Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Membaca al-Qur’an dalam Keadaan Mulut yang Terkena Najis

๐Ÿ“š Interaksi Al-Quran

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Mengenai membaca al-Qurโ€™an dalam keadaan mulut yang terdapat najis, Abu al-Mahasin ar-Ruyani (w. 502 H) di dalam Bahr al-Madzhab fi Madzhab al-Imam asy-Syafiโ€™i yang merupakan salah satu kitab terlengkap dalam madzhab Syafi’i yang memuat masalah-masalah yang unik (gharaโ€™ib) mengutip perkataan ayahnya di mana menurutnya ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang pertama mengatakan tidak boleh membaca al-Qur’an bagi orang yang terdapat najis di mulutnya sebagaimana seseorang tidak boleh menyentuh mushaf jika di tangannya terdapat najis. Adapun menurut pendapat kedua adalah diperbolehkan sebagaimana orang yang berhadats juga boleh membaca al-Qurโ€™an, namun ia masuk dalam kategori sesuatu yang makruh. Menurut Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, pendapat yang paling shahih adalah pendapat kedua yang mengatakan bahwa membaca al-Qur’an dalam keadaan mulut yang bernajis adalah tidak haram, tetapi hanya makruh.

Yang paling utama ketika seseorang membaca al-Qur’an tentunya adalah membacanya dalam keadaan mulut yang bersih. Membersihkan mulut dapat dilakukan dengan bersiwak, atau dengan menggosok gigi.[]

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Hukum Membaca aI-Qurโ€™an di Kamar Mandi dan WC

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

An-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin mengatakan: โ€œTidak dimakruhkan membaca al-Qurโ€™an di dalam kamar mandi.โ€ Demikian juga yang dikatakannya di dalam al-Majmuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab. Dan sebagaimana yang beliau sampaikan, memang tidak ada dalil yang menunjukkan kepada kemakruhannya. Penting untuk diketahui bahwa hammam yang disebut oleh Imam an-Nawawi yang biasa kita terjemahkan dengan tempat pemandian atau kamar mandi, tentu berbeda antara zaman dulu dengan sekarang. Bahkan kebanyakan yang ada sekarang adalah kamar mandi yang sudah menyatu dengan WC. Tentu saja yang dimaksud oleh tidak makruh oleh beliau adalah ketika tempat tersebut terbebas dari kotoran dan najis. Sehingga, jika memang ada kamar mandi yang tidak menyatu dengan WC, tetapi jika di sana terdapat kotoran dan najis, tetap saja tidak diperkenankan membaca al-Qur’an di sana, tiada lain dalam rangka memuliakan al Qurโ€™an itu sendiri.

Di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, beliau pun mengatakan bahwa yang disunnahkan adalah membacanya di tempat-tempat yang bersih. Sehingga, banyak para ulama yang menganjurkan untuk membacanya di dalam masjid, karena ia telah memenuhi semua unsur kebersihan, juga termasuk tempat yang mulia.

Sementara itu, hukum membaca al-Qurโ€™an di tempat buang hajat atau WC adalah makruh. Hal ini sebagaimana dapat kita temukan di dalam penjelasan Imam an-Nawawi sendiri dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj ketika beliau menjelaskan tentang sebuah riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, sebagaimana disampaikan oleh Imam Muslim (w. 261 H) di dalam Shahihnya bahwa Nabi saw. tidak menjawab salam seseorang ketika beliau sedang berada di tempat buang hajat. Jika menjawab salam yang wajib saja tidak diperkenankan karena di dalamnya terkandung dzikir, maka tentu dalam hal ini termasuk juga di dalamnya membaca al-Qurโ€™an, karena ia merupakan dzikir yang paling utama. Namun, makruh yang dimaksud beliau dalam hal ini tergolong makruh tanzih, yaitu perkara yang dituntut untuk ditinggalkan, tetapi dengan perintah yang tidak atau kurang tegas, dalam arti seseorang memang tidak berdosa jika melakukannya, namun tentu akan sangat baik dan berpahala jika ia meninggalkannya.[]

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci istinja cebok najis

Bertayammum untuk Membaca al-Qurโ€™an bagi yang Junub atau yang Suci dari Haidh dan Nifas

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Para ulama sepakat dalam hal bolehnya membaca al-Qur’an setelah bertayammum terlebih dahulu bagi yang junub atau wanita yang sudah suci dari haidh dan nifas namun mereka tidak menemukan air untuk bersuci, atau mereka tidak bisa menggunakan air sebab dapat membahayakan diri sendiri sebab sakit dan lain sebagainya. Bolehnya tayammum untuk membaca al-Qur’an ini dapat kita temukan melalui penjelasan Imam asy-Syafiโ€™i (w. 204 H) sendiri di dalam al-Umm.

Di antara dalilnya adalah flrman Allah swt.: โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapuluh kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.โ€ (QS. Al-Maโ€™idah [5]: 6) Jika tayammum bisa digunakan untuk bersuci dari hadats besar dan kecil sebagai pengganti air, berarti ia juga bisa untuk membaca al-Qur’an, karena membaca al-Qurโ€™an sendiri boleh bagi yang suci dari hadats besar.

Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: โ€œSesungguhnya tanah yang suci adalah alat bersuci bagi seorang muslim sekalipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahu.โ€ (HR. at-Tirmidzi)[]

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Membaca al-Qur’an dalam Keadaan Berhadats Kecil

๐Ÿ“š Interaksi Al-Quran

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Boleh hukumnya membaca al-Qurโ€™an bagi yang berhadats kecil dengan syarat tidak memegang mushaf. Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qurโ€™an mengatakan: โ€œSeseorang disunnahkan membaca al-Qurโ€™an dalam keadaan suci. Namun, jika ia membacanya dalam keadaan berhadats, maka hukumnya boleh sebagaimana disepakati oleh para ulama, dan hadits-haditsnya pun banyak. โ€Di dalam al-Majmuโ€™ Syarh al Muhadzdzab beliau juga mengatakan: โ€œPara ulama sepakat tentang bolehnya membaca al-Qurโ€™an bagi orang yang berhadats kecil, namun yang paling utama adalah berwudhu terlebih dahulu sebelum membacanya.โ€

Di antara dalilnya adalah sebuah riwayat bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib ra. pernah mengatakan: โ€œRasulullah saw. pernah masuk ke kamar kecil lalu menyelesaikan hajatnya. Beliau kemudian keluar serta makan roti dan daging bersama kami, beliau juga membaca al-Qurโ€™an. Tidak ada sesuatupun yang menghalanginya dari membaca al-Qurโ€™an selain junub.โ€ (HR. Ibn Majah) Dari riwayat ini jelas sekali bahwa Rasulullah saw. sendiri pernah membaca al-Qurโ€™an dalam keadaan berhadats kecil.

Ada juga riwayat dari Abdullah ibn โ€˜Abbas ra. bahwa beliau pernah menginap di rumah Maimunah, istri Nabi saw. yang juga adalah bibinya. Ia bercerita: โ€œMaka saya berbaring di kasur, dan Rasulullah saw. berbaring serta istrinya (berbaring juga di kasur) yang membentang. Rasulullah saw. tidur sampai pertengahan malam. Hingga sebelum atau sesudahnya (lewat) sedikit, Rasulullah saw. bangun dan duduk kemudian mengusap wajahnya dengan tangannya, setelah itu beliau membaca sepuluh ayat terakhir di surah Ali Imran. Rasulullah kemudian berdiri ke tempat bejana yang tergantung dan berwudu dengan sebaik mungkin darinya kemudian berdiri menunaikan shalat.โ€ Imam al-Bukhari (w. 256 H) sendiri yang menyampaikan hadits ini di dalam kitab Shahih-nya, beliau memberi judul dengan โ€œBab Bacaan al-Qurโ€™an Setelah Berhadats dan Selainnya.โ€ Dan memang jelas sekali bahwa dalam riwayat ini setelah Rasulullah saw. bangun dari tidurnya, beliau langsung membaca ayat ayat al-Qurโ€™an. Tidur sendiri-sebagaimana disepakati-menjadi salah satu yang membatalkan wudhu.

Siti โ€˜Aisyah ra. sendiri-sebagaimana juga disebutkan al-Bukhari di dalam Shahih-nya-pernah mengatakan bahwa Rasulullah saw. memang selalu berdzikir dalam setiap keadaannya. Dan dzikir di dalamnya juga bisa mencakup al-Qurโ€™an, karena memang ia adalah dzikir yang paling utama.[]

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : manis.id

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

surat yasin

Membaca Al-Qurโ€™an bagi yang Junub

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Para ulama sepakat bahwa orang yang dalam keadaan junub tidak boleh membaca al-Qurโ€™an. Dalam hal ini, Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: โ€œMenurut madzhab kami, haram hukumnya membaca al-Qurโ€™an bagi yang haidh dan junub, baik sedikit maupun banyak, bahkan walaupun hanya sebagian ayat. Pendapat inilah yang dipegang oleh kebanyakan ulama. โ€Namun, di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qurโ€™an, ia mengemukakan bahwa meski demikian, boleh seseorang yang junub untuk membayangkan ayat-ayat al-Qur’an di dalam hatinya tanpa melafazhkannya.

Di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, dapat juga kita temukan penjelasan Abdurrahman ibn Muhammad Baโ€™alawi (w. 1320 H) yang mengatakan bahwa memang haram hukumnya membaca al-Qurโ€™an yang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya. Namun, tidak haram jika tanpa adanya tujuan membacanya seperti dalam rangka membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan atau dengan tujuan berdoa. Demikian juga yang dikemukakan oleh ‘Abdul Karim ar-Rafiโ€™i (w. 623 H) di dalam Fath al-Aziz bi Syarh al-Wajiz: asy-Syarh al-Kabir, yaitu jika membacanya bukan dengan bermaksud membaca al-Qurโ€™an, maka hukumnya tetap boleh, seperti mengucapkan basmalah dalam rangka mengharap keberkahan atau ketika memulai sesuatu, membaca hamdalah ketika selesai mengerjakan suatu pekerjaan, atau misalnya mengucapkan kalimat dzikir ketika menaiki kendaraan sebagaimana yang disunnahkan Nabi saw., yaitu membaca โ€˜subhanal-ladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrininโ€™.

Di antara dalil yang menunjukkan keharaman membaca al-Qurโ€™an bagi yang junub adalah sebagaimana riwayat dari โ€œAli ibn Abi Thalib ra. yang penulis sampaikan ketika menjelaskan hukum membaca al-Qurโ€™an bagi yang berhadats [lihat disini https://goo.gl/pyn7DM]. Ada juga riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalam Sunannya dari Ibn โ€˜Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: โ€œTidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qurโ€™an.โ€

Riwayat lainnya, disampaikan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, dari Abu al-Gharif al-Hamdani yang mengatakan: โ€œAli ibn Abi Thalib berwudhu, ia berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali, mencuci wajah tiga kali, mencuci kedua tangan hingga hasta sebanyak tiga kali, kemudian membasuh kepala, lalu mencuci kedua kakinya. Beliau kemudian mengatakan: ‘Seperti inilah wudhu yang aku lihat dari Rasulullah saw.โ€™ Lalu ia membaca sesuatu dari al-Qurโ€™an, kemudian mengatakan: โ€˜Ini bagi siapa yang tidak junub, adapun yang junub, maka janganlah ia membacanya, tidak pula satu ayat’.โ€

Ad-Daruquthni (w. 385 H) di dalam Sunannya juga menyampaikan riwayat dari (Abdullah ibn Rawahah yang mengatakan: โ€œRasulullah saw. melarang salah seorang di antara kami untuk membaca al-Qurโ€™an sedangkan ia dalam keadaan junub.โ€[]

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Puasa Daud

Serba Serbi Puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Apakah Ini Termasuk Sunnah?

Ya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkannya, sebagaimana dalam hadits:

ุตูู…ู’ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ

Berpuasalah! Dan sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud. (HR. Bukhari no. 5052)

Bukankah ini syariat Nabi Daud ‘Alaihissalam? Apakah berlaku bagi kita juga?

Ya, syariat nabi atau umat terdahulu (syar’u man qablana), ada yang sudah dihapus oleh syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada juga yang tidak dan tetap dihidupkan di syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satu yang tetap ada dan tidak dihapus adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam.

Imam Abu Sulaiman Walid Al Baji, seorang tokoh madzhab Maliki, berkata:

ุฐูŽู‡ูŽุจูŽุชู’ ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุฃูŽุจูŠ ุญูŽู†ููŠููŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุดูŽุฑููŠุนูŽุฉูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู†ูŽุง ู„ุงูŽุฒูู…ูŽุฉูŒ ู„ูŽู†ูŽุง ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู„ููŠู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุณู’ุฎูู‡ู

Segolongan sahabat kami (Malikiyah), dan para sahabat Abu Hanifah (Hanafiyah), serta para sahabat Asy Syafi’i (Syafiโ€™iyah), mengatakan bahwa syariat kaum sebelum kita tetaplah menjadi syariat kita, kecuali ada dalil yang menunjukkan sudah dihapus. (Al Inarah Syarh Kitab Al Isyarah, hal. 272)

Bagaimana caranya?

Caranya seperti yang dijelaskan dalam hadits:

ุตููŠูŽุงู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽุฅููู’ุทูŽุงุฑูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู

Sehari puasa, sehari tidak. (HR. Bukhari no. 5052)

Bagaimana kedudukannya?

Ini adalah puasa terbaik setelah puasa Ramadhan. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

ูŠูุคู’ุฎูŽุฐู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽูŠููู’ุทูุฑูŽ ูŠูˆู…ุง ุฏุงุฆู…ุง

Dari hadits ini bisa diambil pelajaran, bahwa yang paling utama bagi yang ingin berpuasa adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa, sehari tidak, secara konstan. (Fathul Bari, jilid. 9, hal. 96)

Wajar jika dianggap puasa terbaik, karena ini puasa yang sangat berat. Imam At Tirmidzi berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุนูู„ู’ู…ู: ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุตููˆู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽุชููู’ุทูุฑูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุงุŒ ูˆูŽูŠูู‚ูŽุงู„ู: ู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุดูŽุฏู‘ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู

Sebagian ulama mengatakan: sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa, sehari tidak. Dikatakan: “Ini adalah puasa yang paling berat.” (Sunan At Tirmidzi no. 770)

Apakah harus seumur hidup?

Tidak ada petunjuk yang menyebut puasa Daud itu mesti muabbad (seumur hidup tanpa berhenti). Siapa yang mampu melakukannya setahun atau beberapa tahun, silahkan. Siapa yang mampu dan kuat sepanjang hidupnya, juga silahkan.

Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan puasa Daud juga?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukannya. Para ulama menyebutkan beberapa kemungkinan atau alasan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan amal-amal utama:

– Dalam rangka meringankan umatnya, walau amal itu memiliki keutamaan besar, dan Beliau mampu melakukannya.

– Agar tidak dianggap kewajiban, sebagaimana saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan shalat Tarawih di malam ke-4 Ramadhan.

– Disibukkan oleh hal-hal yang lebih utama, atau yang benar-benar wajib. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 224307)

Ketika puasa Daud, apakah tidak boleh puasa sunnah lainnya?

Para ulama menegaskan, tidak dianjurkan berpuasa sunnah lainnya, bagi yang sudah konstan puasa Nabi Daud, walau dia kuat melakukan lebih. (Tidak dianjurkan bukan berarti tidak boleh, bagi yang benar-benar mampu)

Hal ini berdasarkan nasihat Nabi kepada Abdullah bin Amr bin al ‘Ash yang sangat semangat puasa sunnah, dan meminta “lebih” dari puasa Daud:

ุตูู…ู’ ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ู ุงู„ู„ู‡ู ุฏูŽุงูˆูุฏูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฒูุฏู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

Berpuasalah dengan puasa Nabi Daud, dan jangan kamu tambahkan lagi.

(HR. Ahmad no. 6867. Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan: Shahih)

Knp tidak dianjurkan dan tidak usah ditambah lagi, walau seseorang kuat melakukannya ? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

ู„ุง ุฃูุถู„ ู…ู† ุฐู„ูƒ

Tidak ada yang lebih utama dari itu. (HR. Bukhari no. 1976)

Di masa tuanya, Abdullah bin Amr bin al Ash berkata:

ูŠูŽุง ู„ูŽูŠู’ุชูŽู†ููŠ ู‚ูŽุจูู„ู’ุชู ุฑูุฎู’ุตูŽุฉูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

Duh andaikata dulu saya mau menerima keringanan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. (HR. Bukhari no. 1975)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah menjelaskan:

ูˆู‡ุฐุง ุตุฑูŠุญ ููŠ ุฃู† ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุนู„ูŠู‡ ุบูŠุฑ ู…ุณุชุญุจุฉุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุงูƒุชูุงุก ุจู‡ุฐุง ุงู„ู†ูˆุน ู…ู† ุงู„ุตูˆู… ูŠุบู†ูŠ ุตุงุญุจู‡ ุนู† ุชูƒู„ู ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉุŒ ูˆูŠุฌุนู„ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ู…ูุถูˆู„ุฉ ุบูŠุฑ ู…ุณุชุญุจุฉ

Ini menjelaskan bahwa puasa tambahan baginya tidaklah mustahab (sunnah), sesungguhnya mencukupkan diri dengan puasa ini (puasa Daud) bagi pelakunya sudah mencukupi baginya dibanding dia membebani diri dengan menambah shaum sunnah lainnya, shgga membuat shaum sunnah tersebut tidak dianjurkan baginya. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 297278)

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Minyak Rambut yang Dilarang

Memotong Kuku & Rambut Saat Haidh/Nifas

Pertanyaan

Assalamuallaikum wr wb…Saya mau bertanya ke ustadz/ah..Apakah di dlm islam adaย  hukum serta dalilnya, jika seorang wanita hamil atau nifas, baik rambut, kuku atau anggota badan lainnya tdk boleh rontok/lepas,ย  kalaupun rontok atau lepas harus disucikan dulu Krn pernahย  kejadian. Seorang teman yg khawatir dan mencari-cariย  di lantaiย  rambut rontoknyaย  saat dia haid sehingga dia kumpulkan, disimpanย  rambut tsb di kertas, nanti kalau sudah mandi jinabah, semua rambut yg rontokย  diikutkan mandi /disucikan.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู…ย  ุงู„ุณู„ุงู…ย  ูˆย  ุฑุญู…ุฉย  ุงู„ู„ู‡ย  ูˆย  ุจุฑูƒุงุชู‡

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa baโ€™d:

Di beberapa kitab para ulama memang ada anjuran untuk tidak memotong rambut dan kuku ketika haid atau junub, seperti Imam Al Ghazali dalam Ihya โ€˜Ulumuddin-nya. Sehingga hal ini menjadi keyakinan sebagian kaum muslimin.

Sebenarnya, hal ini tidak memiliki dasar dalam Al Quran, As Sunnah, dan ijmaโ€™. Baik secara global dan terpeinci, langsung dan tidak langsung, tersurat dan tersirat. Oleh karena itu pada dasarnya tidak apa-apa, tidak masalah memotong rambut dan kuku baik yang haid dan junub.

Hal ini merupakan baraโ€™atul ashliyah, kembali kepada hulum asal, bahwa segala hal boleh-boleh saja selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya dari pembuat syariat.
Rasulullahย ๏ทบย bersabda:

ุงู„ุญู„ุงู„ ู…ุง ุฃุญู„ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ูˆุงู„ุญุฑุงู… ู…ุง ุญุฑู… ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ูˆู…ุง ุณูƒุช ุนู†ู‡ ูู‡ูˆ ู…ู…ุง ุนูุง ุนู†ู‡

โ€œYang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.โ€
(HR. At Tirmidzi No. 1726, katanya:ย hadits gharib.ย Ibnu Majah No. 3367, Ath Thabarani dalamย Al Muโ€™jam Al Kabirย No. 6124.ย Syaikh Al Albani mengatakan:ย hasan. Lihatย Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidziย No. 1726. Juga dihasankan oleh Syaikh Baariโ€™ โ€˜Irfan Taufiq dalamย Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah,ย Bab Al Halal wal Haram wal Manhi โ€˜Anhu,ย No. 1)

Kaidah ini memiliki makna yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Mereka dibebaskan untuk melakukan apa saja dalam hidupnya baik dalam perdagangan, politik, pendidikan, militer, keluarga, penampilan, dan semisalnya, selama tidak ada dalil yang mengharamkan, melarang, dan mencelanya, maka selama itu pula boleh-boleh saja untuk dilakukan. Ini berlaku untuk urusan duniawi mereka. Tak seorang pun berhak melarang dan mencegah tanpa dalil syaraโ€™ yang menerangkan larangan tersebut.

Olehย karena itu,ย Imam Muhammadย  At Tamimi Rahimahullahย sebagai berikutย menjelaskan kaidah itu:

ุฃู† ูƒู„ ุดูŠุก ุณูƒุช ุนู†ู‡ ุงู„ุดุงุฑุน ูู‡ูˆ ุนููˆ ู„ุง ูŠุญู„ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุญุฑู…ู‡ ุฃูˆ ูŠูˆุฌุจู‡ ุฃูˆ ูŠุณุชุญุจู‡ ุฃูˆ ูŠูƒุฑู‡ู‡

โ€œSesungguhnya segala sesuatu yang didiamkan olehย Syariโ€™ย (pembuat Syariat) maka hal itu dimaafkan, dan tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan, atau memakruhkan.โ€ย (Imam Muhammad At Tamimi, ย Arbaโ€™u Qawaid Taduru al Ahkam โ€˜Alaiha, Hal. 3. Maktabah Al Misykah)

Imam Ibnul Qayyimย Rahimahullahย mengatakan:

ูˆู‡ูˆ ุณุจุญุงู†ู‡ ู„ูˆ ุณูƒุช ุนู† ุฅุจุงุญุฉ ุฐู„ูƒ ูˆุชุญุฑูŠู…ู‡ ู„ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ุนููˆุง ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุญูƒู… ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ ูˆุฅุจุทุงู„ู‡ ูุฅู† ุงู„ุญู„ุงู„ ู…ุง ุฃุญู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุญุฑุงู… ู…ุง ุญุฑู…ู‡ ูˆู…ุง ุณูƒุช ุนู†ู‡ ูู‡ูˆ ุนููˆ ููƒู„ ุดุฑุท ูˆุนู‚ุฏ ูˆู…ุนุงู…ู„ุฉ ุณูƒุช ุนู†ู‡ุง ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ุง ูุฅู†ู‡ ุณูƒุช ุนู†ู‡ุง ุฑุญู…ุฉ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ู†ุณูŠุงู† ูˆุฅู‡ู…ุงู„

Dia โ€“Subhanahu wa Taโ€™ala- seandainya mendiamkan tentang kebolehan dan keharaman sesuatu, tetapi memaafkan hal itu, maka tidak boleh menghukuminya dengan haram dan membatalkannya, karena halal adalah apa-apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa-apa yang Allah haramkan, dan apa-apa yang Dia diamkan maka itu dimaafkan. Jadi, semua syarat, perjanjian, dan muamalah yang didiamkan oleh syariat, maka tidak boleh mengatakannya haram, karena mendiamkan hal itu merupakan kasih sayang dariNya, bukan karena lupa dan membiarkannya.ย (Iโ€™lamul Muwaqiโ€™in, 1/344-345)

๐Ÿ“˜ Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Tertulis dalam Majmuโ€™ Al Fatawa-nya:

ูˆูŽุณูุฆูู„ูŽ: ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฅุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฌูู†ูุจู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุตู‘ูŽ ุธููู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุดูŽุงุฑูุจูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุดูŽุทูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ู‡ูŽู„ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅุฐูŽุง ู‚ูŽุตู‘ูŽ ุงู„ู’ุฌูู†ูุจู ุดูŽุนู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุธููู’ุฑูŽู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนููˆุฏู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฒูŽุงุคูู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูุณู’ุทูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู ุจูุญูŽุณูŽุจู ู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒ
ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽุนู’ุฑูŽุฉู ู‚ูุณู’ุทูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู: ููŽู‡ูŽู„ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽุงุŸ
ููŽุฃูŽุฌูŽุงุจูŽ
ู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุญูุฐูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง {: ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฌูู†ูุจูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุฌูุณู} . ูˆูŽูููŠ ุตูŽุญููŠุญู ุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู: {ุญูŽูŠู‘ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽูŠู‘ูุชู‹ุง} . ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ููŠูŽุฉู ุฅุฒูŽุงู„ูŽุฉู ุดูŽุนู’ุฑู ุงู„ู’ุฌูู†ูุจู ูˆูŽุธููู’ุฑูู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ู‹ุง ุดูŽุฑู’ุนููŠู‘ู‹ุง ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุฏู’ {ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽ: ุฃูŽู„ู’ู‚ู ุนูŽู†ู’ูƒ ุดูŽุนู’ุฑูŽ ุงู„ู’ูƒููู’ุฑู ูˆูŽุงุฎู’ุชูŽุชูู†ู’} ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู’ู‡ู ุจูุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑู ุงู„ูุงุฎู’ุชูุชูŽุงู†ู. ูˆูŽุฅูุฒูŽุงู„ูŽุฉู ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุงู„ูุงุบู’ุชูุณูŽุงู„ู ููŽุฅูุทู’ู„ูŽุงู‚ู ูƒูŽู„ูŽุงู…ูู‡ู ูŠูŽู‚ู’ุชูŽุถููŠ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑูŽูŠู’ู†ู. ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุชูุคู’ู…ูŽุฑู ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุถู ุจูุงู„ูุงู…ู’ุชูุดูŽุงุทู ูููŠ ุบูุณู’ู„ูู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ูุงู…ู’ุชูุดูŽุงุทูŽ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุจูุจูŽุนู’ุถู ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู. ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู

Ditanyakan:
Tentang seorang laki-laki yang junub dia memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir kepalanya apakah dia terkena suatu hukum? Sebagian orang telah mengisyaratkan halย  ย demikian dan mengatakan: โ€œJika seorang junub memotong rambut atau kukunya maka pada hari akhirat nanti bagian-bagian yang dipotong itu akan kembali kepadanya dan akan menuntutnya untuk dimandikan, apakah memang demikian?โ€

Jawaban
—————-
Telah shahih dari Nabiย ๏ทบย yang diriwayatkan dari Hudzaifah dan Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhuma, ย yaitu ketika ditanyakan kepadanya tentang status orang junub, maka Beliauย ๏ทบย bersabda: โ€œSeorang muโ€™min itu tidak najis.โ€ Dalam riwayat yang Shahih dari Al Hakim: โ€œBaik keadaan hidup dan matinyaโ€

Saya tidak dapatkan dalil syarโ€™i yang memakruhkan memotong rambut dan kuku bagi orang yang junub.ย ย Justru Nabiย ๏ทบย ย memerintahkanย orang yang masuk islam, โ€œHilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.โ€ Beliau juga memerintahkan orang yang masuk Islam untuk mandi.ย Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi. Begitu pula diperintahkannya (oleh Nabi) kepada ย wanita haid untuk menyisir rambutnya padahal menyisir rambut akan merontokan sebagian rambutnya. Wallahu Aโ€™lam.โ€ย (Majmuโ€™ Al Fatawa, 21/121)

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doakan Selalu Orang Tua Kita

Mengusap Wajah Setelah Berdoa?

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa baโ€™d:

Masalah ini telah diperlisihkan para imam kaum muslimin, bahkan sejak masa sahabat nabi Radhiallahu โ€˜Anhum. Sebagian membolehkan bahkan menyunnahkan karena ada riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan dari sebagian sahabat seperti Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, dan Al Hasan, yang melakukan hal itu. Sebagian lain melarang itu, bahkan menyebutnya bidโ€™ah dan kebodohan, karena tidak memiliki dasar yang kuat dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Masalah perbedaan ini tidak boleh dijadikan sebab berpecahnya umat Islam, karena memang telah terjadi perselisihan ini sejak masa-masa terdahulu.

Kali ini yang kami lakukan adalah hanya memaparkan saja fatwa-fatwa para imam tersebut, tidak pada posisi menguatkan atau melemahkan salah satunya. Sebagian di antara imam ini ada yang menyunahkan dan membolehkan, ada pula yang tidak menganjurkan bahkan membidโ€™ahkan mengusap wajah setelah doa. Jika Anda melakukannya, maka para salaf ada yang melakukannya. Jika Anda meninggalkannya maka para salaf juga ada yang meninggalkannya.

Kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah pihak yang tidak menganjurkan bahkan membidโ€™ahkan. Lalu bagian kedua adalah pihak yang membolehkan bahkan menyunnahkan.

Para ulama yang tidak menganjurkan bahkan membidโ€™ahkan

1. Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu โ€˜Anhu

Tertulis dalam kitab Mukhtashar Kitab Al Witr:

ูˆุณุฆู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุนู† ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุจุณุท ูŠุฏูŠู‡ ููŠุฏุนูˆ ุซู… ูŠู…ุณุญ ุจู‡ู…ุง ูˆุฌู‡ู‡ ูู‚ุงู„ ูƒุฑู‡ ุฐู„ูƒ ุณููŠุงู†

Abdullah -yakni Abdullah bin Al Mubarak- ditanya tentang seorang laki-laki menengadahkan kedua tangannya dia berdoa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Beliau menjawab: โ€œSufyan memakruhkan hal itu.โ€ (Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 162)

2. Imam Malik Radhiallahu โ€˜Anhu

Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi menceritakan:

ูˆุณุฆู„ ู…ุงู„ูƒ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุงู„ุฑุฌู„ ูŠู…ุณุญ ุจูƒููŠู‡ ูˆุฌู‡ู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ูุฃู†ูƒุฑ ุฐู„ูƒ ูˆู‚ุงู„: ู…ุง ุนู„ู…ุช

Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika berdoa, lalu dia mengingkarinya, dan berkata: โ€œAku tidak tahu.โ€ (Mukhtashar Kitab Al Witri, Hal. 152)

3. Imam Abdullah bin Al Mubarak Radhiallahu โ€˜Anhu

Imam Al Baihaqi meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra:

ุนูŽู„ูู‰ูู‘ ุงู„ู’ุจูŽุงุดูŽุงู†ูู‰ูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุนู’ู†ูู‰ ุงุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ุนูŽู†ู ุงู„ูŽู‘ุฐูู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู…ูŽุณูŽุญูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฌูุฏู’ ู„ูŽู‡ู ุซูŽุจูŽุชู‹ุง. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูู‰ูŒู‘ : ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฑูŽู‡ู ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽู‚ู’ู†ูุชู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฑูู‘ูƒููˆุนู ููู‰ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู

Ali Al Basyani berkata: Aku bertanya kepada Abdullah โ€“yakni Abdullah bin Al Mubarak- tentang orang yang jika berdoa mengusap wajahnya, Beliau berkata: โ€œAku belum temukan riwayat yang kuat.โ€ Ali berkata: โ€œAku tidak pernah melihatnya melakukannya.โ€ Aku melihat Abdullah melakukan qunut setelah ruku dalam witir, dan dia mengangkat kedua tangannya. (As Sunan Al Kubra No. 2970)

Imam Ibnul Mulaqin mengutip dari Imam Al Baihaqi sebagai berikut:

ุซู…ูŽู‘ ุฑูŽูˆูŽู‰ ุจูุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏูู‡ู ุนูŽู† ุงุจู’ู† ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูƒ ุฃูŽู†ู‡ ุณูุฆูู„ูŽ ุนูŽู† ู…ุณุญ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ ุฅูุฐุง ุฏูŽุนูŽุง ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู† ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ู… ุฃุฌุฏ ู„ูŽู‡ู ุดูŽุงู‡ุฏุง . ู‡ูŽุฐูŽุง ุขุฎุฑ ูƒูŽู„ูŽุงู… ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘

Kemudian Beliau (Al Baihaqi) meriwayatkan dengan isnadnya, dari Ibnul Mubarak bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah jika manusia berdoa, Beliau menjawab: โ€œSaya belum temukan syahid-(hal yang menguatkan)nya.โ€ Inilah akhir ucapan Al Baihaqi (Imam Ibnul Mulqin, Al Badrul Munir, 3/640)

4. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu โ€˜Anhu

Imam Ibnul Mulaqin Rahimahullah menuliskan:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ุฏ : ู„ูŽุง ูŠุนุฑู ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽู†ู‡ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠู…ุณุญ ูˆูŽุฌู‡ู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุก ุฅูู„ูŽู‘ุง ุนูŽู† ุงู„ู’ุญุณู†

Berkata Imam Ahmad: โ€œTidak diketahui hal ini, tentang mengusap wajah setelah doa, kecuali dari Al Hasan.โ€ (Ibid, 3/639)

5. Imam Al Baihaqi Rahimahullah

Beliau berkata:

ูุฃู…ุง ู…ุณุญ ุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุงู„ูˆุฌู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ูุฑุงุบ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุก ูู„ุณุช ุฃุญูุธู‡ ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุณู„ู ููŠ ุฏุนุงุก ุงู„ู‚ู†ูˆุช ูˆุฅู† ูƒุงู† ูŠุฑูˆูŠ ุนู† ุจุนุถู‡ู… ููŠ ุงู„ุฏุนุงุก ุฎุงุฑุฌ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ููŠู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุญุฏูŠุซ ููŠู‡ ุถุนู ูˆู‡ูˆ ู…ุณุชุนู…ู„ ุนู†ุฏ ุจุนุถู‡ู… ุฎุงุฑุฌ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู‡ูˆ ุนู…ู„ ู„ู… ูŠุซุจุช ุจุฎุจุฑ ุตุญูŠุญ ูˆู„ุง ุฃุซุฑ ุซุงุจุช ูˆู„ุง ู‚ูŠุงุณ ูุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃู† ู„ุง ูŠูุนู„ู‡ ูˆูŠู‚ุชุตุฑ ุนู„ู‰ ู…ุง ูุนู„ู‡ ุงู„ุณู„ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ู…ู† ุฑูุน ุงู„ูŠุฏูŠู† ุฏูˆู† ู…ุณุญู‡ู…ุง ุจุงู„ูˆุฌู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚

Ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai doa, maka tak ada satu pun yang saya hafal dari kalangan salaf yang melakukan pada doa qunut, kalau pun ada adalah riwayat dari mereka pada doa di luar shalat. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam hadits dhaif tentang masalah ini. Sebagian mereka menggunakan hadits ini untuk berdoa di luar shalat, ada pun dalam shalat itu adalah perbuatan yang tidak dikuatkan oleh riwayat yang shahih, tidak pula atsar yang kuat, dan tidak pula qiyas. Maka, yang lebih utama adalah tidak melakukannya, dan hendaknya mencukupkan dengan apa yang dilakukan para salaf โ€“Radhiallahu โ€˜Anhum- berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah dalam shalat. Wa billaahit taufiq. (As Sunan Al Kubra No. 2968)

6. Imam โ€˜Izzuddin bin โ€˜Abdissalam Rahimahullah

Imam Al Munawi Rahimahullah menyebutkan dari Imam โ€˜Izzuddin bin Abdissalam, kata Beliau:

ู„ุง ูŠู…ุณุญ ูˆุฌู‡ู‡ ุฅู„ุง ุฌุงู‡ู„

Tidak ada yang mengusap wajah melainkan orang bodoh. (Faidhul Qadir, 1/473. Lihat juga Mughni Muhtaj, 2/360)

7. Imam An Nawawi Rahimahullah

Imam An Nawawi menyatakan yang benar adalah berdoa mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, berikut ini ucapannya:

ูˆุงู„ุญุงุตู„ ู„ุงุตุญุงุจู†ุง ุซู„ุงุซุฉ ุฃูˆุฌู‡ (ุงู„ุตุญูŠุญ) ูŠุณุชุญุจ ุฑูุน ูŠุฏูŠู‡ ุฏูˆู† ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ (ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ) ู„ุง ูŠุณุชุญุจุงู† (ูˆุงู„ุซุงู„ุซ) ูŠุณุชุญุจุงู† ูˆุฃู…ุง ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุฌู‡ ู…ู† ุงู„ุตุฏุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ูุงุชูู‚ ุฃุตุญุงุจู†ุง ุนู„ูŠ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุณุชุญุจ ุจู„ ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ุตุจุงุบ ูˆุบูŠุฑู‡ ู‡ูˆ ู…ูƒุฑูˆู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

Kesimpulannya, para sahabat kami (Syafiโ€™iyah) ada tiga pendapat; (yang shahih) disunnahkan mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, (kedua) tidak disunnahkan keduanya, (ketiga) disunnahkan keduanya. Ada pun selain wajah, seperti dada dan selainnya, para sahabat kami sepakat bahwa hal itu tidak dianjurkan, bahkan Ibnu Ash Shabagh mengatakan hal itu makruh. Wallahu Aโ€™lam (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/501)

8. Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau berkata:

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุฑูŽูู’ุนู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกู: ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽุงุกูŽ ูููŠู‡ู ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉูŒ ุตูŽุญููŠุญูŽุฉูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽุณู’ุญูู‡ู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ุจููŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠู‡ู ุฅู„ูŽู‘ุง ุญูŽุฏููŠุซูŒุŒ ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุฏููŠุซูŽุงู†ูุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุจูู‡ูู…ูŽุง ุญูุฌูŽู‘ุฉูŒุŒ ูˆูŽุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู

Ada pun Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangan ketika berdoa, hal itu telah diterangkan dalam banyak hadits shahih, sedangkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, maka tidak ada yang menunjukkan hal itu kecuali satu hadits atau dua hadits yang keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Wallahu Aโ€™lam (Al Fatawa Al Kubra, 2/219, Majmuโ€™ Al Fatawa, 22/519, Iqamatud Dalil โ€˜Ala Ibthalit Tahlil, 2/408)

9. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah

Berikut fatwa ini Beliau:

ุงู„ุณุคุงู„: ุฐูƒุฑุชู… ุญูƒู… ุฑูุน ุงู„ูŠุฏูŠู† ููŠ ุงู„ุฏุนุงุกุŒ ูู…ุง ุงู„ู‚ูˆู„ ููŠ ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจู‡ู…ุงุŸ ุงู„ุฌูˆุงุจ: ู„ู… ูŠุซุจุชุŒ ูˆู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ููŠู‡ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุถุนูŠูุฉุŒ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ุชุฑูุน ุงู„ุฃูŠุฏูŠ ุซู… ุชู†ุฒู„ ุจุฏูˆู† ู…ุณุญ

Pertanyaan:

Anda telah menyebutkan hukum tentang mengangkat kedua tangan ketika doa, lalu apa pendapat Anda tentang mengusap wajah dengan keduanya?

Jawaban:

Tidak shahih, hadits-hadits yang ada tentang hal itu adalah lemah, dan sunnahnya adalah Anda mengangkat kedua tangan kemudian menurunkannya dengan tanpa mengusap wajah. (Syarh Sunan Abi Daud, 15/145)

Pada halaman lain juga tertulis demikian:

ุงู„ุณุคุงู„: ู‡ู„ ู†ู†ูƒุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠู…ุณุญ ูˆุฌู‡ู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุกุŸ ุงู„ุฌูˆุงุจ: ู„ู… ุชุฑุฏ ููŠ ู‡ุฐุง ุณู†ุฉ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ููŠุจูŠู† ู„ู…ู† ูŠุนู…ู„ ุฐู„ูƒ ุฃู†ู‡ ู…ุง ุซุจุช ููŠ ู‡ุฐุง ุดูŠุกุŒ ุฅู†ู…ุง ุงู„ุซุงุจุช ู‡ูˆ ุฑูุน ุงู„ูŠุฏูŠู†ุŒ ูˆุฃู…ุง ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ูู‚ุฏ ูˆุฑุฏุช ููŠู‡ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุถุนูŠูุฉ

Pertanyaan:

Apakah kita mesti mengingkari orang yang mengusap wajahnya setelah berdoa?

Jawaban:

Tidak ada sunah yang valid dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tentang masalah ini, maka hendaknya dijelaskan kepada orang yang melakukannya bahwa hal itu tidak ada satu pun yang kuat haditsnya. Yang kuat adalah mengangkat kedua tangan, ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa telah ada hadits-hadits lemah yang membicarakannya. (Ibid, 15/474)

10. Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah

Beliau berkata:

ูˆุฃู…ุง ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุนู‚ุจ ุงู„ุฏุนุงุก ูู„ู… ูŠุซุจุช ููŠู‡ ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ุŒ ุจู„ ุฅู† ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ู†ุตูˆุง ุนู„ู‰ ุจุฏุนูŠุชู‡ ุงู†ุธุฑ ู…ุนุฌู… ุงู„ุจุฏุน (ุต 227)

ูู„ุง ุชูุนู„ ุฃู†ุช ุงู„ุจุฏุนุฉ ูˆู„ุง ุชูุดุงุฑูƒ ููŠู‡ุง ูˆู„ูƒู† ุงู†ุตุญ ูˆุฃู…ุฑ ุจุงู„ุณู†ู‘ุฉ ูˆุฐูƒู‘ุฑ ุงู„ู†ู‘ุงุณ ูˆุฃุฎุจุฑู‡ู… ุจุงู„ุญูƒู… ุงู„ุดู‘ุฑุนูŠ

Ada pun mengusap wajah setelah berdoa, tidak ada hadits kuat lagi shahih tentang hal itu, bahkan sebagian ulama ada yang menyebutkan bidโ€™ahnya hal itu. Lihat Muโ€™jam Al Bidaโ€™ (Hal. 227).

Maka, jangan Anda lakukan bidโ€™ah, dan jangan berpartisipasi di dalamnya, tetapi hendaknya menasihatkan dan memerintahkan dengan sunah, serta mengingatkan manusia dan mengabarkan mereka terhadap hukum-hukum syarโ€™i. (Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Hal. 5538)

11. Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah

Beliau berkata:

ูˆุฃู…ุง ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ูู…ุณุฃู„ุฉ ุฎู„ุงููŠุฉ ุจูŠู† ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ู…ู†ู‡ู… ู…ู† ุงุณุชุญุจู‡ ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู…ู†ุนู‡ุŒ ูˆุงู„ุฃู…ุฑ ูˆุงุณุน ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆุฅู† ูƒู†ุง ู†ุฑุฌุญ ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ูˆุฑุน ุนุฏู… ุงู„ู…ุณุญุŒ ู„ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏ ููŠ ุงู„ู…ุณุญ ู„ุง ูŠุฎู„ูˆ ู…ู† ูƒู„ุงู…ุŒ ูˆู„ุนุฏู… ุงุดุชู‡ุงุฑ ุฐู„ูƒ ุนู†ุฏ ุงู„ุณู„ู. ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

Ada pun mengusap wajah setelah doa, maka ini adalah persoalan yang diperselisihkan para ulama. Di antara mereka ada yang menyunahkannya dan ada pula yang melarangnya. Dan, masalah ini adalah masalah yang lapang. Sedangkan kami menguatkan diri sisi kehati-kehatian untuk tidak mengusap, karena hadits-hadits yang ada dalam masalah ini tidak kosong dari perbincangan para ulama, serta tidak ada yang masyhur dari kalangan salaf yang melakukan hal ini. Wallahu Aโ€™lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 36932)

12. Fatwa Syaikh Abdurrazzaq โ€˜Afifi Rahimahullah

Berikut ini fatwanya:

ุณุฆู„ ุงู„ุดูŠุฎ : ู…ุง ุญูƒู… ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุงู†ุชู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุก ูˆู‡ู„ ูˆุฑุฏ ููŠู‡ ุญุฏูŠุซ ุนู† ุงู„ู†ุจู‰ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุŸ

ูู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ โ€“ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ โ€“ : ู„ูŠุณ ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ู…ู† ุงู„ุณู†ุฉ ุจู„ ู‡ูˆ ุจุฏุนุฉ ู„ุงู† ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุนู‚ุจ ุฏุนุงุก ูŠุนุชุจุฑ ู†ุณูƒ ูˆุนุจุงุฏุฉ ูˆู‡ูˆ ู„ู… ูŠุซุจุช ุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุนู„ู‡ ููŠูƒูˆู† ุจุฏุนุฉ ูู‰ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุฐู‰ ูˆุฑุฏ ูู‰ ู‡ุฐุง ุถุนูŠู ูˆู„ู… ูŠุตุญ

Syaikh ditanya: Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, apakah ada hadits Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tentang ini?

Syaikh Rahimahullah menjawab:

Mengusap wajah setelah berdoa bukan termasuk sunah, bahkan itu adalah bidโ€™ah, karena mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa telah dianggap sebagai ibadah. Hal itu tidak ada yang shahih dilakukan oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, maka itu adalah bidโ€™ah dalam agama. Sedangkan hadits yang membicarakan ini adalah lemah dan tidak shahih. (Fatawa Asy Syaikh Abdurrazzaq โ€˜Afifi, Hal. 315)

13. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Wail At Tuwaijiri

Beliau berkata:

ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ูˆุฑุฏ ููŠู‡ ุฃุญุงุฏูŠุซุŒ ูˆุฑุฌุงู„ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ุทุนู†ูˆุง ููŠู‡ุงุŒ ูู‡ูŠ ู„ุง ุชุฑุชู‚ูŠ ุฅู„ู‰ ุฏุฑุฌุฉ ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ุงุŒ ูˆูŠุจู‚ู‰ ุงู„ุฃู…ุฑ ุนู„ู‰ ู…ุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃุตู„ ููŠู‡ ูˆู‡ูˆ ุนุฏู… ุงู„ู…ุณุญุ› ู„ุฃู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุญ ู„ูŠุณุช ุจุตุญูŠุญุฉุŒ ูˆู„ุง ุชุฑุชู‚ูŠ ุฅู„ู‰ ุฏุฑุฌุฉ ุงู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡ุง. ุงู†ุธุฑ ู…ุซู„ุงู‹ ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ (1485)ุŒ ูˆุงุจู† ู…ุงุฌุฉ (1181) ู…ู† ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนุจุงุณ -ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง- ุจุฅุณู†ุงุฏ ุถุนูŠู

Telah datang sejumlah hadits tentang mengusap wajah setelah doa, dan para ulama Al Jarh wat Taโ€™dil telah mengkritiknya, sehingga hadits tersebut tidak terangkat mencapai derajat yang layak diamalkan, jadi masalah ini dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu tidak mengusap wajah, karena hadits-hadits tentang mengusap wajah tidak ada yang shahih, dan tidak terangkat sampai derajat yang bisa dijadikan hujjah. Lihat misalnya riwayat Abu Daud (1485), Ibnu Majah (1181) dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, dengan isnad yang dhaif. (Fatawa Istisyaraat Al Islam Al Yaum, 14/224)

Para Ulama Yang Membolehkan dan Menyunahkan

1. Sahabat nabi, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubeir Radhiallahu โ€˜Anhuma

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad:

ุนู† ุฃุจู‰ ู†ุนูŠู… ูˆู‡ูˆ ูˆู‡ุจ ู‚ุงู„ : ุฑุฃูŠุช ุจู† ุนู…ุฑ ูˆุจู† ุงู„ุฒุจูŠุฑ ูŠุฏุนูˆุงู† ูŠุฏูŠุฑุงู† ุจุงู„ุฑุงุญุชูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุฌู‡

Dari Abu Nuโ€™aim โ€“dia adalah Wahb, berkata: โ€œAku melihat Ibnu Umar dan Ibnu Az Zubeir mereka mengusap wajah dengan telapak tangannya.โ€ (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 609. Dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Amali Al Adzkar. Lihat Al Fatawa Al Haditsiyah, Hal. 55. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Dhaif Adabil Mufrad No. 609)

2. Imam Al Hasan bin Abil Hasan Radhiallahu โ€˜Anhu

Disebutkan dalam Mukhtashar Kitab Al Witr:

ูˆุนู† ุงู„ู…ุนุชู…ุฑ ุฑุฃูŠุช ุฃุจุง ูƒุนุจ ุตุงุญุจ ุงู„ุญุฑูŠุฑ ูŠุฏุนูˆ ุฑุงูุนุง ูŠุฏูŠู‡ ูุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู† ุฏุนุงุฆู‡ ูŠู…ุณุญ ุจู‡ู…ุง ูˆุฌู‡ู‡ ูู‚ู„ุช ู„ู‡ ู…ู† ุฑุฃูŠุช ูŠูุนู„ ู‡ุฐุง ูู‚ุงู„ ุงู„ุญุณู†

Dari Al Muโ€™tamar: aku melihat Abu Kaโ€™ab pengarang Al Harir berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, lalu ketika dia selesai berdoa, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu aku bertanya kepadanya: โ€œSiapa orang yang kau lihat melakukan ini?โ€ Beliau menjawab: โ€œAl Hasan.โ€ (Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi, Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 152)

Imam As Suyuthi mengatakan: โ€œisnadnya hasan.โ€ (Lihat Fadhul Wiโ€™a, No. 59)

3. Imam Ishaq bin Rahawaih Radhiallahu โ€˜Anhu

Beliau termasuk yang menganggap baik menggunakan hadits-hadits tentang mengusap wajah setelah doa sebagai dalilnya. Berikut ini keterangannya:

ู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ู†ุตุฑ ูˆุฑุฃูŠุช ุฅุณุญุงู‚ ูŠุณุชุญุณู† ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ

Berkata Muhammad bin Nashr: Aku melihat Ishaq menganggap baik beramal dengan hadits-hadits ini. (Ibid)

4. Imam Al Khathabi Rahimahullah

Beliau mengomentari perkataan yang menyebut โ€œbodohโ€ orang yang mengusap wajah setelah berdoa, katanya:

ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ูููŠ ููŽุชูŽุงูˆููŠู‡ู : ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽู…ู’ุณูŽุญู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ุจููŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽู‚ูุจูŽ ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฌูŽุงู‡ูู„ูŒ ุŒ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุทูŽู‘ู„ูุนู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฃู’ุญูŽุงุฏููŠุซู

Pendapat sebagian fuqaha dalam fatwa mereka adalah tidaklah mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berdoa melainkan orang bodoh, bisa jadi bahwa dia belum menelaah masalah ini dalam banyak hadits. (Al Futuhat Ar Rabbaniyah โ€˜Alal Adzkar, 7/258)

5. Imam Az Zarkasyi Rahimahullah

Beliau juga mengomentari perkataan Imam โ€˜Izzuddin bin Abdissalam dengan komentar yang mirip dengan Imam Al Khathabi. Katanya:

ูˆุฃู…ุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุนุฒ ููŠ ูุชุงูˆูŠู‡ ุงู„ู…ูˆุตู„ูŠุฉ: ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏ ุจุฏุนุฉ ููŠ ุงู„ุฏุนุงุก ู„ุง ูŠูุนู„ู‡ ุฅู„ุง ุฌุงู‡ู„, ูู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุทู„ุน ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆู‡ูŠ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุฃุณุงู†ูŠุฏู‡ุง ู„ูŠู†ุฉ ู„ูƒู†ู‡ุง ุชู‚ูˆู‰ ุจุงุฌุชู…ุงุน ุทุฑู‚ู‡ุง

Ada pun perkataan Al โ€˜Izz dalam fatwanya: mengusap wajah dengan tangan adalah bidโ€™ah dalam doa, dan tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh, maka dimungkinkan bahwa dia belum mengkaji hadits-hadits yang berkenaan masalah ini, walaupun sanad-sanadnya lemah tetapi menjadi kuat dengan mengumpulkan banyak jalurnya. (Al Juzโ€™u fi mashil wajhi, Hal. 26)

6. Imam Amir Ash Shanโ€™ani Rahimahullah

Beliau berkata:

ูˆุนู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: โ€œูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ู…ุฏ ูŠุฏูŠู‡ ููŠ ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู… ูŠุฑุฏู‡ู…ุง ุญุชู‰ ูŠู…ุณุญ ุจู‡ู…ุง ูˆุฌู‡ู‡โ€ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆู„ู‡ ุดูˆุงู‡ุฏ ู…ู†ู‡ุง ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุนู†ุฏ ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆู…ุฌู…ูˆุนู‡ุง ูŠู‚ุถูŠ ุจุฃู†ู‡ ุญุฏูŠุซ ุญุณู† ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ูุฑุงุบ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุก

Dari Umar Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya: โ€œDahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, dia tidak akan mengembalikannya sampai mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.โ€ Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan memiliki beberapa syawahid (saksi penguat), di antaranya adalah hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya. Kumpulan semuanya mencukupi hadits ini dihukumi hasan. Pada hadits ini terdapat dalil disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah selesai shalat. (Subulus Salam, 4/219, Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

7. Lajnah Ulama penyusun kitab Al Fatawa Al Hindiyah

Mereka mengatakan:

ู‚ููŠู„ ู…ูŽุณู’ุญู ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ุŒ ูˆูŽูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุดูŽุงูŠูุฎูู†ูŽุง ุงุนู’ุชูŽุจูŽุฑููˆุง ู…ูŽุณู’ุญูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽ ูˆูŽุจูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุจูŽุฑู

Dikatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bukan apa-apa. Banyak guru-guru kami yang menyebutkan bahwa mengusap kedua tangan adalah benar adanya, dan telah ada riwayat tentang itu. (Al Fatawa Al Hindiyah, 5/318)

8. Syaikh Abul โ€˜Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullah

Beliau berkata dalam kitabnya Tuhfah Al Ahwadzi:

ุฃูŠ ู„ู… ูŠุถุนู‡ู…ุง ( ุญุชู‰ ูŠู…ุณุญ ุจู‡ู…ุง ูˆุฌู‡ู‡ ) ู‚ุงู„ ุจู† ุงู„ู…ู„ูƒ ูˆุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ุชูุงุคู„ ููƒุฃู† ูƒููŠู‡ ู‚ุฏ ู…ู„ุฆุชุง ู…ู† ุงู„ุจุฑูƒุงุช ุงู„ุณู…ุงูˆูŠุฉ ูˆุงู„ุฃู†ูˆุงุฑ ุงู„ุฅู„ู‡ูŠุฉ

Yaitu Beliau tidak meletakkan kedua tangannya (sampai Beliau mengusap wajahnya dengan keduanya) berkata Ibnul Malak hal itu menunjukkan rasa optimis yang kuat seakan kedua telapak tangannya telah dipenuhi oleh keberkahan dari langit dan cahaya ketuhanan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/232. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

9. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah:

Fatwa pertama:

ูˆุงู„ุณุคุงู„ ู‡ูˆ : ู…ุง ุญูƒู… ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ูˆุฎุงุตุฉ ุจุนุฏ ุฏุนุงุก ุงู„ู‚ู†ูˆุช ูˆุจุนุฏ ุงู„ู†ูˆุงูู„ ุŸ ุญูุธูƒู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃุซุงุจูƒู… ุŒ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

ุฌ : ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡.

ุจุนุฏู‡ : ุญูƒู…ู‡ ุฃู†ู‡ ู…ุณุชุญุจ ุ› ู„ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ุญุงูุธ ููŠ ุงู„ุจู„ูˆุบ ููŠ ุจุงุจ ุงู„ุฐูƒุฑ ูˆุงู„ุฏุนุงุก ุŒ ูˆู‡ูˆ ุขุฎุฑ ุจุงุจ ููŠ ุงู„ุจู„ูˆุบ ุฃู†ู‡ ูˆุฑุฏ ููŠ ุฐู„ูƒ ุนุฏุฉ ุฃุญุงุฏูŠุซ ู…ุฌู…ูˆุนู‡ุง ูŠู‚ุถูŠ ุจุฃู†ู‡ ุญุฏูŠุซ ุญุณู† ุŒ ูˆูู‚ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฌู…ูŠุน ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู….

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa, khususnya setelah doa qunut dan setelah nawafil (shalat sunah)? Semoga Allah menjaga dan memberikan ganjaran buat Anda. Wassalamu โ€˜Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Jawaban:

Wa โ€˜Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Hukumnya adalah sunah, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam Bulughul Maram pada Bab Adz Dzikr wad Duโ€™a, yaitu pada bab terakhir kitab Bulughul Maram, bahwasanya terdapat beberapa hadits tentang itu yang jika dikumpulkan semuanya mencapai derajat hasan. Semoga Allah memberi taufiq. Wassalamu โ€˜Alaikum.

(Lihat Majmuuโ€™ Fatawaa Ibni Baaz, 26/148)

Fatwa kedua: (Jawaban Syaikh Ibnu Baaz agak berbeda dengan fatwa pertama)

ูˆุฃู…ุง ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ูู„ู… ูŠุญูุธ ููŠ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉุŒ ูˆู„ูƒู† ุฌุงุก ููŠ ุฃุญุงุฏูŠุซู‡ุง ุถุนู ูุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุจุฃู†ู‡ ู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ุฐู„ูƒุ› ู„ุฃู†ู‡ุง ูŠุดุฏ ุจุนุถู‡ุง ุจุนุถุง ุŒ ูˆูŠู‚ูˆูŠ ุจุนุถู‡ุง ุจุนุถุง ุฅุฐุง ู…ุณุญู‡ุŒ ูู„ุง ุจุฃุณุŒ ู„ูƒู† ุงู„ุฃูุถู„ ูˆุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุชุฑูƒุ› ู„ุฃู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ู…ุณุญ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก

Ada pun mengusap wajah, tidak ada yang terekam dalam hadits-hadits shahih, tetapi adanya dalam hadits-hadits dhaif. Pendapat sebagian ulama adalah bahwa hal itu tidak terlarang, karena hadits tersebut satu sama lain saling menguatkan, jadi jika dia mengusapnya tidak apa-apa, tetapi lebih utama dan pertama adalah meninggalkannya, karena hadits-hadits shahih tidak menyebutkan mengusap wajah setelah doa. (Lihat Majmuuโ€™ Fatawaa Ibni Baaz, 30/43-44)

Sebelumnya beliau menyatakan sunah, namun yang ini menyatakan tidak apa-apa, tetapi lebih baik ditinggalkan.

10. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

Fatwa pertama:

ู‡ู„ ูŠุณู† ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ุฃู… ุฃู† ู‡ุฐุง ุจุฏุนุฉุŸ

ูุฃุฌุงุจ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ุงุฎุชู„ู ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ู‡ุฐุง ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„ ุฅู†ู‡ ูŠู†ุจุบูŠ ุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุก ูˆู‡ูˆ ุฑุงูุนูŒ ูŠุฏูŠู‡ ุฃู† ูŠู…ุณุญ ุจู‡ู…ุง ูˆุฌู‡ู‡ ูˆุงุณุชุฏู„ูˆุง ุจุญุฏูŠุซ ุถุนูŠู ู„ูƒู† ู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ ุทุฑู‚ูŒ ูŠู‚ูˆูŠ ุจุนุถู‡ุง ุจุนุถุงู‹ ูˆู…ุฌู…ูˆุนู‡ุง ูŠู‚ุถูŠ ุจุฃู†ู‡ ุญุฏูŠุซูŒ ุญุณู† ูˆู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ู† ู‚ุงู„ ุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู…ุณุญ ูˆุฌู‡ู‡ ุจูŠุฏูŠู‡ ูˆุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ููŠ ู‡ุฐุง ุถุนูŠูุฉ ููŠูƒูˆู† ู…ุณุญู‡ ุจูŠุฏูŠู‡ ุจุฏุนุฉ ูˆุฅู„ู‰ ู‡ุฐุง ุฐู‡ุจ ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุงุจู† ุชูŠู…ูŠุฉ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃุฑู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ู…ุณุญ ูˆู„ุง ูŠุคู…ุฑ ุจู…ุณุญ ู…ู† ู„ู… ูŠู…ุณุญ

Apakah disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa ataukah itu perbuatan bidโ€™ah?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang menganjurkan jika selesai doa dan dia dalam keadaan mengangkat kedua tangannya, hendaknya mengusap wajahnya dengan keduanya. Mereka berdalil dengan hadits dhaif tetapi Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut memiliki beberapa jalan yang saling menguatkan satu sama lain, dan kumpulan semuanya telah mencukupi hadits itu menjadi hasan.

Di antara ulama ada yang mengatakan tidak usah mengusap wajah dengan kedua tangan, dan hadits-hadits dalam masalah ini dhaif, maka mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bidโ€™ah. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Saya berpendapat hendaknya jangan diingkari orang yang mengusap wajahnya, dan tidak pula diperintahkan untuk mengusap wajah bagi orang yang tidak mengusapnya. (Selesai fatwa pertama).

Fatwa kedua:

ู…ุง ุญูƒู… ู…ุณุญ ุงู„ูŠุฏูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุกุŸ

ูุฃุฌุงุจ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ุงู„ุตุญูŠุญ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุณู† ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจู‡ู…ุง ู„ุฃู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ุฐู„ูƒ ุถุนูŠูุฉ ุฌุฏุง ู„ุง ุชู‚ูˆู… ุจู‡ุง ุญุฌุฉ ูˆู„ุง ูŠู„ุชุฆู… ุจุนุถู‡ุง ุจุจุนุถ ูุงู„ุตูˆุงุจ ุฃู† ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุก ู„ูŠุณ ุจุณู†ุฉ ูˆู„ูƒู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู„ุง ูŠูุนู„ู‡ ูˆู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ูุนู„ู‡ ู„ุฃู† ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงุณุชุญุจู‡

Apakah hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Yang benar adalah tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan, karena hadits-hadits yang berkenaan hal itu sangat lemah (dhaif jiddan). Tidak bisa berhujjah dengannya dan tidak dapat dikumpulkan satu sama lainnya. Jadi, yang benar adalah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa adalah bukan sunah. Tetapi manusia tidak melakukannya, dan jangan diingkari orang yang melakukannya, karena sebagian ulama ada yang menyunahkannya. (selesai fatwa kedua)

(Lihat keduanya dalam Fatawaa Nuur โ€˜Alad Darb Lil Utsaimin, Kitab Fatawa Mutafariqaat, Bab Ad Duโ€™a, Hal. 50)

Fatwa ketiga:

ุงู„ุณุคุงู„

ู…ุง ุญูƒู… ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฏุนุงุกุŸ

ุงู„ุฌูˆุงุจ

ูŠุฑู‰ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ุณู†ุฉุŒ ูˆูŠุฑู‰ ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ุจุฏุนุฉุŒ ูˆู‡ุฐุง ุจู†ุงุกู‹ ุนู„ู‰ ุตุญุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏ ููŠ ู‡ุฐุงุŒ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏ ููŠ ู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… : ุฅู†ู‡ ู…ูˆุถูˆุน.

ูŠุนู†ูŠ: ู…ูƒุฐูˆุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….

ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃุฑู‰ ููŠ ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ: ุฃู† ู…ู† ู…ุณุญ ู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆู…ู† ู„ู… ูŠู…ุณุญ ู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฃู‚ุฑุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู†ุฉ ู…ู…ู† ู…ุณุญ.

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban:

Sebagian ulama berpendapat hal itu sunah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat itu adalah bidโ€™ah. Perbedaan ini terjadi karena terkait keshahihan hadits yang ada tentang masalah ini. Hadits yang ada menurut Syaikhul Islam adalah palsu (maudhuโ€™), yakni dusta atas nama Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Saya berpendapat dalam masalah ini bahwa mengusap wajah jangan diingkari, dan orang yang tidak mengusap wajah juga jangan diingkari, inilah sikap yang lebih dekat dengan sunah terhadap orang yang mengusap wajahnya. (Selesai fatwa ketiga)

(Lihat Liqaaโ€™ Al Baab Al Maftuuh, 197/27)

11. Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Rahimahullah

Beliau berkata ketika ditanya hukum mengusap wajah setelah berdoa:

ุฃู…ุง ู…ุณุฃู„ุฉ ู…ุณุญ ุงู„ูˆุฌู‡ ูู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ููŠู‡ุง ุฃุญุงุฏูŠุซ ู„ุง ุชุฎู„ูˆ ู…ู† ู…ู‚ุงู„ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ุฌู…ูˆุนู‡ุง ุญุณู†ุงู‹ุŒ ูู‚ุฏ ุญุณู†ู‡ุง ุงู„ุญุงูุธ ุงุจู† ุญุฌุฑ ุŒ ุจู…ุฌู…ูˆุนู‡ุง ู„ุง ุจุฃูุฑุงุฏู‡ุงุŒ ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุญุงูุธ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ุฅู†ู‡ุง ุชุจู„ุบ ุฏุฑุฌุฉ ุงู„ุญุณู† ูƒู…ุง ู†ุจู‡ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ููŠ ุขุฎุฑ ุจู„ูˆุบ ุงู„ู…ุฑุงู…ุŒ ู„ูƒู† ูˆุฑุฏ ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ุง ุนู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุนู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ูˆุนู† ุงู„ุชุงุจุนูŠู† ูˆุนู„ู…ุงุก ุงู„ุฃู…ุฉุŒ ููˆุฑุฏ ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ูŠุฑูุนูˆู† ุฃูŠุฏูŠู‡ู… ุซู… ูŠู…ุณุญูˆู† ุจู‡ุง ูˆุฌูˆู‡ู‡ู…ุŒ ูุฃุตุจุญ ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ุง ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ู… ุชุฃูƒุฏูˆุง ู…ู† ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ุฐู„ูƒ

Adapun pertanyaan tentang mengusap wajah, telah terdapat beberapa hadits tentang hal itu namun tidak sepi dari pembicaraan ulama, yang jika semuanya dikumpulkan hadits tersebut menjadi hasan. Al Hafizh Ibnu Hajar telah menghasankannya, dengan terkumpulnya hadits itu bukan secara satu-satu. Berkata Al Hafizh Rahimahullah: โ€œSesungguhnya hadits tersebut telah sampai derajat hasan,โ€ sebagaimana yang Beliau kabarkan pada akhir kitab Bulughul Maram. Namun, telah sampai kabar bahwa hal itu dilakukan oleh para sahabat, para imam, para tabiโ€™in, dan ulama umat. Telah warid (datang) berita bahwa mereka mengangkat kedua tangan lalu mengusap wajah mereka dengan kedua tangan mereka. Maka, para sahabat telah melakukan perbuatan ini, dan itu menjadi dalil bahwa mereka menguatkan disyariatkannya perbuatan ini. (Syarh โ€˜Umdatul Ahkam, 21/37)

Demikian. Semoga bermanfaat.

Wa Shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammadin wa โ€˜Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Agungkan Allah Ketika Ruku dan Sujud

Sujud Sahwi; Apa dan Bagaimana?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Definisi (Tarif)

Secara bahasa (etimologi), sahwi diambil dari kata sahaa ย yashuu โ€“ sahwan ย suhuwwan artinya lupa, lalai. Sahaa fil amri artinya lupa terhadap sesuatu.

Secara istilah (terminologi), sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dikerjakan karena lupa terhadap suatu hal penting dalam shalat.

Kaifiyat (cara)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูƒูŠููŠุชู‡: ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ ุณุฌุฏุชุงู† ูŠุณุฌุฏู‡ู…ุง ุงู„ู…ุตู„ูŠ ู‚ุจู„ ุงู„ุชุณู„ูŠู… ุฃูˆ ุจุนุฏู‡

Caranya: sujud sahwi sebanyak dua kali sujud dilakukan oleh orang yang shalat sebelum salam atau sesudahnya. (Fiqhus Sunnah, 1/225)

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pada sujud sahwi terdapat tasyahud dan salam atau tidak. Atau tanpa tasyahud tapi dengan salam? Atau dibedakan antara sebelum salam dan sesudahnya? Atau bagaimanakah ..?

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah meringkas perbedaan tersebut sebagai berikut:

ูˆุงุฎุชู„ููˆุง ููŠ ุงู„ุชุดู‡ุฏ ููŠ ุณุฌุฏุชูŠ ุงู„ุณู‡ูˆ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ู…ู†ู‡ู…ุง ูู‚ุงู„ุช ุทุงุฆูุฉ ู„ุง ุชุดู‡ุฏ ููŠู‡ู…ุง ูˆู„ุง ุชุณู„ูŠู… ูˆุฑูˆูŠ ุฐู„ูƒ ุนู† ุฃู†ุณ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุญุณู† ุงู„ุจุตุฑูŠ ูˆุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ุนุทุงุก ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠุŒูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ู„ุฃู† ุงู„ุณุฌูˆุฏ ูƒู„ู‡ ุนู†ุฏู‡ู…ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุณู„ุงู… ูู„ุง ูˆุฌู‡ ู„ุฅุนุงุฏุฉ ุงู„ุชุดู‡ุฏ ุนู†ุฏู‡ู…ุง ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ุนู† ุนุทุงุก ุฅู† ุดุงุก ุชุดู‡ุฏ ูˆุณู„ู… ูˆุฅู† ุดุงุก ู„ู… ูŠูุนู„.
ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู† ูŠุชุดู‡ุฏ ููŠู‡ู…ุง ู„ุง ูŠุณู„ู… ู‚ุงู„ู‡ ูŠุฒูŠุฏ ุจู† ู‚ุณูŠุท ูˆุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ุงู„ุญูƒู… ูˆุญู…ุงุฏ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ูˆุงู„ุญูƒู… ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃูƒุซุฑ ุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุงู„ู„ูŠุซ ุจู† ุณุนุฏ ูˆุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุตุญุงุจู‡. ูˆู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ุฅู† ุณุฌุฏ ู‚ุจู„ ุงู„ุณู„ุงู… ู„ู… ูŠุชุดู‡ุฏ ูˆุฅู† ุณุฌุฏ ุจุนุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ุชุดู‡ุฏ ูˆุจู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฑูˆูŠ ุฃูŠุถุง ุนู† ู…ุงู„ูƒ.
ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูŠุณู„ู… ู…ู†ู‡ู…ุง ูˆู„ุง ูŠุชุดู‡ุฏ ููŠู‡ู…ุง

Mereka berbeda pendapat tentang bertasyahud dan salam pada dua sujud sahwi. Sekelompok ulama mengatakan tidak ada tasyahud dan tidak ada salam, pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan riwayat dari Atha, dan ini merupakan pendapat Al Auzai dan Asy Syafii, karena menurut mereka berdua semua sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak ada alasannya mengulangi tasyahud bagi dua sujud itu. Diriwayatkan dari Atha: jika mau silahkan tasyahud dan salam, jika tidak maka jangan lakukan.

Ulama lain berpendapat, tasyahud dilakukan pada dua sujud itu namun tidak salam, ini pendapat Zaid bin Qasith, dan merupakan riwayat dari Al Hakam, Hammad, An Nakhai, Qatadah, dan ini pendapat Malik dan kebanyakan para sahabatnya, ย Al Laits bin Saad, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Berkata Ahmad bin Hambal, jika sujudnya sebelum salam maka tidak ada tasyahud, jika sujudnya sesudah salam maka bertasyahud. Dengan ini pula pendapat segolongan ulama dari sahabat Malik, dan diriwayatkjan dari Malik pula. Ibnu Sirin mengatakan: salam pada kedua sujud itu tapi tanpa tasyahud. ย (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 10/207-208)

Apa yang dibaca ketika sujud sahwi?

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู‡ููˆ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู…ู

Subhana man laa yashuu wa laa yanaam โ€“ Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk ย madzhab Hanafi dan syafii seperti:

Madzhab Hanafi
Imam Ahmad bin Muhamamd bin Ismail Ath Thahawi, Miraqi Al Falah, Hal. 298

Madzhab Syafii
Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 1/315
Imam Sulaiman bin Muhammad Al Bujirumi, Hasyiyah Al Bujirumi Alal Minhaj, 3/106.
Imam Zakariya Al Anshari, ย Asna Al Mathalib, 3/156.
Imam Ar Rafii, Syarh Al Kabir, 4/180.
Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 7/136.
Imam Sulaiman bin Umar Al Jumal, Hasyiyah Al Jumal, 4/236.
Imam Syihabudin Al Qalyubi dan Imam Ahmad Amirah, Hasyiyah ย Qalyubi wa Amirah, 3/97
Imam Ibnu Ruslan, Syarh Kitab Ghayah Al Bayan, 1/ 209
Imam Zainuddin Al Malibari, Fathul Muin, 1/97
Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 3/93
Imam Syihabuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5/233

Namun bacaan ini tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:

ู„ุง ูŠุตุญ ุชู‚ูŠูŠุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ุชุณุจูŠุญ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ

Tidak benar mengkaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Muโ€™jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:

ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุณูŽู…ูุนู’ุช ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ูŠูŽุญู’ูƒููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุณู’ุชูŽุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ูููŠู‡ูู…ูŽุง ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู‡ููˆ ุฃูŽูŠู’ ูููŠ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ูˆู ู‚ูู„ู’ุช ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฌูุฏู’ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ู‹ุง

Ucapannya (Ar Rafiโ€™i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.โ€ (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan faraaj:

ูˆุงู„ุตูˆุงุจ: ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ ู…ุซู„ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ

Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid, Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

ูˆุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ ( ุณุจุญุงู† ู…ู† ู„ุง ูŠุณู‡ูˆ ูˆู„ุง ูŠู†ุงู… ) ุŒ ูˆู„ูƒู† ู„ุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ูŠู‡ ุŒ ูุงู„ู…ุดุฑูˆุน ู‡ูˆ ุงู„ุงู‚ุชุตุงุฑ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠุฐูƒุฑ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ูˆู„ุง ูŠุนุชุงุฏ ุฐูƒุฑุง ุบูŠุฑู‡

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Suโ€™al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ ูƒู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุนู…ูˆู… ู‚ูˆู„ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ (ุณุจุญ ุงุณู… ุฑุจูƒ ุงู„ุฃุนู„ู‰) ู‚ุงู„ (ุงุฌุนู„ูˆู‡ุง ููŠ ุณุฌูˆุฏูƒู…) ูู‡ูˆ ูŠู‚ูˆู„ ูƒู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆูƒุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุฌู„ุณุฉ ุจูŠู† ุงู„ุณุฌุฏุชูŠู† ูŠู‚ูˆู„ ููŠู‡ุง ูƒู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ููŠ ุงู„ุฌู„ุณุฉ ุจูŠู† ุงู„ุณุฌุฏุชูŠู† ููŠ ุตู„ุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ุณุจุญุงู† ู…ู† ู„ุง ูŠู†ุณู‰ ุณุจุญุงู† ู…ู† ู„ุง ูŠุณู‡ูˆ ุฃูˆ ุฑุจู†ุง ู„ุง ุชุคุงุฎุฐู†ุง ุฅู† ู†ุณูŠู†ุง ุฃูˆ ุฃุฎุทุฃู†ุง ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ู„ู… ูŠุฑุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Taโ€™ala: (sabbihisma rabbikal ala) jadikanlah ia pada ย  sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tuakhidzna innaa siina aw akhthanaa, karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul Utsaimin, Fatawa Nur Alad Darb, ย Bab Shalat No. 1531)

Sebab Apakah sujud sahwi terjadi?

Sebab-sebab terjadinya sujud sahwi adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.

Berkata Imam Daud Azh Zhahiri:

ู„ุง ูŠุณุฌุฏ ุฃุญุฏ ู„ู„ุณู‡ูˆ ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ู…ูˆุงุถุน ุงู„ุชูŠ ุณุฌุฏ ููŠู‡ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

Tidak seorang pun sujud sahwi kecuali pada tempat yang Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sujud padanya. (At Tamhid, 10/207)

Sujud Sahwi terjadi dalam beberapa keadaan berikut:

1. Memberi salam padahal shalat belum sempurna.

Dalilnya adalah: Dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุจูู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุตูŽู„ูŽุงุชูŽูŠู’ ุงู„ู’ุนูŽุดููŠูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุณููŠุฑููŠู†ูŽ ุณูŽู…ูŽู‘ุงู‡ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู†ูŽุณููŠุชู ุฃูŽู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุจูู†ูŽุง ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุซูู…ูŽู‘ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฎูŽุดูŽุจูŽุฉู ู…ูŽุนู’ุฑููˆุถูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽุงุชูŽู‘ูƒูŽุฃูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ ุบูŽุถู’ุจูŽุงู†ู ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ูŠูŽุฏูŽู‡ู ุงู„ู’ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽุดูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุตูŽุงุจูุนูู‡ู ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ุฎูŽุฏูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ู…ูŽู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูŽู‡ู’ุฑู ูƒูŽููู‘ู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽุชู’ ุงู„ุณูŽู‘ุฑูŽุนูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู‚ูŽุตูุฑูŽุชู’ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ูˆูŽุนูู…ูŽุฑู ููŽู‡ูŽุงุจูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽู„ูู‘ู…ูŽุงู‡ู ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูููŠ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุทููˆู„ูŒ ูŠูู‚ูŽุงู„ู ู„ูŽู‡ู ุฐููˆ ุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู†ูŽุณููŠุชูŽ ุฃูŽู…ู’ ู‚ูŽุตูุฑูŽุชู’ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู’ุณูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูู‚ู’ุตูŽุฑู’ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฐููˆ ุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู†ูŽุนูŽู…ู’ ููŽุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ููŽุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุซูู…ูŽู‘ ูƒูŽุจูŽู‘ุฑูŽ ูˆูŽุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุณูุฌููˆุฏูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุทู’ูˆูŽู„ูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุฑูŽููŽุนูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุจูŽู‘ุฑูŽ ุซูู…ูŽู‘ ูƒูŽุจูŽู‘ุฑูŽ ูˆูŽุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุณูุฌููˆุฏูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุทู’ูˆูŽู„ูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุฑูŽููŽุนูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ูˆูƒุจุฑ. ูุฑุจู…ุง ุณุฃู„ูˆู‡: ุซู… ุณู„ู…ุŸ ููŠู‚ูˆู„: ู†ุจุฆุช ุฃู† ุนู…ุฑุงู† ุจู† ุญุตูŠู† ู‚ุงู„: ุซู… ุณู„ู….

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat bersama kami pada suatu shalat siang.โ€ Demikianlah Abu Hurairah menamakannya tetapi saya telah lupa. Dan Abu Hurairah berkata: Lalu Beliau shalat bersama kami dua rakaat lalu salam. Kemudian Beliau bangun menuju sebuah kayu yang terbentang di masjid dan bersandar padanya seakan dia sedang marah. Lalu Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan merekatkan jari-jarinya, dan meletakan pipi kanannya pada punggung telapak tangan kirinya. Manusia bergegas keluar melalui pintu masjid dan mengatakan: Shalat diqashar! Pada mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Keduanya segan untuk menanyakan hal itu. Pada mereka ada seseorang bertangan panjang yang dinamakan ย  Dzulyadain, dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kau lupa atau kau mengqashar shalat? Beliau menjawab: Aku tidak lupa dan tidak juga qashar. Maka nabi bertanya: Apakah benar apa yang dikatakan Dzulyadain? Mereka menjawab Benar. Maka beliau maju dan shalat melanjutkan yang tertinggal, lalu dia takbir dan sujud sebagaimana sujudnya atau lebih panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud sebagaimana sujudnya ย atau lebih panjang, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi dan bertakbir. Barangkali mereka bertanya: Kemudian salam? Dikabarkan kepadaku bahwa Imran bin Hushain berkata: Kemudian salam. ย (HR. Bukhari ย  No. 482 dan Muslim No. 573)

Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam Bab As Sahwi fis Shalah was Sujud Lahu (Bab Lupa Dalam Shalat dan Sujud Karenanya)

Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sujud sahwi setelah salam, Beliau melakukannya tanpa tasyahud, tetapi ditutup dengan salam lagi sebagaimana ditegaskan oleh Imran bin Hushain. Inilah petunjuk yang sangat jelas tentang cara sujud sahwi.

2. Kelebihan jumlah rakaat shalat.

Ini juga menyebabkan seseorang wajib menjalankan sujud sahwi. Dalilnya adalah:

Dari Abdullah bin Masud Radhiallahu Anhu, katanya:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑูŽ ุฎูŽู…ู’ุณู‹ุง ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฒููŠุฏูŽ ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุฐูŽุงูƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชูŽ ุฎูŽู…ู’ุณู‹ุง ููŽุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽุง ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ

โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat zhuhur lima rakaat. Lalu ada orang yang berkata kepadanya: Apakah memang rakaat shalat ditambah? Beliau bersabda: Memang kenapa? orang itu menjawab: Engkau shalat lima rakaat. Maka Nabi pun sujud dua kali setelah salam. (HR. Bukhari No. 1168 dan Muslim No. 572)

Riwayat ini, menunjukkan sujud sahwi Beliau lakukan setelah salam. Sujud sahwi setelah salam dilakukan karena kesalahan tersebut diketahui dan diingat setelah usai shalat (setelah salam).

3. Lupa melakukan tasyahhud awal atau meninggalkan sunah-sunah dalam shalat.

Dalilnya adalah, dari Ibnu Buhainah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ูููŠ ุงู„ุฑูŽู‘ูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููŽุณูŽุจูŽู‘ุญููˆุง ููŽู…ูŽุถูŽู‰ ููŽู„ูŽู…ูŽู‘ุง ููŽุฑูŽุบูŽ ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุซูู…ูŽู‘ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ

โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat, beliau bangun pada rakaat kedua, maka jamaah mengucapkan โ€˜subhanallahโ€™ ย maka beliau tetap melanjutkannya, lalu ketika selesai shalat, Belia sujud dua kali lalu salam.โ€ (HR. An Nasaโ€™i No. 1177, 1178, ย Ibnu Majah No. 1206, 1207. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasai No. 1177, 1178, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1206, 1207)

Menurut hadits ini jika sudah terlanjur tegak berdiri, maka imam tidak usah duduk lagi, dia lanjutkan saja tetapi setelah selesai shalat dia sujud dua kali (sahwi) lalu salam. Tetapi, jika berdirinya belum sempurna tegaknya, maka boleh baginya untuk duduk lagi untuk tasyahhud awal, dan akhirnya tanpa melakukan sujud sahwi.

Hal ini ditegaskan dalam riwayat dari Mughirah bin Syuโ€™bah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ุฑูŽู‘ูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุชูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู’ ููŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽุชูŽู…ูŽู‘ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู’ ูˆูŽูŠูŽุณู’ุฌูุฏู’ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ุณูŽู‘ู‡ู’ูˆู

โ€œJika salah seorang kalian berdiri ketika rakaat kedua tetapi belum sempurna, maka hendaknya duduk, jika sudah sempurna maka janganlah duduk. Lalu sujudlah dua kali sebagai sahwi.โ€ (HR. Abu Daud No. 949, 950, Ibnu Majah No. 1208. Hadits ini shahih. Lihat Al Misykah Al Mashabih No. 1020, As Silsilah Ash Shahihah No. 341)

Riwayat ini menunjukkan bahwa sujud sahwi juga bisa dilakukan sebelum salam, yakni ketika kesalahan tersebut diketahui dan diingat masih di dalam shalat.

Hadits-hadits ini ย juga menunjukkan bahwa meninggalkan sunah-sunah shalat mengharuskan pelakunya untuk sujud sahwi.

Bagaimana meninggalkan qunut shubuh?

Bagi yang meyakini qunut shubuh adalah sunah, tentu mereka meyakini jika meninggalkannya ย atau salah dalam menempatkannya, maka hendaknya sujud sahwi. Inilah keyakinan ย masyhur ย ulama madzhab Asy Syafiโ€™i.

Berkata Imam Asy Syafiโ€™i Radhiallahu โ€˜Anhu:

ูˆู„ุฐู„ูƒ ู„ูˆ ุฃุทุงู„ ุงู„ู‚ูŠุงู… ูŠู†ูˆู‰ ุจู‡ ุงู„ู‚ู†ูˆุช ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุณู‡ูˆ ู„ุงู† ุงู„ู‚ู†ูˆุช ุนู…ู„ ู…ุนุฏูˆุฏ ู…ู† ุนู…ู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฅุฐุง ุนู…ู„ู‡ ููŠ ุบูŠุฑ ู…ูˆุถุนู‡ ุฃูˆุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู‡ูˆ

โ€œOleh karena itu, jika seseorang memperlama berdiri, dengan itu dia meniatkan sebagai qunut, maka wajib baginya sujud sahwi, sebab qunut adalah amalan tertentu di antara amalan ย shalat lainnya, jika dia melakukannya bukan pada tempatnya, maka wajib baginya sahwi.โ€ (Imam Asy Syafiโ€™i, Al Umm, 1/136, Darul Fikr)

Maka, bagi yang berkeyakinan sebagaimana madzhab Asy Syafiโ€™i bahwa qunut itu adalah sunah, sedangkan meninggalkan sunah adalah termasuk sebab terjadinya sujud sahwi, maka sangat wajar dia melakukan sujud sahwi itu. Tetapi, bagi seseorang yang tidak meyakini adanya qunut shubuh, bahkan membidโ€™ahkannya, karena dia mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah dan lainnya, maka tidak mungkin dia sujud sahwi karena meninggalkannya, sebab menurutnya qunut shubuh adalah bidโ€™ah dan keliru, tidak mungkin sujud sahwi gara-gara meninggalkan bidโ€™ah dan kekeliruan. Maka, hal yang menjadi aneh jika ada orang yang tidak meyakini adanya qunut, tetapi dia sujud sahwi gara-gara meninggalkan sesuatu yang dianggapnya bidโ€™ah itu. Begitu pula jika dia menjadi makmum bagi imam yang berqunut, ย ketika imam sujud sahwi karena meninggalkan qunut, maka makmum seperti itu tidak perlu ikut sahwi, sebab dia tidak meyakini syariat qunut. Imam meyakini sunah, maka wajar dia sahwi jika meninggalkannya, sedangkan makmum meyakininya bidโ€™ah, maka menjadi tidak wajar jika dia sahwi karena meninggalkannya.
Tetapi, kami menganjurkan, apalagi di daerah yang rawan dan sensitif, hendaknya makmum bersikap bijak untuk mengikuti dan mengaminkan imam yang qunut. Bukan karena membenarkannya, tetapi untuk menjaga kesatuan hati dan rapatnya shaf kaum muslimin. ย  ย Inilah sikap yang diambil oleh Imam Ahmad bin Hambal, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama di Lajnah Daimah, dan lainnya. (Lihat Tulisan saya: Sikap Bijak Para Imam Ahlus Sunnah Menghadapi Persoalan Qunut)
Wallahu Aโ€™lam

4. Ragu-Ragu Dalam Shalat. ย Hal ini juga membuat wajib seseorang untuk sujud sahwi.

Dalilnya:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุดูŽูƒูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุซูู‘ู†ู’ุชูŽูŠู’ู†ู ููŽู„ู’ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุดูŽูƒูŽู‘ ูููŠ ุงู„ุซูู‘ู†ู’ุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุซูŽู‘ู„ูŽุงุซู ููŽู„ู’ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ูู…ูŽุง ุซูู†ู’ุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽูŠูŽุณู’ุฌูุฏู’ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุณูŽู„ูู‘ู…ูŽ

โ€œJika ย di antara kalian ragu, apakah rakaat pertama dan kedua, maka jadikanlah itu sebagai rakaat pertama saja. Jika kalian ragu pada rakaat kedua dan ketiga, maka jadikanlah itu sebagai rakaat kedua. Oleh karena itu, sujudlah dua kali sebelum salam.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 396, Ibnu Majah No. 1204. Hadits ini shahih. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 396. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1204)

Dari hadits ini โ€“dan hadits lain yang serupa- Jumhur ulama mengatakan bila seseorang ragu-ragu terhadap jumlah rakaat shalat, maka hendaknya dia meyakinikan rakaat yang lebih sedikit, kemudian dia melakukan sahwi.

Tetapi ada juga ulama yang mengatakan bahwa ragu-ragu dalam shalat, ย seseorang yang tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, ย bukan diselesaikan dengan sahwi, tetapi harus diulang shalatnya. Hal ini diinformasikan oleh Imam At Tirmidzi berikut ini:

ูˆ ู‚ุงู„ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฅุฐุง ุดูƒ ููŠ ุตู„ุงุชู‡ ูู„ู… ูŠุฏุฑ ูƒู… ุตู„ู‰ ูู„ูŠุนุฏ

โ€œBerkata sebagian ulama: jika seseorang ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya.โ€ (Sunan At Tirmidzi No. 396)

Dan, pendapat jumhur ulama yang menyatakan sujud sahwi adalah pendapat yang lebih kuat dan telah diterangkan dalam berbagai hadits shahih.

Wa akhiru daโ€™wana an alhamdulillahi rabbil โ€˜alamin …..

Wallahu Aโ€™lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sutrah

Sutrah (pembatas) ketika Shalat dan Pembahasannya

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

A. Dalil-Dalil Sutrah

Menggunakan sutrah di depan mushalli (orang yang shalat) ketika shalat memiliki pensyariatan yang kuat. Berikut adalah sebagian saja dari dalil-dalilnya:

Pertama. Dari Sahl bin Abi Hatsmah, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ย ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุณูุชู’ุฑูŽุฉู ููŽู„ู’ูŠูŽุฏู’ู†ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุตูŽู„ูŽุงุชูŽู‡ู

โ€œJika salah seorang kalian shalat menghadap sutrah (pembatas) maka hendaklah dia mendekatinya, niscaya shalatnya tidak akan diputus oleh syetan.โ€ (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 2, Hal. 349, No hadits. 596. An Nasaโ€™i, Kitab Al Qiblah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 3, Hal. 196, No hadits. 740. Al Hakim, Al Mustadrak โ€˜alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 433, No hadits. 877. Katanya: โ€œHadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari-Muslim) tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.โ€ Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam Nuruddin al Haitsami Rahimahullah mengatakan:

ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ูˆุฑุฌุงู„ู‡ ู…ูˆุซู‚ูˆู†

โ€œDiriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir-nya, dan para rijalnya (periwayatnya) bisa dipercaya.โ€(Majmaโ€™ Az Zawaid, Juz. 2, Hal. 59. Al Maktabah Asy Syamilah)

Syaikh al Albany Rahimahullah menyatakan shahih.(Shahih wa Dhaโ€™if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 195. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kedua. ย Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa ย Sallam bersabda:

ย ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูุชู’ุฑูŽุฉู ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุฏู’ู†ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

โ€œJika salah seorang kalian shalat, maka shalatlah dengan menggunakan sutrah, dan mendekatlah kepadanya.โ€ (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yuโ€™maru al Mushalli An Yadraโ€™a โ€˜An al Mamarru Al baina Yadaih, Juz. 2, hal. 235, no hadits. 598. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah Fiiha Bab Idraโ€™ Mastathaโ€™ta, Juz. 3, Hal. 215, No hadits. 944. Syaikh al Albany menyatakan hasan shahih. Lihat Shahih wa Dhaโ€™if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 198. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ketiga. Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhu:

ย ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุนููŠุฏู ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุงู„ู’ุญูŽุฑู’ุจูŽุฉู ููŽุชููˆุถูŽุนู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ููŽูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุฑูŽุงุกูŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽููŽุฑู ููŽู…ูู†ู’ ุซูŽู…ู‘ูŽ ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฃูู…ูŽุฑูŽุงุกู

โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, jika keluar menuju lapangan pada shalat hari raya, dia memerintahkan untuk mengambil tombak dan meletakkan di hadapannya, lalu dia shalat menghadap ke arahnya, dan manusia melihat ย hal itu. Demikian itu dilakukannya ketika safar, maka untuk selajutnya hal itu diikuti oleh para pemimpin umat.โ€ (HR. Bukhari, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Imam Sutrah Man Khalfahu, Juz. 2, Hal. 297, No hadits. 464. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 63, No hadits. 773. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yasturu al Mushalliya, Juz. 2, Hal. 337, No hadits. 589. Al Maktabah Asy Syamilah)

Keempat. Dari Musa bin Thalhah, dari Ayahnya, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa sallam bersabda;

ย ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุถูŽุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูุคู’ุฎูุฑูŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู„ู ููŽู„ู’ูŠูุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจูŽุงู„ู ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุฑู‘ูŽ ูˆูŽุฑูŽุงุกูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ

โ€œJika salah seorang kalian meletakkan di hadapannya setinggi pelana kuda, maka shalatlah dan janganlah dia peduli dengan apa-apa yang ada di belakangnya.โ€ (HR. Muslim, Syarh An Nawawi โ€˜ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kelima. Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ย ู„ุง ุชุตู„ูˆุง ุฅู„ุง ุฅู„ู‰ ุณุชุฑุฉ ุŒ ูˆู„ุง ุชุฏุน ุฃุญุฏุง ูŠู…ุฑ ุจูŠู† ูŠุฏูŠูƒ ุŒ ูุฅู† ุฃุจู‰ ย ูู‚ุงุชู„ู‡ ุŒ ูุฅู† ู…ุนู‡ ุงู„ู‚ุฑูŠู†

โ€œJanganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seorang pun melewati di hadapanmu, jika dia bersikeras lewat maka bunuhlah, karena sesungguhnya dia memiliki qarin (kawan dekat dari kalangan syetan).โ€ (HR. Al Hakim, Al Mustadrak โ€˜Alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 432, No hadits. 876. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian beberapa dalil saja, dari sekian banyak dalil tentang menggunakan pembatas ketika shalat.

B. Perselisihan Pendapat Ulama Tentang Hukumnya

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat. Di antara mereka ada yang menyunnahkan, ada pula yang mewajibkan.

Para Ulama yang Menyunahkan Sutrah

Kelompok ini berpendapat bahwa memasang sutrah hanyalah sunah, sebab perintah tidak selamanya bermakna wajib apalagi ada riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shalllallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah shalat tidak menggunakan sutrah (pembatas).

Berkata Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ย ุณุชุญุจ ู„ู„ู…ุตู„ูŠ ุฃู† ูŠุฌุนู„ ุจูŠู† ูŠุฏูŠู‡ ุณุชุฑุฉ ุชู…ู†ุน ุงู„ู…ุฑูˆุฑ ุฃู…ุงู…ู‡ ูˆุชูƒู ุจุตุฑู‡ ุนู…ุง ูˆุฑุงุกู‡ุง

โ€œDisukai (sunah) bagi orang yang shalat meletakkan di depannya sebuah pembatas untuk mencegah orang lewat di depannya, dan menghalanginya melihat hal-hal dibelakang pembatas itu.โ€ (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 255. Al Maktabah Asy Syamilah)

Beliau berdalil dengan hadits ย dari Ibnu Abbas berikut:

ย ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูููŠ ููŽุถูŽุงุกู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ

โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat di lapangan dan dihadapannya tidak ada apa-apa.โ€ (HR. Ahmad, Juz.4, Hal. 396, No hadits. 1864. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hanya saja hadits ini dhaโ€™if. Berkata Imam Al Haitsami Rahimahullah:

ูˆููŠู‡ ุงู„ุญุฌุงุฌ ุจู† ุฃุฑุทุฃุฉ ูˆููŠู‡ ุถุนู

โ€œDalam (sanad) hadits ini terdapat Al Hijaj bin Arthaโ€™ah, dan dia dhaโ€™if.โ€ (Majmaโ€™ az Zawaid, Juz.2, Hal. 63. Al Maktabah Asy Syamilah)

Namun ada hadits lain yang serupa dengan ini, dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhu:

ุฃู† ุงู„ู…ุตู„ู‰ ูƒุงู† ูุถุงุก ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุดูŠุก ูŠุณุชุชุฑ ุจู‡

โ€œBahwa saat itu, orang yang shalat dilapangan tidaklah di depannya ada sesuatu yang menjadi pembatas.โ€ (HR. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah fiha Bab Maa Jaโ€™a fil Harbah Yaumal โ€˜Id, Juz. 4, Hal. 190, No hadits. 1294. ย Syaikh al Albany mengatakan hadits ini shahih. Irwaโ€™ Al Ghalil, Juz.2, Hal. 284 No hadits. 504. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata, ketika mengomentari hadits sutrah ย setinggi โ€˜pelana kudaโ€™:

ูˆูŽูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุงู„ู†ู‘ูŽุฏู’ุจ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑูŽุฉ ุจูŽูŠู’ู† ูŠูŽุฏูŽูŠู’ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽุจูŽูŠูŽุงู† ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽู‚ูŽู„ู‘ ุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑูŽุฉ ู…ูุคู’ุฎูุฑูŽุฉ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู„ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ู‚ูŽุฏู’ุฑ ุนูŽุธู’ู… ุงู„ุฐู‘ูุฑูŽุงุน

โ€œHadits ini menunjukkan sunah-nya meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat, dan juga terdapat penjelasan tentang ukuran minimal sutrah sebesar pelana kuda, yaitu kira-kira sepanjang satu ย hasta.โ€ (Syarh An Nawawi โ€˜ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Bagi ย mayoritas madzhab Asy Syafiโ€™i, tidak menjadi masalah jika sutrah adalah garis saja. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู‡ ุจูุงุณู’ุชูุญู’ุจูŽุงุจูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซ ู…ูุคู’ุฎูุฑูŽุฉ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู„ ุฏูŽู„ููŠู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูุทู’ู„ูŽุงู† ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…

โ€œMenurut mayoritas sahabat-sahabatnya (Asy Syafiโ€™i) sutrah adalah sunah, dan hadits tentang setinggi pelana kuda itu tidak menunjukkan kesalahan dengan membuat ย garis. Wallahu Aโ€™lamโ€ (Ibid)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah berkata:

ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ู†ูŽุฏู’ุจูŒ ู„ูู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฅู„ูŽู‰ ุงุชู‘ูุฎูŽุงุฐู ุณูุชู’ุฑูŽุฉู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูƒู’ูููŠู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ู…ูุคูŽุฎู‘ูุฑูŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู„ู

โ€œHadits ini menunjukkan sunah-nya bagi orang shalat menggunakan pembatas, dan sudah cukup baginya seumpama ukuran pelana kuda.โ€ (Subulus Salam, Juz.1, Hal. 497. Al Maktabah Asy Syamilah)
Diriwayatkan dari Khalid bin Abu Bakar, bahwa Al Qasim dan Salim, pernah shalat di gurun tanpa menggunakan sutrah.

Dari Jabir: aku pernah melihat Jaโ€™far dan Amir shalat tanpa menggunakan pembatas. Dari Hisyam, bahwa: aku pernah melihat ayahku shalat tanpa sutrah. Mahdi bin Maimun mengatakan: aku pernah melihat Al Hasan shalat tanpa menggunakan sutrah. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah, Juz. 1 Hal. 312. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian para imam kaum muslimin yang tidak mewajibkan sutrah.

Para Ulama yang mewajibkan Sutrah

Bagi kelompok ini, hadits-hadits yang memerintahkan memasang pembatas menunjukkan kewajibannya, sebab hukum asal dari perintah adalah menunjukkan wajib selama belum ada dalil lain yang membelokkan kewajiban tersebut.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah tentang hadits:

โ€œHendaklah dia shalat menggunakan pembatas.โ€

ย ูููŠู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงุชู‘ูุฎูŽุงุฐูŽ ุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑูŽุฉู ูˆูŽุงุฌู

โ€œDi dalam hadits ini menunjukkan wajibnya menggunakan sutrah.โ€ (Nailul Authar, Juz. 4, Hal. 204. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Qadhi โ€˜Iyadh membantah kebolehkan membuat batas (sutrah) sekedar garis.

ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุนููŠูŽุงุถ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ ุจูŽูŠู’ู† ูŠูŽุฏูŽูŠู’ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒู’ูููŠ

โ€œAl Qadhi โ€˜Iyadh Rahimahullah berdalil dengan hadits ini ย bahwa membuat garis tidaklah mencukupi bagi orang yang shalat.โ€ (Syarh An Nawawi โ€˜ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Sebab hadits yang menyebutkan sutrah hanya sekedar garis adalah dhaโ€™if. Berikut keterangan dalam Syarh An Nawawi ย โ€˜ala Muslim:

ย ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑูŽ ู…ูŽุงู„ููƒ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉ ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุก ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ . ู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูŽู„ูŽุงู… ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุŒ ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽูููŠู‡ู ุถูŽุนู’ู ูˆูŽุงุถู’ุทูุฑูŽุงุจ

โ€œImam Malik dan kebanyakan fuqaha tidaklah berpendapat tentang garis.โ€ Demikianlah ucapan Al Qadhi. Dan hadits tentang garis diriwayatkan oleh Abu Daud, sanadnya idhtirab (goncang)โ€ (Ibid).

Namun Imam Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram-nya membantah anggapan bahwa hadits tersebut idhtirab (goncang).

Demikian Para Imam yang mewajibkan sutrah.

C. Makmum Tidak Perlu Sutrah

Pembahasan di atas adalah kaitannya dengan shalat sendiri, dan bagi imam shalat. Adapun bagi makmum dalam shalat berjamaah, maka bagi mereka sutrah imam adalah sutrah bagi mereka juga. Imam Ibnu Hajar telah membahasnya secara detil dalam Fathul Bari-nya, pada Bab Sutratul Imam Sutratul Man Khalfahu, Bab: Sutrah Imam adalah Sutrah bagi orang di belakangnya. (Juz. 2, Hal. ย 237. Al Maktabah Asy Syamilah)

Tertulis dalam Fathul Bari:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ : ุญูŽุฏููŠุซู ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู‘ูŽุงุณ ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฎูุตู‘ู ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏ ” ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฏูŽุนู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง ูŠูŽู…ูุฑู‘ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ” ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุฎู’ุตููˆุต ุจูุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ููŽุฑูุฏ ุŒ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู…ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑู‘ูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุฑู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ู„ูุญูŽุฏููŠุซู ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู‘ูŽุงุณ ู‡ูŽุฐูŽุง ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูู„ู‘ูู‡ู ู„ูŽุง ุฎูู„ูŽุงููŽ ูููŠู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู

Berkata Ibnu Abdil Bar: โ€œHadits Ibnu Abbas ini menjadi takhsis (pembatas) bagi hadits Abu Said yang berbunyi โ€˜Jika salah seorang kalian shalat maka janganlah membiarkan seorang pun lewat di hadapannya,โ€™ sebab hadits ini dikhususkan untuk imam dan shalat sendiri. Adapun makmum maka tidak ada yang memudharatkannya siapa pun yang lewat di hadapannya, sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits Ibnu Abbas ini. Semua ini tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.โ€ (Ibid)

Hadits Ibnu Abbas ย Yang dimaksud adalah sebagai berikut:

ย ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ
ย ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ู’ุชู ุฑูŽุงูƒูุจู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽุงู†ู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุงู‡ูŽุฒู’ุชู ุงู„ูุงุญู’ุชูู„ูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ุจูู…ูู†ู‹ู‰ ููŽู…ูŽุฑูŽุฑู’ุชู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ ุงู„ุตู‘ูŽูู‘ู ููŽู†ูŽุฒูŽู„ู’ุชู ููŽุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ุชู ุงู„ู’ุฃูŽุชูŽุงู†ูŽ ุชูŽุฑู’ุชูŽุนู ูˆูŽุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽูู‘ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูู†ู’ูƒูุฑู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: โ€œAku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku telah bersih-bersih dari mimpi basah dan Rasulullah Shallallahu โ€œAlaihi wa Sallam shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.โ€ (HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 70, No hadits. 780. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas berjalan di depan shaf makmum, dan tidak seorang pun ย mencegahnya. Artinya, larangan melewati (berjalan) di depan orang shalat, hanya berlaku jika melewati imam dan orang yang shalatnya sendiri menurut keterangan riwayat ini, ย melewati di depan makmum (karena ada keperluan) tidaklah mengapa. ย Wallahu Aโ€™lam

D. Apa sajakah Sutrah itu?

Benda-benda yang bisa dijadikan sebagai pembatas (sutrah) adalah benda suci apa pun yang minimal setinggi pelana kuda. Bisa tiang mesjid, punggung manusia, dinding mesjid, batu besar, tas koper, dan lain-lain.

ุนู† ู†ุงูุน ุฃู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูƒุงู† ูŠู‚ุนุฏ ุฑุฌู„ุง ููŠุตู„ูŠ ุฎู„ูู‡ ูˆุงู„ู†ุงุณ ูŠู…ุฑูˆู† ุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฑุฌู„

Dari Nafiโ€™, bahwa Ibnu Umar sedang duduk lalu ada seorang laki-laki yang shalat di belakangnya, dan manusia lalu lalang di depan laki-laki tersebut. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah Juz. 1, hal. 313. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Anas bahwa para sahabat mendekati tiang mesjid ketika hendak shalat maghrib. Wallahu Aโ€™lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678