Pesan Pagi, As’adallahu shobaahakum….

سُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ: هَلْ أَخَذْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعْتَ؟ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُ الشَّوْكَ عَدَلْتُ عَنْهُ، أَوْ جَاوَزْتُهُ، أَوْ قَصَّرْتُ عَنْهُ، قَالَ: ذَاكَ التَّقْوَى.

Abu Hurairah pernah ditanya tentang taqwa. Maka dia balik bertanya, ‘Pernahkan engkau melewati jalan berduri?’ Orang itu menjawab, ‘Ya’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan?’ dia menjawab, ‘Jika aku lihat duri, aku akan
menyingkir, atau melangkahinya atau aku mundur.’ Beliau berkata, ‘Itulah takwa.”

® Berdasarkan riwayat ini, Ibnu Mu’taz menggibah sebuah syair,

خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا ..وَكَبِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى

وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ ..ضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى

لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً … إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى

▪Tinggalkan dosa, kecil maupu besar, itulah takwa

▪Bersikaplah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, dia berhati-hati dengan apa yang dia lihat.

▪Jangan remehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung dari kumpulan kerikil.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: أَعَزُّ الْأَشْيَاءِ ثَلَاثَةٌ: الْجُودُ مِنْ قِلَّةٍ، وَالْوَرَعُ فِي خَلْوَةٍ، وَكَلِمَةُ الْحَقِّ عِنْدَ مَنْ يُرْجَى أَوْ يُخَافُ

Imam Syafii berkata, “Tiga perkara yang sangat mulia;
▪Dermawan saat kekurangan,

▪ Wara (sangat berhati-hati dari perbuatan dosa) saat sendirian

▪Menyampaikan kebenaran, baik kepada orang yang ditakuti atau diharapkan..”

إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ … خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيبُ

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفُلُ سَاعَةً … وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيبُ

▪Jika suatu saat engkau seorang diri, jangan katakan, aku seorang diri, tapi katakan, diriku selalu diamati.

▪Jangan dikira Allah lalai walau sesaat, juga jangan mengira bahwa apa yang tersembunyi, bagi-Nya tak terlihat

Wallahu A’lam

Harta Haram Menjadi Halal

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
Mohon penjelasannya Ustadz. Bagaimana jika ada seorang muslim menumpang tinggal di rumah saudaranya yg muslim tapi penghasilannya dari pekerjaan haram. Disana dia membantu menjaga anak2 saudaranya itu. Bagaimana pula status kehalalan harta ART yg bekerja di rumah tersebut? Apakah sang ART tersebut diperbolehkan ikut makan di rumah tsb? 
Jazakumullah khaiir atas jawabannya ustadz 🙏
Wassalam

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Syekh Shalih Alu Syaikh mengatakan, “Di antara permasalahan yang disinggung oleh para ulama ketika membahas hadits keenam dalam kitab Arbain An-Nawawiyyah (yaitu hadits yang berisi perintah untuk menjauhi sesuatu yang belum jelas kehalalannya) adalah permasalahan memakan harta orang yang pendapatannya bercampur antara sumber yang halal dengan sumber yang haram. Misalnya: Tetangga yang kita ketahui memiliki sumber pendapatan yang haram, berupa menerima uang suap, memakan riba, atau semisalnya, namun di sisi lain dia memiliki sumber pendapatan yang halal. Apa hukum harta orang semisal ini?

Dalam masalah ini, ada beberapa pendapat ulama:

Pertama: Menjauhinya sebagai sikap kehati-hatian. Akan tetapi sikap ini tidak wajib, hanya sebatas mencegah diri dari kemungkinan terjebak pada sesuatu yang haram.

Kedua: Sejumlah (ulama lain) berpendapat bahwa yang menjadi tolak ukur adalah jenis harta yang paling dominan. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang haram maka kita jauhi harta tersebut. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang halal maka kita boleh memakannya, selama kita tidak mengetahui secara pasti bahwa harta yang dia berikan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram.

Ketiga: Ulama yang lain, semisal Ibnu Mas’ud, mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang jalan haram yang ditempuh orang tersebut dalam memperoleh hartanya itu menjadi tanggung jawabnya, karena cara mendapatkan harta itu antara kita dengan dia berbeda. Orang tersebut mendapatkan harta itu melalui profesi yang haram, namun ketika dia memberikan harta tersebut kepada kita, dia memberikannya sebagai upah, hadiah, hibah, jamuan tamu, atau semisalnya kepada kita.

Perbedaan cara mendapatkan harta menyebabkan berbedanya status hukum harta tersebut. Sebagaimana dalam kisah Barirah. Barirah mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi ﷺ, sedangkan Nabi ﷺ tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi ﷺ bersabda, ‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Meski daging yang dihadiahkan kepada Nabi ﷺ itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, tetapi status hukumnya berbeda karena terdapat perbedaan cara mendapatkannya. Berdasarkan pertimbangan ini, sejumlah shahabat dan ulama mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang adanya dosa, maka itu menjadi tanggungan orang yang memberikan harta tersebut kepada kita. Alasannya, kita mendapatkan harta tersebut dengan status hadiah atau upah atas pekerjaan kita (pekerjaan halal), sehingga tidak ada masalah jika kita memakannya.

Dari sisi dalil, pendapat Ibnu Mas’ud adalah pilihan yang tepat. Di antara ulama yang menguatkan pendapat Ibnu Mas’ud adalah Ibnu Abdil Bar Al-Maliki, dalam kitabnya ‘At-Tamhid’.” (Syarah Arbain Nawawiyyah karya Syekh Shalih Alu Syekh, hlm. 153–155, terbitan Dar Al-‘Ashimah, Riyadh, cetakan pertama, 1431 H)

عن ذر بن عبد الله عن ابن مسعود قال : جاء إليه رجل فقال : إن لي جارا يأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ، فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya (makanannya) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 14675)

عن سلمان الفارسي قال: إذا كان لك صديق عامل، أو جار عامل أو ذو قرابة عامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمه عليه.

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika Anda memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepada Anda atau mengajak Anda makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak Anda, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 14677)

Ringkasnya, harta haram itu ada dua macam:

Pertama: Haram karena bendanya. Misalnya: Babi dan khamar; mengonsumsinya adalah haram atas orang yang mendapatkannya maupun atas orang lain yang diberi hadiah oleh orang yang mendapatkannya.

Kedua: Haram karena cara mendapatkannya. Misalnya: Uang suap, gaji pegawai bank, dan penghasilan pelacur; harta tersebut hanyalah haram bagi orang yang mendapatkannya dengan cara haram. Akan tetapi, jika orang yang mendapatkannya dengan cara haram tersebut menghadiahkan atau memberikan sebagai upah uang yang dia dapatkan kepada orang lain, atau dia gunakan uang tersebut untuk membeli makanan lalu makanan tadi dia sajikan kepada orang lain yang bertamu ke rumahnya, maka harta tadi berubah menjadi halal untuk orang lain tadi, karena adanya perbedaan cara mendapatkannya antara orang yang memberi dengan orang yang diberi. Inilah pendapat ulama yang paling kuat dalam masalah ini, sebagaimana pendapat ini adalah pendapat dua shahabat Nabi ﷺ, yaitu Ibnu Mas’ud dan Salman Al-Farisi.

Wallahu a’lam.

Berniaga Dengan Non Muslim

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron 🙏
# A 42

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.

Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.

Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:

اشترى رسول الله صل الله عليه وسلم من يهودي طعاما بنسيءة، فاعطاه درعا له رهنا (رواه مسلم).

Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.

Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.

Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk  umat islam.

Wallahu a’lam.

Shalat Wajib Bersama Imam Yang Shalat Sunnah, Bolehkah?​

Ini termasuk pertanyaan yang paling sering kami terima. Misal, Saat orang sdg shalat ba’diyah, tahu-tahunya datang orang menjadi makmumnya dan dia shalat wajib, .. ada orang yang memberikan kode dgn tangannya dgn kode menolak, karena menurutnya itu tidak boleh sebab dia sedang shalat Sunnah .. bagaimanakah sebenarnya?

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

أن معاذ بن جبل رضي الله عنه كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم يأتي قومه فيصلي بهم الصلاة ، فقرأ بهم البقرة … فقال النبي صلى الله عليه وسلم : … اقرأ (والشمس وضحاها) و (سبح اسم ربك الأعلى) 

Bahwa Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, pernah shalat berjamaah bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian setelah itu dia mendatangi kaumnya untuk shalat bersama mereka, dia menjadi imam bersama mereka dgn membaca Al Baqarah, maka Nabi bersabda: “Bacalah Asy Syams dan Adh Dhuha, dan Sabbihisma Rabbikal a’la”.

(HR. Bukhari No. 5755, Muslim No. 465)

Kisah ini menunjukkan bolehnya makmum mengangkat imam yang shalat Sunnah, Mu’adz bin Jabal sudah melaksanakan shalat wajibnya, dan apa yang dilakukannya yaitu menempati kaum itu menjadi imam mereka dihitung sebagai shalat Sunnah, dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengingkarinya bahkan justru mengajarkan surat yang sebaiknya dibaca.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

هذا الحديث : جواز صلاة المفترض خلف المتنفل ؛ لأن معاذاً كان يصلِّي الفريضة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فيُسقط فرضَه ثم يصلِّي مرة ثانية بقومه هي له تطوع ولهم فريضة

Hadits ini menunjukkan kebolehan shalat wajib dibelakang shalat sunnah. Karena dahulu Mu’adz telah shalat wajib bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka sudah gugur shalat wajibnya, lalu yang dia lakukan kedua kalinya adalah Sunnah baginya, ada pun bagi kaumnya adalah wajib.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/181)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

لا حرج أن يأتم المفترض بالمتنفل ، فقد ثبت أن معاذ بن جبل رضي الله عنه كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم العشاء ، ثم يرجع إلى قومه فيصلي بهم العشاء إماماً فتكون له نافلة ولهم فريضة 

Tidak masalah bagi orang yang melaksanakan shalat wajib bermaknum kepada yang shalat Sunnah. Telah Shahih bahwa Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu shalat Isya bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu dia kembali kepada kaumnya, dan dia menjadi imamnya di sana, maka hal  itu baginya adalah Sunnah dan mereka adalah wajib.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no.153386)

Demikian. Wallahu a’lam

Mati syahid

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apa  saja kategori mati syahid fii sabilillah? Bagaimana cara meraihnya? Setiap mendengar keutamaan2 mati syahid hati sy bergemuruh, air mata tak terbendung.  bisakah mendapatkan?? Sedangkan sy bukan siapa2
👆🏻Member 🅰2⃣8⃣.   

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

​​Definisi syahid menurut para ulama​​

​a. Al-Hanafiyah​
Mewakili madzhab Al-Hanafiyah, Ibnu Abidin mendefinisikan tentang orang yang mati syahid sebagai :

هُوَ كُلُّ مُكَلَّفٍ مُسْلِمٍ طَاهِرٍ قُتِلَ ظُلْمًا بِجَارِحَةٍ

Semua orang yang mukallaf, muslim, suci dari hadats, terbunuh secara zalim dengan luka-luka.

​b. Al-Malikiyah​
Ada pun ulama di kalangan madzhab Al-Malikiyah membuat definisi tentang orang yang mati syahid dengan redaksi :

شَهِيْدٌ مُعْتَرِكٌ فَقَطْ وَلَوْ بِبَلَدِ الإِسْلاَمِ أَوْلَمْ يُقَاتِلْ وَإِنْ أَجْنَبَ عَلَى الأَحْسَنِ إِلاَّ إِنْ رَفَعَ حَيًا وَإِنْ أَنْفَذَتْ مُقَاتِلهُ

Hanya yang ikut dalam perang fisik saja, meski matinya di negeri Islam dan tidak ikut membunuh, meski pun berjanabah, dan bukan orang yang keluar dalam keadaan hidup meski ditolong oleh lawan.

​c. Asy-Syafi’iyah​
Sedangkan definisi mati syahid dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’iyah adalah :

مَنْ مَاتَ بِسَبَبِ قِتَالِ الكُفَّارِ حَالَ قِيَامِ القِتَالِ

Orang yang mati karena sebab memerangi orang-orang kafir ketika terjadi peperangan.    Kesimpulannya, melihat definisi diatas, siapapun bisa berpeluang tuk mendapatkan syahid bila ia sungguh sungguh berjuang tuk fi sabilillah.

Wallahu a’lam.

Bencana Alam dan LGBT​

Bismillah wal hamdulillah ..

Ya bukan mustahil, bagi seorg mu’min dan berakal sekaligus .. gempa bumi bukan semata fenomena alam, tapi ini tadzkirah (peringatan) dr Allah Ta’ala kepada kita.

Orang-orang liberal menantang, jika LGBT memang sebuah dosa kenapa tidak mendapatkan azab seperti umat terdahulu? ..

Mereka lupa diri, bahwa menjadi LGBT sendiri sdh bagian dari azab itu sendiri.

Maka, aktifis Islam tidak boleh diam, agar tidak terjadi meratanya musibah, sebab walau pelaku penyimpangan adalah mereka, namun hukumannya bukan hanya untuk mereka tapi merata.

Imam Ibnu Katsir ​Rahimahullah​ berkata:

يُحَذِّرُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ فِتْنَةً أَيِ اخْتِبَارًا وَمِحْنَةً يَعُمُّ بِهَا الْمُسِيءَ وَغَيْرَهُ لَا يَخُصُّ بِهَا أَهْلَ الْمَعَاصِي وَلَا مَنْ بَاشَرَ الذَّنْبَ بَلْ يَعُمُّهُمَا حَيْثُ لَمْ تُدْفَعُ وَتُرْفَعُ

​Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dgn adanya fitnah, yaitu ujian dan musibah yang merata yg dirasakan oleh orang jahat dan selainnya, yg tidak dikhususkan terjadi pada pelaku maksiat dan dosa saja, tapi terjadi secara merata karena mereka tidak mencegah dan menghapuskannya.​

​(Tafsir Ibnu Katsir, 4/32)​

Demikian. Wallahu a’lam

Ketika Istri Melahirkan, Bagaimana dengan Ari-Arinya?

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.. ustadz/ustadzah…saya mau nanya ketika istri melahirkan, bagaimana ajaran Islam dengan ari2 nya….dan saya minta doa nya semoga di beri kemudahan saat persalinan utk istri saya.. terimakasih sebelumnya ustadz/ustadzah
02

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah, bahwa beliau mengatakan,

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.”

Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah.

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan,

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zhahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagai ana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silahkan dirujuk. (Faidhul Qadir, 5:198)

Karena itu para ulama menilai hadis ini sebagai hadis dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan,

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” (Syu’abul Iman, no. 6488).

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar,

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini dhaif. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dhaif.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan, “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat, tidak mengapa.” Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19.

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Disamping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan, “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN: Bab  Shiddiq – Kejujuran Hati​

​Hadits:​

الرابع : عن أبي ثابت ، وقيل : أبي سعيد ، وقيل : أبي الوليد ، سهل ابن حُنَيْفٍ وَهُوَ بدريٌّ – رضي الله عنه – :

أنَّ النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : مَنْ سَأَلَ الله تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

رواه مسلم .

​Artinya:​

​Dari Abu Tsabit, dalam suatu riwayat lain disebut-kan Abu Said dan dalam riwayat lain pula disebutkan Abul Walid, yaitu Sahl bin Hanif r.a., dan dia pernah menyaksikan peperangan Badar, bahawasanya Nabi SAW bersabda:​

​”Barangsiapa yang memohonkan kepada Allah Ta’ala supaya dimatikan syahid dan permohonannya itu dengan secara yang sebenar-benarnya (kejujuran), maka Allah akan menyampaikan orang itu ke tingkat orang-orang yang mati syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya.”​

(Riwayat Muslim)

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:

 http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1 

Berkata Baik atau Diam​

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala alihi washahbihi wa man walahu, laa haula wa laa quwwata illaa billah,

Materi yang akan dibahas kali ini adalah

Berkata yang baik atau diam
Studi kasus: Komika

🍂 ​Al-Qur’an

Pertama kita coba tadabburi 3 (tiga) ayat Allah:

➡ ​Surat Al-Isra’ [17] ayat 36:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.’

➡ ​Surat Qaf [50] ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’

➡ ​Surat Al-Infithar [82] ayat 10-12:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ( )كِرَامًا كَاتِبِينَ( )يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

‘Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.’

🌙 Dari ketiga ayat ini Allah ﷻ menguatkan hamba-Nya agar menghadirkan perasaan selalu diawasi oleh-Nya, dan keyakinan bahwa setiap geraknya ada yang mencatat, yakni malaikat yang mulia lagi taat.

🍃 ​As-Sunnah

➡ ​Dari Sahl bin Sa’id r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”​ (HR. Al-Bukhari No. 6474)

➡ ​Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”​ (HR. Al-Bukhari No. 6018)

➡ ​Dari Abdullah ibn ‘Umar r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.”​ (HR. Al-Bukhari No. 10)

💫 Dari ketiga hadits yang mulia ini, Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kepada kita akan nikmat Allah berupa otot yang paling kuat dalam jasad, yakni lidah. Keberadaannya akan membawa manusia ke Jannah, tapi keberadaannya pun dapat membawa manusia ke Neraka.

🌾 Jika dihayati lebih mendalam, setiap muslim jika mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka akan membawa dirinya pada sosok manusia cerdas (al-kayyis), karena terbiasa dengan:

Berpikir dahulu sebelum berbicara, bukan berbicara dahulu baru kemudian berpikir.

Para ‘ulama telah mengingatkan kita dengan kata-kata mutiaranya yang luar biasa,

1⃣ Banyak yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam (Ibn Hibban)

2⃣ 🌾 Jika dihayati lebih mendalam, setiap muslim jika mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka akan membawa dirinya pada sosok manusia cerdas (al-kayyis), karena terbiasa dengan:

Berpikir dahulu sebelum berbicara, bukan berbicara dahulu baru kemudian berpikir.

Para ‘ulama telah mengingatkan kita dengan kata-kata mutiaranya yang luar biasa,

1⃣ Banyak yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam (Ibn Hibban)

2⃣ Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. (Ibn Hibban)

3⃣ Apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

Jika demikian adanya, bolehkah kita menggunakan lisan ini untuk bercanda?

Terdapat beberapa keterangan tentang senangnya Nabi ﷺ bercanda,

➡ Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً

“Seseorang tidak dikatakan beriman seluruhnya sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda dan ia meninggalkan debat walau itu benar.”​ (HR. Ahmad 2:352)

➡ Dari ‘Abdullah ibn Umar r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata yang benar.”​ (HR. Thabrani dalam Al-Kabir 12: 391)

➡ Dari ayah dari Bahz bin Hakim r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.”​ (HR. Abu Daud no. 4990)

➡ Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Janganlah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”​ (Shahihul Jami’ no. 7345)

💫 Bercanda ternyata dibutuhkan agar hidup tidak monoton, membangkitkan semangat, menguatkan persaudaraan, meningkatkan rasa cinta, dan menghilangkan kepenatan, rasa bosan, dan kelesuan, sehingga hidup lebih bergairah. Namun Islam juga mengingatkan bahwa terlalu sering bercanda, bahkan menyebabkan gelak tawa yang berlebihan justeru akan mematikan hati, pada saat itu hati menjadi keras, dan khawatir sulit menerima ilmu.

Pada akhirnya, segala sesuatu yang terlalu kurang dan terlalu lebih menyebabkan ketidakseimbangan.

Terakhir, Ibn Hibban pernah berkata, “Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.”

Bagaimana agar bercanda menjadi indah dalam Islam?

1. Meluruskan Tujuan
Seperti jika melihat ummahat yang sedang sedih, bimbang, galau, maka hendaknya ada yang datang untuk membahagiakannya dari sahabat wanitanya.

2. Jangan Melewati Batas
Batasi secukupnya hingga sahabat kita kembali riang gembira dan terbuka.

3. Pastikan mereka senang dicandai
Jangan lakukan untuk mereka yang baru antum kenal, lihat juga situasi yang tepat.

4. Jangan bercanda pada hal yang serius
Jangan lakukan jika situasi sedang membahas hal yang serius karena menjadi perkara yang kontra produktif.

5. Jangan menakut-nakuti
Tidak boleh bercanda seperti menyembunyikan sepatu, senjata perang, atau barang-barang yang dimiliki sehingga lahir ketakutan.

6. Tinggalkan berdusta
Jangan berdusta.

7. Jangan melecehkan agama
Jangan menjadikan agama sebagai permainan.

Lihat Q.S. At-Taubah [9] ayat 64-65:

يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ٦٤ وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥

64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu
65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dgn Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?

Sebagai kesimpulan:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
🔸 ​Silahkan bercanda namun jagalah diri dengan Adab Bercanda.

🔹 ​Meraih ridha Allah melahirkan kemuliaan, meraih ridha manusia melahirkan kehinaan.

Hukum Vaksinasi

Ustadz mau tanya diluar pembahasan diatas, terkait dengan vaksinasi/imunisasi utk bayi,bgmna hukumnya menurut syari’at islam? Mohon penjelasannya ust,..syukran (# i44)

Jawaban
—————

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ada dua pendapat dalam masalah ini:

1. Mengharamkan
Jika terbukti ada unsur2 yang diharamkan, seperti Babi, baik minyak, daging, atau apa saja darinya. Dalilnya jelas yaitu keharaman Babi itu sendiri, dan  kaidah fiqih yang berbunyi:

إذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غَلَبَ الْحَرَامُ

“Jika Halal dan haram bercampur maka yang haramlah yang menang (dominan).”

Kaidah ini berasal dari riwayat mauquf dari Ibnu Mas’d sebagai berikut:

مَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ إلَّا غَلَبَ الْحَرَامُ الْحَلَالَ

“Tidakah halal dan haram bercampur melainkan yang haram akan mengalahkan yang halal.”

Imam As Suyuti Rahimahullah mengomentari riwayat ini, katanya:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ : وَلَا أَصْلَ لَهُ ، وَقَالَ السُّبْكِيُّ فِي الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ نَقْلًا عَنْ الْبَيْهَقِيّ : هُوَ حَدِيثٌ رَوَاهُ جَابِرٌ الْجُعْفِيُّ، رَجُلٌ ضَعِيفٌ ، عَنْ الشَّعْبِيُّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ ، وَهُوَ مُنْقَطِعٌ . قُلْت : وَأَخْرَجَهُ مِنْ هَذَا الطَّرِيقِ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي مُصَنَّفِهِ . وَهُوَ مَوْقُوفٌعَلَى ابْنِ مَسْعُودِ لَا مَرْفُوعٌ . ثُمَّ قَالَ ابْنُ السُّبْكِيّ : غَيْرِ أَنَّ الْقَاعِدَةَ فِي نَفْسِهَا صَحِيحَةٌ .

Berkata Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqi: “Tidak ada asalnya.” As Subki berkata dalam Al Asybah wan Nazhair, mengutip dari Al Baihaqi: ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Al Ju’fi, seorang yang dhaif, dari Asy Sya’bi, dari Ibnu Mas’ud, dan hadits ini munqathi’ (terputus). Aku (As Suyuthi) berkata: Abdurrazzaq dalamMushannaf-nya, telah mengeluarkannya dengan jalan ini. Itu adalah riwayat mauquf(terhenti) pada ucapan Ibnu Mas’ud, bukan marfu’(Sampai kepada Rasulullah). Kemudian, berkata Ibnu As Subki: ” “Namun, sesungguhnya kaidahnya sendiri,  yang ada pada hadits ini adalah shahih (benar). (Al Asybah wan Nazhair, 1/194)

Inilah yang dipilih oleh MUI kita, kalau pun mereka membolehkan karena dharurat saja, yaitu dalam keadaan memang tidak ada penggantinya yang halal, atau dalam konteks haji, hanya dibolehkan untuk haji yang wajib bukan haji sunah (haji kedua, ketiga, dst).

2. Membolehkan.
Ini pendapat dari segolongan Hanafiyah, seperti Imam Abu Ja’far Ath Thahawi. Nampaknya ini juga diikuti oleh ulama kerajaan Arab Saudi.

Alasannya adalah karena ketika sudah menjadi vaksin, maka itu sudah menjadi wujud baru, tidak lagi dikatakan campuran. Sedangkan fiqih melihat pada wujud baru, bukan pada wujud sebelumnya. Dahulu ada sahabat Nabi ﷺ yang membuat cuka berasal dari nabidz anggur (wine). Ini menunjukkan bahwa benda haram, ketika sudah berubah baik karena proses alami atau kimiawi, maka tidak apa-apa dimanfaatkan ketika sudah menjadi wujud baru. Dianggap, unsur haramnya telah lenyap. Hal ini bagi mereka juga berlaku untuk alat-alat kosmetik dan semisalnya. Ini juga yang dipegang oleh Syaikh Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Dari kedua pendapat ini, pendapat pertama nampak lebih hati-hati. Di sisi lain, tidaklah apple to apple menyamakan unsur Babi dalam vaksin dengan wine yang menjadi cuka. Sebab, wine berasal dari buah anggur yang halal, artinya memang sebelumna adalah benda halal. Beda dengan Babi, sejak awalnya memang sudah haram.

 Pembolehan hanya jika terpaksa, belum ada gantinya yang setara, dan terbukti memang vaksin itu penting, dan pada haji pertama. Kalau ada cara lain, atau zat lain yang bisa menggantikan vaksin tersebut maka itulah yang kita pakai. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi ilmuwan muslim untuk menemukannya.

Wallahu a’lam.