36359_surga-atau-neraka

Nasib Hewan, Surga atau Neraka?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Bismillahirrahmanirrahim ..

Hewan itu tidak kena taklif (beban syariat), sebab taklif itu hanya untuk manusia dan yang berakal sempurna.
Tetapi hewan adalah umat juga sebagaimana manusia, mereka juga beribadah dengan caranya sendiri, mereka juga berselisih sesama mereka. Di akhirat Allah Ta’ala berkehendak mengumpulkan mereka kembali ke sisiNya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, *_kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan._*
(QS. Al-An’am, Ayat 38)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah berkata tentang makna *_kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan._* : yaitu _Lil jazaa_’ – untuk mendapatkan pembalasan. *(Tafsir Al Qurthubi, 7/309)*

Beliau juga berkata:

ودل بهذا على أن البهائم تحشر يوم القيامة، وهذا قول أبي ذر وأبي هريرة والحسن وغيرهم، وروي عن ابن عباس، قال ابن عباس في رواية: حشر الدواب والطير موتها، وقاله الضحاك. والاول اصح لظاهر الاية و الخبر الصحيح

Dari ayat ini menunjukkan bahwa hewan pun akan dikumpulkan pada hari kiamat. Inilah pendapat Abu Dzar, Abu Hurairah, Al Hasan, dan lainnya, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata dalam salah satu riwayat: hewan melata dan burung akan dikumpulkan saat kematiannya (bukan di akhirat, pen). Tapi yang benar adalah yang pertama (dikumpulkan di akhirat), sesuai ayat dan hadits shahih. (Ibid)

Ayat lain yg menguatkan pendapat ini adalah:

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (pada yaumul mahsyar) (QS. At-Takwir, Ayat 5)

Juga hadits Nabi  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنْ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.”(HR. Muslim no. 2582)

Sementara, ada ulama yang memaknai bahwa maksud dari ayat: kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan, adalah tentang orang-orang kafir, bukan tentang hewannya.

Ada pun maksud hadits Shahih Muslim di atas adalah tamtsil (perumpamaan) saja betapa besar urusan saat itu, bukan benar-benar hewan akan ditagih tanggungjawab pula. Sebab hewan tidak berakal dan tidak dituntut atas beban syariat.

Tapi, pendapat ini dikoreksi oleh Imam Al Qurthubi Rahimahullah:

قلت: الصحيح القول الأول لما ذكرناه من حديث أبي هريرة، وإن كان القلم لا يجري عليهم في الأحكام ولكن فيما بينهم يؤاخذون به، وروي عن أبي ذر قال: انتطحت شاتان عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال: (يا أبا ذر هل تدري فيما انتطحتا؟) قلت: لا. قال: (لكن الله تعالى يدري وسيقضي بينهما) وهذا نص

Aku Berkata: yang benar adalah pendapat yang pertama. Berdasarkan riwayat yang kami sebutkan dari Abu Hurairah, walau hukum syariat tidak berlaku bagi mereka tetapi apa yg terjadi sesama mereka akan diminta tanggungjawab.

Diriwayatkan dari Abu Dzar, bahwa ada dua ekor kambing yang sedang berkelahi di hadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda:
“Wahau Abu Dzar, tahukah kamu karena apa mereka bersengketa?” Abu Dzar menjawab: “Tidak.” Lalu Nabi bersabda: “Tetapi Allah tahu, mereka berdua akan diadili.”  Inilah dalil!!
(Tafsir Al Qurthubi, 7/309-310)

Maka, penjelasan ini menunjukkan hewan juga mengalami pengadilan Allah Ta’ala kelal di hari kiamat, dan akan mendapatkan balasan sesuai haknya.

Di surga, hewan ada tiga macam:

1. Hewan yang dikabarkan masuk surga. Seperti anjing pemuda Ak Kahfi, dan Untanya Nabi Shalih ‘Alaihissalam. Tapi, tidak ada dalil shahih yang menguatkan ini. Ini menjadi keyakinan dari mulut ke mulut.

2. Hewan yang Allah Ta’ala sediakan, untuk penghuni surga.

Misalnya:

وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan. (QS. Al Waqi’ah: 21)

Ayat lain:

وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

Dan Kami sediakan kepada mereka buah-buahan dan daging apa saja yang mereka inginkan. (QS. Ath Thur: 22)

Dalam hadits:

قَالَ الْيَهُودِيُّ فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَالَ زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ قَالَ فَمَا غِذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا قَالَ يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا

Yahudi itu bertanya lagi; ‘Apa hidangan spesial bagi mereka ketika memasuki surga?’ Beliau menjawab; “Organ yang paling bagus dari hati ikan hiu.” Dia bertanya lagi; ‘Setelah itu hidangan apa yang disuguhkan untuk mereka?’ Beliau menjawab; “Mereka disembelihkan sapi surga yang dimakan dari sisi-sisinya.”
(HR. Muslim no. 315)

3. Hewan yang pada dasarnya memang menjadi penghuni surga.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صلوا في مراح الغنم وامسحوا رغامها فإنها من دواب الجنة

Shalatlah di kandang kambing dan bersihkanlah, karena dia termasuk hewan surga.
(HR. Al Baihaqi, 2/489. Shahih. Lihati Shahihul Jaami’ no. 3789)

Dalam hadits lain:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فَقَالَ هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُ مِائَةِ نَاقَةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَةٌ

Dari Abu Mas’ud Al Anshari dia berkata, “Seorang laki-laki datang dengan menuntun seekor unta yang telah diikat dengan tali kekangnya seraya berkata, “Ini saya berikan untuk berjuang di jalan Allah.” Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudah-mudahan pada hari kiamat kamu akan mendapatkan tujuh ratus unta beserta tali kekangnya.”
(HR. Muslim no. 1892)

Demikian. Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Makanlah yang Halal

Buaya, Boleh di makan?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Ada dua pendapat para ulama tentang ini:

1. BOLEH

Alasannya, buaya masuk cakupan umum halalnya hewan laut dan hewan air.

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ

Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu. ( Qs. Al-Ma’idah, Ayat 96)

Ayat lain, Allah Ta’ala menyebutkan apa saja yang diharamkan:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah.

Tetapi barangsiapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS.  Al-An’am, Ayat 145)

Ayat ini tegas memyebut apa saja yang diharamkan, dan Buaya tidak termasuk.

Juga hadits:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud no. 83, shahih)

Inilah pendapat sebagian ulama Hambaliyah, termasuk Hambaliyah kontemporer.

Dalam Al Lajnah Ad Daimah kerajaan Arab Saudi, yang para ulamanya adalah Hambaliyah, disebutkan oleh mereka:

اما التمساح فقيل يؤكل كالسمك لعموم ما تقدم من الاية و الحديث و قيل لا يؤكل لكونه من ذوات الانياب من السباع و الراجح الاول

Ada pun buaya, dikatakan bahwa itu boleh dimakan sebagaimana ikan, berdasarkan keumuman ayat dan hadits sebelumnya. Dikatakan pula tidak boleh dimakan karena termasuk hewan buas yang bertaring, pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 22/229- 230)

Ini juga menjadi pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin, dll.

2. HARAM

Keharaman buaya, berdasarkan hadits berikut:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang semua hewan yang memiliki taring dari kalangan hewan buas.
(HR. Bukhadi no. 5101)

Maka, ini begitu jelas pelarangannya. Sehingga ini menjadi pengecualian apa yang dibolehkan dari hewan laut dan air.

Dalam kitab Ad Durar As Saniyah, yang disusun sekumpulan ulama Najd, disebutkan:

وقال احمد: يؤكل كل ما في البحر الا الضفدع و التمساح، قال لان التمساح يفترس و يأكل الناس

Imam Ahmad berkata: semua yang ada di laut (air) boleh dimakan kecuali kodok dan buaya. Beliau berkata: karena buaya adalah hewan buas dan memakan manusia.(Ad Durar As Saniyah fil Ajwibah An Najdiyah, 7/471)

Syaikh Abdurrahman Al Jaziriy Rahimahullah mengatakan:

ويحل أكل حيوان البحر الذي يعيش فيه ولولم يكن على صورة السمك كأن كان على صورة خنزير أوآدمي كما يحل أكل الجريث “وهو السمك الذي على صورة الثعبان” وسائر أنواع السمك ما عدا التمساح فإنه حرام

Dihalalkan memakan hewan laut yang hidup di dalamnya walau bentuknya tidak seperti ikan, seperti yang bentuknya menyerupai babi dan manusia, sebagaimana dihalalkan belut, yaitu ikan berbentuk ular, dan semua jenis ikan KECUALI BUAYA karena itu haram.
(Al Fiqhu ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, 2/9)

Dalam madzhab Syafi’iy dikatakan:

ما يعيش في الماء وفي البر كطير الماء مثل البط والأوز ونحوهما حلال، إلا ميتتها لا تحل قطعا، والضفدع والسرطان محرمان على المشهور، وذوات السموم حرام قطعا، ويحرم التمساح على الصحيح، والسلحفاة على الأصح

Apa pun  yang hidup di air dan darat seperti burung laut, bebek, adalah halal, kecuali bangkainya maka tidak halal secara pasti. Sedangkan kodok dan kepiting adalah haram menurut pendapat yg masyhur, dan apa pun yang memiliki racun (bisa) haram secara pasti, dan diharamkan pula buaya menurut pendapat yang shahih, dan juga kura-kura menurut pendapat yang lebih shahih. (Al Muhadzdzab, 1/257, Raudhatuth Thalibin,  3/275, Hasyiyata Al Qalyubiy wal ‘Amirah, 4/257)

Pendapat yang lebih aman adalah terlarang. Apalagi makanan yang halal masih banyak, yang pasti-pasti halalnya saja.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Proses Penyusunan Al-Qur’an

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah

….Dulu proses disusunnya Al-Qur’an itu bagaimana sih Bu? Al-Quran kan mulai didokumentasikan saat kepemimpinan Ustman kalo ndak salah. Tp siapa yang memutuskan surah apa di urutan ke berapa? Kemudian pembagian juznya, bagaimana/siapa memutuskan satu juz sekian halaman (seragam kan ya jumlah halaman dlm 1 juz itu). Apakah semua organisasi konten Al-Quran itu sudah diwariskan oleh Rasulullah sebelum Beliau meninggal?

Manis 26

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Susunan itu bukan rekayasa para sahabat, tapi dari wahyu Allah Ta’ala kepada Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam.

Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuniy mengatakan:

وكان هذا التأليف عبارة عن (ترتيب الآيات) حسب إرشاد النبي و بامر من الله سبحانه وتعالى، ولهذا اتفق العلماء علي أن جمع القران “توقيفي” يعني : ان ترتيبه بهذه الطريقة التى نراه عليها اليوم في المصاحف انما هو بأمر و وحي من الله، فقد ورد أن جبريل عليه السلام كان ينزل بالآية أو الآيات علي النبي فيقول له: يا محمد إن الله يأمرك ان تضعها على رأس كذا، من سورة كذا، و كذلك كان الرسول يقول للصحابة : ضعوها في موضع كذا

Dahulu yg dimaksud susunan adalah susunan ayat, dengan bimbingan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan melalui perintah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa pengumpulan Al Qur’an itu sifatnya TAUQIFIY (given), yaitu susunan yang bentuknya kita lihat saat ini di berbagai mushaf, semua itu adalah wahyu dari Allah.

Telah diriwayatkan bahwa Jibril ‘Alaihissalam menurunkan satu atau bbrp ayat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata kepadanya:

“Wahai Muhammad, Allah memerintahkanmu meletakkan ayat ini di depan, di surat yg anu,” .. demikian juga Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada sahabatnya: “Letakkan ayat ini di bagian ini ..”
(Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuniy, At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, hal. 53)

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Menginap di Rumah yang Memelihara Anjing..

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Gimana hukum nya kalo Kita menginap dirumah orang muslim yg Islam tp mereka pelihara anjing di dalam rumah yg mana liur itu anjing udah pasti kemana2 , dan Kita sholat Di dalam rumah tsb krn gak ada pilihan lain. Katanya malaikat gak akan masuk ke rumah seseorang kalo Di dalam nya pelihara anjing atau semacam itu , krn anjing nya Di biarkan masuk ke dalam rumah dan bisa jalan ke kamar2.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillahirrahmanirrahim ..

Kesalahan tersebut tentu kembali ke pemiliknya. Ada pun liurnya anjing adalah najis menurut mayoritas ulama kecuali Malikiyah, Asy Syaukaniy, Al Qaradhawiy, dll. Shgga memang perlu hati-hati, khususnya saat shalat agar tidak ada teras atau apa pun ditempat shalat yg terkena liur anjing.

Kemudian, shalat di rumah seorang muslim tentu sah, .. keberadaan anjing di rumah itu menghalangi malaikat rahmat bukan malaikat pencatat amal seperti yg dijelaskan Imam An Nawawi.

Bagaimana tidak sah? Sebagian ulama saja membolehkan shalat di  gereja, asalkan simbol2 salibnya sdh dihilangkan.

Jika belum ada tempat lain, bertahan sementara saja dulu. Jika ada tempat lain silahkan pindah saja, pamit dgn baik-baik dan tetap berhubungan baik.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Kapan menggunakan Subhanallah dan Masyaallah??

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. Mohon bantuan penjelasan ttg penggunaan yg tepat kata “subhanallah” dan “masya Allah” ada teman yg bertanya terkait ini cuman ana ingin hujjah yg jelas dr yg lebih berilmu.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Subhanallah – Maha Suci Allah .. diucapkan saat ta’jub terhadap sebuah hal atau peristiwa. Begitu pula Masya Allah, ucapan ta’jub pada hal-hal yg hebat dari manusia. Begitu pula tabaarakallah .. tapi ini jarang dipakai.

Dalam hadits Shahih Bukhari, saat nabi berjalan bersama Shafiyyah, ada dua laki-laki Anshar, yg melihat dgn pandangan heran, maka Nabi mengklarifikasi bahwa itu adalah istrinya .. lalu  Kedua orang itu berkata; “Subhanallah (Maha suci Allah) wahai Rasulullah”. Kedua orang itu pun merasa segan terhadap ucapan beliau. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam bersabda: “Sesungguhnya syetan masuk kepsda manusia lewat aliran darah dan aku khawatir bila syetan telah membisikkan sesuatu dalam hati kalian berdua”.

Dalam surat Al Isra juga Allah Ta’ala berfirman: Subhanalladzi asraa bi’abdihi .. .. ttg Isra Mi’raj ..

Dalam surat Yasin, .. Subhanalladzi khalaqal azwaaja kullahaa ..dst, ttg kehebatan penciptaan Allah thdp makhluknya ..

Tentang ucapan: Masya Allah, berdasarkan:..

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu. (QS. Al-Kahfi: 39)

Juga hadits:

من رأى شيئاً فأعجبه فقال : ما شاء الله لا قوة إلا بالله : لم تصبه العين “

Siapa yg melihat suatu mengagumkan lalu dia mengatakan: Masya Allah Laa quwwata Illa billah, maka tidak akan kena penyakit ‘ain…

Hanya saja hadits ini ada perawi yg DHAIF JIDDAN, sangat lemah. (Imam al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 5/21)
Jadi, tidak usah dibenturkan antara keduanya.

Ada pun na’udzubillah, kami berlindung kpd Allah adalah doa kita saat melihat yg buruk, musibah, dan smisalnya, .. agar kita terhindar.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Shodaqoh dengan Harta yang Tidak Halal..

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….ada teman yang bertanya, gini kan ada artis yg pekerjaanya d luar batasan seperti membuka aurat bersentuhan,berpelukan bahkan mungkin lebih buruk dari itu..
Tapi mereka memiliki hati yang dermawan suka menyantuni anak yatim dan fakir miskin hal yang saya bingungkan halalkah makanan yang d beli atas pemberian orang lain dengan cara yang menurut saya tidak sesuai syari.at?? Masalahnya ada jg d Tempt tinggal saya yang entah apa itu kerjanya tetapi membelanjakan uangnya untuk keperluan masjid seperti sajadah dll apakah solat saya dan para ja.maah ttp sah?
Mohon penjelaaannya

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Penghasilan mereka, jika diperoleh dgn cara haram, maka haram bagi mereka saja.
Ada pun ketika penghasilan itu diberikan secara halal kepada orang lain, maka boleh menerimanya, keharaman adalah bagi pemiliknya. Oleh Krn itu, saat dia menyumbang buat masjid, anak yatim, dll, mrka boleh menerimanya walau itu blm tentu bermanfaat bagi penyumbangnya ..
Uang haram itu hakikatnya uang “tak bertuan”, maka dia boleh dipakai untuk anak yatim, masjid, maslahat kaum muslimin, juga kepentingan umum seperti jalan, jembatan, dan semisalnya.
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

وأما المحرم لكسبه فهو الذي اكتسبه الإنسان بطريق محرم كبيع الخمر ، أو التعامل بالربا ، أو أجرة الغناء والزنا ونحو ذلك ، فهذا المال حرام على من اكتسبه فقط ، أما إذا أخذه منه شخص آخر بطريق مباح فلا حرج في ذلك ، كما لو تبرع به لبناء مسجد ، أو دفعه أجرة لعامل عنده ، أو أنفق منه على زوجته وأولاده ، فلا يحرم على هؤلاء الانتفاع به ، وإنما يحرم على من اكتسبه بطريق محرم فقط

Harta haram yang dikarenakan usaha memperolehnya, seperti jual khamr, riba, zina, nyanyian, dan semisalnya, maka ini haram hanya bagi yang mendapatkannya saja. Tapi, jika ada ORANG LAIN yang mengambil dari orang itu dengan cara mubah, maka itu tidak apa-apa, seperti dia sumbangkan untuk masjid dengannya, bayar gaji pegawai, nafkah buat anak dan istri, hal-hal ini tidak diharamkan memanfaatkan harta tersebut. Sesungguhnya yang diharamkan adalah bagi orang mencari harta haram tersebut.
(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 75410)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

إذا كانت الأموال قد أخذت بغير حق وقد تعذر ردها إلى أصحابها ككثير من الأموال السلطانية (أي التي غصبها السلطان) ; فالإعانة على صرف هذه الأموال في مصالح المسلمين كسداد الثغور ونفقة المقاتلة ونحو ذلك : من الإعانة على البر والتقوى..

Jika harta diperoleh dengan cara yang tidak benar, dan harta tersebut sulit dikembalikan kepada yang berhak, seperti harta yang ada pada penguasa (yaitu yang dirampas penguasa dari rakyatnya), maka bantuan untuk manfaatkan harta ini adalah dengan memanfaatkannya bagi maslahat kaum muslimin seperti penjaga perbatasan, biaya perang, dan semisalnya; sebab ini termasuk pemanfaatan dalam kebaikan dan taqwa. (As Siyaasah Asy Syar’iyah, Hal. 35)

Pemahaman kelompok ini juga yang dilakukan para salaf, bahwa keharaman adalah bagi orang yang menghasilkannya. Adapun saat dia memberikan ke orang lain maka orang lain tersebut tidak kena keharaman tersebut. Dzar bin Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma bercerita:

جاء إليه رجل فقال : إن لي جارا يأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ،
فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Ada seseorang yang
mendatangi Ibnu Mas’ud lalu dia berkata: “Aku punya tetangga yang suka makan riba, dan dia sering mengundangku untuk makan.” Ibnu Mas’ud menjawab; Untukmu bagian enaknya, dan dosanya buat dia. (Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, no. 14675)

Salman Al Farisi Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

إذا كان لك صديق
عامل، أو جار عامل أو ذو قرابة عامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمه عليه.

“Jika sahabatmu, tetanggamu, atau kerabatmu yang pekerjaannya haram, lalu dia memberi hadiah kepadamu atau mengajakmu makan, terimalah! Sesungguhnya, kamu dapat enaknya, dan dia dapat dosanya.” (Ibid, No. 14677)

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Apa itu Ka’bah?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz.. mau nanya ini. Apa isi ka’bah? Kalau batu, mengapa seluruh umat islam kiblatnya arah kesana? Terima kasih.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Bismillah wal Hamdulillah ..

Ka’bah adalah rumah pertama dan sekaligus masjid pertama yang dibangun di muka bumi.

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً

“Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520)

Ka’bah hanyalah arah kiblat, menunjukkan kesatuan arah umat Islam sedunia. Dulu arah kiblat adalah ke Al Aqsha, lalu Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu’Alaihi Sallam untuk mengubahnya ke Ka’bah.  Umat Islam menyembah Allah Ta’ala melalui shalat, dan shalat memiliki aturan main, yaitu berdiri menghadap Ka’bah. Itu saja, tidak ada yang aneh dan tidak perlu dipusingkan.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menjamak Salat Sesuai Urutan

Batasan-Batasan Sholat Jamak Qashar

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
…Mohon pencerahan mengenai sholat jamak qosor, contoh kasus, saya kerja di Bandung setiap akhir pekan (sabtu&ahad) pulang ke sukabumi. Pertanyaanya :
1. Bolehkah saya menjamak qosor sholat ketika diperjalanan/sudah sampai tujuan (dirumah disukabumi)
2. Selama di sukabumi bolehkah saya menjamak qosor sholat(niat musyafir), merujuk pada sebuah riwayat yg menceritakan ketika Rosul di mekah pada masa pembebasan kota mekkah melakukan solat 2 rokaat2.
Mohon jawabanya biar saya tidak salah dalam berbadah
@ member muslimanis jabar..

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal hamdulillah mencuci shalatu adalah salamu ‘ala rasulillah wa’ ala aalihi wa ashhabihi wa man walah, wa ba’du:

Jamak Shalat

Menjamak shalat adalah memungkinkan menurut jumhur (agama) ulama . Hal ini menurut hadits berikut:

عن أنس بن مالك قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ارتحل قبل أن تزيغ الشمس أخر الظهر إلى وقت العصر ثم نزل فجمع بينهما

Dari Anas bin Malik, dia mengatakan: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika dia melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir (meninggi), maka dia akan akhirkan shalat zhuhur pada waktu Ashar, lalu dia turun dan menjamak keduanya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah :

الجمع بين الصلاتين في السفر في وقت إحداهما جائز في قول أكثر أهل العلم لا فرق بين كونه نازلا أو سائرا

“Menjamak dua shalat dalam perjalanan, pada waktu salah satu dari dua shalat itu, adalah memungkinkan untuk melakukan ulama, sama saja dengan baik dalam perjalanannya atau ketika dia turun (berhenti).
Sebenarnya masyaqqat (kepayahan, kesempitan, kesulitan) yang membuat dibolehkannya jamak, bukan hanya perjalanan, tidak juga hujan, sakit, dan kegunaan yang mendesak.

Jamak karena hujan

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah :

روى الاثرم في سننه عن أبي سلمة ابن عبد الرحمن أنه قال: من السنة إذا كان يوم مطير أن يجمع بين المغرب والعشاء. وروى البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بين المغرب والعشاء في ليلة مطيرة

“Al Atsram meriwayatkan dalam Sunan -nya, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa dia berkata:“ Menyimpan sunah jika turun hujan menjamak antara Maghrib dan Isya ‘. ”Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam menjamak antara maghrib dan isya ‘pada malam hujan.

Jamak sakit Sakit

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

الجمع بسبب المرض أو العذر: ذهب الامام أحمد والقاضي حسين والخطابي والمتولي من الشافعية إلى جواز الجمع تقديما وتأخيرا بعذر المرض لان المشقة فيه أشد من المطر. قال النووي: وهو قوي في الدليل

Menjamak Shalat lantaran sakit atau udzur, menurut Imam Ahmad, Al Qadhi Husein, Al Khathabi, dan Mutawalli dari golongan Syafi’iyyah, adalah berguna baik secara langsung atau ta’khir, sebab kesulitan lantaran sakit adalah lebih berategas hujan. Berkata Imam An Nawawi: “Dan Alasan hal itu kuat.
Jamak karena adanya keperluan (kesibukan)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah :

وذهب جماعة من الأئمة إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة, وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك, وحكاه الخطابي عن القفال والشاشي الكبير من أصحاب الشافعي عن أبي إسحاق المروزي عن جماعة من أصحاب الحديث, واختاره ابن المنذر ويؤيده ظاهر قول ابن عَبَّاس: أَرَادَ أَلَّا يُحْرِج أُمَّته ، فَلَمْ يُعَلِّلهُ بِمَرَضٍ وَلَا غَيْره وَاللَّهُ أَعْلَم

“Sekelompok para imam, membolehkan jamak tidak berjalan dan memiliki keperluan, namun hal itu tidak menjadi kebiasaan. Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah. Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari madzhab Syafi’i, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadits. Inilah yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa dikehendaki dari jamak adalah ‘agar orangnya keluar dari kesulitan.’ Karena itu, tidak jelaskan alasan jamak, apakah karena sakit atau yang lainnya. Wallahu A’lam.

Hal ini didasarkan pada riwayat, dan inilah hadits yang yang dijadikan hujjah oleh Imam An Nawawi di atas.

عن ابن عباس قال: جمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء بالمدينة في غير خوف ولا مطر

Dari Ibnu Abbas, dia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya di Madinah, pada saat tidak ketakutan dan tidak hujan.”
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menambahkan:

قال ابن تيمية: وأوسع المذاهب في الجمع مذهب أحمد فإنه جوز الجمع إذا كان شغل كما روى النسائي ذلك مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: يجوز الجمع أيضا للطباخ والخباز ونحوهما ممن يخشى فساد ماله

“Berkata Ibnu Taimiyah:” Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan bukti yang diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i secara marfu ‘(sampai) kepada Rasulullah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam , sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.

Bahkan dibolehkan juga menjamak, karena sedang menuntut ilmu atau mengajar ilmu. Ini berdasarkan riwayat Imam Muslim berikut:

عن عبد الله بن شقيق قال خطبنا ابن عباس يوما بعد العصر حتى غربت الشمس وبدت النجوم وجعل الناس يقولون الصلاة الصلاة قال فجاءه رجل من بني تميم لا يفتر ولا ينثني الصلاة الصلاة
فقال ابن عباس أتعلمني بالسنة لا أم لك ثم قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم جمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء قال عبد الله بن شقيق فحاك في صدري من ذلك شيء فأتيت أبا هريرة فسألته فصدق مقالته

Dari Abdullah bin Syaqiq, dia mengatakan: Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, pada hari setelah ‘ashar sampai matahari terbenam, hingga nampak bintang-bintang, manusia manusia berteriak: “shalat .. shalat ..!” Lalu datang laki-laki dari Bani Tamim yang tidak hentinya berteriak: shalat .. shalat !. Maka Ibnu Abbas berkata: “Apa-apaan kamu, apakah kamu ingin mengajari saya sunah?”, Lalu dia berkata: “Saya sudah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam menjamak antara zhuhur dan ashar, dan juga maghrib dan isya.” Berkata Abdullah bin Syaqiq : “Masih terngiang dalam dada saya hal itu, maka aku datang kepada Abu Hurairah, aku tanyakan dia tentang hal itu, dia membenarkan keterangan Ibnu ‘Abbas tersebut.
Demikian. Wallahu A’lam.

Qashar (meringkas shalat)

Shalat Qashar (meringkas empat rakaat menjadi dua) adalah sedekah yang memberi Allah Ta’ala kepada umat Islam. (HR. Jamaah). Mayoritas ulama menyatakan bahwa qashar lebih utama dilakukan dibanding shalat dengan sempurna (empat rakaat) jika syarat untuk mengqashar sudah terpenuhi. Karena qashar merupakan rukhshah (keringanan) yang Allah Ta’ala berikan kepada hambaNya, dan Dia senang jika keringanannya itu kita laksanakan. Selain hadits yang berbunyi:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma , Rasulullah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan) nya dilaksanakan, misalnya ia benci jika maksiat dikerjakan.
Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha , “Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.

Allah Ta’ala berfirman:

“Jika kamu bepergian di permukaan bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqshar shalat …” (QS. An Nisa ‘: 101)

Menurut ayat di atas, jelas sekali bahwa qashar disyariatkan jika dalam perjalanan, atau sudah bertolak dari kata asal, alias sudah keluar dari kotanya. Jika masih ditempat kediamannya, belum bisa dilakukan qashar. Berkata Imam Ibnul Mundzir, “Aku tidak menemukan sebuah pernyataan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengqashar dalam perjalanan, kecuali setelah keluar dari Madinah.”

Ketika bepergian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu qashar, tidak ada keterangan yang kuat yang menyebutkan bahwa beliau shalat empat rakaat jika bepergian. Karena itu, tidak sedikit para sahabat Nabi yang menyatakan bahwa qashar hukumnya wajib . Mereka yang menuntut adalah Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin Abdullah. Kalangan madzhab Hanafi menguatkan pendapat ini. Pertengahan Maliki mengatakan bahwa qashar adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan) , bahkan menurut mereka lebih utama daripada shalat berjamaah. Makruh hukumnya shalat sempurna. Sedang berbicara Hambalimengatakan qashar itu mubah (boleh) tetapi lebih utama daripada shalat sempurna. Demikian juga pendapat kalangan Syafi’i. Ini semua jika sudah pada jarak yang dibolehkannya qashar.

Imam Ibnul Mundzir dan lainnya menyebutkan bahwa ada dua puluh menit tentang jarak dibolehkannya qashar.  Perbedaan-perbedaan ini terjadi karena memang tak ada hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menyebutkan jarak. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah , “Tidak ada sebuah hadits yang menyebut jarak jauh atau menantang perjalanan itu.

Namun, di antara hadits-hadits tersebut ada yang paling kuat -di antara yang lemah- yang menyebutkan jarak, yaitu:

Yahya bin Yazid bertanya kepada Anas bin Malik karena mengqashar shalat. Ia menjawab, ”Rasulullah mengerjakan shalat dua rakaat (qashar) jika sudah maju tiga mil atau satu farsakh.
Satu farsakh adalah 5.541 Meter, satu mil adalah 1.748 meter. Bahkan Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa jarak minimal mengqashar shalat adalah satu mil! Jika kurang dari itu maka tidak bisa qashar. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm.

Namun, jumhur (agama) ulama mengatakan bahwa jarak yang dibolehkannya qashar adalah empat belas adalah 16 farsakh (88.656 Km). Inilah pandangan Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal, dan imam ketiga imam ini. Alasannya adalah perbuatan sahabat, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengqashar shalat dan berbuka puasa jika jarak tempuh sudah empati (16 farsakh = 88.656 Km).

Nah, bagaimanakah yang benar-benar melihat berbagai perumpamaan yang saling bertentangan ini? Imam Abul Qasim Al Kharqi memberikan jawaban dalam kitab Al Mughni , “Aku tidak menemukan alasan yang dikemukan oleh para imam itu. Karena, nama dari para sahabat Nabi juga saling bertentangan tidak dapat dijadikan dalil. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa mereka berbeda dengan dalil yang diberikan oleh para kawan-kawan kami (para ulama). Kemudian, seandainya belum ditemukan dalil yang kuat, maka ucapan mereka (para sahabat) tidak dapat dijadikan dalil jika bertentangan dengan sabda dan perilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Dengan demikian ukuran jarak yang mereka tetapkan tidak bisa diterima, karena dua hal berikut:

Pertama , bertentangan dengan sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Kedua, teks ayat firman Allah Ta’ala yang membolehkan qashar shalat bagi orang yang dalam perjalanan: “Jika kamu bepergian di permukaan bumi, maka tidak ada salahnya jika kamu mengqshar shalat…” (QS. An Nisa ‘: 101)

Syarat karena adanya rasa takut dengan orang kafir, telah dihapuskan dengan keterangan hadits Ya’la bin Umayyah. Dengan demikian, teks ayat ini sangat penting untuk berbagai jenis perjalanan. ”

Kesimpulannya, qashar dapat dilakukan jika, 1. Sudah keluar dari daerahnya, 2. Dengan jarak yang sudah layak, cantik, dan pantas disebut sebagai perjalanan (safar). Mengingat dalil-dalil yang ada satu sama lain saling bertentangan. Inilah jalan para Imam Muhaqiqin (peneliti) seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Asy Syaukani, Asy Syaikh Sayyid Sabiq, dan Ustadz Ahmad Hasan dan lainnya. 3. Perjalanannya bukan perjalanan maksiat.

Tenggang Waktu Dibolehkannya Qashar

Dalam hal ini para ulama juga berbeda pendapat. Namun, kita akan melihat dalil yang kuat yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, dan kesempurnaan yang kita pilih.
Dalam Musnad nya Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu , mengatakan: Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallami bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan beliau senantiasa mengqashar shalatnya

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermukim dalam salah satu perjalanan selama sembilan belas hari dan selalu mengerjakan shalat dua rakaat.
Hafsh bin Ubaidillah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam selama dua tahun dan terus melaksanakan qashar umum shalatnya musafir.

Menurut Anas bin Malik, para sahabat Nabi bermukim di daerah Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar shalat.

Berkata Al Hasan, “Aku pernah bermukim bersama Adurrahman bin Samurah di kota Kabul selama dua tahun, dan dia terus mengqashar shalatnya.”

Ibrahim juga pernah mengatakan bahwa para sahabat pernah bermukim di Ray selama satu tahun atau lebih dan di Sijistan selama dua tahun , tetap mengqashar shalat.

Ibnu Umar pernah tinggal di Azarbaijan selama enam bulan dan tetap mengqahar sebab terhalang oleh salju.
Demikian pula para Imam, seperti Imam Said bin al Musayyib, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, yang paling lama adalah empat hari, tidak memiliki dasar yang kuat. Demikian pula Imam Abu Hanifah yang menyebutkan lima belas hari saja, dan diikuti oleh Imam Laits bin Saad.

Berkata Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah tentang bermukimnya Nabi selama dua puluh hari di Tabuk, bahwa hal-hal itu saja, maka akan menghasilkan Tabuk lebih panjang dari itu, ia akan tetap mengqasharnya. Katanya, “Bermukim (singgah) dalam perjalanan tidak bisa dianggap sebagai dari hukum, baik singgahnya lama atau terbatas, dengan syarat tidak bisa menetap di sana sebagai penduduk.”

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq, “Seorang musafir itu memungkinkan terus mengqashar shalatnya selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim (singgah) karena ada kegunaan yang harus diselesaikannya, ia tetap bisa mengqashar karena masih dalam perjalanan, walau bermukimnya selama tahun-tahun lamanya. ”
Imam Ibnul Mundzir menyatakan dalam penelitiannya bahwa para ulama ijma ‘ (keberatan) bahwa seorang musafir tetap berlaku selama ia tidak akan terus berlangsung di tempat, walau singgahnya itu selama bertahun-tahun.

Inilah yang sangat kuat berdasarkan dalil yang kuat pula, baiklah perilaku Rasulullah dan para sahabat, beserta intelijen dari para ulama peneliti seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnul Mundzir, Syaikh Sayyid Sabiq, dan lain-lain.

Berapa lamakah selang waktu dibolehkannya jamak dan qashar?

Hal ini tergantung keadaan safarnya. Kata safar tidak lepas dari tiga keadaan.

1. Safar dengan tujuan menetap di daerah atau negeri. Menetap maksudnya menjadi besar dengan dibuktikannya KTP atau KTP atau KK. Maka, kebolehannya hanya komposisinya safar saja. Sesampainya di tempat tujuan tidak ada lagi rukhshah / keringanan itu, kecuali dia kembali di lain atau dia dari berbagai masyaqqat (kesulitan) di sana, kemudian kembali berlaku jamak, seperti hujan lebat, sakit, takut kepada musuh, bencana alam , dan semisalnya.

2. Safar dengan niat untuk singgah, maka ini ada dua macam:

a. Singgah dengan waktu yang belum jelas, seperti peperangan, berobat, dan semisalnya, yang waktu selesainya tidak bisa dipastikan. Maka, selama itu pula dia bisa menjamak dan qashar. Sebab statusnya tetap seorang yang safar. Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengqashar 20 hari membuat perang Tabuk. Para sahabat ada yang mengqashar dua tahun, bulan, enam bulan, karena mereka tidak berniat menjadi penduduk dan tidak jelas kapan pulangnya, seperti yang sudah kami jelaskan di atas.

b. Singgahnya sudah Tahu lamanya dan kapan pulangnya, seperti dinas kantor, ziarah ke rumah saudara, dan semisalnya. Maka, ini terkunci. Secara ringkas, dalam madzhab Hanafi durasinya adalah 14 hari, selebihnya tidak boleh. Madzhab Syafi’iyah dan Malikiyah tiga hari selebihnya tidak boleh. Sedangkan Hanabilah (Hambaliyah) adalah empat hari, selebihnya tidak boleh.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Beruntung Memiliki Istri Sholihah

Tugas Seorang Istri

Pertanyaan

Assamualaikum ustadzah..saya ingin bertanya. Tugas istri adalah mentaati suami, Bagaimana jika suami meminta saya(kami sekeluarga) tinggal bersama dirumah ibunya , meninggalkan pekerjaan saya dan membantu ibunya berjualan, sebenarnya saya mau tp di hati kecil saya, saya ingin membangun keluarga saya dengan kemandirian.apa permintaan suami saya, saya patuhi?jazakillah.

Jawaban

Oleh: Ustadzah Nurdiana
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ukhty sholehah sudahkah di sampaikan ke suami tentang keinginan membangun keluarga dengan kemandirian? Dan anti sudah pahamkah apa yang menjadi alasan suami kenapa disuruh tinggal bersama bundanya? Coba di diskusikan kembali bersama suami, kemukakan dengan bijak apa keinginan anti? Tapi kalaupun keputusan nya tetap harus tinggal bersama bundanya, maka lapangkanlah hati  untuk menerima, ikhlaskan diri untuk memulai kehidupan bersama mertua hal-hal yang sebaiknya anti pahami:

1⃣.Masalah ketaatan, istri wajib taat perintah suami sepanjang suami tidak mengajak pada kemaksiatan, Allah berfirman”Taatlah kamu kepada Allah, Taat lah kepada rasul dan ulil amri diantara kalian” suami pemimpin dalam rumah tangga, sehingga istri wajib taat pada hal  yang ma’ruf.

2⃣.Mertua tidak hanya bunda suami tapi juga harus anti anggap dan perlakuan seperti bunda sendiri, menghormati, mencintai dan bersikap  baik, menolong kesulitannya merupakan hal  yang ma’ruf yang akan membuat suami senang dan tambah sayang dengan anti, dan yakinlah saat kita berbuat baik kebaikan itu untuk diri kita sendiri, Allah berfirman, di dalam surat  al Isro ayat 7
“in ahsantun ahsantum li anfusikum,….barangsiapa berbuat baik maka kebaikannya kembali untuk dirinya”.

3⃣Bakti pada ortu atau mertua bisa jadi tiket ke surga.

4⃣Utamakan keutuhan keluarga dari pada mempertahankan pekerjaan anti yang mungkin anti merasa senang dengan pekerjaan itu dan berat untuk meninggalkannya karena sudah terbiasa punya uang dan mengelola uang sendiri, kami paham dengan segala keberatan dan bayangan ketidak nyamanan yang ada dalam fikiran anti, tapi percayalah tidak ada pengorbanan yang sia-sia bila kita niatkan untuk kebaikan, rezqi tidak selalu dalam bentuk harta, kebahagiaan keluarga, keutuhan, kebersamaan yangǥ dibangun karena cinta itu juga rezqi.

5⃣.Coba sholat hajat, minta kepada Allah petunjuk dankeputusan terbaik, sehingga apapun keputusannya kita bisa menerima dengan lapang dada
“Pengalaman keikhlasan yang penting adalah tunduk dan patuh pada sesuatu yang kita tidak setujui dan taat dalam keadaan terpaksa”(ust Anis Mata).

Ukhty banyaklah bersyukur dengan setiap potongan kisah perjalanan kehidupan rumah tangga anti, Alhamdulillah masih ada orang tua jadikanlah bakti anti ke orang tua menjadi sebab Rahmat dan kasih sayang Allah turun untuk anti dan keluarga.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menutup Aurat

Sholat & Dagu

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb ustadz. Mau tanya :
1. Bagaimana caranya supaya semangat & khusu’ dalam sholat ?
2. Saya pernah lihat video ustadz yg mengatakan area dibawah tulang dagu adalah aurat. Biasanya perempuan mengenakan kerudung menampakkan sedikit area dibawah tulang dagu agar posisi kerudung pas. Bagaimana menurut ustadz ?
Trmksh ustadz.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan 

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Ini tidak mudah, istiqamah itu bagi saya salah satu karamah di akhir zaman. Semangat kita naik turun, bahkan mgkin lbh sering turunnya. Maka, bersamaku org2 shalih, terus ikut majelis kebaikan, merasa Allah mengawasi ..

Begitu pula untuk khusyu’, tidak sesederhana teorinya, walau ada pelatihan shalat khusyu’ tetaplah masing-masing kita punya tantangan sendiri ..

Tp, MUJAHADAH .. sungguh-sungguh, bagian dr kunci meraih khusyu’, dan juga dipersiapkan: hati dan pikiran yg tenang, tempat kondusif, suasana juga tenang, syukur paham bahasa Arab jd bs sambil menyerap ayat-ayat Allah .. Wallahu a’lam

2.  Untuk dagu pernah saya bahas ..👇

Bismillah wal Hamdulillah ..

Dagu (Adz Dziqnu) adalah bagian dari wajah ..

Sedangkan bawah dagu, bukan bagian dari wajah, baik secara makna fiqih, bahasa, dan kebiasaan.. oleh karena itu, ​bagian bawah dagu mesti ditutup ..​

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjelaskan:

وهذه المنطقة المسؤول عنها ليست من الوجه فعلى هذا تجب تغطيتها عند الجميع

​Area yang ditanyakan ini bukanlah bagian dari wajah, maka wajib bagian ini ditutup ketika dihadapan orang banyak.​

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 17089)​

Demikian.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678