HIJRAH

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….
1. Benarkah ketika seseorang berhijrah cobaan semakin berat, lalu bagaimana agar tetap beristiqomah di jalan lurus dan istiqomah memperbaiki diri.

2. Bila berhijrah menjauhi teman yg perilakunya buruk/kurang baik, apakah tdk apa”? Atau itu memutuskan tali silaturahmi?
Syukron

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Lakukan penghayatan kembali terhadap posisi diri di atas dunia.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Ibrahim [14] ayat 27:

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَۚ وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ٢٧

Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

Memaknai kembali ikrar kita dalam Dua Kalimat Syahadat Dengan Benar sebagaimana janji Allah dalam ayat di atas
Mengkaji Al-Qur’an dengan perenungan dan penghayatan secara Benar
Iltizam dan terus ditemui Allah sedang menjalankan syariat Allah
Banyak belajar dari kisah orang-orang shalih
Memperbanyak do’a yang sering dilantunkan orang-orang Pecinta Hijrah sebagaimana Q.S. 3:147
Bergaul dengan orang-orang istiqomah agar mendapatkan refleksi semangat hijrah

HIJRAH MENJAUHI KEBURUKAN

“Menjauhi dan memutuskan adalah dua tema yang berbeda.”

Di antara makna hijrah sebagaimana telah disebutkan adalah menjauhi, dan oleh karenanya menjauhi keburukan adalah hijrah yang disyariatkan

Menjauhi keburukan menjadi wajib jika seseorang tidak memiliki kekokohan iman alias mudah terbawa arus.

Menjauhi keburukan menjadi hal yang disukai (mustahab) jika seseorang tidak punya semangat sama sekali untuk merubah keburukan tersebut menjadi sebuah kebaikan

Allah ﷻ tela berfirman dalam Surat Al-Furqān [25] ayat 27-29:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ٢٧ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ٢٩

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang, agamanya sesuai dengan agama teman dekatnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Pilihlah teman terbaikmu dari kalangan yang mendukungmu untuk berhijrah dan menggenggam tanganmu untuk bersama menguatkan semangat hijrah. Tularkanlah kecintaan terhadap hijrah kepada temanmu yang masih berada dalam zona ‘perasaan seakan aman’-nya dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha

Kisah Hajar Al-Mishriyah

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ –

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim : 37)

Dalam sejarah, Hajar dikenal sebagai ibunya bangsa Arab Adnaniyyin. Hajar sendiri seorang budak (salah satu ratu di Mesir yang menjadi budak karena termasuk tawanan perang)  yang dihadiahkan Fir’aun kepada Sarah dan dihadiahkan lagi oleh Sarah kepada Ibrahim AS dengan harapan Ibrahim segera memiliki keturunan.

Lahirlah buah hati yang dinanti Ibrahim yang ia beri nama Ismail yang dikenal dengan sebutan “jaddul arab” (kakeknya orang Arab). Dari keturunan Ismail, hadirlah Rasulullah SAW penutup para nabi.

Allah SWT memerintahkan kekasihnya Ibrahim untuk pergi bersama Hajar dan si bayi merah Ismail ke Makkah Al-Mukarramah

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ    
Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang yang beribadah dan orang yang ruku’ dan sujud. (QS Al-Hajj:27)

Sesampainya disebuah tempat yang tandus tanpa air, tanpa tanaman, tanpa tanda-tanda kehidupan, Ibrahim beranjak meninggalkan Hajar dan bayi merah Ismail dengan perbekalan sekeranjang kecil kurma dan satu bejana air. Tak ada tanda Ibrahim kembali kesisinya Hajar bertanya:”Wahai Ibrahim! Apakah engkau akan pergi dan meninggalkan kami di tempat ini, yang tidak ada tanda kehidupan bahkan tidak ada tanaman dan air?” Tidak ada jawaban dari Ibrahim yang terus berjalan tanpa menoleh. Hingga Hajar tahu bahwa ini perintah Allah yang Ia tetapkan baginya dan bagi anaknya. Akan tetapi ia ingin memastikan kebenarannya:”Apakah Allah yang memerintahkan semua ini wahai Ibrahim?” Barulah nabi Ibrahim menjawab hanya dengan satu kata saja:”benar”. Hajar menceritakan, “sungguh ketika itu jawaban Ibrahim seketika hatiku diliputi ketenangan dan kenyamanan. Demi Allah Dia tidak akan meninggalkan kami selamanya”.

Dan ketika Ibrahim merasa cukup jauh tak terlihat oleh Hajar, ia hempaskan dirinya tersungkur bersujud kepada Allah mengiba dengan hati sedu sedan. Suami mana yang tega meninggalkan istri dan bayi merahnya dipadang tandus tanpa tanda kehidupan. Ibrahim tersedu dan berdo’a agar Allah kirimkan kepada mereka rizki dan manusia.

Adapun Hajar…setelah kepergian Ibrahim, ia segera berbenah. Menyusui sang anak Ismail dan minum sebanyak-banyaknya agar memiliki tenaga yang cukup hingga air yang tersedia habis. Namun bayi Ismail merengek kehausan karena air susu ibu mulai surut. Dalam kesendirian Hajar berdiri kemudian berlari kesana kemari mencari air. Ia berlari ke atas bukit Shofa namun tak satu orangpun ia temui disana kemudian ia turun dan berlari ke atas bukit Marwah namun tak juga ia temui apa-apa disana. Antara sadar dan tidak ia terus berlari diantara dua bukit itu berharap sesuatu ia temukan. Hajar merasa ada suara yang memangilnya untuk terus berlari antara bukit Shofa dan Marwah. Namun ia tak menemukan apa-apa tak menemukan siapa-siapa. Ia terus berlari sampai tujuh kali. Kemudian ia kembali menemui bayi kecil Ismail untuk menyusuinya.

Hajar melihat kaki Ismail memukul-mukul tanah dan seketika keluarlah air dari sana. Ia segera minum air yang terpancar dihadapannya kemudian menyusui Ismail. Setelah usai ia mengumpulkan air itu dengan tangannya (dlm b.arab=zamma). Oleh karenanya mata air itu disebut zam zam.

Malam harinya, seseorang dari Bani Jurhum lewat disana. Ketika ia mendengar suara tangis bayi, ia memberitahu kaumnya bahwa disana ada seorang perempuan dan anaknya dan disisi mereka ada mata air. Keesokan hari ia kembali bersama kaumnya, menemui Hajar dan minta izin untuk mendirikan tenda-tenda didekatnya. Hajar mengizinkan dan mulailah mereka mendirikan tenda, memboyong keluarga dan tinggal disana. Bersama mereka Ismail tumbuh dewasa, belajar bahasa Arab dan menikah dengan salah satu anak mereka.

Saat Ibrahim AS bermimpi menyembelih Ismail, setan datang kepada Hajar menghasut bahwa Ibrahim berniat menyembelih Ismail karena hawa nafsu. Lihatlah apa yang dilakukan Hajar…ia lempar setan itu dengan batu hingga lari terbirit-birit dan tidak berani lagi mendekatinya.

Hari berlalu hingga sampailah Hajar di akhir usia. Ia dimakamkan di lembah penuh berkah itu, yang penuh sejarah dan dicintai dan dirindukan banyak orang hingga hari ini.

Hikmah kehidupan:

Status sosial seseorang tidak harus membuat ia merasa tidak berdaya, tidak berarti. Sebagai apapun seseorang, ketika ia memegang teguh iman kepada Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya.
Anak adalah anugrah dan amanah yang bahkan para nabi pun merindukannya. Maka bersyukurlah akan kehadiran anak-anak kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Salah satu alasan syar’i poligami adalah untuk mendapatkan keturunan.
Selain untuk menyelamatkan aqidah, hijrah juga dilakukan untuk penyebaran dakwah.
Husnudzhan kepada Allah adalah tanda kekokohan iman seseorang.
Husnudzhan kepada Allah akan membawa ketenangan dalam jiwa.
Husnudzhan kepada Allah akan membawa keberkahan/kebaikan yang berkelanjutan.
Husnudzhan kepada Allah melahirkan pemikiran positif, persepsi positif dan sikap positif.
Adab utama seorang istri kepada suami adalah percaya, berbaik sangka. Demikian juga adab utama suami kepada istri, memberi kepercayaan penuh bahwa istri mampu menunaikan tugas-tugasnya.
Komunikasi efektif secara verbal antara suami istri sangatlah penting. Untuk merawat saling percaya dan menghilangkan prasangka.
Seorang istri berhak untuk menanyakan apa saja kepada suami tanpa maksud mencurigai atau memata-matai.
Dalam komunikasi suami istri perlu menggunakan bahasa yang jelas dan santun. Ini sebagai bentuk saling menghargai.
Landasan berkeluarga adalah karena Allah. Sehingga apapun yang Allah taqdirkan menjadi mudah dijalani.
Setiap suami menginginkan anak istrinya hidup bahagia berkecukupan. Remuk redam hatinya bila ia tak mampu membahagiakan dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Ini adalah fitrah. Dan waspadalah bila fitrah ini telah hilang. Bila seorang suami merasa tenang-tenang saja atau biasa-biasa saja saat belum mampu membahagiakan dan memenuhi kebutuhan keluarga, karena keluar dari fitrah adalah tanda kehancuran.
Ketika Allah memberikan ujian berat dalam keluarga, yakinlah bahwa Allah akan memberikan ni’mat yang besar.
Fitrah seorang ibu adalah berkorban. Sebesar apapun…untuk anak-anaknya.
Ikhtiar dan tawakal adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan. mereka harus berjalan bersama seiring sejalan. Tak akan bermakna bila salah satunya ditinggalkan.
Seringkali Allah berikan jalan keluar bukan dari apa yang kita lakukan. Tapi dari apa yang kita yakini. Mungkin dari arah atau dengan cara diluar dugaan kita.
Hajar memberi teladan bagaimana menjadi perempuan dan ibu yang tangguh. Ibu tangguh inilah yang melahirkan generasi sekelas Ismail. Yang kesalehannya tiada tara.

“Ya Allah jadikanlah kami orang tua tangguh bagi anak-anak kami. Mampukan kami untuk mendidik mereka hingga mereka menjadi generasi solih pengusung dakwah dan panji agamaMu”

Wallohu a’lam bish showwab

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

Air Mata Manusia-Manusia Mulai: Tangisan Nabi saw

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku”,

«اقْرَأْ عَلَيَّ» قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي» فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى بَلَغْتُ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: ٤١] قَالَ: «أَمْسِكْ» فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Bacakanlah Al Qur`an padaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Shahih Al Bukhari No. 4583, 5050, 5055, Shahih Muslim No. 247 (800) )

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang belum kami dengar sebelumnya. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian melihat apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Lalu para sahabat menutup wajah mereka dan menangis tersedu-sedu. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

APA DAN MENGAPA REMAJA MENGALAMI STRES

Apa itu stres?

Kita bereaksi terhadap bahaya, ketakutan, atau setiap kebutuhan akan reaksi mendadak dengan respon “lawan atau lari”.

Ketika kita merasa terancam, otak kita memicu dilepaskannya unsur kimia yang membuat tubuh memberi tanggapan dgn cepat. Dua unsur itu adalah adrenalin dan kortisol.

Stres Negatif

Apabila stres muncul secara berulang dalam waktu yang panjang, maka, kamu akan selalu berada dlm keadaan “lawan atau lari”, tanpa ada sesuatu yang membuat kamu harus melawan atau lari.
Biasanya stres yang banyak dihadapi saat ini adalah jenis tersebut, tidak ada bahaya yang sesungguhnya shg seakan-akan bahaya itu tidak pernah berlalu.

Stres Positif

Adalah kondisi tertekan yang mendorongmu untuk berusaha sungguh-sungguh, bekerja keras, dan rela bersusah payah dalam mencapai tujuan atau utk menghindari hal yang tidak menyenangkan.

Kamu membutuhkan keseimbangan antara stres dan relaksasi dalam hidup. Setelah mengalami hal yang menegangkan, kamu membutuhkan sesuatu untuk menenangkan diri dan membuang kortisol dari dalam tubuh.

Daya Tahan

Daya tahan adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan atau hal yang tidak menyenangkan.

Meskipun kita dilahirkan dengan kemampuan daya tahan yang berbeda-beda, tapi, keterampilan ini bisa dipelajari dan dilatihkan.

Daya tahan akan membuatmu kuat, sehingga membantumu mengembangkan stres positif dan menjauhi stres negatif.

Kamu tidak bisa mencegah terjadinya hal-hal buruk, tapi kamu bisa melakukan sesuatu untuk menangani hal-hal buruk itu.

Sebagai seorang Muslim, tentunya daya tahan kita terhadap stres dipengaruhi oleh kondisi keimanan dalam diri kita. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu memperbaharui iman, membersihkan hati, dan selalu meminta petunjuk, pertolongan, dan penjagaan Allah SWT.

Oke Sobat, jadilah sosok yang bersemangat, dan memiliki daya tahan yang kuat. Ayo. Kamu pasti bisa!!

Oleh: Ustadzah Dina Farihani

Menemukan Dompet di Jalan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau tanya kemaren pagi saya menemukan dompet jatuh dijalan dan saya ambil karena saya pikir didalamnya ada indentitas yg punya tapi ternyata tdk ada identitasnya sama sekali…. trus saya hrs bagaimana….? Mau mngembalikkan tapi ndak tau siapa yg punya.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sebenarnya tdk boleh diambil jika itu jelas milik seseorang, kecuali dia mengizinkannya. Tapi, jika menyelamatkannya khawatir diambil orang yang tidak bertanggungjawab maka tidak apa-apa.

Menyikapinya adalah jika itu barang yang kemungkinan masih diinginkan pemiliknya, kita boleh mnyimpannya selama 1 th untuk menunggu pemiliknya, jika yg punya datang maka berikan, jika tdk ada yg datang maka boleh jadi milik kita atau sedekahkan atas nama yg punya.

Jika barangnya sesuatu yg tdk berharga, rongsokan, atau sesuatu yg oleh pemiliknya sdh tdk diinginkan, maka boleh langsung dimiliki.
Pembahasan ini ada dalam Bab Luqathah.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Tanpa Iman

Tanpa iman hidup kita tak kan berarti. Jauh dari cahaya Ilahi.
Hati kelam bagai malam yang sunyi. Dan diri tak kenal budi pekerti.

Tanpa iman hati bagai ruang kosong tak berpenghuni.
Perangai jauh dari terpuji.
Akal akan sulit terkendali.
Pribadi pun jauh dari mawas diri.

Dengan iman kesulitan tiada memberatkan.
Keterjatuhan tak akan memperburuk keadaan.
Kelelahan tak menyurutkan
Semua dinikmati sebagai tempaan.

Iman kita seperti laut kadang pasang kadang pula surut.
Menjaga keimanan menjadi kewajiban.
Dengan amaliyah yang istiqamah. Dengan segala ibadah yang tak pernah lelah.

Mari menjaga iman kita agar tak sengsara di dunia.
Mari menjaga iman kita agar tak menderita di akhirat sana.

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan:

_”Mereka mendengar seruan yang mengajak untuk beriman, maka mereka pun beriman. Kita memohon kepada Allah agar membuat diri kita mencintai iman ini, menghiasi hati kita dengannya sebagaimana Allah pernah memberikan cinta itu kepada mereka dan menghiasi hati mereka dengannya. Iman adalah Bekal utama kita. (Ath-Thariq ila Ar-Rabbaniyyah, Majdi Al Hilali, hlm 46-47)_

Iman itu perbuatan. Saatnya kita merealisasikan keimanan kita dengan perjuangan hingga titik darah terakhir kita.

Bergerak dan segera tinggalkan kebekuan. Lantaran iman itu energi yang mampu memelesatkan kita.

Selayaknya anak panah yang tak pernah lepas dari busurnya maka sampai kapan anak panah itu hingga ke sasaran.

Jika kita tak berusaha untuk bergerak dan berusaha keras untuk ambil bagian dari perjuangan ini maka dimana keberadaan iman kita.

Tidaklah harapan akan sampai pada yang dicitakan bila kita tak segera bergegas untuk meraihnya.

Seperti halnya matahari yang enggan beranjak dari ufuk tak akan ada kebermanfaatan yang ia tebar.
*Kata kuncinya adalah bergerak atau tergantikan.*

Mari kita segera tinggalkan belenggu-belenggu  yang bisa menghentikan langkah kita. Tatap ke depan dan segera lah melaju.

Abaikan hal-hal yang sia-sia dan merugikan diri kita dan berusaha menghentikan derap langkah kita.

Maju dan terus melaju hingga perjumpaan dengan Sang Penentu.

Jadikan iman sebagai kendaraan menuju haribaan Tuhan. Niscaya jiwa-jiwa kan terselamatkan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Waktu

Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.
Diantara nikmat yang allah berikan ialah nikmat waktu(kesempatan)…

Sobat MFT yang allah muliakan..
Hendaknya kita memakmurkan waktu untuk kegiatan ibadah hingga tidak berlalu waktu malam dan siang kecuali engkau menjadikannya untuk aktifitas kebaikan, menghabiskan waktu untuk ibadah. Sehingga tampak keberkahan waktu, diperoleh manfaat dalam umur ini dan selalu semangat beribadah kepada الله. Dan luangkan waktu tertentu untuk aktifitas harian seperti makan, minum, dan bekerja.

Ketahuilah, Bahwa keadaan seseorang tidak akan bisa istiqomah apabila diiringi dengan ketidakseriusan. Dan hati tidak akan menjadi baik apabila diiringi dengan kelalaian.

Hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari, no. 5933)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)

Sobat MFT, sebaiknya kita bisa mengatur waktu kita kepada hal-hal yang bermanfaat.

So, penting untuk kita ingat terkait waktu.

Hendaknya engkau membagi waktumu dan mengatur wirid-wiridmu.
Dan tentukanlah untuk setiap waktu ada aktifitas (wird/ ibadah) yang tidak akan engkau tinggalkan ataupun mementingkan yang lainnya.

Adapun orang yang membiarkan dirinya sia-sia begitu saja, tak ubahnya seperti seekor binatang yang menyibukkan dirinya setiap saat. Ia berbuat apa saja yang ia mau dengan cara sesukanya, sehingga waktunya banyak habis sia-sia.

Ketahuilah, bahwasannya waktumu adalah umurmu, umurmu adalah modalmu, dan modal utama perdaganganmu. Dengannya engkau bisa mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah Taala.

Maka, setiap nafasmu adalah permata yang tak ternilai harganya dan tidak dapat ditukar, jika ia telah terlewat tak akan pernah kembali lagi.

والله أعلم

Oleh: Ustadzah Lelisya

Selengkapnya klik www.manis.id

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Assalaamu’alaikum wr.wb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang keenam.

Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang terakhir yakni yang ketujuh.

SYARAT KETUJUH:

اَلاِنْقِيَادُ اَلْمُنَافِيْ لِلاِمْتَنَاعِ

(PELAKSANAAN YANG MENGHILANGKAN KEPASIFAN / TIDAK MAU BERAMAL)

Orang yang telah bersyahadat harus melaksanakan semua ajaran syariat dan ketentuan Islam.

Firman Allah SWT :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”.  Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur [24] : 51)

Orang-orang beriman itu, ketika diseru langsung oke.

Demikian pula firman Allah dalm QS Al-Baqarah (2) : 124 yang menjelaskan sosok Nabi Ibrahim yang menunaikan SEMUA perintah ALLAH dengan SEMPURNA:

 … وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

“Dan (ingatlah) tatkala telah diuji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna.  …”

Juga dalam QS Al-Baqarah (2) : 131,

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Tatkala Tuhannya berfirman kepadanya: berserah dirilah engkau !  Dia menjawab : Aku serahkan diriku pada Tuhan bagi sekalian alam .”

Iman dan Amal Shaleh

Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shaleh. Orang-orang yang beriman, pastilah ia kemudian beramal shaleh. Amal shaleh adalah buah dan bukti langsung dari pengakuan iman. Bahkan, orang yang beriman tidaklah bisa menghambat dan menahan dirinya dari beramal shaleh. Terus-menerus. Sayyid Quthb dalam kitab tasirnya Fii Zhilaalil Quran menggambarkan kondisi keterkaitan keimanan dan amal shaleh ini dengan ungkapan “seperti bunga yang tidak dapat menahan bau wanginya”. Demikianlah orang-orang yang beriman, ia tidak bisa berhenti dan membatasi dirinya dari beramal shaleh.

Sebaliknya, orang-orang munafik kesukaannya adalah pasif (duduk-duduk) saja dan meninggalkan mujahadah (bersungguh-sungguh di jalan Allah).

Firman Allah dalam QS At-Taubah (9) : 83,

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَىٰ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا ۖإِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ

“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk ke luar (pergi berperang), maka katakanlah: “Kamu tidak boleh ke luar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”

Orang-orang munafik meninggalkan jihad dan amal shaleh dengan seribu satu alasan:

Merasa berat (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ )

Puasnya kepada kehidupan dunia (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَ)

Cenderung kepada dunia (QS. Al-A’raaf [7] : 176)  
    (أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ)

Mengikuti hawa nafsu (QS. Al-A’raaf [7] : 176)  
    (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ)

Keuntungan yang masih lama (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (عَرَضًا قَرِيبًا)

Jaraknya jauh (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (وَسَفَرًا قَاصِدًا)

Hawa/udara panas (QS. At-Taubah [9] : 81)  
    (لا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ)

Maka, seorang mukmin yang benar adalah mukmin yang produktifitas amal shalehnya tinggi. Karena produktif, maka amal shaleh tersebut surplus, bermanfaat luas bagi orang banyak. Karena amal shaleh dan kebaikan-kebaikan yang surplus, maka bukan hanya orang Islam saja yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga manusia seluruhnya, bahkan alam semesta. Mukmin seperti inilah yang dikatakan dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah mewahyukan dalam Al Quran :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.  (QS. Al-Anbiyaa`[21] : 107)

Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan kita sejak awal tentang syarat-syarat diterimanya syadahat, maka, hendaklah difahami bahwa agar syahadat kita diterima maka harus didasari oleh ilmu (kefahaman), keyakinan, keikhlasan, ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan pelaksanaan.
Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, menolak, dan pasif adalah hal-hal yang menyebabkan syahadat tidak diterima.

Jika semua persyaratan itu terpenuhi, maka pasti kita akan RIDHA diatur oleh:
ALLAH
Rasul
Islam
di setiap keadaan.

Wallaahu a’lam bishshowab.

-Tamat-

Oleh: Ustadzah Prima Eyza Purnama

Pernikahan Siri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…..
bagaimana hukumnya anak hasil pernikahan siri ( hamil stelah menikah siri ) dan bagaimana hubungannya dg saudara2nya yg mereka itu dilahirkan dr pernikahan yg sah. Terimaksih
Wassalamu’alaikum… # A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Nikah Sirri bila dilihat dari penggunaan katanya sebenarnya bermakna nikah tanpa meramaikan dengan walimah atau tanpa pencatatan di hadapan hukum negara (dari kata _sirriyah_ -diam atau tersembunyi,lawan dari  _jahriah_,dikeraskan atau diumumkan).

Nikah Sirri ini halal hukumnya sepanjang terpenuhi semua rukun nikah: *ada mempelai,wali,ijabqabul,mahar dan saksi*. Namun,meski sah dari sisi agama,pernikahan tanpa pencatatan hukum negara ini sebaiknya dihindarkan atau diupayakan untuk sesegera mungkin mendaftar ke KUA karena bila tidak,kelak dapat memunculkan beberapa implikasi sosial yang bisa menyulitkan pasutri sendiri.
Misalnya saja dalam hal pencatatan surat kelahiran anak,hubungan kepemilikan harta yang bernilai besar (misalnya membeli rumah),hubungan sewa-menyewa terutama yang menyangkut pihak ketiga,serta hutang piutang,banyak membutuhkan bukti-bukti pernikahan sebagai salah satu syarat tertib administrasinya.
Begitu pula dengan klaim asuransi atau klaim waris bila salah satu pasangan meninggal dunia,yang akan terhambat bila tak ada bukti otentik pencatatan pernikahan.

 Tambahan lagi,perlu dipertimbangkan juga fitnah sosial dari masyarakat yang tidak mengetahui status hubungan resmi sang suami-istri.

Kalau dikembalikan pada Sunnahnya,pernikahan itu sendiri semestinya disebarluaskan kabarnya ke hadapan umum sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW,dari Aisyah RA,
“umumkanlah perkawinan dan selenggarakan lah di masjid-masjid serta buktikanlah untuknya rebana-rebana” (HR Ahmad dan At.Tirmidzi).

Begitu pula sabdanya yang lain dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-zubair,dari ayahnya Ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
” sebarkanlah berita pernikahan” (HR Ahmad. Hadist shahih menurut hakim)

Perintah ini sesungguhnya juga mengandung tujuan agar orang tahu bahwa Fulan dan Fulana telah menjadi suami istri yang sah. Namun,untuk masa sekarang yang pola kehidupannya lebih kompleks dengan mobilitas tinggi dan jumlah penduduk lebih banyak,hanya membuat walimah dengan mengandung orang saja belum cukup.
Sumber : Majalah UMMI 2007

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Dwi Hastuti Rakhmawati S.Psi

Memimpin Ummat, Cakupannya Luas & Jauh -Memimpin Ummat, Kadang Tak Searah Kepentingan Lokal

Armada Laut Turko Utsmani Berlayar Menuju Diu – 19 Agustus 1538

Permulaan Pengepungan kota Diu Milik Portugis di India 1538

Gubernur yg mewakili khalifah Turki Utsmani di Mesir sejak tahun 1525 yg bernama Hadım Suleiman Pasha telah mengantongi izin dari sultan İstanbul untuk memerangi Portugis yang merajalela di Samudera Hindia. Sultan Suleiman I Kanuni memberikan restu untuk membela nasib kaum Muslimin di wilayah laut yang jauh itu.

Armada yang dibangun oleh gubernur Mesir berkekuatan 80 kapal yang tulang-punggung kekuatannya terdiri atas 17 galley dan 2 galleon. Disamping itu, penggalian kanal antara Sungai Nil dan kota pelabuhan Suez mulai dibangun pada tahun 1531-32.

Keterlambatan

Persiapan utk proyek pembangunan armada laut Turki Utsmani di Mesir ini mengalamj banyak hambatan karena adanya operasi militer lain yang juga menyerap sumber daya seperti Pengepungan Coron di Laut Mediterranenan serta konflik perbatasan di timur menghadapi entitas syi’ah Safawi antara tahun 1533 hingga 1535. Sementara armada ini belum bisa melaut, maka Portugis terus bebas menguatkan cengramannya di region tersebut.

Portugis mengeksekusi Sultan Bahadur Shah pada bulan Februari 1537 ketika pemimpin Gujarat tersebut sedang mengunjungi kapal perang Portugis dalam sebuah misi diplomatik.

Posisi Yaman

Yaman sudah hampir semuanya dikuasai, tinggal kota pelabuhan Aden yang harus didapatkan okej Hadım Suleiman Pasha pada 1538 karena letaknya yang strategis untuk menjadi titik aju di region tersebut. Dari Aden ini pula kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani menyerang pos-pos Portugis yang tersebar dari pesisir timur Benua Afrika, pesisir barat dan timur Anak Benua India, hingga jauh ke Malaka.

Namun, Sultan Aden masih takut kepada Portugis untuk mendukung “kekuatan baru” Turki Utsmani di region ini. Sikapnya yang memusuhi Turki Utsmani dan menutup pelabuhannya memaksa terjadinya konflik yang mengakibatkan terbunuhnya Sheikh Amir bin Dawaud dan kota Aden tunduk tanpa perlawanan.

Ekspedisi ke Diu

Armada laut Turki Utsmani segera mempersiapkan serangan selanjutnya yaitu menuju kota Diu yang dikuasai oleh Portugis. Armada yang diberangkatkan berjumlah 72 kapal yang berlayar pada hari Senin 24 Rabi’ul Awwal 945 Hijriah (19 Agustus 1538) dan tiba di Diu pada hari Rabu 4 Rabi’uts Tsani 945 Hijriah (4 September 1538). Armada tersebut adalah yanh terbesar yang pernah digelar oleh Khilafah Turki Utsmani di Samudera Hindia. Mereka mengepung Diu dengan kekuatan 130 kanon dan mulai menghujani kota.

Bagaimana selanjutnya? In-syaa-Allah saya akan tuliskan pada edisi yang akan datang

Agung Waspodo, mencatat betapa jauh dan luasnya urusan yang menjadi perhatian Sultan di İstanbul, ketika para emir dan sultan lokal hanya mampu melihat kepentingannya sendiri.. masih kurang lebih sama dengan sekarang, bahkan sekarang lahirlah analisis para “jagoan-baru” seolah itu semua tidak ada bedanya dengan imperialisme berbaju agama.. amir dan sultan kecil masih terus larut dalam kebingungan walau sudah berlalu 477 tahun kemudian..

Depok, 21 Agustus 2015, masuk waktu dhuha.

Oleh: Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP