Tafsir QS. Al-Ahzab:33

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Sabtu, 10 Sya’ban 1438H/ 06 Mei 2017

📕 Al-Qur’an

📝 Ustadzah Novria Flaherti

📖 *Tafsir Surat Al-Ahzab ayat 33*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

 
{وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى}

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33)

🌷Mujahid mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah wanita bila keluar berjalan di depan kaum pria, maka itulah yang dinamakan tingkah laku Jahiliah.

🌷Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) Yakni bila kalian keluar dari rumah. Dahulu wanita bila berjalan berlenggak-lenggok dengan langkah yang manja dan memikat, lalu Allah Swt. melarang hal tersebut.

🌷Muqatil telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) At-Tabarruj artinya mengenakan kain kerudung tanpa mengikatnya, kalau diikat dapat menutupi kalung dan anting-antingnya serta lehernya. Jika tidak diikat, maka semuanya itu dapat kelihatan, yang demikian itulah yang dinamakan tabarruj. Kemudian khitab larangan ini berlaku menyeluruh buat semua kaum wanita mukmin.

🌷Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Zuhair, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) Ibnu Abbas mengatakan bahwa munculnya tabarruj adalah di masa antara masa Nabi Nuh dan Nabi Idris, lamanya kurang lebih seribu tahun; itulah permulaannya.

🌷Sesungguhnya salah satu dari dua kabilah keturunan Adam bertempat tinggal di daerah dataran rendah, sedangkan yang lainnya tinggal di daerah perbukitan. Tersebutlah bahwa kaum pria orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan terkenal dengan ketampanannya, sedangkan kaum wanitanya tidak cantik. Lain halnya dengan mereka yang tinggal di daerah perbukitan; kaum prianya bertampang jelek-jelek, sedangkan kaum wanitanya cantik-cantik.

🌷Lalu Iblis la’natull’ah mendatangi seorang lelaki dari kalangan penduduk dataran rendah dalam rupa seorang pelayan, lalu ia menawarkan jasa pelayanan kepadanya, akhirnya si iblis menjadi pelayan lelaki itu. Kemudian iblis membuat suatu alat musik yang semisal dengan apa yang biasa dipakai oleh para penggembala. Alat tersebut dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat merdu dan belum pernah orang-orang di masa itu mendengarkan suara seindah itu. Ketika suara musik iblis itu sampai terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, maka berdatanganlah mereka untuk mendengarkan suara musiknya. Lalu mereka membuat suatu hari raya setiap tahunnya, yang pada hari itu mereka berkumpul. Pada saat itu kaum wanita mereka menampakkan dirinya kepada kaum prianya dengan memakai perhiasan dan tingkah laku Jahiliah.

🌷Begitu pula sebaliknya, kaum pria mereka berhias diri untuk kaum wanitanya pada hari raya itu. Lalu ada seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pegunungan mendatangi hari raya mereka itu, dan ia melihat kaum wanita daerah dataran rendah cantik-cantik. Ia mem­beritahukan hal itu kepada teman-temannya di daerah pegunungan. Akhirnya mereka turun dari gunung dan bergaul dengan wanita daerah dataran rendah. Maka timbullah fahisyah (perbuatan zina) di kalangan mereka. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33)

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Bagaimana Allah mengenali ummat Islam pada hari kiamat?

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Jum’at, 08 Sya’ban 1438H/ 05 Mei 2017

📕 Fikih

📝 Ustadzah Trisa Yunita S. Si

📖 *Bagaimana Alloh mengenali ummat Islam pada hari kiamat?*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

🔖Dari Abu Hurairah ra.  Ia berkata:
Rasulullah saw.  bersabda:

“Sesungguhnya ummatku kelak akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan _ghurran muhajjalin_ karena bekas wudhu.”

*”Barangsiapa ingin memperpanjang cahayanya maka lakukanlah…”*

(Muttafaq ‘Alaih)

✨ *Ghurrah*  adalah warna putih yg terdapat di wajah.

✨ *Muhajjal* adalah putih yg ada di ujung kedua tangan dan kaki.

✨Anggota tubuh ini akan putih bersinar pada hari kiamat karena bekas wudhu…
✨Ciri khusus ini tidak ada pada ummat Islam✨

Betapa beruntungnya ummat Islam..

Masyaa Allah
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kisah Nabi Adam AS

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Kamis, 07 Sya’ban 1438H/ 04 Mei 2017

📕 Shirah

📝 Ustadzah Novria Flaherti

📖 Kisah Adam AS.  dalam Al-Quran
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

📖 Al-Quran menceritakan kisah Adam AS. dalam beberapa surat di antaranya surat Al-Baqarah ayat 30 hingga ayat 38 dan surah Al-A’raaf ayat 11 sehingga 25.

Kisah Adam dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 s/d 38

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ {30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {31

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ {33

“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {34

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ {35

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ {36

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {37

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {38

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Demikianlah kisah Nabiyullah Adam AS. Di dalam Al-Qur’an.

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Tawadhu’ (Rendah Hati)

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Rabu, 06 Sya’ban 1438H/ 03 Mei 2017

📕 Akhlak

📝 Ustadzah Lelisya

📖 Tawadhu’ (Rendah Hati)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

🌀Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong.
Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.
Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah.
Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

🌀Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.

🌀Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini
Bersabda Rasulullah SAW:
*“Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: “Bertawadhu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.”*
(HR. Muslim)

🌀Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.

Ini karena orang yang tawadhu’ menyadari akan  segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.

Wallahu’alam bi showab

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Nabi Musa AS

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Kamis, 23 Rajab 1438H/ 20 April 2017

📕 Shirah

📝 Ustadzah Novria Flaherti S. Si.

📖 Kisah Nabiyullah Musa as. Ketika Menuju Majma’al Bahrain
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🌼🌿🌼🌿🌼🌿🌼

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسٰى لِفَتٰىهُ لَآ أَبْرَحُ حَتّٰىٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun’.”
(QS. Al-Kahfi: 60)

🌿Adalah Musa ‘alaihissalam mempunyai misi dalam perjalan yang ia lakukan. Melalui perjalanan itu ia ingin sampai pada apa yang disebut dengan istilah “majma’ul bahrain” atau tempat bertemunya dua lautan. Mesti harus ditempuh dengan kesulitan dan waktu yang lama, Nabiyullah Musa ‘alaihissalam takkan menyerah hingga ke lokasi tersebut. Kebulatan tekad dan semangat ini tercermin dalam kalimat:
*”Au amdhiya huquba” meskipun aku mati dalam mencapainya.* Sejumlah tafsir menyebutkan waktu yang ditempuh paling sedikit satu tahun dan ada juga yang menyebutkan 80 tahun.

Ayat ini mencerminkan bahwa Nabiyullah Musa ‘alaihissalam bertekad untuk menempuh perjalanan ini walaupun sangat berat dan tidak mudah.

🌿Dua hal yaitu: *keinginan (al-iradah) dan tekat yang kuat (al-azhimah)* haruslah dimiliki oleh setiap pejuang dalam menempuh perjalan menuju Allah SWT.

🌿 Tujuan dan target perjalanan juga sangat penting untuk mencapai *_majma’al bahrain._*

Selanjutnya…

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتٰىهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا
“Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.””
(QS. Al-Kahfi: 62)

🌼

قَالَ أَرَءَيْتَ إِذْ أَوَيْنَآ إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّى نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَآ أَنْسٰىنِيهُ إِلَّا الشَّيْطٰنُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۥ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ ۥ فِى الْبَحْرِ عَجَبًا
“Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.””
(QS. Al-Kahfi: 63)

🌼

قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلٰىٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا
“Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula,”
(QS. Al-Kahfi: 64)

🌼

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahfi: 65)

🌿Murid Musa alaihissalam lupa terhadap ikan yang dibawanya sebagai bekal. Bekal adalah hal yang penting dalam perjalanan. Fokus perhatian pada satu masalah yg dituju bisa melupakan sesuatu yang penting dan seharusnya tidak dilupakan.

🌿Pelajaran yang dapat kita petik dari firman Allah surat Al Kahfi ayal 60-65, yaitu:
🌼Wawasan dan perhatian kita terhadap hal detail sekalipun, agar tetap diperhatikan dan dievaluasi.
🌼Bagaimana memetakan permasalahan yang dihadapi dan kebutuhan secara rinci harus bisa dievaluasi dengan baik.

Bersambung…

🌼🌿🌼🌿🌼🌿🌼🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Bekerja Membangun Gereja

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…. tentang *Muslim Bekerja Membangun Bangunan Gereja* _hukumnya apa dan bagaimana menurut pandangan Islam?_

Coz pekerja kan harus mengikuti perintah boss, lantas kalau di tolak pekerjaan itu berakibat ke keluarga. Kan menafkahi anak istri.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah ..

Bekerja untuk gereja baik membangun atau memakmurkannya, tidak boleh.

Hal ini berdasarkan ayat: _laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan_ –  jangan saling bantu dalam dosa dan pelanggaran

Berikut ini fatwa Imam Ibnu Hajar Rahimahullah:

سئل : عن كافر ضل عن طريق صنمه فسأل مسلما عن الطريق إليه، فهل له أن يدل الطريق،

Imam Ibnu Hajar al-Haitami ditanya tentang seorang kafir yang tersesat jalan ke berhalanya, lalu bertanya kepada seorang muslim, maka bolehkah ia menunjukkan jalan tersebut?

فأجاب بقوله: ليس له أن يدله لذلك لأنا لا نقر عابدي الأصنام على عبادتها فإرشاده للطريق إليه إعانة له على معصية عظيمة فحرم ذلك. فتاوى الاما ابن ححر الهيتمي. 1/248

Beliau menjawab: Muslim tersebut tidak boleh menunjukkan jalan itu, karena kita tidak boleh membiarkan penyembah berhala untuk menyembahnya. Menunjukkan jalan kepadanya berarti membantunya pada kemaksiatan yang besar, sehingga hal tersebut hukumnya haram.

( _Fatawa Imam Ibnu Hajar al-Haitami_,  juz 1 hlm 248)

Wallahu a’lam.

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Dunia Jin -Tinjauan Al Quran dan As Sunnah (Bag. 2)

5⃣ *Iblis adalah Termasuk Bangsa Jin*

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata Iblis merupakan  penamaan a’jami (non Arab) menurut mayoritas ulama. Sebagain lain mengatakan Iblis diambil dari kata Ablasa yang bermakna putus asa. Disebutkan, dia berputus asa dari Rahmat Allah swt lalu Allah mengusir dan melaknatnya.

Namun hal ini tidak berdasar, sebab penamaan Iblis sudah disebutkan di Al-Quran sebelum  peristiwa itu. Tetapi, ada riwayat dari Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Abbas, bahwa dahulu ketika masih bersama Malaikat, namanya adalah ‘Azazil, setelah itu menjadi Iblis. Riwayat ini menguatkan pendapat tersebut. (Fathul Bari, 6/339. Darul Fikr)

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا

_”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50)_

Ayat ini menjadi sanggahan bagi pendapat yang mengatakan Malaikat dan Iblis adalah sama (yakni tercipta dari cahaya). Perbedaan di antara keduanya diperkuat oleh ayat lainnya:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

_(Iblis berkata): “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)_

Jelas sekali ayat ini menyebutkan bahwa Iblis diciptakan dari api sebagaimana Jin. Selain itu, hadits Nabi juga menjelaskan, dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خلقت الملائكة من نور. وخلق الجان من مارج من نار. وخلق آدم مما وصف لكم

_“Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian (tanah).” (HR. Muslim No. 2996)_

Iblis yang dahulu menggoda Nabi Adam ‘Alaihissalam masih hidup sampai hari kiamat. Hal ini disebutkan dalam ayat berikut:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ   قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ 

_”Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’.  Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. Al-A’raf: 14-15)_

Keinginan Iblis ini dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebagai ujian bagi anak cucu Adam ‘Alaihissalam  di dunia. Dan, Iblis merupakan nenek moyang syetan. Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala menyebut Iblis penggoda Nabi Adam ‘Alaihissalam dan isterinya dengan sebutan syetan.

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنزعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

_”Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf: 27)_

📌 Hikmah dilanggengkannya Iblis dan keturunannya (syetan), sebagai berikut:

▶ Sebagai ujian bagi manusia di dunia
▶ Sebagai balasan atas ibadah Iblis dahulu sebelum dia durhaka dan masa-masa pengabdian itu sudah berlalu
▶ Sebagai bentuk siksasaan baginya, agar dia banyak melalukan kejahatan di dunia yang justru akan mengabadikannya di neraka nanti.

6⃣ *Syetan Termasuk Golongan Jin*

Syetan adalah termasuk bangsa jin, yakni bangsa jin yang jahat dan telah menyimpang dari kebenaran (baca; jin kafir). Syetan pun bisa berasal dari golongan manusia, yakni manusia jahat yang telah menyimpang dari kebenaran pula.

Allah Ta’ala berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِالْخَنَّاسِ   الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ   مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 

_”Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,. dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 4-6)_

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

تفسير للذي يُوسوس في صدور الناس، من شياطين الإنس والجن

Tafsir untuk kalimat: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari syetan-syetan manusia dan jin.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/540)

Adanya syetan dari kalangan manusia yakni manusia berwatak syetan telah Allah Ta’ala sebutkan pula dalam ayat lainnya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

_”Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)_

Begitu pula dalam Al Hadits, Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya,  dari Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ صَلَّيْتَ؟ ” قُلْتُ: لَا. قَالَ: “قُمْ فَصَلِّ ” قَالَ: فَقُمْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ جَلَسْتُ، فَقَالَ: “يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ ” قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلِلْإِنْسِ  شَيَاطِينُ؟ قَالَ: “نَعَمْ “

_Wahai Abu Dzar: Apakah kau sudah shalat?” Aku berkata: “Belum.” Dia bersabda: “Bangunlah dan shalatlah.” Lalu aku bangun dan shalat lalu duduk. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan syetan manusia dan jin.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, manusia ada syetannya?” Dia bersabda: “Ya.” (HR. Ahmad No. 21546. An Nasa’i No. 5507. Tetapi hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad, cet. 1, 1421H-2001M. Muasasah Ar Risalah. Juga didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 5507)_

Syetan dalam bahasa Arab, diambil dari kata syathana- شطن yang bermakna jauh (dari kebenaran). Jauh dari watak manusia, lantaran kefasikannya terhadap kebaikan.  Ada juga yang mengatakan dari kata Syaatha-  شاط yang artinya terbakar, karena dia makhluk dari api. Ada pula yang mengatakan keduanya benar, tapi yang pertama lebih benar. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/115)

Dari definisinya maka kita bisa paham bahwa memang ada syetan dalam wujud manusia, yakni lantaran watak manusia itu yang jauh dari kebenaran, membangkang, dan durhaka kepada aturan Rabbul ‘Alamin. Hal ini diperkuat lagi oleh riwayat shahih berikut,  dari Abu Said, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْ أَحَدِكُمْ شَيْءٌ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَليُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

_”Jika lewat dihadapan kalian seseorang sedangkan kalian sedang shalat maka cegahlah, jika dia menolak maka cegahlah, jika dia menolak lagi, maka bunuhlah, sesungguhnya dia adalah syetan.” (HR. Bukhari No. 3100)_

Secara potensial, memang setiap manusia memiliki syetan dalam aliran darahnya. Sehingga, kemungkinan memiliki watak syetan sangat mungkin terjadi. Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan bersama Istrinya, Shafiyah Binti Huyay, ada dua orang laki-laki yang melihatnya dengan pandangan yang ‘berbeda’. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan klarifikasi dengan mengatakan bahwa: Dia adalah Shafiyah binti Huyay! Dua orang itu berkata: “Subhanallah Ya Rasulullah.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا أَوْ قَالَ شَيْئًا .

_”Sesungguhnya syetan berjalan pada aliran darah manusia, dan aku khawatir dia melemparkan keburukan (atau sesuatu) ke hati kalian berdua.” (HR. Bukhari N0. 3108)_

◈ Masalah ini akan dirinci lagi dalam pembahasan: Jin Memiliki Kemampuan Menyerupai Hewan dan Manusia.

(Bersambung …)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Lamanya Ta’aruf

Assalamualaikum. Izin bertanya ustadz/ ustadzah. Berapa lamakah masa ta’aruf yang dianjurkan Islam? Bagaimana jika ada seorang ikhwan yg mau berta’aruf dengan seorang akhwat. Namun si akhwat berencana menikah 1 tahun kemudian. Apakah lanjutkan saja ta’aruf atau bagaimana. Terimakasih..

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Masa ta aruf  memang tidak ada pembatasannya Kalau sudah cocok sebaiknya disegerakan” atau “Tidak perlu proses yang berlama-lama”,  tetapi juga tidak perlu terburu buru.

Untuk proses taaruf  :
1.Persiapan ta aruf
🌹.Persiapan diri

🌹 Mengkomunikasikan dengan keluarga keinginan menikah

🌹Mencari Perantara/Pendamping
Dari Jabir Bin Samurah Radhyallahu’anhu, dari Rasulullah bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena syaitan akan menjadi ketiganya” (Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

🌹.Buat bio data
🌹Observasi pra ta aruf

2. Pelaksanaan ta aruf
🌿Tukar menukar biodata

🌿Waktu untuk istikharah dan mengambil keputusan

🌿 Bila berlanjut maka melangkah ke ta aruf dengan di dampingi pendamping

🌿 Bila sepakat mereka lanjut ke ta aruf keluarga dan khitbah. Agar diingat juga anjuran di hadits ini:
Rasulullah saw bersabda:

“Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (Hadits Riwayat Ath Thabrani)

🌿 langkah berikutnya menentukan hari pernikahan.

Idealnya jangan terlalu lama.bila si akhwat berencana menikah 1 tahun kemudian. Alasannya apa? Penundaan mungkin dan bisa bila ada alasan yg syar’i.

Kenapa harus segera ? karena yang sulit adalah menjaga kebersihan hati dan membentengi diri dari perbuatan zina hati.

Wallahu a’lam.

Oleh: Nurdiana

Dunia Jin -Tinjauan Al Quran dan As Sunnah (Bag. 1)

1⃣ Mukadimah

Indonesia adalah merupakan negeri muslim terbesar di dunia. Banyaknya penduduk muslim, tidak sebanding dengan keberadaan ulama yang mampu menjelaskan masalah keagamaan yang dihadapi mereka. Di antaranya adalah  masalah aqidah yang belum mendapatkan penjelasan secara wadhih (terang) adalah tentang dunia ghaib.

Masalah ini sering dipersepsikan secara dramatis oleh orang Indonesia, selain memang umumnya orang Indonesia cukup akrab dengan dunia klenik, sehingga persepsi mereka terhadap alam ghaib didasarkan oleh hal-hal yang bersifat tahayul, khurafat, dan mitos.

Sebenarnya tema pembicaraan alam ghaib amat luas cakupannya, seperti keimanan kepada Allah, Malaikat, kiamat,  akhirat, yaumul ba’ats (hari kebangkitan) , surga dan neraka, shirath (jembatan), ru’yatullah, dan lainnya.

Tetapi di negeri kita ini, jika disebut alam ghaib, persepsi pertama masyarakat kita adalah dunia jin (‘Alamul Jin). Masih bagus jika pemahaman tentang itu dibangun dalam koridor wahyu dan akal yang bersih, tetapi kenyataannya mereka diombang-ambing oleh keyakinan nenek moyang yang keliru, bahkan campuran dari ajaran agama lain.

*📌 Mengimani Bukan Mengutak-ngatik*

Tugas pokok kita terhadap perkara ghaib adalah mengimaninya. Tetapi, banyak manusia telah melampaui batasan ini. Mereka menyikapi masalah ghaib seperti sebuah kajian empiris yang diselimuti berbagai misteri yang menyelimutinya. Bukan itu tugas kita.

Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang bertaqwa:

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)

_“Alif laam miin.  Kitab  (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2): 1-3)_

Pengetahuan manusia terhadap dunia ini amatlah sedikit, maka sikap mendramatisir alam ghaib, seperti yang digambarkan dalam film, komik, cerita masyarakat, hikayat, dan lainnya, adalah perilaku  lancang namun menggelikan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ
   
_“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (QS. Al A’raf (7): 187)_

Seorang muslim hendaknya bersikap dan berkeyakinan sebagaimana  catatan Al Quran dan As Sunnah Ash Shahihah. Dia berjalan dan berhenti bersama keduanya, menetapkan apa yang ditetapkan keduanya, dan mengingkari apa yang diingkari keduanya pula. Menahan diri untuk merekayasa dan mengarang-ngarang cerita alam ghaib yang tidak berdasar. Dia diam apa yang didiamkan, dan dia bicara apa yang dibicarakan oleh keduanya. Hal ini bukan hanya dalam perkara ghaib, tetapi juga yang lainnya. 

Disinilah letak pentingnya materi ini, *yaitu mencoba mengimani masalah jin sesuai bimbingan syariat yang suci.*

Kami akan bahas secara global dan menyeluruh, walau dalam beberapa hal kami harus merincinya. Paling tidak ini adalah pengantar bagi seorang muslim untuk mencoba mengimani masalah ghaib berdasakan ilmu yang benar.

*2⃣ Makna Jin*

Dalam bahasa Arab, kata Al Jinn – الجنّ, kata dasarnya  dari janna – yajunnu – jannan yang bermakna menutup. Jika kita perhatikan, susunan kata yang terdapat satu huruf jim dan dua huruf nun, biasanya bermakna benda-benda yang terhalang dan tak terlihat.

Contoh: majnun – مجنون yang berarti gila karena akalnya sudah tertutup.  Janin – جنين yang berarti bayi yang masih (tertutup) diperut ibunya. Jannah – جنّة   yang bermakna taman (surga) yang saat ini belum dapat kita lihat. Maka, Jin adalah makhluk ghaib yang tidak terlihat oleh kasat mata.
Dan, dia tidak bisa tampil ke hadapan manusia dalam wujud asli, dan dustalah orang yang mengaku pernah melihatnya dalam wujud asli, kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai mu’jizat baginya, sebagaimana ia pernah melihat Malaikat jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali.

Ada pun wujud ‘syetan’ yang dikenal dan dilihat oleh masyarakat adalah wujud lain dan  tipuan mereka terhadap manusia,  agar manusia takut kepadanya bukan takut kepada penciptanya.

Mereka tidak mampu tampil dalam wujud aslinya karena memang bukan dunianya. Mereka mampu berwujud sosok yang terlanjur dikenal sebagai syetan itu,  hewan, atau –bahkan- manusia. Itulah yang bisa dilihat oleh manusia, itu pun  jarang dan bukan keinginan manusia itu sendiri.

Tipuan ini semakin terlihat ketika kita meneliti bahwa  wujud-wujud ‘syetan’ itu memiliki khas kedaerahan,   seperti *pocong, wewegombel, gandaruwo, kuntil anak, dan lainnya  hanya ada di Indonesia.*

Sementara, *zombie, drakula, vampire*, hanya ada di Amerika. Ada pun di Mesir di kenal dengan Mumi. Kita tidak akan temukan mumi di Indonesia, sebagaimana kita tidak akan temukan pocong  di Amerika!  

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ

_“Sesungguhnya ia (syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf (7): 27)_

*3⃣ Bisakah Melihat Jin?*

Para ulama berbeda pendapat; apakah jin bisa dilihat? *Imam Al Qurthubi* Rahimahullah menguraikan:

{مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} قال بعض العلماء: في هذا دليل على أن الجن لا يرون؛ لقوله {مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} قيل: جائز أن يروا؛ لأن الله تعالى إذا أراد أن يريهم كشف أجسامهم حتى ترى. قال النحاس: {مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} يدل على أن الجن لا يرون إلا في وقت نبي؛ ليكون ذلك دلالة على نبوته؛ لأن الله جل وعز خلقهم خلقا لا يرون فيه، وإنما يرون إذا نقلوا عن صورهم. وذلك من المعجزات التي لا تكون إلا في وقت الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم.

_“(dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka), berkata sebagian ulama: ini merupakan dalil bahwa jin tidak dapat dilihat karena firmanNya: (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka). Disebutkan: “bisa saja mereka dilihat, karena Allah Ta’ala jika menghendaki memperlihatkan mereka akan disingkap jasad mereka hingga terlihat.” Berkata An Nuhas: (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka) menunjukkan bahwa jin tidak dapat dilihat kecuali pada masa Nabi, yang demikian itu menjadi bukti kenabiannya, karena Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mereka menjadi makhluk yang tidak dapat dilihat, sesungguhnya mereka bisa dilihat hanyalah ketika mereka beralih dari wujud aslinya. Demikian itu merupakan mu’jizat yang tidak terjadi kecuali pada masa para Nabi Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alaihim.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam Al Quran, 7/186. Dar ‘Alim Al Kutub)_

Tertulis dalam Mahasin At Ta’wil tentang tafsir surat Al A’raf ayat 27 di atas, sebagai berikut:

قال السيوطي في ” الاكليل ” : قال ابن الفرس : استدل بها بعضهم على أن الجن لا يرون وأن من قال إنهم يُرون فهو كافر . انتهى .

_“Berkata As Suyuthi dalam Al Iklil: berkata Ibnu Al Faris: sebagian manusia berdalil dengan ayat ini bahwa jin tidak dapat dilihat, dan barang siapa yang mengatakan bahwa mereka diperlihatkan jin maka dia kafir.” (Imam Jamaluddin Al Qasimi, Mahasin At Ta’wil)_

*Al Qasimi* melanjutkan, bahwa ‘sebagian manusia’ yang dimaksud adalah golongan mu’tazilah. Oleh karena itu *Az Zamakhsyari* (tokoh besar Mu’tazilah) mengatakan:

فيه دليل بين أن الجن لا يرون ولا يظهرون للإنس ، وأن إظهارهم أنفسهم ليس في استطاعتهم ، وأن زعم من يدعي رؤيتهم زور ومخرقة .

“Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas, bahwa jin tidak dapat dilihat dan tidak Nampak bagi manusia, sesungguhnya penampakan mereka bukanlah kemampuan mereka, dan persangkaan orang yang  mengklaim dapat  melihat mereka adalah dusta.” (Ibid)

Adapun Ahlus Sunnah menyanggah pendapat mereka, bahwa hadits-hadits shahih dan masyhur menyebutkan bahwa jin dapat dilihat (tetapi bukan dalam wujud asli). Ada pun ayat di atas tidaklah mengingkari kemungkinan ini, sebab ayat di atas tidak menyebutkan ‘syetan tidak dapat dilihat’, tetapi mereka ada di tempat yang manusia tidak bisa melihat, namun mereka bisa melihat manusia.

Disebutkan dalam *Fathul Bayan:*

وقد استدل جماعة من أهل العلم بهذه الآية على أن رؤية الشياطين غير ممكنة ، وليس في الآية ما يدل على ذلك ، وغاية ما فيها أنه يرانا من حيث لا نراه ، وليس فيها أنا لا نراه أبداً ، فإن انتفاء الرؤية منا له في وقت رؤيته لنا لا يستلزم انتفاءها مطلقاً

_“Segolongan ulama telah berdalil dengan ayat ini, bahwa melihat syetan tidaklah mungkin. Maksud ayat tersebut tidaklah demikian. Maksudnya   adalah bahwa dia (syetan) melihat kita dari tempat yang kita tidak bisa melihatnya, bukan maksudnya bahwa  kita tidaklah dapat melihatnya selamanya. Sebab, pengingkaran terhadap kita bahwa kita tidak dapat melihatnya di saat melihatnya, tidaklah mengharuskan pengingkaran secara mutlak” (Ibid. Lihat juga Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 3/26. Mawqi’ Ruh Al Islam)_

*Imam Jamaluddin Al Qasimi* Rahimahullah mengatakan:

والحق جواز رؤيتهم كما هو ظاهر الأحاديث الصحيحة ، وتكون الآية مخصوصة بها ، فيكونون مرئيين في بعض الأحيان لبعض الناس دون بعض . انتهى .

_Yang benar adalah bisa saja melihat mereka sebagaimana tertulis dalam teks hadits-hadits shahih, dan ayat-ayat khusus tentang itu, maka mereka bisa dilihat oleh sebagaian manusia pada  sebagian keadaan, dan tidak pada selainnya.” (Ibid)_

Tentang  hadits-hadits yang dimaksud –insya Allah Ta’ala- akan kami paparkan pada bagiannya nanti.

*4⃣ Asal Usul Penciptaan Jin*

Jin diciptakan dari api. Ketetapan ini bersumberkan ayat-ayat berikut:

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ
_“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr (15): 27)_

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: jin diciptakan dari lidah api yang panas menyala (Lahbun Nar). Dalam riwayat lain: dari api yang paling bagus (min ahsanin nar). Amru bin Dinar mengatakan: dari apinya matahari (Narusy Syamsi). (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/533. Dar Nasyr wat Tauzi’)

Ayat lainnya:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مَن مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ

_“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman (55): 15)_

(Bersambung)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Asuransi Syariah

1⃣  Assalamualaikum
ustadz sy mw tny ttg hkm asuransi jiwa, di perbolehkan/tdk dlm hkm islam. Jazakumullohu khoiroh

2⃣ Sekalian mau nambahin pertanyaannya kalau boleh..
Bgmn dgn asuransi dlm pembayaran cicilan? Apakah mmg benar ada yg namanya asuransi syariah?
Sekian..jazakumullah khairan        

🌴Jawaban
           
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
1⃣.  Asuransi jiwa dan atau asuransi lainnya yang pengelolaannya masih dilakukan secara konvensional, adalah haram karena mengandung maisir, gharar dan riba. Karena maisir (gambling/ spekulasi), gharar (ketidakjelasan objek akad) dan juga riba adalah haram secara syariah. Maka segala transaksi yang mengandung unsur tersebut adalah haram, termasuk di dalamnya transaksi asuransi.
Wallahu A’lam.    
               
2⃣ Adapun asuransi pembiayaan dan atau asuransi lainnya yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip syariah hukumnya adalah boleh berdasarkan ijma ulama. Dan atas dasar itulah dibentuk asuransi syariah, yang pengelolaannya sdh disesuaikan dgn prinsip2 syariah sehingga tidak mengandung unsur yang diharamkan. Maka, jika akan mengasuransikan objek tertentu, pastikan bahwa kita melakukannya di asuransi syariah.

Wallahu a’lam.