Karena Allah

Semua Tentang Cinta

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Ketika ibu menyayangi anaknya.
Ketika ayah menafkahi keluarganya.
Ketika kakak menjaga adiknya.
Dan ketika saudara memberikan perhatiannya.
Semua berkisah tentang cinta.

Kala angin bertiup sepoi-sepoi lembut.
Kala air mengalir tanpa menyurut.
Kala hujan membasahi rumput.
Dan langit cerah tanpa awan yang menggelayut.
Itu semua tentang cinta.

Saat berbagi perhatian dengan pasangan.
Saat bahagia dalam persahabatan.
Saat rela berkorban untuk apa yang diperjuangkan.
Dan saat hati berlabuh di dermaga harapan.
Semua ada karena kekuatan cinta.

Bersebab cinta persaudaraan makin terdekatkan.
Bersebab cinta persahabatan makin tereratkan.
Dan bersebab cinta hati yang beriman makin terikatkan.

Bila ada rasa ingin menjaga.
Bila ada hasrat ingin bersua.
Bila ada asa meraih cita.
Dan bila ada semangat membara.
Begitulah jiwa-jiwa yang sedang mencinta.

Namun….
Bijaklah bersikap agar perilaku tetap beradab.
Berhati-hatilah dalam meletakkan supaya diri tak terjatuh dalam kenistaan.
Tak pernah salah tentang cinta
Terkadang kitalah yang tak menempatkan secara semestinya

Cinta bukan soal salah benar.
Tapi bagaimana cinta memposisikan cinta yang benar
Iman pun tak memudar.
Pribadi yang baik pun tak akan tertukar.
Bahkan kesempatan emas akan terhampar
Bagi pecinta sejati karena Allah yang Maha Besar
Allahu Akbar

Dan aku pun mencintai kalian wahai sahabat Surgaku karena Allah semata.
Begitu pun apa yang sedang kujalani akan aku cintai pula.

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Malu dan Iman

Kemana Perginya Rasa Malu Itu?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Bila malu telah tiada dari diri kita entah kerusakan apa yang akan terjadi di muka bumi ini. Sangatlah memprihatinkan keadaan manusia-manusia di akhir zaman ini. Malu tiada lagi menghiasi, memgendornya penjagaan atas diri, dan sikap pun tak mencerminkan akhlak islami.

Banyak bertutur tak berlandas syariat
Ada bergaul lawan jenis pun tak mengenal sekat.
Bercanda ria pun dengan saling mendekat.
Tanpa disadari terbukalah peluang untuk bermaksiat.

Hati……
Hati…..
Dan hati…..
Jagalah hati dengan berawal menjaga lisan dan perbuatan serta pandangan kita.

Berawal dari manakah semuanya itu?
Apakah benar beralasan bahwa sekarang era keterbukaan sementara kita tak lagi mengenal asholah dakwah?
Kita mulai meninggalkan apa yang seharusnya kita tetap pegang teguh.
Nilai-nilai rabbaniyah sedikit demi sedikit bergeser.

Bahkan perkembangan era teknologi yang membuat segalanya bisa saja terjadi.
Akhwat nampak jelita nan shalihah meminta no HP ikhwan dan berkata salam kenal yaa akhi???
Begitu sebaliknya……
Istighfar.

Berawal dari hal biasa akhirnya menjadi luar biasa.
Banyak orang akan berdalih, itu wajar, itu manusiawi.
Tapi jika prinsip islami menjadi warna dalam tapak langkah pejuang dakwah niscaya keburukan mampu untuk dihindari.

Semua berawal dari hilangnya rasa malu.
Dan perlulah kita sadari bahwa malu itulah iman yang seharusnya menjadi akhlak kita.

Nabi bersabda,

ุงู„ุญูŠุงุก ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู‚ุฑู†ุง ุฌู…ูŠุนุง ูุฅุฐุง ุฑูุน ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฑูุน ุงู„ุขุฎุฑ

โ€œRasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.โ€ (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian โ€˜shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jamiโ€™ Shaghir, no. 1603)

Rasa takut kepada Allah mencegah kerusakan sisi batin seseorang. Sedangkan rasa malu dengan sesama berfungsi menjaga sisi lahiriah agar tidak melakukan tindakan buruk dan akhlak yang tercela. Karena itu orang yang tidak punya rasa malu itu seakan tidak memiliki iman. Nabi bersabda,

โ€œDi antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.โ€ (HR. Bukhari)

Jangan biarkan rasa malu tergerus oleh nafsu kita. Lantaran malu itu seiring dengan iman.
Bertambahnya rasa malu seperti itulah sejatinya bertambah pula iman kita.

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

larangan melihat aurat orang lain

Pendidikan Seksual Pada Anak dan Remaja

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Secara umum fase kehidupan manusia bermula dari kelahiran atau ketika masih balita kemudian fase anak-anak yakni ketika mereka berada di sekolah dasar. Setelah fase anak-anak orang pada umumnya mengenal fase remaja. Tapi dalam sejarah kenabian lebih tepat dengan istilah pemuda. Tapi apa pun istilahnya yang pasti ada sebuah fase antara anak-anak menuju dewasa.

Biasanya fase remaja ini antara usia 11-21 ditandai dengan mulainya baligh. Untuk perempuan dengan mulai menstruasi dan laki-laki dengan mimpi basah. Atau istilah lain adalah The Ten Years. Masa sepuluh tahun.

Mengenali perubahan dari anak-anak ke remaja atau pemuda. Sejumlah pakar mencatat akan terjadi lonjakan kondisi kejiwaan pada mereka. Beberapa tandanya antara lain:

1. Adanya keinginan untuk menyendiri atau mengisolasi diri. Dia lebih memilih teman yang dipercaya. Kita amati di sekitar ketika masa baligh tiba, dia akan cenderung dengan satu atau dua orang yang bisa memberinya ruang untuk berekspresi. Karena hanya dengan teman dekatnya merasa bisa mencurahkan apa yang dirasakannya.

2. Enggan beraktivitas atau malas melakukan sesuatu. Pada masa ini kecenderungan untuk melawan perintah orang tua muncul. Ada masa melawan dan mungkin saat ini kita kenal dengan istilah mager.

3. Mudah merasa bosan dan tak nyaman. Mereka ingin melakukan banyak kegiatan tapi terkadang tidak tahan lama atau kurang optimal sehingga mudah berganti dengan kegiatan lain.

4. Mulai menolak dan membangkang. Memang tidak mutlak keadaan ini maka sebagai orang tua harus mempersiapkan secara optimal di masa anak-anak dengan pembentukan karakter yang kuat dan memberikan lingkungan yang baik.

5. Kondisi yang terkadang mudah memuncak. Mereka sebenarnya sedang beradaptasi dengan kondisi gejolak jiwanya. Mungkin banyak waktu untuk mendengarkan luapan perasaannya dan sedikit nasihat saja untuk mereka.

6. Lebih memperhatikan masalah biologis. Ada jerawat satu dipikir, wajahku menarik tidak, sering bercermin, memikirkan penampilan. Dan sebagainya.

Hal di atas hanya sebagian ciri-ciri yang bisa kita deteksi. Masih banyak ciri lain yang terkadang munculnya tidak sama tergantung latar belakang bentukannya sejak dalam kandungan.

Berkaitan dengan pertumbuhan sexual atau kita sebagai orang tua memberikan pendampingan ketika banyak perubahan pada diri ananda di masa-masa baligh menjadi hal penting bagi kita. Sehingga kehati-hatian akan ada di masa depannya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua ketika mendampingi ananda.

1. Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

2. Membudayakan adab-adab pandangan dan membiasakan izin kepada orang tua.

3. Mengatur hubungan di dalam rumah antara anak laki-laki dan perempuan.

4. Mengajarkan konsistensi menutup aurat.

5. Mengajarkan cara mandi wajib kepada mereka.

6. Meminta anak tidak malu menceritakan apa yang dialami sehingga ada arahan dari orang tua.

7. Selalu mengontrol apa yang dilihat anak-anak di media baik bacaan atau tayangan media elektronik.

8. Mengisi kekosongan waktu dengan hal bermanfaat seperti berbincang ringan sembari memberikan nilai-nilai positif. Juga menceritakan bahayanya ketika tidak bisa menjaga diri baik-baik.

9. Mengingatkan tidur dengan adab sesuai Sunnah.

10. Berusaha menciptakan suasana ibadah di rumah. Seperti gerakan Maghrib mengaji. Kultum bersama dll.

11. Membangun harapan dalam jiwa anak tentang masa depannya.

12. Mendoakan anak agar terhindar dari fitnah dunia baik yang nampak maupun tersembunyi.

13. Mengingatkan kepada anak tentang hari akhirat sehingga gemar beribadah.

14. Memberikan keteladanan secara nyata di rumah.

15. Mencarikan lingkungan yang baik dan memantau dengan siapa mereka berteman serta berkegiatan.

Demikian secara singkat yang bisa dilakukan oleh orang tua semoga kita bisa membimbing anak-anak kita meraih keberhasilannya di masa dewasa serta meraih keselamatan hingga surga.

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Perjalanan Menuju-Mu

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
dan dia kembali kepada keluarganya yang Sama-sama beriman dengan gembira. ”
QS. Al-Insyiqaq ; 84 : 6 – 9

Apa sesungguhnya yang kita cari?
Dari pagi hingga petang
Dari fajar hingga malam menjelang
Kerja keras dan banting tulang

Kadang penat yang melunturkan semangat
Kadang lelah yang membuat hati gundah

Mengisi hari dengan kesibukan kadang buat kita lupa akan wajibnya sebuah amalan.
Mengawali hari tanpa doa dan harapan hingga sia-sia sepanjang perjalanan.

Tiada guna jalani hidup tanpa tujuan.
Tak mendapati ridla dari pemilik kehidupan.
Lantas apa yang kita dapatkan.
Tak bernilai pahala dari yang kita kerjakan.

Mari mulai meluruskan niat dalam amalan.
Hingga apa yang kita kerjakan bisa menjadi bekalan.
Untuk menempuhi kehidupan yang berkekalan.
Berkumpul di surga bersama orang-orang yang beriman.

Bila hati diliputi rasa cinta
Cukuplah hanya pada Sang pencipta
Bila jiwa dibalut rasa taqwa
Hanya Allah yang jadi tujuan utamanya.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Penduduk Langit dan Bumi Mendoakan Pengajar Kebaikan

Jalan Menuju Surga

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Menjadi produktif begitulah sejatinya seorang muslim. Selalu berpikir apa yang harus dilakukan agar keridhaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Ada ide kreatif dan inovatif sehingga melahirkan karya-karya fenomenal. Atau dari apa yang dilakukan menjadi pahala yang akan membawanya tinggal di surga.

Muslim produktif itu tidak kenal lelah, mereka pantang menyerah, bahkan merelakan kepentingan pribadinya hanya untuk mendahulukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga akan menjaga kewaspadaan bahwa Allah mengawasi segala tindak tanduk yang kesehariannya.

Sering kita merasakan tubuh penat, lelah bahkan untuk beranjak saja berat. Apakah perlu untuk mengeluh? Tidak! Karena perlu disadari bahwa rasa lelah yang mendera itulah sejatinya aroma semerbak surga. Mari kita berbincang tentang lelah yang akan membawa ke Jannah.

1. Bekerja keras di jalan Allah. Ketika kita sudah dewasa maka tanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga harus ada. Memenuhi kebutuhan diri, sehingga fisik terjaga kesehatannya dan ada jaminan untuk keberlangsungan hidupnya menjadi keniscayaan. Apalagi ketika punya keluarga. Nafkah harus diberikan. Maka setiap kita bekerja untuk pemenuhnnya. Kelelahan seperti ini menjadi alasan surga kita dapatkan.

Artinya: โ€œBarangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.โ€ (HR. Thabrani).

2. Berdakwah untuk menyampaikan kebenaran. Berdakwah ilallah. Menyampaikan kebenaran hingga merasakan lelah ini jelas sekali. Lebih tepatnya bisa disimpulkan bahkan setiap langkah di jalan dakwah tak lain sedang melangkah menuju surga.

Nabi SAW bersabda, โ€œSesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.โ€ (HR. Turmudzi).

3. Beribadah kepada Allah. Penghambaan diri kita kepada Allah denga banyak cara hingga kita merasakan lelah. Ketika lama betilawah, ketika shalat malam, shalat Sunnah dan apa saja. Beribadah adalah sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah hingga kepayahan kita rasakan.

Nabi mengatakan,

ู…ุง ู…ู† ู…ูƒู„ูˆู… ูŠูƒู„ู… ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจู…ู† ูŠูƒู„ู… ููŠ ุณุจูŠู„ู‡ ุฅู„ุง ุฌุงุก ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆูƒู„ู…ู‡ ูŠุซุนุจ ุฏู…ุง ุŒ ุงู„ู„ูˆู† ู„ูˆู† ุงู„ุฏู… ุŒ ูˆุงู„ุฑูŠุญ ุฑูŠุญ ุงู„ู…ุณูƒ

โ€œTidak ada seorangpun yang terluka di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya (yakni yang jujur dan ikhlas)-, kecuali dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah, dan aromanya aroma kasturi (misk).โ€ (HR. Tirmidzi)

4. Menuntut Ilmu dan mengajarkannya. Diwajibkan atas muslim untuk menuntut ilmu. Bersusah payah memahami ilmu itulah jalan ke surga. Seperti diisyaratkan dalam hadits.

Kata Nabi, Man Salaka Thoriiqon Yaltamisu Fiihi Ilman Sahhalallahu Lahu Thoriiqon Ila Al Jannah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.

5. Mengajak orang untuk masuk barisan dakwah.
Dalam QS An Nahl 125 Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kita punya kewajiban mengajak orang lain untuk masuk ke dalam barisan dakwah sehingga semakin banyak pasukan yang akan meninggikan kalimat Allah.

.6. Membimbing keluarga agar tertarbiyah islamiyah. Kita perlu menjaga keluarga kita untuk berada di jalan kebenaran. Memberikan bimbingan terbaik. Karena bahagia itu tak hanya ingin dirasakan di dunia tapi hingga surga.

Dalam surat An Nisa ayat 9, Allah berfirman”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

7. Hamil dan meyusui. Seperti apa lelahnya? Masya Allah laa quwwata Illa Billah. Tak terbalas jasa ibu tentang hal ini.

Rasulullah SAW bersabda, โ€œKetika seorang perempuan menyusui anaknya, Allah membalas setiap isapan air susu yang diisap anak dengan pahala memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail, dan manakala perempuan itu selesai menyusui anaknya maka malaikat pun meletakkan tangan ke atas sisi perempuan itu seraya berkata, โ€˜Mulailah hidup dari baru karena Allah telah mengampuni semua dosa-dosamu.โ€™โ€

8. Lelah orang yang kelelahan dan sakit. Insya Allah setiap rasa sakit akan dikurangi dosa manusia dan tentu balasan surga akan diraihnya. Telah menjadi ketetapan dari Allah SWT bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami sakit dan musibah selama hidupnya.

Allah SWT: โ€œDan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan โ€˜Inna lillaahi wa innaa ilaihi rojiโ€™uunโ€™. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk โ€. (QSa al-Baqarah : 155-157)

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Dakwah Hidup Tambah Berkah

© Jika bukan karena dakwah ini, mungkin diri ini adalah seorang hamba yang mudah berputus asa dan mudah berkeluh kesah. Berbagai ujian hadir dalam langkah-langkah perjalanan hidup ini. Ketika tak kuasa untuk bertahan di jalan ini, tiba-tiba ingatan akan kisah para shahabat Rasul di medan dakwah yang tidak sekedar keletihan, bahkan mereka harus kesakitan sampai harus mati bersimbah darah pun justru menjadi pilihan.
▪Mereka adalah manusia-manusia pilihan, perindu syahid yang pantang menyerah. Kami pun tersadar dari lamunan bahkan masih teringat kisah Anas bin Nadhr dalam perang uhud. Teriaknya: ”Surga…. Surga…. aku mencium bau surga di kaki bukit uhud.” dengan semangat membara dia terjang lawan sampailah pada kematiannya di medan juang. Inilah sepenggal kisah perang Uhud yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin. Tak terasa air mata menetes, seolah kami hadir dan menyaksikan teriakan Annas. Keimanan yang kuat yang tertanam dalam hati para sahabat yang membuat mereka tak gentar meski musuh menghadang.
® Kehidupan di dunia sangat sebentar jika dibanding dengan kehidupan akhirat yang tiada batas. Banyak ulama yang menggambarkan kehidupan di dunia dengan mencelupkan jari telunjuk kita ke dalam air laut dan air yang menempel pada jari kita itulah usia kehidupan kita di dunia. Dan air yang tersisa di lautan yang luas adalah ibarat kehidupan akhirat yang tanpa batas.
▪Lantas bekal apa yang akan kita bawa? Hanya amal yang kita lakukan yang mampu menolong kita untuk melintasi shirathal mustaqim. Dan dakwah adalah amalan yang terbaik karena di dalamnya terdapat amal jariyah yang senantiasa mengalir sampai dunia ini tutup usia. Dengan dakwah hidup kian berkah.  Waktu kita hanya sedikit, bila demikian masih berapa lagi waktu kita tersisa agar kita mendapatkan cinta-Nya, hidup bersama-Nya? Berharap rahmat Allah selalu tercurah agar hidup berjumpa jalan yang mudah.
© Bismillahi tawakaltu ‘alallah la haula wa laa quwwata illa billah….
Wallahul musta’an

Hidup Akan Hampa

© Kehidupan tanpa takbir akan terasa fakir. Kehidupan tanpa Al-Fatihah akan terasa susah. Kehidupan tanpa ayat-ayat terasa makin menyayat. Kehidupan tanpa ruku’ akan semakin terpuruk. Kehidupan tanpa I’tidal akan terasa mengganjal. Kehidupan tanpa sujud akan terasa carut marut. Kehidupan tanpa salam akan terasa kelam.

▪Tanpa shalat diri mudah bermaksiat. Tanpa doa diri merasa hampa. Tanpa munajat hidup makin sesat. Tanpa sabar kan banyak nafsu yang diumbar. Tanpa syukur kan jadi hamba-hamba yang kufur. Tanpa dzikir diri kan tergelincir.

® Ada tasbih kala hati merintih. Ada tahlil kala diri merasa terkucil. Ada tahmid kala harus merasakan sakit. Ada takbir kala hidup merasakan yang getir. Itulah kalimah thayibah yang senantiasa menjadikan hidup ini berkah

▪Bila lisan dan hati tak pernah usai untuk mengingat Allah, jiwa ini kan senantiasa ternaungi cahaya Ilahi. Langkah pun senantiasa menuju jalan kebenaran yang hakiki.

© Maka jauhkan diri dari kelalaian, niscaya hidup kan terselamatkan. Jauhkan diri dari keburukan, niscaya hidup kan raih kemuliaan.

▪Ingatlah Surga telah menanti hingga diri tak lagi terlena oleh duniawi. Ingatlah Surga kan jadi tempat tinggal maka segeralah untuk mengumpulkan bekal.

“Kemudian sesungguhnya, Tuhanmu mengampuni orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya,
kemudian mereka bertobat setelah itu memperbaiki dirinya, Sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : 125)

Wallahul musta’an

Mari kita Melek Politik

© Meski bukan praktisi politik namun setidaknya mengerti dan memahami seperti apa sejatinya politik. Mungkin dulu juga sempat mengikuti arus yang mengatakan bahwa politik itu kotor. Namun seiring usia dan bertambah wawasan maka sedikit merenung sejatinya yang kotor bukan politiknya namun yang membawakannya atau tidak lain adalah mereka yang berkecimpung di dalamnya.
▪Politik tak lain berarti kebijakan atau politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Ketika mengambil makna dari seorang Yunani bukan berarti pula kita mengikuti paham barat. Coba sedikit buka wawasan ada beberapa bahasa yang diambil dari para penjajah seperti kata antara itu dari kata entere, sepatu dari kata sapato dari bahasa portugis, bahkan banyoo itu juga berarti air dalam bahasa spanyol. Apalagi yang diserap dari bahasa Belanda yang nyata-nyata 350 tahun lamanya menjajah seperti kata coklat, atlet dan lain-lain. Dan masih banyak lagi. Apa lantaran setelah kita tahu bahwa banyak bahasa yang diadopsi dari para penjajah akan kita nafikan keberadaannya? Silakan!
® Nah bahasa dari mana saja bisa diadopsi untuk menambah kosa kata dan kekayaan literasi. Menjadi orang yang cerdas akan menjadikan diri pribadi yang berkelas. Tidak hanya sekedar menuruti pemahaman yang sempit. Butuh membuka wawasan seluas-luasnya dan membangun jaringan dengan banyak kalangan.
▪Deal-deal politik di masa Rasulullah juga ada jika menilik makna dari kata tersebut. Ketika Rasulullah mengajak masuk Islam, ketika beliau mempimpin umat juga ketika melakukan musyawarah untuk menuju kebaikan itu juga bagian dari kerja politik.
© Kita di Indonesia akan melakukan Pilkada serentak tak lain dalam rangka sebagai upaya untuk mencapai kebaikan bersama untuk bangsa ini. Agar keadilan tercipta, kesejahteraan terwujud dan masih banyak yang ingin diraih dalam rangka untuk menjadikan negeri ini lebih bermartabat.
▪Seorang penyair dan dramawan Jerman yang bernama bertolt brecht berkata; “Buta terburuk adalah buta politik.
Orang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat dan semuanya tergantuk sikap politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “Aku Benci Politik!”  Sungguh bodoh dia, yang tidak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan dan yang terburuk adalah korupsi dan perusahaan multidimensional yang menguras kekayaan negeri.
▪Kita melihat sendiri saat kepemimpinan yang tak berpihak pada umat Islam apa yang terjadi? Banyak ulama yang ditangkapi, umat Islam yang lurus akan dibully, yang benar dicaci maki, sementara yang menyimpang diberi simpati dan dilindungi.
® Apakah kita ingin keadaan lebih buruk lagi dari yang sudah terjadi? Suara lawan utuh untuk memberi dukungan sementara umat Islam tercerai berai bahkan ada yang memilih untuk Golput. Lantas ketika harga melambung tinggi, hutang negara tak terkendali, kesengsaraan rakyat semakin menyesak tiada terperi. Lantas apa kita hanya diam saja.
▪Saudaraku mari kita relakan diri untuk membantu perjuangan yang sudah dimusyawarahkan. Kita buang ego diri untuk membantu untuk memenangkan Pilkada ini. Semoga Allah merahmati dan mengaruniakan kemuliaan hingga akhir hayat nanti.
© Semoga Allah beri kemenangan Pada Pilkada esok hari 27 Juni 2018.
#2019gantipresiden
Wallahul musta’an

Keteladanan Kunci Suksesnya Pendidikan

© Dalam proses pendidikan anak ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua. Mendidik mereka tak cukup menyampaikan materi yang kita baca tapi kita pun melaksanakannya.

▪Kita tentunya sudah tahu bahwa kunci pendidikan adalah keteladanan. Dengan mengambil referensi dari buku Tarbiyatul Aulad karya Ustadz Abdullah Nashih Ulwan ada beberapa hal yang harus kita cermati sebagai orang tua.

1. Lisanul Hal afshahu min lisanul Maqal. Bahwa keteladanan dari perilaku orang tua jauh lebih manjur bila dibandingkan dengan ucapan saja. Semisal kita suruh anak shalat dengan meneriaki akan merasa kesulitan meskipun suara kita sudah mengeras bahkan dengan membentak sekalipun. Mengapa tidak kita lakukan dengan kita berwudhu dan mengajak shalat bersama. Mengusapnya, menyentuhnya sebagai bentuk dari ajakan.

2. Attarbiyah bil muta’ah. Kita harus mendidik dengan pengawasan. Kita tidak hanya melepas begitu saja sekiranya anak kita sudah sekolah di tempat yang baik. Belum sepenuhnya karena pendidikan yang utama adalah tanggung jawab utama dipikulkan pada pundak orang tua. Maka wajiblah kita mengawasi mereka.

3. At Tarbiyah Bin Nashihah. Mendidik dengan nasihat. Mendidik anak dengan kalimat-kalimat berhikmah untuk membentuk pribadi yang shalih. Kita ajak mereka berdialog penuh kenyamanan. Sikap tubub dan bahasa lisan mampu membentuk kepribadian mereka. Maka hiasi hari-hari dengan saling berbincang tentang kebaikan.

4. At Tarbiyah bil ‘aadah. Mendidik anak dengan kebiasaan. Hal yang baik bisa kita contohkan. Orang tua itu potret pertama bagi anak. Apa yang dilakukan oleh mereka para orang tua di rumah dan kebiasaannya itulah yang akan ditiru. Bahkan semangat mengikuti agenda dakwah menjadi contoh juga bagi anak-anak kita. Dan tentunya masih banyak lagi adat kebiasaan di rumah yang ditiru oleh anak-anak kita.

5. At Tarbiyah bil hadiah wa Uqubah. Mendidik dengan hadiah, penghargaan dan iqab atau hukuman. Tentu saja hadiah bukan sembarang hadiah. Hadiah bisa berupa pujian yang membangun rasa percaya dirinya. Atau bisa juga dengan barang-barang sederhana yang bagi mereka cukup membahagiakan. Menyenangkan anak tidak harus mahal. Bahkan membangun suasana kebersamaan dengan jalan-jalan atau makan di luar bersama juga bisa.

Untuk hukuman juga bukan serta merta berupa tindakan yang berat. Tapi lebih pada yang sifatnya mendidik agar mereka semakin memahami kaidah yang menjadi ketentuan agama ini. Selain itu juga perlu alasan yang bijak untuk disampaikan kepada anak-anak tentang hukuman yang diberikan agar mereka mengerti. Seperti halnya Luqman Al Hakim berkata: “Jangan menyekutukan Allah, karena itu sebuah kedzaliman yang besar.

® Seperti inilah proses pendidikan anak yang kita harapkan bisa meneruskan perjuangan dakwah ini.

Telah Kujual Diriku Untuk Allah

لَاتَسْأَلُوْنِيْ عَنْ حَيَاتِيْ. فَهِيَ أَسْرَارُ الْحَيَاةِ. هِيَ مِنْحَةٌ هِيَ مِنْحَةٌ. هِيَ عَالَمٌ مِنْ أُمْنِيَاتْ. قَدْ بِعْتُهَا لِلَّهِ ثُمَّ مَضَيْتُ فِيْ رَكِبِ الْهُدَاةِ.

​​(Janganlah engkau tanya tentang jalan hidupku. Di jalan ini terdapat rahasia kehidupan. Ia adalah karunia sekaligus ujian. Ia adalah dunia cita-cita. Aku telah menjual hidup ini kepada Allah, kemudian aku berlalu bersama pemberi petunjuk….)​​

▪Sungguh potongan nasyid indah dari para pejuang Ikhwanul Muslimin. Syair ini dibuat kala mereka tersandung oleh banyaknya ujian yang menguji ketegaran jiwa dalam menegakkan kalimat-Nya.

® Dakwah nampak dari kejauhan selayaknya gunung yang tegak berdiri serta nampak indah dari kejauhan. Seolah warna membiru oleh biasan langit menambah pesona keindahannya. Banyak manusia yang ingin melihat dari dekat bahkan menempuhi perjalanannya.

▪Tak dinyana, di balik keelokannya banyak jurang yang siap menjerumuskan, jalan pun berkelok dan menanjak yang membuat kita harus kuat dalam menapakinya. Nafas kita pun akan terengah-engah, tubuh juga berpeluh, terkadang udara yang semakin dingin akan menusuk tulang belulang.

® Tak banyak yang sanggup menjalani namun tak sedikit yang memiliki mental pejuang sanggup untuk terus berjalan hingga puncaknya.

▪Selayaknya dakwah. Terpaan ujian yang semakin berat dan kian berat kala perjalan ini mendekati puncak. Fitnah dan mighnah saling beriringan. Dalam keadaan ini para pejuang harus semakin meyakini kebenaran nash Ilahi.

© Jalan dakwah telah membeli kita dan membayar dengan Surga. Jalan dakwah telah meminta bahwasanya setiap helaan nafas akan menghadirkan makna. Dan jalan dakwah mengajarkan kita agar menjadi pribadi yang kian memesona.

▪Selayaknya penjual,  kita seharusnya bergegas memperbaiki keadaan diri, keadaan hati untuk Allah semata. Begitulah pribadi yang akhirnya terbeli untuk tegaknya kalimat suci di muka bumi ini.

® Jangan pernah mudah merasa lelah, karena semua kan berupah. Kalau pun tidak terbayar di dunia, tak apalah karena Allah akan menggantinya dengan Surga.