Apakah Syiah Termasuk Mazhab?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Izin bertanya Ustadz, Apakah Syi’ah itu termasuk Mazhab juga atau di luar itu ?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Syiah adalah sebuah firqah (kelompok) dan madzhab dalam aqidah.

Mereka terbagi 3 kelompok:
1. Ghaliyah, esktrim. Menuduh Al Qur’an lengkapnya di Ali Radhiyallahu ‘Anhu, memberikan sifat2 ketuhanan kepada Ali, dst. Mereka kafir, bahkan dikafirkan oleh sesama Syiah.

2. Rafidhah, ini Syiah mayoritas. Mereka membenci para sahabat nabi, mulai dari memaki sampai mengkafirkan. Selain itu, mereka menuduh para sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam telah memalsukan Al Qur’an, merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Talib.

Mereka menuduh mayoritas sahabat nabi murtad pasca wafat nabi, kecuali Salman Al Farisi, Miqdad bin Al Aswad, dan Abu Dzar.

Kebencian mereka kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Muawiyah, Abu Hurairah .. sangat luar biasa.

Oleh karena itu, sebagian Imam Ahlus Sunnah memfatwakan kafirnya Rafidhah, sebagian lain mengatakan ahli bid’ah, tergantung sejauh mana sikap mereka thdp sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam.

3. Syiah Zaidiyah, Syiah moderat. Masih menghormati para sahabat nabi, tetapi tetap lebih mengunggulkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu baik dalam kedudukan dan kekhalifahan.

​LAMPIRAN​
🍀🌻Kafirnya Syiah Menurut Ulama Terdahulu dan 4 Madzhab🌻🍀

Berikut ini fatwa para Imam Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang mencela, memaki, hingga mengkafirkan para sahabat nabi. Dalam sejarah ada tiga golongan yang mencela para sahabat nabi. Pertama, golongan syiah yang telah mencela umumnya sahabat nabi, bahkan mengkafirkan umumnya para sahabat, kecuali Miqdad, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Kedua , golongan khawarij yang telah mengkafirkan Ali, Muawiyah, Abu Musa, Amr bin Al ‘Ash, dan ketiga, golongan nashibi yang telah menghina Ali, Fathimah, dan keturunannya.

🔷 Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah Berikut ini keterangannya:

قيل للحسن – رضي الله عنه -: «يا أبا سعيد، إن هاهنا قوماً يشتمون أو يلعنون معاوية و ابن الزبير». فقال: «على أولئك الذين يلعنون، لعنة الله

Ditanyakan kepada Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu : “Wahai Abu Sa’id, di sini ada kaum yang suka mencela dan melaknat Mu’awiyah dan Ibnuz Zubeir.” Beliau menjawab: “Atas merekalah laknat Allah itu.” (Ibnu ‘Asakir, At Tarikh, , 59/206)

🔶 Imam Malik bin Anas Rahimahullah Imam Malik mengomentari ayat: Liyaghizhabihimul kuffar (adanya sahabat nabi membuat orang-orang kafir marah):

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah –dalam sebuah riwayat darinya- memutuskan kafirnya kaum rafidhah, orang-orang yang membenci para sahabat. Beliau berkata: “Karena mereka murka terhadap para sahabat, maka itu adalah kafir menurut ayat ini.” Segolongan ulama menyetujui pendapat ini. Dan telah banyak hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka dengan keburukan, cukuplah bagi mereka pujian dari Allah dan keridhaanNya bagi mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/362) 

🔷 Imam Abu Zur’ah Rahimahullah Beliau berkata:
فإذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله –
صلى الله عليه وسلم – فاعلم أنّه زنديق

Jika kamu melihat seorang laki-laki yang mencela satu saja sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq! (Al Kifayah Lil Khathib Al Baghdadi, Hal. 97)

🔶 Imam Al Qurthubi Rahimahullah Beliau berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته و أصاب في تأويله، فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد ردَّ على الله رب العالمين و أبطل شرائع المسلمين

Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik dan benarlah ta’wilnya itu, bahwa barang siapa yang mencederai satu saja di antara mereka (para sahabat), atau menyerang mereka pada riwayat riwayat yang di bawa oleh mereka, maka sama saja telah membantah Allah Rabb semesta alam dan membatalkan syariat kaum muslimin. (Tafsir Al Qurthubi, 16/297)

Sebab berbagai syariat yang ada dan dilakukan oleh mayoritas umat Islam karena berasal dari periwayatan para sahabat nabi, maka apa jadinya jika para sahabat dicela bahkan dikafirkan? Tentu sama saja menganggap mereka tidak pantas membawa riwayat tersebut, dan gugurlah berbagai macam syariat tersebut.

🔷 Imam Al Auza’i Rahimahullah Beliau berkata:

من شتم أبا بكر الصديق – رضي الله عنه – فقد ارتد عن دينه و أباح دمه

Barang siapa yang mencela Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, maka dia telah murtad dari agamanya dan halal darahnya (maksudnya boleh dihukum mati, pen). (Syarh Al Ibanah, Hal. 161)

🔶 Imam Ali Al Qari Rahimahullah Beliau berkata:

و أما من سبَّ أحداً من الصحابة فهو فاسق و مبتدع بالإجماع، إلا إذا اعتقد أنه مباح، كما عليه بعض الشيعة و أصحابهم، أو يترتب عليه ثواب، كما هو دأب كلامهم، أو اعتقد كفر الصحابة و أهل السنة، فإنه كافر بالإجماع

Ada pun barang siapa yang mencela seorang saja dari sahabat nabi, maka dia fasik dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) menurut ijma’, – kecuali jika orang itu meyakini mencela sahabat itu boleh sebagaimana yang diyakini sebagian syiah dan para pengikutnya, atau yang meyakini bahwa mencela para sahabat akan mendapatkan pahala seperti yang biasa mereka katakan, atau meyakini bahwa para sahabat dan ahlus sunah adalah kafir- maka orang itu adalah kafir menurut ijma’. (Syammul ‘Awaridh fi Dzammir Rawafidh, Hal. 16. Masih Manuskrip)

🔷Al Qadhi Abu Ya’la Rahimahullah Beliau berkata:

من قذف عائشة بما برأها الله منه كفر بلا خلاف. و قد حكى الإجماع على هذا غير واحد، و صرّح غير واحد من الأئمة بهذا الحكم

Barang siapa yang melemparkan tuduhan kepada ‘Aisyah dengan tuduhan yang Allah Ta’ala jauhi dia dengan tuduhan itu, maka dia kafir dan tanpa perbedaan pendapat. Telah diceritakan adanya ijma tentang hal ini, lebih dari satu ulama yang menyatakan itu. Tentang hukum ini lebih dari satu ulama pula yang mengeluarkan hukum seperti ini. (Syubhat Rafidhah Haula Ash Shahabah, Hal. 31)

🔶 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah Abu Bakar Al Marwadzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal:

أيما أفضل، معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟». فقال: «معاوية أفضل! لسنا نقيس بأصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحداً. قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: خير الناس قرني الذي بعثت فيهم

Mana yang lebih utama, Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Mu’awiyah lebih utama! Kami tidak pernah menyetarakan seorang pun dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sebaik-baik manusia adalah pada zamanku yaitu di mana aku diutus pada mereka. (Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, 2/434)

🔷 Imam Sarakhsi Rahimahullah Beliau berkata:

فمن طعن فيهم فهو ملحد منابذ للإسلام دواؤه السيف إن لم يتب

Barang siapa yang mencela para sahabat nabi, maka dia adalah mulhid (atheis) yang melawan Islam, maka boleh ditebas dengan pedang jika dia tidak bertobat. (Al Ushul, 2/134)

🔶 Imam Ibnu Hazm Az Zhahiri ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau berkata,
“Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang menyangka bahwa orang Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal muncul setelah wafatnya Rasulullah (, sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/ 213)

Ada pun para imam 4 madzhab sebagai berikut:

1⃣ Madzhab Hanafi
Dari kalangan ulama Hanafiyah, “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat ‘Syaikhaini’ (Abu Bakar dan Umar) maka dia kafir, demikian halnya dengan pengkafiran terhadap Usman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan Aisyah –semoga Allah meridhai mereka- (juga adalah kafir)” (Al Fatawa Al Hindiyah, 2/286)

2⃣ Madzhab Maliki
Imam Malik berkata: “Jika dia berkata bahwa para sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat”. (Asy Syifa bi Ta’rif Huquq Al Mushthafa, 2/1108)

Imam Ibnu Katsir berkata:

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. 

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah memutuskan, dalam sebuah riwayat darinya, bahwa kafirnya Rafidhah (syiah) yaitu golongan yang marah kepada sahabat nabi. Beliau (Imam Malik) berkata: “Karena mereka murka kepada para sahabat, maka barang siapa yang murka kepada para sahabat nabi maka dia KAFIR menurut ayat ini. (maksudnya Al Fath: 29). Dan, segolongan ulama menyepakati fatwa Imam Malik atas kafirnya Syiah ini. ( Tafsir Al Quran Al Azhim, 7/362)

3⃣ Madzhab Syafi’i
Dari kalangan ulama Syafi’iyah, “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengkafirkan sahabat.” (Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 7/290)

4⃣ Madzhab Hambali
Dari kalangan ulama Hanabilah, Imam Ibnu Taimiyah berkata: “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi telah murtad atau fasik setelah Nabi wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir. ” (Al Mukhtashar ash Sharim al Maslul, hal. 128).
Sekian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Hukum Liur dan Bulu Kucing, Najiskah?​


Bismillah wal Hamdulillah ..

Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ -فِي اَلْهِرَّةِ-: – إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ, إِنَّمَا هِيَ مِنْ اَلطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ – أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ. وَابْنُ خُزَيْمَةَ

📌 Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang Al Hirrah (kucing): “Sesungguhnya kucing bukan najis, dia hanyalah hewan yang biasa beredar disekeliling kalian.” (HR. At Tirmidzi No. 92, Abu Daud No. 75, 76, An Nasa’i No. 68, Ibnu Majah No. 367, Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya, Kitabuth Thaharah, No. 567)

Status hadits ini, sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram, dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Ibnu Khuzaimah. Imam Al Hakim mengatakan: Shahih. Beliau juga mengatakan hadits ini dishahihkan oleh Imam Malik dan dia berhujjah dengan hadits ini dalam kitabnya, Al Muwaththa’. Imam Adz Dzahabi juga menshahihkan hadits ini dalam At Talkhish. (Lihat Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/263, No. 567. Cet. 1, 1990M-1411H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tahqiq: Syaikh Mushthafa Abdul Qadir ‘Atha)

Syaikh Dr. Muhammad Mushthafa Al A’zhami mengatakan: isnadnya shahih. (Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/54. Tahqiq: Dr. Muhammad Mushthafa Al A’zhami. Al Maktab Al Islami, Beirut) Imam Al Baghawi mengatakan: hasan shahih. (Syarhus Sunnah No. 286) Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: “Hadits ini shahih dan terkenal, diriwayatkan oleh para imam dunia.” (Badrul Munir, 1/551)

📚 ​Makna Hadits:​

🔹 1. Apakah maksud bahwa kucing adalah hewan yang Ath Thawwaafiin – الطوافين ?

Penyebutan kucing sebagai Ath Thawwaafiin, menunjukkan kedudukannya di tengah kehidupan manusia, termasuk umat Islam.

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah menjelaskan:

الطّائف : الخادمُ الذي يَخْدُمُك برفْقٍ وعنَاية

Ath Thaa-if adalah pelayan yang melayanimu dan menolongmu dengan lembut. (Imam Ibnul Atsir, An Nihayah fi Gharibil Atsar, 3/323. 1979M-1399H. Maktabah Al ‘Ilmiyah, Beirut. Lihat juga Imam Ibnul Jauzi, Gharibul Hadits, 2/43. Cet. 1, 1985M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

ومعنى الطوافين علينا الذين يداخلوننا ويخالطوننا ومنه قول الله عز وجل في الأطفال: {طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ} [النور: من الآية58].

Makna dari “berputar di sekitar kita”: (mereka) adalah yang masuk dan membaur dalam kehidupan kita, dan di antaranya yang seperti ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang anak-anak: (mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian yang lain). (Imam Abu Umar bin Abdil Bar, At Tamhid, 1/319. Musasah Al Qurthubah)

Imam Al Kasymiri Rahimahullah mengatakan:

وإنما هي كمتاع البيت

Sesungguhnya kucing itu seperti perhiasan rumah. (Imam Al Kasymiri Al Hindi, Al ‘Urf Asy Syaadzi, 1/130. Cet. 1. Muasasah Dhuha. Tahqiq: Syaikh Mahmud Ahmad Syakir. Ini juga merupakan ucapan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, Lihat At Tamhid, 1/320)

🔹2. Hadits ini menunjukkan kesucian kucing, termasuk liurnya, dan ini merupakan salah satu kasih sayang Allah Ta’ala kepada umat ini. Sebab, kebersamaan mereka dengan manusia begitu erat, maka akan sulitlah jika mereka dikategorikan najis.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata:

يعني من الحيوانات التي تترد كثيرا عليكم ولو كان نجسا لشق عليكم

Yakni termasuk hewan yang banyak mondar mandir disekitar kalian, seandainya dia najis niscaya kalian akan menjadi sulit/payah/sempit. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘Ala Bulughil Maram, 2/35)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

وفيه أن الهر ليس ينجس ما شرب منه وأن سؤره طاهر وهذا قول مالك وأصحابه والشافعي وأصحابه والأوزاعي وأبي يوسف القاضي والحسن بن صالح بن حي

Pada hadits ini menunjukkan bahwa apa-apa yang diminum kucing tidaklah najis, dan air sisanya adalah suci. Inilah pendapat Malik dan para sahabatnya, Asy Syai’i dan para sahabatnya, Al Auza’i, Abu Yusuf Al Qadhi, Al Hasan bin Shalih bin Hay. (At Tamhid, 1/319)

Syaikh Abul Hasan ‘Ubaidullah Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil sucinya kucing secara zat, dan liurnya bukan najis, boleh berwudhu dari sisa minumnya, dan tidak makruh berwudhu di air bekasnya, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah. Hadits ini sebagai koreksi bagi pihak yang menyatakan makruhnya berwudhu dengan sisa air minum kucing, dengan makruh tahrimiyah atau tanzihiyah. (Mir’ah Mafatih Syarh Misykah Al Mashaabih, 2/183. Cet. 3, 1404H-1984M. Al Jaami’ah As Salafiyah)

🔹3. Karena air liurnya suci, maka apakah boleh berwudhu dengannya?

Dalam hal ini ada dua pendapat secara umum:

Pertama, boleh dan ini pendapat mayoritas ulama.
Kedua, makruh dan ini pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah dan pengikutnya.

Pendapat mayoritas adalah pendapat yang lebih kuat, karena dikuatkan oleh dalil lainnya. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, Beliau berkata:

وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ بفضلها

Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu dengan air sisa kucing. (HR. Abu Ja’far Ath Thahawi, Bayan Musykilul Aatsar, No. 73)

Sementara, kalangan Hanafiyah terdahulu membela madzhabnya dengan mentakwil hadits ini, seperti yang dikatakan oleh Imam Mula Ali Al Qari Al Hanafi Rahimahullah, katanya:

وهذا منه صلى الله عليه وسلم لبيان الجواز ، فلا ينافي ما ذكره علماؤنا من أن سؤره مكروه يعني الأولى ألا يتوضأ منه إلا إذا عدم غيره.

Inilah hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan kebolehannya, namun ini tidak menafikan apa yang disebutkan oleh ulama kami bahwa air sisanya adalah makruh, yaitu lebih utama adalah tidak berwudhu dari air tersebut, kecuali jika tidak ada air lain selain itu. (Syarh Musnad Abi Hanifah, Hal. 258)

Namun, umumnya kalangan Hanafiyah justru mengikuti pendapat mayoritas ulama yaitu bolehnya berwudhu dengan air sisa minumnya kucing.

Berikut ini keterangannya:

وَفِي مَجْمَع الْبِحَار أَنَّ أَصْحَاب أَبِي حَنِيفَة خَالَفُوهُ وَقَالُوا لَا بَأْس بِالْوُضُوءِ بِسُؤْرِ الْهِرَّة وَاَللَّه تَعَالَى أَعْلَمُ .

Disebutkan dalam Majma’ Al Bihaar bahwa para sahabat (pengikut) Abu Hanifah menyelisihi pendapatnya. Mereka mengatakan: Tidak apa-apa wudhu dengan air sisa dari kucing. Wallahu Ta’ala A’lam. (Hasyiyah As Suyuthi was Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 1/59. Mawqi’ Al islam)

Selesai. Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Hukum Ikut MLM


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….bagaimana hukum ikut oriflame/MLM sejenisnya?
Pertanyaan member 04

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Masalah bisnis MLM ini tidak bisa digeneralisir. Semua tergantung komitmen masing2 perusahaan MLM terhadap syariah. Bukan sekedar penamaan “MLM syariah”.

– Pd dasarnya semua bentuk muamalah dan akad adalah sah dan boleh sampai ada dalil yang melarangnya (kullul asyyaa al ibaahah illa maa warada ‘anisy syaari’ tahriimuhu), termasuk MLM

– MLM pd dasarnya keumuman ayat: wa ahallallahul bai’a .. dan Allah halalkan jual beli

maka, selama tdk ada, atau bebas dari:

* barang dan jasa haram
* gharar(penipuan)
* dharar (bahaya)
* Zhulm (ada pihak yang dirugikan)
* unsur riba
* dua akad dalam 1 transaksi,

Maka, MLM boleh-boleh saja, asalkan para upline dan downline sama2 bekerja, tidak mengandalkan kerja org lain.

Jadi, secara global ada aspek:

1. Aspek barang dan jasa, ini harus jelas halalnya
2. Aspek mekanisme penjualannya, juga harus jelas halalnya juga akadnya.

Pihak yg mengharamkan MLM beralasan ada unsur haram, yaitu satu transaksi ada dua akad. Akad jual beli dan ijarah/sewa jasa. Yaitu ketika anggota beli barang biasanya lebih murah dibanding bukan anggota. Maka “lebih murah” itu merupakan reward dari keanggotaannya, itulah akad keduanya yaitu dimurahkan krn jasanya sebagai anggota.

Sementara pihak yang membolehkan menganggap bahwa seseorang yg telah menjadi anggota, maka dia menjadi “pengiklan dan penawar” produk yg bisa menekan biaya produksi sperti iklan. Posisi seperti ini namanya SAMSARAH orangnya disebut SIMSAAR, bahasa kita adalah makelar atau perantara. Ini dibolehkan para salaf seperti Ibnu Abbas, Ibnu Sirin, Atha, Al Bukhari, Ibrahim. (Fiqhus Sunnah, 3/159).

Jadi, dia mendapat murah atau bonus, bukan karena akad kedua dalam satu transaksi, tapi itu transaksi yang berbeda yaitu samsarah/makelar, dia ikut menjadi perantara antara produsen dan konsumen, sehingga wajar dia mendapat diskon, bonus, tip, atau istilah lainnya.

Perselisihan ini sangat wajar mengingat model ini adalah sistem kontemporer yang sangat mungkin beda sudut pandang.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Cerai??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
1. Apabila seorang suami mengiyakan permintaan cerai Istri, apakah ini sudah termasuk jatuh talak pertama?
2. Kemudian sehari atau 2 hari setelahnya, suami mengajak berhubungan suami-istri dan diterima oleh istri, apakah hal tersebut terhitung rujuk pertama atau bisa dianggap pengguguran talak sehingga point no.1 tdk terhitung sbg talak pertama?
3. Seandainya setelah lewat 3x suci dari talak pertama (point no.1) tidak pernah rujuk, dan setelahnya hendak rujuk apakah masih bisa? Atau hrs akad nikah ulang?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
1. Ya, jika pengabulan dari suami dengan bahasa yg jelas. Atau sekali pun dgn bahasa kinayah (kiasan) tapi dihati di niatkan untuk bercerai, maka juga jatuh cerai. Jika itu terjadi baru pertama kali, maka talak 1. Tp, di negara kita talak baru jatuh atau baru benar2 dianggap n diakui cerai oleh negara jika sudah ada keputusan pengadilan.

2. Jika dia mau rujuk maka rujuklah, baik dengan isyarat, sebagian ulama mengatakan mesti dengan perkataan lugas ingin rujuk, maka rujuklah dengan baik, dan disunnahkan adanya dua saksi.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu (QS. Ath Thalaq: 2)

Dalam ayat lain:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).(QS. Al Baqarah: 231)

‘Imran bin Hushain Radhiallahu ‘Anhu, bercerita:

أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ اَلرَّجُلِ يُطَلِّقُ, ثُمَّ يُرَاجِعُ, وَلَا يُشْهِدُ? فَقَالَ: أَشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا, وَعَلَى رَجْعَتِهَا

Bahwa dia ditanya tentang seorang laki-laki yang bercerai, lalu rujuk, namun tanpa saksi? Beliau menjawab: “Adakan saksi atas perceraiannya dan atas rujuknya.” (HR. Abu Daud. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnys shahih. Lihat Bulughul Maram No. 1086)

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ أُمَّ رُكَانَةَ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ” رَاجِعِ امْرَأَتَكَ ” , فَقَالَ : إِنِّي طَلَّقْتُهَا ثَلَاثًا. قَالَ : ” قَدْ عَلِمْتُ , رَاجِعْهَا – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Abu Rukanah menceraikan Ummu Rukanah. Maka, berkata Rasulullah ﷺ: “Rujuklah istrimu.” Dia berkata: “Aku menceraikan istriku langsung tiga kali.” Beliau bersabda: “Aku sudah tahu, rujuklah dia.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2198)

Semua nash ini menunjukkan bahwa merujuk istri, sebelum masa ‘iddah adalah secara langsung, bukan akad nikah ulang. Akad nikah ulang itu terjadi jika rujuk setelah masa ‘iddah. Dianjurkan saksi, tapi saksi bukan syarat sahnya rujuk, sebagaimana kisah Abu Rukanah, Nabi ﷺ memerintahkannya rujuk tapi tidak memerintahkan adanya saksi.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menjelaskan beberapa point penting dalam menjelaskan rujuk:

📌?p Semua ulama sepakat rujuk menggunakan ucapan adalah sah

📌 Para ulama berbeda pendapat rujuk dengan “perbuatan”, maksudnya walau tidak diucapkan tapi secara perbuatan menunjukkan bahwa dia merujuk istrinya.

📌 Sebagian ulama mengatakan rujuk hanya dengan perbuatan tidak boleh dan tidak sah, sebab dianjurkannya adanya saksi menunjukkan bahwa rujuk mesti perkataan bukan hanya perkataan.

📌 Imam Ash Shan’ani mengoreksi pendapat tersebut, menurutnya itu tidak berdosa sebab saksi itu tidak wajib

📌 Mayoritas ulama mengatakan bahwa rujuk dengan perbuatan juga tetap sah

📌 Tapi, Imam Malik mengatakan rujuk dengan perbuatan TIDAK SAH kecuali dengan niat untuk rujuk

📌 Namun mayoritas ulama mengatakan SAH yang penting perbuatan tersebut menunjukkan dia ingin kembali (rujuk) kepada istrinya, perbuatan seperti menyentuh, mencium, dan selain keduanya, tanpa usah diniatkan untuk rujuk itu tetap menunjukkan rujuk berdasarkan ijma’.(kesepakatan ulama). (Subulus Salam, 3/teta

3. Jika lewat masa ‘iddah, maka kalau mau rujuk mesti akad nikah ulang.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Membaca surat kurang dari tiga ayat ketika shalat, bolehkah?​


Yang wajib adalah membaca Al Fatihah, sebagaimana pendapat jumhur, seperti Malikiyah, Syafi’iyyah, dan Hambaliyah.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Al Auza’i, Ats Tsauri, yang mengatakan membaca Al Fatihah tidak wajib, dan menurut mereka shalat tetap sah tanpa membaca Al Fatihah.

Sedangkan membaca surat setelah membaca Al Fatihah, adalah Sunnah, tanpanya shalat tetap sah.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وهذا مجمع عليه في الصبح والجمعة والأولييْن من كل الصلوات ، وهو سنة عند جميع العلماء ، وحكى القاضي عياض رحمه الله تعالى عن بعض أصحاب مالك وجوب السورة ، وهو شاذ مردود .

Hal ini (kesunahan membaca surat) adalah Ijma’, baik pada shalat subuh, shalat Jum’at, atau pada saat rakaat disemua shalat. Itu sudah menurut semua ulama. Al Qadhi ‘Iyadh menceritakan adanya yang mewajibkan dari kalangan pengikut Imam Malik. Tapi, itu pendapat aneh dan tertolak.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/104)

Oleh karena itu, membaca satu ayat saja, atau kurang dari tiga ayat dari surat yang dibaca, adalah tidak masalah.

Dalam Syarh Al Muntaha, dijelaskan:

قال القاضي [أبو يعلى] وغيره : وتجزئ آية إلا أن أحمد استحب كونها طويلة , كآية الدين والكرسي

Berkata Al Qadhi Abu Ya’la dan lainnya: sudah cukup satu ayat, hanya saja Imam Ahmad menyukai satu ayat itu yang panjang seperti ayat tentang hutang dan ayat kursi.

(Syarh Al Muntaha, 1/191)

Ada pun satu ayat yang tidak membawa pada makna sempurna, sebaiknya jangan.

Seperti sekedar membaca tsumma nazhar (kemudian dia melihat), seperti yang ada dalam surat Al Muddatstsir, atau mudhaamataan (kedua surga yang tampak hijau warnanya), dalam surat Ar Rahman.

Imam Al Bahutiy berkata:

والظاهر أنه لا تجزئ آية لا تستقل بمعنى أو حكم نحو ( ثم نظر ) و ( مدهامتان)

Yang benar adalah tidak cukup membaca satu ayat yang tidak memiliki makna tersendiri atau hukum, seperti “tsumma nazhar” dan “mudhaammataan”.
(Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/342)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Manusia Berhati Iblis​


🔸 ​Iblis itu sombong …​

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan yang kafir. (QS. Al Baqarah: 34)

🔸 ​Iblis itu merasa paling baik dan benar, seraya meremehkan yang lain …​

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shad: 76)

​Pernahkah berjumpa dengan manusia atau komunitas dengan tipologi Iblis ?​

🔹Menyangka diri dan kelompoknya yg paling baik, paling benar, paling sunnah, dan paling paham dalil ..

🔹Standar kebenaran adalah apa yang benar menurut mereka ..

🔹Berbeda dengan mereka maka itu kesalahan, kesesatan, dan bid’ah ..

🔹Tidak mau menerima perbedaan, mengunci diri dari lainnya .. steril .. Hanya mau menerima dari kelompoknya saja ..

🔹Memandang yg lain dengan pra konsep ” pasti salah” karena yg lain beda dengan pemahamannya ..

🔹Memuji kebaikan dan kelebihan yg ada pada diri dan kelompoknya, namun menutupi kebaikan dan kelebihan pada orang lain betapa pun bagusnya, justru yang mereka lakukan adalah mengkorek kesalahan yg lain ..

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

📌Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(QS. An Najm: 32)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ 

📌Jika seseorang berkata: “Manusia telah rusak” maka dialah yang lebih rusak dibanding mereka. (HR. Muslim No. 2623)

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari sikap buruk Iblis ini dan menjaga kita menjadi korbannya mereka …

Wallahu A’lam wa Ilaihil Musytaka

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bolehkah Mengintip Karena Tidak Jelas Suara Imam


Assalamu’alaykum ustadz..
Saat sholat kalau suara imam tdk terdengar boleh tdk kita melirik imam atau mengintip (saat sujud)?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Nengok, celingukan, menoleh, jika tidak ada hajat adalah makruh dalam shalat.

Dari ‘Aisyah ​Radhiallahu ‘Anha,​ katanya:

سألت رسول اللّه صلى الله عليه وسلم عن التفات الرجل في الصلاة، فقال: “إنما هو اختلاسٌ يختلسه الشيطان من صلاة العبد”.

“Aku bertanya kepada Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ tentang seseorang yang menoleh dalam shalat, beliau menjawab: ​“Itu adalah sambaran kilat dari syetan terhadap shalat seorang hamba.”​ ​(HR. Bukhari No. 751, 3291)​

Tapi, jika ada hajat atau keperluan penting tidak apa-apa. Termasuk saat sujud, perhatikan kisah ini.

Dari Abdullah bin Syadad, dari ayahnya, katanya:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاة العشي (الظهر أو العصر) وهو حامل (حسن أو حسين) فتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى فسجد بين ظهري صلاته سجدة أطالها، قال: إني رفعت رأسي فإذا الصبي على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ساجد فرجعت في سجودي.
فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت بين ظهري الصلاة سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر، أو أنه يوحى إليك؟ قال: (كل ذلك لم يكن، ولكن ابني ارتحلني فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk shalat bersama kami untuk shalat siang (zhuhur atau ashar), dan dia sambil menggendong (hasan atau Husein), lalu Beliau maju ke depan dan anak itu di letakkannya kemudian bertakbir untuk shalat, maka dia shalat, lalu dia sujud dan sujudnya itu lama sekali. ​Aku angkat kepalaku, kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau sedang sujud, maka saya pun kembali sujud.​ Setelah shalat selesai, manusia berkata: “Wahai Rasulullah, tadi lama sekali Anda sujud, kami menyangka telah terjadi apa-apa, atau barangkali wahyu turun kepadamu?” Beliau bersabda: “Semua itu tidak terjadi, hanya saja cucuku ini mengendarai punggungku, dan saya tidak mau memutuskannya dengan segera sampai dia puas.” ​(HR. An Nasa’i No. 1141, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam ​Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i​ No. 1141)​

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلتفت في صلاته يمينا وشمالا ولا يلوي عنقه خلف ظهره

“Dahulu Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ ​menoleh dalam shalatnya ke kanan dan kiri​ dan tidak sampai memutarkan lehernya kebelakang.” ​(HR. An Nasa’i No. 1201, Ahmad No. 2485, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 864, katanya shahih sesuai syarat Bukhari, dan disepakati oleh Adz Dzahabi)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Sahkah Pernikahan Nabi Adam as?


Assalamu’alaikum, ustadz.. mau nanya ini
1. Apa isi ka’bah? Kalau batu, mengapa seluruh umat islam kiblatnya arah kesana?
2. Syarat syarat nikah itukan ada penghulu, calonnya, saksinya, memang ada yang melihat Nabi Adam menikah? Trus kalau nggak lihat Adam nikah,berarti kita anak haram?
Terima kasih.

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،

Bismillah wal Hamdulillah ..

1. Ka’bah adalah rumah pertama dan sekaligus masjid pertama yang dibangun di muka bumi.

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً

“Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520)

Ka’bah hanyalah arah kiblat, menunjukkan kesatuan arah umat Islam sedunia. Dulu arah kiblat adalah ke Al Aqsha, lalu Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu’Alaihi Sallam untuk mengubahnya ke Ka’bah. Umat Islam menyembah Allah Ta’ala melalui shalat, dan shalat memiliki aturan main, yaitu berdiri menghadap Ka’bah. Itu saja, tidak ada yang aneh dan tidak perlu dipusingkan.

3. Penghulu itu bukan syarat sah nikah, ini salah kaprah orang kita.

Syarat sah nikah:

1. Adanya penganten
2. Wali (ayah si gadis)
3. Saksi
4. Mahar
5. Ijab Qabul

Siapakah yang menikahkan ? yaitu WALI, ayah si gadis. Bukan penghulu, penghulu hanyalah petugas pencatat dari negara (KUA).

Jika, wali tidak ada, bisa ditunjuk wali ab’ad, seperti kakek, paman dari jalur ayahnya, atau kakak/adik si gadis ..

Jika semua itu tidak ada, maka dinikahkan oleh WALI HAKIM, siapa itu? Itulah penghulu, wali yang ditunjuk oleh negara.

Ada pun pernikahan Nabi Adam dan Hawa, Allah Ta’ala sendiri yg menikahkan mereka, saat Allah Ta’ala ciptakan Adam lalu Allah Ta’ala ciptakan istrinya yaitu Hawa, secara otomatis.

Perhatikan ayat ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisa: 1)

Allah Ta’ala sendiri menyebut ​wa khalaqa ninja ​zaujaha​​, Dia ciptakan dari dirinya seorang Istrinya .. bukan semata-mata perempuan, tapi Allah langsung menstatuskannya sebagai istri.

Jangan bayangkan saat itu pernikahan seperti zaman ini. Syariatnya beda, zaman juga beda. Manusia juga baru berdua.
Demikian.

Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA