Dengerin Musik Di Kamar Mandi, Boleh?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
20 Oktober 2016
=====================

Saya mau tanya mengenai mendengarkan musik itu hukumnya apa? Saya jadi ingin nanya juga..
Kalau di kamar mandi bolehkah mendengar musik? Tapi tidak bernyanyi..
#MFT 02

Jawaban
========

Berdasarkan hadist diatas, barangsiapa yang mendengarkan nyanyian baik ada musik ataun tanpa musik dalam rangka bermaksiat kepada Allah niscaya ia tergolong fasik. Namun, barangsiapa berniat sekedar menghibur dirinya agar mengokohkan jiwanya untuk semakin taat kepada Allah dan menggairahkan hatinya untuk berbuat kebaikan maka perbuatannya itu adalah benar. Akan tetapi, orang yang tidak berniat untuk taat ataupun bermaksiat maka ia melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan ulama memfatwakan bahwa nyanyian diiringi musik atau tanpa musik adalah haram, berdasarkan firman Allah SWT :

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ  وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًا   ؕ  اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Berdasarkan Hadist dari Aisyah r.a., ia berkata bahwa Abu Bakar r.a., masuk ke rumahnya pada suatu hari Mina (Hari Raya Idul Adha), sedang saat itu disampingnya ada dua gadis yang tengah bernyanyi dan memukul rebana, sementara Nabi SAW berada disitu dengan menutupi wajahnya denga pakaiannya. Serta merta Abu Bakar mengusir kedua gadis itu. Mendengar itu Nabi SAW membuka tutup wajahnya dan berkata, “biarkan mereka wahai Abu Bakar, saat ini adalah hariraya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa hadist tentang dua gadis tersebut menunjukkan bahwa nyanyian itu tidak haram. Beberapa hal yang dapat ditolerir adalah nyayian dan menabuh rebana adalah hiburan disaat hari raya, yakni waktunya bersenang-senang.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait nyanyian dengan musik atau tanpa musik:

1. Tema nyanyian tidak berlawanan dengan etika dan ajaran islam.

2. Walaupum tema nyanyian tidak bertentangan dengan ajaran islam, akan tetapi cara menyanyikannya menyebabkan ia bergeser dari halal ke haram maka mendengarkannya adalah haram. Misalnya, dengan cara berlenggak lenggok.

3. Tidak berlebih-lebihan, dengan artian tidak menghabiskan waktu.

4. Jika nyanyian dapat membangkitkan nafsu untuk melakukan maksiat maka mendengarkan nyanyian/musik adalah haram.

5. Ulama sepakat bahwa nyanyian yang diiringi dengan hal-hal yang haram maka hukumnya menjadi haram pula.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Sungguh akan ada sekelompok orang dari ummatku yang meminum khamar, mereka menamainya dengan nama lain, lalu diiringi dengan musik2 dan para biduan wanita. Allah bakal meneggelamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan mereka kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah).

Beda Hamba dan Umat

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
20 Oktober 2016
=====================
Assalamu’alaikum kak, aku boleh tanya ? “Apasih kak bedanya hamba sama Ummat?”
#MFT 09

Jawaban
========

Hamba berasal dr kata ‘abid. Yang berarti mengabdi (beribadah) kepada yang menciptakan/Tuhan/Rabb, sedangkan Ibadah berarti menaati perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya

Hubungan manusia dengan Allah SWT bagaikan hubungan seorang hamba dengan tuannya. Si hamba harus senantiasa patuh, tunduk, dan taat atas segala perintah tuannya. Demikianlah, karena posisinya sebagai ‘abid/hamba.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
 
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ    ۙ  حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ  

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْن
ِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)

Ibadah berakar kata ‘abada yang artinya mengabdikan diri/ menghambakan diri. Ibadah dalam artian segala aktivitas penyembahan kepada sang Pencipta.

Ibadah juga berarti adalah melaksanakan segala aspek kehidupan sesui dgn nilai2 yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta/Tuhan/Rabb/Allah SWT dan semua perbuatan baik yang mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain adalah ibadah atau amal saleh.

Ummat/ummah berarti: “masyarakat” atau “bangsa”. Kata tersebut berasal dari kata amma-yaummu, yang dapat berarti: “menuju”, “menumpu”, atau “meneladani”. Dari akar kata yang sama, terbentuk pula kata: um yang berarti “ibu”, dan imam yang berarti “pemimpin”.

Misalnya, Ummat Islam bermakna masyarakat atau bangsa yang beragama Islam. Ummat Muhammad berarti masyarakat yang mempunyai pemimpin atau meneladani Muhammad.

Jadi, perbedaan hamba dan ummat terletak pada hubungan dengan Tuhan dan Manusia.

WallahuA’alam

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non Muslim

Ustadz Menjawab
Ustadz Umar Hidayat

Assalamu’alaikum

Pertanyaan dari member ikhwan:

Ustadz mohon dijelaskan tentang makam Islam yang diurus oleh orang non Islam.
Makam dicampur antara orang Islam dan orang non Islam. Bagaimana hukumnya Ustadz?

Jzkallah Ustadz.
 RIZAL-01

Jawaban
———-
Allah azza wa jalla memuliakan orang beriman dan menghinakan orang kafir. Dalam syariat dilarang menguburkan orang kafir di pekuburan orang Muslim, karena kuburan orang kafir adalah tempat yang akan diazab Allah, sedangkan kuburan orang Muslim adalah tempat tercurahnya rahmat Allah ( ampunan dosa ). Maka itu, tidak selayaknya tempat rahmat dan azab berada dalam lokasi yang sama.

Hal tersebut berdasarkan pada hadis: “Aku terbebas dari orang Muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian, Rasulullah SAW bersabda lagi, “Supaya api dari keduanya tidak saling berdampingan.” ( HR Abu Daud ).

Juga berdasarkan pada hadis yang menyatakan bahwa ketika Abu Thalib meninggal, Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib RA agar menguburkannya di tempat yang tidak diketahui orang     ( HR Abu Daud dan Nasa’I ). Hal itu disebutkan pula dalam Ahkamu Ahlidz Dzimmah ( Ibnu Qayyim Aljauziyyah, Ramadi, cetakan 1, tahun 1997, hlm 1251 ).

Ini menunjukkan, kuburan Muslim dan non-Muslim tidak boleh ditempatkan dalam satu lokasi. Lalu, jika mayat orang kafir telanjur dikuburkan di pekuburan orang Muslim, apakah mayat tersebut harus dipindah? Para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan harus dipindah dan yang lain mengatakan tidak dipindah, kecuali di Tanah Haram ( Makkah dan Madinah ) maka harus dipindah.

Landasan dalil Diantara dalil dari al qur’an dan sunnah serta penjelasan para ulama’ yang memerintahkan untuk membuat kuburan khusus bagi ummat islam adalah ;

Pertama : Hadist Rasulullahsallallahu alaihi wasallam :

“Ketika aku berjalan bersama  Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, beliau melewati kuburan orang-orang musyrik, lalu beliau berkata: “Sungguh mereka telah mendahului (hilang kesempatan mengerjakan) kebaikan yang banyak. ” Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau melalui kuburan orang-orang muslim, kemudian beliau berkata: “Sungguh mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak.” Danbeliau melihat seseorang yang berjalan di antara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau berkata : “Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu ! ”kemudian orang tersebut melihat dan ketika mengetahu iitu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Maka ia melepasnyadan melemparkannya. (HR. Abu Daud).

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda : “Aku terbebas dari orang Muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Supaya api darikeduanya tidak salingberdampingan.” ( HR Abu Daud ). Juga berdasarkan pada hadis yang menyatakan bahwa ketika Abu Thalib meninggal, Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu agar menguburkannya di tempat yang tidak diketahui orang ( HR. Abu Daud dan Nasa’I ). Hadist ini menunjukkan perintah untuk memisahkan kuburan kaum muslimin dengan kubura nmusyrikin sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihiwasallam melewati kuburan orang-orang musyrik dan kuburan orang-orang islam.

Kedua : Tidak diperbolehkan mengubur seorang muslim di kuburan selain kuburan kaum muslimin. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin semenjak zaman nabi sallallahualaihi wasallam, para khulafa’ arrasyidun dan orang-orang setelahnya. Hal tersebut terus berlangsung dan menjadi ijma’ amali untuk memisah kuburan ummat islam dengan kuburan orang-orang musyrik.

Ketiga : demikian juga tidak boleh mengubur orang islam di pekuburan orang-orang musyrik dikarenakan adzab bagi orang-orang musyrik tersebut akan dirasakan oleh seluruh penduduk kuburan tersebut. Padahal adzab kepada mereka tidak terputus, sebagaimana firman Allah Ta’ala ;

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [ QS. Ghofir46 ].

Berkata Al Manawi dalam faidhulqodir syarkh jami’us shaghir : Sesungguhnya mayyit akan tersiksa dengan tetangganya yang jelek yaitu tetangga yang jelek dari kuburan si mayyit.Tersiksanya mayit tergantung dengan siksaan yang ditimpakan pada tetangganya berupa pedihnya adzab, bau yang busuk ataupun kegelapan liang lahatdan yang lainnya. [ Faidhul qodir1/230 ].

Ke empat : tidak boleh mengubur muslim dipekuburan selain kuburan ummat islam di dasarkan pada penjelasan para ulama’ di antaranya :Berkata Al manawi : Dan haram hukumnya mengubur muslim di kuburan orang-orang kafir atau sebaliknya. [ Faidhul qodir1/229 ].

Berkata Imam An Nawawi dalam al majmu’ : Telah bersepakat madzhab kami bahwa tidak boleh mengubur seorang muslim di kuburan orang-orang kafir. Demikian juga tidak boleh orang kafir di kubur di pekuburan orang-orang muslim. [ al majmu’5/285 ]

Berkata Abu Naja Al hijawi dalam al iqna’ : Dan tidak diperbolehkan untuk mengubur seorang muslim di pekuburan orang-orang musyrik dan sebaliknya.[ Al iqna’ 1/228 ].

Dan berkatapula : Harus dipisah kuburan mereka [ orang-orang kafir ] dengan kuburan kita sebagaimana pada waktu hidup bahkan lebih. Dan hendaknya dijauhkan kuburan mereka dengan kuburan kaum muslimin. Agar tidak terjadi dua kuburan menjadi satu karena memang tidak diperbolehkan menguburmereka di pekuburan kaum muslimin. Maka letaknya semakin jauh akan semakin baik. [ aliqna’ : 2/46].

Demikian pula al lajnah addaaimah memberikan fatwa :Tidak diperbolehkan mengubur kaum muslimin di pekuburan orang-orang nasrani dan yanglainnya dari orang-orang kafir seperti yahudi, komunis, danpara penyembah berhala.[ 10/360 ]. Dan berkata juga :Tidak diperbolehkan mengubur seorang muslim di pekuburan nasrani karena akan merasa tersiksa dengan siksaan yang ditimpakan pada mereka. Dan seharusnya kaum muslimin memiliki kuburan khusus di tempat yang terpisah dari kuburan orang-orang nasrani. [10/480].

Wallahu a’lam.

Hukum Memakai Henna

Ustadz Menjawab
Kamis, 20 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Ustadz mau tanya…hukum memakai henna itu apa ya ust?
Tmn ana tanya dalilnya…

Jawaban:
————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Memakai henna, atau pacar cina, atau apa saja yang mewarnai tangan atau kuku, selama berasal dr bahan suci dan tidak mencelakan kulit, serta tidak menghalangi wudhu tidak apa-apa.

Dasarnya adalah ayat :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka (kaum mu’minah) Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
(QS. An Nuur: 31)

Apakah yang biasa nampak atau terlihat dari kaum mu’minah?

Abdullah bin Abbas mengatakan maksud kalimat itu adalah celak, pewarna tangan, dan cincin.   Mujahid berkata: cincin, pewarna tangan, dan celak mata. Ibnu Zaid mengatakan: celak mata, pewarna tangan, dan cincin, mereka mengatakan demikianlah yang dilihat oleh manusia.  Sedangkan Imam Ibnu Jarir, setelah dia memaparkan berbagai tafsir ini, beliau mengatakan:

وأولى الأقوال في ذلك بالصواب: قول من قال: عنى بذلك: الوجه والكفان، يدخل في ذلك إذا كان كذلك: الكحل، والخاتم، والسوار، والخضاب.

“Pendapat yang paling unggul dan benar adalah pendapat yang mengartikannya dengan wajah dan dua telapak tangan, dan jika demikian maka celak, cincin, gelang, dan pewarna tangan termasuk di dalamnya.” (Detilnya lihat Tafsir Ath Thabari, 19/156-158)

Dalil lain, dahulu Nabi ﷺ merasa heran ketika ada tangan wanita yang tidak memakai henna, dan itu menunjukkan memakai henna adalah umum bagi wanita saat itu,

 Lengkapnya sebagai berikut, Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, Beliau bercerita:

أن امرأة مدت يدها إلى النبي صلى الله عليه و سلم بكتاب فقبض يده فقالت يا رسول الله مددت يدي إليك بكتاب فلم تأخذه فقال إني لم أدر أيد امرأة هي أو رجل قالت بل يد امرأة قال لو كنت امرأة لغيرت أظفارك بالحناء

“Ada seorang wanita yang menjulurkan tangannya kepada Nabi ﷺ dengan memegang sebuah kitab, lalu nabi menahan tangannya. “

Wanita itu bertanya: “Wahai Rasulullah, aku julurkan tanganku kepadamu dengan memberikan kitab, tapi engkau tidak mengambilnya?”

Nabi menjawab: “Aku tidak tahu ini tangan laki-laki atau tangan wanita?”

Wanita itu menjawab: “Ini tangan wanita.”

Lalu Nabi bersabda: “Jika kamu wanita maka ubahlah warna kukumu dengan henna.” (HR. An Nasa’i No. 5089, Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 6002, hadits ini hasan.)

Wallahu a’lam.

Perempuan Lebih Baik Shalat di Masjid Atau Rumah?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Ida Faridah
19 Oktober 2016
=====================

Kak.. nanya dong kak.. Perempuan itu sebenernya lebih baik shalat di Masjid atau di rumah? Bagaimana jika udah menikah, apa ada perbedaan?
#MFT A05

Jawaban :
—————-

Dari ibnu Umar r.a., dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Apabila istri-istrimu meminta izin kepadamu pergi kemasjid malam hari, izinkanlah.”

Dalam riwayat lain:
“Janganlah kamu halangi istri-istrimu untuk pergi kemasjid, meski rumah mereka lebih baik bagi mereka.”

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda: “jangalah kamu halangi hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid Allah, dan hendaklah mereka pergi tanpa minyak wangi.”

Arti hadist diatas menurut Asy-Syaukani, dimana “tafilat” diartikan tidak memakai minyak wangi. Sedang artinya yang asli ialah wanita yang bau badannya tak sedap lagi. Dan demikian pula menurut ibnu Abdir dan yang lain, dengan hadist itu kaum wanita diperintahkan pergi kemasjid dan dilarang memakai minyak wangi.

Kemudian tambahnya pula, seperti halnya minyak wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang lain yang wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang yang seperti dengannya, yakni larangan-larangan agama yang bisa membangkitkan syahwat, seperti pakaian mewah, perhiasan yang menyolok dan rias yang menggiurkan.

Sedangkan menurut pendapat ulama adalah :

Menurut madzhab Maliki perempuan shalat dirumah lebih utama dari pada shalat di Masjid.

Menurut madzhab Hambali shalat berjama’ah itu sunnah dilaksanakan bagi wanita.

Menurut madzhab Syafi’i, bagi wanita berjama’ah dirumah lebih utama daripada di Masjid. Sedang shalat jama’ah itu sendiri bagi mereka hukumnya sunnah mu’akad.

Sedangkan menurut pendapat madzhab Hanafi, shalat jama’ah itu tidak disyari’atkan atas kaum wanita, bahkan jama’ah wanita yang diimami oleh seorang wanita hukumnya makruh tahrim, sekalipun sah shalat mereka dan keimamannya.

والله اعلم باالصواب

Makna Pemimpin Dalam Al Maidah 51

Ustadz Menjawab
Rabu, 19 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum..Ustad saya salah satu member WA Manis. Saya ingin menanyakan atau nitip pertanyaan yg masih terkait QS Al Mai’dah 51:
1. Kata “pemimpin” itu apakah berarti luas atau spesifik dalam hal politik saja?
2. Apakah “pemimpin” itu termasuk jg RT RW Lurah Camat sampai presiden kt tidak boleh yg non-muslim?
3. Sebagai pegawai (pns, swasta, bumn) apakah “pemimpin” itu termasuk jg supervisor, manager dan direktur tidak boleh yg non-muslim?
4. Saya sebelumnya pernah di pimpin manager non-muslim bagaimana hal ini? Apakah hal seperti ini boleh? (Alhamdulillah saat ini atasan muslim)

Terimakasih atas jawabannya

جَزَا كَ الله خَيْرًا كَثِيْرًا

Dari group manis I19

Jawaban
———-

Wa’Alaikumussalam wa rahmatullah ..
Bismillah wal hamdulillah ..
1.  Definisi Wali (jamaknya auliya’), sudah diterangkan para ulama, khususnya tentang surat Al Maidah ayat 51 tersebut.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله، ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك
  Allah Ta’ala melarang hamba-hambaNya yang beriman memberikan loyalitasnya kepada Yahudi dan Nasrani, mereka adalah musuh Islam dan umatnya, semoga Allah memerangi mereka, lalu Allah mengabarkan bahwa sebagian mereka menjadi penolong atas lainnya, lalu Allah mengancam orang yang melakukan hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/132)
  Imam An Naisaburi menjelaskan status orang beriman yang memilih mereka sebagai pemimpin:
الذين ظلموا أنفسهم بموالاة الكفرة فوضعوا الولاء في غير موضعه
Merekalah orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan memberikan kepemimpinan orang kafir, mereka meletakkan loyalitas bukan pada tempatnya. (Tafsir An Naisaburi, 3/174)
  Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari yang telah mengangkat salah satu Nashrani sebagai Kaatib (sekretaris) di propinsinya:
لا أكرمهم إذ أهانهم الله ، ولا أعزهم إذا أذلهم الله ، ولا أدنيهم إذ أبعدهم الله
Jangan hormati mereka saat Allah menghinakan mereka, jangan muliakan mereka saat Allah rendahkan mereka, dan jangan dekati mereka saat Allah menjauhkan mereka. (Ibid)

Demikian tegas sikap para ulama dalam hal ini. Ada pun secara bahasa, apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.  (Tafsir Ath Thabari, 9/319)

Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).  (Al Munawwir, Hal. 1582)

  Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman. Ada sebagian penulis yang mengatakan bahwa larangan itu hanyalah tentang larangan menjadikan mereka sebagai “teman dekat” bukan larangan sebagai pemimpin, .. ini merupakan syubhat pemikiran yang kacau. Seharusnya berpikir, jika mengangkat sebagai teman dekat saja tidak boleh apalagi jadi pemimpin?? Inilah qiyas aula, yakni jk mereka tidak boleh sebagai teman apalagi sebagai pemimpin, lebih  tidak boleh lagi.
Penulis2 ini mencoba membela calon pemimpin non muslim, tp justru hujjah mereka memperkuat hujjah kami.

  Apa yang dilakukan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menunjukkan bahwa larangan pada ayat itu berlaku untuk semua level dan jenis kepemimpinan, baik imamul a’zham (khalifah), sampai yang terendah di rumah tangga.

Pertanyaan 2,3, 4 …

Ada sebagian orang dengan sinis (bahkan setengah ngambek) mengatakan: “Ya sudah kalau tidak mau dipimpin orang kafir, sekalian saja anda keluar kerja, kan pimpinan perusahaan juga orang kafir.”
Maka ucapan ini ada beberapa kesalahan:
–  Presiden, Gubernur, Bupati, Wali Kota, Kepala desa, rw, rt adalah kepemimpinan yang memiliki WILAYAH dan OTORITAS, sedangkan manajer, direktur, adalah kepemimpinan yang hanya memiliki otoritas tanpa tanpa wilayah atau daerah.
–  Pemimpin2 tersebut dipilih langsung oleh rakyat atau wakilnya, rakyat punya power, keinginan dan daya sendiri untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpinnya. Sedangkan manajer, direktur, adalah pimpinan yang ditentukan oleh atasannya lagi, seperti owner misalnya. Sedangkan karyawan (sebagai rakyat di perusahaan) tidak punya kekuatan sama sekali untuk memilih, mereka menerima begitu saja. Contoh, jika ada seorang guru muslim di mutasi dari sekolah X ke Y, ternyata di Y kepala sekolahnya non muslim, maka dia tidak bersalah sebab dia tidak ada daya untuk memilih siapa kepala sekolahnya, sebab itu maunya kanwil.

–  Ada kondisi kaum muslimin minoritas dan lemah, maka mereka sama sekali tidak bersalah jika dipimpin non muslim. Kondisi pengecualian selalu ada, dan syariah sudah mengantisipasi itu. Seperti keadaan di NTT, Papua, atau Amerika, Eropa, sebagian Afrika, dll.

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Rabb kami, jangan hukum kami jika kami lupa dan melakukan kesalahan yang tidak kami inginkan .. (QS. Al Baqarah: 286)

Nabi ﷺ bersabda:

إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Sesungguhnya Allah meletakkan (membiarkan) kesalahan umatku yang: salah tidak sengaja, lupa, dan terpaksa untuk melakukannya. (HR. Ibnu Majah No. 2045, shahih)

Bahkan jika kondisi seperti itu (lemah dan minoritas), merka masih diberikan peluang untuk memberikan haknya, mereka bisa memanfaatkan itu walau calon2 yang ada adalah non muslim semua. Syariat mengizinkan mereka untuk memilih yang lebih ringan bahayanya di antara calon2 yang ada. Misal, Jika semua calon yang ada adlh non muslim, lalu ada yang sangat anti Islam  versus  yang netral,  tentu lebih baik memilih yang netral, demi kemaslahatan umat Islam.

Maka, tidak pantas, tidak cocok, tidak apple to apple, menyamakan dua hal yang berbeda, seperti:

–  Kepemimpinan Wilayah dengan kepemimpinan non wilayah
–  Kondisi mayoritas dengan minoritas
–  Kondisi kuat dengan kondisi lemah
–  Kondisi mampu memilih dengan tanpa mampu memilih.

Semua ini ada sikap dan fiqihnya sendiri yang berbeda-beda. Wallahu A’lam

Komunikasi Dengan Lawan Jenis

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
18 Oktober 2016
=====================

Aku juga mau nanya, kalau misalkan tiap hari chat-an sama cowo karna sahabatan atau semacamnya gimana ya? Makasii.
Alya#03

Jawaban :
—————-

“Tidaklah aku meninggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Muslim)

Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada dasarnya tidak dilarang apabila pembicaraan itu memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh syara’, begitu pula dengan chatting via sosmed, ataupun aplikasi messenger lainnya.

Dalam sejarah, kita lihat bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW berbicara dengan para sahabat, ketika menjawab pertanyaan yang mereka ajukan tentang hukum agama. Bahkan, ada antara isteri Nabi SAW yang menjadi guru para sahabat selepas wafatnya baginda yaitu Aisyah RA.

Akan tetapi, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan ketika chatting dengan lawan jenis, karena Islam sangat menjaga ummatnya dari godaan syahwat untuk berzina, adab yang perlu diperhatikan diantaranya :

1. Hanya untuk Keperluan Penting.

Jika chatting tidak untuk keperluan yang penting, maka segeralah dihentikan, karena termasuk ke dalam perbuatan sia-sia.

2. Waktunya tidak lama.

Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah masalah waktu atau durasi, jangan sampai melampaui batas. Meski hanya melalui whats app, chatting sebentar saja sudah cukup jika memang dilakukan hanya berdua, jika ingin lebih lama, lakukanlah chatting di forum.

3. Jangan Sengaja Menarik Hati Lawan Chatting.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab: 32)

Imam Qurtubi menafsirkan kata  ‘Takhdha’na’ (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu, menarik hati orang yang mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.

Artinya, pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.

 4. Larangan Khalwat (Berduaan).

 “Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khalwat adalah perbuatan menyepi yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram dan tidak diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini dilarang karena ia dapat menyebabkan atau memberikan peluang kepada pelakunya untuk terjatuh dalam perbuatan yang dilarang.

“Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya.” (Hadis Sahih)

Khalwat bukan saja dengan duduk berduaan. Tetapi berbicara melalui telepon atau chatting di luar keperluan syar’i juga dapat dikatakan berkhalwat.

Hukum chatting sama dengan menelepon artinya chatting di luar keperluan yang syar’i termasuk khalwat. Begitu juga dengan sms.

Namun, bila ada tuntutan syar’i yang darurat, maka itu diperbolehkan sesuai keperluan. Tentunya dengan syarat-syarat yang sudah dijelaskan. Di sinilah menuntut kejujuran kita kepada Allah, sebaiknya chattinglah ditempat terbuka digrup bukan berduaan. Wallaahu alam.

TANGGAL YANG BAIK U/ PERNIKAHAN

Ustadz Menjawab
Selasa, 18 Oktober 2016
Ustadzah Nurdiana

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.
Bagaimana hukum dalam Islam untuk mencari tanggal yang baik dalam pernikahan? Karena kalau masyarakat yang masih memegang teguh adat, hari pernikahan akan dicari dengan cara menghitung dari hari lahir calon mempelai. Apakah hal tersebut diperbolehkan? Dan bagaimana cara menghindari hal-hal yang tidak baik (hal-hal buruk) pada saat pernikahan dan selama kedua mempelai tersebut berumah tangga?
Terimakasih sebelumnya mbak 😊
# A 41

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Di dalam ISLAM semua hari baik. Karena hanya Allah yang bisa memberi kebaikan dan kemudharatan.

Bagaimana cara menghindari hal-hal yang tidak baik pada saat pernikahan dan selama berumahtangga?

Setiap orang punya garis takdir yang berbeda. Dan dalam rukun Iman, salah satunya percaya kepada qodho dan qodar. Sehingga sebelum takdir buruk menimpa kita, banyaklah berdoa, bersedekah dan beramal sholeh.

Di dalam hidup, ujian dan cobaan sebuah keniscayaan. Apapun yang dialami oleh seseorang pasti sesuai dengan kesanggupannya dan berbanding lurus dengan kualitas keimanannya. Sehingga tidak perlu takut dengan masa depan. Karena Allah berfirman dalam surat 41 :30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
(Qs. Fussilat : 30)

Menyimak ayat diatas maka tuk berani menatap hari dan menyongsong masa depan. Kita harus istiqomah dan beriman kepada Allah

Wallahu a’lam.

Pergi Haji Atau Menolong Orang?

Ustadz Menjawab
Ustadz Zaki
17 Oktober 2016
=====================

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya pengen nanya..ada banyak orang bilang, kalau sudah niat pergi haji, terus ada orang yang membutuhkan pertolongan, terus orang tadi ga jadi pergi haji karena uangnya digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan tadi. Maka, katanya orang itu sudah dapat pahala haji. Itu artinya hanya sebatas pahala saja atau artinya sudah gugur juga kewajiban hajinya?

Saya tambah bingung ketika baca artikel “halal bagi saya tapi haram buat tuan” yg tersebar di WA dr tmn2. # Mft 02..

Jawaban :
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Diterimanya pahala haji berdasar niat yang ikhlas kepada Allah Ta’ala.

2. Bekal haji merupakan bekal yang benar-benar bersih dari harta haram.

3. Soal pahala haji karena menolong orang hanya Allah yang tahu..

Sebagaimana Percakapan Allah kepada malaikat. Malaikatpun tidak tahu siapa yang haji mabrur. Kisah hadits tersebut merupakan dorongan bagi kita untuk meluruskan niat, mencari bekal halal dan di ridhai.

Soal ujian yang diberikan Allah berupa kesulitan saudara kita hanya Allah yang tahu..

Halal bagi saya artinya orang tersebut dalam kondisi darurat, jika tidak makan maka dia mati kelaparan krn tdk ada lg yg menolong selain kita. Haram bagi tuan karena si tuan orang berada dan mampu.. maka makanan tersebut tidak berlaku ke daruratannya kepada yang mampu.

Wallahu a’lam.

Halal Buat Saya Haram Buat Tuan

Ustadz Menjawab
Senin, 17 Oktober 2016
Ustadz Zaki

HALAL BAGI SAYA HARAM BUAT TUAN

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya pengen nanya..ada banyak org bilang, klo sdh niat pergi haji, terus ada org yg membutuhkan pertolongan, trus org tadi ga jd pergi haji krn uangnya digunakan utk menolong org yg membutuhkan pertolongan tadi.
Maka katanya org itu sdh dpt pahala haji. Itu artinya hanya sebatas pahala saja ato artinya sdh gugur jg kewajiban hajinya?
saya tambah bingung ketika baca artikel “halal bagi saya tapi haram buat tuan” yg tersebar di WA dr tmn2. # Mft 02..

Jawaban :
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1. Diterimanya pahala haji berdasar niat yang ikhlas kepada Allah
2. Bekal haji merupakan bekal yang betul betul bersih dari harta haram
3. Soal pahala haji karena menolong orang hanya Allah yang tahu..

Sebagaimana Percakapan Allah kepada malaikat. Malaikatpun tidak tahu siapa yang haji mabrur.
Kisah hadits tersebut merupakan dorongan bagi kita untuk meluruskan niat, mencari bekal halal dan si ridhai.
Soal ujian yang diberikan Allah berupa kesulitan saudara kita hanya Allah yang tahu..

Halal bagi saya artinya orang tersebut dalam kondisi darurat, jika tidak makan maka dia mati kelaparan krn tdk ada lg yg menolong selain kita.
Haram bagi tuan karena si tuan orang berada dan mampu .. maka makanan tersebut tidak berlaku ke daruratannya kepada yang mampu.

Wallahu a’lam.