Tahnik Bayi

Assalamualaikum… ustadz/ustadzah saya ingin menanyakan bagaimana tuntunan atau aturan dalam syariat tentang tahnik bayi yg baru lahir? Jazakumulloh khoir

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Disunahkan memberikan tahnik kepada bayi dengan menggunakan kurma atau sejenisnya, seperti madu dan lain-lain. Dengan cara mengunyah kurma hingga lembut dan halus, lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi tersebut. Ini merupakan upaya persiapan agar bayi nantinya mudah untuk merasakan manisnya air susu ibu. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits:

Dari Abu Musa al Asy’ary beliau berkata: Dilahirkan bagiku bayi laki-laki, kemudian aku bawa kepada g bc fgdxa Shalallahu alaihi wa Rahmatullah g Lalu Rasulullah menamakan bayi itu Ibrahim dan mentahniknya dengan korma serta mendoakan keberkatan atasnya, lalu menyerahkan kembali kepadaku. Dan dia (Ibrahim) merupakan anak Abu Musa yang paling besar (sulung). ​(HR. Muttafaq ‘Alaih)​

Dari hadits ini ada tiga pelajaran lain selain tahnik, yaitu pertama, hendaknya yang mentahnik adalah orang shalih atau ahli ilmu. Boleh saja orang tuanya sendiri, apalagi ia juga seorang shalih atau ahli ilmu. Kedua, meminta diberikan atau dicarikan nama yang baik bagi si bayi oleh orang shalih atau ahli ilmu. Ketiga, mendoakan bayi ketika ditahnik dengan doa yang mengandung keberkahan bagi bayi. Namun, tidak ada rincian seperti apakah lafal doa tersebut, karena dalam hadits tersebut tidak sebutkan teks doanya.

Jika mau, boleh diucapkan doa yang mengandung permohonan keberkahan seperti: ​Allahumma barik lahu, atau Allahumma barik ‘alaih, atau Allahumma barik fih.​ Secara bahasa doa-doa ini memiliki maksud yang sama yakni agar bayi tersebut diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Arsy Allah Itu Makhluk, Jangan Ragu!!​


‘Arsy adalah makhluk, dan itu kesepakatan para ulama. Sebab, yang ​Al Khaliq​ (Pencipta) hanya Allah Ta’ala. Tidak boleh ada keraguan atas hal itu, meragukan ‘Arsy sebagai makhluk adalah kesalahan yang sangat fatal.

Imam Ibnu Hazm ​Rahimahullah​ menjelaskan dalam ​Maratibul Ijma’​, sebuah kitab yang menyusun kumpulan Ijma’:

وأن النفس مخلوقة، والعرش مخلوق، والعالم كله مخلوق

​Bahwasanya jiwa adalah makhluk, ‘arsy adalah makhluk, dan alam seluruhnya adalah makhluk.​ ​(Maratibul Ijma’, Hal. 167)​

Lalu Imam Ibnu Taimiyah ​Rahimahullah​ mengomentari:

أما اتفاق السلف وأهل السنة والجماعة على أن الله وحده خالق كل شيءٍ فهذا حق

Ada pun para salaf dan Ahlus Sunnah wa Jama’ah telah sepakat bahwa Allah satu-satunya pencipta atas segala hal maka ini adalah benar .. ​(Naqd Maratibul Ijma’, Hal. 303)​

Beliau juga berkata:

الْعَرْشَ مَخْلُوقٌ ؛ فَإِنَّ الله يَقُولُ: ( وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ) وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ: الْعَرْشُ وَغَيْرُهُ ، وَرَبُّ كُلِّ شَيْءٍ: الْعَرْشُ وَغَيْرُهُ

Arsy adalah makhluk, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: (Dialah Rabb-nya Arsy yg Agung), Dialah pencipta segala sesuatu: Arsy dan selainnya. Rabb-nya segala sesuatu: yaitu Rabb-nya Arsy dan selainnya.

​(Majmu’ Fatawa, 18/214)​

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah berkata:

وسلف الأمة وأئمتها يقولون: إن القرآن والسنة قد دلا على أن العرش مخلوق من مخلوقات الله تعالى خلقه وأوجده

Generasi salaf dan para imam kita mengatakan: bahwa Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa ‘Arsy adalah makhluk diantara makhluk-makhluk Allah, Dia yang menciptakannya dan mengadakannya. ​(Al ‘Arsy, 1/307)​

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin ​Rahimahullah​ berkata:

العرش مخلوق عظيم ، لا يعلم قدره إلا الله

​Arsy adalah makhluk yg agung, tidak ada yg tahu ukurannya kecuali Allah.​

​(Majmu’ Fatawa wa Rasaail, 7/287)​

Ada pun keabadian ‘Arsy, ditunjukkan oleh hadits berikut:

فإذا سألتم الله فسلوه الفردوس ، فإنه أوسط الجنة ، وأعلى الجنة ، وفوقه عرش الرحمن ، ومنه تفجر أنهار الجنة

Maka, bila kalian berdoa kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah ‘Arsy-singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga”. ​(HR. Bukhari no. 2790)​

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Gadai


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Saya ingin bertanya.Ditempat kami banyak terjadi transaksi gadai,yg di gadaikan kbanyakan tanah sawah,ladang dan kebun.
Sistim nya yg punya tanah pinjam uang dg jmlah tertentu dlm jngka waktu yg disepakati kedua blah pihak.yg meminjamkan uang akan menggarap tanah smpai uang nya di kembalikan dlm jangka waktu yg tlah di tentukan dg jumlah yg sama pada saat di pinjamkan.
Yg ingin saya tanyakan APA HUKUM NYA TRANSAKSI CARA BEGITU? (i17)

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Pemegang harta gadai tidak boleh manfaatkan harta gadaian, sebab itu riba.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

عقد الرهن عقد يقصد به الاستيثاق وضمان الدين وليس المقصود منه الاستثمار والربح، وما دام ذلك كذلك فإنه لا يحل للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة، ولو أذن له الراهن، لانه قرض جر نفعا، وكل قرض جر نفعا فهو ربا.

Akad gadai adalah akad yg dengannya bermaksud untuk menjaga dan menjamin hutang, ​bukan untuk mengambil keuntungan dan hasil,​ ​selama akadnya seperti itu maka dilarang si pemberi pinjaman memanfaatkan harta gadaian, walaun diizinkan oleh penggadai,​ karena itu menjadi pinjaman yang membuahkan untung, ​maka setiap untung didapatkan dari pinjaman maka itu riba.​ (Fiqhus Sunnah, 3/156)
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Taklid Pada Satu Imam


Assalamualaikum ustadz/ah….Bagaimanakah tanggapan ustad pada orang yang taklid pada satu imam…? i05

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Bagi orang kebanyakan, taqlid kepada madzhab itu jauh lebih baik dibanding taklid kepada hawa nafsunya sendiri.

Bahkan bagi para ulama yang belum Mujtahid pun disarankan bermazhab agar memiliki paradigma berpikir yang baku.

Imam Al Bujairimi Rahimahullah mengatakan:

كل من الأئمة الأربعة على الصواب و يجيب تقليد واحد منهم ..

Seluruh imam yg 4 berada pd kebenaran, dan wajib taqlid kpd salah satu dari mereka .. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/59)

Beliau juga berkata:

ولا يجوز تقليد غيرهم فى افتاء أو قضاء

Tidak boleh taqlid kepada selain mereka dalam fatwa dan qadha ​(Ibid)​

Hal ini dikarenakan telah terujinya empat madzhab. Hatta ulama-ulama yang nampaknya “bebas madzhab”, seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan .. mereka pun asas fiqihnya adalah Hambali.

Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Al Qaradhawi, .. asas fiqih mereka adalah Hanafi. Dll.

Yg terlarang adalah FANATIK BUTA. Memusuhi yang lain, atau tidak mau mengakui yang lain saat yg lain berada dalam posisi lebih benar.

Al Bujairimi mengatakan:

و يجوز الانتقال من مذهب لغيره ولو بعد العمل

Dan dibolehkan berpindah dari madzhabnya ke madzhab lainnya walau dilakukan setelah amal perbuatannya .. ​(Ibid)​

Nasihat bagus dari Syaikh Abdul Fatah Rawah al Makky Rahimahullah:

(انه) يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل . اذا عرفت هذا فيصح كل حج واحد من الاصناف المذكور على قول بعض الائمة.

“Bahwa sesungguhnya diperbolehkan taklid (menginkuti) pendapat dari salah satu Imam madzhab yang empat (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali), dan ​setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah dan mengikuti pendapat Imam lainnya dalam masalah yang lain.​ Tidak ada ketentuan yang mengharuskan mengikuti satu Imam Mazhab dalam semua masalah. Jika engkau telah mengetahui ketentuan ini maka sudah benar setiap masalah haji yang disebutkan (diputuskan) berdasarkan salah satu pendapat para Imam Madzhab”. ​(Al Ifshah ‘ala Masailil Idhah ‘alal Madzahib al Arba’ah, hal. 219)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Wanita 'Iddah Keluar Rumah Karena Ada Keperluan​


📌 Imam Ibnu Qudamah ​Rahimahullah​ berkata:

وللمعتدة الخروج في حوائجها نهارا , سواء كانت مطلقة أو متوفى عنها . لما روى جابر قال : طُلقت خالتي ثلاثا , فخرجت تجذّ نخلها , فلقيها رجل , فنهاها , فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فقال : (اخرجي , فجذي نخلك , لعلك أن تصدّقي منه , أو تفعلي خيرا) رواه النسائي وأبو داود

Boleh bagi wanita ‘Iddah keluar rumah di siang hari jika ada keperluan, sama saja baik karena wafat atau dicerai.

Berdasarkan riwayat dari Jabir ​Radhiyallahu ‘Anhu:​

Bibiku sdh diceraikan tiga hari lamanya, dia keluar rumah untuk memotong kurmanya, dia berjumpa seorang laki-laki dan laki-laki itu melarangnya keluar. Peristiwa itu diadukan ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi bersabda:

​”KELUARLAH kamu, dan potonglah kurmamu, dan sedekahlah dengannya dan berbuat baiklah.”​ (HR. Abu Daud, An Nasa’i)

​(Al Mughni, 8/130)​

📌 Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

المرأة في عدة الوفاة لها أن تخرج من بيتها في النهار لقضاء حوائجها ، كالذهاب للطبيب ، ومتابعة الإجراءات الحكومية إذا لم يوجد من يقوم بها بدلا عنها ، وأما الليل فلا تخرج فيه إلا لضرورة .

Seorang wanita yang ditinggal wafat, dia BOLEH keluar rumah saat masa ‘iddahnya di siang hari untuk memenuhi keperluannya, seperti ke dokter, mengikuti aktifitas yg ditetapkan pemerintah, jika memang tidak didapatkan orang lain sebagai penggantinya. Ada pun di malam hari tidak boleh dia keluar, kecuali darurat.

​(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 95297)​

📌 Fatwa Al Lajnah Ad Daimah

الأصل: أن تحد المرأة في بيت زوجها الذي مات وهي فيه، ولا تخرج منه إلا لحاجة أو ضرورة؛ كمراجعة المستشفى عند المرض، وشراء حاجتها من السوق كالخبز ونحوه، إذا لم يكن لديها من يقوم بذلك

Pada dasarnya wanita yang sedang berkabung itu di rumah suaminya yang wafat dan dia tinggal di situ. Janganlah keluar kecuali ada keperluan dan mendesak. Seperti ke rumah sakit saat sakit, membeli kebutuhannya ke pasar, roti, dan lainnya, jika tidak ada orang lain yang menjalankannya.

​(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 20/440)​

📌 Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

فقد ذهب جمهور العلماء – ومنهم أئمة المذاهب الأربعة – إلى أن للحادة الخروج من منزلها في عدة الوفاة نهاراً إذا احتاجت إلى ذلك، كما أنه يجوز في الليل أيضا للحاجة عند جمهور الفقهاء، إلا أنها لا تبيت إلا في بيتها

Mayoritas ulama berpendapat – ​diantaranya adalah imam yang empat​- bahwa wanita berkabung boleh keluar di siang hari dari rumahnya di waktu ‘Iddah karena wafatnya suami jika memang ada kebutuhan, sebagaimana dibolehkan juga keluar malam menurut mayoritas ahli fiqih jk ada kebutuhan, selama tidak sampai bermalam kecuali di rumahnya.

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 262162)​

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Pasienku Darurat tapi belum Sholat..


Assalamuaaikum warahmatullahiwabarakatuh ana izin bertanya
“jika saat seorang dokter itu dihadapkan dgn 2 pilihan pasien yg sedang darurat atau sholat yg harus segera ditunaikan, mana dlu yg harus didahulukan?? *mohon dibantu jawabanya🙏🙏🙏

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Jika pasien tersebut butuh penanganan cepat, darurat, bahkan terancam hidupnya, itu adalah kondisi masyaqqah (sulit, sempit, payah), boleh bagi si dokter menunda sementara, atau bahkan menjamak shalatnya. Zhuhur dan ashar, atau maghrib dan isya.

Imam Ibnu Taimiyah ​Rahimahullah​ berkata:

وأوسع المذاهب في الجمع مذهب أحمد فإنه جوز الجمع إذا كان شغل كما روى النسائي ذلك مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: يجوز الجمع أيضا للطباخ والخباز ونحوهما ممن يخشى فساد ماله.

“Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i secara marfu’ (sampai) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.” ​(Al Fatawa Al Kubra, 5/350)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Berdoa Setelah Shalat Wajib, Mestikah Diingkari?

Assalamu alaikum …ustadz ada kawan nitip pertanyaan….apa benar berdoa sesudah sholat itu tidak dibenarkan….jadi katanya cukup dengan berdzikir saja…mohon penjelasannya ustadz

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Pendapat yg mengatakan tidak ada doa setelah shalat wajib, memang ada, tapi itu pendapat minoritas saja. Seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, dll.

Tapi umumnya ulama dari zaman ke zaman di banyak negeri mengatakan doa setelah shalat itu ada, bukan sekedar wirid.

Lengkapnya ini 👇

Sebagian orang mengingkari adanya doa setelah shalat wajib. Mereka mengingkari saudara-saudaranya yang berdoa, dengan alasan tidak ada sunahnya berdoa setelah shalat, yang ada hanyalah berdzikir saja. Benarkah sikap seperti ini?

📌 Mayoritas Ulama Mengatakan Berdoa setelah Shalat Wajib itu SUNNAH

Imam Al Bukhari, dalam kitab Shahih-nya, – jauh sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan bahwa TIDAK ADA BERDOA SETELAH SHALAT- , telah menulis BAB AD DU’A BA’DA ASH SHALAH (Bab Tentang Doa Setelah Shalat).

📌 Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang itu:

قوله: “باب الدعاء بعد الصلاة” أي المكتوبة، وفي هذه الترجمة رد على من زعم أن الدعاء بعد الصلاة لا يشرع

“Ucapannya (Al Bukhari), “Bab Tentang Doa Setelah Shalat” yaitu shalat wajib. Pada bab ini, merupakan bantahan atas siapa saja yang menyangka bahwa berdoa setelah shalat tidak disyariatkan.” (Bantahan lengkap beliau terhadap Imam Ibnul Qayyim, lihat di Fathul Bari, 11/133-135. Darul Fikr)

📌 Imam Ja’far Ash Shadiq Radhiallahu ‘Anhu -salah satu guru Imam Abu Hanifah- berkata:

الدعاء بعد المكتوبة أفضل من الدعاء بعد النافلة كفضل المكتوبة على النافلة.

“Berdoa setelah shalat wajib lebih utama dibanding berdoa setelah shalat nafilah, sebagaimana kelebihan shalat wajib atas shalat nafilah.” (Fathul Bari, 11/134. Tuhfah Al Ahwadzi, 2/197. Darus Salafiyah. Lihat juga Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Bukhari, 10/94. Maktabah Ar Rusyd)

📌 Sementara Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah juga mengatakan:

لا ريب في ثبوت الدعاء بعد الانصراف من الصلاة المكتوبة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قولاً وفعلاً، وقد ذكره الحافظ بن القيم أيضاً في زاد المعاد حيث قال في فصل: ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بعد انصرافه من الصلاة ما لفظه: وقد ذكر أبو حاتم في صحيحه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول عند إنصرافه من صلاته اللهم أصلح لي ديني الذي جعلته عصمة أمري ، واصلح لي دنياي التي جعلت فيها معاشي…

“Tidak ragu lagi, kepastian adanya berdoa setelah selesai shalat wajib dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik secara ucapan atau perbuatan. Al Hafizh Ibnul Qayyim telah menyebutkan juga dalam Zaadul Ma’ad ketika dia berkata dalam pasal: Apa-apa Saja yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Ucapkan Setelah selesai shalat. Demikian bunyinya: Abu Hatim telah menyebutkan dalam Shahih-nya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata setelah selesai shalatnya: “Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang telah menjaga urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang aku hidup di dalamnya …” (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/197)

📌 Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi Rahimahullah :

“في دبر كل صلاة” : أي عقبها وخلفها أو في آخرها

“Pada dubur kulli ash shalah, yaitu setelah dan belakangnya, atau pada akhirnya.” (‘Aunul Ma’bud, 4/269. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

📌 Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah juga juga mengatakan:

واستحباب المواظبة على الدعاء المذكور عقيب كل صلاةٍ

“Dan disunahkan menekuni doa dengan doa tersebut pada setiap selesai shalat.” (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 5/433. Maktabah Ar Rusyd)

📌 Para ulama Kuwait, yang tergabung dalam Tim penyusun kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لِلإِْمَامِ وَالْمَأْمُومِينَ عَقِبَ الصَّلاَةِ ذِكْرُ اللَّهِ وَالدُّعَاءُ بِالأَْدْعِيَةِ الْمَأْثُورَةِ

“Disunnahkan bagi imam dan makmum setelah selesai shalat untuk berdzikir kepada Allah dan berdoa dengan doa-doa ma’tsur.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 6/214. Wizaratul Awqaf wasy Syu’un Al Islamiyah)

Dalam kitab yang sama juga disebutkan:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ مَا بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ مَوْطِنٌ مِنْ مَوَاطِنِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ

“Pendapat MAYORITAS fuqaha adalah bahwa waktu setelah shalat fardhu merupakan waktu di antara waktu-waktu dikabulkannya doa.” (Ibid, 39/227).

📌 Di halaman yang sama, dikutip perkataan Imam Mujahid sebagai berikut:

إِنَّ الصَّلَوَاتِ جُعِلَتْ فِي خَيْرِ الأَْوْقَاتِ فَعَلَيْكُم

ْ بِالدُّعَاءِ خَلْفَ الصَّلَوَاتِ

“Sesungguhnya pada shalat itu, dijadikan sebagai waktu paling baik bagi kalian untuk berdoa, (yakni) setelah shalat.” (Ibid)

Demikianlah perkataan para imam kaum muslimin dan dalil-dalil yang sangat jelas tentang doa setelah shalat wajib, yang mereka sampaikan.

Maka, sangat tidak dibenarkan sikap sinis dan menyalahkan saudara sesama muslim yang meyakini dan melakukan doa setelah shalat wajib. Seharusnya dalam masalah ini kita berlapang dada.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bermain Dadu..


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …Saya pernah membaca hadist bahwa bermain dadu itu termasuk perbuatan tercela..Lalu bagaimana hukumnya jika permainan dadu itu bukan dalam rangka berjudi atau yang selainnya..melainkan hanya sekedar permainan..Bagaimana hukumnya masalah itu ustadz??Syukron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bermain dadu, baik Ludo, Ular Tangga, monopoli, memang ada larangannya. Walau tidak ada unsur judi.

Dalam hadits disebutkan:

َ مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

​Barangsiapa yang bermain dadu maka seakan dia mencelupkan tangannya pada daging babi dan darahnya.​ (HR. Muslim)

Hadits diatas menunjukkan keharaman bermain dadu, baik judi atau bukan, sebab penyebutannya memang secara umum.

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata dalam ​Faidhul Qadir​:

وقد اتفق السلف على حرمة اللعب به، ونقل ابن قدامة عليه الإجماع

​Para ulama salaf telah sepakat keharaman bermain dadu, Ibnu Qudamah menukil adanya ijma’ atas keharamannya.​ (selesai)

Dahulu saat kecil kita sering memainkannya, semoga Allah memaafkan yg telah lalu.

Sebagian orang berkilah, itu kan jika judi pakai dadu. Tidak benar. Sebab haditsnya tidak membicarakan judi tapi permainan. Jika dengan judi maka keharamannya lebih keras lagi.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Lupa Niat dan Bacaan, Sahlan Sholatnya?


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh ustadz. Afwan, mau bertanya sbb:
1. Jika seandainya pada saat setelah takbir tiba2 kita merasa td niat sholatnya sdh benar apa blm, kemudian kita mengulang niat, apakah dibolehkan secara rukun dan apakah shalatnya menjadi syah atau tidak?

2. Jika kita lupa apakah telah membaca surat Al Fatihah, kemudian kita mengulang lagi sebelum atau sesudah surat tambahan lain, apakah dibolehkan secara rukunnya dan apakah sholat kita syah atau tidak.

Syukron katsiran sebelumnya ustadz. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Niat shalat itu rukun shalat. Jika tidak ada atau salah maka tidak sah, wajib mengulangnya. Posisi niat itu di awal bukan ditengah shalat.

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah:

يجب على من أراد الصَّلاة أن ينويَ عينَها إذا كانت معيَّنة

​Wajib bagi yg ingin shalat berniat secara spesifik jika shalatnya memang shalat yg khusus.​

مثل: لو أراد أن يُصلِّي الظُّهر يجب أن ينوي صلاةَ الظُّهر، أو أراد أن يُصلِّي الفجر فيجب أن ينويَ صلاة الفجر، أو أراد يُصلِّي الوِتر فيجب أن ينويَ صلاة الوِتر. انتهى.

​Misal, kalau mau shalat zhuhur maka niatnya shalat zhuhur, kalau mau shalat subuh maka niatnya shalat zhuhur, kalau mau shalat witir maka niatnya witir.​ ​(Syarhul Mumti’)​

Ada pun perubahan niat di tengah shalat ada rincian sebagai berikut:

تغيير النية إما أن يكون من معيَّن لمعيَّن ، أو من مطلق لمعيَّن : فهذا لا يصح ، وإذا كان من معيَّن لمطلق : فلا بأس .

مثال ذلك :

من معيَّن لمعيَّن : أراد أن ينتقل من سنة الضحى إلى راتبة الفجر التي يريد أن يقضيها ، كبَّر بنية أن يصلي ركعتي الضحى ، ثم ذكر أنه لم يصل راتبة الفجر فحولها إلى راتبة الفجر : فهنا لا يصح ؛ لأن راتبة الفجر ركعتان ينويهما من أول الصلاة .

كذلك أيضاً رجل دخل في صلاة العصر ، وفي أثناء الصلاة ذكر أنه لم يصل الظهر فنواها الظهر : هذا أيضاً لا يصح ؛ لأن المعين لابد أن تكون نيته من أول الأمر .

وأما من مطلق لمعيَّن : فمثل أن يكون شخص يصلي صلاة مطلقة – نوافل – ثم ذكر أنه لم يصل الفجر ، أو لم يصل سنة الفجر فحوَّل هذه النية إلى صلاة الفجر أو إلى سنة الفجر : فهذا أيضاً لا يصح .

أما الانتقال من معيَّن لمطلق : فمثل أن يبدأ الصلاة على أنها راتبة الفجر ، وفي أثناء الصلاة تبين أنه قد صلاها : فهنا يتحول من النية الأولى إلى نية الصلاة فقط .

Mengubah niat baik dari shalat mu’ayyan (spesifik) ke shalat mu’ayyan juga, atau shalat muthlaq ke mu’ayyan maka TIDAK SAH. Tapi jika dari mu’ayyan ke muthlaq, tidak apa-apa

contihnya: dari mu’ayyan ke mu’ayyan, seorang ingin mengubah dari shalat sunah dhuha ke shalat sunah fajar, dia ingin mengqadhanya, saat takbir dia niat dhuha 2 rakat, lalu teringat dia blm shalat sunah 2 rakaat sebelum subuh, lalu dia mengubah niat menjadi shalat sunah fajar, maka ini TIDAK SAH, krn sunah fajar adalah dua rakaat dia harus meniatkannya sejak awal

Begitu pula seorang yang shalat ashar, saat shalat ingat belum shalat zhuhur, akhirnya dia meniatkan zhuhur ini juga tidak sah, karena shalat mu’ayyan harus niat itu di awalnya.

Ada pun dari muthlaq ke mua’yyan, contoh seorang sdg shalat sunah muthlaq, lalu dia teringat belum shalat subuh atau belum shalat sunah fajar, lalu dia mengubah niatnya menjadi shalat subuh atau shalat sunah subuh maka ini juga TIDAK SAH. (Majmu’ Fatawa, 12/347)

Shalat MU’AYYAN yaitu shalat spesifik yg memiliki sebab, baik waktu atau peristiwa. Seperti shalat yg 5, Dhuha, tahiyatul masjid, gerhana, istisqa’, tahajud, dan rawatib. Nama lainnya shalat MU’ALLAQ atau MUQAYYAD

Shalat MUTHLAQ, adalah shalat tanpa sebab, dilakukan sekedar ingin shalat saja.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Membaca Al-Quran dengan Suara Nyaring


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz mau tanya tentang hukum baca alquran dengan suara terdengar nyaring, soalnya saya pernah di tegur kaka ipar ketuka lagi tilawah katanya tidak boleh bersuara
Adakah hujjahnya tentang hal itu?
Jazakalloh khoir usatad

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah ..
Jika membaca Al Qur’an dengan suara keras memang ada maslahat, orang lain bisa mengambil manfaat, atau dalam keadaan mengajar, tidak apa-apa.

Dalam hal ini dalilnya banyak:

– Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an dengan suara merdu, Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ mendengarkannya tanpa sepengetahuannya, dan Beliau pun memuji dengan kalimat:

لَقَدْ أُوْتِيْتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيْرِ أَهْلِ دَاوُدَ

“Sungguh engkau telah diberi seruling di antara seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Abu Hurairah ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata, bahwa Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ bersabda:

ما اذن اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ

​“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan sebagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara JAHR (nyaring).”​ (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ pun pernah meninggikan suara dengan merdu saat membaca Al Qur’an, dan para sahabat mendengarkannya.

Abdullah bin Al Mughaffal ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ عَلَى نَاقَتِهِ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ
قَالَ فَقَرَأَ ابْنُ مُغَفَّلٍ وَرَجَّعَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَوْلَا النَّاسُ لَأَخَذْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Pada hari Fathu Makkah, saya melihat Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa sallam​ di atas untanya membaca surat Al Fath. Ibnu Mughaffal pun membacanya dan mengulangi bacaannya kembali. Kemudian Mu’awiyah berkata, “Sekiranya bukan karena (akan berkumpulnya) manusia, niscaya saya melakukan seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mughaffal dari Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak kisah lainnya. Semua ini menunjukkan mengeraskan suara saat membaca Al Qur’an, tentu dengan indah dan tartil, adalah perbuatan yang boleh bahkan dilakukan oleh orang-orang utama.

Hanya saja, mengeraskan suara menjadi TERLARANG, jika sampai mengganggu orang lain, baik sedang shalat, dzikir, atau tilawah Al Quran juga.

Berikut ini dalilnya:

▪ Diriwayatkan dari Al Bayadhi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Bahwa Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ keluar menuju mesjid dan manusia sedang shalat, mereka meninggikan suara mereka dalam membaca Al Quran, maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat adalah orang sedang bermunajat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla maka konsentrasilah dengan munajatnya itu! Dan janganlah kalian saling mengeraskan suara dalam membaca Al Quran.” (HR. Ahmad No. 19022. Syaikh Syu’aib Al Arna-uth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 19022)

Dari Abu Said al Khudri ​Radhiallahu ‘Anhu​:

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ i’tikaf di masjid, beliau mendengar manusia mengeraskan suara ketika membaca Al Quran, maka dia membuka tirai dan bersabda: “ Ketahuilah sesungguhnya setiap kalian ini bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan kalian saling mengganggu satu sama lain, dan jangan saling tinggikan suara kalian dalam membaca Al Quran atau di dalam shalat.” (HR. Abu Daud No. 1334, Ibnu Khuzaimah No. 1162, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4216, dll. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Salim Husein Asad, Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

​📚 Kesimpulan:​

☘ Syaikh Sayyid Sabiq ​Rahimahullah​ mengatakan:

يحرم رفع الصوت على وجه يشوش على المصلين ولو بقراءة القرآن. ويستثنى من ذلك درس العلم.
​“Diharamkan mengeraskan suara (dimasjid) hingga menyebabkan terganggunya orang shalat walau pun yang dibaca itu adalah Al Quran, dikecualikan bagi yang sedang proses belajar mengajar Al Quran.”​ ​(Fiqhus Sunnah, 1/251)​

☘ Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ​Rahimahullah​ berkata:

رفع الصوت بالقراءة إذا كان فيه مصلحة؛ لأن هناك من يستمع، وهم كثيرون، فيرفع الصوت حتى يبلغهم هذا مطلوب، أما إذا كان رفع الصوت قد يشوش على المصلين أو القراء لا، يخفض صوته لا يشوش على الناس

​Meninggikan suara saat membaca Al Qur’an jika mengandung maslahat, karena ada yang mendengarkan dan mereka banyak, maka meninggikan suara hingga sampai kepada mereka justru diperintahkan. Tapi, jika itu mengganggu orang shalat atau orang yang sedang membaca Al Qur’an, maka tidak boleh. Hendaknya dia merendahkan suaranya jangan sampai mengganggu manusia.​ (selesai)
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA