QS. Al-Ma’arij (Bag. 2)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Bag. 1: http://goo.gl/hSlS9f

Mengobati Sifat-Sifat Buruk Manusia

Manusia, sebagai makhluk yang dipercaya Allah untuk mengelola bumi-Nya, selain dibekali keistimewaan ia pun memiliki kekurangan yang tidak sedikit. Kekurangan-kekurangan ini dimaksudkan supaya manusia tak merasa sombong dan takabbur. Dan lebih penting dari itu, ia akan senantiasa merasa perlu kepada Allah sehingga bisa merasakan kebesaran dan kasih sayang-Nya serta pengampunan-Nya yang maha luas.

Dalam surat ini dua sifat yang disoroti Allah; kikir ([6])dan suka berkeluh kesah.

”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al-Ma’ârij: 19-21)

Penyakit yang secara spesifik ini diterjemahkan melalui sabda Rasul saw yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, ”Kejelekan yang ada dalam diri seseorang: kikir yang mencekik dan jiwa pengecut” (HR. Abu Dawud) ([7]). Meskipun sebenarnya kecintaan terhadap harta adalah fitrah. Tapi jika berlebihan akan menjelma menjadi egoisme yang berlebihan dan ia akan cenderung berpikir bagaimana memperkaya diri sendiri, kemudian menjadi tidak peka terhadap lingkungannya ([8]).

Tapi Allah Maha Asih dan Sayang. Pada ayat selanjutnya, penyakit kronis di atas bisa diobati dengan terapi praktis. Setidaknya ada enam cara untuk mengobati dua penyakit kejiwaan yang sering menimpa kita selama ini.

1. Pertama, menjaga konsistensi dalam melaksanakan ibadah shalat

”Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”. (QS. Al-Ma’arij: 22-23).

Shalat merupakan mi’raj orang beriman, seperti tutur Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya. Karena itu saat Usman bin Affan ra. terkepung, menjelang syahidnya terbunuh oleh para pemberontak, dengan tenang beliau pun melaksanakan shalat dengan penuh kepasrahan. Imam al-Bukhary merekam perkataan beliau seperti yang diriwayatkan Ubaidillah bin ’Adiy,”Shalat adalah sesuatu yang terbaik yang dikerjakan manusia. Jika mereka berbuat baik padamu maka berbuat baiklah pada mereka. Jika mereka memperlakukanmu dengan buruk, maka jauhkanlah dirimu untuk menyakiti mereka” ([9]). Dengan menjaga konsistensinya akan membuat hati ini menjadi stabil, mendidik disiplin dan teratur serta detil dalam merencanakan sesuatu.

Khusus masalah shalat ini Allah mengulanginya lagi dalam surat ini dalam ayat ke-34. Ini menandakan pentingnya posisi shalat. Dan jika dilakukan dengan benar akan membuat hidup seseorang menjadi baik, bahkan ia akan mampu meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Seperti disitir Allah di permulaan surat al-Mu`minûn.

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (QS. Al-Mu`minûn: 1-2)

Imam Muhammad bin Husein al-Ma’iny ([10]) memiliki penafsiran bahwa orang yang mampu menjaga shalatnya sepanjang waktu, melaksanakan rukun-rukunnya dengan khusyu’ dan disertai dengan pengharapan yang tinggi pada Allah ([11]), orang yang demikian akan mudah melepaskan dirinya dari sifat kikir dan suka mengeluh.

2. Kedua, suka dan rela mendermakan harta untuk orang-orang yang membutuhkan

Baik mereka meminta atau orang fakir yang iffah, yang tak mau meminta-minta meskipun mereka sangat membutuhkan pertolongan.

”Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. Al-Ma’ârij: 24-25)

Sebelumnya Allah juga menyebut ”as-sâ`il wa al-mahrûm” dalam ayat 19, surat adz-Dzâriyât. Orang-orang yang dermawan, menyediakan dan meluangkan waktunya serta harta yang diberikan Allah padanya berbagi dengan kaum dhu’afa. Jika mereka meminta dan kita tahu dia sangat membutuhkan bantuan, maka selayaknya kita membantunya. Sahabat Husein bin Ali ra meriwayatka hadits Rasulullah saw,”Bagi seorang peminta hak (untuk ditolong) meskipun dia datang dengan mengendarai kuda” (HR. Abu Dawud dari Sufyan Ats-Tsaury) ([12]). Apalagi orang-orang fakir yang kita tahu ia sangat perlu bantuan, meskipun lidahnya tak mengucapkan satu kata pun. Kita sangat perlu dan wajib mengulurkan bantuan padanya.

3. Ketiga, mempercayai dan meyakini adanya hari pembalasan

”Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Dengan meyakini adanya hari pembalasan seseorang akan mudah mengikis penyakit kikirnya, juga dia akan berusaha meninggalkan keluh kesah setiap ditimpa sesuatu yang kurang mengenakkan jiwanya. Dia yakin itu adalah cobaan dari Allah, maka lebih baik ia bersabar dan mendapatkan ganjaran yang tak terhitung. Minimalnya hatinya takkan lelah terbebani.

4. Keempat, menjaga kehormatan

”Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Karena kelak setiap manusia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Dan karena di balik perintah ini ada banyak hikmah. Di antaranya, menjaga nasab dan keturunan supaya tidak tercampur. Sehingga kehidupan sosial manusia akan baik, seimbang dan tertata bagus.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Usia 40 Tahun

Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

Usia 40 tahun adalah usia penting bagi manusia. 40 tahun dalam hitungan Hijriyah sama dengan sekitar 38 tahun 9.5 bulan dalam hitungan Masehi.

Begitu pentingnya sehingga Allah Swt memasukkan perkara ini di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Maka demikian juga dalam kehidupan Nabi Saw. Mendekati usia 40 tahun, beliau mulai cenderung melakukan ‘uzlah. Beliau melakukan ikhtila’ di Gua Hira’, di sebelah Barat Laut Makkah.

Terkadang beliau menyendiri hingga 10 malam, bahkan terkadang sampai sebulan. Beliau hanya pulang untuk mengambil bekal baru dari rumahnya. Demikianlah hingga Nabi mendapatkan wahyu pertama.[1]

Nabi Saw suka membawa roti dari gandum dan air sebagai bekal makanan beliau di Gua Hira, Jabal Nur, yang jaraknya sekitar 2 mil dari Makkah.

Gua itu tidaklah terlalu besar, panjangnya 4 hasta, lebarnya 3/4 hingga 1 hasta. Terkadang ada dari keluarga beliau yang menemaninya. Sesungguhnya, hasil pemikiran beliau yang mendalam telah memberikan ruang pemisah yang cukup lebar antara dirinya dan kehidupan masyarakatnya.

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa siapapun yang sedang dipersiapkan untuk menerima urusan yang besar, maka ruhnya harus dibuat kosong dari segala urusan dunia, dan dari segala kekotoran pemikiran.

Terlebih jika urusan besar itu adalah untuk merubah wajah alam semesta dan sejarah yang menyertainya.[2]

Allah Swt berfirman,
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf/46:15)

Do’a tersebut senada dengan do’a yang dilafazhkan oleh Nabi Sulaiman a.s. saat mengetahui para semut yang berlarian menuju rumah masing-masing agar tidak terinjak rombongan Nabi Sulaiman a.s.

Sebagaimana firman Allah Swt,
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
(Q.S. An-Naml/27:19)

Jika kita perhatikan, kegiatan uzlah ini dilakukan Nabi pada saat-saat puncak kesuksesannya sebagai pengusaha, dan ketinggian derajatnya di hadapan manusia.

Ibnul Jauzi menggambarkan bagaimana Nabi begitu sibuk berdagang pada masa sebelum kenabian.[3].

Maka dengan ‘uzlah, boleh jadi, ada begitu banyak penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali bersama kesendirian manusia hanya kepada Sang Khalik.

Ini memberikan pelajaran bahwa muhasabatunnafs, introspeksi diri, adalah bagian dari kesempurnaan perjalanan spiritual seseorang.

Jika kita kaitkan dengan aspek kehidupan Nabi Saw pasca 40 tahun, terdapat hikmah yang luar biasa, bahwa karya-karya besar untuk Allah Swt membutuhkan pendidikan di dalam hati, khususnya berawal dari menghidupkan cinta kepada-Nya (mahabbatullah), karena tiada jihad dan tadhiyyah tanpa sumber mata air yang terus mengaliri motivasinya.

Maka diantara sarana mahabbatullah ada tafakkur terhadap seluruh tanda-tanda kebesaran Allah, dan limpahan nikmatNya yang begitu besar.

‘Uzlah atau ikhtila’ ini juga dinamakan dengan tahannuts (dari tahannuf) yang berarti pembersihan diri (tabarrur).

Menurut Ibn Ishaq, ‘Ubaid menjelaskan bahwa Nabi Saw menyendiri selama sebulan setiap tahunnya, dan seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyah.[4]

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

Tingkat kematangan psikologi berada pada puncaknya di usia ini. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa terdapat banyak hal dalam penghayatan agama ini yang tidak dapat dirasakan kenikmatannya, yang tidak menjadi mudah pelaksanaannya kecuali karena faktor umur dalam hal ini setelah 40 tahun.

Maka jika di umur 40 tahun seseorang masih belum bisa mengendalikan syahwatnya, maka dikhawatirkan akhir hidupnya adalah akhir dengan syahwat sebagai pemenangnya.

Disinilah kemudian ‘uzlah menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan sebagai satu di antara agenda kehidupan manusia pasca usia 40 tahun.

Agama ini tidak menjadikan uzlah yang terus menerus sebagai sebuah kebaikan, karena dalam kesempatan yang sama agama ini juga mendorong manusia untuk khulthah (tetap bergaul dan berinteraksi).

Tersampaikannya Hak Allah menjadi prioritas dan target kehidupan manusia. ‘Uzlah menjadi salah satu jalan keluar dalam pemenuhan hak Allah.

Memahami cara beragama secara utuh akan menghindarkan kita dalam
berlebih-lebihan dalam sebuah perkara, agar keinginan untuk menjaga agama melahirkan penjagaan agama itu sendiri.

Rasulullah Saw. bersabda,
“Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah.

Ia menakuti-nakuti mereka, dan merekapun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah”
(HR. Al Hakim 4/446)

Nabi Saw., juga bersabda, “Seseorang bertanya kepada Nabi: ‘siapakan manusia yang paling utama wahai Rasulullah?’

Nabi menjawab: ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi: ‘lalu siapa?’.

Nabi menjawab: ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat’”

(Muttafaqun ‘alaih: HR. Al Bukhari 7087, Muslim 143)

Namun agama ini juga memerintahkan umatnya untuk bergerak membawa perubahan (agent of change) kepada masyarakat umum.

Nabi Saw. bersabda,
“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”

(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 388)

Dan serangkaian dalil lainnya yang mendukungnya. Maka memadukan keduanya adalah bagian dari menghidupkan agama ini. Dakwah membutuhkan motivasi dan ilmu. ‘Uzlah adalah bagian dari mengisi kembali kapasitas motivasi, sementara hadir pada majelis ilmu menjadi bagian dari mengisi kembali kapasitas kefahaman agama.

Dalam bab ini, di masa Nabi Saw belum mendapatkan warisan ilmu kecuali nanti setelah beliau dibangkitkan sebagai Nabi Saw, maka ilmu turun terus menerus kepada beliau untuk disampaikan kepada umatnya.

Dr. Musthafa as-Siba’i menjelaskan bahwa khalwat yang benar akan mengajaknya untuk bermuhasabah terhadap dirinya jika jiwanya teledor dalam kebaikan, pandangannya menyimpang, melenceng dari jalan hikmah, keliru dalam sistem, atau terlena bersama manusia di dalam berbantah-bantahan dan perdebatan, sehingga ia lupa mengingat Allah, lupa mengingat Akhirat, lupa Surga dan Neraka-Nya, lupa mengingat kematian, lupa akan dahsyat dan sengsaranya kematian.

Maka khalwat dalam pengertian tahajjud dan qiyamullail menjadi kewajiban bagi Nabi Saw, sementara sunnah bagi selainnya. Ia menjadi kebutuhan para pengemban dakwah kepada Allah, syariat dan surga-Nya, karena di dalamnya terdapat suatu kenikmatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang Allah beri kemuliaan dengan kenikmatan tersebut.[6]

Allah Swt berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Q.S. Al-Muzzammil: 1-6)

Maraji’:

1] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1977

2] Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsum fi As-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wassalam, Riyadh: Darussalam, 1414H

3] Ibnul Jauzi, Al-Wafa bi Ahwali al-Musthofa, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004

4] Ibn Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah

5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zaad al-Ma’ad, Dar at-Taqwa lil Nasyr wa at-Tauzi’, 199

6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, Cet. I, 1998

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pro Kontra Maulid Nabi

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan:

– Apakah ada kemuliaan hari kelahiran Nabi menurut Nabi sendiri? Bukan hanya perkataan orang-orang.

– Bagaimana peringatan hari kelahiran Nabi, apakah ada dasarnya? (GRUP MANIS)

Jawaban:

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:

Tidak ada penceritaan secara detil kelahiran Nabi ﷺ oleh Nabi sendiri, kecuali hadits berikut:

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang puasa di hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)

Bahkan di hari Senin pula Beliau ﷺ diwafatkan.

 Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dia ditanya:

أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ

Hari apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat? Beliau menjawab: “Hari senin.” (HR. Bukhari No. 1387)

Ini sangat wajar sebab keluhuran budi pekerti Beliau ﷺ tidak memungkinkan  menceritakan kehebatan, keunggulan, dan kemuliaan hari lahirnya sendiri. Seorang Nabi apalagi sayyidul anbiya’ mustahil memiliki sifat ‘ujub. Sehingga jika ada yang mengatakan “Nabi ﷺ tidak pernah memuliakan hari kelahirannya sendiri” adalah benar adanya. Akhirnya, kitalah umatnya yang memuliakan dan menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi ﷺ, sebagaimana firman Allah ﷻ tentang kegembiraan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam atas lahirnya Nabi Ismail ‘Alaihissalam.

  Allah  ﷻ  berfirman:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ

“ Maka Kami beri dia (Nabi Ibrahim) kabar gembira dengan (lahirnya) seorang anak yang amat sabar (yakni Nabi Ismail)” (QS. Ash Shafat (37): 101)

Jadi, sebagaimana kelahiran Nabi Ismail ‘Alaihissalam adalah sebuah kegembiraan bagi ayahnya, maka kegembiraan pula bagi kaum muslimin atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu jangan diingkari kebahagiaan kaum muslimin atas kelahirannya, pujian-pujian kepadanya, sebab Allah ﷻ pun memujinya dalam Al Quran, demikian juga para sahabatnya, para ulama dan orang-orang utama, maka kaum muslimin layak memberikan pujian yang berlimpah kepadanya,  selama  tidak ada pensifatan ketuhanan kepada Rasulullah ﷺ.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata –seperti yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah:

وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنْ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ الَّذِي هُوَ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ

Dan, nikmat apakah yang paling besar dibanding nikmat kelahiran Nabi yang mulia ini, dialah Nabi yang menjadi rahmat pada hari itu. (Tuhfatul Muhtaj, 31/377)

Pro-Kontra Haflah Maulid Nabi ﷺ

Kita dapati di media sosial, perdebatan tentang peringatan Maulid Nabi ﷺ. Ada yang melarang secara mutlak, apa pun isi dan bentuknya, ada pula yang membolehkan secara mutlak, dan ada pula yang membolehkan dengan perincian dan syarat-syarat. Bahkan perdebatan tersebut tidak jarang menyulut permusuhan, caci maki, saling tuduh, dan tabdi’, tafsiq, satu sama lain.

Ini bukanlah perdebatan baru, jika abad ini adalah abad 15 Hijriyah, maka perselisihan ini sudah terjadi sejak belasan abad yang lalu, khususnya setelah tiga abad terbaik. Pihak yang pro dan kontra sama-sama sepakat bahwa haflah ini tidak ada pada masa Nabi, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Bahkan mereka juga sepakat tentang memuliakan Rasulullah ﷺ, kapan pun, tidak harus menunggu momen 12 Rabi’ul Awal. Tetapi, mereka tidak sepakat kapankah haflah maulid itu muncul? Sebagian ada yang menguatkan bahwa ini dimulai dan diinisiatifkan Syiah Daulah Fathimiyyah, ada pula yang mengatakan pada masa Shalahuddin Al Ayyubi, ada yang mengatakan dimunculkan oleh Malik Muzhafar Abu Sa’id bin Zainuddin (ini yang dikuatkan oleh Imam As Suyuthi), dan versi lainnya, dan seterusnya. Selain itu, -dan ini yang paling menyita energi kita- mereka juga tidak sepakat tentang keabsahannya, boleh atau tidak, seperti yang kami sebutkan di atas.

Berikut ini adalah pandangan dua kelompok tersebut.

Pertama. Pihak Yang Melarang dan Alasan-Alasannya

Para ulama yang melarang memiliki sejumlah alasan, di antaranya:

1. Peringatan maulid Nabi ﷺ tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Sebagaimana ini diakui pula oleh pihak yang membolehkan. Padahal mereka lebih layak melakukan itu sebab kecintaan mereka, ittiba’nya mereka kepada Nabi ﷺ, serta ilmunya, melebihi manusia-manusia setelahnya.

2. Lau kaana khairan lasabaquuna ilaih – seandainya itu baik niscaya mereka akan mendahului melakukannya. Ini kaidahnya. Jika memang acara Maulid itu baik, kenapa bisa luput kebaikan ini dari generasi terbaik umat ini? Tidak mungkin mereka tidak mengenal kebaikan walau sekecil apa pun, apalagi sampai melewatinya begitu saja. Jika maulid tidak ada pada masa itu, itu menunjukkan memang itu tidak dipandang baik oleh mereka.

3. Agama ini telah sempurna, sebagaimana firmanNya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan atasmu nikmatKu, dan Aku ridha Islam adalah agama bagi kamu. (QS. Al Maidah: 3)

Jadi, apa pun yang dahulunya bukan bagian dari agama, maka selamanya dia bukan bagian dari ajaran agama. Tidak seorang pun berhak memasukkannya sebagai bagian dari agama. Sebab kesempurnaan agama ini telah final, tidak dibutuhkan lagi penambahan walau  dipandang baik oleh manusia.

4. Rasulullah ﷺ melarang kita untuk mengada-ada urusan agama. Umumnya para pelaku acara Maulid menganggap ini adalah peringatan keagamaan. Maka, jika itu dianggap bagian dari agama  maka  mereka wajib mendatangkan dalil, jika tidak ada maka tertolak. Sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ)   رواه البخاري ومسلم

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam urusan kami ini (yakni Islam), berupa apa-apa yang bukan darinya, maka itu tertolak.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Aqwaal Para Ulama Yang Melarang

Berikut ini adalah perkataan para ulama yang melarang peringatan Maulid Nabi ﷺ.

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau berkata:

وللنبي صلى الله عليه وسلم خطب وعهود ووقائع في أيام متعددة: مثل يوم بدر، وحنين، والخندق، وفتح مكة، ووقت هجرته، ودخوله المدينة، وخطب له متعددة يذكر فيها قواعد الدين. ثم لم يوجب ذلك أن يتخذ أمثال تلك الأيام أعيادًا. وإنما يفعل مثل هذا النصارى الذين يتخذون أمثال أيام حوادث عيسى عليه السلام أعيادًا، أو اليهود، وإنما العيد شريعة، فما شرعه الله اتبع. وإلا لم يحدث في الدين ما ليس منه.
وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيمًا. والله قد يثيبهم   على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا. ولو كان هذا خيرًا  محضا، أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا، وهم على الخير أحرص.

“Rasululullah ﷺ telah melakukan berbagai  peristiwa penting dalam sejarah beliau, seperti khutbah-khutbah dan perjanjian-perjanjian beliau pada hari Badar, Hunain, Khandaq, Fathu Makkah, Hijrah, Masuk Madinah. Beliau pun memiliki berbagai khutbah yang mengandung banyak kaidah-kaidah agama. Lalu, hari-hari seperti itu tidak sepantasnya dijadikan sebagai perayaan.  karena yang melakukan seperti itu adalah  Umat Nasrani yang menjadikan peristiwa yang dialami ‘Isa ‘Alaihissalam adalah sebagai perayaan, atau juga dilakukan Yahudi.   Hari raya merupakan bagian dari syariat, maka apa yang disyariatkan Allah itulah yang diikuti, kalau tidak maka sama saja telah membuat sesuatu yang baru dalam  agama.

Maka apa yang dilakukan oleh sebagian orang,  baik karena menyerupai tradisi Nasrani yang memperingati kelahiran ‘Isa ‘Alaihissalam,  baik karena cinta dan memuliakan Rasulullah ﷺ, maka Allah  akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad itu, tapi tidak atas bid’ah dengan menjadikan maulid nabi sebagai hari raya. Padahal manusia berselisih tentang kapan hari lahirnya. Sesungguhnya ini  tidak dilakukan para salaf, padahal mereka punya alasan untuk melakukannya dan tidak ada halangan untuk melakukannya jika memang itu baik. Seandainya itu baik, bersih,  dan argumentatif,  niscaya para salaf lebih berhak melakukannya dibanding kita. Sebab mereka adalah generasi yang paling kuat cinta dan pemuliaaanya kepada Rasulullah ﷺ dibanding kita, dan mereka sangat bersemangat dalam mengerjakan kebaikan. (Iqtidha Shirathal Mustaqim, 2/123)

2. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh Rahimahullah

Beliau berkata:

لاشك أن الإحتفال بمولد النبي صلى الله عليه وسلم من البدع المحدثة في الدين، بعد أن انتشر الجهل في العالم الإسلامي وصار للتضليل والإضلال والوهم والإيهام مجال، عميت فيه البصائر وقوي فيه سلطان التقليد الأعمى، وأصبح الناس في الغالب لا يرجعون إلى ما قام الدليل على مشروعيته، وإنما يرجعون إلى ما قاله فلان وارتضاه علان، فلم يكن لهذه البدعة المنكرة أثر يذكر لدى أصحاب رسول الله ولا لدى التابعين وتابعيهم، وقد قال صلى الله عليه وسلم ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة “

Tidak ragu lagi bahwa acara maulid Nabi ﷺ termasuk bid’ah baru dalam agama, setelah menyebarnya kebodohan di dunia Islam, merebaknya kesesatan dan khayalan, yang membutakan mata dan menguatkan taklid buta. Umumnya manusia tidak merujuk kepada dalil-dalil yang mensyariatkannya, tapi mereka hanya mengikuti perkataan si Fulan dan si Alan. Tidak pernah ada bid’ah munkarah ini dalam atsar para sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan pengikutnya. Padagal Nabi ﷺ telah bersabda: “Peganglah sunahku dan sunah khulafa ar rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, peganglah itu dan gigitlah dengan geraham kalian, takutlah terhadap perkara-perkara yang baru, sebab setiap  perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (Fatawa wa Rasail, 3/54)

3. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah

Beliau berkata:

نعم الاحتفال بالموالد بدعة، فلا يجوز الاحتفال بالموالد، لا مولد النبي صلى الله عليه وسلم، ولا غيره، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم، قال: «إياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة  » وقال عليه الصلاة والسلام: في خطبة يوم الجمعة: «أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة  » والاحتفال بالموالد بدعة، ما فعله الرسول صلى الله عليه وسلم، ولا أصحابه رضي الله عنهم وأرضاهم، ويكفي المؤمن التأسي بسنته صلى الله عليه وسلم، والسير على منهاجه وعدم الإحداث فمحبة النبي صلى الله عليه وسلم ليست بالبدع، ولكن باتباع طريقه عليه الصلاة والسلام، وامتثال أوامره، وترك نواهيه

Ya, acara maulid itu bid’ah, tidak boleh mengadakan acara maulid-maulid, baik itu maulid Nabi ﷺ dan yang lainnya, karena Nabi ﷺ bersabda: “Takutlah terhadap perkara-perkara yang baru, sebab setiap  perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” Juga sabdanya saat khutbah Jumat: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk  Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruknya perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap bid’ah itu sesat.” Acara maulid itu bid’ah, dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, para sahabatnya Radhiallahu ‘Anhum, dan cukuplah seorang mu’min mengikuti sunahnya dan berjalan di atas manhajnya, dan menghilangkan perkara-perkara yang baru. Mencintai Nabi ﷺ bukanlah dengan melakukan bid’ah, tapi dengan mengikuti  jalannya ﷺ, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. (Fatawa Nur ‘Ala Ad Darb, 3/42)

Dan, masih banyak lagi dari para ulama yang melarangnya,  semisal Imam Fakihani, Imam Asy Syuqairi, Syaikh Shalih Al Fauzan, Syaikh Utsaimin, dan lainnya.

Kedua. Pihak Yang Membolehkan dan Alasan-Alasannya

Pihak yang membolehkan mengutarakan sejumlah alasan, yakni sebagai berikut:

Al Quran Al Karim

Allah ﷻ berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

            “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. (QS.Yunus: 58)

Bagi seorang muslim, tentunya dengan sadar  akan mengatakan bahwa karunia dan rahmat Allah ﷻ terbesar bagi umat manusia adalah kelahiran Nabi ﷺ, yang menjadi suluh hidayah bagi segenap manusia. Peringatakan maulid nabi ﷺ merupakan perwujudan kebahagiaan atas karunia terbesar tersebut.

Ayat lainnya:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.  (QS. Yusuf:111)

Kisah kehidupan Nabi ﷺ, sejak kelahirannya, perjuangannya, da’wahnya, sampai wafatnya adalah kisah dan potret terbaik kehidupan manusia. Maka, hal yang sangat baik mengambil pelajaran darinya. Maulid Nabi ﷺ adalah sarana untuk itu.

As Sunnah

Untuk dalil As Sunnah, kelompok yang membolehkan punya beberapa dalil:

Pertama. Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang shaum di hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)

Hadits ini menunjukkan bolehnya menapaktilasi dan menghormati hari lahirnya Nabi ﷺ dengan amal-amal kebaikan, sebab Nabi ﷺ sendiri yang menyontohkan. Beliau berpuasa di hari Senin, karena itulah hari dirinya dilahirkan.

Kedua.  Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.
فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun beruasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Hadits ini menunjukkan kebolehan memperingati hari-hari bersejarah yang dilalui umat terdahulu dalam rangka mengambil pelajaran darinya, bahkan Nabi ﷺ mengisinya dengan ibadah. Hadits ini dijadikan dalil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah tentang bolehnya acara Maulid Nabi ﷺ, dan diisi dengan amal kebaikan,  sebagaimana yang akan kami sampaikan nanti.

Ketiga. Kisah peringanan siksaan bagi Abu Lahab setiap  hari Senin lantaran dia bergembira saat hari kelahiran Nabi ﷺ, Abu Lahab menampakkan kegembiraannya dengan membebaskan budak bernama Tsuwaibah.

Imam  Abu Bakar Ad Dimyathi Asy Syafi’i Rahimahullah:

ورحم الله القائل وهو حافظ الشام شمس الدين محمد بن ناصر حيث قال إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا

Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan – yaitu Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir – ketika dia berkata: jika hal ini terjadi pada orang kafir (yakni Abu Lahab) yang telah dicela dan dibinasakan kedua tangannya di neraka yang abadi, bahwa dia (Abu Lahab) diringankan siksaannya pada setiap hari senin karena kebahagiaan dengan memujinya (kelahiran nabi, red), maka apalagi dengan seorang hamba yang  sepanjang umurnya berbahagia dengan kelahirannya dan dia mati dalam keadaan bertauhid. (I’anatuth Thalibin, 3/364)

Al Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir mengatakan kisah ini shahih. (Imam As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, 1/230)

Sederhananya, jika Abu Lahab saja yang memusuhi Nabi ﷺ, yang nerakanya abadi, mendapat keringanan setiap hari Senin karena kebahagiaannya menyambut kelahiran Nabi ﷺ, apalagi seorang muslim yang mencintainya sepanjang hayatnya, tentu dia lebih layak mendapatkan keistimewaan itu.

Maslahat Mursalah, yaitu aktifitas yang secara hakiki memiliki maslahat, baik kepada agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Syariat Islam sangat memperhatikan penjagaan terhadap hal-hal ini. Walau aktifitas tersebut tidak memiliki dalil khusus dalam Al Quran dan As Sunnah, tapi juga tidak ada dalil yang membatalkannya. Kaidah ini dimotori oleh Malikiyah, disetujui Hambaliyah, tapi tidak dipakai oleh Hanafiyah dan Syafi’iyah. Bagi kelompok yang membolehkan maulid, acara maulid nabi termasuk perwujudan maslahat mursalah dan bukan bid’ah, dalam rangka menjaga agama dan syiar-syiarnya. Sebagaimana pengumpulan mushaf Al Quran pada masa Utsman, ilmu tajwid, dan semisalnya.

Aqwaal Ulama Yang Membolehkannya

Berikut ini kami sampaikan berbagai perkataan (aqwaal)  para imam kaum muslimin, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang membolehkan acara maulid Nabi ﷺ.

1. Imam Nashirus Sunnah (pembela Sunnah), Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu

Berikut ini keterangannya:

قال الشافعى رحمه الله من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين

“Barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi karena persaudaraan secarJa berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”. (Madarijus Su’uud, Hal. 16)

Perkataan dari Imam Asy Syafi’i ini sulit diverifikasi sebab tidak disebutkan sanadnya. Sehingga sulit menentukan kepastiannya, ditambah lagi menurut pengakuan Al Hafizh Ibnu Hajar peringatakan maulid baru ada setelah tiga abad terbaik, sedangkan Imam Asy Syafi’i hidup pada masa tabi’ut tabi’in alias abad ke-2 Hijriyah.

2. Imam As Suyuthi Rahimahullah

حسن المقصد في عمل المولد
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وسلام على عباده الذين اصطفى ، وبعد فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول ما حكمه من حيث الشرع ؟ وهل هو محمود أو مذموم ؟ وهل يثاب فاعله أولاً ؟ .
والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلّم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لمافيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلّم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

Maksud Baik Pada Amalan Maulid

Pertanyaan: “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera untuk hamba pilihanNya, wa ba’d: telah datang pertanyaan tentang perbuatan maulid nabi pada bulan Rabi’ul Awwal, apa hukumnya menurut pandangan syariat? apakah itu terpuji atau tercela? apakah mendapatkan pahala atau tidak, bagi si pelakunya?”

Jawaban:

Bagi saya, dasar dari maulid nabi adalah berkumpulnya manusia, membaca yang mudah dari Al Quran, dan membaca kisah-kisah yang warid  tentang konsepsi riwayat kehidupan  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan membaca apa-apa yang terjadi pada hari kelahirannya berupa tanda-tanda kemuliaannya, dan menyediakan makanan buat mereka, lalu selesai tanpa ada tambahan lain, maka itu adalah bid’ah hasanah, dan diberikan pahala bagi yang melakukannya karena di dalamnya terdapat pemuliaan terhadap kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menampakan kebahagiaan dan rasa senang dengan kelahirannya yang mulia. (Imam As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, 1/181-182. Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfah Al Muhtaj, 31/376)

3. Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah

Perkataan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dikutip oleh  Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki  berikut ini:

 أَنَّهُ سُئِلَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ حَافِظُ الْعَصْرِ أَبُو الْفَضْلِ أَحْمَدُ بْنُ حَجَرٍ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ فَأَجَابَ بِمَا نَصُّهُ أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنْ الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا فَمَنْ تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً وَمَنْ لَا فَلَا

Bahwasanya Syaikhul Islam Haafizh Al ‘Ashr Abul Fadhl Ahmad bin Hajar ditanya tentang hukum  Maulid, beliau menjawab: “Pada dasarnya maulid adalah bid’ah dan tidaklah dinukil satu pun dari salafush shalih yang ada pada tiga zaman, namun demikian pada acara tersebut terkandung di dalamnya kebaikan-kebaikan dan juga sebaliknya. maka, siapa saja yang pada acara itu hanya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi yang buruk, maka itu adalah bid’ah hasanah, dan jika tidak demikian, maka tidak boleh. (Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj, 31/378)

Al Haafizh Ibnu Hajar  memberikan alasannya sebagai berikut:

قَالَ وَقَدْ ظَهَرَ لِي تَخْرِيجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ وَهُوَ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَغْرَقَ اللَّهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى فِيهِ مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى } فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إسْدَاءِ نِعْمَةٍ وَدَفْعِ نِقْمَةٍ وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ وَالشُّكْرُ لِلَّهِ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالسُّجُودِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلَاوَةِ وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنْ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ الَّذِي هُوَ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ

Telah nampak bagiku riwayatnya pada pijakan yang kokoh, yaitu yang terdapat dalam Shahihain bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura, lalu dia menanyakan mereka. Mereka menjawab: “Ini adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala.”  Maka, faidah dari kisah ini adalah melakukan perbuatan syukur kepada Allah atas karunia yang diberikanNya di hari tertentu  berupa nikmat dan dijauhi dari bencana, dan mengulangi hal itu pada hari tersebut di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah bisa dilakukan dengan bermacam-macam ibadah seperti sujud, puasa, sedekah, dan tilawah. Dan, nikmat apakah yang paling besar dibanding nikmat kelahiran Nabi yang mulia ini, dialah Nabi yang menjadi rahmat pada hari itu. (Ibid, 31/377)

4. Imam Abu Syamah Rahimahullah (guru Imam An Nawawi)

Imam Ad Dimyathi mengatakan:

قال الإمام أبو شامة شيخ النووي ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أرسله رحمة للعالمين

Berkata Imam Abu Syamah (guru dari Imam An Nawawi): di antara bid’ah terbaik yang ada pada zaman kita adalah apa yang dilakukan pada setiap tahun di hari bertepatan dengan kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka  bersedekah, melakukan hal yang ma’ruf, menampilkan keindahan dan kebahagian, sebab yang demikian itu selain merupakan bukti  berbuat baik kepada para fuqara juga merupakan wujud mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memuliakannya di hati pelakunya, yang telah bersyukur kepada Allah Ta’ala atas karunia kehadiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutusNya sebagai rahmat bagi semesta. (Imam Abu Bakar bin As Sayyid Ad Dimyathi, I’anatuth Thalibin, 3/364)

5. Al Imam Al Muhaddits As Sakhawi Rahimahullah

Imam Ad Dimyathi mengatakan:

قال السخاوي إن عمل المولد حدث بعد القرون الثلاثة ثم لا زال أهل الإسلام من سائر الأقطار والمدن الكبار يعملون المولد ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

Berkata As Sakhawi: sesungguhnya amalan maulid baru terjadi setelah tiga zaman (maksudnya zaman nabi, sahabat, dan tabi’in), kemudian penduduk Islam di seluruh penjuru dan kota-kota besar melakukannya dan mereka bersedekah pada malam harinya dengan berbagai macam sedekah dan secara khusus membaca kisah kelahirannya yang mulia, dan nampaklah keberkahan bagi mereka pada setiap keutamaannya. (I’anathuth Thalibin, 3/364)

6. Imam – Imam Besar zaman dahulu

Berikut perkataan Imam  Ad Dimyathi Asy Syafi’i:

ورحم الله القائل وهو حافظ الشام شمس الدين محمد بن ناصر حيث قال إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا قال الحسن البصري قدس الله سره وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لأنفقته على قراءة مولد الرسول
 قال الجنيدي البغدادي رحمه الله من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
 قال معروف الكرخي قدس الله سره من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين

Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan –dia adalah Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir – ketika berkata: jika hal ini terjadi pada orang kafir (yakni Abu Lahab) yang telah dicela dan dibinasakan kedua tangannya di neraka yang abadi, bahwa dia (Abu Lahab) diringankan siksaannya pada setiap hari senin karena kebahagiaan dengan memujinya (kelahiran nabi, red), maka apalagi dengan seorang hamba yang  sepanjang umurnya berbahagia dengan kelahirannya dan dia mati dalam keadaan bertauhid.

Berkata Al Hasan Al Bashri  -semoga Allah mensucikan rahasianya: “Ingin sekali aku seandainya memiliki emas semisal gunung Uhud, akan aku infaq-kan kepada orang yang membacakan Maulid Ar Rasul.”

Berkata Al Junaid Al Baghdadi Rahimahullah: “Barangsiapa yang menghadiri Maulid Ar Rasul dan mengagungkan kedudukannya, maka dia telah beruntung dengan keimanannya.”

Berkata Ma’ruf Al Karkhi Rahimahullah –semoga Allah mensucikan rahasianya: “Barangsiapa menyediakan makanan, mengumpulkan saudara-saudara, menyiapkan lampu, memakai pakaian baru, memakai wangian dan menghias dirinya untuk  mengagungkan  kelahiran Rasul, maka kelak di hari kiamat Allah akan mengumpulkannya bersama   orang-orang pada barisan pertama dari golongan para nabi, dan dia akan ditempatkan di `Illiyyin yang paling tinggi.”  (I’anatuth Thalibin, 3/364)

Lalu Imam Abu Bakar Ad Dimyathi juga mengutip dari imam lainnya:

وقال الإمام اليافعي اليمنى من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
 وقال السري السقطي من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول
 وقد قال عليه السلام من أحبني كان معي في الجنة قال سلطان العارفين جلال الدين السيوطي في كتابه الوسائل في شرح الشمائل ما من بيت أو مسجد أو محلة قرىء فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم الا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم قال وما من مسلم قرىء في بيته مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر

Berkata Imam Al Yafi’i Al Yamani: “Barangsiapa mengumpulkan teman-temannya, mempersiapkan hidangan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan untuk maulid Nabi dan semua itu menjadi sebab pembacaan maulid Rasul, maka di hari kiamat kelak Allah akan membangkitkannya bersama orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan kaum shalihin. Dan kelak ia akan berada di surga-surga yang penuh kenikmatan”.

  Berkata As Sari As Suqthi, bahwa siapa yang bermaksud menuju tempat yang di dalamnya dibacakan Maulid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi  Wa Sallam, maka dia telah menuju taman di antara taman-taman surga, karena tidak ada yang mendorong dia ketempat itu kecuali karena kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘Alahis wa Salam: barangsiapa yang mencintaiku maka dia bersamaku di surga. Sulthanul ‘Arifin, Al Imam Jalaluddin As Suyuthi berkata dalam kitabnya Al Wasaail Fi Syarh Asy Syamaail berkata: “Tidaklah sebuah rumah, atau masjid, atau tanah yang tandus, di dalamnya dibacakan Maulid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan malaikat mengelilingi mereka yang ada di tempat itu, dan Allah meratakan rahmatNya, meliputi sekeliling mereka dengan cahaya yakni Jabril, Mikaail, Israafil, Qurbaail, ‘Aynaail, dan mereka berbaris, berada di tepi dan mendekat, dan mendoakan apa-apa saja yang menjadi sebab dibacakannya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.    Dia berkata: “Tidaklah seorang muslim yang di rumahnya dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan akan Allah angkat masa pacekliknya, wabah, kebakaran, penyakit,   musibah bencana, amarah, dengki, pandangan mata jahat, pencurian terhadap pemilik rumah tersebut. Jika dia wafat Allah Ta’ala akan mudahkan keluarnya ruh baginya menjawab Munkar dan Nakir, dan dia ditempatkan sebagai orang yang benar di sisi Allah, Sang Pemiliki Kekuasaan.” (Ibid, 3/365)

7. Al Imam Al Haafizh Al Qasthalani Rahimahullah

Beliau berkata:

من جواز الاحتفال بالمولد النبوي بما هو مشروع لا منكر فيه

Diantara kebolehan mengadakan acara maulid nabi adalah dengan perbuatan-perbuatan yang masyru’ (sesuai syariat), bukan perbuatan yang munkar … (Mawahib Al Laduniyah, 1/148)

Jadi, jika isinya masyru’ (sesuai syariat) menurut Beliau boleh, sedangkan jika isinya diisi kemungkaran maka tidak boleh.

8. Al Imam Al Haafizh Zainuddin Al ‘Iraqi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت، فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الشهر الشريف، ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها، فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجب

“Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan yang mulia ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan” (Ad Durar As Saniyah, Hal. 19)

Demikian. Masih banyak lagi para ulama yang membolehkan, seperti Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi, Syaikh Hasanain Makhluf, Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh  Ahmad Asy Syurbasyi, Syaikh ‘Athiyah Saqr, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

Lalu, Bagaimana?

Sebagaimana perbedaan dan perselisihan lainnya, maka ambil-lah sikap toleran dan lapang. Silahkan ambil dan yakini pendapat yang kita anggap lebih kuat dan lebih dekat dengan dalil, tapi jangan ingkari saudara kita yang berbeda. Jika beradu dalil dan argumentasi, maka pada sudut pandang masing-masing pihak akan merasa dirinya yang paling benar. Itu tentunya tidak akan menyelesaikan masalah. Maka, tetap bersaudara, jangan berpecah, kita masih bisa berjalan bersama pada bagian-bagian pokok agama ini yang memang kita memiliki pandangan yang sama. Sebab masalah ini sudah didebatkan lebih dari seribu tahun lamanya, yang para imam pun bersepakat untuk tidak sepakat.

Syaikh Dr. Umar bin Abdullah Kamil berkata:

لقد كان الخلاف موجودًا في عصر الأئمة المتبوعين الكبار : أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد والثوري والأوزاعي وغيرهم . ولم يحاول أحد منهم أن يحمل الآخرين على رأيه أو يتهمهم في علمهم أو دينهم من أجل مخالفتهم .

“Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.” (Dr. Umar bin Abdullah Kamil, Adab Al Hiwar wal Qawaid Al Ikhtilaf, hal. 32. Mauqi’ Al Islam)

Imam Hasan Al Banna Rahimahullah menjelaskan:

إذ إن أصول الإسلام آيات وأحاديث وأعمال تختلف في فهمها وتصورها العقول و الأفهام ، لهذا كان الخلاف واقعاً بين الصحابة أنفسهم ومازال كذلك، وسيظل إلى يوم القيامة، وما أحكم الإمام مالك ـ رضي الله عنه ـ حين قال لأبي جعفر وقد أراد أن يحمل الناس على الموطأ: “إن أصحاب رسول الله ص تفرقوا في الأمصار وعند كل قوم علم، فإذا حملتهم على رأي واحد تكون فتنة”، وليس العيب في الخلاف ولكن العيب في التعصب للرأي والحجر على عقول الناس وآرائهم، هذه النظرة إلى الأمور الخلافية جمعت القلوب المتفرقة على الفكرة الواحدة، وحسب الناس أن يجتمعوا على ما يصير به المسلم مسلماً كما قال زيد ـ رضي الله عنه

 “Hal itu terjadi  karena dasar-dasar Islam dibangun dari ayat-ayat, hadits-hadits dan amal, yang kadang difahami beragam oleh banyak pikiran. Karena itu, maka perbedaan pendapat tetap terjadi pada masa sahabat dulu. Kini masih terjadi dan akan terus terjadi sampai hari kiamat. Alangkah bijaknya Imam Malik ketika berkata kepada Abu Ja’far, tatkala “Ia ingin memaksa semua orang berpegang pada Al Muwatha’ (himpunan hadits karya Imam Malik): Ingatlah bahwa para sahabat Rasulullah telah berpencar-pencar di beberapa wilayah. Setiap kaum memiliki ahli ilmu. Maka apabila kamu memaksa mereka dengan satu pendapat, yang akan terjadi adalah fitnah sebagai akibatnya.”
Bukanlah aib dan cela manakala kita berbeda pendapat. Tetapi yang aib dan cela adalah sikap fanatik (ta’ashub) dengan satu pendapat saja dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Menyikapi khilafiyah seperti inilah yang akan menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu pemikiran. Cukuplah manusia itu terhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim adalah muslim, seperti yang dikatakan oleh Zaid Radhiallahu ‘Anhu. (Majmu’ah Ar Rasail, Mu’tamar Khamis, hal. 187)

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘ Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa sallam.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Penjual Menentukan Harga?

Oleh: Ust. DR Wido Supraha

1. Ligayati(A96)

Pertanyaan:

Adik laki-laki sy bekerja di perusahaan retail. Kadang kl jual barang hrgnya tdk sesuai dg hrg yg sudah dtentukan perusahaan.
Apakah boleh jual beli seperti itu?

Jawaban:

Dalam hal ini dikembalikan kepada akad kepada perusahaan agar terjadi kepastian hukum.

Diskusikan dengan perusahaan, apakah boleh menjual harga di bawa harga yang ditentukan untuk tujuan tertentu, dan apakah boleh menjual harga di atas harga pasar dengan kehendak, kelebihannya menjadi milik penjual.

Jika perusahaan mengizinkannya, maka seluruhnya menjadi harta yang halal bagi penjual.

Wallaahu a’lam

***

2. Setyaning(A95)

Pertanyaan:

Mohon penjelasan ttg larangan beda harga dalam menjual, seperti apa ya?

Ada beda harga antara kredit dan cash. Ada beda harga akibat tawar menawar. Ada beda harga karena beda waktu.

Apa itu juga dilarang?
#pengen dagang yg tdk melanggar syariat#

Jzkhr atas penjelasannya.

Jawaban:

Harga saat kredit adalah sebuah harga yang sah dalam jual beli, dan harga saat cash adalah sebuah harga yang sah dalam akad jual beli yang lain.

Dalam setiap akad, dibebaskan pagi pengusaha untuk membuat harga yang berbeda, dan perubahan harga dapat dilakukan dalam setiap transaksi kapanpun.

Semoga dagangan ibu, kami do’akan melahirkan keberkahan dalam harta-hartanya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KELUARGA HARMONIS, BUKAN BERARTI TANPA PERTENGKARAN (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

Materi sebelumnya: http://goo.gl/XsjLL6

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

2. Menghindari caci-maki

Siapapun kita, tidak akan bersedia ketika dicaci maki. Karena itulah, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang didzalimi. Syariat membolehkan orang yang didzalimi itu untuk membalas kedzalimannya dalam bentuk cacian atau makian.

Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. (An-Nisa: 148)

Dalam ikatan rumah tangga, syariat memotivasi kaum muslimin untuk menciptakan suasana harmonis. Sehingga walaupun sampai terjadi masalah, balasan dalam bentuk caci maki harus dihindari. Karena kalimat cacian dan makian akan menancap dalam hati, dan bisa jadi akan sangat membekas. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa mengobatinya. Jika semacam ini terjadi, sulit untuk membangun keluarga yang sakinah.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orang tua, yang umumnya bukan bagian dari masalah.

Beliau bersabda, “jangan kamu menjelekannya”

Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan,

لَا تَقُلْ لَهَا قَوْلًا قَبِيحًا وَلَا تَشْتُمْهَا وَلَا قَبَّحَكِ اللَّهُ

“Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud).

Perlu kita ingat bahwa cacian dan makian kepada pasangan yang dilontarkan tanpa sebab, termasuk menyakiti orang mukmin atau mukminah yang dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 58)

Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenar untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Allah sebut tindakan semacam ini sebagai dosa yang nyata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

3. Tetap Menjaga Rahasia Keluarga

Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah keluarganya, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia anda berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Terkait tujuan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

“jangan kamu boikot istrimu kecuali di rumah”

Ketika suami harus mengambil langkah memboikot istri karena masalah tertentu, jangan sampai boikot ini tersebar keluar sehingga diketahui banyak orang. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika di luar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Kecuali jika anda melaporkan kepada pihak yang berwenang, dalam rangka dilakukan perbaikan.

Pihak yang berwenang adalah pihak yang posisinya bisa mengendalikan dan memberi solusi atas masalah keluarga. Dalam hal ini bisa KUA, hakim, ustadz yang amanah, atau mertua. Mertua, karena dia berwenang untuk mengendalikan putra-putrinya. Dan ini tidak berlaku sebaliknya.

Ketika suami melakukan kesalahan, tidak selayaknya sang istri melaporkan kesalahan suami ini kepada orang tua istri. Tapi hendaknya dilaporkan kepada orang yang mampu mengendalikan suami, misalnya tokoh agama yang disegani suami atau orang tua suami. Demikian pula ketika sumber masalah adalah istri. Hendaknya suami tidak melaporkannya kepada orang tuanya, tapi dia laporkan ke mertuanya (ortu istri).

Solusi ini baru diambil ketika masalah itu tidak memungkinkan untuk diselesaikan sendiri antara suami-istri.

Hindari Pemicu Adu Domba

Bagian ini perlu kita hati-hati. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi bermusuhan. Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Selanjutnya, jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya dugaan buruk (suudzan) antar-sesama.

Semoga Allah SWT mudahkan upaya sungguh-sungguh kita membangun keluarga harmonis yang sesungguhnya, yang penuh kedewasan, bukan harmonis yang semu dan melelahkan. (Selesai)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Para Mujahidah Pemburu Surga

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Asma’ binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar ash-Shiddiq

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Aisyah dari jalur ayah. Menikah dengan salah seorang penghuni Surga, Zubair bin Awwam.

Ibu dari Abdullah bin Zubair, satu dari empat orang besar pemberi fatwa (Al-Ibadalah al-Arbaah).

Ayah, ibu, suami, anak dan saudarinya, seluruhnya sahabat Nabi  yang setia.

Wafat pada umur 100 tahun dalam kondisi fisik gigi dan akal dan jasad yang masih kuat.

Penyair dan periwayat 56 hadits Nabi (26 hadits di Shahih Bukhari).

Ikut perang Yarmuk bersama suaminya.

Memiliki motivasi kuat saat hijrah, motivator bagi anaknya dalam peperangan, dan memiliki kecerdasan hati yang sangat tinggi.

Asma’ binti Umais bin Maad bin Haris bin Tayim bin Haris al-Khats’ami

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Maimunah dari jalu ibu.

Bersuamikan Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a. (masing-masing menikahinya setelah wafatnya suami sebelumnya).
Wafat tahun 40 H.

Periwayat 60 hadits Nabi. Ikut hijrah ke Habsyah bersama suaminya, Ja’far.

Berani mengkritik Umar ibn Khattab r.a. untuk menjaga ilmu (HR. Bukhari No. 3905 dan HR. Muslim No. 4558).

Ummu Salamah (Asma bin Yazid bin Sukun bin Rafi’

Wanita Anshar. Wafat tahun 30 H.

Pengkhutbah, juru bicara, mujahidah pemberani nan tangguh yang membunuh 9 tentara Romawi di persembunyiannya saat perang Yarmuk, dan periwayat 80 hadits Nabi.

Ummu Imarah (Nasibah binti Ka’ab bin Umar bin Aul al-Khazrajiah)

Wanita pertama berbaiat kepada Nabi. Derajatnya sangat tinggi di antara manusia.

Bersuamikan Zaed bin Asyim dengan anak Habib dan Abdullah. Saat suaminya wafat, ia menikah dengan Ghaziah bin Umar al-Mazni. Wafat tahun 13H.

Mujahidah tangguh yang mengikuti beberapa peperangan bersama Nabi dengan tugas membantu mujahidin, memotivasi, hingga turut berperang laksana perwira.

Saat perang Uhud, ia terjun bersama suami dan anaknya hingga mengalami luka di 12 tempat.

Ia termasuk pelindung Nabi saat hendak dibunuh Ibn al-Qum’ah dengan pukulan tangannya yang kemudian dibalas dengan goresan di punggungnya.

Selain terlibat di hari Hudaibiyah, perang Khunain, ia juga turut berperang di masa Khalifah Abu Bakar r.a.

Bahkan saat ikut bersama Khalid bin Walid r.a. memerangi Musailamah al-Kadzdzab, tangannya dipotong oleh Musailamah dan tubuhnya terluka di 10 tempat, bahkan anaknya, Habib bin Zaed juga dibunuh Musailamah.

Ummu Sulaim (Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin Haram)

Wanita Anshar Al-Khazrajiah, Assabiquna al-Awwalun. Saudari Ummu Haram binti Mulkhan, ibu dari Anas bin Malik r.a., asisten Rasulullah selama 10 tahun.

Di antara suaminya adalah Ibadah bin Shamat, Malik bin Nadhr, dan Abu Thalhah.

Seorang ibu yang sangat tangguh, lebih khusus lagi sangat terkenal dengan caranya saat memberitahukan wafatnya anaknya dari Abu Thalhah kepada suaminya.

Mujahidah tangguh khususnya saat perang Uhud, selain sebagai tenaga medis, dan penyedia minuman, ia selalu membawa pisau besar untuk bersiap-siap turut berperang.

Saat hamil, ia pun tetap ikut perang Khunain dengan kebiasaan yang sama.

Ummu Haram (ar-Rumaysha binti Mulhan bin Khalid bin Zaid al-Anshary al-Najariyah)

Istri Ubadah bin Shamit r.a., bibi dari Anas bin Malik r.a. Wafat tahun 27H.

Periwayat 5 hadits Nabi. Mujahidah tanggung dalam banyak peperangan.

Didoakan Nabi termasuk bagian pasukan yang menyeberangi lautan, dan nantinya ternyata ia ikut saat ekspansi terhadap pulau Cyprus.

Ia wafat karena terjatuh dari kudanya yang menyebabkan lehernya terjerat tali kudanya. Kuburannya di pulau Cyprus terkenal dengan Kuburan Wanita Shaleh.

Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ad

Saudari Utsman bin Affan dari pihak Ibu, termasuk wanita pertama dari kabilah Hadnah Hudaibiyah yang Hijrah ke Madinah.
Wanita Quraisy yang berani keluar dari rumah ayahnya untuk Islam.

Bersuamikan Zaid bin Kharisah, dan kemudian setelah wafat, ia menikah dengan Zubair bin Awwam r.a. dikaruniai anak bernama Zainab, dan kemudian menikah dengan Abdurrahman bin ‘Auf r.a. dikaruniai anak bernama Ibrahim dan Hamid, dan setelah meninggalnya Abdurrahman bin Auf r.a., ia menikah dengan Amr bin Ash r.a. Wafat tahun 33 H.

Periwayat 10 hadits Nabi dan ahli penulisan.

Ummu Hani (Fakhitah bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib)

Keturunan Bani Hasyim, masuk Islam di masa penaklukkan Makkah. Wafat tahun 40 H.

Periwayat 46 Hadits Nabi. Ibu yang mulia dari banyak anak-anaknya.

Ummu Jamil (Ummu Hakim binti Haris)

Keturunan Bani Makhzum dari Quraisy, keponakan Khalid bin Said r.a., menikah dengan Ikrimah bin Abu Jahal r.a., Khalid bin Said r.a., dan Umar bin Khaththab r.a., masing-masing karena suaminya syahid.

Mujahidah tangguh yang berhasil membunuh 7 tentara Roma pada peperangan yang membunuh Khalid bin Said r.a. menggunakan tongkat kemah acara pernikahannya dengan Khalid.

Pernikahannya dengan Khalid r.a. sangat mulia. Tatkala Khalid meminangnya setelah masa iddahnya selesai, dan ketika hendak menyelenggarakan walimah, terjadi serangan ‘Marju as-Syuffar’ dari tentara Roma.

Khalid yang sudah merasakan ia akan syahid di peperangan ini berniat menunda pernikahannya tersebut, namun justru mengetahui hal tersebut mendorong Ummu Jamil untuk mempercepat pernikahan dengannya.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ribakah Listrik Pascabayar?

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.
       
Pertanyaan: I-09.

Mohon pencerahan tentang tulisan berikut Ustadz:

Masya Allah Riba ada di mana-mana
Asslmlaikum Pagi ini saya mendengarkan Tausiyah Oleh Habib Novel Alaydrus yaitu siaran Ulang Majelilis Ta’lim Riyadlul Jannah Bahwa Beliau menyebutkan Listrik yg bayarnya di belakang ( Bukan Pulsa) itu dinamakan jual beli sistem Hutang, jika terlambat Bayar di denda, jika beberapa Bulan tidak bayar maka akan di cabut, Maka di namakan Sistem Jual beli RIBA-WI, jadi Listriknya Riba, kalau ngajinya pakai listrik tersebut berarti Ngajinya Riba, Jika Masak Menggunakan listrik yg seperti itu makanan nya mengandung Riba, Jika mandi, Minum, Wudlu dan lain-lain menggunakan listrik tersebut maka mengandung RIBA, Termasuk PDAM yg bayarnya belakangan maka Airnya Juga RIBA, Bagaimana Do’anya bisa terkabul dan Dosanya di Ampuni…?

Jawaban Ustadz Rikza:

Riba itu terkait dua hal; hutang piutang dan barter.

Semua hutang yg ada tambahan dari pokok hutangnya adalah riba, lebih tepatnya riba nasi’ah.

Dan segala bentuk tukar menukar antara barang sejenis dengan kuantitas yg tdk sama, adalah riba fadhl.

Contohnya adalah menukar uang receh Rp 100 ribu dengan uang biasa Rp 110 ribu.

Adapun pembayaran listrik yg apabila terlambat dikenakan denda, bukanlah yg termasuk dalam definisi riba.

Walaupun memang ada unsur kesalahannya, yaitu pengenaan denda akibat keterlambatan, dan dana denda tsb diakui sebagai pendapatan.

Kategorinya yg lebih tepat adalah mengambil harta orang dengan batil, bukan riba.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Asal Muasal Tradisi Bahari Bangsa Turki Rintisan Latuftahanna & Penaklukan Konstantinopel

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Lepas Pantai Chios (Sakız dlm bahasa Turki)
23 Juli 1319

Pertempuran laut ini dipertaruhkan di lepas pantai pesisir timur Laut Aegean dekat Pulau Chios (Sakız) antara kapal perang nasrani Latin (yg pada umumnya diawaki pasukan Hospitaller) melawan kapal perang dari Beylik Turki dari suku Aydın.

Sedikit latar belakang, ketika kekuasaan Imperium Byzantium runtuh di bagian barat Anatolia (Asia Kecil) berikut penguasaannya atas Laut Aegean pada akhir abad ke-13 – bertepatan dengan dibubarkannya angkatan laut Byzantium juga pada tahun 1284 – maka itu menimbulkan kekosongan kekuasaan. Kondisi vakum itu segera direbut oleh berbagai Beylik Turki serta pasukan perbatasan Ghazi Turki.

Memanfaatkan peluang tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menyisir kesempatan namun juga membutuhkan kesiapan utk menyusun kompetensi yg akan menopang laju terbukanya peluang tsb. Bangsa Turki adalah bangsa daratan, namun ketika peluang bahari itu terbuka mereka tidak segan untuk menceburkan diri ke laut. Mereka sdh mendahului dengan teladan bahwa meninggalkan zona nyaman adalah sebuah kemestian utk menjadi pengayom dunia.

Berbagai perluasan Beylik Turki di daerah ini juga memanfaatkan para pelaut berkebangsaan Yunani yg “kehilangan pekerjaan” sehingga untuk pertama kalinya bangsa Turki mengenal ilmu kebaharian. Mereka mulai belajar menguasai berbagai teknik perang bahari dan mengasahnya dengan menyerbu banyak kepulauan yg diduduki bangsa Latin. Naiknya pamor pelaut Turki juga disebabkan adanya persaingan antara dua kekuatan laut Latin, yaitu antara Venisia dan Genoa.

Satu lagi teladan yg diberikan oleh pelaut Turki masa itu adalah mereka tidak segan belajar dari bangsa manapun. Lawan tidak sekedar dihadapi atau dikalahkan, namun diayom serta dipelajari aspek-aspek keunggulannya agar menjadi kompetensi diri utk melepas dari ketergantungan.

Pada tahun 1304 suku Turki Menteshe, yg kemudian disusul oleh suku Turki Aydın, menguasai kota Ephesus dan sepertinya kepulauan di sebelah timur Laut Aegean akan segera jatuh ke tangan pelaut-pelaut Turki. Untuk menahan gelombang mematikan tersebut, pada tahun yg sama Genoa menduduki Pulau Chios (Sakız) dimana Benedetto I Zaccaria mendirikan sebuah prinsipal kecil. Empat tahun kemudian, 1308, ordo militer fanatik Knights of Saint John (Hospitallers) menduduki Pulau Rhodes. Keduanya akan menanggung hantaman paling keras dari serbuan laut bangsa Turki sampai tahun 1329.

Aspek keteladanan lainnya adalah para pelaut Turki yg masih terbilang “bau kencur” itu tidak pernah rendah diri. Bahkan mereka cukup percaya pada kemampuannya yg masih terbatas utk menghadapi bangsa-bangsa yg sudah lebih dulu mahir atas tradisi perang lautan. Kekalahan tidak juga menyurutkan laju layar mereka, karena sdh sangat dipahami bahwa tidak ada kejayaan tanpa pengorbanan.

Pada bulan Juli 1319, armada Aydın, dibawah pimpinan langsung emirnya yg bernama Mehmed Beg berlayar dari kota pelabuhan Ephesus. Ia membawa 18 galley dan 18 kapal ukuran yg lainnya. Armada kecil ini dicegat oleh armada Hospitaller yg terdiri dari 24 kapal dengan 80 pasukan bersenjata lengkap (knight) di dalamnya. Pasukan itu dipimoin oleh Albert dari Scwharzburg. Armada kaum nasrani Latin ini mendapatkan tambahan skuadron Martino Zaccaria dari Chios yg terdiri atas 1 galley dan 6 kapal lainnya.

Hampir selalu, pada masa-masa ini, pemimpin itu tidak hanya yg paling cakap pemikirannya, namun juga yg paling gagah berani perawakannya. Mehmed Beg memimpin langsung pasukan di kapal terdepan, karena dia bukan pemimpin meja di tenda belakanh.

Pertempuran laut itu berakhir dengan kemenangan pada pihak kaum nasrani Latin; hanya 6 kapal Turki yg berhasil lolos dari sergapan dan penenggelaman. Kemenangan ini ditindaklanjuti oleh armada Latin dengan merebut Pulau Leros yang penduduk Yunaninya sempat memberontak atas nama emperor Byzantium. Kemenangan ini pula disusul oleh kemenangan lain yg menggagalkan rencana armada Turki lainnya utk menginvasi Pulau Rhodes.

Kekalahan tidak menyurutkan, kemenangan tidak membusungkan; itu yg dipelajari dalam-dalam oleh keenam kapal yg berhasil meloloskan diri. Kelak mereka menjadi sumber pembelajaran yg berharga bagi para pelaut muda yg menanti gilirannya berada pada kapal terdepan.

Namun, diatas segala itu, kemenangan di lepas pantai Chios itu tidak juga dapat membendung meningkatnya kekuasan Beylik Aydın. Keluarga Zaccaria akhirnya juga harus melepaskan pangkalan Zmyrna di daratan kepada anak Mehmed Beg yg bernama Umur Beg. Dibawah kepemimpinan baru Umur Beg, angkatan laut Aydın menguasai Laut Aegean selama 2 dekade setelah itu hingga datangnya Crusade Smyrna (1343-1351) yg melumpuhkan Beylik Aydın secara final.

Hilangnya Aydın adalah pertanda naiknya Osmanlı. Tidak terlalu lama lagi proyek Latuftahanna akan disempurnakan persiapan baharinya.

Agung Waspodo, dalam rangka menelusuri jejak bahari menjelang naiknya Beylik Osmanlı yg akan menjadi cikal bakal Khilafah Turki Utsmani 696 tahun kemudian.

Depok, 23 Juli 2015

Sumber rederensi:

Sources: İnalcık, Halil (1993). “The Rise of the Turcoman Maritime Principalities in Anatolia, Byzantium, and the Crusades”. The Middle East & the Balkans Under the Ottoman Empire: Essays on Economy & Society. Indiana University Turkish Studies Department.

Luttrell, Anthony (1975). “The Hospitallers at Rhodes, 1306–1421”. In Hazard, Harry W. A History of the Crusades, Volume III: The fourteenth and fifteenth centuries. University of Wisconsin Press.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Kemenangan Tidak Selalu Membuahkan Kemajuan Tanpa Tindak Lanjut yang Nyata!

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Anzen – 22 Juli 838

Pertempuran Anzen, atau juga disebut Pertempuran Dazimon, terjadi pada hari Senin 26 Sya’ban 223 Hijriah atau 22 July 838 di daerah Anzen/Dazimon antara pasukan Byzantium dan kekuatan Khilafah ‘Abbasiyah.

Pada waktu itu Khilafah ‘Abbasiyah sedang melancarkan sebuah ekspedisi besar dengan 2 kelompok balatentara terpisah sebagai jawaban atas keberhasilan kampanye militer Emperor Theophilos setahun sebelumnya. Tujuan utama ekspedisi ini adalah utk menghancurkan Amorion, salah satu kota besar Byzantium di Asia Kecil. Di palagan Anzen, pasukan Theophilos berjumlah lebih besar dibandingkan dengan pasukan muslimin dibawah pangeran ketundukan (vassal) Iran yg bernama Afshin.

Strategi bumi hangus tentu berbeda dengan strategi penaklukan teritorial. Sangat disayangkan jika pada periode ino upaya terstruktur lagi menyeluruh tidak dilakukan utk menyebarkan Islam ke daerah Asia Kecil (Asia Minor, atau sering disebut sebagai Anatolia di masa Turki Utsmani nantinya).

Pasukan Byzantium yg jumlahnya lebih banyak itu pada awalnya memperoleh keberhasilan dalam kontak senjata ini, tetapi ketika Emperor Theophilos memutuskan utk ikut menyerang secara langsung; maka ketiadaan sosoknya di tengah-tengah para prajurit yg tidak biasanya ini menimbulkan kepanikan. Sebuah kepanikan yg tidak ia pertimbangkan sebelumnya ini semakin menjadi-jadi hingga berkembang isu bahwa emperor telah terbunuh. Isu ini ditambah dengan serangan balik pasukan panah-berkuda Afshin yg gigih menyebabkan pasukan utama Byzantium patah arang hingga akhirnya mundur dari lapangan tempur.

🔅Pemimpin memang patut memberi teladan, namun dalam taktik militer keteladanan ini harus diletakkan dalam bingkai strategi dengan pola komunikasi yg aman lagi efektif. Dalam kasus ini, alih-alih merebut kemenangan, ternyata kesemangatan pemimpin maju ke barisan terdepan malah membuat kekacauan pada keseluruhan barisan.

Kekacauan ini, menyebabkan kontingen yg dipimpin langsung oleh Emperor Theophilos dan pasukan pengawalnya menjadi terkepung sementara di sebuah bukit sebelum berhasil meloloskan diri. Kekalahan ini menyebabkan hancurnya kota Amorion beberapa pekan kemudian, sebuah momen kemunduran dan hantaman berat bagi prestise Byzantium dalam perseteruan beberapa abad dari Perang Arab-Byzantium.

Kekalahan yg seandainya ditindak-lanjuti dengan pendudukan wilayah maka akan memberikan hasil yg optimal utk perencanaan tahun berikutnya. Yang masih menimbulkan tanda tanya adalah, apa yg menjadi alasan bagi Khilafah ‘Abbasiyah tidak menguasai wilayah yg sdh rapuh dan runtuh pertahanannya itu? Perlu banyak membaca lagi sejarah era ini.

Kekalahan ini dinilai sangat tragis utk Byzantium pada waktu itu, namun peristiwa di Anzen dan hancurnya kota Amorion secara militer, anehnya tidak berdampak jangka panjang bagi imperium. Hal ini disebabkan karena Khilafah ‘Abbasiyah tidak meneruskan keberhasilan militer ini menjadi sebuah keuntungan yg lebih besar. Hal yg justru mencuat di sisi Byzantium adalah meningkatnya sentimen negatif terhadap ikonoklasme (iconoclasm) yg hampir selalu membutuhkan keberhasilan militer utk menjaga keabsahannya.

Stabilitas dalam negeri selalu menjadi faktor penentu berapa kuat dan lama sebuah ekspedisi militer ke wilayah luar. Ia bisa menjadi faktor pemicu namun bisa juga menjadi faktor penghambat; lawan pun harus cerdas memperhatikan momentum ini.

Tidak lama setelah wafatnya Emperor Theophilos pada tahun 842, empat tahun setelah pertempuran ini, gerakan memuja simbol-simbol relijius bergambar (icons) kembali marak sebagai penanda keberhasilan Nasrani Orthodox di seluruh penjuru kerajaan. Pertempuran Anzen dapat juga dilihat sebagai contoh betapa sulitnya militer Byzantium menghadapi ancaman pasukan panah-berkuda. Hal ini merupakan faktor militer yg besar pada abad ke-6 dan ke-7 yg kemudian berkembang menjadi kekuatan inti tradisi serta doktrin militer Byzantium.

Kekalahan tidak selalu berdampak negatif, dalam aspek militer maka kecerdasan sebuah peradaban juga dapat diukur dari seberapa cepat penyesuaian yg dilakukannya utk mengimbangi keunggulan lawan. Kemenangan tidak berdampak jauh ke depan jika tidak diimbangi oleh kesigapan utk selalu memiliki strategi dan taktik yg terus berkembang diluar pantauan lawan.

Suatu hal yg juga mencengangkan adalah pertempuran ini menjadi momen dimana Byzantium menghadapi taktik bangsa nomaden Turki dengan gaya perang Asia Tengahnya. Keturunan mereka nanti adalah bangsa Turki Saljuq yg akan menjadi antagonis bagi Byzantium dari abad ke-11 hingga seterusnya.

Agung Waspodo, masih terpana dengan mendalamnya sejarah Khilafah ‘Abbasiyah setelah 1177 tahun kemudian.

Depok, 22 Juli 2015, pagi selepas waktu subuh..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jika Engkau…

Oleh: Ustadz DR. Saiful Bahri, M.A.

Jika engkau lelah,
rebahkan dirimu dalam pangkuan-Nya.
Niscaya kan kau temukan berjuta ketenangan.

Jika engkau gundah, dinginkanlah dengan bacaan ayat-ayat-Nya.

Jika engkau gelisah, temuilah orang-orang shalih yang engkau percaya.

Jika engkau tak tau harus apa, bacalah buku.
Sinarilah hidupmu dengan membaca dan menuntut ilmu.
Dimanapun.

Jika engkau merasa sendiri, hitunglah orang-orang yang mencintaimu, menghargaimu dan berjasa dalam hidupmu.

Jika engkau merasa tak tau apa yang kau rasakan…. Renungilah ayat-ayat kauniyah.
Fenomena alam.
Hewan-hewan dan tumbuhan semua bertasbih dengan riang.

Maka bagaimanapun kondisimu usahakan bermanfaatlah bagi orang disekelilingmu.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…