Saat Orang Tua Sakit Ingin Berjamaah

Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
orang tua yg sakit dan tidak bisa ke masjid. kemudian dia ingin sholat berjamaah dengan anak laki2 nya dirumah.
apakah anak laki lakinya tersebut. tetap mendapat pahala kewajiban shalat berjamaah bagi laki2 di masjid?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Imam Ibnu Hummam menuliskan:

وَسُئِلَ الْحَلْوَانِيُّ عَمَّنْ يَجْمَعُ بِأَهْلِهِ أَحْيَانًا هَلْ يَنَالُ ثَوَابَ الْجَمَاعَةِ ؟ فَقَالَ : لَا ، وَيَكُونُ بِدْعَةً وَمَكْرُوهًا بِلَا عُذْرٍ .

“Al Halwani ditanya tentang orang yang kadang-kadang berjamaah dengan keluarganya (di rumah), apakah dia mendapatkan pahala shalat berjamaah? Dia menjawab: Tidak, itu adalah bid’ah dan makruh, jika tanpa ‘udzur.” (Imam Ibnu Hummam, Fathul Qadir, Juz. 2,Hal. 196. Al Maktabah Asy Syamilah)

Namun syariat Islam membolehkan bagi seseorang yang sudah selesai melaksanakan shalat wajib, kemudian dia menemani orang lain untuk shalat wajib (karena tidak ada teman), sedangkan bagi dia shalatnya itu dihitung sebagai shalat sunah.

Dalilnya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Mu’adz bin Jabal pernah shalat Isya terlambat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian dia kembali menuju kaumnya dan ikut shalat bersama kaumnya. (HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Al Qiraah Fil ‘Isya, Juz. 2, hal. 490, No hadits. 711. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang sudah selesai shalat wajib, lalu dia ikut menemani shalat wajib orang lain, dan baginya dinilai sunah sedangkan orang lain itu adalah wajib. Inilah pandangan yang dikuatkan oleh para Imam seperti Imam Ibnul Mundzir dari Atha’, Al Auza’i, Imam Ahmad, Abu Tsaur, dan Sulaiman bin Harb serta Imam An Nawawi, semoga Allah meridhai mereka semua.

Jadi, silahkan menemani shalat orang tua anda agar beliau bisa mendapatkan pahala berjamaah bersama Anda, walau anda sudah melaksanakan shalat wajib di mesjid. Bagi Anda itu dinilai sunah dan bagi orang tua anda adalah wajib.

Wallahu a’lam.

Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?”

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:

_’Dahulu Rasulullah saw suka bercengkrama dengan kami, bahkan terhadap adik saya yang masih kecil dia bekata,_

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

_”Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?” (Muttafaq alaih)_

Abu Umair adalah kuniyah (nama panggilan) seorang bocah kecil.
Dia memiliki burung kecil kesayangan sejenis burung pipit. Dalam bahasa Arab dipanggil Nughar. Agar sepadan dengan kata “Umair”, maka kata ‘nughar’ beliau sebut dengan kata “nughair” yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah _tashgir._

Ungkapan yang menunjukkan keakraban terhadap anak-anak sesuai dengan jiwa mereka.

Jika hal ini diungkapkan oleh orang yang baru berusia belasan tahun, mungkin masih mudah dipahami. Tapi perkataan tersebut diungkapkan Rasulullah saw yang ketika itu ditaksir berusia lima puluh tahun ke atas.

Hal ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah saw yang konstan dan utuh, tidak berubah atau terbelah. Keramahan, keakraban, perhatian, kejujuran dan semua perangai baiknya, terbagi rata dalam setiap keadaan dan untuk semua lapisan.

Suatu hal yang semakin melengkapi keutamaan pribadi Rasulullah saw.

Sebuah sikap yang sepatutnya mengingatkan kita untuk sedapat mungkin menjaga agar perangai dan akhlak kita tetap konstan, siapapun yang ada di hadapan.

Jangan sampai seseorang tampak begitu santun di hadapan atasan namun ketus memperlakukan bawahan.
Unggah ungguh terhadap orang kaya tapi jumawa kepada mereka yang tak berpunya.

Sopan terhadap tetangga elit, namun lancang terhadap tetangga ekonomi sulit.
Dapat akrab dan bercanda dengan orang dewasa, tapi dingin tanpa ekspresi terhadap anak-anak.
Senyumnya yang tersungging di depan kamera berganti dengan mulut yang selalu ditekuk dalam kehidupan nyata.

Akhlak seharusnya menyatu menjadi jati diri kapan dan dimanapun, apa adanya, spontan, tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, apalagi sekedar menampilkan citra.

Ketika akhlak kita masih sangat tergantung dengan kedudukan orang yang kita hadapi, disini kita perlu berhenti sejenak, menangkap kekurangan, lalu memperbaiki keadaan.

Suatu saat Rasulullah SAW merasa kehilangan seorang wanita hitam yang biasa beliau lihat menyapu masjid. Lalu beliau bertanya kepada para shahabat. Mereka berkata, ‘Dia meninggal dunia.’ Seakan-akan mereka meremehkan nya.

Rasulullah berkata, _’Mengapa kalian tidak memberitahu aku.’ Lalu Rasulullah saw minta ditunjukkan kuburnya, kemudian beliau shalat (jenazah) di atasnya.” (Muttafaq alaih)_

Begitulah Rasulullah saw memperlakukan seseorang. Sekali lagi, apa adanya, mengalir begitu saja dan tidak dibuat-buat.
Namun disitulah kemuliaan akhlak beliau tampak berkilauan, menjadi teladan abadi dalam kehidupan.

_Asytaaqu ilaika yaa Rasuulallah…_

Aku rindu padamu wahai Rasulullah….

Wallahu A’lam

Membaca Al-Quran di Ponsel Tanpa Wudhu?

Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Assalamu’alaikum Ustadz, afwan mau tanya ketika kita membaca Al Qur’an di ponsel dlm kondisi blm wudhu apa haram?
Syukran

Jawaban :
—————-

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak ketika ditanya demikian, beliau menjawab:

Telah disepakati (ulama) bahwa membaca Al-Quran secara hafalan, tidak disyaratkan untuk suci dari hadats kecil, bahkan tidak harus suci dari hadats besar. Namun dalam kondisi suci ketika membaca Al-Quran, sekalipun hafalan adalah lebih utama. Karena Al-Quran adalah firman Allah. Dan termasuk upaya mengagungkan firman Allah, hendaknya tidak dibaca kecuali dalam kondisi suci.

Adapun membaca Al-Quran dengan membawa mushaf maka disyaratkan suci dari hadats karena memagang mushaf, berdasarkan hadis yang masyhur, ‘Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.’ Juga berdasarkan riwayat dari para sahabat dan tabi’in.

Dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahwa dilarang bagi orang yang berhadats untuk memegang mushaf, baik untuk dibaca maupun untuk tujuan lainnya.

Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi konten Al-Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al-Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al-Quran yang ada pada mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi yang menyusun teks Al-Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan bisa hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga membaca Al-Quran dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci terlebih dahulu.

Wallahu a’lam.

Keutamaan Memberi Makan Sahur

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

©Keutamaan Memeberikan Makan Sahur

▪Memberikan makan untuk orang yang bersahur termasuk amal shalih yang utama. Sebab itu menjadi fasilitas dan mempermudah orang lain untuk beribadah. Apalagi jika mereka yang bersahur adalah orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sejalan dengan ayat:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa.” (QS. Al Maidah: 2)

▪Serta hadits Nabi ﷺ :

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ

“Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah ﷻ akan penuhi kebutuhan dia. (HR. Al-Bukhari No. 2442,  Muslim No. 2580)

▪Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

أي في قضاء حاجة أخيه في الدين

“Yaitu memenuhi kebutuhan saudaranya seagama. (Faidhul Qadir, 6/317)

▪Imam Ibnu ‘Allan Rahimahullah mengatakan:

أي ما يحتاج إليه حالاً أو مآلاً

“Yaitu memenuhi apa-apa yang dia butuhkan baik berupa keadaan (non harta) dan harta.” (Dalilul Falihin, 2/282)

▪Lalu, apakah juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang santap sahur?

Sebagaimana kita ketahui bahwa makan sahur itu berkah, sebagaimana hadits Nabi ﷺ. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.”  (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)

▪Maka, semoga keberkahan ini juga diperoleh oleh orang yang memberikan makan sahur. Sebab, prinsip umum dalam Islam, orang yang menjadi sebab munculnya kebaikan maka dia akan mendapatkan ganjaran kebaikan itu. Hal ini bisa terlihat dalam beberapa hadits berikut:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا

“Barang siapa yang membantu persiapan orang berjihad maka dia juga telah berjihad.” (HR. Al Bukhari No. 2843)

▪Hadits lain:

ألا الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

“Ketahuilah dunia ini terlaknat, terlaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali: berdzikir kepada Allah, dan apa-apa yang mendukung dzikir, dan orang berilmu atau penuntut ilmu.” (HR. At Tirmidzi No. 2322, hasan)

▪Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.” (HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3952. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat ta’liq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)

Demikianlah keutamaan memberikan makan sahur.

Wallahu A’lam

Wanita Ziarah Kubur

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Benarkah wanita dilarang ziarah kubur? Bagaimana dengan wanita haid berziarah kubur?

Wassalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. (dari beberapa hamba Allah)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Semoga limpahan rahmat Allah Ta’ala menaungi kita semua …
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan tuangkan beberapa hadits tentang ziarah kubur, sebagai berikut:

Hadits Pertama
عن بُرَيْدَة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُوروها )) رواه مسلم . وفي رواية : (( فَمَنْ أرَادَ أنْ يَزُورَ القُبُورَ فَلْيَزُرْ ؛ فإنَّهَا تُذَكِّرُنَا الآخِرَةَ ))

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dahulu saya melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.”(HR. Muslim). Riwayat lain: “maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur maka berziarahlah, karena hal itu bisa mengingatkan akhirat.”

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1977
- Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 5162
– Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 1571
- Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9289
– Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7879, 7882
- Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 1235, 4319, 13512, 13640, 23053
– Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al MushannafNo. 312, 11928, 11935
- Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 4373, 4465, 7366
- Imam Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 604, 2442, dalam Al Ausath No. 6394
– Imam Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 4130
- Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 2708

Hadits Kedua
 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika giliran malamnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau keluar pada malam itu menuju pekuburan Baqi’, Beliau bersabda: Salam sejahtera untuk kalian negeri kaum beriman, telah didatangkan kepada kalian apa-apa yang dijanjikan, hari besok akan segera, dan kami –Insya Allah- akan besama kalian, Ya Allah berikanlah ampunan kepada penghuni Baqi’. (HR. Muslim)

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 974
- Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7002, 10077
- Imam Ibnu ‘Asakir dalam Mu’jamnya No. 1550

Hadits Ketiga
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, katanya: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan mereka jika keluar menuju pekuburan, yang mereka ucapkan –dia katakan dalam riwayat Abu Bakar- : “Salam sejahtera atas penduduk negeri “–dalam riwayat Zuhair- “Salam sejahtera atas kalian penduduk negeri kaum mu’minin dan muslimin, dan kami Insya Allah akan benar-benar  menjumpai, aku minta kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 975
- Imam Ibnu ‘Asakir dalam Mu’jamnya No. 185
– dll

Hadits Keempat
 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبُورِ الْمَدِينَةِ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati kuburan di Madinah, Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka.  Beliau bersabda: Salam untuk kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian. 

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 1053, katanya: hasan
- Imam Alauddin Al Muttaqi dalam Kanzul ‘Ummal No. 42561
- Dll

Hadits-hadits ini mengandung beberapa faedah:
1. Fatwa bisa berubah karena perubahan kondisi dan keadaan manusia. Hal ini bisa kita lihat bahwa dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammelarang ziarah kubur ketika masa awal Islam, lalu Beliau membolehkannya ketika aqidah tauhid sudah mapan pada masa-masa selanjutnya. Dan, dalam beberapa kasus selain Ziarah kubur juga terjadi perubahan fatwa. Misal: ketika umat Islam masih sedikit dan lemah, Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk bersabar, berdakwah saja, menjalankan shalat, menahan tangan untuk berperang dari gangguan musuh.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!”  (QS. An Nisa: 77)

Namun ketika umat Islam sudah kuat dan banyak, dan kezaliman semakin menjadi-jadi maka mereka diizinkan untuk berperang.
Allah Ta’ala berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ  

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al Hajj: 39)

Ada pun syariat Islam dia adalah tsabit(tetap), yang bisa berubah karena kondisi dan keadaan adalah fatwa.

2.Ziarah kubur adalah sunah, khususnya bagi kaum laki-laki, dan ini menjadi pandangan jumhur (mayoritas ulama), bahkan ada yang mengatakan ijma’ (konsesus para ulama).

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullahmenjelaskan:
( فزوروها ) الأمر للرخصة أو للاستحباب وعليه الجمهور بل ادعى بعضهم الاجماع بل حكى بن عبد البر عن بعضهم وجوبها

(maka berziarahlah) perintah ini menunjukkan keringanan atau menunjukkan kesunahannya, dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahkan sebagian mereka ada yang mengklaim adanya ijma’, bahkan Ibnu Abdil Bar dan selainnya menceritakan tentang wajibnya berziarah kubur. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/135)

Ada pun bagi wanita, para ulama berbeda pendapat boleh atau tidaknya kaum wanita berziarah kubur.

Kelompok pertama, Sebagian ulama mengatakan boleh, Apa dasarnya?
- Kata fazuuruuha (maka berziarahlah kalian) adalah berlaku umum, baik laki-laki atau  wanita.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan tentang hadits La’ana Az Zawaaraat Al Qubur(Rasulullah melaknat wanita yang berziarah kubur):
قد رأى بعض أهل العلم أن هذا كان قبل أن برخص النبي – صلى الله عليه وسلم – في زيارة القبور، فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini terjadi ketika sebelum diberikan keringanan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ziarah kubur, maka ketika sudah diberikan keringanan, maka keringanan itu mencakup laki-laki dan wanita. (Lihat Sunan At TirmidziNo. 1056, lihat juga Imam As Suyuthi dalamSyarh Sunan Ibni Majah, 1/113, Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/417 )

- Begitu pula kata: “karena hal itu bisa mengingatkan akhirat.” Mengingat akhirat dan kematian bukan hanya kebutuhan kaum laki-laki, tetapi juga wanita.

Berkata Al ‘Allamah Asy Syaikh Waliyuddin At Tibrizi Rahimahullah:
لأن الزيارة عللت بتذكير الموت ، ويحتاج إليه الرجال والنساء جميعاً

Karena berziarah merupakan sebab untuk mengingat kematian, dan hal itu dibutuhkan oleh laki-laki dan wanita sekaligus. (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Berkata Imam Mulla Ali Al QariRahimahullah:
وقد عللت الزيارة فيها بأنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة والموت ، وبأن فيها عبرة ما لفظه هذه الأحاديث بتعليلاتها تدل على أن النساء كالرجال في حكم الزيارة

Telah ada   berbagai sebab berziarah bagi wanita, di dalamnya hal itu bisa melembutkan hati, mengalirkan air mata, dan mengingat akhirat dan kematian, dan   pelajaran yang terdapat pada berbagai hadits yang menyebutkan sebab itu menunjukkan bahwa wanita adalah sama dengan laki-laki tentang hukum berziarah (kubur). (Ibid)

- Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah berziarah ke kubur saudaranya, bernama Abdurrahman bin Abu Bakar.
عن ابن أبي مليكة عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت إذا قدمت مكة جاءت إلى قبر أخيها عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهما فسلمت عليه

Dari Ibnu Abi Malikah, dari ‘AisyahRadhiallahu ‘Anha, bahwa Beliau jika datang ke Mekkah, mendatangi ke kubur saudaranya Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiallahu ‘Anhuma, dan mengucapkan salam kepadanya.(HR. Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 2443, Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 3/235)

Apa yang ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhalakukan menunjukkan kebolehannya, sebab jika berziarah ke kubur terlarang bagi wanita, tentu ‘Aisyah adalah pihak yang paling tahu itu, karena Beliau isteri terdekat RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

- Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhumenceritakan:
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammelewati seorang wanita yang menangis di sisi kubur. Nabi bersabda: “Bertaqwa-lah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Enyah kau dariku, kau tidak  mendapatkan musibah seperti yang aku terima.” Wanita itu tidak mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya bahwa itu adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu wanita itu mendatangi pintu rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak menemui penjaga pintu. Lalu  dia berkata: “Aku tadi tidak mengenali engkau.” Nabi bersabda: “Sabar itu dihantaman yang pertama.”  (HR. Bukhari No. 1283)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan kebolehannya, jika terlarang tentulah wanita itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, -haditsnya cukup panjang kami ambil bagian akhirnya saja:

فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

Beliau bersabda: Sesungguhnya Rabbmu memrintahkan kamu untuk mendatangi ahlul baqi’ (kuburan baqi’), hendaknya memhonkan ampun buat mereka.” ‘Aisyah berkata: Aku bertanya: “Bagaimana yang aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “katakanlah: As Salamu ‘Ala Ahlad Diyar minal mu’minin wal Muslimin ………….dst.” (HR. Muslim No. 974)

Kisah ini menunjukkan secara terang benderang kebolehannya. Jika berziarah kubur dilarang, tentulah pertanyaan ‘Aisyah itu tidak akan dijawab, atau sekalipun dijawab akan dijawab dengan larangan ke kubur bagi dirinya.

Demikianlah alasan-alasan pihak yang membolehkan. Pendapat ini didukung juga oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah. Syaikh Al Mubarkafuri mengutip dari Imam ibnu Hajar bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama.(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Kelompok Kedua, pihak yang melarang, mereka beralasan dengan hadits:
عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم لعن زوارات القبور

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  melaknat zawaaraat (wanita peziarah) kubur.(HR. At Tirmidzi No. 1056, katanya: hasan shahih)

Hadits lain:
عن ابن عباس قال  لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسرج .

Dari Ibnu Abbas, katanya: RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat para wanita yang berziarah kubur, dan orang-orang yang menjadikan masjid dan penerangan di atasnya. (HR. Abu Daud No. 3236)

Inilah pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, dan lainnya. Menurut mereka hadits ini tegas menjadi larangan bagi wanita, yakni haram berziarah kubur. Makna zawaratmenurut mereka bukan sering atau banyak berziarah, tetapi bermakna asalnya yakbi berziarah itu sendiri.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:
فالقول الصحيح هو القول بالتحريم، وأن النساء لا يجوز لهن أن يزرن القبور، ثم أيضاً -كما هو واضح- أن المرأة إذا تركت الزيارة فأكثر ما في الأمر أنها تركت أمراً مستحباً، وأما إذا فعلت الزيارة فإنها تتعرض للعنة كما في هذا الحديث، ومعلوم أن ترك هذا الفعل الذي تسلم فيه من اللعنة أولى ومقدم على كونها تفعل شيئاً لو تركته لم يحصل لها شيء إلا أنها تركت أمراً مستحباً لا يترتب على تركه شيء. إذاً: القول بالتحريم والمنع هو الأظهر والأولى

Maka, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengharamkannya, bahwa wanita tidak boleh berziarah kubur, lalu juga –sebagaimana yang telah jelas- bahwa wanita jika dia meninggalkan ziarah, maka paling banyak dia  akan meninggalkan perkara sunah saja, ada pun jika dia melakukan ziarah, maka dia akan mendapatkan laknat sebagaimana disebutkan oleh hadits, telah maklum bahwa meninggalkan perbuatan ini, yang dengan itu akan membuatnya selamat dari laknat, adalah lebih utama dan didahulukan dibanding dia melakukan perbuatan yang jika dia tinggalkan tidak berdampak apa-apa, melainkan hanya dia telah meninggalkan  anjuran saja, dan jika dia tinggalkan tidak apa-apa. Jadi, pendapat yang mengharamkannya lebih kuat dan utama.(Syarh Sunan Abi Daud, 17/150)

Pihak yang membolehkan telah mengkoreksi alasan-alasan pihak yang melarang ini. Imam Ibnu Abdil Bar menyebutkan:
قال أبو بكر وسمعت أبا عبد الله يعني أحمد بن حنبل يسأل عن المرأة تزور القبر فقال أرجو إن شاء الله أن لا يكون به بأس عائشة زارت قبر أخيها قال ولكن حديث ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور ثم قال هذا أبو صالح ماذا كأنه يضعفه ثم قال أرجو إن شاء الله عائشة زارت قبر أخيها قيل لأبي عبد الله فالرجال قال أما الرجال فلا بأس به

Berkata Abu Bakar: Aku mendengar Abu Abdillah –yakni Imam Ahmad bin Hambal- ditanya tentang wanita yang berziarah kubur. Beliau menjawab: “Aku harap hal itu tidak apa-apa, Insya Allah. ‘Aisyah menziarahi kubur saudaranya. ” Orang itu berkata: “Tetapi ada hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam melaknat wanita peziarah kubur.” Imam Ahmad menjawab: “Hadits ini terdapat Abu Shalih.”   Apa yang dikatakannya seakan dia mendhaifkan hadits ini. Lalu Imam Ahmad berkata: “Aku harap tidak apa-apa, Insya Allah, ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kalau kaum laki-laki?” Beliau menjawab: “Ada pun laki-laki, tidak apa-apa.” (At Tamhid, 3/234)

Syaikh Al Albani telah mendhaifkan hadits Ibnu Abbas di atas, dan Beliau telah mengkritik para ulama yang telah berhujjah dengan hadits ini. Katanya:
أن هذا الحديث مع شهرته ضعيف الاسناد، لا تقوم به حجة، وإن تساهل كثير من المصنفين فأوردوه في هذا الباب وسكتوا عن علته، كما فعل ابن حجر في (الزواجر)، ومن قبله العلامة ابن القيم في (زاد المعاد)، واغتر به جماهير السلفيين وأهل الحديث فاحتجوا به في كتبهم ورسائلهم ومحاضراتهم.

Hadits ini walau terkenal, isnadnya lemah (dhaif). Tidak boleh berhujjah dengannya. Sesungguhnya telah banyak penyusun kitab meremahkan hal ini, mereka menyampaikan hadits ini dalam permasalahan ini dan mereka diam saja terhadap cacat yang ada dalam hadits ini, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar dalam Az Zawajir. Juga sebelum beliau, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, yang dnegannya mayoritas salafiyin dan ahli hadits terperdaya. Mereka berdalil dengan hadits ini baik pada kitab, risalah, dan ceramah-ceramah mereka.(Ahkamul Janaiz, Hal. 232)

Lalu, hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah melaknat zawaaraat, adalah hadits shahih, tetapi ada beberapa catatan:
1. Artinya bukan melaknat wanita yang berziarah, tetapi melaknat wanita yang banyak atau sering-sering berziarah. Zawaaraat menunjukkan jumlah yang banyak.
Disebutkan dalam Tuhfah Al Ahwadzi:
قال القارىء لعل المراد كثيرات الزيارة وقال القرطبي هذا اللعن إنما هو للمكثرات من الزيارة

Berkata Al Qari bahwa bisa jadi maknanya adalah banyak berziarah. Al Qurthubi berkata: laknat ini adalah untuk yang banyak melakukan ziarah. (Syaikh Abul ‘Ala Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwdzi, 4/126)
Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa yang dilaknat dalam hadits ini adalah wanita yang berziarah dengan tanpa menjaga adab dan akhlak, katanya:
إن اللعن محمول على زيارتهم بما لا يجوز كالتبرج والجزع والصياح وغير ذلك مما لا ينبغي ، وأما إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن

Sesungguhnya laknat di sini dimaknai bahwa ziarahnya mereka itu dibarengi dengan hal-hal yang tidak diperbolehkan seperti tabarruj (bersolek), mengeluh, berteriak,  dan hal-hal tidak pantas lainnya. Ada pun jika aman dari semua hal ini, maka tidak terlarang mengizinkan mereka (untuk ziarah). (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Imam Asy Syaukani mengomentari penjelasan para imam ini, katanya:
وهذا الكلام هو الذي ينبغي اعتماده في الجمع بين أحاديث الباب المتعارضة في الظاهر

Dan ini adalah perkataan yang  tepat untuk dijadikan pegangan di dalam mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahirnya nampak bertentangan dalam bab ini.(Nailul Authar, 4/95)

2. Hadits ini telah mansukh (dihapus) sebagaimana yang disebutkan oleh Imam At Tirmidzi, Imam Al Baghawi, dan lainnya, bahwa laknat ini terjadi ketika sebelum diberikan kebolehan berziarah.

Mansukh-nya hadits ini semakin jelas dengan riwayat  ketika ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya:
فقيل لها أليس قد نهى النبي صلى الله عليه و سلم عن ذلك قالت نعم كان نهى ثم أمر بزيارتها انتهى

Dikatakan kepada ‘Aisyah, bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang hal itu? Beliau menjawab: “Ya, dahulu  Beliau melarang, kemudian Beliau memerintahkan untuk berziarah.” Selesai.(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Kesimpulan:
Telah nampak bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat yang lebih kuat. Dilihat dari banyak sisi :
- Hadits-haditsnya jauh lebih banyak jumlahnya, lebih kuat dalam periwayatannya, dan lebih beragam jenisnya, baik qauliyah (ucapan) dantaqririyah (persetujuan) nabi, yakni disebutkan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya. Hadits-hadits ini ada yang berlaku umum (laki-laki dan wanita), dan ada pula yang khusus wanita.
- Sementara hadits yang paling kuat tentang pelarangan diriwayatkan lebih sedikit, dan diragukan keshahihannya,  yang paling kuat adalah yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dari Abu Hurairah.
- Hadits riwayat Imam At Tirmdzi itu pun dimungkinkan telah mansukh sebagaimana keterangan sebagian ulama, dan diperkuat oleh pernyataan   ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.
- Kalau pun hadits itu tidak mansukh, maknanya bukan berarti terlaknat wanita yang berziarah kubur, tetapi terlaknat yang banyak berziarah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali Al Qari, Imam Al Qurthubi, Imam As Suyuthi, dan lainnya, dan yang dikuatkan oleh Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al Albani.

Peringatan:
Walau pun dibolehkan namun ada beberapa patokan yang mesti diperhatikan oleh kaum wanita:
1.       Tidaklah sering-sering ziarah kubur, agar terhindar dari makna zawaaraat.

2.       Tidak melakukan aktifitas terlarang seperti histeris dan meratap.

3.       Tidak bersolek dan berhias dengan cara yang menyerupai wanita kafir.

4.       Menutup aurat secara sempurna dan pakaian yang layak dilingkungan kuburan.

Adapun wanita haid, dia sama dengan wanita yang sedang suci. Tak ada dasarnya larangan bagi wanita haid untuk berziarah kubur, karena kebolehannya adalah mutlak.

Wallahu a’lam.

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (5)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

28. *Doa ketika Lailatul Qadar*

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa khusus  untuk kita baca ketika Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari ‘Aisyah, dia berkata “Aku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.” (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jami’ No. 4423, dan lainnya)

29. *Orang yang tidak berpuasa tanpa alasan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, secara marfu’:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Barang siapa yang  tidak berpuasa pada Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya. (HR. Bukhari No. 1934)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان
              
“Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Ya’ala No. 2349, Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 23, juga Ad Dailami dan dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma’ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tetapi didhaifkan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال.

“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

30. *Puasa adalah tameng dari Api Neraka*

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّار
ِ
“Puasa adalah tameng, orang berpuasa akan melindungi dirinya dari api neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya No. 14669) Imam Al Haitsami mengatakan: isnadnya hasan. (Majma’ Az Zawaid, No. 5077)

Berkata Syaikh Syu’aib Al Arnauth:

حديث صحيح بطرقه وشواهده وهذا إسناد حسن

 ”Hadits shahih dengan berbagai jalur dan penguatnya. Isnad hadits ini hasan.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 14669, Jadi sanad hadits ini hasan, namun terangkat menjadi shahih karena banyaknya jalan. Demikian menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Syaikh Al Albani juga menghasankan hadits ini. Lihat Shahihul Jami’ No. 4308)

Wallahu A’lam

RIYADHUS SHALIHIN (19)

Oleh: Arwani Amin Lc. MPH
📕 *Bab Taubat: Allah Gembira Dengan Taubatmu*
*Hadits:*
وعن أبي حمزةَ أنسِ بنِ مالكٍ الأنصاريِّ- خادِمِ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – – – رضي الله عنه – ، قَالَ :
قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – :  للهُ أفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرهِ وقد أضلَّهُ في أرضٍ فَلاةٍ
مُتَّفَقٌ عليه .
وفي رواية لمُسْلمٍ : للهُ أَشَدُّ فَرَحاً بِتَوبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يتوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتهِ بأرضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابهُ فأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتى شَجَرَةً فاضطَجَعَ في ظِلِّهَا وقد أيِسَ مِنْ رَاحلَتهِ ، فَبَينَما هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِها قائِمَةً عِندَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطامِهَا ، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ : اللَّهُمَّ أنْتَ عَبدِي وأنا رَبُّكَ !
أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ
*Artinya :*
_Dari Abu Hamzah iaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah s.a.w., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:_
_”Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas.” (Muttafaq ‘alaih)_
_Dalam riwayat Muslim disebutkan demikian:_
_”Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya ketika ia bertaubat kepadaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang berada di atas kenderaannya – yang dimaksud ialah untanya – dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian menyingkirkan kenderaannya itu dari dirinya, sedangkan di situ ada makanan dan minumannya. Orang tadi lalu berputus-asa._
_Kemudian ia mendatangi sebuah pohon terus tidur berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa sama sekali dari kenderaannya tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu, kenderaannya itu nampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu”. Ia menjadi salah ucapannya kerana amat gembiranya.”_
           ☆☆☆☆☆
Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian *AUDIO* di bawah ini.
Selamat menyimak.
Link audio

Melatih Anak Puasa

Oleh: Dr. Wido Supraha
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Bagaiman cara melatih anak yg doyan makan,umur 8 tahun kalau udah sekitar jam 10 nangis  minta  makan dan minum..
mohon solusinya tadz 🙏🙏
Trimaksih
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🔑 _Latihlah anak berpuasa, tapi jangan dipaksakan jika belum masanya._
📌 Puasa belum wajib bagi dirinya, tapi bukan berarti latihan tidak diberikan kepadanya.
📌 Setiap anak gemar makan, tapi ada unsur lain yang bisa membuatnya tertarik untuk tidak makan, misalkan faktor lingkungan, faktor janji dari Ayah Bunda jika ananda sukses berpuasa, faktor pendidikan berbasis kisah, faktor konten iman dan adab.
📌 Menginternalisasikan nilai Islam harus secara bertahap dan membutuhkan tahapan dan kesabaran. Latihlah anak misalkan 10 hari pertama sampai jam 10 saja, 10 hari kedua sampai jam 2, 10 hari ketiga sampai penuh.
📌 Berikan penghormatan, dekapan, kecupan, dan belaian bagi anak yang sukses menjalankan misinya, karena itu hal besar bagi dirinya.
Wallahu a’lam.

Lupa Rakaat Sholat

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.
Assalamu’alaikum Ustad, saya mau tanya.. kadang kali dalam sholat, ketika sujud saya berlama-lama. Sambil membayangkan masalah yang saya hadapi, sambil istighfar saya mohon ampunan, karena saya ingin mengadukan masalah-masalah ini pada Nya..Tapi hal ini membuat saya jadinya lupa, sampai dimana rakaat yang sudah saya lakukan. Apakah ini termasuk lalai dalam sholat? Batal kah sholat saya, atau hanya musti sujud sahwi?
(Member A11)
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Shalatnya tetap sah, tapi mengurangi nilainya. Dahulu Umar bin Khathab teringat baris berbaris pasukannya saat shalat. HR. Bukhari.
Kalau sampai lupa jumlah rakaat, ikuti dan anggap saja rakaat yang paling kecil, lalu lanjutkan,  jumhur mengatakan yang seperti ini adalah dengan sujud sahwi 2 kali setelah membaca innaka hamidummajid, setelah itu salam seperti biasa.
Wallahu a’lam.

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (4)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.
2⃣6⃣ *Umrah ketika Ramadhan adalah sebanding pahalanya seperti haji bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam*
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan:
فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي
“Sesungguhnya Umrah ketika bulan Ramadhan sama dengan memunaikan haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari No. 1863, Muslim No. 1256)
2⃣7⃣ *Tentang Lailatul Qadar*
Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari    No.  1105)
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
 أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
“Sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Saya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari No. 1911, 6590, Muslim No.1165  Ibnu Hibban No. 3675, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8327, Ibnu Khuzaimah No. 2182, Malik dalam Al Muwaththa’ No. 697)
Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir? Tertulis penjelasannya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, sebagai berikut:
قال أبو بكر هذا الخبر يحتمل معنيين أحدهما في السبع الأواخر فمن كان أن يكون صلى الله عليه وسلم لما علم تواطأ رؤيا الصحابة أنها في السبع الأخير في تلك السنة أمرهم تلك السنة بتحريها في السبع الأواخر والمعنى الثاني أن يكون النبي صلى الله عليه وسلم إنما أمرهم بتحريها وطلبها في السبع الأواخر إذا ضعفوا وعجزوا عن طلبها في العشر كله
Berkata Abu Bakar: Khabar ini memiliki dua makna. Pertama, pada malam ke tujuh terakhir karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala mengetahui adaya kesesuaian dengan mimpi sahabat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir pada tahun itu, maka beliau memerintahkan mereka pada tahun itu untuk mencarinya pada tujuh malam terakhir. Kedua, perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat untuk mencari pada tujuh malam terakhir dikaitkan jika mereka lemah dan tidak kuat mencarinya pada sepuluh hari semuanya. (Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2182)
Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim No. 1165, 209)
📌 Kemungkinan besar adalah pada malam ganjilnya
Kemungkinan lebih besar adalah Lailatul Qadr itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits berikut:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ
“Seseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada m
alam ganjil.” (HR. Bukhari No. 638, 1912,  1923)
Dalam riwayat lain:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1913)
Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.
📌 Malam ke 24,  25, 27 dan 29?
  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
التمسوا في أربع وعشرين
  “Carilah pada malam ke 24.” (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 1918)
Imam Bukhari juga meriwayatkan, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ
  “Maka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).” (HR. Bukhari No. 49, 1919)
  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
“Demi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.” (HR. Muslim No. 762)
Bukan hanya Ubay bin Ka’ab, tapi juga sahabat yang lain.  Salim meriwayatkan dari ayahnya Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا
  “Seorang laki-laki melihat Lailatul Qadr pada malam ke 27. Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Aku melihat mimpi kalian pada sepuluh malam terakhir, maka carilah pada malam ganjilnya.” (HR. Muslim No. 1165)
  Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadr adalah pada malam ke 27. Namun, perselisihan tentang kepastiannya sangat banyak, sehingga bisa dikatakan bahwa jawaban terbaik dalam Kapan Pastinya  Lailatul Qadr  adalah wallahu a’lam.
  Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah:
وَقَدْ اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي لَيْلَة الْقَدْر اِخْتِلَافًا كَثِيرًا . وَتَحَصَّلَ لَنَا مِنْ مَذَاهِبهمْ فِي ذَلِكَ أَكْثَر مِنْ أَرْبَعِينَ قَوْلًا
  “Para ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.” (Fathul Bari, 4/262. Darul Fikr)
🔹Bersambung🔸