logo manis4

Penomoran Hadits

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, disebuah kajian, kan kami biasa membaca Kitab Riyadush Shalihin dan tidak menggunakan satu kitab yang sama penerbitnya. Kami menggunakan Kitab Riyadush Shalihin dari beberapa penerbit berbeda. Yang kami tanyakan, mengapa sering ditemukan hadits yang sama, tetapi nomor haditsnya berbeda? Misalnya, di Kitab X nomor 1772, di buku yang lain nomor 1771. A/29

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Penomoran hadits memang beda masing-masing penerbit. Tergantung penyusun atau editornya.

Kitab aslinya di zaman dulu, hadits belum ada penomoran. Penomoran baru ada masa modern shgga sangat mungkin berbeda, apalagi juga ada ringkasan hadits maka akan beda lagi dgn kitab aslinya sebelum diringkas.

Hadits Bukhari, Ada penomoran versi Fathul Bari-nya Imam Ibnu Hajar. Ada pula versi Al Lu’lu wal Marjan-nya Syaikh Fuad Abdul Baqi.

Hadits Shahih Muslim, ada versi Syarh Shahih Muslim-nya Imam An Nawawi, ada juga versi Al Lu’lu wal Marjan-nya Syaikh Fuad Abdul Baqi. Inilah versi yang dipakai umum di dunia hari ini.

Kadang akan berbeda dgn terbitan yg telah diterjemahkan. Semua ini bukan masalah, selama tidak ada perubahan isi haditsnya.

Berbeda dengan Al Quran, yg penomorannya seragam di seluruh dunia.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membagikan Hewan Kurban Kepada Non Muslim

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, ingin bertanya. Bolehkah memberikan hewan kurban kepada orang di luar Islam?

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Faisal Kunhi MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika zakat saja boleh diberikan kepada muallaf (yaitu orang yang lemah hatinya) baik ia seorang yang baru memeluk Islam tetapi ia memilki pengaruh bagi kaumnya, sehingga ia berhak mendapatkan zakat untuk menguatkan hatinya dan mengukuhkannya untuk memeluk Islam, dengan harapan ia dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya atau dapat mencegah kejahatannya.

Zakat juga boleh di berikan kepada orang kafir yang sangat di harapkan akan beriman atau kaumnya akan beriman, oleh karena itu ia diberi untuk menumbuhkan gairah dan kecintaan terhadap Islam, demikian jelas Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam minhajul muslim.

Jika demikian maka daging kurban juga boleh diberikan kepada orang-orang non muslim, dimana itu bisa menjadi sarana dakwah mengajaknya untuk memeluk Islam, dengan catatan bagian untuk kaum muslimin yang membutuhkan tetap menjadi prioritas.

Daging kurban dianjurkan untuk di bagi tiga; dimakan sendiri (bersama keluarga) orang yang berkurban sepertiganya, sepertiga lagi di sedekahkan dan sepertiga lagi di hadiahkan untuk rekan-rekannya, berdasarkan sabda nabi saw “Makanlah, dan simpanlah serta bersedekahlah” (Muttafaq alaih).

Boleh juga disedekahkan semuanya, dan boleh juga tidak ada yang dihadiahkan dari daging kurban tersebut. Demikian jelas Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi.

Jika daging kurban boleh di hadiahkan, maka itu artinya kita juga boleh memberikan hadiah kepada teman kita yang non muslim, karena nabi saw pun juga saling menerima dan memberi hadiah kepada orang-orang Yahudi.

Islam adalah agama yang tidak memerintahkan seseorang untuk menanyakan apa agamanya, sebelum ia berbuat baik kepadanya, Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Berikut saya tambahkan beberapa pendapat ulama tentang memberi daging kurban kepada orang di luar Islam:

Pertama: tidak boleh secara mutlak baik dzimmi atau harbi pada kurban wajib atau sunnah ini adalah pendapat Syafi’iyah.

Kedua: Makruh, Addasuqi berkata: Imam Malik dan laist memakruhkan memberikan kulit kurban kepada kaum nasrani. Imam Malik berkata: selain mereka lebih kami sukai (Asyyarh al Kabir, 3 /587)

Ketiga: Boleh, yaitu khusus non muslim yang hidup berdampingan secara damai, inilah pendapat Hambaliyah, Hanafiyah, Al Hasan, Abu Tsaur dan lainnya (Assyarh Al Kabir 3 : 587)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Gerakan Yang Membatalkan Shalat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bergerak tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Faisal Kunhi MA.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Di dalam kitab Kifayatul Akhhyar dikatakan

و أما العمل الكثير كالخطوات الثلاث المتواليات وكذا الضربات تبطل الصلاة ولافرق فى ذالك بين العمد والنسيان لان العمل الكثير يغير نظمها ويذهب الخشوع وهو مقصودها وأن العمل القليل فى محل الحاجة لا يبطل الصلاة

“Gerakan yang banyak berturut-turut seperti langkah dan pukulan membatalkan shalat dan tidak ada perbedaan apakah gerakan itu dilakukan dengan sengaja atau tidak, karena gerakan yang banyak itu merubah disiplin shalat dan menghilangkan kekhusyuan, sedangkan gerakan sedikit sesuai dengan keperluan tidak membatalkan shalat.”

Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah mengatakan bahwa gerakan sedikit tidak membatalkan shalat.

Contohnya ketika kita shalat, kalau handphone kita berdering maka tidak apa kita mematikannya agar tidak menganggu jama’ah shalat.

Sebagaimana juga Rasulullullah SAW membolehkan untuk membunuh ular dan kala jengking dalam shalat tanpa harus membatalkannya, maka ini menandakan bolehnya melakukan gerakan sedikit yang diperlukan dalam shalat.

Karena Nabi ﷺ pernah memerintahkan:

اُقْتُلُوْا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الحَيَّةَ، وَالْعَقْرَبَ

“Bunuhlah dua ekor si hitam meski dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (II: 233, 248)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Haruskah Setor Hafalan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah menghafalka Al Qur’an harus disetorkan kepada seorang guru atau boleh cukup hanya menghafal secara mandiri dan tidak perlu disetorkan kpd guru? I/13

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, S.H.I

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saya sering mengatakan bahwa menghafal Al-Quran bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Jadi anda yang tidak mondok sangant mungkin menghafal Al-Quran. Namun permasalahan yang dihadapi seorang penghafal mandiri adalah ketiadaan seorang guru, sehingga tiddak ada tempat untuk setoran. Lalu perlukah kita mengusahakan agar ada yang menyimak setoran kita? Jawabannya iya. Kenapa?

Ada beberapa manfaat yang anda dapatkan ketika melakukan setoran hafalan. Di antaranya:

1. Hafalan terkoreksi

Dengan menyetorkan hafalan kepada orang lain maka anda akan tahu mana hafalan yang sudah benar dan mana yang keliru.

2. Semangat terjaga

Dengan menyetorkan hafalan kepada orang lain semangat anda akan terjaga. Sebab anda akan mendapatkan nasihat, tips dan motivasi dari muhafizh anda.

3. Anda memiliki pengingat

Seorang muhafizh punya peran menjadi pengingat buat anda, melalui jadwal/kesepakatan waktu setoran yang sudah anda buat dengannya. Dengan adanya seorang muhafizh, anda juga akan sadar akan kewajiban dan tanggung jawab untuk setoran.

Setidaknya itu beberapa manfaat yang anda dapatkan dari menyetorkan hafalan kepada orang lain/muhafizh. Masih banyak manfaaat lain, tergantung dari pengalaman masing-masing penghafal. wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Amanah Waktu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadzah..

Jam wajib PNS di kantor 37,5 jam perminggu, tapi karena kondisi tertentu kita sering diberikan toleransi/diizinkan untuk selalu pulang lebih awal oleh atasan.

Apakah itu termasuk orang-orang yang berkhianat dalam amanah, seperti yang diingatkan pada surat al anfal:27 ?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadzah Dra. Indra Asih

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH

Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [ Qs.An-Nisa : 58]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnah].

Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.

Dan firman-Nya.“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” [ Qs.Al-Anfal : 27]

Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.

Dan firman-Nya.
“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [ Qs.Al-Ahzab : 72]

Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji” [Al-Mukminun : 8]

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.

“Tanda munafik ada tiga :
apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.

Dalam riwayat lain.
“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.

[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH

Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]

Hadits Kedua

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS MENDAPAT BALASAN DUNIA DAN AKHIRAT

Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar” [An-Nisa : 114]

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah”.
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu.
“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN

Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ; karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.

Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal nasihatnya itu.
“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin) dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya. Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.

Di antara nasihatnya, “Maka hidupkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan istanamu”
Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna dan mengurangi hak-hak orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” [Al-Muthaffifin : 1-6]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Mandi Bareng Suami Istri

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bolehkan mandi bareng istri?? I_18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Djunaidi, SE

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mandi bareng istri ternyata telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW terhadap istri-istrinya. Dengan kata lain Islam pun juga menganggap hal ini adalah sebuah bentuk kewajaran.

Sebagaimana diriwayatkan Hadist Riwayat. Bukhari no. 316, Muslim no. 321. ‘Aisyah berkata,

“Aku dan Rasulullâh mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.”

Mandi bersama bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan bermain -main bersama istri, saling siram-siraman atau saling berebut gayung dan selebihnya anda yang tahu.

Sebagaimana hadits Nabi dan ‘Aisyah saling berebut air ketika mandi bersama. (HR. Muslim I/257 no 321)

Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala menyampaikan sebuah riwayat agung dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

“Aku mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mendahuluiku sampai aku berkata, ‘Tinggalkan untukku. Tinggalkan untukku.’”

Dalam kelanjutan riwayat yang dikutip oleh Salim A Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta ini disebutkan, “Waktu itu, keduanya berjanabat (mandi wajib).”

Bukan sekali ini Rasulullah SAW diriwayatkan mandi bareng istrinya. Dalam riwayat lain oleh Imam Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah Rahimahumallahu Ta’ala, dikisahkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Kami terbiasa memasukkan tangan kami bersama-sama ke dalam satu bejana.”

Rasullulah yang mulia telah memberi contoh terbaik. Mandi berdua. Saling rebut air dan alat mandi, hingga terbit senyum dan tawa renyah dari keduanya.

Inilah sunnah yang tidak hanya bisa menautkan hati dan membuat cinta di antara kalian saling bertambah, tapi juga dijanjikan pahala yang agung di dunia dan akhirat..

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kemana Kita Harus Belajar Ilmu Islam?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya,
di zaman sekarang ini jika kita ingin belajar ilmu Islam harus ke sumbernya langsung, dimanakah secara geografis sumber ilmu Islam itu sekarang ustadz?
Jika kita ingin mengambil patokan dan rujukan yg benar tentang ilmu Islam ini apakah dari Syiria, Maroko, Mesir/Al-Azhar, atau kah dari Mekkah dan Madinah?.
Sedang kan ada seorang ustadz yg menyatakan pendapatnya bahwa Mekkah dan Madinah bukan lagi sumber ilmu Islam dan bukan lagi rujukan dan patokan umat Islam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim…

Masing-masing negeri selalu ada ulama yang mumpuni dan menjadi rujukan umat Islam. Satu sama lain saling melengkapi dan menguatkan.

Di Siria tempatnya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Abdul Fatah Abu Ghudah, Syaikh Said Ramadhan Al Buthi.

Di India ada Syaikh Muhammad Ilyas Al Kandahlawi, Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi, Syaikh Habiburrahman Al A’zhami.

Di Mesir ada Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Ali ath Thanthawi, Syaikh Jad Al Haq, Syaikh Athiyah Saqr.

Di Qatar ada Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Abdullah Al Faqih.

Di Jordan ada Syaikh Muhammad Nuuh Salman, Syaikh Al Albani.

Di Saudi ada para ulama Hai’ah Kibaril Ulama Saudi. dll

Di masing2 negeri juga ada perguruan tinggi yg menjadi gudangnya para guru dan ulama. Keunggulan bukan semata-mata tempat, tapi manusianya atau SDMnya. Para Imam Hadits rata-rata bukan terlahir di Jazirah Arab seperti Bukhari (Bukhara) , Muslim (Naisabur), Abu Daud (Sijistan), At Tirmidzi (Tirmidz), Sufyan Ats Tsauri (Kufah).. Dikalangan Imam Fiqih, Abu Hanifah (Kufah), Ahmad (Baghdad), Al Laits (Mesir), Syafi’i (Baghdad dan Mesir),.. Namun Madinah pun juga ada Imam Malik, dan 7 fuqaha Madinah di masa Tabi’in. Wal hasil sumber ilmu ada di semua negeri muslim, dulu dan sekarang.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Kay (Pengobatan dengan memanaskan atau membakar besi)

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, izin bertanya.. Bagaimana hukum berobat dengan benda yang dipanaskan? Misalnya logam yang dipanaskan. Terima kasih atas jawabannya 🙏 A-33

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Itu namanya kay, yaitu pengobatan dengan memanaskan atau membakar besi.

Hal ini diperselisihkan ulama, sebagian mengatakan boleh tapi makruh, berdasarkan hadits berikut:

عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ تُوَافِقُ الدَّاءَ وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma berkata; saya mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Sekiranya ada obat yang baik untuk kalian atau ada sesuatu yang baik untuk kalian jadikan obat, maka itu terdapat pada bekam atau minum madu atau sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka) dan saya tidak menyukai kay.”

(HR. Bukhari no. 5683)

Hadits lainnya:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَيِّ فَاكْتَوَيْنَا فَمَا أَفْلَحْنَ وَلَا أَنْجَحْنَ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَكَانَ يَسْمَعُ تَسْلِيمَ الْمَلَائِكَةِ فَلَمَّا اكْتَوَى انْقَطَعَ عَنْهُ فَلَمَّا تَرَكَ رَجَعَ إِلَيْهِ

dari Imran bin Hushain ia berkata, “Nabi ﷺ melarang dari kay (pengobatan dengan sengatan besi panas), kemudian kami melakukan kay, maka kay itu tidak beruntung dan tidak berhasil.” Abu Daud berkata, “Rasulullah ﷺ mendengar salam para malaikat, ketika beliau melakukan kay suara itu hilang, dan ketika beliau meninggalkan pengobatan kay, beliau dapat mendengar suara Malaikat kembali.”

(HR. Abu Daud no. 3865, dishahihkan oleh Syaikh Syuaib al Arnauth, Syaikh al Albani, dll)

Menurut Imam Ibnul Qayyim – mengutip dari Imam Abu Abdillah Al Maziri- bhwa hadits-hadits ini menunjukkan berobat dengan kay adalah pilihan terakhir jika memang sudah mendesak, dan jangan terburu-buru berobat dengannya sebab di dalamnya akan terjadi rasa sakit yang kuat, yang akan melemahkan penyakit, karena kalah oleh sakitnya kay. *(Ath Thibb An Nabawi, hal. 40)*

Imam Al Munawi mengatakan tentang alasan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai kay, karena rasa sakitnya yang lebih sakit dari penyakitnya itu sendiri, dan itu bentuk siksaan dengan menggunakan siksaannya Allah (yaitu dengan api). *(At Tanwir Syarh Al Jaami’ Ash Shaghir, 4/243)*

Imam Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa sebagian ulama memahami larangan ini sebagai larangan adab dan arahan agar bertawakkal kepada Allah dan percaya kepadaNya, tidak ada penyembuh kecuali Dia, dan tidak terjadi apa-apa kecuali sesuai kehendakNya. Segolongan sahabat nabi dan salafush shalih melakukan kay. Qais bin Abu Hazim bercerita bahwa Khabbab melakukan kay tujuh kali di perutnya. *(Al Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik, 7/461)*

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Lupa Rukun Sholat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apa hukumnya jika seseorang dalam shalatnya lupa salah satu rukun shalat, misal tu’maninah? Apakah boleh sujud sahwi?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Rukun shalat adalah perkara yang tidak boleh ditinggalkan, baik sengaja atau lupa. Jika ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal.

Adapun jika ditinggalkan karena lupa, maka shalatnya tidak batal, dengan beberapa ketentuan berikut;

– Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka batal shalatnya, dan diulang dari awal.

– Jika ingatnya masih pada rakaat yang sama, maka dia kembali lakukan rukun tersebut dan kemudian melanjutkan shalat dari rukun itu. Kemudian sujud sahwi sebelum salam.

– Jika ingatnya sesudah berpindah kepada rakaat berikutnya, dengan berdiri membaca surat Al Fatihah, maka rakaat sebelumnya tidak dianggap. Rakaat berikutnya dianggap sebagai rakaat sebelumnya.

Misalnya, setelah berdiri di rakaat ketiga seseorang yang shalat baru ingat kalau di rakaat kedua dia lupa ruku’, maka rakaat ketiga tersebut dianggap sebagai rakaat kedua dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan di rakaat kedua. Kemudian sujud sahwi sebelum salam.

– Jika ingatnya setelah shalat selesai, namun waktunya belum lama, maka dia langsung bangkit melakukan rukun yang dia tinggal lalu melanjutkan amal shalat sesudahnya hingga salam. Kemudian sujud sahwi sebelum salam.

– Tapi jika ingatnya setelah salam dan waktunya sudah lama, maka shalatnya dianggap batal dan dia harus ulangi lagi shalatnya dari takbir hingga salam.

Adapun masalah thuma’ninah, dari segi bahasa thuma’ninah artinya tenang. Adapun dari segi istilah adalah tenangnya anggota tubuh minimal sesaat saja, dalam ruku, i’tidal, sujud dan duduk di antara dua sujud.

Mayoritas ulama (Mazhab Maliki, Syafi’i, Hambali dan sebagian ulama mazhab hanafi) berpendapat bahwa thuma’ninah adalah rukun shalat. (Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 29/89)

Landasannya hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kepada sahabat yang keliru shalatnya, atau yang dikenal dengan istilah ‘haditsul musii’ sholaatuhu’ (hadit tentang orang yang keliru shalatnya), beliau bersabda;

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِل قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَل ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur’an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma’ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat) mu”. (HR. Bukhari, no. 793, Muslim, no. 397)

Maka dengan demikian, thuma’ninah merupakan rukun dalam shalat. Jika ditinggalkan berlaku ketentuan di atas.

Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Menghadiri Pernikahan yang Diharamkan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apabila kita diundang oleh temen perempuan muslim yang menikah dengan laki-laki non muslim apakah kita boleh hadir? Apabila kita hadir, apakah itu berarti kita menyetujui pernikahan mereka?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pernikahan mereka haram, tidak sah, dan tidak ada beda pendapat dalam hal keharaman itu alias telah ijma’.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَالْإِجْمَاعُ الْمُنْعَقِدُ عَلَى تَحْرِيمِ تَزَوُّجِ الْمُسْلِمَاتِ عَلَى الْكُفَّارِ

Dan, telah menjadi ijma’ (konsensus) yang kuat atas haramnya wanita muslimah menikahi orang-orang kafir. (Al Mughni, 7/155)

Sehingga tidak dibenarkan menghadirinya. Seharusnya adalah mencegahnya dan menasihatinya.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678