logo manis4

Hukum Transaksi Over Kredit Rumah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz.. izin bertanya,
Ada tetangga rumah yang mau menjual rumahnya. Tetapi rumah ini masih dalam masa mencicil/mengangsur di bank konvensional.
Di menawarkan 2 opsi:
1. Pembeli membayar kontan dengan nominal yang dia tawarkan, nanti selanjutnya rumah akan di lunasi oleh penjual.

2. Over kredit , hanya memberi DP yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak dan untuk cicilannya di lanjutkan oleh pihak pembeli.

Perlu di ketahui sebenarnya pembeli ingin mengambil opsi pertama (1) membeli dengan cash/kontan tetapi tidak memiliki uang kontan tersebut. Opsi ke 2 lah yang lebih memungkinkan.

Pertanyaannya :
Bagiamana hukum nya jika mengambil opsi ke 2 dengan alasan seperti di atas.

Terima kasih Ustadz..

I-9

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Dr. Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu solusinya adalah take over, tetapi calon pembeli mensyaratkan kepada calon penjual (nasabah bank konvensional) untuk men take over, tetapi dengan syarat melibatkan bank syariah, sehingga selanjutnya pembeli akan mengangsur rumahnya tidak lagi ke bank konvensional, tetapi ke bank syariah.

Jadi kesimpulannya oper kredit tidak diperbolehkan, karena dengan oper kredit berarti akan mengansur rumah tersebut ke bank konvensional. Jadi take over dengan syarat melibatkan bank syariah dan pembeli. Selanjutnya setelah take over, kemudian mengansur rumah tersebut ke bank syariah.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Take over dari konvensional ke syariah

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Anak Hasil Zina

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, saya adalah puteri ke-3 dari 4 bersaudara (3 saudara perempuan dan 1 adik laki-laki).
Saat hamil besar anak ke-3 kemarin. Saya sangat terpukul dan baru mengetahui kalau orang tua menikah sebab dari hasil zina. Saat lahir-an sampai saat ini pun, saya masih terbebani dengan kondisi yang saat ini saya jalani.

Pertanyaannya;

1. Kakak pertama adalah perempuan dan menikah langsung dengan wali dari orang tua (bapak biologis), tanpa wali nikah.

Bagaimana hukumnya, jika yang hanya mengetahui hal ini cuma saya saja dari semua anak. Padahal ilmu tentang waris pun akan berbeda. Jika kedepannya membuat perpecahan dalam keluarga (saudara), saya harus berbuat apa?

2. Bagaimana nasib pernikahan dan nasab dari saya dan keturunan saya, jika tidak ada pernikahan ulang setelah kakak pertama lahir?

3. Apakah jika ada pertaubatan keduanya sebelum menikah. Apakah harus menjalani sholat taubat, atau cukup dari hati dan perbuatan saja?..

Alhamdulillah, 3 saudara perempuan (kami) selalu terjaga oleh Allah dari hubungan/sentuhan laki-laki. Dan kini telah menjadi keluarga besar, apa yang harus saya lakukan?..

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anak zina, ada dua model:

1. Dia tidak bisa dinasabkan ke ayahnya tapi ke ibunya. Seperti Isa bin Maryam (bukan berarti Nabi Isa anak zina ya ..). Karena Nabi Isa ‘Alaihissalam lahir tanpa ayah, melalui kehendak Allah atas Maryam. Inilah pendapat mayoritas ulama, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyah, dan sebagian Hanafiyah.

Hal Ini terjadi jika:

– si ayah tidak bertanggungjawab, dia kabur

– si ayah bertanggungjawab, tapi menikahinya setelah kehamilan 4 bulan .. shgga usia pernikahan sebelum 6 bulan anak sdh lahir ..

Dampaknya si ayah tidak boleh menjadi wali .., walinya wali hakim.

Ada pun Imam Abu Hanifah tetap mengatakan ayahnya yg bertanggung jawab SAH menjadi nasab dan wali kapan pun nikahnya selama dinikahi sebelum anaknya lahir:

لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه أن يتزوجها مع حملها, ويستر عليها, والولد ولد له

Seorang lelaki yang berzina dengan perempuan lalu dia hamil, maka boleh menikahi perempuan itu saat hamil. Sedangkan status anak adalah anaknya. (Al Mughni, 9/122)

2. Dia bisa dinasabkan ke ayahnya, JIKA ayahnya akhirnya menikahi ibunya dan dinikahi sebelum hamil 4 bulan .. shgga anaknya lahir setelah 6 bulan pernikahan.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy berkata:

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه

Ulama sepakat halalnya pria pezina menikahi wanita yang dizinahi. Apabila melahirkan anak setelah enam bulan akad nikah maka nasabnya ke pria itu. Apabila kurang dari 6 bulan dari waktu akad nikah maka tidak dinasabkan padanya kecuali apabila si pria membuat ikrar dengan mengatakan bahwa anak itu darinya dan tidak menjelaskan bahwa ia berasal dari zina. Maka dengan ikrar ini nasab anak tersebut tetap pada ayah biologisnya. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 10/148)

Dampaknya, si ayah boleh jadi wali ..

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kewajiban Sholat Jum’at Untuk Anak-Anak

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustad.. Saya punya anak laki-laki 10 tahunnya harus ya belajar sholat jumat? Anak saya tipe pendiam jadi jarang main sama teman” sebaya. Jadi kalo mau jumatan ya nunggu ayahnya libur kerja Hari jumat.. Kalo ayahnya kerja ya cuma sholat duhur aja.. Apakah kami ortunya berdosa atau tidak ya tidak mengajarkan anak untuk jum’atan kalo di suruh sendiri ga mau.. Mauya dianter ibu sementara masjid jauh dari rumah.. Apalagi kondisi pandemi gini kami ortu ya juga was” jadi hanya sholat duhur saja.. Kalo pun mau jumatan kami main ke rumah adik sy beda kecamatan. Yang masjidnya deket rumah jadi sy ibunya jg bisa jln kaki nganter anak jum’atan

A/07

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan S.HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua untuk mendidik dan membiasakan anak-anaknya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh sebab itu orangtua harus mengupayakan semaksimal mungkin dalam hal tersebut. Termasuk membiasakan shalat Jumat untuk putranya.

Namun secara fiqih, seorang anak yang belum baligh termasuk salah satu golongan yang tidak diwajibkan shalat Jumat. Jika kondisinya memungkinkan, maka orang tua harus memanfaatkan momen tersebut.

Siapa saja yang tidak diwajibkan mengikuti shalat Jumat?

1. Perempuan

Sebagaimana diketahui umum, perempuan tidak dikenai kewajiban shalat Jumat berjamaah, sebagai gantinya, mereka melaksanakan shalat Zuhur di kediaman masing-masing.

2. Hamba Sahaya

Hamba sahaya atau budak juga tidak dikenai kewajiban shalat Jumat berjamaah. Ketentuan ini bersandar dari sabda Nabi Muhammad SAW: “Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim kecuali empat orang. Hamba sahaya, perempuan, anak kecil [belum baligh], dan orang sakit,” (H.R. Abu Daud).

3. Anak Belum Baligh

Anak yang belum baligh tidak dikenakan kewajiban shalat Jumat. Namun orang tua dapat mengajak anak untuk berangkat ke masjid, selagi tidak mengganggu jamaah lainnya untuk membiasakan anak melakukan ibadah.

Kendati belum dikenakan kewajiban ibadah, anak yang belum baligh tetap akan memperoleh pahala dari ibadah yang dikerjakannya. Hal ini disimpulkan dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA:

“Seorang ibu mengangkat anaknya. Lalu ia berkata pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah ia sudah dikatakan berhaji?” Beliau bersabda, “Iya dan bagimu pahala,” (H.R. Muslim).

4. Orang Sakit

Masih dari hadis di atas, orang yang tidak dikenai kewajiban shalat Jumat adalah orang yang menderita sakit.

Dalam hal wabah Covid-19, orang yang terkena penyakit penular ini juga tidak berkewajiban shalat Jumat. Pada Maret lalu, MUI juga mengeluarkan fatwa mengenai ketentuan ibadah saat wabah Covid-19.

Menurut fatwa itu, shalat Jumat digantikan salat Zuhur demi mencegah penyebaran Covid-19 bagi orang-orang sehat.

5. Musafir

Karena kewajiban shalat Jumat jatuh pada orang mukim, maka bagi musafir, shalat Jumat boleh diganti dengan shalat Zuhur.
Namun, syarat safar atau perjalanan yang membolehkan tiadanya shalat Jumat mestilah perjalanan mubah atau dengan tujuan ibadah. Adapun perjalanan dengan tujuan maksiat seperti merampok, berzina, menipu, tidak termasuk keringanan (rukhsah) yang menggugurkan shalat Jumat.

6. Orang dengan Gangguan Mental [Hilang Kesadaran] dan Orang Mabuk

Orang yang terkena gangguan mental hingga hilang kesadaran tidak dikenai kewajiban shalat Jumat. Hal ini didasarkan pada hadis Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Diangkatlah pena [dosa] dari tiga golongan: (1) orang yang tidur hingga ia bangun; (2) anak kecil hingga dia baligh; (3) dan orang gila hingga dia berakal [sembuh],” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Selain orang dengan gangguan mental hingga hilang kesadarannya, orang mabuk juga tidak dikenakan kewajiban shalat Jumat, namun tetap dengan dosa yang ia tanggung jika mabuknya disebabkan karena minuman keras. Tiadanya kewajiban shalat Jumat bagi orang mabuk tertera dalam firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 43)

Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Jangan Berputus-asa Dari Rahmat dan Ampunan Allah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya,

1. Mana yang benar menurut Islam, menikah calon pasangan suami istri di depan penghulu atau calon suami di depan penghulu dan istri di tempat lain (di kamarnya)? Terima kasih

2. Mohon pencerahannya, seorang muslim bujang suka beribadah, suka juga berbuat maksiat/zina ke wanita psk, dan ingin slalu tobat, tp terjerumus kembali lg ke zina, dan mengulangi taubat kembali. Dan sangat ingin melupakan hal maksiat dan hal tercela lain.

Mohon bimbingan dan pencerahannya 🙏

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim….

1. Lebih utama penganten wanita jangan disandingkan dulu, sebab saat itu mereka belum halal sampai selesainya akad. Biarlah penganten wanita menanti di kamarnya. Ini yg lebih baik.

Yg bersama penganten pria adalah wali si wanita, sebab walinya yg menikahkannya.

2. Jangan berputus-asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Teruslah bermujahadah bertobat dgn meninggalkan perbuatan maksiat tersebut. Hilangkan keinginan utk bermain2 dgn tobat. Hilangkan semua “sebab” kembalinya maksiat. Perkuat muraqabatullah (merasa Allah mengawasi kita), bergaullah dgn orang2 shalih, shalat berjamaah di masjid, rutinkan zikir pagi dan petang, dan semua kebaikan lainnya agar sibuk dgn kebaikan dan terlupakannya keinginan maksiat.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Dahulukan Nafkah Istri dan Anak atau Orang Tua?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada salah satu ustadz yang mengatakan kalau untuk nafkah yang harus diutamakan anak laki-laki adalah orang tua baru setelah itu istri dan anaknya, ustadz tersebut mengambil dalil surat Al-Baqarah ayat 215 …قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ… Bagaimana menurut ustadz Farid terkait hal tersebut? Apakah benar urutannya seperti itu?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Suami wajib menafkahi istri dan anaknya (QS. An Nisa: 34), menurut Al Qurthubi karena itulah laki-laki disebut qawwam, tanpanya tidak layak disebut qawwam. (Al Qurthubi, 5/169)

Di sisi lain, laki-laki masih wajib ngurusin orang tuanya, bahkan dirinya dan hartanya adalah milik orang tuanya. Sebagaimana hadits Abu Daud dan Ahmad. Tapi, itu bukan berarti orang tua bebas mengeruk harta anaknya sampai anak menjadi miskin.

Intinya, jangan durhaka kepada orang tua, dan wajib nafkah kepada istri dan anak. Jika kedua sisi sudah mendapatkan haknya dengan baik, Insya Allah tidak ada benturan.

Istri harus paham bahwa suaminya masih berkewajiban ngurus orang tuanya dan itu jihad bagi si anak.

Orang tua juga harus maklum bahwa anaknya sudah ada tanggungan yang tidak mungkin ditinggalkan, dan itu juga jihad bagi dia.

Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Dallas bersabda:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Jika ia keluar bekerja untuk nafkah anak-anaknya yang masih kecil, tentu dia berada di fisabillah. Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi dua ibu-bapaknya yang sudah tua, tentu ia berada fisabillah. (HR. Ath Thabarani, dalam Al Kabir. Shahih. Lihat Shahihul Jami’ no. 1428)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membalikan Telapak Tangan Saat Qunut

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum membalikan tangan saat qunut sholat subuh?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, LC

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pada dasarnya disunahkan mengangkat tangan saat berdoa dengan menengadahkan kedua telapak tangan. Rasulullah saw bersabda,

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ، وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا (رواه أبو داود)

“Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah dengan kedua telapak tangan kalian, jangan kalian minta dengan punggung tangan tangan kalian” (HR. Abu Daud).

Hanya saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memohon turunnya hujan, lalu beliau berikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit”. (HR. Muslim, no. 895).

Sebagian ulama memahami bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya berdoa dengan punggung telapak tangan apabila berdoa untuk memohon perlindungan dari bencana dan musibah.

Imam Nawawi berkata,

” قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرُهُمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ ، كَالْقَحْطِ وَنَحْوِهِ ، أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ ، جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إلى السماء ” انتهى من ” شرح النووي على مسلم ” (6/ 190) .

“Sejumlah ulama dari kalangan mazhab kami dan selain mereka berkata, ‘Disunahkan pada setiap doa untuk menghindari dari bencana, seperti paceklik dan semacamnya hendaknya dengan mengangkat kedua tangannya dengan membalikkan kedua telapak tangannya ke langit. Adapun jika dia berdoa untuk meraih sesuatu yang dia inginkan, dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.” (Syarah An-Nawawi Ala Muslim, 6/190)

Namun ada sebagian ulama yang memahami hadits di atas bukan sebagai landasan disyariatkannya berdoa dengan punggung telapak tangan. Karena yang dimaksud dalam hadits di atas bukan Rasulullah saw berdoa dengan membalikkan telapak tangan, akan tetapi karena Rasulullah saw saat berdoa tersebut dengan penuh harap maka beliau angkat tangannya tinggi-tinggi sehingga seakan-akan beliau berdoa kepada Allah dengan menengadahkan punggung telapak tangannya”.

Kesimpulannya, jika doa yang mengandung permintaan, para ulama sepakat bahwa berdoa seperti itu dengan menengadahkan telapak tangan. Adapun jika berdoanya memohon perlindungan dari bahaya dan bencana, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan disyariatkan dalam hal ini membalikkan telapak tangan, sementara sebagian ulama lainnya menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan, berdoa tetap dengan menengadahkan telapak tangan.

Terkait dengan pertanyaan di atas, maka doa qunut umumnya adalah doa memohon kebaikan, maka berdoa dengan menengadahkan telapak tangan. Akan tetapi, jika dalam doa qunut tersebut ada permohonan perlindungan kepada Allah dari bahaya dan bencana, maka dibolehkan baginya membalikan telapak tangannya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum SHU dari Koperasi Apakah Halal atau Haram?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya ingin bertanya, jadi saya itu menabung dikoperasi kantor. nah uang tersebut dikelola untuk kegiatan jual beli koperasi (koperasi menjual sembako dll).
nah setiap tahun, saya diberikan komisi dari hasil jual beli tersebut.
apakah komisi tersebut halal atau haram?
Selain untuk jual beli sembako, uangnya juga untuk dihutangkan dan ada bunganya
terimakasih
A-43

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan S.HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pada dasarnya sistem koperasi lahir dari semangat gotong-royong yang bermuara pada keuntungan bagi anggotanya. Setiap anggota dengan terorganisir lewat wadah koperasi, bisa lebih berdaya dalam mencapai tujuan-tujuan ekonominya.

Adapun koperasi dalam kajian fiqih bisa ditarik ke dalam bab Syirkah. Syirkah merupakan hak milik dua atau lebih orang atas sebuah barang. Bisa dibilang persekutuan beberapa pihak atas sebuah kepemilikan yang diperjualbelikan dengan catatan keuntungan dan risiko kerugian ditanggung bersama sesuai besaran modal yang disetorkan.

Lalu bagaimana dengan kasus yang dipertanyakan di atas? Ada baiknya kita amati keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in.

فائدة: أفتى النووي كابن الصلاح فيمن غصب نحو نقد أو بر وخلطه بماله ولم يتميز، بأن له إفراز قدر المغصوب، ويحل له التصرف في الباقي

Penjelasan: Imam Nawawi seperti Ibnu Shalah mengeluarkan fatwa perihal orang yang merampas misalnya sebuah mata uang atau benih gandum lalu dicampurkan dengan miliknya hingga tidak bisa dibedakan mana miliknya mana hasil ghasab. Menurut Imam Nawawi, pelaku yang bersangkutan bisa membersihkan hartanya dengan mengeluarkan besaran barang rampasan dan ia halal untuk menggunakan sisanya.

Menguraikan pernyataan itu, Sayid Bakri bin M Sayid Syatha Dimyathi dalam karyanya I‘anatut Tholibin mengatakan.

لو اختلط مثلي حرام كدرهم أو دهن أو حب بمثله له، جاز له أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة، ويتصرف في الباقي ويسلم الذي عزله لصاحبه إن وجد، وإلا فلناظر بيت المال. واستقل بالقسمة على خلاف المقرر في الشريك للضرورة إذ الفرض الجهل بالمالك، فاندفع ما قيل يتعين الرفع للقاضي ليقسمه عن المالك. وفي المجموع، طريقه أن يصرفه قدر الحرام إلى ما يجب صرفه فيه، ويتصرف في الباقي بما أراد. ومن هذا اختلاط أو خلط نحو دراهم لجماعة ولم يتميز فطريقه أن يقسم الجميع بينهم على قدر حقوقهم، وزعم العوام أن اختلاط الحلال بالحرام يحرمه باطل. الخ أهـ

Andaikata tercampur barang serupa yang haram seperti dirham, minyak, atau benih-benih dengan harta miliknya, maka ia boleh menyisihkan besaran barang haram itu dengan niat membagi. Dan ia bisa menggunakan sisanya lalu menyerahkan sebagian yang ia sisihkan kepada pemiliknya kalau ada. Kalau pemiliknya tidak ada, baitul mal menjadi alternatifnya. Secara darurat ia sendiri yang membagi karena menyalahi ketentuan yang ditetapkan bersama sekutu lainnya. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa kasus ini tentu diangkat ke hakim agar ia mewakili pemilik dalam membaginya, dengan sendirinya teranulir.

Dalam kitab al-Majemuk, Imam Nawawi menunjukkan cara membersihkannya dengan menyerahkan besaran barang haram yang tercampur itu kepada pihak atau lembaga yang berhak menerimanya. Dan ia bisa menggunakan harta sisanya untuk apa saja. Atas dasar ini, tercampur atau mencampurkan seperti dirham milik suatu perkumpulan yang tidak bisa dibedakan antara milik mereka, maka cara pembersihannya ialah harta yang tercampur itu harus dibagikan kepada semua anggota perkumpulan sesuai besaran hak yang mereka miliki.

Adapun dakwaan orang awam sementara ini bahwa bercampurnya harta halal dengan harta haram itu dapat mengubah status harta halal menjadi haram, tidak benar. Demikian keterangan Imam Nawawi.

Dari keterangan di atas, menurut hemat kami SHU yang pengambilannya didasarkan dari hasil perdagangan, maka tidak masalah. Tetapi kalau diambil juga dari simpan-pinjam berdasarkan pada bunga, maka sebaiknya diambil dengan catatan berikut.

Kalau SHU-nya merupakan campuran dari kedua jenis usaha itu baik perdagangan maupun jasa peminjaman dana, maka SHU perdagangan bisa dikenali lewat pembukuannya sehingga dapat diketahui mana SHU perdagangan dan mana SHU jasa peminjaman dana. Dengan pembedaan itu, kita bisa menerima besaran SHU perdagangan dan mengembalikan SHU jasa peminjaman dana.

Lalu bagaimana kalau SHU-nya berupa barang? Menurut hemat kami, kita perlu memperkirakan lebih dahulu berapa besar nominal keuntungan SHU perdagangan. Kalau harga barang lebih mahal dari taksiran keuntungan secara nominal SHU perdagangan, maka kita perlu membayar berapa kekurangannya dari angka keuntungan SHU perdagangan itu. Kurang lebihnya Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Jika Istri Tidak Penurut..

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, dalam rumah tangga bila suami istri sdh tidak satu arah terdapat perbedaan persepsi yg mungkin bisa d bilang cukup mendasar tapi tidak mengambil jalan berpisah/ bercerai dg alasan anak.

Dalam hal ini istri tidak lagi Patuh pada suami, tidak mampu menjaga kehormatan suami dimata keluarga ataupun masyarakat. Bahkan sangat sering meninggikan suara saat terjadi perselisihan.
Sudah di nasihati bahkan sampai suami “mengatakan seandainya tidak mau berubah perilaku buruknya akan di pulangkan ke orang tuanya” tapi istri tetap melawan dan terus dg perbuatan buruknya.
Itu hukumnya seperti apa umi..

Apakah suami dlm hal ini masih akan menanggung dosa istri karena dia sebagai pemimpin keluarga?
Atau dg sikap memperingatkan itu sudah gugur kewajiban ia sebagai suami di hadapan Allah?

Terimakasih atas jawabannya 🙏🙏

I/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim….

Suami itu imam bagi istri, dan imam mesti ditaati oleh istrinya tentunya dalam hal-hal baik. Di sisi lain, suami hendaknya instropeksi diri kenapa istrinya seprti itu.

Jika suami sudah berlaku baik, tapi istri masih seperti itu maka itu istri yg nusyuz (durhaka). Hendaknya suami memberikan pelajaran dan nasihat, termasuk tidak menggaulinya utk memberinya pelajaran.

Jika istri masih terus melawan, yg justru menambah dosa baginya, tdk ada gelagat mmperbaiki diri maka menceraikannya menjadi salah satu solusi. Sebab berkeluarga tanpa adanya kasih sayang, tanpa adanya hormat, tanpa adanya ketaatan, adalah keluarga yg main-main dan menyimpan bom waktu.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jual Beli Emas Perak

Hukum Bisnis MLM

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya… tentang hukum syariah atau kehalalan sistem MLM binari.

Kalo saya browsing di gugel, seperti ini pengertiannya:
Sistem binary plan merupakan sistem MLM yang lebih mengutamakan pengengembangan jaringannya pada dua leg saja. Bonus yang akan didapatkan akan semakin besar jika jaringan tersebut bisa semakin seimbang. Sebaliknya, jika tidak ada keseimbangan, maka bonus-bonus tersebut malah akan mengalir deras ke perusahaan.

Peraturan di MLM X, adalah sebagai berikut:
– MLM Sistem Binary
– Ada produk yang dijual: sabun dan serum.
– tanpa autosave, tanpa auto reward, tanpa tutup poin, tanpa target, tanpa wajib belanja bulanan.
– Member seumur hidup, poin diakumulasi terus, semua reward berupa uang, bukan barang.
– Marketing Plan:
1. Bonus Sponsor, yaitu bonus ketika berhasil mendistribusikan 1 paket produk, maka akan mendapat bonus 50.000
Contoh:
Saya menyeponsori rekrutan saya yaitu si A, B, C, D, E, dan F. Maka, dari masing-masing saya dapat bonus @50.000, jadi saya dapat bonus total 300.000.
2. Ketika berhasil mengajak teman untuk gabung, juga dapat bonus @50.000.
3. Bonus pasangan yaitu bonus yang saya terima ketika terjadi pasangan downline di kaki kiri dan kaki kanan, maka dapat bonus 20.000.
4. Bonus reward, bonus yang saya Terima jika jumlah titik RO quality downline seimbang kanan-kiri. Reward nya:
– 10 kiri & 10 kanan, dapat bonus uang senilai 750rb.
– 699 kiri dan 699 kanan, uang senilai 20 juta.
– 5999 kiri dan 5999 kanan, uang senilai 150juta.

A/29

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pertama, kesimpulannya jika ingin bertransaksi dan bermitra dengan perusahaan MLM, maka hanya bermitra dengan perusahaan MLM yang telah mendapatkan izin dan sertifikat dari otoritas DSN-MUI.

Kedua, boleh bertransaksi, menjadi mitra, member, agen atau lainnya di perusahaan multi level marketing yang mendapatkan izin operasional dari otoritas, dari asosiasi, dari LPPOM MUI dan DSN MUI. Jika sudah ada izin dari empat otoritas tersebut, maka menurut saya diperkenankan.

Ketiga, kenapa harus ada izin dari otoritas? agar usaha tersebut diawasi. Kenapa harus ada izin dari asosiasi? agar tidak ada unsur skema money game dalam praktiknya. Kenapa harus ada izin dari LPPOM MUI? agar obyek yang diperjualbelikan seperti minuman kesehatan atau kaosmetik itu halal. Kenapa harus ada izin dari DSN MUI? supaya terhindar dari ketidakpastian (gharar) dan lainnya atau termasuk dalam skema piramida.

Keempat, sederhananya beberapa kriteria tentang MLM tersebut itu dituangkan dalam fatwa DSN MUI Nomor 75/DSN-MUI/VII/2009 tentang Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Kriteria MLM Syariah

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membayar Utang Riba

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya membayar utang riba (utang yang bercampur riba di dalamnya)? Apakah tetap wajib atau ada mekanisme lainnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika sudah ada duit, langsung lunaskan. Hutang tetap hutang.. Jika dia tidak mau bayar karena ada ribanya, maka dia melakukan dua kesalahan.. Yaitu riba itu sendiri dan tidak mau bayar hutang.

Sebagian orang penggiat anti riba, ada yang memberikan contoh tidak baik ketika mereka terjerat riba, bukan ‘jentel’ melunasinya tapi malah lari dari kewajiban.. Sehingga ada citra buruk, seolah penggiat anti riba adalah orang-orang yang memang secara muamalah dengan banknya bermasalah, seakan aktifitas anti ribanya dianggap pelarian saja.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678