Vectorized Old Radio

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi ligula quam, dictum faucibus lorem a, euismod feugiat ante. Nunc ornare aliquet blandit. In ullamcorper aliquet ipsum, sit amet sagittis justo consectetur in.

Nulla vel bibendum enim. Praesent ipsum velit, suscipit eu consequat eget, volutpat non neque. Morbi lorem tellus, dapibus quis imperdiet nec, imperdiet vitae elit. Quisque vel dictum velit. Suspendisse potenti.

Pellentesque habitant morbi tristique

senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Suspendisse quam lorem, euismod ut sollicitudin ut, lobortis eget mi. Suspendisse condimentum augue sit amet ornare faucibus.

Nam libero augue, luctus nec odio et, faucibus volutpat sem. Mauris non sapien quam. Mauris egestas sapien at fringilla aliquam. Vestibulum placerat lorem et ullamcorper semper. Nunc vitae feugiat diam.

Keutamaan Tukang Bersih Masjid​

Bismillah wal Hamdulillah …

Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​ sangat menghormati orang yang membersihkan masjid.

Abu Hurairah ​Radhiyallahu ‘Anhu​ bercerita:

أن رجلاً أسود أو امرأة سوداء كان يقم المسجد فمات فسأل النبي صلى الله عليه وسلم عنه فقالوا مات قال أفلا كنتم آذنتموني به ؟ دلوني على قبره أو قال قبرها فأتى قبرها فصلى عليها

Ada seorang laki-laki atau wanita hitam yang suka membersihkan masjid, dan dia wafat. Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ bertanya kepada para sahabat tentang keberadaannya. Para sahabat menjawab: “Dia telah wafat.”

Maka Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam berkata: “Kenapa kalian tidak memberitahu aku kematiannya? Tunjukkan kepada aku di mana kuburnya.” Maka, Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam mendatangi kuburnya dan shalat di atasnya (shalat jenazah). ​(HR. Bukhari No. 458 dan Mualim No. 956)​

Aisyah ​Radhiyallahu ‘Anha​ berkata:

أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم ببناء المساجد في الدُّور وأن تنظف وتطيب

Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ memerintahkan membangun masjid di berbagai negeri, membersihkan dan memberikan wewangian. ​(HR. Abu Dawud No. 455, At Tirmidzi No. 594, Shahih)​

Dari Abu Sa’id Al Khudri ​Radhiyallahu ‘Anhu​ bahwa Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ bersabda:

مَنْ أَخْرَجَ أَذًى مِنْ الْمَسْجِدِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

​”Barangsiapa mengeluarkan kotoran dari dalam masjid, maka Allah akan membuatkan baginya rumah di surga.”​ ​(HR. Ibnu Majah No. 749, dhaif)​

Imam Al Munawi ​Rahimahullah​ berkata:

نجس أو طاهر كدم وزرق طير ومخاط وبصاق وتراب وحجر وقمامة ونحوها من كل ما يقذره (بنى الله له بيتا في الجنة) وفي بعض الروايات إن ذلك مهور الحور العين

Yaitu membersihkan mesjid dari najis, atau darah, tahi burung, ingus, ludah, tanah, batu, sampah, dan semisalnya, yg mengotori masjid (maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga) dalam riwayat lain itu sebagai mahar bagi bidadari di surga. ​(Faidhul Qadir, 6/43)​

Demikian. Wallahu a’lam

Ziarah untuk Doa Minta Hajat

Assalamualaikum ustadz/ah.. Gini di desa saya banyak masyarakat yg sering pergi ziarah ke makam syeikh , dg niat untuk keperluan duniawi, kaya biar rezeki nya lancar dll. Kegiatanya disana tahlilan kemudian memanjatkan doa kpd Allah apa yg menjadi hajatnya. Bagaimana tadz hukumnya?
Mohon dijawab. #a38

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

Sebagian ulama salaf berkata bahwa mereka ini (Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) adalah orang sholih di masa Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, orang-orang beri’tikaf (berdiam) di kubur mereka. Selanjutnya, dibuatlah patung-patung mereka lalu disembah. Kalau ada yang melakukan ziarah seperti ini ke kubur, maka termasuk ziarah yang tidak ada tuntunan. Ajaran seperti ini termasuk ajaran Nashrani dan orang musyrik. Jika maksud penziarah kubur adalah ingin agar do’anya mustajab di sisi kubur, atau ia berdo’a meminta pada mayit, atau ia beristighatsah pada mayit, ia meminta dan bersumpah atas nama mayit pada Allah dalam menyelesaikan urusan dan kesulitannya, ini semua termasuk amalan yang tidak dituntunkan oleh Nabi saw dan tidak dilakukan oleh para sahabat. Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 27: 31.

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلَا يُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ عِنْدَهُ وَلَا قَصْدُهُ لِلدُّعَاءِ عِنْدَهُ أَوْ بِهِ ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كَانَتْ مِنْ أَسْبَابِ الشِّرْكِ وَعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ

“Para ulama sepakat tidak dianjurkan shalat di sisi kubur, tidak pula berdo’a di sisi kubur atau berdo’a lewat perantaraan kubur. Karena seluruh hal ini adalah perantara pada syirik dan sebab penyembahan kepada watsn (segala sesuatu yang disembah selain Allah). ” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 31).

Hal ini menunjukkan terlarangnya berdo’a di kubur wali, habaib atau orang sholih. Namun yang dibolehkan adalah mendo’akan kebaikan untuk si mayit seperti yang Nabi saw ajarkan ketika kita ziarah kubur dan tetap menghadap kiblat. Do’a yang dimaksud adalah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ) وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 975).

Adapun jika do’anya menjadikan mayit sebagai perantara, ini adalah amalan yang menjadi perantara menuju syirik.

Wallahu a’lam.

Minum Air Saat Khathib Sedang Khutbah

▪Hukum minum air saat khathib sedang khutbah diperselisihkan ulama.

▪Berikut ini keterangannya:

فالشرب أثناء الخطبة كرهه بعض أهل العلم إذا ترتب عليه صوت لأنه فعل يشبه مس الحصا الذي يعتبر من اللغو، وقال بعض أهل العلم لا بأس به إذا اشتد العطش لحصول عدم الخشوع حينئذ، وراجعي الفتوى رقم: 50299. وهذا إذا كان الشراب بجانب الشخص، أما الخروج لطلبه أثناء الخطبة فالأمر فيه أشد لما فيه من الانشغال عن سماع الخطبة خصوصا إذا انضاف إلى ذلك قطع الصفوف وتخطى رقاب الناس، ولا يخفى ما في ذلك من الأذية لهم.

“Minum saat khathib khutbah adalah makruh menurut sebagian ulama, jika sampai memunculkan suara sebab itu menyerupai memainkan krikil yang dikategorikan sebagai perbuatan sia-sia.”

“Ulama lain mengatakan tidak apa-apa jika memang sangat haus yang keadaan itu dapat menghilangkan kekhusyu’an saat itu.”

“Itu jika minumannya ada pada dirinya, ada pun jika dia keluar mencari air maka ini lebih parah lagi, dia akan sibuk dari mendengar khutbah, dan berjalan memutuskan shaf dan melangkah diantara pundak manusia, tidak ragu lagi ini mengganggu.” (selesai)

▪Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan dalam Al Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:

يستحب للقوم ان يقبلوا على الخطيب مستمعين ولا يشتغلوا بغيره حتى قال اصحابنا يكره لهم شرب الماء للتلذذ ولا بأس يشربه للعطش للقوم والخطيب
هذا مذهبنا قال ابن المنذر رخص في الشرب طاوس ومجاهد والشافعي ونهي عنه مالك والاوزاعي واحمد وقال الاوزاعي تبطل الجمعة إذا شرب والامام يخطب واختار ابن المنذر الجواز قال ولا اعلم حجة لمن منعه قال العبدرى قول الاوزاعي مخالف للاجماع

“Disukai bagi jamaah menghadapkan dirinya kepada khathib dan mendengarkannya dan janganlah sibuk dengan selainnya. Sampai-sampai sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah) menyatakan makruhnya minum air untuk berlezat-lezat, tapi tidak apa-apa jika karena harus baik untuk jamaah dan khathib. Inilah madzhab kami.

▪Ibnul Mundzir mengatakan: “Thawus, Mujahid, Syafi’iy, telah memberikan keringanan tentang minum.

©Semetara Al-Auza’i, Malik, Ahmad, melarangnya.

▪Al-Auza’i mengatakan batal shalat Jumatnya kalau dia minum air saat khathib berkhutbah.

©Imam Ibnul Mundzir sendiri memilih BOLEH. Beliau berkata: “Aku tidak ketahui adanya hujjah yang melarangnya.”

©Al-‘Abdari berkata: “Pendapat Al Auza’i (yaitu batal shalat Jumatnya), telah menyelisihi Ijma’.”

(Selesai dari Iman An Nawawi Rahimahullah)

® Jadi, Jika benar-benar haus tidak apa-apa. Jika bisa ditahan sebaiknya tidak usah.

Wallahu a’lam

Batas Akhir Sholat Isya'


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ustadz, bagaimana batas akhir sholat isya?
Apakah sampai jam 12 malam ataukah sampai sebelum adzan subuh?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Dianjurkan mengakhirkan shalat Isya hingga hampir setengah malam, dan ini menjadi kekhususan bagi Isya saja. Hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun tidak selalu dia lakukan khawatir memberatkan umatnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى ثُمَّ قَالَ قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوا أَمَا إِنَّكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوهَا

Dari Anas bin Malik, dia berkata: ​Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam, lalu dia shalat, kemudian bersabda: “Manusia telah shalat dan tertidur, ada pun sesungguhnya kalian tetap dinilai dalam keadaan shalat selama kalian masih menunggu waktunya.”​
[1]

Dalam hadits lain:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي

Dari ‘Aisyah, dia berkata: ​Pada suatu malam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammengakhirkan shalat Isya sampai hilang sebagian besar malam, dan sampai para jamaah yang di masjid tertidur, lalu Beliau keluar lalu shalat, lalu bersabda: “Sesungguhnya inilah waktu shalat Isya, seandainya tidak memberatkan umatku.”​ [2]

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah
berkata:

وكلها تدل على استحباب التأخير وأفضليته، وأن النبي صلى الله عليه وسلم ترك المواظبة عليه لما فيه من المشقة على المصلين، وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يلاحظ أحوال المؤتمين، فأحيانا يعجل وأحيانا يؤخر.

​Semua hadits ini menunjukkan sunah dan keutamaan mengakhirkan shalat isya. Walau pun demikian nabi tidak melakukannya terus menerus, khawatir memberatkan umatnya. NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu memperhatikan kondisi kaum mu’minin, maka kadangkala dia menyegerakan, kadangkala dia mengakhirkan.”​ [3]

Imam An Nawawi Rahimahullah
berkata:

وَقَوْله فِي رِوَايَة عَائِشَة : ( ذَهَبَ عَامَّة اللَّيْل ) أَيْ كَثِير مِنْهُ ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَكْثَره ، وَلَا بُدّ مِنْ هَذَا التَّأْوِيل لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ لَوَقْتُهَا ، وَلَا يَجُوز أَنْ يَكُون الْمُرَاد بِهَذَا الْقَوْل مَا بَعْد نِصْف اللَّيْل ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَقُلْ أَحَد مِنْ الْعُلَمَاء : إِنَّ تَأْخِيرهَا إِلَى مَا بَعْد نِصْف اللَّيْل أَفْضَل . قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقّ عَلَى أُمَّتِي ) مَعْنَاهُ : إِنَّهُ لَوَقْتُهَا الْمُخْتَار أَوْ الْأَفْضَل فَفِيهِ تَفْضِيل تَأْخِيرهَا ، وَأَنَّ الْغَالِب كَانَ تَقْدِيمهَا ، وَإِنَّمَا قَدَّمَهَا لِلْمَشَقَّةِ فِي تَأْخِيرهَا

Hadits riwayat ‘Aisyah ini: (hilang sebagian besar malam) yaitu kebanyakan dari waktu malam, namun bukan berarti sebagian besarnya, dan harus mengartikannya demikian karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya inilah waktu shalat Isya.” ​​Tidak boleh mengartikan ucapan beliau bahwa waktu yang dimaksud adalah setelah tengah malam, dan tidak ada satu pun ulama yang mengatakan demikian; yakni mengakhirkan shalat Isya setelah tengah malam adalah lebih utama​.​

Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: (“Sesungguhnya inilah waktu shalat Isya, seandainya tidak memberatkan umatku.”) maknanya adalah bahwa itu adalah waktu yang diunggulkan atau paling utama, maka di dalamnya ada keutamaan mengakhirkannya. Sesungguhnya kebiasaannya adalah menyegerakannya, hal itu hanyalah karena adanya kesulitan dalam mengakhirkannya.” [4]

​Jadi, batasan akhirnya adalah tidak melewati tengah malam.​ Kecuali bagi yang tertidur dan baru bangun setelahnya, ini pengecualian.

Hanya saja di zaman ini, jika kita mengambil sunnah ta’khir isya, maka kita akan kehilangan sunnah lain yaitu berjamaah di masjid. Sebab, jam-jam seperti itu biasanya sudah tidak ada orang di masjid, atau masjid sudah ditutup, kecuali Masjidul Haram dan Masjid Nabawi, yang biasanya manusia ramai 24 jam. Padahal shalat Isya berjamaah bersama manusia di masjid, dinilai seperti shalat setengah malam.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu, “ Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل ومن صلى الصبح في جم

اعة فكأنما صلى الليل كله

Barang siapa yang shalat Isya berjamaah maka seolah dia shalat setengah malam, dan barang siapa yang shalat subuh berjamaah maka seolah dia shalat sepanjang malam. [5]

🌿🌿🌿🌿

[1] HR. Bukhari, Kitab Mawaqit Ash Shalah Bab Waqtul ‘Isya Ila Nishfil lail, No hadits. 538
[2] HR. Muslim, Al Masajid wa Mawadhi’ ash Shalah Bab Waqtul ‘Isya wa Ta’khiruha, no. 345
[3] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1 Hal. 103
[4] Imam An Nawawi, Syarh An Nawawi ‘Ala Muslim, No.1009
[5] HR. Muslim No. 656, Bab Fadhl Shalah Al ‘Isya wa Ash Shubh fi Jamaa’ah

Wallahu a’lam.

Suamiku Puber Kedua?

Assalaamu’alaikum ustadz/ah mau bertanya lagi apakah ada ujian di umur 40 tahun? Sebelum nya seseorang itu bisa di katakan sholeh, baik, tetapi setelah usia 40 tahun mulai menunjukkan keburukan akhlak dalam berumah tangga seperti selingkuh atau berzina? Mohon jawaban nya

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Pada dasarnya setiap orang beriman pasti akan diuji Allah untuk melihat kadar keimanannya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tiak diuji? (Surat Al-Ankabut 2)

Oleh karena itu ujian pasti akan dihadapi oleh semua orang beriman.

Menurut pendapat para pakar, puber kedua pasti akan dialami oleh seluruh pria. Dalam buku Menyikapi Tingkah Laku Suami karya Muhammad Abdul Ghoffar, disebutkan bahwa puber kedua pria terjadi pada usia 35 – 45 tahun. Sedangkan menurut banyak referensi lain, puber kedua pria terjadi pada usia kisaran 40 tahun. Hampir sama. Dan ini mengingatkan kita pada firman Allah yang secara khusus memberi perhatian pada usia 40 tahun sebagai usia dewasa.

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat mengerjakan amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” (QS. Al Ahqaf: 15)

Lalu bagaimana sikap seorang istri menghadapi suaminya yang demikian?

Untuk istri, sebaiknya melakukan komunikasi yang intens dengan suaminya yang sedang memasuki tahap puber kedua tersebut. Jika diperlukan, buatlah komitmen kesepakatan untuk tidak melakukan hal-hal tertentu.

Jika memang ternyata suami sudah terlanjur bertindak melenceng terlalu jauh, ada baiknya pasangan tersebut pergi mencari pertolongan profesional, baik melalui psikolog, ustadz, terapis, keluarga, maupun mediator lain.

Ada cara lain yang dapat ditempuh, yaitu dengan mengarahkan suami melampiaskan ke arah positif seperti olahraga, atau hal lain yang lebih produktif. Bisa juga dengan ikut kursus keterampilan atau menggali peluang berbisnis.

Pada dasarnya saat memasuki masa puber, seseorang ingin dikenal dan diakui. Sebab, ini adalah masa-masa produktif. Nah, daripada diakui untuk hal-hal yang negatif, kenapa tidak melakukan sesuatu yang lebih produktif dan membawa dampak positif?

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (30)​

📕 ​Bab Sabar – Air Mata Kasih Sayang​

​Hadits:​

وعن أبي زَيدٍ أُسَامَةَ بنِ زيدِ بنِ حارثةَ مَوْلَى رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – وحِبِّه وابنِ حبِّه رضي اللهُ عنهما ،

قَالَ : أرْسَلَتْ بنْتُ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – إنَّ ابْني قَد احْتُضِرَ فَاشْهَدنَا ، فَأَرْسَلَ يُقْرىءُ السَّلامَ ،

ويقُولُ : إنَّ لله مَا أخَذَ وَلَهُ مَا أعطَى وَكُلُّ شَيءٍ عِندَهُ بِأجَلٍ مُسَمًّى فَلتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

فَأَرسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيهِ لَيَأتِينَّهَا . فقامَ وَمَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ ، وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابتٍ ، وَرجَالٌ – رضي الله عنهم – ، فَرُفعَ إِلَى رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – الصَّبيُّ ، فَأقْعَدَهُ في حِجْرِهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ ، فَفَاضَتْ عَينَاهُ فَقالَ سَعدٌ : يَا رسولَ الله ، مَا هَذَا ؟

فَقالَ : هذِهِ رَحمَةٌ جَعَلَها اللهُ تَعَالَى في قُلُوبِ عِبَادِهِ

وفي رواية : فِي قُلُوبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ ، وَإِنَّما يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبادِهِ الرُّحَماءَ

مُتَّفَقٌ عَلَيهِ . وَمَعنَى تَقَعْقَعُ : تَتَحرَّكُ وتَضْطَربُ .

​Artinya:​

​Dari Abu Zaid, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang yang dimerdekakan Rasulullah SAW. serta yang di kasihinya serta putera kekasihnya pula radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:​

​”Puteri Nabi SAW. mengirimkan utusan kepada Nabi SAW. -bahwa anak laki-laki sudah hampir meninggal dunia, maka dari itu diminta supaya menyaksikan keadaan kami.” _yakni yang akan meninggal serta yang sedang menungguinya.​

​Beliau lalu mengirimkan utusan sambil menyampaikan salam, katanya:​

​”Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil dan bagiNya pula apa yang Dia berikan dan segala sesuatu di sampingnya itu adalah dengan ajal yang telah ditentukan, maka hendaklah bersabar dan berniat mencari keredhaan Allah.”​

​Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan utusan lagi serta bersumpah kepadanya supaya beliau suka mendatanginya, dengan sungguh-sungguh.​

​Beliau s.a.w. lalu berdiri dan disertai oleh Sa’ad bin Ubadah, Mu’az bin Jabal, Ubai bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lelaki lain radhiallahu ‘anhum.​

​Anak kecil itu lalu diberikan kepada Rasulullah s.a.w., kemudian diletakkannya di atas pangkuannya sedang nafas anak itu terengah-engah. Kemudian melelehlah airmata dari kedua mata beliau s.a.w. itu.​

​Sa’ad berkata: “Hai Rasulullah, apakah itu?”​

​Beliau s.a.w. menjawab: “Airmata ini adalah sebagai kasih sayang dari kerahmatan Allah Ta’ala dalam hati para hambaNya.”​

​Dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam hati siapa saja yang disukai olehNya daripada hambaNya. Hanya saja Allah itu merahmati dari golongan hamba-hambaNya yakni orang-orang yang menaruh belas kasihan – pada sesamanya.”​

​(Muttafaq ‘alaih)​

​Makna Taqa’qa’u ialah bergerak dan bergoncang keras (berdebar-debar).​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

 Download mp3 kajian 

Segala Sesuatu di Dunia Tidak Ada yang Kebetulan


Assalamualaikum…Ustadz Ustadzah, tolong dijelaskan tentang segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kebetulan.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Secara global apa yang terjadi di dunia ini sudah Allah Ta’ala tentukan. Hal ini bisa bisa kita pahami melalui dalil-dalil berikut.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan :

Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara :

​📗 menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.​

Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. ​(HR. Bukhari dan Muslim)​

Menurut hadits ini, ajal, rezeki, perbuatan, susah, senang. Sudah ada yang menentukan yaitu Allah Ta’ala. Bukan hanya ini tentunya tapi peristiwa peristiwa yg dialami manusia juga demikian.

Tapi, Allah Ta’ala juga menciptakan KEHENDAK kepada manusia. Yg dengan kehendak itu manusia punya kekuatan untuk berikhtiar (memilih).

Maka, disebutkan dalam Al Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sebuah kaum sampai kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS. Ar Ra’du: 11)

Dengan demikian, apa yang terjadi di dunia. Ada dua macam;

1. Taqdim mubram, yaitu ketetapan yg tidak bs diubah.

Seperti misal: kematian, jenis kelamin, dan datangnya kiamat.

2. Taqdim mualaq, yaitu takdir yg terwujud bisa dinego oleh usaha manusia juga.

Seperti: bagaimana matinya kita bisa berupaya dan berdoa Husnul khatimah, Rezeki walau udah ada jatahnya tapi manusia yg berusaha meraih jatahnya, prestasi belajar. Dst

Inilah Ahlus Sunnah wal jamaah.

Bukan jabbariyah, yg menolak kehendak manusia. Bagi mereka hanya Allah saja.

Bukan qadariyah, yg menolak kehendak Allah. Bagi mereka hanya manusia saja.

Sedangkan Ahlus Sunnah wal jamaah mengakui bahwa secara umum semuanya sudah Allah tentukan tapi Allah berkehendak agar manusia menggunakan kehendaknya sendiri yg mana kehendak itu merupakan bagian dari ciptaanNya atas makhluknya.

Wallahu a’lam.

Berperang dengan Kendala itu Biasa, Bertahan Begitu Lama itu Luar Biasa​

Secara geografik, kekhilafahan Turki Utsmani berperang pada suatu teater operasi militer di Palestina dengan berbagai kendala operasional, antara lain:

🎯 1. Penduduknya terdiri dari berbagai tipe bangsa Arab, Maronit, Kristen, Yahudi Zionis, Armenia, Kurdi, serta Badawi,

🎯 2. Sebagian besar penduduknya buta huruf dan tidak mampu berbahasa Turki,

🎯 3. Secara umum wilayah ini tidak memiliki infrastruktur transportasi yang memadai kecuali satu jalur rel kereta-api menuju Madinah,

🎯 4. Iklimnya sangat panas, wilayah bagian selatan selalu harus mengimpor makanan, tidak memiliki infrastruktur industri sama sekali, serta sulit mendapatkan sumber air tawar,

🎯 5. Terdapat banyak situs relijius lagi sakral yang dianggap penting dalam Islam, Kristen, dan Yahudi.

Kelima kendala ini menuntut perhatian yang seimbang dari ketiga Komandan Operasional di teater ini; Cemal Paşa, Erich von Falkenhayn, dan Otto Liman von Sanders. Padahal, balatentara Turki Utsmani yang relatif “miskin” dibandingkan dengan balatentara Britannia.

Agung Waspodo #2 Jakarta, 13 September 2017

Shalat Di Antara Tiang-Tiang


اَلسَّــلاَمُ عَـلَـيْـكُمْ وَرَحْـمَـةُ اللَّهِ وَبَـرَكَاتُـهُ
Ustad, bagaimana hukum nya apabila di dlm masjid ada tiang2 penyanggan yg besar, apakah syaf sholat syah apabila ada tiang?
Mohon pencerahannya

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Telah datang larangan mmbuat shaf jamaah di antara dua tiang.

Dari Muawiyah bin Qurrah, dari ayahnya, sia berkata:

كُنَّا نُنْهَى أَنْ نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُطْرَدُ عَنْهَا طَرْدًا

Dulu pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kami dilarang membuat shaf di antara dua tiang, dan kami benar-benar menjauhinya. (HR. Ibnu Majah No. 1002, shahih)

Abdul Hamid bin Mahmud berkata:

صَلَّيْنَا خَلْفَ أَمِيرٍ مِنْ الْأُمَرَاءِ ، فَاضْطَرَّنَا النَّاسُ فَصَلَّيْنَا بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ ، فَلَمَّا صَلَّيْنَا قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ : (كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) 

Kami shalat dibelakang gubernur, orang-orang mendesak kami sampai kami shalat di antara dua tiang. Ketika kami selesai shalat, Anas bin Malik berkata:

“Dulu kami menghindari ini (dua tiang) pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. At Tirmidzi No. 229, shahih)

Sehingga, para ulama memakruhkan membuat shaf berjamaah di antara tiang-tiang sebab itu memutuskan shaf.

Imam Ibnu Muflih Rahimahullah berkata:

وَيُكْرَهُ لِلْمَأْمُومِ الْوُقُوفُ بَيْنَ السَّوَارِي , قَالَ أَحْمَدُ : لِأَنَّهَا تَقْطَعُ الصَّفّ

Dimakruhkan bagi makmum diberdiri (shalat) di antara tiang. Ahmad berkata: karena itu memutuskan shaf. (Al Furu, 2/39)

Demikianlah dasarnya. Tapi, jika ada hajat seperti masjid yang sempit atau jamaah yang membludak, sehingga mau tidak mau mereka berada di antara tiang, maka itu tidak apa-apa.

Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah berkata:

يكره الوقوف بين السواري إذا قطعن الصفوف ، إلا في حالة ضيق المسجد وكثرة المصلين

Dimakruhkan berdiri (shalat) di antara tiang sebab itu memutuskan shaf, kecuali dalam keadaan sempitnya masjid dan banyaknya jamaah shalat. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 5/295)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata:

الصف بين السواري جائز إذا ضاق المسجد ، حكاه بعض العلماء إجماعاً ، وأما عند السعة ففيه خلاف ، والصحيح : أنه منهي عنه ؛ لأنه يؤدي إلى انقطاع الصف

Shaf di antara tiang adalah boleh jika masjidnya sempit, diceritakan sebagian ulama adanya ijma’ atas hal itu. Ada pun pada masjid luas maka ada perselisihan di dalamnya. ​Yang benar adalah itu terlarang karena itu dapat memutuskan shaf.​ (Selesai)

Wallahu a’lam.