Hanya Satu Mahzab ato Bole Lebih??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Dari penjelasan ustadz di atas… Selanjutnya kami ingin tanya… Apakah seseorang harus memegang salah satu madzhab secara keseluruhan tanpa reserve… Atau msh dimungkinkan yang lain…
Misal… Utk kasus fiqih “A”
Menurut madzab syaafi’i “gini”
Menurut madzab hambali “gitu”
Menurut madzab maliki “seperti ini” dan
Menurut madzab hanafi “seperti itu”
Selanjutnya.. orang tsb mempelajari dan mengkomparasi ke-empat madzab tsb dan memutuskan kasus fiqih “A” dia pilih madzab hambali, krn dia merasa yakin dg pendapat madzab ini… Sementara sehari2 dia juga mengamalkan madzab yg lain, karena yakin dg kebenaran madzab…
Mohon penjelpasan…
A31

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Bagi orang kebanyakan, taqlid kepada madzhab itu jauh lebih baik dibanding taklid kepada hawa nafsunya sendiri.

Bahkan bagi para ulama yang belum Mujtahid pun disarankan bermazhab agar memiliki paradigma berpikir yang baku.

Imam Al Bujairimi Rahimahullah mengatakan:

كل من الأئمة الأربعة على الصواب و يجيب تقليد واحد منهم ..

Seluruh imam yg 4 berada pd kebenaran, dan wajib taqlid kpd salah satu dari mereka .. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/59)

Beliau juga berkata:

ولا يجوز تقليد غيرهم فى افتاء أو قضاء

Tidak boleh taqlid kepada selain mereka dalam fatwa dan qadha ​(Ibid)​

Hal ini dikarenakan telah terujinya empat madzhab. Hatta ulama-ulama yang nampaknya “bebas madzhab”, seperti Syaikh bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan .. mereka pun asas fiqihnya adalah Hambali.

Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Al Qaradhawi, .. asas fiqih mereka adalah Hanafi. Dll.

Yg terlarang adalah FANATIK BUTA. Memusuhi yang lain, atau tidak mau mengakui yang lain saat yg lain berada dalam posisi lebih benar.

Al Bujairimi mengatakan:

و يجوز الانتقال من مذهب لغيره ولو بعد العمل

Dan dibolehkan berpindah dari madzhabnya ke madzhab lainnya walau dilakukan setelah amal perbuatannya .. ​(Ibid)​

Nasihat bagus dari Syaikh Abdul Fatah Rawah al Makky Rahimahullah:

(انه) يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل . اذا عرفت هذا فيصح كل حج واحد من الاصناف المذكور على قول بعض الائمة.

“Bahwa sesungguhnya diperbolehkan taklid (menginkuti) pendapat dari salah satu Imam madzhab yang empat (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali), dan ​setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah dan mengikuti pendapat Imam lainnya dalam masalah yang lain.​ Tidak ada ketentuan yang mengharuskan mengikuti satu Imam Mazhab dalam semua masalah. Jika engkau telah mengetahui ketentuan ini maka sudah benar setiap masalah haji yang disebutkan (diputuskan) berdasarkan salah satu pendapat para Imam Madzhab”. ​(Al Ifshah ‘ala Masailil Idhah ‘alal Madzahib al Arba’ah, hal. 219)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Membaca Hadits Pakai Tajwid ?​


​Bismillah wal Hamdulillah​

Para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang itu. Sebagian melarang bahkan menganggapnya bid’ah, sebagian lain menganggapnya Sunnah.

​1⃣ Yg mengatakan terlarang​

Alasan mereka adalah Al Qur’an itu mesti dibaca tartil, sebagaimana turunnya, sehingga membacanya sesuai aturan tajwid adalah agar Tartil, dan yg seperti ini tidak berlaku bagi selain Al Qur’an.

Lagi pula, tujuannya adalah agar bisa dibedakan antara Al Qur’an dan selainnya. Kalau selain Al Qur’an dibaca dgn menggunakan hukum tajwid maka tidak beda lagi dengan Al Qur’an.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ​Rahimahullah​ mengatakan:

ذكر بعض المتأخرين في تفسير قوله تعالى : ( وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَاب ) آل عمران/78
ذكر بعض المتأخرين : أن من ذلك أن يتلو الإنسان غير القرآن على صفة تلاوة القرآن ، مثل أن يقرأ الأحاديث – أحاديث النبي الله عليه وسلم – كقراءة القرآن ، أو يقرأ كلام أهل العلم كقراءة القرآن .
وعلى هذا : فلا يجوز للإنسان أن يترنم بكلامٍ غير القرآن على صفة ما يقرأ به القرآن ، لا سيما عند العامة الذين لا يُفَرِّقون بين القرآن وغيره إلا بالنغمات والتلاوة .

Sebagian ulama belakangan menyebutkan tafsir firman Allah Ta’ala:

​Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab​

Sebagian mereka mengatakan: yang termasuk ini adalah membaca selain Al Qur’an tapi dengan cara sifat baca seperti membaca Al Qur’an. Seperti membaca hadits Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ dan perkataan ulama seperti membaca Al Qur’an.

Oleh karena itu, tidak boleh melagukan membaca selain Al Qur’an seperti membaca Al Qur’an. Bagi bagi orang awam yang tidak mampu membedakan mana Al Qur’an dan mana bacaan selain Al Qur’an, kecuali dgn melagukan dan membacanya.

​(Fatawa Nuur ‘Alad Darb, kaset ke 212)​

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

قالوا : هذا العمل محدث ، والأصل في المحدثات المتعلقة بالعبادات أنها من البدع حتى يثبت الدليل على مشروعيتها .
في ترتيل قراءة الحديث النبوي الشريف والأذكار النبوية إيهام أنها من القرآن الكريم ، والأصل صيانة كتاب الله عن الاختلاط بغيره من الكلام . ترتيل غير كلام الله من عادات أحبار اليهود والنصارى ، وقد نهينا عن التشبه بهم .

​Mereka (para ulama) mengatakan: ini adalah perbuatan baru, hal-hal yang baru pada dasarnya terkait dalam ibadah, dan itu termasuk bid’ah sampai adanya dalil yang mensyaratkannya.​

​Membaca hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ ​dan dzikir-dzikir nabawi secara tartil adalah persangkaan yang lemah jika dianggap termasuk dari Al Qur’an, dan pada dasarnya ini adalah penjagaan agar Al Qur’an tidak tercampur dengan perkataan manusia.​

​Membaca selain Al Qur’an secara tartil merupakan kebiasaan pendeta Yahudi dan Nasrani, dan kita dilarang menyerupai mereka.​

​(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 148358)​

​2⃣ Boleh membaca Hadits dengan tajwid​

Golongan ini membolehkan, dan menolak dikatakan ini bid’ah, sebab ini sudah terjadi sejak masa awal Islam. Bahkan Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ membaca doa dengan gaya ​rajaz​ , yaitu bersenandung dgn suara yang ditinggikan.

Sebagaimana riwayat berikut:

عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ حَتَّى وَارَى التُّرَابُ شَعَرَ صَدْرِهِ وَكَانَ رَجُلًا كَثِيرَ الشَّعَرِ وَهُوَ يَرْتَجِزُ بِرَجَزِ عَبْدِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا
وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا
وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا
إِنَّ الْأَعْدَاءَ قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا
إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا
يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ

Aku melihat Nabi ​Shallallahu ‘alaihi wa Sallam​ pada perang Khandaq sedang mengangkut tanah hingga tanah itu menutup bulu dada Beliau. Beliau memang seorang yang berbulu lebat Saat itu Beliau menyenandungkan sya’ir ‘Abdullah:

“Ya Allah, kalau bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk. Dan tidak akan pula kami bershadaqah dan shalat”. Maka turunkanlah sakinah kepada kami dan teguhkanlah kaki berpijak kami karena kami sedang berhadapan”.

“Dengan musuh yang telah durjana terhadap kami. Jika mereka menghendaki fitnah terhadap kami, kami akan mengabaikannya”.

Beliau menyenandungkannya dengan suara keras.
​(HR. Bukhari no. 3034)​

Alasan lainnya adalah bahwa membaca secara tajwid adalah kebiasaan orang Arab yg berlangsung sejak lama, baik dalam perkataan, doa, bukan hanya saat membaca Al Qur’an, tapi juga saat membaca hadits dan perkataan ulama.

Dalam kitab ​Wafayat Al A’yan​ diceritakan tentang salah satu ulama salaf, ​Al Humaidiy Al Andalusia ​Rahimahullah​:​

وكان موصوفا بالنباهة والمعرفة والإتقان والدين والورع ، وكانت له نغمة حسنة في قراءة الحديث

Dia orang yg digambarkan sebagai orang yang cerdas, berpengetahuan, profesional, ahli agama dan wara’, ​dan memiliki senandung yang bagus saat membaca hadits.​ ​(Wafat Al A’yan, 4/282)​

Imam Muhammad Al Badiriy Ad Dimyathi ​Rahimahullah​ berkata:

وأما قراءة الحديث مجودة كتجويد القرآن ، من أحكام النون الساكنة ، والتنوين ، والمد ، والقصر ، وغير ذلك ، فهي مندوبة ، كما صرح به بعضهم

​Ada pun membaca hadits dengan bertajwid seperti tajwidnya Al Qur’an, semisal hukum nun mati, tanwin, panjang, pendek, dan lainnya, maka ini Sunnah, sebagaimana dijelaskan oleh mereka (para ulama).​

​(Hasyiyah Al Ajhuriy ‘ala Syarh Az Zarqaniy ‘alal Manzhumah Al Baiquniyah, Hal. 227)​

Ini juga pendapat ulama kontemporer, seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Shalih Al Fauzan, dll.

Syaikh Shalih Al Fauzan berkaya:

تحسين الصوت ليس بتلحين ، التلحين غناء لا يجوز ، لكن تحسين الصوت بالقرآن ، وتحسين الصوت بالأذكار : هذا طيب

​Memperindah suara bukanlah termasuk talhin​ ​(menggubah nyanyian), talhin itu nyanyian dan tidak boleh. Tetapi memperindah suara saat membaca Al Qur’an dan dzikir-dzikir, itu bagus.​ (sebagaimana dikutip Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam fatwanya)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Kun-yah Pakai Nama Anak Perempuan?​


Menggunakan kun-yah, boleh dengan nama anak laki-laki, dan ini umumnya.

Boleh dengan anak perempuan, dan sebagian sahabat nabi melakukannya, seperti Tamim bin Aus Ad Daariy, dia Abu Ruqayyah. Atau As’ad bin Zurarah dia Abu Umamah. Tidak masalah.

Bahkan boleh dengan bukan nama anak2nya, seperti Imam An Nawawi yg nama Aslinya Yahya bin Syaraf. Dia berkun-yah, Abu Zakariya, padahal sampai dia wafat belum pernah nikah dan belum punya anak tentunya.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dikun-yahkan dgn Ummu Abdillah, padahal dia tidak punya anak.

Jadi ini amrun waasi’ (masalah yang lapang dan lentur) …

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فلا مانع أن يكنى الرجل أو المرأة بأحد أبنائها من الذكور أو الإناث، سواء كانj الأكبر أو الأصغر أو يكنى بغير أبنائه.

Tidak terlarang bagi seorang laki-laki atau wanita berkun-yah dengan nama anak-anaknya baik yang laki atau perempuan. Sama saja apakan dengan anak yang besar atau kecil (adiknya), atau dengan nama selain anak-anak mereka.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 78796)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Makruhkah Memakai Cincin di Jari Tengah?​


Memakai cincin di jari tengah (juga telunjuk) itu makruh.

Ali Radhiallahu ‘Anhu menceritakan:

«نَهَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ»، قَالَ: «فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا»

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang saya memakaikan cincin jari saya yang ini atau yang ini. Beliau menunjukkan jari ​tengah​ dan sebelahnya. (HR. Muslim No. 2095)

Apakah yang dimaksud jari sebelahnya? Yaitu jari telunjuk, dijelaskan dalam riwayat lain, dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

« نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ أَتَخَتَّمَ، فِي السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى»

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memakai cincin di telunjuk dan tengah. (HR. Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 17/112, juga Abu ‘Uwanah No. 8651, dari Idris)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وفي حديث علي نهاني صلى الله عليه وسلم أن أتختم في أصبعي هذه أو هذه فأومأ إلى الوسطى والتي تليها وروي هذا الحديث في غير مسلم السبابة والوسطى وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر وأما المرأة فإنها تتخذ خواتيم في أصابع قالوا والحكمة في كونه في الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله في الوسطى والتي تليها لهذا الحديث وهي كراهة تنزيه وأما التختم في اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

Dalam hadits Ali: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarangku memakai cincin di jariku yang ini atau yang ini.” Beliau menunjuk jari tengah dan sebelahnya. Hadits diriwayatkan oleh selain Imam Muslim menunjukkan jari telunjuk dan tengah. Kaum muslimin telah ijma’ bahwa sunah memakai cincin bagi laki-laki di jari kelingkingnya. Ada pun wanita memakainya di jari mana pun. Mereka mengatakan, hikmahnya adalah bahwa posisi jari kelingking yang jauh dari pekerjaan yang biasa dilakukan oleh tangan karena kedudukannya di pinggir, juga karena jari kelingking tidak sesibuk jari-jari lain, berbeda dengan jari kelingking. Dimakruhkan bagi kaum laki-laki memakai cincin di jari tengah dan sebelahnya menurut hadits ini, yaitu makruh tanzih. Ada pun memakai cincin di tangan kanan atau kiri, maka keduanya telah ada keterangan dalam hadits yang shahih. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/71)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Memakai Cincin di Jari Tengah (juga telunjuk)


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apakah benar memakai cincin di jari tengah TDK diperbolehkan Krn tasabuh dgn orang kufar?
Syukron. Pertanyaan member 04

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Memakai cincin di jari tengah (juga telunjuk) itu makruh.
Ali Radhiallahu ‘Anhu menceritakan:

«نَهَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ»، قَالَ: «فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا»

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang saya memakaikan cincin jari saya yang ini atau yang ini. Beliau menunjukkan jari ​tengah​ dan sebelahnya. (HR. Muslim No. 2095)

Apakah yang dimaksud jari sebelahnya? Yaitu jari telunjuk, dijelaskan dalam riwayat lain, dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

« نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ أَتَخَتَّمَ، فِي السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى»

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memakai cincin di telunjuk dan tengah. (HR. Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 17/112, juga Abu ‘Uwanah No. 8651, dari Idris)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وفي حديث علي نهاني صلى الله عليه وسلم أن أتختم في أصبعي هذه أو هذه فأومأ إلى الوسطى والتي تليها وروي هذا الحديث في غير مسلم السبابة والوسطى وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر وأما المرأة فإنها تتخذ خواتيم في أصابع قالوا والحكمة في كونه في الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله في الوسطى والتي تليها لهذا الحديث وهي كراهة تنزيه وأما التختم في اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

Dalam hadits Ali: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarangku memakai cincin di jariku yang ini atau yang ini.” Beliau menunjuk jari tengah dan sebelahnya. Hadits diriwayatkan oleh selain Imam Muslim menunjukkan jari telunjuk dan tengah. Kaum muslimin telah ijma’ bahwa sunah memakai cincin bagi laki-laki di jari kelingkingnya. Ada pun wanita memakainya di jari mana pun. Mereka mengatakan, hikmahnya adalah bahwa posisi jari kelingking yang jauh dari pekerjaan yang biasa dilakukan oleh tangan karena kedudukannya di pinggir, juga karena jari kelingking tidak sesibuk jari-jari lain, berbeda dengan jari kelingking. Dimakruhkan bagi kaum laki-laki memakai cincin di jari tengah dan sebelahnya menurut hadits ini, yaitu makruh tanzih. Ada pun memakai cincin di tangan kanan atau kiri, maka keduanya telah ada keterangan dalam hadits yang shahih. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/71)
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bolehkah Bersalaman dengan Lawan Jenis??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz betulkah ada fiqih yg membolehkan bersalaman perempuan dan laki laki krn kedudukan yg lebih misal laki2 itu guru….

Sy seorang guru baru prihatin ada teman sy bahkan guru agama … Beliau rela dicium tangan oleh siswi putrinya…. Katanya Ada kilafiyah masalah tsb…

Sy akan tegaskan dgn tata tertib masih ragu untuk mengingatkan secara tegas pada guru tsb…

Jazakallah khair ustadz..
Jawaban ustadz sangat kami tunggu untuk perbaikan karakter lembaga sekolah kami

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah..

Berjabat tangan dgn lawan jenis bukan mahram ada 2 pendapat ulama.

1. Terlarang, ini pendapat mayoritas ulama, dgn alasan2 :

– Nabi tidak pernah dibai’at dgn menyentuh tangan wanita, berbeda dgn saat dgn kaum laki2

– Nabi menyebut tertusuk besi neraka lbh dia sukai dibanding bersentuhan dengan wanita. Hr. Ath Thabarani

2. Boleh tp bersyarat, yaitu tdk mengaja mncr kesempatan buat itu, tdk menikmatinya, namun sbaiknya tetap hindari. Ini pendapat Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, Syaikh TM Hasbi Ash Shidiqiy, dan lainnya.

Alasan pihak yg membolehkan adlh hadits2 yg dijadikan dalil pihak mengharamkan justru tidak tegas. Tidak ad kata2: “Diharamkan .. Atau Nabi melarang ..” dan semisalnya, sbgaimana biasa terjadi pd aktifitas terlarang.

Semua menunjukkan “Nabi tidak melakukan” baik saat bai’at, atau sehari2 .. “.

Tidak melakukan tidak berarti bermakna haram, bs jadi memang nabi tidak menyukainya dan tidak memandang perlu melakukannya.

Ada pun riwayat Ath Thabarani yg menunjukkan “lebih baik tertusuk besi dibanding bersentuhan dgn wanita” bukan menunjukkan makna hakiki .. Tp menunjukkan begitu bencinya nabi dgn hal itu, atau makna bersentuhan disitu adalah hub suami istri ..

Sebab, dalam riwayat Imam Bukhari, nabi pernah dipegang tangannya oleh Jariyah (wanita usia Abg) dan dibawa keliling Madinah dan nabi pun tidak melepaskannya ..

Nabi pun pernah saat muda dicarikan kutu oleh Ummu Haram, seorg wanita yg bukan siapa2nya. Ini alasan2 pihak yg membolehkan.

Ada pun pendapat ulama madzhab, kalangan Syafi’iyah dan Malikiyah menyatakan haramnya bersalaman dengan wanita bukan mahram, baik wanita tua dan muda.

Sedangkan Hanafiyah dan Hanabilah, haram jika bersalaman dengan wanita muda, tapi tidak apa-apa dengan yang sudah tua dan aman dari fitnah/syahwat. ​( ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah,​ 9/297)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Arwah Kaum Mu'minin Mendatangi Keluarganya di Malam Jum'at


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Izin bertanya tadz..
Adakah haditsnya kalau arwah orang yg sudah meninggal maka pada malam jum’at pulang untuk meminta do’a dan kiriman bacaan qur’an?Syukron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Kisah seperti itu tidak kita temukan dalam kitab-kitab hadits standar. Sehingga tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Tapi kita mendapatkan ada dalam kitab para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Abu Bakar bin Sayyid Syatha As Dimyati Asy Syafi’i dalam ​I’anatuth Thalibin,​ Imam Sulaiman bin Muhammad Umar Al Bujairimi Asy Syafi’i, dalam kitab ​Hasyiyah Al Bujairimi ‘alal Khatib, dll.​

Keyakinan bahwa arwah kaum mu’minin mendatangi keluarganya di malam Jum’at bahkan tiap malam memang ada, dan ini bukan keyakinan para ahli bid’ah, tapi sebagian para ulama Ahlus Sunnah.

Sebagai contoh:

إنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ يَأْتُونَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيَقِفُونَ بِحِذَاءِ بُيُوتِهِمْ وَيُنَادِي كُلُّ وَاحِدٍ بِصَوْتٍ حَزِينٍ أَلْفَ مَرَّةٍ يَا أَهْلِي وَأَقَارِبِي وَوَلَدِي يَا مَنْ سَكَنُوا بُيُوتَنَا وَلَبِسُوا ثِيَابَنَا وَاقْتَسَمُوا أَمْوَالَنَا هَلْ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَذْكُرُنَا وَيُفَكِّرُنَا فِي غُرْبَتِنَا وَنَحْنُ فِي سِجْنٍ طَوِيلٍ وَحِصْنٍ شَدِيدٍ ؟ فَارْحَمُونَا يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ وَلَا تَبْخَلُوا عَلَيْنَا قَبْلَ أَنْ تَصِيرُوا مِثْلنَا يَا عِبَادَ اللَّهِ إنَّ الْفَضْلَ الَّذِي فِي أَيْدِيكُمْ كَانَ فِي أَيْدِينَا وَكُنَّا لَا نُنْفِقُ مِنْهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَحِسَابُهُ وَوَبَالُهُ عَلَيْنَا وَالْمَنْفَعَةُ لِغَيْرِنَا ؛ فَإِنْ لَمْ تَنْصَرِفْ أَيْ الْأَرْوَاحُ بِشَيْءٍ فَيَنْصَرِفُونَ بِالْحَسْرَةِ وَالْحِرْمَانِ

Sesungguhnya ruh-ruh orang beriman datang setiap malam ke langit dunia mereka berdiri dengan sendal mereka di rumah-rumah mereka. Mereka memanggil seribu kali, masing-masing panggilan dengan suara memilukan: “Wahai keluargaku, kerabatku, anak-anakku, .. Wahai yang menempati rumah-rumah kami, yang memakai pakaian kami, dan membagi-bagikan harta kami. Apakah kalian masih mengingat kami, memikirkan kami, dalam keterasingan kami? Kami di penjara begitu lama dan dijaga begitu kuat, maka kasihanilah kami niscaya Allah akan menyayangi kalian. Janganlah kalian pelit kepada kami sebelum kalian mengalami apa yang kami alami. Wahai hamba Allah …, karunia yang ada pada kalian dulunya adalah milik kami, dan kami tidak menafkahkannya di jalan Allah, tidak menhitungnya, dan tidak peduli kepadanya dan tidak memberikan manfaat kepada selain kami. ” Maka, jika kalian tidak memberikan apa-apa kepada ruh-ruh itu, maka mereka akan kembali dengan menyesal dan kekurangan.

Lihat kitab:

​- Hasyiyah Al Bujairimi ‘Alal Khathib, 6/167​

​- I’anatuth Thalibin, 2/142​

Bukan hanya mereka, Imam Ahlus Sunnah bermadzhab Hambaliy, yg track record-nya “keras” pun menyebutkan datangnya arwah itu saat keluarganya menziarahi kuburnya.

Berikut ini fatwa Beliau ketika ditanya tentang hukum talqin setelah mayit dikubur:

أجاب: هذا التلقين المذكور قد نقل عن طائفة من الصحابة: أنهم أمروا به، كأبي أمامة الباهلي، وغيره، وروي فيه حديث عن النبي – صلى الله عليه وسلم – لكنه مما لا يحكم بصحته؛ ولم يكن كثير من الصحابة يفعل ذلك، فلهذا قال الإمام أحمد وغيره من العلماء: إن هذا التلقين لا بأس به، فرخصوا فيه، ولم يأمروا به. واستحبه طائفة من أصحاب الشافعي، وأحمد، وكرهه طائفة من العلماء من أصحاب مالك، وغيرهم. والذي في السنن «عن النبي – صلى الله عليه وسلم -: أنه كان يقوم على قبر الرجل من أصحابه إذا دفن، ويقول: سلوا له التثبيت، فإنه الآن يسأل» ، وقد ثبت في الصحيحين أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «لقنوا أمواتكم لا إله إلا الله» . فتلقين المحتضر سنة، مأمور بها. وقد ثبت أن المقبور يسأل، ويمتحن، وأنه يؤمر بالدعاء له؛ فلهذا قيل: إن التلقين ينفعه، فإن الميت يسمع النداء. كما ثبت في الصحيح «عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: إنه ليسمع قرع نعالهم» وأنه قال: «ما أنتم بأسمع لما أقول منهم» ، وأنه أمرنا بالسلام على الموتى. فقال: «ما من رجل يمر بقبر الرجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا رد الله روحه حتى يرد عليه السلام» . والله أعلم

Beliau menjawab: “Talqin seperti itu telah dinukilkan dari segolongan para sahabat bahwa mereka memerintahkan hal ini, seperti Abu Umamah Al Bahili dan selainnya. Dan, diriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ tetapi tidak bisa dihukumi shahih, dan perbuatan ini tidak dilakukan banyak sahabat nabi. Oleh karena itu Imam Ahmad dan selainnya dari kalangan ulama mengatakan bahwa talqin seperti ini tidak apa-apa, mereka memberikan keringanan padanya namun tidak memerintahkannya. Ada pun sekelompok Syafi’iyah menyunnahkannya, juga pengikut Ahmad, tetapi dimakruhkan oleh segolongan ulama Malikiyah dan lainnya.

Tertulis dalam kitab-kitab sunah, dari Nabi ﷺ bahwa Beliau berdiri di sisi kubur seorang sahabatnya saat dia dimasukan ke kubur, dan Beliau bersabda: “Berdoalah untuknya keteguhan, karena dia sedang ditanya sekarang.” Telah shahih dalam Shahihain bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Talqinkan orang yang sedang mebghadapi kematian di antara kamu dengan La Ilaha Illallah.” Maka, talqin ketika menghadapi kematian adalah sunah, dan diperintahkan. Telah shahih bahwa seorang yang dikubur akan ditanya dan mengalami ujian, dan dianjurkan untuk mendoakannya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa talqin itu bermanfaat baginya, karena mayit mendengarkan panggilan. Sebagaimana hadits shahih: “Sesungguhnya mayit mendengar suara sandal kalian.” Dan hadits lain: “Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan dibanding mereka.” Serta perintah nabi kepada kita untuk mengucapkan salam kepada mereka. Nabi ﷺ bersabda: ​“Tidaklah seorang laki-laki melewati kubur seorang laki-laki yang dia kenal, lalu dia ucapkan salam, melainkan Allah akan mengembalikan ruhnya sehingga dia menjawab salamnya.”​ Wallah A’lam. ​(Al Fatawa Al Kubra, 3/24)​

Saran saya adalah:

– Bagi yang tidak meyakininya, maka peganglah keyakinan itu, dan jangan menuduh saudara dengan tuduhan bahwa mereka ahli khurafat, tahayul, bahkan Hindu.

– Bagi yang meyakininya, silahkan pegang keyakinan itu, tapi jangan menyerang yang tidak meyakini dengan sebutan Wahabi, dsb. Sebab masalah ini memang khilaf para imam sejak dahulu.

​Musuh satu sudah banyak, kawan seribu masih sedikit.​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Orang Gila; Surga atau Neraka?​


​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Para ulama berselisih pendapat apakah orang gila masuk ke surga secara langsung ataukah mereka diuji dulu?

​Pertama. Mereka langsung masuk surga​

Imam An Nawawi ​Rahimahullah​ memilih pendapat yang pertama bahwa mereka masuk surga secara langsung.

Imam Badruddin Al ‘Aini ​Rahimahullah​ berkata:

أنهم في الجنة قال النووي هو المذهب الصحيح المختار الذي صار إليه المحققون لقوله تعالى وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا ( الإسراء 51 ) وإذا كان لا يعذب العاقل لكونه لم تبلغه الدعوة فلأن لا يعذب غير العاقل من باب الأولى

Mereka masuk ke surga. Berkata An Nawawi: “Inilah madzhab yang benar lagi dipilih, ollh para muhaqiq (peneliti) sesuai firman Allah Ta’ala: ​Kami tidak akan mengazab sebuah kaum sampai kami mengutus seorang Rasul​. (QS. Al Isra: 51). Jika orang berakal saja tidak diazab dalam keadaan belum sampainya da’wah kepada mereka, apalagi orang yang tidak berakal, maka mereka lebih utama. ​(‘Umdaul Qari, 13/133)​

Imam Ibnul Mulaqqin ​Rahimahullah​ berkata:

وعن ابن القاسم في ولد المسلم يولد مخبولًا، أو يصيبه ذلك قبل بلوغه قَالَ: ما سمعت فيه شيئًا، غير أن الله تعالى قَالَ: (والذين آمنوا وأتبعناهم ذرياتهم) الآية [الطور: 21] فأرجو أن يكونوا معهم.

Dari Ibnul Qasim, tentang seorang anak mslim yang dilahirkan dalam keadaan rusak akalnya atau tertimpa keadaan itu sebelum baligh-nya, dia berkata: “Aku tidak mendengar adanya masalah dengan itu, selain Allah Ta’ala berfirman: ​”Dan orang-orang beriman dan kami ikutkan kepada mereka keurunan mereka.”​ (QS. Ath Thur: 21). Aku harap mereka bersama ayah-ayah mereka. ​(At Taudhih lil Jaami’ Ash Shahiih)​

​Pendapat kedua, mereka uji dulu dengan pertanyaan. Apakah mereka bisa jawab atau tidak.​

Dalam ​An Nawaaadir Az Ziyadaat,​ karya Imam Ibnu Abi Zaid Al Maliki:

وجاء في الحديث في المجانين: توقد لهم نار يوم القيامة، فيقال لهم: اقتحموها، فمن علم الله أنه لو وهبه في الدنيا عقلا أطاعه، فإنه يدخلها ولا يضره، ويدخل الجنة، ومن علم الله أنه لا يطيعه لو عقل لم يدخلها، فأدخل النار.

Terdapat hadits tentang orang-orang gila, api neraka dinyalakan pada hari kiamat nanti, maka dikatakan kepada mereka: ​”Tembuslah! Barang siapa yang mengetahui Allah dan seandainya dia diberikan akal di dunia dan dia mentaatiNya maka dia memasukinya dan tidak mencelakakannya, dan dia masuk surga. Barang siapa yang mengetahui Allah dan dia tidak mentaatiNya walau akalnya tidak memasukinya, maka dia neraka.​

Pendapat kedua ini dikritik para ulama, selain itu haditsnya juga tidak kuat, sebab akhirat bukanlah negeri ujian, bukan lagi masa taklif, tapi saatnya pembalasan. Pendapat ini dikoreksi oleh Imam Ibnu Abdil Bar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, bahkan Ibnu Qayyim membantah dengan 19 bantahan. Pendapat pertamalah pendapat yang kuat. Insya Allah.

Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Marhalah Da'wah: Marhalah Makkiyah​


​🌸Mukadimah​

📌 Marhalah Da’wah itu proses yang syar’i (Sunnah Syar’iyyah). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. (QS. Asy Syu’ara: 214)

📌Marhalah Da’wah itu proses yang alami (Sunnatullah fil Kaun), apa yang ada dalam jagat raya pun terjadi secara bertahap.

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (QS. Fushilat: 12)

📌Allah Ta’ala juga menciptakan manusia dalam perut ibunya secara bertahap. Tidak langsung jadi bayi.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
(QS. Al Mu’minun: 12-14)

📌Saat hidup di dunia pun kita mengalami kehidupan yang bertahap, bayi, anak, remaja dewasa, tua.

​Durus wa ‘Ibar (Pelajaran dan hikmah)​

💦Maka, tidak selayaknya seorang muslim terburu-buru dalam da’wah.

💦Tidak selayaknya pula seorang muslim menuduh yang tidak-tidak terhadap strategi dan proses da’wah yang dilakukan saudaranya.

​🌸Marhalah Makkiyah (Fase Da’wah di Mekkah)​

📌Mekkah adalah kota perdagangan dan gembala. Kehidupannya masyarakatnya nomaden. Banyak suku dan kabilah. Pada masa jahiliyah sering terjadi perang saudara.

📌Da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di kota Mekkah sangat keras penentangannya seiring watak keras masyarakatnya. Oleh karena itu di fase ini tidak terlalu banyak pengikut dan berkali-kali ditindas, diusir, dan embargo.

​Sisi Objek Da’wah​

📌Da’wah Islam masih bersifat sembunyi-sembunyi (Sirriyatud Da’wah), demi menjaga keamanannya (amniyatud da’wah).

📌Zona yang dida’wahi juga bukan orang jauh, tapi keluarga dulu. Oleh karena itu, yang menyambut da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga orang dekat, yaitu Khadijah (istri), Ali (keponakan), Zaid bin Haritsah (anak angkat), dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

📌Sebagai fondasi da’wah ini sangat penting, sebab support keluarga merupakan amunisi ruhiyah yang paling berpengaruh terhadap jiwa.

📌Setelah ini kuat, barulah da’wah melebar kepada kerabat jauh, tetangga, dan masyarakat Mekkah. Dimulai dari rumah Arqam bin Abi Arqam seorang remaja tapi pengusaha.

📌Yang menyambut da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam rata-rata anak muda, dan orang Dhu’afa. Tidak seberapa yang kaya, seperti Abu Bakar, ‘Utsman, dan Abdurrahman bin ‘Auf.

​Durus wa ‘Ibar:​

💦Janganlah melupakan da’wah di keluarga, sebab Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.. (QS. At Tahrim: 6)

💦Jangan melupakan da’wah kepada masyarakat, sebab da’wah butuh dukungan banyak manusia.

💦Jangan mencari musuh sebab musuh tanpa dicari pun sudah sedemikian banyak. Maka, pandai-pandailah menjaga kerahasiaan da’wah di saat masih sedikit dan lemah.

​Pentingnya Back Up Da’wah​

📌Saat masih lemah, da’wah mesti amat sangat dijaga. Termasuk juga dijaga keamanannya secara politik. Maka, dari itu di antara tokoh-tokoh yang di da’wahi tidak tanggung-tanggung; Abu Thalib, Abu Jahal, dan Abu Sufyan. Dari ketiganya, hanya Abu Thalib yg mau melindungi walau tidak mau masuk Islam. Ini sebuah poin tersendiri mengingat Abu Thalib adalah tokoh Bani Hasyim yg disegani di Mekkah.

📌Pemuda yang juga masuk Islam adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Ini amunisi sangat berarti. Sampai Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Umat Islam senantiasa berwibawa sejak masuk Islamnya Umar.

📌Secara komunitas, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga dibantu oleh Bani Khuza’ah, untuk melawan Bani – Bani memusuhi Islam. Bani Khuza’ah adalah musyrik, tp permusuhan mereka tidak sekeras lainya. (Kemudian hari Bani Khuza’ah juga memerangi kaum muslimin di perang Hunain, setelah Fathul Makkah).

📌Ini merupakan upaya memanfaatkan kekuatan musuh untuk melawan musuh. Secara strategi perang, ini merupakan taktik luar biasa dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Kenyataan ini menunjukkan orang kafir itu beragam, sebagaimana beragamnya manusia secara umum. Mereka ada yang memusuhi Islam, netral, mendukung Islam walau tidak masuk Islam

💦Hendaknya umat Islam mampu menjadikan potensi yang sebenarnya “memusuhi”, bisa diubah dan dijadikan senjata bagi kaum muslimin ..

💦Jangan alergi politik, sebab da’wah mesti dijaga oleh kekuatan. Oleh krn itu kata Imam Al Ghazali agama dan negara adalah dua saudara kembar.

​Konten Da’wah​

📌Fase Makkiyah, titik utama da’wah adalah tauhid. Keimanan kepada Allah, Nabi, Al Qur’an, hari akhir, dan konten aqidah lainnya.

📌Ini sangat vital sebagai asas kepribadian muslim dan masyarakat muslim. Maka, tidak dibenarkan da’wah melewati konten-konten ini. Sebab ini adalah Ushul, hal pokok dalam agama.

📌Pembahasan tentang fiqih, hudud, jihad, dan pembebanan lainnya belum disampaikan kecuali saat mereka sudah siap. Shalat wajib yang lima saja disyariatkan saat Isra Mi’raj, yaitu tahun 11 fase Makkiyah.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Tanamkanlah aqidah agar lahir cinta kepada Allah, Rasul, dan Islam

📌Masalah2 fiqih dan cabang akan mengikuti nantinya, sebab kalau sudah cinta maka mereka akan mencari sendiri untuk mengetahuinya

​Menjelang Hijrah​

📌Selama di Mekkah ada dua hijrah kecil, sebelum hijrah ke Madinah. Yaitu ke Habasyah/Etiopia, yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Lalu ke Thaif tempatnya Bani Tsaqif, dipimpin Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam.

📌Hijrah menunjukkan cara yang mungkin ditempuh utk menyelamatkan da’wah jika memang masyakarat sangat keras penolakannya, sekaligus membuka lahan baru.

📌Hijrah Nabi ke Madinah, menunjukkan bahwa Mekkah memang bukan daerah subur bagi da’wah. Madinah dipilih Krn masyarakatnya yg petani, relatif lebih lembut dan mudah menerima dibanding pedagang di Mekkah.

📌Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam menyiapkan secara matang utk hijrah, mulai dari yg mengcontioning keislaman Madinah, yaitu Mush’ab bin Umair Radhiallahu ‘Anhu. Yang menemani Nabi yaitu Abu Bakar, yang memberikan rute yaitu Abdullah bin Uraiqit (seorang musyrik Mekkah), dan melibatkan wanita untuk urusan makanan, Asma binti Abu Bakar. Serta Umar bin Khathab yg hijrah paling akhir, sebab dia seorang yang amat ditakuti oleh penduduk Mekkah.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Jangan putus asa dalam da’wah, bumi Allah itu luas

💦Carilah tempat yang lebih kondusif bagi da’wah Islam

💦Da’wah tidak boleh berhenti bagaimana pun keadaannya

Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Mengapa Madzhab Akidah Asy'ariyyah Dibedakan Dengan Madzhab Ahlussunnah Waljama'ah?


Assalamu’alaikum warohmatullaah ustadz..
Saya mau bertanya, mengapa madzhab akidah asy’ariyyah dibedakan dengan madzhab ahlussunnah waljama’ah?
Apa perbedaan dan persamaannya ustadz?
Jazaakallaahu khoiron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Al Asy’ariyah itu Ahlus Sunnah, bersama Al Maturidiyah dan Al Atsariyah.

Lengkapnya ini 👇

​🌱🍄 ​Al Asy’ariyyah​ dituduh paham sesat, benarkah? 🍄🌱​

💢💢💢💢💢💢

Ust, ada buku berjudul Mulia dengan Manhaj Salaf, penulisnya bilang Asy’ariyyah sebagai aliran sesat .. itu serem amat ya, apa benar tuduhan itu?

🍃🍃🍃🍃🍃

​Bismillah wal Hamdulillah …​

​Al Asy’ariyyah​ adalah paham yang disandarkan kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ariy ​Rahimahullah​.

Ajarannya memenuhi dunia Islam, Timur dan Barat, dan umumnya kampus kampus besar Islam.

Sebaiknya seorang muslim menahan dari menuduh sesat kepada sesamanya, dalam perkara yang sensitif. Apalagi kepada apa yang dianut oleh mayoritas umat ini.

Saya kutipkan pandangan para imam kaum muslimin tentang Asy’ariyyah. Agar kita bisa berpandangan adil dan inshaf/objektif.

Tertulis dalam darulfatwa.org:

الأشاعرة هم أئمة أهل السنة. منهم البيهقي النووي وابن حجر العسقلاني وصلاح الدين الأيوبي. أبو الحسن الأشعري كان إمام أهل السنة. الأشاعرة، لخصوا عقيدة الرسول والصحابة. أغلب أهل السنة والجماعة هم أشاعرة يعني يتبعون طريقة الإمام أبي الحسن الأشعري في نصرة هذا المذهب.

Al Asya’irah, mereka adalah Ahlus Sunnah, di antara seperti Al Baihaqi, An Nawawi, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, dan Shalahuddin Al Ayyubi.

Abul Hasan Al Asy’ariy adalah seorang imam Ahlus Sunnah.

Al Asya’irah adalah intisari dari ajaran Rasulullah dan sahabatnya. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah adalah Asya’irah, yaitu para pengikut jalannya Imam Abul Hasan Al Asy’ariy dalam membela madzhab ini.
(Selesai)

Sementara, Imam As Safarayini ​Rahimahullah​ berkata:

الفائدة الرابعة التعريف بأهل السنة] (الرَّابِعَةُ) : أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ: الْأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ، وَالْمَاتُرِيدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا

Faidah yg keempat: Definisi Ahlus Sunnah.
Keempat: Ahlus Sunnah ada tiga kelompok.

1⃣ Al Atsariyah, imam mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah

2⃣ Al Asy’ariyah, imam mereka adalah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy Rahimahullah

3⃣ Al Maturidiyah, imam mereka adalah Imam Abu Manshur Al Maturidiy Rahimahullah
Adapun firqoh sesat sangat banyak… ​(Imam Syamsuddin As Safarayini, ​Lawami’ Al Anwar Al Bahiyah wa Sawathi’ Al Asrar Al Atsariyah​, 1/73)​

Imam ‘Adhuddin Al Ijiy ​Rahimahullah​ berkata:

وأما الفرقة الناجية المستثناة الذين قال النبي ـ ‘ ـ فيهم “هم الذين على ما أنا عليه وأصحابي” فهم الأشاعرة والسلف من المحدثين وأهل السنة والجماعة، ومذهبهم خالٍ من بدع

Ada pun firqah najiyah (kelompok yang selamat), merekalah orang-orang yang dikecualikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada kata: “pada mereka”, apa-apa yang aku dan sahabatku ada di atasnya, mereka adalah Al Asyaa’irah dan generasi terdahulu ahli hadits, dan Ahlus Sunnah, madzhab mereka bersih dari bid’ah. ​(Al Muwafaq, Hal. 430)​

Imam Al Jalaal Ad Dawani ​Rahimahullah​ berkata:

الفرقة الناجية، وهم الأشاعرة أي التابعون في الأصـول للشيخ أبي الحسـن

Firqah Najiyah, mereka adalah Al Asyaa’irah yaitu orang-orang yang mengikuti pokok-pokok aqidah Asy Syaikh Abul Hasan .. ​(Syarh Aqidah Al ‘Adhudiyah, 1/34)​

Imam Ibnu ‘Ajibah ​Rahimahullah​ berkata:

أما أهل السنة فهم الأشاعرة ومن تبعهم في اعتقادهم الصحيح، كما هو مقرر في كتب أهل السنة

Adapun Ahlus Sunnah, mereka adalah Al Asyaa’irah dan orang-orang yang mengikuti Aqidah mereka yang shahih, sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. ​(Al Bahr Al Madid, Hal. 607)​

Imam Abu Ishaq Asy Syirazi ​Rahimahullah​:

وأبو الحسن الأشعري إمام أهل السنة، وعامة أصحاب الشافعي على مذهبه، ومذهبه مذهب أهل الحق

Abul Hasan Al Asy’ari, dia adalah Imam Ahlus Sunnah, kebanyakan pengikut Asy Syafi’i adalah di atas madzhabnya, dan madzhabnya adalah madzhab Ahlul Haq. ​(Ath Thabaqat Asy Syafi’iyah, 3/376)​

Imam Murtadha Az Zabidi ​Rahimahullah​ berkata:

إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية

Jika secara mutlak disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka maksudnya adalah Al Asyaa’irah dan Al Maturidiyah. ​(Ittihaf As Sa’adah Al Muttaqin, 2/6)​

Di halaman lain dia berkata:

والمراد بأهل السنة هم الفرق الأربعة، المحدثون والصوفية والأشاعرة والماتريدية

Maksud dari Ahlus Sunnah, mereka adalah golongan yang empat: ahli hadits, sufi, Asyaa’irah, dan Maturidiyah. ​(Ibid, 2/86)​

Sufi di sini adalah sufi yang lurus, seperti Al Junaid bin Muhammad, Ma’ruf Al Karkhi, Ibrahim bin Adham, dan yg masih di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami ​Rahimahullah​ berkata:

المـراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجمـاعة الشيخ أبو الحسن الأشعري وأبو منصور الماتريدي…

Maksud dari As Sunnah adalah apa yang imam ahlussunah ada di atasnya, yaitu Abul Hasan Al Asy’ariy dan Abu Manshur Al Maturidiy .. ​(Az Zawaajir, Hal. 82)​

Al ‘Allamah Thasyi Kubra Zaadah Rahimahullah berkata:

ثم اعلم أن رئيس أهل السنة والجماعة في علم الكلام – يعني العقائد – رجلان، أحدهما حنفي والآخر شافعي، أما الحنفي فهو أبو منصور محمد بن محمود الماتريدي، إمام الهدى…

وأما الآخر الشافعي فهو شيخ السنة ورئيس الجماعة إمام المتكلمين وناصر سنة سيد المرسلين والذاب عن الدين والساعي في حفظ عقائد المسلمين، أبو الحسن الأشعري البصري..

Ketahuilah bahwa pemimpinnya Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam ilmu Kalam -yaitu ilmu aqidah- ada dua orang.

Yang satu seorang Hanafiy, yang satu lagi Syafi’iy.

Ada pun Hanafiy, dia adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Al Maturidiy, Imamul Huda ..

Ada pun yang lain adalah seorang pengikut Syafi’iy, dia Syaikhus Sunnah, pimpinannya imam ahli kalam, pembela As Sunnah, penjaga agama dan aqidah kaum muslimin, Abul Hasan Al Asy’ariy .. ​(Miftah As Sa’aadah, 2/33)​

Dan, masih banyak perkataan yang lainnya. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah juga memberikan kesaksian positif untuk Al Asy’ariyah.

وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ. وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ.

Adapun melaknat para ulama asy’ariyah, maka melaknat mereka mesti dita’zir (dihukum), dan laknat itu kembali kepada pelakunya. Barangsiapa yang melaknat org yang tdk berhak dilaknat maka laknat itu kembali kepada si pelaknat. Para ulama adalah pembela cabang-cabang agama, dan golongan Asy’ariyah adalah pembela-pembela dasar-dasar agama. ​(Majmu’ Al Fatawa, 4/16)​

Para imam seperti Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ibnu Hajar Al Haitami, An Nawawi, Ibnu Furak, Ibnul Jauzi, Al Ghazali, Al Bulqini, Al Baqilani, Al Juwaini, Abu Syamah, Ibnu An Nahwi, As Suyuthi, Ali Al Qari, Zakariya Al Anshari, Al Qalyubi, Al Qasthalani, … dll -Rahimahumullah- semua ini Asy’ariyah. Maka, menyebut Asy’ariyyah sesat sama juga menuduh sesat sedemikian banyak imam umat Islam. Tentunya ini sangat berbahaya, selain sangat tidak etis.

Sikap ekstrim mencoret sesama Ahlus Sunnah, lalu mengeluarkan mereka sebagai bukan ​Ahlus Sunnah wal Jamaah,​ pernah melahirkan fitnah berdarah-darah pada masa lalu, .. apakah kita ingin menumpahkan kembali darah umat Islam oleh tangan kita sendiri? ​Laa hawla walaa quwwata Illa Billah​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA