logo manis4

Pakaian Ihram Beraroma Wangi Deterjen

Pertanyaan

Assalamu’alaikum ustadz/ah..mau tanya terkait ketika kita pakai baju ihram. diantaranya tdk boleh pakai wangi2an, bagaimana jika wanginya itu karna bau detergen, molto dan kisprai.karna baju abis dicuci dng bahan tersebut ?ย  #A12

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Jawaban

Oleh: Ustadzah Nurdiana

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…ย  ุงู„ุณู„ุงู…ย  ูˆย  ุฑุญู…ุฉย  ุงู„ู„ู‡ย  ูˆย  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ

Berdasarkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., โ€œDan, janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan raโ€™faran (kumkuka) atau dengan waras (sebangsa celupan berwarna merah).โ€
(Muttafaqun โ€˜alaih: Fathul Bari III:401 no: 1542, Muslim II:834 no: 117, โ€˜Aunul Maโ€™bud V:269 no:1806, dan Nasaโ€™i V:129).

Dan, sabda Rasulullah saw. tentang seorang yang berihram yang terlempar dari atas untanya hingga wafat,
โ€Janganlah kalian memulurinya (dengan balsam) agar tetap awet dan jangan (pula) menutup kepalanya; karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan membaca talbiyah.โ€ (Muttafaqun โ€™alaih: Fathul Bari III:135 no:265, Muslim II:865 no:1206, โ€™Aunul Maโ€™bud IX:63 no:3222-3223, dan Nasaโ€™i V:196).

Kalau merujuk ke hadits yang di Atas, sebaiknya tidak memakai kispray atau molto secara berlebihan kalau ala kadarnya supaya aroma pakaian tidak bau masih di bolehkan, asal jangan harumnya menebar, tercium.

Wa Allahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal Paling Dicintai

Mengapa Bacaan I’tidal Tidak Allahu Akbar

Pertanyaan

Admin, mau bertanya, tolong sampaikan sama asatidz/ah yang bersangkutan.
Kenapa ketika i’tidal di dalam sholat, kita membaca samia allahu liman hamidah, sedang di gerakan lainnya, kita membaca Allahu Akbar. Apa sebab nya?
Jazakillah khair.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ

Jawaban

๐Ÿ“ Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

Bismillah wal Hamdulillah .., dalam ibadah yang sifatnya tawqifiy (given)ย maka sikap kita adalah mengikutinya dan tunduk, karena begitulah pedomannya.

Termasuk dalam memahami semua bentuk gerakan dan bacaan; kenapa takbir, kenapa samiallahu liman hamidah, kenapa sujud dua kali sdgkan ruku’ sekali … dsb. Semua itu karena begitulah pedoman yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita pun mengikutinya.

Berbeda dengan perkara keduniaan yang bisa dicari maksud dan hikmahnya, dan itu boleh saja walau tidak berdosa jika tidak mengetahuinya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“ุฅู†ู…ุง ุงู„ุฅูู…ุงู… ู„ูŠุคุชู… ุจู‡ุŒ ูุฅุฐุง ูƒุจุฑ ููƒุจุฑูˆุงุŒ ูˆุฅุฐุง ุฑูƒุน ูุงุฑูƒุนูˆุงุŒ ูˆุฅุฐุง ู‚ุงู„ ุณู…ุน ุงู„ู„ู‡ ู„ู…ู† ุญู…ุฏู‡ุŒ ูู‚ูˆู„ูˆุง ุฑุจู†ุง ู„ูƒ ุงู„ุญู…ุฏุŒ ูุฅุฐุง ุตู„ู‰ ุฌุงู„ุณู‹ุง ูุตู„ูˆุง ุฌู„ูˆุณู‹ุง ุฃุฌู…ุนูŠู†”

Imam itu diangkat untuk diikuti jika dia takbir mka takbirlah, jika dia ruku maka rukulah, jika dia mengucapkan sami’allahu liman hamdah, maka bacalah rabbana wa lakal hamd.ย  (HR. Ahmad No. 7144)

Demikian yg nabi ajarkan, maka kita mengikutinya.

Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

6 Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb. Ustadz….. Mohon penjabaran dr Hadits yg klo gak salah menjelaskan ttg 6 (enam) hak sosial muslim thd muslim lainnya, berikut contoh yg d lakukan Nabi SAW maupun sahabat.
Jazakillah khaeron. A 11

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒฟ

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Wassalamu’alaikum wr wb.

๐ŸŒฟHak Muslim Atas Muslim Lainnya๐ŸŒฟ

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุณูุชู‘ูŒยป ู‚ููŠู„ูŽ: ู…ูŽุง ู‡ูู†ู‘ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠุชูŽู‡ู ููŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุนูŽุงูƒูŽ ููŽุฃูŽุฌูุจู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽู†ู’ุตูŽุญูŽูƒูŽ ููŽุงู†ู’ุตูŽุญู’ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุนูŽุทูŽุณูŽ ููŽุญูŽู…ูุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ููŽุณูŽู…ู‘ูุชู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุฑูุถูŽ ููŽุนูุฏู’ู‡ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนู’ู‡ูยป

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œHak muslim atas muslim lainnya ada enam.โ€ Ada yang bertanya: โ€œApa saja wahai Rasulullah?โ€ Beliau bersabda: โ€œJika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika dia mengundangmu maka penuhilah, jika dia minta nasihat darimu maka nasihatilah, jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka bertasymitlah, jika dia sakit jenguklah, dan jika dia wafat iringilah jenazahnya.โ€

๐Ÿ“ Hadits ini SHAHIH, dikeluarkan oleh:
๐Ÿ”น Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, Bab Tasymiit Al โ€˜Aathis, No. 925
๐Ÿ”ธ Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabus Salam Bab Min Haqqil Muslim Lil Muslim Raddus Salam, No. 2162
๐Ÿ”น Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Musnad Abi Hurairah No. 8845, 9341
๐Ÿ”ธImam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, No. 242
๐Ÿ”นDll

๐Ÿ“š Kandungan Hadits Secara Global:

๐Ÿ“™Hadits ini menjelaskan dan merinci apa-apa saja yang mesti diketahui oleh seorang muslim, dan mesti diamalkan, yaitu berupa hak-hak saudaranya yang mesti ditunaikan.

๐Ÿ“• Dalam hadits ini disebutkan enam. Dalam riwayat Imam At Tirmidzi, tidak ada kata โ€œjika dia minta nasihat darimu maka nasihatilahโ€, yang ada adalah โ€œmencintai apa yang dia cintai ย seperti mencintai apa yang diri sendiri cintai.โ€

(Sunan At Tirmidzi No. 2736, ย Para ulama berbeda pendapat tentang statusnya, Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan. Begitu pula menurut Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth. (Taโ€™liq Musnad Ahmad, 2/96). ย Namun didhaifkan oleh Syaikh Al Albani. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2736). ย Syaikh Husein Salim ย Asad mendhaifkan dalam kitab Musnad Abi Yaโ€™la No. 435, tapi Beliau menghasankan dalam tahqiqnya terhadap kitab Sunan Ad Darimi No. 2675)

๐Ÿ“— Makna Hadits:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ :

Bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุณูุชู‘ูŒ :

Hak muslim atas muslim lainnya ada enam

Yaitu hak yang mesti diterima bagi saudara kita, ย namun itu menjadi kewajiban bagi kita. Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan:

ุฃูŠ ุงู„ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู…ุดุชุฑูƒุฉ ุจูŠู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุนู†ุฏ ู…ู„ุงุจุณุฉ ุจุนุถู‡ู… ุจุนุถุง

Yaitu hak-hak kolektif antara kaum mukminin ketika satu sama lain saling melindungi. (Faidhul Qadir, 3/390)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah menjelaskan:

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏู ุจูุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ูˆูŽูŠูŽูƒููˆู†ู ููุนู’ู„ูู‡ู ุฅู…ู‘ูŽุง ูˆูŽุงุฌูุจู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽู†ู’ุฏููˆุจู‹ุง ู†ูŽุฏู’ุจู‹ุง ู…ูุคูŽูƒู‘ูŽุฏู‹ุง ุดูŽุจููŠู‡ู‹ุง ุจูุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู

Yang dimaksud dengan โ€œhakโ€ adalah apa-apa yang tidak semestinya ditinggalkan dan hendaknya dilakukan, baik berupa kewajiban, atau sunah yang begitu ditekankan yang serupa dengan kewajiban yang tidak sepatutnya ditinggalkan. (Subulus Salam, 2/611)

ู‚ููŠู„ูŽ: ู…ูŽุง ู‡ูู†ู‘ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸ :

Ada yang bertanya: โ€œApa saja wahai Rasulullah?โ€

Ucapkan Salam Saat Berjumpa

1. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠุชูŽู‡ู ููŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู :

Beliau bersabda: โ€œJika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya.โ€

Ini menunjukkan perintah mengawali ucapan salam jika berjumpa saudara sesama muslim.

Dalam As Sunnah:

ู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆุงุŒ ุฃูŽูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏูู„ู‘ููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ู ุชูŽุญูŽุงุจูŽุจู’ุชูู…ู’ุŸ ุฃูŽูู’ุดููˆุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’

Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Yaitu Sebarkan salam di antara kalian.
(HR. Muslim No. 54, dari Abu Hurairah)

Hadits lainnya:

ุงุนู’ุจูุฏููˆุง ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูู…ููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽูู’ุดููˆุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ูŽุŒ ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆุง ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุจูุณูŽู„ุงูŽู…ู

Sembahlah Allah, berikanlah makanan, sebarkanlah salam, maka masuklah ke surga dengan damai. (HR. At Tirmidzi No. 1855, dari Abdullah bin Amr. Imam At Tirmidzi katakan: hasan shahih)
Dan banyak lagi.

Bantu Pengurusan Jenazahnya

2. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนู’ู‡ู :

Jika dia wafat maka iringilah jenazahnya.

Yaitu bantulah pengurusan jenazahnya, menyalatkan dan menguburkannya. Ini, selain hak seorang muslim, juga memiliki fadhilah yang luar biasa.

Imam Ali Al Qari Rahimahullah
mengatakan:

ุฃูŠ: ุฌู†ุงุฒุชู‡ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆู„ู„ุฏูู† ุฃูƒู…ู„

Yaitu menyalatkan jenazahnya dan menguburkannya sampai tuntas sempurna. (Mirqaah Al Mafaatih, 3/1121)

Imam Abdurrauf Al Munawi
Rahimahullah juga mengomentari:

(ูˆูŽุฅูุฐุง ู…ูŽุงุชูŽ ููŽุงุชุจุนู‡ู) ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชุตู„ูŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽุฅูู† ุตุญุจุชู‡ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูู† ูุฃูุถู„

(jika dia wafat maka iringilah jenazahnya) yaitu sampai menyalatkannya, jika juga mengiringinya sampai menguburkannya maka itu lebih utama. (At Taisir Bisy Syarhi Al Jaamiโ€™ Ash Shaghiir, 1/499)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ย ยซู…ู† ุฃุตุจุญ ู…ู†ูƒู… ุงู„ูŠูˆู… ุตุงุฆู…ุงุŸยป ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฃู†ุงุŒ ู‚ุงู„: ยซูู…ู† ุชุจุน ู…ู†ูƒู… ุงู„ูŠูˆู… ุฌู†ุงุฒุฉุŸยป ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฃู†ุงุŒ ู‚ุงู„: ยซูู…ู† ุฃุทุนู… ู…ู†ูƒู… ุงู„ูŠูˆู… ู…ุณูƒูŠู†ุงุŸยป ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฃู†ุงุŒ ู‚ุงู„: ยซูู…ู† ุนุงุฏ ู…ู†ูƒู… ุงู„ูŠูˆู… ู…ุฑูŠุถุงุŸยป ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฃู†ุงุŒ ูู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ยซู…ุง ุงุฌุชู…ุนู† ููŠ ุงู…ุฑุฆุŒ ุฅู„ุง ุฏุฎู„ ุงู„ุฌู†ุฉยป

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œSiapakah diantara kalian yang hari ini berpuasa?โ€ Abu Bakar menjawab: โ€œSaya wahai Rasulullah.โ€ Rasulullah bertanya lagi: โ€œSiapakah diantara kalian yang hari ini mengantar janazah?โ€ Abu Bakar menjawab: โ€œSaya wahai Rasulullah.โ€ Rasulullah bertanya lagi: โ€œSiapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?โ€ Abu Bakar menjawab: โ€œSaya wahai Rasulullah.โ€ Rasulullah bertanya lagi: โ€œSiapakah diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?โ€ Abu Bakar menjawab: โ€œSaya wahai Rasulullah.โ€ Rasulullah bersabda : โ€œTidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.โ€ (HR. Muslim No. 1028)

Menjenguknya Saat Sakit

3. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุฑูุถูŽ ููŽุนูุฏู’ู‡ู :

dan jika dia sakit ย maka jenguklah

Yaitu kunjungilah sebab itu menjadi penghibur dan sudah menjadi obat baginya.

Syaikh Muhammad Muhajirin Al Amsaar Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุฏ ุงุฌู…ุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุนู„ู‰ ุณู†ุชู‡ ูˆ ุณูˆุงุก ูู‰ ุฐู„ูƒ ู…ู† ูŠุนุฑูู‡ ูˆ ู…ู† ู„ุง ูŠุนุฑูู‡ ูˆ ุงู„ู‚ุฑูŠุจ ูˆ ุงู„ุฃุฌู†ุจู‰ ุบูŠุฑ ุฃู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุฎุชู„ููˆู† ูู‰ ุงู„ุฃูˆูƒุฏ ูˆ ุงู„ุฃูุถู„ ู…ู†ู‡ู…ุง

Kaum muslimin telah ijmaโ€™ atas kesunahannya, sama saja baik menjenguk yang sudah dikenal atau tidak, baik orang dekat atau orang asing. Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih ditekankan dan lebih utama dari keduanya. (Misbahuzh Zhalam, 4/291)

Imam Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan:

ูˆูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠูˆุฌู‡ ุจุฃู† ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ู† ุงู„ุนูŠุงุฏุฉ ุญุตูˆู„ ุงู„ุชุณู„ูŠ ูˆุงู„ุงุดุชุบุงู„ ุจุงู„ุฃุตุญุงุจ ูˆุงู„ุฃุญุจุงุจ ุญุงู„ุฉ ุงู„ุชุฎู„ูŠุŒ ูุฅู† ู„ู‚ุงุก ุงู„ุฎู„ูŠู„ ุดูุงุก ุงู„ุนู„ูŠู„

Kemunginan dianjurkannya hal ini, bahwa ย  maksud dari kunjungan tersebut dalam rangka menghibur dirinya, ย dan dia ย dalam keadaan jauh dari aktifitas para sahabatnya dan orang-orang yang dikasihinya. Sesungguhnya pertemuan dengan orang yang dicintai merupakan obat bagi penyakit. ย (Mirqah Al Mafatih, 3/1121)

Penuhi Undangannya

4. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุนูŽุงูƒูŽ ููŽุฃูŽุฌูุจู’ู‡ู :

Dan jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya

Yaitu jika dia memanggilmu untuk suatu keperluan; pertolongan, undangan, maka penuhilah jika memang di dalamnya tidak ada unsur kerusakan, maksiat, dan dalam keadaan mampu melaksanakannya.

Imam Ali Al Qari Rahimahullah mengatakan:

(ูˆุฅุฐุง ุฏุนุงูƒ) ุฃูŠ: ู„ู„ุฅุนุงู†ุฉ ูˆุงู„ุฏุนูˆุฉ

(Jika dia mengundangmu) yaitu untuk memberikan pertolongan dan untuk mendatangi undangan. (Mirqah Al Mafatih, 3/1120)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Saโ€™di Rahimahullah mengatakan:

ุฃูŠ: ุฏุนุงูƒ ู„ุฏุนูˆุฉ ุทุนุงู… ูˆุดุฑุงุจ ูุงุฌุจุฑ ุฎุงุทุฑ ุฃุฎูŠูƒ ุงู„ุฐูŠ ุฃุฏู„ู‰ ุฅู„ูŠูƒ ูˆุฃูƒุฑู…ูƒ ุจุงู„ุฏุนูˆุฉุŒ ูˆุฃุฌุจู‡ ู„ุฐู„ูƒ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ูƒ ุนุฐุฑ

Yaitu mengundangmu pada undangan jamuan makan dan minum maka tekanlah kekhawatiran saudaramu yang telah mengakui dan memuliakanmu dengan memberikan undangan, dan penuhilah itu kecuali jika kamu memiliki โ€˜udzur (halangan). (Bahjah Quluub Al Abraar, Hal. 81)

Pada dasarnya, ini berlaku pada semua undangan. Lalu, para fuqaha mengkhususkannya pada undangan pesta pernikahan, itu yang wajib, sedangkan yang lainnya sunah.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ุธูŽุงู‡ูุฑูู‡ู ุนูู…ููˆู…ู ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุฅูุฌูŽุงุจูŽุฉู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ูŠูŽุฏู’ุนููˆู‡ู ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุฎูŽุตู‘ูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุจูุฅูุฌูŽุงุจูŽุฉู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠู…ูŽุฉู ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆูู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠู…ูŽุฉู ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ ูˆูŽูููŠู…ูŽุง ุนูŽุฏูŽุงู‡ูŽุง ู…ูŽู†ู’ุฏููˆุจูŽุฉูŒ ู„ูุซูุจููˆุชู ุงู„ู’ูˆูŽุนููŠุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฌูุจู’ ูููŠ ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽู‰ ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู.

Menurut zahirnya, ini berlaku umum memenuhi semua undangan, tapi para ulama mengkhususkan pada undangan pesta pernikahan dan semisalnya, lebih utamanya dikatakan bahwa memenuhi undangan pada pesta pernikahan adalah wajib, sedangkan selainnya adalah sunah, sebab telah shahih adanya ancaman bagi yang tidak memenuhi undangan pada undangan yang pertama, bukan yang kedua. (Subulus Salam, 2/611, 612)

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsaar Rahimahullah menjelaskan:

ุงุณุชููŠุฏ ู…ู†ู‡ ุฃู† ุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ุฏุนุงุก ู…ู† ุญู‚ ุงู„ู…ุณู„ู… ย ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณู„ู… , ูˆ ุงู„ุงู…ุฑ ุจุงู„ุงุฌุงุจุฉ ู‡ู†ุง ู„ู„ุงุณุชุญุจุงุจ , ูˆ ู‚ุฏ ุชูƒูˆู† ูˆุงุฌุจุฉ ูƒู…ุง ูู‰ ุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ, ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก: ุฅู† ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ูˆุงุฌุจุฉ ูู‰ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุฃูˆู„ ุฏูˆู† ุงู„ุซุงู†ูŠ ูˆุงู„ุซุงู„ุซ ุงู„ุง ุงุฐุง ูƒุงู† ู‡ู†ุงูƒ ุถุฑุฑ ุดุฑุนูŠ ูู„ุง ุชุฌุจ ุงุฌุงุจุชู‡

Faidahnya adalah bahwa memenuhi panggilan/undangan adalah di antara hak muslim atas muslim lainnya, dan perintah di sini menunjukkan perkara yang disukai untuk dilaksanakan, dan akan menjadi wajib sebagaimana pada undangan pesta. Para ahli fiqih mengatakan bahwa memenuhi undangan merupakan kewajiban pada hari pertama, bukan hari kedua dan ketiga, kecuali jika di dalamnya terdapat kerusakan menurut syariat (dharar syarโ€™iy) maka tidak wajib memenuhi undangan tersebut. (Misbahuzh Zhalam, 4/290)

Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan bahwa kewajiban hanya pada undangan pesta pernikahan, sedangkan undangan lainnya adalah sunah.

(ูˆูŽุฅูุฐุง ุฏุนูŽุงูƒ ูุฃุฌุจู‡) ุฅูู„ูŽู‰ ู…ุฃุฏุจุชู‡ ูˆุฌูˆุจุง ู„ู„ุนุฑุณ ูˆู†ุฏุจุง ู„ุบูŠุฑู‡ ุญูŽูŠู’ุซู ู„ูŽุง ุนุฐุฑ

(Jika dia mengundangmu maka penuhilah) yaitu pada undangan jamuannya, itu merupakan kewajiban pada pesta pernikahan, dan sunah pada undangan selainnya, selama tidak ada halangan. (At Taisiir bisysyarhi Al Jaamiโ€™ Ash Shaghiir, 1/499)

Hal serupa juga dijelaskan ulama lain, seperti Imam Ibnu โ€˜Allan ย yang menyatakan fardhu โ€˜ain memenuhi undangan pesta pernikahan, dan fardhu kifayah pada undangan lainnya. (Daliilul Faalihiin, 3/29).

Bukan hanya adanya dharar syarโ€™iy seperti maksiat dalam pesta tersebut, tetapi jika ada halangan (โ€˜udzur) lain seperti sakit, cuaca yang tidak memungkinkan untuk berangkat, atau tempatnya sangat jauh dan sulit dijangkau, juga tidak wajib mendatanginya.

Nasihati Ia Bila Diminta

5. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽู†ู’ุตูŽุญูŽูƒูŽ ููŽุงู†ู’ุตูŽุญู’ ู„ูŽู‡ู :

Jika dia minta nasihat darimu maka nasihatilah.

Yaitu jika saudaramu minta arahan dan bimbingan maka berikanlah. Karena nasihat adalah hak siapa pun. Sebagaimana hadits berikut:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ุฑูู‚ูŽูŠู‘ูŽุฉูŽ ุชูŽู…ููŠู’ู… ุจู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ุณู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฑููŠู‘ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุตููŠู’ุญูŽุฉู ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง: ู„ูู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุงุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ู„ู‡ูุŒูˆู„ูƒุชุงุจู‡ุŒ ูˆู„ูุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽู„ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ุงู„ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽุŒ ูˆูŽุนูŽุงู…ู‘ูŽุชูู‡ูู…ู’ . ย ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…

Dari Abu Ruqayyah ย Tamim bin Aus Ad Dari Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œAgama adalah nasihat.โ€ Kami berkata: โ€œUntuk siapa wahai Rasulullah?โ€ Beliau bersabda: โ€œUntuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang umumnya.โ€
(HR. Muslim No. 55)

Bertasymit Untuknya

6. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุนูŽุทูŽุณูŽ ููŽุญูŽู…ูุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูุดูŽู…ู‘ูุชู’ู‡ู :

jika dia bersin lalu memuji Allah, maka bertasymitlah.

Yaitu jika dia bersin lalu dia mengucapkan Al Hamdulillah, dia bersyukur atas nikmat Allah ๏ทบ, maka bertasymit yaitu mengucapkan yarhamukallah.

Apa maksud tasymit? Dalam An Nihayah disebutkan bahwa tasymit โ€“baik dengan syin atau sin- artinya:

ุงู„ุฏุนุงุก ุจุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุจุฑูƒุฉ

Berdoa dengan kebaikan dan keberkahan. (Mirqah Al Mafatih, 7/2937)

Imam Ali Al Qari juga mengatakan:

ูƒุฃู†ู‡ ุฏุนุงุก ู„ู„ุนุงุทุณ ุจุงู„ุซุจุงุช ุนู„ู‰ ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู‚ูŠู„: ู…ุนู†ุงู‡ ุฃุจุนุฏูƒ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ุงู„ุดู…ุงุชุฉ ูˆุฌู†ุจูƒ ู…ุง ูŠุดู…ุช ุจู‡ ุนู„ูŠูƒ

Seolah itu adalah doa bagi orang yang bersin agar dia mendapatkan pahala atas ketaatannya kepada Allah. Ada juga yang mengatakan, bahwa artinya adalah semoga Allah menjauhkanmu dari sikap berbahagia dengan kesusahan orang, dan menyingkarkanmu dari kesulitan yang membuat orang lain bersenang atas dirimu. (Ibid)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kedudukan & Makna Hadist Tasyabbuh Bil Kuffar

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ

Pertanyaan

Assalamualaikum ustadz/ah…saya mau bertanya tentang:

1. Kedudukan hadits: “ู…ู† ุชุดุจู‡ ุจู‚ูˆู… ูู‡ูˆ ู…ู†ู‡ู…”

2. Bagaimana aplikasi hadits diatas dlm keseharian kita. Apakah HANYA menyangkut aqidah? Fiqih? Mu’amalah? Atau SEMUA sisi kehidupan kita?
Karena, hampir sebagian hidup kita banyak mengadopsi kebudayaan non muslim seperti makanan, pakaian, teknologi, bahasa, hiburan dll.
ุฌุฒุงูƒู… ุงู„ู„ู‡ ุฎูŠุฑุง….
๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Wa’Alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Langsung aja ya ..

๐Ÿ“•Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

โ€œBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.โ€ (HR. Abu Daud No. 4031, Ahmad No. 5115, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf ย No.33016, dll) (1)

๐Ÿ“˜Dari Amru bin Syuโ€™aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.(HR. At Tirmdizi No. 2695, Al Qudhaโ€™i, Musnad Asy Syihab No. 1191) (2) (Keshahihan hadits ini lihat pada catatan kaki)

Ketika menjelaskan hadits-hadits di atas, Imam Abu Thayyib mengutip dari Imam Al Munawi dan Imam Al โ€˜Alqami ย tentang hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir:

โ€œYakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.โ€ (Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 11/51)

Imam Abu Thayyib Rahimahullah juga mengatakan:

Lebih dari satu ulama berhujjah dengan hadits ini bahwa dibencinya segala hal terkait dengan kostum yang dipakai oleh selain kaum muslimin. (Ibid, 11/52)

Demikianlah keterangan para ulama bahwa berhias dan menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas mereka โ€“seperti topi Sinterklas, kalung Salib, topi Yahudi, peci Rabi Yahudi- termasuk makna tasyabbuh bil kuffar โ€“ menyerupai orang kafir yang begitu terlarang dan dibenci oleh syariat Islam.

Ada pun pakaian yang bukan menjadi ciri khas agama, seperti kemeja, celana panjang, jas, dasi, dan semisalnya, para ulama kontemporer berbeda pendapat apakah itu termasuk menyerupai orang kafir atau bukan. ย Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menganggap kostum-kostum ini termasuk menyerupai orang kafir, maka ini hal yang dibenci dan terlarang, bahkan menurutnya termasuk jenis kekalahan secara psikis umat Islam terhadap bangsa-bangsa penjajah. Sedangkan menurut para ulama di Lajnah Daimah kerajaan Saudi Arabia seprti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Abdurrazzaq โ€˜Afifi, dan lainnya, menganggap tidak apa-apa pakaian-pakaian ini. Sebab jenis pakaian ini sudah menjadi biasa di Barat dan Timur. Bukan menjadi identitas agama tertentu.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat, sebab Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam riwayat shahih, pernah memakai Jubah Romawi yang sempit. Sebutan โ€œJubah Romawiโ€ menunjukan itu bukan pakaian kebiasaannya, dan merupakan pakaian budaya negeri lain (Romawi), bukan pula pakaian simbol agama, dan Beliau memakai jubah Romawi itu walau agama bangsa Romawi adalah Nasrani.

Dari Mughirah bin Syuโ€™bah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:
Bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memakai jubah Romawi yang sempit yang memiliki dua lengan baju.(HR. At Tirmidzi No. 1768, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 18239. Al Baghawi, Syarhus Sunnah No. 3070. Dishahihkan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, dan lainnya)

Sementara dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga mengenakan Jubbah Syaamiyah (Jubah negeri Syam). ย Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Jubbah Rumiyah. Sebab, saat itu Syam termasuk wilayah kekuasaan Romawi.

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

Banyak terdapat dalam riwayat Shahihain dan lainnya tentang Jubbah Syaamiyah, ini tidaklah menafikan keduanya, karena Syam saat itu masuk wilayah pemerintahan kerajaan Romawi. (Tuhfah Al Ahwad zi, 5/377)

Syaikh Al Mubarkafuri menerangkan, bahwa dalam keterangan lain, ย saat itu terjadi ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sedang safar. Ada pun dalam riwayat Malik, Ahmad, dan ย Abu Daud, itu terjadi ketika perang Tabuk, seperti yang dikatakan oleh Mairuk. Menurutnya hadits ini memiliki pelajaran bahwa bolehnya memakai pakaian orang kafir, sampai-sampai walaupun terdapat najis, sebab Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memakai Jubah Romawi tanpa adanya perincian (apakah baju itu ada najis atau tidak). (Ibid)

๐Ÿ“ŒMengambil Ilmu Dari Mereka (Orang Kafir) Bukan Termasuk Tasyabbuh (penyerupaan)

Begitu pula mengambil ilmu dan maslahat keduniaan yang berasal dari kaum kuffar, maka ini boleh. Dahulu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menggunakan cara Majusi dalam perang Ahzab, yaitu dengan membuat Khandaq (parit) sekeliling kota Madinah. Begitu pula penggunakaan stempel dalam surat, ini pun berasal dari cara kaum kuffar saat itu, dan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga mengikutinya.

Oleh karena itu, memakai ilmu keduniaan dari mereka, baik berupa penemuan ilmiah, fasilitas elektronik, transportasi, software, militer, dan semisalnya, tidak apa-apa mengambil manfaat dari penemuan mereka. Ini bukan masuk kategori menyerupai orang kafir. Sebab ini merupakan hikmah (ilmu) yang Allah Taโ€™ala titipkan melalui orang kafir, dan seorang muโ€™min lebih berhak memilikinya dibanding penemunya sendiri, di mana pun dia menjumpai hikmah tersebut.

Jadi, tidak satu pun ketetapan syariat yang melarang mengambil kebaikan dari pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non muslim dalam masalah dunia selama tidak bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah hukum yang tetap. Oleh karena hikmah adalah hak muslim yang hilang, sudah selayaknya kita merebutnya kembali. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan โ€“dengan sanad dhaif- sebuah kalimat, โ€œHikmah adalah harta dari seorang muโ€™min, maka kapan ia mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.โ€

Meski sanadnya dhaif, kandungan pengertian hadits ini benar. Faktanya sudah lama kaum muslimin mengamalkan dan memanfaatkan ilmu dan hikmah yang terdapat pada umat lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu pernah berkata, โ€œIlmu merupakan harta orang muโ€™min yang hilang, ambil-lah walau dari orang-orang musyrik.โ€ (3) Islam hanya tidak membenarkan tindakan asal comot terhadap segala yang datang dari Barat tanpa ditimbang di atas dua pusaka yang adil, Al Qurโ€™an dan As Sunnah.

Wallahu Aโ€™lam wa Lillahil โ€˜Izzah

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Catatan Kaki:

1] Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini, ย  tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudhaโ€™i dari Thawus secara mursal. (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215).

Sementara, Imam Al โ€˜Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih menurut Imam Al โ€˜Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas. (Imam Al โ€˜Ajluni, Kasyful Khafa, 2/240). Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.(Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim, Aunul Maโ€™bud, 11/52). Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4031)

2] Sebagaimana kata Imam AtTirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhaiโ€™ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jamiโ€™ No. 5434, Ash Shahihah No. 2194). Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arnaโ€™uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat. (Raudhatul Muhadditsin No. 4757)

3] Hadits: โ€œHikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya maka dialah yang paling berhak memilikinya.โ€

Hadits ini dhaif, diriwayatkan oleh I mam At Tirmidzi dalam sunannya, pada Bab Maa Jaโ€™a fil Fadhli Fiqh โ€˜alal โ€˜Ibadah, No. 2828. Dengan sanad: Berkata kepada kami Muhammad bin Umar Al Walid Al Kindi, bercerita kepada kami Abdullah bin Numair, ย dari Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi, dari Saโ€™id Al Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: …. ( lalu disebut hadits di atas).

Imam At Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: โ€œHadits ini gharib (menyendiri dalam periwayatannya), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah seorang yang dhaif fil hadits (lemah dalam hadits).โ€

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Kitab Az Zuhud Bab Al Hikmah, No. 4169. Dalam sanadnya juga terdapat Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi.

Imam Ibnu Hajar mengatakan, bahwa Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah Abu Ishaq Al Madini, dia seorang yang Fahisyul Khathaโ€™ (buruk kesalahannya). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/14. Mawqiโ€™ Al Warraq). Sementara Imam Yahya bin Maโ€™in menyebutnya sebagai Laisa bi Syaiโ€™ (bukan apa-apa). (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/105. Mawqiโ€™ Yaโ€™sub)

Sederetan para Imam Ahli hadits telah mendhaifkannya. Imam Ahmad mengatakan: dhaiful hadits laisa biqawwifil hadits (haditsnya lemah, tidak kuat haditsnya). Imam Abu Zurโ€™ah mengatakan: dhaif. Imam Abu Hatim mengatakan: dhaifulhadits munkarulhadits (hadisnya lemah dan munkar). Imam Al Bukhari mengatakan: munkarul hadits. Imam An Nasaโ€™imengatakan: munkarul hadits, dia berkata ditempat lain: tidak bisa dipercaya, dan haditsnya tidak boleh ditulis. Abu Al Hakim mengatakan: laisa bil qawwi โ€˜indahum (tidak kuat menurut mereka/para ulama). Ibnu โ€˜Adi mengatakan: dhaif dan haditsnya boleh ditulis, tetapi menurutku tidak boleh berdalil dengan hadits darinya.

Yaโ€™qub bin Sufyan mengatakan bahwa hadits tentang โ€œHikmahโ€ di atas adalah hadits Ibrahim bin Al Fadhl yang dikenal dan diingkari para ulama. Imam Ibnu Hibban menyebutnya fahisyul khathaโ€™ (buruk kesalahannya). ย Imam Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan), begitu pula menurut Al ‘Azdi. (Lihat semua dalam karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 1/131 .DarulFikr. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 2/43.Muasasah ArRisalah. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizan Al Iโ€™tidal, 1/52.Darul Maโ€™rifah. Lihat juga Imam Abu Hatim ArRazi, Al JarhwatTaโ€™dil, 2/122. Dar Ihya AtTurats. Lihat juga Imam Ibnu โ€˜Adi Al Jurjani, Al Kamil fidh Dhuโ€™afa, 1/230-231. Darul Fikr. Imam Al โ€˜Uqaili, Adh Dhuafa Al Kabir, 1/60. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Syaikh Al Albani pun telah menyatakan bahwa hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), lantaran Ibrahim ini. (Dhaiful Jamiโ€™ No. 4302. Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/320)

Ada pula yang serupa dengan hadits di atas:
โ€œHikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja seorang mukmin menemukan miliknya yang hilang, maka hendaknya ia menghimpunkannya kepadanya.โ€

Imam As Sakhawi mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Al Qudhaโ€™i dalam Musnadnya, dari hadits Al Laits, dari Hisyam bin Saโ€™ad, dari Zaid bin Aslam, secara marfuโ€™. Hadits ini mursal. (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 1/105. Imam Al โ€˜Ajluni, Kasyful Khafaโ€™, 1/363)

Ringkasnya, hadits mursal adalah hadits yang gugur di akhir sanadnya, seseorang setelah tabiโ€™in. Kita lihat, riwayat Al Qudhaโ€™i ini, Zaid bin Aslam adalah seorang tabiโ€™in, seharusnya dia meriwayatkan dari seorang sahabat nabi, namun sanad hadits ini tidak demikian, hanya terhenti pada Zaid bin Aslam tanpa melalui sahabat nabi. Inilah mursal. Jumhur (mayoritas) ulama dan Asy Syafiโ€™i mendhaifkan hadits mursal.

Ada pula dengan redaksi yang agak berbeda, bukan menyebut Hikmah, tetapi Ilmu. Diriwayatkan oleh Al โ€˜Askari, dariโ€˜Anbasah bin Abdurrahman, dari Syubaib bin Bisyr, dari Anas bin Malik secara marfuโ€™:

โ€œIlmu adalah barang mukmin yang hilang, dimana saja dia menemukannya maka dia mengambilnya.โ€

Riwayat ini juga dhaif. โ€˜Anbasah bin Abdurrahman adalah seorang yang matruk (ditinggal haditsnya), dan Abu Hatim menyebutnya sebagai pemalsu hadits.(Taqribut Tahdzib, 1/758)

Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya (Abu Hatim) tentang โ€˜Anbasah bin Abdurrahman, beliau menjawab: matruk dan memalsukan hadits. Selain itu, Abu Zurโ€™ah juga ditanya, jawabnya: munkarul hadits wahil hadits (haditsnya munkar dan lemah). (Al Jarh wat Taโ€™dil, 6/403)

Ada pun Syubaib bin Bisyr, walau pun Yahya bin Maโ€™in menilainya tsiqah (bisa dipercaya), namun Abu Hatimdan lain-lainnya
mengatakan: layyinulhadits. (haditsnya lemah). (Imam Adz Dzahabi, MizanulIโ€™tidal, 2/262)

Ada pula riwayat dari Sulaiman bin Muโ€™adz, dari Simak, dari โ€˜ikrimah, dariIbnu Abbas, di antara perkataannya:
โ€œAmbillah hikmah dari siapa saja kalian mendengarkannya, bisa jadi ada perkataan hikmah yang diucapkan oleh orang yang tidak bijak, dan dia menjadi anak panah yang bukan berasal dari pemanah.โ€ Ucapan ini juga dhaif. Lantaran kelemahan Sulaiman bin Muadz.

Yahya bin Ma’in mengatakan tentang dia: laisa bi syaiโ€™ (bukan apa-apa). Abbas mengatakan, bahwa Ibnu Main mengatakan: dia adalah lemah. Abu Hatim mengatakan: laisa bil matin (tidak kokoh). Ahmad menyatakannya tsiqah (bisa dipercaya).Ibnu Hibban mengatakan: dia adalah seorang rafidhah (syiah) ekstrim, selain itu dia juga suka memutar balikan hadits. An Nasaโ€™i mengatakan: laisa bil qawwi (tidak kuat). (Mizanul Iโ€™tidal, 2/219)

๐Ÿ“Catatan:
Walaupun ucapan ini dhaif, tidak ada yang shahih dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Namun, secara makna adalah shahih. Orang beriman boleh memanfaatkan ilmu dan kemajuan yang ada pada orang lain, sebab hakikatnya dialah yang paling berhak memilikinya. Oleh karena itu, ucapan ini tenar dan sering diulang dalam berbagai kitab para ulama. Lebih tepatnya, ucapan ini adalah ucapan dari beberapa para sahabat dan tabiโ€™in dengan lafaz yang berbeda-beda.

Dari Al Hasan bin Shalih, dari โ€˜Ikrimah, dengan lafaznya:

โ€œAmbil-lah hikmah dari siapa pun yang engkau dengar, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara dengan hikmah padahal diabukan seorang yang bijak, dia menjadi bagaikan lemparan panah yang keluar dari orang yang bukan pemanah.โ€ (Al Maqashid Al Hasanah, 1/105)

Ucapan ini adalah shahih dari โ€˜Ikrimah, seorang tabiโ€™in senior, murid Ibnu Abbas. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Al Hasan bin Shalih bin Shalih bin Hay adalah seorang tsiqah, ahli ibadah, faqih, hanya saja dia dituduh tasyayyuโ€™ (agak condong ke syiโ€™ah). (Taqribut Tahdzib, ย 1/205)

Wakiโ€™ mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seseorang yang jika kau melihatnya kau akan ingat dengan Said bin Jubeir. ย Abu Nuโ€™aim Al Ashbahani mengatakan aku telah mencatat hadits dari 800 ahli hadits, dan tidak satu pun yang lebih utama darinya. Abu Ghasan mengatakan, Al Hasan bin Shalih lebih baik dari Syuraik. Sedangkan Ibnu โ€˜Adi mengatakan, sebuah kaum menceritakan bahwa hadits yang diriwayatkan dari nya adalah mustaqimah, tak satu pun yang munkar, dan menurutnya Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang ahlushshidqi (jujur lagi benar). ย Ibnu Hibban mengatakan, Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang faqih, waraโ€™, pakaiannya lusuh dan kasar, hidupnya diisi dengan ibadah, dan agak terpengaruh syiโ€™ah (yakni tidak meyakini adanya shalatJumat). Abu Nuโ€™aim mengatakan bahwa Ibnul Mubarak mengatakan Al Hasan bin Shalih tidak shalat Jumat, sementara Abu Nuโ€™aim menyaksikan bahwa beliau shalat Jumโ€™at. ย Ibnu Saโ€™ad mengatakan dia adalah seorang ahli ibadah, faqih, dan hujjah dalam hadits shahih, dan agak tasyayyuโ€™. As Saji mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seorang shaduq (jujur). Yahya bin Said mengatakan, tak ada yang sepertinya di Sakkah. Diceritakan dari Yahya bin Maโ€™in, bahwa Al Hasan bin Shalih adalah tsiqatun tsiqah (kepercayaannya orang terpercaya). (Tahdzibut Tahdzib, 2/250-251)

Hanya saja Sufyan Ats Tsauri memiliki pendapat yang buruk tentangnya. Beliau pernah berjumpa dengan Al Hasan bin Shalih di masjid pada hari Jumโ€™at, ketika Al Hasan bin Shalih sedang shalat, Ats Tsauri berkata: โ€œAku berlindung kepada Allah dari khusyuโ€™ yang nifaq.โ€ Lalu dia mengambil sendalnya dan berlalu. Hal ini lantaran Al Hasan bin Shalih โ€“menurut At Tsauri- adalah seseorang yang membolehkan mengangkat pedang kepada penguasa (memberontak). (Ibid, 2/249)

Namun, jarh (kritik) ini tidak menodai ketsiqahannya, lantaran ulama yang mentaโ€™dil (memuji) sangat banyak.

Selain itu, telah shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

โ€œIlmu adalah barang mukmin yang hilang, maka ambil-lah walau berada di tangan orang-orang musyrik, dan janganlah kalian menjauhkan diri untuk mengambil hikmah itu dari orang-orang yang mendengarkannya.โ€ (Ibnu Abdil Bar, Jamiโ€™ ย Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/482. Mawqiโ€™ Jami Al Hadits).
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

APAKAH CAIRAN KEWANITAAN MEMBATALKAN WUDHU?

Pertanyaan

Assalammu’alaikum… afwan pertanyaanku mengenai cairan kewanitaan apakah membatalkan wudhu atau ngga?

JAWABAN:

โœ Oleh: Ustadzah Dra.Indra Asih

Ada 3 jenis cairan, yaitu:

Mani

Mani adalah cairan berwarna putih yang keluar memancar dari kemaluan, biasanya keluarnya cairan ini diiringi dengan rasa nikmat dan dibarengi dengan syahwat. Mani dapat keluar dalam keadaan sadar (seperti karena berhubungan suami-istri) ataupun dalam keadaan tidur (biasa dikenal dengan sebutan โ€œmimpi basahโ€). Keluarnya mani menyebabkan seseorang harus mandi besar / mandi junub. Hukum air mani adalah suci dan tidak najis ( berdasarkan pendapat yang terkuat). Apabila pakaian seseorang terkena air mani, maka disunnahkan untuk mencuci pakaian tersebut jika air maninya masih dalam keadaan basah. Adapun apabila air mani telah mengering, maka cukup dengan mengeriknya saja. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah, beliau berkata โ€œSaya pernah mengerik mani yang sudah kering yang menempel pada pakaian Rasulullah dengan kuku saya.โ€ (HR. Muslim)

Wadi

Wadi adalah air putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing. Keluarnya air wadi dapat membatalkan wudhu. Wadi termasuk hal yang najis. Cara membersihkan wadi adalah dengan mencuci kemaluan, kemudian berwudhu jika hendak sholat. Apabila wadi terkena badan, maka cara membersihkannya adalah dengan dicuci.

Madzi

Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang muncul ketika seseorang memikirkan atau membayangkan jimaโ€™ (hubungan seksual) atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu (biasa diistilahkan dengan foreplay/pemanasan). Air madzi keluar dengan tidak memancar. Keluarnya air ini tidak menyebabkan seseorang menjadi lemas (tidak seperti keluarnya air mani, yang pada umumnya menyebabkan tubuh lemas) dan terkadang air ini keluar tanpa disadari (tidak terasa). Air madzi dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, meskipun pada umumnya lebih banyak terjadi pada wanita. Sebagaimana air wadi, hukum air madzi adalah najis. Apabila air madzi terkena pada tubuh, maka wajib mencuci tubuh yang terkena air madzi, adapun apabila air ini terkena pakaian, maka cukup dengan memercikkan air ke bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah terhadap seseorang yang pakaiannya terkena madzi, โ€œcukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut.โ€ (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan). Keluarnya air madzi ย membatalkan wudhu. Apabila air madzi keluar dari kemaluan seseorang, maka ia wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu apabila hendak sholat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, โ€œCucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah.โ€ (HR. Bukhari Muslim)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ’๐ŸŒธ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Barang Temuan

โœ Ustadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒท๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน

Tanya Ustadz
Kepada Ustadz Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan dari A03

Assalamu’alaikum
Begini, saya suka bingung kalau sudah menemukan barang yang hilang. Seperti beberapa kasus di bawah ini:

1. Kasus satu, misal ayah saya menemukan hp yang jatuh di jalan. Misalnya ayah saya tidak terlalu paham hukumnya, tetapi saya takut kalau tidak dikembalikan, padahal kita bisa kembalikan dengan mencari informasi pemilik hp tsb. Saya sudah hubungin temennya pemilik hp tsb. Tetapi  tidak ada balasan. Padahal saya ingin mengembalikan.Akhirnya dibiarkan aja hp tsb sampai sekarang. Terkadang digunakan oleh ayah saya. Yang saya tanyakan, bagamana sebaiknya yang saya lakukan?

2. Kasus 2, saya menemukan anting sebelah di tempat wudhu kampus, sepertinya punya anak kecil. Cukup sulit kalau anak tersebut bukan mahasiswa. Lalu saya simpan. Saya menulis pengumuman di papan informasi, tetapi tidak ada yg merasa kehilangan. Akhirnya saya berpikir tidak  mungkin tunggu 1 tahun. Saya pikir dijual saja dan uangnya diinfakan. Apakah diperbolehkan tindakan saya seperti itu?

3. Kasus 3, misanya ayah saya menemukan seperangkat plastik kiloan lumayan 2/3 pak dan 1/2 pack tusuk gigi yang jatuh di jalan. Itu kan tidak mungkin dilacak pemiliknya, karena bingung dan mubadzir kalau tidak dipakai. Akhirnya (saya/ayah saya) berpikir untuk dipakai sendiri (mencari keuntungan sendiri misalnya).  Padahal bisa diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti penjual yang keliahatannya kurang mampu. Namun, ternyata tidak, malah digunakan sendri. Bagaimana hukumnya? Berdosakan saya/ayah saya?

Ukhti Lusi

Jazakumullah Ustadz Farid Nu’man
___________________________

JAWABAN

3โƒฃAssalamualaikum
Sya mau bertanya..kasusnya gni
Ada tman Sya yang mungut uang lalu dia pkai berbelanja๐Ÿซ dgan niat ingin mgemmbalikannya nanti saat dia punya uang ..nah pertanyaannya! Tidak haramkah uang itu?? Dan kalau mau d kembalikan mau di kembalikan kemana?? Apakah ke tempat yang d pungut itu??
Mohon d jawab…syukron๐Ÿ˜Šโ˜บ
๐Ÿ“ :

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Wa ‘alaikumussalam …, Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

 Apa yang ditanyakan itu, dalam fiqih namanya LUQATHAH yaitu barang temuan.

 Ada dua jenis:

1โƒฃ Barang temuannya sesuatu yg dianggap sudah tidak berharga atau tidak diharapkan pemiliknya lagi, maka ini boleh dimiliki. Seperti sebutir kurma, kain usang, botol minuman, bangku reot, dll. Ini biasa kita saksikan dilakukan pemulung. Ini dibenarkan oleh syara’ dan tradisi manusia umumnya.

2โƒฃ Barangnya sesuatu yang diminati banyak orang, pemiliknya pun masih berharap, baik dia masih mencari atau pasif saja. Seperti jam, dompet dan isinya, perhiasan, dll.

Maka, ini mesti diumumkan selama 1 tahun,  Jika yang punya datang, maka kembalikan, jika tidak maka boleh bagi penemunha memanfaatkannya sebagaimana perintah nabi dalam hadits riwayat Al Bukhari. Boleh juga menyedekahkannya, tapi jika  suatu saat ada orang yang mengaku sebagai pemiliknya, maka tetap kita mengembalikannya.

Demikian. Wallahu a’lam

โœ Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒท๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia….

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Seputar Madzi dan Mani

Pertanyaan

Assalaamu ‘alaikum Ust.
Utk bahasan ttg mani ini ada bbrp yg ana mau usulkan:

1. Seingat ana Ali bin Abi Thalib ra. yg ‘digelari abu madza’ prnh bbrp kali ditanya ttg hal d atas. (Dan dijawab bliau …, mgkn ada haditsny)

2. Alangkah baikny utk bahasan terkait seputar hal2 semacam bahasan ini terkait tubuh manusia, jg diberikan (dalil aqli selain naqli) & didiskusikan kpd ahli medis (dokter) yg tentu bnyk mnjd sahabat2 Ust. penulis d Depok.

Krn bahasan ttg masalah ini sdh tuntas di bidang anatomi tubuh manusia. Bhw mani walaupun di-ekskresi-kan (dikeluarkan melalui qubul) tp diproduksi oleh bagian tubuh yg berbeda.
Jalan keluar yg sama hny bermuara di uretra.
Bahkan ALLah SWT telah menciptakan bhw bila seseorang mengeluarkan mani maka tdk akan bisa mengeluarkan air kencing pd saat yg sama. (Hikmah bisa bnyk diambil dari hal tsb).

3. Bila kedua poin bahasan di atas sdh dilakukan maka akan semakin menguatkn bahwa mani adlh suci, namun memang perlu dibersihkan dgn sapuan yg berbeda dgn najis. ย Membersihkn utk najis mnrt hadits kalau tdk salah “Menjadi tidak bernoda, tidak berbau.”

Wal ‘afwu minkum. #mohon tanggapan (I-17)


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Jazakallah khairan atas masukan dan usulnya …

1. Mungkin yang antum maksud adalah MADZI, bukan mani. Ali disebut Abu Madza karena Ali sering keluar madzi.

Ali Radhiallahu ‘Anhu :

ูƒูู†ู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู…ูŽุฐู‘ูŽุงุกู‹ ููŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุฏูŽุงุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ูˆูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ? ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠู‡ู ุงู„ู’ูˆูุถููˆุกู

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh Al Miqdad bin Al Aswad menanyakan kepada Nabi? Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: โ€œPadanya wajib berwudhu.โ€ (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan madzi itu hadats kecil, yaitu cukup baginya berwudhu, Nabi ๏ทบ tidak memerintahkannya untuk mandi junub.

Dalam riwayat lain:

ูƒูู†ู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู…ูŽุฐู‘ูŽุงุกู‹ ููŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ? ู„ูู…ูŽูƒูŽุงู†ู ุงุจู’ู†ูŽุชูู‡ู ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽ (ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู) ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู’ ูˆูŽุงุบู’ุณูู„ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽูƒูŽ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh seseorang ย untuk menanyakan kepada Nabi hal itu, karena posisi anaknya terhadap diriku (maksudnya Fatimah adalah istrinya, Ali malu bertanya langsung ke nabi, pen). ย Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: โ€œ Berwudhulah dan cuci kemaluanmu.โ€ (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan bahwa madzi itu najis, karena Nabi ๏ทบ memerintahkan untuk mencucinya kemaluannya. Kenajisannya telah disepakati ulama, tidak ada khilafiyah.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

ูˆู‡ูˆ ู…ุงุก ุฃุจูŠุถ ู„ุฒุฌ ูŠุฎุฑุฌ ุนู†ุฏ ุงู„ุชููƒูŠุฑ ููŠ ุงู„ุฌู…ุงุน ุฃูˆ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ู„ุงุนุจุฉุŒ ูˆู‚ุฏ ู„ุง ูŠุดุนุฑ ุงู„ุงู†ุณุงู† ุจุฎุฑูˆุฌู‡ุŒ ูˆูŠูƒูˆู† ู…ู† ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฃูƒุซุฑุŒูˆู‡ูˆ ู†ุฌุณ ุจุงุชูุงู‚ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

Itu adalah air berwarna putih yang merembas keluar ketika memikirkan jimaโ€™ atau ketika bercumbu. Manusia tidak merasakan apa-apa ketika itu keluar. Hal ini terjadi pada pria dan wanita, hanya saja wanita lebih banyak, dan dia (madzi) najis menurut kesepakatan ulama. (Fiqhus Sunnah, 1/26)

Apa beda Mani dan Madzi?

ูˆูŽุงู„ู’ููŽุฑู’ู‚ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ูŽ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ููุชููˆุฑู ุนูŽู‚ููŠุจูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠู ููŽูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูŽู†ู’ ุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ู„ุงูŽ ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู‚ูุจูู‡ู ููุชููˆุฑูŒ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

2. Jazakallah khairan masukannya.

Hal-hal seperti ini yang paling utama adalah dalil naqli dulu, lalu kemudian dalil โ€˜aqli sebagai penguat dan penyempurna, apalagi dalam hal-hal yang baru terkuak hikmahnya belakangan, bagi masyarakat modern dan rasional hal itu sangat penting. ย Mendahului naqli di atas โ€˜aqli, itulah yang ditempuh para ulama baik dahulu dan kontemporer. Ada atau tidak ada penemuan-penemuan modern tersebut tentu tidak akan mengalihkan kita dari dalil-dalil naqli. Dalil โ€˜aqli (akal), ketika terdapat dalil naqli (Al Quran dan As Sunnah), sifatnya hanya mengkonfirmasi dan menguatkan. Hal ini penting, untuk menghindari kesan ilmu โ€œcocoklogiโ€ antara ayat dan hadits dengan penemuan modern, apalagi ilmu pengetahuan modern itu dinamis dan berkembang, bisa saling menafikan. Apa yang ditemukan hari ini, bisa dibantah esok hari.

Jika penemuan hari ini sesuai Al Quran dan As Sunnah, lalu besok ada penemuan lain yang berbeda tentu ini menjadi masalah yang tidak sederhana; bisa saja ada manusia yang menuduh Al Quran dan As Sunnah tidak sesuai penemuan modern. Oleh karena itu tidak semua ulama setuju metodogi perangkaian dalil Naqli dan โ€˜Aqli sekaligus, karena yang satu dogmatis, yang satu lagi dinamis. Dalil-dalil โ€˜aqli sangat diperlukan ketika berhadapan dengan kaum rasionalis ekstrim dan free thinkers.

3. Kesucian mani, memang tidak berarti kita membiarkan ketika menodai pakaian kita, mesti dibersihkan. ย Sebagaimana penjelasan lalu.

Wallahu Aโ€™lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Bolehkah Shalat Dengan Pakaian Ada Noda Air Mani?

Pertanyaan

Assalamu’alaykum, ustadz ada pertanyaan

Ada pertanyaan ust. dr tmn.grup sblh.
Seandainya kita dalam posisi kerja ya ustadz terus kita tidur dan mimpi basah .. Trus kita sholat subuh nih apa sholat kita sah? Krn keadaan tdk membawa baju ganti
mksdx tmn:
Iya mandi besar .. Tapi yg ana maksud kan pakaian ana ga ganti sedangkan di mani itu kan ada najisnya jd sah apa tdk kalau ana sholat tp pakaian nya ga ganti?
Azam I5

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘alaikujussakam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du:

Apa itu air mani?

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah ย mengatakan:

ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ู’ุบูŽู„ููŠุธู ุงู„ุฏู‘ูŽุงููู‚ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงุดู’ุชูุฏูŽุงุฏู ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู

Itu adalah air kental yang hangat yang keluar ketika begitu kuatnya syahwat. (Al Mughni, 1/197)

Lebih rinci lagi disebutkan dalam kitab Dustur Al โ€˜Ulama:

ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุฃู’ุจู’ูŠูŽุถู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽู†ู’ูƒูŽุณูุฑู ุงู„ุฐู‘ูŽูƒูŽุฑู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽุฏู ู…ูู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ูˆูŽู„ูŽุฏู

Air mani adalah air berwarna putih yang membuat ย  kemaluan lemas setelah keluarnya, dan terbentuknya bayi adalah berasal darinya. (Dustur Al โ€˜Ulama, 3/361)

Apa perbedaannya dengan madzi?

Imam An Nawawi menjelaskan:

ูˆูŽุงู„ู’ููŽุฑู’ู‚ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ูŽ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ููุชููˆุฑู ุนูŽู‚ููŠุจูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูŠู ููŽูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูŽู†ู’ ุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ู„ุงูŽ ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู‚ูุจูู‡ู ููุชููˆุฑูŒ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

Mani Suci atau Najis?

Para ulama berselisih tentang kenajisannya, tetapi yang lebih kuat adalah suci, namun dianjurkan untuk mencuci atau mengeriknya jika terkena olehnya, apalagi jika akan digunakan untuk shalat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฅู„ู‰ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจู†ุฌุงุณุชู‡ ูˆุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ุทุงู‡ุฑุŒ ูˆู„ูƒู† ูŠุณุชุญุจ ุบุณู„ู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุฑุทุจุงุŒ ูˆูุฑูƒู‡ ุฅู† ูƒุงู† ูŠุงุจุณุง

Sebagian ulama berpendapat bahwa mani adalah najis, yang benar adalah dia suci, tetapi dianjurkan untuk mencucinya jika masih basah, dan mengeriknya jika dia kering. (Fiqhus Sunnah, 1/27)

Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan najis, ini juga menjadi pendapat Abu Hurairah, Hasan Al Bashri, dan lainnya. ย Alasannya:

Hadits dari Sulaiman bin Yasar, katanya:

ย ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ูŠูุตููŠุจู ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุบู’ุณูู„ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุซูŽูˆู’ุจู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽุฃูŽุซูŽุฑู ุงู„ู’ุบูŽุณู’ู„ู ูููŠ ุซูŽูˆู’ุจูู‡ู ุจูู‚ูŽุนู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู

Aku bertanya kepada โ€˜Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, beliau berkata: โ€œAku pernah mencucinya dari pakaian Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lalu dia keluar untuk shalat, dan bekas cuciannya masih ada di pakaiannya.โ€ (HR. Bukhari No. 230, Muslim No. 289, ini menurut lafaz Bukhari)

Menurut kelompok ini, sangat jelas bahwa mani adalah najis, sebab tidak mungkin dicuci jika bukan najis. Disebutkan dalam ย beberapa kitab:

ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุงู„ุฏู‘ูŽู„ุงูŽู„ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุบูŽุณูŽู„ูŽุชู ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุซูŽูˆู’ุจู ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุบูุณู’ู„ ุดูŽุฃู’ู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุงุชู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุนูŽู„ูู…ูŽ ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ููŽุฃูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุทูŽุงู‡ูุฑูŒ ูˆูŽู„ุฃูู†ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽุงุฑูุฌูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ูŽูŠู’ู†ู ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ู†ูŽุฌูุณู‹ุง ูƒูŽุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุงุชู

๐Ÿ“ŒSisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa โ€˜Asiyah Radhiallahu โ€˜Anha telah mencuci mani dari pakaian Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, dan kebiasaan mencuci itu terjadi pada hal-hal yang najis, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga tahu hal itu dan menyetujuinya, dan Beliau tidak mengatakan suci, disamping itu karena mani keluar dari salah satu di antara dua jalan (dua jalan: dubur dan kemaluan), maka dia najis seperti najis-najis lainnya. (Badaโ€™i Shanaโ€™i, 1/60,Tabyinul Haqaiq, 1/71, Al Binayah โ€˜alal Hidayah, 1/722, Intishar Al Faqir As Saalik, Hal. 256)

Dalil lainnya adalah hadits:

ูŠุง ุนู…ุงุฑ ุฅู†ู…ุง ูŠุบุณู„ ุงู„ุซูˆุจ ู…ู† ุฎู…ุณ ู…ู† ุงู„ุบุงุฆุท ูˆุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ู‚ูŠุก ูˆุงู„ุฏู… ูˆุงู„ู…ู†ูŠ

๐Ÿ“ŒWahai โ€˜Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Az Zailaโ€™i Rahimahullah menyebutkan:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ูŠูุตููŠุจู ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ุฅู†ู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู‡ ููŽุงุบู’ุณูู„ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ููŽุงุบู’ุณูู„ู’ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ูƒูู„ู‘ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉู ุงู„ู’ุจูŽูˆู’ู„ู

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu tentang mani yang mengenai pakaian: Jika saya melihatnya maka saya akan mencucinya, jika tidak maka saya akan cuci semua bagiannya. Dari Al Hasan Al Bashri: ari mani sama kedudukannya dengan kencing. (Tabyinul Haqaiq, 1/337)

Ulama lain mengatakan mani adalah suci, dan ini menjadi pendapat Syafiโ€™iyah, Hambaliyah, Imam Asy Syaukani, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Alasan mereka adalah hadits โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha di atas bahwa Beliau mencuci air mani tidak berarti mani itu najis, tetapi sekedar kotor saja, sebagaimana pakaian yang terkena dahak, debu, dan semisalnya. โ€œMencuciโ€ tidak selalu karena ada najisnya, sebab aktifitas mencuci biasanya akan dilakukan terhadap benda-benda yang dianggap sudah kotor atau kena kotoran. Ditambah lagi, pencucian itu adalah inisiatif โ€˜Aisyah sebagai istrinya yang memang biasa mencuci pakaian suaminya, bukan atas perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, jikalau najis tentu Allah dan RasulNya akan menerangkannya, bukan melalui penafsiran ย perbuatan โ€˜Aisyah.

Alasan lain adalah ย dari Ibnu Abbas ketika ย Rasulullah Shallalalhu โ€˜Alaihi wa Sallam ditanya tentang mani, beliau bersabda:

ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุฎูŽุงุทู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฒูŽุงู‚ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽูƒู’ูููŠูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู…ู’ุณูŽุญูŽู‡ู ุจูุฎูุฑู’ู‚ูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ุจูุฅูุฐู’ุฎูุฑูŽุฉู

โ€œItu hanyalah sebagaimana ingus dan ludah, kamu cukup mengelapnya dengan sehelai kain ย atau dedaunan.โ€ (HR. Ad Daruquthni, 1/124)

Imam Ad Daruquthni berkata:

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ููŽุนู’ู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุงู„ุฃูŽุฒู’ุฑูŽู‚ู ุนูŽู†ู’ ุดูŽุฑููŠูƒู ุนูŽู†ู’ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ู‡ููˆูŽ ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจูู‰ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽู‰ ุซูู‚ูŽุฉูŒ ููู‰ ุญููู’ุธูู‡ู ุดูŽู‰ู’ุกูŒ

Tidak ada yang memarfuโ€™kan selain Ishaq Al Azraq, dari Syarik, dari Muhammad bin Abdirrahman, dia adalah Ibnu Abi Laila, terpercaya namun hafalannya bermasalah. ย (Ibid)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengutip dari para ulama:

ู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุฏูŽุญู ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฅุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุจู’ู†ูŽ ูŠููˆุณูููŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ุฑูŽู‚ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู

โ€œMereka mengatakan: Hal itu tidaklah menodainya, sebab Ishaq bin Yusuf al Azraq adalah salah seorang Imam.โ€ ย  (Fatawa Al Kubra, 1/409)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑู‘ู ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุฅู…ูŽุงู…ูŒ ู…ูุฎูŽุฑู‘ูŽุฌูŒ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญูŽูŠู’ู†ู ููŽูŠูู‚ู’ุจูŽู„ ุฑูŽูู’ุนูู‡ู ูˆูŽุฒููŠูŽุงุฏูŽุชูู‡ู

โ€œHal itu tidak masalah, karena Ishaq adalah seorang Imam, riwayatnya dipakai dalam shahihain (Bukhari-Muslim) maka dapat diterima permarfuโ€™annya dan tambahannya.โ€ (Nailul Authar, 1/65)

Dengan kata lain, hadits di atas maqbul (dapat diterima) kemarfuโ€™annya sampai Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.[1]

Berkata Imam Asy Syafiโ€™i Radhiallahu โ€˜Anhu:

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ : ยซ ุงู„ู…ู†ูŠ ู„ูŠุณ ุจู†ุฌุณ ุŒ ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุฌู„ ุซู†ุงุคู‡ ุŒ ุฃูƒุฑู… ู…ู† ุฃู† ูŠุจุชุฏุฆ ุฎู„ู‚ ู…ู† ูƒุฑู…ู‡ ุŒ ูˆุฌุนู„ ู…ู†ู‡ู… ุงู„ู†ุจูŠูŠู† ุŒ ูˆุงู„ุตุฏูŠู‚ูŠู† ุŒ ูˆุงู„ุดู‡ุฏุงุก ุŒ ูˆุงู„ุตุงู„ุญูŠู† ุŒ ูˆุฃู‡ู„ ุฌู†ุชู‡

โ€œMani bukanlah najis, karena Allah Taโ€™ala telah memuliakannya dengan permulaan penciptaan, darinya pula diciptakan para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin, dan penduduk surga.โ€ ย (Imam Al Baihaqi, Maโ€™alim As Sunan wal Atsar No. 1349)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู : ุงู„ู’ู…ูŽู†ููŠู‘ู ุทูŽุงู‡ูุฑูŒ ุŒ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุทูŽู‡ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ุจูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุบูŽุณู’ู„ูู‡ู ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุฏู’ุจู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ุบูŽุณู’ู„ู ุฏูŽู„ููŠู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉู ุŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุธูŽุงููŽุฉู ูˆูŽุฅูุฒูŽุงู„ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽู†ู ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆูู‡ู ุ› ู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽุชูŽุดู’ุจููŠู‡ูู‡ู ุจูุงู„ู’ุจูุฒูŽุงู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฎูŽุงุทู ุฏูŽู„ููŠู„ู ุทูŽู‡ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง

Golongan Asy Syafiโ€™iyyah mengatakan, โ€œMani adalah suci,โ€ mereka berdalil tentang kesuciannya berdasarkan hadits-hadits tersebut. Mereka mengatakan: โ€˜Hadits-hadits yang menunjukkan mencuci mani mengandung arti anjuran, bukan berarti mencuci adalah dalil atas kenajisannya, melainkan sekedar membersihkan dan menghilangkan sesuatu yang kotor dan lainnya. Mereka mengatakan: โ€œDiserupakannya mani dengan ludah dan ingus juga merupakan dalil atas kesuciannya.โ€(Subulus Salam, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ููˆู†ูŽ ูŠูŽุญู’ุชูŽู„ูู…ููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงู…ู ููŽุชูุตููŠุจู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽุจู’ุฏูŽุงู†ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุซููŠูŽุงุจูŽู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ู ูˆูŽุงุฌูุจู‹ุง ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ุจูุบูŽุณู’ู„ู ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู…ูŽู†ููŠู‘ู ู„ูŽุง ูููŠ ุจูŽุฏูŽู†ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุซููŠูŽุงุจูู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุถูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุบู’ุณูู„ูŽ ุฏูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถู ู…ูู†ู’ ุซูŽูˆู’ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฅุตูŽุงุจูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู ุซููŠูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ู…ูู†ู’ ุฅุตูŽุงุจูŽุฉู ุฏูŽู…ู ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถู ุซููŠูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูุจูŽูŠู‘ูู†ู ู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูู„ู’ุญูŽุงุฆูุถู ูˆูŽูŠูŽุชู’ุฑููƒู ุจูŽูŠูŽุงู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู‘ู ุŸ

โ€œSesungguhnya para sahabat senantiasa bermimpi (basah), maka badan dan pakaian mereka mengalami junub (kena mani), seandainya mencuci itu wajib maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pasti akan memerintahkannya, namun nyatanya tidak satu pun dari kaum muslimin yang diperintahkan untuk mencuci mani yang mengenai badan dan pakaian mereka. Beliau telah memerintahkan wanita haid untuk mencuci darah haid yang ada pada pakaian. Telah diketahui bahwa pakaian manusia yang kena junub (mani) adalah lebih banyak dibanding darah haid yang mengenai pakaian wanita. Maka, ย bagaimana bisa hal ini dijelaskan kepada wanita haid, namun tidak bahas hukum ย tersebut dalam hal ini?โ€ (Majmuโ€™ Al Fatawa, 20/369)

Selain itu hadits yang berbunyi:

ูŠุง ุนู…ุงุฑ ุฅู†ู…ุง ูŠุบุณู„ ุงู„ุซูˆุจ ู…ู† ุฎู…ุณ ู…ู† ุงู„ุบุงุฆุท ูˆุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ู‚ูŠุก ูˆุงู„ุฏู… ูˆุงู„ู…ู†ูŠ

Wahai โ€˜Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kedhaifannya. Berkata Imam Ad Daruquthni:

ู„ู… ูŠุฑูˆู‡ ุบูŠุฑ ุซุงุจุช ุจู† ุญู…ุงุฏ ูˆู‡ูˆ ุถุนูŠู ุฌุฏุง ูˆุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุซุงุจุช ุถุนูŠูุงู†

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini selain Tsabit bin Hammad, dan dia sangat dhaif. Dan, ย Ibrahim dan Tsabit adalah dua orang yang dhaif. (Sunan Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Asy Syaukani mengatakan: โ€œHadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena telah mencapai derajat dhaif.โ€ (Sailul Jarar, 1/24)

Imam An Nawawi juga menyebutkan kedhaifan hadits ini, katanya:

ู‚ุงู„ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ู‰ ู‡ูˆ ุญุฏูŠุซ ุจุงุทู„ ู„ุง ุฃุตู„ ู„ู‡ ูˆุจูŠู† ุถุนูู‡ ุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ ูˆุงู„ุจูŠู‡ู‚ู‰

Berkata Al Baihaqi, hadits ini batil, tidak ada dasarnya, dan kedhaifannya telah dijelaskan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi. (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 2/549)

Dengan demikian, pandangan yang lebih kuat adalah yang menyebutkan bahwa air mani adalah suci, mengimgat tidak ada dalil yang shahih dan sharih/lugas yang menyatakan kenajisannya. Sehingga tetap boleh menggunaannya dalam shalat. Namun, tetap dianjurkan baginya membersihkan dahulu atau mengganti saja dengan pakaian yang lebih baik.

Wallahu A’lam

***

[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits tersebut hanya mauqufsebagai ucapan (fatwa) Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bukan marfuโ€™ :

ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู: ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ููุชู’ูŠูŽุง ููŽู‡ููŠูŽ ุซูŽุงุจูุชูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ู‘ูŽุงุตูุŒ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูููŠ ูƒูุชูุจูู‡ูู…ู’ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฑูŽูู’ุนูู‡ู ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ููŽู…ูู†ู’ูƒูŽุฑูŒ ุจูŽุงุทูู„ูŒุŒ ู„ูŽุง ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ู„ูŽู‡ูุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูƒูู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฑูŽูˆูŽูˆู’ู‡ู ุนูŽู†ู’ ุดูŽุฑููŠูƒู ู…ูŽูˆู’ู‚ููˆูู‹ุง.

Saya katakan: fatwa ini adalah tsabit (pasti) dari Ibnu Abbas, dan sebelumnya dari Saโ€™d bin Abi Waqqash, hal itu disebutkan oleh Asy Syafiโ€™i dan selainnya dalam kitab-kitab mereka. Ada pun memarfuโ€™kan hadits ini sampai Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah munkar, dan tidak ada dasarnya, karena semua manusia meriwayatkannya dari Syarik secara mauquf. (Fatawa Al Kubra, 1/408)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Rizki Halal

Hukum Jual Beli Kucing

Pertanyaan

Assalamualaikum..
Ustadz, sya mau tnya ttg bagaimana hukum jual beli kucing. Karena saat ini utk memelihara kucing yg bagus, kbanyakan kita harus mmbelinya dgn uang yg tdk sedikit
Syukron
I5

Jawaban

โœ Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Wa โ€˜Alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. BIsmillah wal hamdulillahirabbil โ€˜alamin, wash Shalatu was Salamu โ€˜ala Rasulillah wa โ€˜Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man walah, wa baโ€™d:

Ada beberapa hadits yang menunjukkan larangan jual beli kucing. Di antaranya:

Dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุซู…ู† ุงู„ูƒู„ุจ ูˆุงู„ุณู†ูˆุฑ

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang harga dari Anjing dan Kucing.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1279, Abu Daud No. 3479, An Nasaโ€™i No. 4668, Ibnu Majah No. 2161, Al-Hakim No. 2244, 2245, Ad Daruquthni No. 276, Al-Baihaqi, As Sunan Al-KubraNo. 10749, Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 54/4. Abu Yaโ€™la No. 2275)

Imam At Tirmidzi mengatakan, hadits ini idhthirab(guncang), dan tidak shahih dalam hal menjual kucing. (Lihat Sunan At Ttirmidzi No. 1279) dan Imam An Nasaโ€™i mengatakan hadits ini: munkar!(Lihat Sunan An Nasaโ€™i No. 4668)

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฎุทุงุจูŠ: ูˆู‚ุฏ ุชูƒู„ู… ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุฅุณู†ุงุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ. ูˆุฒุนู… ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ุซุงุจุช ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…. ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ: ุญุฏูŠุซ ุจูŠุน ุงู„ุณู†ูˆุฑ ู„ุง ูŠุซุจุช ุฑูุนู‡. ู‡ุฐุง ุขุฎุฑ ูƒู„ุงู…ู‡

โ€œBerkata Al-Khathabi: sebagian ulama membicarakan isnad hadits ini dan mengira bahwa hadits ini tidak tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Berkata Abu Umar bin Abdil Bar: hadits tentang menjual kucing tidak ada yang shahih marfuโ€™. Inilah akhir ucapannya.โ€ (Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/501. Cet. 2, 1383H-1963M. Maktabah As Salafiyah. Lihat juga Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi,โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/271. Darul Kutub Al-โ€˜Ilmiyah)

Berkata Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah:

ูˆู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุณู†ูˆุฑ ุดูŠุก ุตุญูŠุญ ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุฃุตู„ ุงู„ุฅุจุงุญุฉ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚

โ€œTidak ada yang shahih sedikit pun tentang kucing, dan dia menurut hukum asalnya adalah mubah (untuk dijual). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 8/403. Muasasah Al-Qurthubah)

Pendhaifan yang dilakukan para imam di atas telah dikritik oleh Imam lainnya. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

ย ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุนูŽู…ู’ุฑูˆ ุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุถูŽุนููŠู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุง ุŒ ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุตูŽุญููŠุญ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู… ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡ . ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘: ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ูˆูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุบูŽูŠู’ุฑ ุญูŽู…ู‘ูŽุงุฏ ุจู’ู† ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉ ุบูŽู„ูŽุท ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ูููŠ ุตูŽุญููŠุญู‡ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉ ู…ูŽุนู’ู‚ูู„ ุจู’ู† ุนูุจูŽูŠู’ุฏ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุ› ููŽู‡ูŽุฐูŽุงู†ู ุซูู‚ูŽุชูŽุงู†ู ุฑูŽูˆูŽูŠูŽุงู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุซูู‚ูŽุฉ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…

โ€œAda pun apa yang dikatakan Al-Khathabi dan Ibnu Abdil Bar, bahwa hadits ini dhaif, tidaklah seperti yang dikatakan mereka berdua, bahkan hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya. Sedangkan ucapan Ibnu Abdil Bar bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Az Zubair selain Hammad bin Salamah saja, itu merupakan pernyataan yang salah darinya juga, karena Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya sebagaimana diriwayatkan dari riwayat Maโ€™qil bin Abaidillah dari Abu Az Zubair, dan keduanya adalah tsiqah, dan dua riwayat dari Az Zubair juga tsiqah . โ€ (Imam An Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/420. Mawqiโ€™ Ruh Al-Islam. Lihat juga Imam Al-Mula โ€˜Ali Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, Mawqiโ€™ Ruh Al-Islam.)

Berkata Syaikh Al-Mubarakfuri Rahimahullah:

ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ูุฅู† ู…ุณู„ู…ุง ุฃุฎุฑุฌู‡ ููŠ ุตุญูŠุญู‡ ูƒู…ุง ุณุชุนุฑู

โ€œTidak ragu lagi, bahwa hadits ini adalah shahih karena Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya sebagaimana yang akan kau ketahui.โ€ (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500)

Imam Al-Mundziri Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ููŠ ุงู„ุณู†ู† ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ูŠู† ุนู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ูŠูˆู†ุณ ูˆุนู† ุญูุต ุจู† ุบูŠุงุซ ูƒู„ุงู‡ู…ุง ุนู† ุงู„ุฃุนู…ุด ุนู† ุฃุจูŠ ุณููŠุงู† ุนู† ุฌุงุจุฑ ุซู… ู‚ุงู„: ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ููŠ ุงู„ุณู†ู† ุนู† ุฌู…ุงุนุฉ ุนู† ุนูŠุณู‰ ุจู† ูŠูˆู†ุณ . ู‚ุงู„ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ: ูˆู‡ุฐุง ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ู…ุณู„ู… ุฏูˆู† ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

โ€œHadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As Sunan Al-Kubra dari dua jalan, dari โ€˜Isa bin Yunus dan dari Hafsh bin Ghiyats, keduanya dari Al-Aโ€™masy dari Abu Sufyan dari Jabir. Kemudian dia berkata: Abu Dua mengeluarkannya dalam As Sunan, dari Jamaah dari โ€˜Isa bin Yunus. Berkata Al-Baihaqi: Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim tanpa Al-Bukhari.โ€ (Tuhfah Al-Ahwadzi , 4/500-501, โ€˜Aunul Maโ€™bud , 9/270)

Syaikh Al-Albani Rahimahullah menshahihkan hadits ini, menurutnya hadits ini memiliki tiga jalur yang satu sama lain saling menguatkan. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/1155, No. 2971)

Hadits Imam Muslim yang dimaksud adalah: dari Abu Az Zubair, dia berkata:

ุณุฃู„ุช ุฌุงุจุฑุง ุนู† ุซู…ู† ุงู„ูƒู„ุจ ูˆุงู„ุณู†ูˆุฑุŸ ู‚ุงู„: ุฒุฌุฑ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุฐู„ูƒ

Aku bertanya kepada Jabir tentang harga anjing dan kucing? Beliau berkata: โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang hal itu.โ€ (HR. Muslim No. 1569, Ibnu Hibban No. 4940)

Hadits ini shahih. Dan, secara zhahir menunjukkan keharaman jual beli kucing, Imam An Nawawi menyebutkan:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽุทูŽุงูˆูุณู ูˆูŽู…ูุฌูŽุงู‡ูุฏ ูˆูŽุฌูŽุงุจูุฑ ุจู’ู† ุฒูŽูŠู’ุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ุจูŽูŠู’ุนู‡ ุŒ ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌู‘ููˆุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู

Dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, bahwa tidak boleh menjual kucing. Mereka berhujjah dengan hadits ini. (Al Minhaj, 5/420)

Dalam Nailul Authar, Imam Asy Syaukani mengatakan:

ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุจูŠุน ุงู„ู‡ุฑูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุฌุงุจุฑ ูˆุงุจู† ุฒูŠุฏ

โ€œDalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing, inilah pendapat Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Zaid.โ€ (Nailul Authar, 5/145)

Nampak ada perbedaan dengan apa yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Abu Thayyib yang menyebutkan Jabir bin Zaid (sebagai satu orang), sedangkan di sisi lain Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al-Mubarakuri menyebut Jabir, lalu Ibnu Zaid, sebagai dua orang yang berbeda.

Perbedaan lain adalah tentang posisi Thawus. Beliau disebut oleh Imam An Nawawi (dalam Al-Minhaj) dan Imam Abu Thayyib (dalam โ€˜Aunul Maโ€™bud) termasuk yang mengharamkan, tetapi oleh Imam Asy Syaukani (dalam Nailul Authar) dan Syaikh Al-Mubarakfuri (Tuhfah Al-Ahwadzi)disebutkan bahwa Thawus membolehkan menjual kucing. Wallahu Aโ€™lam

Ada pun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa menjual kucing adalah boleh, karena dhaifnya hadits tersebut. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500). Namun, yang benar adalah hadits tersebut adalah shahih sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya.

Tetapi, apakah makna pelarangan ini? Apakah bermakna haram? Demikianlah yang menjadi pandangan sebagian ulama. Namun sebagian lain mengartikan bahwa larangan ini menunjukkan makruh saja, yaitu makruh tanzih (makruh yang mendekati kebolehan) sebab menjual kucing bukanlah perbuatan yang menunjukan akhlak baik dan muruโ€™ah (citra diri). (Ibid)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan;

ย ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุนูŽู†ู’ ุซูŽู…ูŽู† ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽูˆู’ุฑ ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุน ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽู‡ู’ูŠ ุชูŽู†ู’ุฒููŠู‡ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ุชูŽุงุฏ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ู‡ูุจูŽุชู‡ ูˆูŽุฅูุนูŽุงุฑูŽุชู‡ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุญูŽุฉ ุจูู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุบูŽุงู„ูุจ . ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุน ูˆูŽุจูŽุงุนูŽู‡ู ุตูŽุญู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุน ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุซูŽู…ูŽู†ู‡ ุญูŽู„ูŽุงู„ู‹ุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ูƒูŽุงูู‘ูŽุฉ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุญูŽูƒูŽู‰ ุงูุจู’ู† ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุฐูุฑ . ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽุทูŽุงูˆูุณู ูˆูŽู…ูุฌูŽุงู‡ูุฏ ูˆูŽุฌูŽุงุจูุฑ ุจู’ู† ุฒูŽูŠู’ุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ุจูŽูŠู’ุนู‡ ุŒ ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌู‘ููˆุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู . ูˆูŽุฃูŽุฌูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ู ุŒ ููŽู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุจ ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽู…ูŽุฏ

โ€œAda pun tentang larangan mengambil harga kucing, hal itu dimungkinkan karena hal itu tidak bermanfaat, atau larangannya adalah tanzih, sehingga manusia terbiasa menjadikannya sebagai barang hibah saja, ada yang menelantarkannya, dan bermurah hati, sebagaimana yang biasa terjadi. Jika dia termasuk yang membawa manfaat maka menjualnya adalah penjualan yang sah dan harganya adalah halal. Inilah pendapat madzhab kami dan madzhab semua ulama kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir. Bahwa dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, mereka tidak membolehkan menjualnya, mereka berhujjah dengan hadits tersebut. Jumhur menjawab bahwa hadits tersebut maknanya sebagaimana yang kami sebutkan, dan ini adalah jawaban yang dapat dijadikan pegangan.โ€ (Al Minhaj, 5/420. Mawqiโ€™ Ruh Al-Islam)

Demikian. Jadi menurut mayoritas ulama, larangan itu bukan bermakna haram tetapi masalah kepantasan dan adab, sebab memang kucing bukan hewan yang biasa diperjualbelikan sebab keberadaannya yang mudah didapat, dan manusia pun biasanya bisa seenaknya saja memeliharanya atau dia membiarkannya. Tetapi, bagi yang ingin berhati-hati dengan mengikuti pendapat yang mengharamkannya, tentu bukan pilihan yang salah. Perbedaan dalam hal ini sangat lapang, dan tidak boleh ada sikap keras dalam mengingkari. Wallahu Aโ€™lam

Wa Shallallahu โ€˜Ala Nabiyyina Muhammadin wa โ€˜Ala Alihi wa Shahbihi ajmaโ€™in


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iddah Waktu Menunggu

Wanita Bekerja Saat Iddah

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb
Ustadzah , misalnya masih dalam proses cerai, dan urusannya Belum selesai tapi ย si istri memutuskan untuk pergi bekerja keluar negeri itu bagaimana masa iddah-nya, Ustadzah?

Jazakillah
Sumiati grup A85

โœJawaban

Oleh: Ustadzah Indra Asih

Masih ada salah kaprah di masyarakat kita, yaitu ketika seorang suami menjatuhkan talak raโ€™jiy atau menceraikan istrinya. Maka statusnya langsung bukan suami istri. Maka baru saja talak terjadi dan belum habis masa iddah, semua sudah dipisahkan. Istri langsung pulang ke rumah orang tua, barang-barang punya istri langsung diangkat dan harta langsung dipisahkan.

Talak satu dan dua masih bisa balik rujuk (talak rajโ€™iy)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ู„ุทูŽู‘ู„ุงู‚ู ู…ูŽุฑูŽู‘ุชูŽุงู†ู ููŽุฅูู…ู’ุณูŽุงูƒูŒ ุจูู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ุฃูŽูˆู’ ุชูŽุณู’ุฑููŠุญูŒ ุจูุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู

โ€œTalak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan baikโ€ (Al-Baqarah: 229)

Dan selama itu suami berhak merujuk kembali walaupun tanpa persetujuan istri.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุทูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุงุชู ูŠูŽุชูŽุฑูŽุจู‘ูŽุตู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู†ู‘ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ู‚ูุฑููˆุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุญูู„ู‘ู ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุชูู…ู’ู†ูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุฃูŽุฑู’ุญูŽุงู…ูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู‘ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู‘ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑู ูˆูŽุจูุนููˆู„ูŽุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูุฑูŽุฏู‘ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏููˆุง ุฅูุตู’ู„ูŽุงุญู‹ุง

โ€œWanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quruโ€™ (masa โ€˜iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa โ€˜iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlahโ€ (Al Baqarah: 228).

Jangan segera berpisah

Suami istri bahkan diperintahkan tetap tinggal satu rumah. Demikianlah ajaran islam, karena dengan demikian suami diharapkan bisa menimbang kembali dengan melihat istrinya yang tetap di rumah dan mengurus rumahnya.

Demikian juga istri diharapkan mau ber-islah karena melihat suami tetap memberi nafkah dan tempat tinggal.

Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽููŽู‚ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ููƒู’ู†ูŽู‰ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุฅูุฐูŽุงูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌู’ุนูŽุฉู

โ€œNafkah dan tempat tinggal adalah hak istri, jika suami memiliki hak rujuk kepadanya.โ€

Allah Taโ€™ala berfirman,

ู„ูŽุง ุชูุฎู’ุฑูุฌููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุจููŠููˆุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู†ูŽ ุจูููŽุงุญูุดูŽุฉู ู…ูุจูŽูŠู‘ูู†ูŽุฉู

โ€œJanganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.โ€ QS. Ath Thalaq: 1.

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู: {ู„ูŽุง ุชูุฎู’ุฑูุฌููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุจููŠููˆุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽ} ุฃูŽูŠู’: ูููŠ ู…ูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุนูุฏู‘ูŽุฉู ู„ูŽู‡ูŽุง ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุณู‘ููƒู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌู ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽุชู’ ู…ูุนู’ุชูŽุฏู‘ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎู’ุฑูุฌูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุงู„ู’ุฎูุฑููˆุฌู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูุนู’ุชูŽู‚ูŽู„ูŽุฉูŒ (3) ู„ูุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง

โ€œYaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya keluar dari rumah karena statusnya masih wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk).โ€

Istri yang ditalak rajโ€™iy berdosa jika keluar dari rumah suami

Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan,

: ุฃูŠ ู„ูŠุณ ู„ู„ุฒูˆุฌ ุฃู† ูŠุฎุฑุฌู‡ุง ู…ู† ู…ุณูƒู† ุงู„ู†ูƒุงุญ ู…ุง ุฏุงู…ุช ููŠ ุงู„ุนุฏุฉ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุฃูŠุถุงู‹ ุงู„ุญู‚ ุงู„ุฒูˆุฌ ุฅู„ุง ู„ุถุฑูˆุฑุฉ ุธุงู‡ุฑุฉุ› ูุฅู† ุฎุฑุฌุช ุฃุซู…ุช ูˆู„ุง ุชู†ู‚ุทุน ุงู„ุนุฏุฉ

โ€œyaitu tidak boleh bagi suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi wanita keluar juga karena (masih ada) hak suaminya kecuali pada keadaan darurat yang nyata. Jika sang istri keluar maka ia berdosa dan tidaklah terputus masa iddahnya.โ€

WallahuA’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678