Niat Ganda dalam Puasa

Ustadz Menjawab
Ustadz Shafwan Husein El-Lomboki
03 November 2016
=====================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, Klo kita puasa senin kamis tapi niatnya mau bayar puasa yg bolong pas bulan ramadhan bisaa kh?

MFT A09
==========
Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila seseorang mempunyai hutang puasa saat ramadhan maka wajib hukumnya untuk mengganti hutang puasanya tersebut dihari yang lain, itu sesuai printah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 184-185

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Mengganti puasa ramadhan pada hari senin dan kamis itu boleh dan pahalanya sesuai niatnya.

Shalat-shalat Sunnah

Ustadz Menjawab
Ustadz Muhar Nur Abdi
02 November 2016
=====================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

kak, minta penjelasannya mengenai shalat2 sunnah

MFT 09
===========
Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Untuk shalat-shalat sunnah, ada banyak macamnya. Tapi kali ini, kita jelaskan beberapa saja ya..

Shalat-shalat sunnah yang lazim atau sering dilakukan oleh kebanyakan muslim..
Berikut shalat-shalat sunnah itu:

1. Shalat Wudhu.
Yaitu shalat sunnah dua raka’at yang bisa dikerjakan setiap selesai berwudhu.

Niatnya :
“Ushalli sunnatal wudlu-I rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah wudhu dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

2. Shalat Tahiyatul Masjid.
Yaitu shalat sunnah dua raka’at yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk sebelum shalat dua raka’at lebih dahulu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah tahiyatul masjid dua raka’at karena Allah Ta’ala.”

3. Shalat Dhuha.
Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik. Jumlah raka’atnya minimal 2 maksimal 12. Dari Anas r.a., berkata Rasulullah SAW, “Barang siapa shalat Dhuha 12 raka’at, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majjah)

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Dhuha rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

4. Shalat Rawatib.
Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu. Niatnya :

a.   Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya’. Niatnya:

‘Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak’ataini Qibliyyatan lillahi Ta’aalaa’ Artinya: ‘aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah’

b.   Ba’diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

‘Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak’ataini Ba’diyyatan lillahi Ta’aalaa’ Artinya : ‘aku niat shalat sunnah sesudah  dzuhur dua rakaat karena Allah’

5. Shalat Tahajjud.
Yaitu shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 raka”at maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur’an. “Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra : 79 )

Niatnya :

“Ushalli sunnatal tahajjudi  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

6. Shalat Istikharah.
Yaitu shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan. Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir.

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Istikharah  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

7. Shalat Witir.
Yaitu shalat sunnat mu’akkad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat.

Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah SAW, “Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu maka kerjakanlah.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

Dari Aisyah r.a., “adalah nabi SAW shalat sebelas rakaat diantara shalat isya’ dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua raka’at dan yang penghabisan satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatnya :

“Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnat witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Wallaahua’alam..

Demontrasi

Ustadz Menjawab
Rabu, 03 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Asslmkum ustadz,,mohon penjelasanya apakah benar bahwa demontrasi itu tidak ada dalam islam dan hadist tentang keluarnya Rasulullah SAW bersama sahabat pada hari keislaman Umar bin Khotttob adalah hadist mungkar ??,,,,jzkllh .

Jawaban
——-
Kepada Yang Suka Menggembosi,  Perhatikahlah Fatwa Ulama negerimu, Karena Mereka Yang Tahu Situasinya, Bukan Ambil Ulama Di Luar Negerimu

Berseliweran fatwa-fatwa pengharaman demonstrasi yang mereka comot dari fatwa para ulama Kerjaaan Saudi Arabia, yang memang kultur dan hukum kerajaan tidak menghendaki adanya demonstrasi. Lalu mereka paksakan fatwa itu di negeri yang tidak sama kulturnya. Di negeri Indonesia yang membolehkan demonstrasi, dan tidak menganggapnya bughat (pemberontakan). Realita di negeri ini demonstrasi dilindungi Undang-Undang negara, bukan pemberontakan, tapi gerakan para penggembos ini tidak bosan-bosan menyebut demonstrasi adalah pemberontak (Bughat). Sungguh mengherankan, negara, TNI, kepolisian melindungi, dan tidak menganggap itu pemberontakan, justru kelompok ini menganggap itu pemberontakan karena sikap kaku mereka terhadap lembaran-lembaran yang mereka baca, dan merasa hidup di alam  dengan  situasi yang bukan situasi negeri mereka, serta taqlid dengan para masyayikhnya saja tanpa mau peduli dengan nasihat masyayikh yang bukan masyayikh mereka.

Benarlah nasihat Imam Al Qarafi Rahimahullah ketika berkata:

فمهما تجدد في العرف اعتبره ومهما سقط أسقطه ولا تجمد على المسطور في الكتب طول عمرك بل إذا جاءك رجل من غير أهل إقليمك يستفتيك لا تجره على عرف بلدك واسأله عن عرف بلده وأجره عليه وأفته به دون عرف بلدك ودون المقرر في كتبك فهذا هو الحق الواضح  والجمود على المنقولات أبدا ضلال في الدين وجهل بمقاصد علماء المسلمين والسلف الماضين

“Bagaimanapun yang baru dari adat istiadat perhatikanlah, dan yang sudah tidak berlaku lagi tinggalkanlah. *Jangan kamu bersikap tekstual kaku pada tulisan di kitab saja sepanjang hayatmu.*

_Jika datang kepadamu seorang dari luar daerahmu untuk meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu memberikan hukum kepadanya berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku di daerahmu, tanyailah dia tentang adat kebiasaan yang terjadi di daerahnya dan hargailah itu serta berfatwalah menurut itu, bukan berdasarkan adat kebiasaan di daerahmu dan yang tertulis dalam kitabmu. Itulah sikap yang benar dan jelas._

Sedangkan sikap selalu statis pada teks adalah suatu kesesatan dalam agama dan kebodohan tentang tujuan para ulama Islam dan generasi salaf pendahulu.” 1]

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, membuat pasal dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, berbunyi:

في تغير الفتوى واختلافها يحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

“Pasal tentang perubahan fatwa dan perbedaannya yang disebabkan perubahan zaman, tempat, kondisi, niat, dan tradisi.”

Lalu Beliau berkata:

هذا فصل عظيم النفع جدا وقع بسبب الجهل به غلط عظيم على الشريعة أوجب من الحرج والمشقة وتكليف ما لا سبيل إليه ….

Ini adalah pasal yang sangat besar manfaatnya, yang jika bodoh terhadal pasal ini maka akan terjadi kesalahan besar dalam syariat, mewajibkan sesuatu yang sulit dan berat, serta membebankan apa-apa yang tidak pantas dibebankan …  ” 2]

Entah .., disadari atau tidak perilaku mereka itu menguntungkan kaum kuffar. Wal ‘Iyadzubillah!

Wallahu A’lam

Notes:

[1] Imam Al Qarafi, Al Furuq, Juz. 1, Hal. 176-177. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut. 1418H-1989M. Tahqiq: Khalil Al Manshur

[2] Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in,   Juz. 3, Hal. 3. Maktabah Kulliyat Al Azhariyah. Kairo.

SHOLAT SYURUQ

Ustadz Menjawab
Rabu, 02 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaykum…
Sholat syuruq itu apa harus di Masjid? Di rumah Boleh apa tidak? Dan definition tdk Boleh beranjak itu apa mulai selesai sholat subuh, diam di tempat dia sholat? Kalau misalnya ingin BAK/BAB bgm?
Satu lagi, mana yg lbh afdol, selesai sholat wajib langsung rawatib ba’diyah atau berdzikir berdoa dulu baru rawatib ba’diyah. 🅰1⃣3⃣
Syukron

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Silahkan membuka web ini untuk menemukan jawaban.

http://www.iman-islam.com/2015/11/shalat-isyraq.html?m=1

Wallahu a’lam.

TATACARA MANDI BESAR

Ustadz Menjawab
Selasa, 01 November 2016
Ustadzah Rochma Yulika

Assalamu’alaikum … Niat , do’a & tatacara Mandi Bersih  selesai Haid/menstruasi yg sesuai dg Hadist seperti apa ya? Karena menurut anak saya, yg diajarkan di sekolah, di TPA & yg saya ajarkan di rumah beda2 dikit. Mohon pencerahannya.. Wassalamu’alaikum. 🙏🏻
 A 41

Jawaban
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Mandi adalah aktivitas keseharian kebanyakan manusia, baik dia muslim maupun tidak muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat membersihkan diri dari berbagai kotoran fisik dengan jalan mandi. Baik sebelum kedatangan Islam maupun setelahnya, mandi menjadi aktivitas yang telah dikenal oleh masyarakat dunia, dengan frekuensi dan alat bantu yang beragam. Dulu belum dikenal sabun ataupun shampo, mereka menggunakan tetumbuhan yang menghasilkan aroma wangi bagi tubuh.

Dalam Islam, mandi bukan sekedar aktivitas rutin untuk membersihkan badan. Islam meletakkan mandi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Ada kondisi tertentu dimana kaum muslimah disunnahkan mandi, dan bahkan ada beberapa kondisi lagi yang mewajibkan kaum muslimah mandi. Selain dari usaha menjaga kebersihan diri, mandi juga sebagai bagian dari pensucian dari beberapa kejadian, seperti terhentinya darah haidh, selesainya nifas, dan aktivitas janabat.

Perempuan haidh harus mandi ketika darah telah terhenti dan ketika hendak menjalankan shalat. Demikian pula halnya perempuan yang telah selesai dari nifas, ia wajib mandi sebagai tanda bahwa ia telah suci dan memulai kewajiban seperti shalat. Apabila kaum muslimah tidak mandi setelah berhentinya darah haidh atau nifas, maka ibadahnya menjadi tidak sah. Inilah yang sering disebut sebagai mandi besar.

SYARAT MANDI

Adapun syarat mandi dalam konteks ini ada tiga, yaitu:
1. niat mandi untuk menghilangkan hadats haidh, nifas, janabat atau niat mandi untuk menjadikan boleh apa-apa yang sebelumnya tidak boleh kecuali dengan mandi, seperti shalat, tilawah Quran dan berdiam dalam masjid. Niat ini cukup diungkapkan di dalam hati. Niat inilah yang membedakan antara mandi biasa dengan mandi.
Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya sahnya suatu amal tergantung dari niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan berdasarkan niatnya”.

2. menghilangkan najis bila terdapat di badannya, seperti bekas tetesan darah haidh dan nifas, atau bekas mani pada janabat.
3. mengalirkan air hingga pangkal rambut dan seluruh kulit. Keseluruhan badan harus mendapatkan siraman air, baik rambut maupun kulit, meskipun rambut pada kulit tipis maupun tebal.

TATACARA MANDI

Mandi untuk membersihkan diri dari haid, nifas dan hadats janabat, dituntunkan oleh Nabi saw sebagaimana riwayat Aisyah ra berikut,
“Rasulullah Saw. bila hendak mandi janabat, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya -dua atau tiga kali- kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian mencuci kemaluannya, lalu berwudlu. Setelah itu mengambil air dan meletakkan jari-jarinya di pangkal rambut, kemudian menyiramkan air dengan kedua tangannya ke kepalanya 3 kali, lalu mengguyurkan air ke seluruh badannya, setelah itu mencuci kedua kakinya.”

Dari keterangan di atas, mandi dilaksanakan sebagai berikut:
a. Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana
b. Mencuci kemaluan
c. Berwudlu
d. Mandi dengan jalan membasahi seluruh bagian tubuhnya sebanyak tiga kali dimulai dari kepala
e. Mencuci kedua kaki
Keseluruhannya harus dilakukan secara urut dari awal sampai akhir.

Selain itu juga disunnahkan melaksanakan aktivitas berikut:
a. Membaca basmalah
b. Mendahulukan kanan atas kiri
c. Menggosok seluruh tubuh
d. Menghilangkan kotoran selain najis

Penulis kitab Al-I’tina’ mengatakan bahwa niat mandi adalah wajib bagi orang yang wajib mandi. Apabila tidak niat maka tidak sah mandinya kecuali dalam beberapa masalah berikut :

1. perempuan yang karena sesuatu hal tidak dapat mandi sendiri setelah haidh. Lalu suaminya memandikannya agar sah ketika menyetubuhinya. Dalam kasus ini, suami harus niat, demikian menurut pendapat yang kuat.
2. perempuan kafir di mana suami yang memandikannya.
3. perempuan gila, demikian dalam salah satu pendapat yang benar. Wallahu a’lam.

MELEPASKAN IKATAN RAMBUT  KETIKA MANDI

Perempuan ketika mandi setelah haidh dan nifas dianjurkan melepaskan ikatan rambutnya dan menyisirnya dengan sisir atau jari-jari untuk memudahkan sampainya air ke pangkal rambut. Ini berdasar sabda Nabi Saw:

“Uraikanlah (rambut) kepalamu dan bersisirlah!”

Sebagian ulama berpendapat atas wajibnya melepas ikatan rambut berdasar hadits ini. Akan tetapi, jika perempuan itu memiliki ikatan rambut namun air bisa sampai pangkal rambut dan kulit tanpa harus melepaskannya, maka ia tidak harus melepaskannya.
Sedangkan untuk mandi janabat, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahwa perempuan tidak diwajibkan menguraikan rambutnya. Ummu Salamah berkata,

“Wahai Rasulullah, saya perempuan yang memiliki ikatan rambut panjang, apakah saya harus melepaskannya ketika mandi janabat?” Nabi Saw. menjawab,
“Tidak, cukup bagimu menyiramkan air sebanyak tiga kali ke kepalamu, kemudian kamu guyurkan air itu ke seluruh tubuh.”

Tatkala sampai suatu berita kepada Aisyah ra bahwa Abdullah bin Umar menyuruh para wanita untuk menguraikan rambut kepalanya ketika mandi, maka Aisyah berkata:

“Sungguh sangat mengherankan Ibnu Umar ini. Dia menyuruh para wanita menguraikan rambutnya ketika mereka mandi, mengapa dia tidak menyuruh menggundul kepalanya sekalian? Saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dari satu bejana dan saya tidak melebihkan siraman ke atas kepala saya” (riwayat Muslim).

Hanya saja jika air tidak sampai ke pangkal rambut kecuali dengan melepaskan ikatan rambut, maka ia harus melepaskannya, karena sampainya air ke rambut dan kulit adalah wajib. Wallahu a’lam.

MENGUSAP BEKAS DARAH DENGAN WEWANGIAN

Untuk menghilangkan kotoran bekas darah haidh dan nifas, serta untuk menghilangkan baunya, dianjurkan wanita muslimah mengusap bekas darahnya dengan wewangian. Ini berdasar hadits Ummu Athiyah r.a.,

“Kami telah mendapatkan keringanan ketika suci, bila salah seorang di antara kami mandi usai haidh untuk memakai sedikit minyak wangi..”

Aisyah r.a. berkata,
“Seorang perempuan bertanya kepada Nabi Saw. tentang mandi setelah haidh. Kemudian beliau memerintahkan bagaimana ia harus mandi. Sabdanya, ‘Ambillah secarik kapas lalu teteskan misk (minyak kasturi) kemudian bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana saya membersihkannya?’ Nabi menjawab, ‘Bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana?’ Beliau menjawab, ‘Subhanallah, bersihkanlah!’  Maka saya tarik perempuan itu untuk mendekat dan saya katakan, ‘Usap dengan kapas ini bekas darahmu!’”

Hadits di atas menunjukkan tuntunan agar kaum wanita muslimah mengusap bekas darah haidh atau nifas dengan kain atau kapas yang diberi pewangi atau parfum, yang di zaman Nabi wujudnya adalah minyak kasturi. Para ulama berkata,

“Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya memakai wewangian bagi perempuan yang mandi setelah haidh dan nifas di organ tubuh yang terkena darah.”

Hanya mereka berbeda pendapat tentang waktu pemakaiannya.
Sebagian dari mereka berpendapat setelah mandi. Yang lain berpendapat sebelumnya. Dianjurkan pula untuk memakai wangi-wangian pada kemaluannya dengan meletakkan sepotong wool dan dimasukkan ke kemaluan setelah mandi.

DIANJURKAN MENGGOSOK BADAN

Tatkala mandi, dianjurkan untuk menggosok badan agar bisa membersihkan kotoran. Dalam suatu riwayat Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengannya sebaik mungkin. Kemudian menyiramkan air ke kepalanya dan menggosoknya dengan kuat sehingga sampai ke kulit kepalanya., lalu menyiramkan ke seluruh tubuhnya kemudian mengambil sepotong kain berparfum (firshah mumassakh) lalu menggunakannya untuk bersuci”.

Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah satu dari kalian mengambil air dan daun bidara lalu bersihkan dengan sebersih-bersihnya, lalu tuangkan air di atas kepalanya dan gosok-gosokkan dengan gosokan yang keras sampai terasa di kulit kepala lalu tuangkanlah air.”

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya menggosok-gosok badan ketika seorang perempuan bersuci.

Wallahu a’lam.

AIR WUDHU

Ustadz Menjawab
Senin, 31 Oktober 2016
Ustadzah Rochma Yulikha

Assalamualaikum ustadz/ah.Minta petunjuk ya…sah tidak sebenarnya jikalau kita berwudhu menggunakan air di bak mandi besar atau kolam,  kita ambil menggunakan ember lalu di
tuang ke ember yg bisa mengalirkan air untuk memudahkan berwudhu(pancuran) ? Mohon penjelasan… 🅰3⃣8⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Boleh karena airnya punya standar yakni lebih 2 hasta. Meskipun kita ambil dari ciduk. Karena sumbernya dari kolam yg standar tadi.

Air Muthlaq

Air muthlaq ini biasa disebut pula air thohur (suci dan mensucikan). Maksudnya, air muthlaq adalah air yang tetap seperti kondisi asalnya. Air ini adalah setiap air yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci.” (QS. Al Furqon: 48)

Yang juga termasuk air muthlaq adalah air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq.

Begitu pula yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.” [1]

Air-air inilah yang boleh digunakan untuk berwudhu dan mandi tanpa ada perselisihan pendapat antara para ulama.

Bagaimana jika air muthlaq tercampur benda lain yang suci?

Di sini ada dua rincian, yaitu:

1. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci dan jumlahnya sedikit, sehingga air tersebut tidak berubah apa-apa dan masih tetap disebut air (air muthlaq), maka ia boleh digunakan untuk berwudhu. Misalnya, air dalam bak yang berukuran 300 liter kemasukan sabun yang hanya seukuran 2 mm, maka tentu saja air tersebut tidak berubah dan boleh digunakan untuk berwudhu.

2. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sehingga air tersebut tidak lagi disebut air (air muthlaq), namun ada “embel-embel” (seperti jika tercampur sabun, disebut air sabun atau tercampur teh, disebut air teh), maka air seperti ini tidak disebut dengan air muthlaq sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu atau mandi).

Wallahu a’lam.

logo manis4

Ibu Tiri dalam Islam – Posisi, Hak, dan Kewajibannya

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. Ada kah yg bisa Bantu saya.. artikel ttg hak seorang IBU tiri?? Apakah mempunyai kedudukan yg sama??

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Posisi Ibu Tiri dalam Garis Keluarga menurut Islam

Secara umum ibu tiri bisa diartikan sebagai ibu yang tidak mengandung, melahirkan, atau menyusi anaknya. Ibu tiri adalah hasil dari pernikahan Ayah setelah ibu kandung tiada atau mengalami perceraian. Ibu tiri erat kaitannya dengan posisi atau status yang rendah atau bahkan dikesampingkan karena dianggap bukan ibu asli dari anak-anak sang suami.

Posisi ibu tiri dalam Islam dapat dilihat dari posisinya dalam garis keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya ibu tiri merupakan keluarga sah yang bergabung dengan keluarga suaminya dan berlaku sebaliknya. Dalam hali ini ibu tiri pun juga termasuk di dalam pengertian mahram dalam islam.

Istri yang sah dari Suami (dari terjadinya akad nikah)

Seorang ibu tiri tentunya adalah istri yang sah bagi suaminya. Tentunya seorang wanita yang dinikahi secara sah dalam kaidah-kadiah dan sesuai syarat-syarat akad nikah dalam islam adalah menjadi tanggung jawab suaminya. Begitupun istri yang sah dari pernikahan sesuai rukun nikah dalam islam, walaupun bukan istri pertama atau ibu dari anak anak suami, memiliki tanggung jawab sebegaimana seorang ibu atau istri dalam ajaran islam. Selagi pernikahan itu sah dan terdapat wali nikah yang sah, maka wanita menjadi istri yang sah bagi suami.

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal”

Ibu Tiri adalah Ibu yang sah (mahram) bagi Anak dari Suami

Dengan menikahnya laki-laki yang memiliki anak dengan seorang perempuan, maka anak dari laki-laki tersebut menjadi anak dan mahram pula bagi perempuan yang sudah dinikahi. Maka anak dari laki-laki tersebut selama-lamanya berstatus anak yang resmi dan mahram bagi perempuan. Secara otomatis, (walaupun berstatus anak tiri) maka selama-lamanya pula tidak boleh menikah dengan ibu tirinya walaupun suatu waktu telah bercerai pada ayahnya, karena ibu tiri bagi anaknya adalah muhrim dalam islam. Untuk itu ibu tiri adalah wanita yang haram dinikahi dalam islam oleh anak tirinya.

Hal ini dijelaskan dalam QS. Annisa : 22

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”

Untuk itu, ibu tiri adalah adalah ibu yang sah atau resmi dan berstatus mahram bagi anak-anak dari suami.

Ibu Tiri yang memiliki anak, adalah anak pula bagi suaminya

Apabila Laki-laki menikahi perempuan yang memiliki anak (janda), dan setelah berhubungan seksual, maka anak-anak dari perempuan tersebut pun menjadi anak dan mahram dari laki-laki tersebut (suami). Maka sampai kapanpun laku-laki tersebut diharamkan untuk menikahi anak dari perempuan tersebut, walaupun sudah bercerai dari istrinya. Dalam fiqh pernikahan, maka ibu tiri pun dilarang dinikahi oleh anak-anak suaminya walaupun sudah bercerai dengan ayahnya.

Hal ini dijelaskan pula dalam Al Quran, QS : An Nisa : 23

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jika terjadi pernikahan antara perempuan dan laki-laki yang salah seorang atau keduanya memiliki anak, maka terjadi hukum yang berlaku pula pada anak-anak mereka. Hukum tersebut disebut dengan tahrim mu’abbad yaitu larangan untuk melakukan perkawinan selama-lamanya, walau ayah dan ibu dari anak anak tersebut sudah bercerai.

Hak Ibu Tiri dalam Islam

Karena seorang ibu tiri adalah istri yang sah dari suaminya, maka kita bisa melihat hak-hak apa saja yang bisa didapatkan seorang istri walaupun dinikahi bukan pertama kalinya oleh sang suami. Hal-hal tersebut merupakan kewajiban suami terhadap istri dalam islam. Berikut adalah hak-hak yang bisa didapatkan seorang ibu tiri sebagaimana seorang istri,

Mendapatkan Nafkah dari Suaminya

Seorang istri walaupun ia seorang ibu tiri bagi anak-anak suaminya, ia berhak untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Untuk itu seorang suami berkewajiban untuk memberikan nafkah pada istrinya, walaupun secara status bukan ibu kandung dari anak anaknya.
Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah : 233

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Memperoleh Tempat tinggal yang layak dari suaminya

Ibu tiri sebagaimana istri, ia berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak dari suaminya. Tidak dibedak-bedakan sebagaimana ibu tiri statusnya bukan istri pertama atau bukan ibu asli dari anak anaknya. Namun suami berkewajiban memberikan tempat tinggal yang layak. Islam menjelaskannya dalam Qs. Ath-Thalaq : 6

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya”

Mendapat pergaulan dan perlakuan yang baik dari suaminya

Pergaulan dan perlakuan yang baik pun berhak didapatkan oleh istrinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa : 19

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”

Begitupun keadilan yang harus diterima oleh sang istri, dijelaskan dalam QS : Annisa : 3

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”

Mendapat mut’ah atau harta jika ia dicerai

Jika seorang istri bercerai dengan suaminya, atau suami telah menjatuhkan talak, apapun status bagi anak anaknya, maka ia berhak mendapatkan mut’ah atau harta dari perceraian tersebut. Persoalan mut’ah ini disampaikan Allah dalam QS. Al-Baqarah : 241

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa”

Mendapat warisan dari harta suami

Begitupun jika suami meninggal, maka istri pun berhal mendapatkan warisan dari harta suaminya. Walaupun berstatus ibu tiri anak-anak dari suami tidak boleh iri atau protes karena hal tersebu merupakan hak istri yang dijelaskan dalam QS. Yusuf : 14

“…….Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu…..”

Hal-hal tersebut bisa didapatkan seorang istri dan ibu tiri sekalipun, jika ia sendiri pun menjadi istri yang dalam kriteria calon istri menurut islam dan menjadi istri dengan ciri-ciri istri shalehah dalam islam.

Kewajiban Ibu Tiri terhadap Anak dan Keluarganya

Seorang ibu tiri yang berstatus seorang istri dari suami yang telah memiliki anak tentunya berkewajiban pula untuk berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Walaupun ibu tiri bukanlah ibu kandung, perbedaannya pada sisi mengandung, melahirkan, dan menyusui, maka itu ia tetap berperan dan berkewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsi orang tua sampai kapanpun itu.

Orang tua sebagaimanapun kesibukan dan statusnya, ia tetap berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Memberikan pengarahan yang benar, memberikan pengetahuan, membentuk moral dan karakter pada anak-anaknya. Jika anak-anaknya sudah dewasa ia pun tetap bertugas untuk menjaga anak-anaknya dari pandangan yang salah.

Maka, tugas dari seorang ibu tiri adalah :
• Memberikan pendidikan pada anak
• Menjaga, melindungi, dan memberikan kasih sayang seorang ibu
• Memperlakukan anak lemah lembut, tidak emosi, dan menganggap anak bukan bagian dari kewajibanya, karena sifat marah dalam islambukanlah hal baik terutama untuk anak.
• Menjaga nama baik keluarganya dan tidak berbuat yang dapat merusak keutuhan rumah tangga
• Mengasuh, menjaga anak anak sebagaimana ia terhadap suaminya dengan cinta yang utuh

Kewajiban Anak terhadap Ibu Tiri

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”
(QS Al-Isra : 23-24)

Sebagaimana disampaikan di Al Quran maka anak tiri terhadap ibu tiri memiliki kewajiban yang sebagaimana terhadap ibu kandungnya :

• Berbuat baik, kepada kedua orang tuanya yang masih ada, hal ini termasuk ibu tiri
• Tidak berkata kasar, melawan atau membantah perintahnya yang baik
• Menjaga dan memelihara terutama saat sudah memasuki usia uzur (lanjut usia)
• Mendoakan kebaikan, bukan keburukan kepada orang tua
• Membantu kesulitan orang tua dan meringankan bebannya

Dalam hal ini tidak ada istilah anak tiri tidak bisa menerima ibu tirinya, karena jika sudah berstatus istri dari ayahnya, maka anak tetap harus menghormati, menghargai, dan berbuat baik kepada ibu tiri tersebut.

Ibu Tiri sama Mulianya sebagaimana Ibu Kandung

Ibu tiri bukanlah ibu sampingan. Jika ibu tiri berbuat sebagaimana ibu kandung memperlakukan anak-anak dan keluarganya dengan baik tentunya akan membawakan kemuliaan, kebaikan di dunia dan akhirat, selayaknya ibu kandung yang juga bertugas dan berkewajiban seperti itu untuk anak-anak dan keluarganya.

Islam tidak pernah memandang rendah ibu tiri melainkan mengangkat derajat seseorang bukan karena statusnya, akan tetapi dari bagaimana perilaku, moral, dan amaliah yang dilakukan.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

GELAR ALAIHIS SALAM DALAM SHAHIH BUKHORI

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)? mohon jawabannya.# i-23

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha salam ada 5 orang.

Berikut beberapa di antara teks hadits yang memberikan gelar alaihissalam kepada ahlul bait:

Ali bin Abi Thalib alaihissalam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمْسِ فَلَمَّا أَرَدْتُ أَنْ أَبْتَنِيَ بِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعَدْتُ رَجُلًا صَوَّاغًا مِنْ بَنِي قَيْنُقَاعَ أَنْ يَرْتَحِلَ مَعِي فَنَأْتِيَ بِإِذْخِرٍ أَرَدْتُ أَنْ أَبِيعَهُ مِنْ الصَّوَّاغِينَ وَأَسْتَعِينَ بِهِ فِي وَلِيمَةِ عُرُسِي

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali radiallahuanhuma mengabarkan kepadanya bahwa Ali Alaihis Salam berkata, Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari ghanimah dan Rasulullah memberikan unta kepadaku dari bagian khumus (seperlima). Ketika aku ingin menikahi Fathimah Alaihas Salam binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam aku menyuruh seorang laki-laki pembuat perhiasan dari bani Qainuqa’ untuk pergi bersamaku maka kami datang dengan membawa wangi-wangian dari daun idzkhir, aku jual yang hasilnya kugunakan untuk pernikahanku.”
[Shahih Bukhari 3/60 no 2089].

Fathimah Alaihassalam

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ وَحَوْلَهُ نَاسٌ مِنْ قُرَيْشٍ جَاءَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ بِسَلَى جَزُورٍ فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام فَأَخَذَتْهُ مِنْ ظَهْرِهِ وَدَعَتْ عَلَى مَنْ صَنَعَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ الْمَلَأَ مِنْ قُرَيْشٍ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ أَوْ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ شُعْبَةُ الشَّاكُّ فَرَأَيْتُهُمْ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ فَأُلْقُوا فِي بِئْرٍ غَيْرَ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ أَوْ أُبَيٍّ تَقَطَّعَتْ أَوْصَالُهُ فَلَمْ يُلْقَ فِي الْبِئْرِ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah RA yang berkata ketika Nabi SAW sedang sujud di sekeliling Beliau ada orang-orang Quraisy kemudian Uqbah bin Abi Mu’aith datang dengan membawa isi perut hewan dan meletakkannya di punggung Nabi SAW. Beliau tidak mengangkat kepala Beliau sampai akhirnya Fathimah Alaihas Salam datang dan membuangnya dari punggung Beliau dan memanggil orang yang melakukan perbuatan tersebut. Nabi SAW berkata “ya Allah aku serahkan para pembesar Quraisy kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf”. Dan sungguh aku melihat mereka terbunuh dalam perang Badar. Kemudian mereka dibuang ke sumur kecuali Umayyah atau Ubay karena dia seorang yang badannya besar ketika badannya diseret anggota badannya terputus-putus sebelum dimasukkan kedalam sumur.”
[Shahih Bukhari 5/45 no 3854]

Sebutan Alaihas Salam kepada Fathimah dapat ditemukan di banyak tempat dalam Shahih Bukhari bahkan Bukhari sendiri membuat judul khusus dengan kata-kata:

مناقب قرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومنقبة فاطمة عليها السلام بنت النبي صلى الله عليه وسلم

“Keutamaan Kerabat Rasulullah ﷺ dan Keutamaan Fathimah Alaihassalam binti Nabi ﷺ”
[Shahih Bukhari 5/20 kitab Al Manaqib]

باب مناقب فاطمة عليها السلام

“Bab ; Keutamaan Fathimah Alaihas Salam”
[Shahih Bukhari 5/29 kitab Al Manaqib]

Hasan bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام يُشْبِهُهُ قُلْتُ لِأَبِي جُحَيْفَةَ صِفْهُ لِي قَالَ كَانَ أَبْيَضَ قَدْ شَمِطَ وَأَمَرَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ قَلُوصًا قَالَ فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ نَقْبِضَهَا

“Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid yang berkata aku mendengar Abu Juhaifah RA berkata “Aku melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan Hasan bin Ali Alaihimas Salam sangat mirip dengan Beliau”. Aku [Ismail] bertanya kepada Abu Juhaifah “Ceritakan sifat Beliau kepadaku?”. Abu Juhaifah berkata “Beliau berkulit putih, rambut Beliau sudah beruban dan Beliau pernah memerintahkan untuk memberi 13 anak unta kepada kami”. Ia kemudian berkata “Nabi SAW wafat sementara kami belum sempat mengambil pemberian Beliau tersebut”.
[Shahih Bukhari 4/187 no 3544]

Husain bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ يَوْمَ بَدْرٍ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمُسِ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali Alaihimas Salam mengabarkan kepadanya bahwa Ali berkata “Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari bagian ghanimah dalam perang badar dan Nabi SAW memberiku unta dari bagian khumus (seperlima)…”
[Shahih Bukhari 4/78 no 3091]

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar ‘Alaihimussalam’ setelah nama-nama Ahlulbait Nabi ﷺ. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Pertama

Dalam berbagai buku rujukan hadits utama Ahlussunnah disebutkan berulangkali kata ‘As-salam’ atas tokoh-tokoh Ahlulbait Nabi ﷺ, bahkan adakalanya dirangkaikan dengan kata ‘was-shalatu ‘alaihim’.

Contohnya dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

1. Kitab Kusuf, Bab Tahridh Al-Nabi ﷺ ‘ala Shalat Al-Layl wa Al-Nawafil min ghairi Ijabi, wa Tharaqa Al-Nabiyy ﷺ Fathimata wa ‘Aliyyan ‘alaihimassalam (salam atas keduanya).

2. Kitab Al-Hibah, Bab Idza wahaba daynan ‘ala rajulin, Syu’bah berkata dari Al-Hakam, bahwa hal itu diperbolehkan sebagaimana Al-Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) memberikan hutang kepada seseorang.

3. Kitab Jihad wa Al-Sayr, Sahl r.a ditanya tentang luka Nabi ﷺ pada peristiwa perang Uhud, ia menjawab, “Maka Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) membersihkan darah beliau Saw.

4. Bab Fardh Al-Khumus, Al-Zuhri berkata, Ali bin Al-Husein menceritakan kepadaku bahwa Husein bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) menceritakan bahwa Ali berkata, “Aku memperoleh bagian dari rampasan perang Badar.”

5. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ meminta bagian warisan dari Rasulullah Saw kepada Abu Bakar As-Shiddiq r.a setelah Rasulullah ﷺ wafat…

6. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan…

7. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, sehingga Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) datang dan mengambil dari punggung beliau…

8. Bab Shifat Al-Nabiyy ﷺ, “Aku melihat Nabi ﷺ dan Al-Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) sangat mirip dengan beliau.”

9. Bab Manaqib Al-Muhajirin, Ali menyampaikan kepadaku bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas lukanya akibat penggiling gandum.

10. Bab Manaqib Qarabah Rasulullah ﷺ wa Manqibah Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya), bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) menuliskan surat kepada Abu Bakar…

11. Bab Qisshah Ghazwah Badr, bahwa Ali berkata… ketika aku ingin memberikannya kepada Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya)…

12. Bab Ghazwah Uhud, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ membersihkannya.

13. Bab ‘Umrah Al-Qadha’, dan berkata kepada Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya)…

14. Bab Maradh Al-Nabiyy ﷺ, Nabi Saw memanggil Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) ketika beliau sakit menjelang wafat.

15. Bab Maradh Al-Nabiyy ﷺ, ketika beliau akan dikebumikan, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) berkata, “Wahai Anas, apakah engkau tega menyegerakan penguburan Rasulullah ﷺ?

16. Bab Surah Al-Dzariyat,  Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata, “Al-Dzariyat…”

17. Ali bin Al-Husein ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) berkata…

18. Kitab Al-Dzaba’ih wa Al-Shaid, Al-Hasan ‘alaihissalam (salam atasnya) naik ke atas pelana yang terbuat dari kulit berang-berang.

19. Kitab Al-Thibb, ketika Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) melihat darah, maka ia menambahkan air.

20. Kitab Al-Adab, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) berkata, “Rasulullah ﷺ memberi isyarat kepadaku, maka aku tertawa…”

21. Kitab Al-Adab, ‘Uday bin Tsabit berkata, “Aku mendengar Al-Barra’  berkata, ‘Ketika Ibrahim ‘alaihissalam (putra Rasulullah dari Mariah Al-Qibthiyyah)wafat, Rasulullah ﷺ berkata,…

22. Kitab Al-Isti’dzan, Rasulullah ﷺ mengunjungi rumah Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) dan Ali tidak ada di dalamnya.

23. Kitab Al-Isti’dzan, Masruq diceritakan oleh Aisyah ummul mukminin r.a, “Suatu kali kami para istri Nabi berada di sisi beliau, maka Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) datang.

24. Kitab Al-I’tisham bil Kitab wa Al-Sunnah, dan Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ.

25. Kitab Al-Da’awat, Ali menyampaikan bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas luka di tangannya akibat penggiling gandum.

26. Kitab Al-Tauhid, Ali bin Al-Husein berkata bahwa Husein bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) menyampaikan kepadanya.

Contoh dari kitab-kitab hadis lainnya:

Musnad Ahmad, jilid II, Rasulullah ﷺ bersabda pada perang Khaibar, “Niscaya aku berikan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan membuka kepadanya. Umar pun berkata, ‘Aku tidaklah mencintai kedudukan sebelum hari itu, dan aku berangan-angan mendapatkan kehormatan dengan memperolehnya. Ketika hari esok tiba, beliau memanggil Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) dan memberikan panji kepadanya dan bersabda, “Berperanglah tanpa menoleh sehingga engkau membuka (gerbang Khaibar-).

Shahih Muslim, Kitab Fadhail Al-Shahabah, Bab Fadhilah Fathimah binti Nabi ‘alaihassalam (salam atasnya).

Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Shalah, Bab Al-Rajul yushalli ‘aqishan sya’rahu, Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, … bahwasanya beliau melihat Abu Rafi’ pembantu Rasulullah Saw melewati Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) yang sedang shalat …

Kedua

Perbedaan pendapat di antara orang-orang berilmu adalah seputar penyebutan kata ‘Ash-Shalat’ bukan pada ‘As-Salam’ kepada selain para Nabi secara terpisah. Menurut Imam Malik dan Syafi’i dianjurkan menyertakan Ash-Shalat dan As-Salam atas para Nabi. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan penyebutan terpisah atas selain para Nabi.

Dalil yang membolehkan hal itu adalah firman Allah ﷻ, ‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan dan mensucikan harta mereka. Dan berdoalah untuk mereka (wa shalli ‘alaihim), karena doamu akan membuat tenang jiwa mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 103). dan hadis Nabi, “Ya Allah ﷻ anugerahkanlah shalat atas keluarga Abu Awfa” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari membuat sebuah bab dengan nama, “Bab Shalat Al-Imam wa Du’auhu lishahibi Ash-Shadaqah.”… Dari Jabir bin Abdullah bahwa seorang wanita berkata kepada Nabi ﷺ, “Shalli ‘alayya wa ‘ala Zauji (doakanlah aku dan suamiku). Maka Rasulullah menjawab,“Shalla Allahu ‘alaika wa ‘ala Zaujik (semoga Allah menganugerahkanmu dan suamimu) (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ketiga

Sebagian ahli hadis menjadikan salam atas sahabat selain Ahlulbait juga, di antaranya:

1. Sunan Ma’tsurah lil Imam Al-Syafi’i, “Hanya saja tidak diketahui bahwa Umar ‘alaihissalam…”

2. Kitab Al-Aahad wa Al-Matsani, Ibn Abi ‘Ashim, “Ibnu Umar berkata, Umar ‘alaihissalam (salam atasnya) wafat…”

3. Sunan Ad-Daruquthni, dari Asy-Sya’bi, Aku mendengar Umar ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata…

4. Fadhail Ash-Shahabah, Ad-Daruquthni, “Dari Sya’bi, Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata…”

Terakhir

Jelas sudah bahwa persoalan yang menyebar luas ini tidak lagi mengandung perseteruan, perbedaan dan penolakan lagi.

Saudara-saudara Muslim yang suka berkomentar sebaiknya tidak bersikap terburu-buru mengingkari adanya penyebutan salam atas Ahlulbait sebelum menyelidiki lebih jauh, berhati-hati dan bertanya kepada orang-orang berilmu jika memang mereka bukan ahli di bidangnya. Sesungguhnya banyak orang berangan-angan memiliki ilmu dan ahli di bidangnya, namun terjerumus dalam memberikan pendapat/fatwa tanpa didasari keahliannya. Mereka ini begitu mudahnya memberikan tuduhan tanpa dasar. Hanya Allah ﷻ tempat memohon pertolongan.

Selain itu, sebaiknya kita tidak menganggap setiap orang yang mengagungkan, mencintai dan memberikan pujian terbaik yang ditujukan secara khusus atas Ahlulbait Nabi ﷺ sebagai orang Syiah saja dan seolah-olah kecintaan kepada Ahlulbait Nabi ﷺ hanya milik Syiah dan Ahlussunnah tidak termasuk di dalamnya. Kita berlindung kepada Allah dari pernyataan demikian.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Yang Menggunakan Alaihi/ha Salam dalam Shahih Bukhori

Ustadz Menjawab
Jum’at, 28 Oktober 2016
Ustadz Wawan

Assalamualaikum mohon dijawab ustadz/ah.. apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)?mohon jawabannya
# i-23)

Jawaban
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha Salam ada 5 orang.
Silahkan dibuka :
1. Fatimah, ada di hadits nomor: 3435, 3730, 5843, 4942, 3913, 5812, 2881, 3429, 4103, 4943, 4080, 2862

2. Ali, terdapat pada hadits nomor: 4566, 1947, 3280

3. Ummu kultsum, terdapat pada hadits nomor: 5394

4. Fatimah dan al Abbas, hadits nomor: 6230

5. Husain bin Ali, nomor: 3702, 3465.

Wallahu a’lam.

Membuat Home Industri Perlengkapan Ibadah Agama Lain

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
27 Oktober 2016
============================

Assalamualaikum. Ustadz, bagaimana hukum nya orang islam yang membuat home industri persiapan  upacara natalan, seperti petasan untuk natalan, topi nya, dll.

Jawaban
========

1. Tidak boleh/Haram.

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً (الفرقان:72)

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan [25]: 72)

Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “Az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh Ar-Rabî’ bin Anas, Al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan Ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “Az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.”

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya. Bukan sekedar menyaksikan.

Hadits Anas bin Malik r.a., yang menyatakan:

قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“Rasulullah SAW tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.'” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasa’i dengan Syarah Muslim)

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah SAW. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan, sabda Nabi SAW, “Lebih baik dari keduanya” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah SWT kepada kita.

Tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkannya kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh mendemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.

‘Umar pun berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقيإسناد صحيح].

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)

2. Ada juga yang membolehkan.
Dr. Quraisy Shihab menyatakan, memberikan ucapan selamat Natal sudah diajarkan dalam Al-Qur’an, seperti tertuang dalam surah Maryam ayat 34.

“Itu tentang Isa putera Maryam, yang merupakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (QS. Maryam [19]: 34)

Ayat ini sama sekali tidak membahas tentang hukum kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan tentang siapa Nabi Isa –’alaihissalam. Dia adalah putra Maryam, tidak seperti yang dituduhkan orang Yahudi, sebagai putra Yûsuf an-Najjâr, atau seperti klaim orang Kristen, bahwa dia adalah Tuhan (anak), atau putra Tuhan.

DR. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama, selama tidak merugikan agama lain. Termasuk hak tiap agama untuk memberikan ucapan selamat saat perayaan agama lain. Dia mengatakan, “Sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan ucapan selamat kepada non-Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori Al-Birr (perbuatan yang baik).

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Kebolehan memberikan mengucapkan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan ucapan selamat kepada kita dalam perayaan hari raya kita:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

Begitu, kata DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Padahal, QS. Al-Mumtahanah: 8 di atas, khususnya frasa “Tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka) tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir yang tidak memerangi kita. Karena bersikap baik dan adil kepada mereka dalam hal ini terkait dengan mu’amalah, bukan ibadah. Sedangkan, mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka bagian dari ibadah. Konteks ayat ini terkait dengan Bani Khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan Nabi untuk tidak memerangi dan menolong siapapun untuk mengalahkan Baginda SAW, maka Allah SWT perintahkan kepada Baginda SAW untuk berbuat baik, dan menepati janji kepada mereka hingga berakhirnya waktu perjanjian. Jadi, konteks “berbuat baik” di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, yang merupakan bagian dari “berbuat baik”.

Demikian juga dengan QS. An-Nisa’: 86. Ayat ini menjelaskan tentang tahiyyah (ucapan salam) yang disampaikan kepada orang Mukmin. Tahiyyah juga bisa berarti do’a agar diberi kehidupan. Menurut At-Thabari, “Jika kalian dido’akan orang agar diberi panjang umur, maka diperintahkan untuk mendo’akannya dengan do’a yang sama.Namun, menurut Al-Qurthubi, tahiyyah di sini bisa berarti ucapan salam. Jadi, “Jika kalian diberi salam, maka jawablah salamnya dengan lebih baik.” Hanya, menurut Al-Qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang Islam, jika mereka yang mengucapkan salam. Jika yang mengucapkan salam orang Kafir, termasuk Ahli Dzimmah, maka tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang diajarkan oleh Nabi SAW, “Wa’alaikum.”

• Kesimpulannya

Tidak boleh ikut andil dalam perayaan hari besar agama lain termasuk dalam memproduksi perlengkapan untuk memeriahkannya, menjual ataupun memberikan ucapan selamat hari raya..

Allahu’Alam Bisshowab