kaum santri, yaitu semangat belajar ilmu agama. Semakin tinggi kesadaran ini muncul di tengah masyarakat, insyaAllah akan semakin baik dan semakin mendatangkan keberkahan dari Allah Talaa.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم….

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Utang Kepada Pihak Ketiga/Paylater

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dr grup Manis, Ingin bertanya seputar hutang.

Jadi, kami pernah kekurangan dana untuk beli tiket pesawat. Dan ada teman yang menawarkan pinjaman untuk beli tiket pesawat.
Setelah itu, beliau meminta data kami dan memesankan tiket pesawat.
Tanpa diduga, ternyata beliau menggunakan Paylater utk memesankan tiket kami. Dengan kata lain, beliau bukan meminjamkan uangnya kepada kami. Tapi dia membantu meminjamkan kepada pihak ke-3. Dan harus lunas bulan depan, karena kami memang berjanji di awal untuk melunaskan biaya tiket pesawat itu bulan depan. Karena tiket itu dibayar bulan depan, ada biaya administrasi yang dikenakan sebab dibayar dengan menggunakan kartu kredit. Dan di sini kami juga terkejut.
Singkat cerita, kami batal berangkat karena PPKM. Tiket yang kami pesan juga dibatalkan dan akan direfund. Tapi ternyata, uang harus ditransfer ke Paylater, tetap harus dilunasi jika tidak ada denda sebesar 5% yang ditambahkan. Padahal kami tidak jadi berangkat dan tiket juga batal dibeli.
Jadi ustadz, bagaimana sikap kami?
Apakah tetap membayar hutang itu kepada teman kami atau kami berlepas saja? Karena dari awal, kami tidak tahu menahu kalau beliau menggunakan pihak ke-3.

A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1. Utang terhadap pihak ketiga atau paylater tetap harus dibayar, walaupun menggunakan skema ribawi. Kecuali jika paylater itu merelakan haknya untuk tidak dibayar, atau dibayar sekedar pokoknya saja.

2. Selanjutnya dari mana sumber pembayaran.
Itu menjadi negosisasi antara bapak/ibu (yang bertanya) dengan teman yang awalnya berniat untuk meminjamkan langsung.

3. Sebagai pelajaran.
Sebelum bertransaksi, termasuk peminjam dipastikan terlebih dahulu, siapa yang meminjam, berapa nominalnya, kepada siapa harus jelas sedari awal.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sabar

KELELAHAN YANG DIRINDUKAN

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Bisa jadi, anak yang selama ini merepotkan kita dengan tangisan rewelnya di setiap malam hingga membuat kita lelah adalah tangisan indah yang kita rindukan di saat tua.

Mungkin saja, suara teriakan bising yang terjadi antara kakak dan adik saat sedang rebutan mainan, akan menjadi teriakan indah yang kita harapkan saat tubuh kita ringkih dan gigi tinggal dua.

Ada masanya kelak kita kan menangis, meratapi kondisi rumah yang nampak rapi, bersih tanpa coretan, gak berantakan, wangi, tenang tanpa teriakan. Seraya meratap pilu,

“Dulu, sering ada tumpahan air di ruangan ini. Dulu, ada anak-anak yang lari berkejaran sambil teriak histeris di rumah ini. Dulu, ada suara keributan kakak adik berebut mainan di sini. Dulu, ada yang corat-coret tembok membuat rumah tampak kusam. Dulu, ada kertas-kertas berserakan dan bekas krayon yang berhamburan.
Dulu..
Dulu..
Dulu..”
kemudian kita pun hanya bisa menangis sesenggukan 😭😭

Kita tersadar. Bahwa semua yang menyebalkan dahulu adalah kenangan manis di saat kita tua. Semua rewelan anak dahulu serasa lantunan indah yang paling berharga.

Sekiranya waktu bisa berulang maka kita ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa penuh drama, masa-masa emosi berwarna warni, masa-masa kelelahan. Inilah masa-masa yang kita rindukan dan kita tangisi. Saat anak-anak masih mau merepotkan kita. Saat anak-anak masih rewel membutuhkan kita. Saat kita selalu diperebutkan oleh mereka.

Dan begitu mereka dewasa. Sudah mengenal dunia yang berbeda.
Kita tersadar, kita bukan lagi satu-satunya dunia mereka. Mereka punya teman, organisasi, hobby, pekerjaan dan obsesi yang membuat mereka sibuk. Dan kita sekadar tempat transit bagi jiwa mereka.

Teringat nasehat Syaikh Al Munawi:

لا يعرف قدرها الا بعد زوالها

Kita tak tau berharganya sesuatu kecuali setelah hilangnya sesuatu tersebut

Maka, bersyukurlah bagi kita yang saat ini masih merasakan kelelahan itu. Jangan buru-buru menyudahinya. Nikmati….Hayati…. Tersenyumlah.
Gak lama lagi. Ya, gak lama lagi. Kita akan segera kehilangan. Jangan marah, jangan kesal dengan ulah mereka. Mereka hanya ingin menorehkan kenangan indah dalam hidup kita. Kenangan yang akan selalu kita rindukan hingga nyawa lepas dari raga

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Membaca Al Qur’an Hanya Di Hati

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, mohon penjelasannya ap boleh kita pd waktu sholat/tilawah membaca alqur’an dngn cra dihati..mulut tidak bergerak.pd saat itu bru sakit gigi…jazakallah atas penjelasannya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Baca surah hendaknya dilafazkan walau lirih saja, sebab tidak dikatakan tilawah jika tidak dilafazkan..

Membaca Al Qur’an dihati, belum dikatakan “tilawah”. Kecuali membaca satu ayat di sebuah buku pelajaran, majalah, dalam rangka merenungkannya .. tidak apa-apa.

Imam Al Kasani Rahimahullah berkata:

القراءة لا تكون إلا بتحريك اللسان بالحروف ، ألا ترى أن المصلي القادر على القراءة إذا لم يحرك لسانه بالحروف لا تجوز صلاته

Membaca Al Qur’an tidaklah terwujud kecuali dengan menggerakkan lisan terhadap hurufnya, apakah Anda tidak melihat orang yang shalat jika tidak menggerakkan lisannya terhadap huruf-huruf maka shalatnya tidak diperbolehkan.

(Bada’iy Shana’iy, 4/118)

Imam Malik Rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang shalat namun bacaannya tidak terdengar oleh orang lain dan dirinya. Beliau menjawab:

ليست هذه قراءة ، وإنما القراءة ما حرك له اللسان

Ini bukanlah membaca Al Qur’an, membaca itu hanyalah bagi yg menggerakkan lisannya.

(Imam Ibnu Rusyd, Al Bayan wat Tahshil, 1/490)

Dalam Mawahib Al Jalil disebutkan:

لا يجوز إسرار من غير حركة لسانه لأنه إذا لم يحرك لسانه لم يقرأ وإنما فكر..

Tidak boleh menyembunyikan bacaan tanpa menggerakkan lisannya, sebab jika tanpa menggerakkan lisannya maka itu bukan membaca namanya, itu hanyalah merenung.. (Imam Al Hathab, 1/317)

Jadi, saran saya gerakkan bibir, bacalah sesuai tajwid, minimal di dengar untuk diri sendiri.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menilai Secara Menyeluruh

MENILAI SECARA UTUH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Pada tahun 2 H, tim kecil dipimpin Abdullah bin Jahsy yg ditugaskan Rasulullah saw kontak senjata dgn kaum kafir Quraisy. Seorang kafir Quraisy tewas. Perisitiwa itu terjadi di bulan haram; bulan Rajab. Sontak orang kafir Quraisy bangun opini, Rasulullah saw melakukan tindakan “radikalime” dan “terorisme” di bulan haram yg mereka muliakan.

Opini terbentuk, kaum muslimin galau, sebab mereka pun diajarkan Rasulullah saw utk menghormati bulan haram, di antaranya dilarang membunuh. Mereka bertanya2. Bagaimana ini?

Maka Allah turunkan wahyu yg menjelaskan bahwa perbuatan sahabat tsb memang sebuah pelanggaran dan dosa besar. Tapi kaum kafir Quraisy jangan merasa paling benar dan suci, justeru pelanggaran dan dosa mereka lebih besar, karena mereka mencegah orang dari jalan Allah dan bahkan mengusirnya, dan peristiwa pembunuhan tersebut tak lepas dari tindakan zalim mereka thd orang beriman. (perhatikan tafsir surat Al-Baqarah 217 dalam berbagai kitab tafsir rujukan)

=======

Pada tahun 17-18 H, masa kekhalifahan Umar bin Khatab radhiallahu anhu terjadi musim paceklik yg sangat parah. Dikenal sebagai Aam Ar-Ramadah atau Aam Al-Majaah. Di antara eksesnya, banyak rakyat kecil yang mencuri. Diriwayatkan bhw Umar bin Khatab saat itu tdk lantas menjatuhkan hukum kepada mereka mempertimbangkan latar belakang perbuatan tersebut.

=======

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdulaziz, gubernur Khurasan; Al-Jarrah bin Abdullah, mengirim surat ke khalifah. Dia minta izin kepada khalifah untuk menggunakan kekuatan senjata untuk menghadapi penduduk Khurasan yang dia anggap susah diatur, karena dia menganggap bhw penduduk Khurasan hanya dapat diatur dengan kekuatan senjata.

Alih2 sang khalifah mensupport sang gubernur untuk menghadapi rakyatnya dengan kekuatan senjata, hal mana jika terjadi di masa sekarang mungkin mereka akan dituduh; Intoleran, radikal, teroris, khawarij, anjing neraka, dsb. Beliau justeru menegur sang gubernur dgn berkata,

“Saya sudah terima suratmu yang menyatakan bahwa penduduk Khurasan tidak dapat diatasi kecuali dengan cambuk dan pedang. Engkau dusta!! Mereka dapat diperbaiki dengan keadilan dan menegakkan kebenaran. Bentangkan hal itu di hadapan mereka!!” (Tarikhul Khulafa; As-Suyuthi)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Zina Itu Utang?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya…Berkaitan dengan ini…

🍃🍀🍂

Zina Itu Hutang
Boleh jadi keluarga atau keturunanmu yang akan membayar dengan maksiat yang sama.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

بروا آباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف نساؤكم

“Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan menjadi anak-anak yang berbakti. Hindari zina, sehingga niscaya istrimu tidak akan berzina.”
(HR. Thabarani).

🍃🍀🍂

Bagaimana caranya memutus azab yang timbul krna dosa zina ini kepada keturunan dan keluarganya? Pelaku sudah bertaubat. Apakah ada kafarat atau amalan yang harus dilakukan, supaya dosanya tidak berlanjut kepada keluarga dan keturunannya? Mohon penjelasan.

A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama hadits tsb diperdebatkan para ulama. Ada yang menyatakan shahih ada yang menyatakan dhaif.

Kalaupun dinyatakan shahih, maka maksudnya adalah bahwa prilaku yang dilakukan seseorang, dapat ditiru oleh keluarganya. Jadi sifatnya adalah kemungkinan yang akan terjadi. Jadi sifatnya bukan sebagai hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga, akan tetapi dapat menimbulkan pengaruh atau contoh buruk yang diikuti kuarganya. Itupun tidak mutlak terjadi sifatnya.

Adapun jika seseorang sudah bertaubat dan berusaha memperbaiki dirinya lalu dia mendidik keluarganya dengan baik serta berusaha menjauhkannya dari zina, maka itu sudah cukup, tidak perlu dihantui perasaan bahwa suatu kali nanti keluarganya akan menlmbayar dengan maksiat yang sama. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menyisir dari Kanan

Serial Adab Di Tubuh Manusia : Adab Di Rambut

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Islam adalah agama yg konprehensif (menyeluruh), tidak ada yg luput dari perhatiannya. Di antaranya adalah tentang sederet adab atau etika dalam perilaku manusia. Di antara adab itu adalah adab kepada diri sendiri, mulai dari ujung kepala ke using kaki. Kita akan bahas secara cicil di antara adab-adab tersebut.

1⃣ Adab Di Rambut

Ada beberapa adab, di antaranya:

1. Menutupnya bagi kaum wanita

Ini hukumnya wajib secara umum,sebab itu aurat,khususnya lagi saat di hadapan laki-laki yang bukan mahram,saat shalat dan ihram.Kewajiban ini termasuk al ma’lum mind din bidh dharurah yaitu hal yang kewajibaannya telah pasti dan tanpa perdebatan.

ستر العورة واجب بإجماع المسلمين

Menutup aurat adalah wajib berdasarkan ijma’ kaum muslimin. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5128)

Ini juga berlaku bagi wanita tua,Allah Ta’ala berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. An-Nur, Ayat 60)

Maksud ayat ini bukan bolehnya membuka jilbab bagi wanita tua, Imam Al Jashash Rahimahullah menjelaskan:

لا خلاف في أن شعر العجوز عورة لا يجوز للأجنبي النظر إليه كشعر الشابة , وأنها إن صلت مكشوفة الرأس كانت كالشابة في فساد صلاتها , فغير جائز أن يكون المراد وضع الخمار بحضرة الأجنبي . إنما أباح للعجوز وضع ردائها بين يدي الرجال بعد أن تكون مغطاة الرأس , وأباح لها بذلك كشف وجهها ويدها ; لأنها لا تشتهى

Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa rambut wanita tua (nenek-nenek) adalah aurat, tidak boleh laki-laki bukan mahramnya melihatnya sebagaimana kepada wanita muda.

Dia pun jika shalat kelihatan rambutnya maka shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Maka TIDAK BOLEH memaksudkannya dengan menanggalkan Khimar (kerudungan) dihadapan laki-laki bukan mahramnya.

Sesungguhnya dibolehkannya dibuka dihadapan laki-laki bukan mahram adalah tangannya dan wajahnya, sedangkan kepalanya tetap tertutup. Karena dia tidak lagi bersyahwat. (Ahkamul Quran, 3/485)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:

فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ..

Maka, mereka (para wanita tua) boleh membuka wajahnya jika aman dari bahaya, baik bahaya karenanya dan bahaya atas dirinya.. (Tafsir As Sa’diy, Hal. 670)

2⃣ Memakai peci atau surban

Ini juga adab bagi kaum laki-laki, sebagian mengatakan sunnah, apalagi di saat shalat. Sedangkan model peci adalah hal yang luwes dan fleksibel, masing-masing negeri muslim ada modelnya sendiri, ini tidak masalah.Ini bagian dari “berhias” bagi kaum laki-laki, namun hal ini kadang berbeda di masing-masing tempat dan zaman.

Dalam Al Mausu’ah disebutkan sunnahnya memakai penutup kepala:

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل ، بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ، لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَذَلِكَ يُصَلِّي

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih tentang kesunnahan menutup kepala ketika shalat bagi laki-laki baik dengan surban atau yang semakna dengan itu karena begitulah shalatnya Nabi Shallallahu “Alaihi wa Sallam.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 22/5)

Fatwa Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (mantan Mufti Mesir), Beliau ditanya tentang orang yang shalat tanpa menutup kepala baik imam, makmum, atau shalat sendiri, bolehkah?

تغطية الرأس فى الصلاة لم يرد فيها حديث صحيح يدعو إليها ، ولذلك ترك العرف تقديرها ، فإن كان من المتعارف عليه أن تكون تغطية الرأس من الآداب العامة كانت مندوبة فى الصلاة نزولا على حكم العرف فيما لم يرد فيه نص ، وإن كان العرف غير ذلك فلا حرج فى كشف الرأس”;ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Menutup kepala ketika shalat, tidak ada hadits shahih yang menganjurkannya. Hal itu hanyalah meninggalkan kebiasaan saja. Jika telah dikenal secara baik bahwa menutup kepala merupakan adab secara umum, maka hal itu dianjurkan dalam shalat sebagai konsekuensi hukum Al ‘Urf [tradisi] terhadap apa-apa yang tidak memiliki dalil syara’. Jika tradisinya adalah selain itu (yaitu tidak menutup), maka tidak mengapa membuka kepala. “Apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka di sisi Allah itu juga baik.” (Fatawa Al Azhar, 9/107)

Sedangkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan makruh tanpa penutup kepala saat shalat bagi kaum laki-laki, sebagaimana tertera dalam Al Fatawa Al Kubra -nya.

3. Meminyaki Rambut

Banyak riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminyaki rambutnya, bahkan janggutnya.

Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ  دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dia bersuci sebersih bersihnya, dia memakai minyak rambut, atau memakai minyak wangi yang ada di rumahnya, lalu dia keluar menuju masjid tanpa membelah barisan di antara dua orang, kemudian dia shalat sebagaimana dia diperintahkan, lalu dia diam ketika imam berkhutbah, melainkan  akan diampuni sejauh hari itu dan Jumat yang lainnya.

(HR.Bukhari no. 883)

Rabi’ah bin Abdurrahman  Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

فَرَأَيْتُ شَعَرًا مِنْ شَعَرِهِ، فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ

Aku melihat rambut di antara rambut-rambut nabi, jika warnanya menjadi merah maka aku bertanya lalu dijawab: merah karena minyak.

(HR.Bukhari no. 3547)

Simak bercerita, bahwa   Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

كَانَ إِذَا ادَّهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ، وَإِذَا لَمْ يُدَّهَنْ رُئِيَ مِنْهُ

Dahulu jika Beliau melumasi dengan minyak ubannya tidak terlihat, dan jika tidak memakai minyak maka ubannya terlihat. **(HR.Muslim no. 2344)**

Jabir bin Samurah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ، وَكَانَ إِذَا ادَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ، وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ، وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai memutih rambut bagian depan kepalanya dan jenggotnya, jika dia melumasi dengan minyak  ubannya tidak terlihat jelas, jika sudah mengering rambutnya  ubannya terlihat, dan  Beliau memiliki jenggot yang lebat.

(HR.Muslim No. 2344, An Nasa’i No. 5114)

Maka, anjuran memakai minyak rambut merupakan sunah, baik secara fi’iliyah dan qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wallahu A’lam

4. Tarajjul (Menyisir Rambut)

Ini adalah salah satu cara memuliakan rambut. Bukan karena ganjen atau genit, tapi mengikuti perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وأنا حائض

Aku menyisir kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat itu aku sedang haid. 1)

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga bercerita:

إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Jika beliau i’tikaf, Beliau mencondongkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisirnya, dan Beliau tidaklah masuk ke rumah (ketika i’tikaf) kecuali jika ada kebutuhan manusiawi. 2)

Inilah sunah fi’liyah yang nabi lakukan, yaitu menyisir dan menata rambut. Tetapi, NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah melakukannya sering-sering seperti wanita pesolek.

Oleh karena itu, dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نَهَى رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menyisir kecuali jarang-jarang. 3)

Menyisir disunahkan dari kanan. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Beliau melakukan semua  kebaikan memulainya dari kanan (at tayammun) . Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai memulai sesuatu dari kanan: memakai sendal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya. 4)

Al Hafizh Ibnu Hajar Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

وترجله أي ترجيل شعره وهو تسريحه ودهنه

Tarajjulihi  yaitu merapikan rambutnya, dengan menata dan meminyakinya. 5)

Wallahu A’lam


🌴🌴🌴🌴

[1] HR. At Tirmidzi, Asy Syamail, No. 25. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih. Lihat Mukhtashar Asy  Syamail No. 25
[2] HR. Muslim No. 297
[3] HR. Abu Daud No. 4159, At Tirmidzi No. 1756, juga  Asy Syamail, No. 29, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 16793. Syaikh Syu’Aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad AhmadNo. 16793
[4] HR. Bukhari No. 168
[5] Fathul Bari, 1/269

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678