Ikhtilat itu Apa Sih?

Assalamualaikum ustadz/ah saya mau tanya masalah ikhtilat, saya masih bingung sm hal yg satu, gimana cara menghindari nya, apalagi seorang medis paramedis itu otomatis bakal berbaur sm yg bukan muhrim.
Maksud saya pandangan soal ikhtilat gimana? Katanya bisa dihindari dgn misal saat pertemuan ada pembatasnya/hijab antar laki2 dan perempuan, sdgkan kita berprofesi sbg tenakes yg berinteraksi dgn banyak org, jd harus gimana, tp katanya selama gak ada ketertarikan antar lawan jenis sih masih gapapa, maaf itu maksud saya ๐Ÿ™๐Ÿป

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Ikhtilat ada yang โ€‹mamnu’โ€‹ (terlarang), ada yang โ€‹masyru’โ€‹ (dibolehkan).

๐Ÿ“Œ โ€‹Mamnu’โ€‹ itu jika bercampur baur laki perempuan:

– tanpa hajat syar’i
– tanpa adab Islami (misal tidak menutup aurat, menjaga ucapan, tabarruj)

Seperti yang terjadi di diskotik, konser2, dan semisalnya.

๐Ÿ“Œ โ€‹Masyruโ€‹ itu jika ikhtilat tersebut:

– terjadi karena hajat syar’i
– tetap menjaga adab-adab Islami.

Perhatikan riwayat-riwayat berikut ..

Dalam kitab Shahih-nya Imam Al Bukhari dalam Bab โ€‹โ€œIyadatun Nisaa Ar Rijaalโ€โ€‹ yang artinya wanita menjenguk kaum laki-laki.

Tertera di sana:

ูˆูŽุนูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูู…ู‘ู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑู’ุฏูŽุงุกูุŒ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู

Ummu Ad Darda menjenguk seorang laki-laki ahli masjid dari kalangan Anshar. โ€‹(HR. Al Bukhari, 7/116)โ€‹

Begitu pula โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, Beliau menjenguk ayahnya dan Bilal bin Rabah Radhiallahu โ€˜Anhu yang sedang demam. Padahal Aisyah bukanlah mahramnya Bilal.

โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha berkata:

ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽุŒ ูˆูุนููƒูŽ ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ูˆูŽุจูู„ุงูŽู„ูŒ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ููŽุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุงุŒ ู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฌูุฏููƒูŽุŸ ูˆูŽูŠูŽุง ุจูู„ุงูŽู„ู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฌูุฏููƒูŽุŸ

Ketika Rasulullah ๏ทบ sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal mengalami demam. Lalu aku masuk menemui keduanya. Aku berkata: โ€œWahai ayah, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal bagaimana keadaanmu?โ€ โ€‹(HR. Al Bukhari No. 5654)โ€‹

Namun, pembolehan ini terikat oleh syarat bahwa tetap menutup aurat secara sempurna dan aman dari fitnah. โ€‹(Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 10/118)โ€‹

Bahkan syarat ini mesti ditambah yakni tidak tabarruj dan tidak khalwat (berdua-duaan), alias mesti ditemani oleh mahramnya atau orang lain yang bisa dipercaya.

Riwayat lain .., Imam Al Bukhari dalam kitab Shahih-nya, membuat enam bab tentang peran muslimah dalam peperangan yang dilakukan kaum laki-laki.

1. Bab Ghazwil Marโ€™ah fil Bahr (Peperangan kaum wanita di lautan)
2. Bab Hamli Ar Rajuli Imraโ€™atahu fil Ghazwi Duna Baโ€™dhi Nisaโ€™ihi (Laki-laki membawa isteri dalam peperangan tanpa membawa isteri lainnya)
3. Bab Ghazwin Nisaโ€™ wa Qitalihinna maโ€™a Ar Rijal (Pertempuran wanita dan peperangan mereka bersama laki-laki)
4. Bab Hamlin Nisaโ€™ Al Qiraba Ilan Nas fil Ghazwi (Wanita membawa (tempat) minum kepada manusia dalam peperangan)
5. Bab Mudawatin Nisaโ€™ Al Jarha fil Ghazwi (Pengobatan Wanita untuk yang terluka dalam peperangan)

6. Bab Raddin Nisaโ€™ Al Jarha wal Qatla Ilal Madinah (Wanita Memulangkan Pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)

Semua ini menunjukkan keterlibatan wanita dalam kehidupan manusia secara wajar: pada dunia pendidikan, kedokteran, bahkan jihad, dan di sana ada kaum laki-laki. Namun, dengan tetap menjaga adab-adab Islam saat di luar rumah dan bersama laki-laki yang bukan mahramnya.

Wallahu a’lam.

Nazar & Kafarat nya

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …bagaimana penjelasan tentang nazar dan kafaratnya. Syukron.

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Bismillah wal Hamdulillah ..

Apa yang ditanyakan ini, istilahnya adalah Nadzar Muqayyad atau Muโ€™allaq. Yaitu seorang yang bernadzar disebabkan karena terikat atau tergantung oleh suatu keadaan atau keinginan tertentu. Nadzar seperti ini makruh, sebab seolah dia baru ingin mendekatkan diri kepada Allah Taโ€™ala dengan amal shalih itu, jika keinginannya terpenuhi dulu. Jelas sekali kesan dia bakhil terhadap amal shalih. Seperti ungkapan: โ€œSaya akan shaum dua hari, jika anak saya lulus ujian sekolah.โ€ Ucapan ini mengandung makna bahwa dia tidak akan shaum jika ternyata anaknya tidak lulus. Jadi, ibadah yang dilakukannya bukan karena Allah Taโ€™ala, tapi jika keinginannya terpenuhi dulu.

Inilah yang disindir oleh riwayat dari Ibnu Umar berikut:

ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุจูุฎูŽูŠู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุณู’ุชูŽุฎู’ุฑูŽุฌู ุจูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฎููŠู„ูยป

Dari Nabi Shallalahu โ€˜Alaihi wa Sallam bahwa Beliau melarang bernadzar, Beliau bersabda: โ€œNadzar itu tidaklah mendatangkan kebaikan, itu hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.โ€ (HR. Muslim No. 1639)

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi mengatakan:

ูˆ ูŠูƒุฑู‡ ุงู„ู†ุฐุฒ ุงู„ู…ู‚ูŠุฏ ูƒุฃู† ูŠู‚ูˆู„ : ุงู† ุดูุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุฑูŠุถู‰ ุตู…ุช ูƒุฐุง ุงูˆ ุชุตุฏู‚ุช ุจูƒุฐุง

Dimakruhkan nadzar muqayyad, seperti ucapan: โ€œJika Allah sembuhkan penyakitku aku akan puasa sekian, atau aku akan sedekah sekian. (Minhajul Muslim, Hal. 394)

Namun demikian, baik nadzar muthlaq dan muqayyad, keduanya wajib dipenuhi jika sudah direncanakan oleh seseorang dan jelas nadzarnya.
Khusus nadzar muqayyad, jika keinginannya masih belum terpenuhi, misal seperti yang ditanyakan oleh penanya yaitu kesembuhan dari penyakit dalam waktu enam bulan belum tercapai, maka nadzar tersebut tidak wajib dijalankan. Sebab memang nadzarnya terikat oleh kesembuhan direntang waktu tersebut.

Jika akhirnya TERCAPAI, dapat sembuh diwaktu enam bulan, maka wajib menjalankannya. Kecuali jika dia tidak mampu menjalankannya. Jika tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzar sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽู…ููŠู†ู

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah. (HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

– Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.
– Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat, jika fakir miskin itu wanita, maka mesti dengan kerudungnya juga.
– Atau memerdekan seorang budak
– Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Taโ€™ala sebagai berikut:

โ€‹Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)โ€‹.
(QS. Al Maidah: 89)

Bolehnya membatalkan nadzar dalam keadaan tidak mampu menjalankannya, berdasarkan hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfuโ€™:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุณูŽู…ู‘ูู‡ูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ูููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุทููŠู‚ูู‡ู ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุทูŽุงู‚ูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽูู ุจูู‡ูยป

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dengan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322.
Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: โ€œIsnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.โ€ Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfuโ€™ /ucapan nabi. )

Wallahu a’lam.

Aqiqah dulu ato Qurban dulu

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan mau nanya kalau udah dewasa belum aqiqah lebih baik qurban dulu apa aqiqah dulu? Mohon penjelasannya. #  I.15

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sering ditanyakan, kalau blm aqiqah, apa boleh berkurban? Pd dasarnya boleh saja, krn bukan syarat sahnya berkurban harus sudah aqiqah.

Disamping, baik aqiqah maupun berkurban, para ulama menguatkan hukum keduanya sebagai sunah. Bukan perkara wajib.

Akan tetapi jika masalahnya lebih baik aqiqah dahulu atau qurban dahulu, tdk ada dalil detail dlm masalah ini, akan tetapi dapat disimpulkan.

Dpt dilihat masanya. Jika kelahiran jauh dari hari qurban, sebaiknya aqiqah dahulu. Tapi jika sdh datang hari qurban, maka qurban dahulu

Bagaimana jika sudah besar belum diaqiqahkan, sedang dia mau qurban, qurban dulu apa aqiqah dulu? Saran saya qurban saja dahulu….

Adapun aqiqah, dpt dia lakukan di lain waktu. Disamping inipun diperdebatkan para ulama, apakah disyariatkan baginya aqiqah atau tidak?

Bagaimana dgn menggabungkan antara kurban dgn aqiqah dlm satu niat? Ulama berbeda pendapat antara yang memboleh dan melarang.

Lebih hati2 dan keluar dari khilaf sebaiknya tidak digabungkan, karena kurban dan aqiqah walau ada kesamaan di sebagian, tapi masing2 berdiri sendiri

Wallahu a’lam.

Kafarat Suami Karena Mrnzihar Istri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Di surat Al Ahzab:4, ada kafarat/denda yg hrs dibayar oleh suami krn men zihar istrinya. Bgmn ketentuan kafaratnya, mbak?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Utk kafarat zhihar, sudah ada rinciannya dalam surat Al Mujadilah, sebagai berikut:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) ​memerdekakan seorang budak​ sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) ​berpuasa dua bulan berturut-turut​ sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) ​memberi makan enam puluh orang miskin.​ Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al Mujadilah: 2-4)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala, tegaskan rincian kafaratnya:

1. Membebaskan budak, kalau tidak mampu maka..

2. Berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu maka ..

3. Memberikan makan ke fakir miskin 60 orang ..

Nah, tiga hal ini sifatnya bukan opsional seenaknya, tapi sesuai urutan sebagaimana ayat menyebutkan, sebagaimana keterangan para ulama.

Wallahu a’lam.

Wasiat

Assalamu’alaikum ustad/ustadzah ya…
Bgmn hukumnya apabila kami melakukan pembagian warisan dlm keluarga namun tdk sesuai wasiat ayah kami yg sudah wafat.semasa hidup ayah kami berwasiat namun tdk secara keseluruhan utk warisan yg ditinggalkan. maka dengan alasan mempermudah pembagian warisan krn warisan ayah kami ada dibeberapa tempat, maka kakak kami membaginya dgn cara yg diaturnya menurut pembagian syariat scara islam. namun pembagian ini ada yg lbh utk kk kami yg tertua laki2 krn  rmh yg kakak kami tempati itu sdh di huni dan direhab oleh kakak kami semasa ayah kami msh hidup dan tdk masuk dlm hitungan beliau utk warisan yg dibagi stelah ayah kami wafat.kami 5 brsaudara 3 perempuan dan 2 laki2. ibu msh hidup. mohon jawabannya ustad/ustadzah .syukron ats jawabannya.

🍃🍃 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
pada dasarnya wasiat mesti dijalankan oleh si penerima wasiat. Tp, itu tidak mutlak. Jika isi wasiat bertentangan dgn nash-nash syariat maka tidak boleh ditaati.

📌 Untuk wasiat harta, tidak boleh diberikan kepada anak, tetapi kepada orang tua atau  kerabat atau siapa pun yg ingin diwasiatkan, biasanya memang ada hub dekat, sebab pada hakikatnya wasiat adalah sedekah. Maksimal 1/3 harta. Banyak org tidak paham ini, mereka mewasiatkan harta juga diberikan ke anak-anaknya, itu keliru. Sebab, anak-anak akan dapat dari warisan.

Allah Ta’ala berfirman: 

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (20: 180)

Dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: 

عنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ لَا الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ )رواه مسلم(

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu: Rasulullah pernah menjenguk saya waktu haji wada’ karena sakit keras yang saya alami sampai hampir saja saya meninggal. Lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah saya sedang sakit keras sebagaimana engkau sendiri melihatnya sedangkan saya mempunyai banyak harta dan tidak ada yang mewarisi saya, kecuali anak perempuan satu-satunya. Bolehkah saya menyedekahkan sebanyak 2/3 dari harta saya?”

Beliau menjawab:  “Tidak” saya mengatakan lagi bolehkah saya menyedekahkan separoh harta saya?

Beliau menjawab “Tidak” sepertiga saja yang boleh kamu sedekahkan, sedangkan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, menengadahkan tangan meminta-minta pda orang banyak. Apapun yang kamu nafkahkan karena ridha Allah, kamu mendapat pahala karenanya, bahkan termasuk satu suap untuk istrimu”. (HR. Muslim) 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadits lain :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُل ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Sesungguhnya Allah telah memberikan setiap orang masing-masing haknya. Maka tidak boleh harta itu diwasiatkan untuk ahli waris. (HR. At-Tirmizy No. 2046, Abu Daud No. 2486. Shahih)

Dengan demikian, wasiat tersebut tdk wajib ditaati karena tidak bersesuaian dgn Al Quran dan As Sunnah, baik dari sisi sasaran dan jumlah pembagiannya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No.381, Alauddin Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 14401, Al Khathib, 10/22. Imam Al Haitsami mengatakan: para perawinya Ahmad dalah para perawi shahih. Majma’ Az Zawaid, 5/407. Syaikh Muhammad bin Darwisy mengatakan: diriwayatkan Ahmad dan sanadnya shahih. Lihat ​Asnal Mathalib​, No. 1713)

Kesimpulan, hendaknya memakai hukum Allah Ta’ala, bukan hawa nafsu manusia. Sebagaimana firmanNya:

ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah: 44)

Ayat lain:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa: 65)

Wallahu a’lam.

Adab Menasehati Teman

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…bagaimana cara nya memberi tau yg baik ke teman agar dia bisa hijrah ke yg lebih baik..karena pd dasar nya dia ingin berubah akan tetapi karena pergaulan jd sepertinya dia susah utk meninggal kan itu..contoh ketika mau ketemu dengan kita pakaian nya syar’i..tetapi ketika dengan teman gaul nya dia pakenya celana jeans dan kerudung pun hanya di lilit ke leher…mohon penjelasan..

🐝🐝🐝 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sampaikanlah ilmu secara tidak langsung secara hikmah kecuali dia adalah sosok yang terbuka.

✔ Cintailah sahabatmu sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri
✔ Berikanlah keteladanan terbaikmu, nikmatilah, dan konsisten dalam keteladanan.
✔ Berpikirlah mendalam dan temukan gagasan pembicaraan yang memasukkan sedikit konten yang ‘membicarakan perilaku dirinya’ dalam kemasan pembahasan yang tidak kentara namun meninggalkan jejak cara berpikir di sanubari sahabat tercinta
✔ Berikanlah motivasi selalu bahwa Allah ﷻ sangat mencintainya dan mintalah ia untuk tidak lupa mendoakan kita agar selalu diberikan keistiqomahan dalam meraih ridho Ilahi.

⭐ Memberi tahu sejatinya adalah menjadikan seorang manusia menjadi tahu, bukan salah tahu. Maka gunakanlah seluruh cara yang mudah-mudahan di antaranya menjadi obat terbaik untuk sahabat tercinta.

Wallahu a’lam.

Memanjang Foto di Ruangan

Assalamu’alaikum., maaf Ustadz/Ustadzah ana mau nanya, apakah boleh atau tidak memajang foto d ruangan? Baik itu ruang tamu, keluarga, maupun ruang tidur? Tujuan memajang foto itu supaya tamu yg datang ke rumah bisa mengenal orang yang punya rumah., syukron 🙏🏻 🙂,, wassalamu’alaikum

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

     Ya, rumah yang terdapat lukisan, yakni lukisan makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan, dapat mencegah masuknya malaikat rahmat ke rumah kita. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

                Dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ               

“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat anjing dan lukisan.”[1]

    Dalam hadits lain, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ وَلَا جُنُبٌ

                “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat lukisan (gambar), anjing, dan orang yang junub.”[2]

                Malaikat apakah yang dimaksud di sini? Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

فَهُمْ مَلَائِكَة يَطُوفُونَ بِالرَّحْمَةِ وَالتَّبْرِيك وَالِاسْتِغْفَار ، وَأَمَّا الْحَفَظَة فَيَدْخُلُونَ فِي كُلّ بَيْت ، وَلَا يُفَارِقُونَ بَنِي آدَم فِي كُلّ حَال ، لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِإِحْصَاءِ أَعْمَالهمْ ، وَكِتَابَتهَا .

                “Mereka adalah malaikat yang berkeliling dengan membawa rahmat, berkah, dan pengampunan, sedangkan malaikat penjaga, maka mereka masuk ke setiap rumah, mereka tidak memisahkan diri dengan manusia dalam segala keadaan, karena mereka diperintahkan untuk menghitung amal manusia dan menuliskannya.”[3]

Berkata Imam Al Khathabi dalam Ma’alim As Sunan:

يُرِيد الْمَلَائِكَة الَّذِينَ يَنْزِلُونَ بِالْبَرَكَةِ وَالرَّحْمَة دُون الْمَلَائِكَة الَّذِينَ هُمْ الْحَفَظَة فَإِنَّهُمْ لَا يُفَارِقُونَ الْجُنُب وَغَيْر الْجُنُب .

                “Yang dimaksud malaikat di sini adalah malaikat yang turun bersama keberkahan dan rahmat, bukan malaikat penjaga, sebab mereka tidaklah menjauh baik kepada orang yang junub dan yang tidak junub.”[4]

                Lukisan atau gambar apa yang dimaksud?  Beliau juga berkata:

وَأَمَّا الصُّورَة فَهِيَ كُلّ مُصَوَّر مِنْ ذَوَات الْأَرْوَاح كَانَتْ لَهُ أَشْخَاص مُنْتَصِبَة ، أَوْ كَانَتْ مَنْقُوشَة فِي سَقْف أَوْ جِدَار أَوْ مَصْنُوعَة فِي نَمَط أَوْ مَنْسُوجَة فِي ثَوْب أَوْ مَا كَانَ ، فَإِنَّ قَضِيَّة الْعُمُوم تَأْتِي عَلَيْهِ فَلْيُجْتَنَبْ .

                “Ada pun lukisan yang dimaksud yaitu semua lukisan yang memiliki ruh, baik lukisan seseorang, atau ukiran pada atap rumah atau dinding, atau yang dibuat pada kain,  atau hasil tenunan pada pakaian, atau apa saja. Sesungguhnya dalam masalah ini dalil yang ada adalah umum, maka hendaknya dijauhi.”[5] 

          Dari keterangan ini maka lukisan bukan makhluk bernyawa, seperti lautan, pegunungan, kubus, dan lainnya dari benda-benda mati, tidaklah termasuk dalam hadits tersebut.

           Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعْ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ

                “Jika kau ingin melakukannya, maka buatlah pohon, atau apa-apa yang tidak bernyawa.”[6]

                Berikut adalah ulasan Syaikh Ali Ash Shabuni tentang patung dan lukisan yang diharamkan dan yang dibolehkan, dalam Kitab Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 334-335. Cet. 1, 2001M-1422H. Darul Kutub Al Islamiyah. Beliau menulis: 

📌Patung dan Gambar seperti apa yang Diharamkan?

Patung dan gambar yang diharamkan adalah sebagai berikut:

1. Patung berbentuk tubuh yang memiliki ruh (nyawa) seperti patung manusia dan hewan. Ini haram menurut ijma’ (konsensus/kesepakatan). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar, patung, dan orang junub.” (HR. Imam Bukhari)[7]

2. Gambar yang dibuat oleh tangan (melukis), berupa

bentuk yang memiliki ruh. Ini juga disepakati keharamannya.   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya pembuat gambar ini akan diazab pada hari kiamat. Diperintahkan kepada mereka, ‘Hidupkan apa-apa yang kau ciptakan.’ ” (HR. As Sittah)[8], juga hadits: “Barangsiapa yang membuat gambar, Diperintahkan untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut, dan dia tidaklah mampu meniupkannya.”[9]

3.Gambar yang bentuknya lengkap (sempurna), tidak ada yang kurang kecuali ruh saja, ini juga disepakati haramnya berdasarkan hadits-hadits sebelumnya, seperti: “Diperintahkan untuk meniupkan (memberikan) ruh pada gambar tersebut, dan tidaklah mampu untuk meniupkannya.” [10]

Juga hadits lain, dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku, saat itu aku mengenakan kain lembut yang bergambar, maka raut mukanya berubah, kemudian ia mengambilnya dan merobeknya. Lalu berkata, ‘Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang membuat hal yang serupa dengan makhluk Allah.’ “ ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu dan aku jadikan dua bantal, dan Rasulullah bersandar di atasnya.” [11]

                “Kemudian ia mengambil dan merobeknya” menunjukkan keharaman gambar. Lalu, dipotong oleh ‘Aisyah menjadi dua bantal sehingga gambar menjadi terbagi dan tidak sempurna, ini menunjukkan kebolehannya jika tidak sempurna. Dari sinilah para ulama menyimpulkan, bahwa gambar jika tidak lengkap (sempurna) tidaklah haram.

4. Gambar-gambar yang diagungkan, digantung (pajang-pamer) agar dilihat-lihat, maka ini juga haram tanpa diperselisihkan. Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dahulu ia punya kain yang memiliki gambar burung, jika ada orang masuk pasti akan melihatnya, maka RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhkan ini dariku, sebab tiap aku melihatnya membuat aku ingat dengan dunia.” (HR. Imam Muslim, lihat juga Tafsir Al Qurthuby dan Ahkamul Qur’an-nya Ibnul ‘Araby)[12]

Hadits dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ‘Aisyah berkata: “Nabi keluar pada hari peperangan, lalu aku mengambil namath ,  aku tutupi pintu dengannya. Ketika ia pulang, ia melihatnya, dan aku mengetahui adanya ketidaksukaan pada wajahnya, ia menariknya hingga terkoyak, dan bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk  membungkus batu dan tanah!” ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu, lalu aku jadikan dua bantal dan aku penuhi keduanya dengan sabut, aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, lihat Jam’ul Fawaaid, juz 1, hal. 825)[13]

📌Patung dan Gambar Apa  yang Dibolehkan? 

1. Setiap Patung atau gambar yang tidak bernyawa, seperti bentuk bangunan, sungai, pepohonan, pemandangan alam. Dan seluruh yang tidak memiliki ruh (nyawa). Maka tidak haram menggambarkannya, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu  terdahulu ketika ia ditanya seseorang, “Sesungguhnya akulah yang menggambar ini, berikan fatwamu untukku tentang hal ini?…” lalu Ibnu Abbas memberitahukan hadits nabi, lalu ia berkata: “Jika engkau ingin menggambar, gambarlah pepohonan, dan apa-apa yang tidak memiliki ruh.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)[14]

2.  Setiap gambar yang tidak utuh, seperti salah satu tangan misalnya, atau mata, atau kaki, maka itu tidak haram karena itu bukanlah gambaran makhluk yang sempurna. Ini sesuai hadits dari ‘Aisyah, katanya: “Aku memotongnya, lalu aku jadikan dua bantal, aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.”

3. Juga dikecualikan mainan (boneka) anak perempuan (la’ibul banaat). Telah ada berita yang pasti dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha  bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa ‘Aisyah ke rumahnya saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim, lihat juga Jam’ul Fawaaid)[15]

                Dari ‘Aisyah dia berkata, “Aku bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, s

aat itu aku memiliki sahabat yang bermain bersamaku, jika beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumah, sahabat-sahabatku malu kepadanya dan pergi, lalu beliau memangil mereka dan mendatangkan mereka untukku agar  bermain bersamaku lagi.”

                Berkata para ulama: Sesungguhnya dibolehkannya boneka anak-anak karena adanya kebutuhan terhadapnya, yaitu kebutuhan anak perempuan agar ia memiliki pengalaman dalam mengasuh anak-anak, namun tidak boleh terus menerus sebab dibolehkannya karena adanya kebutuhan tadi.[16] Serupa dengan ini adalah bentuk yang terbuat dari permen dan adonan kue. Ini adalah keringanan (dispensasi) dalam masalah ini.[17] Selesai kutipan dari Syaikh Ali Ash Shabuni. 

📌Bagaimana Hukum Fotografi?

       Tentang hukum fotografi (makhluk bernyawa) para ulama kita telah berselisih pendapat, ada yang mengharamkan karena itu termasuk keumuman hadits larangan untuk menggambar, kecuali untuk kebutuhan mendesak seperti KTP, Pasport, dan lainnya. Ada pula yang membolehkan selama isi fotonya adalah hal-hal yang baik, tidak diagungkan, bermanfaat untuk ilmu pengetahuan dan informasi. Namun, yang benar adalah kelompok kedua, sebab fotografi bukanlah menggambar atau melukis, melainkan bayangan manusia itu sendiri, sebagaimana bercermin. Jadi, sumber penyebab  perbedaan pendapat ini adalah perbedaan para ulama ini dalam mempersepsikan fotografi.

Berkata Fadhilatus Syaikh As Sayis: “Anda berharap mengetahui hukum fotografi, maka kami katakan, ‘Mungkin menurut anda hukumnya sama dengan hukum gambar di pakaian/kain, dan anda telah mengetahui ada nash yang mengecualikannya. Anda juga mengatakan, ‘Sesungguhnya fotografi bukanlah menggambar, tetapi menahan (merekam-pent) gambar, sebagaimana gambar di cermin, tidak mungkin anda mengatakan yang di cermin itu adalah gambar (lukisan), dan sesungguhnya itu satu bentuk (dengan aslinya).

                Apa-apa yang dibuat oleh alatut tashwir (tustel)  adalah gambar sebagaimana di cermin, tujuan dari ini adalah bahwa alat tersebut menghasilkan dengan pasti bayangan nyata[18] yang terjadi padanya (negatif film – klise), sedangkan cermin tidak seperti itu. Kemudian klise itu diletakkan pada zat asam tertentu, maka tercetaklah sejumlah gambar/foto (proses ini disebut cuci cetak-pent). Jelas ini secara hakiki  bukanlah menggambar. Sebab ini sekadar upaya memperjelas dan menampakkan gambar yang sudah ada, supaya tertahan dari sinar matahari langsung (agar tidak terbakar –pent). Mereka berkata: “Sesungguhnya seluruh foto yang ada bukanlah hasil dari pemindahan (gambar)  dengan perbuatan  sinar  dan cahaya, selamanya tidak ada larangan dalam memindahkan dan mengasamkannya, dan selamanya di dalam syariat yang luas ini foto itu dibolehkan, sebagaimana pengecualian gambar pada pakaian/kain, tidak ada dalil secara khusus yang mengharamkannya. Telah tampak bahwa manusia menjadikannya sebagai barang kebutuhan yang sangat penting bagi mereka.” (Ayatul Ahkam lis Sayis, Juz. 4, hal. 61) [19]

                Sementara Syaikh Ali Ash Shabuni sendiri cenderung mengharamkan fotografi, kecuali darurat kebutuhan. Beliau berkata:

Aku (Syaikh Ali Ash Shabuni) mengatakan, “Sesungguhnya fotografi tidaklah keluar dari prinsip larangan menggambar, tidak juga keluar dari apa-apa yang oleh ayat disebut  shurah(gambar/lukisan), dan orang yang membuatnya oleh bahasa dan tradisi disebut mushawwir(pelukis). Jika pun foto tidak termasuk yang dimaksud oleh ayat yang jelas ini -lantaran ia tidak dibuat langsung oleh tangan, dan tidak ada unsur penyerupaan terhadap ciptaan Allah- namun ia tidak keluar dari keumuman maksud dari pembuatan  gambar/lukisan (tashwiir). Maka hendaknya pembolehan foto dibatasi atas dasar kebutuhan mendesak (dharurah), dan karena jelas manfaatnya. Sebab, telah terjadi kerusakan besar yang dihasilkan oleh foto, sebagaimana keadaan majalah-majalah hari ini yang telah menyemburkan racunnya kepada pemuda-pemuda kita, sehingga lahirlah fitnah (bencana) dan kelalaian, di mana terpampang foto-foto bentuk tubuh wanita dan wajah-wajah mereka[20], dengan kepalsuan dan penampilan

yang merusak agama dan akhlak.

                Adapun foto-foto telanjang, pemandangan yang rendah dan hina, dan rupa-rupa yang membawa fitnah (kerusakan) yang terlihat pada majalah-majalah porno, di mana kebanyakan halamannya mengandung kegilaan, maka akal tidak ragu atas keharamannya, walau gambar tersebut bukan buatan tangan secara langsung, namun kerusakan dan bencana yang dihasilkannya lebih besar dibanding lukisan dengan tangan.

                Kemudian, sesungguhnya ‘Ilat (alasan) pengharaman foto  bukan karena ia  menyerupai dan menyamai makhluk Allah, tetapi karena adanya titik persamaan dengan jenis gambar yang telah diberi peringatan, yaitu bahwa watsaniyah (paganisme – keberhalaan) yang merasuki umat-umat terdahulu terjadi karena melalui jalan ‘gambar’. Di mana jika orang shalih mereka wafat, mereka membuat gambarnya (patung) dan mengabadikannya untuk mengingatnya dan mengikutinya. Kemudian datang generasi setelah mereka, menyembah patung tersebut. Maka apa-apa yang dilakukan manusia, menggantung foto  besar yang diberi perhiasan di dinding rumah, walau sekadar untuk kenang-kenangan, dan tidak dibuat dengan tangan (bukan lukisan), ini termasuk yang tidak dibolehkan oleh syariat. Karena, nantinya  berpotensi  untuk mengagungkannya dan menyembahnya, sebagaimana yang dilakukan Ahli Kitab terhadap para nabi dan orang-orang shalih mereka.[21]   

                Maka pemutlakan kebolehan foto dengan alasan ia bukanlah melukis melainkan menahan (merekam) bayangan. Seharusnya pembolehannya terikat yaitu  karena dharurat kebutuhan seperti foto identitas pribadi, dan semua hal yang berkaitan dengan maslahat dunia yang dibutuhkan manusia. Wallahu A’lam[22] Demikian uraian Syaikh Ali Ash Shabuni.

                Begitu pula pelarangan datang dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah yang diketuai saat itu oleh Al ‘Allamah Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah, kecuali untuk KTP, Pasport, Foto Penjahat, dan kebutuhan mendesak lainnya. Menurut mereka foto adalah sama saja dengan lukisan dan termasuk dalam keumuman larangan yang terdapat dalam hadits-hadits shahih. [23] Bahkan mereka menyebut termasuk dalam Al Kabaair (dosa besar).[24]

                Sementara itu, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengatakan:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي.

                “Ada pun fotografi maka itu boleh, dan tidak terlarang menggantungnya di rumah dan selainnya jika tidak mengundang fitnah, seperti foto wanita yang menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan, seperti bagian dada, betis, rambut, dan ini juga berlaku pada gambar televisi. Apa-apa yang terjadi di dalamnya seperti tarian, panggung, dan penyanyi wanita, semua ini adalah haram menurutku.”[25]

                Syaikh Jaad Al Haq Ali Jaad Al Haq Rahimahullah –mufti Mesir-  berkata:

  اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات .

ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات .

                “Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum foto,  antara yang mengharamkan dan memakruhkan, yang ditunjukkan oleh hadits-hadits nabi yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari pengarang kitab As Sunan, dan dituangkan dalam kitab-kitab fiqih.  Sesungguhnya foto manusia dan hewan yang sekarang kita kenal adalah tidak  mengapa, jika tidak dicampur dengan sikap  pemandangan untuk diagungkan, dimuliakan, dan diibadahi, dan juga tidak dicampuri dengan hal-hal yang menggerakan syahwat, menyia

rkan kekejian, dan segala hal yang diharamkan.

                Dari sini, bisa diketahui bahwa menggantungkan foto tidaklah mengapa selama bersih dari pengagungan, peribadatan, dan bukan termasuk gambar yang mengundang kefasikan, dosa, dan hal-hal yang diharamkan lainnya.”[26]   Demikian Syaikh Jaad Al Haq Rahimahullah.

                Tetapi, tidak menggantungkannya adalah lebih utama sebagai pencegahan pengagungan tersebut, walau itu foto  yang sopan dan orang shalih. Ini pun merupakan upaya keluar dari khilafiyah, dan keluar dari khilafiyah adalah afdhal untuk dilakukan.

                Asy Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan –setelah beliau membeberkan perbedaan pendapat para ulama tentang membawa tustel ke dalam Masjidil Haram:

والأولى للمسلم أن يخرج من الخلاف ويستبرئ لدينه وعرضه، ويدع ما لا تدعو إليه الضرورة أو الحاجة من الصور

                Paling utama bagi seorang muslim adalah dia keluar dari perbedaan pendapat ini demi menjaga kehormatan agama dan kehormatan dirinya, dan hendaknya dia meninggalkan apa-apa yang tidak mendesak dibutuhkannya, termasuk gambar-gambar.[27]

📌Bagaimana dengan televisi?

         Sebagian ulama ada yang tetap mengharamkan TVkarena menurut mereka gambar yang ada di dalamnya termasuk keumuman makna “gambar” yang dimaksud dalam hadits. Inilah pandangan Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Rahimahullah, dan yang mengikutinya.

                Sementara ulama lain menyatakan bahwa keharaman TV mesti dirinci, dengan kata lain TV bisa mubah, bahkan dianjurkan untuk dilihat, juga bisa haram, tergantung konten mata acara dan tampilan yang ada di dalamnya.  Selain itu,TV tidaklah sama dengan makna menggambar, melukis, dan mematung yang dimaksud dalam hadits. Sebab proses terjadinya TV dengan benda-benda tersebut juga berbeda.

 Para ulama dalam Al Lajnah Ad Daimah menyebutkan:

اما التليفزيون، فيحرم ما فيه من غناء وموسيقى وتصوير وعرض صور ونحو ذلك من المنكرات، ويباح ما فيه من محاضرات إسلامية ونشرات تجارية أو سياسية ونحو ذلك مما لم يرد في الشرع منعه، وإذا غلب شره على خيره كان الحكم للغالب.

                Ada pun TV, diharamkan jika di dalamnya terdapat nyanyian, musik, lukisan, dan semisalnya yang termasuk kategori kemungkaran. Dibolehkan jika didalamnya berisi tentang ceramah Islam, berita ekonomi, politik, dan semisalnya, yang memang tidak ada larangan dalam syariat. Jika keburukannya lebih banyak dibanding kebaikannya, maka hukumnya adalah hukum menurut yang paling dominan. [28]

                Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah juga berpendapat demikian. Berikut ini fatwa Beliau:

السؤال 36:ما حكم التلفزيون اليوم؟

الجواب: التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها} فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛ فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة، التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره، بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس فالعبرة بالغالب، فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.

Pertanyaan 36: Apa hukum Televisi?

          Tidak ragu lagi, TV saat ini adalah haram. Sebab, TV adalah adalah sebagaimana radio dan alat perekam (recorder), hal ini sama dengan lainnya adalah di antara nikmat-nikmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya, sebagaiman firmanNya: (jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya tidak akan terhingga), maka mendengar adalah nikmat, melihat adalah nikmat, dua bibir dan lisan adalah nikmat, tetapi banyak nikmat-nikmat ini justru membawa malapetaka bagi yang memilikinya, karena mereka menggunakannya bukan pada sesuatu yang Allah sukai untuk dipergunakan. Maka, TV, radio, recorder, saya menyebutnya sebagai nikmat, tetapi kapan semua ini menjadi nikmat? Yaitu ketika semua ini ditempatkan pada arah yang membawa manfaat bagi umat, TV hari ini 99 persen adalah kef

asikan, porno, nyanyian yang diharamkan, dan lainnya. Hanya satu persennya acara TV yang bisa diambil manfaatnya bagi sebagian manusia, dan hukum dinilai dari yang dominan.

                Jadi, ketika negara Islam yang sebenarnya sudah ada, dan mereka membuat program acara ilmiah yang bermanfaat bagi umat, maka saat itu bukan saja aku katakan TV itu boleh, tetapi aku katakan wajib. [29] Demikian fatwa Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah rahmatan wasi’ah.

                Kami kira pandangan mereka tentang TV adalah pandangan yang lebih tepat, bahwa keharaman TV bukan pada zatnya, tetapi materi acaranya.  Jika baik dan bermanfaat bagi agama dan dunia, maka tidak apa-apa bahkan mesti dilihat, seperti materi ceramah agama, kajian para ulama, pendidikan anak, informasi dunia Islam, dan semisalnya, jika tidak demikian, bahkan isinya  membawa kerusakan, baik yang ada pada sinetron, infotainment, konser musik, dan sejenisnya,  maka mesti dijauhi. Dan, hari ini acara TV umumnya memang penuh kerusakan, maka lebih sering mematikannya adalah lebih baik.

                Demikian. Wallahu A’lam

 🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari No. 3322, sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas (Shahih Bukhari No. 3225)  disebutkan: Shuuratu tamaatsil (gambar patung),  Muslim No. 2106

[2] HR. Abu Daud No. 227,  An Nasa’i No. 261,  Ahmad No. 1290, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4792, Al Hakim No. 611, Ibnu Hibban No. 1205.

Imam Al Hakim mengatakan shahih, dan Imam Adz Dzahabi menyepakatinya dalam At Talkhish. (Lihat Al Mustadrak No. 611).  Imam An Nawawi mengatakan jayyid (baik/bagus). (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/157)

Imam Al ;Iraqi mendhaifkannya. (Dhaif Abi Daud, 1/76).   Syaikh Al Albani juga mendhaifkannya. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No.227, Dhaiful Jami’ No. 6203, Dhaif At Targhib wat Tarhib No. 131), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga mendhaifkannya. (Ta’liq Musnad AhmadNo. 1290), tetapi  dalam sanad lain Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 4281. Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr mengatakan: “Penyebutan junub hanya ada pada hadits ini, dan ini tidak tsabit (kuat) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syarh Sunan Abi Daud, 23/252). Bahkan Syaikh Al Albani menyebut tambahan tersebut adalahmunkar. (Lihat Dhaif Abi Daud, 1/76). Al Hafizh Ibnul Qaththan Al Fasi mengatakan: “Isnad riwayat Muslim dan Bukhari lebih shahih dan tinggi.” (Al Hafizh Ibnul Qaththan Al Fasi, Bayan Al Wahm wal Iham fi Kitabil Ahkam, 2/138. Dar Thayyibah), yaitu yang tanpa menyebut “orang junub” seperti pada hadits pertama.

Persilisihan ini karena pada semua jalur terdapat perawi bernama Abdullah bin Nujayyindan ayahnya, yakni Nujayyin Al Hadhrami.   Imam Al Bukhari berkata tentang Abdullah bin Nujayyin: “fiihi nazhar – Padanya  ada yang perlu dipertimbangkan.” (Tarikh Al Kabir No. 690). Seperti itu pula yang dikatakan Imam Ibnu ‘Adi. (Mukhtashar Al Kaamil fidh Dhuafa No. 1058). Imam Al Uqaili memasukkanya dalam Adh Dhu’afa (orang-orang yang dhaif). (Adh Dhuafa, 2/312). Imam Asy Syafi’i mengatakan: majhul (tidak diketahui), Imam Ad Daruquthni juga mendhaifkannya. (Dhaif Abi Daud, 1/77)

Sementara Imam Al ‘Ijli mengatakan: tsiqah (terpercaya), dan dia termasuk tabi’in pilihan.  (Ma’rifatuts Tsiqaat, 2/64). Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqaat (No. 3695). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: shaduuq (jujur). (Taqribut Tahdzib No. 3664). Imam An Nasa’i mengatakan: “tidak apa-apa.” (Maghani Al Akhyar No. 1395)

Sementara ayahnya, Nujayyin bin Salamah Al Hadhrami, para ulama juga berselisih tentangnya. Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak membuatku senang berhujjah dengan riwayat darinya jika dia menyendiri dalam periwayatan.” (Ats Tsiqaat No. 5824). Imam Adz Dzahabi mengatakan: Layyin (lemah). (Al Kaasyif No. 5803). Dalam kitabnya yang lain, Imam Adz Dzahabi mengatakan: Laa yu’raf (tidak dikenal). (Al Mughni fi Adh Dhuafa No. 6601). Beliau juga berkata: Tidak diketahui siapa dia?” (Mizanul I’tidal No. 9019)

Imam Al ‘Ijli mengatakan: Kufi tabi’i tsiqah (orang kufah, generasi tabi’in, terpercaya). (Ma’rifatuts

Tsiqaat No. 1844). Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad mengatakan: dia maqbuul (bisa diterima), Abu Daud, An Nasa’i, dan Ibnu Majah telah mengambil hadits darinya. (Syarh Sunan Abi Daud, 2/172).

Demikianlah keadaan dua orang perawi yang membat berselisihnya para imam tentang kedudukan hadits ini. Wallahu A’lam

[3] Imam An Nawawi, Al Minhaj  Syarh Shahih Muslim, 14/84.  Imam Badruddin Al ‘Aini,Syarh Sunan Abi Daud, 1/506. Syaikh Abul A’la Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 8/72

[4] Imam Abu Ath Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 1/260. Juga Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/37

[5] Ibid

[6] HR. Muslim No. 2110, Ahmad No. 2810

[7] Demikian hadits yang tertera dalam kitab tersebut. Yang benar adalah dalam Shahih Bukhari tidak menyebutkan “orang junub” sebagaimana yang telah kami sebutkan pada bagian awal. Lalu, sebagian orang mengatakan, “Rasulullah mengharamkan patung, karena saat itu manusia imannya masih lemah, sehingga jika dihalalkan khawatir mereka kembali meyembah patung, tetapi setelah iman sudah kuat dan tak ada lagi yang menyembah patung dan kekhawatiran untuk menyembahnya,  maka tak ada alasan lagi patung diharamkan.”  Perkataan ini ada beberapa kesalahan. Pertama, 2,5 milyar manusia masih menyembah patung di India,  Cina, Thailand, Bali, dan lain-lain, baik itu pemeluk Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya. Kedua, patung diharamkan bukan karena alasan itu (faktor kuat atau lemahnya iman), tetapi karena patung (dan lukisan) adalah penyerupaan terhadap makhluk Allah ‘Azza wa Jalla, belum lagi alas an lain yakni tidak masuknya malaikat ke rumah yang ada patung, dan patung merupakan tempat bersemayamnya syetan –pent.

[8] Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

                Sesungguhnya para pembuat lukisan ini akan diazab pad ahari kiamat nanti, dan dikatakan kepada mereka: “Hidupkan apa-apa yang telah kamu ciptakan!” (HR. Bukhari No. 5951, Muslim No. 2108, Ibnu Majah No. 2151, dari ‘Aisyah, Ahmad No. 4475,  An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 5266, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 14331, dari ‘Aisyah. Ibnu Hibban No. 5845, dari ‘Aisyah, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 1489, dari ‘Aisyah, Abu Ya’la No. 4438, dari ‘Aisyah)

[9] Hadits tersebut dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

                Barangsiapa yang membuat sebuah gambar di dunia, maka akan dibebankan pada hari kiamat nanti untuk meniukan ruh pada gambaer tersebut, dan dia tidak bisa melakukannya. (HR. Bukhari No. 5963, Muslim No. 2110, At Tirmidzi No. 1751, Abu Daud No. 5024, Ahmad No. 1866,  6326, dari Ibnu Umar, No. 10549, dari Abu Hurairah. Lafaz ini milik Imam Al Bukhari)

[10] Lihat takhrijnya pada catatan kaki no. 9

[11]  ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُتَسَتِّرَةٌ بِقِرَامٍ فِيهِ صُورَةٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku, saat itu aku mengenakan kain lembut yang bergambar, maka raut mukanya berubah, kemudian ia mengambilnya dan merobeknya.Lalu berkata, ‘Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang membuat hal yang serupa dengan makhluk Allah.’ (HR. Muslim No. 2107, 91)

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata:

فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

                 Maka aku memotongnya dna menjadikannya sebuah atau dua buah bantal. (Muslim No. 2107, 92)

[12] ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كَانَ لَنَا سِتْرٌ فِيهِ تِمْثَالُ طَائِرٍ وَكَانَ الدَّاخِلُ إِذَا دَخَلَ اسْتَقْبَلَهُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَوِّلِي هَذَا ف

َإِنِّي كُلَّمَا دَخَلْتُ فَرَأَيْتُهُ ذَكَرْتُ الدُّنْيَا

                Kami memiliki kain tabir yang terdapat gambar patung burung. Dia terletak di dalam yang jika kami masuk maka kami akan menghadapnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku: “Jauhkan aku dari ini, sesungguhnya setiap kali saya masuk maka saya melihatnya, dan membuat saya teringat dnegan dunia.” (HR. Muslim No. 2107, 88, Ahmad No 24218, Ibnu Hibban No. 672, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6100, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 9775)

[13] ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

سَأُحَدِّثُكُمْ مَا رَأَيْتُهُ فَعَلَ رَأَيْتُهُ خَرَجَ فِي غَزَاتِهِ فَأَخَذْتُ نَمَطًا فَسَتَرْتُهُ عَلَى الْبَابِ فَلَمَّا قَدِمَ فَرَأَى النَّمَطَ عَرَفْتُ الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهِ فَجَذَبَهُ حَتَّى هَتَكَهُ أَوْ قَطَعَهُ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ قَالَتْ فَقَطَعْنَا مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ وَحَشَوْتُهُمَا لِيفًا فَلَمْ يَعِبْ ذَلِكَ عَلَيَّ

                Aku akan sampaikan kepada kalian perbuatan apa yang aku lihat, aku melihatnya pergi pada hari peperangannya. Lalu aku mengambil namath (kain permadani bergambar dengan beragam warna) dan aku menutup pintu dengannya. Ketika Beliau pulang, Beliau melihat kain tersebut dan aku tahu ada ketidaksukaan pada wajahnya, lalu Beliau mencopotnya hingga merobeknya atau membelahnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita  untuk membungkus batu dan tanah.” ‘Aisyah berkata: “Aku memotongnya dan menjadikannya dua bantal, aku penuhi keduanya dengan sabut, dan Beliau tidak mencelaku berbuat demikian. (HR. Muslim No. 2107, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 14363)

[14] Lihat takhrijnya pada cat kaki no. 6

[15] Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ وَلُعَبُهَا مَعَهَا وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa ‘Aisyah ke rumahnya saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim No. 1422, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 5570, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20772, Abu ‘Uwanah No. 4271, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No.10349, Abu Nu’aim dalamMa’rifatush Shahabah No. 6745)

[16] Artinya ketika si anak perempuan  telah beranjak remaja dan seterusnya, ia tidak dibenarkanlagi memainkannya. Sebab ia telah keluar dari kategori al banaat (gadis cilik), pent.

[17] Tidak hanya itu, tetapi juga bentuk manusia, hewan, atau robot-robotan  berukuran sangat kecil yang terbuat dari plastik atau karet yang biasa dimainkan juga oleh bocah laki-laki, atau gambar kartun, bahkan Syaikh Yusuf Al Qaradhawy memuji kartun-katun Islami untuk kepentingan da’wah Islam dalam rangka mengimbangi kartun-kartun jahili. Juga patung untuk keperluan ilmu pengetahuan, yang menggambarkan  anatomi tubuh. Ini semua juga diberi dispensasi (keringanan) sesuai kebutuhannya saja, pent.

[18] Dalam Ilmu Fisika kita ketahui bayangan ada dua, yaitu bayangan nyata dan maya, fotografi dan cermin adalah bayangan nyata, pent.

[19] Syaikh Ali Ash Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 337

[20] Syaikh Ali Ash Shabuni termasuk ulama yang berpandangan bahwa wajah wanita adalah aurat, wajib ditutup (cadar), itu juga pendapat para ulama di Saudi Arabia seperti  Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan,  ulama Mesir seperti  Syaikh Said Ramadhan Al Buthi (Ulama dari siria), atau para ulama di India seperti Syaikh Abul A’la Al Maududi.  Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa wajah wanita bukan aurat seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawy, Syaikh Muhammad Al Ghazali,  Syaik Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan para ulama di Al Azhar University.

[21] Orang Kristen biasa menggantung lukisan Yesus Kristus di tembok rumah mereka, maka wajib bagi seorang muslim untuk berbeda dengan mereka!

[22] Syaikh A

li Ah Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz, 2 , Hal. 337

[23] Fatawa Al Islamiyah, 4/460

[24] Fatawa Al Lajnah Ad Daimah No.  2151

[25] Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz. 4, Hal. 224.
 
[26] Fatawa Al Azhar, Juz. 7, Hal. 220

[27] Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 35983

[28] Fatawa Al Lajnah Ad Daimah No. 4513

[29] Fatawa Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani No. 36

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Riba..

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
rumah saya mau dibeli sama tetangga saya yg rencananya pakai KPR bank konvensional. Alasannya krn bank tersebut sudah kerjasama dgn perusahaan tempat istrinya bekerja.
Saya udah coba jelaskan kalau bisa cash atau KPR syariah saja.
Kalau casenya seperti ini apakah saya bisa terkena riba Mas?
Mohon petunjuknya 😊

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Pembiayaan apapun dari bank konvensional sudah pasti riba. Sudah ada fatwa dari berbagai ulama di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali fatwa dari MUI bahwa bunga bank adalah riba yg haram, fatwa no 1 tahun 2004 tentang bunga. Dan riba sudah pasti hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar yg sangat dimurkai Allah Swt.

Maka tinggalkan riba, dan beralih saja ke bank syariah. Jika kantor tdk bisa fasilitasi, datang saja langsung ke bank syariah utk meminta pembiayaan. Insya Allah jika persyaratannya memenuhi, akan mudah mengurusnya di bank syariah.

Wallahu a’lam.

Kenapa?

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Mau bertanya :
Knp ada orang yg mendapat hidayah, tp ada jg yg tdk?
– Knp ada orang yg tdnya taat beribadah, tp di akhir hidup malah gemar berbuat maksiat?
– Knp ada yg gemar berbuat maksiat, tp diksh hidayah?
– Tp kenapa ada jg yg gemar berbuat maksiat, tetapi tdk dapat hidayah hingga akhir hidupnya?
Apa yg membedakan ke-3 nya?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Perumpamaannya
1. Seperti orang yg sedang nonton tv X, knp dia dapat channel x? Krn dia sdh memutar dan dapat channel x

2. Seperti penerimaan  siswa baru sekolah”Bintang” biasanya menjelang penerimaan murid baru, pihak sekolah suka pasang spanduk. Brosur. Presentasi, promosi,.dll lalu siapa yg jadi muridnya

Mereka adalah siapa saja yg sengaja datang mendaftar, ikut tes ,membayar uang administrasi dan sesuai tatib sekolah. Setelah itu barulah ia disebut siswa baru “sekolahBintang”

Demikian juga dengan hidayah Allah. Allah sebagai Rob  menunjukan af’al(perbuatan ) nya hal tersebut dapat kita lihat dan kita rasakan keberadan Allah dan pada tahap ini semua orang mengakui.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
( Qs. Surat Luqman : 25 )

Lantas siapa yang dapat hidayah, yang dapat hidayah adalah mereka yg punya mata hati. Mereka yg mendatangi  Allah, berusaha hidup sesuai aturan Allah. Hidup dan mati hanya untuk Allah. Ikhlas.

HADITS KEEMPAT

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا                             

[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1.     Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.

2.     Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.

3.     Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

4.     Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.

5.     Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.

6.     Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.

7.     Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

Yang membedakan semua adalah kualitas keikhlasan mereka dalam menjalani hidup.dan kehidupan

Disaat seorang hamba datang beribadah kpd Allah, menjadikan Allah sbg satu satu nya ilah maka tauhid seperti ini dinamakan tauhid uluhiyatullah. Ditahap inilah seseorang dapat hidayah atau tidak tergantung  bi idznillah. Ini mutlaq hak prerogatif Allah., Rasulullah saw pun tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang Rasul cintai. Dan ini ditegaskan Allah disaat Rasul mendesak pamannya Abu thalib  untuk masuk islam disaat saat akhir krhidupannya, begitu Rasul sangat menginginkan keislaman pamannya shg terkesan memaksa, karena itu turunlah firman Allah sebagaj pengingat dan penegas.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
( Qs. Surat Al-Qashash : 56 )

Meskipun demikian yakinilah bahwa Allah tidak dzolim kpd hambanya

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”
( Qs. Surat Yunus : 44 )

Wallahu a’lam.

Pembiayaan Syariah vs Konvensional

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….
Tanya kang, aku pernah utang di bank syariah ternyata prosedur dan prosesnya sama jg ada perhitungan bunga trus syariahnya di mana kang? Syukron. #i-11

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bank syariah tidak ada bunga sama sekali, dan hal tersebut terlihat dari beberapa aspek ;
1. Dan dalam SoP nya tidak boleh masukkan unsur bunga apapun dalam semua produknya, baik penghimpunan dana (tabungan, giro dan deposito), maupun penyaluran dana (pembiayaan konsumtif maupun produktif).

2. Secara operasional bank syariah diawasi oleh dewan pengawas syariah, yang apabila bank melakukan praktek yg menyimpang, maka akan menjadi objek temuan dan teguran keras oleh DPS.

3. Bank syariah juga diawasi oleh OJK dan DSN MUI yg apabila melakukan praktik yg menyimpang dari aspek syariah, maka bank akan mendapatkan teguran keras bahkan bisa saja izin syariahnya dicabut.

Maka bisa jadi ada persepsi yg ‘salah’ baik dari pihak petugas bank yg salah menjelaskan, maupun pihak nasabah yg ‘salah’ dalam memahami prinsip2 pembiayaan dalam perbankan syariah.

Secara garis besar, dapat digambarkan pembiayaan bank syariah sebagai berikut ;
Pembiayaan konsumtif, umumnya menggunakan akad jual beli. Seperti jual beli rumah, kendaraan, maupun objek lainnya. Umumnya bank membeli dahulu rumah/kendaraan yg dibutuhkan nasabah secara cash dari developer/daeler,  lalu setelah itu bank menjualnya kepada nasabah bersangkutan dengan pembayaran cicilan. Bank boleh mengambil keuntungan dari penjualan objek tsb. Misalnya bank membeli rumah Rp 500 juta secara cash daru developer, lalu kemudian menjualnya secara cicil selama 5 tahun sejumlah Rp 750 juta.
Akad jual beli seperti ini adalah umumnya digunakan di bank syariah, istilahnya adalah murabahah.

Jadi, insya Allah di bank syariah bebas riba hanya saja mungkin konunikasinya yg perlu diperbaiki dari kedua belah pihak.

Wallahu a’lam.