Ustadz Menjawab: Jual Beli

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M Ag.

Pertanyaan:

Ustadz kalo per kayuan biasanya begini prosesnya :dari petani Pohon berdiri(kubikasi belum pasti) dijual ke Penebang,  dari penebang dipotong sehingga ukuran (kubikasi jelas), terus dijual ke Pangkalan harga per kubikasi,

Apakah aktivitas Beli Si Penebang termasuk yg dikharamkan ?

Kalo ini termasuk diharamkan… Siap meninggalkan profesi beli pohonnya,  ganti profesi

(I-09 Mustolih)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Menaksir harga kayu dari pohonnya yg sudah siap tebang, hukumnya boleh.

Karena objek akad jual belinya sudah ada (wujud) dan keberadaannya sdh jelas.

Adapun ukuran kubikasi yg belum jelas, tidak mengapa dengan syarat ada standar umum harga pohon berdasarkan ukurannya.

Misal utk pohon dgn diameter tertentu, maka harganya sekian, kalau diameter lebih besar, harga lebih tinggi, kalau lebih kecil harga lebih rendah.

Kemudian kualitas pohon lebih baik juga harga lebih tinggi dst.

Jadi, selama ada patokan umum boleh saja.

Yang tidak boleh adalah ketika pohonnya masih kecil diperjualbelikan dengan pengambilan pohonnya ketika sudah besar.

Maka kalau seperti itu tidak boleh, mengandung unsur gharar.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

NASEHAT AYAH KEPADA ANAK

Oleh: Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Anak adalah dambaan setiap sepasang manusia yang mengikat tali suci untuk meraih ridho Ilahi. Dengannya nasab Islam akan berlanjut, dengannya agama Rasulullah Saw insya Allah akan terus hidup, dan dengannya insya Allah, seluruh alam akan merasakan keberkahan hidup bersama seorang Muslim. Maka terlahirnya seorang anak bukanlah akhir dari sebuah cita-cita, melainkan awal dari sebuah pekerjaan besar nan mulia untuk menumpuk investasi jariyah yang nilainya amat tinggi, mengalahkan investasi materi di dunia.

Untuk inilah sebuah keluarga harus mencurahkan sepenuh jiwanya, bersama do’a kaum muslimin yang mengharapkan kebaikan, melahirkan sebuah proses berkesinambungan, tanpa harus bersedih jika hasil tidak sesuai dengan asa, karena Allah Sang Pencipta hanya akan menilai proses bukan hasil kerja.

Peran seorang ayah begitu penting sebagai imam dalam keluarga, sebagai panutan dalam tindakan, sebagai guru bagi murid-muridnya, yang tidak lain adalah isteri dan anak-anaknya. Begitu pentingnya peran seorang ayah, sehingga satu halaman Al-Qur’an secara khusus mengajarkan kepada seorang ayah nasihat apa yang pantas disampaikan kepada anak-anaknya pada kesempatan pertama seorang anak mampu untuk menyerap ilmu. Allah mengarahkan seorang ayah agar menjadi guru yang memberikan mau’izhoh (pelajaran) inti dan mendasar, agar dari lisannya pertama kali seorang anak mendengarkannya, bukan dari orang lain, meskipun orang lain itu seorang yang shalih, karena keshalihan utama dalam sebuah keluarga harus terpancar dari seorang imam keluarga.

Allah ‘Azza wa Jalla memilihkan sosok Luqman bin Anqa’ bin Sadun untuk menjadi teladan para ayah dalam bab ini, karena ia sosok panutan yang sangat pandai bersyukur akan nikmat-Nya, dan akan kita lihat bagaimana cara Luqman mensyukuri nikmat dikaruniai seorang anak, khususnya puteranya yang bernama Tsaran.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [Q.S. 31.12]

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. [Q.S. 31.13]

Inilah inti agama para Nabi, hakikat da’wah para Rasul, dan bangunan awal nan mendasar yang diletakkan di dasar jiwa setiap anak-anaknya. Ketika dasar ini tertanam kokoh dalam relung hati setiap manusia, niscaya pribadinya akan siap untuk menerima syari’at agama yang akan melahirkan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah).

Ayah melanjutkan pelajarannya dengan mengingatkan seorang anak untuk mencurahkan perhatiannya untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, wa bil khushus, ibunya. Seorang anak harus belajar mensyukur nikmat Allah, nikmat memiliki ayah dan ibu yang shalih dan shalihah.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [Q.S. 31.14]

Iman seorang anak adalah kepada Sang Pencipta, bukan kepada ayah dan ibunya. Kalaupun ia berbakti kepada orang tuanya, itu murni karena penghambaannya kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah, bukan karena orang tuanya. Oleh karenanya, ada kalanya orang tua tersimpangkan hidupnya mengkhianati imannya kepada Allah, maka syariat ini mengajarkan umatnya untuk tetap birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), dan mengedepankan akhlak yang mulia dalam bab mu’amalah sembari sentiasa berusaha mengingatkan untuk kembali ke jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim). Pelajaran ini harus disampaikan oleh seorang ayah.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Q.S. 31.15]

Keyakinan bahwa Allah sentiasa mengawasinya (muraqabatullah), memiliki kunci-kunci keghaiban sehinga mengetahui hingga hal-hal yang terkecil sekalipun, meskipun sehelai daun yang gugur, meskipun sebutir biji yang jatuh dalam kegelapan malam, meskipun ia tersimpan rapat di hati manusia. Allah telah menuliskannya di Lauh al-Mahfuzh, dan Allah akan memberikan balasan dengan Maha Sempurna dan Maha Adil. “(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 31.16]

Perhatikanlah, bagaimana taujih rabbani Allah kepada seorang ayah untuk membangun kekuatan jiwa seorang anak. Saat kekuatan jiwa itu telah kokoh, barulah ayah mengajarkan dan membiasakan seorang anak tata cara ibadah yang benar sebagai wujud syukur, dan kunci semua ibadah adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab, dan menentukan apakah amalah kebaikan lainnya akan dihisab ataukah tidak tergantung baiknya shalat. Maka seorang anak diajarkan untuk tidak sekedar memahami bahwa shalat adalah kewajiban, akan tetapi shalat harus dinikmati, dinanti, dan dirindukan. Ia menjadi sarana seorang manusia untuk berkhalwat kepada Sang Pencipta, realisasi mi’raj ruhani. Kehidupan adalah waktu yang disiapkan Allah untuk menegakkan shalat, dan sembari menunggu waktu shalat, manusia mengisi waktunya dengan bekerja, belajar, mengajar, dan berdakwah, bukan sebaliknya, bukan shalat yang menanti dirinya. Persepsi seperti inilah yang akan melahirkan pribadi yang mampu shalih tidak hanya di dalam masjid, tetapi dalam seluruh praktik kehidupannya di luar masjid.

“Hai anakku, dirikanlah salat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Q.S. 31.17]

Kesombongan, menolak kebenaran dan merendahkan manusia, tidak mungkin akan terlahir dari pribadi yang kokoh dasar imannya dan terlatih dalam kesinambungan ibadah yang benar. Maka tidak akan sulit bagi seorang ayah mengajarkan ilmu ini kepada anaknya, anak  yang akan semakin tawadhu’ seiring ilmu yang semakin banyak yang ia terima, anak yang tidak memilih-milih sahabat kecuali karena pertimbangan keshalihannya, anak yang bagus tutur katanya, karena memiliki motivasi hidup yang benar, yang akan menyuntikkannya energi asa yang tak pernah putus, bahkan berlimpah sehingga mampu dibaginya kepada alam semesta.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Q.S. 31.18] “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [Q.S. 31.19].

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Pengecualian Dalam Jual Beli

Oleh: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Hadits Nabawi

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالثُّنْيَا إلاَّ أَنْ تُعْلَمَ (رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ )

Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW melarang jual beli muhaqalah, jual beli muzabanah dan jual beli dengan pengecualian, kecuali apabila (pengecualiannya) diketahui.’

(HR. Nasa’I dan Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Tirmidzi)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a Fin Nahyi an At-Tsunya, hadits no 1211.

Imam Syaukani mengemuka kan bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’I. juga oleh Imam Muslim dengan lafafdz, bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli dengan pengecualian.

Imam Syaukani juga mengemukakan bahwa Ibnu Jauzi keliru dalam takhrij hadits ini, beliau mengira bahwa hadits ini adalah muttafaqun alaih (dispekati oleh Imam Bukhari dan Muslim), sementara Imam Bukhahi sama sekali tidak mentakhrij hadits ini dalam shahihnya.

Makna Umum Hadits

Hadits ini menggambarkan tentang adanya larangan dalam muamalah, yaitu :
Bai’ Muhaqalah
Bai’ Muzabanah
Bai’ Tsunya

Larangan – larangan dalam muamalah ini sejatinya tidak bertujuan untuk menyulitkan umat Islam, namun adalah dalam rangka untuk menjaga kemaslahatan dan keselarasan dalam kehidupan.

Larangan tersebut dimaksudkan supaya tidak saling merugikan, tidak saling menipu dan membohongi, tidak saling bermuhushan karena sesuatu yang tidak diketahui pada objek jual beli, dsb.

1. Makna Muhaqalah

Makna Bai’ (jual beli) Muhaqalah adalah mencakup jual beli sebagai berikut :

– Jual beli makanan yang masih berada di pohonnya di dalam ladang dengan ukuran yang tertentu.

– Jual beli makanan (buah-buahan/ gandum) yang masih berada di tangkai pohonnya.
Berasal dari kata haql yang berarti pengolahan tanah (pembajakan) dan lahan untuk bercocok tanam. (Abu Ubaid)

– Jual biji gandum yang masih berada di tanaman (misalnya yang terdapat dalam seratus pohon yang terpisah-pisah). (Jabir ra)

– Jual beli makanan pokok yang masih berada di pohonnya (seperti gandum, dsb) sebelum jelas atau terlihat buahnya secara jelas.

Kesimpulan

Muhaqalah adalah jual beli makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (umumnya makanan pokok seperti gandum, beras, dsb) yang masih berada di tangkai pohonnya (bahkan terkadang masih belum terlihat buahnya) dan dengan ukuran dan takaran yang tidak jelas (seperti menggunakan ukuran jumlah pohon, ukuran luas area kebun atau sawah tempat ditanaminya pohon-pohon tersebut).

Jual beli seperti ini merupakan jual beli yang terlarang, bahkan Imam Syaukani dengan jelas mengatakan :

وهو يدل على تحريم المحاقلة والمزابنة

Hadits di atas menunjukkan haramnya jual beli muhaqalah dan muzabanah.

2. Makna Muzabanah

Sedangkan secara bahasa berasal dari kata (زبن) yang berarti mendorong dengan keras.

Oleh karenanya, perang disebut juga zabun, karena di dalam perang, seseorang mendorong musuhnya dengan keras.

Sedangkan secara istilah, bai’ muzabanah merupakan transaksi jual beli yang mencakup sebagai berikut :

– Jual beli dimana salah satu pihak baik penjual maupun pembeli ingin membatalkan transaksinya karena adanya tipuan dalam transaksinya sementara pihak lainnya memaksa untuk meneruskan transaksinya tersebut.

– Jual beli kurma basah (yang masih berada di tangkai di pohonnya) dengan beberapa wasaq  (ukuran timbangan Arab) tamar (kurma kering).

– Atau jual beli anggur yang masih basah dengan anggur kering (kismis).

– Jual beli sesuatu yang majhul (tidak diketahui) ataupun yang ma’lum (diketahui) dari jenis barang yang sama, di mana di dalamnya terdapat unsur riba (seperti takaranannya tidak sama).

– Jual beli sesuatu tanpa ditimbang yang tidak diketahui takarannya, timbangannya dan jumlahnya, baik yang di dalamnya terdapat unsur riba maupun tidak. (Imam Malik)

– Jual beli semua jenis buah-buahan yang masih terdapat di pohonnya dengan kurma kering yang ditimbang.

– Jual beli rutob (kurma basah) yang masih berada di pohon dengan kurma kering.

Kesimpulan :

Jual beli Muzabanah adalah jual beli yang merugikan salah satu pihak, (seperti dengan cara paksaan atau keterpaksaan) dimana umumnya terjadi dalam bentuk barter antara barang sejenis (seperti antara kurma basah yang masih ada di tangkainya di pohonnya dengan kurma kering yang sudah siap dimakan, atau antara anggur basah yang masih terdapat di pohonnya dengan anggur kering yang sudah diolah seperti kismis) dengan takaran dan timbangan yang umumnya tidak diketahui dengan jelas, atau timbangannya diktahui dengan jelas, namun menimbulkan riba.

3. Hukum Bai’ Muhaqalah & Muzabanah

Ulama sepakat akan haramnya jual beli Muhaqalah dan Muzabanah.
Bai’ muhaqalah diharamkan karena mengandung unsur:

(1) gharar yaitu ketidak jelasan ukuran dan timbangan makanan yang diperjual belikan tersebut dan karena adanya unsur

(2) tidak bisa diserah terimakan pada saat terjadinya akad.

Bai’ Muzabanah diharamkan karena mengandung unsur:

(1) paksaan atau keterpaksaan,

(2) gharar, yaitu ketidakjelasan ukuran dan takarannya,

(3) adanya unsur riba di dalamnya, karena menukar barang sejenis dengan takaran dan timbangan yang tidak sama.

4. Transaksi Kontemporer Yang Menyerupai Muhaqalah atau Muzabanah

Pada Transaksi Muhaqalah

Seperti jual beli ijon, dimana seorang pembeli menawar mangga yang masih kecil bahkan terkadang masih berwujud bunga yang terdapat di dalam pohonnya, dengan harga Rp 500.000,- satu pohon yang akan diambil ketika mangganya sudah besar dan matang.

Pada Transaksi Muzabanah :

Seperti seorang suplayer menjual barang kepada satu perusahaan, lalu dibayar dengan cek atau sertifikat uang namun baru bisa dicairkan pada dua bulan mendatang.

Nah, karena ia butuh uang cash, maka ia jual sertifikat uang tersebut atau cek tersebut kepada orang lain dengan harga yang lebih rendah dari nominal uang yang tertera di dalam ceknya.

5. Bai’ Tsunya

Tsunya secara bahasa berarti sesuatu yang dikecualikan, berasal dari kata (الإستثناء) yaitu pengecualian.

Sedangkan pengertiannya secara umum adalah sebagai berikut:

– Menjual suatu barang tertentu (baik makanan, tanaman, tanah, rumah, hewan ternak, dsb), yang dilakukan dengan cara ada yang dikecualikan dari barang-barang tersebut, dan yang dikecualikan tidak diketahui atau tidak disepakati.

Seperti seseorang berkata, aku jual tanah ini kepadamu, kecuali sebagiannya (tanpa menyebutkan bagian mana yang dikecualikan).

Imam Syaukani mengemukakan bahwa jual beli tsunya adalah transaksi yang tidak sah, karena mengandung unsur jahalah (ketidak tahuan) objek akadnya dan gharar (adanya ketidakjelasan) terhadap objek akad.

Sehingga ketika terjadi ketidakjelasan, pembeli tidak bisa mengetahui bagian manakah dari tanah tersebut yang sudah menjadi miliknya dan mana yang belum menjadi miliknya.
Karena pengecualiannya tidak jelas.

Adapun apabila yang dikecualikan adalah jelas, seperti penjual berkata, aku jual tanah ini kepada mu seluas 1000 m2, kecual 200 m2 (20 X 10) yang terletak di bagian sebelah depan paling kanan.

Apabila pengecualiannya jelas, maka ulama sepakat bahwa hukumnya adalah boleh dan transaksinya sah.

Kesimpulan

Dalam hadits ini, Nabi SAW melarang tiga bentuk jual beli yaitu sebagai berikut :

Bai’ Muhaqalah, yaitu jual beli makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (umumnya makanan pokok seperti gandum, beras, dsb) yang masih berada di tangkai pohonnya dengan ukuran dan takaran yang tidak jelas (seperti menggunakan ukuran jumlah pohon, ukuran luas area kebun atau sawah tempat ditanaminya pohon-pohon tersebut.

Bai’ Muzabanah, yaitu jual beli yang merugikan salah satu pihak, terjadi dalam bentuk barter antara barang sejenis (seperti antara kurma basah yang masih ada di tangkainya di pohonnya dengan kurma kering yang sudah siap dimakan) dengan takaran dan timbangan yang umumnya tidak diketahui dengan jelas, atau timbangannya diketahui dengan jelas, namun menimbulkan riba.

Bai’ Tsunya, yaitu Menjual suatu barang tertentu (baik makanan, tanaman, tanah, rumah, hewan ternak, dsb), yang dilakukan dengan cara ada yang dikecualikan dari barang-barang tersebut, dan yang dikecualikan tidak diketahui atau tidak disepakati.

Ketiga transaksi tersebut dilarang secara syariah, karena mengandung unsur jahalah (ketidaktahuan), gharar (ketidakjelasan), merugikan salah satu pihak yang berakad, tidak bisa diserahterimakan pada saat akad, dan juga bahkan mengandung unsur riba.

Pelarangan syariah terhadap bentuk-bentuk jual beli atau transaksi tertentu adalah dalam rangka menjaga kemasalahatan kaum muslimin, agar terhindar dari kesalahpahaman yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah

Serta agar umat Islam mendapatkan rizki yang halal dan thayib. Karena harta yang kotor tidak akan diterima oleh Allah dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari transaksi yang diharamkan syariah.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…