Pendaftaran Member MANIS [Oktober 2016]

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

AlhamduliLLah, salam dan shalawat semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallaLLahu ‘alayhi wa sallam beserta seluruh keluarga dan shahabatnya.

Alhamdulillah kembali dibuka pendaftaran member grup WhatsApp Majelis Iman Islam (MANIS). Saya mengundang Anda Bergabung bersama 18.000 anggota dari berbagai penjuru dunia.

GRATIS…!!!

🔍 Sekilas tentang Grup WhatsApp MANIS (Majelis Iman Islam) 🔎

MAjelis imaN dan ISlam atau MANIS adalah salah satu media pembelajaran  agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp, Channel Telegram, Fans Page, Twitter, Instagram, application store android dan juga Website.

Grup ini diasuh dan dibimbing oleh beberpa Ustadz & Ustadzah:

💜Ust. Ahmad Sahal Hasan, Lc
💙Ust. Farid Nu’man Hasan SS
💛Ust. Abdullah Haidir, Lc
💙Ust. Syahroni Mardani, Lc
💗Ust. Agung Waspodo, SE, MPP
💜Ust. Dr. Wido Supraha
💚Ust. Noorahmat, M.Sc
💙Ust. Dr. Abbas Mansur Tamam
💜Ust. Rikza Maulana, Lc, MA
💚Ust. Dr. Syaiful Bahri, MA
💙Ust. Umar Hidayat. M. Ag
💛Ust. Drs. Muhammad Said, M. Hum
💚Ust. Hermawan, SAg.
💗Ust. Solikhin Abu Izzudin
💙Ust. Bendri Jaisyurahman
💙Ust. Imantoko Riyanto
💜Ustzh. Dr. Aan Rohanah, Lc. M.Ag
💛Ustzh. Wirianingsih, M.Si
❤Ustzh. Eko Yuliarti Siroj, S.Ag
💚Ustdzh. Rochma Yulika, S.Ag S.Pd
💖Ustdzh. Dra. Indra Asih
💜Ustdzh. Asri Widiarti

👥 Dan Asatidzah lainnya

Materi yang akan disampaikan di grup ini Insya Allah sbb :

📌 SIRAH DAN TARIKH
📌 AL QURAN DAN TAFSIR
📌 FIQIH DAN HADITS
📌 TAZKIYATUN NAFS
📌 DA’WAH DAN HARAKAH
📌 MOTIVASI ISLAMI
📌 TSAQAFAH ISLAMIYAH
📌 KELUARGA
📌 TARBIYATUL AULAD
📌 FIQIH MUAMALAT KONTEMPORER
📌 MUHASABAH
📌 Dan Materi Tematik lainnya

Dengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

📝 Pendaftaran*

1⃣ Langsung gabung ke channel Telegram :
Channel Majelis MANIS
Http://Bit.ly/22QK469

2⃣ Via pesan WhatsApp:

Ketik : Nama – L/P – Asal – No.WA
Contoh: Ahmad – L – Jkt – 0812123456

Kirim ke:
📲0857-5382-1044 / 0811-1088-707(Ikhwan)
📲0812-7516-0013 / 0838-9943-7415 (akhwat)

            P E R H A T I A N
➡ Lakukan pendaftaran melalui 1 nomor saja, dan TIDAK MELAYANI pendaftaran via SMS.

3⃣ Via Link: http://bit.ly/2dg5J0c

Semoga dengan bergabungnya kita di Grup Majelis Iman Islam ini dapat menambah ilmu dan semangat dalam beribadah dan berdakwah kepada ALLah Jalla wa ‘Ala.

Dan semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ALLAH kehendaki kebaikan dengan memahamkan kita kepada agama-Nya. Aamiin.

Selain di WA, MANIS bisa juga dinikmati di;
🍯Web : www.manis.id
🍯Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
🍯Twitter : https://twitter.com/grupmanis
🍯Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🍯Google Application Playstore Android  (Gratis) : http://bit.ly/2dU907K

BaarakaLLahu fiikum.

Beruntung Memiliki Istri Sholihah

ISTRI SEDANG HAIDH DIAJAK BERJIMA’

Pertanyaan

Assalamualaikum….. saya mau tanya sama ustadz/ah manis,
Jika istri sedang haidh, kan dlarang berjima, tapi kbutuhan suami intens, sedangkan istri masa haidhnya lama. Pertanyaannya:

1. Bersenang2 dgn dtutup kain yang dmaksud hadits saat istri Rasulullah sedang haidh itu bgmn?

2. Bgmn hukum oral seks? Saya ga paham knp ad yang mbolehkan meski bukan tempatnya? Dan bukankah madzi itu najis & haram bila tertelan?

3. Bgmn jika suami mmakai k*nd*m saat menggauli istri yang haidh?
Terima kasih

Jawaban

Oleh: Ustadzah Yani

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Islam adalah agama yang sempurna. Sempurna syariat-Nya, yang lahir maupun batin. Sebagaimana dalam firman Allah….

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu”
(QS.  Al-Maidah: 3)

Diantara kesempurnaan Islam adalah, adanya aturan dan hukum-hukum bagi wanita yang sedang haid.

Allah Ta’ala berfirman

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid.Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari  wanita di waktu haid,dan janganlah kamu mendekati mereka,sampai mereka suci.Apabila mereka telah suci,maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu”
(QS.  A-Baqarah: 222)

ayat diatas menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang bahaya nya berhubungan suami istri saat haidh, krna darah yg keluar adalah darah kotor. adapun bahaya yg akan di hadapi jika kita tetap melakukannya,
Berikut ini beberapa alasan ilmiah, tidak diperbolehkannya menggauli istri yang sedang haid:

1. Berisiko lebih tinggi terkena infeksi atau tertular penyakit dibandingkan melakukan hubungan seks di luar masa menstruasi

Saat menstruasi, kondisi leher rahim akan terbuka sehingga memungkinkan darah untuk masuk ke dalamnya. Hal tersebut memudahkan bakteri untuk menuju rongga panggul.

Suami juga lebih mungkin untuk menularkan penyakit HIV dan hepatitis ke pasangan saat kondisi seperti ini karena lebih banyak cairan tubuh/darah.

2. Infeksi jamur dan bakteri
Saat menstruasi, kadar potential Hydrogen (pH) vagina lebih rendah, maka tingkat keasamannya pun berkurang. Kondisi tersebut lebih mungkin untuk infeksi jamur atau bakteri.

Parasit trichomonas vaginalis misalnya berkembang empat kali lipat saat haid dan dapat menyebabkan infeksi saluran kelamin lelaki dan wanita.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perpindahan parasit ini hanya terjadi melalui hubungan seksual suami istri saat haid dan akibat seks bebas di barat yang tanpa memperdulikan kondisi haid wanita.

3. Tertutupnya kedua saluran rahim yang menyebabkan bisa terjadinya kehamilan di luar rahim atau kemandulan total

Kehamilan di luar rahim sangat bahaya yang berujung kepada kematian wanita hamil.

Infeksi reproduksi lelaki dan wanita yang menjalar ke saluran air kencing, kantung kencing, saluran ginjal dan ginjal yang merupakan organ manusia yang paling sensitif. Infeksi organ ini sangat menyakitkan dan berlangsung lama, di samping akan membawa kepada perkembangan berbagai bahaya yang sulit di obati.

4. Wanita pada masa haid berada dalam kondisi lemah, lemas, depresi, dan sulit berfikir, dan  hal ini menghalanginya untuk memilih alternatif dan keputusan yang tepat

Jelasnya bahwa kondisinya tidak cocok untuk hubungan seksual.

5. Menyebabkan sejumlah penyakit pada alat kelamin suami dan istri, seperti penyakit kencing nanah, syiphilis, infeksi kandung kencing , dan infeksi alat reproduksi yang berakibat pada kemandulan

Di tambah dengan berbagai kanker, seperti kanker leher rahim, kanker prostat, kanker kandung kencing, dan kanker ginjal.

Sungguh banyak hikmah yang terkandung dari larangan berhubungan suami istri di kala haid.

Lalu bagaimana jika suami tetap berhasrat untuk berhubungan suami istri??

Ada banyak untuk untuk memuaskan suami ketika sang istri sedang haidh. Karena islam tidak menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis yang selayaknya dijauhi, sebagaimana praktek yang dilakukan orang yahudi. Anas bin Malik menceritakan,

أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت فسأل الصحابة النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى : ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض…

Sesungguhnya orang yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, mereka tidak mau makan bersama istrinya dan tidak mau tinggal bersama istrinya dalam satu rumah. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian Allah menurunkan ayat, yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah bahwa haid itu kotoran, karena itu hindari wanita di bagian tempat keluarnya darah haid…” (Surat Al-Baqoroh).

Dengan demikian, suami masih bisa melakukan apapun ketika istri haid, selain yang Allah larang dalam Al-quran, yaitu melakukan jima ( hubungan suami istri). misalnya adalah :

Pertama

Interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu selain di daerah antara pusar sampai lutut istri ketika haid.
Interaksi semacam ini hukumnya halal dengan sepakat ulama. A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حِضْتُ يَأْمُرُنِي أَنْ أَتَّزِرَ، ثُمَّ يُبَاشِرُنِي

“Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku.” (HR. Ahmad 25563, Turmudzi 132 dan dinilai shahih oleh Al-Albani)*

Hal yang sama juga disampaikan oleh Maimunah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid.” (HR. Muslim 294)

Kedua

Interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu di semua tubuh istri selain hubungan intim dan anal seks. Interaksi semacam ini diperselisihkan ulama.

1. Imam Abu Hanifah, Malik, dan As-Syafii berpendapat bahwa perbuatan semacam ini hukumnya haram. Dalil mereka adalah praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keterangan Aisyah dan Maimunah.

2. Imam Ahmad, dan beberapa ulama hanafiyah, malikiyah dan syafiiyah berpendapat bahwa itu dibolehkan. Dan pendapat inilah yang dikuatkan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (3/205).

Diantara dalil yang mendukung pendapat kedua adalah

a. Firman Allah

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari Al-Mahidh..”

Ibn Utsaimin mengatakan,

Makna Al-Mahidh mencakup masa haid atau tempat keluarnya haid. Dan tempat keluarnya haid adalah kamaluan. Selama masa haid, melakukan hubungan intim hukumnya haram. (As-Syarhul Mumthi’, 1/477)

Ibn Qudamah mengatakan,

فتخصيصه موضع الدم بالاعتزال دليل على إباحته فيما عداه

Ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa selain itu, hukumnya boleh. (Al-Mughni, 1/243)

b. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika para sahabat menanyakan tentang istri mereka pada saat haid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah.”
(HR. Muslim 302)

Ketika menjelaskan hadis ini, At-Thibi mengatakan,

إِنَّ الْمُرَادَ بِالنِّكَاحِ الْجِمَاعُ

“Makna kata ‘nikah’ dalam hadis ini adalah hubungan intim.”
(Aunul ma’bud, 1/302)

Hubungan intim disebut dengan nikah, karena nikah merupakan sebab utama dihalalkannya hunungan intim.

c. Disebutkan dalam riwayat lain, bahwa terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan praktek yang berbeda seperti di atas

Diriwayatkan dari Ikrimah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد من الحائض شيئا ألقى على فرجها ثوبا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak melakukan hubungan intim dengan istrinya yang sedang haid, beliau menyuruhnya untuk memasang pembalut ke kemaluan istrinya.”
(HR. Abu Daud 272 dan Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan: Sanadnya kuat)

Lalu bagaimana dengan oral sex dalam islam?? mengapa ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan??

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman,” (QS. Al Baqoroh : 223)

Kita sama-sama sudah bolak-balik membuka semua referensi halal yang berhubungan dengan jima. Termasuk oral seks—suatu aktivitas yang sangat dianjurkan dalam literatur medis Barat.

Islam adalah agama yang komprehensif (menyeluruh), ayat di atas menunjukkan betapa Islam memandang jima sebagai sesuatu yang moderat sebagaimana karakteristik dari Islam itu sendiri. Ia tidaklah dilepas begitu saja sehingga manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya dan juga tidak diperketat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu pekerjaan yang membosankan.

Salah satu aktivitas jima yang sering dibicarakan orang adalah oral seks, atau kegiatan jima yang melibatkan kontak antara mulut dengan alat kelamin.

Menurut para ahli seksologi Barat, oral seks biasanya dilakukan sebagai rangsangan.

Namun, banyak yang mempertanyakan apakah benar aktivitas ini dilakukan menurut syariat Islam?

Mengenai hal ini beberapa ulama pun berpendapat:

Menurut menurut Prof. DR. Ali Al Jumu’ah dan Dr. Sabri Abdur Rauf (Ahli Fiqih Univ Al Azhar), oral seks boleh dilakukan oleh pasangan suami istri selama hal itu memang dibutuhkan untuk menghadirkan kepuasan mereka berdua dalam berhubungan.

Hal itu juga disampaikan oleh Sheikh Muhammad Ali Al-Hanooti, mufty dalam Islamawarness.net. Dirinya mengatakan, bahwa oral seks diperbolehkan dalam Islam, menurutnya, bahwa yang diharamkan dalam jima’ (hubungan jima) hanya ada tiga hal, di antaranya: Anal seks, berhubungan jima saat istri sedang haid atau menstruasi dan  jima pasca istri melahirkan (masa nifas). Sedangkan di luar ketiga hal itu, hukumnya halal.

Namun, ada juga sebagian ulama yang beranggapan bahwa oral seks hukumnya haram. Contohnya seperti mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi, ia berpendapat bahwa isapan istri terhadap zakar suaminya (oral seks) adalah haram, dikarenakan kemaluannya itu bisa memancarkan cairan  madzi. Para ulama telah bersepakat bahwa madzi adalah najis. Jika ia masuk ke dalam mulutnya dan tertelan sampai ke perut maka akan dapat menyebabkan penyakit.

Adapun Syeikh Yusuf al Qaradhawi memberikan fatwa bahwa oral seks  selama tidak menelan madzi yang keluar dari kemaluan pasangannya maka ia adalah makruh dikarenakan hal yang demikian adalah salah satu bentuk kezhaliman (di luar kewajaran dalam berhubungan).

Jadi tinggal terserah Anda, pendapat mana yang menurut Anda mau Anda laksanakan

Allahu ‘alam bishowab

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Andil dalam Menguasai Teknologi & Mengejar Ketertinggalan bagi Kemuliaan Ummah

Kamis, 12 Muharram 1438H / 13 Oktober 2016

*SIROH DAN TARIKH*

Pemateri: *Ustadz AGUNG WASPODO, SE MPP*

*Andil dalam Menguasai Teknologi & Mengejar Ketertinggalan bagi Kemuliaan Ummah*

*Wajib Kontribusi dalam Peradaban Islam Dalam Profesi Anda Masing-masing!*

Galangan Kapal di Kalas

Kapal perang fregat kelas 41-Zira bernama Bülheves yang dibangun oleh Mustafa Hoca pada tahun 1796-98 di galangan kapal Kalas, kekhilafahan Turki Utsmani, OIA.

Sayyid Mustafa Hoca belajar sebagai kalfa (asisten pelaksana) dibawah ahli kapal perang Le Brun berkebangsaan Perancis. Ia termasuk murid yang langka karena berhasil mendapatkan sertifikat khusus teknik geometri-kapal yang dikenal sebagai nisbet-i bendesiyye üzre sefain insasını tahsil dalam waktu singkat.

*Lesson #1* _jadilah yang terbaik pada masing-masing profesi kita serta padukan niat dan ‘amal bagi kejayaan Ummat Islam._

Pada masa Sultan Selim III (1789-1807), Molla Mustafa, begitu sapaan akrab beliau, mendapat tantangan yang sejak lama diimpikannya. Sultan mempercayakannya tugas untuk membangun kapal kelas firkateyn (fregat) sesuai standar kapal-perang-cepat kelas-5 menurut British Royal Navy. Salah satu karyanya adalah yg di gambar ini, bernama Bülheves. Sultan Selim III terkenal sebagai tokoh modernisasi angkatan laut kekhilafahan. Atas presetasi tersebut, beliau diangkat menjadi instruktur pada galangan kapal utama Mühendishane-i Berrı-i Humayün di İstanbul.

*Lesson #2* _berkaryalah dengan ikhlash maka penduduk-langit akan menjadi saksi berikut penduduk-bumi yang peduli urusan langit._

Pada masa Sultan Selim III tercatat 14 kapal kelas firkateyn berbagai ukuran yang diselesaikan dibawah pengawasan beliau. Ini adalah sebuah prestasi pada masa penuh keprihatinan.

*Lesson #3* _masa sulit adalah tantangan, berhasil pada masa itu akan terasa lebih manis._

Nama beliau masuk sebagai salah satu yang mendapat penghargaan tinggi kekhilafahan pada tahun 1803-04 sebagai Halife-i Sani atau master supervisor tingkat-dua. Karir beliau terus menanjak. Posisi tertinggi yang diamanahkan kepada beliau adalah Ser Mi’mar-ı Hassa atau arsitek utama kekhilafahan pada tahun 1813 menggantikan Nikoli Halife yang terbukti tidak kompeten pada jabatannya. Beliau mundur dari profesinya pada tanggal 15 November 1824 serta mendapatkan uang pensiun sebesar 250-Kuruş.

Agung Waspodo, sejenak bersama buku Tuncay Zorlu
Depok, 11 Oktober 2016

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Urgensi Sirah Nabawiyah

Selasa, 10 Muharam1438H/ 11 Oktober 2016

Siirah

Dr. Wido Supraha

Urgensi Sirah Nabawiyah
=========================

Dear Para Pemuda Islam,

1. Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup teladan utama kita semua, Nabi Muhammad Saw., manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi namun bukanlah buku sejarah an sich. Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya

2. Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

3. Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia. Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw.

4. Sirah Nabawiyah memberikan kemudahan bagi manusia untuk:
 Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek kehidupannya
Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber hukum
Mudah memahami Al-Qur’an
Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar
Memiliki rujukan pola dakwah terbaik

5. Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya.

6. Sirah Nabawiyah memiliki banyak keistimewaan

7. Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.

8. Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman
Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul
Mencakup semua aspek kehidupan manusia
Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya

Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk kamu-kamu dalam peningkatan pemahaman agama Islam. Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!
=================

Maraji’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat

Rabu, 04 Muharam 1437 H/ 05 Oktober 2016

Aqidah

Ustadzah Prima Eyza

Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat

============================

Assalaamu ‘alaikum wrwb..

Apa kabar, adik-adik…??  Kita bertemu kembali dalam seri materi Aqidah yang kali ini mengangkat tema tentang “Syarat-Syarat Diterimanya Syahadatain”.

Syahadatain, yakni ucapan dua kalimat syahadat, bukanlah sekedar perkataan ringan yang hanya mewakili kebiasaan, rutinitas, atau sebatas slogan-slogan keIslaman kita. Melainkan rangkaian dua kalimat tersebut adalah ikrar, janji, dan sekaligus sumpah kita bahwa tidak ada Ilaah yang dituhankan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah benar utusan-Nya. Maka, para ulama merangkum dalil-dalil dan penjelasan tentang konsekuensi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi agar syahadat tersebut diterima sebagai syahadat yang benar di sisi Allah.

Hasan al Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi’in, pernah bertanya kepada seseorang, “Apa yang engkau persiapkan untuk kematian?”  Orang itu mengatakan, “Persaksian (syahadat) Laa Ilaaha illallaah.”  Hasan al Bashri mengatakan,”Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi).”  (Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).

Dalam atsar yang lain juga disebutkan:

قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, “Bukankah Laa Ilaaha illallaah itu merupakan kunci surga?”  Wahab menjawab, “Benar. Tetapi tidak dinamakan kunci kalau tidak mempunyai gerigi. Jadi, jika kamu datang dengan membawa kunci bergerigi tentu kamu akan dibukakan, dan jika tidak demikian, pasti tidak dibukakan untukmu.” (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Wahab bin Munabbih adalah juga salah seorang ulama tabi’in. Beliau murid dari beberapa orang sahabat Nabi saw, diantaranya Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, Nu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahab bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang dari 4 hadits.

Kandungan makna dari apa yang dikatakan oleh Wahab bin Munabbih di atas adalah bahwa tidak cukup bagi seseorang hanya sekedar mengucapkan syahadat sebatas lafaz-lafaz di lisan saja. Melainkan lebih jauh dari itu, ia haruslah menjalankan konsekuensi atau syarat-syarat dari ucapan syahadat tersebut. Konsekuensi/syarat dari ucapan syahadat adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Adalah benar bahwa syahadat Laa Ilaaha illallaah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang harus dilaksanakan setelah mengucapkan syahadat tersebut adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu bisa terbuka atau tidak oleh kuncinya.

Jadi, syahadat yang memenuhi syarat itu bagaikan kunci yang bergerigi. Apabila salah satu gerigi kunci patah, maka kunci tersebut tentu tidak bisa digunakan. Maka, syahadat yang dikatakan sebagai kunci surga tentu tidak akan berfungsi sebagai pembuka pintu surga jika salah satu konsekuensi/syarat-syarat syahadat tersebut tidak terpenuhi. Sehingga, syarat-syarat syahadat itu tidak bisa tidak, harus terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak atau tidak sempurna.

SYARAT PERTAMA:

الْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ

1⃣ ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN

Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya. Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui dan memahami makna/kandungannya, maka syahadatnya tidak diterima.

Allah berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”  (QS Ali ‘Imran [3] : 18)

Dalam ayat diatas sangat jelas bahwa subjek yang diakui syahadat (persaksian)-Nya hanyalah tiga pihak, yakni: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu. Bermakna pula bahwa syahadat orang-orang yang berilmu bahkan disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan para malaikat.
Disebutkannya syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat dalam ayat tersebut juga merupakan pujian dari Allah, bahwa syahadat orang-orang yang berilmu adalah syahadat yang:
kokoh dan benar.
Paling kuat ikatannya kepada Allah (sebagaimana para malaikat).

Dalam Al Quran, Allah juga memerintahkan agar kita memiliki ilmu (memahami) لاإله إلا الله (yakni ucapan syahadat tauhid kita). Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا الله …

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah …”  (QS Muhammad [47] : 19)

Kata  فَاعْلَمْ  yang maknanya: ketahuilah/fahamilah/ilmuilah, dalam ayat tersebut disampaikan dalam bentuk perintah. Hukum asal dari setiap bentuk perintah dalam Al Quran adalah WAJIB. Sehingga ayat tersebut dengan jelas-jelas memahamkan kepada kita bahwa Allah memerintahkan untuk wajib mempelajari/memahami  لَا إِلَهَ إِلا الله , yakni syahadat kita. Sekali lagi, perintahnya adalah : mengilmui/mempelajari hingga faham.
Untuk apa? Agar syahadat tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi keimanan kita. Syahadat yang hanya sekedar ikut-ikutan saja, tidak difahami dan diilmui, maka tidak akan menghasilkan keimanan yang kokoh dan teguh. Ingatlah bahwa keimanan itu akan senantiasa diuji (QS Al Ankabuut [29] : 2-3)
→ Bagi yang punya ilmu (faham), akan mantap dalam menjalani ujian.
→ Bagi yang hanya ikut-ikutan, tentu akan mudah goyah dan jatuh.

Dalam salah satu haditsnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mati sedangkan dia mengetahui (memahami/memiliki ilmu) لا إله إلا الله  maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Maka, mati dengan mengilmui/memahami syahadat adalah bagian dari ajaran Nabi saw.

Disamping itu, tentulah kita faham tentang kaitan erat antara ilmu dan komitmen. Yakni bahwa pengetahuan/ilmu itu akan melahirkan keyakinan yang mantap. Keyakinan yang mantap akan melahirkan kesetiaan. Kesetiaan akan melahirkan komitmen. Demikianlah orang-orang yang mengilmui dan faham akan syahadatnya. Ia akan yakin, setia, dan komitmen melaksanakan segala konsekuensi dari syahadatnya.
Tepatlah nasehat Imam Bukhari :

 الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu itu sebelum berucap
dan berbuat (beramal).”  (Dalam Shahih al-Bukhari, kitab “al-‘Ilmu”,
bab “al-‘Ilmu Qobla al-Qoul wa al-‘Amal”)

Diriwayatkan pula bahwa pernah terjadi sebuah dialog antara Rasulullah saw dan pemuka-pemuka Quraisy,

فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّ قَوْمَكَ يَشْكُونَكَ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ تَشْتُمُ آلِهَتَهُمْ وَتَقُولُ وَتَقُولُ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ
فَقَالَ يَا عَمِّ إِنِّي إِنَّمَا أُرِيدُهُمْ عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ تَدِينُ لَهُمْ بِهَا الْعَرَبُ وَتُؤَدِّي إِلَيْهِمْ بِهَا الْعَجَمُ الْجِزْيَةَ
قَالُوا وَمَا هِيَ نَعَمْ وَأَبِيكَ عَشْرًا
قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
قَالَ فَقَامُوا وَهُمْ يَنْفُضُونَ ثِيَابَهُمْ وَهُمْ يَقُولُونَ { أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ }.

“Musyrikin Quraisy tengah mengadukan Rasul saw —yang menda’wahkan Islam— kepada Abu Thalib. Rasul saw datang dan hendak duduk di sebelah paman beliau tetapi Abu Jahal benci sehingga tidak ada lagi tempat duduk kecuali di dekat pintu.
Abu Thalib berkata kepada Rasul saw,“Wahai anak saudaraku, kaummu mengadukanmu dan menuduhmu bahwa kamu telah menghina tuhan-tuhan mereka dan kamu berkata ini-itu serta berbuat ini-itu.”
Rasul saw menjawab,“Wahai Pamanku, sesungguhnya aku hanyalah menginginkan dari mereka SATU KALIMAT. Dengan kalimat itu ditundukkan bagi mereka bangsa Arab, dan disampaikan kepada mereka jizyah dari bangsa Non-Arab.”
Musyrikin Quraisy lalu berkata,”Ya, demi bapakmu, sepuluh (kalimat pun kami mau)!”
Rasul saw berkata,”(Ucapkanlah) لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.”
Rasulullah saw lalu bersabda,”Mereka langsung berdiri sambil mengibaskan pakaian mereka dan berkata, ‘Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ (QS Shaad [38] : 5)
Kemudian Rasulullah saw membacakan hingga ayat 8.”
(HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad, bab Bidayah Musnad Abdullah bin Abbas, Juz 7, hlm. 277)

Nah, lihatlah orang-orang kafir dan musyrik itu, mereka tidak mau mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  karena mereka tahu arti dan maknanya (sebab mereka berbahasa Arab), bahwa tidak ada yang boleh dituhankan melainkan hanya Allah saja satu-satunya. Sementara mereka menyembah ratusan berhala, mereka percaya ramalan, mereka meyakini dukun dan tukang tenung, dan lain-lain prilaku jahiliyah yang bermuatan syirik (mempersekutukan Allah).
Maka kita, yang betul beriman, betul berTuhan hanya kepada Allah saja dan terus-menerus mengucapkan syahadat, tentulah harus memahami dan meyakini kebenaran mutlak makna yang terkandung di dalam syahadat tersebut.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk memperbaharui/menyegarkan iman dengan mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.
Rasulullah saw bersabda:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Perbaharuilah iman kalian.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami memperbaharui iman kami?” Bersabda Rasulullah saw, “Perbanyaklah mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.”  (HR. Ahmad)

Tentu syahadat yang dimaksudkan dapat memperbaharui keimanan adalah syahadat yang difahami. Karena syahadat yang difahami, semakin diucapkan akan semakin diyakini dan semakin kuat komitmen kepada syahadat tersebut. Banyak mengucapkan syahadat tanpa memahami maknanya, tentu tidak juga akan bisa menghayati dan menepatinya, sehingga tidak berpengaruh apa-apa untuk memperbaharui keimanan.

SYARAT KEDUA:

اَلْيَقِيْنُ اَلْمُنَافِيْ لِلشَّكِّ

KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN

Wallaahu a’lam bishshowab…

– Bersambung –

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Grup Silaturahim Manis Ikhwan

Group Silaturahim Wilayah
adalah group khusus chat, diskusi, dll.. sebagai salah satu sarana mengaplikasikan materi-materi yang sudah didapat di group Manis.
Dibuat per-area bertujuan agar semua anggota MANIS juga dapat saling bersilaturahim darat (kopdar) dalam bentuk kajian offline, atau kegiatan bermanfaat lain di wilayahnya masing-masing.

Yang belum bergabung silahkan daftar sesuai format berikut :
JOIN – SILATURAHIMANIS – (AREA) – (NAMA) – L/P – (NO.WA)

Contoh :
JOIN – SILATURAHIMANIS – BANDUNG,JAWA BARAT – ABDULLAH – L – +6288812345678

#Kirim Melalui WA ke nomor Berikut (Sesuai domisilinya masing-masing)

Sumatra
Nanang +6285228694678,
Rizal+6285263111115,
Pak Uwo +6285356958595
============
DKI Jakarta
Abu Fatih +62 813-8980-0493
============
Banten+Bekasi+Cikarang
Munir +6281524050766,
Benny +628118383691
============
Jawa Barat
Wilman +6282217404357
============
Depok
Awah 085710510107 ,
Ridwan 08888764265
============
Jawa Tengah & Jogja
Mismanto +6285878400096 , +62 896-9366-3203
============
Jawa Timur
Abu Bakar : +6285257779001
============
Bali, Lombok, NTB & NTT & Kalimantan
Shofwan ; +628159016655
============
Sulawesi, Maluku & Irian Jaya
Abi Tholib +62 85255127598,
============
Luar Negeri
Harun +97455564094

ANJING SEBAGAI HEWAN PEMBURU

Ustadz Menjawab
Rabu, 12 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

ANJING SEBAGAI HEWAN PEMBURU

Assalamu’alaikum pak ustadz…
Bisa dijelaskan QS. Al Ma’idah: 4..?
Bagaimana jika hewan pemburu itu adalah anjing (dan kebanyakan hewan pemburu adalah anjing), apakah halal dimakan…?
Mohon penjelasannya ustadz…
syukron katsiran

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Di antara hewan untuk berburu memang anjing, hal ini tertera dalam banyak hadits. Tentunya hasil buruannya halal dimakan jika memenuhi syarat.

Berikut ini contohnya:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ أَوْ غَنَمٍ أَوْ صَيْدٍ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

  “Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing penjaga tanaman, atau penjaga ternak, *atau anjing pemburu,* maka berkuranglah pahalanya setiap harinya satu qirath.”   (HR. Muslim No. 1574, 56)

  Dalam riwayat Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, disebutkan berkurang pahalanya dua qirath.

 مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

  Barang siapa yang memelihara seekor anjing bukan untuk menjaga ternak  *atau bukan untuk dilatih berburu,* maka berkuarang dari pahalanya setiap hari sebanyak dua qirath.  (HR. Bukhari No. 5480)

Tentang ukuran satu qirath, hanya Allah Ta’ala yang tahu sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahumallah.

Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam:
ثُمَّ رَخَّصَ فِي كَلْبِ الصَّيْدِ وَكَلْبِ الْغَنَمِ

“Kemudian beliau memberi  keringanan terhadap ANJING PEMBURU dan anjing penjaga kambing”.   (HR. Muslim No. 1573, 48)

Secara umum anjing dimakruhkan ada dipekarangan seorang  muslim, kecuali pemburu/pelacak, penjaga kebun dan ternak.

ada tiga jenis anjing yang dibolehkan.

  Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:

والكلب هنا هو الحيوان المعروف وظاهر الحديث أنه يشمل الكلب الذي يباح اقتنائه وغيره والكلاب التي يباح اقتنائها ثلاثة أنواع .
1- كلب الحرث يعني يكون للإنسان بستانا ويجعل فيه كلبا يحرث البستان عن الذئاب والثعالب وغيرها .
2- كلب الماشية يكون عند الإنسان ماشية في البر يحتاج إلى حمايتها وحفظها يتخذ كلبا ليحميها من الذئاب والسباع ومن السراق ونحوهم لأن بعض الكلاب معلم إذا أتي شخص أجنبي نبح حتى ينتبه صاحبه له
3- كلب الصيد يتخذ الإنسان كلبا يعلمه الصيد ويصيد به

“Anjing dalam konteks hadits ini adalah hewan yang telah dikenal, secara zahirnya hadits ini mencakup anjing yang dibolehkan untuk disimpan (dipelihara) dan lainnya.”

Anjing yang diperbolehkan untuk dipelihara ada tiga jenis:

Pertama -> Kalbul Hartsi (Anjing Ladang),  yaitu   manusia menempatkannya di kebun, dan menjadikannya sebagai penjaga dari anjing hutan, serigala, dan lainnya.

Kedua -> Kalbul Maasyiyah (Anjing penjaga peternakan),  yaitu manusia memiliki hewan ternak yang hidupnya di darat, mereka membutuhkan perlindungan dan penjagaan, maka dijadikanlah anjing untuk menjaga hewan ternaknya dari ganggunan anjing hutan, serigala, pencuri, dan semisalnya. Sebab sebagian anjing telah diajarkan jika datang seorang asing, maka dia akan menggonggong  sehingga pemiliknya terjaga.

Ketiga -> Kalbul Shayd (Anjing Pemburu), manusia memanfaatkannya untuk diajarkan berburu dan berburu dengannya.
(Asy Syarh Al Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram,2/8. Mawqi’ Al Islam)

Bagaimana Syaratnya?

Tentu hewan yang diburu adalah hewan yang halal dimakan. Lalu, cara berburunya sesuai syariat yaitu dengan membaca bismillah saat melepasnya berburu.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan Sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.
(QS. Al Maidah: 4)

Tidak usah khawatir dengan bagian tubuh hasil buruan yang tercabik oleh taringnya, cukup bersihkan saja, atau potong dan buang bagian itu.
Jika liurnya najis (sbgmn pendapat Hanafi, Syafi’i, dan Hambali), dia bisa dibersihkan dengan cara yang nabi ajarkan, atau buang saja seperti yang saya sampaikan.

Hal ini serupa dgn daging babat, tentu tahu kan soto babat? Babat merupakan tempatnya kotoran, tapi dibersihkan sebersih-bersihnya dan bisa dimakan.

Wallahu a’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Ada Yang Lebih Dahsyat Dari Sekedar Terbelahnya Lautan

Rabu, 11 Muharrom 1438H / 12 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Ada Yang Lebih Dahsyat Dari Sekedar Terbelahnya Lautan

Tahukah anda peristiwa besar yang terekam di hari Asyuro?

Ya, dialah peristiwa fantastis yang menjadi mukjizat Nabi Musa as, saat beliau dan kaumnya ingin kabur dari kezaliman Fir’aun, namun akhirnya terhadang laut Merah sementara Fir’aun dan bala tentaranya kian mendekat di belakang siap melumatkan mereka.

Di saat genting tersebut, Allah perintahkan Nabi Musa as memukulkan tongkatnya di laut Merah. Lalu lautan terbelah dua, maka Nabi Musa dan pengikutnya menyusuri dasar lautan hingga akhirnya mereka selamat hingga ke seberang.

Sementara Fir’aun dan balatentaranya, saat mereka menempuh jalan yang sama, Allah satukan kembali lautan tersebut dan binasalah mereka.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal sepuluh Muharram yang kemudian dikenal dengan istilah hari Asyura. Nabi Musa as sebagai berpuasa di hari itu sebagai rasa syukurnya dan kemudian diabadikan dalam syariat Islam sebagai puasa Asyura.

Kita yang membaca kisah ini tentu akan takjub dan membayangkan betapa dahsyatnya pemandangan terbelahnya lautan sehingga dasarnya dapat dilalui.

Tapi tahukah anda yang lebih menakjubkan dari hal itu?

Dia adalah istiqamah. Keteguhan berada di jalan Allah serta keteguhan memperjuangkannya.
Maka, sebesar ketakjuban kita dengan sebuah mukjizat, sebesar itu pula atau bahkan lebih besar lagi, ketakjuban kita terhadap istiqamah.

Mengapa demikian? Karena mukjizat tidak akan lahir kecuali dari istiqamahnya seorang Nabi Allah Taala dalam menjalankan dan memperjuangkan syariatNya. Sementara, tidak semua Nabi dan tidak semua orang saleh mengalami kejadian luar biasa sehingga menyelamatkan dirinya. Nabi Zakaria as dibunuh di tengah dakwahnya, Ashhabul Ukhdud dibakar hidup bersama keimanannya, Hamzah bin Abdul Muthalib dibunuh dan dicabik-cabik di tubuhnya dalam jihadnya.
Akan tetapi satu perkara yang menyatukan mereka sekaligus menjadi sebab kemuliaannya, yaitu istiqamah di jalan Allah Taala.

Mukjizat mungkin ada mungkin tidak, karomah mungkin ada mungkin tidak, kejadian luar biasa mungkin ada mungkin tidak, tapi istiqamah, harus ada dan tidak boleh tidak!

Beginilah seharusnya kita memandang dan menilai, apalagi di tengah berbagai ragam tingkah polah manusia kini dan berbagai trik penipuan dan pengelabuan masa sekarang. Betapapun sepintas tampak hebat, luar biasa atau istimewa, tetap saja penilaian standar kita adalah apakah semua itu dibangun di atas landasan istiqmah di atas syariat Allah taala atau tidak.

Bahkan, Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Al-Baqarah: 34, mengutip ucapan Laits bin Saad dan Imam Syafii rahimahullah;

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Jika kalian melihat seseorang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara, janganlah kalian terpesona sebelum menilai perkaranya dengan Al-Quran dan Sunah.”

Dengan cara pandang seperti ini, maka tidak akan kita temukan seorang muslim yang terpedaya hanya karena sesuatu yang sepintas menggambarkan kehebatan, luar biasa atau mampu menampilkan sesuatu yang lain dari biasanya, jika tidak ada indikasi atau bukti bahwa semua itu paralel dengan istiqamahnya di jalan Allah Taala.

Maka, jika demikian, apa yang dianggap luar biasa, bukanlah kebaikan, bukan pula karomah, apalagi mukjizat dari Allah Taala.

Sebaliknya, seorang muslim hendaknya menjunjung tinggi keistiqamahan di jalan Allah, walau sepintas tidak hebat, tidak luar biasa dan tidak ada yang fantastis. Cukuplah istiqamah itu sendiri menjadi sesuatu yang luar biasa baginya dan dia berusaha untuk mewujudkannya.

Dahulu para ulama mengatakan,

الاِسْتِقَامَةُ خَيرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ

“Istiqamah lebih baik dari seribu karomah….”

Maka, sembari kita hidupkan puasa Asyuro, hendaklah kita ambil ibrah (pelajaran) tentang benang merah sumber kemuliaan dari Allah Taala,  yaitu; Istiqamah atau keteguhan dalam menjalankan syariat Allah dan memperjuangkannya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ (سورة فصلت:
30)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan surge yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Menangis Ketika Shalat

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Novria
11 Oktober 2016/10 Muharam 1438 H
=====================

Assalamualaikum kak, boleh tanya tak??
” kalau menangis ketika sholat itu , sholatnya batal atau tidak?”

A09
=============
Jawaban

Allah SWT berfirman, “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Dalam hadits disebutkan, dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.”

‘Aisyah lantas berkata, ”Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.”Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418).

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kebaikan dan Dosa

Senin, 09 Muharram 1438 H / 10 Oktober 2016

Akhlak

Ustadz Rizka Maulan, Lc. MA.

Kebaikan dan Dosa
============================

Dari Nawas bin Sam’an r.a. dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (HR. Muslim)

Dan dari Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata, aku datang kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR. Ahmad dan Darimi)

Secara umum hadits menggambarkan mengenai kebaikan dan dosa. Yaitu bahwa yang dimaksud dengan ‘kebaikan’ adalah akhlak yang baik sedangkan yang dimaksud dengan dosa adalah sesuatu yang ‘diragukan’ oleh diri kita sendiri, serta kita tidak menginginkan jika orang lain melihat kita melakukan hal tersebut. Hadits ini sekaligus menghilangkan ‘kebingungan atau kesamaran’ antara ‘sesuatu’ yang baik dan sesuatu yang buruk, terutama jika kesamaran tersebut terdapat dalam diri pelaku sendiri.

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Atsqalani mengemukakan bahwa hadits ini termasuk hadits yang singkat dan padat, bahkan merupakan hadits yang paling padat, karena kebaikan itu mencakup semua perbuatan yang baik dan sifat yang ma’ruf. Sedangkan dosa mencakup semua perbuatan yang buruk dan jelek; baik kecil maupun besar. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW memasangkan di antara keduanya sebagai dua hal yang berlawanan.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c