Biarlah Allah yang Menyelesaikan Skenario Nya

📝Ustadzah Bunda Rochma Yulika

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🍃Keterbatasan diri, mengerti apa yang akan terjadi mengajarkan kepada kita untuk menyandarkan segala urusan hanya pada Ilahi.

Iman mendidik kita agar kita yakin bahwa apa yang ada di kemudian hari Allah senantiasa datangkan banyak kemudahan.

Meski begitu kita pun harus siap apabila kenyataan hadir tak sama dengan apa yang menjadi harapan.

Tabiat kehidupan selayaknya pergantian siang dan malam mengisyaratkan pada kita seperti itulah sunatullahnya.

Bergantinya nikmat dan ujian justru menjadikan setiap mukmin belajar menikmati setiap rasa yang dipergilirkan.

Ridla akan ketetapan Nya.
Tabah jalani takdir Nya.
Tegar tapaki titah Nya

Iman mengajarkan tentang bagaimana kita bersyukur kala ujian melanda.

Bagaimana tidak bersyukur, saat-saat sulit itulah kesempatan kita sampaikan harap.

Ketika Allah merindukan hamba Nya.
Allah mengirimkan kado istimewa untuk hamba Nya melalui malaikat Jibril yg isinya adalah UJIAN.

💧Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman: “Pergilah pada hamba Ku lalu timpakan berbagai ujian biar Aku mendengar rintihannya” HR Thabrani dari Umamah

💧Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:”Tidaklah suatu perkara yang menimpa seorang muslim baik berupa kelelahan, penyakit, gangguan orang lain, kesedihan yang mendalam, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR. Bukhari no. 5641 & Muslim no. 2573]

💦Apa pun kenyataan yang kita hadapi yakinlah bahwa Allah pemilik skenario terindah.
Tak ada kemadharatan dari setiap rencana bagi hamba Nya.

💦Kewajiban kita menerima dengan lapang dada dari kenyataan yang ada di depan mata.

Tersenyumlah dan hati akan mengikutinya.
Hiburlah diri dengan karunia-karunia yang pernah kita rasakan sebagai wujud kemurahan Nya

💦Maka bersyukurlah….
Rasa syukur senantiasa ada di hati hamba-hamba yang mau bertafakur.
Bila karunia hadir tak akan ada hati yang takabur.
Hidup pun jauh dari sifat kufur.
Perjalanan hidup pun senantiasa tertata dan teratur.
Hingga akhirnya sepi sendiri di alam kubur.

💧“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Harta = Kebaikan

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ – سورة العاديات: 8

“Sesungguhnya manusia sangat bakhil karena kecintaannya terhadap hartanya.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8)

Ayat ini berbicara tentang sebuah kenyataan tentang tabiat manusia secara umum terkait dengan hartanya. Yaitu bahwa manusia sangat cinta terhadap hartanya.

Ada pula yang menafsirkan bahwa kecintaannya terhadap harta, mendorong manusia untuk bersifat bakhil, enggan mengeluarkannya di jalan Allah.

Yang menarik dari ayat tersebut adalah bahwa Allah menyebutkan harta dengan ungkapan (الخير) yang secara harfiah artinya ‘kebaikan’.

Para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud ‘kebaikan’ dalam ayat di atas adalah harta.

Begitu pula kata yang sama untuk makna yang sama terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 180.

💧Abu Bakar Al-Jazairi mengatakan bahwa harta disebut dengan istilah ‘kebaikan’ berdasarkan urf  (kebiasaan), maksudnya sudah dikenal di tengah bangsa Arab bahwa yang dimaksud (الخير) adalah harta, juga karena dengan harta akan dapat dilakukan berbagai kebaikan jika dikeluarkan di jalan Allah. (Tafsir Muyassar, Al-Jazairi)

Dari sini setidaknya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya harta secara langsung bukanlah ‘sumber keburukan’, meskipun kenyataannya banyak manusia yang tergelincir karenanya.

Maka, enggan mencari harta dengan alasan agar tidak tergelincir bukanlah jawaban yang tepat, bahkan bisa jadi itu menjadi sebab ketergelinciran dari pintu yang lain.

Karena, banyak juga keburukan yang terjadi akibat kekurangan harta.

Namun yang harus diluruskan adalah sikap kita terhadap harta, bahwa dia bukanlah tujuan dan sumber kebahagiaan itu sendiri, tapi sarana untuk mendapakan kemuliaan dalam kehidupan dan merelisasikan kebaikan untuk meraih kebahagiaan.

Dengan paradigma seperti ini seseorang akan semangat berusaha meraih harta dan menyalurkannya dengan cara yang halal.

Bahkan dalam surat Al-Araf ayat 32, Allah mengisyarat kan bahwa tujuan Dia menciptakan harta (perhiasan dunia) pada hakekatnya adalah untuk orang beriman.

Maka, ‘cinta harta’ atau ‘mengejar harta’ tidak dapat secara mutlak dikatakan buruk.

Sebab, selain cinta harta memang dasarnya adalah fitrah, diapun dapat menjadi pintu kebaikan yang banyak selama digunakan dengan benar.

💧Imam Bukhari meriwayat kan dalam Al-Adabul Mufrad-nya, dari Amr bin Ash, dia berkata,

“Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menemuinya dengan membawa perlengkapan pakaian dan senjata. Maka aku datang menghadap beliau saat beliau sedang berwudhu, lalu dia memandangiku dari atas hingga bawah. kemudian berkata,
“Wahai Amr, aku ingin mengutusmu dalam sebuah pasukan, semoga Allah memberimu ghanimah dan aku ingin engkau mendapatkan harta yang baik.”

Maka aku berkata, “Sungguh, aku masuk Islam bukan karena ingin harta. Tapi aku masuk Islam karena Islam dan aku dapat bersama

Rasulullah saw.” Maka Rasulullah saw bersabda,

يا عَمْرو ، نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ

“Wahai Amr, sebaik-baik harta, adalah milik orang yang saleh.”

Ucapan Rasulullah saw ini setidaknya memberikan dua pesan kepada kita;
Semangat membina diri agar menjadi orang saleh dan
Semangat berusaha agar menjadi orang kaya…

Abdullah bin Mubarak suatu hari menjamu makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,

لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ

“Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya tidak akan  berdagang….”
(Siyar A’lam An-Nubala..)

Wallhua’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Teruslah Melaju Untuk Menjemput Harapan

Pemateri: Ust. Umar Hidayat, M.Ag

Jalan-jalan menuju harapan akan dilalui dengan penuh kesabaran, begitulah tabiat orang beriman.
Mereka meyakini bahwa jalan yang dilalui bagian dari skenario Ilahi.
Sampainya pada harapan tak sedikit kan bertemu dengan ujian yang akan semakin menangguhkan.

Sebelum Allah memberikan kemenangan, sebelum Allah memberikan kemuliaan, yang tidak diberikan kecuali kepada orang-orang mulia yang Allah pilih, karena telah teruji, dan jujur dalam jihadnya.

Mungkin kita tidak menyadarinya kalau sesungguhnya kita sedang meniti jalan menuju kemuliaan. Allah telah menyediakan bilik surga yang khusus disediakan untuk para hambaNya yang lolos ujian.

Mungkin kita pernah mengalami masa-masa sulit ketika kita sedang bersenandung ikhtiar dalam kebaikan?

Sebaliknya menjadi aneh,
ketika kita dengan ringan kaki begitu mudahnya bila bersentuhan dengan keburukan.

Sebagai muslim, tentu kita meyakini kebenaran akan janji Allah SWT dalam Al Qur’an yang menyatakan,

“Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan”.

Dia nyatakan itu sampai diulang dalam QS 94:5-6.

Pengulangan bukan lantaran Allah tidak bisa dipegang janjinya, tetapi justru dengan cara Allah ingin membesarkan hati manusia ketika bersahabat dengan kesusahan dan kesulitan.

“Man Jadda, wa jada”;

siapa yang tekun penuh kesungguhan pasti ia berhasil, demikian salah satu peribahasa Arab yang kita dengar sejak kita masa kanak-kanak.

Tekun yang berarti kita sejatinya kita merenda semua potensi dan kemampuan yang dimiliki secara maksimal untuk mengatasi segala rintangan dengan kerja keras dan kerja cerdas secara optimal terus-menerus.

Sunatullah yang boleh jadi sering kita alami. Semakin kita tekun, semakin banyak kemudahan dan energi positif yang menyebar pada lingkungan. Ya sebut saja sebagai “keberuntungan”.

Jadi, mari kita biasakan bercermin pada suara hati, karena dia yang paling jujur.

Bukankah saat kita melakukan semua tindakan kebaikan dengan sepenuh hati, termasuk mengatasi berbagai ujian yang merintanginya, segalanya menjadi begitu nikmat dan indah, bukan?

Dan, sebaliknya saat kita melakukan berbagai tindakan keburukan, ada suara hati yang sesungguhnya menolak, bukan?

Hasrat jiwa yang menggelora untuk membersamai anugerah akal dan hati secara maksimal demi kebaikan akan terasa menggetarkan diri, demikian pesan seorang ahli tasawuf.

Getaran ini bakal mampu menggerakkan berbagai tindakan nyata dalam kehidupan, terlebih lagi saat kita mampu menaklukkan segala yang merintanginya.

Keep spirit!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Berteduh Di Jalan Ilahi

Ustadzah Rochma Yulika

Bila kita teguh berjalan di atas jalan kebenaran, niscaya Allah tak kan menyia-nyiakan apa yang kita lakukan sesedikit jua.

Walau kadang harus merasakan sakit semua akan sirna, gundah tak lagi menyesakkan, luka tak lagi merintihkan, kelelahan mampu diabaikan.

Bila kedukaan makin menghebat, ujian dirasa semakin dahsyat, dan nafsu semakin mengajak kepada jalan yang sesat. Maka teruslah berjuang untuk mengelolanya hingga menjadi pribadi yang kuat.

Semua kerugian yang kita rasakan, keletihan dan apa saja akan berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan kemuliaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berkata,”Aku, Surga dan tamanku ada di dalam dadaku, kemana pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah. Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah (jalan-jalan)

Sadari dan renungi bahwa setiap ujian yang bertandang itu selayaknya tamu, ia akan datang namun tak lama pun jua akan segera berlalu.

Kita perlu syukuri kala kita ditimpa musibah atau pun ujian sementara kita berada dalam ketaatan. Coba saja kita ingat banyak diantara mereka yang tinggal dalam kemewahan sementara mereka berada dalam kemaksiatan.

Hendaknya kita sama-sama merenungkan perkataan bijak dalam kitab sha’id al khatir, Ibnul Jauziy yang sedang mengadu kepada Rabbnya,

“Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya aku berkhalwah dengan Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada Mu. Betapa lembutnya diriku kala Engkau jadikan ciptaan Mu berlaku dzalim kepadaku.

Ah….
Sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada Mu, begitu pun waktu yang berlalu bukan dalam ketaatan kepada Mu.

Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak lagi menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hari itu tidak lagi melukaiku.

Aku tidak tahu bahwa diriku yang mati rasa ini dikarenakan sakit yang dahsyat. Kini hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah dapat merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sehat.

“Siapa yg menyerahkan Jiwanya untuk hidup demi agamanya (ISLAM) maka ia akan melalui hari-harinya dalam kelelahan,
Akan tetapi ia akan hidup dan mati dalam kemuliaan.”

(Syaikh Ahmad Yasin)
Wahai dzat yang Maha Agung anugerahnya, sempurnakanlah kesejahteraan bagi diriku.” Aamiin

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Menyegarkan Kembali Tema Silaturrahim

Oleh: Ustadz DR. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Islam adalah agama kasih, agama yang dibangun dengan kasih sayang, agama yang diturunkan untuk melahirkan kasih dan cinta, agama yang hadir untuk memuliakan manusia.

Maka menjadi fahamlah mengapa seluruh ajaran Islam mengandung dorongan untuk mengasihi setulus hati tanpa henti hanya untuk meraih ridho Ilahi Rabbi.

Silaturrahim sejatinya berasal dari dua akar kata, silah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang.

Istilah rahim juga berarti tempat janin bertumbuh, sebelum dilahirkan, sehingga menjalin tali kasih sayang kepada orang-orang dzu rahim, yang memiliki hubungan nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak,  mendapatkan prioritas lebih utama, dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.

Secara bahasa,
tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang, istarhama berarti meminta rahmat,
rajulun aw imra’atun rahumun berarti laki-laki atau wanita penyayang.

Islam diawali dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan kedua sifat ini adalah bagian takhalluq umatnya untuk juga mampu melahirkan sifat Kasih dan Sayang.

Islam yang dibangun di atas pondasi tauhid, meng-Esa-kan Allah, meng-Ahad-kan Allah, tidak menjadikan sesembahan selain Dzat Tuhan yang Satu (Ahad atau Esa), tidak berprilaku Syirik kepada yang Satu itu sebagai bagian adab dari hablun min Allah, ternyata kemudian mendorong umatnya untuk mempererat hubungan masyarakat dalam sistem Rabbani untuk melahirkan persatuan, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara manusia tanpa pernah sekalipun dalam bab hablun min an-nas, Islam memisahkan antara Muslim dan Non-Muslim, karena hakikat Islam adalah menjadi Kasih untuk Semesta Alam.

Sementara di dunia, kedudukan manusia bercampur mulai dari orang tua, kerabat sanak saudara, yatim, miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, sahabat sejawat baik dalam sebuah perjalanan maupun tidak, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan hamba sahaya, atau juga para asisten yang menghabiskan banyak waktunya untuk membantu manusia yang lain (Lihat Q.S. An-Nisa/4:36).

Rasulullah Saw dalam banyak khutbahnya sentiasa mengawali diantaranya dengan mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah, berdo’a dengan asma-Nya, dan memelihara hubungan Silaturrahim (Lihat Q.S. An-Nisa/4:1).

Kehadiran Nabi Saw melahirkan standar-standar suatu kebaikan dan kebenaran dalam Islam, standar-standar yang akan membawa pemeluknya ke Surga (Jannah), standar-standar yang akan membawa kebaikan kehidupan di dunia menuju Akhirat kelak. Muslim kemudian diingatkan bahwa ber-Islam berarti yakin, ibadah, dan amal shalih. Kehilangan satu dari tiga unsur tersebut menyebabkan kehilangan pondasi iman pada dirinya.

Tidak berhenti pada mengingatkan akan pentingnya menghidupkan Silaturrahim, Nabi Saw kemudian menjelaskan ragam aspeknya, kualitasnya, memberikan keteladanan, dan mengingatkan umatnya untuk tidak pernah sekali-kali meninggalkannya, apalagi memutuskannya!

Di saat Allah Swt memerintahkan manusia untuk menyambung silaturrahim (lihat Q.S. Ar-Ra’d/13:21), Dia juga menjanjikan umatnya yang bersabar dalam menjalankan perintah ini kelak mendapatkan salam penghormatan di Surga ‘And (salaamun ‘alaikum bimaa shabartum, fa ni’ma ‘uqbaddaar).

Prioritas silaturrahim kemudian dihadirkan yaitu menjaga hubungan baik dengan orang tua (lihat Q.S. Al-Isra/17:23-24), dilanjutkan dengan saudara-saudara orang tua, dan teman-teman karibnya.

Kebiasaan manusia menjaga sifat kasih dan sayangnya, akan melahirkan sebuah karakter bahkan akhlak yang terinternalisasi dengan baik sebagai ciri unik seorang Muslim kaffah, Muslim yang mampu menjaga semangat kasihnya tidak saja kepada manusia yang ada di sekitarnya, namun juga manusia yang berada jauh dari penglihatannya, seperti mereka yang mendapatkan ujian kehidupan di Rohingya, Palestina, Mesir, CAR, dan negeri-negeri lainnya, karena silaturrahim tidak mengenal sekat-sekat wilayah, persis seperti pesan Nabi Saw untuk sentiasa memberikan perlindungan dan hak kekerabatan kepada bangsa Mesir.

Manusia yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, ia pasti mencintai silaturrahim. Manusia yang mencintai silaturrahim di atas pondasi Iman kepada Allah, dijanjikan Surga, sebaliknya yang senang memutuskan silaturrahim, dijanjikan Neraka. Maka ar-rahmu tetap bergantung di ‘Arsy, bereaksi kepada bagaimana cara manusia berkasih sayang kepada sesamanya.

Maka fahamilah mengapa Rasulullah Saw memberikan posisi yang mulia kepada mereka yang berinisiatif memulai terlebih dahulu untuk menyambung tali silaturrahim yang terputus atau bahkan diputus secara menghinakan oleh saudaranya, karena dalam hal ini, fokus manusia hanya kepada berlomba-lomba berbuat kebajikan bukan menahan egoisme yang akan meruntuhkan martabatnya di hadapan Allah Swt.

Muslim disebut beriman kepada Allah dan Hari Akhir jika ia mampu memberikan yang terbaik untuk saudaranya, sekali lagi tanpa melihat suku, agama, ras, dan adat istiadat, ketika mereka bertamu, menjadi tetangga, dan menjadi relasi bisnis, dan mengajarkan untuk pintar menggunakan kata-kata yang terbaik yang enak didengar sebagai hak sesama manusia.
Islam hanya memberikan pandusan skala prioritas dalam sebuah amal shalih.

Tatkala manusia diberikan perlakuan yang buruk, Islam juga mendorong umatnya untuk membalasnya dengan cara yang lebih baik, sehingga tiba-tiba antara keduanya yang sebelumnya bermusuhan menjadi sahabat sejati nan-setia.

Begitu banyak kemuliaan silaturrahim, maka janganlah sekali-kali manusia memutuskannya bahkan senang dan berbahagia di atas pemutusannya, karena perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat dibenci.

Memutuskan tali silaturrahim disejajarkan dengan keburukan membuat kerusakan di muka bumi (lihat Q.S. Muhammad: 22-23), dan kepada mereka dijanjikan tempat kembali yang buruk (lihat Q.S. Ar-Ra’d:25).

Terkadang manusia menjauhi sahabatnya yang senang mengingatkannya dalam kebaikan padahal itulah di antara sahabat yang paling prioritas untuk ia jadikan sahabat sejati, sahabat yang akan bersamanya di kala duka.

Terkadang manusia menjauhi keluarganya untuk mendapatkan kesenangan hidup, padahal hanya keluarganya yang sentiasa siap menjaganya tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Maka demikian juga kepada Dzat yang Menciptakan manusia, adalah lebih pantas bagi manusia untuk menunaikan amanah-Nya untuk menjaga kerusakan bumi ini, di antaranya disebabkan ditinggalkannya kasih dan sayang di atas tali silaturrahim, sehingga lahirlah permusuhan dan kebencian, padahal pada saat itu kalangan syaithan sedang tertawa-tawa di atas kebodohan manusia yang tidak mengetahui rahasia dan keutamaan menyambung tali silaturrahim.

Hadanallaahu wa iyyaakum ajma’in.

 (supraha.com)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bila Pohon Semakin Meninggi

Penulis : Ustadzah Rochma Yulika
Serial motivasi diri di jalan Ilahi (1)
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan angin yang merobohkannya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan hujan menderas yang kan menghanyutkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, akan bersua dengan teriknya matahari yang akan mengerontangkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan badai yang akan memporak-porandakannya
Namun menjadilah pohon yang tak hanya meninggi namun harus menghunjam kan akarnya agar tak mudah ditumbangkan, meski sedahsyat apapun kekuatan yang akan menyerangnya. 
Akar yang menghunjam itulah iman yang teguh, keyakinan yang penuh totalitas sehingga apa pun yang terjadi tak pernah lepas dari kehendak Allah. 
Batangnya yang kokoh dan menjulang tinggi menunjukkan ketangguhan dan kekokohan prinsipnya yakni untuk menegakkan kalimatullah. 
Itulah pohon yang baik. 
Kala meninggi hadirkan keteduhan dan kebermanfaatan bagi orang banyak. 
Daunnya pun semakin rimbun hingga hadirkan sepoi-sepoinya angin.  
Mari kita kuatkan motivasi dan azam  dalam bekerja mengusung amanah maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. 
Dalam kondisi yang sulit, kita masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan iman dan niat kita hanya untuk Allah. 
Pelajaran yang bisa dipetik adalah…..
Terkadang kesuksesan kita itu menjadi sandungan bagi orang lain. 
Keberuntungan-keberuntung an yang kita dapatkan dari Allah bisa membuat orang lain tidak rela. Entah apa pun namanya
Namun perlu disadari bahwa yang namanya angin, hujan, badai, terik matahari adalah sunatullah. Dan semua pasti akan berlalu. 
Kesabaranlah serta kesyukuran yang menjadi penjaga hati kita agar tetap melangkah tanpa terjeda sedikitpun. 
Asshobru minassayajaah… Sabar itulah wujud dari keberanian kita dalam menghadapi masalah. 
Begitu pula ungkapan syukur yang akan semakin meninggikan derajat kita di hadapan Allah. 
Allah telah berfirman: “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3).
Sebuah keberuntungan bila diri kita menjadi terpilih melalui berbagai ujian. Karena itulah jembatan yang akan mengantarkan kita menuju surga. 
Skenario Allah kadang tidak kita pahami lantaran keterbatasan kita sebagai manusia. 
Jika manusia mau menyadari bahwa Rasulullah mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bermaksud: 
“Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan.”
 
Masya Allah, Walhamdulillah, 
Wallahu Akbar,
Wallahu musta’an. 
Biarlah Allah yang atur skenario terbaiknya hingga beri keajaiban. Insya Allah.
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Teruslah Berjuang Kawan, Kezaliman Harus Dilawan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Jika musuh makin kuat memerangimu,
Tak ada jalan lain kecuali kau Tambahkan kekuatan juangmu….
Selain itu adalah kekalahan!

Jika mereka dengan berbagai macam cara memerangi dakwah.
Kau akan dapatkan berbagai macam cara utk membelanya.

Kezaliman tidak punya nafas panjang…
Karena itu, yang sangat mereka takutkan adalah perlawanan yang punya nafas panjang…

Jangan pernah berhenti..!

Bergembiralah jika dapatkan mereka yang marah melihat dusta dan kezaliman,

Berhati-hatilah jika dapatkan mereka yang senyum penuh intrik dan permusuhan.

Jika kau marah dengan kezaliman dan dusta, pertanda akal dan jiwamu masih sehat.

Yang sakit, adalah mereka yang marah dengan kemarahanmu….

Jangan harap musuhmu habis…
Berharaplah agar semangatmu tidak habis

Jangan harap musuh berhenti….
Berharaplah agar perjuangnmu tak berhenti.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Mukmin Yang Kuat

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Materi hari ini VIDEO Motivasi, silahkan buka di link berikut:

https://youtu.be/o0OIAOW3ZTE
—————————-

Alhamdulillah Allah pertemukan kita di majelis ilmu, majelis yang mudah-mudahan menjadi indikasi bahwa Allah SWT menghendaki kita menjadi muslim yang baik.

Hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.

Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.

Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168); an-Nasâ-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 626, 627); at-Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsâr (no. 259, 260, 262); Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 356).

Kehidupan kita adalah perjuangan kita.

Agar kita mampu berjuang, agar kita eksis dalam kehidupan, maka kita harus memiliki kekuatan.

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Meskipun keduanya baik, tapi yang kuat lebih baik dari yang lemah.

Bagaimana agar kita menjadi mukmin yang kuat? Mampu menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan dan mampu mengemban semua kewajiban ibadah dan dakwah yang Allah dan Rasulullah SAW berikan?

Rasulullah memberikan tips:

Berusahalah untuk selalu melakukan sesuatu yang beramanfaat.
Bermanfaat bagi kehidupan kita baik di dunia apalagi akhirat.

Jadi, jangan biasakan waktu dan potensi kita habis terbuang percuma melakuakn hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang sia-sia.

Jangankan melakukan hal-hal yang haram, hal-hal tidak bermanfaatpun sedapatnya kita hindari.

Jangan habiskan waktu kita hanya untuk nongkrong, bicara tanpa guna, hanya menghabiskan waktu kita di depan televisi berjam-jam untuk menonton sinetron. Itu semua tidak ada manfaat nya.

Lebih baik kita gunakan untuk membaca, belajar ilmu agama, atau lakukan bersilturrahim, mengambil ilmu dan nasihat dari ulama, itu akan jauh lebih manfaat.

Setiap melakukan kegiatan selalu tanyakan apakah ini ada manfaatnya atau tidak.

Selanjutnya Rasulullah SAW menyampaikan tips berikutnya:

Mintalah pertolongan dari Allah SWT. Mintalah petunjuk dan bantuan dari Allah. Sebab segala sesuatunya ada di tangan Allah.

Dialah yang menetapkan, yang menentukan. Jangan sampai kita hanya bersandar dan berpangku tangan pada usaha dan ikhtiar manusia saja.

Ikhtiar di perintahkan, tapi selanjutnya sebagai seorang muslim, kita harus memasrahkan hasilnya kepada Allah. Mohon kepada Allah SWT agar tiap usaha kita diberikan hidayah, taufik dan kemudahan dan jalan keluar.

Kemudian, jangan engkau merasa lemah.

Ini masalah mentalitas dan watak manusia. Dimana kadang seringkali langkah-langkah kebaikan kita terhalang oleh perasaan dan mentalitas bahwa kita tidak mampu, lemah dan tidak akan berhasil.

Yakini bahwa tidak ada yang Allah perintahkan, perbuatan baik yang menjadi tuntutan untuk kita lakukan, selain kita masih dapat melakukannya.

Sebab Allah mengatakan tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan atau di bawah kemampuannya.

Jadi sering kali kita tidak bisa berbuat baik bukan karena kita tidak punya tenaga, bukan karena tidak punya kemampuan…

Tapi sering kali itu semua terjadi karena kita tidak punya KEMAUAN.

Ingin ngaji, baca Al Quran, turut berdakwah, kita tidak melakukannya karena merasa tidak mampu, PADAHAL kita MAMPU.

Disinilah pentingnya motivasi dari dalam diri selalu kita bangun.
Maka jangan sekali-kali kita merasa lemah.

Demikianlah nasihat Rasulullah SAW agar kita dapat menjadi mukmin yang kuat.

Bersungguh-sungguhlah berusaha untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu.

Mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta

Yakinlah bahwa sesungguhnya kita memilki kekuatan, kita memiliki potensi untuk melakukan banyak hal apabila kita bersungguh-sungguh dan  melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Jangan Terlambat

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Jangan terlambat, adalah salah satu kunci kesuksesan hidup kita.

Sebab kehidupan ini selalu bergulir dan mengalir seiring bergulir dan mengalirnya waktu yang tidak pernah menunggu. Maka keterlambatan akan mengakibatkan berbagai problem kehidupan yang bertumpuk-tumpuk.

Banyak fenomena keterlambatan yang sering mendera kehidupan kita…….

Terlambat menunaikan kewajiban hingga menumpuk satu demi satu.

Terlambat membangun kematangan pribadi, baik dalam urusan agama maupun dunia.

Terlambat menangkap sinyal  keinginan atau kekecewaan pihak lain, apakah suami atau isteri, orang tua atau anak-anak, tetangga atau teman sejawat dll.

Terlambat memperkirakan berbagai tantangan yang ada di depan, mencari solusi sebelum permasalahan tak dapat teratasi, mengurai problem satu persatu sebelum liar tak menentu.

Lambat pula menumbuhkan kesadaran untuk melakukan antisipasi atau merespon berbagai tuntutan yang menghampiri.

Maka, dampaknya adalah kekecewaan, kegagalan, penolakan, sikap tidak terkendali, dan tidak jarang berujung pada jatuhnya harga diri.

Jadi, terlambat bisa jadi merupakan kata kunci dari serangkaian problem yang kita hadapi.

Bukan karena kemampuan atau kepandaian tidak dimiliki, bukan pula karena minimnya fasitilitas yang ada pada diri sendiri, bukan pula karena tiadanya kecerdasan dan berbagai teori.

Ibarat seorang pengendara, manakala sejak awal dia sudah dapat mengantisipai berbagai kejadian di depan, lalu mengambil ancang-ancang dalam jarak yang masih luang, maka pada saatnya dia dapat menghindar dengan aman.

Lain halnya kalau ancang-ancang tersebut baru diambil beberapa meter saja sebelum menghindar, akibatnya akan fatal.

Walaupun mobilnya mewah dengan berbagai fasilitas tersedia, jalan mulus dan lurus serta fisik yang prima.

Akan tetapi, selama kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, peluang untuk memperbaiki segala keterlambatan yang pernah kita lalui masih terbuka, selagi kita masih mau memperbaiki, jujur terhadap kekurangan diri, dan optimis dengan masa depan yang lebih berarti.

Maka, kalau kita pernah merasa terlambat dalam kehidupan ini, hendaknya jangan lagi terlambat untuk kedua kali. Tidak ada kata terlambat selagi masih ada kesempatan memperbaiki.

Keterlambatan yang sesungguhnya sekaligus mengerikan adalah jika dia  baru disadari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kembali….

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pemuda Pemburu Surga

Pemateri: Dr. Wido Supraha

Allah Ta’ala menggunakan kata fatan untuk memuliakan posisi pemuda dan menjadikan Nabi Ibrahim a.s. satu dari sosok teladan utama para pemuda Islam (Q.S. 21:60).

Jamak dari istilah tersebut, fityatun, digunakan untuk memuliakan para pemuda ash-hābul kahfi, sekumpulan pemuda dari kalangan terhormat yang tersadarkan akan Islamic Worldview dan memilih untuk mengajak kalangannya untuk tidak menyekutukan Allah Swt.

Namun saat raja memilih menolak dan kemudian menghukum mereka, para pemuda nan penuh semangat ini lebih memilih untuk menjaga agama mereka dengan mengasingkan diri (‘uzlah), maka Allah Ta’ala menambahkan kepada mereka petunjuk, melimpahkan rahmat-Nya, dan memfasilitasi perjuangan mereka (Q.S. 18:13-16).

Ternyata para pemuda memiliki fitrah untuk lebih mudah menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya daripada generasi tua yang terjerumus dan tenggelam dalam kebatilan. Inilah jawaban mengapa kebanyakan orang-orang yang memenuhi seruan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah para pemuda. (Ibnu Katsir, Lubāb at-Tafsīr min Ibn Katsīr, Kairo: Mu’assasah Dār al-Hilāl, 1994).

Istilah untuk pemuda sebagaimana sering digunakan Nabi Muhammad Saw. dalam banyak sabdanya adalah syābb.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sangat kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah (mampu mengarahkan hawa nafsunya untuk mengutamakan perubahan ke arah kebaikan, dan memeliharanya dari keburukan” (HR. Ahmad No. 16731).

Begitu mulianya pemuda, hingga ia masuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan di hari Akhir ketika ia mengoptimalkan masa mudanya dengan banyak beribadah kepada-Nya, wa syābbun nasya-a fī ‘ibādati rabbihi (HR. Bukhari No. 620).

Keberhasilan seorang pemuda melewati masa mudanya yang penuh dorongan dan ajakan syahwat akan memposisikannya pada derajat yang mulia pada tahapan kehidupan di masa berikutnya, karena awal penyimpangan seringkali terjadi di masa muda.

Masa muda masa mulia jika pemuda memiliki cinta untuk bekerja penuh karya sarat makna.

Di masa muda, kekuatan berada pada posisi puncak. Ibn Katsir ketika menafsirkan Q.S 30:54 bahwa masa muda adalah kekuatan setelah kelemahan, sementara masa tua adalah kelemahan setelah kekuatan (Lubāb at-Tafsīr, 1994).

Inilah mengapa Nabi Muhammad Saw mengingatkan akan satu pertanyaan besar di hari Kiamat, “‘an syabābihi fīma ablāhu, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan“ (HR. Tirmidzi No. 2340).

Islam mendorong para pemuda untuk mulai memikul tanggung jawab syari’at atas dirinya dan kehidupannya di saat mencapai akil baligh, sehingga disebut mukallaf.

Pada saat itu, ia menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan, perkataan, impian hidup, obsesi dan cita-citanya. (Raghib as-Sirjani, Risalah ilā syabāb al-ummah, Kairo: Muassasah Iqra’, 1995).

Tentunya ini berbeda dengan standar PBB yang mendefinisikan anak sebagai individu yang berusia di bawah 18 tahun (www.ilo.org). Dalam bab ini, Islam mendorong pemuda untuk lebih cepat berkontribusi membawa perubahan alam ke arah kebaikan, dibandingkan Barat.

Jika para generasi awal Islam diurutkan berdasarkan usia, maka akan didapati persentase kaum muda yang begitu cepat menyambut kebenaran Islam lebih besar dari kaum tua.

Dapat disebutkan, sepuluh nama besar (top ten) daripada figur-figur mulia tersebut diantaranya:
Anas bin Malik (<10 tahun),
‘Ali bin Abi Thalib (10 tahun),
Usamah bin Zaid (<12 tahun),
Zaid bin Tsabit (13 tahun),
Mu’awwidz bin Afra’ (13 tahun),
Mu’adz bin Amr bin Jamuh (14 tahun),
Zubair bin Awwam (15 tahun),
Thalhah bin Ubaidillah (16 tahun),
Arqam bin Abil Arqam (16 tahun),
Sa’ad bin Abi Waqqash (18 tahun), dan
Ja’far bin Abi Thalib (as-Sirjani, 1995).

Kalau sepuluh nama besar di atas dibahas lebih detail akan ditemukan bagaimana masa muda mereka dihabiskan untuk menuntut ilmu, menyebarkan ilmu, menegakkan Islam dengan jiwa dan harta yang mereka miliki.

Sekedar contoh, bagaimana Arqam bin Abu Arqam al-Makhzumi r.a. begitu dikenang sebagai pahlawan ketika ia menggunakan masa mudanya untuk menyambut dengan hangat kedatangan dakwah Islam di dalam rumahnya – padahal resiko dan bahayanya sangatlah besar – selama tiga belas tahun di kota Mekkah, sementara ia berasal dari Bani Makhzum yang selalu bersaing dengan Bani Hasyim.

Tidak terlupakan juga bagaimana sosok Zaid bin Tsabit yang ditugaskan Nabi Saw untuk mempelajari bahasa Ibrani, dan kemudian bahasa Suryani di umur 13 tahun, dan ia menjadi pakar dalam bahasa dan penulisan serta dipercaya menjadi juru bicara politik di usia yang begitu muda dalam pandangan kekinian.

 ‘Aidh Abdullah al-Qarni mewasiatkan para pemuda untuk mencari ilmu pengetahuan dengan tekun, dan merasa rugi jika tertinggal pelajaran, ilmu, baik dari beragam majelis atau seminar, buku-buku, dan kaset-kaset Islam (Masyarakat Idaman, 2006).

Peradaban Islam telah melahirkan sejarah bagaimana para pemuda terlahir untuk sibuk dengan ilmu dan amal di atas keimanan, dan tentunya ini sangat jauh dengan realitas pemuda yang ter-Barat-kan hari ini, dimana masa muda mereka begitu menguras energi, harta, dan pikiran karena sibuk terlibat beragam kisah percintaan muda-mudi, NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif seperti rokok dan zat lain yang menimbulkan ketergantungan), kemusyrikan dan beragam aktifitas yang hanya melahirkan kerusakan moral, ketiadaan prestasi, gangguan jiwa dan fisik, bahkan tidak sedikit yang kemudian mempersembahkan nyawa di atas kebatilan.

Hilangnya visi dan misi besar Islam dari semangat para pemuda membuat mereka takluk dan mengekor kepada apapun yang datang dari peradaban Barat tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan filterisasi apalagi adaptasi dan asimilasi.

Internalisasi identitas dan keimanan yang benar adalah mutlak untuk melahirkan para pemuda pemburu surga laksana jiwa penuh pesona. Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam,

“The problem of human identity and destiny is, to my mind, the root cause of all other problems that beset modern society. Many challenges have arisen in the midst of man’s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today’s challenge posed by Western civilization (ISTAC, 2001)

Di dalam Risalah Untuk Kaum Muslimin, al-Attas mengidentifikasi adanya generation gap dan identity crisis, sebagaimana diderita oleh masyarakat Barat, dikarenakan ketidakmampuan untuk mewariskan falsafah kehidupan dari generasi ke generasi.

Sementara masyarakat Islam tidak pernah menderita penyakit yang sama, antara pemuda, dewasa dan orang tua karena referensi makna diri dan nilai kehidupan yang sama di antara mereka, dan ini terkait dengan Islam yang sempurna, dan tidak memerlukan kesempurnaan lagi (ISTAC, 2001).

Pemuda adalah generasi penerus dan pewaris keimanan dan semangat dalam ilmu dan amal dari generasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Q.S. 52:21,
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…