SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Rabu, 02 Shafar 1438 H/02 November 2016

Aqidah

Ustadzah Prima Eyza Purnama

============================

Assalaamu’alaikum wrwb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang pertama.
Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang kedua.

SYARAT KEDUA:

اَلْيَقِيْنُ اَلْمُنَافِيْ لِلشَّكِّ

(KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN)

Orang yang bersyahadat haruslah meneguhkan keyakinan pada dirinya, tanpa keraguan sedikit pun, tentang keesaan ALLAH dan kerasulan Nabi SAW. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat (49) : 15,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.”

Dalam ayat tersebut jelas disebutkan bahwa yang disebut mu’minun (orang-orang beriman) yang sempurna HANYALAH ( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ ) orang-orang yang :
→ Beriman kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
→ Kemudian mereka TIDAK RAGU-RAGU ( ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا  )

Hal ini sekaligus memahamkan kita pada prinsip penting bahwa keiman dan keyakinan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya itu harus terus berproses dan tidak boleh berhenti berproses ke arah kesempurnaan.
Sebab, kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah “tsumma” (kemudian) →  ini mengisyaratkan adanya proses.
Sehingga semakin berjalan waktu, seharusnya semakin yakin dan semakin sempurna keimanan.

Yakni keimanan yang :
→ Tidak bercampur dengan keraguan dan kebimbangan.
→ Berupa keyakinan yang menenteramkan, kokoh, sempurna dan tidak menimbulkan kegelisahan.

Ingatlah bahwa sudah bagian dari ketetapan dan ketentuan Allah SWT bahwa dalam menjalani hidup, seorang yang beriman memang akan dihantam dengan berbagai ujian dan kesulitan yang dapat menggoyahkan dan peristiwa-peristiwa yang menggundahkannya. Bagi orang yang sempurna keimanannya, ujian-ujian tersebut tidaklah sedikit pun menggoyang dan menggoyahkan keimanannnya. Ia tetap berada dalam keyakinan/keimanan yang paripurna terhadap Allah dan Rasul-Nya. Jika ia ditimpa kesulitan, misalnya, ia sangat yakin bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Memudahkan dan Melapangkan. Jika diuji dengan sakit, ia sangat yakin bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Jika ia butuh pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah karena Allah lah Dzat Yang Maha Memberi pertolongan.

Dalam setiap urusan-urusannya, ia sama sekali tidak bergantung kepada makhluk. Demikian seterusnya dan seterusnya dalam setiap perkara dalam kehidupannya. Apalagi dalam hal peribadahan, ia akan menjadi orang yang sempurna ketaatan dan penyembahannya kepada Allah SWT, disebabkan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Allah lah satu-satunya ilah yang diTuhankan sehingga Allah lah satu-satunya Dzat Yang layak untuk disembah dan ditaati. Ia tidak mentaati sesuatu selain Allah. Tidak mentaati dukun, tukang ramal, tidak menyembah batu, kuburan, dan lain-lain yang bisa menyekutukan Allah.
Na’udzubillaahi min dzaalik…

Maka dengan demikian, bukti dari keimanan yang terus berproses ini adalah MUJAHADAH (bersungguh-sungguh). Yakni jika qalbu telah merasakan lezatnya iman dan kegandrungan kepada ketaatan, serta sudah terbangun keyakinan telah mengakar begitu kuat, niscaya akan mendorong diri untuk bersungguh-sungguh mewujudkan keimanan itu di luar qalbu, yakni dengan aplikasi amal, baik amal ibadah maupun amal sholeh (kebajikan-kebajikan) dalam bentuk yang sangat luas.

Jika ia mendapatkan realitas yang bertentangan bertentangan dengan iman, maka ia pun akan bermujahadah (bersungguh-sungguh) dengan harta dan jiwanya untuk menyeru dan mengajak kepada keimanan dan amal.

Para ulama mengatakan bahwa mujahadah itu harus memenuhi 2 syarat:

1. Sungguh-sungguh  ( جِدِّ يَّةٌ )
2. Terus-menerus  ( إِسْتِمَرَارِيَّةٌ )
Inilah Iman yang Benar.
Seperti yang disebutkan Allah dalam QS. Al Hujurat (49) ayat 15 diatas :

أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (mereka itulah orang-orang yang benar)

→ ini maknanya: إنهم مؤمنون  (merekalah yang disebut mu’minun).
Orang beriman yang benar.

Bukan seperti yang disebutkan dalam QS Al Hujurat [49] : 14 tentang sebagian orang Badui yang mengaku beriman,

قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

→ Mereka belum beragama dan beriman secara baik dan sempurna, masih perkataan lahiriah saja, belum menghujam di dalam hati.

Keyakinan yang sempurna ini pun semakna dengan yang diwahyukan Allah pada QS. Fushshilat (41) ayat 30 :

…إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah ALLAH’  kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka..”

→ Sekali lagi “tsummas-taqaamuu” (kemudian mereka meneguhkan pendirian/keyakinan mereka).

Bersambung..

Wallaahua’alamu bisshawab..

Shalat-shalat Sunnah

Ustadz Menjawab
Ustadz Muhar Nur Abdi
02 November 2016
=====================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

kak, minta penjelasannya mengenai shalat2 sunnah

MFT 09
===========
Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Untuk shalat-shalat sunnah, ada banyak macamnya. Tapi kali ini, kita jelaskan beberapa saja ya..

Shalat-shalat sunnah yang lazim atau sering dilakukan oleh kebanyakan muslim..
Berikut shalat-shalat sunnah itu:

1. Shalat Wudhu.
Yaitu shalat sunnah dua raka’at yang bisa dikerjakan setiap selesai berwudhu.

Niatnya :
“Ushalli sunnatal wudlu-I rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah wudhu dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

2. Shalat Tahiyatul Masjid.
Yaitu shalat sunnah dua raka’at yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk sebelum shalat dua raka’at lebih dahulu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah tahiyatul masjid dua raka’at karena Allah Ta’ala.”

3. Shalat Dhuha.
Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik. Jumlah raka’atnya minimal 2 maksimal 12. Dari Anas r.a., berkata Rasulullah SAW, “Barang siapa shalat Dhuha 12 raka’at, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majjah)

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Dhuha rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

4. Shalat Rawatib.
Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu. Niatnya :

a.   Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya’. Niatnya:

‘Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak’ataini Qibliyyatan lillahi Ta’aalaa’ Artinya: ‘aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah’

b.   Ba’diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

‘Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak’ataini Ba’diyyatan lillahi Ta’aalaa’ Artinya : ‘aku niat shalat sunnah sesudah  dzuhur dua rakaat karena Allah’

5. Shalat Tahajjud.
Yaitu shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 raka”at maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur’an. “Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra : 79 )

Niatnya :

“Ushalli sunnatal tahajjudi  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

6. Shalat Istikharah.
Yaitu shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan. Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir.

Niatnya :

“Ushalli sunnatal Istikharah  rak’ataini lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

7. Shalat Witir.
Yaitu shalat sunnat mu’akkad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat.

Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah SAW, “Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu maka kerjakanlah.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

Dari Aisyah r.a., “adalah nabi SAW shalat sebelas rakaat diantara shalat isya’ dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua raka’at dan yang penghabisan satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatnya :

“Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi Ta’aalaa”

Artinya, “aku niat shalat sunnat witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Wallaahua’alam..

Demontrasi

Ustadz Menjawab
Rabu, 03 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Asslmkum ustadz,,mohon penjelasanya apakah benar bahwa demontrasi itu tidak ada dalam islam dan hadist tentang keluarnya Rasulullah SAW bersama sahabat pada hari keislaman Umar bin Khotttob adalah hadist mungkar ??,,,,jzkllh .

Jawaban
——-
Kepada Yang Suka Menggembosi,  Perhatikahlah Fatwa Ulama negerimu, Karena Mereka Yang Tahu Situasinya, Bukan Ambil Ulama Di Luar Negerimu

Berseliweran fatwa-fatwa pengharaman demonstrasi yang mereka comot dari fatwa para ulama Kerjaaan Saudi Arabia, yang memang kultur dan hukum kerajaan tidak menghendaki adanya demonstrasi. Lalu mereka paksakan fatwa itu di negeri yang tidak sama kulturnya. Di negeri Indonesia yang membolehkan demonstrasi, dan tidak menganggapnya bughat (pemberontakan). Realita di negeri ini demonstrasi dilindungi Undang-Undang negara, bukan pemberontakan, tapi gerakan para penggembos ini tidak bosan-bosan menyebut demonstrasi adalah pemberontak (Bughat). Sungguh mengherankan, negara, TNI, kepolisian melindungi, dan tidak menganggap itu pemberontakan, justru kelompok ini menganggap itu pemberontakan karena sikap kaku mereka terhadap lembaran-lembaran yang mereka baca, dan merasa hidup di alam  dengan  situasi yang bukan situasi negeri mereka, serta taqlid dengan para masyayikhnya saja tanpa mau peduli dengan nasihat masyayikh yang bukan masyayikh mereka.

Benarlah nasihat Imam Al Qarafi Rahimahullah ketika berkata:

فمهما تجدد في العرف اعتبره ومهما سقط أسقطه ولا تجمد على المسطور في الكتب طول عمرك بل إذا جاءك رجل من غير أهل إقليمك يستفتيك لا تجره على عرف بلدك واسأله عن عرف بلده وأجره عليه وأفته به دون عرف بلدك ودون المقرر في كتبك فهذا هو الحق الواضح  والجمود على المنقولات أبدا ضلال في الدين وجهل بمقاصد علماء المسلمين والسلف الماضين

“Bagaimanapun yang baru dari adat istiadat perhatikanlah, dan yang sudah tidak berlaku lagi tinggalkanlah. *Jangan kamu bersikap tekstual kaku pada tulisan di kitab saja sepanjang hayatmu.*

_Jika datang kepadamu seorang dari luar daerahmu untuk meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu memberikan hukum kepadanya berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku di daerahmu, tanyailah dia tentang adat kebiasaan yang terjadi di daerahnya dan hargailah itu serta berfatwalah menurut itu, bukan berdasarkan adat kebiasaan di daerahmu dan yang tertulis dalam kitabmu. Itulah sikap yang benar dan jelas._

Sedangkan sikap selalu statis pada teks adalah suatu kesesatan dalam agama dan kebodohan tentang tujuan para ulama Islam dan generasi salaf pendahulu.” 1]

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, membuat pasal dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, berbunyi:

في تغير الفتوى واختلافها يحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

“Pasal tentang perubahan fatwa dan perbedaannya yang disebabkan perubahan zaman, tempat, kondisi, niat, dan tradisi.”

Lalu Beliau berkata:

هذا فصل عظيم النفع جدا وقع بسبب الجهل به غلط عظيم على الشريعة أوجب من الحرج والمشقة وتكليف ما لا سبيل إليه ….

Ini adalah pasal yang sangat besar manfaatnya, yang jika bodoh terhadal pasal ini maka akan terjadi kesalahan besar dalam syariat, mewajibkan sesuatu yang sulit dan berat, serta membebankan apa-apa yang tidak pantas dibebankan …  ” 2]

Entah .., disadari atau tidak perilaku mereka itu menguntungkan kaum kuffar. Wal ‘Iyadzubillah!

Wallahu A’lam

Notes:

[1] Imam Al Qarafi, Al Furuq, Juz. 1, Hal. 176-177. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut. 1418H-1989M. Tahqiq: Khalil Al Manshur

[2] Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in,   Juz. 3, Hal. 3. Maktabah Kulliyat Al Azhariyah. Kairo.

Peran Turki di Irak, Ketika Pemimpin Kaum Muslimin Punya Kekuatan dan Bukan Boneka Asing

Kamis, 03 Safar 1438H / 3 November 2016

SIROH DAN TARIKH

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

🌐 İstanbul, Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, kembali menegaskan pentingnya Turki terlibat pada pertempuran pembebasan Mosul dari tangan ISIL. Meskipun Mosul (al-Mawshil) berada di dalam wilayah negara Irak, beliau menyatakan bahwa “Turki memiliki tanggung-jawab sejarah di wilayah ini.”

💡 Sebagai seorang pembaca sejarah amatiran, sulit rasanya untuk tidak kagum dengan Erdoğan dan tim sejarah di belakangnya. Duh, ngiri sekali dengan narasi sejarah yang sedang dibangun dalam tubuh balatentara Republik Turki sekarang. Beliau sepertinya masih menahan diri, seharusnya bukan hanya Mosul namun Baghdad hingga Basra itu dulu urusan Turki. Iya seratus satu tahun yang lalu, bendera Turki Utsmani masih berkibar di muara Sungai Tigris sekitar tahun 1915.

Berbicara di Ankara, hari Selasa kemarin, beliau menyatakan bahwa Turki tidak ingin terlibat dalam konflik sektarian di Irak. Namun, menyuarakan pentingnya memperkuat bangsa Arab Sunni dan Kaum Türkmen di Mosul. “Turki ingin ada di meja perundingan sekaligus di lapangan, ada alasan kuat untuk itu,” tandas Erdoğan.

💡 Cantik sekali bahasa diplomasinya. Tentu beliau mengarahkan telunjuknya pada dominasi agama Syi’ah yang kini mengendalikan pemerintah boneka Amerika Serikat di Baghdad.

Pasukan gabungan Irak dan Kurdi semakin maju mengunci Mosul setelah merebut sekitar 20an kampung dari tangan ISIL yang juga rekayasa AS. Dalam pidatonya, presiden Erdoğan mengingatkan agar milisi Syi’ah tidak dilibatkan dalam pertempuran mengingat kejahatan HAM yang mereka telah perlihatkan pada operasi militer di bagian Irak lainnya. Beliau menegaskan lagi bahwa, “tigapuluh ribu milisi syi’ah yang dikenal fanatik itu harus siap dengan apa yang mereka akan hadapi (angkatan bersenjata Turki),” jika memaksakan diri hadir di Mosul.

💡 *Pernyataan yang tegas oleh seorang pemimpin negeri Kaum Muslimin yang melek terhadap percaturan politik Iran dan milisi syi’ah-nya.* Pantas jika beliau dicintai bukan hanya oleh rakyat Turki, namun oleh Kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Khususnya, negeri Kaum Muslimin yang sampai hari ini terpaksa dipimpin oleh boneka serta barut pilihan asing.

Dua pekan sebelumnya, parlemen Turki telah mensahkan perpanjangan satu tahun bagi pengerahan pasukan ke Syria dan Irak. Parlemen juga menyetujui pengerahan 2 ribu pasukan melintasi perbatasan Irak untuk memerangi organisasi terorisme.

Seperti yang terlihat pada foto di atas, telah ditempatkan 500 pasukan elit Turki di Markas Bashiqa, sebelah utara Irak, guna melatih pasukan milisi Sunni lokal. Mereka akan dikerahkan untuk membantu pembebasan atas kota Mosul.

Beberapa hari sebelum itu, perdana menteri Irak, Haider al-Abadi, mengecam tindakan Turki dan meminta UN Security Council untuk membahasnya. Presiden Erdoğan menanggapinya dengan mengatakan, “pemerintah Irak sebaiknya fokus untuk menghadapi pasukan ISIL dan PKK saja, daripada bicara keras dan sombong kepada Turki.”

Bahkan, mantan penasihat militer Turki di Irak mengatakan kepada al-Jazeera, “Ankara memposisikan Baghdad sebagai pemain asing untuk urusan Mosul. Turki melihat Baghdad sebagai kekuatan syi’ah dukungan Iran yang hendak menguasai Mosul yang mayoritas Islam.” Ia menambahkan, “jika Baghdad diperbolehkan masuk dengan mengerahkan kekuatan sejauh dari Iran, maka Turki lebih berhak untuk masuk ke Mosul yang secara historis terhubung kepada Turki sejak lama.”

Kritik juga datang dari John Kirby, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, pekan lalu: “semua negara tetangga harus menghormati kedaulatan perbatasan Irak.” Amerika Serikat akan memainkan peran sebagai kekuatan udara dalam rencana penyerangan ISIL di Mosul nanti. Kirby juga mengajak semua pihak untuk fokus pada penghancuran Da’esh (ISIL).

Erdoğan menanggapi komentar Kirby, “jika kalian bisa datang dari jauh karena merasa terpanggil oleh retorika Baghdad, okelah. Tetapi Turki juga memiliki perbatasan dengan Irak sepanjang 350 km dan selalu dalam posisi terancam.” Beliau menambahkan, “secara historis kami punya tanggung-jawab di Mosul, maka kami akan berada di sana!”

💡 Erdoğan tentu sedang menceramahi petinggi AS tersebut bahwa Mosul pernah menjadi bagian dari Turki (Utsmani) selama lebih dari 400 tahun. Baru pada tahun 1918 kemarin diduduki Inggris pada akhir Perang Dunia Pertama. Secara yuridis, Mosul adalah bagian dari Turki yang dipaksakan menjadi salah satu propinsi Irak yang digarap oleh Inggris dan Perancis.

Menurut Gurcan, AS agak meradang karena Turki mau hadir di Mosul secara independen dan bukan di bawah ketiak Amerika Serikat. Turki bersikeras untuk menahan milisi Syi’ah serta elemen militer Kurdi yang pro-PKK masuk ke Mosul. Perdana Menteri Turki, Binali Yıldırım, juga akan mengerahkan dukungan serangan udara kepada milisi yang mereka latih di markas Bashiqa.

Amerika Serikat sepertinya tidak keberatan atas rencana Turki, selama AS tetap memegang peran dominan di wilayah tersebut. Dibutuhkan kejelian sebuah diplomasi tingkat tinggi Dari pihak Turki untuk mengelola ini semua.

Upaya menurunkan ketegangan bilateral antara Turki dan Irak sudah dilancarkan menurut menteri luar negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu. Delegasi Irak dijadwalkan tiba di Ankara pada akhir pekan ini. Çavuşoğlu menegaskan perlunya pendekatan diplomatik pada lawatannya ke Azerbaijan. Ia menegaskan hal tersebut setelah Under-Secretary dari Kementerian Luar Negeri Turki, Umit Yalçın, melawat ke Baghdad hari Senin kemarin.

💡 Walau diplomasi dikuatkan, tujuan akhir Turki tentu saja peggelaran militer serupa seperti di Suriah ketika Operasi Euphrates Shield yang sukses kemarin.

Agung Waspodo, bisa tersenyum pagi ini, alhamdulillah masih ada berita bagus di jagad Dunia Islam..
Depok, 19 Oktober 2016

Update Kas Donasi Multimedia Manis (3/11)

No. 007/INFO/MII/X/2016
Tanggal: 20 Oktober 2016
Perihal : *DONASI MULTIMEDIA MANIS*
Tujuan : Semua Member MANIS & Umum
##################
بسم الله الرحمن الرحيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

*Tim Multimedia Manis*  membutuhkan dana untuk pengadaan *1 set lengkap peralatan video recording*,

*_Total kebutuhan biaya_*:  *_Rp. 75.910.000_*

     💰💰💰💰💰💰

*UPDATE  2 Nop 2016  DONASI TERKUMPUL*

*1. Uang Tunai*
*_Rp. 3.320.000_*

*2. Barang*
  – Satu unit PC video editing.
  – Satu unit Camcorder Sony NX3 baru

   💰💰💰💰💰💰

Donasi dapat di kirimkan melalui :
🏧 *No Rek. a/n Nur* *Rahmawati : BSM norek : 700-943-3176*

_Mohon tambahkan Rp…03 di setiap transfer sebagai pembeda._
*Contoh Rp. 100.003* _(seratus ribu tiga rupiah)_

📱 *KONFIRMASI TRANSFER* : Andy Abidin WA +62822 9074 6588

⏰ *Donasi akan kami Tutup pada tanggal 15 Nopember 2016*

ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ
-Pengurus MANIS-

SHOLAT SYURUQ

Ustadz Menjawab
Rabu, 02 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaykum…
Sholat syuruq itu apa harus di Masjid? Di rumah Boleh apa tidak? Dan definition tdk Boleh beranjak itu apa mulai selesai sholat subuh, diam di tempat dia sholat? Kalau misalnya ingin BAK/BAB bgm?
Satu lagi, mana yg lbh afdol, selesai sholat wajib langsung rawatib ba’diyah atau berdzikir berdoa dulu baru rawatib ba’diyah. 🅰1⃣3⃣
Syukron

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Silahkan membuka web ini untuk menemukan jawaban.

http://www.iman-islam.com/2015/11/shalat-isyraq.html?m=1

Wallahu a’lam.

Rambu-Rambu Bagi Yang Ikut Serta Dalam Muzhaharah Saliimah (Aksi Damai) 4 Nov 2016

Rabu, 2 Shafar 1438H / 2 Nopember 2016

MUAMALAH

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

1. Luruskan niat untuk mencari ridha Allah, bukan untuk pujian dan obsesi pribadi-duniawi.

2. Pasang wajah yang menarik, senyum, sapa dan salam kepada saudara seperjuangan, wartawan, dan kepada pihak keamanan.

3. Berkata-kata yang baik tanpa mengurangi ketegasan, dan hindari kata-kata kotor, caci maki, sumpah serapah kepada siapa pun.

4. Tertib di jalan dan di tempat aksi, serta memberikan hak pengguna jalan lainnya.

5. Tidak merusak fasilitas umum, pepohonan, pedagang kaki lima, dan milik orang lain.

6. Tetap menjaga kebersihan dengan membawa kantong sampah kresek sendiri dan membuang pada tempatnya.

7. Tidak terpancing oleh ajakan-ajakan negatif, seperti menyerang polisi, merubuhkan pohon, pemarka jalan, dan lainnya, yang datangnya dari peserta aksi damai lainnya, yang dimungkinkan sebagai provokasi dari pihak yang ingin merusak jalannya aksi damai.

8. Tetap ikuti korlap dan komanda acara, Insya Allah tidak akan mudah terprovokasi.

9. Siapkan fisik yang prima, bawa makanan dan minuman yang cukup.

10. Tetap jaga wudhu untuk shalat,  menjaga kemungkinan sulitnya air wudhu karena banyaknya peserta aksi.

11. Akhiri aksi damai dengan kebaikan, tidak lupa mendoakan kebaikan kepada pemimpin negara agar Allah memberikan petunjuk kepadanya, serta doa untuk para ulama, guru, kiayi, habaib, mujahidin, du’at, aktifis Islam, secara khusus Indonesia .. dan umumnya bagi seluruh kaum muslimin di dunia.

12. Lalu bertawakal kepada Allah Ta’ala atas hasil usaha dari Aksi Damai ini.

13. Membubarkan diri dengan tertib dan meninggalkan tempat aksi dalam keadaan bersih dan rapi; sehingga Aksi ini mendapatkan kesan positif bagi masyarakat dan semoga  mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam

TATACARA MANDI BESAR

Ustadz Menjawab
Selasa, 01 November 2016
Ustadzah Rochma Yulika

Assalamu’alaikum … Niat , do’a & tatacara Mandi Bersih  selesai Haid/menstruasi yg sesuai dg Hadist seperti apa ya? Karena menurut anak saya, yg diajarkan di sekolah, di TPA & yg saya ajarkan di rumah beda2 dikit. Mohon pencerahannya.. Wassalamu’alaikum. 🙏🏻
 A 41

Jawaban
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Mandi adalah aktivitas keseharian kebanyakan manusia, baik dia muslim maupun tidak muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat membersihkan diri dari berbagai kotoran fisik dengan jalan mandi. Baik sebelum kedatangan Islam maupun setelahnya, mandi menjadi aktivitas yang telah dikenal oleh masyarakat dunia, dengan frekuensi dan alat bantu yang beragam. Dulu belum dikenal sabun ataupun shampo, mereka menggunakan tetumbuhan yang menghasilkan aroma wangi bagi tubuh.

Dalam Islam, mandi bukan sekedar aktivitas rutin untuk membersihkan badan. Islam meletakkan mandi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Ada kondisi tertentu dimana kaum muslimah disunnahkan mandi, dan bahkan ada beberapa kondisi lagi yang mewajibkan kaum muslimah mandi. Selain dari usaha menjaga kebersihan diri, mandi juga sebagai bagian dari pensucian dari beberapa kejadian, seperti terhentinya darah haidh, selesainya nifas, dan aktivitas janabat.

Perempuan haidh harus mandi ketika darah telah terhenti dan ketika hendak menjalankan shalat. Demikian pula halnya perempuan yang telah selesai dari nifas, ia wajib mandi sebagai tanda bahwa ia telah suci dan memulai kewajiban seperti shalat. Apabila kaum muslimah tidak mandi setelah berhentinya darah haidh atau nifas, maka ibadahnya menjadi tidak sah. Inilah yang sering disebut sebagai mandi besar.

SYARAT MANDI

Adapun syarat mandi dalam konteks ini ada tiga, yaitu:
1. niat mandi untuk menghilangkan hadats haidh, nifas, janabat atau niat mandi untuk menjadikan boleh apa-apa yang sebelumnya tidak boleh kecuali dengan mandi, seperti shalat, tilawah Quran dan berdiam dalam masjid. Niat ini cukup diungkapkan di dalam hati. Niat inilah yang membedakan antara mandi biasa dengan mandi.
Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya sahnya suatu amal tergantung dari niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan berdasarkan niatnya”.

2. menghilangkan najis bila terdapat di badannya, seperti bekas tetesan darah haidh dan nifas, atau bekas mani pada janabat.
3. mengalirkan air hingga pangkal rambut dan seluruh kulit. Keseluruhan badan harus mendapatkan siraman air, baik rambut maupun kulit, meskipun rambut pada kulit tipis maupun tebal.

TATACARA MANDI

Mandi untuk membersihkan diri dari haid, nifas dan hadats janabat, dituntunkan oleh Nabi saw sebagaimana riwayat Aisyah ra berikut,
“Rasulullah Saw. bila hendak mandi janabat, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya -dua atau tiga kali- kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian mencuci kemaluannya, lalu berwudlu. Setelah itu mengambil air dan meletakkan jari-jarinya di pangkal rambut, kemudian menyiramkan air dengan kedua tangannya ke kepalanya 3 kali, lalu mengguyurkan air ke seluruh badannya, setelah itu mencuci kedua kakinya.”

Dari keterangan di atas, mandi dilaksanakan sebagai berikut:
a. Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana
b. Mencuci kemaluan
c. Berwudlu
d. Mandi dengan jalan membasahi seluruh bagian tubuhnya sebanyak tiga kali dimulai dari kepala
e. Mencuci kedua kaki
Keseluruhannya harus dilakukan secara urut dari awal sampai akhir.

Selain itu juga disunnahkan melaksanakan aktivitas berikut:
a. Membaca basmalah
b. Mendahulukan kanan atas kiri
c. Menggosok seluruh tubuh
d. Menghilangkan kotoran selain najis

Penulis kitab Al-I’tina’ mengatakan bahwa niat mandi adalah wajib bagi orang yang wajib mandi. Apabila tidak niat maka tidak sah mandinya kecuali dalam beberapa masalah berikut :

1. perempuan yang karena sesuatu hal tidak dapat mandi sendiri setelah haidh. Lalu suaminya memandikannya agar sah ketika menyetubuhinya. Dalam kasus ini, suami harus niat, demikian menurut pendapat yang kuat.
2. perempuan kafir di mana suami yang memandikannya.
3. perempuan gila, demikian dalam salah satu pendapat yang benar. Wallahu a’lam.

MELEPASKAN IKATAN RAMBUT  KETIKA MANDI

Perempuan ketika mandi setelah haidh dan nifas dianjurkan melepaskan ikatan rambutnya dan menyisirnya dengan sisir atau jari-jari untuk memudahkan sampainya air ke pangkal rambut. Ini berdasar sabda Nabi Saw:

“Uraikanlah (rambut) kepalamu dan bersisirlah!”

Sebagian ulama berpendapat atas wajibnya melepas ikatan rambut berdasar hadits ini. Akan tetapi, jika perempuan itu memiliki ikatan rambut namun air bisa sampai pangkal rambut dan kulit tanpa harus melepaskannya, maka ia tidak harus melepaskannya.
Sedangkan untuk mandi janabat, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahwa perempuan tidak diwajibkan menguraikan rambutnya. Ummu Salamah berkata,

“Wahai Rasulullah, saya perempuan yang memiliki ikatan rambut panjang, apakah saya harus melepaskannya ketika mandi janabat?” Nabi Saw. menjawab,
“Tidak, cukup bagimu menyiramkan air sebanyak tiga kali ke kepalamu, kemudian kamu guyurkan air itu ke seluruh tubuh.”

Tatkala sampai suatu berita kepada Aisyah ra bahwa Abdullah bin Umar menyuruh para wanita untuk menguraikan rambut kepalanya ketika mandi, maka Aisyah berkata:

“Sungguh sangat mengherankan Ibnu Umar ini. Dia menyuruh para wanita menguraikan rambutnya ketika mereka mandi, mengapa dia tidak menyuruh menggundul kepalanya sekalian? Saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dari satu bejana dan saya tidak melebihkan siraman ke atas kepala saya” (riwayat Muslim).

Hanya saja jika air tidak sampai ke pangkal rambut kecuali dengan melepaskan ikatan rambut, maka ia harus melepaskannya, karena sampainya air ke rambut dan kulit adalah wajib. Wallahu a’lam.

MENGUSAP BEKAS DARAH DENGAN WEWANGIAN

Untuk menghilangkan kotoran bekas darah haidh dan nifas, serta untuk menghilangkan baunya, dianjurkan wanita muslimah mengusap bekas darahnya dengan wewangian. Ini berdasar hadits Ummu Athiyah r.a.,

“Kami telah mendapatkan keringanan ketika suci, bila salah seorang di antara kami mandi usai haidh untuk memakai sedikit minyak wangi..”

Aisyah r.a. berkata,
“Seorang perempuan bertanya kepada Nabi Saw. tentang mandi setelah haidh. Kemudian beliau memerintahkan bagaimana ia harus mandi. Sabdanya, ‘Ambillah secarik kapas lalu teteskan misk (minyak kasturi) kemudian bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana saya membersihkannya?’ Nabi menjawab, ‘Bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana?’ Beliau menjawab, ‘Subhanallah, bersihkanlah!’  Maka saya tarik perempuan itu untuk mendekat dan saya katakan, ‘Usap dengan kapas ini bekas darahmu!’”

Hadits di atas menunjukkan tuntunan agar kaum wanita muslimah mengusap bekas darah haidh atau nifas dengan kain atau kapas yang diberi pewangi atau parfum, yang di zaman Nabi wujudnya adalah minyak kasturi. Para ulama berkata,

“Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya memakai wewangian bagi perempuan yang mandi setelah haidh dan nifas di organ tubuh yang terkena darah.”

Hanya mereka berbeda pendapat tentang waktu pemakaiannya.
Sebagian dari mereka berpendapat setelah mandi. Yang lain berpendapat sebelumnya. Dianjurkan pula untuk memakai wangi-wangian pada kemaluannya dengan meletakkan sepotong wool dan dimasukkan ke kemaluan setelah mandi.

DIANJURKAN MENGGOSOK BADAN

Tatkala mandi, dianjurkan untuk menggosok badan agar bisa membersihkan kotoran. Dalam suatu riwayat Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengannya sebaik mungkin. Kemudian menyiramkan air ke kepalanya dan menggosoknya dengan kuat sehingga sampai ke kulit kepalanya., lalu menyiramkan ke seluruh tubuhnya kemudian mengambil sepotong kain berparfum (firshah mumassakh) lalu menggunakannya untuk bersuci”.

Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah satu dari kalian mengambil air dan daun bidara lalu bersihkan dengan sebersih-bersihnya, lalu tuangkan air di atas kepalanya dan gosok-gosokkan dengan gosokan yang keras sampai terasa di kulit kepala lalu tuangkanlah air.”

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya menggosok-gosok badan ketika seorang perempuan bersuci.

Wallahu a’lam.

Belajar Agama Itu Mesti Jelas Rujukannya

📆 Selasa, 1 Shafar 1438H / 1 November 2016

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Era medsos membuat mudah mendapatkan sumber informasi, begitu pula tentang konten-konten keislaman. Ini bagus. Tp, negatifnya adalah kesadaran untuk mengetahui sumber sering diabaikan. Dapat info langaung BC, dpt ilmu langsung share, padahal tidak ada sandarannya (baca: sanad). Ini jd bahaya, sebab ada dusta dan kepalsusan didalamnya.

Oleh karena itu para ulama memberikan nasihat, di antaranya Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah:

الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

📌Isnad (sandaran) itu bagian dari agama, seandainya bukan karena isnad niscaya manusia akan sembarangan dan senaknya berbicara. (Shahih Muslim bisyarhi An Nawawi, 1/77)

Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:

  الإسناد سلاح المؤمن، فإذا لم يكن معه سلاح فبأي شيء يقاتل

📌Isnad itu senjata bagi seorang mu’min, jika dia tidak memiliki senjata maka dengan apa dia berperang? (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/27)

📖 *Membaca buku sudah cukup?*

Pada dasarnya berjumpa dan bermajelis dengan guru itulah yang utama. Hal ini bisa diperoleh di pesantren, berkunjung ke rumah guru, atau hadir dalam ta’lim para guru. Sehingga terjadi kesinambungan ilmu dari syaikh ke muridnya.

Zaman ini, ketika kesibukan duniawi manusia luar biasa, lonjakan penduduk juga sangat tinggi, sementara mereka ingin belajar agama untuk bekal hidupnya, apakah hanya membaca buku saja sudah cukup tanpa adanya guru? Sebagian ulama memang melarang seperti itu, seperti Imam Asy Syafi’i, Sulaiman bin Musa, dll, sebab  khawatir adanya ketergelinciran pemahaman, tanpa guru dia sulit membedakan mana haq dan batil.

Tapi, tidak semua ulama menyetujui itu. Sebagian lain mengatakan boleh saja, asalkan buku yang ditelaahnya adalah karya ulama yang mautsuq (bisa dipercaya).

Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam Rahimahullah berkata:

أما الاعتماد على كتب الفقه الصحيحة الموثوق بها فقد اتفق العلماء في هذا العصر على جواز الاعتماد عليها والاستناد إليها لأن الثقة قد حصلت بها كما تحصل بالرواية ولذلك اعتمد الناس على الكتب المشهورة في النحو واللغة والطب وسائر العلوم لحصول الثقة بها وبعد التدليس

📌Ada pun berpegang kepada buku-buku fiqih yang shahih dan terpercaya, maka para ulama zaman ini sepakat atas kebolehan bersandar kepadanya. Sebab, seorang yang bisa dipercaya sudah cukup mencapai tujuan sebagaimana tujuan pada periwayatan. Oleh karena itu, manusia yang bersandar pada buku-buku terkenal baik nahwu, bahasa, kedokteran, atau disiplin ilmu lainnya, sudah cukup untuk mendapatkan posisi “tsiqah/bisa dipercaya” dan jauh dari kesamaran.
(Imam As Suyuthi, Asybah wa Nazhair, Hal. 310. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut)

Tapi, hal ini tidak berlaku bagi para qari Al Quran, sebab khusus itu mesti talaqqi kepada guru.

Maka dikatakan:

فعلى قارئ القرآن ان يأخذ قرائته على طريق التلقّى و الإسناد عن الشيوخ الآخذين عن شيوخهم كى يصل الى تأكد من أن تلاوته تطابق ما جاء عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

📌Wajib bagi qari untuk mengambil bacaan Al Qurannya dengan metode talaqqi, dan mengambil sanad dari para guru yang juga mengambil dari guru-guru mereka agar terjadi kesinambungan bacaannya dan sebagai pemastian bahwa bacaannya sesuai dengan apa yang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Haqqut Tilawah, Hal. 46)

Demikian. Wallahu A’lam

KISAH NABI ADAM A.S. (2)

Selasa, 01 Safar 1438 H/01 Nopember 2016

Sirah

Pemateri: Dr. Wido Supraha

=============================

Brother and Sista,

Apa khabarnya? Today, kita dah masuk bulan Safar lho? Tetap semangat yach!
Oh ya, terkait judul materi ini, kita lanjutkan ya kisahnya.

Dari berbagai nash yang kita terima hari ini, berikut ini kelanjutan beberapa fakta terkait dengan Nabi Adam a.s., sebagai berikut:

5⃣ Nabi Adam a.s. adalah manusia yang kehidupannya menyadarkan kita semua, bahwa manusia dapat dengan mudah diombang-ambingkan oleh syaithan akan sesuatu hal hingga memiliki persepsi yang berbeda 180 derajat, jika manusia tidak berpegang kokoh dengan ilmu, dan hal ini terlihat dalam persepsi Adam a.s. akan hakikat pohon ‘ syajaratul khuldi’ dan makna kekekalan dari Allah ﷻ (Q.S. 2:35/ 7:18-19/ 20:116-119) dan syaithan (Q.S. 7:20-22/ 20:120/

6⃣ Nabi Adam a.s. adalah manusia pertama yang menyadarkan seluruh manusia di muka bumi bahwa terbukanya aurat bagi manusia akan hadir rasa malu yang luar biasa, dan ini terlihat setelah Nabi Adam a.s. dan istrinya memilih memakan pohon terlarang. (Q.S. 20:21)

7⃣ Kisah Nabi Adam a.s. mengingatkan umat manusia bahwa jika di dunia mereka memiliki mata yang bisa melihat ayat-ayat Allah ﷻ tapi tidak beriman dan berilmu dengannya, maka kelak manusia akan dikumpulkan dalam kondisi tidak dapat melihat alias buta. (Q.S. 20:115-126)

8⃣ Kecerdasan Adam a.s. yang mengetahui seluruh nama-nama yang digunakan di dunia seperti nama-nama manusia, hewan, bumi, zat, gerakan, bentuk dan sejenisnya adalah karena ilmu dari Allah ﷻ, sehingga kesadaran ini tidak menjadikan Nabi Adam a.s. sombong di puncak kecerdasannya. (Q.S. 2:33)

Sampai disini dulu ya Brother and Sista. Ada yang mau ditanyakan? Kita akan lanjutkan poin-point terkait penciptaan manusia pada tulisan selanjutnya ya.