Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Mani, Madzi dan Wadzi

Pertanyaan

Assalamu’alaikum ustadz/ah, ada yg ingin sy tanyakan ttg perbedaan mani, madzi dan wadzi, termasuk terdapat pada siapa sj (laki2/pr) dan bagaimana cara bersucinya, syukron atas jawabannya,ย  # A 40

โœ๐Ÿป *Jawaban….*

Oleh: Ustadzah Yani

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…ย  ุงู„ุณู„ุงู…ย  ูˆย  ุฑุญู…ุฉย  ุงู„ู„ู‡ย  ูˆย  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ

Ada tiga cairan yang keluar ketika syahwat seseorang saat memuncak baik itu laki laki maupun perempuan :

1.ย  Madzi :

Cairan bening, tidak terlalu kental, tidak berbau, keluarnya tidak memancar, setelah keluar tidak lemas, biasanya keluar sebelum mani keluar. Cairan ini termasuk najis ringan (najis mukhaffafah), namun jika keluar, tidak menyebabkan wajib mandi dan tidak membatalkan puasa.

2.ย  Mani :

Cairan yang keluar ketika syahwat mencapai puncak, memiliki bau khas, disertai pancaran, setelah keluar menimbulkan lemas. Hukum cairan ini tidak najis, menurut pendapat yang kuat, namun jika keluar bisa menyebabkan hadats besar, sehingga bisa membatalkan puasa dan wajib mandi.

3.ย  Wadi :

Cairan bening, agak kental, keluar ketika kencing. Dari ketiga cairan di atas, yang paling mudah dibedakan adalah wadi, karena cairan ini hanya keluar ketika kencing, baik bersamaan dengan keluarnya air kencing atau setelahnya. (Lihatย Al-Wajiz fi Fiqh Sunnah, hlm. 24โ€“25)

Sementara itu, yang agak sulit dibedakan adalahย madziย dan mani. Untuk memudahkan pembahasan terkait dua cairan ini, masalah ini bisa dirinci pada dua keadaan:
ketika sadar dan ketika tidur.

Pertama, ketika sadar

Cairan yang keluar dalam kondisi sadar, bisa digolongkan termasuk jika memenuhi tiga syarat:

1. Keluarnya memancar, disertai syahwat memuncak, sebagaimana yang Allah sebutkan di surat Ath-Thariq, ayat 5โ€“6.

2. Ada bau khas air mani

3. Terjadiย futurย (badan lemas) setelah cairan tersebut keluar. (Asy-Syarhul Mumtiโ€™, 1:167)
Jika cairan keluar ketika kondisi sadar dan tidak disertai tiga sifat di atas maka cairan itu adalahย madzi, sehingga tidak wajib mandi. Misalnya, cairan tersebut keluar ketika sakit, ketika kelelahan, atau cuaca yang sangat dingin.

Kedua, ketika tidur

Orang yang bangun tidur, kemudian ada bagian yang basah di pakaiannya, tidak lepas dari tiga keadaan:

1.ย Dia yakin bahwa itu adalah mani, baik dia ingat mimpi ataukah tidak. Dalam kondisi ini, dia diwajibkan untuk mandi, berdasarkan kesepakatan ulama. (Lihatย Al-Mughni, 1:269)

2.ย Dia yakin bahwa itu bukan mani, karena yang menempel hanya tetesan cairan atau cairan berbau pesing, misalnya. Dalam kondisi ini, dia tidak wajib mandi. Namun, dia wajib mencuci bagian yang basah karena cairan ini dihukumi sebagaimana air kencing.

3.ย Dia ragu, apakah itu mani ataukah madzi. Dalam kondisi semacam ini, dia mengacu pada keadaan sebelum tidur atau ketika tidur. Jika dia ingat bahwa ketika tidur dia bermimpi, maka cairan itu dihukumi sebagai mani.

Namun, jika dia tidak mengingatnya, dan sebelum tidur dia sempat membayangkanย jimaโ€™ย maka cairan itu dihukumi sebagaiย madziย karena cairan ini keluar ketika dia membayangkanย jimaโ€™, sementara dia tidak merasakan keluarnya suatu cairan. (Asy-Syarhul Mumtiโ€™, 1:168)

Adapun jika dia tidak ingat mimpi dan tidak memikirkan sesuatu sebelum tidur, ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Ada yang berpendapat wajib mandi, sebagai bentuk kehati-hatian, dan ada yang berpendapat tidak wajib mandi. Insya Allah, pendapat yang lebih kuat adalah wajib mandi, berdasarkan hadis dari Aisyahย radhiallahu โ€˜anha, bahwa Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wa sallamย ditanya tentang laki-laki yang tidak ingat mimpi, namun tempat tidurnya basah. Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wa sallamย bersabda, โ€œDia wajib mandi.โ€ (H.R. Abu Daud; dinilaiย hasanย oleh Al-Albani)

Sedangkan perbedaan hukumnya:

1. Keluarnya mani mewajibkan mandi besar, namun tidak mewajibkan wudhu, dan mani dihukumi sebagai benda yang suci.

Keluarnya mani mewajibkan mandi besar besar jika ditemui salah satu dari 3 tanda berikut ini:

A. Terasa enak saat keluar, karena keluarnya saat syahwat telah memuncak.

B. Keluarnya memancar, maksudnya keluar sedikit demi sedikit.

C. Ketika masih basah baunya seperti adonan roti atau mayang kurma, sedangkan jika sudah kering baunya seperti putih telur.

Jadi warna putih dan lemasnya badan saat keluar bukanlah ciri-ciri utama mani, namun kebanyakan memang warnanya putih dan terasa lemas saat keluar.

2. Hukum madzi dan wadi sebagaimana hukumnya air kencing, keduanya membatalkan wudhu dan dihukumi najis.

Kewajiban mandi besar bagi orang yang mengeluarkan mani didasarkan pada beberapa hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah radhiyallahu โ€˜anha, beliau mengisahkan;

ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ุฃูŽู…ู‘ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุญู’ูŠููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูุŒ ููŽู‡ูŽู„ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุบูุณู’ู„ู ุฅูุฐูŽุง ุงุญู’ุชูŽู„ูŽู…ูŽุชู’ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ยซู†ูŽุนูŽู…ู’ุŒ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽุชู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽยป

โ€œUmmu Sulaim dating kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam, lalu ia berkata; โ€œYa Rasulullah, sesungguhnya Allah tak pernah โ€œmaluโ€ dalam hal kebenaran, apakah wanita diharuskan mandi apabila ia mimpi basah?โ€ Rasulullah shalllallahu โ€˜alaihi wasallam menjawab; โ€œYa, (wanita tersebut wajib mandi), jika ia melihat ada air (keluar maninya),โ€ย (Shahih Bukhari, no.282 dan Shahih Muslim, no.313)

Sedangkan dalil tidak diwajibkannya wudhu ketika seseorang mengeluarkan madzi berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ali karromallahu wajhah, beliau menceritakan;

ูƒูู†ู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู…ูŽุฐู‘ูŽุงุกู‹ ูˆูŽูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุณู’ุชูŽุญู’ูŠููŠ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู…ูŽูƒูŽุงู†ู ุงุจู’ู†ูŽุชูู‡ู ููŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุฏูŽุงุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ูˆูŽุฏู ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซูŠูŽุบู’ุณูู„ู ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูยป

“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam karena puteri beliau adalah istriku sendiri. Maka kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad supaya bertanya beliau, lalu beliau bersabda, “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudhu.”ย (Shahih Bukhari, no.209 dan Shahih Muslim, no. 303)

Imam Nawawi menjelaskan, bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa madzi tidak mewajibkan mandi, namun mewajibkan wudhu.

Adapun mengenai alasan tidak wajibnya mandi bagi orang yang mengeluarkan wadi adalah sebabย  tidak adanya dalil yang mewajibkan mandi ketika mengeluarkan wadi, karena kewajiban sesuatu harus ada dalilnya, selain itu jika madzi tidak mewajibkan mandi, padahal madzi mendekati sifat-sifat mani, tentunya wadi juga tidak mewajibkan mandi, karena sifat-sifat wadi lebih dekat dengan sifat-sifat air kencing.

Diriwayatkan dari Zur’ah Abu Abdurrohaman, beliau berkata;

ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุงุจู’ู†ูŽ ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุฏู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠูุŒ ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู: ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู…ูู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽุฏู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงุบู’ุณูู„ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽูƒูŽ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุฐูŽุงูƒููŠุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู’ ูˆูุถููˆุกูŽูƒูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู

“Aku mendengar Ibnu Abbas menjelaskan mengenai mani, madzi dan wadi, beliau berkata; “(Keluarnya) Mani mewajibkan mandi”, sedangkan mengenai (keluarnya) wadi dan madzi beliau berkata; “Basuhlah dzakar (kemaluan)mu, dan wudhulah sebagaimana engkau wudhu ketika hendak sholat.”ย (Sunan Baihaqi, no.800).

Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tentang Air (bersuci)

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 20 September 2016_
Ustadzah Rochma Yulikha
🌿🍁 * AIR*
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Dalam buku fiqih bab tentang air, ada pembahasan air yg jumlahnya mencapai dua kullah. Apakah ini hanya digunakan untuk menentukan status air tsb jika tercampur dgn benda najis? Jadi jika berwudhu menggunakan air yg jumlahnya kurang dari 2 kullah, mk tidak mengapa.
Syukran wa jazakillah khayran😊🙏
# A 41
Jawaban
———-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
*Ada Dua Macam Air*
Perlu diketahui bahwa air itu ada dua macam yaitu air muthlaq dan air najis.
_Pertama: Air Muthlaq_
Air muthlaq ini biasa disebut pula air thohur (suci dan mensucikan). Maksudnya, air muthlaq adalah air yang tetap seperti kondisi asalnya. Air ini adalah setiap air yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci.” (QS. Al Furqon: 48)
Yang juga termasuk air muthlaq adalah air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq.
Begitu pula yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.” [1] Air-air inilah yang boleh digunakan untuk berwudhu dan mandi tanpa ada perselisihan pendapat antara para ulama.
Bagaimana jika air muthlaq tercampur benda lain yang suci?
Di sini ada dua rincian, yaitu:
1. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci dan jumlahnya sedikit, sehingga air tersebut tidak berubah apa-apa dan masih tetap disebut air (air muthlaq), maka ia boleh digunakan untuk berwudhu. Misalnya, air dalam bak yang berukuran 300 liter kemasukan sabun yang hanya seukuran 2 mm, maka tentu saja air tersebut tidak berubah dan boleh digunakan untuk berwudhu.
2. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sehingga air tersebut tidak lagi disebut air (air muthlaq), namun ada “embel-embel” (seperti jika tercampur sabun, disebut air sabun atau tercampur teh, disebut air teh), maka air seperti ini tidak disebut dengan air muthlaq sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu atau mandi).
_Kedua: Air Najis_
Air najis adalah air yang tercampur najis dan berubah salah satu dari tiga sifat yaitu bau, rasa atau warnanya. Air bisa berubah dari hukum asal (yaitu suci) apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu berubah warna, rasa atau baunya.
Dari Abu Umamah Al Bahiliy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ إِلاَّ مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ
“Sesungguhnya air tidaklah dinajiskan oleh sesuatu pun selain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanya.”
Tambahan “selain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanya” adalah tambahan yang dho’if. Namun, An Nawawi mengatakan, “Para ulama telah sepakat untuk berhukum dengan tambahan ini.” Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa air yang sedikit maupun banyak jika terkena najis dan berubah rasa, warna dan baunya, maka itu adalah air yang najis.” Ibnul Mulaqqin mengatakan, “Tiga pengecualian dalam hadits Abu Umamah di atas tambahan yang dho’if (lemah). Yang menjadi hujah (argumen) pada saat ini adalah ijma’ (kesepakatan kaum muslimin) sebagaimana dikatakan oleh Asy Syafi’i, Al Baihaqi, dll.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin, maka itu pasti terdapat nashnya (dalil tegasnya). Kami tidak mengetahui terdapat satu masalah yang telah mereka sepakati, namun tidak ada nashnya.”[2] Intinya, air jenis kedua ini (air najis) tidak boleh digunakan untuk berwudhu.[3] Bolehkah Air Musta’mal Digunakan untuk Bersuci?
Yang dimaksud air musta’mal adalah air yang jatuh dari anggota wudhu orang yang berwudhu. Atau gampangnya kita sebut air musta’mal dengan air bekas wudhu.
Para ulama berselisih pendapat apakah air ini masih disebut air yang bisa mensucikan (muthohhir) ataukah tidak.
Namun pendapat yang lebih kuat, air musta’mal termasuk air muthohhir (mensucikan, berarti bisa digunakan untuk berwudhu dan mandi) selama ia tidak keluar dari nama air muthlaq atau tidak menjadi najis disebabkan tercampur dengan sesuatu yang najis sehingga merubah bau, rasa atau warnanya. Inilah pendapat yang dianut oleh ‘Ali bin Abi Tholib, Ibnu ‘Umar, Abu Umamah, sekelompok ulama salaf, pendapat yang masyhur dari Malikiyah, merupakan salah satu pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad, pendapat Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[4] Dalil-dalil yang menguatkan pendapat bahwa air musta’mal masih termasuk air yang suci:
Pertama: Dari Abu Hudzaifah, beliau berkata,
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالْهَاجِرَةِ ، فَأُتِىَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami di al Hajiroh, lalu beliau didatangkan air wudhu untuk berwudhu. Kemudian para sahabat mengambil bekas air wudhu beliau. Mereka pun menggunakannya untuk mengusap.”[5] Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengatakan, “Hadits ini bisa dipahami bahwa air bekas wudhu tadi adalah air yang mengalir dari anggota wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ini adalah dalil yang sangat-sangat jelas bahwa air musta’mal adalah air yang suci.”[6] Kedua: Dari Miswar, ia mengatakan,
وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, mereka (para sahabat) hampir-hampir saling membunuh (karena memperebutkan) bekas wudhu beliau.”[7] Air yang diceritakan dalam hadits-hadits di atas digunakan kembali untuk bertabaruk (diambil berkahnya). Jika air musta’mal itu najis, lantas kenapa digunakan? Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits-hadits ini adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap bahwa air musta’mal itu najis. Bagaimana mungkin air najis digunakan untuk diambil berkahnya?”[8] Ketiga: Dari Ar Rubayyi’, ia mengatakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- مَسَحَ بِرَأْسِهِ مِنْ فَضْلِ مَاءٍ كَانَ فِى يَدِهِ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap kepalanya dengan bekas air wudhu yang berada di tangannya.”[9] Keempat: Dari Jabir, beliau mengatakan,
جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُنِى ، وَأَنَا مَرِيضٌ لاَ أَعْقِلُ ، فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ عَلَىَّ مِنْ وَضُوئِهِ ، فَعَقَلْتُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjengukku ketika aku sakit dan tidak sadarkan diri. Beliau kemudian berwudhu dan bekas wudhunya beliau usap padaku. Kemudian aku pun tersadar.”[10] Kelima: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau mengatakan,
كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَمِيعًا
“Dulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam laki-laki dan perempuan, mereka semua pernah menggunakan bekas wudhu mereka satu sama lain.”[11] Keenam: Dari Ibnu ‘Abbas, ia menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari bekas mandinya Maimunah.”[12] Ibnul Mundzir mengatakan, “Berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama, air yang tersisa pada anggota  badan orang yang berwudhu dan orang yang mandi atau yang melekat pada bajunya adalah air yang suci. Oleh karenanya, hal ini menunjukkan bahwa air musta’mal adalah air yang suci. Jika air tersebut adalah air yang suci, maka tidak ada alasan untuk melarang menggunakan air tersebut untuk berwudhu tanpa ada alasan yang menyelisihinya.”[13] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Begitu pula air musta’mal yang digunakan untuk mensucikan hadats tetap dianggap suci.”[14] Sedangkan sebagian ulama semacam Imam Asy Syafi’i dalam salah satu pendapatnya, Imam Malik, Al Auza’i dan Imam Abu Hanifah serta murid-muridnya berpendapat tidak bolehnya berwudhu dengan air musta’mal.[15] Namun pendapat yang mereka gunakan kurang tepat karena bertentangan dengan dalil-dalil yang cukup tegas sebagaimana yang kami kemukakan di atas.
Wallahu a’lam
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Polisi Tidur di Jalan

*Ustadz Menjawab*
_Senin, 19 September 2016_
Ustadzah Dwi Hastuti R.S.Psi
๏Œท๏Œท๏Œท *Polisi Tidur*
Assalamu’alaikum wrwb Ust/ustazah, Bagaimana dgn adanya bnyk polisi tidur, yg hrsnya jalan lancar jd sering terhenti…syukron. Member Manis ๏…ฐ2โƒฃ8โƒฃ
Jawaban
————–
ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Mengenai adanya polisi tidur yang cukup banyak di beberapa jalan memiliki sisi positif,yaitu bisa menekan tingginya  pengguna jalan yang suka  kebut-kebutan. Terutama kawula muda yang saat ini marak dengan geng motornya. Setidaknya dengan adanya polisi tidur kebut-kebutan bisa diminimalisir.
Sekiranya apa-apa yang bermanfaat di sekitar kita sebaiknya dihargai dan digunakan sebagaimana mestinya.
Wallahu a’lam.
๏Œฟ๏Œบ๏„๏€๏Œท๏Œน๏Œป
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
๏’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Jodoh dan Takdir Bisa Berubah Tidak?

*Ustadz Menjawab*
_Ahad, 18 September 2016_
Ustadzah Dwi Hastuti R.S.Psi
๏Œท๏Œท๏Œท *Jodoh, Takdir Bisa Berubah/Tidak ?*
Assalaamu alaikum wr wb. Saya mau tanya ustadzh. Apakah jodoh itu termasuk takdir yang bs di rubah atau tidak ya. Syukron ustdzh
-A39-
Jawaban
—————
ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Pada hakikatnya,manusia memang diciptakan Allah untuk berinteraksi dengan sesama nya. Ia tidak akan bisa hidup di dunia seorang diri. Selain itu,Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan berpasang-pasangan,agar tercipta keharmonisan. Oleh sebab itu ada laki-laki dan perempuan,serta ada jantan dan betina. Mereka dijodohkan satu sama lain untuk bisa melestarikan kehidupan.
Allah memberikan kisi-kisi dalam menjemput jodoh yang tertuang dalam Al-Qur’an di beberapa surat. Antara lain
Surat Ar-Rum : 21
Surat Al-Baqarah : 221
Surat Al-Maidah : 5
Surat An-Nur : 3
Rasulullah bersabda
_”wanita dinikahi karena empat perkara,karena hartanya,keturunannya,kecantikannya,dan karena agamanya. Beruntung lah bagi yang memilih jodoh karena agamanya. (Karena kalau tidak),engkau akan sengsara”_
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dari dalil-dalil di atas,tampaklah bahwa jodoh adalah pilihan manusia dan kehendak Allah. Al-Qur’an memberikan kisi-kisi kepada hambanya untuk mendapatkan jodoh yang baik.
Ketika sudah menikah,sepatutnya yakin bahwa pasangan ini adalah jodoh yang terbaik.
Wallahu a’lam biswab
Dipersembahkan oleh :
Website: www.iman-manis.com
Telegram:https://is.gd/3RJdM0
Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter: https//Twitter.com/groupmanis
Instagram:https//www.instagram.com/majeliamanis/
Play store:https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Bolehkah Menyebut Nama Allah ๏ทป di WC?

*Ustadz Menjawab*
_Sabtu, 17 September 2016_
Ustadzah Indra Asih
🌿🍁🌺 *Wudhu di Kamar Mandi*
Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Saya mau tanya,,apakah di WC boleh menyebut nama Allah SWT,,saya berwudhu di Wc atau kamar mandi,,nah otomatis baca bismillah,,dan menyebut nama Allah…soalnya pernah dengar juga di dalam kamar mandi tidak boleh menyebut nama Allah SWT. Terima kasih sebelumnya … # A 41
Jawaban☘☘
————
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Orang yang berwudhu disunnahkan untuk membaca bismillah di awal wudhu. Demikian pendapat dari mayoritas ulama.
Tapi ada sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa membaca bismillah di awal wudhu dihukumi wajib.
Yang berpendapat wajiblah yang mengatakan makruh berwudhu di kamar mandi. Yang merupakan pendapat sebagian ulama menyangkut permasalahan bismillah tadi. Hingga untuk meninggalkan hal yang makruh ini, hendaklah berwudhu di luar kamar mandi, tempat khusus untuk wudhu.
Sedangkan jika  menganggap membaca bismillah di awal wudhu adalah sunnah (bukan wajib), maka tidak masalah meninggalkan membaca bismillah untuk berwudhu di kamar mandi.
Wallahu A’lam.
🌿🍁🌺🍄🌷🌻🌹
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Shalat Dhuha 4 Rakaat

*Ustadz Menjawab*
_Jum’at, 16 September 2016_
Ustadz Umar Hidayat M. Ag.
🌿🍁🌺 *Sholat dhuha*
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Apakah diperbolehkan solat dhuha 4 rokaat 1 kali salam?
Jika diperbolehkan apa dalilnya?
Jawaban :
————
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Shalat dhuha dapat dilaksanakan sebanyak:
1. Dua rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari Abu Hurairah).
2. Empat rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari ‘Aisyah).
3. Delapan rakaat dengan melakukan salam tiap dua rakaat (berdasarkan HR. Abu Daud dari Ummu Hani’).
4. Boleh dikerjakan dengan jumlah rakaat yang kita inginkan. Berdasarkan hadis:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. [رواه مسلم] Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya.” (HR. Muslim)
*Bolehkah 4 rakaat kemudian salam?*
Maka merujuk kepada sabda Nabi saw, pada dasarnya shalat sunnah dilakukan dua rakaat-dua rakaat. Beliau bersabda, “Shalat malam dua (rakaat) dua (rakaat).”
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan pula, “Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.” (HR al-Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibn Majah).
Artinya memberi salam pada setiap dua rakaat.
Namun demikian bukan berarti tidak boleh melakukan shalat sunnah empat rakaat dengan sekali salam, baik berupa shalat dhuha mapun shalat malam. Hal ini didasarkan pada keterangan Aisyah ra yang bersifat umum saat menggambarkan cara shalat Nabi saw.
Ia berkata,
“Beliau melakukan shalat empat rakaat. Jangan ditanya mengenai bagus dan panjangnya. Lalu beliau melaksanakan empat rakaat lagi. Jangan tanya mengenai bagus dan panjangnya. Setlah tu beliau shalat tiga rakaat.” (HR al-Bukhari) 
Disebutkan bahwa Nabi saw juga melakukan shalat empat rakaat setelah zawal di mana beliau hanya memberi salam di rakaat terakhir.
Ibnu Qudamah berkomentar, “Yang benar jika shalat sunnah dilakukan di waktu siang dengan empat rakaat, maka hal itu boleh seperti yang dilakukan oleh Ibn Umar.”
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Sujud tilawah

*Ustadz Menjawab*
_Kamis, 15 September 2016_
📝Ustadz Umar Hidayat  M. Ag.
🌿🍁 *Sujud tilawah*
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Setiap bertemu ayat Sajaddah apakah harus sujud dan membaca doanya?
Jawaban
———
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
*Sujud Tilawah itu Sunnah*
Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan. Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar, “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas, ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.
Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata, “Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”
*Tata Cara Sujud Tilawah:*
1- Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.
2- Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.
3- Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.
4- Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud.
Apa bacaan ketika sujud tilawah?
Seperti bacaan sujud dlm sholat;
Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: “Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud: “Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)
Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:
“Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta]
(HR. Muslim no. 771)
Ada jg yg membaca (tp diperselisihkan keshohihannya);
Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan, “Adapun (ketika sujud tilawah), maka aku biasa membaca: Subhaana robbiyal a’laa”
(Al Mughni).
Dan di antara bacaan sujud dalam shalat terdapat pula bacaan “Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin”, sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Ali yang diriwayatkan oleh Muslim.
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Menghindari Rasa Ujub

*Ustadz Menjawab*
_Rabu, 14 September 2016_
📝Ustadz Shafwan Husein el-Lomboki
🍃🍃🌸 *UJUB*
Ustadz, saya mau tanya, bagaimana caranya menghindari rasa ujub? Terima kasih
Ustman 1
=========
Jawaban
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
تواضع تكن كالنجم لاح لناظر
على صفحات الماء وهو رفيع ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # على طبقات الجو وهو وضيع 
“Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”
Ujub adalah penyakit yang berbahaya yang dapat merusak hidup seseorang. Ujub adalah sifat yang dapat mengalihkan seseorang dari bersyukur kepada Allah ta’ala, kepada bersyukur atas dirinya sendiri. Dari memuji Allah ta’ala kepada memuji diri sendiri. Dari rendah diri di hadapan Allah ta’ala kepada takabbur dengan amal yang sudah dilakukan. Dari menghormati dan menghargai orang lain kepada menghina dan merendahkan orang lain.
*Pengertian Ujub*
Ujub adalah bangga diri, menganggap sudah berbuat lebih dan menisbatkan keberhasilan beramalnya itu kepada diri sendiri, sehingga lupa kepada Yang Telah Memberinya nikmat, yaitu Allah azza wajalla.
*Akibat Ujub*
Di antara kejelekan sifat ujub adalah menggugurkan pahala amal shalehnya, menghilangkan kebaikan, dan mendapat kehinaan. Al-Mawardi berkata, “Ujub itu menghilangkan kebaikan, menampakkan kejelekan, mendapat kehinaan, menghalangi seseorang dari kemuliaan. Menghasilkan amarah dan kebodohan. Hingga ujub itu pun bisa memadamkan kebaikan yang pernah ia lakukan, menghapus keindahan pekerti yang pernah dikenal manusia. Pada akhirnya ia dibuat marah dan dengki disebabkan ujubnya itu.”
*Hukum Ujub*
Ujub adalah perbuatan yang diharamkan. Karena ujub adalah salah satu dari kesyirikan. Syaikh Ibnu Taymiyah rahimahullah ta’ala berkata, “Riya’ dan ujub itu tidak jauh beda. Riya’ adalah syirik dengan menyertakan orang lain dalam ibadah kepada Allah ta’ala. Sedangkan ujub adalah syirik dengan menyertakan diri sendiri dalam ibadah kepada Allah ta’ala. Kedua sifat ini termasuk kesombongan. Orang yang riya’ tidak mengamalkan firman Allah ta’ala ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ (hanya kepada-Mu lah kami menyembah). Sedangkan orang yang ujub tidak mengamalkan firman Allah ta’ala ‘wa iyyaka nasta’in’ (dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan). Siapa saja yang mengamalkan dua firman Allah tersebut, maka dia telah bebas dari penyakit riya dan ujub.”
Abu Ahmad Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ujub adalah sifat tercela. Di dalam firman Allah ta’ala,
…ٍ ۙوَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ)
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah:25)
Firman Allah ta’ala:
…ِ ۚمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ)

“Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.”
(QS. Al-Hasyr:2)
Firman Allah ta’ala:
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi:104)
وقال صلى الله عليه وسلم (( ثلاث مهلكات : شحُّ مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه )). [ أخرجه البيهقي وحسنه الألباني ]. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga penghacur adalah kikir yang ditaati, nafsu yang diikuti, dan orang yang bangga dengan dirinya sendiri.” (HR. Al Bayhaqi dihasankan oleh Al Albani)
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim)
 جاء في الفتح لابن حجر : قال القرطبي : [ إعجاب المرء بنفسه هو ملاحظته لها بعين الكمال ، مع نسيان نعمة الله ، فإن احتقر غيره مع ذلك فهو الكبر المذموم.
Di dalam Fathul Bari, Al-Qurthubi berkata, “Rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri terjadi karena dia memandang lebih dirinya, dan melupakan nikmat Allah. Apabila disertai dengan meremehkan orang lain maka itu adalah kibr (kesombongan) yang tercela.”
ومن الأدلة كذلك على ذم العجب حديث أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه ، فعن أبي أمية الشعباني قال : أتيت أبا ثعلبة الخشني فقلت له : كيف تصنع بهذه الآية ؟ قال : أيّةُ آية؟ قال : قوله تعالى {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } [105: سورة المائدة].
Di antara dalil lainnya pula tentang tercelanya sifat ujub, terdapat di dalam hadith Abi Tsa’labah Al-Khasyni radhiyallahu ‘anhu. Dari Abu Umayyah As-Sya’bani dia berkata, “Aku menemui Abi Tsa’labah Al-Kasyni dan bertanya, “Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?.” Dia bertanya, “Ayat yang mana?.” Aku berkata, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Maidah: 105)
قال أبو ثعلبة : أما والله لقد سألت عنها خبيراً ، سألت عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : (( بل ائتمروا بينكم بالمعروف وتناهوا عن المنكر ، حتى إذا رأيت شَّحاً مطاعاً ، وهوىً متبعاً ، ودنيا مؤثَرة ، وإعجاب كل ذي رأي برأيه ، فعليك بخاصة نفسك ودع العوامَّ ، فإن من ورائكم أياماً الصبر فيهن كالقبض على الجمر ، للعامل فيهن مثل أجر خمسين رجلاً يعملون مثل عملكم )) [ رواه الترمذي وقال : حسن غريب وضعفه الألباني ].
Abu Tsa’labah menjawab, ”Demi Allah, kamu bertanya dengan orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian.” Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain ‘Utbah menambahiku: Dikatakan; “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. At-Tirmidzi, hadist Hasan gharib, didhaifkan oleh Al Albani).
Perkataan Salaf tentang Ujub
1. قال ابن مسعود رضي الله عنه : الهلاك في اثنين : القنوط والعجب.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kehancuran itu ada dua: putus asa dan bangga diri (ujub).”

2. قال أبو حامد : وإنما جمع بينهما ؛ لأن السعادة لا تنال إلا بالسعي والطلب والجد والتشمير ، والقانط لا يسعى ولا يطلب ، والمعجب يعتقد أنه قد سعد وقد ظفر بمراده فلا يسعى.
Abu Hamid berkata, “Ibnu Mas’ud mengumpulkan keduanya, bahwa orang putus asa dan orag yang ujub keduanya tidak pernah bahagia. Karena orang yang putus asa tidak lagi berusaha dan tidak pula mencari kebahagiaan karena sudah putus asa. Sedangkan orang yang ujub juga tidak berusaha mencari kebahagiaan karena menyangka bahwa dia telah meraihnya.”
3. وقال مطرف : لأن أبيت نائماً وأصبح نادماً أحب إليّ من أن أبيت قائماً وأصبح معجباً.
Al-Matraf berkata, “Jika aku tidur dan aku menyesal di pagi harinya karena tidak sholat malam, itu lebih aku sukai dari pada aku bangun malam tapi pagi harinya aku ujub.”
4. وكان بشر بن منصور من الذين إذا رءُوا ذُكِرَ الله تعالى والدار الآخرة ، لمواظبته على العبادة ، فأطال الصلاة يوماً ، ورجل خلفه ينتظر ، ففطن له بشر ، فلما انصرف عن الصلاة قال له : لا يعجبنك ما رأيت مني ، فإن إبليس لعنه الله قد عبد الله مع الملائكة مدة طويلة ، ثم صار إلى ما صار إليه.
Sesungguhnya Bisyr bin Manshur adalah orang yang jika dipandang mengingatkan orang lain akan Allah ta’ala dan akhirat, karena saking tekunnya ia beribadah kepada Allah ta’ala. Suatu hari saat Bisyr memanjangkan shalatnya, ternyata ada seseorang memperhatikannya. Bisyr merasa terganggu dengan kehadiran orang itu. Setelah shalat ia berkata, “Janganlah kamu takjub dengan apa yang kau lihat dari shalatku. Karena Iblis –laknatullah ‘alayhi- telah menyembah Allah ta’ala bersama malaikat Allah yang lain sudah sejak lama. Kemudian dia menjadi apa yang sudah terjadi pada dirinya!.”
5. وقيل لعائشة رضي الله عنها : متى يكون الرجل مسيئاً ؟ قالت : إذا ظن أنه محسن.
Dikatakan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Kapan seseorang dikatakan celaka?.” ‘Aisyah menjawab, “Jika dia mengira bahwa dia telah berbuat baik.”
6. وقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه : الإعجاب ضدّ الصواب ، وآفة الألباب.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ujub itu adalah lawan dari kebenaran. Dan kehancuran bagi akal.”
7. وقال بزدجمهر : النعمة التي لا يحسد صاحبها عليها التواضع ، والبلاء الذي لا يرحم صاحبه منه : العجب.
Bazdu Jamhar berkata, “Nikmat yang pemiliknya tidak bisa didengki adalah At-Tawadhu’ (rendah hati). Adapun bencana yang pemiliknya tidak dikasihani adalah ujub.”
_*Antara Ujub dan Kufuran*_

Ujub yang berlebihan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam, sebagaimana Iblis yang takjub dengan penciptaannya dan ibadahnya kepada Allah ta’ala. Kemudian rasa ujubnya itu membuatnya sombong dan tidak mau mentaati perintah Allah untuk sujud kepada Adam.
وعبد الله بن زياد بن ظبيان التميمي ، خوّف أهل البصرة أمراً فخطب خطبة أوجز فيها، فنادى الناس من المسجد : أكثر الله فينا مثلك . فقال : لقد كلفتم الله شططاً !!
Abdullah bin Ziyad Dzibyan At-Tamimi berkhutbah saat masyarakat Bashroh ketakutan atas suatu perkara. Maka orang-orang berkata, “Semoga Allah ta’ala memperbanyak orang sepertimu.” Abdullah berkata, “Kalian telah bebuat semberono kepada Allah ta’ala!.”
ومعبد بن زرارة ؛ كان ذات يوم جالساً في الطريق ، فمرت به امرأة فقالت له : يا عبد الله ! كيف الطريق إلى موضع كذا ؟ فقال : ياهناه ! مثلي يكون من عبيد الله ؟!! 
Ma’bad bin Zaroroh duduk di jalanan. Lalu seorang wanita lewat di depannya dan berkata, “Wahai Abdullah! Kemana arah ke tempat ini?.” Ma’bad berkata, “Wahai, orang sepertiku lebih pantas dipanggil ubaidillah (hamba Allah yang kecil)!!!”
يا مظهرَ الكبر عجاباً بصورته *** انظر خلاك فإن النتن تثريب  لو فكر الناس فيما في بطونهم ***
ما استشعر الكبر شبان ولا شيب  هل في ابن آدم مثل الرأٍس مكرُمةً *** وهو بخمس من الأقذار مضروب  أنف يسيل وأذن ريحها سهك *** والعين مرفضة الثغر ملعوب  يابن التراب ومأكول التراب غداً ***
أقصر فإنك مأكول ومشروب
Wahai yang sombong karena bangga dengan yang dimilikinya **** Lihatlah darahmu sesungguhnya kebusukannya itu amat menyengat. Seandainya manusia memikirkan apa yang ada di dalam perutnya **** Niscaya dia tidak merasa sombong, pemudakah dia atau orang tua. Apakah kepala anak adam ada kemuliaan **** Sedangkan kepalanya itu memikul lima kotoroan Hidung beringus, telinga berbau tak sedap **** Mata tempat mengalirnya airWahai anak yang berasal dari tanah dan nanti akan makan tanah **** Berhentilah menyombongkan diri karena engkau akan dimakan dan diminum nanti.
_*Sebab-sebab Ujub.*_
1.Kebodohan.
Abu Ahmad berkata, “Sebab ujub adalah jahl (kebodohan). Obat yang mujarab adalah lawan dari kata bodoh itu, yaitu ilmu.” Jadi, orang yang berpenyakit ujub sebetulnya adalah orang yang bodoh. Dia harus banyak belajar lagi agar dia bisa semakin merunduk, dan rendah hati. 
2. Sedikitnya taqwa dan keshalihannya.
3. Kurang merasa diawasi Allah azza wajalla.
4. Sedikit mendengar nasihat.
5. Niat yang jelek.
6. Banyak dipuji manusia sehingga syaithan mengganggunya melalui pintu pujian.
7. Mengejar dunia dan mengikuti hawa nafsu.
8. Sedikit merenungi nikmat Allah ta’ala.
9. Sedikitnya dzikir.
10. Tidak mentadabburi Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah.
11. Merasa aman dari hukuman Allah ta’ala, serta banyak bersandar pada Kemahamaafan Allah ta’ala.
_*Ciri-ciri orang Ujub*_
1. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
2. Memalingkan muka dari manusia.
3. Jarang sharing atau konsultasi kepada orang-orang yang ahli.
4. Berjalan dengan kesombongan.
5. Merasa lebih dan banyak beramal.
6. Sombong dengan ilmunya. 
7. Memincingkan mata dan suka mencela.
8. Bangga dengan garis keturunannya, kedudukannya dan fisiknya.
9. Sengaja berbeda dari orang lain untuk meninggikan dirinya.
10. Tidak perhatian kepada ulama dan orang-orang bertakwa.
11. Memuji dirinya sendiri.
12. Melupakan dosa-dosanya atau meremehkannya.
13. Selalu mengira dia pantas mendapatkan kebaikan, ampunan, dan do’a-do’anya diijabahi
14. Terus-menerus dalam berbuat salah yang sama.
15. Malas beramal karena dia mengira bahwa ibadahnya telah sempurna.
16. Suka meremehkan, bermaksiat dan berbuat fasik.
17. Merasa berhak menjadi orang unggul padahal dia tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.
18. Jarang mendengarkan nasihat dari orang-orang berilmu.
_*Cara Mengobati Penyakit Ujub*_
*• Ujub terhadap Kelebihan Fisik.*
Ujub terhadap fisiknya karena kebagusannya, ketampanannya, keindahan suaranya, kemudian melupakan bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah ta’ala. Solusinya: hendaknya dia berpikir tentang apa yang ada di dalam perutnya yang menjijikkan, dan merenungkan tentang bagaimana kelak semua kebagusan itu akan sirna di dalam tanah nanti.
*• Ujub dengan Kemampuan dan Kekuatan.*
Seperti kaum ‘Aad yang berkata, “Adakah orang yang lebih kuat dari pada kamu?.”
(QS. Fusshilat:15)
Solusinya: Hendaknya dia bersyukur atas nikmat Allah ta’ala yang telah menganugerahkannya akal. Hendaknya dia berpikir bagaimana jika akalnya itu hilang atau rusak? Dan hendaknya ia tahu bahwa  perkara yang tidak dia tahu itu lebih banyak dari pada perkara yang dia tahu.
*• Ujub dengan Garis Keturunan.*
Ujub terhadap keturunan. Mulai dari yang berbangga dengan nasabnya sampai ada yang berpikiran bahwa dia akan selamat dari dosa karena dia berasal dari keturunan yang sholeh. Solusinya: hendaknya ia tahu bahwa keturunan itu tidak menyebabkan seseorang menjadi mulia. Akan tetapi yang menjadikan mulia itu adalah ilmu dan ketaatan kepada Allah ta’ala. Karena Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang bertaqwa di antra kalian.”
(QS. Al-Hujurot:13).
*• Berbangga dengan Banyaknya Anak.*
Berbangga dengan banyaknya keturunan, kerabat, anggota atau pengikut. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.”
(QS. Saba: 35)
Solusinya: hendaknya dia memperhatikan bahwa setiap orang punya kelemahan, mereka semua adalah hamba Allah ta’ala yang lemah, mereka tidak bisa memberi manfaat dan mudharat. Bagaimana ia bisa bangga dengan banyak jumlah mereka padahal kematian akan memisahkannya dengan mereka? Ia akan menjadi seorang diri di dalam kubur tidak ada yang menemani kecuali amal perbuatannya.
*• Berbangga dengan Harta.*
Allah ta’ala berfirman,
“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. (QS. Al-Kahfi:34)
Solusinya: hendaknya ia memikirkan bencana yang harta yang banyak, karena banyaknya hak yang harus ditunaikan. Hendaknya ia merenungkan bahwa kelak orang-orang fakir lebih dulu masuk syurga karena sedikitnya hisab hartanya. Serta waspada terhadap kesombongan yang akan mencelakakannya: Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim)
*• Ujub dengan Pendapat yang Keliru.*
Allah ta’ala berfirman,
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir:8)
Firman Allah ta’ala:
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi:103-104).
Mereka adalah ahlu bid’ah yang merasa benar dengan pendapat mereka yang salah. Solusinya: Hendaknya dia senantiasa mencurigai pendapatnya dalam rangka untuk memperoleh dalil yang benar dalam beramal. Hendaknya ia mengambil dalil yang shahih dan kuat, dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu adalah kehancuran yang tidak disadari.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
🌍 Website: www.iman-islam.com
📲 Telegram: https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
📸Instagram: httpz://twitter.com/majelismanis/
🕹 Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📮 Twitter: https://twitter.com/grupmanis
📡Sebarkan! Raih Pahala

Ayah Tiri dan Anak Tiri

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 13 September 2016_
📝Ustadzah Novria Flaherti, S.si
🍃🌸 *Hukum Ayah Tiri pada Anak Tiri*
Assalamu’alaikum,, ustadz/ustadzah,,, apa hukum ayah tiri pada anak tirinya,,,
Jika boleh ingin pnjelasan/ riwayat” lngkap antara ayah tiri dan anak tiri dalam islam. Jazakumullah khoir katsiron. #A34
================
Jawaban
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاٰخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْۤ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَ اُمَّهٰتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَآئِكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ  ۖ   فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ  ۖ   وَحَلَاۤئِلُ اَبْنَآئِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْ ۙ  وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا  ۙ
“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
[QS. An-Nisa’: Ayat 23] Dari firman Allah diatas jelas bahwa diharamkan menikah dengan ayah atau ibu tiri.  Sesuai dengan firman Allah
وَلَا تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ اٰبَآؤُكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ   ؕ  اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً وَّمَقْتًا   ؕ  وَسَآءَ سَبِيْلًا
“Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”
[QS. An-Nisa’: Ayat 22] Sudah jelas ya ukhti bahwa hubungan ayah tiri dan anak tirinya adalah mahram/ haram dinikahi karna sebab dari pernikahan yg telah dilakukan antara ibu dan ayah tiri… 
Catatan: Dalam pernikahan itu terjadi hubungan badan antara suami istri tersebut
Allahu’Alam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
🌍 Website: www.iman-islam.com
📲 Telegram: https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
📸Instagram: httpz://twitter.com/majelismanis/
🕹 Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📮 Twitter: https://twitter.com/grupmanis
📡Sebarkan! Raih Pahala..

Kapan Waktu Menyembelih Qurban yang Utama?

*Ustadz Menjawab*
_Senin, 12 September 2016_
🌴 Ustadz Farid Nu’man
🌿🌺 *Kapan Penyembelihan Hewan Qurban*
Assalamu’alaikum
Ustadz mau tanya dalam penyembelihan qorban itu apa ada waktu yang lebih utama? Diantara hari HA dan hari tasriq berikutnya? maksud saya kita lembaga sekolah bisa nyembelihnya dihari tasriq kedua itu gimana?
🍃🍃 *Jawaban*
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillah wal Hamdulillah ..
Waktu penyembelihan Qurban hanyalah tertentu saja, yakni  10 Zulhijjah dimulai setelah Shalat ‘Ied hingga selesai ayyamut tasyriq (hari-hari tasyrik), yakni 11,12,13 Zulhijjah. Lewat itu maka bukan lagi disebut Hewan Qurban (Al Udh-hiyah) tetapi sedekah biasa, namun tetap akan mendapat ganjaran dari Allah Ta’ala. Insya Allah.
Hal ini berdasarkan hadits dari Jubeir bin Muth’im Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
                            
“Setiap hari-hari tasyriq merupakan waktu penyembelihan.”[1] Penyembelihan dilakukan setelah shalat Ied, sesuai ayat berikut:
    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
(QS. Al Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa an nahr (penyembelihan) dilakukan setelah shalat ‘Ied sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ash Shan’ani.
Juga diterangkan dalam riwayat Jundab Al Bajali Radhiallahu ‘Anhu:
شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ أَضْحًى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ
 
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat pada Idul Adha, kemudian berkhutbah dan berkata: barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka dikembalikan tempatnya, dan barangsiapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan menyebut nama Allah.”[2] Maka, dengan demikian kita bisa menyembelih di tanggal 10, 11, 12, 13 Zulhijjah, semuanya sah dan memiliki keutamaan, hanya saja memang tanggal 10 lebih spesial karena secara khusus Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisitilahkan dengan nama _Yaumun Nahri_ (hari penyembelihan).
Wallahu A’lam
—————
[1] HR. Ahmad No. 16751. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1583, Al Baihaqi dalam As sunan Al Kubra No. 10006, 19021. Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 12052. Berkata Imam Al Haitsami: rijaluhu mautsuqun (semua) pirawayat haditsnya tsiqat (kredibel/terpercaya).(Majma’ az Zawaid, 3/251). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “shahih lighairih.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 16751)
 
[2] HR. Bukhari No. 6674, Muslim No. 1960. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1713, Al baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6058, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7834
🌿🌺🌸🌼🌷🍄🌻🌹
Dipersembahkan oleh:
🌍 Website: www.iman-islam.com
📲 Telegram: https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
📸Instagram: httpz://twitter.com/majelismanis/
🕹 Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📮 Twitter: https://twitter.com/grupmanis