Puasa dan Salat yang Paling Utama

Menunda Qadha Puasa Bertahun-tahun, Bagaimanakah Hukumnya?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana Islam mengatur, jika seorang ibu yang sedang menyusui anaknya belum bisa mengganti semua puasa yang terlewat saat nifas puasa tahun lalu. Karna kondisi fisik yang lemah. Apakah boleh ganti setelah puasa tahun ini lewat untuk mengganti puasa tahun sebelumnya Ustadz? A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Ustadz: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada Anda dan keluarga.

Dalam masalah qadha puasa, memang ada beberapa perincian. Dalam Al Fiqh Al Muyassar, disebutkan:

– Jika meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan, maka dia wajib bertobat dan memohon ampun, sebab itu dosa dan kemungkaran besar. Serta wajib baginya qadha secara faur (segera), menurut pendapat yang shahih dari berbagai pendapat ulama.

– Jika tidak puasa Ramadhan ada alasan syar’i seperti haid, nifas, sakit, safar, dan lainnya, maka wajib baginya qadha tapi tidak wajib segera. Dia punya waktu lapang sampai Ramadhan selanjutnya, namun hal yang disunnahkan baginya untuk segera mengqadha, sebagai tindakan yang lebih hati-hati. (Lihat Al Fiqh Al Muyassar fi Dhau’il Quran was Sunnah, hal. 162)

Lalu, apakah jika menunda qadha mesti ditambah dengan fidyah? Ini pun juga dirinci, sebagai berikut:

– Jika menunda-nundanya TANPA alasan, misal hanya karena kesibukan dan malas, maka wajib baginya juga fidyah, yaitu satu harinya sebesar satu mud. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Mujahid, Sa’id bin Jubeir, Malik, Al Awza’i, Ats Tsauri, Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Atha’ bin Abi Rabah, Al Qasim bin Muhammad, Az Zuhri. Hanya saja Ats Tsauri mengatakan 2 mud untuk masing-masing hari yg ditinggalkan.

Ada pun Al Hasan Al Bashri, Ibrahim an Nakha’i, Abu Hanifah, Al Muzani, Daud Azh Zhahiri, mengatakan qadha saja, tanpa fidyah.

– Jika menunda qadhanya ada udzur syar’i, misalnya sakit yang menahun, atau hamil, dan lainnya, maka qadha saja tanpa fidyah.

(Lihat Al Mausu’ah Masaail Al Jumhur, jilid. 1, hal. 321. Lihat juga Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, jilid. 3, hal. 108)

Jika tertundanya sampai melewati Ramadhan selanjutnya apalagi beberapa tahun dan itu tanpa alasan, maka itu penundaan yang terlarang. Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga menunda tapi tidak sampai melewati Ramadhan selanjutnya.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

ما كنت أقضي ما يكون علي من رمضان إلا في شعبان حتى توفي رسول الله صلى الله عليه و سلم

Aku tidak pernah mengqadha apa-apa yang menjadi kewajiban atasku dari Ramadhan, kecuali di bulan sya’ban, sampai wafatnya Rasulullah ﷺ. (HR. At Tirmidzi No. 783, katanya: hasan shahih)

Namun demikian, hal tersebut tidak lantas pelakunya kena denda dengan jumlah qadha puasa yang “berbunga”. Seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Qudamah. (Al Mughni, jilid. 3, hal. 154)

Misal, tahun 2018 tidak puasa 10 hari, baru sempat qadha 2020, maka tetap dia qadha 10 hari saja utk puasa yang tahun 2018 itu. Jika menunda qadhanya tanpa alasan maka tambah dengan fidyah menurut mayoritas ulama, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Kalau tahun 2019 dia juga ada puasa yang ditinggal, itu juga wajib qadha, dan disikapi sama sebagaimana yang tahun 2018. Terus seperti itu.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

uang takziyah

Apakah Uang Takziyah Termasuk Harta Waris?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Jika seorang bapak meninggal lalu saat acara takziyah terkumpul dana tali asih dari para pentakziyah, pertanyaannya jika pengurusan jenazah sudah diselesaikan, apakah uang sisa itu termasuk uang yang diwariskan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Uang takziyah, statusnya sama dengan hibah untuk keluarga yang sedang kesulitan dan Musibah. Pemanfaatannya yang di utamakan adalah untuk pengurusan jenazah, jika masih ada sisa maka itu untuk keluarganya, dan keluarganya boleh memanfaatkan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ dikala Ja’far bin Abi Thalib wafat:

اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Buatkanlah makanan untuk KELUARGA Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR. At Tirmidzi no. 998, hasan)

Itu bukan harta warisan, sebab harta warisan adalah peninggalan yang dimiliki oleh yang wafat saat dia masih hidup, bukan hibah saat dia sudah wafat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Zakat dari Tabungan Haji

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah uang tabungan haji di bank jika sudah genap setahun atau setiap tahunnya wajib dikeluarkan zakatnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu sifat harta yang wajib zakat adalah milkut taam (dalam kuasa penuh pemiliknya). Jika harta tersebut ditangan orang lain, baik dalam bentuk piutang, atau untuk membayar sesuatu maka itu tidak kena zakat.

Untuk Tabungan haji, perlu diperinci. Jika sudah disetorkan, maka tidaklah termasuk harta yang wajib zakat, sudah tidak dalam kuasa penuh pemiliknya.

Tapi tabungan haji jika masih disimpen sendiri, belum dibayarkan sebagai ONH, maka itu wajib zakat karena masih milkut taam, dengan syarat JIKA sudah nishab (setara harga 85 gr emas) dan haul (satu tahun).

ONH di Indonesia sepertinya jauh dari nishab, masih di bawah 40 jt, maka ini belum kena zakat. Jika kira-kira harga 1 gr emas saat ini adalah 800 ribu, maka nishab 800rb X 85= 68 jt.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Hukum Mencabut Alat Pasien ICU yang Sudah Divonis Mati.

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada kasus kondisi pasien yang di ICU sudah tergantung dengan alat, dan dokter sudah memvonis bahwa pasien tsb sudah mati batang otak, nah bagaimana hukumnya jika keluarga mengambil langkah untuk mencabut alat yang terpasang di tubuh pasien? Apakah hal tersebut sama dengan membunuh pasien?

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh,.. Jangan dikira dengan memasang alat-alat itu adalah menolongnya, justru itu mempersulit kehidupannya

Biarlah dia wafat dengan cara yang alami, jika memang dokter terpercaya sudah mengatakan hakikatnya sudah wafat.

Para ulama seperti Syaikh al Qaradhawi dan lainnya mengatakan tidak masalah dicabut, untuk meringankannya. Serta meringankan keluarganya dengan beban biayanya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Membeli Rumah Dengan Cara Kredit

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum Islam dalam Kredit Rumah?
Karna keluarga ini ingin punya rumah sendiri dan hanya mampu utk kredit dan belum mampu utk cash. Apakah ada dalil yang membolehkan atau bagaimana Ustadz? A06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Membeli rumah dengan cara kredit dari penjual itu dibolehkan. Misalnya beli rumah satu kavling secara tunai 300 juta, tetapi jika dibeli secara tidak tunai, berangsur cicil itu harganya 400 juta, maka selisih tersebut dibolehkan karena itu bagian dari margin dari hak penjual.

Nah, tetapi yang tidak dibolehkan adalah membeli rumah dengan cara kredit ribawi seperti melalui kredit di bank konvensional karena itu kredit ribawi. Oleh karena itu, saran saya beli dari penjual langsung secara kredit atau beli melalui bank syariah agar kreditnya halal.

Kenapa kredit dari penjual bank syariah atau developer itu halal? Karena sebagaimana hadits Rasulullah Saw.

عن عبد الله بن عمرو أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أشتري بعيرا ببعيرين إلى أجل (رواه أبو داود والدارقطني والبيهقي)

“Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah Saw meminta saya untuk membeli satu unta dengan dua unta secara tidak tunai”. (HR. Abu Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi).

Dan sebagaimana Rasulullah juga membolehkan transaksi salam dan istishna’ di mana dalam kedua transaksi tersebut itu diperjualbelikan secara tidak tunai dengan harga lebih. Sebagaimana hadits Rasulullah dari Ibn ‘Abbas;

مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِيْ كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pembatal Wudhu

Hukum Menahan Kentut Setelah Berwudhu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya menahan ‘buang gas’ yang kadang terasa ketika sesudah wudhu atau sedang shalat ? Kadang shalat beberapa kali di ulang karena tidak mau menahan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Menahan mulas, BAB, BAK, buang angin saat shalat adalah makruh. Ada pun di luar shalat tidak apa-apa secara syar’i, tapi jika secara medis itu buruk maka hindari juga.

Dari ‘Aisyah Radhiallah ‘Anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan sudah terhidangkan, dan menahan dua hal yang paling busuk (menahan buang air besar dan kencing).” (HR. Muslim No. 559)

Imam An Nawawi  Rahimahullah berkata:

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع ، وَكَرَاهَتهَا مَعَ مُدَافَعَة الْأَخْبَثِينَ وَهُمَا : الْبَوْل وَالْغَائِط ، وَيَلْحَق بِهَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ يَشْغَل الْقَلْب وَيُذْهِب كَمَال الْخُشُوع

“Hadits-hadits ini menunjukkan kemakruhan melaksanakan shalat ketika makanan yang diinginkan telah tersedia, karena hal itu akan membuat hatinya terganggu, dan hilangnya kesempurnaan khusyu’, dan juga dimakruhkan melaksanakan shalat ketika menahan dua hal yang paling busuk, yaitu kencing dan buang air besar.  Karena hal ini mencakup makna menyibukkan hati dan hilangnya kesempurnaan khusyu’.” (Al Minhaj Syarh   Shahih  Muslim,  2/321. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Zakat Jual Beli Burung

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya tentang zakat, tetangga saya menanyakan tentang zakat burung yang harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah karena suaranya yang bagus, bagaimana itu tentang zakatnya, pertanyaan dari teman yang banyak mempunyai dan jual beli serta memelihara burung. A_07

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Burung tentu bukan hewan yang dizakati. Tapi, melihat dari pertanyaannya bahwa dia bisnisnya jual beli burung, maka ini masuk kategori zakat perniagaan (tijarah).

Abu Amr bin Himas menceritakan, bahwa ayahnya menjual kulit dan alat-alat yang terbuat dari kulit, lalu Umar bin Al Khathab berkata kepadanya:

يَا حِمَاسُ ، أَدِّ زَكَاةَ مَالَك ، فَقَالَ : وَاللَّهِ مَا لِي مَالٌ ، إنَّمَا أَبِيعُ الأَدَمَ وَالْجِعَابَ ، فَقَالَ : قَوِّمْهُ وَأَدِّ زَكَاتَهُ.

“Wahai Himas, tunaikanlah zakat hartamu itu.” Beliau menjawab: “Demi Allah, saya tidak punya harta, sesungguhnya saya cuma menjual kulit.” Umar berkata: “Perkirakan harganya, dan keluarkan zakatnya!”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 10557, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 7099, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7392)

Dari kisah ini, Imam Ibnu Qudamah mengatakan adanya zakat tijarah adalah ijma’, sebab tidak ada pengingkaran terhadap sikap Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu.

Nishab utk zakat perniagaan adalah sama dengan zakat emas yakni jika semua burung itu sudah senilai dengan 85 gram emas. Kemudian, besaran zakatnya 2,5 %. Zakat tijarah yang dikeluarkan adalah modal yang masih diputar plus keuntungan, lalu dikurangi hutang (kalau punya) dan pajak (kalau ada), lalu dikalikan 2,5%.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa keberkahan hidup

Belanja Sesuai Kebutuhan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bismillaah, titip pertanyaan dari teman.

Jadi gini, suami saya kan rencana mau mengajukan kredit syariah ke salah satu lembaga, kredit motor, krna motor yg dirumah mau dipake adik sekolah, jd kami mau beli motor baru.
Cicilannya ini lumayan berat utk kondisi sekarang, pemasukan hanya dri suami, skrg suami lg ga ada lemburan krna pandemi, hanya gaji pokok saja. Terus saya usulkan utk beli motor dg type lain, yg cicilannya ringan, tp suami ttp keukeuh, malah bilang suruh pangkas jatah belanja bulanan/berhemat (padahal itu primer). Dan bbrpa kali suami meyakinkan saya utk percaya pada rezeki Allaah yg kasih dari pintu mana saja, ga bakal terhitung dg hitungan manusia. Ya memang, tp itu ga bisa diprediksi kedepannya gmna (menurut saya). Jadi sya cuma hitung dana dri pekerjaan suami saja, yg mana kalo ambil type yg cicilannya ringan, udah cukup dg gaji pokok tsb. Tp beliau keukeuh maunya motor sesuai keinginannya,

Mohon pencerahannya ustadz, barangkali ada solusi dari segi agama ttg hal ini.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika kendaraan utk transportasi saja, maka motor apa pun yg penting awet dan enak dikendarai, itu sdh cukup. Apalagi setelah kondisi ekonomi sdg berat, kalkulasi rasional tidak boleh diabaikan.

Jika kendaraan bagi seseorang juga sebagai “gaya hidup” untuk menunjukkan kelas sosial pdhal sdh sulit, maka ini berlebihan dan lebih ikut hawa nafsu.

Ada pun “rezeki dari Allah” sudah sama-sama kita ketahui dan imani, tapi jgn sampai kalimat itu adalah senjata utk membungkam rasionalitas dan protes istrinya. Rezeki memang dari Allah, tp Allah Ta’ala juga memerintahkan untuk melihat dan mempersiapkan apa yang terjadi besok. Perlu diingat, urusan rumah tangga bukan hanya motor, tp jg kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pakaian Indah Untuk Perhiasan

Muslimah Sholat Menggunakan Celana Panjang, Bolehkah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum seorang muslimah yg sholat menggunakan celana panjang. Muslimah menggunakan atasan panjang di bawah panggul( tulang duduk). Jazakallah khoir sebelumnya 🙏

Ini pertanyaan anak saya setelah nonton film islami yg sedang di putar di bioskop
Pemeran oki setiana dewi. A/37

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pakaian syar’i bagi Muslimah, otomatis sudah boleh dipakai untuk shalat. Kriterianya adalah:

– Menutup aurat secara keseluruhan kecuali wajah dan telapak tangan, menurut mayoritas ulama.
– Longgar, tidak membentuk anggota tubuh secara jelas
– Tidak tembus pandang
– Tidak menyerupai pakaian Wanita kafir
– Bukan pakaian khas laki-laki

Celana panjang bagi Muslimah, Jika sebagai daleman, maka itu bagus, dan bagus pula buat shalat jika sebagai daleman. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memujinya:

رحم الله المتسرولات

Semoga Allah merahmati Wanita yang memakai celana panjang. (HR. Al Baihaqi, menurut Imam as Suyuthi hadits ini Hasan)

Namun Jika itu sebagai luaran, maka itu tidak dibolehkan, baik di dalam shalat atau tidak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Daud no. 4089. Shahih. Lihat Misykah Al Mashabih, 4469)

Imam Al Munawi mengatakan:

فيه كما قال النووي حرمة تشبه الرجال بالنساء وعكسه

Ini seperti yang dikatakan An Nawawi, haramnya laki-laki menyerupai Wanita dan sebaliknya. (Faidhul Qadir, 5/269)

Sebagian ulama seperti di Darul Ifta, Mesir, membolehkan dan menganggap itu sah shakatnya selama celana panjang Muslimah tsb LONGGAR, dan tidak membentuk.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Jual Beli

Memanfaatkan Diskon dengan Minimum Pembelian, Bolehkah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, jika kita belanja di toserba atau swalayan dengan jumlah harga tertentu maka kita boleh membeli produk tertentu dengan harga spesial sementara jika jika kurang dr harga tsb maka produknya berharga normal. Bagaimana hukumnya ustadz?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pedagang punya hak dan kuasa penuh untuk memberikan hadiah, diskon, harga special, atau cash back, dalam rangka promosi atas barang dagangannya.

Hal itu dibolehkan, selama jujur (bukan diskon palsu), transparan, dan tidak mengandung riba dan judi. Apa yang ditanyakan di atas, jika jelas harganya, jelas pula rewardnya, maka bukan termasuk yg dilarang, krn tidak ada unsur judi dan riba.

Hanya saja, hati-hati jika sampai memunculkan mental konsumerisme, yaitu “doyan belanja” krn terpengaruh oleh diskon atau harga murah walaupun kita tidak membutuhkan barang tsb. Ini yg perlu dihindari.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678