Cara atau Jalan Mengenal Allah

Assalaamu’alaikum wr.wb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Cara atau jalan untuk mencapai suatu tujuan sangatlah penting. Sebab jalan yang salah atau keliru tidak akan mengantarkan kita kepada tujuan yang ingin diraih, walaupun tujuan tersebut benar. Maka mengenal atau memahami tujuan saja belumlah cukup. Melainkan harus dilengkapi dengan pemahaman tentang cara/jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan tersebut.

Begitu pula dengan ma’rifatullaah (mengenal Allah), cara/jalan yang benar yang dapat mengantarkan kita kepada ma’rifah (kenal/faham) tentang Allah SWT harus pula diketahui.

Allah SWT tidak Menampakkan wujud Dzat-Nya di hadapan makhluk secara langsung. Melainkan Allah SWT menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad saw supaya mentafakkuri makhluk-makhluk (ciptaan-ciptaan) Allah, dan janganlah berfikir dan menduga-duga tentang Dzat Allah SWT.

Dalam Aqidah Islam, cara/jalan untuk mengenal Allah SWT adalah melalui ayat-ayat Allah. Ayat-ayat Allah ada 3 macam :
​1. Ayat qauliyah
​2. Ayat kauniyah
​3. Mu’jizat (sekarang sudah tidak ada lagi).

Mari kita bahas satu per satu.
 1. Ayat Qauliyah. Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al Quran. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk tentang jalan-jalan kepada ma’rifatullaah.

Al-quran adalah rujukan yang paling jelas dalam menerangkan tentang Allah SWT. Karena di dalam Al-Quran sendiri Allah Sendiri banyak menjelaskan tentang Diri-Nya. Misal, jika ada pertanyaan :  Siapakah Allah?
Maka Surah Al Ikhlas yang pendek saja sudah dengan jelas menjawab pertanyaan ini:

(قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4 ​

‘Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Atau ayat kursi (QS. Al Baqarah : 255) yang dalam satu ayat saja menyebutkan dan menjelaskan 10 sifat Allah SWT:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

”Allah tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Hidup kekal. lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya);  Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”(QS. Al-Baqarah: 255)

Juga dalam QS. At Tiin: 1-5 misalnya, Allah mengajak kita berfikir tentang kejadian makhlukNya termasuk buah-buahan, bukit-bukit, bahkan diri manusia itu sendiri sehingga akhirnya manusia dapat menyimpulkan satu keyakinan bahwa penciptanya adalah Allah SWT:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), “

Begitu pula dengan banyak sekali ayat-ayat lain dalam Al Quran yang Allah SWT menerangkan, mengenalkan dan memahamkan kita tentang Diri-Nya.

2. Ayat Kauniyah

Ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang kesemuanya diciptakan oleh Allah SWT. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di alam ini.

Dengan menyaksikan dan merenungkan alam semesta ini, maka akan fahamlah kita bahwa alam raya ini hanya mampu diciptakan oleh Allah dengan segala sistem dan pengaturan yang unik dan rumit. Kemegahan dan kehebatan alam ini menjadi tanda secara langsung tentang kehebatan dan keagungan Penciptanya. Dengan berfikir dan merenungkan alam semesta raya ini, seseorang bisa mengenal adanya Dzat Yang Maha Agung Yang Ia Maha Pencipta dan Maha Pengatur.

Firman Allah dalam QS. Fushshilat : 53,

 سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلۡأَفَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ‌ۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ ۥ عَلَىٰ
كُلِّ شَىۡءٍ۬ شَہِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuq dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53)

Allah SWT menjelaskan bahwa Dia akan tunjukkan ayat-ayat kauniah-Nya di segala ufuq (penjuru) dan juga pada diri manusia itu sendiri sehingga menjadi terang dan jelas akan kekuasaan Allah SWT.

Firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 190,

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبَابِ ۙ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”

Pada penciptaan langit dan bumi serta setiap pertukaran siang dan malam juga adalah ayat kauniah yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi siapa saja yang berakal (mau berfikir).

Bersambung…

Oleh: Ustadzah Prima Eyza Purnama

Bangunan di Atas Kuburan

Assalamualaikum Ustadz/ah…
Aku mau nanya soal Kuburan yg *_sudah Lama Banget_* yg ada disamping Rumah kami…
Haruskah kita pindahkan ke Pemakaman Massal kuburan tsb ?
atau Bolehkah kita kasih Keramik diatasnya untuk perluasan rumah ?

Tolong Jawab pertanyaan saya ini ya ust…Syukron I20

Jawab
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه

“Rasulullah ﷺ melarang mengecat kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya.”
 (HR. Muslim No. 970)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي. وذهب الجمهور إلى أن النهي في البناء والتجصيص للتنزيه.

Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk _tanzih_ (sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan). *( _Subulus Salam_, 2/111)*

  Imam Al Munawi _Rahimahullah_ mengatakan:

(وأن يبني عليه) قبة أو غيرها فيكره كل من الثلاثة تنزيها

_Nabi melarang (Membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih)._

Lalu beliau juga berkata:

قال ابن القيم : والمساجد المبنية على القبور يجب هدمها حتى تسوى الأرض إذ هي أولى بالهدم من مسجد الضرار الذي هدمه النبي صلى الله عليه وسلم وكذا القباب والأبنية التي على القبور وهي أولى بالهدم من بناء الغاصب اه.
وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

_Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ﷺ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dst. Ulama Syafi’iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafi’iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan._  *( _Faidhul Qadir,_ 6/402)*

Namun, Imam Asy Syafi’i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. *( _Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab,_ 5/286-287)*

Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.

Wallahu A’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Mari Belajar Cerdas……

Cerdas adalah selalu berusaha menjadi pelopor, bukan pengekor….

Cerdas itu pandai memilah bukan suka menggeneralisir masalah.

Cerdas adalah teliti mengamati, bukan terbawa arus opini….

Cerdas adalah engkau melakukan kebaikan yang telah engkau ketahui…

Cerdas itu adalah apabila kesalahan tak menghalanginya tuk terus bekerja sambil memperbaiki diri, bukan alasan untuk undur diri dan mencaci maki…

Cerdas tidak lemah berjuang karena survey lemah, justeru dia harus lemahkan hasil survey dengan perjuangan keras…

Cerdas standar:
Memilih yang baik dari yg buruk.

Cerdas super: Memilih yang terbaik di antara yang baik atau memilih yang lebih ringan keburukanya di antara yang buruk

Cerdas itu, kalau tidak dapat seluruhnya, minimal dapat sebagiannya….
bukan berprinsip, kalau tidak dapat sebagiannya, tinggalkan saja seluruhnya….

Cerdas adalah memilih kata yang tepat di moment yang tepat, bukan selalu mengulang-ulang kata yang sama walau moment berbeda.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

KISAH NABI ADAM A.S. (4)

Brother and Sista,

Apa khabarnya? Masih ingat pembahasan kita tentang Kisah Nabi Adam a.s. sampai dimana, kan? Kita coba lanjutkan ya materinya.

Dari berbagai nash yang kita terima hari ini, berikut ini kelanjutan beberapa fakta terkait dengan Nabi Adam a.s., sebagai manusia pertama yang diciptakan-Nya di muka bumi, sbb.:

12.  Keturunan Nabi Adam a.s. tercipta ketika Allah ﷻ mengusap punggung Nabi Adam a.s., dan terciptalah seluruh keturunannya hingga hari Kiamat. Di antara ciptaannya berbeda-beda dari seluruh sifat dan kenikmatannya serta amal-amalannya, dengan tujuan untuk mengetahui mana yang tetap bersyukur kepada Rabb-nya. Pada saat itulah Adam a.s. tertarik bertanya terkait salah satu keturunannya dengan cahaya yang khusus, yakni Nabi Daud a.s., dan beliau memberikan 40 tahun jatah umurnya untuk Nabi Daud a.s. sehingga memiliki umur 100 tahun.

13.  Keturunan Nabi Adam a.s. telah dimintakan persaksiannya pada saat itu, di Yaumi Alastu, agar tidak ada yang nanti lalai bahwa kehidupan di dunia sejatinya adalah waktu untuk merealisasikan janji yang pernah diikrarkan. Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. Al-A’rāf [7] ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

14. Nabi Adam a.s. diciptakan dengan ketinggian 60 hasta x 7 hasta (HR. Ahmad) dan kemudian anak keturunannya akan mengalami penurunan ketinggian jasad. Setiap yang memasuki Jannah memiliki ketinggian seperti Adam a.s. Hari Jum’at adalah hari yang mulia, diantaranya karena pada hari itu Nabi Adam a.s. diciptakan, pada hari itu pula ia dimasukkan ke Surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan dari Surga. (HR. Muslim)

Sampai disini dulu ya Brother and Sista. Ada yang mau ditanyakan? Kita akan lanjutkan poin-point terkait sosok Adam a.s. pada tulisan selanjutnya ya.

Oleh: Pemateri: Dr. Wido Supraha

NAZAR

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya bulan november bernazar jika saya naik pangkat bulan april maKa saya akan traktir teman2 ngajar,tapi tenyata ada kendala sehingga kenaikkan pangkat saya ditunda sampe oktober tahun ini. apakah nazar saya hrs tetap dilaksanakan?mohon penjelasannya. #A 42

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Apakah bernadzar itu boleh (mubah), mendapat pahala (sunnah), kurang baik (makruh) atau dilarang (haram)?

Ada beberapa pendapat ulama yang berbeda karena adanya dalil Quran dan hadits yang juga bermacam-macam. Intinya, nadzar sebaiknya dihindari. Tapi kalau sudah terjadi, maka wajib (harus) dipenuhi kalau nadzarnya berkaitan dengan ibadah. Seperti tersebut dalam hadits sahih:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِه

Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut. Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.
(HR. Bukhari no. 6696)

A. Nadzar itu Sunnah (baik dan mendapat pahala)

Dalil dari Quran:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah 2:270)

B. Nadzar itu Makruh (sebaiknya tidak dilakukan)

Dalil dari hadits:

نهي النبي عَنِ النَّذْرِ قَالَ إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

Nabi melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’. (HR. Bukhari Muslim)

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذؒرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit. (HR. Muslim)

HUKUM MENUNAIKAN/MELAKSANAKAN NADZAR

(1) Nazar taat dan ibadah, hukumnya wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).

(2) Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih melaksanakannya atau membayar kafarah. Sebagian ulama bahkan membolehkan untuk tidak menunaikan nadzarnya dan tidak perlu membayar kafarah (tebusan)

(3) Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah. Sebagian ulama berpendapat tidak perlu membayar kafarah (tebusan) berdasarkan hadits Nabi:

لا نذر في معصية الله ولا فيما لا يملك العبد
Tidak ada nadzar dalam maksiat pada Allah …
 (HR Muslim)

(4) Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannya atau membayar kaffarah.

(5) Nazar syirik, yaitu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar

Menyimak penjelasan di atas berarti nadzar yang dilakukan termasuk nadzar mubah jadi kembali ke anti mau menunaikan atau bagaimana.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Shalih Pribadi Tapi …..

Realita politik di DKI Jakarta, mungkin bisa menjadi barometer wajah politik umat Islam Indonesia

Polarisasi pemilih memang menyesuaikan tipikal paslon gubernur

Tapi ternyata, tidak selalu muslim memilih muslim, tidak sedikit muslim memilih non muslim, betapa pun non muslim tersebut begitu buruk perangai dan kebenciannya kepada umat Islam dan ulama

Uniknya lagi, ada juga yang memilihnya adalah orang-orang yang sebenarnya rajin shalat, rajin ke masjid, mungkin dia juga berzakat dan bersedekah dan ritual ibadah lainnya

Baik mereka yang strata pertengahan atau bawah

Artinya, untuk keshalihan pribadi dengan ibadah-ibadah terbatas, mereka tidak ada masalah sama sekali.

Maraknya ta’lim yang mereka ikuti, kajian-kajian spiritualitas, nampaknya hanya untuk memenuhi sisi kosong jiwa  mereka saja

Tapi kenapa mereka memilih non muslim juga, masih bagus jika non muslim tersebut berpihak kepada Islam, tapi ini berkali-kali menunjukkan antipatinya kepada Islam dan ulama?

Atau, kenapa masih suka bergelimangan dengan pinjaman-pinjaman atau cicilan ribawi?

Ini bisa jadi tidak sederhana, tapi yang paling mudah terlihat adalah pemahaman mereka pada batas keshalihan; yang penting saya sudah melaksanakan rukun Islam!

Ada pun Islam dalam artian sebuah tatanan hidup yang mewarnai semua sendi kehidupan belum menjadi sesuatu yang menarik dan menggoda. Bahkan bisa jadi mereka asing bahkan menolaknya

Jadi, yang dikatakan Islami itu jika sudah shalat, zakat, haji, shaum, umrah, …. mereka sangat menikmati itu semua

Namun, untuk keluarga Islami, ekonomi syariah, politik syariah, pergaulan Islam, busana Islam .. mrk tidak memandang penting bahkan menyebutnya “Islam Politik”, dengan pandangan skeptis

Ya, mereka sudah masuk shalih pribadi, dan ini perlu diapresiasi .., tapi masih perlu dilanjutkan dengan shalih sosial, shalih politik, shalih ekonomi dan lainnya ..

Allahu Yahdina ilaa sawaa’is sabiil

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Keutamaan Tahajjud

Assalamu’alaikum adik-adik, apa kabarnya hari ini, semoga kita masih dalam naungan rahamt Allah swt, aamiin. Kali ini kita akan membahas tentang Tahajjud

Sebagian ulama ahli hikmah berkata: “Aku mencari pelita hati dalam shlat siang hari,  tapi aku menemukannya dalam shalat di malam hari.”

“Dan dari sebagian malam hendaklah engkau melaksanakan shalat tahajjud sebagai tambahan bagimu. Semoga Allah membangkitkan kamu di tempat yang terpuji”. (QS. Al-Isra:79)

“Sedekat-dekat Tuhan dari hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir, apabila kamu mampu menjadi orang yang suka berdzikir kepada Allah pada saat itu, jadilah” (HR. Turmudzi, Nasa’i, dan Hakim)

Samurah bin Jundub mengatakan “Rasulullah saw memerintahkan kami agar melaksanakan shalat malam sedikit atau banyak dan menjadikan akhirnya shalat witir” (HR. at-Tabrani dan al-Bazzar)

Ibnu abbas mengatakan “kami disuruh oleh Rasulullah saw melakukan shalat malam dan supaya menggemarinya, hingga ia mengatakan: “Lakukan shalat malam sekalipun satu rakaat” (HR. at-Tabrani)

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya malam dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu…” (QS. Al-Muzamil: 20)

Wallaahu’Alam..

Oleh: Ustadzah Ida Faridah

Memutar Badan Bagi Imam Setelah Selesai Shalat adalah Sunnah

Dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad, dari ayahnya, dia berkata:

شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ قَالَ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَانْحَرَف

“Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku shalat subuh bersamanya di masjid Al Khaif.” Ia berkata; “Ketika beliau selesai melakasanakan shalat subuh dan Beliau memutar badannya …. ” (Hr. At Tirmidzi No. 219, katanya: hasan shahih)

 Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

قلت والظاهر أن المعنى انحرف عن القبلة وقال بن حجر أي جعل يمينه للمأمومين ويساره للقبلة كما هو السنة

Aku berkata: yang benar maknanya adalah berpaling dari kiblat. Ibnu Hajar berkata: yaitu menjadikan posisi sebelah kanan badan ke arah Ma’mun, dan bagian kiri ke arah kiblat. Sebagaimana itu adalah sunnah.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 2/3. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Poligami

Assalamualaikum ustadz/ustadzah…mau bertanya tentang keluarga
1. Bagaimana sikap kita terhadap kakak laki2 yang ingin menikah lagi padahal dalam rumah tangganya tidak ada masalah serius.
2. Sang kakak menikah dengan wanita yang akan menjadi teman bisnisnya alasannya akan sering berdua didalam mobil jadi untuk menjaga dari fitnah kakak saya akan menikahi wanita tsb. Apakah alasannya sudah syari? Apakah niat kakak saya itu benar/kurang tepat.
3. Istri pertama sudah mengikhlaskan karena pertimbangan demi kebaikan keluarga juga kebetulan siwanita yang akan dinikahi seorang janda kaya punya beberapa bisnis yang menjanjikan.. mohon pencerahan ustadz/ustadzah.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah…

Pada dasarnya poligami diperbolehkan sesuai ayat alquran di QS An Nisa 4:3

Ayat ini memberi catatan bahwa poligami dapat dilaksanakan bila aman dari potensi kedzhaliman diantara para istri baik dalam hal pemenuhan nafkah lahir, bathin ataupun pergiliran.

Poligami dilakukan oleh seorang Muslim jika menghadirkan kemaslahatan syariah, sosial dan dakwah. Misal mengatasi ketidakseimbangan jumlah laki-laki dengan perempuan, atau masalah keturunan dimana ada para istri yang Allah taqdirkan tidak bisa memberikan keturunan.

Pelaksanaan poligami memiliki batasan-batasan yang sudah diatur syara’ , dengan tujuan menghadirkan dan menegakkan keadilan didalam keluarga yang mengamalkan poligami secara utuh sesuai tuntunan Rabbaniyyah.

Dalam hal batasan, terdapat 2 syarat penting bagi seorang suami dianggap memenuhi syarat untuk melakukan poligami :

1. Memiliki kemampuan ekonomi dengan memberikan nafkah yang lebih kepada istri-istri dan anak-anak-nya. Karena tidak halal seorang suami menikah baik itu dengan satu istri ataupun lebih kecuali ia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi setelah menikah kelak seperti disebutkan dalam hadist,

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu hendaknya ia menikah. Karena menikah itu bisa menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)

Mampu disini artinya suami yang memang mampu memberi nafkah kepada istri-istrinya, dan bukan menjadikan salah satu istrinya sebagai sumber inspirasi pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi dirinya.

2. Memiliki kemampuan dan potensi yang terukur secara syara’ dalam berlaku adil kepada istri-istrinya, baik dalam memberikan tempat tinggal, makanan, pakaian dan giliran secara penuh serta hal lainnya.

Jika secara objektif seorang suami dipandang tidak bisa berlaku adil maka makruh baginya untuk berpoligami untuk menghindari mafsadat yang mungkin muncul dikemudian hari.

“Apabila seorang laki-laki memiliki dua orang istri lalu ia tidak berlaku adil kepada keduanya maka ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh yang terjatuh” (HR Tirmidzi)

“Apabila seorang laki-laki memiliki dua orang istri lalu ia tidak berlaku adil kepada keduanya maka ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh yang miring” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimi)

Berkaitan dengan pertanyaan saudari diatas, bagaimana harusnya keluarga bersikap, maka yang harus dipastikan dan coba untuk diingatkan kepada suami yang hendak melakukan poligami tersebut adalah 2 syarat utama diatas. Bahas bersama ulama atau ahli agama yang shalih.

Di zaman yang penuh fitnah ini, sangat penting untuk menghadirkan Ulama atau Ahli Agama yang shalih sebagai pihak untuk membantu menjaga keshahihan amal yang akan dikerjakan, dalam hal ini adalah sunnah Poligami.

Selanjutnya, tentang alasan yang diajukan seperti yang tercantum dalam pertanyaan, sepertinya harus kembali ditegaskan dan dibicarakan. Apakah semata hanya karena masalah teknis pertemuan bisnis yang sebenarnya bisa di siasati untuk menghindari khalwat dengan selalu menyertakan istri dalam perjalanan bisnis ataukah ada alasan lainnya yang lebih bersifat pribadi? Perlu dibicarakan dengan ulama atau ahli agama yang terdekat.

Juga untuk alasan karena sang wanita adalah seorang janda dengan bisnis yang banyak dan berhasil, tentunya ini juga harus dipertimbangkan dengan matang untuk perjalanan kehidupan kedepannya. Apakah ini lebih dominan menghadirkan potensi kebaikan atau sebaliknya berpotensi menimbulkan masalah dalam rumah tangga? Apalagi selama ini rumah tangga penanya tidak cukup teruji dengan adanya masalah rumah tangga.

Misalnya, perlu memperhatikan akhlak ataupun suluk dari wanita calon madu tersebut, kondisi agama dan keimanannya. Karena tentunya ini akan sangat berpengaruh untuk kehidupan selanjutnya bagi kedua istri dan keluarganya.

Jangan sampai alasannya semata karena bisnis atau harta, sehingga kedepannya justru menghadirkan potensi masalah ketidakadilan berdasar ketimpangan kekuatan ekonomi dari istri pertama dan kedua. Harta/bisnis sudah seringkali menjadi masalah besar yang menjadi pemicu konflik hingga keretakan rumah tangga.

Saran kami, hendaknya melakukan pemetaan bersama terlebih dulu, di mediasi ahli agama yang shalih, khususnya untuk membahas secara objektif masalah-masalah yang akan dihadapi jika memang harus melakukan poligami meskipun istri pertama sudah bersedia. Jangan sampai niat baik istri sholihah berbuah duka dan luka. Sebaik-baik suami adalah yang paling baik sikapnya dan akhlaknya terhadap istri-istrinya.

Sekali lagi, poligami bukan sekedar masalah ijin yang diberikan dengan ikhlash penuh keridhoan. Tapi lebih dari itu. Apalagi jika didalam prosesnya ada unsur bisnis/harta/ekonomi yang potensi mudorat maupun manfaatnya perlu saling difahami.

Sejatinya, tujuan harta atau bisnis tidak bisa dijadikan alasan utama secara syara’ untuk melatar belakangi sebuah pernikahan. Kalaupun ternyata alasan itu tidak bisa dihindari, maka pelaksanaannya kemudian harus dipersiapkan dengan baik dan seksama untuk menghindari munculnya potensi masalah-masalah besar yang akhirnya akan membawa mudharat untuk kehidupan pernikahan kelak.

Wallahu’alam bisshowab

Dijawab oleh Ustadzah Fitri

Allah Ta’ala dan RasulNya Telah Menjamin Kemenangan Bagi Kaum Muslimin

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9)

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, namun Allah menyempurnakan cahaya (agama)Nya walau orang-orang kafir membencinya. Dialah (Allah) yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas semua agama-agama, walau orang-orang musyrik membencinya. (Qs. Ash Shaf: 8-9)

Dalam Tafsir Al Muyassar:

الله هو الذي أرسل رسوله محمدا بالقرآن ودين الإسلام؛ ليعليه على كل الأديان المخالفة له، ولو كره المشركون ذلك.

Allah, Dialah yang mengutus seorang rasul yaitu Muhammad, dengan membawa Al Quran dan agama Islam, untuk meninggikannya di atas semua agama yang menyelisihinya, walau orang-orang musyrik membenci agama itu (Islam). (Tafsir Al Muyassar, 10/122)

Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَشِّرْ هَذِهالْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ، وَالدِّينِ، وَالنَّصْرِ، وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ

“Berikan kabar gembira kepada umat ini dengan keagungan, ketinggian, agama, pertolongan, dan kedudukan kuat di muka bumi.”

(HR. Ahmad No. 21220, Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan: isnaduhu qawwiy-isnadnya kuat. Juga diriwayatkan oleh Asy Syaasyi No. 1491, Al Hakim, 4/311. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6834, 10335, juga dalam Dalail An Nubuwah, 6/317-318 , dari jalan Zaid bin Al Hibab, dan lain-lain. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 2825)

Bisa jadi, kaum muslimin kalah di beberapa front pertempuran, beberapa mimbar perjuangan, dan beberapa  periode pertarungan …. Tapi, itu tidak seberapa dibanding kemenangan besar yang telah dan akan mereka raih.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah berkata:

وهذا الوعد لهم بالنصر ، والغلبة لا ينافيه انهزامهم في بعض المواطن ، وغلبة الكفار لهم ، فإن الغالب في كل موطن هو : انتصارهم على الأعداء ، وغلبتهم لهم ..

“Ini adalah janji pertolongan untuk mereka, dan kemenangan  tidak berarti meniadakan adanya kekalahan mereka di beberapa medan perang, dan kemenangan orang-orang kafir terhadap mereka, sebab pemenang dalam semua medan adalah pertolongan untuk mereka atas musuh-musuhnya, kemenangan mereka atas musuh-musuh tersebut ….” (Fathul Qadir, 6/224. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Wallahul Musta’an

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.