Mengedepankan Baik Sangka untuk Menjaga Ukhuwah

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Jika keikutsertaan kita dalam barisan dakwah tulus, kita akan berbaik sangka dan ikatan persaudaraan kita menjadi kuat.

Saat menceritakan kisah taubatnya, Ka’ab bin Malik menyatakan, Rasulullah saw tidak pernah menyebut namaku hingga sampai di Tabuk, ketika duduk bersama sahabat-sahabatnya.

Beliau bertanya, ‘Apa gerangan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?’

Seorang dari Bani Salamah menjawab, Wahai Rasulullah, dia tidak berangkat karena lebih suka berteduh dan senang melihat kebunnya.’

Tiba-tiba Mu’adz bin Jabbal menimmmpali, ‘Buruk sekali ucapanmu itu! Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini kami tak pernah menemukan kejelekan padanya.’

Rasulullah saw hanya diam.

Terkadang gejolak emosi sesaat membutakan mata kita hingga buruk sangka terlontar begitu saja tertuju pada seorang sahabat.

Kita lupa dengan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat, dan yang kita ingat hanya kesalahan yang kadang tak berarti.

Mari kita jaga ukhuwah dengan mendahulukan prasangka baik kepada saudara kita agar kebersamaan di jalan dakwah ini tak menorehkan luka.

Apakah sekedar nila setitik akan rusak susu sebelanga? Kita ini kumpulan manusia bukan kumpulan para Nabi apalagi malaikat. Kesalahan dan kekhilafan perlu disadari bahwa itulah kelemahan sisi kelemahan kita.

Bahkan jika kita mau menilik kepada diri kita sendiri, seberapa banyak noda dan dosa yang pernah kita lakukan, tanpa kita sadari atau pun yang kita sadari.

Siapapun yang berani jujur melihat dosa atau aib diri sendiri, tak akan mudah mencela orang dan memosisikan orang lain tersebut bersalah.

Berbaik sangkalah agar ukhuwah semakin indah
Berbaik sangkalah agar dakwah semakin merekah
Dan berbaik sangkalah agar perjuangan membawa kita ke Jannah.

Tabayun adalah sarana untuk mengurai segala permasalahan.
Tabayun lebih memberi ruang dengan tak sekedar menyalahkan.
Dan tabayun menjadikan kita lebih bijaksana dan berperikemanusiaan.

Diam menjadi pilihan terbaik untuk menjaga diri dari keburukan dan kesesatan.
Keselamatan kita di dunia dan akhirat terletak pada hati dan lisan kita.

Hati yang terjaga, lisan yang tertatan, kemuliaan akan mengiringinya.
Insya Allah…..

Jangan kotori hati dengan saling membenci.
Jangan perkeruh suasana dengan lisan yang kurang tertata
Dan jangan rusak persaudaraan dengan penilaian yang tak beralasan.

Semoga kita segera mengevaluasi diri agar terjaga hingga akhirat nanti.

Wallahu  A’lam.

Kisah Hafsah binti Umar Ra

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)
“Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Lalu dia (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS At Tahrim:3)

Hafsah binti Umar bin Khatab…terkenal sebagai seorang yang showwamah (rajin shaum) dan qowwamah (rajin berdiri qiyamul lail). Ibunya Zainab binti Madz’un. Saudara dari sahabat besar Utsman bin Madz’un. Ia saudara kandung Abdullah bin Umar. Seorang yang memahami fikih dan rajin beribadah. Hafsah lahir 5 tahun sebelum kenabian. Ia masuk Islam.dan menikah dengan seorang sahabat besar Khunais bin Hadzafah bin Qais. Khunais hijrah ke Habasyah ditemani Hafsah kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah bersama2. Khunais turut dalam perang Badar dan perang Uhud dan ia syahid disana.

Nabi Saw menikahi Hafsah. Dan ia menjadi istri nabi bersama Saudah dan Aisyah. Kemudian setelahnya menyusul istri2 yang lain. Suatu hari Rasulullah Saw memakan madu di rumah Zainab binti Jahsy. Hafsah dan Aisyah sepakat untuk mengatakan sesuatu jika bertemu dengan Rasulullah dihari bagian mereka. Mereka akan mempertanyakan seolah ada yang aneh dari diri Rasulullah Saw.

“Bau apa ini ya Rasulullah….baunya tidak sedap. Apa yang kau makan?.” Rasul menjawab:”Aku meminum madu dirumah Zainab.” Hafsah berkata:”Ya Rasulullah…..sesungguhnya madu itu telah berjamur.” Dan ketika Rasulullah datang ke rumah Zainab, beliau minta madu itu dijauhkan.

Aisyah berkata:”Demi Allah, aku menyadari bahwa kami membuat suatu urusan yang besar. Kami melarang Rasulullah dari sesuatu yang beliau inginkan.”

Hafsah seorang yang banyak beribadah dan shalat tahajud. Oleh karenanya dikenal dengan showwamah qowwamah. Suatu hari…Rasulullah Saw berbincang dengan Mariyah dirumah Hafsah. Ketika Hafsah pulang dari rumah ayahnya dan Mariyah bergegas pergi, Hafsah menangis sejadi2nya. Ia berkata kepada Rasulullah :” Kalaulah engkau tidak merendahkanku, engkau tidak akan mengajaknya ke rumahku.” Rasulullah merayunya dan meminta keridhoannya. Beliau menegaskan bahwa Mariyah adalah mahramnya dan memiliki keperluan untuk bertemu dengannya. Rasulullah meminta Hafsah untuk tidak membicarakan peristiwa itu kepada siapapun. Akan tetapi ketika Hafsah bertemu Aisyah, ia menceritakannya. Maka dampaknya adalah para istri nabi berdemo meminta agar Mariyah tidak tinggal di Madinah. Kemudian Rasulullah menyendiri meninggalkan istri2nya dan beliau menyampaikan bahwa beliau memutuskan komunikasi dengan mereka semua. Dan tersiarlah kabar bahwa Rasulullah Saw menceraikan Hafsah dan istri2nya.

Ketika Umar mendengar berita ini, ia menangis seraya berkata: “Betapa besar aib Umar dan putrinya dihadapan Allah Swt.” Keesokan harinya Jibril turun menemui Rasulullah dengan membawa wahyu: “Kembalilah kepada Hafsah. Sesungguhnya ia showwamah dan qowwamah. Dan ia adalah istrimu di surga.”

Umar menemui Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah….janganlah engkau sempit dengan urusan kaum perempuan. Jika engkau menceraikan mereka, sesungguhnya Allah dan para malaikat, Jibril dan Mikail, aku dan Abu Bakar serta semua kaum muslimin berada bersamamu.” Rasululah berkata;”Beri aku waktu untuk meninggalkan selama satu bulan.” Maka Umar bergegas menuju masjid dan mengumumkan bahwa Rasulullah tidak menceraikan istri2nya. Dan turunlah ayat :
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤)عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤)عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)

“Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah) Lalu dia (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka sesungguhnya Allah menjadi Pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya.
Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QA At Tahrim:3-5)


🌸 *Hikmah kehidupan:*🌸

🍂Cemburu adalah fitrah kaum perempuan. Kaum perempuan perlu belajar mengelola cemburunya.

🍊Setiap muslim perlu memiliki amal unggulan, yang membuatnya terkenal dikalangan malaikat. Bila Hafsah showwamah qowwamah, maka apakah gelar yang layak bagi kita?

🍂Rasulullah menghargai dan memahami sikap manusiawi para istrinya selagi tidak berlebihan.

🍊Berlaku adil itu sangat sulit. Bahkan untuk Rasulullah Saw.

🍂Diantara hal yang harus diwaspadai adalah jika para perempuan bersekutu dalam keburukan.

🍊 Umar Ra menegaskan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah menceraikan istri2nya.

🍂Ketika berada pada pilihan Allah dan RasulNya atau keluarga, seorang mukmin yang tangguh tetap memilih Allah dan RasulNya.

🍊Tidak semua hal dalam keluarga bisa disampaikan kepada orang lain. Hal2 tertentu perlu disimpan rapat. Cukup suami istri saja yang tahu.

🍂Saling percaya dan terus menjaga kepercayaan adalah modal besar dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.

Wallohu a’lam bis showwab

Menulis Cerita Fiksi

By: Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum warohmatullah warohmatullahi wabarokaatuh.

Afwan ustad/ustadzah saya adalah seorang peminat sastra yg sangat menyukai puisi dan novel. Dan terkadang saya juga menuangkan imajinasi saya melalui media-media tersebut. *Sebenarnya bagaimana hukum menulis sebuah cerita fiksi itu?
*Bagaimana jika kita menulis cerita fiksi itu dengan tujuan dakwa?

Jadzakumullah ustadz/ustadzah.
Wassalamu’alaikum warahmatullohi wabarokaatuh. #A43

Jawaban :

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sampaikanlah cerita-cerita yang berasal dari Bani Israil dan itu tidaklah mengapa” (HR Ahmad, Abu Daud dll).

Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah terdapat tambahan,
“Karena sesungguhnya dalam cerita-cerita Bani Israil terkandung cerita-cerita yang menarik”.

Tambahan Ibnu Abi Syaibah ini dinilai sahih oleh Al Albani.

قال أهل العلم: وهذا دالٌّ على حل سماع تلك الأعاجيب للفرجة لا للحجة، أي لإزالة الهم عن النفس، لا للاحتجاج بها، والعمل بما فيها.

Para ulama mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita Bani Israil yang menarik sekedar untuk hiburan, bukan untuk berdalil. Dengan kata lain, hanya untuk menghilangkan kegundahan hati, bukan untuk berdalil dan beramal dengan isi kandungannya.

وبهذا الحديث استدل بعض أهل العلم على حل سماع الأعاجيب والفرائد من كل ما لا يتيقن كذبه بقصد الفرجة، وكذلك ما يتيقن كذبه، لكن قصد به ضرب الأمثال والمواعظ، وتعليم نحو الشجاعة، سواء كان على ألسنة آدميين أو حيوانات إذا كان لا يخفى ذلك على من يطالعها.
هكذا قال ابن حجر الهيثمي – رحمه الله – من الشافعية.

Hadits di atas dijadikan dalil oleh sebagian ulama untuk menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik dengan tujuan hiburan dengan syarat cerita tersebut tidak diketahui secara pasti kebohongannya. Sedangkan jika cerita tersebut sudah diketahui secara pasti kebohongannya maka boleh diceritakan dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat berani baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan asalkan semua orang yang membacanya pasti faham bahwa cerita tersebut hanya sekedar imajinasi atau karangan semata. Inilah pendapat Ibnu Hajar al Haitaimi, seorang ulama bermazhab syafii.

وذهب آخرون وهم علماء الحنفية إلى كراهة القصص الذي فيه تحديث الناس بما ليس له أصل معروف من أحاديث الأولين، أو الزيادة، أو النقص لتزيين القصص.

Di sisi lain para ulama bermazhab Hanafi berpendapat makruhnya kisah yang isinya adalah hal-hal yang tidak berdasar berupa kisah-kisah tentang kehidupan masa lalu atau memberi tambahan atau pengurangan pada kisah nyata dengan tujuan memperindah kisah.

ولكن لم يجزم محققو المتأخرين منهم كابن عابدين بالكراهة إذا صاحب ذلك مقصد حسن، فقال ابن عابدين رحمه الله: (وهل يقال بجوازه إذا قصد به ضرب الأمثال ونحوها؟ يُحَرَّر).

Akan tetapi ulama muhaqqiq (pengkaji) yang bermazhab hanafi dari generasi belakangan semisal Ibnu Abidin tidak menegaskan makruhnya hal tersebut jika orang yang melakukan memiliki niat yang baik. Ibnu Abidin mengatakan,

“Mungkinkah kita katakan bahwa hukum hal tersebut adalah mubah jika maksud dari membawakan kisah tersebut untuk membuat permisalan dengan tujuan memperjelas maksud atau niat baik semisalnya? Perlu telaah ulang untuk memastikan hal ini”.

والذي يظهر جواز تأليف الكتب التي تحتوي قصصاً خيالياً إذا كان القارئ يعلم ذلك، وكان المقصد منها حسناً كغرس بعض الفضائل،

Kesimpulannya, diperbolehkan menulis buku yang berisi cerita fiksi dengan dua syarat:
a. Semua orang yang membacanya menyadari bahwa cerita tersebut hanyalah fiksi.

b. Maksud dari ditulisnya cerita tersebut adalah niat yang baik semisal menanamkan akhlak-akhlak mulia.

أو ضرب الأمثال للتعليم كمقامات الحريري مثلاً، والتي لم نطلع على إنكاره من أهل العلم مع اطلاعهم عليها، وعلمهم بحقيقتها، وأنها قصص خيالية لا أصل لها في الواقع.
والله أعلم.

“Atau dengan tujuan sekedar membuat permisalan dalam proses belajar mengajar sebagaimana al maqamat karya al Hariri. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada satupun ulama di masa silam yang mengingkari al maqamat tersebut padahal mereka mengetahui adanya buku fiksi tersebut dan mereka mengetahui bahwa hakikat buku tersebut adalah kisah-kisah fiksi yang tidak ada di alam nyata”.
Sumber: islamweb.net
Artikel ustadzaris.com

Wallahu’ala bisshawab

Seberapa Besar Nilai Iman Bagi Manusia?

By: Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Dalam Al Qur-an Allah menggambarkan bahwa orang-orang yang tidak beriman akan menyesal di Hari Akhir. Mereka berusaha menebus dirinya dengan apa pun untuk melepaskan dirinya dari adzab Allah yang sangat pedih.

Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ [آل عمران : 91]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali Imraan: 91).

Penyesalan yang luar biasa meliputi jiwanya karena sewaktu hidup telah menyia-nyiakan iman. Di saat kematian dia menjerit dan melolong kesakitan karena meninggalkan iman yang pernah hinggap di hatinya sewaktu di Dunia….

Jika nyawa telah sampai di kerongkongan taubat manusia tidak akan diterima Allah. Begitu nyawa manusia keluar dari badannya maka kekayaan sebesar apa pun sudah tidak berguna, kedudukan dan jabatan yang tinggi tak bermanfaat, ketenaran dan popularitas  rontok tak berharga.

Berapa pun banyaknya bala tentara yang dia miliki, keluarga yang selalu membela, karib kerabat yang melindungi, atau pengikut yang dianggapnya setia… ternyata semuanya meninggalkan dia sendirian di dalam kubur…
Dia berhadapan sendirian dengan Malaikat Munkar dan Nakir yang menginterogasinya habis-habisan.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata):
“Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya,  (Al-anfal: 50-51)

Seberapa besar kelalaian manusia terhadap Imannya?

Syaikh Ali Jabir seorang penghafal Al Qur-an  dan penceramah kondang beberapa waktu lalu kehilangan mobil yang diparkir di kantornya di waktu subuh. Beliau tenang saja, yang rame adalah para wartawan yang memberitakan kehilangan ini di berbagai media on line maupun cetak. Seakan-akan peristiwa hilang mobil ini begitu pentingnya.

Padahal Syaikh Ali sendiri samasekali tidak marah atau menyesal, karena baginya yang hilang bukanlah  imannya. Beliau  hanya kehilangan suatu benda yang pasti digantikan Allah. Syaikh Ali malahan   mendoakan agar orang yang mencuri mobilnya bertaubat. Subhanallah !

Jika Anda ditanya, “Manakah yang lebih rugi jika Anda kehilangan mobil atau  tidak mengerjakan sholat subuh?”.

Mungkin Anda akan mengatakan seperti kebanyakan orang bahwa kehilangan mobil lebih merugikan”.

Itulah cara berpikir manusia yang lalai dengan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Bukankah baginda Rasulullah pernah mengatakan, “Dua rokaat yang dikerjakan sebelum sholat fajar lebih besar nilainya daripada Dunia dan segala isinya!”.

Jadi apalah artinya kehilangan sebuah mobil dibandingkan kehilangan dua rokaat subuh… Sekarang ini berapa banyak orang yang sengaja meninggalkan sholat subuh setiap harinya. Mereka tidak nampak menyesal, padahal dalam pandangan agama sebenarnya dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dia lupa menggunakan imannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Itulah kehidupan Kaum Muslimin di masa kini. Dalam kehidupan sehari-hari mereka  melupakan hal-hal besar dan sibuk mengejar hal-hal kecil yang tidak berharga untuk Hari Akhirat mereka.

Di antaranya ada yang  sibuk mengejar uang sehingga mengorbankan harga diri, melanggar syariat dengan korupsi, padahal itu membuatnya memakan harta haram.

Ada yang mengejarkan kekuasaan dengan sikut sana sikut sini, menzhalimi orang lain, padahal itu merupakan dosa di sisi Allah; ada yang mempertuhankan popularitas sehingga tidak malu menanggalkan iman dan akhlak untuk menjadi orang terkenal..

Jika manusia benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka setiap waktu imannya akan digunakannya untuk meningkatkan kedekatannya dengan Allah melalui ibadah baik yang wajib maupun sunnah. Dia berusaha mengejar ganjaran pahala yang Allah sediakan meskipun dia sadar bahwa tanpa hidayah dan bimbingan Allah dia tidak akan mampu meraih amal-amal yang mulia itu. Maka dia tidak menjadi sombong dengan amal salehnya; dia hanya berbuat sekuat tenaga untuk meraih ridha Allah dan keselamatan di hari Akhirat nanti…

Waallahu a’lam.

Orangtua Yg Berkata Kasar Thd Anaknya

By: Ustadzah Nurdiana

Assalamu’alaikum.. Afwan ustadz/ustadzah, mau tanya. Bagaimana cara menyikapi sikap orang tua yang suka berkata kasar kepada anaknya, disatu sisi si anak tidak mau jadi anak yang melawan kepada orang tua, tapi di sisi lain si anak mau mengingatkan orang tuanya tanpa terkesan jadi anak yang durhaka atau menggurui orang tuanya. Bagaimana sebaiknya anak itu bersikap?  🅰1⃣0⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
MasyaAllah …. Sesungguhnya dari pertanyaannya saja sudah menunjukkan anak yang baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas ada beberapa langkah yang harus dilakukan :

1. Luruskan dan kuatkan  niat untuk menjadikan diri dan orangtua lebih baik.

2. Pahami Teori Pembentukan Karakter

Sebenarnya ada banyak teori tentang pembentukan karakter yang bisa dipelajari, salah satunya adalah teori kode warna manusia yang dicetuskan oleh Taylor Hartman yang membagi manusia berdasarkan motif dasarnya. Namun Stephen Covey melalui bukunya “Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif” menyimpulkan bahwa sebenarnya ada tiga teori utama yang mendasarinya, yaitu :

Determinisme Genetis
—————–
Pada dasarnya, mengatakan bahwa kakek nenek andalah yang berbuat begitu kepada anda, itulah sebabnya anda memiliki tabiat seperti ini. Kakek nenek anda mudah marah dan itu ada pada DNA anda. Sifat ini diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya.

Determinisme Psikis
—————
Teori ini mengatakan bahwa, pada dasarnya orangtua andalah yang berbuat begitu kepada anda. Pengasuhan anda, pengalaman masa anak-anak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter anda. Itulah sebabnya anda takut berdiri di depan banyak orang. Begitulah cara orangtua anda membesarkan anda. Anda merasa sangat bersalah jika anda membuat kesalahan karena anda ”ingat jauh di dalam hati tentang peduli dan naskah emosional anda ketika anda sangat rentan, lembek dan bergantung.

Determinisme Lingkungan
——————–
Pada dasarnya mengatakan bos anda berbuat begitu kepada anda atau pasangan anda atau anak remaja yang berandal itu atau situasi ekonomi anda atau kebijakan nasional. Seseorang atau sesuatu di lingkungan anda bertanggungjawab atas situasi anda.

Menurut teori perkembangan karakter Determinisme Genetis, jawaban atas pertanyaan, “Mengapa karakter saya seperti ini?” adalah karena anda memang dilahirkan dengan gen seperti itu. Jika teori Determinisme Psikis yang menjadi jawaban atas kelebihan dan kekurangn kepribadian anda, maka salahkan orang tua anda yang kurang pandai mendidik ketika anda masih kecil. Demikian juga jika dalil Determinisme Lingkungan yang menjadi jawaban atas hidup anda yang serba kekurangan dan jauh dari cukup.

Proses Pembentukan Karakter
———————–
Pembentukan karakter diklasifikasikan dalam 5 tahapan yang berurutan dan sesuai usia, yaitu:

Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal antara yang baik dan yang buruk serta mengenal mana yang diperintahkan, misalnya dalam agama.

Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta dididik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan shalat mereka.

Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian antara usia 9 sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama serta mau membantu orang lain.

Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih anak untuk belajar menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya. (Miya Nur Andina dalam Chacha.blog: 2013):

Pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah merupakan proses untuk membentuk karakter anak yang kurang baik menjadi yang lebih baik. Sehingga diusia sekolah anak harus selalu dikontrol dan diawasi dengan baik. Sehingga pendidikan yang ia peroleh tidak disalahgunakan dan bisa diterapkan serta diaplikasikan dengan baik dan benar. Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikirankarena pikiran/i9, yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya (Rhonda Byrne, 2007:17). Program ini kemudian membentuk system kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilkaunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

Dari pemaparan diatas kita bisa memahami bahwa karakter atau kebiasaan orangtua sekarang tidak seratus persen karena dirinya dan untuk merubahnya juga butuh proses , orangtua harus diberi  pengetahuan sehingga bisa merubah mind set berpikir dan pastinya butuh waktu yang lama .

3. Sabar dengan keadaan oangtua dan berusaha menjalin komunikasi cinta yang tulus

4. Keteladanan bersikap arif menyikapi perilaku orangtua yang belum sesuai nilai kebaikan

5. Selalu berdoa , pasrahkan diri pada kehendak Allah, berlapang dada menerima realitas hidup  ini, karena tidak ada suatu kejadian yang menimpa seseorang karena faktor kebetulan dan sia-sia. Semua dalam pengaturan Allah. Dan Allah tidak dzholim dengan hambanya.

Allah berfirman surah Ali Imran

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” ( Qs Ali Imran : 191 )

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” ( Qs An Nisa : 41)

Wallahu’alam

Hukum Jual-Beli Kucing

By: Slamet Setiawan

Tanya:

Assalamualaikum. Mbak mau tanya, benar apa tidak kalau jual beli kucing itu haram? Soalnya tadi saya baca di internet katanya haram, mohon penjelasannya. Syukron…#MFT A08

Jawab:

Sebagian ulama melarang jual-beli kucing, bahkan mengharamkannya. Ini merupakan pendapat Zahiriyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnul Mundzir menyebutkan, bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Diantara hadits yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Abu Az-Zubair, bahwa beliau pernah bertanya kepada Jabir tentang hukum uang hasil penjualan anjing dan Sinnur. Lalu sahabat Jabir ra mengatakan,

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Nabi saw melarang keras hal itu. (HR. Muslim 1569).

Dalam riwayat lain dari Jabir bin Abdillah ra mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ

Rasulullah saw melarang makan uang hasil penjualan anjing dan sinnur. (HR. Abu Daud 3479, Turmudzi 1279, dan dishahihkan al-Albani).

Sinnur artinya kucing.

As-Syaukani mengatakan,

فيه دليل على تحريم بيع الهر وبه قال أبو هريرة ومجاهد وجابر وابن زيد حكى ذلك عنهم ابن المنذر وحكاه المنذري أيضا عن طاوس وذهب الجمهور إلى جواز بيعه

Dalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing dan ini merupakan pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Jabir, dan Ibnu Zaid. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir. Kemudian Al-Mundziri menyebutkan bahwa ini juga pendapat Thawus. Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat, boleh melakukan jual beli kucing.

Para ulama yang membolehkan jual-beli kucing beralasan, bahwa hadits di atas statusnya dhaif. Namun menilai hadits di atas dhaif adalah penilaian yang tidak bisa diterima.

Ketika membahas tentang hadits yang melarang jual-beli kucing, An-Nawawi mengatakan,

وأما ما ذكره الخطابي وابن المنذر أن الحديث ضعيف فغلط منهما ، لأن الحديث في صحيح مسلم بإسناد صحيح

Apa yang dinyatakan al-Khithabi dan Ibnul Mundzir bahwa hadits di atas statusnya dhaif, adalah kesalahan. Karena hadits ini ada di shahih Muslim dengan sanad yang shahih. (al-Majmu’, 9/230)

Ada juga yang mengatakan bahwa larangan dalam hadits itu sifatnya makruh atau khusus untuk kucing liar. Namun ini dibantah oleh as-Syaukani. Beliau menegaskan,

ولا يخفى أن هذا إخراج للنهي عن معناه الحقيقي بلا مقتض

Tidak diragukan bahwa pemahaman semacam ini berarti memahami larangan dalam hadits itu dari maknanya yang haqiqi tanpa indikasi apapun. (Nailul Authar, 5/204).

Al-Baihaqi mengatakan – sebagai bantahan untuk pendapat jumhur – ,

وقد حمله بعض أهل العلم على الهر إذا توحش فلم يقدر على تسليمه ، ومنهم من زعم أن ذلك كان في ابتداء الإسلام حين كان محكوماً بنجاسته ، ثم حين صار محكوماً بطهارة سؤره حل ثمنه ، وليس على واحد من هذين القولين دلالة بينة

Sebagian ulama memahami bahwa larangan ini berlaku untuk kucing liar yang tidak bisa ditangkap. Ada juga yang mengatakan bahwa larangan ini berlaku di awal islam ketika kucing dinilai sebagai hewan najis. Kemudian setelah liur kucing dihukumi suci, boleh diperjual belikan. Namun kedua pendapat ini sama sekali tidak memiliki dalil pendukung. (Sunan Al-Kubro, al-Baihaqi, 6/11).

Ibnul Qoyim juga menegaskan bahwa jual beli kucing hukumnya haram. Dalam Zadul Ma’ad, beliau mengatakan,

وكذلك أفتى أبو هريرة رضي الله عنه وهو مذهب طاووس ومجاهد وجابر بن زيد وجميع أهل الظاهر ، وإحدى الروايتين عن أحمد ، وهو الصواب لصحة الحديث بذلك ، وعدم ما يعارضه فوجب القول به

Demikian pula yang difatwakan Abu Hurairah ra, dan ini pendapat Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, dan semua ulama Zahiriyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwa jual beli kucing hukumnya terlarang. Inilah yang benar karena haditsnya shahih, dan tidak ada dalil lain yang bertentangan dengannnya. Sehingga kita wajib mengikuti hadits ini. (Zadul Ma’ad, 5/685).

Jadi, bagaimana dengan bisnis jual-beli kucing?

Pertimbangan Syar’i (halal-haram) wajib diutamakan daripada faktor keuntungan (manfaat).

Memang benar bahwa jual-beli kucing cukup menggiurkan. Tapi meski keuntungannya besar, bagi seorang muslim, pertimbangan utama adalah halal-haramnya sesuatu, bukan pertimbangan keuntungan yang menggiurkan. Apa artinya keuntungan yang banyak tapi Allah tidak meridhainya, karena Allah telah mengharamkannya?

Jadi, ketika suatu aktivitas bisnis telah diharamkan syariah, tetaplah ia tidak boleh dilakukan meskipun menghasilkan keuntungan besar. Sebab walau pun menghasilkan keuntungan besar, dosanya lebih besar lagi daripada keuntungannya sehingga wajib ditinggalkan. Wllahu a’lam.

The Power of Time Management

By: Ustadzah Dina Farihani

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 1-3)

Hai Sobat. Pernahkah kamu merasa sangat sibuk? Atau selalu terburu-buru mengerjakan tugas? Sering belajar kebut semalam? Atau menyelesaikan tugas melewati batas waktu yang ditentukan???

Let see, ada yang perlu kamu tahu tentang manajemen waktu.

⇨⇦⇨⇦⇨⇦⇨⇦⇨⇦⇨⇦⇨⇦⇨

▣ Dalam mengatur waktu, ada yang namanya ‘PRIORITAS’ >> prioritas berhubungan dengan urutan tingkat kepentingan suatu kegiatan/pekerjaan

▣ Prioritas artinya ada kegiatan yang harus kamu dahulukan ketimbang yang lain. Sebagai pelajar, penting untuk membuat jadwal berdasarkan prioritas, sehingga kamu betul-betul dapat memenuhi tuntutan tugas yang seharusnya.

◈ Jenis kegiatan:
1. Penting-Mendesak
2. Penting-Tidak Mendesak
3. Tidak Penting-Mendesak
4. Tidak Penting-Tidak Mendesak

◈ Jenis yang no. 1 : jadikan prioritas pertama, didahulukan untuk dilakukan.
No 2 : menjadi prioritas ke dua
No 3 : prioritas selanjutnya
No 4 : tidak menjadi prioritas, sebaiknya ditinggalkan.

◈ Pengelolaan waktu yang efektif berarti penggunaan waktu sebaik-baiknya, sehingga tidak ada yang terbuang percuma. Dengan demikian kita terhindar dari sikap tidak produktif.

◈ ASPECT untuk suksesnya perencanaan :
⇨ A tur prioritas.
⇨ S asaran yang jelas.
⇨ P erencanaan yang jelas; bisa rencana harian, per-pekan, per-bulan, dst.
⇨ C atat kesesuaian pelaksanaan dan rencana, serta kendala atau masalah yang dihadapi.
⇨ T eliti lagi pengaturan waktu yang sudah dilakukan.

◈ Strategi Pengelolaan Waktu :
1. Gunakan kalender saat membuat jadwal atau perencanaan.
2. Buatlah daftar tugas yang harus dilakukan.
3. Mulailah tiap hari dengan membuat rencana apa saja yang akan kamu lakukan hari ini.
4. Bersikaplah fleksibel ketika ada perubahan tugas/jadwal.
5. Abaikan hal-hal atau kegiatan yang tidak bermanfaat.
6. Berusahalah adil dan seimbang dlm perencanaan; perhatikan kebutuhan untuk beribadah, istirahat dan makan bergizi.
7. Belajar untuk bisa berkata “Tidak” pada ajakan yang mengganggu prioritas perencanaanmu.
8. Manfaatkan waktu-waktu singkat untuk tugas-tugas kecil dan mudah. Misal, saat menunggu jemputan, bisa dimanfaatkan untuk mengulang hafalan, atau mengecek jadwal tugas, dst.
9.Tinggalkan sikap suka menunda-nunda.

“Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Kamu tidak akan bisa mengembalikan dan menggantikan waktu. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan hidup, tapi menguasai waktu berarti menguasai hidup dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.” (Alan Lakein)

Tata Cara Mandi Janabah/Mandi Besar/Mandi Wajib

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

◈ Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi Rahimahullah menjelaskan:

ان يقول : بسم الله ناويا رفع حدث الأكبر باغتساله, ثم يغسل كفيه ثلاثا, ثم يستنجى فيغسل ما بفرجيه و ما حولهما من أذى ثم يتوضأ وضوءه الأصغر, الا رجليه فان له ان يغسلهما مع وضوءه, و له ان يؤخرهما الى الفراغ من غسله, ثم يغمس كفيه فى الماء فخلل بهما اصول شعر رأسه ثم يغسل رأسه نع أذنيه ثلاث مرات بثلاث غرفات, ثم يفيض الماء على شقه الأيمن يغسله بذلك من اعلاه الى أسفله, ثم الايسر كذلك متتبعا أثناء الغسل الأماكن الخفية كالسرة, و تحت الابطين, و الركبتين و نحوها, ذلك لقول عائشة رضي الله عنها: ( كان رسول الله  ﷺ إذا آراد ان يغتسل من الجنابة بدأ فغسل يديه قبل ان يدخلهما فى الإناء ثم غسل فرجه, و يتوضأ وضوءه للصلاة, ثم يشرب شعره الماء ثم يحثى رأسه ثلاث حثيات ثم يفيض الماء على سائر جسده. (رواه الترمذى صححه)    

⇨ Hendaknya membaca bismillah.

⇨ Berniat dalam rangka menghilangkan hadats besar dengan mandinya itu.

⇨ Lalu, mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali (3x).

⇨ Lalu beristinja (cebok) dan membersihkan kemaluan dan duburnya dan bagian sekitarnya dari kotoran.

⇨ Lalu dia berwudhu kecil kecuali bagian kakinya.

⇨ Sebab, bagian kaki akan dibasuh nanti bersama wudhunya dan mengakhirkannya sampai selesai mandinya.

⇨ Lalu mencelupkan kedua telapak tangannya ke air.

⇨ Lalu dengan kedua tangannya itu dia menyelah-nyelah rambut sampai akarnya.

⇨ Lalu menyiramkan kepalanya bersama kedua telinganya sebanyak tiga kali (3x) siraman.

⇨ Lalu mengguyurkan air ke tubuh sebelah kanan dimulai dari bagian atas lalu ke bawah.

⇨ Lalu menyiramkan bagian kiri sama persis dengan cara menyiram bagian kanan.

⇨ Kemudian, dia mesti memperhatikan bagian-bagian tersembunyi seperti pusar, dalam ketiak, balik lutut, dan bagian tersembunyi lainnya.

◈ Hal ini sebagaimana perkataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

“Dahulu Rasulullah ﷺ jika hendak mandi janabah, memulainya dengan mencuci kedua tangannya sebelum memasukannya ke bejana, lalu mencuci kemaluannya, lalu dia wudhu seperti wudhu-nya shalat, lalu membasahi rambutnya dengan air, lalu menyiramkan kepalanya tiga kali, kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.” (HR. At-Tirmidzi, dia menyatakan shahih)

 ▣ Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Hal. 140. Cet. 4. 2012M/1433H. Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam. Madinah Al-Munawwarah.

Turki Utsmani Mempelopori Penerbangan Militer dan Kebebasan Rasial

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

*Penerbang Militer Muslim Asal Afrika Pertama ; Ahmet Ali Çelikten*

Ahmet Ali Çelikten terlahir dengan nama İzmirli Alioğlu Ahmed (1883) juga mendapat nama legendaris sebagai Arap Ahmet Ali atau İzmirli Ahmet Ali. Beliau adalah penerbang pada era Turki Utsmani dan bisa jadi beliau adalah penerbang berkulit hitam pertama dalam sejarah penerbangan militer. Nenek Ahmet Ali berasal dari Bornu (sekarang berada dalam wilayah Nigeria) dan neneknya didatangkan ke İstanbul sebagai budak.

Ahmet Ali terlahir di propinsi Aidin dari ibu yang bernama Zenciye Emine Hanım dan ayahnya Ali Bey. Ia belajar pada Sekolah Teknik Kelautan Haddehane Mektebi untuk menjadi seorang pelaut militer pada tahun 1904. Beliau lulus empat tahun kemudian sebagai Mülazim-i Evvel atau setingkat Letnan Dua.

Beliau melanjutkan pendidikan pada Sekolah Penerbang Kelautan untuk menguasai seni dan teknik sebagai penerbang militer di Deniz Tayyare Mektebi yang didirikan pada 25 Juni 1914 di daerah Yeşilköy. Beliau mendapatkan wing penerbangnya pada tahun 1915. Setelah lulus beliau masuk ke dalam Angkatan Udara kekhilafahan Turki Ustmani.

Beliau memulai kedinasan aktif di angkatan udara pada bulan November 1916. Pada tanggal 18 Desember 1917 ia dikirim ke Berlin dalam kepangkatan Yüzbaşı (kapten) untuk menuntaskan pendidikan kepenerbangan tingkat mahir.

Memasuki Perang Dunia Pertama ia menikahi Hatice Hanım kelahiran 1897 yang merupakan seorang imigran dari Preveza yang sekarang berada di wilayah Yunani. Beliau wafat pada tahun 1969 sedangkan isterinya diberkahi hidup yang panjang hingga ke tahun 1991.

Agung Waspodo,
Depok, 9 Desember

Pola Asuh yg Memanjakan

By: Ustadz Farid Nu’man Hassan, S.S

Assalammualaikum Wr. Wb.
saya ingin bertanya lebih dalam,tentang permasalahan keluarga kepada ustadz, Saya mohon pencerahannya..ada beberapa kebimbangan di hati saya saat ini,pola asuh ibu saya yang terlalu memanjakan kakak laki laki saya, membuat kakak saya jadi ngelunjak dan tak sadar diri, di usia dia yang mau ke 30 tahun, dia tak tergerak untuk hidup secara sederhana dan mandiri. Pola asuh ibu saya membuat dia selalu pengen dibelikan ini dan itu tanpa berusaha untuk sendiri mewujudkannya. kami keluarga besar sudah banyak memberi saran, agar ibu saya tak terlalu memperturutkan semua kehendak kakak saya, apakah saya sebagai anak tidak salah untuk mengingatkan ibu saya? Sikap yang bagaimana yang harus saya jalani ketika ibu saya sendiri tak mau mendengarkan saran saran baik dari kami.. 🅰1⃣3⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah .., Jika memang begitu keadaannya, dan pihak saudara yang lain juga merasakan hal serupa, maka tidak apa-apa memberikan nasihat yang baik dengan perkataan yang lembut.

Mengingat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Untuk siapa ?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan. (HR. Muslim, 95/55)

Jadi, siapa pun itu berhak mendapatkan nasihat. Bahkan budaya saling menasihati di sebuah keluarga merupakan di antara ciri keluarga dikatakan keluarga Islami (Usrah Muslimah).

Ini pun dalam rangka menolong ibu, agar bisa berbuat adil terhadap anak-anaknya. Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adil-lah kepada anak-anak kalian.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu a’lam