Ta’aruf

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
Apa konsep ta’aruf yang benar ?
Saya dan beliau sepakat untuk saling membebaskan satu sama lain , sama2 perbaiki diri , sibuk dengan kegiatan masing2 . Namun , kami sama2 mempunyai tujuan menjalankan salah satu sunahrasul > “menikah”
Kami berkomunikasipun jarang , hanya sekedar menanyakan kabar
Apa ini bisa disebut dengan taaruf ?
Jazakallah ustadz ๐Ÿ™‚

Jawaban
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ta’aruf adalah terminologi untuk mengenali calon pasangan untuk memutuskan pernikahan dalam waktu segera setelah mendapatkan jawaban yang dibutuhkan.

Seorang murid saya menikah di usia 17 tahun dengan suami 19 tahun, dan _walhamdulillah_ tidak lama Allah menakdirkan keduanya kuliah di Al-Azhar, dan sekarang telah berbahagia bersama anak-anaknya dan aktivitasnya sebagai seorang mu’allim/ah

Yakinlah bahwa jika seorang manusia telah selesai dengan sebuah persoalan yang menggelayutinya, maka ia akan bersegera masuk kepada fase berikutnya dalam melahirkan karya yang lebih besar, dan menikah adalah karya besar di antara karya-karya besar berikutnya.

Menikahlah agar jiwa menjadi tenang, derajat keshalihan menjadi sempurna, kekuatan semangat hijrah semakin kokoh, bersama ilmu yang menemani dan keyakinan janji Allah terhadap hamba-Nya yang senantiasa memelihara dirinya berawal dari menjaga hatinya.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha

RIYADHUS SHALIHIN (8)

Yang Engkau Dapatkan

Hadits:
وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ – رضي الله عنهم – ، وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون ،
قَالَ : كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا ، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ ، فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا.
فقالَ : واللهِ ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ ، فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ،
فقَالَ : ( لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ )
رواهُ البخاريُّ .

Artinya:

Dari Abu Yazid yaitu Ma’an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu ‘anhum. Ia, ayahnya dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua.

Kata saya: “Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid.

Saya – yakni Ma’an anak Yazid – datang untuk mengambilnya, kemudian saya menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi.

Ayah berkata: “Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki – untuk diberi sedekah itu.”

Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda:

“Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid – yakni bahawa  engkau telah memperolehi pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu – sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma’an – yakni bahwa engkau boleh terus memiliki dinar-dinar tersebut, karena juga sudah diizinkan oleh orang yang ada di masjid, yang dimaksudkan oleh Yazid tadi.” (Riwayat Bukhari)

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO di bawah ini.

Selamat menyimak.

Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH

Kaligrafi

Assalamu’alaikum, Ustad mau tanya apa hukumnya memajang khaligrafi Alquran didalam rumah.  #A22

Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang menuliskan ayat Al Quran di dinding, atau lainnya. Perbedaan ini karena memang tidak ada nash khusus yang membahasnya. Hukumnya berangkat dari perspektif masing-masing pihak. Ada yang menganggap hal itu justru dapat merendahkan Al Quran, pakaian, atau terbawa ke tempat yang tidak pantas, dan sebagainya.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:
مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروز من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الإمام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله

Madzhab kami memakruhkan mengukir dinding dan pakaian dengan ayat-ayat Al Quran dan Asma Allah Ta’ala.

Atha mengatakan tidak apa-apa menulis Al Quran di kiblat Masjid.

Imam Malik mengatakan tidak apa-apa menulis beberapa huruf Al Quran pada bambu, kayu, atau kulit.

Menurut sebagian sahabat kami (Syafi’iyah), jika ditulis Al Quran dan lainnya pada manik-manik, tidak haram tapi lebih utama ditinggalkan. Karena bisa terbawa ke tempat hadats.

Jika ditulis juga, sebaiknya mengikuti nasihat Imam Malik Rahimahullah, dan dengan ini pula fatwa Abu Amr bin Shalih Rahimahullah.
(Selesai dari Imam An Nawawi dalam _At Tibyan_)

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Kisah Istri Musa AS

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ
“Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir’aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” (QS Al-qashas:15)

🖌Suatu hari nabi Musa AS pergi ke kota Memphis ibukota Mesir saat itu. Ketika ia berjalan di kota itu, ia melihat dua orang yang berkelahi. Satu orang dari Bani Israil dan satu lagi dari kerabat Fir’aun. Seorang dari Bani Israil itu adalah Samiry dan kerabat Fir’aun bernama Nafuun.

Samiry berkata:”Wahai Musa, orang ini ingin membunuhku.” Musa berkata:”Tinggalkan dia wahai Nafuun.” Namun Nafuun bukan meninggalkan Samiry, tetapi ia malah menantang Musa. Musa mengayunkan tangannya hingga orang itu jatuh. Dan betapa kagetnya Musa ketika tahu bahwa Nafuun bukan sekedar jatuh tapi ia meninggal. Dengan penuh sesal, Musa memohon ampun kepada Allah.

Keesokan harinya, Musa menemukan Samiry sedang berkelahi dengan kerabat Fir’aun lagi. Seketika ia berteriak memanggil Musa saat melihatnya. Namun Musa berkata:”Sesungguhnya engkau pembawa kesesatan yang nyata.” Maka tiba-tiba Samiry berteriak hingga orang-orang mengerumuninya dan mengetahui bahwa Musa yang melakukan kejahatan kepada Nafuun kemarin.

Hizqil..seorang kerabat Fir’aun yang beriman kepada Allah meminta Musa untuk segera pergi meninggalkan Mesir sebelum pasukan Fir’aun datang dan menangkapnya. Pergilah Musa dengan tergesa agar tidak terkejar oleh pasukan Fir’aun. Hingga ia tiba di suatu kampung bernama Madyan. Musa berteduh dibawah sebatang pohon besar yang terletak dekat sebuah sumur dimana disana orang ramai mengambil air dan memberi minum binatang ternak mereka. Tidak jauh ia melihat dua orang perempuan yang menjaga ternaknya dan tidak bergabung dengan orang banyak seolah mereka lemah untuk berebut dengan mereka. Musa bertanya:”Mengapa kalian tidak minum dan memberi minum ternak kalian seperti mereka?” Perempuan itu menjawab:”Kami menunggu orang-orang usai. Kami tidak mungkin berdesakan berebut tempat dengan para laki-laki itu.” Musa berdiri membawa ember perempuan itu dan mengisinya hingga penuh. Kemudian kembali duduk di bawah pohon seraya berdo’a agar diberikan rizki yang halal.
فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“lalu (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al-Qashas:24)

Ketika Shofuro dan saudara perempuannya kembali ke rumah dan menemui ayahnya seorang laki-laki solih, mereka menceritakan peristiwa tadi.  Shofuro berkata kepada ayahnya:”Andai engkau mau mempekerjakannya ayah, dia seorang yang kuat dan jujur.” Ayahnya menyuruh mereka untuk memanggilnya agar ia berikan uang atas jasanya. Maka Shofuro memanggil Musa dan ia berjalan dibelakangnya hingga sampai di rumahnya. Ayahnya mempersilakan Musa untuk duduk bersamanya sementara anak-anak perempuannya menyiapkan hidangan. Mulailah nabi Musa AS menceritakan perjalanannya kepada laki-laki solih itu yaitu nabiyulloh Suaib AS. Dan ketika Musa usai bercerita, nabi Suaib mengatakan:”Allah telah menyelamatkanmu dari kaum yang dzalim.” Kemudian ia menyambungnya dengan mengatakan:”Aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku dengan mahar engkau bekerja padaku selama delapan tahun.”

Musa menyepakati permintaan nabi Suaib dan menikahlah ia dengan Shofuro hingga menuntaskan pekerjaannya hingga sepu

luh tahun. Ia menambahkan dua tahun dari yang ia sepakati di awal. Ketika sudah sampai pada waktunya, dan rasa rindu kepada Mesir sering mendera, Musa bersama istrinya merencanakan untuk pulang ke Mesir. Nabi Suaib membekalinya dengan ternak yang banyak dan perbekalan-perbekalan lain. Nabi Musa bersama istri menempuh perjalanan menuju Mesir melintasi bukit sinai. Cuaca saat itu sangat dingin. Maka Musa menempuh jalur kanan disamping bukit Thur hingga ia mendirikan kemah disana yang dipakai beristirahat oleh istrinya untuk beberapa hari.

Nabi Musa AS berkeliling sekitar kemah untuk mencari api. Dan dikejauhan ia melihat cahaya seperti sumber api. Iapun menyusuri jalan menuju cahaya itu.
  فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الأجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (٢٩) فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٣٠
“Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan dia berangkat dengan keluarganya (menuju Mesir), ia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.
Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah dari sebatang pohon di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al-Qashas:29-30)

Hikmah kehidupan :

Tidak selamanya orang yang kita tolong membalas dengan perbuatan baik. Terkadang mereka malah membalas dengan keburukan. Hal seperti ini banyak dialami oleh para nabi.

Ikatan iman berada diatas ikatan kekerabatan. Bahkan kerabat Fir’aun melindungi Musa karena landasan kesamaan imannya.

Diantara akhlak mulia adalah membantu yang membutuhkan tanpa pandang bulu.

Kedermawanan tidak harus selalu dengan harta. Sikap dermawan dapat ditunjukan dengan menyumbang tenaga atau fikiran.

Nabi Suaib mendidik putrinya dengan akhlak dan adab yang mulia. Menjaga kehormatan diri dengan tidak berbaur dengan lawan jenis dan memilih jalan dibelakang laki-laki. Tentu agar terjaga kehormatannya.

Seorang yang solih memiliki kemampuan mendengarkan dan menyimak yang baik. Nabi Suaib menyimak cerita nabj Musa hingga tuntas. Dan ia menyimak dengan khusyu sehingga mampu menyimpulkan.

Diantara kriteria kesalihan adalah jujur dan kuat.

Tidak semua nabi dari kalangan dhuafa. Nabi Suaib memiliki ternak yang banyak. Dan itu menandakan kesejahteraan keluarganya.

Tidak dilarang kaum perempuan melakukan pekerjaan diluar rumah. Kadang keluarnya perempuan menjadi sebuah tuntutan. Akan tetapi berlaku ketentuan-ketentuan sesuai syari’at.

Menjamu tamu merupakan sunnah hasanah para nabi.

Seorang ayah bertanggung jawab terhadap calon suami anaknya. Dan ia boleh miminta/meminang terlebih dahulu.

Penunaian mahar boleh dicicil dengan perjanjian yang jelas untuk kurun berapa lama.

Hibah yang diberikan orang tua kepada anak merupakan sesuatu yang baik, walaupun kondisi anak sudah mandiri.

Seorang perempuan yang sudah menikah, maka imamnya adalah suaminya. Ia harus patuh dan ta’at pada suaminya. Bahkan jika suaminya menginginkan suatu hal yang terasa berat bagi istri. Seperti hijrah berpindah tempat tinggal.

Suami istri adalah pasangan yang saling melengkapi saling menguatkan. Shofuro rela meninggalkan keluarganya yang sejahtera di Madyan untuk mendampingi Musa pergi menuju Mesir. Ia menyadari bahwa Musa memerlukan kehadirannya sebagai penyempurna dan mitra untuk saling menguatkan.

Kemuliaan seorang istri terdapat pada sikap ta’at dan dukungannya pada suami.

Wallohu a’lam bish showwab

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

Shalat Jamaah di Rumah

Assalamu’alaikum Ustadz yang saya hormati,
Ada kondisi sebagai berikut:
– ada kegiatan berbuka bersama di sebuah rumah dengan keluarga besar (lebih dari 50 orang) pada bulan Ramadhan,
– tamu (keluarga besar) sebagian besar berasal dari kota yang sama, sisanya dari kota yang lain,
– ada masjid dekat dari rumah tersebut (berjarak 150 m), adzan terdengar melalui pengeras suara,
– penghuni rumah (tuan rumah) tersebut terbiasa shalat wajib di masjid terdekat,
– untuk kegiatan berbuka bersama, di rumah tersebut disediakan juga tempat untuk shalat maghrib/isya berjamaah

Yang ingin saya tanyakan agar tidak salah langkah:

Bagaimana hukum yang tepat bagi penghuni rumah tersebut agar tetap mendapat ridho Allah dan tidak menimbulkan rasa tersinggung di hati keluarga besar serta tetap termasuk orang yang memuliakan tamu, apakah shalat maghrib/isya berjamaah di masjid, atau di rumah? 
Demikian, mohon penjelasan Ustadz. 
Terima kasih,

Jawab:
————–
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Para ulama berbeda pendapat dalam hukum shalat berjamaah di tempat selain masjid dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama: Boleh dilakukan di tempat selain masjid.

Ini pendapat Malik, Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad, ia juga madzhab Hanifiyyah.

Ibnul Qasim berkata, “Aku bertanya kepada Malik tentang orang yang shalat fardhu dengan istrinya di rumahnya?” ia menjawab, “Tidak apa-apa hal itu”[1]

Imam Syafi’i –rahimahullah– berkata, “Setiap jamaah yang padanya shalat seseorang di rumahnya atau di masjid, kecil atau besar, sedikit atau banyak, maka ia sah. Dan masjid yang terbesar serta banyak jamaahnya lebih aku sukai.”[2]

Al-Rafi’i dari kalangan Syafi’iyyah berkata, “Berjamaah di rumah lebih baik dari pada sendirian di masjid.”

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni[3] berkata, “Dan boleh melakukannya (shalat berjamaah) di rumah atau di padang pasir”

Dalil-dalilnya

Mereka berdalil dengan hadis-hadis berikut:

1. Hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu secara marfu, “Dan aku diberi lima perkara … “ lalu disebutkan, “Dan dijadikan bagiku bumi/tanah sebagai masjid dan tempat yang suci. Siapapun yang dari umatku yang mendapati waktu shalat maka shalatlah.”[4]

2. Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. Terkadang saat waktu shalat datang beliau sedang berada di rumah kami. Kemudian beliau memerintahkan untuk hamparan di bawahnya, lalu beliau menyapunya dan memercikan air, dan Rasulullah shalat bersama kami menjadi imam sementara kami berdiri di belakang beliau.”[5]

3. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shalat di rumahnya dalam keadaan sakit. Beliau shalat dengan duduk sementara sekelompok orang shalat dengan berdiri di belakangnya, lalu beliau memberi isyarat agar mereka duduk.”[6]

Mereka juga berdalil dengan hadis-hadis lain, yang tidak cukup untuk disebutkan dalam kesempatan ini.

Pendapat kedua: Tidak boleh dilakukan oleh seorang laki-laki kecuali di masjid.

Pendapat ini merupakan riwayat lain dari Imam Ahmad dan Ibnul Qayyim merajihkan pendapat ini, ia berkata dalam “Kitab Shalat”, “Siapapun yang memperhatikan sunnah dengan baik, akan jelas baginya bahwa mengerjakannya di masjid hukumnya fardhu ain. Kecuali jika ada halangan yang membolehkannya untuk meninggalkan shalat jumat dan shalat berjamaah. Maka tidak datang ke masjid tanpa uzur, sama dengan meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur. Dengan demikian saling bersepakatlah hadis-hadis dan ayat-ayat.”[7]

Beliau juga berkata, “Dan yang kami yakin adalah tidak boleh bagi seorang pun meninggalkan jamaah di masjid kecuali karena uzur, wallahu a’lam bish shawab.”[8]

Sebagian mereka membatalkan shalat orang yang berjamaah di rumahnya. Abul Barakat (dari kalangan madzhab hambali) berkata, “Jika ia menyelisihi kemudian shalat berjamah di rumahnya, maka tidak sah, kecuali ada uzur, sesuai dengan pendapat yang dipilih bahwa meninggalkan jamaah berarti melakukan larangan.”[9]

Dalam Syarh Fathul Qadir, “Dan al-Hulwani ditanya tentang orang yang mengumpulkan anggota keluarganya kadang-kadang, apakah mendapatkan pahala berjamaah?” ia menjawab, “Tidak, ia menjadi bid’ah dan dibenci tanpa uzur.”

Dalil-dalilnya

Ulama yang berpendapat dengan pendapat ini berdalil dengan hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya berjamaah dan bahwa ia hukumnya fardhu ain. Kemudian ulama madzhab Syafi’i berselisih pendapat dalam masalah mendirikan shalat berjamaah di selain masjid, apakah menggugurkan fardhu kifayahnya atau tidak? Mereka berbeda pendapat ke dalam dua pendapat: Pertama, tidak cukup mendirikannya di selain masjid untuk menegakkan perbuatan yang fardhu. Kedua, cukup jika tempatnya ramai, seperti shalat berjamah di pasar misalnya.

Ibnu Daqiq al-Ied –rahimahullah– berkata, “Yang pertama menurutku adalah yang lebih shahih. Karena asal pensyariatannya adalah shalat berjamaah di masjid. Ia adalah pensifatan yang muktabar yang tidak bisa dihilangkan.”

Pendapat ketiga: dibedakan antara yang mendengar azan, maka ia tidak sah kecuali di masjid. Dan orang yang tidak mendengar azan, maka tidak sah shalatnya kecuali dengan berjamaah.

Ini pendapat Ibnu Hazm Adz-Dzahiri. Ia berkata dalam “Al-Muhalla”, “Dan tidak sah salah fardhu seseorang ketika mendengar azan untuk mengerjakannya kecuali di masjid bersama imam. Jika ia sengaja meninggalkan tanpa uzur, maka shalatnya batal. Jika ia tidak mendengar azan, maka wajib baginya shalat berjamaah dengan satu orang atau lebih. Jika ia tidak mengerjakannya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ia tidak menemukan seorang pun untuk shalat bersamanya, maka ia sah, kecuali bagi yang memiliki uzur, maka juga sah jika ia meninggalkan jamaah.”[10]

Ibnu Taimiyyah berkata dalam “Al-Fatawa Al-Mishriyyah”, “Apakah orang yang shalat berjamaah di rumahnya, gugur darinya kewajiban datang ke masjid? Dalam masalah ini terdapat perselisihan, dan hendaknya tidak meniggalkan jamaah di masjid kecuali ada uzur.”[11]

Penutup

Dalam kasus yang anda hadapi, tidak mengapa melskukan shalat berjamaah bersama keluarga besar dirumah. Hal ini merujuk kepada pendapat pertama di atas. Selain itu, perlu juga menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, dimana tidak semua dari mereka memiliki pemahaman yang sama dengan anda. Dan insya Allah dengan hubungan yang baik tersebut akan memudahkan jalan anda berdakwah di lingkungan keluarga kemudian hari. Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

[1] Al-Mudawwanah al-Kubra (1/86)

[2] Al-Umm (1/136)

[3] (3/8)

[4] Al-Lu`lu wal Marjan fiimat tafaqa ‘alaihi As-Syaikhan (1/104)

[5] As-Sunan al-Kubra vol, 3, hal. 66

[6] Shahih Al-Bukhari (1/169), Bab 51 kitab al-adzan.

[7] Kitab as-Shalah, Ibnul Qayyim, hal. 461 dan yang setelahnya.

[8] Idem

[9] Al-Insaf, al-Wardawi (2/123, 214)

[10] Al-Muhalla (4/265)

[11] Mukhatashar al-Fatawa al-Mishriyyah, Ibnu Taimiyyah, hal. 52

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

RIYADHUS SHALIHIN (7)

Bersama Dalam Pahala

Hadits:
وعن أبي عبدِ اللهِ جابر بن عبدِ اللهِ الأنصاريِّ رَضي اللهُ عنهما ، قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – في غَزَاةٍ ، فَقالَ :
  إِنَّ بالمدِينَةِ لَرِجَالاً ما سِرْتُمْ مَسِيراً ، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً ، إلاَّ كَانُوا مَعَكمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ
. وَفي روَايَة : إلاَّ شَرَكُوكُمْ في الأجْرِ . رواهُ مسلمٌ .
ورواهُ البخاريُّ عن أنسٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ : رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال :  إنَّ أقْواماً خَلْفَنَا بالْمَدِينَةِ مَا سَلَكْنَا شِعْباً وَلاَ وَادياً ، إلاّ وَهُمْ مَعَنَا ؛ حَبَسَهُمُ العُذْرُ .

Artinya:

Dari Abu Abdillah yaitu Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiallahu’anhuma, berkata:

Kita berada beserta Nabi s.a.w. dalam suatu peperangan – yaitu perang Tabuk – kemudian beliau s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu – yakni sama-sama memperolehi pahala – mereka itu terhalang oleh sakit – maksudnya andaikata tidak sakit pasti ikut berperang.”

Dalam suatu riwayat dijelaskan: “Melainkan mereka – yang tertinggal itu – bersekutu dengan mu dalam hal pahalanya.”

(Riwayat Muslim)

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO di bawah ini.

Selamat menyimak.

Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH

Merencanakan Masa Depan

Apapun harapan dan cita-citamu, berikut ini ada 5 kunci sukses masa depanmu. 5 kunci tersebut juga merupakan cara untuk mengasah potensi dan menggapai cita-cita

IMAJINASI
Adalah kemampuan untuk memimpikan cita² yg tinggi, membuat visi tentang masa depan, berupaya utk mengatasi berbagai rintangan dan tantangan.

Cobalah untuk berimajinasi dan buatlah jurnal, tuliskan mimpi-mimpimu.

PERCAYA DIRI
Sadarlah bahwa kamu memiliki modal yang cukup untuk sukses. Waktu dan kesehatan adalah modal utama untuk mengejar kesempatan. Yakinlah dengan kemampuanmu dan berkomitmen untuk maju, meski berada pada saat-saat penuh kesulitan.

Coba buatlah daftar langkah-langkah apa yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri. Then, just do it.

Kemampuan untuk mengambil risiko
Berani mengambil risiko sama dengan tidak takut gagal, berani mencoba, jujur terhadap kemampuan diri, mau belajar dari kesalahan, dan tidak patah semangat untuk terus melatih diri dan mencapai tujuan.

Pada saat kamu dihadapkan pada pilihan-pilihan, cobalah tulis di kertas, uraikan “pro” dan “kontra” atau “positif” dan “negatif” dari pilihan tersebut. Jika ada risiko dari pilihan yang kamu tentukan, tulis sebanyak mungkin alasan mengapa kamu harus mengambil risiko tersebut.

KEBERANIAN
Berani membela diri sendiri maupun orang lain, mengerahkan usaha dan kekuatan pada saat menghadapi kesulitan, lakukan hal yang benar, berani hadapi masalah dan meminta bantuan.

Coba ingat pengalaman saat kamu pernah menunjukkan keberanian. Apa yang terjadi? Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari pelajaran tersebut?

KETEGUHAN HATI
Tetap teguh pada cita-cita bahkan ketika banyak orang meragukanmu, mencoba lagi dengan lebih keras meskipun mengalami kegagalan, merubah rencana bila diperlukan, tetapi tetap fokus mencapai cita-cita pantang menyerah.

Apakah kamu mengenal seseorang yang memiliki keteguhan hati? Bagaimana ia bisa bertahan dan menghadapi rintangan? Cobalah untuk meneladaninya.

Citra diri yang kuat dan positif adalah persiapan terbaik untuk menggapai sukses dalam hidup
_Dr.Joyce Brothers_

>>>>>
#Reff : Espeland, Pamela. Buku pintar remaja gaul. 2003. Bandung : PT Mizan Pustaka

Oleh: Ustadzah Dina Farihani

RIYADHUS SHALIHIN (6)

Jihad dan Niat

Hadits:

ูˆุนู† ุนุงุฆูุดุฉูŽ ุฑุถูŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนู†ู‡ุง ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’
 ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… –

 ู„ุง ู‡ูุฌู’ุฑูŽุฉูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ููŽุชู’ุญู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฌูู‡ูŽุงุฏูŒ ูˆูŽู†ููŠู‘ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูู†ู’ููุฑู’ุชูู…ู’ (ูุงู†ู’ููุฑููˆุง )
ู…ูุชู‘ูŽููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู . ูˆูŽู…ูŽุนู†ุงู‡ู : ู„ุง ู‡ูุฌู’ุฑูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูŽูƒู‘ุฉูŽ ู„ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุตูŽุงุฑูŽุชู’ ุฏูŽุงุฑูŽ ุฅุณู„ุงูŽู…ู .

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, berkata: Nabi SAW bersabda: “Tidak ada hijrah setelah pembebasan Makkah *),
tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar – oleh imam untuk berjihad, – maka keluarlah โ€“ yakni berangkatlah.” (Muttafaq ‘alaih)

*) Maknanya: Tiada hijrah lagi dari Makkah, sebab saat itu Makkah telah  menjadi perumahan atau Negara Islam.

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO di bawah ini.

Selamat menyimak.

Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH

Mandi Lagi kah?

Assalamualaikum ustadz/ah.. mau bertanya mengenai orang yg setelah mandi junub karena berhubungan lalu beberapa waktu/jam kemudian keluar lagi sisa maninya.
Apakah wajib mandi kembali atau tidak? Mohon penjelasanya terima kasih sebelumnya Wass.
I-11

Jawaban
————–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡

Bismillah wal Hamdulillah.
Perlu diperjelas dulu .., jika mani yang dimaksud adalah mani yang di kemaluan istri, lalu keluar lagi beberapa saat kemudian, maka itu tidak usah diulang lagi mandinya, sebab itu sisa saja, tidak membuat keadaan junub. Cukup cebok aja, lalu wudhu jika mau shalat.

Kalau maksudnya adalah suami yang keluar mani lagi, maka mesti mandi lagi, sebab itu membuat keadaan junub lagi.

Wallahu a’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Jangan Biarkan Kotamu Terkepung

Kisah Pilu Sarajevo, Terkepung Sepanjang Tahun 1992-1995

Kemarin, 5 April 1992, dua puluh empat tahun yang lalu.. Kota Sarajevo, Bosnia Herzegovina, mulai dikepung oleh Tentara Republik Srpska, dan baru berakhir setelah 1425 hari. Sebuah kepungan yang 3 kali lebih panjang daripada pengepungan Jerman atas kota Stalingrad atau setahun lebih lama daripada kepungan atas kota Leningrad pada Perang Dunia Kedua.

Lesson #1: jangan pernah mengecilkan kemampuan lawan, apalagi seperti Serbia yang telah memendam kebencian yang kesumat sejak peristiwa Sฤฑrp SฤฑndฤฑฤŸฤฑ 1364.

Kekuatan militer Serbia yang berada di dalam wilayah Bosnia Herzegovina mengerahkan 13 ribu personil dengan berbagai senjata untuk menguasai perbukitan di sekeliling ibukota itu. Pasukan Armija Republike Bosna i Hercegovine (ARBiH) sebenarnya memiliki 70 ribu personil di dalam kota Sarajevo yang terkepung; namun kepemimpinan yang lemah, serta pelatihan dan persenjataan yang sangat minim sejak memisahkan diri dari Yugoslavia menyebabkan mereka tak mampu mematahkan kepungan Serbia.

Lesson #2: jumlah yang banyak menjadi kurang bermanfaat tanpa kepemimpinan yang kuat, pelatihan yang terbatas, serta kelengkapan teknologi yang minim.

Penduduk kota Sarajevo mengalami korban sebanyak hampir 14 ribu jiwa, diantaranya terdapat 6 ribu lebih dari personil militer. Sedangkan, pasukan Srpska mengalami sedikit di atas 2 ribu korban.

Lesson #3: jangan pernah menyerah dalam kondisi tergenting sekalipun.

Kemarin, lewati jam dua satu, Depok
5 April 2016

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP