Ketika Energi Negatif Dipositifkan dengan Tanggung Jawab

📆 Kamis, 08 Dzulqo’dah 1437H / 11 Agustus 2016
📚 *SIROH DAN TARIKH*

📝 Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP*
📝 *Ketika Energi Negatif Dipositifkan dengan Tanggung Jawab*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
*_Six Lessons in Leading during Hardships_*
Ketika sebagian orang mulai gemar mengolok-olok gubernur Kufah yang waktu itu dijabat oleh Sa’id ibn ‘Amru, maka amirul mu’minin mengusir mereka ke Syam.
أنهم تكلموا بكلام قبيح في مجلس سعيد بن عامر
*Lesson #1* semua pejabat publik hampir pasti mendapat kritik dan olokan atas kinerjanya; get use to it. 
Mereka yg diusir ini bukan sembarang orang, melainkan kesembilannya disebut sebagai “jama’ah qira’ah” menandakan kepiawaiannya membaca al-Qur’an.
جماعة من قراء أهل الكوفة
*Lesson #2* kritikus pada umumnya bukan praktisi, namun tidak selalu mereka tak berilmu. 
Secara khusus, amirul mu’minin menyurati gubernur Syam yang juga kerabatnya sendiri dengan panduan kebijakan dalam memperlakukan mereka yg terusir ini. Dua wasiatnya kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (ra) adalah menghormati (akrimuhum) dan ramah (ta’allafahum) kepada mereka. Mu’awiyah (ra) pun menaati wasiat tersebut dengan baik seraya mengingatkan mereka tentang tiga hal:
1⃣ Menghormati pendapat mayoritas
2⃣ Menjauhi fanatik terhadap pendapat sendiri
3⃣ Menghindari kebiasaan eksklusif
فكتب إليه عثمان إلى معاوية أمير الشام أنه قد أخرج إليك جماعة قراء من أهل الكوفة فأنزلهم و أكرمهم و تألّفهم، 
و وعظهم و نصحهم فيما يعتمدونه من اتباع الجماعة وترك الإنفراد و الإبتعاد
*Lesson #3* pemimpin harus punya “sumbu yang panjang, agar tidak mudah meledak” karena mereka harus lebih tabah dan sabar dalam pelaksanaan amanahnya. 
Setelah beberapa waktu, penyakit kelompok itu kambuh lagi bahkan semakin menjadi. Kini yang menjadi sasaran olok-olok mereka bahkan termasuk serangan terhadap pribadi amirul mu’minin sendiri.
ويستمر ن على جهالتهم و حماقتهم..  و كانوا يشتمون عثمان و سعيد بن العاص 
*Lesson #4* problem dan pelakunya itu sudah ada jadwal kambuhnya, apakah para pemimpin tahu jadwalnya? Always be prepared for anything from anyone!
Untuk menghindari godaan mengambil keputusan yang keras, Mu’awiyah (ra) kembali mengusir mereka. Kali ini mereka diasingkan ke al-Jazirah dibawah pengawasan gubernur ‘Abdurrahman ibn Khalid ibn al-Walid. Dibawah beliau, kelompok ini lebih terekendali syahwat kalamnya. Prestasi beliau mengelola propinsinya diakui oleh amirul mu’minin dengan mempromosikannya utk menjabat posisi gubernur Hims yang berbatasan dengan ancaman dari Bangsa Rum (Byzantium). 
فلما خرجوا من دمشق أووا إلى الجزيرة فاجتمع بهم عبد الرحمن بن خالد بن الوليد – وكان نائباً على الجزيرة 
*Lesson #5* orang yang kurang kerjaan cenderung banyak omongan, give them a challenge or two! 
Ikut bersama ‘Abdurrahman ibn Khalid ibn al-Walid pindah ke Hims adalah kelompok tadi. Mereka ini ditempatkan beliau di wilayah pesisir dengan tugas khusus dan penggajian yang khusus pula.
فقدموا عليه حمص، فأمرهم بالمقام بالساحل ،و أجرى عليهم الرزق
*Lesson #6* if you’re really good and sincere at what you do, even the most critical of your opponents shall follow you. Lihat Turki dan Erdoğan kemarin, lihatlah tanpa emosi dan prasangka. 
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa n-Nihayah vol 7 halaman 160 mencatat rapi persitiwa ini yang terjadi di Era Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan (ra) pada tahun 33 Hijriyah.
Masuk stasiun kereta-api Tebet, 
1 Agustus 2016

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Saling Mendiamkan Antara Sesama Muslim

📆 Rabu, 07 Dzulqo’dah 1437 H / 10 Agustus 2016 M
📚 *MUAMALAH*
📝 *Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag*
📋  *Larangan Saling Mendiamkan Antara Sesama Muslim*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
📚 *Hadits*
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (رواه البخاري)
Dari Abu Ayyub Al Anshari ra berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
*”Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi dari tiga malam;* yang (jika bertemu) saling berpaling antara yang satu dengan yang lainnya.
Dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang terlebih dahulu memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari)
📚 *Hikmah Hadits :*
❣1. Bahwa diantara bentuk *ukhuwah Islamiyah* antara sesama muslim adalah saling tegur sapa, saling mengucapkan salam dan juga saling mendoakan antara satu dengan yang lainnya.
Karena pada hakekatnya, sesama muslim adalah bersaudara, dan oleh karenanya hendaknya setiap muslim saling menjaga ikatan persaudaraan dengan muslim lainnya.
❣2. Maka antara sesama muslim tidak boleh saling mendiamkan, tidak saling bertegur sapa, bahkan saling membuang muka antara satu dengan yang lainnya.
Bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa *Allah tidak akan menerima amalan dua orang muslim yang tidak bertegur sapa dan saling mendiamkan lebih dari tiga hari.*
❣3. Kendatipun terjadi perselisihan antara dua orang muslim, maka yang paling baik dimata Allah SWT diantara keduanya adalah yang paling terlebih dahulu menegur dengan mengucapkan salam.
Mudah-mudahan Allah Swt meridhai dan melanggengkan ukhuwah islamiyah antata sesama kita,
Amiiin Ya Rabbal Alamin.
Wallahu A’lam
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
💼 Sebarkan! Raih pahala…
Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 6)

📆 Selasa, 06 Dzulqo’dah 1437 H / 9 Agustus 2016 M
📚 *HADITS DAN FIQIH*
📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan
📋  *Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 6)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
📚 *SYARAH HADITS KEDUA, lanjutan*
وَقَالَ :
dan dia (malaikat yang menyerupai laki-laki, pen) berkata:
يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم :
Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :
maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam
  الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله،وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ
الزَّكَاةَ،وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ:
Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke baitullah.
                Kalimat ini merupakan penegasan landasan operasional ajaran Islam. Kalimat syahadat merupakan intisari semua muatan ajaran Islam, dan ikrar yang membedakan Islam dan kafir. Dan, dia menjadi syarat dasar bagi benar dan diterimanya amal ibadah seorang hamba. Sebaik apa pun orang kafir, walau dia bersedekah untuk masjid dan ikut berjihad membantu kaum muslimin, maka semuanya sia-sia baginya di akhirat, karena dia belum berikrar atas hak ketuhanan Allah Ta’ala dan kebenaran kenabian Muhammad Shalalllahu ‘Alaihi wa Sallam dan risalah yang dibawanya.  Bagi yang sudah mengucapkannya dengan sadar tanpa terpaksa, maka baginya terlindungi darah, kehormatan, dan hartanya. Maka, dia diperlakukan sebagai seorang muslim walapun melakukan dosa besar, selama tidak melakukan perbuatan syirik dan kekafiran yang jelas (kufrun bawwah).
                Shalat di sini adalah gerakan dan ucapan tertentu dan pada waktu yang ditetapkan pula, dari takbiratul ihram hingga salam, yang disertai niat. Yang diwajibkan adalah lima kali sehari, kecuali menurut Imam Abu Hanifah yang menambahkan wajibnya witir pula, namun tak satu pun ulama yang mendukung pendapatnya ini seperti kata Imam Ibnul Mundzir. Bagi yang mengingkari kewajiban shalat fardhu maka dia kafir dan murtad, dan tak ada perbedaan pendapat dalam hal itu. Ada pun meninggalkannya karena kemalasan dan kelalaian tapi masih mengakui kewajibannya, maka para ulama berbeda pendapat antara yang mengkafirkan pelakunya seperti Imam Ahmad, dan  –jika tidak mau tobat- mesti dibunuh, tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dikuburkan bersama kaum muslimin.  Sementara yang lain masih mengakuinya sebagai Islam tapi sebagai pelaku dosa besar dan di dunia dinilai  sebagai fasik, sebagaimana pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah. Namun, secara hukum meninggalkan shalat adalah tindakan pidana (kriminal) yang juga mesti dibunuh jika tidak mau bertobat, inilah padangan Malik dan Syafi’i, sedangkan Abu Hanifah berpendapat dikucilkan hingga dia bertobat.
 
                Zakat di sini adalah sedekah wajib yang dikeluarkan dari harta seorang muslim yang memiliki kelebihan hartanya dengan ukuran tertentu jika sudah mencapai nishabnya (batas minimal kepemilikan harta). Berfungsi untuk membersihkan harta dan membersihkan jiwa pelakunya, dan juga memiliki dimensi sosial. Yang mengingkarinya juga dihukumi kafir dan tidak ada perselisihan dalam hal itu. Ada pun yang menolak mengeluarkan zakat, tapi mengakui kewajibannya, maka menurut jumhur (mayortas) ulama dia  adalah pelaku dosa besar. Dan, Abu Bakar Ash Shiddiq telah memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat, walau mereka masih shalat. Beliau Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:
أنا لاقاتل من فرق بين الصلاة والزكاة ، والله لاقاتلن من فرق بينهما حتى أجمعهما
📌                “Saya benar-benar akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, demi Allah benar-benar akan saya perangi orang yang memisahkan keduanya sampai mereka kembali menyatukannya.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 6/14. Darul Fikr)
                Puasa di sini adalah menahan diri (Al Imsak)   dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari pada bulan Ramadhan, yakni bulan antara sya’ban dan syawal. Sebanyak 29 hari atau digenapkan hingga 30 hari.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين
📌“Puasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berhari rayalah karena melihatnya, dan jika terhalang awan maka hitunglah sampai 30 hari.” (HR. An Nasa’i No. 2118 dan Ibnu Hibban No. 3442 dan 3443, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 2118)
Meninggalkan puasa karena mengingkarinya maka kafir.
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata tentang orang yang mengingkari kewajibannya:
وأجمعت الامة: على وجوب صيام رمضان. وأنه أحد أركان الاسلام، التي علمت من الدين بالضرورة، وأن منكره كافر مرتد عن الاسلام.
“Umat telah ijma’ (konsensus) atas wajibnya puasa Ramadhan. Dia merupakan salah satu rukun Islam yang telah diketahui secara pasti dari agama, yang mengingkarinya adalah kafir dan murtad dari Islam.” (Fiqhus Sunnah, 1/433. Darul Kitab Al ‘Arabi)
Ada pun meninggalkannya karena lalai dan malas, tapi masih mengakui kewajibannya, maka sebagian ulama ada yang yang menyatakan kafir dan boleh dibunuh. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان

📌                Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Ya’ala dan Ad Dailami dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma’ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:
وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال.
📌“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
                Namun, Sebagain besar ulama mengatakan bahwa dia masih muslim, tapi dia adalah pelaku dosa besar dan termasuk perbuatan yang keji.  Ada pun hadits di atas, maka Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani telah mendhaifkannya, lantaran kelemahan beberapa perawinya, yakni ‘Amru bin Malik An Nukri, di mana tidak ada yang menilainya tsiqah kecuali Ibnu Hibban, itu pun masih ditambah dengan perkataan: “Dia suka melakukan kesalahan dan keanehan.”
                Telah masyhur bahwa Imam Ibnu Hibban termasuk ulama hadits yang terlalu mudah mentsiqahkan seorang rawi, sampai-sampai orang yang majhul (tidak dikenal) pun ada yang dianggapnya tsiqah. Oleh karena itu, para ulama tidak mencukupkan diri dengan tautsiq yang dilakukan Imam Ibnu Hibban, mereka biasanya akan meneliti ulang. 
                Selain dia, rawi lainnya Ma’mal bin Ismail, adalah seorang yang shaduq (jujur) tetapi banyak kesalahan, sebagaimana dikatakan Imam Abu Hatim dan lainnya. Umumnya hadits darinya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas hanyalah bernilai mauquf (sampai sahabat) saja.
                Lalu, secara zhahir pun hadits ini bertentangan dengan hadits muttafaq ‘alaih: “Islam dibangun atas lima perkara …dst.” Bukan tiga perkara.
                Maka dari itu, Syaikh Al Albani tidak meyakini adanya seorang ulama mu’tabar yang mengkafirkan orang yang meninggalkan puasa, kecuali jika dia menganggap halal perbuatan itu. (Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 94)
Dengan kata lain, jika dia masih meyakini kewajibannya, tetapi dia meninggalkannya maka dia fasiq, jika Allah Ta’ala berkehendak maka di akhirat nanti Dia akan mengampuninya sesuai
kasih sayangNya, dan jika   berkehendak maka Dia akan mengazabnya sesuai dengan keadilanNya, sejauh kadar dosanya. Inilah pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran. Wallahu A’lam
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa’ (4): 116)
Ada pun haji, secara fiqih maknanya  adalah sebagai berikut:
هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته.
وهو أحد أركان الخمسة، وفرض من الفرائض التي علمت من الدين بالضرورة.
فلو أنكر وجوبه منكر كفر وارتد عن الاسلام.
📌                “Yaitu mengunjungi Mekkah untuk melaksanakan Ibadah, seperti thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, dan seluruh manasik, sebagai pemenuhan kewajiban dari Allah, dan dalam rangka mencari ridha-Nya. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima, kewajiban di antara kewajiban agama yang sudah diketahui secara pasti. Seandainya ada yang mengingkari kewajibannya, maka dia  kafir dan telah murtad dari Islam.” (Fiqhus Sunnah, 1/625)
                Kewajiban haji hanya sekali seumur hidup, sedangkan  yang kedua kali dan seterusnya adalah sunah.
إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً :
jika  engkau mampu menjalankannya
                Kalimat ini menunjukkan bahwa istitha’ah (mampu) merupakan hal yang membuat seorang muslim wajib melaksanakan haji. Ketika dia belum ada kemampuan, baik finansial dan fisik, maka dia tidak  wajib, serta tidak berdosa jika tidak melaksanakannya. Namun, dia dianjurkan untuk berupaya menjadi orang mampu secara normal. Ada pun berhutang untuk haji, maka telah ada riwayat sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
سألته عن الرجل لم يحج ، أيستقرض للحج ؟ قال : « لا »
   “Aku bertanya kepadanya, tentang seorang yang belum pergi haji, apakah dia  berhutang saja untuk haji?” Beliau bersabda: “Tidak.”  (HR. Asy Syafi’i, Min Kitabil Manasik, No. 460. Al Baihaqi, Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Juz. 7, Hal. 363, No. 2788.  Syamilah)
                Imam Asy Syafi’i berkata tentang hadits ini:
ومن لم يكن في ماله سعة يحج بها من غير أن يستقرض فهو لا يجد السبيل
📌                “Barangsiapa yang tidak memiliki kelapangan harta untuk haji, selain dengan hutang, maka dia tidak wajib untuk menunaikannya.”  (Imam Asy Syafi’i, Al Umm, Juz. 1, Hal. 127.  Asy Syamilah)
                Namun, demikian para ulama tetap menilai hajinya sah, sebab status tidak wajib haji karena dia belum istitha’ah, bukan berarti tidak boleh haji. Ada pun larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu  karena Beliau tidak mau memberatkan umatnya yang tidak mampu, itu bukan menunjukkan larangannya. Yang penting, ketika dia berhutang, dia harus dalam kondisi yakin bahwa dia bisa melunasi hutang atau tersebut pada masa selanjutnya.
Selanjutnya:
قَالَ: صَدَقْتَ :
dia (laki-laki tersebut) berkata: engkau benar
فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ:
Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan
                Imam Ibnu Dadiq Al ‘Id menjelaskan bahwa keheranan mereka (para sahabat) lantaran biasanya apa-apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah diketahui melalui orang yang mendatanginya, dan si penanya ini tidak pernah berjumpa dan tidak pernah mendengar dari nabi, tetapi si penanya ini justru dia membenarkan apa yang nabi katakan. Inilah yang membuat mereka heran. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 29)
Iman kepada para Rasul adalah membenarkan bahwa Allah-lah yang mengutus para rasul unuk mengeluarkan manusia dari kegelapan  menuju cahaya. Dan, menetapkan hikmahNya Ta’ala bahwa mereka di utus sebagai pembawa kabar gembira (mubasyirin) dan peringatan (mundzirin). Wajib beriman kepada mereka secara keseluruhan, dan wajib beriman kepada mereka yang namanya telah Allah rinci; mereka adalah 25 orang yang telah Allah sebutkan dalam Al Quran. Wajib beriman pu
la  bahwa milik Allah-lah para Nabi dan Rasul selain mereka, dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka kecuali Dia Jalla wa ‘Ala, sebagaimana wajib beriman bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah yang paling utama dan penutup para nabi, dan bahwa risalah yang dibawanya adalah untuk semua, dan tidak ada nabi lagi setelahnya.
                Iman kepada hari kebangkitan setelah kematian adalah meyakini secara pasti bahwa ada kehidupan kampung akhirat yang saat itu Allah Ta’ala membalas kebaikan orang yang berbuat baik, keburukan orang yang berbuat buruk, dan Dia mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya, kecuali dosa syirik. Hari kebangkitan (Al Ba’ts) secara syara’ bermakna: kembalinya badan dan masuknya ruh ke dalamnya, mereka keluar dari kuburnya, seakan mereka adalah belalang yang  berhamburan menyambut dengan cepat yang memanggilnya. Kita mohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dunia dan akhirat.
                Iman kepada qadar baik dan qadar buruk adalah membenarkan secara pasti bahwa semua kebaikan dan keburukan  terjadi dengan ketetapan (qadha) Allah dan qadar (keputusan)Nya. Allah Ta’ala Maha mengetahui semua taqdir segala sesuatu dan waktu-waktunya yang azali sejak sebelum diwujudkannya, kemudian Dia menjadikannya dengan qudrahNya, serta kehendak yang sesuai dengan apa yang diketahuiNya, bahwa Dia telah menuliskannya dalam Lauh Mahfuzh sebelum terjadinya.
Selesai kutipan dari Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani. (Lihat Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 12-15. Cet. 2. Rabiul Awal 1411H. Muasasah Al Juraisi)
قَالَ: صَدَقْتَ :
dia (laki-laki tersebut) berkata: engkau benar
                Al Imam Ibnu Ash Shalah Rahimahullah mengomentari semua kalimat di atas –sebagaimana dikutip oleh Imam An Nawawi:
هَذَا بَيَان لِأَصْلِ الْإِيمَان ، وَهُوَ التَّصْدِيق الْبَاطِن ، وَبَيَان لِأَصْلِ الْإِسْلَام وَهُوَ الِاسْتِسْلَام وَالِانْقِيَاد الظَّاهِر ، وَحُكْم الْإِسْلَام فِي الظَّاهِر ثَبَتَ بِالشَّهَادَتَيْنِ ، وَإِنَّمَا أَضَافَ إِلَيْهِمَا الصَّلَاة وَالزَّكَاة ، وَالْحَجّ ، وَالصَّوْم ، لِكَوْنِهَا أَظْهَرَ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ وَأَعْظَمِهَا وَبِقِيَامِهِ بِهَا يَتِمُّ اِسْتِسْلَامه ، وَتَرْكُهُ لَهَا يُشْعِرُ بِانْحِلَالِ قَيْدِ اِنْقِيَادِهِ أَوْ اِخْتِلَالِهِ 
📌                “Ini merupakan penjelasan bagi dasar keimanan yaitu membenarkan (At Tashdiq) dalam hati, dan merupakan penjelasan dasar keislaman yaitu ketundukan/patuh (Al Istislam) dan keterikatan zhahir, dan hukum Islam terhadap zhahirnya adalah   menguatkannya dengan dua kalimat syahadat, dan bahwasanya keduanya dilanjutkan dengan shalat, zakat, haji, dan puasa sebagai wujud nyata dari  tanda keIslaman dan keagungannya, dan menjalankan hal itu merupakan wujud kesempurnaan ketundukannya. Meninggalkannya merupakan tanda tipisnya ketudukannya atau cacatnya.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/69. Mawqi’ Ruh Al Islam) 
🔹Bersambung …🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
💼 Sebarkan! Raih pahala…
Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 5)

 Senin, 05 Dzulqo’dah 1437 H / 8 Agustus 2016 M
 *HADITS DAN FIQIH*
 Ustadz Farid Nu’man Hasan
  *Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 5)*

 *SYARAH  HADITS  KEDUA (Makna Islam, Iman, dan Ihsan)*
Matan Hadits :
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله،وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ،وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِالله،وَمَلائِكَتِه،وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ،وَالْيَوْمِ الآَخِر،وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا،وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ) . رواه مسلم
Dari Umar Radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu menyandarkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam) dan meletakkan kedua tangannya di atas dua pahanya (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan tak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Ya Umar tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)
Takhrij Hadits:
–         Imam Muslim dalam Shahihnya No. 8
–         Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 2610
–         Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 4695
–         Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 63
–         Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, No. 20660
–         Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya No. 207
–         Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 168, juga 159, tapi dari jalur Abu Hurairah
–         Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 2244, dari jalur Abu Hurairah
–         Imam Ishaq Rahawaih dalam Musnadnya No. 165, dari jalur Abu Hurairah dan Abu Dzar
–         Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf , kitabul iman war ru’ya No. 1
–         Imam Abu Ya’ala dalam Musnadnya No. 242
 Makna Kalimat:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال:
Dari Umar Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu juga, dia berkata
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam
ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ:
suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki
Rajul – رجل  yakni ملك في صورة رجل, malaikat dalam tampilan seorang laki-laki. (Syaikh Muhammad bin Ismail Al Anshari, At Tuhfah Ar  Rabbaniyah, lihat Syarah hadits No. 2) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin:
وهو رجل في شكله لكن حقيقته أنه مَلَك.
                “Dia adalah seorang laki-laki dalam wujudnya, tetapi hakikatnya dia adalah malaikat.” (Syarh Arbain An Nawawiyah, Hal. 19)
شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب:
baju yang sangat putih
شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ:
berambut sangat hitam
لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ:
tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh
                Sebagian  ada yang meriwayatkan dengan kata: Laa Naraa لاَ نَرَى – kami tidak melihat- dengan huruf nun yang difat-hahkan, dan keduanya (baik Laa Yuraa dan Laa Naraa) adalah benar. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 29. Maktabah Al Misykah. Lihat juga Syaikh Muhammad bin Ismail Al Anshari, At Tuhfah Ar Rabbaniyah, hadits no. 2)
                Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin berkata tentang kalimat ini:
لأن ثيابه بيضاء وشعره أسود ليس فيه غبار ولاشعث السفر، ولهذا قال: لايُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ لأن المسافر في ذلك الوقت يُرى عليه أثر السفر، فيكون أشعث الرأس،مغبرّاً، ثيابه غير ثياب الحضر، لكن لايرى عليه أثر السفر.
                “Karena pakaiannya putih dan rambutnya hitam tidak ada  debu dan kekusutan safar (perjalanan). Oleh karena itulah dia (Umar) berkata: tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh, sebab bagi seorang musafir pada waktu seperti itu akan Nampak padanya bekas-bekas perjalanan, seperti rambut yang kusut dan berdebu, pakaiannya bukanlah pakaian menetap,  justru tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan.” (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Hal. 19. Mawqi’ Ruh Al Islam) 
وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ:
dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya
Maksudnya:
وليس من أهل المدينة المعروفين، فهوغريب.
                “Dan tidaklah diantara penduduk Madinah yang mengenalnya, maka dia adalah seorang yang asing.” (Ibid)
حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم :
Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ :
lalu menyandarkan kedua lututnya  kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam)
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ :
dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas dua pahanya.
                Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin memberikan penjelasan sebagai berikut:
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ أي كفي هذا الرجل عَلَىَ فَخِذَيْهِ أي فخذي هذا الرجل، وليس على فخذي النبي صلى الله عليه وسلم ، وهذا من شدة الاحترام.
               Dan meletakkan dua telapak tangannya yaitu dua telapak laki-laki tersebut, di atas dua pahanya yaitu pada dua paha laki-laki tersebut, bukan pada dua paha Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ini merupakan bentuk penghormatan yang tinggi. (Ibid)
Bersambung …

 Sebarkan! Raih pahala…

Abu Bakar Ash-Shidiq R.a

Selasa, 07 Dzulqa’dah 1437 H/ 09 Agustus 2016
📕 Siroh
📝 Ustadzah Ida Faridah
📖 Abu Bakar Ash-Shidiq R.a
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺
🔰 Assalamu’alaikum adik-adik MFT
Apa kabarnya hari ini???
Baik adik-adik semua, kali ini kita akan membahas sahabat nabi, siapa beliau????
🔰 Abu Bakar Ash Shidiq
Abu Bakar adalah gelar yang diberikan setelah masuk islam. Nama sebelumnya adalah Abdul Ka’bah. Namanya aslinya Abdullah bin Abu Quhafah keturunan bani Twimnbin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Kal Al-Quraisy. Beliau lahir pada tahun ke-2 dari tahun gajah atau dua tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW.
Abu Bakar memiliki budi pekerti yang baik dan terpuji. Dikalangan bangsawan Qurays, beliau dikenal dengan sosok yang ulet dan jujur. Beliau merupakan pedagang yang kaya raya. Beliau berdagang dengan jujur sehingga orang-orang tertarik untuk membeli barangnya. Sikap jujurnya hingga beliau masuk islam.
Sejak usia muda, Abu Bakar memiliki ikatan persahabatan yang kuat dengan Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul dengan menerima wahyu pertama, Abu Bakar merupakan orang dewasa pertama masuk islam.
Beliau mendapat gelar Ash-Shidiq atau orang jujur terpercaya karena beliau orang pertama mempercayai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Baitul Maqdis di Yerusalem, dilanjutkan dengan perjalanan dari Baitul Maqdis ke  sidratulmuntaha dalam waktu semalem. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra’ Mi’raj. Orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam.’
Beliau menjawab “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”
Allah SWT pun menyebut beliau sebagai Ash-Shidiq:
‘Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Az-Zumar: 33)
Selama di Mekkah, peranan beliau sangat besar untuk membantu Nabi Muhammad SAW menyebarkan islam. Lewat dakwah beliau, ada beberapa dari kalangan bangsawan qurasy yang masuk islam seperti Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bi Auf, A’ad bin Abi Qaqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.
Abu Bakar mengeluarkan harta bendanya dengan tulus untuk membantu perjuangan dan kejayaan islam. Beliau rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk kepentingan penyebaran islam dan membela umat islam.
Abu Bakar mendampingi Nabi Muhammad SAW dalam suka dan duka. Beliau melindungi Nabi Muhammad SAW dari ejekan dan rencana pembunuhan kafir quraisy. Beliau selalu setia mendampingi Nabi Muhammad SAW dimanapun dan kapanpun.
Pada saat Nabi Muhammad SAW sakit dan menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar sering menggantikan Nabi Muhammad SAW, menjadi Imam Sholat. Ketika Nabi Muhammad wafat, Kaum Anshar mengadakan Musyawarah di Saqifah Bani Sa’ad. Mereka membicarakan sosok pemimpin yang akan menggantikan Nabi Muhammad SAW. Mereka sepakat memilih Abu Bakar sebagai Khalifah atau Pengganti Nabi Muhammad SAW.
Para sahabat membaiat Abu Bakar Ash-Shidiq. Ali bin Abi Thalib terlambay membaiat Abu Bakar karena beliau sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad SAW.
Abu Bakar memimpin umat islam selama 2 tahun.
Demikian profile sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga bermanfa’at adik adik..😊😊😊
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Obat galau

 Senin, 05 Dzulqo’dah 1437H/ 08 Agustus 2016
 Akhlak
 Kingkin Anida
 Obat Galau
=====================

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Hai sahabat fillah, gimana kabar kamu sekarang? Lagi galaukah? Hmm, galau boleh boleh aja sih. Itu normal. Yang ngga normal, bila galau dibiarin aja. Kamu bakal jadi anggota Komunitas Galau Internasional lho.
Hati galau adalah milik Allah. Hati ngga galau milik Allah juga sih… hati kita itu amanah Allah. Hati yang perlu senantiasa dijaga kekuatannya, kecerdasannya, kesehatannya untuk membangun pribadi bertakwa. Hati bertakwa itu imun dari kegalauan.
Hati yang sehat tidak galau, adalah hati yang terkategori dalam “Qolbun Syakirun” maknanya adalah hati yang selalu menerima apa adanya (qona’ah) dengan penuh rasa berterima kasih pada Allah.
Hati yang senang dengan pemberian Allah. Hati demikian yakin bahwa itulah rahmatNya yang terbaik bagi dirinya. Tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 13:28).
Sahabat fillah, rezki yang dibagikan kepada manusia olehNya itu bisa berupa :
1. Harta berlimpah
2. Jabatan atau kekuasaan
3. Jodoh yang setia
4. Rumah serta kendaraan yang bagus
5. Umur yang panjang berkah
6. Keluarga bahagia
7. Persaudaraan yang kompak
8. Persahabatan yang hangat
9. Teman teman yang soleh solehah
10. Kesehatan
11. Kecerdasan
12. Kekuatan
13. Pengikut yang banyak
14. Waktu yang bermanfaat
15. Hati yang dipenuhi cinta padaNya
Mungkin daftar tersebut diatas, bisa dibuat lebih panjang lagi. Sesuai dengan kapasitas kemampuan kita menghitungnya. Hanya saja Allah telah memberikan isyarat bahwa kita tak akan sanggup menghitung nikmat-Nya.
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS 14 ayat 34)
لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) ( QS 16 ayat 55).
Tentu kita menyadari bahwa tidak semua dari 15 point rezeki itu bisa didapatkan oleh seseorang. Para Nabi dan Rasul pun mendapat rezki yang berbeda-beda. Ada Nabi yang diberikan keistimewaan dengan harta berlimpah, jabatan tertinggi, istri-istri yang setia, kemampuan retorika dan kecerdasan luarbiasa. Namun ada Nabi yang lain yang diberikan anak kuat yang soleh, yang dipilih menjadi Nabi juga. Semuanya mendapat rezki yang tak sama. Rezki yang ada, yang apa adanya, yang ada ada saja.
Belum tentu rezki yang “apa adanya itu buruk baginya”. Bisa jadi rezki tersebut justru mendatangkan banyak manfaat. Seperti seorang artis yang pernah saya temui, sangat bersyukur bahwa beberapa bulan dia hanya makan singkong. Justru menurunkan berat badannya hingga 16 kg. Terlepas apakah itu direncanakan atau dia ada dalam ” rencana Allah”, hasilnya menggembirakan dan mendatangkan kabar gembira bagi mereka yang ingin diet. Jadi kamu sahabat fillah, kalau sedikit ngga ada uang jajan…santai aja yah! Itu salah satu jalan buat diet.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS 2 : 152)
Ingatan yang kuat kepada Allah dengan segala kemahabesaran-Nya, kemahakuasa-Nya, membuat seseorang layak untuk diingat Allah. Siapakah yang paling merasa tersanjung karna diingat oleh-Nya?
Masya Allah, maka dia pantas bersyukur untuk anugerah tersebut. Diingat ingat oleh Dzat Yang Maha Tinggi Maha Suci. Insya Allah tentu hamba tersebut akan ditempatkan secara baik di tempat terbaik. The right man on the right place.
Segala sakit hati atau kegalauan akan hilang manakala kita mampu melihat bahwa rezkinya itu adalah yang terbaik bagi dirinya. Apakah rezki berupa “sahabat yang menghilang”, atau “cinta yang ditolak” atau “diomelin ortu”.
Hey tapi tetep dong… setelah semua moment itu, kamu berusaha dengan segala upaya baik dan benar. Bukan cara cara yang malah bikin hati tambah galau.
Apabila sakit hati tersebut belum juga dapat terobati, maka pandanglah ayat ayat kekuasaanNya yang terangkai dalam Al Qur’an. Banyak kisah luarbiasa dari “paramuda hampir putus asa” dan para sahabatku yang mengobati hati mereka lewat membaca Al Qur’an . Mereka yakin bahwa Al Qur’an itu obat (syifa).
Hati mereka jadi tenang. Damai seperti pasir yang berbisik. Bisik bisik yang menenangkan…
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 3 : 29).
Allah lah yang memilih hati hati tertentu untuk disembuhkan. Dengan membaca ayat ayatnya, tentu Allah jadi cinta sama kamu. Dan Allah lah yang membuat hati kita sembuh dari kegalauan. Oke ya sahabat fillah, resepnya sederhana, bersyukur dan baca Al Qur’an, maka hati kita sembuh dari berbagai kegalauan.
Ila Liqo. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

============================
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

Persaudaraan Antara Sesama Muslim

📆 Ahad, 04 Dzulqo’dah 1437H /  07 Agustus 2016

📚 *MUAMALAH*

📝 Ustadz: *Rikza Maulan, Lc., M.Ag.*

 📋Persaudaraan Antara Sesama Muslim

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hadits*

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
رواه البخاري

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

*”Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta* .

*Dan janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari kesalahan, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci.*

*Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”* (HR. Bukhari)

📚 *Hikmah Hadits :*

❣1. Bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Maka hendaknya setiap saudara saling menjaga kehormatan dan martabat sesama saudaranya yang lain.

❣2. Agar hubungan persaudaraan sesama muslim terjaga (ukhuwah islamiyah) maka Nabi Saw melarang umatnya untuk saling membenci, mendengki, memusuhi, mencela, mencari-cari kesalahan dsb.

Larangan-larangan ini dimaksudkan agar persaudaraan tetap terjaga dan terjalin dengan baik.

Wallahu A’lam bis Shawab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

💼 Sebarkan! Raih pahala..

QS. Al-'Ashr:1

Sabtu, 03 Dzulqo’dah 1437 H/ 06 Agustus 2016
📒Al-Qur’an
📝 Ustadzah Miya Cahaya
📖 *QS. Al-‘Ashr:1*
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺
Dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb mengatakan,
“Pada surah yang hanya memiliki tiga ayat ini terkandung suatu manhaj yang menyeluruh tentang kehidupan umat manusia sebagaimana yang dikehendaki Islam. Ia meletakkan suatu konstitusi Islami dalam kehidupan seorang muslim, tentang hakikat dan tujuan hidupnya yang meliputi kewajibandan tugas-tugasnya. Suatu bukti bahwa surah ini merupakan mukjizat Allah yang tiada seorang pun dapat melakukannya.”
Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, _”Seandainya saja al-Qur’an tidak diturunkan, niscaya satu surah ini cukup menjadi petunjuk manusia. Karena di dalamnya terkandung seluruh pesan-pesan al-Qur’an.”_
Allah swt berfirman:
وَالْعَصْرِ﴿١﴾
“Demi masa.”
Para ulama menafsirkan kata “al-’Ashr” di sini dimaksudkan beberapa hal.
1⃣ Waktu (Masa).
Menurut Ibn Abbas, kata ‘Ashr di sini sangatlah tepat jika ditafsirkan sebagai waktu. Sebab, Allah swt memang sangat memberikan perhatian kepada perputaran orbit waktu. Banyak orang rugi akibat tidak memahami hakikat waktu dengan menghabiskannya secara sia-sia.
2⃣ Kata ‘Ashr di sini berarti shalat Ashar.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim, Rasulullah saw dikabarkan telah bersabda,
_“Jagalah shalat-shalatmu, dan shalat Ashar”_
3⃣ Zaman Nabi saw.
Kita tahu, periode kehidupan Nabi saw adalah periode terbaik sejarah peradaban manusia.
4⃣ Sebagian ulama menafsirkannya sebagai Tuhan pemilik waktu.
Ketika Allah swt berfirman, _”demi masa” hendaklah dipahami sebagai “Demi Tuhan, pemilik peredaran waktu”_
Guys, ayat pertama sudah mencakup seluruh waktu kehidupan manusia.. Sungguh urgen sekali surat ini untuk kita bahas.
Alangkah ruginya orang-orang yang melalaikan waktu di dunia,  karena waktu adalah modal utama manusia untuk menyiapkan bekal di akherat kelak.
Ayo, jangan galau apalagi mager.. Bergerak lah bersama waktu, jadikanlah setiap waktu bermanfaat!!!
In syaa Allah ayat kedua lanjut pekan depan ya…
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Sikap menghadapi masalah

Jum’at, 02 Dzulqo’dah 1437 H/ 05 Agustus 2016
Pengembangan Diri dan Motivasi
 Ustadzah Heni, Ustadzah Dina, Ustadzah Wiwit
 *Sikap menghadapi masalah*
============================

Assalamu’alaikum bro n sist. Apa kabar?

Apakah ada yang sedang memiliki masalah? Atau ada yang pernah punya masalah?
樂樂樂樂樂樂樂
Hmmm hampir semua kita pasti pernah ya…
Nah, bagaimana kalau kita sekarang mau membahasnya? Apa sih seharusnya yang kita lakukan saat kita punya masalah?
Dalam kehidupan kita sehari-hari memang tidak semuanya menyenangkan seperti yang kita inginkan. Ada saja hal-hal yang menjadi masalah. Dari hal yang sederhana seperti mau pake sandal, ee gak ada sebelah. Bete banget kan? Sampai hal yang berat seperti  perceraian orang tua yang tidak kita inginkan. Atau gagal dalam ujian. Nggak nyaman ya rasanya? Dunia serasa mau runtuh. Seakan tidak ada yg dapat menolong kita. Apalagi  yang kita rasakan saat ada masalah? Sedih, marah, kecewa de el el.. pasti kita rasakan semua, bahkan secara fisik kadang muncul seperti kepala pusing, gatal-gatal, sakit perut, sesak nafas. Nah, itu semua salah satu ciri bahwa kita sedang ada masalah. Saat perasaan kita tidak nyaman maka otak kita hanya bekerja separuh bagian limbik saja. Sementara neutokorteks tidak dapat bekerja maksimal sehingga kita tidak mampu berpikir jernih, kreatif atau rasional. Ini yg menyebabkan kita makin terpuruk dan tidak mampu memikirkan solusinya.
Kadang saking betenya, uring-uringan sampai sendal didepan mata aja gak kelihatan.  
Nah, apa yang seharusnya kita lakukan saat mengalami perasaan tidak nyaman?
1⃣ Kita harus ingat bahwa ada Allah SWT yang Maha Kasih dan Sayang dan selalu pasti menolong kita, asal kita tidak menjauh dari Nya. Dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28,  Allah SWT berfirman:
_”Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah maka hati akan tenang”_
Bagaimana mengingat Allah SWT? yaitu dengan sholat, do’a, membaca Al-Qur’an dan berdzikir.
2⃣ Carilah seseorang yang kamu percaya dan berilmu  utk diajak bicara dan meminta pendapat, seperti orang tua, kakak, guru BP, guru ngaji dan lain-lain. Bila tidak ada orang yang bisa diajak bicara, tuliskan dan ungkapkan perasaan tidak nyaman itu. Ibarat gelas berisi air keruh, belum bisa diisi air bening kalau belum dikosongkan dulu. Bila perasaan kembali nyaman maka akan lebih mudah untuk memikirkan solusinya.
 
3⃣ Lakukan interaksi dengan orang-orang yang menyenangkan. Menjumpai sahabat, kerabat atau komunitas positif yang memberi kesempatan interaksi yang menyenangkan. Jangan terpuruk dengan mengurung diri karena akan semakin membuat mu merasa terabaikan.
4⃣ Lakukan kegiatan positif yang di sukai dan membuat lebih nyaman. Misalnya, olahraga, menyanyi, berkebun dan lain-lain. Dengan demikian, energi negatif akan tersalurkan menjadi kegiatan produktif.
5⃣ Lakukan “time out.” Seperti kalau pertandingan basket, bila kondisi sudah “crowded” maka pelatih akan melakukan time out dengan menghentikan permainan. Nah, kita kadang juga membutuhkan “time out” agar bisa mengambil jarak dari masalah sehingga bisa melihat dari sudut berbeda. Kita bisa pergi berlibur atau beristirahat sejenak, santai-santai.
Jadi ya teman2…ada banyak jalan menuju Roma. Kalau kamu ada masalah pasti akan banyak cara untuk menyelesaikannya. Dan selalu melibatkan Allah SWT. Karena hanya Allah SWT yang dapat membantu menyelesaikannya. 
Cara paling mudah adalah dengan memperbanyak istighfar. Sesuai dengan hadits :
_”Perbanyaklah istighfar, niscaya Allah akan mudahkan urusanmu”._
Selamat beristighfar ya.. Salam sukses ✊

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Tawazun

Kamis, 01 Dzulqo’dah 1437 H/ 4 Agustus 2016
Fiqih Ibadah
Ustadzah Lely
 *Tawazun*
========================

Assalamu’alaikum.sobat MFT yang dirahmati allah, smoga allah senantiasa memberikan kebahagiaan kepada kita semua.Aamiin ya robb :)…
Okey guys,btw did you know? Bahwa dalam hidup kita juga harus seimbang? So,that tuk lebih jelasnya mari kita simak materi tentang
“TAWAZUN”(Seimbang)
====================
Tawazun artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan. (QS.67:3)
Manusia dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30).
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,”Tiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”).
Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad (jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada (QS.55:7-9)
Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu sbb :
1. Jasmani
Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga . Dalam sebuah hadits dikatakan, “Mu’min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu’min yang lemah.”(HR.Muslim), maka jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat (QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.
2. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali hakikat sesuatu, Mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
3. Ruh (hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.
Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan ni’mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan wasathon (QS.2:143), Yaitu umat yang seimbang.
Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)
Kebahagiaan dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai
mensyukuri ni’mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya.
Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).
Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani/materi saja.
Manusia Pantheis (kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.
So,mari kita hidup seimbang ya sobat_wallahu’alam bis showab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.con
Sebarkan! Raih pahala….