selamat berjuang ayah

Ustadz Menjawab : Hak Asuh Anak dan Jatah Pesangon jika Kepala Keluarga Meninggal

Pertanyaan

Assalamu’alaikum
1. Apabila seorang ayah atau kepala keluarga meninggal, maka hak asuh anak diutamakan diberikan kepada siapa? ada beberapa pendapat yang bilang lebih diutamakan ke keluarga almarhum laki2 dibanding ke Ibunya. Apakah ada dasar ayat, dalil atau hadits mengenai ini?

2. Apabila seorang ayah atau kepala keluarga meninggal, maka jatah pesangon (bukan warisan) akan diutamakan jatuh kepada siapa? anak, istri atau orang tua ? mohon disertakan dalil jika memang ada

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdul Latief Khan

1. Hak asuh anak diberikan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ibn Qudamah dan sedemikian pula dinyatakan oleh ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (17/216-218).
Terkait hak asuh anak yang ayahnya bercerai dengan ibunya terdapat hadist dari Abdullah bin Amr bahwa ada seorang wanita yg mendatangi nabi saw dan mengadukan permasalahannya. “Ya Rasulullah, anakku ini dulu akulah yg mengandungnya, akulah yg menyusuinya dan memangkunya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikanku dan ingin mengambilnya dariku.” Rasul saw menjawab : “engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” (HR. Ahmad 2/182) Abu Daud dan al Hakim (2/247). Syaikh albani menshahihkan hadist nya.

Namun hak pengasuhan akan hilang jika yang bersangkutan adalah budak (riqqu), fasiq, kafir, atau si ibu menikah lagi dengan lelaki lain.

Bisa jadi pendapat yang mengatakan ibu tdk berhak atas hak pengasuhan anak mengikut pada unsur keempat yang menghalangi hak asuh anak atau memang keempat unsur dimaksud

2. Uang pesangon bukanlah harta yang dimiliki oleh si mati. Karena melainkan harta yang diperoleh oleh keluarganya karena sebab matinya keluarga mereka. Maka itu tidak dapat dikategorikan sebagai warisan.

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Indah dan Menyukai Keindahan

Ustadz Menjawab: Seputur Hukum Patung, Lukisan, dan Foto Makhluk Bernyawa

Pertanyaan

Assalamu ‘Alaikum … Benarkah rumah yang ada lukisannya, malaikat tidak mau masuk ke rumah tersebut? Dan bagaiman dengan foto keluarga? (dari 085265893xxx)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Wa ‘Alaikum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Ya, rumah yang terdapat lukisan, yakni lukisan makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan, dapat mencegah masuknya malaikat rahmat ke rumah kita. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

Dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat anjing dan lukisan.”[1]

Dalam hadits lain, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ وَلَا جُنُبٌ

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat lukisan (gambar), anjing, dan orang yang junub.”[2]

Malaikat apakah yang dimaksud di sini? Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

فَهُمْ مَلَائِكَة يَطُوفُونَ بِالرَّحْمَةِ وَالتَّبْرِيك وَالِاسْتِغْفَار ، وَأَمَّا الْحَفَظَة فَيَدْخُلُونَ فِي كُلّ بَيْت ، وَلَا يُفَارِقُونَ بَنِي آدَم فِي كُلّ حَال ، لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِإِحْصَاءِ أَعْمَالهمْ ، وَكِتَابَتهَا

“Mereka adalah malaikat yang berkeliling dengan membawa rahmat, berkah, dan pengampunan, sedangkan malaikat penjaga, maka mereka masuk ke setiap rumah, mereka tidak memisahkan diri dengan manusia dalam segala keadaan, karena mereka diperintahkan untuk menghitang amal manusia dan menuliskannya.”[3]

Berkata Imam Al Khathabi dalam Ma’alim As Sunan:

يُرِيد الْمَلَائِكَة الَّذِينَ يَنْزِلُونَ بِالْبَرَكَةِ وَالرَّحْمَة دُون الْمَلَائِكَة الَّذِينَ هُمْ الْحَفَظَة فَإِنَّهُمْ لَا يُفَارِقُونَ الْجُنُب وَغَيْر الْجُنُب

“Maksud malaikat di sini adalah malaikat yang turun bersama keberkahan dan rahmat, bukan malaikat penjaga, sebab mereka tidaklah menjauh baik kepada orang yang junub dan yang tidak junub.”[4]

Lukisan atau gambar apa yang dimaksud?  Beliau juga berkata:

وَأَمَّا الصُّورَة فَهِيَ كُلّ مُصَوَّر مِنْ ذَوَات الْأَرْوَاح كَانَتْ لَهُ أَشْخَاص مُنْتَصِبَة ، أَوْ كَانَتْ مَنْقُوشَة فِي سَقْف أَوْ جِدَار أَوْ مَصْنُوعَة فِي نَمَط أَوْ مَنْسُوجَة فِي ثَوْب أَوْ مَا كَانَ ، فَإِنَّ قَضِيَّة الْعُمُوم تَأْتِي عَلَيْهِ فَلْيُجْتَنَبْ

“Ada pun lukisan yang dimaksud yaitu semua lukisan yang memiliki ruh, baik lukisan seseorang, atau ukiran pada atap rumah atau dinding, atau kain bercorak yang dibuatan pabrik,  atau hasil tenunan pada kain, atau apa saja. Sesungguhnya dalam masalah ini dalil yang ada adalah umum, maka hendaknya dijauhi.”[5]

Dari keterangan ini maka lukisan bukan makhluk bernyawa, seperti lautan, pegunungan, kubus, dan lainnya dari benda-benda mati, tidaklah termasuk dalam hadits tersebut.

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعْ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ

“Jika kau ingin melakukannya, maka buatlah pohon, atau apa-apa yang tidak bernyawa.”[6]

Berikut adalah ulasan Syaikh Ali Ash Shabuni tentang patung dan lukisan yang diharamkan dan yang dibolehkan, dalam Kitab Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 334-335. Darul Kutub Al Islamiyah.

Beliau menulis:

Patung dan Gambar seperti apa yang Diharamkan?

Patung dan gambar yang diharamkan adalah sebagai berikut:

1. Patung berbentuk tubuh yang memiliki ruh (nyawa) seperti patung manusia dan hewan. Ini haram menurut ijma’ (konsensus/kesepakatan). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar, patung, dan orang junub.” (HR. Imam Bukhari)[7]

2. Gambar yang dibuat oleh tangan (melukis), berupa bentuk yang memiliki ruh. Ini juga disepakati keharamannya.   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya pembuat gambar ini akan diazab pada hari kiamat. Diperintahkan kepada mereka, ‘Hidupkan apa-apa yang kau ciptakan.’ ”(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i)

3. Gambar yang bentuknya lengkap (sempurna), tidak ada yang kurang kecuali ruh saja, ini juga disepakati haramnya berdasarkan hadits-hadits sebelumnya, seperti: “Diperintahkan untuk meniupkan (memberikan) ruh pada gambar tersebut, dan tidaklah mampu untuk meniupkannya.”  Juga hadits lain dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku, saat itu aku mengenakan kain lembut yang bergambar, maka raut mukanya berubah, kemudian ia mengambilnya dan merobeknya. Lalu berkata, ‘Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang membuat hal yang serupa dengan makhluk Allah.’ “ ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu dan aku jadikan dua bantal, dan Rasulullah bersandar di atasnya.”

“Kemudian ia mengambil dan merobeknya” menunjukkan keharaman gambar. Lalu, dipotong oleh ‘Aisyah menjadi dua bantal sehingga gambar menjadi terbagi dan tidak sempurna, ini menunjukkan kebolehannya. Dari sinilah para ulama menyimpulkan, bahwa gambar jika tidak lengkap (sempurna) tidaklah haram.

4. Gambar-gambar yang diagungkan, digantung (pajang-pamer) agar dilihat-lihat, maka ini juga haram tanpa diperselisihkan. Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dahulu ia punya kain yang memiliki gambar burung, jika ada orang masuk pasti akan melihatnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhkan ini dariku, sebab tiap aku melihatnya membuat aku ingat dengan dunia.” (HR. Imam Muslim, lihat juga Tafsir al Qurthuby dan Ahkamul Qur’an-nya Ibnul ‘Araby)

Hadits dari Abu Thalhah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ‘Aisyah berkata: “Nabi keluar pada hari peperangan, lalu aku mengambil namath (kain bergambar yang dicelupi banyak warna),  aku tutupi pintu dengannya. Ketika ia pulang, ia melihatnya, dan aku mengetahui adanya ketidaksukaan pada wajahnya, ia menariknya hingga terkoyak, dan bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk tunduk kepada batu dan tanah!” ‘Aisyah berkata: “Maka aku potong kain itu, lalu aku jadikan dua bantal dan sabut (lap – keset), aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’I, lihat Jam’ul Fawaaid, juz 1, hal. 825)

Patung dan Gambar Apa  yang Dibolehkan?

1. Setiap Patung atau gambar yang tidak bernyawa, seperti bentuk bangunan, sungai, pepohonan, pemandangan alam. Dan seleruh yang tidak memiliki ruh (nyawa). Maka tidak haram menggambarkannya, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu  terdahulu ketika ia ditanya seseorang, “Sesungguhnya akulah yang menggambar ini, berikan fatwamu untukku tentang hal ini?…” lalu Ibnu Abbas memberitahukan hadits nabi, lalu ia berkata: “Jika engkau ingin menggambar, gambarlah pepohonan, dan apa-apa yang tidak memiliki ruh.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

2. Setiap gambar yang tidak utuh, seperti salah satu tangan misalnya, atau mata, atau kaki, maka itu tidak haram karena itu bukanlah gambaran makhluk yang sempurna. Ini sesuai hadits dari ‘Aisyah, katanya: “Aku memotongnya, lalu aku jadikan dua bantal, aku tidak melihat ia mencelaku karena itu.”

3. Juga dikecualikan mainan (boneka) anak perempuan (la’ibul banaat). Telah ada berita yang pasti dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha  bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa ‘Aisyah ke rumahnya saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim, lihat juga Jam’ul Fawaaid)

Dari ‘Aisyah dia berkata, “Aku bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat itu aku memiliki sahabat yang bermain bersamaku, jika beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumah, sahabat-sahabatku malu kepadanya dan pergi, lalu beliau memangil mereka dan mendatangkan mereka untukku agar  bermain bersamaku lagi.”

Berkata para ulama: Sesungguhnya dibolehkannya boneka anak-anak karena adanya kebutuhan terhadapnya, yaitu kebutuhan anak perempuan agar ia memiliki pengalaman dalam mengasuh anak-anak, namun tidak boleh terus menerus sebab dibolehkannya karena adanya kebutuhan tadi.[8] Serupa dengan ini adalah bentuk yang terbuat dari permen dan adonan kue. Ini adalah keringanan (dispensasi) dalam masalah ini.[9] Selesai kutipan dari Syaikh Ali Ash Shabuni.

Bagaimana Hukum Fotografi?

Tentang hukum fotografi (makhluk bernyawa) para ulama kita telah berselisih pendapat, ada yang mengharamkan karena itu termasuk keumuman hadits larangan untuk menggambar, kecuali untuk kebutuhan mendesak seperti KTP, Pasport, dan lainnya. Ada pula yang membolehkan selama isi fotonya adalah hal-hal yang baik, tidak diagungkan, bermanfaat untuk ilmu pengetahuan dan informasi. Namun, yang benar adalah kelompok kedua, sebab fotografi bukanlah menggambar atau melukis, melainkan bayangan manusia itu sendiri, sebagaimana bercermin. Jadi, sumber penyebab  perbedaannya adalah perbedaan para ulama ini dalam mempersepsikan fotografi.

Berkata Fadhilatus Syaikh As Sayis: “Anda berharap mengetahui hukum fotografi, maka kami katakan, ‘Mungkin menurut anda hukumnya sama dengan hukum gambar di pakaian/kain, dan anda telah mengetahui ada nash yang mengecualikannya. Anda juga mengatakan, ‘Sesungguhnya fotografi bukanlah menggambar, tetapi menahan (merekam-pent) gambar, sebagaimana gambar di cermin, tidak mungkin anda mengatakan yang di cermin itu adalah gambar (lukisan), dan sesungguhnya itu satu bentuk (dengan aslinya).

Apa-apa yang dibuat oleh alatut tashwir (tustel)  adalah gambar sebagaimana di cermin, tujuan dari ini adalah bahwa alat tersebut menghasilkan dengan pasti bayangan nyata[10] yang terjadi padanya (negatif film – klise), sedangkan cermin tidak seperti itu. Kemudian klise itu diletakkan pada zat asam tertentu, maka tercetaklah sejumlah gambar/foto (proses ini disebut cuci cetak-pent). Jelas ini secara hakiki  bukanlah menggambar. Sebab ini sekadar upaya memperjelas dan menampakkan gambar yang sudah ada, supaya tertahan dari sinar matahari langsung (agar tidak terbakar –pent). Mereka berkata: “Sesungguhnya seluruh foto yang ada bukanlah hasil dari pemindahan (gambar)  dengan perbuatan  sinar  dan cahaya, selamanya tidak ada larangan dalam memindahkan dan mengasamkannya, dan selamanya di dalam syariat yang luas ini foto itu dibolehkan, sebagaimana pengecualian gambar pada pakaian/kain, tidak ada dalil secara khusus yang mengharamkannya. Telah tampak bahwa manusia menjadikannya sebagai barang kebutuhan yang sangat penting bagi mereka.” (Ayatul Ahkam lis Sayis, Juz. 4, hal. 61) [11]

Sementara Syaikh Ali Ash Shabuni sendiri cenderung mengharamkan fotografi, kecuali darurat kebutuhan. Beliau berkata:

Aku (Ali Ash Shabuni) mengatakan, “Sesungguhnya fotografi tidaklah keluar dari prinsip larangan menggambar, tidak juga keluar dari apa-apa yang oleh ayat disebut  shurah(gambar/lukisan), dan orang yang membuatnya oleh bahasa dan tradisi disebut mushawwir(pelukis). Jika pun foto tidak termasuk yang dimaksud oleh ayat yang jelas ini -lantaran ia tidak dibuat langsung oleh tangan, dan tidak ada unsur penyerupaan terhadap ciptaan Allah- namun ia tidak keluar dari keumuman maksud dari pembuatan  gambar/lukisan (tashwiir). Maka hendaknya pembolehan foto dibatasi atas dasar kebutuhan mendesak (dharurah), dan karena jelas manfaatnya.Sebab, telah terjadi kerusakan besar yang dihasilkan oleh foto, sebagaimana keadaan majalah-majalah hari ini yang telah menyemburkan racunnya kepada pemuda-pemuda kita, sehingga lahirlahfitnah (bencana) dan kelalaian, di mana terpampang foto-foto bentuk tubuh wanita dan wajah-wajah mereka[12], dengan kepalsuan dan penampilan yang merusak agama dan akhlak.

Adapun foto-foto telanjang, pemandangan yang rendah dan hina, dan rupa-rupa yang membawa fitnah (kerusakan) yang terlihat pada majalah-majalah porno, di mana kebanyakan halamannya mengandung kegilaan, maka akal tidak ragu atas keharamannya, walau gambar tersebut bukan buatan tangan secara langsung, namun kerusakan dan bencana yang dihasilkannya lebih besar dibanding lukisan dengan tangan.

Kemudian, sesungguhnya ‘Ilat (alasan) pengharaman foto  bukan karena ia  menyerupai dan menyamai makhluk Allah, tetapi karena adanya titik persamaan dengan jenis gambar yang telah diberi peringatan, yaitu bahwa watsaniyah (paganisme – keberhalaan) yang merasuki umat-umat terdahulu terjadi karena melalui jalan ‘gambar’. Di mana jika orang shalih mereka wafat, mereka membuat gambarnya (patung) dan mengabadikannya untuk mengingatnya dan mengikutinya. Kemudian datang generasi setelah mereka, menyembah patung tersebut. Maka apa-apa yang dilakukan manusia, menggantung foto  besar yang diberi perhiasan di dinding rumah, walau sekadar untuk kenang-kenangan, dan tidak dibuat dengan tangan (bukan lukisan), ini termasuk yang tidak dibolehkan oleh syariat. Karena, nantinya  berpotensi  untuk mengagungkannya dan menyembahnya, sebagaimana yang dilakukan Ahli Kitab terhadap para nabi dan orang-orang shalih mereka.[13]

Maka pemutlakan kebolehan foto dengan alasan ia bukanlah melukis melainkan menahan (merekam) bayangan. Seharusnya pembolehannya terikat yaitu  karena dharurat kebutuhan seperti foto identitas pribadi, dan semua hal yang berkaitan dengan maslahat dunia yang dibutuhkan manusia. Wallahu A’lam[14]

Sementara itu, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengatakan:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي

“Ada pun fotografi maka itu boleh, dan tidak terlarang menggantungnya di rumah dan selainnya jika tidak mengundang fitnah, seperti foto wanita yang menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan, seperti bagian dada, betis, rambut, dan ini juga berlaku pada gambar televisi. Apa-apa yang terjadi di dalamnya seperti tarian, panggung, dan penyanyi wanita, semua ini adalah haram menurutku.”[15]

Syaikh Jaad Al Haq Ali Jaad Al Haq Rahimahullah –mufti Mesir-  berkata:

  اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات .

ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات

“Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum foto,  antara yang mengharamkan dan memakruhkan, yang ditunjukkan oleh hadits-hadits nabi yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari pengarang kitab As Sunan, dan dituangkan dalam kitab-kitab fiqih.  Sesungguhnya foto manusia dan hewan yang sekarang kita kenal adalah tidak  mengapa, jika tidak dicampur dengan sikap  pemandangan untuk diagungkan, dimuliakan, dan diibadahi, dan juga tidak dicampuri dengan hal-hal yang menggerakan syahwat, menyiarkan kekejian, dan segala hal yang diharamkan.

Dari sini, bisa diketahui bahwa menggantungkan foto tidaklah mengapa selama bersih dari pengagungan, peribadatan, dan bukan termasuk gambar yang mengundang kefasikan, dosa, dan hal-hal yang diharamkan lainnya.”[16]

Demikian. Wallahu A’lam

***

[1] HR. Bukhari, Kitab Bada’al Khalq Bab Idza Waqa’a Az Zubab fi Syarabi Ahadikum …,   No. 3075. Muslim, Kitab Al Libas waz Zinah Bab Tahrim Tashwir Shurah Al Hayawan …,   No. 3929.

[2] HR. Abu Daud, Kitab Ath Thaharah Bab fil Junubi Yu’akhirul Ghusla,  No. 196. An Nasa’i, Kitab Ath Thaharah Bab fil Junubi Idza La Yatawadhdha’,  No 261. Ahmad,  No. 598. Hadits ini shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i, Juz. 9, Hal. 353.

[3] Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz. 7, Hal. 207, No. 3929.

[4] Imam Abu Ath Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 1, Hal. 262, No. 196.

[5] Ibid

[6] HR. Muslim, Kitab Al Libas waz Zinah Bab Tahrim Tashwir Shurah Al Hayawan ..,  No. 3945.

[7] Sebagian orang mengatakan, “Rasulullah mengharamkan patung, karena saat itu manusia imannya masih lemah, sehingga jika dihalalkan khawatir mereka kembali meyembah patung, tetapi setelah iman sudah kuat dan tak ada lagi yang menyembah patung dan kekhawatiran untuk menyembahnya,  maka tak ada alasan lagi patung diharamkan.”  Perkataan ini ada beberapa kesalahan. Pertama, 2,5 milyar manusia masih menyembah patung di India,  Cina, Thailand, Bali, dan lain-lain, baik itu pemeluk Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya. Kedua, patung diharamkan bukan karena alasan itu (faktor kuat atau lemahnya iman), tetapi karena patung (dan lukisan) adalah penyerupaan terhadap makhluk Allah ‘Azza wa Jalla, belum lagi alas an lain yakni tidak masuknya malaikat ke rumah yang ada patung, dan patung merupakan tempat bersemayamnya syetan –pent.

[8] Artinya ketika si anak perempuan  telah beranjak remaja dan seterusnya, ia tidak dibenarkan lagi memainkannya. Sebab ia telah keluar dari kategori al banaat (gadis cilik), pent.

[9] Tidak hanya itu, tetapi juga bentuk manusia, hewan, atau robot-robotan  berukuran sangat kecil yang terbuat dari plastik atau karet yang biasa dimainkan juga oleh bocah laki-laki, atau gambar kartun, bahkan Syaikh Yusuf Al Qaradhawy memuji kartun-katun Islami untuk kepentingan da’wah Islam dalam rangka mengimbangi kartun-kartun jahili. Juga patung untuk keperluan ilmu pengetahuan, yang menggambarkan  anatomi tubuh. Ini semua juga diberi dispensasi (keringanan) sesuai kebutuhannya saja, pent.

[10] Dalam Ilmu Fisika kita ketahui bayangan ada dua, yaitu bayangan nyata dan maya, fotografi dan cermin adalah bayangan maya. pent.

[11] Syaikh Ali Ash Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz. 2, Hal. 337

[12] Syaikh Ali Ash Shabuni termasuk ulama yang berpandangan bahwa wajah wanita adalah aurat, wajib ditutup (cadar), itu juga pendapat para ulama di Saudi Arabia seperti  Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh  ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan,  ulama Siria seperti  Syaikh Said Ramadhan Al Buthi.  atau para ulama di India seperti Syaikh Abul A’la Al Maududi.  Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa wajah wanita bukan aurat seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawy, Syaikh Muhammad Al Ghazali,  Syaik Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan para ulama di Al Azhar University.

[13] Orang Kristen biasa menggantung lukisan Yesus Kristus di tembok rumah mereka, maka semestinya bagi seorang muslim untuk berbeda dengan mereka.

[14] Syaikh Ali Ah Shabuni, Rawa’i Al Bayan, Juz, 2 , Hal. 337

[15] Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz. 4, Hal. 224.

[16] Fatawa Al Azhar, Juz. 7, Hal. 220


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aqiqah

Hukum Aqiqah Setelah Hari ketujuh dan Ketika Dewasa

Pertanyaan

Asw..  afwan mau nanya seputar aqiqah..
jika aqiqah dlaksanakan lebih dri 21 hari stelah hari kelahiran. apa hukumnya ustadz ? apakah msih terdapat syariat sunnah aqiqah d sna ? sykrn ustadz
(MIRZA ASAL GRUP I09)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal), tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu.” (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, menjelaskan demikian:

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ‘Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21.’ Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21.” (‘Aunul Ma’bud, 8/28. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.

Berikut keterangannya:

“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: “Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: ‘Ada pun ‘Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21.’ Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Sa’ad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Sa’ad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara ‘Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafi’i, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, ‘Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Tapi, perkataan Imam Ibnul Qayyim bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan di hari ketujuh bertentangan dengan riwayat dari Imam Ibnu Hazm  bahwa Imam Hasan Al Bashri membolehkan aqiqah ketika dewasa.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

“Penyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: “disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21.” (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma’ (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

“Pengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma’ aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma’ ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan.” (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

 عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa.

Shahihkah hadits ini?  Sanad hadits ini dhaif menurut para ulama.

Lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Ma’in mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang).Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah).Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.  Abu Zur’ah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Ma’rifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhu’afa, 2/310. Darul Kutub Al ‘ilmiyah)

Imam An Nasa’i mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasa’i, Adh Dhu’afa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zaila’i, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini,  ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.

Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan.  Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu,  katanya

: أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 994: Berkata kepada kami Ahmad, berkata kepada kami Al Haitsam (bin Jamil), berkata kepada kami Abdullah (bin Mutsanna), dari Tsumamah, dari  Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diutus sebagai nabi

Ketiga, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla, 7/528, Darul Fikr:  Kami meriwayatkan dari Ibnu Aiman, berkata kepada kami Ibrahim bin Ishaq As Siraaj, berkata kepada kami ‘Amru bin Muhammad An Naaqid, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkata kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna bin Anas, berkata kepada kami Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَقَّ، عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah datang kepadanya masa kenabian.

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang semua riwayat penguat ini:

قلت : و هذا إسناد حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في “ صحيحه ” غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)  Sehingga, walau sanad hadits riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif –karena di dalamnya ada  Abdullah bin  Muharrar yang telah disepakati kedhaifannya-  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI, karena beberapa riwayat di atas yang menguatkannya. (Ibid)

Ulama yang membolehkan aqiqah ketika sudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه  “

Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H.Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, inilah pendapat yang lebih pas, Insya Allah. Hanya saja di negeri kita umumnya, memang  tidak lazim aqiqah ketika sudah dewasa. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullahu liy wa lakum

Wallahu A’lam  wa Lillahil ‘Izzah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

USTADZ MENJAWAB: Siapakah Syiah?

Pertanyaan:

Kumpulan pertanyaan dari beberapa Group WhatsApp Majelis Iman Islam (Manis) terkait artikel “Siapakah Syi’ah?”, sbb.:
– Ttg Syiah nanti ada materi lanjutannya tidak mba? Karena yang saya tahu, syiah itu amat kurang ajar karena berani menghujat ummul mukminin istri nabi Muhammad SAW dan para sahabat nabi, padahal itu amat sangat dilaknat, “siapa yang telah menyakiti hati nabi Muhammad SAW berarti dia sudah keluar dari Islam”
– Apakah referensi2 yg tercantum di atas berasal dari ulama /pakar Sunni? Atau ada yg mewakili paham Syiah pula? Saya pribadi sangat penasaran utk bisa memahami konflik dalam tubuh umat seperti ini. Saya berpikir, bahwa jika sy berkesempatan utk tabayyun, belajar langsung dr mereka yg dianggap salah, maka sy bisa paham sebenar-benarnya, tanpa mesti terjebak pada potensi fitnah. Jadi, mungkin admin tau di mana sy bisa belajar pada majelis Syiah itu sendiri? mengingat selama ini sy sudah lebih banyak menyerap dari pihak Sunni yg memusuhinya. Allahua’lam bi shawab.
– Mengapa pd masa kekhalifahan Ali & Muawiyyah, Syiah smpai terbagi menjadi 2 golongan, yakni Syiah Ali & Syiah Muawiyyah, padahal dr kedua gol. tsb sama-sama beraqidah dan berfaham Al-Qur’an & As-Sunnah shngga disebut sbg Aswaja..? Apa yang menyebabkan keduanya mempunyai msg2 pndukung/ pmbela PADAHAL keduanya (Ali & Muawiyyah) sama2 salimul aqidah?
– Apakah dari banyaknya teori baru yg mreka (ulama & kaum syiah -red) miliki dalam Aqidah (spt kemakshuman para imam; Bada’; Raj’ah; & taqiyah/ zindiq -lihat pasal 9 pd pnjelasan materi trkait diatas) hal tsb yg MNYEBABKAN/ MNJADIKAN PERGESERAN/ PERKEMBANGAN IDEOLOGI “syiah” dr yg SMULA hny sbg ALIRAN POLITIK mnjdi sbuah ALIRAN AQIDAH & FIQH BARU (lihat pd awalan / pmbuka dr pasal kedua pd materi trkait diatas -red)….?????
– Apa yang harus kita lakukan untuk tidak terjebak ke dalam ajaran syiah? Ciri-ciri syiah itu bagaimana?
– Seharusnya ada tabel perbandingan bagaimana Sunni dan syiah. Disitu akan kelihatan perbedaan yg mendasar, bahwa syiah bukan Islam.
– Apakah semua syiah itu sesat? Sy sering dpt BC yg mencantumkan scra khusus istilah Rafidhoh, apakah golongan itu sj yg disebut sesat, atau bgmna?
– Apakah ada golongan syiah yg pemahamannya mendekati sunni?
– Bagaimana mengidentifikasi / membedakan golongan pd no.1&2 itu? Jika memang ada syiah yg pemahamannya msh selamat.
– Di beberapa negara sudah menyatakan melarang spt malaysia, . Untuk di Indonesia apakah kita sudah merumuskan bersama(seluruh ormas Islam) ? Mhn penjelasannya ust?
– Apakah syiah saat ini boleh dibilang sesat…?  Krn jelas sdh tdk bersumber dari qur’an dan sunnah. Dimana letak kesesatannya syiah? Mohon penjelasan lbh mendalam. krn banyak sekali hal2  mengerikan dari sepak terjang syiah disyiria. Yaman, dll. Semoga tdk terjadi di Indonesia.
– Bagaimana cara untuk membentengi diri. Keluarga dan Masyarakat dari pengaruh syiah+isme2 yg lainnya? Terima kasih atas pencerahannya. Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan.
– Bagaimana sikap kita sebagai muslim menghadapi para pengikut syiah, apakah aktif menolak, dan menentang?
– Syiah sesat kenapa masi dperbolehkan naik haji si?
– ‘Afwan, bukannya pendiri sikte syiah abdullah bin saba’, yaitu org yahudi Yg pura2 masuk islam, jdi dengan ini sikte syiah sudah sesat dari dulu??

Jawaban:

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Artikel berjudul ‘Siapakah Syi’ah’ ditulis dengan asumsi awal bahwa seluruh peserta grup telah bersepakat akan kesesatan ajaran syi’ah. Persoalannya kemudian adalah bagaimana kontribusi kita untuk dapat mengobati mereka yang terjangkiti wabah virus syi’ah. Pengobatan tidak bisa dilakukan sebelum kita mengetahui sumber persoalannya, dan sumber persoalan itu ada pada metodologi dan struktur keilmuan syi’ah. Jangankan syi’ah, aliran sesat seperti ‘lia eden’, yang dipimpin oleh seorang wanita yang kurang waras pun diikuti oleh bukan sembarang orang, minimal diketahui diikuti juga oleh sekaliber profesor. Maka bagaimana metodologi umat Islam dalam menuntut ilmu adalah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting, karena persoalan kehidupan tidak hanya satu, sementara metodologi yang benar akan memudahkannya untuk melakukan filterisasi terhadap seluruh arus informasi sebelum menjadikannya ilmu dan membentuk struktur berpikir di dalam jiwanya. Mengobati dengan mengetahui persoalan utamanya akan jauh lebih efektif, terlebih ketika cara kita dalam mengobati sesuatu terus menerus saling disempurnakan dalam kebersamaan kita, diperkaya dengan pengalaman dari seluruh sahabat-sahabat Group Manis yang akan meningkatkan kualitas kebersamaan kita dalam mempertahankan kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tulisan terkait Syi’ah memang tidak akan cukup dengan satu tulisan pembuka tersebut dan hal yang lebih penting berikutnya adalah bagaimana kita pun dapat menjawab syubhat-syubhat yang dipropagandakan syi’ah secara ilmiah. Insya Allah, tulisan berikutnya dengan tema yang lebih mendalam akan dituliskan.

Referensi dalam tulisan tersebut seluruhnya diambil dari para pembela ahlus sunnah yang telah mengkaji perbandingan antara Sunni – syi’ah dalam waktu yang lama. Nama-nama yang dikutip dikenal sebagai ulama yang juga terlibat dan berkontribusi aktif membela Aqidah Ahlus Sunnah dari ragam penyimpangan manusia. Sebagai contoh Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi. Buku yang ditulisnya betul-betul merupakan hasil diskusi dan surat-menyurat dengan seorang yang juga Guru Besar dari negeri syi’ah iran, bahkan mengajar di 8 universitas di negeri tersebut, Prof. Dr. Muhammad al-Qazwini. Dengan semangat taqiyah-nya, al-Qazwini mengunjungi Syaikh al-Ghamidi pada bulan Ramadhan 1423H untuk tujuan awal dialog dan taqrib antara Sunni dan syi’ah. Ketika Syaikh al-Ghamidi menyetujuinya, sejak saat itulah hingga dua tahun kemudian, surat-menyurat di antara mereka terus berlangsung secara intens, dan syaikh al-Ghamidi berhasil mempertahankan pendapatnya secara ilmiah dan penuh hikmah terhadap seluruh hujjah yang disampaikan oleh orang syi’ah tersebut. Berikutnya Syaikh asy-Syatsri, beliau sebagai pengajar tetap di Masjid Quba, Saudi Arabia, telah melahirkan karya untuk menjawab seluruh syubhat yang dipropagandakan syi’ah, tidak dengan dalil-dalil Ahlus Sunnah, namun seluruhnya menggunakan referensi kitab-kitab mu’tabar syi’ah, sehingga umat mengetahui begitu rapuhnya struktur ilmu mereka, bahkan pertentangan demi pertentangan hadir dalam sejarah mereka, sehingga tidak mengherankan jika syi’ah terpecah dalam kelompok-kelompok sekte dalam jumlah yang cukup banyak. Imam Syahrastani dalam kitabnya yang membahas aliran-aliran dalam Islam, bahkan membagi syi’ah kepada lebih dari 30 golongan[1]. Perbedaan yang membesar berawal dari ketidaksepakatan akan siapa yang tepat sebagai pengganti Husain.[2] Aqidah syi’ah yang mengagungkan taqiyah akan membuat sulit bagi mereka yang berkeinginan ‘tabayun’, karena bagi umat Islam yang awam, dan tidak memiliki pondasi aqidah dan bahasa yang kuat, dikhawatirkan akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan syi’ah, sementara para ulama otoritatif pun telah pernah mencoba model pendekatan seperti ini dengan seluruh kapasitas yang mereka miliki, dan kemudian berakhir dengan kekecewaan demi kekecewaan.

Definisi syi’ah dalam masa awal generasi sahabat adalah definisi dalam hal bahasa, sementara syi’ah dalam definisi kekinian dan yang menjadi materi tulisan ini adalah definisi dalam hal teologi baru/bid’ah. Ali r.a. dan Mu’awiyah r.a. adalah termasuk di antara dua sahabat terbaik Rasulullah Saw., dan termasuk dua sahabat yang dipastikan masuk ke Surga-Nya Allah Swt. Terpecahnya ijtihad di antara mereka adalah realitas kehidupan dimana masing-masing memiliki cara pandang tersendiri terhadap apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam kepemimpinan, dan ini tidak masuk dalam bab Aqidah yang Lurus. Pembahasan akan perselisihan di antara keduanya, termasuk perselisihan di antara Ali r.a. dan Aisyah r.a. dapat dibahas dalam tema Sirah, agar tidak tercampur fokus kita pada pembahasan syi’ah dalam terminologi teologi baru. Awal ‘terbitnya’ teologi syi’ah adalah sejak mulai aktifnya Abdullah ibn Saba’. (Lihat penjelasan tentang sosok ini pada paragraf terakhir tulisan ini).

Seorang muslim sudah seharusnya berkonsentrasi memperkuat struktur keilmuan yang ada pada dirinya, membangunnya dengan metodologi studi yang benar dan terbukti telah melahirkan para sarjana Islam yang menghadirkan kegemilangan peradaban dan warisan yang teramat kaya. Dengan cara inilah, ia akan terhindar dari ketertarikan menganut syi’ah, dan aliran sesat lainnya seperti lemkari, ahmadiyah, ingkarus sunnah, liberalisme, pluralisme, sekularisme, komunisme, dan lainnya. Dari banyak kasus yang didapati, mereka yang tertarik masuk ke dalam aliran-alirat sesat sempalan adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang pondasi agama yang kokoh, sehingga ada banyak cara untuk menarik orang-orang seperti ini seperti melalui ‘pembangkitan emosi jiwa’, tawaran kenikmatan dunia, dan hal-hal lainnya. Adapun ciri-ciri kesesatan syiah itu sendiri akan dibahas dalam tulisan-tulisan berikutnya tentang tema ini, termasuk hal-hal detail seperti tabel perbandingan Sunni-syiah.

Ketika kita mentadabburi Al-Qur’an, akan kita dapatkan bahwa ketika menggunakan terma kebenaran (al-haqq), Allah Swt menggunakan terminologi ‘tunggal’, namun ketika menggunakan terma kesesatan (adh-dhalal), Allah Swt menggunakan terminologi ‘plural’. Famadza ba’da al-haqqi illa adh-dhalaali. Hal ini untuk menggambarkan bahwa realitas kebenaran hanya satu, sementara jalan-jalan yang dapat menarik manusia ke jalan kesesatan sangatlah banyak, maka Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita untuk tetap fokus kepada ‘shirathal mustaqim’, bahkan memvisualisasikannya di atas pasir kepada para sahabat, untuk menegaskan hal tersebut.

Kesesatan adalah terminologi bagi jalan yang tidak berada dalam shirathal mustaqim, dan jalan kebenaran itu hanya dapat diperoleh ketika para penuntut ilmu taat kepada perintah Nabi-nya untuk berpandukan hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan keduanya telah diakui oleh para sarjana baik di Timur maupun di Barat tentang bagaimana keduanya telah terjaga hingga hari ini dengan metodologi ilmiah yang dapat diterima oleh semua pihak. Sementara syi’ah memiliki persoalan besar dalam hal ini, sehingga wajar ajaran agama terkesan berubah-ubah. Sebagai contoh utama, syi’ah meyakini bahwa sumber keilmuan mereka tersimpan di sisi para imam mereka, dan para imam mewarisi kitab-kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka, seperti Kitab: Shahifah al-Jami’ah, Ali, al-‘Abithath, Diwan asy-Syi’ah, dan al-Jafr. Seluruh kitab tersebut diklaim berisi segala yang diperlukan manusia di dunia.[3] Sejarah pun mencatat bahwa gerakan pemalsuan hadits dengan motif kultus para tokoh telah terjadi di Kufah, Irak, saat negeri itu menjadi basis Syi’ah. Pemalsuan besar-besaran yang terjadi saat itu telah merusak reputasi negeri Irak, hingga Irak menjadi populer disebut dengan Dar adh-Darb (Negeri Pencetakan Hadits) [4], sebuah istilah bermakna negatif. Namun begitu, tingkat kesesatan atas sesuatu sudah pasti berbeda-beda dalam derajatnya, mulai dari yang lebih dekat kepada Sunni, hingga yang paling jauh kesesatannya sehingga terjatuh ke dalam kekufuran. Hal yang membedakannya ada pada sejauh mana penyimpangannya dari jalan kebenaran yang telah diwariskan oleh Nabi kita yang mulia, Saw. Lebih detail akan penyimpangan syiah dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya, karena sedemikian tingginya gunung kesesatan mereka yang tidak mungkin dapat ditulis dalam satu dua bait kalimat. Menuntut ilmu memang bertujuan untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi, bukan taklid.

Banyak negara di luar sana telah jauh-jauh hari memiliki peraturan untuk membentengi aqidah rakyat negerinya. KH. Hasan Basri, Ketua MUI Pusat di tahun 1997 menyebutkan bahwa pada bulan April 1993 Ulama Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah diundang oleh Brunai dalam satu Seminar Aqidah. Hadir pada saat itu Rais Aam NU, KH. Ilyas Ruhiat, dan Ketua Umum Muhammadiyah dari Yogya, KH. Azhar Basyir. Seminar itu melahirkan deklarasi bersama, bahwa keempat negara dimaksud adalah Negeri Sunni bukan syi’i. Bahkan Brunei Darussalam disebutkan sebagai negara kecil yang bahkan memfilter syi’ah sejak dari urusan keimigrasiannya, karena syi’ah lebih berbahaya dari sekedar ekstasi dan narkotika, karena meracuni Aqidah, sementara ekstasi dan narkotika hanya meracuni fisik. MUI telah jauh-jauh hari memutuskan kesesatan aqidah syi’ah, bahkan KH. Hasan Basri mengatakan kepada para duta-duta besar yang mendatanginya untuk bertanya mengapa MUI tidak menyetujui syi’ah, “Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan ummat kami.”[5]

Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., menegaskan bahwa meskipun ia pernah tinggal 18 tahun di negeri-negeri yang mayoritasnya penganut syi’ah, berinteraksi dengan para ulama syi’ah, namun beliau tidak pernah tertarik menjadi penganut syi’ah. Maka menguatkan pemahaman kita akan hakikat Sunni akan menjaga kita dari penyimpangan. KH. Irfan Zidny mengutip Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (450-505 H),
“Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran, sebelum lebih dahulu mengetahui tentang hakikat aliran tersebut, maka hal tersebut adalah tidak mungkin (muhal), bahkan hal yang demikian itu termasuk sikap yang ngawur dan sesat.”[6]

Jika kaum muslimin telah mengetahui hakikat dan jati diri syi’ah, maka tentunya diharapkan sekali agar seluruh penuntut ilmu bahu-membahu bersama-sama melakukan gerakan ‘pengobatan nasional’, penyadaran kepada mereka yang telah terjangkiti virus ini, dengan penuh hikmah, pelajaran yang baik, dan perdebatan yang juga lebih baik. Di satu sisi, kaum muslimin juga diharapkan untuk terus mendorong para pemangku kebijakan strategis untuk terus mempersempit ruang gerak syi’ah di Indonesia, negeri tercinta. Potensi kerusakan yang akan dihasilkan ajaran syi’ah telah terbukti di beberapa negara arab dan afrika, hal ini tidak terlepas dari dogma yang mereka yakini bahwa siapapun yang tidak berkiblat kepada syi’ah imam dua belas, maka dia kafir, di dunia dan akhirat. Syi’ah sangat bermudah-mudah dalam melakukan pengkarifan, karena memang Syi’ah adalah gerakan takfiri.[7] Maka itulah posisi Ahlus Sunnah di dalam jiwa mereka, sehingga tidak mengherankan jika mereka tidak memiliki belas kasih sama sekali dalam seluruh pertarungannya terhadap Ahlus Sunnah.[8] Ahlus Sunnah bukanlah Islam menurut Khomeini, dan dilarang menikahi wanita-wanita Ahlus Sunnah, dalam risalahnya At-Ta’adul wa at-Tarjih, hlm. 82.[9]

Bagi kaum muslimin yang pernah berhaji dan menemukan penganut syiah di sana, maka ketahuilah bahwa tidak semudah itu melarang syi’ah masuk ke Haramain (dua kota suci). Hal ini karena tidak semua warga Iran sebenarnya mengerti tentang ajaran syi’ah kecuali hanya warisan budaya turun temurun. Cara-cara yang digunakan pemerintah Saudi termasuk cara-cara yang bisa disebut lebih toleran, di antaranya berdalil kepada sikap Nabi Saw yang juga tidak pernah mengusir kaum munafik dari Haramain, padahal Nabi Saw tahu persis siapa-siapa yang munafik dari kalangan umatnya. Pemahaman bahwa sekte syi’ah bukanlah sekte seumur jagung, perlu mendapatkan penanganan yang teramat khusus, terlebih ketika perpecahan di tubuh mereka sangat banyak, bahkan ada yang dianggap lebih dekat kepada Ahlus Sunnah, seperti sekte Zaidiyah. Rakyat Iran misalkan, tidak semuanya menganut syi’ah, di KTP mereka tertulis Islam, bukan syi’ah, dan revolusi mereka juga disebut revolusi islam, bukan revolusi syi’ah, maka tentu membutuhkan keahlian khusus untuk dapat memastikan bahwa betul-betul seseorang itu bukan sedang bertaqiyyah. Menjadi lebih rumit jika yang masuk adalah dari negeri selain Iran. Mudah-mudahan dengan masuknya orang-orang bodoh dari penganut syi’ah yang tidak mengetahui persis ajaran syi’ah, dapat mengambil hikmah dan faidah yang banyak dari Ahlus Sunnah dalam seluruh aspek Islam yang dihidupkannya, mulai dari aqidah, ibadah dan tentunya akhlak, dan tersadarkannya mereka dari ragam bentuk ibadah yang bersifat berlebih-lebihan (ghuluw). Adapun bagi mereka yang sangat kuat pondasi kesyiahannya, mungkin dapat diingatkan untuk tidak perlu datang ke Haramain, karena mereka tentu memiliki kota suci tersendiri. Da’wah adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan hari ini, dikarenakan Sunni dan syi’ah adalah dua teologi yang berbeda ‘meja’, dan memiliki perbedaan prinsipil yang mustahil disatukan.[10] Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis sampai menulis 28 renungan kepada para penganut syi’ah, dan menjabarkannya dari hati ke hati, mencoba semaksimal mungkin menggunakan ragam bahasa yang ditujukan untuk penyadaran mereka.[11]

Terakhir, Abdullah bin Saba’ — seorang Yahudi yang baru masuk islam di masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan,namun tidak mencerminkan kepribadian Islam sama sekali [12] — memang dengan tegas disebutkan dalam banyak kitab syi’ah dan juga kitab Ahlus Sunnah sebagai tokoh utama yang mempopulerkan tentang keimaman Ali r.a., dan pelopor dalam pencacian terhadap mertua dan menantu Rasulullah Saw.: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman r.a., bahkan yang pertama memunculkan pendapat tentang reinkarnasi, menuhankan Ali, dan kesesatan lainnya. Maka semenjak itulah kesesatan mulai ditaburkan, dan mereka yang terjerembab ke dalam keyakinan ini telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata. Saya teringat kepada Sayyid Husain al-Musawi (sebagaimana kesaksian seorang pakar aliran syi’ah, Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi), seorang ulama besar syi’ah di Najaf, kawasan syi’ah terbesar di dunia, yang akhirnya bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah, beliau menjelaskan bahwa ajaran di internal mereka menyatakan bahwa sosok Abdullah bin Saba’ adalah rekayasa Ahlus Sunnah untuk menyerang syi’ah dan keyakinannya. Namun faktanya, ternyata informasi itu sangat banyak ditemukan di dalam kitab-kitab induk mereka. Inilah salah satu alasan al-Musawi kemudian bertemu dengan cahaya kebenaran Ahlus Sunnah sebelum kemudian beliau terbunuh.[13]

Wallaahul musta’an,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,

Maraji’
====
1. Muhammad ibn ‘Abd al-Karim Ahmad al-Syahrastani, Al Milal wa al-Nihal.
2. Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI Pondok Pesantren Sidogiri, Mungkinkah Sunni-syi’ah dalam Ukhuwah?, Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab, Sidogiri: Pustaka Sidogiri, 2008, Cetakan II, hlm. 53.
3. Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, As’ilah qadat syabab asy-syi’ah ila al-Haq
4. Amin Muchtar, Hitam di Balik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah, Depok: Al-Qalam, 2014, hlm. 80.
5. Sambutan Ketua MUI Pusat dalam Seminar Nasional Sehari tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, 21 September 1997
6. Ketua Lajnah Falakiah PBNU, KH. Irfan Zidny, MA., dalam makalahnya berjudul ‘Bunga Rampai Ajaran Syi’ah’
7. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Henri Shalahuddin, Teologi dan Ajaran shi’ah Menurut Referensi Induknya, Jakarta: GIP, 2014, hlm. 270.
8. Imad Ali Abdussami, Khiyanat asy-syi’ah wa Atsaruha fi hazaim al-Ummah al-Islamiyyah, Iskandariyah: Dar al-Iman, Tanpa Tahun.
9. Muhammad Malullah, Mauqif al-Khumaini min Ahlis Sunnah
10. Prof. Dr. Mohammad Baharun, Guru Besar Sosiologi Agama, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamah sampai Mut’ah, Malang: Pustaka Bayan, 2008, hlm. 6.
11. ‘Utsman bin Muhammad al-Khumais, Minal Qalbi ila al-Qalbi, al-Minhaj, 2009
12. Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, hlm. 139-161.
13. Sayyid Hussain al-Musawi, Tsalatsatun Rukhshah Syar’iyyah li an-Nisa, Dar ZHil asy-Syarif, Tanpa Tahun.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Ustadz Menjawab: Mengulang Shalat Di Rumah Untuk Tarbiyatul A’iliyah

Pertanyaan:

Salam. Ustadz Farid yg dirahmati Allah. Saya mau bertanya, apakah diperbolehkan bagi seorang suami setelah melaksanakan shalat fardhu di masjid kemudian ia melaksanakan pula shalat fardhu di rumah secara dawam bersama anak dan istrinya? hal ini dilakukan dalam upaya tarbiyatul a’iliyah guna mendawamkan sholat tepat waktu dan berjamaah bagi anak dan istrinya. Terima kasih

JAWABAN:

✏ Oleh: Farid Nu’man Hasan

Syariat Islam membolehkan bagi seseorang yang sudah selesai melaksanakan shalat wajib, kemudian dia menemani orang lain untuk shalat wajib(karena orang tersebut tidak ada teman), sedangkan bagi dia shalatnya itu dihitung sebagai shalat sunah. Inilah yang bisa dilakukan oleh saudara penanya.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ

                Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Mu’adz bin Jabal pernah shalat Isya terlambat bersama RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  kemudian dia kembali menuju kaumnya dan ikut shalat bersama kaumnya. [1]

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang sudah selesai shalat wajib, lalu dia ikut menemani shalat wajib orang lain, dan baginya dinilai sunah sedangkan orang lain itu adalah wajib. Inilah pandangan yang dikuatkan oleh para Imam seperti Imam Ibnul Mundzir dari Atha’, Al Auza’i, Imam Ahmad, Abu Tsaur, dan Sulaiman bin Harb serta Imam An Nawawi, semoga Allah meridhai mereka semua.

Jadi, silahkan menemani shalat-nya isteri agar istri bisa mendapatkan pahala berjamaah bersama Anda, walau anda sudah melaksanakan shalat wajib di mesjid. Bagi Anda itu dinilai sunah dan bagi isteri adalah wajib.

✿Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan Menemani Orang Yang Shalat Sendiri, walau Kita Sudah shalat Berjamaah

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ

جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

Dari Abu Sa’id dia berkata, datang seseorang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah selesai shalat, Beliau besabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menemaninya?” maka berdirilah seseorang dan shalat bersamanya. [2]

❂ Ada tiga pelajaran dari hadits ini:

1. Sunah menemani berjamaah orang yang sedang shalat sendiri, walau kita sudah shalat berjamaah.

2. Bolehnya membentuk jamaah baru dalam mesjid yang sama, walau sebelumnya sudah dilakukan shalat berjamaah. Inilah pendapat sebagian sahabat tabi’in, Ahmad, Ishaq, At Tirmidzi, dan lain-lain. Dan dipilih oleh Syaikh Hasan Ayyub.

3. Membuktikan bahwa shalat sendiri tetap sah, dan shalat berjamaah adalah sunah mu’akadah, sebagaimana pendapat jumhur.

Imam At Tirmidzi berkata:

وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا لَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صَلَّى فِيهِ جَمَاعَةٌ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ و قَالَ آخَرُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُصَلُّونَ فُرَادَى وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ يَخْتَارُونَ الصَّلَاةَ فُرَادَى وَسُلَيْمَانُ النَّاجِيُّ بَصْرِيٌّ وَيُقَالُ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَأَبُو الْمُتَوَكِّلِ اسْمُهُ عَلِيُّ بْنُ دَاوُدَ

                “Dan yang demikian itu pendapat lebih dari satu orang Ahli Ilmu golongan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in.Mereka berkata: “Tidak apa-apa shalatnya sekelompok manusia secara berjamaah di sebuah mesjid yang di dalamnya sebelumnya sudah di adakan shalat jamaah.”Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq.

Golongan Ahli Ilmu lainnya berpendapat hendaknya dilakukan shalatnya sendiri-sendiri saja, jika sebelumnya sudah di adakan shalat berjamaah, dengan kata lain tidak ada shalat berjamaah ‘kloter’ kedua, inilah pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Malik, Syafi’I, mereka memilih shalat sendiri, Sulaiman An Naji Bashri dia juga disebut  Sulaiman bin Al Aswad dan Abul Mutawakkil nama aslinya adalah Ali bin Daud.” [3]

Berkata Imam Asy Syaukani:

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الدُّخُولِ مَعَ مَنْ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ مُنْفَرِدًا ، وَإِنْ كَانَ الدَّاخِلُ مَعَهُ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَة
قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ : وَقَدْ اتَّفَقَ الْكُلُّ عَلَى أَنَّ مَنْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي مُنْفَرِدًا لَمْ يَلْحَقْ الْجَمَاعَةَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَةٍ وَقَدْ اسْتَدَلَّ التِّرْمِذِيُّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya masuk berjamaah bersama orang yang shalat sendiri, walau orang yang masuk itu sudah shalat jamaah sebelumnya. Berkata Ibnur Rif’ah: “ Para ulama sepakat bahwa apabila seseorang melihat orang lain sedang melakukan shalat sendirian karena terlambat ikut jamaah, ia dianjurkan ikut berjamaah bersama orang tersebut, walau dia sudah shalat jamaah. “  At Tirmidzi juga berdalil dengan hadits ini bahwa bolehnya sekelompok orang shalat berjamaah di mesjid yang di dalamnya sudah di adakan shalat berjamaah sebelumnya.” [4]

Wallahu A’lam

[1] HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Al Qiraah Fil ‘Isya, Juz. 2, hal. 490, No hadits. 711.

[2] HR. Sunan At Tirmidzi, Juz.1, Hal. 373, No. 204. Imam At Tirmidzi berkata: hadits ini hasan

[3] Ibid

[4] Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz. 5, Hal. 82.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Shalat Sendiri Dibelakang Shaff, Batalkah?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikuum,

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa kami melaksanakan shalat Asar  berjamaah di mushala kantor tempat saya bekerja, kebetulan pada saat  itu yang hadir untuk shalat berjamaah hanya enam orang.
Sementara satu shaft hanya bisa untuk 4 orang saja, otomatis yang satu jamaah harus di shaft kedua sendirian. Akhirnya satu orang yg didepan  harus mundur untuk menemani agar tidak sendirian.

Usai melaksanakan shalat Asar secara berjamaah tersebut, ada salah satu jamaah yg nanya sama saya.

“Apakah ada hadistnya atau  ada riwayat dari Rasulullah ustadz, Bahwa tidak boleh ada jamaah yang shalat sendirian dibelakang, sehingga harus ditemani oleh jamaah shaft bagian depannya?”

Terima kasih atas jawabannya. Syukron. Wassalamu’alaikuum (Dadung S)

Jawaban:

Oleh: Ust. FARID NU’MAN HASAN, SS

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wa Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah, wa ba’d:

Kasus seperti yang antum alami, biasanya ada dua keadaan.

Pertama, shalat sendiri di belakang shaf namun shaf di depannya masih ada celah kosong, artinya dia masih bisa bergabung dengan shaf tersebut.

 Kedua, shalat sendiri di belakang shaf karena shaf di depannya memang sudah full baik kanan mau pun kirinya. Sehingga dia terpaksa sendiri di belakang shaf.

Kita bahas satu persatu

1⃣ Pertama

Jika seseorang shalat sendiri di belakang shaf yang ada, padahal masih ada celah kosong baginya, maka telah terjadi perbedaan pendapat para fuqaha (ahli fiqih).

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وَقَدْ اخْتَلَفَ السَّلَف فِي صَلَاة الْمَأْمُوم خَلْف الصَّفّ وَحْده ، فَقَالَتْ طَائِفَة : لَا يَجُوز وَلَا يَصِحّ وَمِمَّنْ قَالَ بِذَلِكَ النَّخَعِيّ وَالْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَحَمَّادٌ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى وَوَكِيعٌ ، وَأَجَازَ ذَلِكَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَصْحَاب الرَّأْي .وَفَرَّقَ آخَرُونَ فِي ذَلِكَ فَرَأَوْا عَلَى الرَّجُل الْإِعَادَة دُون الْمَرْأَة

“Para Salaf telah berbeda pendapat tentang seorang makmum yang shalat sendiri di belakang shaf.

Sebagian mengatakan: “Tidak boleh dan tidak sah“  yaitu pendapat An Nakha’i, Al Hasan bin Shalih, Ahmad, Ishaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, dan Waki’.

Sedangkan yang mengatakan boleh  adalah  Hasan Al Bashri, Al Auza’i, Malik, Syafi’i, dan Ash- habur Ra’yi (Abu Hanifah dan pengikutnya).

Sedangkan sekelompok lainnya mengatakan, laki-laki harus mengulangi shalatnya, sedangkan wanita tidak.” [1]

Mereka yang mengatakan batal beralasan dengan beberapa hadits berikut.

Dari Ali bin Syaiban, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang shalat sendirian di belakang shaf, lalu  Beliau behenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اسْتَقْبِلْ صَلَاتَكَ لَا صَلَاةَ لِلَّذِي خَلْفَ الصَّفِّ

“Perbaharui shalatmu, karena tidak ada shalat bagi orang yang sendiri di belakang shaf.”[2]

Diriwayatkan dari Wabishah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang seorang yang shalat sendiri dibelakang shaf, Beliau menjawab:
يعيد الصلاة

“Ulangi shalatnya.”[3]

Dari hadits-hadits inilah sebagian ahli fiqih menyatakan tidak sah orang yang shalat sendiri di belakang shaf.
Lagi pula hal itu bertentangan dengan jiwa Islam dan maksud shalat berjamaah, yakni kebersamaan.

Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى بُطْلَانِ صَلَاةِ مَنْ صَلَّى خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ

“Dalam hadits ini, terdapat dalil tentang batalnya orang yang shalat sendiri di belakang shaf.”[4]

 Namun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan, orang  yang shalat sendiri di belakang shaf, adalah SAH, walau masih ada celah kosong baginya, hanya saja itu  makruh.

Inilah pandangan tiga imam madzhab, Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi’i dan para pengikut mereka.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

وأما من صلى منفردا عن الصف فإن الجمهور يري صحة صلاته مع الكراهة

 “Ada pun  shalat sendiri di belakang shaf, menurut jumhur (mayoritas) ulama  shalatnya sah, hanya saja makruh.”[5]

Dalil yang dijadikan alasan jumhur (mayoritas) ulama adalah hadits Abu Bakrah berikut:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ
أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“Dari Abu Bakrah, bahwa dia masuk ke mesjid dan saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  sedang ruku. Lalu hal itu dia ceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka Beliau bersabda: “Semoga Allah menambah semangatmu, tetapi jangan diulangi lagi pebuatan tadi.” [6]

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah  melanjutkan:

 وتمسك الجمهور بحديث أبي بكرة قالوا لانه أتى ببعض الصلاة خلف الصف ولم يأمره النبي صلى الله عليه وسلم بالاعادة فيحمل الامر بالاعادة على جهة الندب مبالغة في المحافظة على ما هو الاولى. قال الكمان بن الهمام: وحمل أئمتنا حديث وابصة على الندب وحديث علي بن شيبان على نفي الكمال ليوافقا حديث أبي بكرة، إذ ظاهره عدم لزوم الاعادة لعدم أمره بها. ومن حضر ولم يجد سعة في الصف ولا فرجة فقيل: يقف منفردا ويكره له جذب أحد، وقيل يجذب واحدا من الصف عالما بالحكم بعد أن يكبر تكبيرة الاحرام. ويستحب للمجذوب موافقته

“Pandangan jumhur ulama berpatokan pada hadits Abu Bakrah, mereka mengatakan bahwa Abu bakrah bergabung dengan sebagian shalat di belakang shaf, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. Ada pun  perintah untuk mengulangi shalat menunjukkan anjuran saja, dalam rangka menjaga kehati-hatian dan hal-hal yang lebih utama.

Berkata Kamaludin bin Al Humam: “Para imam kita memaknai hadits dari Wabishah sebagai anjuran (sunah), sedangkan  hadits Ali bin Syaiban sebagai pengingkaran atas kesempurnaan shalatnya, demikian ini merupakan jalan untuk mengkompromikan dengan hadits Abu Bakrah, mengingat tak ada keterangan yang tegas  untuk mengulanginya karena ketiadaan perintah untuk itu.” [7]

 Inilah pendapat yang benar, Insya Allah, shalatnya tetap sah namun makruh, sebab seharusnya dia memenuhi dulu yang masih kosong tersebut.

2⃣ Kedua,

Shalat sendiri di belakang karena shaf depan sudah penuh.

Di atas sudah diterangkan bahwa, jumhur ulama menetapkan bahwa hal itu sah, tetapi makruh.
Lalu bagaimana jika shaf di depannya sudah penuh?

Sebagian ulama ada yang menganjurkan, agar orang tersebut menarik salah seorang jamaah di depannya.

Namun, hal ini ditentang oleh ulama lainnya, menurut mereka itu adalah kezaliman, dan justru memecah belah shaf yang sudah ada.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah melanjutkan:

 ومن حضر ولم يجد سعة في الصف ولا فرجة فقيل: يقف منفردا ويكره له جذب أحد، وقيل يجذب واحدا من الصف عالما بالحكم بعد أن يكبر تكبيرة الاحرام. ويستحب للمجذوب موافقته

“Barangsiapa yang menghadiri shalat, dan dia tidak menemukan kelapangan dan celah kosong dalam shaf, ada yang mengatakan bahwa dia hendaknya tetap shalat sendiri di belakang dan dimakruhkan untuk menarik orang lain di depannya. Dan ada pula yang mengatakan hendaknya dia menarik seorang yang berilmu dari shaf setelah takbiratul ihram, disukai (sunah) bagi orang yang ditarik ini untuk menemaninya.” [8]

 Namun yang lebih kuat adalah dia tidak usah menarik salah seorang jamaah di depannya sebab apa yang di alaminya adalah bukan karena kesalahannya, melainkan karena shaf sudah terlanjur penuh.

Sedangkan perintah untuk menarik seorang dari shaf depan, tidak memiliki dalil yang kuat.

عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إذا انتهى أحدكم إلى الصف وقد تم ، فليجذب إليه رجلا يقيمه إلى جنبه »

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Jika salah seorang kalian sampai pada shaf yang sudah penuh maka hendaklah menarik seorang dari barisan itu dan menempatkannya di sebelahnya.” [9]

Hadits ini dha’if. Dalam sanadnya ada seorang bernama Bisyr bin Ibrahim. Imam Al ‘Uqaili mengatakan: “Dia meriwayatkan dari Al Auza’i hadits-hadits palsu. “ Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “Bagiku dia termasuk orang yang memalsukan  hadits.” Ibnu Hibban mengatakan: diriwayatkan dari Ali bin Harb bahwa dia (Bisyr bin Ibrahim) memalsukan hadits dari orang-orang terparcaya.[10]

Berkata Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani tentang orang ini.

وهو ممن كان يضع الحديث كما قال غير واحد من الأئمة وقال الهيثمي : ( هو ضعيف جدا )

“Dia termasuk deretan para pemalsu hadits sebagaimana yang dikatakan oleh lebih dari satu imam hadits. Berkata Al Haitsami: “Dia sangat lemah.” [11]

Bahkan Imam Al Haitsami berkata: “Dia adalah pemalsu hadits.” [12]

Dalam riwayat lain ada seorang laki-laki shalat sendiri di belakang shaf setelah selesai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:

ألا دخلت في الصف أو جذبت رجلا صلى معك ؟ ! أعد الصلاة

“Kenapa engkau tidak masuk ke dalam shaf atau kau tarik saja seseorang agar shalat  bersamamu?! Ulangi shalatmu.”

Syaikh Al Albani berkata: “Sanad hadits ini lemah juga, dalam sanadnya terdapat Qais yaitu Ibnu Ar Rabi’.” Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Orangnya jujur, tetapi hafalannya berubah ketika sudah tua, anaknya memasukkan kepadanya hadits-hadits yang bukan darinya tetapi dianggap darinya.” Demikian  pencacatan Al Hafizh terhadapnya dalam At Talkhish (125).

Saya (Syaikh Al Albany) berkata: “Yang menjadi cacat hadits ini adalah perawi bernama Yahya bin Abdiwaih dia lebih parah dari Qais, walau Ahmad memujinya namun Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Pendusta dan laki-laki yang buruk.” Dia berkata lagi tentang Yahya bin Abdiwaih: “Dia bukan apa-apa.” [13]

Bahkan dalam Silsilah Adh Dha’ifah, Syaikh Al Albany mengatakan: Dhaif Jiddan (Sangat lemah), lantaran Qais dia sangat lemah, sedangkan Ibnu Abdiwaih lebih lemah darinya.

Beliau juga berkata:

إذا ثبت ضعف الحديث فلا يصح حينئذ القول بمشروعية جذب الرجل من الصف ليصف معه ، لأنه تشريع بدون نص صحيح ، و هذا لا يجوز ، بل الواجب أن ينضم إلى الصف إذا أمكن و إلا صلى وحده ، و صلاته صحيحة ، لأنه ( لا يكلف الله نفس إلا وسعها )

“Jika telah jelas kedha’ifan hadits tersebut, maka tidak dibenarkan pendapat yang mensyariatkan menarik seseorang di shaf yang ada, untuk menemaninya di belakang, karena pendapat ini tidak dikuatkan oleh dalil yang shahih. Demikian itu tidak boleh, bahkan wajib bagi orang itu jika mungkin untuk bergabung ke dalam shaf, jika tidak bisa gabung maka dia shalat sendiri di belakang, dan shalatnya tetap sah karena “Allah tidak membebani apa-apa yang dia tidak mampu.” [14]

Maka jelaslah kedha’ifan hadits-hadits di atas dan tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

Wallahu a’lam.


[1] Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 3/220. Cet. 1, 1993M-1413H. Darul Hadits. Mesir.

[2] HR. Ibnu Majah No. 871,  1003,  Ahmad No. 16297, Ibnu Abi Syaibah, 2/193, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Aahad wal Matsani No. 1678, Ibnu Khuzaimah No. 593, 667, 872, 1569. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth  (Ta’liq Musnad Ahmad No. 16297), Syaikh Al Albani. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1003)

[3] HR.  At Tirmidzi No. 230. Katanya: hasan, Abu Daud No. 682,  Ahmad No. 18000, 18004, 18005. Ibnu Hibban No. 2199, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Aahad wal Matsaani No. 1050, dll.  Imam Ibnul Mundzir mengatakan: “Hadits ini dinilai kuat oleh Ahmad dan Ishaq.” (Khulashah Al Ahkam No. 2516). Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: Imam Ibnu Abdil Bar menyelisihinya, menurutnya hadits ini idhthirab (guncang), dan tidak dikuatkan oleh jamaah.” (Badrul Munir, 4/473). Juga didhaifkan oleh Al Bazzar. (Ad Dirayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, 1/171).  Sementara ulama kontemporer menshahihkannya,  seperti Syaikh Syu’aib Al Arnauth. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 18000), Syaikh Al Albani. (Shahih Abi Daud No 683, Al Irwa, 2/328-329)

[4] Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, 1/378. Darul Hadits. Tanpa tahun.

[5] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 243-244. Darul Kutub al ‘Arabiyah, Beirut – Libanon.

[6] HR. Bukhari No. 783

[7] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 244. Darul Kutub Al Arabiyah, Beirut – Libanon

[8] Ibid

[9] HR. Ath Thabarani, Mu’jam Al Awsath,  No. 7764

[10] Lisanul Mizan, 2/18, Mizanul I’tidal, 1/311

[11] Syaikh Al Albany, Irwa’ Al Ghalil, Juz.2, Hal. 326

[12] Imam Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakar al Haitsami, Majma’ uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, Juz. 4, Hal. 56. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah Beirut-Libanon. 1988M-1408H.

[13] Syaikh Al Albani, Irwa’ al Ghalil, Juz.2, Hal. 326.

[14] Syaikh Al Albani, Silsilah Adh Dha’ifah  No. 922


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Polemik Siapakah Manusia Pertama

✔Pertanyaan:

Apakah ada ayat alQuran atau hadits Nabi yg menyatakan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yg diciptakan oleh Allah SWT?

☑Jawaban:

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Ilmu pengetahuan modern sampai hari ini belum menyimpulkan apa-apa tentang asal-usul manusia, kecuali terjadinya diskontinuitas. Semua penemuan bagian tulang belulang, baik itu tengkorak, rahang, dan lainnya, tidak pernah utuh, hanya bagian-bagian kecil tertentu yang terpisah di tempat yang jauh, lalu di reka-reka dan rekonstruksikan sebagai manusia puba bernama A, B, C, dan seterusnya. Beragam teori tentang asal usul manusia sudah banyak yang mengemukakan, ada yang saling menguatkan, ada yang saling  menegasikan.  Tetapi, semua berujuang pada: ketidakpastian.

Sependek yang saya ketahui, tidak ada satu pun ahli yang benar-benar yakin bahwa temuan mereka, beserta teori yang mereka bangun, merupakan finalisasi perdebatan panjang tentang siapa manusia pertama yang pernah ada. Sebagai orang yang berakal, kita mengapresiasi segala jerih payah para ilmuwan untuk menguak misteri ini secara scientific. Semoga saja semua penemuan ini tidak berujung pada keputusasaan sehingga mengatakan keberadaan pencipta pun bisa diteorikan! Bagaimana mungkin bisa, padahal tentang asal usul dirinya saja mereka kebingungan?

Kemudian, di sisi lain, sebagai orang beriman, kita juga memiliki wahyu yang kebenarannya laa syakka wa laa rayba. Semuanya adalah haq dari Allah ﷻ,hukumnya haq, kisahnya haq, nasihatnya haq, tidak sedikit pun kesalahan baik atas, bawah, kanan, kiri, dan tengahnya.

Semuanya saling menguatkan dan menopang. Maka, ketika penemuan modern masih masuk dalam ranah zhanniyat (dugaan), belum keluar darinya sedikit pun, bahkan tidak ada clue (tanda) baru untuk keluar dari ranah itu, maka selama itu pula dia bukan pegangan, apalagi dijadikan  aqidah yang mencapai derajat ilmul yaqin.

Maka, ketika terjadi ketidakserasian antara keduanya, yang satu masih berputar pada teori, mencari-cari data, mengumpulkan bukti, lalu saling bantah dan koreksi, apa yang mereka  upayakan pun hanya menjadi konsumsi elitis sebagian ilmuwan dan kaum terpelajar, bahkan tidak pernah ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya upaya ini …, sementara Al Quran sudah menceritakannya, dengan penceritaan yang tidak sekali, lalu menjadi keyakinan milyaran manusia, baik cerdik cendikia, maupun awamnya, maka apa yang Allah ﷻsampaikan melalui firmanNya lebih kita ikuti.

Kita meyakini, dalam hal-hal yang pasti kebenarannya selamanya ayat suci tidak akan pernah berbenturan dengan teori modern yang haq, karena keduanya –pada hakikatnya- juga berasal dari ayat-ayatNya, yaitu ayat Qauliyah dan Kauniyah, keduanya berasal dari Allah ﷻ maka keduanya tidak mungkin dan tidak seharusnya berseberangan, justru saling mengkonfirmasi. Jika terjadi benturan keduanya, maka yang qath’i (pasti) lebih kita jadikan pedoman dibanding yang zhanni (dugaan). Justru yang zhanni itu mesti diarahkan kepada yang qath’i.

Nabi Adam ‘Alaihissalam Dalam Al Quran

Taruhlah kita tidak dapatkan ayat dengan kalimat lugas (manthuq/tersurat) menyebut Nabi Adam ‘Alaihissalam adalah manusia pertama, yang mengharuskan ada kata “manusia pertama” dalam ayat tersebut. Kita tidak akan menemuinya. Tetapi secara mafhum (tersirat) kita banyak mendapatkannya. Mereka-mereka yang menolak atau meragukan Nabi Adam ‘Alaihissalam sebagai manusia pertama, sangat-sangat tekstualist, mereka mensyaratkan  mesti ada kata semisal “Adam adalah manusia pertama, “ atau “Aku ciptakan manusia pertama adalah Adam,” atau yang semakna dengan ini, yang tanpa perlu penjelasan lagi memang begitulah maknanya.

Sejenak kita perhatikan ayat-ayat berikut:

▶        Al Baqarah ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Mereka yang menolak meyakini Nabi Adam‘Alaihissalam sebagai manusia pertama memahami bahwa ayat ini menunjukkan ada orang lain sebelum Nabi Adam ‘Alaihisalam. Sebab, bagaimana para malaikat bisa tahu sebelum Nabi Adam sudah ada pertumpahan darah di muka bumi?  Pastilah sebelumnya sudah ada manusia lain.

Betulkah seperti itu? Betulkah sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia di muka bumi yang saling menumpahkan darah? Ataukah itu makhluk lain selain manusia?

Kita lihat penjelasan dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, imamnya para imam ahli tafsir, yang dijuluki Turjumanul Quran (penafsir Al Quran), Al Bahr (samudera), Hibru hadzihil ummah (tintanya umat ini), dan telah didoakan oleh Nabi ﷺ : “Ya Allah ajarkanlah dia ta’wil Al Quran, dan fahamkanlah dia ilmu agama.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6287, katanya:shahih. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 10587), dalam hadits lain: “Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran). (HR. Bukhari No. 75)

Beliau berkata:

أنه كان في الأرض الجِنُّ , فأفسدوا فيها , سفكوا الدماء , فأُهْلِكوا , فَجُعِل آدم وذريته بدلهم

Bahwasanya dahulu di muka bumi ada jin, mereka membuat kerusakan di dalamnya, dan menumpahkan darah dan mereka pun binasa, lalu diciptakanlah Adam dan keturunannya untuk menggantikan mereka. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, An Nukat wal ‘Uyun, 1/95. Lihat Imam Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan, 1/450)

Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin  Abbas Radhiallahu ‘Anhuma ini sesuai dengan yang Allah ﷻfirmankan:

وَالْجَانَّ خَلَقْناهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr: 27)

Maka, keterangan Abdullah bin AbbasRadhiallahu ‘Anhuma, dan juga  ayat yang menyatakan bahwa Jin lebih dahulu diciptakan  sebelum Adam, merupakan koreksi yang menganulir pemahaman atau perkiraan  bahwa sudah ada manusia sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam.

Sementara, para pakar yang lain mengatakan bahwa pengetahuan para malaikat adanya kerusakan dan pertumbahan darah bukan karena sebelumnya sudah ada manusia, bukan pula karena jin, tetapi itu merupakan pengabaran masa yang akan datang setelah diciptakannya  Adam yang dilakukan oleh anak cucunya, baik itu merupakan terkaan malaikat terhadap yang ghaib, ada pula riwayat yang menyebutkan karena Allahﷻ juga telah mengabarkan itu kepada mereka. Bagi yang ingin memperluas masalah ini silahkan buka Tafsir Jami’ul Bayan-nya Imam Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah.

▶       Sebutan bagi manusia adalah “Bani Adam”

Al Quran dan As Sunnah menyebut manusia keseluruhan dengan Bani Adam (Keturunan Adam), atau jika satu orang disebut Ibnu Adam. Keduanya (baik Bani Adam dan Ibnu Adam) ada dalam teks-teks yang shahih lagi sharih (jelas). Penyebutan tersebut, secara mafhum muwafaqah  menjadikan Adam ‘Alaihissalam sebagai porosnya menunjukkan dialah yang pertama, bukan selainnya. Jika memang ada selainnya, tentunya Allah ﷻ tidak akan menyebut (semua) manusia Bani Adam, dan tidak mungkin Allah ﷻ salah sebut. Maha Suci Allah dari hal itu. Allah ﷻ juga menyebut Bani Israel, karena Israel (Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) adalah yang awal bagi anaknya yang 12 orang dan menjadi suku-suku sendiri di kemudian hari, lalu mereka pun disebut Bani Israel, bukan bani-bani yang lainnya. Jikalau sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia, taruhlah namanya X atau jenis X, tentulah Bani X panggilannya.

Masalah ini begitu penting sampai-sampai menyita perhatian  milyaran manusia, bahkan ada disiplin ilmu khusus untuk mempelajarinya dan mereka menghabiskan usianya hanya untuk urusan ini. Apakah masalah sepenting ini luput begitu saja dari Al Quran? Ketika Al Quran telah membahasnya bahwa jenis “manusia”  adalah Bani Adam, maka itulah finalnya dari masalah penting ini, dan itulah jawaban dan perhatian Al Quran terhadap misteri ini.

Tenanglah jadinya hati kita bahwa Adam ‘Alaihissalam memang manusia pertama sebagaimana tersirat dalam beberapa ayat Al Quran.

Terakhir, ada baiknya kita renungkan perkataan bagus berikut ini. Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah mengatakan:

وقد يتناول كل من النظر الشرعي والنظر العقلي ما لا يدخل في دائرة الآخر , ولكنهما لن يختلفا في القطعي , فلن تصطدم حقيقة علمية صحيحة بقاعدة شرعية ثابتة ، ويؤول الظني منهما ليتفق مع القطعي , فإن كانا ظنيين فالنظر الشرعي أولى بالإتباع حتى يثبت العقلي أو ينهار

Pandangan teori agama dan pandangan akal masing-masing punya domain, dan  tidak boleh dicampuradukkan, keduanya tidak akan pernah berselisih dalam masalah yang pasti kebenarannya. Maka, selamanya hakikat teori ilmiah yang shahih tidak akan bertentangan dengan kaidah syar’i  yang pasti. Jika salah satu di antara keduanya ada yang bersifat zhanni, dan yang lainnya adalah qath’i maka yang zhanni mesti ditarik agar sesuai dengan yang qath’i, jika keduanya sama-sama zhanni maka pandangan agama lebih utama diikuti, sehingga akal mendapatkan legalitasnya atau gugur sama sekali.  (Ushul ‘Isyrin, No. 19)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Musafir

Hukum Meninggalkan Shalat Jum’at Tiga Kali Berturut

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Assalamu ‘Alaikum, Wr.Wb. Apa hukumnya meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut kafirkah ? (Hamba Allah)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sejak kecil kita memang diberitahu oleh guru agama atau guru ngaji bahwa orang yang meninggalkan shalat jumat 3 kali berturut-turut maka kafir .. tetapi benarkah itu adakah dalilnya?

Dalam sebuah riwayat shahih diceritakan:

رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatannya meninggalkan shalat Jumat, atau kalau tidak, Allah akan menutup mata hati mereka, kemudian mereka akan dimasukkan ke golongan orang-orang yang lalai.”  (HR. Muslim No. 865, An Nasa’i No. 1370,  Ahmad No. 3099, Ad Darimi No. 1611)Apa makna hadits di atas? Imam An NawawiRahimahullah memaparkan:

قَالَ الْقَاضِي : اِخْتَلَفَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي هَذَا اِخْتِلَافًا كَثِيرًا فَقِيلَ : هُوَ إِعْدَام اللُّطْف وَأَسْبَاب الْخَيْر ، وَقِيلَ : هُوَ خَلْق الْكُفْر فِي صُدُورهمْ وَهُوَ قَوْل أَكْثَر مُتَكَلِّمِي أَهْل السُّنَّة . قَالَ غَيْرهمْ : هُوَ الشَّهَادَة عَلَيْهِمْ ، وَقِيلَ : هُوَ عَلَامَة جَعَلَهَا اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ لِتَعْرِف بِهَا الْمَلَائِكَة مَنْ يُمْدَح وَمَنْ يُذَمّ

“Berkata Al Qadhi: Para Ahli kalam berbeda pendapat dengan perbedaan yang banyak, dikatakan tentang hadis tersebut: maksudnya adalah hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan. Dikatakan pula:  perilaku  kekufuran di dalam dada mereka dan ini merupakan pendapat kebanyakan ahli kalam dari Ahlus Sunnah. Berkata selain mereka: itu adalah kesaksian atas mereka, dan dikatakan pula: itu adalah tanda yang Allah Ta’ala jadikan ke dalam dada mereka yang dengannya malaikat bisa mengetahui siapa yang sedang dicela dan siapa yang dipuji.”   (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/153) Imam Abul Hasan As Sindi berkata:

قَالَ الْقُرْطُبِيّ وَالْخَتْم عِبَارَة عَمَّا يَخْلُقهُ اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ مِنْ الْجَهْل وَالْجَفَاء وَالْقَسْوَة

“Berkata Imam Al Qurthubi, maksud dari tertutup adalah ungkapan dari apa-apa yang Allah Ta’ala ciptakan dalam hati-hati mereka berupa kebodohan, kasar, dan keras.”   (Imam Abul Hasan As Sindi, Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/89) Sekarang hadits yang lainnya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat TIGA KALI, karena menganggap remeh, maka Allah akan tutup hatinya.” (HR.  At Tirmidzi No. 500, katanya: hasan. Abu Daud No. 1052, An Nasa’i No. 1369, Al Hakim, Al Mustadrak  No. 1034, katanya: shahih sesuai syarat Muslim. Dishahihkan pula oleh Imam Ali Al Qari dalam Mirqah Al Mafatih, 3/1024)Apa kata ulama tentang makna hadits ini?

يَمْنَع إِيصَال الْخَيْر إِلَيْهِ ، وَقِيلَ كَتَبَهُ مُنَافِقًا

“Tercegahnya kebaikan yang  sampai kepadanya, dan dikatakan: dia ditetapkan sebagaimunafiq.”   (Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 3/1024. Imam Abul ‘Ala Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 3/11)Para Ulama mengkategorikan Munafiq adalah kafir juga, mereka Allah Ta’ala sejajarkan di neraka jahanam (lihat At Taubah: 68)

Imam Abul Hasan As Sindi berkata tentang hadits tersebut:

أَيْ خَتَمَ عَلَيْهِ وَغَشَّاهُ وَمَنَعَهُ الْأَلْطَاف وَالطَّبْع بِالسُّكُونِ الْخَتْم وَبِالْحَرَكَةِ الدَّنَس وَأَصْله الدَّنَس وَالْوَسَخ يَغْشَيَانِ السَّيْف مِنْ طَبَعَ السَّيْف ثُمَّ اُسْتُعْمِلَ فِي الْآثَام وَالْقَبَائِح

“Yaitu Allah menutup atas hatinya, dan menutupi dan mencegahnya dari kelembutan, dan tertutup dengan begitu melekat,  oleh gerakan  kotoran, dan dasarnya telah kotor dan kusam  yang keduanya menutupi pedang  yang tertutup oleh kotoran (karat),   kemudian digunakan dalam perbuatan dosa dan keburukan.”   (Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/88)Nah, jadi tidak ada hadits yang mengatakan kafir bagi yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa ‘udzur,   itu hanya salah satu tafsir ulama atas hadits tersebut yang menyebutnya sebagai munafiq.

Demikian. Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Daging Qurban

Mau Qurban, Berhutang?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bolehkah berhutang untuk berqurban ? bagaimana dengan arisan qurban? (beberapa SMS)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ala Rasulillah wa Bad:

Kami akan jawab menjadi dua bagian sesuai pertanyaannya.

👉 Pertama. Berqurban dengan biaya dari hutang.

Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji,1)  yang pembiayaannya berasal dari hutang. Maka, dia kembali pada bab hutang piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:

🔷 Ketika dia berhutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya

🔶 Hutang tersebut tidak menambah beban berat hutang lama yang masih banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan istithaah (mampu).

Para ulama salaf pun melakukannya, dan mereka tidak memandang masalah dengan berhutang untuk berqurban (atau juga aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu Hazim) yang berhutang untuk membeli Unta buat qurban.

وقال سفيان الثوري: كان أبو حاتم  يستدين ويسوق البُدْن، فقيل له: تستدين وتسوق البدن؟ فقال: إني سمعت الله يقول: { لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }

Berkata Sufyan Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berhutang untuk membeli Unta qurban, lalu ada yang bertanya kepadanya: “Anda berhutang untuk membeli unta? Beliau menjawab: Saya mendengar Allah Taala berfirman: Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut). (Q.s. Al Hajj:36). (Tafsir Al Quran Al Azhim, 5/426)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad bin Hambal  dan Shalih (anaknya), katanya:

وقال له صالح ابنه الرجل يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك حتى يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى

Shalih –anak laki-laki Imam Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berhutang untuk aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad menjawab: Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa, Semua bayi  tergadaikan oleh aqiqahnya, aku berharap jika berhutang untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai. (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H. Maktabah Darul Bayan)

Demikianlah kebolehan berhutang untuk berqurban, namun boleh bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya adalah justru membayar hutang dahulu, bukan menambah dengan hutang baru. Membayar hutang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya, sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk melunaskan hutang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas hutangnya.

Bagaimana dengan hutang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?
Tidak juga demikian, dia bisa dan boleh saja berhutang untuk qurban selama memang dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya. Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berhutang tetapi keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.

Wallahu Alam

👉 Kedua. Arisan untuk Qurban.

Arisan adalah beberapa orang mengumpulkan uang, lalu diundi atau dengan menggunakan nomor urut, maka siapa yang keluar namanya atau namanya lebih dahulu dalam urutan, maka dialah yang mendapatkan uang tersebut untuk membeli hewan qurban.

Ini bukanlah judi, karena semua peserta akan mendapatkan gilirannya, dan tidak ada yang dirugikan. Ada pun judi, bisa jadi ada orang yang menang berkali-kali, sementara yang lain sama sekali tidak dapat undian sampai judi itu selesai. Dan, arisan menjadi judi jika sekali kocok keluar satu atau beberapa nama, setelah itu bubar, padahal masih banyak orang lain yang tidak dapat.

Nah, arisan secara substansi adalah SAMA dengan berhutang, karena uang yang dia dapatkan merupakan hasil kumpulan dari uang peserta lainnya, sehingga dia memiliki hutang kepada peserta lainnya. Jika demikian, maka  boleh-boleh saja arisan qurban sebagaimana hutang untuk berqurban.

Wallahu Alam🌿🌿🌿🌿


Notes:

1)  Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘Anhu, katanya:سألته عن الرجل لم يحج ، أيستقرض للحج ؟ قال : « لا »

“Aku bertanya kepadanya, tentang seorang yang belum pergi haji, apakah dia  berhutang saja untuk haji?” Beliau bersabda: “Tidak.”  (HR. Asy Syafi’i, Min Kitabil Manasik, Juz. 1, Hal. 472, No. 460. Al Baihaqi, Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Juz. 7, Hal. 363, No. 2788.  Syamilah)
Imam Asy Syafi’i berkata tentang hadits ini:

ومن لم يكن في ماله سعة يحج بها من غير أن يستقرض فهو لا يجد السبيل

“Barangsiapa yang tidak memiliki kelapangan harta untuk haji, selain dengan hutang, maka dia tidak wajib untuk menunaikannya.  (Imam Asy Syafii, Al Umm, Juz. 1, Hal. 127. Syamilah)
Namun, demikian para ulama tetap menilai hajinya sah, sebab status tidak wajib haji karena dia belum istithaah, bukan berarti tidak boleh haji. Ada pun larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak mau memberatkan umatnya yang tidak mampu, itu bukan menunjukkan larangannya. Yang penting, ketika dia berhutang atau kredit, dia harus dalam kondisi bahwa dia bisa melunasi hutang atau kredit tersebut pada masa selanjutnya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678