Doa Orang Tua Atas Anaknya

Doa Orang Tua Kepada Anaknya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh yang berdoa baginya. Nah seandainya anaknya meninggal duluan dan orang tuanya mendoakan anak tersebut apakah doa tersebut akan sampai kepada sang anak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Bismillahirrahmanirrahim..

Doa orang tua kepada anaknya adalah doa yang mustajab, berdasarkan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima) periwayatannya. Tidak beda apakah anak itu masih hidup atau sudah wafat. Doa seorang muslim atas muslim lainnya saja dianjurkan, baik masih hidup atau wafat, maka apalagi doa orang tua kepada anaknya?

Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya; doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya.

(HR. At Tirmidzi no. 1905, At Tirmidzi menyatakan: hasan)

Imam Ash Shan’ani menjelaskan hadits di atas, bahwa mustajabnya doa orang tua untuk anak sebagaimana doa anak kepada orangtuanya:

(دعوة الوالد على ولده) مثل دعوته له

(Dan doa orang tua atas anaknya) seperti doanya kepada orang tuanya.

(At Tanwir Syarh al Jaami’ ash Shaghir, 5/169)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Menista Para Penista Rasulullah SAW

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Aisyah ra, dia menuturkan bahwa Rasulullah saw meminta beberapa orang sahabat yang diketahui memiliki kemampuan sastra yang baik untuk membalas penghinaan kaum kafir kepada beliau dengan gubahan syair mereka yang dapat merendahkan para penghina tersebut.

Pertama dipanggillah Abdullah bin Rawahah, maka Rasulullah saw memintanya untuk menggubah syair-syari seperti itu. Namun Rasulullah kurang puas. Lalu dipanggilah Ka’ab bin Malik dengan perintah yang sama, tampaknya juga belum memuaskan. Maka akhirnya dipanggillah Hassan bin Tsabit. Rasulullah saw memotvias Hassan dengans sabdanya,

إنَّ رُوحَ القُدُسِ لا يَزالُ يُؤَيِّدُكَ، ما نافَحْتَ عَنِ اللهِ ورَسولِهِ،

“Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat Jibril) senantiasa membelamu selama engkau membela Allah dan RasulNya”

Sesudah itu Hassan membuat syair yang meggambarkan kemuliaan Rasulullah saw dan merendahkan para penghinanya. (HR. Muslim)

Hadits di atas paling tidak memberika dua pelajaran bagi kita,

Pertama, tidak ada kehormatan bagi orang yang telah menghina Rasulullah saw, dia layak dikecam, layak diungkap namanya agar kaum muslimin mengetahui keburukannya.

Kedua, wujud dari keimanan kita kepada Rasulullah saw selain mengimani kerasulannya mentaatai segala ajarannya, juga adalah membela nama baiknya jika ada pihak-pihak yang menghinanya.

Rasulullah saw adalah pribadi yang agung, mulia karena dimuliakan Allah, tinggi karena ditinggikan Allah. Karenanya sebagai umatnya kita diperintahkan untuk mencintainya, mengagungkannya dan memuliakannya. Bahkan, walaupun tidak ada perintah khusus dalam Al-Quran atau hadits untuk memuliakan beliau, sudah semestinya kecintaan dan pemuliaan setiap muslim diberikan kepada Rasulullah saw.

Betapa tidak, beliau sangat mencintai kita sebagai umatnya, karena cintanya itu beliau berupaya sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Allah taala agar umatnya memiliki jalan terang yang diridhai Allah untuk keselamatannya di dunia dan akhirat. Untuk hal tersebut beliau melewati berbagai peristiwa yang amat berat dan pedih. Semua itu tak lain untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Bagaimana kita sebagai umatnya tidak mencintai dan memuliakan beliau?

Karenanya sudah sepantasnya jika kita sebagai kaum muslimin marah, mengingkari dan mengecam keras setiap ucapan maupun tindakan yang mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap kehormatan dan kemuliaan Rasululah saw.

Ini sesunguhnya merupakan konsekwensi logis, bahkan langsung berkaitan dengan tingkat keimanan kita. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun yang waras yang diam saja apabila ada orang lain yang menghina orang yang sangat dia cintai, misalnya orang tuanya, gurunya atau siapa yang dia idolakan. Dia pasti akan menolaknya, mengecamnya dan mengingkarinya.

Jika demikian halnya, maka sikap tersebut lebih layak dilakukan kepada orang yang menghina Rasulullah saw. Karena keimanan kita mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah saw lebih dari cinta kita kepada orang tua dan anak kita dan semua orang.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman kalian sebelum aku lebih dia cintai dibanding orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari)

Setiap tahun kita peringati hari maulid beliau dengan penuh pengkhayatan dan pengagungan dan kita nyatakan bahwa hal tersebut kita lakukan sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Maka tentu sebagai bukti cinta kita, kita tidak boleh tinggal diam terhadap penghinaan kepada Rasulullah saw.

Di sisi lain, kejadian ini hendaknya mengingatkan kita untuk mempertegas kembali dan memperkuat kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. Kita kenali sirahnya, kita pelajari sabda-sabdanya dan kita ikuti jalan dan petunjuknya.

Semakin umat Islam perlihatkan kecintaannnya kepada Rasulullah saw, insyaAllah akan membuat berbagai pihak berpikir seribu kali untuk melakukan penghinaan kepada Rasulullah saw.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menutup Aurat

Bagaimana Mengetahui Akhir Haid?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau bertanya, apabila istri saya haid 3 hari pasti sudah selesai, dan istri saya melakukan kegiatan ibadah seperti biasa shalat dan tadarus, tapi setelah seminggu suka keluar lagi haid nya.
Apakah setelah tiga hari setelah selesai haidnya boleh melakukan hubungan suami istri? Padahal setelah seminggu suka keluar lagi. I/15

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Masalah sprti ini terkait bagaimana mengetahui akhir haid dulu. Ada bbrp cara pendekatan sederhana untuk mengetahuinya sesuai keadaan masing2 haid wanita .., shgga masalah ini tdk bs dipukul rata ..

1. Bagi wanita yang haidnya lancar, maka yang menjadi batasan adalah kebiasaan durasi haidnya.

Sesuai kaidah:

Al ‘Aadah Muhakkamah : adat/kebiasaan itu bisa menjadi standar hukum

Jadi, jika kebiasaan seorang wanita haidnya 7 hari, maka itu menjadi standarnya. Jika dia sdh berhenti darahnya sebelum hari 7, maka jangan terburu-buru merasa sdh suci. Dia masih berlaku hukum-hukum haid, di antaranya larangan shalat, shaum, dan jima’. Shgga kalo dia tidak shalat dihari 6, maka tidak ada qadha.

Jika baru berhentinya setelah hari 7, atau sudah berhenti tapi keluar lagi, maka darah yg keluar selebihnya dugaan kuatnya adalah darah istihadhah, atau sisa darah haid yang lalu, bukan darah haid itu sendiri. Dia sdh suci dan tidak lagi berlaku lagi hukum hukum haid. Maka, sdh wajib lagi shalat, boleh shaum, dll. Ini relatif mudah.

2. Bagi wanita yang haidnya eror. Kadang 4 hari, kadang 6 hari, pernah 10 hari .., dsb, dan eror ini memang menjadi kebiasaannya, maka caranya dengan memperhatikan warna darahnya, sebab darah haid itu sudah dikenal. Ada pun maksimal menurut jumhur ulama adalah 15 hari, selebih itu adalah istihadhah/penyakit.

Hal ini sesuai hadits:

فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي

“Apabila darah haid maka darah itu berwarna hitam dan dikenal, Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Apabila darah itu berwarna lain, maka berwudhulah dan shalatlah”. (HR. Abu Daud No. 261, hasan)

Sehingga, di masa-masa tidak keluar darah maka dia dihukumi suci, maka boleh shalat, shaum, dll. Sebaliknya di masa keluar darah di dihukumi haid, dengan syarat sifat darahnya memang dikenal sbgai darah haid. Ini memang agak ribet apalagi terjadi sepanjang tahun.

3. Bagi wanita yang tadinya teratur lalu berubah menjadi eror haidnya gara-gara obat, KB, setelah melahirkan, dll.

Maka, pendekatan pertamanya adalah dengan mengikuti kebiasaannya dulu, sebab pada awalnya memang teratur. Ini sebagai antisipasi bahwa dia masih teratur. Tapi, jika akhirnya eror, maka barulah dgn cara mengenali sifat darahnya, sebagaimana hadits Abu Daud di atas. Lalu berobatlah atau konsultasi dgn dokter agar kembali normal.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Dipersembahkan oleh : www.manis.id


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

MENJAGA LISAN BAGI KELUARGA SAKINAH

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Suami istri yang ingin menjaga keluarga sakinah agar terus menjadi milik mereka, maka hendaknya bisa menjaga lisan dalam kondisi suka atau benci dan dalam kondisi damai atau bertengkar sehingga mereka bisa menjaga suasana hati tetap tentram, damai dan tenang serta tidak ada yang saling menyakiti atau melukai hati dan perasaan pasangan.

Keharmonisan suami istri itu sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga lisan. Maka menjaga lisan dalam keluarga sakinah itu sangat penting sehingga suami istri harus bisa berbicara dengan lembut, bijak dan berkesan sehingga keluarga selalu harmonis dan terselamatkan dari perceraian. Rasulullah bersabda :

“Keselamatan manusia bergantung kepada lisan yang terjaga” ( HR. Bukhari ).

Suami istri juga ketika berbicara harus benar dan jujur sehingga tidak mengandung dusta dan salah. Agar kata-kata yang terucapkan selalu dipercaya dan tidak akan muncul buruk sangka, kebencian dan amarah kepada pasangann. Karena itu Allah berfirman :

” Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” ( 33 : 70 ).

Selain itu bagi suami istri yang beriman seharusnya hati-hati dalam berbicara kepada pasangan karena mereka yakin setiap kata yang terucap selalu dicatat untuk dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Allah berfirman :

” Tidak ada suatu kata yang diucapkan kecuali di disinya ada Malaikat pengawas yang selalu siap ( mencatat) ” (50: 19).

Dalam kondisi suami istri sedang emosi dan sedang terjadi salah faham, mereka harus bisa mengendalikan dan mengontrol kata-kata yang diucapkan lisan. Jika tidak, maka begitu mudahnya syetan menjerumuskan pada pertengkaran yang berujung kepada perceraian. Rasulullah bersabda :

” Hendaknya kamu lebih banyak diam karena sesungguhnya itu dapat mengusir syetan dan dapat menolong kamu dalam urusan agamamu” (HR. Ahmad ).

Jika suami istri saat emosi sulit mengendalikan lisan maka sering terjadi salah faham dan timbul perselisihan.

Karena itu, saat emosi lebih baik diam, tidak bicara. Saat diam tersebut hendaknya digunakan untuk berfikir yang positif tentang pasangannya. Juga ada kesempatan melakukan evaluasi diri untuk perbaikan kepada pribadi yang lebih baik. Rasulullah bersabda:

” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam” ( HR. Bukhari Muslim ).

Jadi dengan kemampuan suami istri bisa menjaga lisan, maka hal tersebut dapat membantu terwujudnya keluarga yang sakinah yang bisa saling menentramkan suami istri.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prasangka

Jika Istri Selalu Mencari Kesalahan dan kelemahan Suami

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana jika seorang istri sdh tidak mempercayai suami (karena suami dianggap tdk memiliki kemampuan) dalan menafkahi keluarga, sehingga mengajukan permintaan cerai…Apakah itu sudah masuk dalam kategori bercerai, sedangkan suami masih menahan dan meminta kesabaran dan keridhaan dari istri…Sudah lebih dari beberapa bulan, pihak istri tidak mau jika di ajak berhubungan intim…Istri terus mencari kesalahan dan kelemahan dari suami… Mohon pencerahannya. Wasaalamualaikum wr wb. Jazakallah khair katsiron. I/14

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, SHI

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebuah hubungan rumah tangga diimpikan setiap orang untuk berjalan dengan baik dan tanpa halangan apapun. Namun dalam kenyataannya, pertengkaran dan perselisihan antara pasangan suami istri pasti ada dan menjadi bumbu tersendiri.

Masalah dalam hubungan keluarga ini jika bisa diselesikan dengan baik akan membawa kedekatan bagi masing-masing, namun sebaliknya, jika tidak diselesaikan akan membawa perpecahan yang berujung pisah.

Perceraian dalam beberapa kasus tidak hanya diajukan oleh pihak suami, namun bisa juga dari sisi istri. Secara hukum negara, dua-duanya sah dan diizinkan, sementara dalam Islam ada rambu-rambu yang harus diperhatikan apalagi jika diajukan oleh istri.

Dalam islam, gugatan cerai memiliki dua istilah yakni fasakh dan khulu. Fasakh adalah lepasnya ikatan nikah antara suami istri dan istri tidak mengembalikan maharnya atau memberikan kompensasi pada suaminya. Sementara khulu adalah gugatan cerai istri dimana ia mengemblikan sejumlah harta atau maharnya kepada sang suami.

Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 229, “Maka apabila kalian khawatir bahwa keduanya tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa mengambil bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya (dan mengenai pengambilan suami akan bayaran itu).”

Oleh Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam as-Syafi’i dijelaskan, “Khulu ialah talak yang dijatuhkan sebab keinginan dan desakan dari pihak istri, hal semacam itu disyariatkan dengan jalan khulu, yakni pihak istri menyanggupi membayar seharga kesepakatan antara dirinya dengan suami, dengan (standar) mengikuti mahar yang telah diberikan.”

Seorang wanita atau istri boleh saja menggugat cerai suaminya asalkan dengan syarat dan alasan yang jelas. Dalam sebuah hadits diriwayatkan seorang wanita yang takut berbuat kufur karena ia tidak menyukai suaminya meski suaminya memiliki perangai yang baik, diperbolehkan untuk menggugat cerai.

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya istri Tsabit bin Qais mendatangi Nabi SAW dan berkata: “Wahai, Rasulullah. Aku tidak mencela Tsabit bin Qais pada akhlak dan agamanya, namun aku takut berbuat kufur dalam Islam,” maka Nabi bersabda, “Apakah engkau mau mengembalikan kepadanya kebunnya?” Ia menjawab, “Ya, Rasulullah,” lalu Nabi pun bersabda: “Ambillah kebunnya, dan ceraikanlah ia”.

Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam bukunya al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i menyebutkan, “Apabila seorang perempuan benci terhadap suaminya karena penampilannya yang jelek, atau perlakuannya yang kurang baik, sementara ia takut tidak akan bisa memenuhi hak-hak suaminya, maka boleh baginya untuk mengajukan khulu dengan membayar ganti rugi atau tebusan.”

Sementara bagi istri yang menggugat cerai suaminya tanpa alasan maka haram baginya bau surga. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut, “Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.”

Selain alasan takut berbuat kufur seperti disebutkan di atas, ada beberapa alasan lain seorang istri diperbolehkan mengajukan khulu atau gugatan cerai. Salah satunya adalah suami melakukan penganiayaan. Penganiayaan ini bisa berupa bisa berupa fisik (pukulan) maupun verbal seperti mencaci dan memaki yang membuat istri menderita.

Alasan lainnya adalah suami tidak menjalankan kewajiban agama. Seorang suami yang tidak pernah menjalankan kewajibannya pada sang istri misalnya  berbuat buruk pada istri, tidak menjalankan perintah agama, berzina, dan selingkuh, maka wajar jika sang istri mengajukan gugatan cerai.

Jika seorang suami tidak memenuhi tugasnya dalam memberikan nafkah sementara ia mampu untuk itu, seorang istri berhak mengajukan gugat cerai. Nafkah bisa berupa materi maupun kebutuhan biologis istri.

Seorang suami yang hilang dan tidak ada kabarnya setelah sekian lama meninggalkan istrinya misalnya untuk mencari nafkah, maka sang istri boleh mengajukan gugatan cerai. Hal ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra.

“Bahwasanya telah datang seorang wanita kepadanya yang kehilangan kabar tentang keberadaan suaminya. Lantas Umar berkata, “Tunggulah selama empat tahun.” dan wanita tersebut melakukannya. Kemudian datang lagi (setelah empat tahun). Umar berkata, “Tunggulah (masa idah) selama empat bulan sepuluh hari.” Kemudian wanita tersebut melakukannya. Dan saat datang kembali, Umar berkata, “Siapakah wali dari lelaki (suami) perempuan ini?”, kemudian mereka mendatangkan wali tersebut dan Umar berkata, “ceraikanlah dia”, lalu diceraikannya. Lantas Umar berkata kepada wanita tersebut, “Menikahlah (lagi) dengan laki-laki yang kamu kehendaki.”

Sementara itu, beberapa syarat khulu adalah berstatus cakap hukum, seorang akil baligh. Kemudian, ganti rugi khulu yakni sesuatu yang bisa dijadikan mahar dalam pernikahan. Menurut jumhur ulama, ganti rugi khuluk itu bisa benda apa saja yang dapat dimiliki, baik sifatnya materi maupun manfaat atau piutang.
Wallahu ‘alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Cinta Allah

Jejak Tangisan Kerinduan

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bertanyalah Kholid bin Ma’dan kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, sampaikan kepadaku satu hadist yang pernah engkau dengar dari Rosulullah SAW?”

Belum juga terjawab, suasana terjeda, hening dan membisu. Mu’adz menangis pelan dan makin menderas mencucurkan airmatanya. Terus tak berhenti. Lama sekali Muadz menangis hingga terkira ia tidak akan menghentikan tangisannya itu. Tetiba sambil sesenggukan mereda tangisan, Muadz terdiam lalu berkata;

“Duhai betapa rindunya aku kepada Rasulullah SAW sehingga aku merasa sangat ingin bertemu dengan Baginda Rasulullah SAW.”

Demikian Ibnu al Mubarok telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Kholid bin Ma’dan.

Begitulah rasa betapa kerinduan para sahabat kepada baginda Rasulullah SAW begitu tinggi. Para sahabat selalu terkenang bagaimana kasih sayang baginda Rasulullah SAW yang sangat membekas baginya. Tentu tidak hanya Mu’adz yang merasa, begitupun dengan sahabat-sahabat lainnya.

Pernahkah kita merasa keriduan yang begitu dahsyatnya? Kerinduan pada orang-orang yang sangat kita cintai. Lama tidak ketemu. Ada jarak. Jauh. Kerinduan pada suami kita. Pada istri kita. Pada anak-anak kita. Pada orangtua kita. Begitu lama tidak temu.

Terbayang jelas di pelupuk mata kita, di benak hati kita, saat kebersamaan itu ada. Saat bertemu bertatap muka. Saat bercengkrama. Bersendaguaru. Bermain. Bahkan pun saat konflik, bertengkar, saling marah. Semua itu… kini tiada. Kita kehilangan dan berharap bisa kembali. Jejak kerinduan itu begitu dalam terasa.

Hidup tak sekedar satu Warna; berupa warna, tetapi itulah hidup. Ada keindahan. Ada kesedihan. Biarkan itu semua ada. Relakan semuanya. Semua akan menjadi kenangan. Kenangan yang mengugah kerinduan. Tugas kita adalah memilah dan memilih agar semua itu terasa bermakna.

Ending dari semua ini, adakah semua yang memberi kenangan yang meriuh kerinduan akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah? Jika semua yang merindukan itu tidak menghantarkan kita untuk mendekat pada Allah, maka tidak ada maknanya dan tidak ada manfaatnya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Merias Wajah Pengantin

Bagaimana Islam Mengatur Riasan Pengantin Perempuan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya. Kmaren sy share materi kajian ttg pake bulu mata palsu trs jd bnyk yg tanya niih. Gimana Islam mengatur ttg riasan pengantin perempuan? pd saat acr walimah/ akad nikah Memakai make up yg sngt tebal dn pasti pake bulu mata palsu. Tdk cuma pengantin tp saudari2 perempuan nya dn ibunya juga dirias spt pengantin. Bagi kita yg sdh faham tentu hal itu mudah ditinggalkan. Tp bagi mrk yg blm faham sngt sulit untuk kita mengingatkan. Terima kasih bnyk ustadz atas jawabannya. A/21

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Seorang wanita diciptakan oleh Allah dalam keadaan memiliki fitrah untuk berdandan, sehingga dihalalkan untuknya sebagian yang tidak dihalalkan untuk laki – laki, seperti: emas dan sutera.

Namun, ada beberapa batasan yang ditetapkan dalam syariat, yang harus diperhatikan seorang wanita ketika berdandan (baik seorang pengantin atau bukan):

1. Tidak menyerupai dandanan khusus wanita kafir dan wanita fasiq (wanita yang buruk agama dan akhlaknya), rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut.”
( HR. Abu dawud: 4031).

2. Tidak menyerupai laki -laki.

Ibnu Abbas berkata:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”
( HR. Bukhari : 5885).

3. Tidak menyambung rambut, mencukur alis, mengikir gigi, bertato untuk berdandan.

Abdullah bin mas’ud berkata:

لعن اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu alisnya, yang merenggangkan giginya, (semua itu) supaya ia terlihat cantik, dengan mengubah ciptaan Allah.”
Serta beliau berkata: mengapa aku tidak melaknat wanita yang dilaknat oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
( HR. Bukhari : 5948).

4. Tidak menampakkan dandanannya kepada laki – laki yang bukan mahram.

Allah berfirman:

وقل لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ1 أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka….“
(QS. An – Nur : 31).

Itulah aturan syariat dalam dandanan wanita beserta dalil – dalilnya dan seorang wanita yang beriman tidak akan mempertentangkan aturan Allah dengan akalnya, hawa nafsunya atau alasan adat dan sebagainya.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ipar Bukan Mahram

Karena Ipar Bukanlah Mahram

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, pa betul org2 yg jd mahram kita itu boleh lihat aurat kita yg biasa basah krn wudhu? Berarti anggota wudhu boleh dilihat oleh ipar laki2 kita ya ?
Terimakasih banyak. (A/19)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Untuk orang-orang yang boleh melihat aurat wanita, khususnya aurat mukhafafah (ringan) seperti rambut, leher, tangan sampai pangkal, betis, ini boleh nampak bagi mahram. Dalilnya sebagai berikut:

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur: 31)

Ada pun ipar, dia bukanlah mahram. Maka, tidak dibenarkan menampakkan aurat dihadapannya.

ْعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِر
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hindarilah oleh kalian masuk ke rumah-rumah wanita!” Lalu seorang Anshar bertanya; ‘Ya, Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang Al Hamwu (ipar, keluarga dekat dari suaminya).’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Bahkan itu kematian (lebih berbahaya).’

(HR. Muslim no. 2172)

Karena ipar bukan mahram, maka boleh menikahi ipar jika seseorang sdh bercerai atau wafat suami/istrinya. Sebagaimana yang dilakukan Utsman Radhiallahu ‘Anhu Saat menikahi dua putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Awalnya menikahi Ruqayyah, lalu setelah Ruqayyah wafat, Utsman menikahi putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lain yaitu Ummu Kultsum.

Demikian. Wallahu a’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhir Kehidupan

Manusia Berhati Iblis

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Iblis itu sombong …

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan yang kafir. (QS. Al Baqarah: 34)

Iblis itu merasa paling baik dan benar, seraya meremehkan yang lain …

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shad: 76)

Pernahkah berjumpa dengan manusia atau komunitas dengan tipologi Iblis ?

Menyangka diri dan kelompoknya yg paling baik, paling benar, paling sunnah, dan paling paham dalil ..

Standar kebenaran adalah apa yang benar menurut mereka ..

Berbeda dengan mereka maka itu kesalahan, kesesatan, dan bid’ah ..

Tidak mau menerima perbedaan, mengunci diri dari lainnya .. steril .. Hanya mau menerima dari kelompoknya saja ..

Memandang yg lain dengan pra konsep ” pasti salah” karena yg lain beda dengan pemahamannya ..

Memuji kebaikan dan kelebihan yg ada pada diri dan kelompoknya, namun menutupi kebaikan dan kelebihan pada orang lain betapa pun bagusnya, justru yang mereka lakukan adalah mengkorek kesalahan yg lain ..

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(QS. An Najm: 32)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Jika seseorang berkata: “Manusia telah rusak” maka dialah yang lebih rusak dibanding mereka. (HR. Muslim No. 2623)

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari sikap buruk Iblis ini dan menjaga kita menjadi korbannya mereka …

Wallahu A’lam wa Ilaihil Musytaka

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Harta Gono Gini

Harta Gono Gini

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin bertanya. Bagaimana menurut ajaran Islam mengenai harta gono gini pasca bercerai (kondisi laki laki digugat cerai)?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika yang menceraikan suami, atas kemauan suami, maka suami mesti memberikan harta yang layak ke istri. Di negeri kita diistilahkan harta gono gini.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah (harta) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
(QS. Al-Ahzab, Ayat 28)

Jika cerainya karena gugatan istri (khulu’) maka istrilah yang mesti mengembalikan mahar, atau harta seukuran mahar atau lebih.

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

الخلع فراق الزوجة بعوض ، فيأخذ الزوج عوضاً ويفارق زوجته ، سواء كان هذا العوض هو المهر الذي كان دفعه لها أو أكثر أو أقل

Khulu’ adalah menceraikan istri dengan adanya tebusan, dimana suami mengambil tebusan itu dari istrinya saat menceraikan istrinya. Baik tebusan itu berupa maharnya yg pernah diberikan kepadanya atau lebih banyak, atau lebih sedikit. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 26247)

Dalilnya:

ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِۖ فَإِمۡسَاكُۢ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ تَسۡرِيحُۢ بِإِحۡسَٰنٖۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَأۡخُذُواْ مِمَّآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ شَيۡـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعۡتَدُوهَاۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.
(QS. Al-Baqarah, Ayat 229)

Dalil hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلَا دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

Dari Ibnu Abbas bahwasanya; Isteri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mencela Tsabit bin Qais atas agama atau pun akhlaknya, akan tetapi aku khawatir kekufuran dalam Islam.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu mau mengembalikan kebun miliknya itu?” Ia menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada suaminya): “Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah ia dengan talak satu.”
(HR. Bukhari no. 5273)

Kisah di atas menunjukkan:
– Tuntutan cerai datangnya dari istri
– Istri diminta memulangkan mahar
– Lalu, Suami menceraikannya

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah boleh minta lebih dari mahar atau tidak. Jumhur ulama mengatakan lebih dari mahar, seperti Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah. Sementara Hambaliyah mengatakan setara dengan mahar saja.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678